PROSEDUR PENYUNTIKAN                       1
2
A. PENGGUNAAN ALAT SUNTIK DAN TEKNIK         PENYUNTIKAN YANG AMANPengertian:Peyuntikan yang aman (safety injection), suat...
a. Semprit sekali pakai /       Auto Disable Syringe (ADS) Semprit yang setelah dipakai mengunci sendiri  dan hanya dapat...
Langkah2 penggunaan Semprit sekali pakai                         1. Keluarkan semprit dari bungkus                        ...
b. Alat suntik Prefilled Injection              Device (PID) Jenis alat suntik yang telah berisi vaksin dosis  tunggal da...
Langkah-langkah penggunaan PID                 1. Keluarkan PID dari                    kemasan                 2. Dorong ...
c. Semprit & Jarum sekali buangSemprit yang hanya bisa dipakai sekali dandibuang (disposable), tidak direkomendasikanuntuk...
d. Teknik penyuntikan- Cara penyuntikan imunisasi                                       9
Lokasi suntikan pada bayi                            10
Prosedur penyuntikan : Mengunakan ADS baru dan steril.• Memeriksa bungkus ADS, untuk memastikan tidak rusak &  belum keda...
Intrakutan    Suntikan BCG diberikan pada    lengan kanan atas.      • Dosis 0,05cc, disuntikkan        ke dalam lapisan k...
Intramuskular    Suntikan diberikan pada paha tengah    luar secara intramuskular dengan dosis    0,5 cc    Cara Pemberian...
Subkutan Suntikan campak diberikan pada lengan kiri atas secara subkutan dengan dosis 0,5 cc Cara Pemberian :  • Atur bayi...
Prosedur pelarutan vaksin   Menggunakan pelarut yg tepat dan berasal dari    produsen yg sama.   Memperhatikan kedaluars...
B. PEMBERIAN VAKSIN YANG TEPAT SECARA                 AMAN Penyuntikan Vaksin Yang Tepat Secara Aman  Meliputi:     Kual...
Contoh praktek imunisasi yg tidak tepat & reaksi             Praktek tidak tepat                            Reaksi hebat y...
ad 1. Cara2 Meningkatkan Keamanan                 Penyuntikana.   Menyiapkan bundling (vaksin, ADS, kotak pengaman     sem...
INGAT              !!!                               Jangan Membuka Karet Penutup                               Vaksin ata...
ad 2. Praktek Penyuntikan Yang Tidak Amana. Praktek yang dapat membahayakan   penerima suntikanb. Praktek yang dapat memba...
C. PENCEGAHAN LUKA TUSUKAN JARUM              DAN INFEKSITusukan jarum dapat terjadi : Jika petugas kesehatan menutup kem...
PENANGANAN LIMBAH TIDAK        AMAN                          22
Cara Mencegah Luka Tusukan Jarum dan Infeksi                 1. Mengurangi keinginan untuk                    memegang jar...
ad.2.Memegang semprit dan jarum dengan amanPENTING: Jika anda menyentuh bagian-bagian ini, buang semprit  dan jarum dan am...
25
ad.4. Mengatur posisi anak yang tepat untuk                    penyuntikan           Posisi anak ketika divaksinasi.      ...
Pencegahan tertusuk jarum : Posisi bayi ketika diimunisasi                                  27
ad. 5. Pembuangan sampah semua benda          medis tajam secara aman                                       28
Menggunakan Kotak Pengamanan (safety box)• Kotak tahan air dan tusukanPembuatan dan penggunaan kotak pengaman             ...
Jangan membuang ADS dalam safety box melebihi       ¾ box  mencegah tertusuk jarum                                       ...
D. PEMANTAUANKEJADIAN IKUTAN PASCA IMUNISASI (KIPI)         Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi     Semua kejadian sakit dan k...
Bagan Maturasi Perjalanan Program Imunisasi                          KIPI meningkat   Kepercayaan              Cakupan    ...
Klasifikasi Lapangan KIPI, Penyebab KIPI                    (WHO, 1999)•   Reaksi vaksin    – Kejadian yang disebabkan ata...
Klasifikasi Lapangan KIPI                 (WHO, 1999) Lanjutan…•   Koinsiden     – Kejadian yang terjadi sesudah imunisasi...
Angka per          Vaksin                    Reaksi                  Onset interval                                       ...
Surveilans KIPIPengertian : Kegiatan untuk mendeteksi dini, merespon kasus KIPI dengan cepat dan tepat serta mengurangi da...
Tujuan Kegiatan Surveilans KIPI Mendeteksi, memperbaiki dan mencegah  kesalahan program Mengidentifikasi peningkatan ras...
Penemuan Kas u              s                                          Informas i dari M as yarakat             24 jam    ...
Pelaporan KIPIYang Harus dilaporkan :1. Indentitas2. Jenis vaksin, batch, kedaluarsa, siapa yang memberi, dll3. Nama dokte...
BAB 6SUPERVISI DI PUSKESMAS                     40
SUPERVISI DI PUSKESMAS1.   Peningkatan cakupan imunisasi mencapai target2.   Kualitas vaksin terjaga sampai ke sasaran3.  ...
1. Peningkatan cakupan imunisasi• Revitalisasi posyandu• Revitalisasi PWS bulanan imunisasi• DOFU (drop out follow up) : m...
Contoh jadwal kerja tahun 2007                                                 Puskesmas X K abupaten Y                   ...
44
Pemantauan Wilayah Setempat (PWS)          Untuk mencapai Target Desa UCI          97.5            90          82.5       ...
2. Kualitas vaksin terjaga sampai ke sasaran• Memantau kualitas penyimpanan vaksin di  lemari es terjaga 2-80C, tidak ada...
3. Kualitas pelayanan imunisasi• Menggunakan ADS (auto disable syringe),tidak  recapping,lokasi & teknik penyuntikan benar...
4. Pencatatan dan pelaporan imunisasi• Pencatatan : kohort/register bayi/WUS• Pelaporan : tepat waktu dan lengkap  – Tepat...
AKANKAH KITA BIARKAN ANAK-ANAK KITA MENJADI SEPERTI INI??             CEGAH DENGAN IMUNISASI!!!                     DIPHTH...
50
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Prosedur penyuntikan imunisasi

102,729 views

Published on

4 Comments
15 Likes
Statistics
Notes
No Downloads
Views
Total views
102,729
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
36
Actions
Shares
0
Downloads
1,263
Comments
4
Likes
15
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Prosedur penyuntikan imunisasi

  1. 1. PROSEDUR PENYUNTIKAN 1
  2. 2. 2
  3. 3. A. PENGGUNAAN ALAT SUNTIK DAN TEKNIK PENYUNTIKAN YANG AMANPengertian:Peyuntikan yang aman (safety injection), suatu kondisi: Sasaran imunisasi memperoleh kekebalan terhadap suatu penyakit dalam rangka menurunkan prevalensi penyakit. Tidak ada dampak negative berupa kecelakaan atau penularan penyakit pasca imunisasi pada sasaran maupun petugas Secara tidak langsung tidak menimbulkan kecelakaan atau penularan infeksi pada masyarakat dan lingkungan terkait 3
  4. 4. a. Semprit sekali pakai / Auto Disable Syringe (ADS) Semprit yang setelah dipakai mengunci sendiri dan hanya dapat dipakai sekali  Uniject  Soloshot  Destroject  Univec  Terumo  K1  Medeco inject Keuntungan Semprit sekali pakai :  Alat ini hanya bisa digunakan sekali  Mengeliminasi penyebaran penyakit dari pasien ke pasien  Menghemat waktu untuk mensterilisasi 4
  5. 5. Langkah2 penggunaan Semprit sekali pakai 1. Keluarkan semprit dari bungkus plastik 2. Pasang jarum pada semprit bila jarum belum terpasang 3. Lepaskan tutup jarum tanpa menyentuh jarum 4. Masukkan jarum ke dalam vial/ampul vaksin, ujung jarum berada di bawah permukaan vaksin1 2 3 5. Tarik piston untuk mengisi semprit. Piston secara otomatis akan berhenti setelah melewati tanda 0,05/0,5 ml dan terdengar bunyi klik 6. Tekan/dorong piston hingga isi semprit sesuai dosis 0,05/0,5 ml 7. Lepaskan jarum dari botol, keluarkan sisa gelembung udara pada semprit 8. Lakukan penyuntikan. Setelah penyuntikan piston secara otomatis akan mengunci dan semprit tidak4-5 6 8 bisa digunakan lagi. 5
  6. 6. b. Alat suntik Prefilled Injection Device (PID) Jenis alat suntik yang telah berisi vaksin dosis tunggal dari pabriknya, CONTOH :  Hepatitis B  Tetanus Toksoid Keuntungan:  Mencegah vaksin dari kontaminasi  Memastikan dosis yang tepat  Vaksin & Semprit dalam set yang sama  Mengurangi vaksin terbuang 6
  7. 7. Langkah-langkah penggunaan PID 1. Keluarkan PID dari kemasan 2. Dorong dan tekan dengan cepat penutup jarum ke dalam port 3. Jarak antara penutup jarum dan port akan hilang dan terasa ada klik 4. Keluarkan penutup jarum 5. Pegang PID pada port dan suntikkan jarum ke lokasi suntikan 6. Tekan reservoir (gelembung vaksin) untuk mengeluarkan vaksin. 7. Sesudah reservoir kempes, tarik PID keluar 7
  8. 8. c. Semprit & Jarum sekali buangSemprit yang hanya bisa dipakai sekali dandibuang (disposable), tidak direkomendasikanuntuk suntikan dalam imunisasi karena resikopenggunaan kembali semprit dan jarumtersebut menyebabkan resiko infeksi tinggi(WHO,UNICEF & UNFPA, 1999) 8
  9. 9. d. Teknik penyuntikan- Cara penyuntikan imunisasi 9
  10. 10. Lokasi suntikan pada bayi 10
  11. 11. Prosedur penyuntikan : Mengunakan ADS baru dan steril.• Memeriksa bungkus ADS, untuk memastikan tidak rusak & belum kedaluarsa.• Tidak menyentuh jarum.• Membersihkan kulit dengan kapas + air matang, tunggu kering.• Menyuntikkan vaksin sesuai dengan jenis vaksin.• Tidak memijat-mijat daerah bekas suntikan.• Jika perdarahan, menekan daerah suntikan dengan kapas kering baru hingga darah berhenti.• Membuang ADS bekas pakai langsung ke dalam safety box tanpa melakukan penutupan kembali jarum suntik (no recapping) 11
  12. 12. Intrakutan Suntikan BCG diberikan pada lengan kanan atas. • Dosis 0,05cc, disuntikkan ke dalam lapisan kulit dengan pelan-pelan (intrakutan). • Untuk memberikan suntikan intrakutan secara tepat,harus menggunakan jarum pendek yang sangat halus (10mm, ukuran 26). 12
  13. 13. Intramuskular Suntikan diberikan pada paha tengah luar secara intramuskular dengan dosis 0,5 cc Cara Pemberian : • Letakkan bayi dengan posisi miring di atas pangkuan ibu dengan seluruh kaki telanjang. • Orang tua sebaiknya memegang kaki bayi. • Pegang paha dengan ibu jari dan jari telunjuk. • Masukkan jarum dengan sudut 900. • Tekan seluruh jarum langsung ke bawah melalui kulit sehingga masuk ke dalam otot. Suntikkan pelan-pelan untuk mengurangi rasa sakit. 13
  14. 14. Subkutan Suntikan campak diberikan pada lengan kiri atas secara subkutan dengan dosis 0,5 cc Cara Pemberian : • Atur bayi dengan posisi miring di atas pangkuan ibu dengan seluruh lengan telanjang. • Orang tua sebaiknya memegang kaki bayi. Gunakan jari-jari kiri anda untuk menekan ke atas (mencubit) lengan bayi • Cepat tekan jarum ke dalam kulit yang menonjol ke atas dengan sudut 450. • Untuk mengontrol jarum, peganglah ujung semprit dengan ibu jari dan jari telunjuk anda tetapi jangan sentuh jarum. 14
  15. 15. Prosedur pelarutan vaksin Menggunakan pelarut yg tepat dan berasal dari produsen yg sama. Memperhatikan kedaluarsa pelarut. Memperhatikan VVM dan kedaluarsa vaksin Hanya melarutkan vaksin bila telah ada sasaran imunisasi. Saat melarutkan vaksin, suhu pelarut dan vaksin harus sama (2-8 oC). Memperhatikan tindakan aseptik dalam pelarutan Hanya menggunakan satu semprit untuk satu vial vaksin. Setelah dipergunakan semprit langsung dibuang ke safety box. Mencatat jam pelarutan vaksin Tidak mempergunakan vaksin bila telah lewat “masa pakai” setelah pelarutan. 15
  16. 16. B. PEMBERIAN VAKSIN YANG TEPAT SECARA AMAN Penyuntikan Vaksin Yang Tepat Secara Aman Meliputi:  Kualitas vaksin yang terjamin  Penyuntikan yang steril  Melarutkan vaksin secara benar  Lokasi suntikan yang tepat  Penapisan indikasi kontra  Teknik penyuntikan yang benar 16
  17. 17. Contoh praktek imunisasi yg tidak tepat & reaksi Praktek tidak tepat Reaksi hebat yang mungkin timbul setelah imunisasiSuntikan tidak steril Penggunaan kembali semprit dan jarum sekali  Infeksi seperti abses lokal di tempat suntikan, buang gejala sepsis, toxis shock syndrome atau kematian Sterilisasi semprit dan jarum yang tidak memadai  Penyebaran infeksi melalui darah seperti hepatitis Vaksin atau pelarut yang terkontaminasi B,C, HIVKesalahan pencampuran Kocokan vaksin yang tidak memadai  Abses lokal Pencampuran dengan pelarut yang tidak tepat  Vaksin tidak efektif Obat mengganti vaksin atau pelarut  Efek negatif dari obat, misal insulin, oksitosin, agen untuk mengurangi tegangan otot Penggunaan kembali vaksin yang telah dicampur  Kematian dengan pelarut pada pelayanan berikutnyaSuntikan di tempat yang salah BCG diberikan di bawah kulit (subcutaneous)  Reaksi lokal atau abses DTP/HB, DT,TT terlalu superfisial  Reaksi lokal atau abses Suntikan ke dalam pantat (bokong)  Kerusakan syaraf statikPengangkutan/penyimpan vaksin yang salah VVM berubah warna  Reaksi lokal dari vaksin berlebih Gumpalan vaksin serab (adsorbed)  Vaksin tidak efektif 17
  18. 18. ad 1. Cara2 Meningkatkan Keamanan Penyuntikana. Menyiapkan bundling (vaksin, ADS, kotak pengaman semprit)b. Menyiapkan vaksin hanya pada waktu akan memberikan suntikanc. Jangan biarkan jarum terpasang di atas tutup vial/ampul vaksind. Ikuti petunjuk penyimpanan dan penggunaan vaksine. Ikuti prosedur yang aman untuk mencampur vaksinf. Gunakan semprit sekali pakaig. Antisipasi terjadinya gerakan mendadak anak selama penyuntikan 18
  19. 19. INGAT !!! Jangan Membuka Karet Penutup Vaksin atau menyedot langsung dari vialJangan meninggalkan jarumsuntik tertanam dalam vial. •Jangan Menyiapkan suntikan sebelum anak / sasaran hadir 19
  20. 20. ad 2. Praktek Penyuntikan Yang Tidak Amana. Praktek yang dapat membahayakan penerima suntikanb. Praktek yang dapat membahayakan petugas kesehatanc. Praktek yang dapat membahayakan masyarakat 20
  21. 21. C. PENCEGAHAN LUKA TUSUKAN JARUM DAN INFEKSITusukan jarum dapat terjadi : Jika petugas kesehatan menutup kembali jarum atau berjalan sementara membawa semprit dan jarum bekas Jika pasien khususnya anak-anak tidak dalam posisi yang aman ketika mereka menerima suntikan Jika praktek-praktek pembuangan yang tidak aman membiarkan orang atau hewan terkena semprit atau jarum bekas 21
  22. 22. PENANGANAN LIMBAH TIDAK AMAN 22
  23. 23. Cara Mencegah Luka Tusukan Jarum dan Infeksi 1. Mengurangi keinginan untuk memegang jarum dan semprit 2. Memegang semprit dan jarum dengan aman 3. Mengatur tataletak tempat pelayanan imunisasi4. Mengatur posisi anak yg tepat untuk penyuntikan5. Mempraktekkan pembuangan sampah medis tajam secara aman 23
  24. 24. ad.2.Memegang semprit dan jarum dengan amanPENTING: Jika anda menyentuh bagian-bagian ini, buang semprit dan jarum dan ambil semprit yang baru dan steril. 24
  25. 25. 25
  26. 26. ad.4. Mengatur posisi anak yang tepat untuk penyuntikan Posisi anak ketika divaksinasi. Lengan yg satu Tangan yg lain dijepit ketiak ibu dipegang ibu, Kemudian anak dipeluk Tungkai anak dijepit paha ibu 26
  27. 27. Pencegahan tertusuk jarum : Posisi bayi ketika diimunisasi 27
  28. 28. ad. 5. Pembuangan sampah semua benda medis tajam secara aman 28
  29. 29. Menggunakan Kotak Pengamanan (safety box)• Kotak tahan air dan tusukanPembuatan dan penggunaan kotak pengaman Jika kotak pengaman tidak digunakan, tutup pembuka kotak di bagian atas Simpan kotak pengaman di tempat kering, aman dan jauh dari jangkauan anak-anak dan masyarakat umum, sampai kotak ini telah dibuang dengan aman. Kotak pengaman hanya untuk tempat pembuangan semprit Setelah pelayanan di posyandu kotak pengaman dibawa kembali ke Puskesmas 29
  30. 30. Jangan membuang ADS dalam safety box melebihi ¾ box  mencegah tertusuk jarum 30
  31. 31. D. PEMANTAUANKEJADIAN IKUTAN PASCA IMUNISASI (KIPI) Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi Semua kejadian sakit dan kematian yang terjadi dalam masa satu bulan setelah imunisasi dan diduga karena imunisasi 31
  32. 32. Bagan Maturasi Perjalanan Program Imunisasi KIPI meningkat Kepercayaan Cakupan Kepercayaan masyarakat Pra masyarakat meningkat Eradikasi meningkat vaksinasi menurun, kembali terjadi KLB ImunisasiPenyakit stop KLB Eradikasi penyakit (Chen RT, 1999) 32
  33. 33. Klasifikasi Lapangan KIPI, Penyebab KIPI (WHO, 1999)• Reaksi vaksin – Kejadian yang disebabkan atau dipicu oleh vaksin yang telah diberikan secara benar, yang disebabkan oleh sifat-sifat yang dimiliki vaksin.• Kesalahan Program – Kejadian yang disebabkan oleh kesalahan dalam menyiapkan, menangani atau cara pemberian vaksin. 33
  34. 34. Klasifikasi Lapangan KIPI (WHO, 1999) Lanjutan…• Koinsiden – Kejadian yang terjadi sesudah imunisasi tetapi bukan disebabkan oleh vaksin (faktor kebetulan).• Reaksi suntikan – Kejadian, berupa kecemasan atau rasa sakit karena penyuntikan dan bukan karena vaksin.• Tidak diketahui – Penyebab kejadian belum dapat ditentukan. 34
  35. 35. Angka per Vaksin Reaksi Onset interval juta dosisBCG Adenitis supuratif 2 – 6 bulan 100 – 1.000 BCG osteitis 1 – 12 bulan 1 – 700 Disseminated BCGitis 1 – 12 bulan 2Hepatitis B Anafilaksis 0 – 1 jam 1–2 Sindrom Guillan-Barré (jenis vaksin : 1 – 6 minggu 5 plasma-derived)Campak/ MMRa) Kejang demam 5 – 12 hari 333 Trombositopenia (kurang platelet) 15 – 35 hari 33 Anafilaksis 0 – 1 jam 1 – 50Vaksin Polio oral Vaccine Associated Paralytic 4 – 30 hari 1,4 – 3,4b) Poliomyelitis (VAPP)Tetanus Neuritis brakhialis 2 – 28 hari 5 – 10 Anafilaksis 0 – 1 jam 1–6 Abses steril 1 – 6 minggu 6 - 10DTP Menangis menjerit berkepanjangan 0 – 24 jam 1.000 – 60.000 (>3 jam) Kejang demam 0 – 3 hari 570c) Episode hipotonik hiporensponsif 0 – 24 jam 570 Anafilaksis/syok 0 – 1 jam 20 Ensefalopati 0 – 3 hari 0 – 1d) 35
  36. 36. Surveilans KIPIPengertian : Kegiatan untuk mendeteksi dini, merespon kasus KIPI dengan cepat dan tepat serta mengurangi dampak negatif terhadap imunisasi untuk kesehatan individu dan program imunisasi 36
  37. 37. Tujuan Kegiatan Surveilans KIPI Mendeteksi, memperbaiki dan mencegah kesalahan program Mengidentifikasi peningkatan rasio KIPI yang tidak wajar pada batch vaksin atau merek vaksin tertentu Memastikan bahwa suatu kejadian yang di duga KIPI merupakan koinsidens Menimbulkan kepercayaan masyarakat terhadap program imunisasi 37
  38. 38. Penemuan Kas u s Informas i dari M as yarakat 24 jam Petugas Kes e hatan Pelacakan Konfirmas i : Pos itif atau negatif  Identifikas i: Kas us Vaks in Petugas Petugas Pus kesmas Tata laks ana Sikap M as yara kat  Tunggal/berkelompok  Apakah ada ka us lainyangs e s rupa Analis is (Sementara) Klas ifikas i KIPI Tim KIPI  PenyebabKIPI Kabupaten/Kota Tindak Lanjut Pengobatan Pus kes mas RS  Komunikas i  Perbaikan M utu Pelayan an Dinas Kes Kab./Kota Laporan Kas us Inves tigas i Komda KIPI KomNa s  Pemantauan KIPI Propins i PP-KIPILangkah kegiatan dari penemuan kasus KIPI sampai pelaporan 38
  39. 39. Pelaporan KIPIYang Harus dilaporkan :1. Indentitas2. Jenis vaksin, batch, kedaluarsa, siapa yang memberi, dll3. Nama dokter /petugas kesehatan yg bertanggung jawab4. Adakah KIPI pada imunisasi terdahulu5. Gejala klinis yg timbul dan diagnosis6. Waktu pemberian imunisasi (tanggal, jam)7. Waktu timbulnya gejala KIPI setelah imunisasi8. Gejala sisa setelah dirawat/sembuh9. Cara penyelesaian KIPI (kronologis)10. Adakah tuntutan dari keluarga 39
  40. 40. BAB 6SUPERVISI DI PUSKESMAS 40
  41. 41. SUPERVISI DI PUSKESMAS1. Peningkatan cakupan imunisasi mencapai target2. Kualitas vaksin terjaga sampai ke sasaran3. Kualitas pelayanan imunisasi4. Pencatatan dan pelaporan imunisasi Mencegah terbentuk/menghilangkan kelompok rentan PD3I 41
  42. 42. 1. Peningkatan cakupan imunisasi• Revitalisasi posyandu• Revitalisasi PWS bulanan imunisasi• DOFU (drop out follow up) : menemukan bayi yang belum imunisasi• Sweeping : mencari bayi yang belum lengkap imunisasi• Daerah urban : meningkatkan kerjasama dengan praktek swasta• Daerah terpencil : mengatur jadwal kunjungan dan imunisasi  minimal 3 kali kunjngan/thn• BLF : melengkapi imunisasi anak2 usia < 3thn pada daerah yang 3 thn berturut2 tidak mencapai UCI 42
  43. 43. Contoh jadwal kerja tahun 2007 Puskesmas X K abupaten Y September Oktober Nopember Desember Rencana pelayanan Nama Tanggal Tanggal Tanggal TanggalDesa Transportasi imunisasi Petugas Perencanaan dan Perencanaan dan Perencanaan dan Perencanaan dan pelaksanaan pelaksanaan pelaksanaan pelaksanaan Pelayanan imunisasi di Pustu setiap hariM alabar Rabu minggu Sukir Sepeda motor 01-Sep 05-Okt 05-N op pertama Pelayanan keluar setiap hari RabuK alingga minggu kedua di Fatimah Sepeda motor 16-Sep 12-Okt 26-N op Posyandu Pelayanan keluar setiap hari RabuL ayur minggu ketiga di Sepeda motor 22-Sep 19-Okt 26-N op Posyandu Pelayanan keluar setiap hari RabuP dan N minggu keempat di Sepeda motor 29-Sep 26-Okt 28-N op Posyandu M emastikan Pelatihan tentang semua ibu hamil PertemuanRencana kegiatan untuk triwulan ini penggunaan A D menerima TT Triwulan 28 Nov syringe pada pelayanan di posyandu M enjadwal ulang M erencanakanK egiatan baru untuk memecahkan masalah (berdasarkan analisa M elakukan kegiatan di Desa pelayanan keluardata dan monitoring) kunjunagn rumah K alinnga bagi para migrantM onitoring pelaksanaan pelayanan imunisasi (jumlah kali) 43
  44. 44. 44
  45. 45. Pemantauan Wilayah Setempat (PWS) Untuk mencapai Target Desa UCI 97.5 90 82.5 75 67.5 60 52.5 45 37.5 30 % DTP 1 22.5 15 7.5 0 Dimoro Tambirejo Health Center Depok Genengadal Pulangpuyang Katong Sugihan Sindurejo Bandunchajo Kranganharjo TorohCumulative % 97.4 94.9 82.7 79.4 77.5 77.1 75.5 68.7 68.5 65.4 77.4% This Month 9.4 7.6 6 6.4 10.9 9.9 3.7 12.1 9.6 5.7 8% Last month 7.6 3.8 18 7.1 13.3 7.6 6.1 11.1 8.9 4.2 8.7Trend 45
  46. 46. 2. Kualitas vaksin terjaga sampai ke sasaran• Memantau kualitas penyimpanan vaksin di lemari es terjaga 2-80C, tidak ada bunga es• Membawa vaksin ke pelayanan  tidak menggunakan es batu/cold pack• Menjaga kualitas vaksin di tempat pelayanan  tetap disimpan dalam vaccine carrier 46
  47. 47. 3. Kualitas pelayanan imunisasi• Menggunakan ADS (auto disable syringe),tidak recapping,lokasi & teknik penyuntikan benar• Pengelolaan penanganan limbah imunisasi : memanfaatkan safety box, regulasi pemusnahan limbah• Efisiensi : tidak banyak vaksin yang terbuang (Indek Pemakaian tinggi) : Pengaturan/penjadwalan pelayanan imunisasi : posyandu dan puskesmas 47
  48. 48. 4. Pencatatan dan pelaporan imunisasi• Pencatatan : kohort/register bayi/WUS• Pelaporan : tepat waktu dan lengkap – Tepat waktu : • PKM ke Kab/kota  max 5 • Kab/kota ke prov  max 10 • Prov ke Pusat  max 15 – Lengkap : cakupan, pemakaian logistik, IP – Lap KIPI 48
  49. 49. AKANKAH KITA BIARKAN ANAK-ANAK KITA MENJADI SEPERTI INI?? CEGAH DENGAN IMUNISASI!!! DIPHTHERIA CACAR 50% MENINGGAL DG GAGAL JANTUNG LUMPUH LAYU FOLIO PERTUSIS CACAT MENETAP CAMPAK 54% MENINGGAL KARENA PNEUMONIA 49
  50. 50. 50

×