Oleh: Ikomatussuniah
       September 2012
PENGERTIAN HUKUM PAJAK
 Prof.Dr. Rochmat Soemitro, SH:


 “Pajak adalah peralihan kekayaan rakyat kepada
 kas negara untuk membiayai pengeluaran rutin
 dan “surplus”-nya digunakan untuk public saving
 yang merupakan sumber utama untuk membiayai
 public investement”.
 Dr. Soeparman Soemahamidjadja:


 “Pajak adalah iuran wajib berupa uang atau barang
 yang dipungut oleh penguasa berdasarkan norma-
 norma hukum, guna menutup biaya produksi barang-
 barang dan jasa kolektip dalam mencapai
 kesejahteraan umum”.
 Prof.Dr.P.J.A.Adriani:


  “Pajak adalah iuran kepada negara (yang dapat
  dipaksakan yang terutang oleh yang wajib
  membayarnya menurut peraturan-peraturan) dengan
  tidak dapat prestasi kembali, yang langsung
  ditunjuk, dan yang gunanya untuk membiayai
  pengeluaran-pengeluaran umum yang berhubungan
  dengan tugas pemerintah”
 Psl 1 angka 1 UU No. 28/2007 (KUP):


 “Pajak adalah kontribusi wajib pajak kepada negara
 yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang
 bersifat memaksa berdasarkan undang-undang
 dengan tidak mendapatkan imbalan secara
 langsung dan digunakan untuk keperluan negara
 bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat”.
 Hukum pajak materiil adalah:


 “Hukum pajak yang mengatur norma-norma yang
 menerangkan        keadaan-keadaaan,    perbuatan-
 perbuatan dan peristiwa-peristiwa hukum yang harus
 dikenakan pajak, siapa-siapa yang harus dikenakan
 pajak, berapa besar pajaknya”.
 Hukum pajak materiil menjelaskan pengertian
  tentang:
a) Subjek dan objek pajak
b) Tarif dan batasan pengenaan pajak
c) Dasar pengenaan pajak
d) Utang pajak dan piutang pajak
e) Kredit pajak
f) Pemotongan dan pemungutan pajak
 Hukum pajak formil adalah: “hukum pajak yang
 mengatur mengenai bentuk dan tata cara untuk
 menjalankan ketentuan pada hukum pajak materiil”.

 Hukum     pajak formil mengatur antara lain
 persayaratan permohonan NPWP, persyaratan
 permohonan       PKP,    tata    cara    pemeriksaan
 pajak, persyaratan keberatan, banding, gugatan.
RETRIBUSI
 Dasar hukum:


1. UU No.34 Tahun 2000
2. Peratutan Pemerintah RI No.26/2001
3. UU No. 28 Tahun 2009
 Pasal 1 ayat 1 PP No.66/2001. Retribusi adalah:


 “Pungutan sebagai pembayaran atas jasa atau
 pemberian izin tertentu yang khusus disediakan
 dan/atau diberikan oleh pemerintah untuk
 kepentingan orang pribadi atau badan”.
 Restribusi daerah yang selanjutnya disebut retribusi
 pasal 1 angka 46 UU Pajak Daerah No.28/2009 adalah:

 “Pungutan daerah sebagai pembayaran atas jasa atau
 pemberian izin tertentu yang khusus disediakan atau
 diberikan oleh Pemda untuk kepentingan orang
 pribadi atau badan.
 Pengenaan retribusi dibedakan sebagai berikut”
1. Retribusi jasa usaha
2. Retribusi jasa umum
3. Retribusi perizinan tertentu
 Perda tentang retribusi sekurang-kurangnya mengatur
     ketentuan mengenai:

1.    Nama, objek dan subjek retribusi
2.    Golongan retribusi
3.    Caramengukur tingkat penggunaan jasa yang bersangkutan
4.    Prinsip yang dianut dalam penetapan struktur dan besarnya
      tarif retribusi
5.    Struktur dan besarnya tarif retribusi
6.    Wilayah dan tata cara pemungutan
7.    Sanksi administrasi
8.    Tata cara penagihan
9.    Tanggal mulai berlakunya
SUMBANGAN
 R. Santoso Brotodihardjo:


 “Sumbangan adalah biaya- biaya yang dikeluarkan
 untuk prestasi pemerintah tertentu tidak boleh
 dikeluarkan dari kas umum, karena prestasi itu tidak
 ditujukan kepada penduduk seluruhnya, tetapi hanya
 untuk sebagian tertentu saja.
JENIS PAJAK
 Jenis pajak berdasarkan pihak yang
 menanggung:
 1. Pajak Langsung, adalah pajak yang
 pembayarannya harus ditanggung sendiri oleh wajib
 pajak dan tidak dapat dialihkan kepada pihak lain.
    Contoh : PPh, PBB.
 2. Pajak Tidak Langsung, adalah pajak
 yang pembayarannya dapat dialihkan kepada pihak
 lain.
    Contoh : Pajak Penjualan, PPN, PPn-BM, Bea
 Materai            dan Cukai.
 . Jenis pajak berdasarkan pihak yang memungut:
 1. Pajak Negara atau Pajak Pusat, adalah pajak
 yang dipungut oleh pemerintah pusat.
    Pajak pusat merupakan salah satu sumber
 penerimaan negara.
    Contoh : PPh, PPN, PPn dan Bea Materai.
 2. Pajak Daerah, adalah pajak yang dipungut
 oleh pemerintah daerah.
    Pajak daerah merupakan salah satu sumber penerimaan
 pemerintahan daerah.
    Contoh : Pajak tontonan, pajak reklame, PKB
 (Pajak             Kendaraan Bermotor) PBB, Iuran
 kebersihan,            Retribusi terminal, Retribusi
 parkir, Retribusi           galian pasir.
 . Jenis pajak berdasarkan sifatnya:
 1. Pajak Subjektif, adalah pajak yang memperhatikan
 kondisi keadaan wajib pajak. Dalam hal ini
 penentuan besarnya pajak harus ada alasan-alasan
 objektif yang berhubungan erat dengan
 kemampuan membayar wajib pajak.
    Contoh : PPh.
 2. Pajak Objektif, adalah pajak yang berdasarkan
 pada objeknya tanpa memperhatikan keadaan diri
 wajib pajak.
    Contoh : PPN, PBB, PPn-BM.
Objek pajak
 Objek pajak (tatbestand)atau sasaran pengenaan pajak
 dapat diartikan sebagai keadaan , peristiwa dan
 perbuatan yang menurut ketentuan undang-undang
 memenuhi syarat bagi dikenakannya pajak.



 Syarat objektif adalah syarat yang berkaitan dengan
 sasaran pengenaan pajak (objek pajak).
SUBJEK PAJAK
 Subjek pajak adalah orang atau badan yang telah
  memenuhi syarat subjektif. Menurut UU PPh, sujek
  pajak dapat berupa:
1. Orang pribadi
2. Badan
3. Warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan
4. Bentuk usaha tetap
WAJIB PAJAK
 Wajib pajak adalah subjek pajak yang telah memenuhi
  syarat objektif, selain juga syarat subjektif.
 Menurut UU No 28/2007, wajib pajak adalah orang
  pribadi atau badan, meliputi pembayar
  pajak, pemotong pajak, dan pemungut pajak, yang
  mempunyai hak dan kewajiban perpajakan sesuai
  dengan ketentuan peraturan perundang-undangan
  perpajakan.
 Menurut tempatnya, subjek pajak/wajib pajak dapt
  dibedakan menjadi:
1. Subjek pajak/wajib pajak dalam negeri
2. Subjek pajak/wajib pajak luar negeri.
FUNGSI PAJAK
 Fungsi Anggaran (budgeter): merupakan          fungsi
 pembiayaan       untuk    pembangunan             dan
 penyelenggaraan negara.

 Fungsi mengatur (regulerend): pajak berfungsi sebagai
 alat kebijakan ekonomi    politik yang   kan
 mempengaruhi pertumuhan ekonomi dan konsumsi
 masyarakat.
 Mari’e Muhammad, fungsi pajak dinegara berkembang
 :
a. Pajak merupakan alat instrumen penerimaan negara
b. Pajak merupakan alat untuk mendorong investasi
c. Pajak merupakan alat redistribusi
ASAS PEMUNGUTAN PAJAK
 ADAM SMITH (1723-1790) DALAM BUKUNYA AN
     INQUIRY INTO THE NATURE AND CAUSES OF THE
     WEALTH OF NATIONS , ASAS THE FOUR MAXIMS:
1.    EQUALITY
2. CERTAINTY

3. CONVENEINCE OF PAYMENT

4. EFISIENSI
LANJUTAN
 ASAS ASAS MENURUT FALSAFAH HUKUM:
1. ASAS KEADILAN
2. ASAS YURIDIS
3. ASAS EKONOMIS
4. ASAS FINANSIAL
LANJUTAN
 TEORI PAJAK YANG DIDENGUNGKAN UNTUK
  MELANGGENGKAN ASAS KEADILAN:
1. TEORI ASURANSI
2. TEORI KEPENTINGAN
3. TEORI GAYA PIKUL
4. TEORI KEWAJIBAN PAJAK MUTLAK ATAU TEORI
   BAKTI
5. TEORI ASAS GAYA BELI
TARIF PAJAK
 TARIF PAJAK PROPORSIONAL ATAU SEBANDING
  adalah tarif yang merupakan persentasi yang tetap.
 TARIF PAJAK PROGRESIF
  adalah suatu tarif yang persentasenya semakin besar
  jumlah yang harus dikenakan pajak, semakin menjadi lebih
  besar.
 TARIF TETAP
  adalah tarif pajak yang besarnya tetap dan tidak
  tergantung kepada nilai objek yang dikenakan pajak
 TARIF DEGRESIF
  adalah tarif yang besar persentasenya semakin menurun
  bila semakin besar jumlahnya yang harus dikenakan pajak.
PENGADILAN PAJAK
 ADALAH BADAN PERADILAN YANG MELAKSANAKAN
  KEKUASAAN KEHAKIMAN BAGI WAJIB PAJAK ATAU
  PENANGGUNG PAJAK YANG MENCARI KEADILAN
  TERHADAP SENGKETA PAJAK (pasal 2 UU No. 14/2002)
 SENGKETA PAJAK ADALAH SENGKETA YANG TIMBUL
  DALAM BIDANG PERPAJAKAN ANTARA WAJIB PAJAK ATAU
  PENANGGUNG PAJAK DENGAN PEJABAT YANG
  BERWENANG, SEBAGAI AKIBAT DIKELUARKANNYA
  KEPUTUSAN YANG DAPAT DIAJUKANNYA BANDING ATAU
  GUGATAN KEPADA PENGADILAN PAJAK BERDASARKAN
  PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN
  PERPAJAKAN, TERMASUK ATAS GUGATAN PELAKSANAAN
  PENAGIHAN BERDASARKAN UNDANG-UNDANG
  PENAGIHAN PAJAK DENGAN SURAT PAKSA. (PASAL 1
  HURUF 5 UU NO.14/2002)
 TEMPAT KEDUDUKAN PENGADILAN PAJAK
  SESUAI PASAL 3 UU PENGADILAN PAJAK ADALAH
  PADA IBU KOTA NEGARA.
 SUSUNAN PENGADILAN PAJAK (PASAL 6 UU NO.
  14/2002:
  1. PIMPINAN PENGADILAN PAJAK
  2. HAKIM PENGADILAN PAJAK
  3. SEKRETARIS PENGADILAN PAJAK
  4. PANITERA PENGADILAN PAJAK
 PENGADILAN PAJAK MERUPAKAN PENGADILAN
 TINGKAT PERTAMA DAN TERAKHIR DALAM
 MEMERIKSA DAN MEMUTUS SENGKETA PAJAK.
 TUGAS DAN WEWENANG PENGADILAN PAJAK
 ADALAH MEMERIKSA DAN MEMUTUS SENGKETA
 PAJAK, YAN GDAPAT DIBEDAKAN MENURUT
 SENGKETANYA MENJADI SEPERTI BERIKUT:
 1. KEKUASAAN DALAM BANDING
 2. KEKUASAAN DALAM GUGATAN
 3. KUASA HUKUM

Hukum pajak slide

  • 1.
    Oleh: Ikomatussuniah September 2012
  • 2.
    PENGERTIAN HUKUM PAJAK Prof.Dr. Rochmat Soemitro, SH: “Pajak adalah peralihan kekayaan rakyat kepada kas negara untuk membiayai pengeluaran rutin dan “surplus”-nya digunakan untuk public saving yang merupakan sumber utama untuk membiayai public investement”.
  • 3.
     Dr. SoeparmanSoemahamidjadja: “Pajak adalah iuran wajib berupa uang atau barang yang dipungut oleh penguasa berdasarkan norma- norma hukum, guna menutup biaya produksi barang- barang dan jasa kolektip dalam mencapai kesejahteraan umum”.
  • 4.
     Prof.Dr.P.J.A.Adriani: “Pajak adalah iuran kepada negara (yang dapat dipaksakan yang terutang oleh yang wajib membayarnya menurut peraturan-peraturan) dengan tidak dapat prestasi kembali, yang langsung ditunjuk, dan yang gunanya untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran umum yang berhubungan dengan tugas pemerintah”
  • 5.
     Psl 1angka 1 UU No. 28/2007 (KUP): “Pajak adalah kontribusi wajib pajak kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan undang-undang dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat”.
  • 6.
     Hukum pajakmateriil adalah: “Hukum pajak yang mengatur norma-norma yang menerangkan keadaan-keadaaan, perbuatan- perbuatan dan peristiwa-peristiwa hukum yang harus dikenakan pajak, siapa-siapa yang harus dikenakan pajak, berapa besar pajaknya”.
  • 7.
     Hukum pajakmateriil menjelaskan pengertian tentang: a) Subjek dan objek pajak b) Tarif dan batasan pengenaan pajak c) Dasar pengenaan pajak d) Utang pajak dan piutang pajak e) Kredit pajak f) Pemotongan dan pemungutan pajak
  • 8.
     Hukum pajakformil adalah: “hukum pajak yang mengatur mengenai bentuk dan tata cara untuk menjalankan ketentuan pada hukum pajak materiil”.  Hukum pajak formil mengatur antara lain persayaratan permohonan NPWP, persyaratan permohonan PKP, tata cara pemeriksaan pajak, persyaratan keberatan, banding, gugatan.
  • 9.
    RETRIBUSI  Dasar hukum: 1.UU No.34 Tahun 2000 2. Peratutan Pemerintah RI No.26/2001 3. UU No. 28 Tahun 2009
  • 10.
     Pasal 1ayat 1 PP No.66/2001. Retribusi adalah: “Pungutan sebagai pembayaran atas jasa atau pemberian izin tertentu yang khusus disediakan dan/atau diberikan oleh pemerintah untuk kepentingan orang pribadi atau badan”.
  • 11.
     Restribusi daerahyang selanjutnya disebut retribusi pasal 1 angka 46 UU Pajak Daerah No.28/2009 adalah: “Pungutan daerah sebagai pembayaran atas jasa atau pemberian izin tertentu yang khusus disediakan atau diberikan oleh Pemda untuk kepentingan orang pribadi atau badan.
  • 12.
     Pengenaan retribusidibedakan sebagai berikut” 1. Retribusi jasa usaha 2. Retribusi jasa umum 3. Retribusi perizinan tertentu
  • 13.
     Perda tentangretribusi sekurang-kurangnya mengatur ketentuan mengenai: 1. Nama, objek dan subjek retribusi 2. Golongan retribusi 3. Caramengukur tingkat penggunaan jasa yang bersangkutan 4. Prinsip yang dianut dalam penetapan struktur dan besarnya tarif retribusi 5. Struktur dan besarnya tarif retribusi 6. Wilayah dan tata cara pemungutan 7. Sanksi administrasi 8. Tata cara penagihan 9. Tanggal mulai berlakunya
  • 14.
    SUMBANGAN  R. SantosoBrotodihardjo: “Sumbangan adalah biaya- biaya yang dikeluarkan untuk prestasi pemerintah tertentu tidak boleh dikeluarkan dari kas umum, karena prestasi itu tidak ditujukan kepada penduduk seluruhnya, tetapi hanya untuk sebagian tertentu saja.
  • 15.
    JENIS PAJAK  Jenispajak berdasarkan pihak yang menanggung: 1. Pajak Langsung, adalah pajak yang pembayarannya harus ditanggung sendiri oleh wajib pajak dan tidak dapat dialihkan kepada pihak lain. Contoh : PPh, PBB. 2. Pajak Tidak Langsung, adalah pajak yang pembayarannya dapat dialihkan kepada pihak lain. Contoh : Pajak Penjualan, PPN, PPn-BM, Bea Materai dan Cukai.
  • 16.
     . Jenispajak berdasarkan pihak yang memungut: 1. Pajak Negara atau Pajak Pusat, adalah pajak yang dipungut oleh pemerintah pusat. Pajak pusat merupakan salah satu sumber penerimaan negara. Contoh : PPh, PPN, PPn dan Bea Materai. 2. Pajak Daerah, adalah pajak yang dipungut oleh pemerintah daerah. Pajak daerah merupakan salah satu sumber penerimaan pemerintahan daerah. Contoh : Pajak tontonan, pajak reklame, PKB (Pajak Kendaraan Bermotor) PBB, Iuran kebersihan, Retribusi terminal, Retribusi parkir, Retribusi galian pasir.
  • 17.
     . Jenispajak berdasarkan sifatnya: 1. Pajak Subjektif, adalah pajak yang memperhatikan kondisi keadaan wajib pajak. Dalam hal ini penentuan besarnya pajak harus ada alasan-alasan objektif yang berhubungan erat dengan kemampuan membayar wajib pajak. Contoh : PPh. 2. Pajak Objektif, adalah pajak yang berdasarkan pada objeknya tanpa memperhatikan keadaan diri wajib pajak. Contoh : PPN, PBB, PPn-BM.
  • 18.
    Objek pajak  Objekpajak (tatbestand)atau sasaran pengenaan pajak dapat diartikan sebagai keadaan , peristiwa dan perbuatan yang menurut ketentuan undang-undang memenuhi syarat bagi dikenakannya pajak.  Syarat objektif adalah syarat yang berkaitan dengan sasaran pengenaan pajak (objek pajak).
  • 19.
    SUBJEK PAJAK  Subjekpajak adalah orang atau badan yang telah memenuhi syarat subjektif. Menurut UU PPh, sujek pajak dapat berupa: 1. Orang pribadi 2. Badan 3. Warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan 4. Bentuk usaha tetap
  • 20.
    WAJIB PAJAK  Wajibpajak adalah subjek pajak yang telah memenuhi syarat objektif, selain juga syarat subjektif.  Menurut UU No 28/2007, wajib pajak adalah orang pribadi atau badan, meliputi pembayar pajak, pemotong pajak, dan pemungut pajak, yang mempunyai hak dan kewajiban perpajakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.
  • 21.
     Menurut tempatnya,subjek pajak/wajib pajak dapt dibedakan menjadi: 1. Subjek pajak/wajib pajak dalam negeri 2. Subjek pajak/wajib pajak luar negeri.
  • 22.
    FUNGSI PAJAK  FungsiAnggaran (budgeter): merupakan fungsi pembiayaan untuk pembangunan dan penyelenggaraan negara.  Fungsi mengatur (regulerend): pajak berfungsi sebagai alat kebijakan ekonomi politik yang kan mempengaruhi pertumuhan ekonomi dan konsumsi masyarakat.
  • 23.
     Mari’e Muhammad,fungsi pajak dinegara berkembang : a. Pajak merupakan alat instrumen penerimaan negara b. Pajak merupakan alat untuk mendorong investasi c. Pajak merupakan alat redistribusi
  • 24.
    ASAS PEMUNGUTAN PAJAK ADAM SMITH (1723-1790) DALAM BUKUNYA AN INQUIRY INTO THE NATURE AND CAUSES OF THE WEALTH OF NATIONS , ASAS THE FOUR MAXIMS: 1. EQUALITY 2. CERTAINTY 3. CONVENEINCE OF PAYMENT 4. EFISIENSI
  • 25.
    LANJUTAN  ASAS ASASMENURUT FALSAFAH HUKUM: 1. ASAS KEADILAN 2. ASAS YURIDIS 3. ASAS EKONOMIS 4. ASAS FINANSIAL
  • 26.
    LANJUTAN  TEORI PAJAKYANG DIDENGUNGKAN UNTUK MELANGGENGKAN ASAS KEADILAN: 1. TEORI ASURANSI 2. TEORI KEPENTINGAN 3. TEORI GAYA PIKUL 4. TEORI KEWAJIBAN PAJAK MUTLAK ATAU TEORI BAKTI 5. TEORI ASAS GAYA BELI
  • 27.
    TARIF PAJAK  TARIFPAJAK PROPORSIONAL ATAU SEBANDING adalah tarif yang merupakan persentasi yang tetap.  TARIF PAJAK PROGRESIF adalah suatu tarif yang persentasenya semakin besar jumlah yang harus dikenakan pajak, semakin menjadi lebih besar.  TARIF TETAP adalah tarif pajak yang besarnya tetap dan tidak tergantung kepada nilai objek yang dikenakan pajak  TARIF DEGRESIF adalah tarif yang besar persentasenya semakin menurun bila semakin besar jumlahnya yang harus dikenakan pajak.
  • 28.
    PENGADILAN PAJAK  ADALAHBADAN PERADILAN YANG MELAKSANAKAN KEKUASAAN KEHAKIMAN BAGI WAJIB PAJAK ATAU PENANGGUNG PAJAK YANG MENCARI KEADILAN TERHADAP SENGKETA PAJAK (pasal 2 UU No. 14/2002)  SENGKETA PAJAK ADALAH SENGKETA YANG TIMBUL DALAM BIDANG PERPAJAKAN ANTARA WAJIB PAJAK ATAU PENANGGUNG PAJAK DENGAN PEJABAT YANG BERWENANG, SEBAGAI AKIBAT DIKELUARKANNYA KEPUTUSAN YANG DAPAT DIAJUKANNYA BANDING ATAU GUGATAN KEPADA PENGADILAN PAJAK BERDASARKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN PERPAJAKAN, TERMASUK ATAS GUGATAN PELAKSANAAN PENAGIHAN BERDASARKAN UNDANG-UNDANG PENAGIHAN PAJAK DENGAN SURAT PAKSA. (PASAL 1 HURUF 5 UU NO.14/2002)
  • 29.
     TEMPAT KEDUDUKANPENGADILAN PAJAK SESUAI PASAL 3 UU PENGADILAN PAJAK ADALAH PADA IBU KOTA NEGARA.  SUSUNAN PENGADILAN PAJAK (PASAL 6 UU NO. 14/2002: 1. PIMPINAN PENGADILAN PAJAK 2. HAKIM PENGADILAN PAJAK 3. SEKRETARIS PENGADILAN PAJAK 4. PANITERA PENGADILAN PAJAK
  • 30.
     PENGADILAN PAJAKMERUPAKAN PENGADILAN TINGKAT PERTAMA DAN TERAKHIR DALAM MEMERIKSA DAN MEMUTUS SENGKETA PAJAK. TUGAS DAN WEWENANG PENGADILAN PAJAK ADALAH MEMERIKSA DAN MEMUTUS SENGKETA PAJAK, YAN GDAPAT DIBEDAKAN MENURUT SENGKETANYA MENJADI SEPERTI BERIKUT: 1. KEKUASAAN DALAM BANDING 2. KEKUASAAN DALAM GUGATAN 3. KUASA HUKUM