Dibimbing Oleh :
Pembimbing : dr. Soroy Lardo, Sp.PD
Disusun Oleh :
Fitria Dewinur

 Demam chikungunya adalah penyakit yang disebabkan
oleh arbovirus yang ditransmisikan oleh nyamuk Aedes.
Chikungunya awalnya berasal dari dialek ‘makonde’
yang berarti ‘yang membungkuk’, yang mengindikasikan
gambaran fisik dari pasien dengan penyakit yang berat.
Penyakit ini dilaporkan terjadi di negara-negara Afrika
selatan dan timur, Asia Selatan, Asia Tenggara, dan pada
tahun 2007 ditemukan juga di Itali. Di regio Asia
tenggara, wabah Chikungunya pernah dilaporkan terjadi
di India, Indonesia, Maldiva, Myanmar, Sri Lanka, dan
Thailand.
Pendahuluan

 Meskipun bukan penyakit yang mematikan, angka
morbiditasnya yang tinggi dan poliartritis yang
memanjang menyebabkan kecacatan yang besar
dalam populasi yang terkena dan dapat memberikan
dampak pada bidang sosioekonomi suatu negara

TINJAUAN PUSTAKA
BAB II

 Demam chikungunya disebabkan oleh virus
chikungunya (CHIKV), yang disebut juga Buggy
Creek virus. Virus ini termasuk dalam genus
Alphavirus dari famili Togaviridae.
Etiologi

 Selain virus chikungunya, terdapat juga anggota
Alphavirus lainnya yang dapat menyebabkan
demam, ruam, dan artralgia, seperti virus O’nyong-
nyong, Mayaro, Barmah Forest, Ross River, dan
Sindbis. Virus chikungunya paling dekat
hubungannya dengan virus O’nyong-nyong,
meskipun secara genetik berbeda

 Virus chikungunya terdiri dari 1 molekul single
strand RNA, yang dibungkus oleh membran lipid,
berbentuk spherical dan pleomorphic,dengan
diameter ± 70 nm. Pada permukaan envelope
didapatkan glikoprotein, yang terdiri dari 2 protein
virus berbentuk heterodimer. Nucleocapsids virus
ini isometrik dengan diameter 40 nm. Sekuens
genom lengkapnya terdiri dari 11.805 nukleotida

 Virus Chikungunya menimbulkan epidemi di wilayah
tropis Asia dan Afrika sejak diidentifikasi tahun 1952-
1953 di Afrika Timur. Di Indonesia Demam Chikungunya
dilaporkan pertama kali di Samarinda tahun 1973.
Kemudian berjangkit di Kuala Tunkal, Jambi, tahun 1980.
Tahun 1983 merebak di Martapura, Ternate dan
Yogyakarta. Setelah vakum hampir 20 tahun, awal tahun
2001 kejadian luar biasa (KLB) demam Chikungunya
terjadi di Muara Enim, Sumatera Selatan dan Aceh.
Disusul Bogor bulan Oktober. Demam Chikungunya
berjangkit lagi di Bekasi Jawa Barat, Purworejo dan
Klaten Jawa Tengah tahun 2002.
Epidemiologi

 CHIKV sebagai penyebab demam Chikungunya
masih belum diketahui pola masuknya ke Indonesia.
Sekitar 200-300 tahun lalu CHIKV merupakan virus
pada hewan primata di tengah hutan atau savana di
Afrika.



Distribusi KLB demam
chikungunya di Indonesia
tahun 2001-Maret 2003

Tabel 3. Situasi KLB demam
chikungunya di Indonesia
tahun 2001-2004

 Nyamuk Aedes aegypti berukuran kecil dibanding
nyamuk lain, dapat hidup berbulan-bulan. Virus
dapat masuk dari nyamuk ke telur. Nyamuk ini
merupakan vektor dari CHIKV. Vektor CHIKV
lainnya di Asia adalah A. albopticus, di Afrika A.
furcifer dan A. africanus1.
Vektor


 Otot rangka merupakan tempat utama replikasi
virus. Pada tikus didapatkan adanya miositis, serta
perdarahan saluran cerna dan subkutan. Isolasi virus
chikungunya kebanyakan diperoleh dari kasus-
kasus berat dengan manifestasi perdarahan dan
kelainan otot yang umumnya pada penderita
dewasa. Pada manusia, virus chikungunya sudah
dapat menimbulkan penyakit dalam 2 hari sesudah
gigitan nyamuk. Penderita mengalami viremia yang
tinggi dalam 2 hari pertama sakit.
Patogenesis

 Viremia berkurang pada hari ke-3 atau ke-4 demam,
dan biasanya menghilang pada hari ke-5. Silent
infection dapat terjadi, akan tetapi bagaimana hal
itu bisa terjadi belum dapat dimengerti. Antibodi
yang timbul dari penyakit ini membuat penderita
kebal terhadap serangan virus selanjutnya. Oleh
karena itu perlu waktu panjang bagi penyakit ini
untuk merebak kembali. Infeksi akut ditandai
dengan timbulnya IgM terhadap IgG
antichikungunya yang diproduksi sekitar 2 minggu
sesudah infeksi.

 Virus Chikungunya menyebabkan demam pada sebagian
besar penderita dengan periode inkubasi 2 – 4 hari sejak
gigitan nyamuk. Viremia ini menetap selama 5 hari sejak
onset klinis. Gambaran klinis yang umum adalah demam
(92%) biasanya juga disertai dengan Arthralgia (87%),
nyeri punggung (67%) dan sakit kepala (62%). Demam ini
bervariasi mulai dari demam ringan sampai berat, yang
menghilang dalam 24 sampai 48 jam. Demam ini biasanya
terjadi mendadak sampai 39-40oC, dengan menggigil dan
kekakuan dan biasanya menghilang dengan pemberian
antipiretik. Tidak ada variasi diurnal untuk demam ini.
Gambaran Klinis

 Dalam kasus wabah yang terbaru ini banyak pasien
yang mengeluhkan arthralgia tanpa demam. Nyeri
sendi tampaknya semakin memburuk pada pagi
hari, yang kemudian berkurang dengan aktivitas
ringan. Nyeri sendi ini dapat menghilang selama 2-3
hari yang kemudian muncul lagi dengan pola pelana
kuda. Poliartritis migran dengan efusi juga dapat
dijumpai pada 70% kasus, namun menghilang
sendiri. Pergelangan kaki, tangan, dan sendi-sendi
kecil paling sering terkena. Sendi besar seperti lutut
dan tulang belakang juga dapat terlibat.

 Terdapat kecenderungan keterlibatan sendi dengan
riwayat trauma atau degenerasi. Pekerjaan yang
banyak menggunakan sendi kecil lebih sering
terkena (misalnya sendi interfalang pada penyadap
karet, pergelangan kaki pada orang yang banyak
berdiri dan berjalan misalnya polisi). Fenomena
pembungkukkan ini kemungkinan terjadi akibat dari
tungkai bawah dan keterlibatan punggung yang
mendorong pasien membungkuk ke depan.

 Gejala klinis lain. Ruam makulopapular transien
dapat terjadi pada 50% pasien. Erupsi
makulopapular dapat menetap lebih dari 2 hari pada
10% kasus. Ulkus intertriginosa dan erupsi
vesikobulosa juga dapat ditemukan. Beberapa orang
mengalami lesi angiomatosa dan lebih sedikit yang
mengalami purpura. Stomatitis ditemukan pada 25%
pasien dan ulkus oral pada 15% pasien. Eritema
nasal diikuti dengan hiperpimentasi fotosensitif
(20%) sering ditemukan pada epidemi yang baru-
baru ini terjadi.

 Dermatitis eksfolitiva yang terjadi pada tungkai dan
wajah ditemukan pada 5% kasus. Epidermolisis
bullosa juga ditemukan pada anak-anak. Sebagian
besar lesi yang timbul ini dapat sembuh sempurna
kecuali pada kasus dimana hiperpigmentasi yang
fotosensitif ini menetap.

 Fotofobia dan nyeri retro-orbital juga pernah
ditemukan. Meskipun jarang terjadi pada orang
dewasa, namun anak-anak terutama neonatus dapat
mengalami muntah dan/atau diare dan meningo-
ensefalitis. Manifestasi neurologis seperti ensefalitis,
kejang demam, sindrom meningeal dan ensefalopati
akut juga pernah dilaporkan. Neuroretinitis dan
uveitis pada salah satu mata atau kedua mata juga
pernah dilaporkan.

 Manifestasi okuler yang berkaitan dengan wabah
epidemi dai infeksi virus chikungunya di India
Selatan meliputi uveitis anterior granulomatosa dan
nongranulomatosa, neuritis optik, neuritis
retrobulbar, dan lesi dendritik. Prognosis visual
biasanya baik, dimana penglihatan sebagian besar
pasien ini kembali normal.

 Chikungunya pada bayi dan anak umumnya ringan dan sangat jarang
ditemukan kasus yang serius atau fatal. Tanda dan gejala yang ditemukan
pada bayi dan anak di antaranya:
 Demam
 Menggigil
 Sakit kepala
 Mual dan muntah
 Sakit pada persendian
 Ini merupakan gejala utama. Kadang disertai bengkak dan kemerahan
pada sendi. Gejala ini dapat menetap bahkan sampai beberapa minggu
setelah penyakit sembuh.
 Bintik kemerahan di kulit
 Pedarahan gusi dan mimisan
 Gejala dan tanda tersebut biasanya mulai timbul sekitar 3-7 hari setelah
gigitan nyamuk.

Temuan klinik demam dengue klasik, demam chikungunya dan
demam berdarah dengue
Keterangan: 1+=1-25% 2+=26-50% 3+=51-75% 4+=76-100%

Perbandingan antara
demam berdarah dengue
dan demam chikungunya

 Tes laboratorium yang umum digunakan untuk
mengetahui chikungunya adalah RT-PCR, isolasi
virus, dan tes serologis.
 Isolasi virus  tes laboratorium yang paling akurat
tetapi membutuhkan waktu 1-2 minggu.
 RT-PCR  hasil dapat diterima dalam 1-2 hari
Pemeriksaan Lab

 Tes serologis  dibutuhkan darah dalam volume
yang lebih banyak dbandingkan metode yang lain.
Menggunakan cara ELISA untuk mengukur IgM
Chikungunya. Hasil diperoleh setelah 2-3 hari. Dan
false positif dapat ditemukan dengan infeksi virus
seperti O'nyong-nyong virus dan Semliki Forest
Virus

 Diagnosis pasti adanya infeksi virus chikungunya
ditegakkan bila didapatkan salah satu hal berikut:
 1. Peningkatan titer antibodi 4 kali lipat pada uji
hambatan aglutinasi (HI)
 2. Virus chikungunya (CHIKV) pada isolasi virus
 3. IgM capture ELISA
Diagnosa

 WHO membuat definisi kasus infeksi chikungunya
sebagai berikut: 5,8
1. Kasus tersangka
 Suatu kesakitan yang onsetnya akut, ditandai oleh
timbulnya demam mendadak diikuti oleh gejala-gejala
berupa artralgia, sakit kepala, nyeri punggung, fotofobia,
dan ruam.
 2. Kasus probabel
 Klinis seperti di atas dan serologi positif (pemeriksaan
sampel serum tunggal yang diambil selama fase akut atau
konvalesensi)

 3. Kasus konfirmasi
 Kasus probabel dengan disertai salah satu dari
berikut ini:
 - Kenaikan titer antibodi HI sebesar 4 kali pada
sampel serum berpasangan
 - Deteksi antibodi IgM
 - Isolasi virus dari serum
 - Deteksi asam nukleat virus Chikungunya pada
serum dengan RT-PCR

 Demam Chikungunya termasuk self limiting disease
atau penyakit yang sembuh dengan sendirinya. Tak
ada vaksin maupun obat khusus untuk penyakit ini.
Pengobatan yang diberikan hanyalah terapi
simptomatis atau menghilangkan gejala
penyakitnya, seperti obat penghilang rasa sakit atau
demam seperti golongan parasetamol.
Pengobatan

 Antibiotika tidak diperlukan pada kasus ini.
Penggunaan antibiotika dengan pertimbangan
mencegah infeksi sekunder tidak bermanfaat.
 Untuk memperbaiki keadaan umum penderita
dianjurkan makan makanan yang bergizi, cukup
karbohidrat dan terutama protein serta minum
sebanyak mungkin. Perbanyak mengkonsumsi buah-
buahan segar atau minum jus buah segar.

 Belum ada vaksin untuk mencegah chikungunya.
Satu-satunya cara menghindari penyakit ini adalah
membasmi nyamuk pembawa virusnya yaitu
nyamuk aedes aegypti. Nyamuk ini, senang hidup
dan berkembang biak di genangan air bersih seperti
bak mandi, vas bunga, dan juga kaleng atau botol
bekas yang menampung air bersih. Selain itu,
nyamuk bercorak hitam putih ini juga senang hidup
di benda-benda yang menggantung seperti baju-baju
yang ada di belakang pintu kamar.
Pencegahan

 Prognosis penderita demam chikungunya cukup
baik sebab penyakit ini tidak menimbulkan
kematian. Belum ada penelitian yang secara jelas
memperlihatkan bahwa demam chikungunya dapat
secara langsung menyebabkan kematian. Karena
infeksi virus chikungunya baik klinis ataupun silent
akan memberikan imunitas seumur hidup, maka
penyakit ini sulit menyerang penderita yang sama.
Tubuh penderita akan membentuk antibodi yang
akan membuatnya kebal terhadap serangan virus ini
di kemudian hari
Prognosis
 Demam chikungunya disebabkan oleh virus chikungunya
(CHIKV), yang disebut juga Buggy Creek virus. Di
Indonesia Demam Chikungunya dilaporkan pertama kali
di Samarinda tahun 1973. Virus Chikungunya
menyebabkan demam pada sebagian besar penderita
dengan periode inkubasi 2 – 4 hari sejak gigitan nyamuk.
Gambaran klinis yang umum adalah demam (92%)
biasanya juga disertai dengan Arthralgia (87%), nyeri
punggung (67%) dan sakit kepala (62%). Demam
Chikungunya termasuk self limiting disease atau
penyakit yang sembuh dengan sendirinya.
KESIMPULAN

 Tak ada vaksin maupun obat khusus untuk penyakit
ini. Pengobatan yang diberikan hanyalah terapi
simptomatis atau menghilangkan gejala
penyakitnya. Satu-satunya cara menghindari
penyakit ini adalah membasmi nyamuk pembawa
virusnya yaitu nyamuk Aedes aegypti. Prognosis
penderita demam chikungunya cukup baik sebab
penyakit ini tidak menimbulkan kematian.
Nasronudin, et al. Penyakit Infeksi di Indonesia & Solusi Kini mendatang Edisi Kedua.
2011. Surabaya : Pusat Penerbitan dan Percetakan UNAIR.
Soedarmo Sumarno S.Poorwo, Herry Garna, Sri Rezeki, et al. Buku Ajar Infeksi dan
Pediatri Tropis edisi 2. 2008. Jakarta : Balai Penerbit IDAI.
Halstead S, 2007, Dengue and Dengue Haemorraghic Fever, Nelson’s Texbook of
Pediatrics 18th Edition hal. 1092-1094
Safar, Rosdiana. 2003. Parasitologi kedokteran: Entomologi. Padang:Fakultas
Kedokteran Universitas Baiturrahmah.
Ann M. Powers and Christopher H. Logue, 2007: Changing patterns of chikungunya
virus: re-emergence of a zoonotic arbovirus dari Journal of Virology
DAFTAR PUSTAKA
I-C Sam, MRCPath, S AbuBakar, PhD, 2006 : Chikungunya Virus Infection dari Med J
Malaysia Vol 61 No 2
Eppy 2006, Demam chikungunya dari Jurnal Kedokteran Medicinus edisi April-Juni
2008, hal. 22., Jakarta
Ann M. Powers, 2009 : Overview of Emerging Arboviruses dari
http://www.medscape.com/viewarticle/708398_3
Gilles Pialoux, Bernard-Alex Gaüzère, Stéphane Jauréguiberry, Michel Strobel, 2007
: Chikungunya, an epidemic arbovirosis dari http://infection.thelancet.com Vol 7 May
2007
Kanti Laras et all, 2004 : Tracking the re-emergence of epidemic chikungunya virus in
Indonesia, Transactions of the Royal Society of Tropical Medicine and Hygiene
(2005) 99, 128—141

TERIMA KASIH

Referat chikungunya

  • 1.
    Dibimbing Oleh : Pembimbing: dr. Soroy Lardo, Sp.PD Disusun Oleh : Fitria Dewinur
  • 2.
      Demam chikungunyaadalah penyakit yang disebabkan oleh arbovirus yang ditransmisikan oleh nyamuk Aedes. Chikungunya awalnya berasal dari dialek ‘makonde’ yang berarti ‘yang membungkuk’, yang mengindikasikan gambaran fisik dari pasien dengan penyakit yang berat. Penyakit ini dilaporkan terjadi di negara-negara Afrika selatan dan timur, Asia Selatan, Asia Tenggara, dan pada tahun 2007 ditemukan juga di Itali. Di regio Asia tenggara, wabah Chikungunya pernah dilaporkan terjadi di India, Indonesia, Maldiva, Myanmar, Sri Lanka, dan Thailand. Pendahuluan
  • 3.
      Meskipun bukanpenyakit yang mematikan, angka morbiditasnya yang tinggi dan poliartritis yang memanjang menyebabkan kecacatan yang besar dalam populasi yang terkena dan dapat memberikan dampak pada bidang sosioekonomi suatu negara
  • 4.
  • 5.
      Demam chikungunyadisebabkan oleh virus chikungunya (CHIKV), yang disebut juga Buggy Creek virus. Virus ini termasuk dalam genus Alphavirus dari famili Togaviridae. Etiologi
  • 6.
      Selain viruschikungunya, terdapat juga anggota Alphavirus lainnya yang dapat menyebabkan demam, ruam, dan artralgia, seperti virus O’nyong- nyong, Mayaro, Barmah Forest, Ross River, dan Sindbis. Virus chikungunya paling dekat hubungannya dengan virus O’nyong-nyong, meskipun secara genetik berbeda
  • 7.
      Virus chikungunyaterdiri dari 1 molekul single strand RNA, yang dibungkus oleh membran lipid, berbentuk spherical dan pleomorphic,dengan diameter ± 70 nm. Pada permukaan envelope didapatkan glikoprotein, yang terdiri dari 2 protein virus berbentuk heterodimer. Nucleocapsids virus ini isometrik dengan diameter 40 nm. Sekuens genom lengkapnya terdiri dari 11.805 nukleotida
  • 8.
      Virus Chikungunyamenimbulkan epidemi di wilayah tropis Asia dan Afrika sejak diidentifikasi tahun 1952- 1953 di Afrika Timur. Di Indonesia Demam Chikungunya dilaporkan pertama kali di Samarinda tahun 1973. Kemudian berjangkit di Kuala Tunkal, Jambi, tahun 1980. Tahun 1983 merebak di Martapura, Ternate dan Yogyakarta. Setelah vakum hampir 20 tahun, awal tahun 2001 kejadian luar biasa (KLB) demam Chikungunya terjadi di Muara Enim, Sumatera Selatan dan Aceh. Disusul Bogor bulan Oktober. Demam Chikungunya berjangkit lagi di Bekasi Jawa Barat, Purworejo dan Klaten Jawa Tengah tahun 2002. Epidemiologi
  • 9.
      CHIKV sebagaipenyebab demam Chikungunya masih belum diketahui pola masuknya ke Indonesia. Sekitar 200-300 tahun lalu CHIKV merupakan virus pada hewan primata di tengah hutan atau savana di Afrika.
  • 10.
  • 11.
  • 12.
     Distribusi KLB demam chikungunyadi Indonesia tahun 2001-Maret 2003
  • 13.
     Tabel 3. SituasiKLB demam chikungunya di Indonesia tahun 2001-2004
  • 14.
      Nyamuk Aedesaegypti berukuran kecil dibanding nyamuk lain, dapat hidup berbulan-bulan. Virus dapat masuk dari nyamuk ke telur. Nyamuk ini merupakan vektor dari CHIKV. Vektor CHIKV lainnya di Asia adalah A. albopticus, di Afrika A. furcifer dan A. africanus1. Vektor
  • 15.
  • 16.
      Otot rangkamerupakan tempat utama replikasi virus. Pada tikus didapatkan adanya miositis, serta perdarahan saluran cerna dan subkutan. Isolasi virus chikungunya kebanyakan diperoleh dari kasus- kasus berat dengan manifestasi perdarahan dan kelainan otot yang umumnya pada penderita dewasa. Pada manusia, virus chikungunya sudah dapat menimbulkan penyakit dalam 2 hari sesudah gigitan nyamuk. Penderita mengalami viremia yang tinggi dalam 2 hari pertama sakit. Patogenesis
  • 17.
      Viremia berkurangpada hari ke-3 atau ke-4 demam, dan biasanya menghilang pada hari ke-5. Silent infection dapat terjadi, akan tetapi bagaimana hal itu bisa terjadi belum dapat dimengerti. Antibodi yang timbul dari penyakit ini membuat penderita kebal terhadap serangan virus selanjutnya. Oleh karena itu perlu waktu panjang bagi penyakit ini untuk merebak kembali. Infeksi akut ditandai dengan timbulnya IgM terhadap IgG antichikungunya yang diproduksi sekitar 2 minggu sesudah infeksi.
  • 18.
      Virus Chikungunyamenyebabkan demam pada sebagian besar penderita dengan periode inkubasi 2 – 4 hari sejak gigitan nyamuk. Viremia ini menetap selama 5 hari sejak onset klinis. Gambaran klinis yang umum adalah demam (92%) biasanya juga disertai dengan Arthralgia (87%), nyeri punggung (67%) dan sakit kepala (62%). Demam ini bervariasi mulai dari demam ringan sampai berat, yang menghilang dalam 24 sampai 48 jam. Demam ini biasanya terjadi mendadak sampai 39-40oC, dengan menggigil dan kekakuan dan biasanya menghilang dengan pemberian antipiretik. Tidak ada variasi diurnal untuk demam ini. Gambaran Klinis
  • 19.
      Dalam kasuswabah yang terbaru ini banyak pasien yang mengeluhkan arthralgia tanpa demam. Nyeri sendi tampaknya semakin memburuk pada pagi hari, yang kemudian berkurang dengan aktivitas ringan. Nyeri sendi ini dapat menghilang selama 2-3 hari yang kemudian muncul lagi dengan pola pelana kuda. Poliartritis migran dengan efusi juga dapat dijumpai pada 70% kasus, namun menghilang sendiri. Pergelangan kaki, tangan, dan sendi-sendi kecil paling sering terkena. Sendi besar seperti lutut dan tulang belakang juga dapat terlibat.
  • 20.
      Terdapat kecenderunganketerlibatan sendi dengan riwayat trauma atau degenerasi. Pekerjaan yang banyak menggunakan sendi kecil lebih sering terkena (misalnya sendi interfalang pada penyadap karet, pergelangan kaki pada orang yang banyak berdiri dan berjalan misalnya polisi). Fenomena pembungkukkan ini kemungkinan terjadi akibat dari tungkai bawah dan keterlibatan punggung yang mendorong pasien membungkuk ke depan.
  • 21.
      Gejala klinislain. Ruam makulopapular transien dapat terjadi pada 50% pasien. Erupsi makulopapular dapat menetap lebih dari 2 hari pada 10% kasus. Ulkus intertriginosa dan erupsi vesikobulosa juga dapat ditemukan. Beberapa orang mengalami lesi angiomatosa dan lebih sedikit yang mengalami purpura. Stomatitis ditemukan pada 25% pasien dan ulkus oral pada 15% pasien. Eritema nasal diikuti dengan hiperpimentasi fotosensitif (20%) sering ditemukan pada epidemi yang baru- baru ini terjadi.
  • 22.
      Dermatitis eksfolitivayang terjadi pada tungkai dan wajah ditemukan pada 5% kasus. Epidermolisis bullosa juga ditemukan pada anak-anak. Sebagian besar lesi yang timbul ini dapat sembuh sempurna kecuali pada kasus dimana hiperpigmentasi yang fotosensitif ini menetap.
  • 23.
      Fotofobia dannyeri retro-orbital juga pernah ditemukan. Meskipun jarang terjadi pada orang dewasa, namun anak-anak terutama neonatus dapat mengalami muntah dan/atau diare dan meningo- ensefalitis. Manifestasi neurologis seperti ensefalitis, kejang demam, sindrom meningeal dan ensefalopati akut juga pernah dilaporkan. Neuroretinitis dan uveitis pada salah satu mata atau kedua mata juga pernah dilaporkan.
  • 24.
      Manifestasi okuleryang berkaitan dengan wabah epidemi dai infeksi virus chikungunya di India Selatan meliputi uveitis anterior granulomatosa dan nongranulomatosa, neuritis optik, neuritis retrobulbar, dan lesi dendritik. Prognosis visual biasanya baik, dimana penglihatan sebagian besar pasien ini kembali normal.
  • 25.
      Chikungunya padabayi dan anak umumnya ringan dan sangat jarang ditemukan kasus yang serius atau fatal. Tanda dan gejala yang ditemukan pada bayi dan anak di antaranya:  Demam  Menggigil  Sakit kepala  Mual dan muntah  Sakit pada persendian  Ini merupakan gejala utama. Kadang disertai bengkak dan kemerahan pada sendi. Gejala ini dapat menetap bahkan sampai beberapa minggu setelah penyakit sembuh.  Bintik kemerahan di kulit  Pedarahan gusi dan mimisan  Gejala dan tanda tersebut biasanya mulai timbul sekitar 3-7 hari setelah gigitan nyamuk.
  • 26.
     Temuan klinik demamdengue klasik, demam chikungunya dan demam berdarah dengue Keterangan: 1+=1-25% 2+=26-50% 3+=51-75% 4+=76-100%
  • 27.
     Perbandingan antara demam berdarahdengue dan demam chikungunya
  • 28.
      Tes laboratoriumyang umum digunakan untuk mengetahui chikungunya adalah RT-PCR, isolasi virus, dan tes serologis.  Isolasi virus  tes laboratorium yang paling akurat tetapi membutuhkan waktu 1-2 minggu.  RT-PCR  hasil dapat diterima dalam 1-2 hari Pemeriksaan Lab
  • 29.
      Tes serologis dibutuhkan darah dalam volume yang lebih banyak dbandingkan metode yang lain. Menggunakan cara ELISA untuk mengukur IgM Chikungunya. Hasil diperoleh setelah 2-3 hari. Dan false positif dapat ditemukan dengan infeksi virus seperti O'nyong-nyong virus dan Semliki Forest Virus
  • 30.
      Diagnosis pastiadanya infeksi virus chikungunya ditegakkan bila didapatkan salah satu hal berikut:  1. Peningkatan titer antibodi 4 kali lipat pada uji hambatan aglutinasi (HI)  2. Virus chikungunya (CHIKV) pada isolasi virus  3. IgM capture ELISA Diagnosa
  • 31.
      WHO membuatdefinisi kasus infeksi chikungunya sebagai berikut: 5,8 1. Kasus tersangka  Suatu kesakitan yang onsetnya akut, ditandai oleh timbulnya demam mendadak diikuti oleh gejala-gejala berupa artralgia, sakit kepala, nyeri punggung, fotofobia, dan ruam.  2. Kasus probabel  Klinis seperti di atas dan serologi positif (pemeriksaan sampel serum tunggal yang diambil selama fase akut atau konvalesensi)
  • 32.
      3. Kasuskonfirmasi  Kasus probabel dengan disertai salah satu dari berikut ini:  - Kenaikan titer antibodi HI sebesar 4 kali pada sampel serum berpasangan  - Deteksi antibodi IgM  - Isolasi virus dari serum  - Deteksi asam nukleat virus Chikungunya pada serum dengan RT-PCR
  • 33.
      Demam Chikungunyatermasuk self limiting disease atau penyakit yang sembuh dengan sendirinya. Tak ada vaksin maupun obat khusus untuk penyakit ini. Pengobatan yang diberikan hanyalah terapi simptomatis atau menghilangkan gejala penyakitnya, seperti obat penghilang rasa sakit atau demam seperti golongan parasetamol. Pengobatan
  • 34.
      Antibiotika tidakdiperlukan pada kasus ini. Penggunaan antibiotika dengan pertimbangan mencegah infeksi sekunder tidak bermanfaat.  Untuk memperbaiki keadaan umum penderita dianjurkan makan makanan yang bergizi, cukup karbohidrat dan terutama protein serta minum sebanyak mungkin. Perbanyak mengkonsumsi buah- buahan segar atau minum jus buah segar.
  • 35.
      Belum adavaksin untuk mencegah chikungunya. Satu-satunya cara menghindari penyakit ini adalah membasmi nyamuk pembawa virusnya yaitu nyamuk aedes aegypti. Nyamuk ini, senang hidup dan berkembang biak di genangan air bersih seperti bak mandi, vas bunga, dan juga kaleng atau botol bekas yang menampung air bersih. Selain itu, nyamuk bercorak hitam putih ini juga senang hidup di benda-benda yang menggantung seperti baju-baju yang ada di belakang pintu kamar. Pencegahan
  • 36.
      Prognosis penderitademam chikungunya cukup baik sebab penyakit ini tidak menimbulkan kematian. Belum ada penelitian yang secara jelas memperlihatkan bahwa demam chikungunya dapat secara langsung menyebabkan kematian. Karena infeksi virus chikungunya baik klinis ataupun silent akan memberikan imunitas seumur hidup, maka penyakit ini sulit menyerang penderita yang sama. Tubuh penderita akan membentuk antibodi yang akan membuatnya kebal terhadap serangan virus ini di kemudian hari Prognosis
  • 37.
     Demam chikungunyadisebabkan oleh virus chikungunya (CHIKV), yang disebut juga Buggy Creek virus. Di Indonesia Demam Chikungunya dilaporkan pertama kali di Samarinda tahun 1973. Virus Chikungunya menyebabkan demam pada sebagian besar penderita dengan periode inkubasi 2 – 4 hari sejak gigitan nyamuk. Gambaran klinis yang umum adalah demam (92%) biasanya juga disertai dengan Arthralgia (87%), nyeri punggung (67%) dan sakit kepala (62%). Demam Chikungunya termasuk self limiting disease atau penyakit yang sembuh dengan sendirinya. KESIMPULAN
  • 38.
      Tak adavaksin maupun obat khusus untuk penyakit ini. Pengobatan yang diberikan hanyalah terapi simptomatis atau menghilangkan gejala penyakitnya. Satu-satunya cara menghindari penyakit ini adalah membasmi nyamuk pembawa virusnya yaitu nyamuk Aedes aegypti. Prognosis penderita demam chikungunya cukup baik sebab penyakit ini tidak menimbulkan kematian.
  • 39.
    Nasronudin, et al.Penyakit Infeksi di Indonesia & Solusi Kini mendatang Edisi Kedua. 2011. Surabaya : Pusat Penerbitan dan Percetakan UNAIR. Soedarmo Sumarno S.Poorwo, Herry Garna, Sri Rezeki, et al. Buku Ajar Infeksi dan Pediatri Tropis edisi 2. 2008. Jakarta : Balai Penerbit IDAI. Halstead S, 2007, Dengue and Dengue Haemorraghic Fever, Nelson’s Texbook of Pediatrics 18th Edition hal. 1092-1094 Safar, Rosdiana. 2003. Parasitologi kedokteran: Entomologi. Padang:Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah. Ann M. Powers and Christopher H. Logue, 2007: Changing patterns of chikungunya virus: re-emergence of a zoonotic arbovirus dari Journal of Virology DAFTAR PUSTAKA
  • 40.
    I-C Sam, MRCPath,S AbuBakar, PhD, 2006 : Chikungunya Virus Infection dari Med J Malaysia Vol 61 No 2 Eppy 2006, Demam chikungunya dari Jurnal Kedokteran Medicinus edisi April-Juni 2008, hal. 22., Jakarta Ann M. Powers, 2009 : Overview of Emerging Arboviruses dari http://www.medscape.com/viewarticle/708398_3 Gilles Pialoux, Bernard-Alex Gaüzère, Stéphane Jauréguiberry, Michel Strobel, 2007 : Chikungunya, an epidemic arbovirosis dari http://infection.thelancet.com Vol 7 May 2007 Kanti Laras et all, 2004 : Tracking the re-emergence of epidemic chikungunya virus in Indonesia, Transactions of the Royal Society of Tropical Medicine and Hygiene (2005) 99, 128—141
  • 41.