Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.
Ushul Fiqh : Kedudukan Qiyas
Disusun Oleh :
1. Miftahuddin (2013002009)
2. Tri Hadi Susanto (2013002005)
STIE Muhammadiyah...
A. Pengertian Qiyas
Qiyas menurut Ulama‟ Ushul fiqh ialah
menerangkan hukum sesuatu yang tidak ada
nashnya dalam Alqur‟an ...
Definisi Lain :
• Al-Ghazali dalam Al-Mustashfa
Menanggungkan sesuatu yang diketahui kepada
sesuatu yang diketahui dalam h...
Lanjutan….
• Al-Baidhawi
Menetapkan semisal hukum yang diketahui pada sesuatu
lain yang diketahui karena keduanya berserik...
Qiyas itu berarti para mujtahid telah
mengembalikan ketentuan hukum sesuatu kepada
sumbernya Alqur‟an dan Hadits. Sebab hu...
B. Kedudukan dan Kehujjahan Qiyas
Sebagian para ulama‟ fiqh dan para pengikut madzab yang
empat sependapat bahwa qiyas dap...
Lanjutan….
Ulama‟ Zahiriyah berpendapat bahwa secara logika
qiyas memang boleh tetapi tidak ada satu nashpun
dalam ayat Al...
“Hai orang-orang yang beriman,
janganlah kamu mendahului Allah
dan Rasulnya dan bertakwalah
kepada Allah. Sesungguhnya All...
Mengenai dasar hukum qiyas bagi yang
membolehkannya sebagai dasar hujjah, ialah al-
Qur‟an dan Al-Hadits serta perbuatan s...
78. Dan ia membuat perumpamaan bagi kami dan dia lupa
kepada kejadiannya, ia berkata : “ siapakah yang dapat
menghidupkan ...
Ayat ini menjelaskan bahwa Allah menyamakan
kemampuan-Nya menghidupkan tulang belulang
yang telah berserakan dikemudian ha...
“Dia-lah yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara
ahli kitab dari kampung-kampung mereka pada saat
pengusiran yang pe...
Pada ayat di atas terdapat perkataan fa‟ tabiru ya ulil
abshar (maka ambillah tamsil dan ibarat dari
kejadian itu hai oran...
b. Dalil Sunnah
• Hadits mengenai percakapan Nabi dengan Muaz ibn Jabal,
saat ia diutus ke Yaman untuk menjadi penguasa di...
• Nabi memberi petunjuk kepada sahabatnya
tentang penggunaan qiyas dengan
membandingkan antara dua hal, kemudian
mengambil...
Hadits di atas adalah tanggapan atas persoalan si
penanya yang bapaknya bernazar untuk haji tetapi
meninggal dunia sebelum...
c. Atsar Sahabat
Adapun argumentasi jumhur ulama’ berdasarkan
atsar sahabat dalam penggunaan qiyas, adalah :
• Surat Umar ...
Pesan Umar dilanjutkan dengan :
Ketahuilah kesamaan dan keserupaan: Qiyas-
kanlah segala urusan waktu itu.
Bagian pertama ...
• Para Sahabat Nabi banyak menetapkan pendapatnya
berdasarkan qiyas. Contoh yang popular adalah
kesepakatan sahabat mengan...
C. Penolak dan Penerima Qiyas
1. Kelompok Jumhur, yang mempergunakan
qiyas sebagai dasar hukum pada hal-hal yang
tidak jel...
78. Dan ia membuat perumpamaan bagi kami dan dia lupa
kepada kejadiannya, ia berkata : “ siapakah yang dapat
menghidupkan ...
2. Madzab Zhahiriyah dan Syi’ah Imamiyah, yang
sama sekali tidak mempergunakan qiyas. Madzab
zhahiriyah tidak mengakui ada...
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah
kamu mendahului Allah dan Rasulnya dan
bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya
All...
D. Rukun Qiyas
1. Ashl (Pokok), yaitu suatu peristiwa yang sudah ada Nashnya yang
dijadikan tempat mengqiyaskan, sedangkan...
E. Macam-Macam Qiyas
1. Qiyas Aulawy
Yaitu qiyas yang apabila „illatnya mewajibkan adanya hukum. Dan
antara hukum asal dan...
3.Qiyas Adna
Qiyas adna yaitu adanya hukum far‟u lebih
lemah bila dirujuk dengan hukum al-ashlu.
Sebagai contoh, mengqiyas...
Sekian dan Terimakasih
Qiyas-Ushul Fiqh Powerpoint (Miftah'll Everafter)
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Qiyas-Ushul Fiqh Powerpoint (Miftah'll Everafter)

Qiyas-Ushul Fiqh

  • Login to see the comments

Qiyas-Ushul Fiqh Powerpoint (Miftah'll Everafter)

  1. 1. Ushul Fiqh : Kedudukan Qiyas Disusun Oleh : 1. Miftahuddin (2013002009) 2. Tri Hadi Susanto (2013002005) STIE Muhammadiyah Pekalongan 2013/2014
  2. 2. A. Pengertian Qiyas Qiyas menurut Ulama‟ Ushul fiqh ialah menerangkan hukum sesuatu yang tidak ada nashnya dalam Alqur‟an dan Hadits dengan cara membandingkan dengan sesuatu yang ditetapkan hukumnya berdasarkan nash. Mereka juga membuat definisi lain : Qiyas ialah menyamakan sesuatu yang tidak ada nash hukumnya dengan sesuatu yang ada nash hukumnya karena adanya persamaan „illat hukum.
  3. 3. Definisi Lain : • Al-Ghazali dalam Al-Mustashfa Menanggungkan sesuatu yang diketahui kepada sesuatu yang diketahui dalam hal menetapkan hukum pada keduanya, dalam penetapan hukum atau peniadaan hukum. • Abu Hasan al-Bashri Menghasilkan (menetapkan) hukum ashal pada “furu‟” karena keduanya sama dalam „illat hukum menurut mujtahid.
  4. 4. Lanjutan…. • Al-Baidhawi Menetapkan semisal hukum yang diketahui pada sesuatu lain yang diketahui karena keduanya berserikat dalam „illat hukum menurut pandangan ulama yang menetapkan. • Shaadru al-Syari’ah Merentangkan (menjangkaukan) hukum dari ashal kepada furu‟ karena ada kesatuan „illat yang tidak mungkin dikenal dengan pemahaman lughowi semata.
  5. 5. Qiyas itu berarti para mujtahid telah mengembalikan ketentuan hukum sesuatu kepada sumbernya Alqur‟an dan Hadits. Sebab hukum islam, kadang tersurat jelas dalam nash Alqur‟an atau Hadits, kadang juga bersifat implisit-analogik terkandung dalam nash tersebut. Mengenai Qiyas ini Imam Syafi‟i mengatakan: “Setiap peristiwa pasti ada kepastian hukum dan umat islam wajib melaksanakannya. Akan tetapi jika tidak ada ketentuan hukumnya yang pasti, maka harus dicari pendekatan yang sah, yaitu dengan ijtihad. Dan ijtihad itu adalah Qiyas.”
  6. 6. B. Kedudukan dan Kehujjahan Qiyas Sebagian para ulama‟ fiqh dan para pengikut madzab yang empat sependapat bahwa qiyas dapat dijadikan salah satu dalil atau dasar hujjah dalam menetapkan hukum ajaran islam. Mereka itu barulah melakukan qiyas apabila ada kejadian atau peristiwa tetapi tidak diperoleh satu nashpun yang dapat dijadikan dasar. Hanya sebagian kecil para ulama‟ yang tidak membolehkan pemakaian qiyas sebagai dasar hujjah, diantaranya ialah salah satu cabang Madzab Dzahiri dan Madzab Syi‟ah.
  7. 7. Lanjutan…. Ulama‟ Zahiriyah berpendapat bahwa secara logika qiyas memang boleh tetapi tidak ada satu nashpun dalam ayat Alqur‟an yang menyatakan wajib memakai qiyas. Ulama‟ Syi‟ah Imamiyah dan An-Nazzam dari Mu‟tazilah menyatakan bahwa qiyas tidak bisa dijadikan landasan hukum dan tidak wajib diamalkan karena mengamalkan qiyas sebagai sesuatu yang bersifat mustahil menurut akal. Mereka mengambil dalil QS. Al Hujurat: 1
  8. 8. “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasulnya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui“
  9. 9. Mengenai dasar hukum qiyas bagi yang membolehkannya sebagai dasar hujjah, ialah al- Qur‟an dan Al-Hadits serta perbuatan sahabat yaitu : a. Dalil Alqur‟an • Allah SWT memberi petunjuk bagi penggunaan qiyas dengan cara menyamakan dua hal sebagaimana dalam surat Yasin (36), ayat 78-79:
  10. 10. 78. Dan ia membuat perumpamaan bagi kami dan dia lupa kepada kejadiannya, ia berkata : “ siapakah yang dapat menghidupkan Tulang belulang yang telah hancur luluh?” 79. Katakanlah : “Ia akan dihidupkan oleh Tuhan yang menciptakannya kali yang pertama dan Dia maha mengetahui tentang segala makhluk.
  11. 11. Ayat ini menjelaskan bahwa Allah menyamakan kemampuan-Nya menghidupkan tulang belulang yang telah berserakan dikemudian hari dengan kemampuan-Nya dalam menciptakan tulang belulang pertama kali. Hal ini berarti bahwa Allah menyamakan menghidupkan tulang tersebut kepada penciptaan pertama kali. •Allah menyuruh menggunakan qiyas sebagaimana dipahami dari beberapa ayat Alqur‟an, seperti dalam surat Al-Hasyr (59), ayat 2 :
  12. 12. “Dia-lah yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara ahli kitab dari kampung-kampung mereka pada saat pengusiran yang pertama. kamu tidak menyangka, bahwa mereka akan keluar dan merekapun yakin, bahwa benteng-benteng mereka dapat mempertahankan mereka dari (siksa) Allah; Maka Allah mendatangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka- sangka. dan Allah melemparkan ketakutan dalam hati mereka; mereka memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang mukmin. Maka ambillah (Kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, Hai orang-orang yang mempunyai wawasan.”
  13. 13. Pada ayat di atas terdapat perkataan fa‟ tabiru ya ulil abshar (maka ambillah tamsil dan ibarat dari kejadian itu hai orang-orang yang mempunyai pandangan tajam). Maksudnya ialah: Allah SWT memerintahkan kepada manusia agar membandingkan kejadian yang terjadi pada diri sendiri kepada kejadian yang terjadi pada orang- orang kafir itu. Jika orang-orang beriman melakukan perbuatan seperti perbuatan orang-orang kafir itu, niscaya mereka akan memperoleh azab yang serupa. Dari penjelmaan ayat di atas dapat dipahamkan bahwa orang boleh menetapkan suatu hukum syara‟ dengan cara melakukan perbandingan, persamaan atau qiyas.
  14. 14. b. Dalil Sunnah • Hadits mengenai percakapan Nabi dengan Muaz ibn Jabal, saat ia diutus ke Yaman untuk menjadi penguasa di sana. Nabi bertanya, “dengan cara apa engkau menetapkan hukum seandainya kepadamu diajukan sebuah perkara? “Muaz menjawab, “Saya menetapkan hukum berdasarkan kitab Allah”. Nabi bertanya lagi, “Bila engkau tidak menemukan hukumnya dalam kitab Allah?” Jawab Muaz, “Dengan sunnah Rasul.” Nabi bertanya lagi, “ kalau dalm Sunah juga engkau tidak menemukannya?” Muaz menjawab, “Saya akan menggunakan ijtihad denga nalar (ra‟yu) saya.” Nabi bersabda, “segala puji bagi Allah yang telah memberi Taufiq kepada utusan Rasul Allah dengan apa yang diridhoi Rasul Allah.” Hadits tersebut merupakan dalil sunnah yang kuat, menurut jumhur Ulama‟, tentang kekuatan qiyas sebagai dalil Syara‟
  15. 15. • Nabi memberi petunjuk kepada sahabatnya tentang penggunaan qiyas dengan membandingkan antara dua hal, kemudian mengambil keputusan atas perbandingan tersebut. Dalam Hadits dari Ibnu „Abbas menurut riwayat An-Nasa‟i Nabi bersabda: “Bagaimana pendapatmu bila bapakmu berutang, apakah engkau akan membayarnya?” Dijawab oleh si penanya (al-Khatasamiyah), “ya, memang.” Nabi Berkata, “Utang terhadap Allah lebih patut untuk dibayar.”
  16. 16. Hadits di atas adalah tanggapan atas persoalan si penanya yang bapaknya bernazar untuk haji tetapi meninggal dunia sebelum sempat mengerjakan haji. Ditanyakannya kepada Nabi dengan ucapannya, “Bagaimana kalau saya yang menghajikan bapak saya itu?” Keluarlah jawaban Nabi seperti tersebut di atas. Dalam hadits itu, Nabi memberikan taqrir (pengakuan) kepada sahabatnya yang menyamakan utang kepada Allah, yaitu haji lebih patut untuk dibayar. Dalil ini menurut jumhur ulama‟ cukup kuat sebagai alasan penggunaan qiyas.
  17. 17. c. Atsar Sahabat Adapun argumentasi jumhur ulama’ berdasarkan atsar sahabat dalam penggunaan qiyas, adalah : • Surat Umar Ibn Khattab kepada Abu Musa Al- Asy’ari sewaktu diutus menjadi qodhi di Yaman. Umar berkata : Putuskanlah Hukum berdasarkan kitab Allah. Bila kamu tidak menemukannya, maka putuskan berdasarkan sunnah Rasul. Jika juga kamu peroleh di dalam sunnah, berijtihadlah dengan menggunakan ra’yu.
  18. 18. Pesan Umar dilanjutkan dengan : Ketahuilah kesamaan dan keserupaan: Qiyas- kanlah segala urusan waktu itu. Bagian pertama atsar ini menjelaskan suruhan menggunakan ra‟yu pada waktu tidak menemukan jawaban dalam Alqur‟am maupun Sunnah, sedangkan bagian akhir atsar shahabi itu secara jelas menyuruh titik perbandingan dan kesamaan di antara dua hal dan menggunakan qiyas bila menemukan kesamaan.
  19. 19. • Para Sahabat Nabi banyak menetapkan pendapatnya berdasarkan qiyas. Contoh yang popular adalah kesepakatan sahabat mengangkat Abu bakar menjadi khalifah pengganti Nabi. Mereka menetapkannya dengan dasar qiyas, yaitu karena Abu bakar pernah ditunjuk Nabi menggantikan beliau menjadi imam shalat jamaah sewaktu beliau sakit. Hal ini dijadikan alasan untuk mengangkat abu bakar menjadi khalifah. Para sahabat berkata: “Nabi telah menunjukkannya menjadi pemimpin urusan agama kita, kenapa kita tidak memilihnya untuk memimpin urusan dunia kita.” Kedudukan abu bakar sebagai khalifah diqiyas-kan kepada kedudukannya sebagai imam shalat jamaah. Ternyata argumen ini dipahami semua sahabat (yang hadir dalam pertemuan itu), sehingga mereka sepakat untuk mengangkat abu bakar dengan cara tersebut.
  20. 20. C. Penolak dan Penerima Qiyas 1. Kelompok Jumhur, yang mempergunakan qiyas sebagai dasar hukum pada hal-hal yang tidak jelas nash baik dalam Alqur‟an, Sunnah, Pendapat sahabat maupun ijma‟ ulama. Hal itu dilakukan dengan tidak berlebihan dan melampaui batas. mereka menggunakan dalil qur‟an surat yasin ayat 78-79
  21. 21. 78. Dan ia membuat perumpamaan bagi kami dan dia lupa kepada kejadiannya, ia berkata : “ siapakah yang dapat menghidupkan Tulang belulang yang telah hancur luluh?” 79. Katakanlah : “Ia akan dihidupkan oleh Tuhan yang menciptakannya kali yang pertama dan Dia maha mengetahui tentang segala makhluk.
  22. 22. 2. Madzab Zhahiriyah dan Syi’ah Imamiyah, yang sama sekali tidak mempergunakan qiyas. Madzab zhahiriyah tidak mengakui adanya „illat nash dan tidak berusaha mengetahui sasaran dan tujuan nash, termasuk menyingkap alasan-alasannya guna menetapkan suatu kepastian hukum yang sesuai dengan „illat. Mereka membuang semua itu jauh-jauh dan sebaliknya, mereka menetapkan suatu hukum hanya dari teks nash semata. Dengan demikian mereka mempersempit kandungan lafadz, tidak mau memperluas wawasan untuk mengenali tujuan legislasi Islam. Mereka terpaku pada bagian “luar” dari teks semata. mereka menggunakan dalil qur‟an surat alhujurat ayat 1
  23. 23. “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasulnya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui“
  24. 24. D. Rukun Qiyas 1. Ashl (Pokok), yaitu suatu peristiwa yang sudah ada Nashnya yang dijadikan tempat mengqiyaskan, sedangkan menurut hukum teolog adalah suatu Nash syara‟ yang menunjukkan ketentuan hukum, dengan kata lain suatu Nash yang menjadi Dasar Hukum. Ashl disebut Maqis „Alaih (yang dijadika tempat mengqiyaskan), Mahmul „Alaih (tempat membandingkan) atau Musyabbah bih (tempat menyerupakan). 2. Far‟u (Cabang), yaitu peristiwa yang tidak ada nashnya. Far‟u itulah yang dikehendaki untuk disamakan hukumnya dengan ashl. Ia disebut juga maqis (yang dianalogikan) dan musyabbah (yang diserupakan). 3. Hukum Ashl, yaitu hukum syara‟ yang ditetapkan oleh suatu Nash. 4. „Illat, yaitu suatu sifat yang terdapat pada ashl. Dengan adanya sifat itulah ashl mempuyai suatu hukum. Dan dengan sifat itu pula terdapat cabang sehingga hukum cabang itu disamakanlah dengan hukum ashl.
  25. 25. E. Macam-Macam Qiyas 1. Qiyas Aulawy Yaitu qiyas yang apabila „illatnya mewajibkan adanya hukum. Dan antara hukum asal dan hukum yang disamakan (furu‟) dan hukum cabang memiliki hukum yang lebih utama daripada hukum yang ada pada al-asal. Misalnya: berkata kepada kedua orang tua dengan mengatakan “uh”, “eh”, “busyet” atau kata-kata lain yang semakna dan menyakitakan itu hukumnya haram, sesuai dengan firman allah SWT QS. Al-Isra‟ (17) : 23. 2. Qiyas Musawy Yaitu qiyas yang apabila „illatnya mewajibkan adanya hukum dan sama antara hukum yang ada pada al-ashl maupun hukum yang ada pada al-far‟u (cabang). Contohnya, keharaman memakan harta anak yatim berdasarkan firman Allah Surat An-Nisa‟ (4):10.
  26. 26. 3.Qiyas Adna Qiyas adna yaitu adanya hukum far‟u lebih lemah bila dirujuk dengan hukum al-ashlu. Sebagai contoh, mengqiyaskan hukum apel kepada gandum dalam hal riba fadl (riba yang terjadi karena adanya kelebihan dalam tukar menukar antara dua bahan kebutuhan pokok atau makanan). Dalam masalah kasus ini „illat hukumnya adalah baik apel maupun gandum merupakan jenis makanan yang bisa dimakan dan ditakar.
  27. 27. Sekian dan Terimakasih

×