ikhtilaf, Sebab Ikhtilaf ahlu ra’yi & ahlu hadis

10,178 views

Published on

2 Comments
4 Likes
Statistics
Notes
  • jadikanlah perdedaaan itu sebagai rahmat dalam beramal,,.
    janganlah jadi perbedaan itu sebagai permusuhan, krn semuanya itu tujuannya sama, hanya untuk mencari ridha Allah SWT
       Reply 
    Are you sure you want to  Yes  No
    Your message goes here
  • perbedaan itu indah, tapi perbedaan yang membuat umat islam semakin kuat dan kokoh dalam keimana kepada Allah tentunya,dan kecintaan yang semakin melekat kepada Rosululloh Saw..
       Reply 
    Are you sure you want to  Yes  No
    Your message goes here
No Downloads
Views
Total views
10,178
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1,201
Actions
Shares
0
Downloads
335
Comments
2
Likes
4
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

ikhtilaf, Sebab Ikhtilaf ahlu ra’yi & ahlu hadis

  1. 1. DEFINISI,SEBAB IKHTILAF,AHLU AL-RA’YI &AHLU AL-HADITS Oleh: Hj. Marhamah Saleh, Lc. MA
  2. 2. DEFINISI IKHTILAF Ikhtilaf menurut bahasa = perbedaan paham (pendapat), berasal dari kata diambil dari kata – – maknanya lebih umum daripada sebab setiap hal yang berlawanan pasti akan saling bertentangan. QS. Hud (11) ayat 118-119 Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. IKHTILAF = tidak sepaham atau tidak sama / perbedaan jalan, perbedaan pendapat atau perbedaan manhaj yang ditempuh oleh seseorang atau sekelompok orang dengan yang lainnya. Ikhtilaf secara terminologi = perbedaan pendapat diantara ahli hukum Islam (fuqaha‟) dalam menetapkan sebagian hukum Islam yang bersifat furu‟iyah , bukan pada masalah hukum Islam yang bersifat ushuliyyah (pokok-pokok hukum Islam), disebabkan perbedaan pemahaman atau perbedaan metode dalam menetapkan hukum suatu masalah, dll. Misal, perbedaan pendapat fuqaha‟ tentang hukum wudhu‟ seorang lelaki yang menyentuh perempuan, hukum membaca surat fatihah bagi makmum dalam shalat berjama‟ah, dsb.
  3. 3. FAKTOR PENYEBAB IKHTILAFDR. Yusuf al-Qardhawi dalam buku al-Shahwah al-IslamiyahBaina al-Ikhtilaf al-Masyru‟ wa al-Tafarruq al-Madzmum,menyatakan ada 2 faktor pemicu ikhtilaf:A. Faktor akhlaq, antara lain karena: - membanggakan diri dan kagum pendapat sendiri - buruk sangka dan mudah menuduh orang tanpa bukti - egoisme dan mengikuti hawa nafsu - fanatik kepada pendapat orang, mazhab atau golongan - fanatik kepada negeri, daerah, partai, jama‟ah, pemimpin  Kesemuanya ini akhlaq tercela dan wajib dihindari.B. Faktor Pemikiran, timbul karena perbedaan sudut pandang mengenai suatu masalah, baik ilmiah maupun amaliah. Dalam masalah ilmiah, seperti perbedaan menyangkut cabang-cabang syari‟at dan beberapa masalah aqidah yang tidak menyentuh prinsip-prinsip pasti. Dalam masalah amaliah, perbedaan mengenai sikap politik dan pengambilan keputusan atas berbagai masalah, ikhtilaf fiqhi, Ikhtilaf fikriah (perbedaan pandangan mengenai penilaian terhadap sebagian ilmu pengetahuan.Perbedaan terbesar umumnya mengenai fiqh dan aqidah.
  4. 4. FAKTOR PENYEBAB IKHTILAF Menurut Muhammad Abdul Fattah Al-Bayanuni dalam Dirasat fi al-Ikhtilaf al-Fiqhiyyah, asal mula perbedaan hukum-hukum fiqh disebabkan timbulnya “ijtihad” terhadap hukum, terutama pasca Nabi Saw dan para sahabat meninggal dunia. Ada 2 faktor paling mendasar:1. Kemungkinan yang terkandung dalam nash- nash syariah (Quran dan hadis)2. Perbedaan pemahaman ulama Secara matematis dapat digambarkan seperti berikut:
  5. 5. FAKTOR PENYEBAB ITTIFAQ Nash-nash yang qath‟i Pendapat yang SAMA Akal dan Pemahaman yang SAMA
  6. 6. FAKTOR PENYEBAB IKHTILAF Nash-nash yang mengandung kemungkinan Pendapat yang beragam Akal dan Pemahaman yg berbeda
  7. 7. SEBAB TERJADINYA IKHTILAF
  8. 8. Dalam Masalah Otentisitas Nash Perbedaan mengenai KEHUJJAHAN HADIS MURSAL, hadis yg diriwayatkan orang sesudah sahabat (tabi‟in) dari Nabi. Mazhab Hanafi  hadis Mursal kurun/abad pertama & kedua hijriah adalah hujjah. Syafi‟i  hadis tsb tak boleh jadi dalil kecuali jika didukung oleh ayat atau hadis masyhur yang lainnya. Perbedaan mengenai hadis yang diriwayatkan oleh seorang perawi, kemudian ia lupa, ataupun mengingkarinya. Menurut Abu Hanifah & Abu Yusuf  tidak boleh dijadikan pegangan. Imam Syafi‟i & Muhmmad (murid Abu Hanifah) berpendapat hadis tsb adalah dalil syara‟ yang sah untuk diamalkan. Misal, hadis diriwayatkan Rabi‟ah dari Suhail bin Abi Shalih, Rasul bersabda (memutuskan hukum cukup dengan seorang saksi dan sumpah). Ada yag mengatakan kepada Suhail, “...tapi Rabi‟ah meriwayatkan hadis ini darimu!” Suhail menjawab, “Saya tidak pernah meriwayatkan hadis tsb”. Tapi Rabi‟ah orangnya tsiqah dan adil! Suhail:“boleh jadi saya lupa” Perbedaan penilaian terhadap hadis mastūr (yang diriwayatkan oleh banyak orang tapi seorangpun diantaranya tidak pernah diteliti sifatnya. Sebagian ulama menerima kalau mereka hidup dalam kurun 3 abad pertama hijriah. Abu Hanifah menganggap nya adil (diterima). Tapi ada yg menganggap fasiq (ditolak).
  9. 9. Dalam Memahami Nash Syara’ Dari segi nash itu sendiri, terkadang terkandung makna musytarak (homonim, satu kata multi-arti). Misal, lafaz . Contoh lain, hadis riwayat Abu Sa‟id al-Khudry: jika yag kedua dibaca rafa‟, maka jadi khabar mubtada‟  berarti “menyembelih induk bermakna menyembelih anak dalam kandungannya juga”. Tapi kalau yag kedua dibaca nashab  berarti “sembelihlah anak binatang itu sebagaimana kamu telah menyembelih induknya”. Dari segi Mujtahid. Misal, pasca perang Ahzab, Jibril menyuruh Nabi menyerang Bani Quraidhah. Lalu Nabi memberi aba-aba: (seorangpun tidak boleh shalat Ashar sebelum tiba di Bani Quraidhah). Dalam perjalanan, tibalah waktu Ashar. Sebagian sahabat berpegang pada dhahir nash dengan sengaja meninggalkan shalat sesuai komando Rasul. Sebagian lagi karena memperhitungkan akan tiba disana ba‟da Magrib, mereka berani berijtihad melaksanakan shalat Ashar, kemudian meneruskan perjalanan, karena mereka memahami kalimat Nabi semata-mata kiasan atas perintah agar dilaksanakan sesegera mungkin. Ketika perbedaan pendapat ini dilaporkan kepada Nabi, beliau membenarkan kedua jalan pikiran itu.
  10. 10. Perbedaan Dalam Mentarjih Nash Jika ada 2 nash atau lebih yang tampaknya saling bertentangan, para mujtahid menempuh 2 jalan: mempertemukan dan mengamalkan kedua-duanya (al-jam‟u wa al-taufiq). Kalau tidak memungkinkan, terpaksa memilih salah satu yang terkuat (tarjih). Macam-macam Tarjih pada nash yang saling bertentangan: 1. Terfokus pada sanad, mentarjih sanad mutawatir atas sanad msyhur, dan mendahulukan rawi yang paling tahu & tsiqah. 2. Terfokus pad matan, dengan mentarjih larangan (nahy) daripada suruhan (amr), mentarjih makna ashli (hakiki) daripada makna kiasan (majazi). 3. Terfokus pada kandungan nash (madlul), dengan cara mentarjih kandungan larangan (nahy) dari yang menunjukkan boleh (ibahah). 4. Tarjih dengan dukungan faktor dari luar nash yang bertentangan, seperti ada dalil pendukung dari ayat, hadis, ijma‟, qiyas lainnya. Contoh: Perbedaan cara shalat gerhana (kusuf), menurut Imam Malik, Syafi‟i, Ahmad dan ulama Hijaz, shalat kusuf 2 rakaat dan 2x ruku‟ pada tiap raka‟at. Sedangkan menurut Abu Hanifah dan Jumhur ulama Kufah, caranya persis shalat „Ied & Jum‟at.
  11. 11. Perbedaan Qaidah Ushul & Dalil Perbedaan mengenai KEHUJJAHAN IJMA‟ AHLU MADINAH, Imam Malik meyakininya sebagai hujjah yang sah. Sedangkan Abu Hanifah, Syafi‟i dan Ahmad bin Hanbal berpendapat bahwa perbuatan penduduk Madinah itu bukan hujjah, kecuali jika sudah menjadi ijma‟ ummat. Akibatnya Menurut Imam Malik, takbir pada shalat „Id 7x termasuk takbiratul ihram pada rakaat pertama, dan 6x termasuk takbir bangkit dari sujud pada rakaat kedua, karena orang Madinah berbuat demikian.  Imam Malik berpendapat, Zawil Arham seperti paman (saudara ayah) dan pakcik (saudara ibu) tidak mendapat warisan berdasarkan amal ahlu Madinah. Sedangkan Imam Ahmad, Abu Hanifah dll berpendapat mereka berhak menerima warisan sesuai QS. Al- Anfal: 75. Perbedaan mengenai KEHUJJAHAN MAFHUM MUKHALAFAH (lafaz yang mengandung pengertian bahwa yang dimaksud adalah lawan dari yang disebutkan). Misal, sabda Rasul Keterlambatan orang kaya membayar hutang adalah Zalim. Mafhum mukhalafahnya, keterlambatan orang miskin dalam membayar hutang adalah tidak zalim, alias boleh. Jumhur  mafhum mukhalafah dalil syara‟ dengan bersyarat. Mazhab Hanafi  mafhum mukhalafah tak dapat dijadikan dalil.
  12. 12. Perbedaan Qaidah Ushul & Dalil Perbedaan dalam menghadapi pertentangan DALIL „AM dengan DALIL KHASH, Jumhur berpendapat seluruh dalil „am statusnya dhanni (tidak pasti) sehingga perlu dibawa kepada yang bersifat khash dan qath‟i (pasti), selama memungkinkan. Hanafi berpendapat dalil „am statusnya qath‟i, maka dapat diamalkan. Misal, Jumhur ulama berpendapat nishb zakat tanaman adalah 5 wasaq (652,8 kg) sesuai hadis yang mentakhsish hadis Tanaman yang disiram hujan atau mata air atau tak perlu disiram adalah 10%, sedangkan yang disiram dengan tenaga adalah 5%.Sedangkan Abu Hanifah tidak mengakui batasan nishab sesuai hadis pertama, karena hadis yg kedua walau umum tapi qath‟i. Perbedaan dalam menghadapi pertentangan antara dalil yang MUTHLAQ dengan MUQAYYAD. Jumhur ulama  Jika bertentangan antara nash muthlaq dengan muqayyad, maka dibawa kepada muqayyad, jika memenuhi syarat dalam ushul fiqh. Abu Hanifah berpendapat sebaliknya. Misal, berapa kali susuan yang mengharamkan nikah? Abu Hanifah berpendapat pengharaman tidak dikaitkan dengan jumlah kali susuan, sesuai QS. Al-Nisa‟: 23 . Sedangkan Syafi‟i, minimal susuan yg mengharamkan nikah, 5x isap sesuai hadis.
  13. 13. ULAMA AHLI HADIS• Para ulama AHLI HADIS berpegang pada nash dan atsar, tidak bersandar pada ra’yu kecuali terpaksa sekali. Mereka penduduk Hijaz (Mekkah dan Madinah) yang dikepalai Sa‟ad bin Musayyab yang lebih mengetahui hadis dan fiqh. Mereka tekun menghafal atsar dan mengumpulkan fatwa Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Aisyah, Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Zaid bin Tsabit, Abu Hurairah dan ketetapan qadhi Madinah. Dengan modal seperti itu mereka merasa cukup dan tidak perlu menggunakan ra’yu. Hal ini disebabkan:1. Terpengaruh oleh sikap pendahulu mereka seperti Abdullah bin Umar yang menggunakan atsar dan tidak mau menggunakan ra’yu.2. Banyaknya atsar di kalangan mereka dan sedikitnya peristiwa baru yang terjadi.3. Terbelakangnya penduduk Hijaz. Jika dimintai fatwa tentang suatu masalah, mereka merujuk Quran, lalu sunnah, dan kemudian atsar sahabat. Jika tidak didapati hukumnya, baru menggunakan ra’yu (itupun sedikit sekali), dan kadang berhenti memberi fatwa.
  14. 14. ULAMA AHLI RA’YU• Para ulama AHLI RA‟YU ADALAH PENDUDUK Irak yang dikepalai oleh Ibrahim An-Nakha‟i.• Mereka berpendapat bahwa hukum-hukum syara’ itu dapat dicerna akal, mengandung mashlahat yang kembali kepada manusia, serta didasarkan pada pokok yang kokoh dan alasan penetapannya. Maka mereka mencari ‘illat dan hikmah disyari’atkannya suatu hukum, dan mereka menjadikan hikmah berkisar bersama hukum, baik ada atau tidak adanya. Adapun Sebab tersebarnya ra‟yu di Irak:1. Terpengaruh dengan cara guru-guru mereka seperti Abdullah bin Mas’ud yang mengikuti Umar dalam menggunakan ra’yu.2. Mereka berpendapat bahwa Irak adalah kota yang beruntung dengan sahabat, dimana Kufah dan Basrah sebagai pangkalan militer Islam. Irak adalah sumber Syi’ah, tempat Khawarij dan daerah terjadinya fitnah, disana banyak tersebar hadis palsu, hingga para ulamanya mensyaratkan sangat ketat dalam menerima hadis. Hal ini menjadikan hadis yang mereka miliki untuk dijadikan rujukan sangat sedikit, maka tak ada jalan lain selain pakai ra’yu.3. Masalah-masalah yang perlu diketahui hukumnya di Irak lebih banyak daripada di Hijaz lantaran modernnya Irak, jadi butuh ra’yu.
  15. 15. KEISTIMEWAAN AHLI RA’YU• Menghasilkan banyak khasanah cabang-cabang fiqh meskipun banyak bersifat ifthiradhiyah (hipotesis) dan khayalan, serta sedikit yang waqi’i (masalah yang tengah terjadi).• Sedikitnya perawi hadis karena syarat-syarat yang harus dipenuhi begitu ketat.
  16. 16. MACAM-MACAM IKHTILAF
  17. 17. MACAM-MACAM IKHTILAF
  18. 18. MACAM-MACAM IKHTILAF
  19. 19. MACAM-MACAM IKHTILAF
  20. 20. MACAM-MACAM IKHTILAF
  21. 21. MACAM-MACAM IKHTILAF

×