Guru Sebagai Evaluator

5,804 views

Published on

0 Comments
1 Like
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
5,804
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1
Actions
Shares
0
Downloads
62
Comments
0
Likes
1
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Guru Sebagai Evaluator

  1. 1. BAB I1.PENDAHULUANFungsi Guru sebagai evaluator memegang kunci yang penting karenaakan bisa menentukan tingkat keberhasilan siswa. Untuk itu guru haruspandai memainkan peranan nya sebelum memberikan evaluasi terhadapsiswa. Guru harus merumuskan dulu apa tujuan dari evaluasi tersebut,selain itu guru harus pandai menyusun alat evaluasi yang tepat yang akandi gunakan untuk mengukur tujuan dari apa yang hendak di ukur. Belajardan berlatih menyusun alat evaluasi adalah sangat penting untukmendapatkan hasil yang sesuai dengan yang di harapkan. Di dalampembelajaran, fungsi guru sebagai evaluator tidak hanya menilai produk( hasil dari pengajaran ), tetapi juga menilai proses, karena dengan keduakegiatan itu akan di peroleh feedback tentang pelaksanaan interaksiedukatif yang telah di laksanakan.
  2. 2. 1.1 Latar BelakangDalam dunia pendidikan,kita ketahui bahwa setiap jenis dan jenjangpendidikan pada waktu-waktu tertentu/periode pendidikan selalu mengadakan evaluasi, artinya penilaian yang telahdicapai, baik oleh pihak terdidik maupun pendidik. Demikian pula setiap kali proses belajarmengajar, guru hendaknya menjadi evaluator yang baik. Penilaian dilakukan untuk mengetahuiapakah tujuan yang telah dirumuskan itu tercapai atau tidak, apakah materi yang diajarkan sudahdikuasai atau belum oleh siswa, dan apakah metode yang digunakan sudah cukup tepat. Penilaianperlu dilakukan, karena melalui penilaian guru dapat mengetahui keberhasilan pencapaian tujuan,penguasaan siswa terhadap pelajaran, serta ketepatan metode mengajar. Tujuan lain penilaianialah untuk mengetahui kedudukan siswa di dalam kelas atau kelompoknya.Dalam penilaian, guru dapat menetapkan apakah seorang siswa termasuk dalam kelompoksiswa pandai, sedang, kurang, atau cukup baik di kelasnya, jika dibandingkan dengan teman-temannya. Dengan menelaah pencapaian tujuan mengajar, guru dapat mengetahui apakah prosesbelajar mengajar yang dilakukan cukup efektif, cukup memberikan hasil yang baik danmemuaskan, atau sebaliknya. Kiranya jelasl bahwa guru harus mampu dan terampil dalammelaksanakan penilaian, karena dalam penilaian, guru dapat mengetahui prestasi yang dicapaioleh siswa setelah ia mengikuti proses belajar mengajar. Dalam fungsinya sebagai penilaian hasilbelajar siswa, guru hendaknya secara terus menerus mengikuti hasil belajar yang telah dicapaisiswa dari waktu ke waktu. Informasi yang diperoleh melalui evaluasi ini merupakan umpanbalik terhadap proses belajar mengajar, di mana umpan balik ini akan dijadikan titik tolak untukmemperbaiki dan meningkatkan proses belajar mengajar selanjutnya. Dengan demikian, prosesbelajar mengajar akan terus menerus ditingkatkan untuk memperoleh hasil yang optimal. Dariuraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa
  3. 3. guru mempunyai peranan utama dan sangat menentukan dalam pelaksanaan kegiatan belajarmengajar, karena kegiatan belajar mengajar merupakan inti dari proses pendidikan secarakeseluruhan.1.2 Rumusan Masalah1.2.1 Apa kedudukan dan peranan guru sebagai evaluator?1.2.2 Apa pengertian, tujuan, dan fungsi evaluasi?1.2.3 Apa prinsip-prinsip dan teknik evaluasi?1.2.4 Bagaimana cara menyusun tes?1.2.5 Bagaimana cara menganalisis hasil tes?1.2.6 Bagaimana cara memberi nilai hasil tes?1.3 Tujuan Pembahasan1.3.1 Mengetahui kedudukan dan peranan guru sebagai evaluator.1.3.2 Mengetahui pengertian, tujuan, dan fungsi evaluasi.1.3.3 Mengetahui prinsip-prinsip dan teknik evaluasi.1.3.4 Mengetahui cara menyusun tes.1.3.5 Mengetahui cara menganalisis hasil tes.1.3.6 Mengetahui cara member nilai hasil tes.BAB IIPEMBAHASAN2.1 Kedudukan dan Peranan Guru Sebagai EvaluatorPeranan guru di sekolah ditentukan oleh kedudukannya sebagai orang dewasa, sebagaipengajar, pendidik dan sebagai evaluator dan sebagai pegawai. Yang paling utama ialahkedudukannya sebagai pengajar dan pendidik, yakni sebagai guru. Bedasarkan kedudukannyasebagai guru ia harus menunjukkan kelakuan
  4. 4. yang layak bagi guru menurut harapan masyarakat. Apa yang dituntut dari guru dalam aspek etis,intelektual dan sosial lebih tinggi dari pada yang dituntut dari orang dewasa lainnya. Gurusebagai pendidik dan Pembina generasi muda harus menjadi teladan, didalam maupun diluarsekolah. Guru harus senantiasa sadar akan kedudukannya selama 24 jam sehari. Dimana dankapan saja ia akan selalu dipandang sebagai guru yang harus memperlihatkan kelakuan yangdapat ditiru oleh masyarakat, khususnya oleh anak didik.Penyimpangan dari kelakuan yang etis oleh guru mendapat sorotan dan kecaman yang lebihtajam. Masyarakat tidak dapat membenarkan pelanggaran-pelanggaran seperti berjudi, mabuk,pelanggaran seks, korupsi atau ngebut, namun kalau guru melakukannya maka dianggap sangatserius . Guru yang berbuat demikian akan dapat merusak murid-murid yang dipercayakankepadanya. Orang yang kurang bermoral dianggap tidak akan mungkin menghasilkan anak didikyang mempunyai etik tinggi.Sebaliknya harapan-harapan masyarakat tentang kelakuan guru menjadi pedoman bagi guru.Guru-guru memperhatikan tuntutan masyarakat tentang kelakuan yang layak bagi guru danmenjadikannya sebagai norma kelakuan dalam segala situasi sosial di dalam dan di luar sekolah.Ini akan terjadi bila guru menginternalisasi norma-norma itu sehingga menjadi bagian daripribadinya. Ada norma-norma yang umum bagi semua guru di suatu Negara, adapula yang ditentukan oleh norma-norma yang khas yang berlaku di daerah tertentu menurut adat istiadat yangterdapat dilingkungan itu.Kedudukan guru juga ditentukan oleh fakta bahwa ia seorang dewasa . Dalam masyarakat kitaorang yang lebih tua harus di hormati. Oleh sebab guru lebih tua daripada muridnya makaberdasarkan usianya ia mempunyai kedudukan yang harus dihormati, apalagi karena guru jugadipandang sebagai pengganti orang tua. Hormat anak terhadap orang tuanya sendiri harus puladiperlihatkannya terhadap gurunya dan sebaliknya guru harus pula dapat memandang murid
  5. 5. Adapun sejumlah kegiatan yang harus dilakukan guru sejalan dengan peranannya sebagaievaluator dalam interaksi belajar-mengajar ini adalah:1.Memahami sejumlah prinsip yang bersangkutan dengan penilaian terhadap rancangan program,pelaksanaan program serta penilaian hasil belajar, baik yang dimanfaatkan untuk memahamitingkat pencapaian tujuan pengajaran maupun tingkat penguasaan materi pengajaran.2.Berusaha mengidentifikasi fungsi dan pemanfaatan lanjut dari evaluasi, misalnya apakahberkaitan dengan perbaikan rancangan program karena hasil belajar ternyata tidak sesuai dengansituasi belajar-mengajar yang akan diciptakan, untuk mengadakan bimbingan belajar, bimbinganpribadi atau mungkin juga bersangkutan dengan pelaksanaan program itu sendiri.3.Merancang alat pengukur yang akan digunakan, baik dalam kaitannya dengan penilaianrancangan program pengajaran, pelaksanaan pengajaran, terutama yang bersangkutan denganrancangan tes yang memiliki sasaran siswa sebagai subjek belajar.4.Mengembangkan rancangan tes sesuai dengan bentuk yes yang telah ditetapkan, sesuai dengantujuan serta pengalaman belajar yang dimiliki siswa.5.Berusaha memahami tingkat kelebihan alat pengukur yang digunakan.6.Mengadministrasikan tes, baik dari pemberian skor, penentuan hasil, pengarsipan, danpenyimpanan alat ukur.7.Menyusun bahan umpan-balik hasil tes terhadap siswa maupun guru itu sendiri sebagaiperancang maupun pelaksana program dalam interaksi belajr-mengajar. (Masnur,Hasanah,Bassenang,1987)2.2 Pengertian, Tujuan, dan Fungsi Evaluasi Pendidikan2.2.1 Pengertian Pengukuran, Penilaian, dan Evaluasi
  6. 6. Memang tidak semua orang menyadari bahwa setiap saat kita selalu melakukan pekerjaanevaluasi. Dalam beberapa kegiatan sehari-hari, kita jelas-jelas mengadakan pengukuran danpenilaian.Dari dua kalimat di atas kita sudah menemui tiga buah istilah yaitu: evaluasi, pengukuran danpenilaian. Sementara orang memang lebih cenderung mengartikan ketiga kata tersebut sebagaisuatu pengertian yang sama sehingga dalam memaknainya hanya tergantung dari kata mana yangsedang siap untuk diucapkannya. Akan tetapi sementara orang yang lain, membadakan ketigaistilah tersebut. Dan untuk memahami apa persamaan, perbedaan, ataupun hubungan antaraketiganya, dapat dipahami melalui contoh-contoh di bawah ini:1.Apabila ada orang yang akan member sebatang pensil kepada kita, dan kita disuruh memilihantara dua pensil yang tidak sama panjangnya, maka tentu saja kita akan memilih yang“panjang”. Kita tidak akan memilih yang “pendek” kecuali ada alasan yang khusus.2.Pasar, merupakan suatu tempat bertemunya orang-orang yang akan menjual dan membeli.Sebelum menentukan barang yang akan dibelinya, seorang pembeli akan memilih dahulu manabarang yang lebih “baik” menurut ukurannya.Dua langkah kegiatan yang dilalui sebelum mengambil barang untuk kita, itulah yang disebutmengadakan evaluasi, yakni mengukur dan menilai. Kita tidak dapat mengatakan penilaiansebelum kita mengadakan pengukuran.•Mengukur adalah membandingkan sesuatu dengan satu ukuran. Pengukuran bersifat kuantitatif.•Menilai adalah mengambil suatu keputusan terhadap sesuatu dengan ukuran baik buruk.Penilaian bersifat kualitatif.•Mengadakan evaluasi meliputi kedua langkah di atas, yakni mengukur dan menilai.
  7. 7. Dalam istilah asingnya, pengukuran adalah measurement, sedang penilaian adalah evaluation.Dari kata evalution inilah diperoleh kata Indonesia evaluasi yang berarti menilai (tetapi dilakukandengan mengukur terlebih dahulu)(Suharsimi, 1984)2.2.2 Tujuan evaluasi pendidikanEvaluasi pendidikan adalah kegiatan menilai yang terjadi dalam kegiatan pendidikan. Guruataupun pengelola pengajaran mengadakan penilaian dengan maksud melihat apakah usaha yangdilakukan melalui pengajaran sudah mencapai tujuan.Apabila sekolah diumpamakan sebagai tempat mengolah sesuatu dan calon siswa diumpamakansebagai bahan mentah maka lulusan dari sekolah iu dapat disamakan dengan hasil olahan yangsudah siap digunakan. Dalam istilah inovasi yang menggunakan teknologi maka tempatpengolahan ini disebut transformasi.Tujuan utama melakukan evaluasi dalam proses belajar-mengajar adalah untuk mendapatkaninformasi yang akurat mengenai tingkat pencapaian tujuan instruksional oleh siswa sehinggadapat diupayakan tindak lanjutnya. Tindak lanjut termaksud merupakan fungsi evaluasi dan dapatberupa:•Penempatan pada tempat yang tepat•Pemberian umpan balik•Diagnosis kesulitan belajar siswa•Penentuan kelulusan2.2.3 Fungsi Evaluasi PendidikanDengan mengetahui manfaat evaluasi ditinjau dari berbagai segi dalam sistem pendidikan, makadengan cara lain dapat dikatakan bahwa fungsi evaluasi ada beberapa hal:
  8. 8. 1.Evaluasi berfungsi selektifDengan cara mengadakan evaluasi guru mempunyai cara untuk mengadakan seleksi terhadapsiswanya. Seleksi itusendiri mempunyai berbagai tujuan, antara lain:1.Untuk memilih siswa yang dapat diterima disekolah tertentu2.Untuk memilih siswa yang dapat naik ke kelas atau tingkat berikutnya.3.Untuk memilih siswa yang seharusnya mendapat beasiswa.4.Untuk memilih siswa yang sudah berhak meninggalkan sekolah dan sebagainya.2. Evaluasi berfungsi diagnostikApabila alat yang digunakan dalam evaluasi cukup memenuhi persyaratan, maka dengan melihahasilnaya, guru akan mengetahuai kelemahan siswa. Di samping itu diketahui pula sebab-musabab kelemahan itu. Jadi dengan mengadakan evaluasi, sebenarnya guru mengadakandiagnosis kepada siswa tentang kebaikan dan kelemahannya. Dengan diketahuinya sebab-sebakelemahan ini, akan lebih mudah dicari cara untuk mengatasi.3.Evaluasi berfungsi sebagai penempatanSistem baru yang kini banyak dipopulerkan di Negara barat adalah sistem belajar sendiri. Belajar sendiridapat dilakukan dengan cara mempelajari sebuah paket belajar, baik itu berbentuk modul maupun paketbelajar yang lain. Sebagai alasan dari timbulnya sistem ini adalah adanya pengakuan yang besar terhadapkemampuan individual. Setiap siswa sejak lahirnya telah membawa bakar sendiri-sendiri sehingga pelajaranakan lebih efektif apabila disesuaikan dengan pembawaan yang ada. Akan tetapi disebabkan keterbatasansarana dan tenaga, pendidikan yang bersifat individual kadang-kadang sukar sekali dilaksanakan. Pendekatayang lebih bersifat melayani perbedaan kemampuan adalah pengajaran secara kelompok. Untuk dapatmenentukan dengan pasti dikelompok
  9. 9. mana seorang siswa harus ditempatkan, digunakan suatu evaluasi. Sekompok siswayang mempunyai hasil evaluasi yang sama, akan berada dalam kelompok yang samadalam belajar.4..Evaluasi berfungsi sebagai pengukuran keberhasilanFungsi keempat dari evaluasi ini dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana suatuprogram berhasil diterapkan. Keberhasilan program ditentukan oleh beberapa factoryaitu faktor guru, metode mengajar, kurikulum, sarana dan sistem kurikulum.2.3 Prinsip-prinsip dan teknik Evaluasi2.3.1 Prinsip-prinsip EvaluasiTerdapat beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam melakukan evaluasi.Betapapun baiknya prosedur evaluasi diikuti dan sempunanya teknik evaluasiditerapkan, apabila tidak dipadukan dengan prinsip-prinsip penunjangnya maka hasilevaluasi pun kurang akan kurang dari yang diharapkan. Prinsip-prinsip termaksudadalah sebagai berikut:1.KeterpaduanEvaluasi merupakan komponen integral dalam program pengajaran di samping tukuaninstruksional dan materi serta metode pengajaran. Tujuan instruksional, materi danmetode pengajaran, serta evaluasi merupakan tiga kesatuan terpadu yang tidak bolehdipisahkan. Karena itu, perencanaan evaluasi harus sudah ditetapkan pada waktumenyusun satuan pengajaran sehingga dapat disesuaikan secara harmonis dengan tujuaninstruksional dan materi pengajaran yang hendak disajikan.2.Keterlibatan siswa
  10. 10. Prinsip ini berkaitan erat dengan metode belajar CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif)yang menuntutketerlibatan siswa secara aktif, siswa mutlak. Untuk dapat mengetahui sejauh mana siswaberhasil dalam kegiatan belajar-mengajar yang dijalaninya secara aktif, siswa membutuhkanevaluasi. Dengan demikian, evaluasi bagi siswa merupakan kebutuhan, bukan swauatu yang ingindihindari. Penyajian evaluasioleh guru merupakan upaya guru untuk memenuhi kebutuhan siswaakan informasi mangenai kemajuannya dalam program belajar-mengajar. Siswa akan merasakecewa apabila usahanya tidak dievaluasi.3.KoherensiDengan prinsip koherensi dimaksudkan evaluasi harus berkaitan dengan materi pengajaran yangsudah disajikan dan sesuai dengan ranah kemampuan yang hendak diukur. Tidak dapatdibenarkan menyusun alat evaluasi hasil belajar atau evaluasi pencapaian belajar yangmengukurbahan yang belum disajika dalam kegiatan belajar-mengajar. Demikian pula tidakditerima apabila alat evaluasi berisi butir yang tidak berkaitan dengan bidang kemampuan yanghendak diukur.4.PedagogisDisamping sebagai alat penilai hasil/pencapaian belajar, evaluasi juga perlu diterapkan sebagaiupaya perbaikan sikap dan tingkah laku ditinjau dari segi pedagigis. Evaluasi dan hasilnyahendaknya dapat dipakai sebagai alat motivasi untuk siswa dalam kegiatan belajarnya. Hasilevaluasi hendaknya dirasakan sebagai ganjaran (reward) yakni sebagai penghargaan bagi yangberhasil tetapi merupakan hukuman bagi yang tidak/kurang berhasil.5.AkuntabilitasSejauh mana keberhasilan program pengajaran perlu disampaikan kepada pihak-pihak yang berkepentingandengan pendidikan sebagai laporan pertanggungjawaban (accountability). Pihak-pihak termaksud antara lainorang tua, calon majikan, masyarakatlingkungan pada umumnya, dan lembaga
  11. 11. pendidikan sendiri. Pihak-pihak ini perlu mengetahui keadaan kemajuan belajar siswaagar dapat dipertimbangkan pemanfaatannya.2.3.2 Teknik EvaluasiSecara garis besar, teknik evaluasi yang digunakan dapat digolongkan menjadi 2macam, yaitu: teknik tes dan teknik non-tes.1.Teknik non-tesAda beberapa teknik non-tes yaitu:1.Skala bertingkat (rating scale)Skala menggambarkan suatu nilai yang berbentuk angka terhadap suatu hasilpertimbangan. Sebagai contoh adalah skor atau biji yang diberikan oleh guru di sekolahuntuk menggambarkan tingkat prestasi belajar siswa. Siswa yang mendapat skor 8,digambarkan ditempat yang lebih kanan dalam skala, dibandingkan penggambaran skor5.Biasanya angka-angka yang digunakan diterangkan pada skala dengan jarak yangsama. Meletakkannya secara bertingkat dari yang rendah ke yang tinggi. Dengandemikian maka skala ini dinamakan skala bertingkat.2.KuesionerKuesioner juga sering dikenal sebagai angket. Pada dasarnya, kuesioner adalahsebuah daftar pertanyaan yang harus diisi oleh orang yang akan diukur (responden).Dengan kuesioner ini orang dapat diketahui tentang keadaan / data diri, pengalaman,pengetahuan sikap atau pendapatnya dan lain-lain. Tentang macam-macam kuesioner,dapat ditinjau dari beberapa segi:
  12. 12. 1) Ditinjau dari segi siapa yang menjawab, maka ada:a) Kuesioner langsungKuesioner dikatakan langsung jika kuesioner tersebut dikirimkan dan diisi langsungoleh orang yang akan dimintai jawaban tentang dirinya.b) Kuesioner tidak langsungKuesioner tidak langsung adalah kuesioner yang dikirimkan dan diisi oleh bukan orangyang dimintai keterangannya. Kuesioner tidak langsung biasanya digunakan untukmencari informasi tentang bahan, anak, saudara, tetangga dan sebagainya.2) Ditinjau dari segi cara menjawab:a) Kuesioner tertutup.Kuesioner tertutup adalah kuesioner yang disusun dengan menyediakan pilihan jawabanlangkah sehingga pengisi hanya tinggal member tanda pada jawaban yang dipilih.Contoh :Tingkat pendidikan yang sekarang Anda ikuti adalah:SD SLTP SLTU Perguruan TinggiTanda cek (V) di bubuhkan pada kotak di depan “perguruan tinggi” jika pengisiberstatus mahasiswa.b) Kuesioner terbukaKuesioner terbuka adalah kuesioner yang disusun sedemikian rupa sehingga para pengisi bebasmengemukakan pendapatnya. Kuesioner terbuka disusun apabila
  13. 13. Pernyataan Penting Biasa Tidak penting1. Melihat pemandangan2. Olahraga tiap hari3. Melihat filmmacam jawaban pengisi belum terperinci dengan jelas sehingga jawabannya adalah beranekaragam.Contoh:Untuk membimbing mahasiswa kea rah kebiasaan membaca buku-buku asing, maka sebaiknya setiap dosenmenunjuk buku asing sebagai salah satu buku wajib. Bagaimana pendapat saudara?Jawaban :………………………………………….1.Daftar cocok (check list)Yang dimaksud dengan daftar cocok adalah deretan pertanyaan (yang biasanya disingkat-singkat), dimanaresponden yang dievaluasi tinggal membubuhkan tanda cocok ( ) di tempat yang sudah disediakan.Contoh : berikan tanda cek pada kolom yang sesuai dengan pendapat saudara.2.Wawancara (interview)Wawancara adalah suatu cara yang digunakan untuk mendapatkan jawaban dariresponden dengan jalan Tanya jawab sepihak.Dikatakan sepihak karena dalamwawancara ini responden tidak diberi kesempatan sama sekali untuk mengajukanpertanyaan. Pertanyaan hanya diajukan oleh subjek evaluasi.Wawancara dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu:
  14. 14. a) Interview bebas, dimana responden mempunyai kebebasan untuk mengutarakanpendapatnya, tanpa dibatasi oleh patokan-patokan yang telah dibuat oleh subjek evaluasi.b) Interview terpimpin, yaitu interview yang dilakukan oleh subjek evaluasi dengan caramengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sudah disusun terlebih dahulu. Jadi dalam hal iniresponden pada waktu menjawab pertanyaan tinggal memilih jawaban yang sudah dipersiapkanoleh penanya. Pertanyaan itu kadang-kadang bersifat sebagai pemimpin, mengarahkan danpenjawab sudah dipimpin oleh sebuah daftar cocok, sehingga dalam menuliskan jawaban, iatinggal membubuhkan tanda cocok ditempat yang sesuai dengan keadaan responden.3.Pengamatan (observation)Pengamatan adalah suatu teknik yang dilakukan dengan cara mengadakan pengamatan secarateliti serta pencatatan secara sistematis.Ada 3 macam observasi:1) Observasi partisipan, yaitu observasi yang dilakukan oleh pengamat, tetapi dalam pada itupengamat memasuki dan mengikuti kegiatan kelompok yang sedang diamati. Observasipartisipan dilaksanakan sepenuhnya jka pengamat betul-betul mengikuti kegiatan kelompok,bukan hanya pura-pura. Dengan demikian ia dapat menghayati dan merasakan seperti apa yangdirasakan orang-orang dalam kelompok yang diamati.2) Observasi sistematik, yaitu observasi dimana faktor-faktor yang diamati sudah didaftarsecara sistematis dan sudah diatur menurut kategorinya. Berbeda dengan observasi partisipan,maka dalam observasi sistematik ini pengamat berada di luar kelompok. Dengan demikian makapengamat tidak dibingungkan oleh situasi yang melingkungi dirinya.
  15. 15. 3) Observasi eksperimental, terjadi jika pengamat tidak berpartisipasi dalamkelompok. Dalam hal ini ia dapat mengendalikan unsure-unsur penting dalam situasisedemikian rupa sehingga situasi itu dapat diatur sesuai dengan tujuan evaluasi.4.Riwayat hidupRiwayat hidup adalah gambaran tentang keadaan seseorang selama dalam masakehidupnya. Dengan mempelajari riwayat hidup, maka subjek evaluasi akan dapatmenarik suatu kesimpulan temtang kepribadian kebiasaan dan sikap dari objek yangdimulai.2. Teknik tesTes merupakan suatu alat pengumpul informasi tetapi jika dibandingkan dengan alat-alat yang lain, tes ini bersifat lebih resmi karena penuh dengan batasan-batasan.Ditinjau dari segi kegunaanuntuk mengukur siswa, maka dibedakan atas adanya 3macam tes, yaitu:a) Tes diagnostikTes diagnostik adalah yang digunakan untuk mengetahui kelemahan-kelemahan siswasehingga berdasarkan kelemahan-kelemahan tersebut dapat dilakukan pemberianperlakuan yang tepat.b) Tes formatifDari arti kata “form” yang merupakan dasar dari istilah “formatif” maka evaluasiformatif dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana siswa telah terbentuk setelahmengikuti sesuatu program tertentu. Dalam kedudukannya seperti ini tes formatif dapatjuga dipandang sebagai tes diagnostik pada akhir pelajaran.
  16. 16. TIK dan Aspek tingkah lakuIngatan Pemahaman Aplikasi Keterangan1. Sisawa dapat menjumlah kan 2 bilanganbersusunV VEvaluasi formatif atau tes formatif diberikan pada akhir setiap program. Tes ini merupakan post-test atau resakhir proses.c) Tes sumatifEvaluasi simatif atau tes sumatif dilaksanakan setelah berakhirnya pemberian sekelompok program atausebuah program yang lebih besar. Dalam pengalaman di sekolah, tes formatif dapat disamakan denganulangan harian, sedangkan res sumatif ini dapat disamakan dengan ulangan umum yang biasanyadilaksanakan pada tiap akhir catur wulan atau akhir semester.(Daryanto,2007)2.4 Langkah-langkah penyusunan tesTentu saja setiap guru akan dengan mudah mengatakan bagian pelajaran mana yang akan dicakup dalamsebuah tes jika sudah diketahui tujuannya. Urutan langkah yang dilakukan adalah:1.Menentukan tujuan mengadakan tes.2.Mengadakan pembatasan terhadap bahan yang akan diteskan.3.Merumuskan tujuan instruksional khusus (TIK) dari tiap bagian bahan.4.Menderetkan semua TIK dalam tabel persiapan yang memuat pula aspek tingkah laku terkandung dalamTIK itu. Tabel ini digunakan untuk mengadakan identifikasi terhadap tingkah laku yang dikehendaki, agartidak terlewati.Contoh :Tabel TIK dan aspek tingkah laku yang dicakup.
  17. 17. Bilangan bersusun1. Siswa dapat menerangkan hukum komulatifdan sebagainyaV V1.Menyusun tabel spesifikasi yang memuat pokok materi, aspek berpikir yang diukurbesertaimbangan antara kedua hal tersebut. Uraian secara terperinci tentang tabel spesifikasi, akan disajikan bada bab berikutnya.2.Menuliskan butir-butir soal, didasarkan atas TIK-TIK yang sudah dituliskan pada tabel TIK danaspek tingkah laku yang dicakup. Apabila TIK ditulis sangat khusus, maka satu TIK diukuroleh satu butir soal. jika TIKitu merupakan TIKesensial, maka satu TIK dapat diukur denganlebih dengan satu butir soal.(Suharsimi,1984))2.5 Menganalisis Hasil Tes2.5.1 Menilai tes yang dibuat sendiriAda 4 cara untuk menilai tes, yaitu:1.Cara pertama meneliti secara jujur soal-soal yang sudah disusun, kadang-kadang dapatdiperoleh jawaban tentang ketidakjelasan perintah atau bahasa, taraf kesukaran dan lain-lainkeadaan soal tersebut.Pertanyaan-pertanyaan tersebut antara lain:(1) Apakah pertanyaan soal untuk tiap topik sudah seimbang?(2) Apakah semua soal menanyakan bahan yang telah diajarkan
  18. 18. (3) Apakah soal yang kita susun tidak merupakan pertanyaan yang membingungkan?(4) Apakah soal itu tidak sukar untuk dimengerti?(5) Apakah soal itu dapat dikerjakan oleh sebagian besar siswa?2.Cara kedua adalah mengadakan analisis soal (terms analysis)Analisis soal adalah suatu proses yang sistematis, yang akan memberikan informasi-informasi yang sangat khusus terhadap butir tes yang kita susun.Faedah mengadakan analisis soal:(1) Membantu kita dalam mengidentifikasi bitur-butir soal yang jelek(2) Memperoleh informasi yang akan dapat digunakan untuk menyempurnakan soal-soal untuk kepentingan lebih lanjut.(3) Memperoleh gambaran secara selintas tentang keadaan yang kita susun.3.Cara ketiga adalah mengadakan checking validitas. Validitas yang paling penting darites buatn guru adalah validitas kulikuler (content validity). Utuk mengadakan checkingvaliditas kulikuler, kita harus merumuskan tujuan setiap bagian pelajaran secara khususdan jelas sehingga setiap soal dapat kita jodohkan dengan setiap tujuan khusus tersebut.Tes yang tidak mempunyai validitas kulikuler atau walaupun mempunyai tetapi kecil,maka dapat juga terjadi jika salah satu atau beberapa tujuan khusus tidak dicantumkandalam tabel spesifik. Semakin banyak tujuan khusus yang tidak dicantumkan, berartibahwa validitas kulikulernya semakin kecil
  19. 19. 4.Cara keempat adalah dengan mengadakan Checking reabilita. Salah satu indicator untuk tesyang mempunyai reliabilitas yang tinggi adalah bahwa kebanyakan dari soal-soal tes itumempunyai daya pembeda yang tinggi.2.5.2 Analisis Butir-butir SoalAnalisis soal antara lain bertujuan untuk mengadakan identifikasi soal-soal yang baik, kurangbaik, dan soal yang jelek. Dengan analisis soal dapat diperoleh informasi tentang kejelekansebuah soal dan “petunjuk” untuk mengadakan perbaikan.Kapan sebuah soal dikatakan baik? Untuk memberikan jawaban terhadap pertanyaan ini, perluditerangkan tiga masalah yang berhubungan dengan analisis soal, yaitu:1. Taraf kesukaranSoal yang baik adalah soal yang tidak terlalu mudah atau tidak terlalu sukar. Soal yang terlalumudah tidak merangsang siswa untuk mempertinggi usaha memecahkannya. Sebaliknya soalyang terlalu sukar akan menyababkan siswa menjadi putus asa dan tidak mempunyai semangatuntuk mencoba lagi karena di luar jangkauannya.2.Daya pembedaDaya pembeda soal adalah kemampuan sesuatu soal untuk membedakan antara siswa yangpandai (berkemampuan tinggi) dengan siswa yang bodoh (berkemampuan remdah). Angka yangmenunjukkan besarnya daya pembeda disebut indeks kesukaran, indeks diskriminasi (dayapembeda) ini berkisar antara 0,00 sampai 1,00. Hanya bedanya, indeks kesukaran tidak mengenaltanda negatif (-), tetapi pada indeks diskriminasi ada tamda negatif. Tanda negative pada indeksdiskriminasi digunakan jika sesuatu soal “terbalik” menunjukkan kualitas testee. Yitu anak pandaidisebut bodoh dan anak bodoh disebut pandai.
  20. 20. 3. Pola jawaban soalYang dimaksud dengan pola jawaban disini adalah distribusi testee dalam hal menentukanpilihan jawabanpada soal bentuk pilihan ganda. Pola jawaban soal diperoleh dengan menghitungbanyaknya testee yang memilih pilihan jawaban a, b, c, atau d yang tidak memilih pilihanmanapun (blangko). Dalam evaluasi disebut omit, disingkat O.Dari pola jawaban soal dapat ditentukan apakah pengecoh (distractor) berfungsi sebagaipengecoh dengan baik atau tidak. Pengecoh yang tidak dipilih sama sekali oleh testee berartipengecoh itu jelek, terlalu menyolok menyesatkan. Sebaliknya sebuah pengecoh dapat dikatakanberfungsi dengan baik apabila distraktor tersebut mempunyai daya tarik yang besar bagipengikut-pengikut tes yang kurang memahami konsep atau kurang menguasai bahan.Dengan melihat pola jawaban soal, dapat diketahui:(1) Taraf kesukaran soal.(2) Taraf pembeda soal.(3) Baik dan tidaknya distraktor.Sesuatu distraktor dapat diperlakukan dengan 3 cara:a) Diterima, karena sudah baik.b) Ditolak karena tidak baikc) Ditulis kembali, karena kurang baik.Kekurangannya mungkin hanya terletak pada rumusan kalimatnya sehingga hanya perlu dituliskembali, dengan perubahan seperlunya.Menulis soal adalah suatu kesukaran yang sulit, sehingga apabila masih dapat
  21. 21. Menulis soal adalah suatu kesukaran yang sulit, sehingga apabila masih dapat distraktor dapatdikatakan berfungsi baik jika paling sedikit dipilih 5% pengikut tes.(evaluasi pendidikan, daryanto)2.6 Pemberian NilaiPemberian nilai (grading) merupakan proses penerjemahan skor hasil tes yang telahdikonversikan., kedalam klasifikasi evaluasi menurut norma atau kriteria yang relevan.Apa yang terjadi selama ini, banyak di antara para guru sendiri yang masih mencampuradukkanantara dua pengertian yaitu skor dan nilai.Skor : adalah hasil pekerjaan menskor yang diperoleh dengan menjumlahkan angka-angkabagi setiap soal tes yang dijawab betul oleh siswa.Nilai : adalah angka ubahan dari skor, dimana sudah dijadikan satu dengan skor-skor lainserta telah disesuaikan pengaturannya dengan suatu standar tertentu. (dasar2 evaluasi pendidikan,suharsimi)2.6.1 Penilaian RelatifPenilaina relative adalah pemberian nilai terhadap siswa yang didasarkan atas norma kelas ataunorma kelompok yaitu dengan menentukan posisi relatifnya terhadap siswa lain. Nama lain untukpenilain relatif adalah norm-referenced evaluation.Norma sendiri berarti rata-rata, yang menunukkan kepada kecenderungan umum suatukelompok. Karakteristik distribusi hasil tes akan sangat menentukan skor yang menjdai batasangka yang sesuai dengan norma penilaiain yang berlaku bagi masing-masing kelompok siswayang bersangkutan. Skor yang menjadi batasan angka yang sesuai dengan norma itu baru dapatdihitung bila data skor tes
  22. 22. telah diperoleh akan tetapi norma penilaiannya sendiri harus sudah ditetapkan terlebih dahulu.Berikut ini adalah uraian mengenai beberapa prosedur pemberian nilai relatif.1.Penilaian dengan persentilSalah satu prosedur penilaian relatif adalah dengan menggunakan persentil (pn) yang dihitungdari distribusi skor kelas. Dengan cara ini ditentukan terlebih dahulu suatu norma penilaian yangdiinginkan.Norma tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:E D C B A(10%) (20%) (40%) (25%) (5%)P10 P30 P70 P95Selanjutnya, apabila distribusi skor para siswa telah didapat, keempat skor presentil yang telahditentukan itu dihitung. Setelah harga masing-masing persentil ditemukan, maka skor mentahpara siswa dapat diterjemahkan kedalam nilai huruf yang dikehendaki semula.2.Penilaian dengan skor standarPemberian nilai yang menggunakan skor standar dilakukan dengan mengubah skor hasil tes siswake dalam bentuk penyimpangannya dari mean dalam satu deviasi srandar. Dalam hal ini punsuatu pedoman pemberian nilai yang merupakan norma, ditentukan terlebih dahulu.Sebagai suatu contoh, untuk memberikan suatu nilai dalam lima kategori seperti di atas,ditetapkan terlebih dahulu norma
  23. 23. 3.Penilaian dengan stanineStanine (dibaca stenain) adalah semacam skor standar yang membagi distribusi frekuensiskor kedalam Sembilan bagian. Istilah stanine berasal dari kata standard nine.Dalam system penilaian ini, angka stanine yang tertinggi adalah 9 dan yang terendah adalah1 sehingga terdapat 9 klasifikasi nilai dengan angka 5 terletak ditengah-tengah klasifikasi.Distribusi stanine merupakan distribusi skor standar yang memiliki mean sebesar 5 dan deviasistandar sebesar 1. Setiap nilai stanine, kecuali 0 dan 1, mencakup sebaran skor mentah yangluasnya 0,50s.Stanine 1 2 3 4 5 6 7 8 9Presentase 4% 7% 12% 17% 20% 17% 12% 7% 4%2.6.2 Penilain AbsolutPenilaian absolut adalah pemberian nilai yang didasarkan atas tercapainya suatu standar ataucriteria penguasaan (competence) tertentu yang telah ditetapkan terlebih dahulu.Penilaian absolut tidak membandingkan posisi atau kedudukan relatif sibjek yang satudengan posisi subjek yang lain dalam kelompoknya akan tetapi melihat apakah performansisubjek sudah mencapai batas tertentu. Dengan kata lain, penilaian absolute akan melihat apakahsubjek mampu melakukan tugas spesifik yang ada dalam tes. Karena itu pula, penilaian absolutebiasanya dipergunakan dalam mastery testing dimana setiap tujuan tes dinyatakan dalam tugas-tugas spesifik secara tegas. Kriteria sebagai ukuran penugasan yang diindikasikan olehperformansi subjek dapat berupa kecepatan penyelesaian, kecermatan pengerjaan, ataupunpersentase aitem yang dapat dijawab dengan benar.
  24. 24. 2.6.3 Penilaian KombinasiProsedur penilain relatif maupun penilaian absolut yang diterapkanseperti apa adanya tidak selalu dapat memuaskan. Bahkan kadang-kadang tidak mungkin untuk dilakukan. Hal tersebut disebabkan keadaandistribusi skor hasil tes yang tidak selalu mumanuhi asumsi tertentusebagai syarat penggunaan salah satu prosedur yang bersangkutan ataudisebabkan alas an-alasan praktis dan pertimbangan-pertimbangandidaktik lain.Menghadapi kemungkinan tidak dapatnya penerapan prosedurpenilaian relatif atau absolut secara murni, suatu kombinasi dari keduaprosedur tersebut dapat digunakan sebagai jalan keluar.Gambaran Sederhana prosedur kombinasi ini adalah penetapan lebihdahulu suatu skor sebagai criteria yang harus dicapaioleh siswakemudian penerapan norma penilaian relatif pada kelompok siswa yangmelampaui criteria tersebut.(Saifudin Azwar,1996)
  25. 25. BAB III3.PENUTUP3.1 KesimpulanPada dasarnya guru sebagai evaluator harusmemahami dan menguasai sejumlah prinsip yangbersangkutan dengan penilaian terhadap rancanganprogram, pelaksanaan program serta penilaian hasilbelajar, baik yang dimanfaatkan untuk memahamitingkat pencapaian tujuan pengajaran maupuntingkat penguasaan materi pengajaran.
  26. 26. 3.2 SaranAgar tujuan pembelajaran dapat berhasil dan predikatguru sebagai guru professional yang diidolakan makaguru bersama-sama saling intropeksi sudah sampaisejauh mana peran para guru dalam melaksanakantugas pendidikan. Janganlah kita hanyamenuntut haktapi lalai dalam melaksanakan tugas, tetapi marilahkita melaksanakan tugas kita sebaik-baik nyakemudian kita menuntut hak kita. Sebagai ujungtombak dalam keberhasilan pembelajaran, marilahmenjadi guru yag professional demi keberhasilanpembelajaran dalam pendidikan
  27. 27. 3.3. Daftar PustakaSujadi,Hamid.1990.Panduan Penilaian Terhadap Siswa. Surabaya : UniversitasSurabayaUsman,Uzer. 2002. Menjadi Guru Profesional . Jakarta : PT. GramediaWahyuni, Eliza. 1997. Modul Pedoman Guru Sebagai Evaluator. Solo : Balai PustakaWebsite : http:e-resourses.pnri.go.idSuharsimi.1984. .Pengertian,Tujuan,dan Fungsi Evaluasi Pendidikan.Jakarta :Fakultas Ilmu Budaya Universitas IndonesiaMasnur, Hasanah & Bassenang,1987.Peranan Guru.Yogyakarta :Universitas Gadjah Mada PressNasution.1995.Kedudukan Guru dan Peranan Guru Sebagai Evaluator. Jakarta :Universitas Negeri JakartaAzwar ,Saifudin.1996.Pemberian Nilai Terhadap Siswa. Yogyakarta :Universitas TerbukaDaryanto.2007.Teknik Evaluasi. Jakarta : PT. Gelora Aksara

×