Amar nahi

10,002 views

Published on

0 Comments
4 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
10,002
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1,419
Actions
Shares
0
Downloads
582
Comments
0
Likes
4
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Amar nahi

  1. 1. AMAR dan NAHI Oleh: Hj. Marhamah Saleh, Lc. MA
  2. 2. Prolog <ul><li>Istinbath berarti upaya menarik hukum dari al-Quran dan sunnah dengan jalan ijtihad. </li></ul><ul><li>Ayat-ayat al-Quran dalam menunjukkan pengertiannya menggunakan berbagai cara, ada yang tegas dan ada yang tidak tegas, ada yang melalui arti bahasanya dan ada pula yang melalui maksud hukumnya. Disamping itu kadang terdapat pula perbenturan (ta’arudh) antara satu dalil dengan dalil lain yang memerlukan penyelesaian. </li></ul><ul><li>Ada 3 metode istinbat, yaitu dari segi bahasa, segi maqashid syari’ah, dan segi penyelesaian beberapa dalil yang bertentangan (ta’arudh wa al-tarjih). </li></ul>
  3. 3. Istinbat dari Segi Bahasa <ul><li>Objek utama yang dikaji dalam ushul fiqh adalah al-Quran dan sunnah. Untuk memahami teks kedua sumber berbahasa Arab tsb, para ulama telah membuat beberapa kategori lafaz yang akan digunakan dalam praktik penalaran fiqh. Diantaranya yang sangat penting adalah: lafaz amar, nahi dan takhyir, ‘am dan khash, muthlaq dan muqayyad, mantuq dan mafhum, sharih dan ghair sharih, hakikat dan majaz. </li></ul>
  4. 4. Amar (Perintah) <ul><li>Amar adalah suatu tuntutan (perintah) untuk melakukan sesuatu dari pihak yang lebih tinggi kedudukannya kepada pihak yang lebih rendah tingkatannya. Amar dalam al-Quran disampaikan dalam berbagai gaya atau redaksi: </li></ul><ul><li>Perintah tegas dengan menggunakan kata أمر seperti dalam QS. Al-Nahl: 90 إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإحْسَانِ </li></ul><ul><li>Amar dalam bentuk pemberitaan bahwa perbuatan itu diwajibkan dengan kata كُتِبَ seperti dalam QS. Al-Baqarah: 178 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِصَاصُ فِي الْقَتْلَى </li></ul><ul><li>Amar dengan memakai redaksi pemberitaan (jumlah khabariyah) , namun yang dimaksud adalah perintah. Misalnya dalam QS. Al-Baqarah: 228 وَالْمُطَلَّقَاتُ يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ ثَلاثَةَ قُرُوءٍ وَلا يَحِلُّ لَهُنَّ أَنْ يَكْتُمْنَ مَا خَلَقَ اللَّهُ فِي أَرْحَامِهِنَّ </li></ul>
  5. 5. Amar (Perintah) <ul><li>Amar dengan memakai kata kerja perintah secara langsung, seperti dalam QS. Al-Baqarah: 238 حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلاةِ الْوُسْطَى وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ </li></ul><ul><li>Amar dengan menggunakan kata kerja (fi’il) mudhari’ yang disertai lam amar, seperti dalam QS. Al-Hajj: 29 ثُمَّ لْيَقْضُوا تَفَثَهُمْ وَلْيُوفُوا نُذُورَهُمْ وَلْيَطَّوَّفُوا بِالْبَيْتِ الْعَتِيقِ </li></ul><ul><li>Amar dengan menggunakan kata فرض seperti dalam QS. Al-Ahzab: 50 قَدْ عَلِمْنَا مَا فَرَضْنَا عَلَيْهِمْ فِي أَزْوَاجِهِمْ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ </li></ul><ul><li>Amar dalam bentuk penilaian bahwa perbuatan itu adalah baik, misalnya dalam QS. Al-Baqarah: 220 وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْيَتَامَى قُلْ إِصْلاحٌ لَهُمْ خَيْرٌ </li></ul><ul><li>Amar dalam bentuk menjanjikan kebaikan yang banyak atas pelakunya, seperti dalam QS. Al-Baqarah: 245 مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرَةً </li></ul>
  6. 6. Hukum-hukum dari Amar <ul><li>Suatu bentuk amar bisa menunjukkan berbagai perngertian: </li></ul><ul><li>Menunjukkan hukum wajib. أقيموا الصلاة وأتوا الزكاة </li></ul><ul><li>Menjelaskan bahwa sesuatu itu boleh dilakukan. QS. Al-Mukminun: 51 يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا </li></ul><ul><li>Sebagai anjuran. QS. Al-Baqarah: 282 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى فَاكْتُبُوهُ </li></ul><ul><li>Untuk melemahkan. Seperti dalam QS. Al-Baqarah: 23 وَإِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَى عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ وَادْعُوا شُهَدَاءَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ </li></ul><ul><li>Sebagai ejekan dan penghinaan, misalnya berkenaan dengan siksa neraka di akhirat, seperti dalam QS. Al-Dukhan: 49 ذُقْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْكَرِيمُ </li></ul>
  7. 7. Kaidah Yg Berhubungan Dengan Amar <ul><li>Jika dalam nash syara’ ada salah satu dari bentuk amar, ada beberapa kaidah ushul yang mungkin bisa diberlakukan: </li></ul><ul><li>الأصل في الأمر للوجوب pada dasarnya suatu perintah menunjukkan hukum wajib dilaksanakan, kecuali ada indikasi atau dalil yang memalingkannya dari hukum tsb. </li></ul><ul><li>دلالة الأمر على التكرار او الوحدة suatu perintah haruskah dilakukan berulang kali atau cukup dilakukan sekali saja? Menurut jumhur, pada dasarnya suatu perintah tidak menunjukkan harus berulang kali dilakukan, kecuali ada dalil untuk itu. Contohnya QS. Al-Baqarah: 196 وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ </li></ul><ul><li>دلالة الأمر على الفور او التراخي suatu perintah haruskah dilakukan sesegera mungkin atau bisa ditunda-tunda? Pada dasarnya suatu perintah tidak menghendaki untuk segera dilakukan selama tidak ada dalil lain yang menunjukkan untuk itu, seperti QS. Al-Baqarah: 148 فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ </li></ul>
  8. 8. Nahi (Larangan) <ul><li>Nahi adalah larangan melakukan suatu perbuatan dari pihak yang lebih tinggi kedudukannya kepada pihak yang lebih rendah tingkatannya dengan kalimat yang menunjukkan atas hal itu. Nahi dalam al-Quran disampaikan dalam berbagai gaya: </li></ul><ul><li>Larangan secara tegas dengan kata نهى seperti dalam QS. Al-Nahl: 90 وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ </li></ul><ul><li>Larangan dengan menjelaskan bahwa suatu perbuatan diharamkan حرم seperti dalam QS. Al-A’raf: 33 قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ </li></ul><ul><li>Larangan dengan menegaskan bahwa perbuatan itu tidak halal dilakukan, misal QS. Al-Nisa`: 19 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا يَحِلُّ لَكُمْ أَنْ تَرِثُوا النِّسَاءَ كَرْهًا </li></ul><ul><li>Larangan dengan menggunakan fi’il mudhari’ yang disertai lam yang menunjukkan larangan ( لا الناهية ) seperti dalam QS. Al-An’am: 152 وَ لا تَقْرَبُوا مَالَ الْيَتِيمِ إِلا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ </li></ul>
  9. 9. Nahi (Larangan) <ul><li>Larangan dengan memakai kata perintah namun bermakna tuntutan untuk meninggalkan, seperti dalam QS. Al-An’am: 120 وَذَرُوا ظَاهِرَ الإثْمِ وَبَاطِنَهُ </li></ul><ul><li>Larangan dengan cara mengancam pelakunya dengan siksaan yang pedih. Misalm dalam QS. Al-Taubah: 34 وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلا يُنْفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ </li></ul><ul><li>Larangan dengan mensifati perbuatan itu dengan keburukan. QS. Ali ‘Imran: 180 وَلا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَبْخَلُونَ بِمَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ هُوَ خَيْرًا لَهُمْ بَلْ هُوَ شَرٌّ لَهُمْ سَيُطَوَّقُونَ مَا بَخِلُوا بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ </li></ul><ul><li>Larangan dengan cara meniadakan wujud perbuatan itu sendiri. QS. Al-Baqarah: 193 وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ لِلَّهِ فَإِنِ انْتَهَوْا فَلا عُدْوَانَ إِلا عَلَى الظَّالِمِينَ </li></ul>
  10. 10. Hukum-hukum dari Nahi <ul><li>Suatu bentuk nahi bisa menunjukkan berbagai perngertian: </li></ul><ul><li>Menunjukkan hukum haram. Seperti dalam QS. Al-Baqarah: 221 وَلا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّى يُؤْمِنَّ </li></ul><ul><li>Sebagai anjuran untuk meninggalkan, seperti dalam QS. Al-Maidah: 101 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَسْأَلُوا عَنْ أَشْيَاءَ إِنْ تُبْدَ لَكُمْ تَسُؤْكُمْ </li></ul><ul><li>Sebagai penghinaan, seperti dalam QS. Al-Tahrim: 7 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ كَفَرُوا لا تَعْتَذِرُوا الْيَوْمَ إِنَّمَا تُجْزَوْنَ مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ </li></ul><ul><li>Untuk menyatakan permohonan, misalnya QS. Al-Baqarah: 286 رَبَّنَا لا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَ لا تُحَمِّلْنَا مَا لا طَاقَةَ لَنَا بِهِ </li></ul>
  11. 11. Kaidah Yg Berhubungan Dengan Nahi <ul><li>Jika dalam nash syara’ ada salah satu dari bentuk nahi, ada beberapa kaidah ushul yang mungkin bisa diberlakukan: </li></ul><ul><li>الأصل في النهي للتحريم pada dasarnya suatu larangan menunjukkan hukum haram melakukan perbuatan terlarang itu, kecuali ada indikasi atau dalil yang menunjukkan hukum lain. Misal QS. Al-An’am: 151 وَلا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلا بِالْحَقِّ </li></ul><ul><li>الأصل في النهي يطلق الفساد مطلقا suatu larangan menunjukkan fasad (rusak) nya perbuatan yang dilarang itu jika dikerjakan. Misal, larangan berzina, makan bangkai, shalat dalam keadaan mabuk atau berhadas. </li></ul><ul><li>النهي عن الشيئ أمر بضده suatu larangan terhadap suatu perbuatan berarti perintah terhadap kebalikannya. Misal, QS. Luqman: 18 وَ لا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَ لا تَمْشِ فِي الأرْضِ مَرَحًا </li></ul>
  12. 12. Takhyir (Memberi Pilihan) <ul><li>Takhyir adalah bahwa Syari’ (Allah dan Rasul-Nya) memberi pilihan kepada hambanya antara melakukan atau tidak melakukan suatu perbuatan. </li></ul><ul><li>Hukum yang ditunjukkan oleh ayat atau hadis dalam bentuk kalimat takhyir adalah halal atau mubah. Untuk memberikan hak pilih (takhyir) dalam Al-Quran disampaikan dalam berbagai cara/gaya: </li></ul><ul><li>Menyatakan bahwa suatu perbuatan halal dilakukan. QS. Al-Baqarah: 187 أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ </li></ul><ul><li>Pembolehan dengan menafikan dosa dari suatu perbuatan. Misalnya dalam QS. Al-Baqarah: 173 فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلا عَادٍ فَلا إِثْمَ عَلَيْهِ </li></ul><ul><li>Pembolehan dengan menafikan kesalahan dari melakukan suatu perbuatan. Contohnya QS. Al-Baqarah: 235 وَلا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا عَرَّضْتُمْ بِهِ مِنْ خِطْبَةِ النِّسَاءِ أَوْ أَكْنَنْتُمْ فِي أَنْفُسِكُمْ </li></ul>
  13. 13. ‘ AM (Lafaz Umum) <ul><li>‘ Am yaitu lafaz yang diciptakan untuk pengertian umum sesuai dengan pengertian lafaz itu sendiri tanpa dibatasi dengan jumlah tertentu. Banyak kata yang menunjukkan makna umum, seperti: </li></ul><ul><li>Kata كلّ dan جميع seperti dalam QS. Al-Thur: 21 كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ juga dalam QS. Al-Baqarah: 29 هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الأرْضِ جَمِيعًا </li></ul><ul><li>Kata jama’ yang disertai alif dan lam di awalnya. QS. al-Baqarah: 233 وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلادَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ </li></ul><ul><li>Kata benda tunggal yang di-ma’rifah-kan dengan alim lam. QS. al-’Ashr: 2 إِنَّ الإنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ </li></ul><ul><li>Isim syarat (kata benda untuk mensyaratkan), seperti kata مَن dalam QS. Al-Nisa`: 92 وَمَنْ قَتَلَ مُؤْمِنًا خَطَأً </li></ul><ul><li>Takhsis adalah penjelasan bahwa yang dimaksud dengan suatu lafal umum adalah sebagian dari cakupannya, bukan seluruhnya </li></ul>
  14. 14. KHASH (Lafaz Khusus) <ul><li>Khash adalah lafaz yang mengandung satu pengertian secara tunggal atau beberapa pengertian yang terbatas. </li></ul><ul><li>Lafaz khash dalam nash syara’ menunjuk kepada pengertiannya yang khash secara qath’i (pasti), dan hukum yang dikandungnya bersifat qath’i selama tidak ada indikasi yang menunjukkan pengertian lain. Seperti pada kata bilangan. Misal QS. Al-Maidah: 89 فَكَفَّارَتُهُ إِطْعَامُ عَشَرَةِ مَسَاكِينَ مِنْ أَوْسَطِ مَا تُطْعِمُونَ أَهْلِيكُمْ أَوْ كِسْوَتُهُمْ أَوْ تَحْرِيرُ رَقَبَةٍ </li></ul>
  15. 15. MUTHLAQ & MUQAYYAD <ul><li>Kata muthlaq berarti “bebas tanpa ikatan”, dan kata muqayyad berarti “terikat”. Secara istilah, muthlaq adalah lafaz yang menunjukkan suatu satuan tanpa dibatasi secara harfiah dengan suatu ketentuan. Seperti مصري – رجل </li></ul><ul><li>Muqayyad adalah lafaz yang menunjukkan suatu satuan yang secara lafziyah dibatasi dengan suatu ketentuan, misalnya مصريون مسلمون – رجل راشدون </li></ul><ul><li>Kaidah Ushul: Ayat yang bersifat muthlaq harus dipahami secara mutlaq selama tidak ada dalil yang membatasinya. Contoh, QS. Al-Baqarah: 234 وَالَّذِينَ يُتَوَفَّوْنَ مِنْكُمْ وَيَذَرُونَ أَزْوَاجًا يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ وَعَشْرًا kata أزواجا adalah lafaz mutlaq karena tidak membedakan apakah wanita itu sudah pernah digauli oleh suaminya atau belum. Sebaliknya, ayat yang bersifat muqayyad harus dilakukan sesuai dengan batasannya. Al-Mujadilah: 3-4 فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ </li></ul>
  16. 16. MANTHUQ & MAFHUM <ul><li>Manthuq secara bahasa berarti “sesuatu yang diucapkan”. Secara istilah, manthuq berarti pengertian harfiah dari suatu lafaz yang diucapkan. Contoh dalam QS. Al-Nisa`: 3 mencantumkan hukum boleh kawin lebih dari 1 orang dengan syarat adil. Jika tidak sanggup, wajib membatasi seorang saja. </li></ul><ul><li>Mafhum secara bahasa berarti “sesuatu yang dipahami dari suatu teks”. Secara istilah, mafhum adalah pengertian tersirat dari suatu lafaz (mafhum muwafaqah), atau pengertian kebalikan dari pengertian lafaz yang diucapkan (mafhum mukhalafah). QS. Al-Nisa`: 10 إِنَّ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ أَمْوَالَ الْيَتَامَى ظُلْمًا إِنَّمَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ نَارًا mantuq dari ayat tsb menunjukkan haram memakan harta anak yatim. Mafhum muwafaqah-nya setiap tindakan yang bisa melenyapkan atau merusak harta anak yatim seperti menipu, membakar dsb adalah haram hukumnya. </li></ul>
  17. 17. TA’ARUDH & TARJIH <ul><li>Ta’arudh berarti “pertentangan antara dua hal”. Secara istilah, ta’arudh adalah satu dari dua dalil menghendaki hukum yang berbeda dengan hukum yang dikehendaki oleh dalil yang lain. </li></ul><ul><li>Menurut Hanafiah, jika terjadi ta’arudh, maka cara yg ditempuh adalah: </li></ul><ul><li>Meneliti mana yang lebih dulu turunnya ayat atau diucapkannya hadis, dan jika diketahui maka dalil yang terdahulu dianggap telah dinasakh (dibatalkan) oleh dalil yang datang terakhir. </li></ul><ul><li>Jika tidak diketahui mana yang lebih dulu, maka cara berikutnya adalah dengan tarjih, yaitu meneliti mana yang lebih kuat diantara dalil yg bertentangan itu. </li></ul><ul><li>Jika tidak bisa ditarjih karena ternyata sama-sama kuat, maka jalan keluarnya dengan mengkompromikan antara dua dalil. </li></ul><ul><li>Jika tidak ada jalan untuk mengkompromikan, maka jalan keluarnya dengan tidak memakai kedua dalil itu. Selanjutnya hendaklah merujuk kepada dalil yang lebih rendah bobotnya (jika dalil yang bertentangan itu quran, pindah ke sunnah). </li></ul>

×