Presented by Moh Safii
FHGDF of Sunflowers consulting
 PPIC address decision on the acquisition, utilization
and allocation of production resources to satisfy
customer requirements in the most efficient and
effective way.
• PPIC merupakan proses pengambilan keputusan
mengenai pengadaan,pemanfaatan dan alokasi sumber
daya yang digunakan untuk kegiatan produksi sesuai
dengan kebutuhan pelanggan dengan cara yang paling
tepat dan hemat
 A good planning system must answer four
questions of priority and capacity.
 What are we going to make?
Apa yang akan kita buat?
 What does it take to make it?
Bagaimana caranya?
 What do we have?
Apa yang kita punya?
 What do we need?
Apa yang kita butuhkan?
 Priority- as established by the marketplace
 (kesesuaian dengan Pasar)
 Capacity -is the capability of manufacturing to
produce goods and services
 (Kemampuan dari produksi dalm menghasilkan
produk dan jasa)
Strategic
Business Plan
Production
Plan
Master
Production
Schedule
Materials Req
Plan
Production
Activity Control Execution Control
Planning phase
2-10 years
6 – 18 months
3 – 18 months
3 – 18 months
1 day to 1 month
 Sales and Operations Planning (SOP) – adalah
suatu proses untuk secara terus menerus meninjau
ulang perencanaan bisnis strategis
 Manufacturing Resource Planning (MRP II) –
System perencanaan dan pengendalian diuraikan di
sini, yaitu suatu dasar perencanaan dan aturan
untuk semua departemen di dalam perusahaan dan
bekerja dari atas ke bawah dengan umpan balik dari
bawah ke atas
 Enterprise Resource Planning (ERP) – adalah
system informasi yang berorientasi pada
accounting untuk mengidentifikasi dan
merencanakan aktivitas perusahaan---sumber daya
yang besar diperlukan untuk
membuat,mendistribusikan dan melayani pesanan
pelanggan
 Sesuai dengan persyaratan & permintaan pasar dan
sumber daya perusahaan
 Rencana produksi 6 bulan ke depan
 Menyatakan permintaan(pasar), sumber daya, dan
kapasitas secara garis besar
 Pengembangan suatu strategi yang secara ekonomis
sesuai dengan permintaan
 Menetapkan suatu rencana kebijakan umum
aktifitas perusahaan untuk alokasi sumber daya
Aggregate
Production
Planning
Company
Policies
Financial
Constraints
Strategic
Objectives
Units or dollars
subcontracted,
backordered, or
lost
Capacity
Constraints
Size of
Workforce
Production
per month
(in units or $)
Inventory
Levels
Demand
Forecasts
1. Pemakaian Persediaan untuk menyerap fluktuasi
Permintaan (tingkat produksi)
2. Menambah dan mengurangi para pekerja menyesuaikan
dengan permintaan ( permintaan perburuan)
3. Melihara sumber daya untuk antisipasi tingkat permintaan
yang tinggi
4. Meningkatkan atau mengurangi waktu kerja lembur &
pengurangan waktu kerja
5. Mengsub-kon pekerjaan kepada perusahaan lain
6. Penggunakan karyawan Part time
7. Penyediaan produk atau jasa pada suatu periode di waktu
mendatang ( backordering)
 Tingkat Produksi- menghasilkan pada tingkat
rata-rata tetap & pemakaian inventori jika
dibutuhkan untuk memenuhi permintaan
 Permintaan Tertentu- per;ubahan tingkat produksi
sehingga permintaan sesuai dengan produksi
 Melihara sumber daya untuk antisipasi tingkat
permintaan yang tinggi- memastikan untuk
tingkat kepuasan pelayanan kepada pelanggan
 Lembur& pengurangan waktu kerja- umum ketika
fluktuasi permintaan tidaklah ekstrim
 Kontrak tambahan- bermanfaat jika penyalur
sesuai dengan kualitas kerja & waktu penyelesaian
kerja yang dibutuhkan
 Karyawan Part time (Borongan)- Dimungkinkan
untuk jenis pekerjaan yang tidak membutuhkan
ketrampilan kerja atau jika pengelola tenaga kerja
sejenis
 Backordering- hanya bekerja jika pelanggan akan
menunggu produk/services
 Strategi Hybrid (Bastar)– Campuran dari semua
basis strategi dasar
Time
Production
Demand
Units
Time
Units
Production
Demand
Hiring cost = $100 per worker
Firing cost = $500 per worker
Inventory carrying cost = $0.50 pound per quarter
Production per employee = 1,000 pounds per quarter
Beginning work force = 100 workers
Quarter Sales Forecast (lb)
Spring 80,000
Summer 50,000
Fall 120,000
Winter 150,000
Sales Production
Quarter Forecast Plan Inventory
Spring 80,000 100,000 20,000
Summer 50,000 100,000 70,000
Fall 120,000 100,000 50,000
Winter 150,000 100,000 0
400,000 140,000
Cost = 140,000 pounds x 0.50 per pound = $70,000
Sales Production Workers Workers Workers
Quarter Forecast Plan Needed Hired Fired
Spring 80,000 80,000 80 - 20
Summer 50,000 50,000 50 - 30
Fall 120,000 120,000 120 70 -
Winter 150,000 150,000 150 30 -
100 50
Cost = (100 workers hired x $100) + (50 workers fired x $500)
= $10,000 + 25,000 = $35,000
Level Production Plan Procedure
Total Production = total forecast + back orders + ending inventory –
opening inventory
Total Production = What do they want + BO + What we want to have –
What we currently have
Period 1 2 3 4 5
Forecast
Cases
110 120 130 120 120
Total
600
a. Berapa banyak yang harus diproduksi setiap periode ?
600 + 80 – 100 = 580 / 5 = 116
b. Berapa persediaan akhir tiap periode?
100+116-110=106 106+116-120=102 lihat contoh
Period Jan Feb Mar Apr May Jun Total
Working
Days
20 22 20 20 18 19 119
Forecast 1200 1300 800 700 700 900 5600
Planned
Production
874 961 874 874 787 830 5200
Planned
Inv 600
274 -65 9 183 270 200
5600 + 200 – 600 = 5200
5200 / 119 = 43.70
 Produksi mulai berjalan ketika order/ pesanan diterima
 Barang-Barang diproduksi hanya sesuai dengan persyaratan Pelanggan
 Pelanggan akan mau menunggu
 Produk yang mahal biaya pembuatan dan peyimpanannya
 Beberapa pilihan produk saja yang ada
 Pekerjaan tertunda sebagai ganti Backorders
 Pertama kali Perencanaan Produksi dibuat harus
dibandingkan dulu dengan sumber daya
 Apakah sumber daya tersedia sesuai dengan
Perencanaan Produksi
 Jika tidak, bagaimana nantinya kita memperbaikinya
Period 1 2 3 4 5 6 Total
Forecast
Demand
1200 1200 800 600 800 1000 5600
Planned
Productio
n
900 900 900 900 900 900 5400
Planned
Inv
200 -100 0 300 400 300 300
Problem 2.8
5600 + 300 - 500 = 5400
5400/6 = 900
Period 1 2 3 4 5
Forecast
Demand
9 5 9 9 32
Planned
Production
8 8 8 8 32
Planned
Inv 0
-1 2 1 0
Problem 2.9
0+8-9=-1 ; -1+8-5=2 ; 2+8-9=1; 1+8-9=0
 Setelah rencana produksi diterbitkan, langkah yang
berikutnya di dalam perencanaan produksi adalah
mempersiapkan pengendalian jadwal produksi ( Master
Production Schedule).
 MPS akan fokus pada jadwal item terakhir dengan tanggal
dan jumlah yang ditentukan
 Sasaran adalah untuk menyeimbangkan permintaan
dengan sumber daya tersedia
MPS
 Adalah mata rantai antara perencanaan produksi dan apa
yang akan sesungguhnya dihasilkan.
 Membentuk basis untuk perhitungan kapasitas dan
sumber daya yang diperlukan
 Mengendalikan Perencanaan kebutuhan material / bahan.
 Merupakan suatu perencanaan prioritas produksi.
 MPS membentuk suatu mata rantai antara penjualan dan
produksi
 Hal ini memungkinkan janji penyelesaian pesanan yang
akurat
 Merupakan suatu rencana dari apa yang diharapkan untuk
diproduksi dan waktu penyelesaian
 Merupakan suatu persetujuan rencana antara pemasaran
produksi.
Informasi yang yang diperlukan untuk
mengembangkan MPS
 Rencana Produksi
 Peramalan untuk akhir setiap item
 Order/ pesanan sebenarnya yang diterima dan untuk
dibuat stock
 Tingkat persediaan akhir dari tiap item
 Limitasi kapasitas (Capacity constraint)
Sasaran yang dihasilkan dalam mengembangkan MPS
 Untuk memelihara tingkat layanan yang diinginkan pelanggan
 Melihara tingkatan persediaan barang jadi
 Penjadwalan untuk menyesuaikan pengiriman sesuai dengan
kebutuhan pelanggan
 Untuk mengoptimalkan penggunaan sumber daya yang terbaik
 Untuk memelihara investasi persediaan pada tingkat yang diperlukan
Week 1 2 3 4 5 6
Prod A 70 70 70 70 70 80
Prod B 40 40 40 40 95 120
Prod C 50 50 50 50 50 50
Total 160 160 160 160 215 250 Opening inv
Product A 350
Product B 100
Product C 50
Total 500
Week 1 2 3 4 5 6
Prod A 205
Prod B 205 205 205
Prod C 205 205
Total
Planned
205 205 205 205 205 205
Demand
Week 1 2 3 4 5 6
Prod A 280 210 140 70 0 125
Prod B 265 430 595 555 460 340
Prod C 0 -50 -100 55 210 160
Total
Planned
545 640 735 680 670 625
Inventory
Master
Schedule
Langkah-Langkah untuk menyiapkan MPS
 Membuat draft MPS
 Memeriksa draft MPS disesuaikan terhadap
kapasitas
 Perencanaan Kapasitas secara kasar (Rough-Cut
capacity planning)
 Pencarian jalan keluar (solusi) mengatasi
perbedaan antara Draft MPS dan kapasitas yang
tersedia
Period 1 2 3 4 5 6
Forecast 60 60 60 60 60 60
Proj.
Available
80
20 60 0 40 80 20
MPS 100 100 100
Example pg 53
80-60=20; the plan calls for 60 in week 2 but only 20 are available so a
MPS is scheduled in week two. The same is true in weeks 4 and 5.
Hours per Dozen
Work Center Medium Fine
20 0.5 1.2
Week 1 2 3 4 5
Medium 40 25 40 15 120
Fine 20 10 30 20 80
Week 1 2 3 4 Total
Medium 20 12.5 20 7.5 60
Fine 24 12 36 24 96
Total hours 44 24.5 56 31.5 156
Perusahaan Q. The Wicked Witch Wisk memproduksi sapu terbang. [yang]
yang paling populer Adalah model 36-inch, dan bagian penjualan telah
menyiapkan forecast (peramalan penjualan) untuk enam minggu.
Persediaan awal adalah 30. Sebagai Perencana produksi, kamu harus
membuat MPS. Sapu yang dihasilkan = 100.
1 2 3 4 5 6
10 50 25 50 10 15
Projected Available 30
Week
Forecast Sales
MPS
20 70
100
45
100
95 85 70
30-10=20 ; week 2 calls for 50 so a MPS must be ordered,
20+100-50=70 ; 70-25=45 ; 45+100-50=95 ; 95-10=85 ; 85-
15=70
 Rough Cut Capacity Planning
 Memeriksa apakah sumber daya yang kritis tersedia
untuk mendukung draft MPS
Critical resources may include (termasuk):
 Bottleneck operations (proses yang menghambat)
 Labor (Tenaga kerja 0
 Critical materials (Material utama)
Evaluasi MPS
 Penggunaan Sumber daya
- Apakah di dalam MPS sudah terdapat batasan
kapasitas pada setiap periode?
 Layanan Pelanggan
- Akankah tanggal jatuh tempo dapat diterima?
- Akankah ketercapaian pengiriman dapat diterima?
 Biaya
- Apakah Perencanaan tersebut efisien?
- Apakah terjadi kelebihan biaya?
- Overtime, kontrak tambahan, ekspedisi, transportasi, dll.
 Dealing With a Complex Assemble to Order System
(suatu sistem pemesanan perakitan yang kompleks )
 Banyak pilihan yang mungkin timbul
 MPS diterbitkan pada tingkatan komponen
 diperlakukan sebagai antisipasi dari situasi stock
 Suatu jadwal perakitan akhir ( FAS) yang mungkin digunakan
untuk mengatasi perakitan.
 Jadwal Pesanan pelanggan seperti yang mereka terima
 Berdasarkan pada Komponen di dalam MPS
 MPS diterbitkan pada tingkatan komponen
 Planning Horizons
(Batasan Rencana)
 Batasan waktu di mana rencana dibuat.
 Harus meliputi suatu periode sedikitnya sama dengan waktu yang
dibutuhkan untuk menyelesaikan rencana tersebut
 Karena MPS, Batasan minimal rencana yang dibuat adalah
kumulatif yang terpanjang atau Ujung pangkal waktu yang
dibutuhkan di dalam merealisasikan struktur produk.Time span
for which plans are made.
 It must cover a period at least equal to the time required to
accomplish the plan.
 For the MPS, the minimum planning horizon is the longest
cumulative or end-to-end lead time in the product structure.
 Planning Horizons
(Batasan Rencana)
 Batasan waktu yang lebih lebih panjang m,enghasilkan
perencanaan yang lebih baik
 Peningkatan Kemampuan untuk mengantisipasi
peristiwa masa depan
Permasalahan
Peluang
 Batasan waktu FAS harus meliputi waktu untuk
penyelesaian suatu pesanan dari customer’s,
Tidak hanya meliputi waktu untuk membuat suatu komponen
 Product Structure & Lead Time
A
B C D
E F
G
(LT = 1)
(LT = 6) (LT = 5) (LT = 2)
(LT = 3)
(LT = 6)
 Forecasts and Planning
(Peramalan Dan Perencanaan)
 Rencana Produksi menyelaraskan peramalan permintaan dengan
sumber daya tersedia.
 Perencanaan produksi menggunakan informasi dari perencanaan
strategis dan ramalan pasar untuk menetapkan suatu rencana
menyeluruh untuk berproduksi.
 Tujuan dari perencanaan produksi adalah untuk mengoptimalkan
permintaan peramalan di dalam batas kapasitas
 Forecasts and Planning
(Peramalan Dan Perencanaan)
 MPS diperoleh dari peramalan dan permintaan nyata
untuk tiap item akhir
 MPS mempunyai kaitan dengan item apa yang akan
dibuat, Pada jumlah berapa, dan kapan pemenuhannya,
untuk menyelarskan permintaan yang diharapkan.
 Selama berdasarkan pada informasi peramalan, MPS
bukanlah suatu peramalan, melainkan pemenuhan yang
akan dilakukan oleh produksi
 Forecasts and Planning
Sales
Forecast
Production
Plan
Master
Production
Schedule
Material
Requirements
Plan
 Orders and Capacity
 Secara umum, Permintaan harus diakomodasi oleh
Persediaan atau jadwal penerimaan
 Setelah order diterima, Digunakanlah kapasitas yang
tersedia.
Time
Booked
Orders
Available to
PromiseUnits
Production Capacity or Inventory
 Available to Promise (ATP)
 ATP adalah tahapan dari PP , menginventarisir dan
merencanakan produksi yang belum dijanjikan dan
disampaikan kepada pelanggan.
Memungkinkan untuk membuat janji pengiriman
 ATP dihitung dengan menambahkan jadwal
transanksi penerimaan ke inventori awal dan
kemudian mengurangi membagi order/ pesanan
yang sebenarnya yang dijadwalkan sebelum jadwal
berikutnya diterima.
Example: A company has 100 units on hand. Customer service has received 80
orders for the month. What is the ATP?
ATP = qty. on hand - orders = 100 - 80
ATP = 20 units
Master Production Scheduling
Projected Available Balance (PAB)
Before demand time fence
PAB = prior period PAB or on-hand + MPS – Customer
orders
After demand time fence
PAB = prior period PAB or on-hand + MPS – greater of
customer orders or forecast
Week 1 2 3 4 5
Forecast 40 40 40 40 40
Cust
Orders
39 42 39 33 23
Week 1 2 3 4 5
PAB 40 1 59 20 80 40
MPS 100 100
Example pg.63
PAB before the time fence consider only customer orders after
the fence consider the higher number between the forecast and customer orders
Time fence
40-39=1 ; 1+100-42=59 ; 59-39=20 ; 20+100-40=80 ; 80-40=40
 Changes to the MPS orders
(Perubahan /revisi pada MPS)
 Pelanggan membatalkan atau merubah pesanan
 Mesin rusak atau mesin ada penambahan mesin Para
penyalur mempunyai permasalahan
 Proses menghasilkan barang sisa /limbah lebih banyak
daripada yang diharapkan
 Perubahan berdampak pada:
 Penambahan biaya
 Penurunan tingkat layanan pelanggan
 Hilangnya kredibilitas MPS dan proses perencanaan
menyeluruh
 Changes and Timing
(Perubahan Dan Pemilihan waktu)
 Perubahan yang terjadi untuk jangka panjang mungkin
dapat diatasi dengan sedikit solusi atau biaya yang kecil
 Jangka waktu perubahan yang lebih dekat membuat
menjadi biaya yang lebih tinggi
 Bagaimana cara menentukan ketika perubahan
mungkindapat diatasi/ diakomodasikan
 Time Fences (Batasan waktu)
 Diterbitkan dengan membagi batasan perencanaan ke
dalam kelompok tahapan waktu.
0 2 Weeks 26 Weeks
Frozen Slushy Liquid
Due
Date
Demand
Time
Fence
Planning
Time Fence
 Bahan dan Persediaan yang dijual atau dipakai dalam
aktivitas suatu perusahaan
 Pencatatan digunakan untuk merubah nilainya ke
dalam unit keuangan
 Merepresentasikan 20 sampai 60% total asset
 Bahan baku- Materi yang dibeli dan belum
mengalami proses produksi. Yaitu. komponen,
subassemblies dll
 WIP– Bahan baku yang sudah masuk proses
produksi tetapi belum lengkap.
 Barang jadi– Produk jadi yang sudah lengkap
mengalami proses produksi dan siap untuk dijual.
 Inventaris Distribusi– Barang jadi di dalam sistem
distribusi
 MRO– Materi yang digunakan untuk berproduksi
akan tetapi tidak menjadi bagian dari produk..
 Salah satu tujuan menginventarisir batch hasil
pabrikasi adalah sebagai tumpuan/penyangga :
 Permintaan dan penawaran
 Permintaan pelanggan Dan Barang jadi
 Barang jadi Dan Ketersediaan Komponen
 Spare Part dan Material yang diperlukan untuk
berproduksi
 Anticipation Inventory – untuk peak season, promotion or
threat of strike-ancaman boikot (Demo buruh) . Contoh; Milk
and bread (susu dan roti)
 Fluctuation Inventory – Perlindungan terhadap tingkat
fluktuasi dari permintaan, supply atau lead-time.
 Lot-size inventory – Untuk mengambil keuntungan dari
diversifakasi harga -lot pricing. Contoh :Wal-Mart
 Transportation Inventory –Inventory dalam pengiriman
 Hedge inventory – Perlindungan terhadap fluktuasi harga
 Maximize customer service – correct materials in
stock, % of orders filled
(memaksimalkan kepuasan pelanggan dengan pengelolaan stock yang
tepat dan prosentasi pengerjaan /penyelesaian order)
 Low cost plant operation
(Biaya operasional pabrik yang rendah)
 Minimum inventory investment
(Meminimalkan investasi pada persediaan)
 Item or landed cost
(Biaya yang timbul dari mendatangkan product ;pengurusan ijin,BL dll)
 Carrying cost
(Biaya yang timbul dari proses pengiriman product ; transport, expedisi )
 Ordering cost
(Biaya yang timbul dari proses order ke supplier; telp,fax,survey dll)
 Stockout cost
(Biaya opportunity yang timbul akibat stock kosong )
 Capacity-associated cost
(Biaya opportunity yang berhubungan dengan pemakaian kapasitas )
 Sebuah perusahaan rata-rata mendatangkan Inventory
$2M per tahun. Bila mereka mengestimasi Biaya modal
adalah 10%, Biaya simpan adalah 7%, and Biaya resiko
adalah 6%, Berapa biaya yang dikeluarkan untuk
mendatangkan inventory.
 Total biaya dari carrying inventory =
10% + 7% + 6% = 23 %
 Biaya per tahun untuk mendatangkan persediaan=
0.23 X $2M = $460,000
 Tingkat perputaran persediaan (Inventory turns) =
annual cost of goods sold (Harga pokok penjualan
average inventory in dollars ( rata-rata nilai persediaan)
COGS = $1M
AVG Inv = $0.5M
$1M/0.5 = 2 turns per year
a. What will be the inventory turns ratio if the cost of goods sold
is 24 million a year and the average inventory is 6 million.
24M / 6M = 4 turns per year
b. What would be the reduction in inventory if inventory turns
were increased by to 12 times per year.
24M / 12 = 2M
Reduction in inventory = 6M – 2M = 4M
c. If the cost of carrying inventroy is 25% of the average
inventory, what will the savings be?
Reduction in inventory = 4M
Savings = 4M X 0.25 = 1M
 Questions to ask :
 What is the importance of the inventory?
(Apa pentingnya Inventory)
 How are they to be controlled?
(Bagaimana hal itu terkontrol)
 How much should be ordered at one time?
(Berapa banyak jumlah setiap pemesanan
 When should an order be placed?
(kapan melakukan order?)
 Aturan 80/20 pada umumnya dihubungkan dengan Pareto.
 Vifredo Pareto ( 1848- 1923) adalah suatu Ahli ekonomi Italia
yang merumuskan prinsip terkenal ini:
 Dimanapun rangkaian unsur-unsur untuk dikendalikan,
suatu pecahan kecil yang terpilih dalam kaitan dengan jumlah
unsur-unsur hampir selalu meliputi suatu pecahan besar
dalam kaitan dengan efek’.
 Aturan 80/20 merupakan suatu perluasan prinsip ini, di
dalam pengertian bahwa konsep itu dapat diaplikasikan dunia
nyata dengan kasus yang semakin umum. Sampai kapan pun
akan timbul pertanyaan tentang efektivitas dibanding dengan
usaha, biaya atau waktu yang telah dikeluarkan.
 Ketika diberlakukan pada Pengetahuan Sistem Manajemen,
sebagai contoh, yang 80/20 Aturan dapat ditafsirkan seperti ‘
Biaya-Biaya untuk Kesempurnaan terlalu banyak’.
 Adalah suatu penggolongan item inventory dari
yang mempunyai nilai terbesar . Ini adalah hal yang
penting sebab jika item diketahui biayanya kemudian
waktu pemakaiannya dapat diatur atau sebagai ganti item
yang lainnya. Biasanya, suatu item yang jumlahnya kecil
adalah yang paling mahal.
 20% dari jumlah inventori meliputi 80% dari nilai keseluruhan digolongkan sebagai kelompok item A.
 30% dari jumlah inventori meliputi 15% dari nilai keseluruhan digolongkan sebagai kelompok item B
 50% dari jumlah inventory meliputi 5 % dari nilai keseluruhan digolongkan sebagai kelompok item C
 Proses dari analisa ABC adalah penggolongan item sebagai kelompok A , B atau C. Kemudian
tingkatan pengendalian persediaan ditentukan. Suatu item A memerlukan kendali lebih besar dan
harus dijaga di kwantitas yang paling rendah mungkin. Oleh karena kwantitas yang kecil, biaya-biaya
monitoringnya lebih rendah dari keseluruhan inventori. Item ini harus dimonitor secara konstan.
 Kelompok C Dan B Memerlukan lebih sedikit monitoring secara kasar dan oleh karena nilainya yang
lebih rendah stok pengaman lebih tinggi adalah mungkin. Namun karenanya pengelolaan inventori
manajer harus dilakukan.
 Contoh adalah item manapun yang mempunyai nilai tinggi akan tetapi tanpa persediaan. Saya yakin
perusahaan anda mempunyai sebagian dari item ini.
Part
Number
Unit
usage
Unit
Cost $
Annual $
Usage
Cum $
Usage
Cum % $
Usage
Cum %
of items Class
1 1500 10
2 1200 20
3 100 1500
4 1258 25
5 3658 1
6 365 658
7 3 124
8 3692 125
9 156 154
10 1245 365
ABC 1
Part
Number
Unit
usage
Unit
Cost $
Annual $
Usage
Cum $
Usage
Cum % $
Usage
Cum % of
items
Cla
ss
8 3692 125 461500 461500 0.328563526 10 A
10 1245 365 454425 915925 0.652090027 20 A
6 365 658 240170 1156095 0.823078331 30 B
3 100 1500 150000 1306095 0.929870376 40 B
4 1258 25 31450 1337545 0.952261108 50 B
9 156 154 24024 1361569 0.969364922 60 C
2 1200 20 24000 1385569 0.986451649 70 C
1 1500 10 15000 1400569 0.997130854 80 C
5 3658 1 3658 1404227 0.999735156 90 C
7 3 124 372 1404599 1 100 C
1404599 1
1404599
ABC 2
Basic of PPIC

Basic of PPIC

  • 1.
    Presented by MohSafii FHGDF of Sunflowers consulting
  • 2.
     PPIC addressdecision on the acquisition, utilization and allocation of production resources to satisfy customer requirements in the most efficient and effective way. • PPIC merupakan proses pengambilan keputusan mengenai pengadaan,pemanfaatan dan alokasi sumber daya yang digunakan untuk kegiatan produksi sesuai dengan kebutuhan pelanggan dengan cara yang paling tepat dan hemat
  • 4.
     A goodplanning system must answer four questions of priority and capacity.  What are we going to make? Apa yang akan kita buat?  What does it take to make it? Bagaimana caranya?  What do we have? Apa yang kita punya?  What do we need? Apa yang kita butuhkan?
  • 5.
     Priority- asestablished by the marketplace  (kesesuaian dengan Pasar)  Capacity -is the capability of manufacturing to produce goods and services  (Kemampuan dari produksi dalm menghasilkan produk dan jasa)
  • 6.
    Strategic Business Plan Production Plan Master Production Schedule Materials Req Plan Production ActivityControl Execution Control Planning phase 2-10 years 6 – 18 months 3 – 18 months 3 – 18 months 1 day to 1 month
  • 7.
     Sales andOperations Planning (SOP) – adalah suatu proses untuk secara terus menerus meninjau ulang perencanaan bisnis strategis  Manufacturing Resource Planning (MRP II) – System perencanaan dan pengendalian diuraikan di sini, yaitu suatu dasar perencanaan dan aturan untuk semua departemen di dalam perusahaan dan bekerja dari atas ke bawah dengan umpan balik dari bawah ke atas  Enterprise Resource Planning (ERP) – adalah system informasi yang berorientasi pada accounting untuk mengidentifikasi dan merencanakan aktivitas perusahaan---sumber daya yang besar diperlukan untuk membuat,mendistribusikan dan melayani pesanan pelanggan
  • 8.
     Sesuai denganpersyaratan & permintaan pasar dan sumber daya perusahaan  Rencana produksi 6 bulan ke depan  Menyatakan permintaan(pasar), sumber daya, dan kapasitas secara garis besar  Pengembangan suatu strategi yang secara ekonomis sesuai dengan permintaan  Menetapkan suatu rencana kebijakan umum aktifitas perusahaan untuk alokasi sumber daya
  • 9.
    Aggregate Production Planning Company Policies Financial Constraints Strategic Objectives Units or dollars subcontracted, backordered,or lost Capacity Constraints Size of Workforce Production per month (in units or $) Inventory Levels Demand Forecasts
  • 10.
    1. Pemakaian Persediaanuntuk menyerap fluktuasi Permintaan (tingkat produksi) 2. Menambah dan mengurangi para pekerja menyesuaikan dengan permintaan ( permintaan perburuan) 3. Melihara sumber daya untuk antisipasi tingkat permintaan yang tinggi 4. Meningkatkan atau mengurangi waktu kerja lembur & pengurangan waktu kerja 5. Mengsub-kon pekerjaan kepada perusahaan lain 6. Penggunakan karyawan Part time 7. Penyediaan produk atau jasa pada suatu periode di waktu mendatang ( backordering)
  • 11.
     Tingkat Produksi-menghasilkan pada tingkat rata-rata tetap & pemakaian inventori jika dibutuhkan untuk memenuhi permintaan  Permintaan Tertentu- per;ubahan tingkat produksi sehingga permintaan sesuai dengan produksi  Melihara sumber daya untuk antisipasi tingkat permintaan yang tinggi- memastikan untuk tingkat kepuasan pelayanan kepada pelanggan  Lembur& pengurangan waktu kerja- umum ketika fluktuasi permintaan tidaklah ekstrim
  • 12.
     Kontrak tambahan-bermanfaat jika penyalur sesuai dengan kualitas kerja & waktu penyelesaian kerja yang dibutuhkan  Karyawan Part time (Borongan)- Dimungkinkan untuk jenis pekerjaan yang tidak membutuhkan ketrampilan kerja atau jika pengelola tenaga kerja sejenis  Backordering- hanya bekerja jika pelanggan akan menunggu produk/services  Strategi Hybrid (Bastar)– Campuran dari semua basis strategi dasar
  • 13.
  • 14.
  • 15.
    Hiring cost =$100 per worker Firing cost = $500 per worker Inventory carrying cost = $0.50 pound per quarter Production per employee = 1,000 pounds per quarter Beginning work force = 100 workers Quarter Sales Forecast (lb) Spring 80,000 Summer 50,000 Fall 120,000 Winter 150,000
  • 16.
    Sales Production Quarter ForecastPlan Inventory Spring 80,000 100,000 20,000 Summer 50,000 100,000 70,000 Fall 120,000 100,000 50,000 Winter 150,000 100,000 0 400,000 140,000 Cost = 140,000 pounds x 0.50 per pound = $70,000
  • 17.
    Sales Production WorkersWorkers Workers Quarter Forecast Plan Needed Hired Fired Spring 80,000 80,000 80 - 20 Summer 50,000 50,000 50 - 30 Fall 120,000 120,000 120 70 - Winter 150,000 150,000 150 30 - 100 50 Cost = (100 workers hired x $100) + (50 workers fired x $500) = $10,000 + 25,000 = $35,000
  • 18.
    Level Production PlanProcedure Total Production = total forecast + back orders + ending inventory – opening inventory Total Production = What do they want + BO + What we want to have – What we currently have Period 1 2 3 4 5 Forecast Cases 110 120 130 120 120 Total 600 a. Berapa banyak yang harus diproduksi setiap periode ? 600 + 80 – 100 = 580 / 5 = 116 b. Berapa persediaan akhir tiap periode? 100+116-110=106 106+116-120=102 lihat contoh
  • 19.
    Period Jan FebMar Apr May Jun Total Working Days 20 22 20 20 18 19 119 Forecast 1200 1300 800 700 700 900 5600 Planned Production 874 961 874 874 787 830 5200 Planned Inv 600 274 -65 9 183 270 200 5600 + 200 – 600 = 5200 5200 / 119 = 43.70
  • 20.
     Produksi mulaiberjalan ketika order/ pesanan diterima  Barang-Barang diproduksi hanya sesuai dengan persyaratan Pelanggan  Pelanggan akan mau menunggu  Produk yang mahal biaya pembuatan dan peyimpanannya  Beberapa pilihan produk saja yang ada  Pekerjaan tertunda sebagai ganti Backorders
  • 21.
     Pertama kaliPerencanaan Produksi dibuat harus dibandingkan dulu dengan sumber daya  Apakah sumber daya tersedia sesuai dengan Perencanaan Produksi  Jika tidak, bagaimana nantinya kita memperbaikinya
  • 22.
    Period 1 23 4 5 6 Total Forecast Demand 1200 1200 800 600 800 1000 5600 Planned Productio n 900 900 900 900 900 900 5400 Planned Inv 200 -100 0 300 400 300 300 Problem 2.8 5600 + 300 - 500 = 5400 5400/6 = 900
  • 23.
    Period 1 23 4 5 Forecast Demand 9 5 9 9 32 Planned Production 8 8 8 8 32 Planned Inv 0 -1 2 1 0 Problem 2.9 0+8-9=-1 ; -1+8-5=2 ; 2+8-9=1; 1+8-9=0
  • 24.
     Setelah rencanaproduksi diterbitkan, langkah yang berikutnya di dalam perencanaan produksi adalah mempersiapkan pengendalian jadwal produksi ( Master Production Schedule).  MPS akan fokus pada jadwal item terakhir dengan tanggal dan jumlah yang ditentukan  Sasaran adalah untuk menyeimbangkan permintaan dengan sumber daya tersedia
  • 25.
    MPS  Adalah matarantai antara perencanaan produksi dan apa yang akan sesungguhnya dihasilkan.  Membentuk basis untuk perhitungan kapasitas dan sumber daya yang diperlukan  Mengendalikan Perencanaan kebutuhan material / bahan.  Merupakan suatu perencanaan prioritas produksi.
  • 26.
     MPS membentuksuatu mata rantai antara penjualan dan produksi  Hal ini memungkinkan janji penyelesaian pesanan yang akurat  Merupakan suatu rencana dari apa yang diharapkan untuk diproduksi dan waktu penyelesaian  Merupakan suatu persetujuan rencana antara pemasaran produksi.
  • 27.
    Informasi yang yangdiperlukan untuk mengembangkan MPS  Rencana Produksi  Peramalan untuk akhir setiap item  Order/ pesanan sebenarnya yang diterima dan untuk dibuat stock  Tingkat persediaan akhir dari tiap item  Limitasi kapasitas (Capacity constraint)
  • 28.
    Sasaran yang dihasilkandalam mengembangkan MPS  Untuk memelihara tingkat layanan yang diinginkan pelanggan  Melihara tingkatan persediaan barang jadi  Penjadwalan untuk menyesuaikan pengiriman sesuai dengan kebutuhan pelanggan  Untuk mengoptimalkan penggunaan sumber daya yang terbaik  Untuk memelihara investasi persediaan pada tingkat yang diperlukan
  • 29.
    Week 1 23 4 5 6 Prod A 70 70 70 70 70 80 Prod B 40 40 40 40 95 120 Prod C 50 50 50 50 50 50 Total 160 160 160 160 215 250 Opening inv Product A 350 Product B 100 Product C 50 Total 500 Week 1 2 3 4 5 6 Prod A 205 Prod B 205 205 205 Prod C 205 205 Total Planned 205 205 205 205 205 205 Demand Week 1 2 3 4 5 6 Prod A 280 210 140 70 0 125 Prod B 265 430 595 555 460 340 Prod C 0 -50 -100 55 210 160 Total Planned 545 640 735 680 670 625 Inventory Master Schedule
  • 30.
    Langkah-Langkah untuk menyiapkanMPS  Membuat draft MPS  Memeriksa draft MPS disesuaikan terhadap kapasitas  Perencanaan Kapasitas secara kasar (Rough-Cut capacity planning)  Pencarian jalan keluar (solusi) mengatasi perbedaan antara Draft MPS dan kapasitas yang tersedia
  • 31.
    Period 1 23 4 5 6 Forecast 60 60 60 60 60 60 Proj. Available 80 20 60 0 40 80 20 MPS 100 100 100 Example pg 53 80-60=20; the plan calls for 60 in week 2 but only 20 are available so a MPS is scheduled in week two. The same is true in weeks 4 and 5.
  • 32.
    Hours per Dozen WorkCenter Medium Fine 20 0.5 1.2 Week 1 2 3 4 5 Medium 40 25 40 15 120 Fine 20 10 30 20 80 Week 1 2 3 4 Total Medium 20 12.5 20 7.5 60 Fine 24 12 36 24 96 Total hours 44 24.5 56 31.5 156
  • 33.
    Perusahaan Q. TheWicked Witch Wisk memproduksi sapu terbang. [yang] yang paling populer Adalah model 36-inch, dan bagian penjualan telah menyiapkan forecast (peramalan penjualan) untuk enam minggu. Persediaan awal adalah 30. Sebagai Perencana produksi, kamu harus membuat MPS. Sapu yang dihasilkan = 100. 1 2 3 4 5 6 10 50 25 50 10 15 Projected Available 30 Week Forecast Sales MPS 20 70 100 45 100 95 85 70 30-10=20 ; week 2 calls for 50 so a MPS must be ordered, 20+100-50=70 ; 70-25=45 ; 45+100-50=95 ; 95-10=85 ; 85- 15=70
  • 34.
     Rough CutCapacity Planning  Memeriksa apakah sumber daya yang kritis tersedia untuk mendukung draft MPS Critical resources may include (termasuk):  Bottleneck operations (proses yang menghambat)  Labor (Tenaga kerja 0  Critical materials (Material utama)
  • 35.
    Evaluasi MPS  PenggunaanSumber daya - Apakah di dalam MPS sudah terdapat batasan kapasitas pada setiap periode?  Layanan Pelanggan - Akankah tanggal jatuh tempo dapat diterima? - Akankah ketercapaian pengiriman dapat diterima?  Biaya - Apakah Perencanaan tersebut efisien? - Apakah terjadi kelebihan biaya? - Overtime, kontrak tambahan, ekspedisi, transportasi, dll.
  • 36.
     Dealing Witha Complex Assemble to Order System (suatu sistem pemesanan perakitan yang kompleks )  Banyak pilihan yang mungkin timbul  MPS diterbitkan pada tingkatan komponen  diperlakukan sebagai antisipasi dari situasi stock  Suatu jadwal perakitan akhir ( FAS) yang mungkin digunakan untuk mengatasi perakitan.  Jadwal Pesanan pelanggan seperti yang mereka terima  Berdasarkan pada Komponen di dalam MPS  MPS diterbitkan pada tingkatan komponen
  • 37.
     Planning Horizons (BatasanRencana)  Batasan waktu di mana rencana dibuat.  Harus meliputi suatu periode sedikitnya sama dengan waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan rencana tersebut  Karena MPS, Batasan minimal rencana yang dibuat adalah kumulatif yang terpanjang atau Ujung pangkal waktu yang dibutuhkan di dalam merealisasikan struktur produk.Time span for which plans are made.  It must cover a period at least equal to the time required to accomplish the plan.  For the MPS, the minimum planning horizon is the longest cumulative or end-to-end lead time in the product structure.
  • 38.
     Planning Horizons (BatasanRencana)  Batasan waktu yang lebih lebih panjang m,enghasilkan perencanaan yang lebih baik  Peningkatan Kemampuan untuk mengantisipasi peristiwa masa depan Permasalahan Peluang  Batasan waktu FAS harus meliputi waktu untuk penyelesaian suatu pesanan dari customer’s, Tidak hanya meliputi waktu untuk membuat suatu komponen
  • 39.
     Product Structure& Lead Time A B C D E F G (LT = 1) (LT = 6) (LT = 5) (LT = 2) (LT = 3) (LT = 6)
  • 40.
     Forecasts andPlanning (Peramalan Dan Perencanaan)  Rencana Produksi menyelaraskan peramalan permintaan dengan sumber daya tersedia.  Perencanaan produksi menggunakan informasi dari perencanaan strategis dan ramalan pasar untuk menetapkan suatu rencana menyeluruh untuk berproduksi.  Tujuan dari perencanaan produksi adalah untuk mengoptimalkan permintaan peramalan di dalam batas kapasitas
  • 41.
     Forecasts andPlanning (Peramalan Dan Perencanaan)  MPS diperoleh dari peramalan dan permintaan nyata untuk tiap item akhir  MPS mempunyai kaitan dengan item apa yang akan dibuat, Pada jumlah berapa, dan kapan pemenuhannya, untuk menyelarskan permintaan yang diharapkan.  Selama berdasarkan pada informasi peramalan, MPS bukanlah suatu peramalan, melainkan pemenuhan yang akan dilakukan oleh produksi
  • 42.
     Forecasts andPlanning Sales Forecast Production Plan Master Production Schedule Material Requirements Plan
  • 43.
     Orders andCapacity  Secara umum, Permintaan harus diakomodasi oleh Persediaan atau jadwal penerimaan  Setelah order diterima, Digunakanlah kapasitas yang tersedia. Time Booked Orders Available to PromiseUnits Production Capacity or Inventory
  • 44.
     Available toPromise (ATP)  ATP adalah tahapan dari PP , menginventarisir dan merencanakan produksi yang belum dijanjikan dan disampaikan kepada pelanggan. Memungkinkan untuk membuat janji pengiriman  ATP dihitung dengan menambahkan jadwal transanksi penerimaan ke inventori awal dan kemudian mengurangi membagi order/ pesanan yang sebenarnya yang dijadwalkan sebelum jadwal berikutnya diterima. Example: A company has 100 units on hand. Customer service has received 80 orders for the month. What is the ATP? ATP = qty. on hand - orders = 100 - 80 ATP = 20 units
  • 45.
    Master Production Scheduling ProjectedAvailable Balance (PAB) Before demand time fence PAB = prior period PAB or on-hand + MPS – Customer orders After demand time fence PAB = prior period PAB or on-hand + MPS – greater of customer orders or forecast
  • 46.
    Week 1 23 4 5 Forecast 40 40 40 40 40 Cust Orders 39 42 39 33 23 Week 1 2 3 4 5 PAB 40 1 59 20 80 40 MPS 100 100 Example pg.63 PAB before the time fence consider only customer orders after the fence consider the higher number between the forecast and customer orders Time fence 40-39=1 ; 1+100-42=59 ; 59-39=20 ; 20+100-40=80 ; 80-40=40
  • 47.
     Changes tothe MPS orders (Perubahan /revisi pada MPS)  Pelanggan membatalkan atau merubah pesanan  Mesin rusak atau mesin ada penambahan mesin Para penyalur mempunyai permasalahan  Proses menghasilkan barang sisa /limbah lebih banyak daripada yang diharapkan
  • 48.
     Perubahan berdampakpada:  Penambahan biaya  Penurunan tingkat layanan pelanggan  Hilangnya kredibilitas MPS dan proses perencanaan menyeluruh
  • 49.
     Changes andTiming (Perubahan Dan Pemilihan waktu)  Perubahan yang terjadi untuk jangka panjang mungkin dapat diatasi dengan sedikit solusi atau biaya yang kecil  Jangka waktu perubahan yang lebih dekat membuat menjadi biaya yang lebih tinggi  Bagaimana cara menentukan ketika perubahan mungkindapat diatasi/ diakomodasikan
  • 50.
     Time Fences(Batasan waktu)  Diterbitkan dengan membagi batasan perencanaan ke dalam kelompok tahapan waktu. 0 2 Weeks 26 Weeks Frozen Slushy Liquid Due Date Demand Time Fence Planning Time Fence
  • 52.
     Bahan danPersediaan yang dijual atau dipakai dalam aktivitas suatu perusahaan  Pencatatan digunakan untuk merubah nilainya ke dalam unit keuangan  Merepresentasikan 20 sampai 60% total asset
  • 53.
     Bahan baku-Materi yang dibeli dan belum mengalami proses produksi. Yaitu. komponen, subassemblies dll  WIP– Bahan baku yang sudah masuk proses produksi tetapi belum lengkap.  Barang jadi– Produk jadi yang sudah lengkap mengalami proses produksi dan siap untuk dijual.  Inventaris Distribusi– Barang jadi di dalam sistem distribusi  MRO– Materi yang digunakan untuk berproduksi akan tetapi tidak menjadi bagian dari produk..
  • 54.
     Salah satutujuan menginventarisir batch hasil pabrikasi adalah sebagai tumpuan/penyangga :  Permintaan dan penawaran  Permintaan pelanggan Dan Barang jadi  Barang jadi Dan Ketersediaan Komponen  Spare Part dan Material yang diperlukan untuk berproduksi
  • 55.
     Anticipation Inventory– untuk peak season, promotion or threat of strike-ancaman boikot (Demo buruh) . Contoh; Milk and bread (susu dan roti)  Fluctuation Inventory – Perlindungan terhadap tingkat fluktuasi dari permintaan, supply atau lead-time.  Lot-size inventory – Untuk mengambil keuntungan dari diversifakasi harga -lot pricing. Contoh :Wal-Mart  Transportation Inventory –Inventory dalam pengiriman  Hedge inventory – Perlindungan terhadap fluktuasi harga
  • 56.
     Maximize customerservice – correct materials in stock, % of orders filled (memaksimalkan kepuasan pelanggan dengan pengelolaan stock yang tepat dan prosentasi pengerjaan /penyelesaian order)  Low cost plant operation (Biaya operasional pabrik yang rendah)  Minimum inventory investment (Meminimalkan investasi pada persediaan)
  • 57.
     Item orlanded cost (Biaya yang timbul dari mendatangkan product ;pengurusan ijin,BL dll)  Carrying cost (Biaya yang timbul dari proses pengiriman product ; transport, expedisi )  Ordering cost (Biaya yang timbul dari proses order ke supplier; telp,fax,survey dll)  Stockout cost (Biaya opportunity yang timbul akibat stock kosong )  Capacity-associated cost (Biaya opportunity yang berhubungan dengan pemakaian kapasitas )
  • 58.
     Sebuah perusahaanrata-rata mendatangkan Inventory $2M per tahun. Bila mereka mengestimasi Biaya modal adalah 10%, Biaya simpan adalah 7%, and Biaya resiko adalah 6%, Berapa biaya yang dikeluarkan untuk mendatangkan inventory.  Total biaya dari carrying inventory = 10% + 7% + 6% = 23 %  Biaya per tahun untuk mendatangkan persediaan= 0.23 X $2M = $460,000
  • 59.
     Tingkat perputaranpersediaan (Inventory turns) = annual cost of goods sold (Harga pokok penjualan average inventory in dollars ( rata-rata nilai persediaan) COGS = $1M AVG Inv = $0.5M $1M/0.5 = 2 turns per year
  • 60.
    a. What willbe the inventory turns ratio if the cost of goods sold is 24 million a year and the average inventory is 6 million. 24M / 6M = 4 turns per year b. What would be the reduction in inventory if inventory turns were increased by to 12 times per year. 24M / 12 = 2M Reduction in inventory = 6M – 2M = 4M c. If the cost of carrying inventroy is 25% of the average inventory, what will the savings be? Reduction in inventory = 4M Savings = 4M X 0.25 = 1M
  • 61.
     Questions toask :  What is the importance of the inventory? (Apa pentingnya Inventory)  How are they to be controlled? (Bagaimana hal itu terkontrol)  How much should be ordered at one time? (Berapa banyak jumlah setiap pemesanan  When should an order be placed? (kapan melakukan order?)
  • 62.
     Aturan 80/20pada umumnya dihubungkan dengan Pareto.  Vifredo Pareto ( 1848- 1923) adalah suatu Ahli ekonomi Italia yang merumuskan prinsip terkenal ini:  Dimanapun rangkaian unsur-unsur untuk dikendalikan, suatu pecahan kecil yang terpilih dalam kaitan dengan jumlah unsur-unsur hampir selalu meliputi suatu pecahan besar dalam kaitan dengan efek’.  Aturan 80/20 merupakan suatu perluasan prinsip ini, di dalam pengertian bahwa konsep itu dapat diaplikasikan dunia nyata dengan kasus yang semakin umum. Sampai kapan pun akan timbul pertanyaan tentang efektivitas dibanding dengan usaha, biaya atau waktu yang telah dikeluarkan.  Ketika diberlakukan pada Pengetahuan Sistem Manajemen, sebagai contoh, yang 80/20 Aturan dapat ditafsirkan seperti ‘ Biaya-Biaya untuk Kesempurnaan terlalu banyak’.
  • 63.
     Adalah suatupenggolongan item inventory dari yang mempunyai nilai terbesar . Ini adalah hal yang penting sebab jika item diketahui biayanya kemudian waktu pemakaiannya dapat diatur atau sebagai ganti item yang lainnya. Biasanya, suatu item yang jumlahnya kecil adalah yang paling mahal.  20% dari jumlah inventori meliputi 80% dari nilai keseluruhan digolongkan sebagai kelompok item A.  30% dari jumlah inventori meliputi 15% dari nilai keseluruhan digolongkan sebagai kelompok item B  50% dari jumlah inventory meliputi 5 % dari nilai keseluruhan digolongkan sebagai kelompok item C  Proses dari analisa ABC adalah penggolongan item sebagai kelompok A , B atau C. Kemudian tingkatan pengendalian persediaan ditentukan. Suatu item A memerlukan kendali lebih besar dan harus dijaga di kwantitas yang paling rendah mungkin. Oleh karena kwantitas yang kecil, biaya-biaya monitoringnya lebih rendah dari keseluruhan inventori. Item ini harus dimonitor secara konstan.  Kelompok C Dan B Memerlukan lebih sedikit monitoring secara kasar dan oleh karena nilainya yang lebih rendah stok pengaman lebih tinggi adalah mungkin. Namun karenanya pengelolaan inventori manajer harus dilakukan.  Contoh adalah item manapun yang mempunyai nilai tinggi akan tetapi tanpa persediaan. Saya yakin perusahaan anda mempunyai sebagian dari item ini.
  • 64.
    Part Number Unit usage Unit Cost $ Annual $ Usage Cum$ Usage Cum % $ Usage Cum % of items Class 1 1500 10 2 1200 20 3 100 1500 4 1258 25 5 3658 1 6 365 658 7 3 124 8 3692 125 9 156 154 10 1245 365 ABC 1
  • 65.
    Part Number Unit usage Unit Cost $ Annual $ Usage Cum$ Usage Cum % $ Usage Cum % of items Cla ss 8 3692 125 461500 461500 0.328563526 10 A 10 1245 365 454425 915925 0.652090027 20 A 6 365 658 240170 1156095 0.823078331 30 B 3 100 1500 150000 1306095 0.929870376 40 B 4 1258 25 31450 1337545 0.952261108 50 B 9 156 154 24024 1361569 0.969364922 60 C 2 1200 20 24000 1385569 0.986451649 70 C 1 1500 10 15000 1400569 0.997130854 80 C 5 3658 1 3658 1404227 0.999735156 90 C 7 3 124 372 1404599 1 100 C 1404599 1 1404599 ABC 2