SlideShare a Scribd company logo
1 of 13
Download to read offline
15
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN
A. Hasil Penelitian
Dalam memperoleh hasil penelitian tentang hedonisme di lingkungan
Sekolah Tinggi Bahasa Asing Persahabatan Internasional Asia Medan, telah
dilakukan penelitian dalam upaya menemukan atau menelusuri substansi dari
permasalahan yang terkait dengan strategi komunikasi organisasi. Adapun hasil
penelitian merupakan data yang diolah berdasarkan teknik analisis data.
Sedangkan cara penulis memperoleh data didasarkan pada instrumen penelitian
seperti pengisian angket/kuesioner oleh individu di Sekolah Tinggi Bahasa Asing
Persahabatan Internasional Asia Medan yang dianggap layak memberi informasi
terkait dengan judul penelitian.
Adapun pertanyaan yang diajukan yaitu mengenai pandangan individu yang
ada di lingkungan Sekolah Tinggi Bahasa Asing Persahabatan Internasional Asia
Medan terhadap materi pendukung hedonisme, faktor-faktor pendorong
hedonisme dan ideologi hedonisme itu sendiri. Selanjutnya dari data yang
diperoleh tentang strategi komunikasi organisasi pada obyek penelitian tersebut,
secara otomatis menjadi muatan pembahasan dalam penulisan skripsi ini.
Berkaitan dengan hal tersebut, penulis akan memaparkan hasil penelitian yang
terkait langsung dengan pandangan individu yang ada di lingkungan Sekolah
Tinggi Bahasa Asing Persahabatan Internasional Asia Medan terhadap hedonisme.
Sesuai dengan tingkat kebutuhan pembahasan terhadap data yang penulis peroleh
dari hasil penelitian, maka penulis akan memilih hasil pengisian kuesioner
penelitian oleh individu yang ada di lingkungan Sekolah Tinggi Bahasa Asing
Persahabatan Internasional Asia Medan. Ini dimaksudkan agar pembahasan tidak
dilakukan berulang-ulang dan dapat mengetahui secara jelas berapa proporsi suatu
kelompok tertentu yang menyetujui atau tidak menyetujui suatu pernyataan yang
diajukan.
Angket/kuesioner disebarkan terhadap 20 responden. Tabel di bawah ini
memperlihatkan komposisi mereka berdasarkan tingkatan klasifikasi individu di
16
Sekolah Tinggi Bahasa Asing Persahabatan Internasional Asia Medan pada T.A.
2014 (tabel 4.1).
Tabel 4.1
Sebaran Populasi dan Responden Berdasarkan Tingkatan Klasifikasi
No. Tingkatan Klasifikasi Jumlah Populasi Jumlah Responden
1. Staf dan Fungsionaris 14 2
2. Dosen S1 Sastra Cina dan
Sastra Inggris
48 6
3. Mahasiswa S1 Sastra Cina 818 10
4. Mahasiswa S1 Sastra Inggris 157 2
Tabel 4.1 menunjukkan sebagian besar populasi berasal dari mahasiswa/i
jurusan Sastra Cina karena jurusan/program studi tersebut terdiri dari kelas A, B,
dan C sebanyak 818 orang mahasiswa, dan diikuti jurusan Sastra Inggris 157
orang, dosen S1 Sastra Cina dan Sastra Inggris 48 orang, staf dan fungsionaris 14
orang.
1. Materi, hal dan kegiatan yang mendukung hedonisme
Tabel 4.2
Jawaban Responden Mengenai Frekuensi Kunjungan ke
Pusat Perbelanjaan dan Cafe
No. Pernyataan > 3 kali /
minggu
2-3 kali /
minggu
2-3
kali /
bulan
6-10
kali /
tahun
< 6
kali /
tahun
Jumlah
1. Frekuensi
shopping.
0 2 11 6 1 20
% 0 10 55 30 5 100
2. Kunjungan
ke café.
3 8 6 3 0 20
17
% 15 40 30 15 0 100
Orang 3 10 17 9 1 40
% 7,5 25 42,5 22,5 2,5 100
Berdasarkan data hasil kuesioner untuk jawaban responden mengenai
frekuensi kunjungan ke pusat perbelanjaan dan cafe, seperti terlihat pada tabel 4.2
di atas, dapat diuraikan bahwa 55% responden melakukan kegiatan shopping
sebanyak 2 sampai 3 kali per bulan dan 0% responden melakukan kegiatan
shopping lebih dari 3 kali per minggu. Sedangkan 42,5 % responden mengunjungi
cafe sebanyak 2 sampai 3 kali per bulan dan 2,5% responden mengunjungi cafe
kurang dari 6 kali per tahun.
Tabel 4.3
Jawaban Responden Mengenai Alasan Pemilihan Barang Branded dan
Penerimaan Uang Ilegal
No. Pernyataan SS S KS TS STS Jumlah
3. Individu cenderung memilih
barang branded karena gengsi.
5 8 4 3 0 20
% 25 40 20 15 0 100
4. Individu cenderung memilih
barang branded karena alasan
kualitas.
7 7 4 2 0 20
% 35 35 20 10 0 100
5. Individu cenderung memilih
barang branded karena design
yang menarik.
4 6 8 2 0 20
% 20 30 40 10 0 100
6. Individu cenderung memilih
barang branded karena
kebutuhan investasi.
2 6 8 3 1 20
% 10 30 40 15 5 100
7. Individu cenderung memilih 7 4 5 2 2 20
18
barang branded karena ingin
memiliki hubungan pertemanan
dengan orang yang berasal dari
kelas sosial yang lebih tinggi.
% 35 20 25 10 10 100
8. Uang Anda tidak mencukupi
untuk membeli barang tersebut
dan pada saat itu anda
ditawarkan uang illegal untuk
membeli barang tersebut dan
Anda setuju untuk
menerimanya.
0 0 5 6 9 20
% 0 0 25 30 45 100
Orang 25 31 34 18 12 120
% 20,8 25,8 28,3 15 10 100
Berdasarkan data hasil kuesioner untuk jawaban responden mengenai
frekuensi kunjungan ke pusat perbelanjaan dan cafe, seperti terlihat pada tabel 4.3
di atas, dapat diuraikan bahwa 40% responden setuju bahwa individu cenderung
memilih barang branded karena gengsi, 70% responden setuju dan sangat setuju
bahwa individu cenderung memilih barang branded karena alasan kualitas, 50%
responden setuju dan sangat setuju bahwa individu cenderung memilih barang
branded karena design yang menarik, 40% responden kurang setuju bahwa
individu cenderung memilih barang branded karena kebutuhan investasi, 55%
responden setuju dan sangat setuju bahwa individu cenderung memilih barang
branded karena ingin memiliki hubungan pertemanan dengan orang yang berasal
dari kelas sosial yang lebih tinggi, serta 75% responden tidak setuju dan sangat
tidak setuju untuk menerima uang ilegal jika ingin membeli barang yang sangat
diinginkan.
19
Tabel 4.4
Jawaban Responden Mengenai Jumlah Gadget yang Dimiliki
No. Pernyataan Lebih
dari 3
3 2 1 Tidak
Ada
Jumlah
9. Banyaknya
jumlah gadget
yang dimiliki.
3 6 9 2 0 20
% 15 30 45 10 0 100
Orang 3 6 9 2 0 20
% 15 30 45 10 0 100
Berdasarkan data hasil kuesioner untuk jawaban responden mengenai
jumlah gadget yang dimiliki seperti terlihat pada tabel 4.4 di atas, dapat diuraikan
bahwa 15% responden memiliki lebih dari 3(tiga) buah gadget, 30% responden
memiliki 3(tiga) buah gadget, 45% responden memiliki 2(dua) buah gadget, 10%
responden memiliki 1 (satu) buah gadget, dan 0% responden tidak memiliki
gadget.
Tabel 4.5
Jawaban Responden Mengenai Kegunaan Gadget, Alasan Pemilihan Gadget,
dan Barang Asli
No. Pernyataan SS S KS TS STS Jumlah
10. Gadget sangat penting bagi
kehidupan manusia dan
fitur-fitur yang ada dalam
gadget dapat digunakan
secara efektif, membantu
meringankan pekerjaan.
5 6 5 4 0 20
% 25 30 25 20 0 100
11. Design yang menarik
menjadi prioritas individu
4 9 4 3 0 20
20
dalam membeli gadget baru.
% 20 45 20 15 0 100
12. Tren menjadi prioritas
individu dalam membeli
gadget baru.
5 9 4 2 0 20
% 25 45 20 1 0 100
13. Fitur gadget yang sesuai
kebutuhan menjadi prioritas
individu dalam membeli
gadget baru.
4 8 5 3 0 20
% 20 40 25 15 0 100
14. Harga gadget menjadi
prioritas individu dalam
membeli gadget baru.
4 8 5 3 0 20
% 20 40 25 15 0 100
15. Kualitas gadget menjadi
prioritas individu dalam
membeli gadget baru.
7 6 4 3 0 20
% 35 30 20 15 0 100
16. Barang asli selalu lebih baik
daripada barang imitasi.
3 4 8 4 1 20
% 15 20 40 20 5 100
Orang 32 52 35 20 1 140
% 22,8 37,1 25 14,3 0,7 100
Berdasarkan data hasil kuesioner untuk jawaban responden mengenai
kegunaan gadget, alasan pemilihan gadget, dan barang asli, seperti terlihat pada
tabel 4.5 di atas, dapat diuraikan bahwa 55% responden setuju dan sangat setuju
bahwa gadget sangat penting bagi kehidupan manusia, 65% responden setuju dan
sangat setuju bahwa design yang menarik menjadi prioritas individu dalam
membeli gadget baru, 70% responden setuju dan sangat setuju bahwa tren
menjadi prioritas individu dalam membeli gadget baru, 15% responden tidak
21
setuju bahwa fitur gadget yang sesuai kebutuhan menjadi prioritas individu dalam
membeli gadget baru, 60% responden setuju dan sangat setuju bahwa harga
gadget menjadi prioritas individu dalam membeli gadget baru, 65% responden
setuju dan sangat setuju bahwa kualitas gadget menjadi prioritas individu dalam
membeli gadget baru, serta 25% responden tidak setuju dan sangat tidak setuju
bahwa barang asli selalu lebih baik daripada barang imitasi.
2. Paham/ Ideologi Hedonisme
Tabel 4.6
Jawaban Responden Mengenai Paham/Ideologi Hedonisme
No. Pernyataan SS S KS TS STS Jumlah
17. Individu yang suka
mengikuti tren merupakan
penganut paham hedonisme.
4 5 7 3 1 20
% 20 25 35 15 5 100
18. Seseorang akan dihantui
oleh rasa minder jika tidak
mengikuti tren.
5 3 6 4 2 20
% 25 15 30 20 10 100
19. Penyuluhan tentang
hedonisme wajib dilakukan
oleh pemerintah Indonesia.
4 9 4 3 0 20
% 20 45 20 15 0 100
20. Paham hedonisme
merupakan malapetaka bagi
kehidupan manusia.
6 9 3 2 0 20
% 30 45 15 10 0 100
21. Gaya hidup yang hedonis
mencerminkan kesuksesan
karier suatu individu atau
10 6 4 0 0 20
22
kelompok.
% 50 30 20 0 0 100
22. Paham hedonisme
membawa dampak negatif
bagi masyarakat Indonesia
(khususnya remaja).
7 9 4 0 0 20
% 35 25 20 20 0 100
Orang 36 41 28 12 3 120
% 30 34,1 23,3 10 2,5 100
Berdasarkan data hasil kuesioner untuk jawaban responden mengenai
paham/ideologi hedonisme, seperti terlihat pada tabel 4.6 di atas, dapat diuraikan
bahwa 25% responden setuju bahwa individu yang suka mengikuti tren
merupakan penganut paham hedonisme, 40% responden setuju dan sangat setuju
bahwa seseorang akan dihantui oleh rasa minder jika tidak mengikuti tren, 65%
responden setuju dan sangat setuju bahwa penyuluhan tentang hedonisme wajib
dilakukan oleh pemerintah Indonesia, 10% responden tidak setuju bahwa paham
hedonisme merupakan malapetaka bagi kehidupan manusia, 80% responden
setuju dan sangat setuju bahwa gaya hidup yang hedonis mencerminkan
kesuksesan karier suatu individu atau kelompok, serta 40% responden kurang
setuju dan tidak setuju bahwa paham hedonisme membawa dampak negatif bagi
masyarakat Indonesia (khususnya remaja).
Tabel 4.7
Jawaban Responden Mengenai Faktor Pendorong Hedonisme
No. Pernyataan SS S KS TS STS Jumlah
23. Mudahnya proses apply
kartu kredit mendorong
perkembangan
hedonisme.
3 8 5 2 2 20
% 15 40 25 10 10 100
23
24. Peraturan di lingkungan
pendidikan formal
secara tidak langsung
turut berkontribusi
dalam menghambat
berkembangnya paham
hedonisme.
3 5 9 3 0 20
% 15 25 45 15 0 100
25. Hedonisme merupakan
akar dari tindakan
kriminal yang marak
terjadi.
4 9 4 3 0 20
% 20 45 20 15 0 100
26. Dikelilingi oleh orang-
orang yang menganut
paham hedonisme
menyebabkan individu
tersebut ikut menganut
paham hedonisme di
masa depan.
7 5 4 4 0 20
% 35 25 20 20 0 100
Orang 17 27 22 12 2 80
% 21,25 33,75 27,5 15 2,5 100
Berdasarkan data hasil kuesioner untuk jawaban responden mengenai faktor
pendorong hedonisme, seperti terlihat pada tabel 4.7 di atas, dapat diuraikan
bahwa 55% responden setuju dan sangat setuju bahwa semakin mudahnya proses
apply kartu kredit mendorong perkembangan hedonisme, 65% responden setuju
dan sangat setuju bahwa peraturan yang dibuat dan harus ditaati di lingkungan
pendidikan formal secara tidak langsung turut berkontribusi dalam menghambat
berkembangnya paham hedonisme, 65% responden setuju dan sangat setuju
bahwa hedonisme merupakan akar dari tindakan kriminal yang marak terjadi,
24
serta 40% responden kurang setuju dan tidak setuju bahwa individu yang
dikelilingi oleh orang-orang yang menganut paham hedonism menyebabkan
individu tersebut ikut menganut paham hedonisme di masa depan.
B. Pembahasan Penelitian
Dari tabel 4.3, hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 20 responden,
jumlah individu di lingkungan Sekolah Tinggi Persahabatan Internasional Asia
Medan berpendapat bahwa individu cenderung memilih barang branded karena
gengsi, alasan kualitas dan ingin hubungan pertemanan dengan orang yang berasal
dari kelas sosial yang lebih tinggi sebanyak lebih dari 10 orang responden (>50%).
Sedangkan yang berpendapat bahwa individu cenderung memilih barang branded
karena gengsi, alasan investasi dan design yang menarik sebanyak masing-masing
8 responden (40%) dan 10 responden (50%). Hal ini menunjukkan bahwa
masyarakat belum sepenuhnya memiliki pandangan positif mengenai kepemilikan
barang branded yang selalu menjurus ke arah hedonisme. Sewaktu kekaisaran
Romawi menguasai seluruh Eropa dan Afrika, paham hedonisme mengalami
pergeseran ke arah negatif dalam semboyan baru hedonisme. Semboyan baru itu,
carpe diem (raihlah kenikmatan sebanyak mungkin selagi kamu hidup), menjiwai
tiap hembusan napas aliran tersebut. Kebahagiaan dipahami sebagai kenikmatan
belaka tanpa mempunyai arti mendalam. Kedangkalan makna mulai terasa.
Pemahaman negatif melekat dan pemahaman positif menghilang dalam
hedonisme. Karena pemahaman hedonis yang lebih mengedepankan kebahagiaan
diganti dengan mengutamakan kenikmatan. (Burhanuddin Salam 1997:81) 1
.
Dari tabel 4.4 , hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 20 responden,
jumlah individu di lingkungan Sekolah Tinggi Persahabatan Internasional Asia
Medan yang memiliki gadget sebanyak 20 orang responden (100%). Berdasarkan
keseluruhan hasil analisis statistik, maka dapat dikatakan bahwa secara umum
motivasi kepemilikan gadget didasarkan pada berbagai faktor, seperti efektifitas,
design, tren, fitur, harga dan kualitas. Hal tersebut sejalan dengan pendapat yang
dikemukakan oleh Cicerno dalam Bertrand Russell (2004: 372), bahwa ciri-ciri
1 Burhanuddin Salam, loc. cit.
25
hedonisme adalah mengejar modernitas fisik, karena orang tersebut berpandangan
bahwa memiliki barang- barang berteknologi tinggi adalah kebanggaan 2.
Dari tabel 4.5, hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 20 responden, lebih
dari 50% responden berpendapat bahwa individu cenderung membeli gadget baru
berdasarkan design, tren, fitur yang membantu meringankan pekerjaan manusia,
harga dan kualitas. Pada masa sekarang, gadget sudah menjadi barang yang wajib
dimiliki oleh manusia di zaman sekarang seperti halnya senjata di masa lampau
dan kepemilikan gadget yang berdasarkan pada tren telah menuntut setiap orang
untuk berganti gadget serta digolongkan sebagai kegiatan yang berasaskan paham
hedonisme. Hal tersebut sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh
Poespoprodjo bahwa, “Hedonisme merupakan salah satu teori etika yang paling
tua, paling sederhana, paling kebenda-bendaan, dan dari abad ke abad selalu kita
temukan” (1999:60) 3.
Sedangkan tren merupakan kata kunci yang sangat berpengaruh terhadap
hedonisme, sesuai dengan hasil survei dalam tabel 4.6. Tidak bisa dipungkiri
bahwa kecenderungan mengikuti tren mutakhir dalam kehidupan sehari-hari
ternyata menimbulkan kepuasan sendiri bagi yang melakukannya. Hal tersebut
sejalan dengan pendapat yang dikemukakan oleh Cicerno dalam Russell (2004:
372) bahwa hedonisme mendorong timbulnya relativitas kenikmatan di atas rata-
rata yang tinggi. Relativitas ini berarti sesuatu yang bagi masyarakat umum sudah
masuk ke tataran kenikmatan atau dapat disebut enak, namun baginya itu tidak
enak. Hedonisme juga membuat individu tersebut berusaha memenuhi banyak
keinginan- keinginan spontan yang muncul. Dalam penjabaran benteng penahan
kesenangan yang sangat sedikit sehingga ketika orang menginginkan sesuatu
harus segera dipenuhi 4.
Lebih dari 70% responden berpendapat bahwa hedonisme merupakan
malapetaka dan membawa dampak negatif bagi masyarakat. Tidak bisa dipungkiri,
bahwa paham hedonisme mengandung segmen negatif di antara pemikiran
masyarakat Indonesia. Hal ini sejalan dengan yang diungkapkan Jeremy Bentham
2 Bertrand Russel, loc. cit.
3 Poespoprodjo,loc. cit., Filsafat Moral. (Yogyakarta : Pustaka Grafika), hal. 60
4 Bertrand Russel, op. cit., hal. 372
26
dalam Fuad Farid Ismail dan Abdul Hamid Mutawalli (2012:299) bahwa sewaktu
kekaisaran Romawi menguasai seluruh Eropa dan Afrika, paham ini mengalami
pergeseran ke arah negatif dalam semboyan baru hedonisme 5. Sehingga 65%
responden setuju bahwa peyuluhan tentang hedonisme wajib dilakukan oleh
pemerintah Indonesia, karena sebenarnya hedonisme sebagai suatu sikap
introspektif hidup berdasarkan mengambil kesenangan diri sendiri dan
kenikmatan orang lain, tanpa merugikan diri sendiri atau orang lain (Onfray dalam
Caspar Melville, 2007:1) 6.
Hedonisme sebagai suatu paham yang sangat cepat berkembang ternyata
mendorong dan menjadi faktor penyebab terjadinya berbagai peristiwa dalam
masyarakat. Memang harus diakui, bahwa banyak tindakan manusia terdorong
oleh cenderung untuk mencapai kepuasan. Bahkan ada ahli psikologi yang
berpendapat bahwa semua tindakan itu berdasarkan atas cenderung yang tak
terdasari, ialah cenderung untuk mencapai kepuasan semata, yang disebutnya
libido seksual (Sigmun Freud), atau cenderung untuk mencapai kepuasan dalam
kekuasaan (adler). Walaupun teori ini sekarang tidak diterima oleh psikologi lain,
akan tetapi tetaplah benar, bahwa cenderung mencari kepuasan itu masih
merupakan suatu (bukan satu-satunya) faktor yang mendorong manusia untuk
bertindak (Poedjawiyatna 1990:44) 7.
Sesuai pendapat di atas, dapat diketahui dari tabel 4.7 bahwa karena
terdorong oleh kepuasan untuk mencapai sesuatu, membuat sekelompok individu
rela menempuh cara apapun (termasuk melakukan tindakan kriminal) untuk
mencapai tujuannya. Sebanyak 55% responden setuju bahwa semakin mudahnya
proses apply kartu kredit mendorong perkembangan hedonisme. Mudahnya proses
pembuatan kartu kredit, membuat sekelompok individu tidak melakukan
perhitungan dalam membeli barang karena pembayaran dilakukan setelah jangka
waktu tertentu. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Aristoteles (Kenyowati,
2004:8) bahwa tercapainya kebahagiaan mesti menjadi tujuan kehidupan manusia
dan bahwa oleh karena itu manusia hendaknya hidup dengan suatu cara yang
mendekatkannya pada kebahagiaan tersebut. Cara tersebut ialah menggunakan
5 Fuad Farid Ismail dan AbdulHamid Mutawalli , loc. cit., hal.299
6 Caspar Melville, loc. cit., “Atheism à la mode”, https://newhumanist.org.uk/1421, 2007
7 Poedjawiyatna, loc. cit., hal.44
27
kartu kredit tanpa berpikir panjang ketika berbelanja. Etika yang membuat
pencaharian kebahagiaan menjadi prinsip yang paling dasar disebut eudemonisme
(dari kata Yunani, ‘eudaimonia’, yaitu kebahagiaan). Pertimbangan yang
mendasari etika kebahagiaan itu mudah dimengerti: kebahagiaan adalah tujuan
pada dirinya sendiri. Tidak ada yang mengatasinya. Orang yang sudah bahagia,
tidak memerlukan apa-apa lagi. Tampaknya masuk akal kalau kehidupan
diarahkan pada usaha untuk mencapai kebahagiaan. Berbeda seperti yang
dimaksud oleh Aristoteles, bapak peletak dasar filsafat etika. Baginya,
eudaimonia merupakan suatu keadaan obyektif. ‘Eudaimonia’ berarti mempunyai
jiwa (‘daimon’) dalam keadaan baik 8.
Berdasarkan pendapat di atas, tekanan utama paham hedonisme dan faktor-
faktor pendorong berkembangnya paham hedonisme menuntut setiap individu
untuk dapat lebih menelaah setiap aspek hedonisme dalam kehidupan sehari-hari.
Tujuan hedonisme pada dasarnya adalah menciptakan kebahagiaan, sehingga
perlu diperhatikan metode yang ditempuh dalam mencapai kebahagiaan tersebut.
8 Aristoteles, loc. cit.

More Related Content

What's hot

Format laporan praktikum tes inventori
Format laporan praktikum tes inventoriFormat laporan praktikum tes inventori
Format laporan praktikum tes inventoribloggerku
 
BANYAKNYA REMAJA YANG LEBIH SENANG TERHADAP BUDAYA BARAT DIBANDINGKAN BUDAY...
BANYAKNYA REMAJA YANG LEBIH SENANG TERHADAP BUDAYA BARAT  DIBANDINGKAN  BUDAY...BANYAKNYA REMAJA YANG LEBIH SENANG TERHADAP BUDAYA BARAT  DIBANDINGKAN  BUDAY...
BANYAKNYA REMAJA YANG LEBIH SENANG TERHADAP BUDAYA BARAT DIBANDINGKAN BUDAY...Hamdan Hamdan
 
Pornografi dan Pornoaksi dalam media
Pornografi dan Pornoaksi dalam mediaPornografi dan Pornoaksi dalam media
Pornografi dan Pornoaksi dalam mediaRezka Judittya
 
TEKNOLOGI DIGITAL - pdf
TEKNOLOGI DIGITAL - pdfTEKNOLOGI DIGITAL - pdf
TEKNOLOGI DIGITAL - pdfAdisa Alifya
 
Tugas sosiologi (kenakalan remaja) untuk mata pelajaran Sosiologi SMA
Tugas sosiologi (kenakalan remaja) untuk mata pelajaran Sosiologi SMATugas sosiologi (kenakalan remaja) untuk mata pelajaran Sosiologi SMA
Tugas sosiologi (kenakalan remaja) untuk mata pelajaran Sosiologi SMAAgnes Yodo
 
Makalah tentang pengangguran di indonesia
Makalah tentang pengangguran di indonesiaMakalah tentang pengangguran di indonesia
Makalah tentang pengangguran di indonesiavinaamelia12
 
Cybercrime dan Cyberlaw
Cybercrime dan CyberlawCybercrime dan Cyberlaw
Cybercrime dan CyberlawDwi Mardianti
 
Pandangan psikoanalitik tentang hakekat manusia
Pandangan psikoanalitik tentang hakekat manusiaPandangan psikoanalitik tentang hakekat manusia
Pandangan psikoanalitik tentang hakekat manusiaLia Oktafiani
 
Perubahan sosial budaya
Perubahan sosial budayaPerubahan sosial budaya
Perubahan sosial budayaDwi Halimasari
 
Berpikir
BerpikirBerpikir
Berpikirvera78
 
Pencegahan Bunuh Diri di Indonesia
Pencegahan Bunuh Diri di IndonesiaPencegahan Bunuh Diri di Indonesia
Pencegahan Bunuh Diri di IndonesiaLestari Moerdijat
 
Karya tulis ilmiah pengaruh hp
Karya tulis ilmiah pengaruh hpKarya tulis ilmiah pengaruh hp
Karya tulis ilmiah pengaruh hpDyah P
 
Seri buku literasi digital isu-isu masyarakat digital kontemporer
Seri buku literasi digital isu-isu masyarakat digital kontemporerSeri buku literasi digital isu-isu masyarakat digital kontemporer
Seri buku literasi digital isu-isu masyarakat digital kontemporerliterasi digital
 
Bijak Menggunakan Gadget & Internet
Bijak Menggunakan Gadget & InternetBijak Menggunakan Gadget & Internet
Bijak Menggunakan Gadget & InternetAgnescia Sera
 
Kenakalan Remaja
Kenakalan RemajaKenakalan Remaja
Kenakalan RemajaNurul Shufa
 
Psikologi sosial - interpersonal attraction
Psikologi sosial  - interpersonal attractionPsikologi sosial  - interpersonal attraction
Psikologi sosial - interpersonal attractionBagus Aji
 
KENAKALAN REMAJA
KENAKALAN REMAJAKENAKALAN REMAJA
KENAKALAN REMAJAHERMADI
 

What's hot (20)

Ppt jurnal mr
Ppt jurnal   mrPpt jurnal   mr
Ppt jurnal mr
 
Format laporan praktikum tes inventori
Format laporan praktikum tes inventoriFormat laporan praktikum tes inventori
Format laporan praktikum tes inventori
 
BANYAKNYA REMAJA YANG LEBIH SENANG TERHADAP BUDAYA BARAT DIBANDINGKAN BUDAY...
BANYAKNYA REMAJA YANG LEBIH SENANG TERHADAP BUDAYA BARAT  DIBANDINGKAN  BUDAY...BANYAKNYA REMAJA YANG LEBIH SENANG TERHADAP BUDAYA BARAT  DIBANDINGKAN  BUDAY...
BANYAKNYA REMAJA YANG LEBIH SENANG TERHADAP BUDAYA BARAT DIBANDINGKAN BUDAY...
 
Pornografi dan Pornoaksi dalam media
Pornografi dan Pornoaksi dalam mediaPornografi dan Pornoaksi dalam media
Pornografi dan Pornoaksi dalam media
 
TEKNOLOGI DIGITAL - pdf
TEKNOLOGI DIGITAL - pdfTEKNOLOGI DIGITAL - pdf
TEKNOLOGI DIGITAL - pdf
 
Tugas sosiologi (kenakalan remaja) untuk mata pelajaran Sosiologi SMA
Tugas sosiologi (kenakalan remaja) untuk mata pelajaran Sosiologi SMATugas sosiologi (kenakalan remaja) untuk mata pelajaran Sosiologi SMA
Tugas sosiologi (kenakalan remaja) untuk mata pelajaran Sosiologi SMA
 
Makalah tentang pengangguran di indonesia
Makalah tentang pengangguran di indonesiaMakalah tentang pengangguran di indonesia
Makalah tentang pengangguran di indonesia
 
Ppt sidang skripsi
Ppt sidang skripsiPpt sidang skripsi
Ppt sidang skripsi
 
Cybercrime dan Cyberlaw
Cybercrime dan CyberlawCybercrime dan Cyberlaw
Cybercrime dan Cyberlaw
 
Pandangan psikoanalitik tentang hakekat manusia
Pandangan psikoanalitik tentang hakekat manusiaPandangan psikoanalitik tentang hakekat manusia
Pandangan psikoanalitik tentang hakekat manusia
 
Perubahan sosial budaya
Perubahan sosial budayaPerubahan sosial budaya
Perubahan sosial budaya
 
Berpikir
BerpikirBerpikir
Berpikir
 
Pencegahan Bunuh Diri di Indonesia
Pencegahan Bunuh Diri di IndonesiaPencegahan Bunuh Diri di Indonesia
Pencegahan Bunuh Diri di Indonesia
 
Karya tulis ilmiah pengaruh hp
Karya tulis ilmiah pengaruh hpKarya tulis ilmiah pengaruh hp
Karya tulis ilmiah pengaruh hp
 
Literasi Digital - Internet Sehat
Literasi Digital - Internet SehatLiterasi Digital - Internet Sehat
Literasi Digital - Internet Sehat
 
Seri buku literasi digital isu-isu masyarakat digital kontemporer
Seri buku literasi digital isu-isu masyarakat digital kontemporerSeri buku literasi digital isu-isu masyarakat digital kontemporer
Seri buku literasi digital isu-isu masyarakat digital kontemporer
 
Bijak Menggunakan Gadget & Internet
Bijak Menggunakan Gadget & InternetBijak Menggunakan Gadget & Internet
Bijak Menggunakan Gadget & Internet
 
Kenakalan Remaja
Kenakalan RemajaKenakalan Remaja
Kenakalan Remaja
 
Psikologi sosial - interpersonal attraction
Psikologi sosial  - interpersonal attractionPsikologi sosial  - interpersonal attraction
Psikologi sosial - interpersonal attraction
 
KENAKALAN REMAJA
KENAKALAN REMAJAKENAKALAN REMAJA
KENAKALAN REMAJA
 

Viewers also liked

MAKALAH BAHASA INDONESIA ( HEDONISME DI LINGKUNGAN STBA PIA) - BAB 3
MAKALAH BAHASA INDONESIA ( HEDONISME DI LINGKUNGAN STBA PIA) - BAB 3MAKALAH BAHASA INDONESIA ( HEDONISME DI LINGKUNGAN STBA PIA) - BAB 3
MAKALAH BAHASA INDONESIA ( HEDONISME DI LINGKUNGAN STBA PIA) - BAB 3Agnes Yodo
 
MAKALAH BAHASA INDONESIA ( HEDONISME DI LINGKUNGAN STBA PIA) - BAB 5
MAKALAH BAHASA INDONESIA ( HEDONISME DI LINGKUNGAN STBA PIA) - BAB 5MAKALAH BAHASA INDONESIA ( HEDONISME DI LINGKUNGAN STBA PIA) - BAB 5
MAKALAH BAHASA INDONESIA ( HEDONISME DI LINGKUNGAN STBA PIA) - BAB 5Agnes Yodo
 
Bab ii detry skripsi
Bab  ii detry skripsiBab  ii detry skripsi
Bab ii detry skripsiDerby Alfilah
 
MAKALAH BAHASA INDONESIA ( HEDONISME DI LINGKUNGAN STBA PIA) - BAB 2
MAKALAH BAHASA INDONESIA ( HEDONISME DI LINGKUNGAN STBA PIA) - BAB 2MAKALAH BAHASA INDONESIA ( HEDONISME DI LINGKUNGAN STBA PIA) - BAB 2
MAKALAH BAHASA INDONESIA ( HEDONISME DI LINGKUNGAN STBA PIA) - BAB 2Agnes Yodo
 
Laporan akhir pengaruh perkembangan fashion bagi mahasiswa
Laporan akhir pengaruh perkembangan fashion bagi mahasiswaLaporan akhir pengaruh perkembangan fashion bagi mahasiswa
Laporan akhir pengaruh perkembangan fashion bagi mahasiswaMuttyTeukie Elf
 
Membuat Kuesioner dan Riset Pemasaran
Membuat Kuesioner dan Riset PemasaranMembuat Kuesioner dan Riset Pemasaran
Membuat Kuesioner dan Riset PemasaranRobiyatul Adawiyah
 
Kuesioner evaluasi proses pembelajaran oleh mahasiswa
Kuesioner    evaluasi  proses pembelajaran  oleh  mahasiswaKuesioner    evaluasi  proses pembelajaran  oleh  mahasiswa
Kuesioner evaluasi proses pembelajaran oleh mahasiswaBhagaskoro Kurniawan
 
Contoh kuesioner riset perilaku konsumen
Contoh kuesioner riset perilaku konsumenContoh kuesioner riset perilaku konsumen
Contoh kuesioner riset perilaku konsumenIkhsan Bz
 
Contoh Format Kuesioner Penelitian yang Profesional
Contoh Format Kuesioner Penelitian yang ProfesionalContoh Format Kuesioner Penelitian yang Profesional
Contoh Format Kuesioner Penelitian yang ProfesionalTrisnadi Wijaya
 

Viewers also liked (12)

MAKALAH BAHASA INDONESIA ( HEDONISME DI LINGKUNGAN STBA PIA) - BAB 3
MAKALAH BAHASA INDONESIA ( HEDONISME DI LINGKUNGAN STBA PIA) - BAB 3MAKALAH BAHASA INDONESIA ( HEDONISME DI LINGKUNGAN STBA PIA) - BAB 3
MAKALAH BAHASA INDONESIA ( HEDONISME DI LINGKUNGAN STBA PIA) - BAB 3
 
MAKALAH BAHASA INDONESIA ( HEDONISME DI LINGKUNGAN STBA PIA) - BAB 5
MAKALAH BAHASA INDONESIA ( HEDONISME DI LINGKUNGAN STBA PIA) - BAB 5MAKALAH BAHASA INDONESIA ( HEDONISME DI LINGKUNGAN STBA PIA) - BAB 5
MAKALAH BAHASA INDONESIA ( HEDONISME DI LINGKUNGAN STBA PIA) - BAB 5
 
Bab ii detry skripsi
Bab  ii detry skripsiBab  ii detry skripsi
Bab ii detry skripsi
 
Ètica (Teories)
Ètica (Teories)Ètica (Teories)
Ètica (Teories)
 
MAKALAH BAHASA INDONESIA ( HEDONISME DI LINGKUNGAN STBA PIA) - BAB 2
MAKALAH BAHASA INDONESIA ( HEDONISME DI LINGKUNGAN STBA PIA) - BAB 2MAKALAH BAHASA INDONESIA ( HEDONISME DI LINGKUNGAN STBA PIA) - BAB 2
MAKALAH BAHASA INDONESIA ( HEDONISME DI LINGKUNGAN STBA PIA) - BAB 2
 
Laporan akhir pengaruh perkembangan fashion bagi mahasiswa
Laporan akhir pengaruh perkembangan fashion bagi mahasiswaLaporan akhir pengaruh perkembangan fashion bagi mahasiswa
Laporan akhir pengaruh perkembangan fashion bagi mahasiswa
 
Membuat Kuesioner dan Riset Pemasaran
Membuat Kuesioner dan Riset PemasaranMembuat Kuesioner dan Riset Pemasaran
Membuat Kuesioner dan Riset Pemasaran
 
Hedonism
HedonismHedonism
Hedonism
 
Kuesioner evaluasi proses pembelajaran oleh mahasiswa
Kuesioner    evaluasi  proses pembelajaran  oleh  mahasiswaKuesioner    evaluasi  proses pembelajaran  oleh  mahasiswa
Kuesioner evaluasi proses pembelajaran oleh mahasiswa
 
Contoh kuesioner riset perilaku konsumen
Contoh kuesioner riset perilaku konsumenContoh kuesioner riset perilaku konsumen
Contoh kuesioner riset perilaku konsumen
 
Lampiran 3 angket instrumen penelitian
Lampiran 3 angket instrumen penelitianLampiran 3 angket instrumen penelitian
Lampiran 3 angket instrumen penelitian
 
Contoh Format Kuesioner Penelitian yang Profesional
Contoh Format Kuesioner Penelitian yang ProfesionalContoh Format Kuesioner Penelitian yang Profesional
Contoh Format Kuesioner Penelitian yang Profesional
 

Similar to MAKALAH BAHASA INDONESIA ( HEDONISME DI LINGKUNGAN STBA PIA) - BAB 4

2011 2-00723-mc abstrak001
2011 2-00723-mc abstrak0012011 2-00723-mc abstrak001
2011 2-00723-mc abstrak001ImelHauteas
 
2011 2-00723-mc abstrak001
2011 2-00723-mc abstrak0012011 2-00723-mc abstrak001
2011 2-00723-mc abstrak001ImelHauteas
 
ISU DAN TREND DALAM PENDIDIKAN MORAL
ISU DAN TREND DALAM PENDIDIKAN MORALISU DAN TREND DALAM PENDIDIKAN MORAL
ISU DAN TREND DALAM PENDIDIKAN MORALshishamuddin1979
 
Contoh Tugasan : Tajuk Rakan Sebaya
Contoh Tugasan : Tajuk Rakan SebayaContoh Tugasan : Tajuk Rakan Sebaya
Contoh Tugasan : Tajuk Rakan Sebayanazri15
 
Penelitian tentang Friendster
Penelitian tentang FriendsterPenelitian tentang Friendster
Penelitian tentang Friendsteromcivics
 
Final Rilis Survei CSIS_26 September 2022.pdf
Final Rilis Survei CSIS_26 September 2022.pdfFinal Rilis Survei CSIS_26 September 2022.pdf
Final Rilis Survei CSIS_26 September 2022.pdfmuhtarom12
 
Final Rilis Survei CSIS_26 September 2022.pdf
Final Rilis Survei CSIS_26 September 2022.pdfFinal Rilis Survei CSIS_26 September 2022.pdf
Final Rilis Survei CSIS_26 September 2022.pdfLuqmanulHakim259964
 
Profil responden kajian penerimaan pengguna produk cokelat calvita
Profil responden kajian penerimaan pengguna produk cokelat calvitaProfil responden kajian penerimaan pengguna produk cokelat calvita
Profil responden kajian penerimaan pengguna produk cokelat calvitaAl Hamidy
 
Survei Saifful Mujani tentang Sikap Publik terhadap FPI, MRS, dan Respons Pem...
Survei Saifful Mujani tentang Sikap Publik terhadap FPI, MRS, dan Respons Pem...Survei Saifful Mujani tentang Sikap Publik terhadap FPI, MRS, dan Respons Pem...
Survei Saifful Mujani tentang Sikap Publik terhadap FPI, MRS, dan Respons Pem...CIkumparan
 
Semester 6 - Isu Pengangguran (Unemployment Issue)
Semester 6 - Isu Pengangguran (Unemployment Issue)Semester 6 - Isu Pengangguran (Unemployment Issue)
Semester 6 - Isu Pengangguran (Unemployment Issue)Nur Aisyah Khor
 
Foodizz Interim Report (Millennial & Gen Z)_20 Jan 22.pdf
Foodizz Interim Report (Millennial & Gen Z)_20 Jan 22.pdfFoodizz Interim Report (Millennial & Gen Z)_20 Jan 22.pdf
Foodizz Interim Report (Millennial & Gen Z)_20 Jan 22.pdfinsan enom
 
Mengapa Kita Membutuhkan Penelitian ?
Mengapa Kita Membutuhkan Penelitian ?Mengapa Kita Membutuhkan Penelitian ?
Mengapa Kita Membutuhkan Penelitian ?Yuca Siahaan
 
Hasil Rilis Surnas LSI, Temuan Survei 10-18 Januari 2015_Parpol di Mata Publik+
Hasil Rilis Surnas LSI, Temuan Survei 10-18 Januari  2015_Parpol di Mata Publik+Hasil Rilis Surnas LSI, Temuan Survei 10-18 Januari  2015_Parpol di Mata Publik+
Hasil Rilis Surnas LSI, Temuan Survei 10-18 Januari 2015_Parpol di Mata Publik+threeandra MLC
 
Indonesia E-Commerce Landscape
Indonesia E-Commerce LandscapeIndonesia E-Commerce Landscape
Indonesia E-Commerce LandscapeSugih Liawan
 
PPT Kel.2 Rombel 1 Cara Menyusun Kuesioner yang baik dan benar.pptx
PPT Kel.2 Rombel 1 Cara Menyusun Kuesioner yang baik dan benar.pptxPPT Kel.2 Rombel 1 Cara Menyusun Kuesioner yang baik dan benar.pptx
PPT Kel.2 Rombel 1 Cara Menyusun Kuesioner yang baik dan benar.pptxItaRohmawati3
 

Similar to MAKALAH BAHASA INDONESIA ( HEDONISME DI LINGKUNGAN STBA PIA) - BAB 4 (20)

2011 2-00723-mc abstrak001
2011 2-00723-mc abstrak0012011 2-00723-mc abstrak001
2011 2-00723-mc abstrak001
 
2011 2-00723-mc abstrak001
2011 2-00723-mc abstrak0012011 2-00723-mc abstrak001
2011 2-00723-mc abstrak001
 
BAB IV & V.pdf
BAB IV & V.pdfBAB IV & V.pdf
BAB IV & V.pdf
 
ISU DAN TREND DALAM PENDIDIKAN MORAL
ISU DAN TREND DALAM PENDIDIKAN MORALISU DAN TREND DALAM PENDIDIKAN MORAL
ISU DAN TREND DALAM PENDIDIKAN MORAL
 
Contoh Tugasan : Tajuk Rakan Sebaya
Contoh Tugasan : Tajuk Rakan SebayaContoh Tugasan : Tajuk Rakan Sebaya
Contoh Tugasan : Tajuk Rakan Sebaya
 
11510143 bab 4
11510143 bab 411510143 bab 4
11510143 bab 4
 
Penelitian tentang Friendster
Penelitian tentang FriendsterPenelitian tentang Friendster
Penelitian tentang Friendster
 
Final Rilis Survei CSIS_26 September 2022.pdf
Final Rilis Survei CSIS_26 September 2022.pdfFinal Rilis Survei CSIS_26 September 2022.pdf
Final Rilis Survei CSIS_26 September 2022.pdf
 
Final Rilis Survei CSIS_26 September 2022.pdf
Final Rilis Survei CSIS_26 September 2022.pdfFinal Rilis Survei CSIS_26 September 2022.pdf
Final Rilis Survei CSIS_26 September 2022.pdf
 
Profil responden kajian penerimaan pengguna produk cokelat calvita
Profil responden kajian penerimaan pengguna produk cokelat calvitaProfil responden kajian penerimaan pengguna produk cokelat calvita
Profil responden kajian penerimaan pengguna produk cokelat calvita
 
Survei Saifful Mujani tentang Sikap Publik terhadap FPI, MRS, dan Respons Pem...
Survei Saifful Mujani tentang Sikap Publik terhadap FPI, MRS, dan Respons Pem...Survei Saifful Mujani tentang Sikap Publik terhadap FPI, MRS, dan Respons Pem...
Survei Saifful Mujani tentang Sikap Publik terhadap FPI, MRS, dan Respons Pem...
 
SMD Legian 2022.pdf
SMD Legian 2022.pdfSMD Legian 2022.pdf
SMD Legian 2022.pdf
 
Mtm terbaru 02 06-2014 (2)
Mtm terbaru 02 06-2014 (2)Mtm terbaru 02 06-2014 (2)
Mtm terbaru 02 06-2014 (2)
 
Motif mahasiswa
Motif mahasiswaMotif mahasiswa
Motif mahasiswa
 
Semester 6 - Isu Pengangguran (Unemployment Issue)
Semester 6 - Isu Pengangguran (Unemployment Issue)Semester 6 - Isu Pengangguran (Unemployment Issue)
Semester 6 - Isu Pengangguran (Unemployment Issue)
 
Foodizz Interim Report (Millennial & Gen Z)_20 Jan 22.pdf
Foodizz Interim Report (Millennial & Gen Z)_20 Jan 22.pdfFoodizz Interim Report (Millennial & Gen Z)_20 Jan 22.pdf
Foodizz Interim Report (Millennial & Gen Z)_20 Jan 22.pdf
 
Mengapa Kita Membutuhkan Penelitian ?
Mengapa Kita Membutuhkan Penelitian ?Mengapa Kita Membutuhkan Penelitian ?
Mengapa Kita Membutuhkan Penelitian ?
 
Hasil Rilis Surnas LSI, Temuan Survei 10-18 Januari 2015_Parpol di Mata Publik+
Hasil Rilis Surnas LSI, Temuan Survei 10-18 Januari  2015_Parpol di Mata Publik+Hasil Rilis Surnas LSI, Temuan Survei 10-18 Januari  2015_Parpol di Mata Publik+
Hasil Rilis Surnas LSI, Temuan Survei 10-18 Januari 2015_Parpol di Mata Publik+
 
Indonesia E-Commerce Landscape
Indonesia E-Commerce LandscapeIndonesia E-Commerce Landscape
Indonesia E-Commerce Landscape
 
PPT Kel.2 Rombel 1 Cara Menyusun Kuesioner yang baik dan benar.pptx
PPT Kel.2 Rombel 1 Cara Menyusun Kuesioner yang baik dan benar.pptxPPT Kel.2 Rombel 1 Cara Menyusun Kuesioner yang baik dan benar.pptx
PPT Kel.2 Rombel 1 Cara Menyusun Kuesioner yang baik dan benar.pptx
 

Recently uploaded

Materi Kuliah Ramadhan WARISAN SYAWAL 1444.pptx
Materi Kuliah Ramadhan WARISAN SYAWAL 1444.pptxMateri Kuliah Ramadhan WARISAN SYAWAL 1444.pptx
Materi Kuliah Ramadhan WARISAN SYAWAL 1444.pptxc9fhbm7gzj
 
AKSI NYATA MODUL 1.3 VISI GURU PENGGERAK.pdf
AKSI NYATA MODUL 1.3 VISI GURU PENGGERAK.pdfAKSI NYATA MODUL 1.3 VISI GURU PENGGERAK.pdf
AKSI NYATA MODUL 1.3 VISI GURU PENGGERAK.pdfHeriyantoHeriyanto44
 
UNSUR - UNSUR, LUAS, KELILING LINGKARAN.pptx
UNSUR - UNSUR, LUAS, KELILING LINGKARAN.pptxUNSUR - UNSUR, LUAS, KELILING LINGKARAN.pptx
UNSUR - UNSUR, LUAS, KELILING LINGKARAN.pptxFranxisca Kurniawati
 
Adab bjjkkkkkkk gggggggghhhhywq dede dulu ya itu yg kamu
Adab bjjkkkkkkk gggggggghhhhywq dede dulu ya itu yg kamuAdab bjjkkkkkkk gggggggghhhhywq dede dulu ya itu yg kamu
Adab bjjkkkkkkk gggggggghhhhywq dede dulu ya itu yg kamuKarticha
 
Aminullah Assagaf_Regresi Lengkap 21_11 April 2024.pdf
Aminullah Assagaf_Regresi Lengkap 21_11 April 2024.pdfAminullah Assagaf_Regresi Lengkap 21_11 April 2024.pdf
Aminullah Assagaf_Regresi Lengkap 21_11 April 2024.pdfAminullah Assagaf
 
Elemen Jurnalistik Ilmu Komunikasii.pptx
Elemen Jurnalistik Ilmu Komunikasii.pptxElemen Jurnalistik Ilmu Komunikasii.pptx
Elemen Jurnalistik Ilmu Komunikasii.pptxGyaCahyaPratiwi
 
KISI-KISI Soal PAS Geografi Kelas XII.docx
KISI-KISI Soal PAS Geografi Kelas XII.docxKISI-KISI Soal PAS Geografi Kelas XII.docx
KISI-KISI Soal PAS Geografi Kelas XII.docxjohan effendi
 
AKSI NYATA MODUL 1.3 VISI GURU PENGGERAK.pptx
AKSI NYATA MODUL 1.3 VISI GURU PENGGERAK.pptxAKSI NYATA MODUL 1.3 VISI GURU PENGGERAK.pptx
AKSI NYATA MODUL 1.3 VISI GURU PENGGERAK.pptxHeriyantoHeriyanto44
 
“Mohon Maaf Lahir & Batin” ... Minal Aidin Wal Faizin
“Mohon Maaf Lahir & Batin” ... Minal Aidin Wal  Faizin“Mohon Maaf Lahir & Batin” ... Minal Aidin Wal  Faizin
“Mohon Maaf Lahir & Batin” ... Minal Aidin Wal FaizinKanaidi ken
 
Perbaikan ekonomi zaman Habibie (Offering A - 4-6) Pertemuan - 10.pdf
Perbaikan ekonomi zaman Habibie (Offering A - 4-6) Pertemuan - 10.pdfPerbaikan ekonomi zaman Habibie (Offering A - 4-6) Pertemuan - 10.pdf
Perbaikan ekonomi zaman Habibie (Offering A - 4-6) Pertemuan - 10.pdfAgungNugroho932694
 
CERAMAH SINGKAT RAMADHAN RIFKI TENTANG TAUBAT.pptx
CERAMAH SINGKAT RAMADHAN RIFKI TENTANG TAUBAT.pptxCERAMAH SINGKAT RAMADHAN RIFKI TENTANG TAUBAT.pptx
CERAMAH SINGKAT RAMADHAN RIFKI TENTANG TAUBAT.pptxpolianariama40
 
Estetika Humanisme Diskusi Video Sesi Ke-1.pdf
Estetika Humanisme Diskusi Video Sesi Ke-1.pdfEstetika Humanisme Diskusi Video Sesi Ke-1.pdf
Estetika Humanisme Diskusi Video Sesi Ke-1.pdfHendroGunawan8
 
(NEW) Template Presentasi UGM yang terbaru
(NEW) Template Presentasi UGM yang terbaru(NEW) Template Presentasi UGM yang terbaru
(NEW) Template Presentasi UGM yang terbaruSilvanaAyu
 
POKOK BAHASAN DEMOKRASI MATAKULIA PKN - DJOKO AW
POKOK BAHASAN DEMOKRASI MATAKULIA PKN - DJOKO AWPOKOK BAHASAN DEMOKRASI MATAKULIA PKN - DJOKO AW
POKOK BAHASAN DEMOKRASI MATAKULIA PKN - DJOKO AWKafe Buku Pak Aw
 
Silabus Pelatihan _Peranan dan Implementasi "Dual Banking Leverage Model (DBL...
Silabus Pelatihan _Peranan dan Implementasi "Dual Banking Leverage Model (DBL...Silabus Pelatihan _Peranan dan Implementasi "Dual Banking Leverage Model (DBL...
Silabus Pelatihan _Peranan dan Implementasi "Dual Banking Leverage Model (DBL...Kanaidi ken
 
Materi B.indo (Penyusunan Paragraf).pptx
Materi B.indo (Penyusunan Paragraf).pptxMateri B.indo (Penyusunan Paragraf).pptx
Materi B.indo (Penyusunan Paragraf).pptxafkarzidan98
 
Gandum & Lalang (Matius......13_24-30).pptx
Gandum & Lalang (Matius......13_24-30).pptxGandum & Lalang (Matius......13_24-30).pptx
Gandum & Lalang (Matius......13_24-30).pptxHansTobing
 
704747337-Ppt-materi-Presentasi-Program-Kerja-Organisasi-kangguru.pptx
704747337-Ppt-materi-Presentasi-Program-Kerja-Organisasi-kangguru.pptx704747337-Ppt-materi-Presentasi-Program-Kerja-Organisasi-kangguru.pptx
704747337-Ppt-materi-Presentasi-Program-Kerja-Organisasi-kangguru.pptxHalomoanHutajulu3
 
bahasa-indonesia-penyusunan-paragraf.pptx
bahasa-indonesia-penyusunan-paragraf.pptxbahasa-indonesia-penyusunan-paragraf.pptx
bahasa-indonesia-penyusunan-paragraf.pptxvincentptk17
 
Jaringan VOIP Ringkasan PTT Pertemuan Ke-1.pdf
Jaringan VOIP Ringkasan PTT Pertemuan Ke-1.pdfJaringan VOIP Ringkasan PTT Pertemuan Ke-1.pdf
Jaringan VOIP Ringkasan PTT Pertemuan Ke-1.pdfHendroGunawan8
 

Recently uploaded (20)

Materi Kuliah Ramadhan WARISAN SYAWAL 1444.pptx
Materi Kuliah Ramadhan WARISAN SYAWAL 1444.pptxMateri Kuliah Ramadhan WARISAN SYAWAL 1444.pptx
Materi Kuliah Ramadhan WARISAN SYAWAL 1444.pptx
 
AKSI NYATA MODUL 1.3 VISI GURU PENGGERAK.pdf
AKSI NYATA MODUL 1.3 VISI GURU PENGGERAK.pdfAKSI NYATA MODUL 1.3 VISI GURU PENGGERAK.pdf
AKSI NYATA MODUL 1.3 VISI GURU PENGGERAK.pdf
 
UNSUR - UNSUR, LUAS, KELILING LINGKARAN.pptx
UNSUR - UNSUR, LUAS, KELILING LINGKARAN.pptxUNSUR - UNSUR, LUAS, KELILING LINGKARAN.pptx
UNSUR - UNSUR, LUAS, KELILING LINGKARAN.pptx
 
Adab bjjkkkkkkk gggggggghhhhywq dede dulu ya itu yg kamu
Adab bjjkkkkkkk gggggggghhhhywq dede dulu ya itu yg kamuAdab bjjkkkkkkk gggggggghhhhywq dede dulu ya itu yg kamu
Adab bjjkkkkkkk gggggggghhhhywq dede dulu ya itu yg kamu
 
Aminullah Assagaf_Regresi Lengkap 21_11 April 2024.pdf
Aminullah Assagaf_Regresi Lengkap 21_11 April 2024.pdfAminullah Assagaf_Regresi Lengkap 21_11 April 2024.pdf
Aminullah Assagaf_Regresi Lengkap 21_11 April 2024.pdf
 
Elemen Jurnalistik Ilmu Komunikasii.pptx
Elemen Jurnalistik Ilmu Komunikasii.pptxElemen Jurnalistik Ilmu Komunikasii.pptx
Elemen Jurnalistik Ilmu Komunikasii.pptx
 
KISI-KISI Soal PAS Geografi Kelas XII.docx
KISI-KISI Soal PAS Geografi Kelas XII.docxKISI-KISI Soal PAS Geografi Kelas XII.docx
KISI-KISI Soal PAS Geografi Kelas XII.docx
 
AKSI NYATA MODUL 1.3 VISI GURU PENGGERAK.pptx
AKSI NYATA MODUL 1.3 VISI GURU PENGGERAK.pptxAKSI NYATA MODUL 1.3 VISI GURU PENGGERAK.pptx
AKSI NYATA MODUL 1.3 VISI GURU PENGGERAK.pptx
 
“Mohon Maaf Lahir & Batin” ... Minal Aidin Wal Faizin
“Mohon Maaf Lahir & Batin” ... Minal Aidin Wal  Faizin“Mohon Maaf Lahir & Batin” ... Minal Aidin Wal  Faizin
“Mohon Maaf Lahir & Batin” ... Minal Aidin Wal Faizin
 
Perbaikan ekonomi zaman Habibie (Offering A - 4-6) Pertemuan - 10.pdf
Perbaikan ekonomi zaman Habibie (Offering A - 4-6) Pertemuan - 10.pdfPerbaikan ekonomi zaman Habibie (Offering A - 4-6) Pertemuan - 10.pdf
Perbaikan ekonomi zaman Habibie (Offering A - 4-6) Pertemuan - 10.pdf
 
CERAMAH SINGKAT RAMADHAN RIFKI TENTANG TAUBAT.pptx
CERAMAH SINGKAT RAMADHAN RIFKI TENTANG TAUBAT.pptxCERAMAH SINGKAT RAMADHAN RIFKI TENTANG TAUBAT.pptx
CERAMAH SINGKAT RAMADHAN RIFKI TENTANG TAUBAT.pptx
 
Estetika Humanisme Diskusi Video Sesi Ke-1.pdf
Estetika Humanisme Diskusi Video Sesi Ke-1.pdfEstetika Humanisme Diskusi Video Sesi Ke-1.pdf
Estetika Humanisme Diskusi Video Sesi Ke-1.pdf
 
(NEW) Template Presentasi UGM yang terbaru
(NEW) Template Presentasi UGM yang terbaru(NEW) Template Presentasi UGM yang terbaru
(NEW) Template Presentasi UGM yang terbaru
 
POKOK BAHASAN DEMOKRASI MATAKULIA PKN - DJOKO AW
POKOK BAHASAN DEMOKRASI MATAKULIA PKN - DJOKO AWPOKOK BAHASAN DEMOKRASI MATAKULIA PKN - DJOKO AW
POKOK BAHASAN DEMOKRASI MATAKULIA PKN - DJOKO AW
 
Silabus Pelatihan _Peranan dan Implementasi "Dual Banking Leverage Model (DBL...
Silabus Pelatihan _Peranan dan Implementasi "Dual Banking Leverage Model (DBL...Silabus Pelatihan _Peranan dan Implementasi "Dual Banking Leverage Model (DBL...
Silabus Pelatihan _Peranan dan Implementasi "Dual Banking Leverage Model (DBL...
 
Materi B.indo (Penyusunan Paragraf).pptx
Materi B.indo (Penyusunan Paragraf).pptxMateri B.indo (Penyusunan Paragraf).pptx
Materi B.indo (Penyusunan Paragraf).pptx
 
Gandum & Lalang (Matius......13_24-30).pptx
Gandum & Lalang (Matius......13_24-30).pptxGandum & Lalang (Matius......13_24-30).pptx
Gandum & Lalang (Matius......13_24-30).pptx
 
704747337-Ppt-materi-Presentasi-Program-Kerja-Organisasi-kangguru.pptx
704747337-Ppt-materi-Presentasi-Program-Kerja-Organisasi-kangguru.pptx704747337-Ppt-materi-Presentasi-Program-Kerja-Organisasi-kangguru.pptx
704747337-Ppt-materi-Presentasi-Program-Kerja-Organisasi-kangguru.pptx
 
bahasa-indonesia-penyusunan-paragraf.pptx
bahasa-indonesia-penyusunan-paragraf.pptxbahasa-indonesia-penyusunan-paragraf.pptx
bahasa-indonesia-penyusunan-paragraf.pptx
 
Jaringan VOIP Ringkasan PTT Pertemuan Ke-1.pdf
Jaringan VOIP Ringkasan PTT Pertemuan Ke-1.pdfJaringan VOIP Ringkasan PTT Pertemuan Ke-1.pdf
Jaringan VOIP Ringkasan PTT Pertemuan Ke-1.pdf
 

MAKALAH BAHASA INDONESIA ( HEDONISME DI LINGKUNGAN STBA PIA) - BAB 4

  • 1. 15 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN A. Hasil Penelitian Dalam memperoleh hasil penelitian tentang hedonisme di lingkungan Sekolah Tinggi Bahasa Asing Persahabatan Internasional Asia Medan, telah dilakukan penelitian dalam upaya menemukan atau menelusuri substansi dari permasalahan yang terkait dengan strategi komunikasi organisasi. Adapun hasil penelitian merupakan data yang diolah berdasarkan teknik analisis data. Sedangkan cara penulis memperoleh data didasarkan pada instrumen penelitian seperti pengisian angket/kuesioner oleh individu di Sekolah Tinggi Bahasa Asing Persahabatan Internasional Asia Medan yang dianggap layak memberi informasi terkait dengan judul penelitian. Adapun pertanyaan yang diajukan yaitu mengenai pandangan individu yang ada di lingkungan Sekolah Tinggi Bahasa Asing Persahabatan Internasional Asia Medan terhadap materi pendukung hedonisme, faktor-faktor pendorong hedonisme dan ideologi hedonisme itu sendiri. Selanjutnya dari data yang diperoleh tentang strategi komunikasi organisasi pada obyek penelitian tersebut, secara otomatis menjadi muatan pembahasan dalam penulisan skripsi ini. Berkaitan dengan hal tersebut, penulis akan memaparkan hasil penelitian yang terkait langsung dengan pandangan individu yang ada di lingkungan Sekolah Tinggi Bahasa Asing Persahabatan Internasional Asia Medan terhadap hedonisme. Sesuai dengan tingkat kebutuhan pembahasan terhadap data yang penulis peroleh dari hasil penelitian, maka penulis akan memilih hasil pengisian kuesioner penelitian oleh individu yang ada di lingkungan Sekolah Tinggi Bahasa Asing Persahabatan Internasional Asia Medan. Ini dimaksudkan agar pembahasan tidak dilakukan berulang-ulang dan dapat mengetahui secara jelas berapa proporsi suatu kelompok tertentu yang menyetujui atau tidak menyetujui suatu pernyataan yang diajukan. Angket/kuesioner disebarkan terhadap 20 responden. Tabel di bawah ini memperlihatkan komposisi mereka berdasarkan tingkatan klasifikasi individu di
  • 2. 16 Sekolah Tinggi Bahasa Asing Persahabatan Internasional Asia Medan pada T.A. 2014 (tabel 4.1). Tabel 4.1 Sebaran Populasi dan Responden Berdasarkan Tingkatan Klasifikasi No. Tingkatan Klasifikasi Jumlah Populasi Jumlah Responden 1. Staf dan Fungsionaris 14 2 2. Dosen S1 Sastra Cina dan Sastra Inggris 48 6 3. Mahasiswa S1 Sastra Cina 818 10 4. Mahasiswa S1 Sastra Inggris 157 2 Tabel 4.1 menunjukkan sebagian besar populasi berasal dari mahasiswa/i jurusan Sastra Cina karena jurusan/program studi tersebut terdiri dari kelas A, B, dan C sebanyak 818 orang mahasiswa, dan diikuti jurusan Sastra Inggris 157 orang, dosen S1 Sastra Cina dan Sastra Inggris 48 orang, staf dan fungsionaris 14 orang. 1. Materi, hal dan kegiatan yang mendukung hedonisme Tabel 4.2 Jawaban Responden Mengenai Frekuensi Kunjungan ke Pusat Perbelanjaan dan Cafe No. Pernyataan > 3 kali / minggu 2-3 kali / minggu 2-3 kali / bulan 6-10 kali / tahun < 6 kali / tahun Jumlah 1. Frekuensi shopping. 0 2 11 6 1 20 % 0 10 55 30 5 100 2. Kunjungan ke café. 3 8 6 3 0 20
  • 3. 17 % 15 40 30 15 0 100 Orang 3 10 17 9 1 40 % 7,5 25 42,5 22,5 2,5 100 Berdasarkan data hasil kuesioner untuk jawaban responden mengenai frekuensi kunjungan ke pusat perbelanjaan dan cafe, seperti terlihat pada tabel 4.2 di atas, dapat diuraikan bahwa 55% responden melakukan kegiatan shopping sebanyak 2 sampai 3 kali per bulan dan 0% responden melakukan kegiatan shopping lebih dari 3 kali per minggu. Sedangkan 42,5 % responden mengunjungi cafe sebanyak 2 sampai 3 kali per bulan dan 2,5% responden mengunjungi cafe kurang dari 6 kali per tahun. Tabel 4.3 Jawaban Responden Mengenai Alasan Pemilihan Barang Branded dan Penerimaan Uang Ilegal No. Pernyataan SS S KS TS STS Jumlah 3. Individu cenderung memilih barang branded karena gengsi. 5 8 4 3 0 20 % 25 40 20 15 0 100 4. Individu cenderung memilih barang branded karena alasan kualitas. 7 7 4 2 0 20 % 35 35 20 10 0 100 5. Individu cenderung memilih barang branded karena design yang menarik. 4 6 8 2 0 20 % 20 30 40 10 0 100 6. Individu cenderung memilih barang branded karena kebutuhan investasi. 2 6 8 3 1 20 % 10 30 40 15 5 100 7. Individu cenderung memilih 7 4 5 2 2 20
  • 4. 18 barang branded karena ingin memiliki hubungan pertemanan dengan orang yang berasal dari kelas sosial yang lebih tinggi. % 35 20 25 10 10 100 8. Uang Anda tidak mencukupi untuk membeli barang tersebut dan pada saat itu anda ditawarkan uang illegal untuk membeli barang tersebut dan Anda setuju untuk menerimanya. 0 0 5 6 9 20 % 0 0 25 30 45 100 Orang 25 31 34 18 12 120 % 20,8 25,8 28,3 15 10 100 Berdasarkan data hasil kuesioner untuk jawaban responden mengenai frekuensi kunjungan ke pusat perbelanjaan dan cafe, seperti terlihat pada tabel 4.3 di atas, dapat diuraikan bahwa 40% responden setuju bahwa individu cenderung memilih barang branded karena gengsi, 70% responden setuju dan sangat setuju bahwa individu cenderung memilih barang branded karena alasan kualitas, 50% responden setuju dan sangat setuju bahwa individu cenderung memilih barang branded karena design yang menarik, 40% responden kurang setuju bahwa individu cenderung memilih barang branded karena kebutuhan investasi, 55% responden setuju dan sangat setuju bahwa individu cenderung memilih barang branded karena ingin memiliki hubungan pertemanan dengan orang yang berasal dari kelas sosial yang lebih tinggi, serta 75% responden tidak setuju dan sangat tidak setuju untuk menerima uang ilegal jika ingin membeli barang yang sangat diinginkan.
  • 5. 19 Tabel 4.4 Jawaban Responden Mengenai Jumlah Gadget yang Dimiliki No. Pernyataan Lebih dari 3 3 2 1 Tidak Ada Jumlah 9. Banyaknya jumlah gadget yang dimiliki. 3 6 9 2 0 20 % 15 30 45 10 0 100 Orang 3 6 9 2 0 20 % 15 30 45 10 0 100 Berdasarkan data hasil kuesioner untuk jawaban responden mengenai jumlah gadget yang dimiliki seperti terlihat pada tabel 4.4 di atas, dapat diuraikan bahwa 15% responden memiliki lebih dari 3(tiga) buah gadget, 30% responden memiliki 3(tiga) buah gadget, 45% responden memiliki 2(dua) buah gadget, 10% responden memiliki 1 (satu) buah gadget, dan 0% responden tidak memiliki gadget. Tabel 4.5 Jawaban Responden Mengenai Kegunaan Gadget, Alasan Pemilihan Gadget, dan Barang Asli No. Pernyataan SS S KS TS STS Jumlah 10. Gadget sangat penting bagi kehidupan manusia dan fitur-fitur yang ada dalam gadget dapat digunakan secara efektif, membantu meringankan pekerjaan. 5 6 5 4 0 20 % 25 30 25 20 0 100 11. Design yang menarik menjadi prioritas individu 4 9 4 3 0 20
  • 6. 20 dalam membeli gadget baru. % 20 45 20 15 0 100 12. Tren menjadi prioritas individu dalam membeli gadget baru. 5 9 4 2 0 20 % 25 45 20 1 0 100 13. Fitur gadget yang sesuai kebutuhan menjadi prioritas individu dalam membeli gadget baru. 4 8 5 3 0 20 % 20 40 25 15 0 100 14. Harga gadget menjadi prioritas individu dalam membeli gadget baru. 4 8 5 3 0 20 % 20 40 25 15 0 100 15. Kualitas gadget menjadi prioritas individu dalam membeli gadget baru. 7 6 4 3 0 20 % 35 30 20 15 0 100 16. Barang asli selalu lebih baik daripada barang imitasi. 3 4 8 4 1 20 % 15 20 40 20 5 100 Orang 32 52 35 20 1 140 % 22,8 37,1 25 14,3 0,7 100 Berdasarkan data hasil kuesioner untuk jawaban responden mengenai kegunaan gadget, alasan pemilihan gadget, dan barang asli, seperti terlihat pada tabel 4.5 di atas, dapat diuraikan bahwa 55% responden setuju dan sangat setuju bahwa gadget sangat penting bagi kehidupan manusia, 65% responden setuju dan sangat setuju bahwa design yang menarik menjadi prioritas individu dalam membeli gadget baru, 70% responden setuju dan sangat setuju bahwa tren menjadi prioritas individu dalam membeli gadget baru, 15% responden tidak
  • 7. 21 setuju bahwa fitur gadget yang sesuai kebutuhan menjadi prioritas individu dalam membeli gadget baru, 60% responden setuju dan sangat setuju bahwa harga gadget menjadi prioritas individu dalam membeli gadget baru, 65% responden setuju dan sangat setuju bahwa kualitas gadget menjadi prioritas individu dalam membeli gadget baru, serta 25% responden tidak setuju dan sangat tidak setuju bahwa barang asli selalu lebih baik daripada barang imitasi. 2. Paham/ Ideologi Hedonisme Tabel 4.6 Jawaban Responden Mengenai Paham/Ideologi Hedonisme No. Pernyataan SS S KS TS STS Jumlah 17. Individu yang suka mengikuti tren merupakan penganut paham hedonisme. 4 5 7 3 1 20 % 20 25 35 15 5 100 18. Seseorang akan dihantui oleh rasa minder jika tidak mengikuti tren. 5 3 6 4 2 20 % 25 15 30 20 10 100 19. Penyuluhan tentang hedonisme wajib dilakukan oleh pemerintah Indonesia. 4 9 4 3 0 20 % 20 45 20 15 0 100 20. Paham hedonisme merupakan malapetaka bagi kehidupan manusia. 6 9 3 2 0 20 % 30 45 15 10 0 100 21. Gaya hidup yang hedonis mencerminkan kesuksesan karier suatu individu atau 10 6 4 0 0 20
  • 8. 22 kelompok. % 50 30 20 0 0 100 22. Paham hedonisme membawa dampak negatif bagi masyarakat Indonesia (khususnya remaja). 7 9 4 0 0 20 % 35 25 20 20 0 100 Orang 36 41 28 12 3 120 % 30 34,1 23,3 10 2,5 100 Berdasarkan data hasil kuesioner untuk jawaban responden mengenai paham/ideologi hedonisme, seperti terlihat pada tabel 4.6 di atas, dapat diuraikan bahwa 25% responden setuju bahwa individu yang suka mengikuti tren merupakan penganut paham hedonisme, 40% responden setuju dan sangat setuju bahwa seseorang akan dihantui oleh rasa minder jika tidak mengikuti tren, 65% responden setuju dan sangat setuju bahwa penyuluhan tentang hedonisme wajib dilakukan oleh pemerintah Indonesia, 10% responden tidak setuju bahwa paham hedonisme merupakan malapetaka bagi kehidupan manusia, 80% responden setuju dan sangat setuju bahwa gaya hidup yang hedonis mencerminkan kesuksesan karier suatu individu atau kelompok, serta 40% responden kurang setuju dan tidak setuju bahwa paham hedonisme membawa dampak negatif bagi masyarakat Indonesia (khususnya remaja). Tabel 4.7 Jawaban Responden Mengenai Faktor Pendorong Hedonisme No. Pernyataan SS S KS TS STS Jumlah 23. Mudahnya proses apply kartu kredit mendorong perkembangan hedonisme. 3 8 5 2 2 20 % 15 40 25 10 10 100
  • 9. 23 24. Peraturan di lingkungan pendidikan formal secara tidak langsung turut berkontribusi dalam menghambat berkembangnya paham hedonisme. 3 5 9 3 0 20 % 15 25 45 15 0 100 25. Hedonisme merupakan akar dari tindakan kriminal yang marak terjadi. 4 9 4 3 0 20 % 20 45 20 15 0 100 26. Dikelilingi oleh orang- orang yang menganut paham hedonisme menyebabkan individu tersebut ikut menganut paham hedonisme di masa depan. 7 5 4 4 0 20 % 35 25 20 20 0 100 Orang 17 27 22 12 2 80 % 21,25 33,75 27,5 15 2,5 100 Berdasarkan data hasil kuesioner untuk jawaban responden mengenai faktor pendorong hedonisme, seperti terlihat pada tabel 4.7 di atas, dapat diuraikan bahwa 55% responden setuju dan sangat setuju bahwa semakin mudahnya proses apply kartu kredit mendorong perkembangan hedonisme, 65% responden setuju dan sangat setuju bahwa peraturan yang dibuat dan harus ditaati di lingkungan pendidikan formal secara tidak langsung turut berkontribusi dalam menghambat berkembangnya paham hedonisme, 65% responden setuju dan sangat setuju bahwa hedonisme merupakan akar dari tindakan kriminal yang marak terjadi,
  • 10. 24 serta 40% responden kurang setuju dan tidak setuju bahwa individu yang dikelilingi oleh orang-orang yang menganut paham hedonism menyebabkan individu tersebut ikut menganut paham hedonisme di masa depan. B. Pembahasan Penelitian Dari tabel 4.3, hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 20 responden, jumlah individu di lingkungan Sekolah Tinggi Persahabatan Internasional Asia Medan berpendapat bahwa individu cenderung memilih barang branded karena gengsi, alasan kualitas dan ingin hubungan pertemanan dengan orang yang berasal dari kelas sosial yang lebih tinggi sebanyak lebih dari 10 orang responden (>50%). Sedangkan yang berpendapat bahwa individu cenderung memilih barang branded karena gengsi, alasan investasi dan design yang menarik sebanyak masing-masing 8 responden (40%) dan 10 responden (50%). Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat belum sepenuhnya memiliki pandangan positif mengenai kepemilikan barang branded yang selalu menjurus ke arah hedonisme. Sewaktu kekaisaran Romawi menguasai seluruh Eropa dan Afrika, paham hedonisme mengalami pergeseran ke arah negatif dalam semboyan baru hedonisme. Semboyan baru itu, carpe diem (raihlah kenikmatan sebanyak mungkin selagi kamu hidup), menjiwai tiap hembusan napas aliran tersebut. Kebahagiaan dipahami sebagai kenikmatan belaka tanpa mempunyai arti mendalam. Kedangkalan makna mulai terasa. Pemahaman negatif melekat dan pemahaman positif menghilang dalam hedonisme. Karena pemahaman hedonis yang lebih mengedepankan kebahagiaan diganti dengan mengutamakan kenikmatan. (Burhanuddin Salam 1997:81) 1 . Dari tabel 4.4 , hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 20 responden, jumlah individu di lingkungan Sekolah Tinggi Persahabatan Internasional Asia Medan yang memiliki gadget sebanyak 20 orang responden (100%). Berdasarkan keseluruhan hasil analisis statistik, maka dapat dikatakan bahwa secara umum motivasi kepemilikan gadget didasarkan pada berbagai faktor, seperti efektifitas, design, tren, fitur, harga dan kualitas. Hal tersebut sejalan dengan pendapat yang dikemukakan oleh Cicerno dalam Bertrand Russell (2004: 372), bahwa ciri-ciri 1 Burhanuddin Salam, loc. cit.
  • 11. 25 hedonisme adalah mengejar modernitas fisik, karena orang tersebut berpandangan bahwa memiliki barang- barang berteknologi tinggi adalah kebanggaan 2. Dari tabel 4.5, hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 20 responden, lebih dari 50% responden berpendapat bahwa individu cenderung membeli gadget baru berdasarkan design, tren, fitur yang membantu meringankan pekerjaan manusia, harga dan kualitas. Pada masa sekarang, gadget sudah menjadi barang yang wajib dimiliki oleh manusia di zaman sekarang seperti halnya senjata di masa lampau dan kepemilikan gadget yang berdasarkan pada tren telah menuntut setiap orang untuk berganti gadget serta digolongkan sebagai kegiatan yang berasaskan paham hedonisme. Hal tersebut sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Poespoprodjo bahwa, “Hedonisme merupakan salah satu teori etika yang paling tua, paling sederhana, paling kebenda-bendaan, dan dari abad ke abad selalu kita temukan” (1999:60) 3. Sedangkan tren merupakan kata kunci yang sangat berpengaruh terhadap hedonisme, sesuai dengan hasil survei dalam tabel 4.6. Tidak bisa dipungkiri bahwa kecenderungan mengikuti tren mutakhir dalam kehidupan sehari-hari ternyata menimbulkan kepuasan sendiri bagi yang melakukannya. Hal tersebut sejalan dengan pendapat yang dikemukakan oleh Cicerno dalam Russell (2004: 372) bahwa hedonisme mendorong timbulnya relativitas kenikmatan di atas rata- rata yang tinggi. Relativitas ini berarti sesuatu yang bagi masyarakat umum sudah masuk ke tataran kenikmatan atau dapat disebut enak, namun baginya itu tidak enak. Hedonisme juga membuat individu tersebut berusaha memenuhi banyak keinginan- keinginan spontan yang muncul. Dalam penjabaran benteng penahan kesenangan yang sangat sedikit sehingga ketika orang menginginkan sesuatu harus segera dipenuhi 4. Lebih dari 70% responden berpendapat bahwa hedonisme merupakan malapetaka dan membawa dampak negatif bagi masyarakat. Tidak bisa dipungkiri, bahwa paham hedonisme mengandung segmen negatif di antara pemikiran masyarakat Indonesia. Hal ini sejalan dengan yang diungkapkan Jeremy Bentham 2 Bertrand Russel, loc. cit. 3 Poespoprodjo,loc. cit., Filsafat Moral. (Yogyakarta : Pustaka Grafika), hal. 60 4 Bertrand Russel, op. cit., hal. 372
  • 12. 26 dalam Fuad Farid Ismail dan Abdul Hamid Mutawalli (2012:299) bahwa sewaktu kekaisaran Romawi menguasai seluruh Eropa dan Afrika, paham ini mengalami pergeseran ke arah negatif dalam semboyan baru hedonisme 5. Sehingga 65% responden setuju bahwa peyuluhan tentang hedonisme wajib dilakukan oleh pemerintah Indonesia, karena sebenarnya hedonisme sebagai suatu sikap introspektif hidup berdasarkan mengambil kesenangan diri sendiri dan kenikmatan orang lain, tanpa merugikan diri sendiri atau orang lain (Onfray dalam Caspar Melville, 2007:1) 6. Hedonisme sebagai suatu paham yang sangat cepat berkembang ternyata mendorong dan menjadi faktor penyebab terjadinya berbagai peristiwa dalam masyarakat. Memang harus diakui, bahwa banyak tindakan manusia terdorong oleh cenderung untuk mencapai kepuasan. Bahkan ada ahli psikologi yang berpendapat bahwa semua tindakan itu berdasarkan atas cenderung yang tak terdasari, ialah cenderung untuk mencapai kepuasan semata, yang disebutnya libido seksual (Sigmun Freud), atau cenderung untuk mencapai kepuasan dalam kekuasaan (adler). Walaupun teori ini sekarang tidak diterima oleh psikologi lain, akan tetapi tetaplah benar, bahwa cenderung mencari kepuasan itu masih merupakan suatu (bukan satu-satunya) faktor yang mendorong manusia untuk bertindak (Poedjawiyatna 1990:44) 7. Sesuai pendapat di atas, dapat diketahui dari tabel 4.7 bahwa karena terdorong oleh kepuasan untuk mencapai sesuatu, membuat sekelompok individu rela menempuh cara apapun (termasuk melakukan tindakan kriminal) untuk mencapai tujuannya. Sebanyak 55% responden setuju bahwa semakin mudahnya proses apply kartu kredit mendorong perkembangan hedonisme. Mudahnya proses pembuatan kartu kredit, membuat sekelompok individu tidak melakukan perhitungan dalam membeli barang karena pembayaran dilakukan setelah jangka waktu tertentu. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Aristoteles (Kenyowati, 2004:8) bahwa tercapainya kebahagiaan mesti menjadi tujuan kehidupan manusia dan bahwa oleh karena itu manusia hendaknya hidup dengan suatu cara yang mendekatkannya pada kebahagiaan tersebut. Cara tersebut ialah menggunakan 5 Fuad Farid Ismail dan AbdulHamid Mutawalli , loc. cit., hal.299 6 Caspar Melville, loc. cit., “Atheism à la mode”, https://newhumanist.org.uk/1421, 2007 7 Poedjawiyatna, loc. cit., hal.44
  • 13. 27 kartu kredit tanpa berpikir panjang ketika berbelanja. Etika yang membuat pencaharian kebahagiaan menjadi prinsip yang paling dasar disebut eudemonisme (dari kata Yunani, ‘eudaimonia’, yaitu kebahagiaan). Pertimbangan yang mendasari etika kebahagiaan itu mudah dimengerti: kebahagiaan adalah tujuan pada dirinya sendiri. Tidak ada yang mengatasinya. Orang yang sudah bahagia, tidak memerlukan apa-apa lagi. Tampaknya masuk akal kalau kehidupan diarahkan pada usaha untuk mencapai kebahagiaan. Berbeda seperti yang dimaksud oleh Aristoteles, bapak peletak dasar filsafat etika. Baginya, eudaimonia merupakan suatu keadaan obyektif. ‘Eudaimonia’ berarti mempunyai jiwa (‘daimon’) dalam keadaan baik 8. Berdasarkan pendapat di atas, tekanan utama paham hedonisme dan faktor- faktor pendorong berkembangnya paham hedonisme menuntut setiap individu untuk dapat lebih menelaah setiap aspek hedonisme dalam kehidupan sehari-hari. Tujuan hedonisme pada dasarnya adalah menciptakan kebahagiaan, sehingga perlu diperhatikan metode yang ditempuh dalam mencapai kebahagiaan tersebut. 8 Aristoteles, loc. cit.