BAB 2 
REAKSI REDOKS 
DAN 
ELEKTROKIMIA 
2.1 Penyetaraan Reaksi Redoks 
2.2 Sel Volta 
2.3 Elektrolisis 
2.4 Korosi
PENYETARAAN REAKSI REDOKS 
Metode Bilangan Oksidasi 
Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut. 
1. Tuliskan kerangka dasar reaksi, yaitu reduktor dan 
hasil oksidasinya serta oksidator dan hasil reduksinya. 
2. Setarakan unsur yang mengalami perubahan bilangan 
oksidasi dengan memberi koefisien yang sesuai 
(biasanya ialah unsur selain hidrogen dan oksigen).
3. Tentukan jumlah penurunan bilangan oksidasi dari 
oksidator dan jumlah pertambahan bilangan 
oksidasi dari reduktor. Dalam hal ini yang dimaksud 
dengan ”jumlah penurunan bilangan oksidasi” atau 
”jumlah pertambahan bilangan oksidasi” adalah 
hasil kali antara jumlah atom yang terlibat dengan 
perubahan bilangan oksidasinya. 
4. Samakan jumlah perubahan bilangan oksidasi 
tersebut dengan memberi koefisien yang sesuai. 
5. Setarakan muatan dengan menambah ion H 
– 
(dalam suasana asam) atau ion OH (dalam 
suasana basa). 
+ 
6. Setarakan atom H dengan menambahkan H2O.
Metode Setengah Reaksi (Ion-Elektron) 
Suasana Larutan Asam 
Langkah 1 
Tulislah kerangka dasar dari setengah reaksi 
reduksi dan setengah reaksi oksidasi secara 
terpisah dalam bentuk reaksi ion.
Langkah 2 
Masing-masing setengah reaksi disetarakan dengan 
urutan sebagai berikut. 
a. Setarakan atom unsur yang mengalami perubahan 
bilangan oksidasi (biasanya ialah unsur selain 
oksigen dan hidrogen). 
b. Setarakan oksigen dengan menambahkan molekul 
air (H2O). 
c. Setarakan atom hidrogen dengan menambahkan ion 
+ 
H . 
d. Setarakan muatan dengan menambahkan elektron.
Langkah 3 
Samakan jumlah elektron yang diserap pada 
setengah reaksi reduksi dengan jumlah elektron 
yang dibebaskan pada setengah reaksi oksidasi 
dengan cara memberi koefisien yang sesuai, 
kemudian jumlahkanlah kedua setengah reaksi 
tersebut.
Suasana Larutan Basa 
Penyetaraan reaksi redoks dalam suasana basa dapat 
dilakukan dengan cara yang sama seperti dalam 
suasana asam, tetapi ion H+ kemudian harus 
dihilangkan. 
Cara menghilangkan ion H+ tersebut dengan 
menambahkan ion OH– pada kedua ruas, masing-masing 
sejumlah ion H+ yang ada.
Reaksi Redoks Spontan 
Reaksi redoks spontan adalah reaksi redoks yang 
berlangsung serta-merta. 
Contohnya adalah reaksi antara logam zink dengan 
larutan tembaga(II) sulfat. 
Sementara itu, reaksi kebalikannya tidak terjadi. 
Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa kebalikan dari 
reaksi spontan adalah tidak spontan.
Susunan Sel Volta 
Logam zink dicelupkan dalam larutan yang mengandung ion Zn 
2+ 
sementara sepotong logam tembaga dicelupkan dalam larutan ion Cu 2+ 
. 
Logam zink akan larut sambil melepas dua elektron. 
Elektron yang dibebaskan tidak 
memasuki larutan tetapi tertinggal 
pada logam zink itu. 
Elektron tersebut selanjutnya akan 
mengalir ke logam tembaga melalui 
kawat penghantar. 
Ion Cu 2 + akan mengambil elektron 
dari logam tembaga kemudian 
mengendap.
Sel Volta 
Anode 
→ terjadi oksidasi 
→ bermuatan (–) 
Katode 
→ terjadi reduksi 
→ bermuatan (+)
Notasi Sel Volta 
Susunan suatu sel volta dinyatakan dengan suatu notasi 
singkat yang disebut diagram sel. 
a. Anode biasanya digambarkan di sebelah kiri, sedangkan 
katode di sebelah kananpada anode terjadi oksidasi Zn 
menjadi Zn 2 + . 
b. Di katode terjadi reduksi ion 2C+u menjadi Cu. 
c. Dua garis sejajar (||) yang memisahkan anode dan 
katode menyatakan jembatan garam, sedangkan garis 
tunggal menyatakan batas antarfase
Potensial Elektrode Standar (E⁰) 
Potensial sel yang dihasilkan oleh suatu elektrode 
(M) dengan elektrode hidrogen disebut potensial 
elektrode itu dan dinyatakan dengan lambang E. 
Apabila pengukuran dilakukan pada kondisi standar, 
yaitu pada suhu 25°C dengan konsentrasi ion-ion 1 
M dan tekanan gas 1 atm, disebut potensial 
elektrode standar dan diberi lambang E°.
 Elektrode yang lebih mudah mengalami reduksi 
dibandingkan terhadap elektrode hidrogen 
mempunyai potensial elektrode bertanda positif 
(diberi tanda positif), sedangkan elektrode yang 
lebih sukar mengalami reduksi diberi tanda negatif. 
 Potensial elektrode sama dengan potensial 
reduksi. 
 Adapun potensial oksidasi sama nilainya dengan 
potensial reduksi, tetapi tandanya berlawanan.
Potensial Sel 
Katode adalah elektrode yang mempunyai 
harga E° lebih besar (lebih positif), sedangkan 
anode adalah yang mempunyai E° lebih kecil 
(lebih negatif).
Contoh 
Tentukanlah E°sel yang disusun dari kedua elektrode 
itu. 
Jawab: 
Potensial sel adalah selisih potensial katode dengan 
anode. 
Katode merupakan elektrode yang potensial reduksinya 
lebih positif, dalam hal ini yaitu perak. 
E°sel = E°(katode) – E°(anode) 
E°sel = +0,80 V – (–2,37 V) 
= +3,17 volt
Potensial Reaksi Redoks
Deret Keaktifan Logam (Deret 
Volta) 
Susunan unsur-unsur logam berdasarkan potensial elektrode 
standarnya disebut deret elektrokimia atau deret volta. 
Semakin kiri kedudukan suatu logam dalam deret volta, 
 logam semakin reaktif (semakin mudah melepas elektron), 
 logam merupakan reduktor yang semakin kuat. 
Sebaliknya, semakin kanan kedudukan logam dalam deret volta, 
 logam semakin kurang reaktif (semakin sukar melepas elektron), 
 kationnya merupakan oksidator yang semakin kuat.
Aki 
Sel aki terdiri atas anode Pb 
(timbel = timah hitam) dan 
katode PbO2 (timbel(IV) oksida). 
Keduanya merupakan zat padat, 
yang dicelupkan dalam larutan 
asam sulfat.
Baterai Kering (Sel Leclanche)
Baterai Alkalin
Susunan Sel Elektrolisis 
Sel elektrolisis terdiri dari 
sebuah wadah, elektrode, 
elektrolit, dan sumber arus 
searah dengan susunan 
seperti gambar berikut.
Reaksi-reaksi Elektrolisis 
Reaksi elektrolisis terdiri dari reaksi katode, 
yaitu reduksi, dan reaksi anode, yaitu oksidasi. 
a. Spesi yang mengalami reduksi di katode 
adalah spesi yang potensial reduksinya 
paling besar. 
b. Spesi yang mengalami oksidasi di anode 
adalah spesi yang potensial oksidasinya 
paling besar.
Reaksi-reaksi di Katode 
(Reduksi) 
Reaksi di katode bergantung pada jenis kation dalam 
larutan. Jika kation berasal dari logam-logam aktif 
(logam golongan IA, IIA, Al atau Mn), yaitu logam-logam 
yang potensial standar reduksinya lebih kecil 
(lebih negatif daripada air), maka air yang tereduksi. 
Sebaliknya, kation selain yang disebutkan di atas akan 
tereduksi.
Reaksi-reaksi di Anode 
(Oksidasi) Jika anode tidak terbuat dari Pt, Au atau grafit, maka anode 
itu akan teroksidasi. 
Elektrode Pt, Au, dan grafit (C) digolongkan sebagai elektrode inert 
(sukar bereaksi). 
Jika anode terbuat dari elektrode inert, maka reaksi anode 
bergantung pada jenis anion dalam larutan. 
Anion sisa asam oksi seperti SO4 2– , NO 2– , PO4 2– , dan F – 
, mempunyai 
potensial oksidasi lebih negatif daripada air. Anion-anion seperti itu 
sukar dioksidasi sehingga air yang teroksidasi. 
– – 
Jika anion lebih mudah dioksidasi daripada air, seperti Br , dan I , maka 
anion itu yang teroksidasi.
Hukum-hukum Faraday 
Hukum Faraday 1 
“Massa zat yang dibebaskan pada elektrolisis (G) 
berbanding lurus dengan jumlah listrik yang digunakan (Q)”. 
G ≈ Q 
Jumlah muatan listrik (Q) sama dengan hasil kali dari kuat arus (i) 
dengan waktu (t). 
Q = i × t (coulomb) 
Jadi, G ≈ i t
Hukum Faraday 2 
"Massa zat yang dibebaskan pada elektrolisis (G) 
berbanding lurus dengan massa ekivalen zat itu (ME)". 
G ≈ ME 
Penggabungan hukum Faraday I dan II menghasilkan persamaan 
sebagai berikut. 
G = k × i × t × ME .......... (2.5) 
(k = tetapan/pembanding)
Faraday menemukan harga k = 1 
96.500 
Jadi, G = k × i × t × ME dapat dinyatakan sebagai berikut. 
dengan, G = massa zat yang dibebaskan (dalam gram) 
i = kuat arus (dalam ampere) 
t = waktu (dalam detik) 
ME = massa ekivalen 
Massa ekivalen dari unsur-unsur logam sama dengan massa 
atom relatif (Ar) dibagi dengan bilangan oksidasinya (biloks).
Stoikiometri Reaksi Elektrolisis 
Stoikiometri reaksi elektrolisis didasarkan pada anggapan 
bahwa arus listrik adalah aliran elektron. Muatan listrik dari 
1 mol elektron adalah 96.500 coulomb. Jumlah muatan dari 
1 mol elektron ini sama dengan tetapan Faraday (1 F). 
1 F ≡ 1 mol elektron ≡ 96.500 coulomb 
Hubungan kuat arus dan waktu dengan jumlah mol 
elektron:
Penggunaan Elektrolisis dalam 
Industri 
Dapat disebutkan tiga bidang industri yang menggunakan 
elektrolisis, yaitu produksi zat, pemurnian logam, dan 
penyepuhan. 
a. Produksi Zat 
Banyak zat kimia dibuat melalui elektrolisis, misalnya logam-logam 
alkali, magnesium, aluminium, fluorin, klorin, natrium 
hidroksida, natrium hipoklorit, dan hidrogen peroksida. 
b. Pemurnian Logam 
Contoh terpenting dalam bidang ini adalah pemurnian 
c. tembPaegnay. epuhan 
Penyepuhan (electroplating) dimaksudkan untuk melindungi 
logam terhadap korosi atau untuk memperbaiki penampilan.
Korosi 
Korosi adalah reaksi redoks antara suatu logam dengan berbagai 
zat di lingkungannya yang menghasilkan senyawa-senyawa yang 
tak dikehendaki. 
a. Pada peristiwa korosi, logam mengalami oksidasi, sedangkan 
oksigen (udara) mengalami reduksi. 
b. Korosi merupakan proses elektrokimia. Pada korosi besi, 
bagian tertentu dari besi itu berlaku sebagai anode, di mana 
besi mengalami oksidasi. 
c. Elektron yang dibebaskan di anode mengalir ke bagian lain 
dari 
besi itu yang berlaku sebagai katode, di mana oksigen 
tereduksi. 
atau
Cara-cara Mencegah Korosi Besi 
1) Mengecat 
Jembatan, pagar dan railing biasanya dicat. Cat 
menghindarkan kontak besi dengan udara dan air. 
2) Melumuri dengan oli atau gemuk 
Cara ini diterapkan untuk berbagai perkakas dan 
mesin. Oli dan gemuk mencegah kontak besi dengan 
air. 3) Dibalut dengan plastik 
Berbagai macam barang, misalnya rak piring dan 
keranjang sepeda dibalut dengan plastik. Plastik 
mencegah kontak besi dengan udara dan air.
4) Tin plating (pelapisan dengan timah) 
Kaleng-kaleng kemasan terbuat dari besi yang 
dilapisi dengan timah. Pelapisan dilakukan secara 
elektrolisis, yang disebut electroplating. 
5) Galvanisasi (pelapisan dengan zink) 
Pipa besi, tiang telpon, badan mobil, dan berbagai 
barang lain dilapisi dengan zink. 
6) Cromium plating (pelapisan dengan 
kromium) 
7) Sacrificial protection (pengorbanan anode)

Bab2 reak

  • 1.
    BAB 2 REAKSIREDOKS DAN ELEKTROKIMIA 2.1 Penyetaraan Reaksi Redoks 2.2 Sel Volta 2.3 Elektrolisis 2.4 Korosi
  • 2.
    PENYETARAAN REAKSI REDOKS Metode Bilangan Oksidasi Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut. 1. Tuliskan kerangka dasar reaksi, yaitu reduktor dan hasil oksidasinya serta oksidator dan hasil reduksinya. 2. Setarakan unsur yang mengalami perubahan bilangan oksidasi dengan memberi koefisien yang sesuai (biasanya ialah unsur selain hidrogen dan oksigen).
  • 3.
    3. Tentukan jumlahpenurunan bilangan oksidasi dari oksidator dan jumlah pertambahan bilangan oksidasi dari reduktor. Dalam hal ini yang dimaksud dengan ”jumlah penurunan bilangan oksidasi” atau ”jumlah pertambahan bilangan oksidasi” adalah hasil kali antara jumlah atom yang terlibat dengan perubahan bilangan oksidasinya. 4. Samakan jumlah perubahan bilangan oksidasi tersebut dengan memberi koefisien yang sesuai. 5. Setarakan muatan dengan menambah ion H – (dalam suasana asam) atau ion OH (dalam suasana basa). + 6. Setarakan atom H dengan menambahkan H2O.
  • 4.
    Metode Setengah Reaksi(Ion-Elektron) Suasana Larutan Asam Langkah 1 Tulislah kerangka dasar dari setengah reaksi reduksi dan setengah reaksi oksidasi secara terpisah dalam bentuk reaksi ion.
  • 5.
    Langkah 2 Masing-masingsetengah reaksi disetarakan dengan urutan sebagai berikut. a. Setarakan atom unsur yang mengalami perubahan bilangan oksidasi (biasanya ialah unsur selain oksigen dan hidrogen). b. Setarakan oksigen dengan menambahkan molekul air (H2O). c. Setarakan atom hidrogen dengan menambahkan ion + H . d. Setarakan muatan dengan menambahkan elektron.
  • 6.
    Langkah 3 Samakanjumlah elektron yang diserap pada setengah reaksi reduksi dengan jumlah elektron yang dibebaskan pada setengah reaksi oksidasi dengan cara memberi koefisien yang sesuai, kemudian jumlahkanlah kedua setengah reaksi tersebut.
  • 7.
    Suasana Larutan Basa Penyetaraan reaksi redoks dalam suasana basa dapat dilakukan dengan cara yang sama seperti dalam suasana asam, tetapi ion H+ kemudian harus dihilangkan. Cara menghilangkan ion H+ tersebut dengan menambahkan ion OH– pada kedua ruas, masing-masing sejumlah ion H+ yang ada.
  • 8.
    Reaksi Redoks Spontan Reaksi redoks spontan adalah reaksi redoks yang berlangsung serta-merta. Contohnya adalah reaksi antara logam zink dengan larutan tembaga(II) sulfat. Sementara itu, reaksi kebalikannya tidak terjadi. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa kebalikan dari reaksi spontan adalah tidak spontan.
  • 9.
    Susunan Sel Volta Logam zink dicelupkan dalam larutan yang mengandung ion Zn 2+ sementara sepotong logam tembaga dicelupkan dalam larutan ion Cu 2+ . Logam zink akan larut sambil melepas dua elektron. Elektron yang dibebaskan tidak memasuki larutan tetapi tertinggal pada logam zink itu. Elektron tersebut selanjutnya akan mengalir ke logam tembaga melalui kawat penghantar. Ion Cu 2 + akan mengambil elektron dari logam tembaga kemudian mengendap.
  • 10.
    Sel Volta Anode → terjadi oksidasi → bermuatan (–) Katode → terjadi reduksi → bermuatan (+)
  • 11.
    Notasi Sel Volta Susunan suatu sel volta dinyatakan dengan suatu notasi singkat yang disebut diagram sel. a. Anode biasanya digambarkan di sebelah kiri, sedangkan katode di sebelah kananpada anode terjadi oksidasi Zn menjadi Zn 2 + . b. Di katode terjadi reduksi ion 2C+u menjadi Cu. c. Dua garis sejajar (||) yang memisahkan anode dan katode menyatakan jembatan garam, sedangkan garis tunggal menyatakan batas antarfase
  • 12.
    Potensial Elektrode Standar(E⁰) Potensial sel yang dihasilkan oleh suatu elektrode (M) dengan elektrode hidrogen disebut potensial elektrode itu dan dinyatakan dengan lambang E. Apabila pengukuran dilakukan pada kondisi standar, yaitu pada suhu 25°C dengan konsentrasi ion-ion 1 M dan tekanan gas 1 atm, disebut potensial elektrode standar dan diberi lambang E°.
  • 13.
     Elektrode yanglebih mudah mengalami reduksi dibandingkan terhadap elektrode hidrogen mempunyai potensial elektrode bertanda positif (diberi tanda positif), sedangkan elektrode yang lebih sukar mengalami reduksi diberi tanda negatif.  Potensial elektrode sama dengan potensial reduksi.  Adapun potensial oksidasi sama nilainya dengan potensial reduksi, tetapi tandanya berlawanan.
  • 14.
    Potensial Sel Katodeadalah elektrode yang mempunyai harga E° lebih besar (lebih positif), sedangkan anode adalah yang mempunyai E° lebih kecil (lebih negatif).
  • 15.
    Contoh Tentukanlah E°selyang disusun dari kedua elektrode itu. Jawab: Potensial sel adalah selisih potensial katode dengan anode. Katode merupakan elektrode yang potensial reduksinya lebih positif, dalam hal ini yaitu perak. E°sel = E°(katode) – E°(anode) E°sel = +0,80 V – (–2,37 V) = +3,17 volt
  • 16.
  • 17.
    Deret Keaktifan Logam(Deret Volta) Susunan unsur-unsur logam berdasarkan potensial elektrode standarnya disebut deret elektrokimia atau deret volta. Semakin kiri kedudukan suatu logam dalam deret volta,  logam semakin reaktif (semakin mudah melepas elektron),  logam merupakan reduktor yang semakin kuat. Sebaliknya, semakin kanan kedudukan logam dalam deret volta,  logam semakin kurang reaktif (semakin sukar melepas elektron),  kationnya merupakan oksidator yang semakin kuat.
  • 18.
    Aki Sel akiterdiri atas anode Pb (timbel = timah hitam) dan katode PbO2 (timbel(IV) oksida). Keduanya merupakan zat padat, yang dicelupkan dalam larutan asam sulfat.
  • 20.
  • 21.
  • 22.
    Susunan Sel Elektrolisis Sel elektrolisis terdiri dari sebuah wadah, elektrode, elektrolit, dan sumber arus searah dengan susunan seperti gambar berikut.
  • 23.
    Reaksi-reaksi Elektrolisis Reaksielektrolisis terdiri dari reaksi katode, yaitu reduksi, dan reaksi anode, yaitu oksidasi. a. Spesi yang mengalami reduksi di katode adalah spesi yang potensial reduksinya paling besar. b. Spesi yang mengalami oksidasi di anode adalah spesi yang potensial oksidasinya paling besar.
  • 24.
    Reaksi-reaksi di Katode (Reduksi) Reaksi di katode bergantung pada jenis kation dalam larutan. Jika kation berasal dari logam-logam aktif (logam golongan IA, IIA, Al atau Mn), yaitu logam-logam yang potensial standar reduksinya lebih kecil (lebih negatif daripada air), maka air yang tereduksi. Sebaliknya, kation selain yang disebutkan di atas akan tereduksi.
  • 25.
    Reaksi-reaksi di Anode (Oksidasi) Jika anode tidak terbuat dari Pt, Au atau grafit, maka anode itu akan teroksidasi. Elektrode Pt, Au, dan grafit (C) digolongkan sebagai elektrode inert (sukar bereaksi). Jika anode terbuat dari elektrode inert, maka reaksi anode bergantung pada jenis anion dalam larutan. Anion sisa asam oksi seperti SO4 2– , NO 2– , PO4 2– , dan F – , mempunyai potensial oksidasi lebih negatif daripada air. Anion-anion seperti itu sukar dioksidasi sehingga air yang teroksidasi. – – Jika anion lebih mudah dioksidasi daripada air, seperti Br , dan I , maka anion itu yang teroksidasi.
  • 26.
    Hukum-hukum Faraday HukumFaraday 1 “Massa zat yang dibebaskan pada elektrolisis (G) berbanding lurus dengan jumlah listrik yang digunakan (Q)”. G ≈ Q Jumlah muatan listrik (Q) sama dengan hasil kali dari kuat arus (i) dengan waktu (t). Q = i × t (coulomb) Jadi, G ≈ i t
  • 27.
    Hukum Faraday 2 "Massa zat yang dibebaskan pada elektrolisis (G) berbanding lurus dengan massa ekivalen zat itu (ME)". G ≈ ME Penggabungan hukum Faraday I dan II menghasilkan persamaan sebagai berikut. G = k × i × t × ME .......... (2.5) (k = tetapan/pembanding)
  • 28.
    Faraday menemukan hargak = 1 96.500 Jadi, G = k × i × t × ME dapat dinyatakan sebagai berikut. dengan, G = massa zat yang dibebaskan (dalam gram) i = kuat arus (dalam ampere) t = waktu (dalam detik) ME = massa ekivalen Massa ekivalen dari unsur-unsur logam sama dengan massa atom relatif (Ar) dibagi dengan bilangan oksidasinya (biloks).
  • 29.
    Stoikiometri Reaksi Elektrolisis Stoikiometri reaksi elektrolisis didasarkan pada anggapan bahwa arus listrik adalah aliran elektron. Muatan listrik dari 1 mol elektron adalah 96.500 coulomb. Jumlah muatan dari 1 mol elektron ini sama dengan tetapan Faraday (1 F). 1 F ≡ 1 mol elektron ≡ 96.500 coulomb Hubungan kuat arus dan waktu dengan jumlah mol elektron:
  • 30.
    Penggunaan Elektrolisis dalam Industri Dapat disebutkan tiga bidang industri yang menggunakan elektrolisis, yaitu produksi zat, pemurnian logam, dan penyepuhan. a. Produksi Zat Banyak zat kimia dibuat melalui elektrolisis, misalnya logam-logam alkali, magnesium, aluminium, fluorin, klorin, natrium hidroksida, natrium hipoklorit, dan hidrogen peroksida. b. Pemurnian Logam Contoh terpenting dalam bidang ini adalah pemurnian c. tembPaegnay. epuhan Penyepuhan (electroplating) dimaksudkan untuk melindungi logam terhadap korosi atau untuk memperbaiki penampilan.
  • 31.
    Korosi Korosi adalahreaksi redoks antara suatu logam dengan berbagai zat di lingkungannya yang menghasilkan senyawa-senyawa yang tak dikehendaki. a. Pada peristiwa korosi, logam mengalami oksidasi, sedangkan oksigen (udara) mengalami reduksi. b. Korosi merupakan proses elektrokimia. Pada korosi besi, bagian tertentu dari besi itu berlaku sebagai anode, di mana besi mengalami oksidasi. c. Elektron yang dibebaskan di anode mengalir ke bagian lain dari besi itu yang berlaku sebagai katode, di mana oksigen tereduksi. atau
  • 32.
    Cara-cara Mencegah KorosiBesi 1) Mengecat Jembatan, pagar dan railing biasanya dicat. Cat menghindarkan kontak besi dengan udara dan air. 2) Melumuri dengan oli atau gemuk Cara ini diterapkan untuk berbagai perkakas dan mesin. Oli dan gemuk mencegah kontak besi dengan air. 3) Dibalut dengan plastik Berbagai macam barang, misalnya rak piring dan keranjang sepeda dibalut dengan plastik. Plastik mencegah kontak besi dengan udara dan air.
  • 33.
    4) Tin plating(pelapisan dengan timah) Kaleng-kaleng kemasan terbuat dari besi yang dilapisi dengan timah. Pelapisan dilakukan secara elektrolisis, yang disebut electroplating. 5) Galvanisasi (pelapisan dengan zink) Pipa besi, tiang telpon, badan mobil, dan berbagai barang lain dilapisi dengan zink. 6) Cromium plating (pelapisan dengan kromium) 7) Sacrificial protection (pengorbanan anode)