POPULASI DAN SAMPEL
Oleh :
1. Agus
2. Andini
3. Teti
Populasi
Populasi merupakan wilayah generalisasi yang terdiri
atas: obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan
karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk
dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Populasi
bukan hanya orang, tetapi juga benda-benda alam yang
lain. Populasi juga bukan sekedar jumlah yang ada pada
obyek/subyek yang dipelajari, tetapi meliputi seluruh
karakteristik/sifat yang dimiliki oleh obyek atau subyek
tersebut.
• Misalnya akan melakukan penelitian di sekolah X, maka
sekolah X ini merupakan populasi.
Satu orangpun dapat digunakan sebagai
populasi, karena satu orang itu mempunyai
berbagai karakteristik, misalnya gaya bicaranya,
disiplin, pribadi, hobi, dan cara bergaul,
kepemimpinannya dan lain-lain. Misalnya akan
melakukan penelitian tentang kepemimpinan
presiden Y maka kepemimpinan itu merupakan
sampel dari semua karakteristik yang dimiliki
presiden Y.
Berdasrkan sifatnya, populasi dapat
digolongkan menjadi 2, yaitu :
1. Populasi Homogen, adalah sumber data yang
unsurnya memiliki sifa yang sama sehingga
tidak perlu mempersoalkan jumlahnya secara
kuantatif
2. Populasi Heterogen, adalah sumber data
yang unsurnya memiliki sifat dan keadaaan
yang berbeda ( Bervariasi ) sehingga perlu
ditetapkan batas – batasnya, baik secara
kualitatif maupun kuantitatif.
Sampel
Sampel adalah sebagian dari jumlah dan
karakteristik yang dimiliki oleh populasi
tersebut.
Teknik Pengambilan Sampel
Teknik Sampling adalah merupakan teknik
pengambilan sampel. Untuk menentukan
sampel yang akan digunakan dalam penelitian,
terdapat berbagai teknik sampling yang
digunakan. Secara skematis, teknik macam-
macam sampling ditunjukkan pada gambar
berikut :
teknik sampling dapat dikelompokkan menjadi
dua yaitu Probability Sampling dan Nonprobability
Sampling.
• Probability sampling meliputi, simple random
sampling, proportionate stratified
random, disproportinate statified random, dan
area random.
• Nonprobability Sampling meliputi, sampling
sistematis, sampling kuota, sampling aksidental,
purposive sampling, sampling jenuh, dan
snowball sampling.
Probability Sampling
Probability sampling adalah teknik sampling
yang memberikan peluang yang sama bagi
setiap unsur (anggota) populasi untuk dipilih
menjadi anggota sampel. Teknik ini
meliputi simple random sampling, proportionate
stratified random sampling, disproportinate
statified random sampling, dan sampling area
(cluster) sampling (sampling menurut daerah).
• Simple Random Sampling
Simple random sampling merupakan
pengambilan anggota sampel dari populasi
dilakukan secara acak tanpa memperhatikan
strata yang ada dalam populasi itu. Cara
demikian dilakukan bila anggota populasi
dianggap homogen.
• Proportionate stratified random sampling
Teknik ini digunakan bila populasi mempunyai
anggota/unsur yang tidak homogen dan berstrata
secara proposional. Suatu organisasi yang mempunyai
pegawai dari latar belakang pendidikan yang berstrata,
maka populasi pegawai itu berstrata. Misalnya jumlah
pegawai yang lulus S1 = 45 orang, S2 = 30 orang, STM =
800 orang, ST = 900 Oorang, SMEA = 400 orang, SD =
300 orang. Jumlah sampel yang harus diambil meliputi
strata pendidikan tersebut.
• Disproportionate stratified random sampling
Teknik ini digunakan untuk menentukan
jumlah sampel, bila populasi berstrata tetapi
kurang proporsional. Misalnya pegawai dari unit
kerja tertentu mempunyai; 3 orang lulusan S3 , 4
orang lulusan S2, 90 orang S1 , 800 orang SMU ,
700 orang SMP . Maka 3 orang lulusan S3 dan 4
S2 orang lulusan tersebut diambil semuanya
sebagai sampel. Karena dua kelompok ini terlalu
kecil bila dibandingkan dengan kelompok , , dan
.
• Cluster sampling (Area sampling)
Teknik sampling daerah digunakan untuk
menentukan sampel bila obyek yang akan diteliti
atau sumber data sangat luas, misalnya
penduduk dari suatu negara, provinsi, atau
kabupaten. Untuk menentukan penduduk mana
yang akan jadi sumber data, maka pengambilan
sampelnya berdasarkan daerah populasi yang
telah ditetapkan.
Teknik sampling daerah ini sering digunakan
melalui dua tahap, yaitu tahap pertama
menentukan sampel daerah, dan tahap
berikutnya menentukan orang-orang yang ada
pada daerah itu secara sampling juga. Teknik ini
dapat digambarkan seperti gambar berikut,
Nonprobability Sampling
Sedangkan non probability sampling adalah
teknik yang tidak memberikan
peluang/kesempatan sama bagi setiap unsur
atau anggota populasi untuk dipilih menjadi
sampel. Teknik ini meliputi sampling sistematis,
sampling kuota, sampling aksidental, sampling
purposive, sampling jenuh, dan snowball
sampling.
• Sampling sistematis
Sampling sistematis adalah teknik pengambilan
sampel berdasarkan urutan dari anggota populasi yang
telah diberi nomor urut. Misalnya anggota populasi
yang terdiri dari 100 orang. Dari semua anggota
tersebut diberi nomor urut, yaitu nomor 1 sampai
dengan nomor 100.
• Sampling kuota
Sampling kuota adalah teknik menentukan
sampel dari populasi yang mempunyai ciri-ciri
tertentu sampai jumlah (kuota) yang diinginkan.
Sebagai contoh, akan melakukan penelitian
tentang pendapat masyarakat terhadap
pelayanan masyarakat dalam urusan Ijin
Mendirikan Bangunan. Jumlah sampel yang
ditentukan 500 orang. Kalau pengumpulan data
belum didasarkan pada 500 orang tersebut,
maka penelitian dipandang belum selesai,
karena belum memenuhi kuota yang ditentukan.
• Sampling ansidental
Sampling insidental adalah teknik penentuan
sampel berdasarkan kebetulan, yaitu siapa saja
yang secara kebetulan/insidental bertemu dengan
peneliti, hasil datanya dapat digunakan sebagai
sampel, bila dipandang orang yang kebetulan yang
ditemui itu cocok sebagai sumber data.
• Sampling purposive
Sampling purposive adalah teknik penentuan
sampel dengan pertimbangan tertentu. Misalnya
akan melekukan penelitian tentang kualitas
makanan, maka sampel sumber datanya adalah
orang yang ahli makanan.
• Sampling jenuh
Sampling jenuh adalah teknik penentuan sampel bila semua
anggota populasi digunakan sebagai sampel. Hal ini sering
dilakukan bila jumlah populasi relatif kecil, kurang dari 30 orang,
atau penelitian yang ingin membuat generalisasi dengan kesalahan
yang sangat kecil. Istilah lain sampel jenuh adalah sensus, dimana
semua anggota populasi dijadikan sampel.
• Snowball sampling
Snowball sampling adalah teknik penentuan sampel yang
mula-mula jumlahnya kecil, kemudian membesar. Ibarat bola salju
yang menggelinding yang lama-lama menjadi besar. Dalam
penentuan sampel, pertama-tama dipilih satu atau dua orang,
tetapi karena dengan dua orang ini belum merasa lengkap data
yang diberikan, maka peneliti mencari orang lain yang dipandang
lebih tahu dan dapat melengkapi data yang diberikan oleh dua
orang sebelumnya. Begitu seterusnya, sehingga jumlah sampel
semakin banyak.
Menentukan Ukuran Sampel
Makin besar jumlah sampel mendekati populasi,
maka peluang kesalahan generalisasi semakin
kecil dan sebaliknya semakin kecil jumlah
sampel menjauhi populasi, maka semakin besar
kesalahan generalisasi (diberlakukan umum).
Jumlah anggota sampel yang paling tepat
digunakan dalam penelitian tergantung pada
tingkat ketelitian atau kesalahan yang
dikehendaki. Tingkat ketelitian/kepercayaan
yang dikehendaki sering tergantung pada
sumber dana, waktu, dan tenaga yang tersedia.
Makin besar tingkat kesalahan maka akan
semakin kecil jumlah sampel yang diperlukan,
dan sebaliknya, makin kecil tingkat kesalahan,
maka akan semakin besar jumlah anggota
sampel yang diperlukan sebagai sumber dana.
Berikut ini diberikan tabel penentuan jumlah
sampel dari populasi tertentu yang
dikembangkan dari Isaac dan Michael untuk
tingkat kesalahan, 1%, 5%, dan 10%.
Contoh Menentukan Ukuran Sempel,
Akan dilakukan penelitian untuk mengetahui tanggapan
kelompok masyarakat terhadap pelayanan yang diberikan oleh
Pemerintah Daerah tertentu. Kelompok masyarakat itu terdiri
1000 orang, yang dapat dikelompokan berdasarkan jenjang
pendidikan, yaitu lulusan S1= 50, Sarjana Muda = 300, SMK =
500, SMP = 100, SD = 50 (populasi berstrata).
Bila jumlah populasi = 1000, kesalahan 5% , maka jumlah
sempelnya = 258, Karena populasi berstrata, maka sampelnya
jga berstrata. Stratanya ditentukan menurut jenjang
pendidikan. Dengan demikian masing-masing sempel untuk
tingkat pendidikan harus proporsional sesuai dengan populasi.
Berdasarkan perhitungan dengan cara berikut ini jumlah
sampel untuk kelompok S1 = 14, Sarjana Muda (SM) = 83,
SMK = 139, SMP = 14, dan SD = 28.
Roscoe dalam buku Research Methonds For Business (1982, p.
253) memberikan saran-saran tentang ukuran sempel untuk penelitian
seperti berikut ini:
• Ukuran sempel yang layak dalam penelitian adalah antara 30
sampai dengan 500.
• Bila sempel dibagi dalam katagori ( misalnya: pria-wanita, pegawai
negeri-swasta dan lain-lain) maka jumlah anggota sempel setiap
katagori minimal 30.
• Bila dalam penelitian akan melakukan analisis dengan Multivariate
(korelasi atau regresi ganda misalnya). Maka jumlah anggota
sempel minimal 10 kali dari jumlah variabel yang diteliti. Misalnya
variabel penelitiaanya ada 5 (independen + dependen), maka
jumlah anggota sempel = 10 x 5 = 50.
• Untuk penelitian eksperimen yang sederhana, yang mengunakan
kelompok ekspetrimen dan kelompok kontrol, maka jumlah anggota
sempel masing-masing antara 10 s/d 20.
Kesalahan Sampling dan Kesalahan
non-Sampling
1. Kesalahan Sampling
Kesalahan ini terjadin disebabkan oleh
kenyataan adanya pemeriksaan yang tidak
lengkap tentang populasi dan penelitian hanya
dilakukan berdasarkan sample
Sebagian dari kesalahan-kesalahn sampling pada umumnya adalah
sebagai berikut:
• Menyeleksi subjek-subjek untuk suatu sampel karena tersedia dan ini
menyenangkan bagi peneliti untuk menggunakannya, disamping
menyeleksi subjek-subjek dengan berdasarkan ketepatan dalam hal-hal
populasi target. Jika sampel tidak tepat, temuan temuan dari kajian
tidak dapat digeneralisasikan.
• Menyeleksi sujek-subjek untuk kelompok yang dibandingkan dari
populasi-populasi yang berbeda: jika perbandingan antara kelompok-
kelompok tidak valid.
• Menyeleksi suatu sampel yang tidak tipikal dari populasi
• Menyeleksi suatu sampel yang terlalu kecil untuk desain penelitian dan
analisis statistik yang digunakan.
• Menyeleksi sampel yang gagal memenuhi kebutuhan desain penelitian.
• Menggunakan para relawan tetapi gagl untuk menentukan apakah
mereka berbeda dengan para non relawan tentang beberapa
karakteristik atau kemampuan yang kursial pada kajian tersebut.
• Menyeleksi sampel yang tidak membuat syarat-syarat untuk
pergeseran dan mungkin pada akhir kajian terbukti terlalu kecil
2. Kesalahan Non Sampling
Kesalahan ini terjadi dalam setiap penelitian, apakah itu
berdasarkan sampling ataukah berdasarkan sensus.
Beberapa penyebab terjadinya kesalahan non –
sampling adalah :
1. Poplasi tidak diidentifikasi sebagaimana mestinya.
2. Populasi yang menyimpang dari populasi yang seharusnya
dipelajari
3. Angket idak dirumuskan sebagaimana mestinya yang
memenuhu standar validitas
4. Istilah – istilah telah didefinisikan kurang tepat atau telah
digunakan tidak secara konsisten ( Reliabel )
5. Para responden tidak memberikan jawaban yang akurat,
menolak untuk menjawab atau tidak ada ditempat ketika
petugas ( peneliti ) datang untuk melakukan wawancara.
Tempat dan Jadwal Penelitian
1. Klasifikasi Penelitian Berdasarkan Tempat
Pelaksanaannya :
Penelitian dapat dilakukan diberbagai tempat,
yaitu di perpustakaan, lapangan, laboratorium atau
gabungan dari tempat-tempat tersebut. Atas dasar
tinjauan tersebut penelitian dibedakan menjadi :
• Penelitian perpustakaan (library research),
• Penelitian laborartorium (laboratory research),
• Penelitian lapangan (field research)
2. Klasifikasi Penelitian Berdasarkan Metode :
Berdasarkan metode yang dipakai, penelitian
dibedakan menjadi penelitian longitudinal dan penelitian
cross-sectional. Penelitian longitudinal (longitudinal
research) adalah penelitian yang dilakukan dengan
metode longitudinal (longituninal method), yaitu metode
penelitian yang membutuhkan waktu yang lama,
berbulan-bulan bahkan bertahun, secara
berkesinambungan. Sedangkan penelitian cross-sectional
(cross-sectional research) merupakan penelitian yang
dilakukan dengan metode cross-sectional (cross-sectional
method), yaitu metode penelitian yang dilakukan dengan
mengambil waktu tertentu yang relative pendek dan
tempat tert (Kuntjotjo, 2009)entu.

Populasi dan-sampel

  • 1.
    POPULASI DAN SAMPEL Oleh: 1. Agus 2. Andini 3. Teti
  • 2.
    Populasi Populasi merupakan wilayahgeneralisasi yang terdiri atas: obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Populasi bukan hanya orang, tetapi juga benda-benda alam yang lain. Populasi juga bukan sekedar jumlah yang ada pada obyek/subyek yang dipelajari, tetapi meliputi seluruh karakteristik/sifat yang dimiliki oleh obyek atau subyek tersebut. • Misalnya akan melakukan penelitian di sekolah X, maka sekolah X ini merupakan populasi.
  • 3.
    Satu orangpun dapatdigunakan sebagai populasi, karena satu orang itu mempunyai berbagai karakteristik, misalnya gaya bicaranya, disiplin, pribadi, hobi, dan cara bergaul, kepemimpinannya dan lain-lain. Misalnya akan melakukan penelitian tentang kepemimpinan presiden Y maka kepemimpinan itu merupakan sampel dari semua karakteristik yang dimiliki presiden Y.
  • 4.
    Berdasrkan sifatnya, populasidapat digolongkan menjadi 2, yaitu : 1. Populasi Homogen, adalah sumber data yang unsurnya memiliki sifa yang sama sehingga tidak perlu mempersoalkan jumlahnya secara kuantatif 2. Populasi Heterogen, adalah sumber data yang unsurnya memiliki sifat dan keadaaan yang berbeda ( Bervariasi ) sehingga perlu ditetapkan batas – batasnya, baik secara kualitatif maupun kuantitatif.
  • 5.
    Sampel Sampel adalah sebagiandari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut.
  • 6.
    Teknik Pengambilan Sampel TeknikSampling adalah merupakan teknik pengambilan sampel. Untuk menentukan sampel yang akan digunakan dalam penelitian, terdapat berbagai teknik sampling yang digunakan. Secara skematis, teknik macam- macam sampling ditunjukkan pada gambar berikut :
  • 8.
    teknik sampling dapatdikelompokkan menjadi dua yaitu Probability Sampling dan Nonprobability Sampling. • Probability sampling meliputi, simple random sampling, proportionate stratified random, disproportinate statified random, dan area random. • Nonprobability Sampling meliputi, sampling sistematis, sampling kuota, sampling aksidental, purposive sampling, sampling jenuh, dan snowball sampling.
  • 9.
    Probability Sampling Probability samplingadalah teknik sampling yang memberikan peluang yang sama bagi setiap unsur (anggota) populasi untuk dipilih menjadi anggota sampel. Teknik ini meliputi simple random sampling, proportionate stratified random sampling, disproportinate statified random sampling, dan sampling area (cluster) sampling (sampling menurut daerah).
  • 10.
    • Simple RandomSampling Simple random sampling merupakan pengambilan anggota sampel dari populasi dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi itu. Cara demikian dilakukan bila anggota populasi dianggap homogen.
  • 11.
    • Proportionate stratifiedrandom sampling Teknik ini digunakan bila populasi mempunyai anggota/unsur yang tidak homogen dan berstrata secara proposional. Suatu organisasi yang mempunyai pegawai dari latar belakang pendidikan yang berstrata, maka populasi pegawai itu berstrata. Misalnya jumlah pegawai yang lulus S1 = 45 orang, S2 = 30 orang, STM = 800 orang, ST = 900 Oorang, SMEA = 400 orang, SD = 300 orang. Jumlah sampel yang harus diambil meliputi strata pendidikan tersebut.
  • 12.
    • Disproportionate stratifiedrandom sampling Teknik ini digunakan untuk menentukan jumlah sampel, bila populasi berstrata tetapi kurang proporsional. Misalnya pegawai dari unit kerja tertentu mempunyai; 3 orang lulusan S3 , 4 orang lulusan S2, 90 orang S1 , 800 orang SMU , 700 orang SMP . Maka 3 orang lulusan S3 dan 4 S2 orang lulusan tersebut diambil semuanya sebagai sampel. Karena dua kelompok ini terlalu kecil bila dibandingkan dengan kelompok , , dan .
  • 13.
    • Cluster sampling(Area sampling) Teknik sampling daerah digunakan untuk menentukan sampel bila obyek yang akan diteliti atau sumber data sangat luas, misalnya penduduk dari suatu negara, provinsi, atau kabupaten. Untuk menentukan penduduk mana yang akan jadi sumber data, maka pengambilan sampelnya berdasarkan daerah populasi yang telah ditetapkan.
  • 14.
    Teknik sampling daerahini sering digunakan melalui dua tahap, yaitu tahap pertama menentukan sampel daerah, dan tahap berikutnya menentukan orang-orang yang ada pada daerah itu secara sampling juga. Teknik ini dapat digambarkan seperti gambar berikut,
  • 15.
    Nonprobability Sampling Sedangkan nonprobability sampling adalah teknik yang tidak memberikan peluang/kesempatan sama bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel. Teknik ini meliputi sampling sistematis, sampling kuota, sampling aksidental, sampling purposive, sampling jenuh, dan snowball sampling.
  • 16.
    • Sampling sistematis Samplingsistematis adalah teknik pengambilan sampel berdasarkan urutan dari anggota populasi yang telah diberi nomor urut. Misalnya anggota populasi yang terdiri dari 100 orang. Dari semua anggota tersebut diberi nomor urut, yaitu nomor 1 sampai dengan nomor 100.
  • 17.
    • Sampling kuota Samplingkuota adalah teknik menentukan sampel dari populasi yang mempunyai ciri-ciri tertentu sampai jumlah (kuota) yang diinginkan. Sebagai contoh, akan melakukan penelitian tentang pendapat masyarakat terhadap pelayanan masyarakat dalam urusan Ijin Mendirikan Bangunan. Jumlah sampel yang ditentukan 500 orang. Kalau pengumpulan data belum didasarkan pada 500 orang tersebut, maka penelitian dipandang belum selesai, karena belum memenuhi kuota yang ditentukan.
  • 18.
    • Sampling ansidental Samplinginsidental adalah teknik penentuan sampel berdasarkan kebetulan, yaitu siapa saja yang secara kebetulan/insidental bertemu dengan peneliti, hasil datanya dapat digunakan sebagai sampel, bila dipandang orang yang kebetulan yang ditemui itu cocok sebagai sumber data. • Sampling purposive Sampling purposive adalah teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu. Misalnya akan melekukan penelitian tentang kualitas makanan, maka sampel sumber datanya adalah orang yang ahli makanan.
  • 19.
    • Sampling jenuh Samplingjenuh adalah teknik penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel. Hal ini sering dilakukan bila jumlah populasi relatif kecil, kurang dari 30 orang, atau penelitian yang ingin membuat generalisasi dengan kesalahan yang sangat kecil. Istilah lain sampel jenuh adalah sensus, dimana semua anggota populasi dijadikan sampel. • Snowball sampling Snowball sampling adalah teknik penentuan sampel yang mula-mula jumlahnya kecil, kemudian membesar. Ibarat bola salju yang menggelinding yang lama-lama menjadi besar. Dalam penentuan sampel, pertama-tama dipilih satu atau dua orang, tetapi karena dengan dua orang ini belum merasa lengkap data yang diberikan, maka peneliti mencari orang lain yang dipandang lebih tahu dan dapat melengkapi data yang diberikan oleh dua orang sebelumnya. Begitu seterusnya, sehingga jumlah sampel semakin banyak.
  • 21.
    Menentukan Ukuran Sampel Makinbesar jumlah sampel mendekati populasi, maka peluang kesalahan generalisasi semakin kecil dan sebaliknya semakin kecil jumlah sampel menjauhi populasi, maka semakin besar kesalahan generalisasi (diberlakukan umum).
  • 22.
    Jumlah anggota sampelyang paling tepat digunakan dalam penelitian tergantung pada tingkat ketelitian atau kesalahan yang dikehendaki. Tingkat ketelitian/kepercayaan yang dikehendaki sering tergantung pada sumber dana, waktu, dan tenaga yang tersedia. Makin besar tingkat kesalahan maka akan semakin kecil jumlah sampel yang diperlukan, dan sebaliknya, makin kecil tingkat kesalahan, maka akan semakin besar jumlah anggota sampel yang diperlukan sebagai sumber dana.
  • 23.
    Berikut ini diberikantabel penentuan jumlah sampel dari populasi tertentu yang dikembangkan dari Isaac dan Michael untuk tingkat kesalahan, 1%, 5%, dan 10%.
  • 25.
    Contoh Menentukan UkuranSempel, Akan dilakukan penelitian untuk mengetahui tanggapan kelompok masyarakat terhadap pelayanan yang diberikan oleh Pemerintah Daerah tertentu. Kelompok masyarakat itu terdiri 1000 orang, yang dapat dikelompokan berdasarkan jenjang pendidikan, yaitu lulusan S1= 50, Sarjana Muda = 300, SMK = 500, SMP = 100, SD = 50 (populasi berstrata). Bila jumlah populasi = 1000, kesalahan 5% , maka jumlah sempelnya = 258, Karena populasi berstrata, maka sampelnya jga berstrata. Stratanya ditentukan menurut jenjang pendidikan. Dengan demikian masing-masing sempel untuk tingkat pendidikan harus proporsional sesuai dengan populasi. Berdasarkan perhitungan dengan cara berikut ini jumlah sampel untuk kelompok S1 = 14, Sarjana Muda (SM) = 83, SMK = 139, SMP = 14, dan SD = 28.
  • 28.
    Roscoe dalam bukuResearch Methonds For Business (1982, p. 253) memberikan saran-saran tentang ukuran sempel untuk penelitian seperti berikut ini: • Ukuran sempel yang layak dalam penelitian adalah antara 30 sampai dengan 500. • Bila sempel dibagi dalam katagori ( misalnya: pria-wanita, pegawai negeri-swasta dan lain-lain) maka jumlah anggota sempel setiap katagori minimal 30. • Bila dalam penelitian akan melakukan analisis dengan Multivariate (korelasi atau regresi ganda misalnya). Maka jumlah anggota sempel minimal 10 kali dari jumlah variabel yang diteliti. Misalnya variabel penelitiaanya ada 5 (independen + dependen), maka jumlah anggota sempel = 10 x 5 = 50. • Untuk penelitian eksperimen yang sederhana, yang mengunakan kelompok ekspetrimen dan kelompok kontrol, maka jumlah anggota sempel masing-masing antara 10 s/d 20.
  • 29.
    Kesalahan Sampling danKesalahan non-Sampling 1. Kesalahan Sampling Kesalahan ini terjadin disebabkan oleh kenyataan adanya pemeriksaan yang tidak lengkap tentang populasi dan penelitian hanya dilakukan berdasarkan sample
  • 30.
    Sebagian dari kesalahan-kesalahnsampling pada umumnya adalah sebagai berikut: • Menyeleksi subjek-subjek untuk suatu sampel karena tersedia dan ini menyenangkan bagi peneliti untuk menggunakannya, disamping menyeleksi subjek-subjek dengan berdasarkan ketepatan dalam hal-hal populasi target. Jika sampel tidak tepat, temuan temuan dari kajian tidak dapat digeneralisasikan. • Menyeleksi sujek-subjek untuk kelompok yang dibandingkan dari populasi-populasi yang berbeda: jika perbandingan antara kelompok- kelompok tidak valid. • Menyeleksi suatu sampel yang tidak tipikal dari populasi • Menyeleksi suatu sampel yang terlalu kecil untuk desain penelitian dan analisis statistik yang digunakan. • Menyeleksi sampel yang gagal memenuhi kebutuhan desain penelitian. • Menggunakan para relawan tetapi gagl untuk menentukan apakah mereka berbeda dengan para non relawan tentang beberapa karakteristik atau kemampuan yang kursial pada kajian tersebut. • Menyeleksi sampel yang tidak membuat syarat-syarat untuk pergeseran dan mungkin pada akhir kajian terbukti terlalu kecil
  • 31.
    2. Kesalahan NonSampling Kesalahan ini terjadi dalam setiap penelitian, apakah itu berdasarkan sampling ataukah berdasarkan sensus. Beberapa penyebab terjadinya kesalahan non – sampling adalah : 1. Poplasi tidak diidentifikasi sebagaimana mestinya. 2. Populasi yang menyimpang dari populasi yang seharusnya dipelajari 3. Angket idak dirumuskan sebagaimana mestinya yang memenuhu standar validitas 4. Istilah – istilah telah didefinisikan kurang tepat atau telah digunakan tidak secara konsisten ( Reliabel ) 5. Para responden tidak memberikan jawaban yang akurat, menolak untuk menjawab atau tidak ada ditempat ketika petugas ( peneliti ) datang untuk melakukan wawancara.
  • 32.
    Tempat dan JadwalPenelitian 1. Klasifikasi Penelitian Berdasarkan Tempat Pelaksanaannya : Penelitian dapat dilakukan diberbagai tempat, yaitu di perpustakaan, lapangan, laboratorium atau gabungan dari tempat-tempat tersebut. Atas dasar tinjauan tersebut penelitian dibedakan menjadi : • Penelitian perpustakaan (library research), • Penelitian laborartorium (laboratory research), • Penelitian lapangan (field research)
  • 33.
    2. Klasifikasi PenelitianBerdasarkan Metode : Berdasarkan metode yang dipakai, penelitian dibedakan menjadi penelitian longitudinal dan penelitian cross-sectional. Penelitian longitudinal (longitudinal research) adalah penelitian yang dilakukan dengan metode longitudinal (longituninal method), yaitu metode penelitian yang membutuhkan waktu yang lama, berbulan-bulan bahkan bertahun, secara berkesinambungan. Sedangkan penelitian cross-sectional (cross-sectional research) merupakan penelitian yang dilakukan dengan metode cross-sectional (cross-sectional method), yaitu metode penelitian yang dilakukan dengan mengambil waktu tertentu yang relative pendek dan tempat tert (Kuntjotjo, 2009)entu.