Your SlideShare is downloading. ×
Laporan Praktikum Kesuburan Tanah
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

×
Saving this for later? Get the SlideShare app to save on your phone or tablet. Read anywhere, anytime – even offline.
Text the download link to your phone
Standard text messaging rates apply

Laporan Praktikum Kesuburan Tanah

2,474

Published on

Published in: Education
0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total Views
2,474
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
45
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

Report content
Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
No notes for slide

Transcript

  • 1. Laporan Praktikum Kesuburan Tanah LAPORAN PRAKTIKUM KESUBURAN TANAH Oleh : EDI NUGROHO 11011025 PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI FAKULTAS AGROINDUSTRI UNIVERSITAS MERCU BUANA YOGYAKARTA 2013
  • 2. Laporan Praktikum Kesuburan Tanah LAPORAN PRAKTIKUM KESUBURAN TANAH Di susun oleh : Edi Nugroho 11011025 Laporan tersebut telah di terima sebagai persyaratan yang di perlukan untuk menempuh praktikum Kesuburan Tanah Yogyakarta, 23 Juni 2013 Mengetahui / Menyetujui Dosen Pengampu Ir.Bambang Sriwijaya, M.P.
  • 3. iii KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada praktikan, sehingga praktikan berhasil menyelesaikan Laporan Praktikum Kesuburan Tanah ini. Laporan ini akan praktikan gunakan sebagai Laporan akhir Praktikum Kesuburan Tanah. Dengan laporan ini kita bisa mengetahui bagai mana tentang pengomposan dengan dua macam probiotik, Keasaman, Temperatur, dan juga Identifikasi Pupuk An-0rganik. Diharapkan laporan ini dapat memberikan banyak informasi untuk kita semua khususnya di bidang pertanian. Tidak lupa, praktikan mengucapkan terimakasih khususnya kepada Bpk. Ir. Bambang Sriwijaya,M.P. selaku dosen pengampu mata kuliah Praktikum Kesuburan Tanah Praktikan menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu praktikan harapkan demi kesempurnaan laporan ini. Akhir kata, praktikan sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan laporan ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha kita. Aamiin. Yogyakarta,06 Juni 2013 Praktikan Edi Nugroho/11011025
  • 4. iv DAFTAR ISI KATA PENGANTAR ………………………………………. iii DAFTAR ISI …………………………………..…... iv DAFTAR LAMPIRAN ………………………………………. v BAB I. PENDAHULUAN ……………………………....………. 1 1.1. Latar Belakang ……..……………………................. 1 1.2. Maksud dan Tujuan ……………………………………..... 2 BAB II. TINJAUAN PUSTAKA ……………………………..... 3 2.1. Kompos ………………………………………. 3 2.2. Keasaman ………………………………………. 7 2.3. Temperatur ………………………………………. 8 2.4. Identifikasi Pupuk An-0rganik …………………............…... 8 BAB III. METODOLOGI PRAKTIKUM ………………….…… 10 3.1. Waktu Dan Tempat ……….………………………………. 10 3.2. Alat Dan Bahan ……….…………………….......……. 10 3.3. Cara Kerja ………………………………………. 12 BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ………………………. 18 4.1. Hasil A. Kompos ………………………………………. 17 B. Keasaman ………………………………………. 19 C. Temperatur ………………………………………. 20 D. Identifikasi Pupuk An-0rganik ……...………………. 21 4.2. Pembahasan A. Kompos ………………………………………. 21 B. Keasaman ………………………………………. 25 C. Temperatur ………………………………………. 26 D. Identifikasi Pupuk An-0rganik ...........………………. 27 BAB V. KESIMPULAN ……………………………………..... 29 DAFTAR PUSTAKA DAFTAR LAMPIRAN
  • 5. v DAFTAR LAMPIRAN (GAMBAR, TABEL DAN GRAFIK) DAFTAR GAMBAR Gambar 2. Kompos ………………………………………… 17 Gambar 1. Probiotik ………………………………………… 17 DAFTAR TABEL Tabel 1. Hasil titrasi kadar C-organik ………………………… 18 Tabel 2. Hasil titrasi kadar N Total ………………………… 18 Tabel 3. Hasil perhitungan Rasio C/N ………………………… 19 DAFTAR GRAFIK Grafik 1. Pengamatan harian derajat keasaman (pH) ………………... 19 Grafik 2. Pengamatan harian temperature / suhu ………………... 20 Grafik 4.Pengamatan tingkat kelarutan ………………………... 20 Grafik 3.Pengamtan higroskopisitas ………………………... 21
  • 6. 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kesuburan tanah suatu lahan pertanian berbeda-beda, tergantung dari bahan organik yang terkandung di dalam setiap lapisan tanah, topografi, tekstur, struktur, solum dan juga aktifitas mikroorganisme dalam tanah. Kesuburan tanah ini mempunyai arti yang sangat penting sebab tanah subur adalah tanah yang mempunyai kapasitas dan kemampuan untuk dapat menyediakan unsur hara bagi tanaman dengan jumlah tepat sehingga dapat menghasilkan produksi yang optimal (Indranada, 1994). Tanah memang diciptakan untuk terus menerus dikelola, namun karena adanya pengelolaan tanah yang terus menerus sehingga mengakibatkan tingkat kesuburan tanah dapat menurun. Menurunnya tingkat kesuburan suatu tanah menyebabkan berkurangnya ketersediaan unsur hara di dalam tanah sehingga dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Tidak semua jenis tanah mampu menyediakan unsur hara yang dibutuhkan bagi perkembangan tanaman. Akibat yang dapat ditimbulkan jika suatu tanah kekurangan unsur hara adalah tanaman tidak dapat tumbuh dengan baik, sehingga akan dapat menurunkan produksinya (Poerwidodo, 1992). Salah satu usaha yang dilakukan untuk mengembalikan kesuburan tanah di daerah pertanian adalah penggunaan pupuk secara benar. Pupuk sendiri dibedakan menjadi dua macam yaitu pupuk organic (kompos) dan pupuk an-organik (kimia) yang keduanya memiliki fungsi yang sama yaitu untuk memenuhi kebutuhan hara bagi tanaman. Pupuk adalah suatu bahan yang digunakan untuk mengubah sifat fisik, kimia, biologi, tanah sehingga menjadi lebih baik bagi pertumbuhan tanaman. Termasuk dalam pengertian ini adalah pemberian bahan kapur dengan maksud untuk meningkatkan pH tanah yang asam dan pemberian – pemberian benah tanah untuk memperbaiki sifat fisik tanah. Dalam pengertian yang khusus pupuk dalah suatu bahan yang mengandung satu atau lebih hara tanaman. (Afandie dan Nasih Widya, 2002).
  • 7. 2 Pupuk organik adalah pupuk yang tersusun dari materi makhluk hidup, seperti pelapukan sisa -sisa tanaman, hewan, dan manusia. Pupuk organik dapat berbentuk padat atau cair yang digunakan untuk memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah. Pupuk organik mengandung banyak bahan organik daripada kadar haranya. Sumber bahan organik dapat berupa kompos, pupuk hijau, pupuk kandang, sisa panen (jerami, brangkasan, tongkol jagung, bagas tebu, dan sabut kelapa), limbah ternak, limbah industri yang menggunakan bahan pertanian, dan limbah kota (sampah). Pupuk anorganik adalah pupuk yang dibuat oleh pabrik-pabrik pupuk dengan meramu bahan-bahan kimia anorganik berkadar hara tinggi. Misalnya urea berkadar N 45-46% (setiap 100 kg urea terdapat 45-46 kg hara nitrogen) (Lingga dan Marsono, 2000). Pada praktikum ini dilakukan cara pembuatan pupuk organik (pengomposan) dengan dua macam probiotik yaitu pembuatan kompos dengan Bahan probiotik urin sapi dan bahan probiotik kotoran sapi. Dan juga dilakukanya identifikasi pupuk anorganik. 1.2. Maksud dan Tujuan 1. Membandingkan hasil pengomposan dengan dua macam probiotik berdasarkan data pengamatan yang diperoleh. 2. Dalam membandingkan boleh menggunakan uji yang sudah diperoleh dalam pelajaran rancangan percobaan. 3. Memberikan bahasan dari hasil pembandingan tersebut. 4. Mengamati kadar C-organik kompos pada proses pengomposan. 5. Mengamati kadar N kompos pada proses pengomposan. 6. Mengamati rasio C/N pada proses pengomposan. 7. Mengamati suhu dan keasaman kompos dalam pengomposan. 8. Mengamati kemampuan pupuk anorganik dalam menyerap air pada kondisi suhu kamar. 9. Mengamati pupuk untuk larut dalam air.
  • 8. 3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Kompos A. Probitik Probiotik merupakan organisme yang dapat dimanfaatkan untuk membantu mempercepat digradasi limbah organic. Dengan menambahkanya pada limbah yang akan dikomposkan dapatmempercepat proses pengomposan. Adanya probiotik akan membantu masyarakat untuk mengelola limbah yang dihasilkan, kususnya limbah organic menjadi kompos. (anonym,2011). Peranan bakteri probiotik sebagai kontrol biologis pada sistem budi daya adalah Menekan pertumbuhan bakteri pathogen, Mempercepat degradasi bahan organik dan limbah, Meningkatkan ketersediaan nutrisi esensial, Meningkatkan aktivitas mikroorganisme indigenus yang menguntungkan pada tanaman, misal Mycorriza, Rhizobium dan bakteri pelarut pospat, Memfiksasi nitrogen, Mengurangi pupuk dan pestisida. Dengan adanya probiotik maka proses degradasi bahan organik akan lancar, sehingga menghasilkan zat-zat yang bermanfaat bagi pertumbuhan. Bahan organik yang mengalami mineralisasi oleh jasad pengurai (probiotik) akan diubah menjadi bahan anorganik seperti nitrat dan pospat. Probiotik dapat dibagi 2 kelompok yaitu ; bentuk cair merupakan mikroba dalam bentuk suspensi (inokulan tunggal maupun multikultur) antara lain Lactobacillus, Bacillus sp, Nitrobacteria dan bentuk padat yaitu mikroba diinokulasi (tunggal atau multikultur) dalam media carier. (Simarmata, 2006). Prebiotik dapat di gunakan untuk berbagai keperluan di kehidupan manusia seperti Pupuk Organik pada tanah perkebunan dan pertanian, Dekomposer/Pengurai Sampah, Penghilang bau WC dan anti sedot WC , Pembersih porselen/keramik, Mikroba yang membantu pencernaan manusia dan hewan, Bahan pembantu Planter Tambak dan Pengendali Amdal/IPAL. (Murbandono,1992).
  • 9. 4 B. Pengomposan Secara alami bahan-bahan organik akan mengalami penguraian di alam dengan bantuan mikroba maupun biota tanah lainnya. Namun proses pengomposan yang terjadi secara alami berlangsung lama dan lambat. Untuk mempercepat proses pengomposan ini telah banyak dikembangkan teknologi- teknologi pengomposan. Baik pengomposan dengan teknologi sederhana, sedang, maupun teknologi tinggi. Pada prinsipnya pengembangan teknologi pengomposan didasarkan pada proses penguraian bahan organik yang terjadi secara alami. Proses penguraian dioptimalkan sedemikian rupa sehingga pengomposan dapat berjalan dengan lebih cepat dan efisien. Teknologi pengomposan saat ini menjadi sangat penting artinya terutama untuk mengatasi permasalahan limbah organik, seperti untuk mengatasi masalah sampah di kota-kota besar, limbah organik industri, serta limbah pertanian dan perkebunan. (Murbandono,1992). Kompos merupakan humus yang prosesnya diperpecat, dengan pengaturan bahan-bahan kompos sehingga kandungan hara yang dikandung pun lebih tinggi di banding dengan humus. Sedangkan pengomposan itu sendiri adalah penguraian bahan organik oleh sejumlah besar mikroorganisme dalam lingkungan yang hangat, basah dan berudara dengan hasil akhir berupa humus. Keunggulan kompos dibandingkan dengan pupuk kimia adalah kompos yang tidak merusak tanah, tidak menurunkan pH tanah, dan kompos menggemburkan tanah. Kandungan haranya menetap pada tanah, tidak terlarut air sehingga dosis penggunaan pada masa musim penanaman kedepan kemungkinan besar dapat diturunkan tergantung pada sifat tanah dan pengisapan hara oleh tanaman.(Anonim,2001). Pengomposan pada dasarnya merupakan upaya mengaktifkan kegiatan mikrobia agar mampu mempercepat proses dekomposisi bahan organik. Mikrobia tersebut adalah bakteri, fungi, dan jasad renik lainnya.(Afandie dan Nasih Widya, 2002). Faktor-faktor yang penting dalam pembuatan kompos adalah perbandingan karbon-nitrogen, ukuran partikel bahan, macam/jenis campuran bahan, kelembaban, aerasi, suhu, macam dan kemampuan jasad renik yang
  • 10. 5 terlibat, penggunaan inokulan, penambahan bahan fosfat dan destruksi dari jasad renik patogen. Pada dasarnya proses pengomposan adalah suatu proses biologis. Hal ini berarti bahwa peran mikroorganisme pengurai sangat besar. Kegunaan kompos sendiri yaitu sebagai penyubur di lahan pertanian atau perkebunan, dapat memperbaiki struktur tekstur tanah, memberikan kandungan unsur hara yang diperlukan tanaman, dapat digunakan dalam usaha reklamasi lahan bekas galian tambang, atau penyubur di daerah rawa-rawa, peningkatan kadar pH di daerah lahan asam. (Tchobanoglous et al.1993). Prinsip-prinsip proses biologis yang terjadi pada proses pengomposan meliputi : a. Kebutuhan Nutrisi Untuk perkembangbiakan dan pertumbuhannya, mikroorganisme memerlukan sumber energi, yaitu karbon untuk proses sintesa jaringan baru dan elemen-elemen anorganik seperti nitrogen, fosfor, kapur, belerang dan magnesium sebagai bahan makanan untuk membentuk sel-sel tubuhnya. Selain itu, untukmemacu pertumbuhannya, mikroorganisme juga memerlukan nutrien organik yang tidak dapat disintesa dari sumber- sumber karbon lain. Nutrien organik tersebut antara lain asam amino, purin/pirimidin, dan vitamin. b. Mikroorganisme Mikroorganisme pengurai dapat dibedakan antara lain berdasarkan kepada struktur dan fungsi sel, yaitu: 1. Eucaryotes, termasuk dalam dekomposer adalah eucaryotes bersel tunggal, antara lain: ganggang, jamur, protozoa. 2. Eubacteria, bersel tunggal dan tidak mempunyai membran inti, contoh: bakteri. Beberapa hewan invertebrata (tidak bertulang belakang) seperti cacing tanah, kutu juga berperan dalam pengurai sampah. Ideal Efektivitas proses pembuatan kompos sangat tergantung kepada mikroorganisme pengurai.
  • 11. 6 Pengomposan pada dasarnya merupakan upaya mengaktifkan kegiatan mikrobia agar mampu mempercepat proses dekomposisi bahan organik. Mikrobia tersebut adalah bakteri, fungi,dan jasad renik lainnya. Bahan organik untuk bahan baku kompos ialah jerami, sampah kota, limbah pertanian, kotoran hewan ternak dan sebagainya. (Afandie dan Nasih Widya, 2002). C. Kadar C-organik Pada dasarnya tanaman memerlukan berbagai unsur hara baik itu unsur mikro, ataupun unsur makro. Unsur C dan N merupakan unsur yang paling penting dalam tanaman. Maka dari itu sebelum orang akan memupuk tanman budidayanya pastilah orang tersebut menghitung keperluan pupuk atau unsur yang diperlukan. (Murbandono,1992.). C-organik bahan organik dapat meningkatkan kesuburan kimia, fisika, maupun biologi tanah. Penetapan kandungan bahan organic dilakukan berdasarkan jumlah c-oraganik. (anonymous,2011). Sumber utama CO2 di alam berasal dari dekomposisi bahan organik berupa sisa-sisa tanaman ataupun hewan dan dari respirasi invertebrata, bakteri serta fungi. Keperluan seluruh tanaman yang hidup diperkirakan sekitar 80 x 109 ton karbon/tahun. Dengan perediaan CO2 dalam udara sebesar 0,03% volume, maka CO2 tersebut akan habis diserap tanaman dalam waktu beberapa dekade saja. Berkat adanya daur (siklus) yang menghasilkan CO2, maka kadar gas tersebut relatif stabil (Konova, 1966). D. Kadar N total Nitrogen merupakan unsure hara makro esensial, menyusun sekitar 1,5% bobot tanaman yang berfungsi terutama dalam pembentukan protein. (hanafiah,2005). Nitrogen (N) merupakan hara makro utama yang sangat penting untuk pertumbuhan tanaman. Nitrogen diserap oleh tanaman dalam bentuk ion NO3 – atau NH4+ dari tanah. Kadar Ntrogen rata-rata dalam jaringan tanaman adalah 2% - 4% berat kering. Dalam tanah, kadar Nitrogen sangat bervariasi, tergantung pada pengelolaan dan penggunaan tanah tersebut. Tanah hutan berbeda dengan tanah perkebunan dan tanah peternakan. Tanaman di lahan kering umumnya
  • 12. 7 menyerap ion nitrat NO3 – relatif lebih besar jika dibandingkan dengan ion NH4+. Ada dugaan bahwa senyawa organik, misalnya asam nukleat dan asam amino larut, dapat diserap langsung oleh tanaman (Tisdale, 1985). E. Rasio C/N Pembuatan kompos adalah menumpukkan bahan-bahan organis dan membiarkannya terurai menjadi bahan-bahan yang mempunyai nisbah C/N yang rendah (telah melapuk) (Hasibuan, 2006). Bahan-bahan yang mempunyai C/N sama atau mendekati C/N tanah, dapat langsung digunakan sebagai pupuk, tetapi bila C/N nya tinggi harus didekomposisikan dulu sehingga melapuk dengan C/N rendah yakni 10-12 (Rinsemo, 1993). Pembuatan kompos pada hakekatnya ialah menguraikan bahan – bahan organik menjadi bahan – bahan yang mempunyai perbandingan C/N yang rendah sebelum digunakan sebagai pupuk. C/N Rasio dari bahan organik merupakan faktor yang sangat penting dalam proses pengomposan. Mikroorganisme membutuhkan karbon untuk pertumbuhan dan nitrogen untuk sintesis protein. C/N Rasio antara 26 – 35 sangat efisien untuk pengomposan. Jika bahan organik miskin akan nitrogen atau dengan kata lain C/N Rasio terlalu tinggi maka aktivitas mikroorganisme dalam mendegradasikan bahan organik akan menurun, sehingga pengomposan akan berjalan lambat (Gaur, 1980). Semakin rendah nilai C/N Rasio bahan, waktu yang dibutuhkan untuk pengomposan semakin singkat (Indriani, 1999). Bahan organik yang memiliki C/N Rasio tinggi dapat dikurangi dengan menambahkan bahan – bahan yang merupakan sumber nitrogen seperti sisa – sisa legume, gulma air, limbah rumah tangga, daun – daunan legume dan limbah kotoran. 2.2. Keasaman Derajat keasaman (pH) ideal dalam proses pembuatan kompos secara aerobik berkisar pada pH netral (6 – 8,5), sesuai dengan pH yang dibutuhkan tanaman. Pada proses awal, sejumlah mikroorganisme akan mengubah sampah organik menjadi asam-asam organik, sehingga derajat keasaman akan selalu menurun. Pada proses selanjutnya derajat keasaman akan meningkat secara
  • 13. 8 bertahap yaitu pada masa pematangan, karena beberapa jenis mikroorganisme memakan asam-asam organik yang terbentuk tersebut. Derajat keasaman dapat menjadi faktor penghambat dalam proses pembuatan kompos, yaitu dapat terjadi apabila : pH terlalu tinggi (unsur N akan menguap menjadi NH3. NH3 yang terbentuk akan sangat mengganggu proses karena bau yang menyengat. Senyawa ini dalam kadar yang berlebihan dapat memusnahkan mikroorganisme. pH terlalu rendah (di bawah 6), kondisi menjadi asam dan dapat menyebabkan kematian jasad renik.(Wiki,2011). 2.3. Temperatur Suhu yang tinggi selama pengomposan merupakan indikator laju proses pengomposan dan kegiatan mikroba. Pada suhu diatas 400 C mikroorganisme mesolifik digantikan dengan mikroorganisme termolifik dan pada tahap termolifik inilah laju dekomposisi yang terjadi sangat tinggi (Gaur, 1980). Sedangkan Sibuca et. al. (1993) melaporkan bahwa peningkatan suhu mencapai 650 – 700 C pada awal pengomposan telah dapat mencegah atau mengurangi nematode, insekta, jamur dan bakteri patogen, tetapi dipihak lain juga dapat menurunkan populasi mikroba mesolifik, oleh karena itu peningkatan suhu tinggi yang terlalu lama perlu dicegah agar tidak menghambat proses pengomposan. Proses biokimia dalam proses pengomposan menghasilkan panas yang sangat penting bagi mengoptimumkan laju penguraian dan dalam menghasilkan produk yang secara mikroorganisme aman digunakan. Pola perubahan temperatur dalam tumpukan sampah bervariasi sesuai dengan tipe dan jenis mikroorganisme. Pada awal pengomposan, temperatur mesofilik, yaitu antara 25 – 45o C akan terjadi dan segera diikuti oleh temperatur termofilik antara 50 – 65o C. Temperatur termofilik dapat berfungsi untuk a) mematikan bakteri/bibit penyakit baik patogen maupun bibit vektor penyakit seperti lalat; b) mematikan bibit gulma. 2.4. Identifikasi Pupuk An-0rganik Pupuk adalah suatu bahan yang digunakan untuk mengubah sifat fisik, kimia atau biologi tanah sehingga menjadi lebih baik bagi pertumbuhan tanaman. Dalam pengertian yang khusus, pupuk adalah suatu bahan yang mengandung satu
  • 14. 9 atau lebih hara tanaman.Berbicara tentang tanaman tidak akan lepas dari masalah pupuk. Dalam pertanian modern, penggunaan materi yang berupa pupuk adalah mutlak untuk memacu tingkat produksi tanaman yang diharapkan.Seperti telah diketahui bersama bahwa pupuk yang diproduksi dan beredar dipasaran sangatlah beragam, baik dalam hal jenis, bentuk, ukuran, maupun kemasannya. Pupuk– pupuk tersebut hampir 90% sudah mampu memenuhi kebutuhan unsur hara bagi tanaman, dari unsur makro hingga unsur yang berbentuk mikro. Menurut hasil penelitian setiap tanaman memerlukan paling sedikit 16 unsur (ada yang menyebutnya zat) agar pertumbuhannya normal. Dari ke 16 unsur tersebut, tiga unsur (Carbon, Hidrogen, Oksigen) diperoleh dari udara, sedangkan 13 unsur lagi tersedia oleh tanah adalah Nitrogen (N), Pospor (P), Kalium (K), Calsium (Ca), Magnesium (Mg), Sulfur atau Belerang (S), Klor (Cl), Ferum atau Besi (Fe), Mangan (Mn), Cuprum atau Tembaga (Cu), Zink atau Seng (Zn), Boron (B), dan Molibdenum (Mo). Tanah dikatakan subur dan sempurna jika mengandung lengkap unsur-unsur tersebut diatas. Ke-13 unsur tersebut sangat terbatas jumlahnya di dalam tanah. Terkadang tanah pun tidak mengandung unsur-unsur tersebut secara lengkap. Hal ini dapat diakibatkan karena sudah habis tersedot oleh tanaman saat kita tidak henti-hentinya bercocok tanam tanpa diimbangi dengan pemupukan. Kalau dilihat dari jumlah yang disedot tanaman, dari ke-13 unsur tersebut hanya 6 unsur saja yang diambil tanaman dalam jumlah yang banyak. Unsur yang dibutuhkan dalam jumlah yang banyak tersebut disebut unsur makro. Ke-6 jenis unsur makro tersebut adalah N, P, K, S, Ca, dan Mg. (Marsono.2001). Berdasarkan senyawanya,pupuk digolongkan menjadi : 1).pupuk organic ( kompos, pupuk kandang, pupuk hijau, guano), dan 2). Pupuk anorganik ( contoh : ZA, Urea, TSP, KCl atau MOP). berdasarkan pembuatannya, pupuk digolongkan menjadi 2 yaituPupuk alam (contoh : ppuk kandang ,Guano, rock phosphate/RP atau batuan fosfat) dan Pupuk anorganik (contoh urea,ZA,KCl ).berdasrkan kandungan menjadi : Pupuk N, yaitu pupuk yang mengandung nitrogen. Pupuk P yaitu pupuk yang mengandung fosfor dan Pupuk K yaitu pupuk yang mengandung kalium.
  • 15. 10 BAB III METODOLOGI PRAKTIKUM 3.1. Waktu Dan Tempat Praktikum kesuburan tanah acara Pengomposan, Keasaman, Temperatur dan Identifikasi Pupuk An-0rganik ini dilakukan atau dilaksanakan pada tanggal 09 april s/d 29 mei 2013 di Laboratorium Tanah, Fakultas Agroindustri, Universitas Mercu Buana Yogyakarta. 3.2. Alat Dan Bahan Alat-alat dan bahan yang digunakan pada praktikum kali ini adalah sebagai berikut : A. Pengomposan a. Alat 1. Ember plastic 2. Autoklaf 3. Gelas ukur 1 liter 4. Gelas ukur 10,50, 100ml 5. Timbangan analitik 6. Thermometer dan pH meter 7. Beker glass 8. Labu takar 50 ml 9. Pipet ukur 10 dan 5 ml 10. Labu erlemeyer 250 ml 11. Buret 12. Botol pemancar air 13. Botol timbangan 14. Gelas piala 100 ml 15. Gelas arloji 16. Oven 17. Labu kjeldhal 100 ml 18. Kalkulator dan Alat tulis. Urin sapi / pupuk kandang
  • 16. 11 b. Bahan 1. Bekatul 2. Terasi 3. Tetes tebu / gula jawa 4. Air 5. Probiotik 6. Sampah organic 7. Abu dapur 8. Air suling 9. 10. 11. 85 % 12. Indicator Diphelamine 13. 14. 15. 16. 17. Indicator Methyl Red 18. Data hasil pengukuran C-organik 19. Data hasil pengukuran N total. B. Identifikasi Pupuk An-0rganik a. Alat 1. Timbangan analitik 2. Sendok 3. Bak plastic 4. Alat tulis 5. Kertas label b. Bahan 1. Pupuk anorganik ZA, SP36, KCL, UREA, PONSKA 2. Kantong plastic
  • 17. 12 3.3. Cara Kerja A. Kompos 1. Probiotik a. Bekatul 0,75 kg, terasi 0,125 kg, dan tetes tbu 50 ml (gula jawa 5 ons) direbus dengan air 5 liter sampai mendidih ( ) atau disterilisasi menggunakan autoklaf (1 atm selama 15-20 menit). b. Hasil rebusan (sterilisasi) didinginkan. c. Menyiapkan urin sapi sebanyak 5oo ml (pupuk kandang 500 gr). d. Setelah hasil rebusan (sterilisasi) dingin, kemudian dimasukkan kedalam ember plastic dan tambahkan 500 ml urin sapi (pupuk kandang 500 gr) sambil diaduk sampai rata. e. Campuran selanjutnya dibiarkan selama 3 hari dan setiap harinya diadakan pengadukan. f. Probiotik siap digunakan. 2. Pengomposan a. Mengambil sampah organic sebanyak 5 kg yang telah dipisahkan dari bahan-bahan anorganik. b. Sampah organic dipotong-potong dengan ukuran kurang lebih 5 cm. c. Potongan sampah dicampur secara merata dengan probiotik sebanyak 0,5 liter. d. Sambil diaduk-aduk ditambahkan air sampai dicapai kelembaban kurang lebih 30% (jika dikepal tidak keluar air tetapi kepalan dibuka akan berurai lagi). e. Selanjutnya dimasukkan kedalam ember dibagi 3 lapis. f. Masing-masing lapisan ditaburi dengan abu dapur (total yang diperlukan o,5 kg) kemudian ember ditutup. g. Setiap hari dilakukan pengukuran pH dan suhu pengomposan sampai sampah menjadi kompos (C/N 20).
  • 18. 13 3. Kadar C-organik a. Ditimbang bahan kompos kering 0,1g, dimasukkan kedalam labu takar. b. Ditambahkan sebanyak 10 ml dengan pipet ukur, c. Ditambahkan 10 ml dengan gelas ukur, dan dikocok dengan gerakan memutar. d. Warna harus tetap merah jingga, apabila warna menjadi hijau atau biru ditambah dan (jumlah penambahan dicatat), didiamkan lebih kurang 30 menit sampai larutan dingin. e. Dtambahkan 5 ml 85% dan 1 ml indicator diphenylamine, f. Ditambahkan air suling sampai volumenya 50 ml, g. Dikocok dengan membolak balikkan sampai homogeny dan mengendap, h. Diambil dengan pipet ukur 5 ml larutan jernih , kemiudian dimasukkan kedalam labu Erlenmeyer dan ditambahkan air suling 15 ml, i. Larutan dititrasi dengan , sehingga warna menjadi kehijau- hijauan, j. Langkah ini diulang tanpa sempel untuk keperluan blangko. 4. Kadar N total  Destruksi a. Ditimbang kompos dengan gelas arloji (kertas) yang bersih dan keringseberat 250 mg. ditimbang juga analisis kadar air. b. Dimasukkan kedalam labu kjeldal 100 ml dan ditambahkan 2,5 ml. c. Dikocok sampai merata dan setelah itu dipanaskan dengan hati-hati sampai asapnya hilang dan warna larutan menjadi putih kehijauan atau tidak berwarna (pemanasan dalam almari asam) kemudian didinginkan.  Destilasi a. setelah larutan didalam tabung kjeldal dingin ditambahkan air suling 25-50 ml, kemudian larutan ditambahkan kedalam labu destilasi, cara memasukkan larutan dengan menuangkan
  • 19. 14 beruang-ulang dengan air (dalam hal ini diusahakan butir-butir tanah tidak mask). b. diambil gelas piala 100-150 ml dan diisi dengan 0,1 N 10 ml, diberi 2 tetes indkator methilhingga warna menjadi merah. c. Gelas piala ini (b) ditemptkan dibawah alat pendingin destilasi sedemikian rupa hingga ujung alat pendingin tersebut tercelup diatas permukaaan asam. d. Ditambahkan dengan hati-hati (dengan gelas ukur) 20 ml NaOH pekat (penmbahan NaOH ini diusahakan melalui dinding labu destilasi). Pekerjaan ini digunakan menjelang saat sebelum destilasi dimulai (tidak boleh lama). e. Setelah itu didestilasidimulai dan dijaga supaya larutan yang ada didalam gelas tetap berwarna merah, kalau warna berubah hilang segera ditambah lagi 0,1 N dengan jumlah yang diketahui. Estilasi berlangsung selama sekitar 30 menit (dilihat nilai larutan itu mendidih). f. Setelah larutan didestilasi, gelas piaa diambi (ingat api baru boleh dipadamkan kalau gelas piala sudah diambil) g. Bilas ir suling uung atas bawah alat pendingin (air suling ini juga dmasukkan dalam gelas piala)  Titrasi a. Larutan dalam gelas piala dititrasi dengan NaOH 0,1 N sampai warna hampir hilang b. Pekerjaan 1s/d 3 dilakukan juga untuk blangko, yaitu tanpa memakai sampel. 5. Rasio C/N a. Menghitung perbandingan antara C-organik dengan N total. b. Apabila nilai C/N sudah memenuhi syarat untuk dipergunakan sebagai pupuk (rasio C/N kompos 20), maka proses pengomposan di hentikan.
  • 20. 15 B. Temperatur dan Keasaman Pengamatan temperature dan pH dilakukan setiap hari sampai sampah menjadi kompos (C/N ). 1. Pengukuran temperature a. Menyiapkan alat ukur temperature (thermometer). b. Memasukkan (menancapkan) thermometer kebagian tengah-tengah pengomposan ( 15 cm dari permukaan) c. Setelah 5 menit thermometer diambil dan dicatat temperaturnya. d. Pengukuran dilakukan dengan cara yang sama pada bagian tengah antara tepid an tengah gundukan (diambil 2 tempat). e. Tiga hasil pengukuran dibuat rata-rata. 2. Derajat keasaman (pH) a. Mengambil contoh kompos 10 g dimasukkan kdalam beker glas 50 ml. b. Menambahkan air suling sebanyak 25 ml kedalam beker glas. c. Mengaduk air dalam beker glas sampai kompos menjadi larut. d. Lartan dibiarkan mengendap selama kurang lebih 30 menit. e. Setelah mengendap dilakukan pengukuran ph dengan ph meter (kertas lakmus). f. Menyambung eektroda paaz meterannya. g. Elektroda diclupkan pada larutan penyangga ph 7 dan ditekan tombol pada tanda “ON” disesuaikan dengan keadaan tombol “TEMP” pada angka temperature larutan penyangga pH 7, dan atur tombol “CALIB” hingga terbaca pada angka 7,00 pada llayar pH meter. h. Elektroda dicuci pada pancaran air suling dibagian bawahnya sampai bersih. i. Elektroda diclupkan pada larutan penyangga pH 4 dan tekan tombol pada anda “ON” disesuaikan dngan keadaan tombol “TEMP” pada angka temperature larutan penyangga pH 4 dan diatur tombol “SLOPE” hingga terbaca angka 4,00 pada layar ph meter. j. Elaktroda di cuci dengan pancaran air sulling samai bersih
  • 21. 16 k. Dengan mengikut angkah f s/d j maka pH yag diteliti siap diamati. l. Elektroda diclupkan pada arutan kompos, kemudian diamati dan dicatat angka pada monitor menunjukan pada ph meter. m. Pengukuran diulang sebanyak 3 kali dan hasilnya dirata-rata. B. Identifikasi Pupuk An-0rganik 1. Higroskopisitas a. Menimbang sampel pupuk seberat 10 g. b. Menimbang kantong plastik tempat pupuk. c. Pupuk dimasukkan dalam kantong plastik yang terbuka. d. Kantong plastik berisi pupuk disimpan di tempat yang aman dan di biarkan terbuka. e. Pengamatan dilakukan setiap 1 minggu sekali dengan cara menimbang pupuk bersama kantong plastiknya. f. Pengamatan dilakukan selama 4 minggu. 2. Tingkat kelarutan a. Menimbang sampel pupuk seberat 10 g. b. Memasukkan pupuk ke dalam gelas ukur. c. Menambahkan air ke dalam gelas ukur dengan volume 2 kali lipat volume pupuk. d. Setelah 1 jam larutan pupuk di saring dengan kertas saring. e. Kertas saring dan endapan pupuk diangin-anginkan hingga kering. f. Setelah kering pupuk dan kertas saringnya di timbang. g. Endpan pupuk dibersihkan dan kertas saring ditimbang. h. Dari hasil penimbangan kita dapat mengetahui berapa endapan yang diperoleh. i. Mengitung persentase kelarutan.
  • 22. 17 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil A. Kompos a. Probiotik Dari praktikum dan pengamatan pada acara probiotik yang telah dilakukan dapat diperoleh hasil gambar sebagai berikut : Gambar 1. Probiotik b. Pengomposan Dari praktikum dan pengamatan pada acara pengomposan yang telah dilakukan dapat diperoleh hasil gambar sebagai berikut Gambar 2. Kompos
  • 23. 18 c. Kadar C-organik Dari praktikum dan perhitungan pada acara kadar C-organik yang telah dilakukan dapat diperoleh hasil sebagai berikut : Rumus mencari C-organik : ( ) ( ) Tabel 1. Hasil titrasi kadar C-organik Perlakuan Kel.1 Kel. 2 Kel. 3 Kel. 4 Blanko (B) 6,6 ml 6,6ml 6,6 ml 6,6 ml Sampel (A) 1,0 ml 2,5 ml 3,7 ml 1,7 ml Kadar C-organik 38,97 % 32,48 % 25,97 % 37,67 % Kadar bahan organik 67,18% 56 % 44,77 % 67,94 % d. Kadar N total Dari praktikum dan perhitungan pada acara kadar N total yang telah dilakukan dapat diperoleh hasil sebagai berikut : Rumus mencari N-total : ( ) ( ) Tabel 2. Hasil titrasi kadar N Total Perlakuan Kel.1 Kel. 2 Kel. 3 Kel. 4 Blanko (B) 0,1 ml 78,4 ml 0,5 ml 0,5 ml Sampel (A) 0,1 ml 52,5 ml 0,3 ml 0,4 ml Kadar N Total 0,19 % 14,61 % 0,54 % 0,11 % e. Rasio C/N Dari praktikum dan perhitungan pada acara Rasio C/N yang telah dilakukan dapat diperoleh hasil sebagai berikut :
  • 24. 19 Rumus mencari C/N rasio : C/N Tabel 3. Hasil perhitungan Rasio C/N Kel.1 Kel. 2 Kel. 3 Kel. 4 C 38,97 % 32,48 % 25,97 % 37,67 % N 0,19 % 14,61 % 0,54 % 0,11 % C/N 205,97 2,22 48,09 342,45 B. Keasaman Dari praktikum dan pengamatan pada acara keasaman (pH) yang telah dilakukan ini diperoleh hasil grafik sebagai berikut : Grafik 1. Pengamatan harian derajat keasaman (pH) 6 6.5 7 7.5 8 8.5 9 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 pH Hari pengamatan Pengamatan Derajat Keasaman (pH) Kel 1 Kel 2 Kel 3 Kel 4
  • 25. 20 C. Temperatur Dari praktikum dan pengamatan pada acara suhu/temperatur yang telah dilakukan ini diperoleh hasil gambar sebagai berikut : Grafik 2. Pengamatan harian temperature / suhu D. Identifikasi Pupuk An-0rganik a. Higroskopisitas Dari praktikum dan pengamatan pada acara higroskopisitas yang telah dilakukan ini diperoleh hasil gambar dan tabel sebagai berikut : Grafik 3.Pengamtan higroskopisitas 25 27 29 31 33 35 37 39 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Temperatur/suhu(celcius) Hari pengamatan Pengamatan temperatur / suhu Kel 1 Kel 2 Kel 3 Kel 4 9 10 11 12 13 14 15 kel 1 kel 2 kel 3 kel 4 Rata-ratahigroskopisitas Kelompok Pengamatan Higroskopisitas ZA SP36 UREA PONSKA KCL
  • 26. 21 b. Tingkat kelarutan Dari praktikum dan pengamatan pada acara tingkat kelarutan yang telah dilakukan ini diperoleh hasil gambar dan tabel sebagai berikut : Grafik 4.Pengamatan tingkat kelarutan 4.2. Pembahasan A. Kompos Kompos merupakan pupuk yang terbuat dari bahan organik yang penting dan banyak dibutuhkan tanaman. Kompos terbuat dari bagian-bagian tanaman yang telah mengalami penguraian oleh mikroorganisme. Pada awalnya, kompos tersedia berlimpah dihutan dan ladang pertanian (bekas tebangan hutan). Kompos berasal dari dedaunan dan ranting pohon yang mengalami pembusukan secara alami oleh bakteri pengurai dan jamur. Kompos kemudian menjadi penyubur kawasan hutan an kadang-kadang dimanfaatkan oleh penduduk sekitar hutan. Kadang-kadang penduduk disekitar hutan sengaja membakar habis hutan untuk membuka lahan pertanian, dan memanfaatkan kompos alami atau humus sebagai pupuknya. (anonym,2011). Pengomposan dari bahan tanaman lebih lama dibandingkan dari kotoran hewan. Kotoran hewan banyak mengandung selulosa yang lebih mudah 0 20 40 60 80 100 kel 1 kel 2 kel 3 kel 4 %kelarutan kelompok pengamatan tingkat kelarutan ZA SP36 UREA PONSKA KCL
  • 27. 22 terdekomposisi, sedangkan sisa tanaman walaupun juga mengandung selulosa namun juga mengandung lignin maupun polifenol yang lebih sulit terdekomposisi (Brady, 1990). Pembuatan pupuk kompos sendiripun terdiri dari bermacam-macam bahan diantaranya: bekas kotoran hewan ternak atau yang sering disebut sebagai pupuk kandang selain itu ada lagi pupuk hijau yaitu bahan kompos terdiri dari sisa-sisa tanaman misalnya jerami dan daun daunan. (Murbandono, 1992). Pada praktikum pengomposan kali ini digunakan bahan urin sapi dan juga kotoran sapi sebagai probiotik yang membantu proses pembusukan. Praktikum pengomposan ini terdiri dari bermacam-macam bahan diantaranya: pupuk hijau yaitu bahan kompos terdiri dari sisa-sisa tanaman misalnya jerami dan daun-daun tumbuhan. Pada acara probiotik atau pembuatan starter kali ini mengggunakan dua macam bahan yang berbeda yaitu urin sapi dan kotoran sapi. Dimana pada proses pembuatan probiotik ini berlangsung selama 3 hari dan setiap harinya dilakukan pengadukan pada waktu yang sama, agar nantinya probiotik menjadi dan dapat digunakan dalam proses pembuatan kompos selanjutnya. Dimana disini pada saat proses penyaringan yaitu terdapat perbedaan antara probiotik berbahan urin sapi dengan probiotik berbahan kotoran sapi yaitu lebih banyaknya pengendapan pada probiotik berbahan kotoran sapi dan setelah proses penyaringan pun probiotik berbahan urin sapi terlihat lebih jernih (tidak terlalu banyak endapan). Acara yang kedua yaitu pengomposan dimana pada proses pengomposan ini bahan-bahan yang akan digunakan yaitu daun-daun tanaman, sebelum dilakukan pengomosan daun-daun tanaman ini dipotong-potong (dicincang) kecil-kecil guna nantinya pada saat proses pengomposan supaya kompos lebih cepat matang dan cepat terurai sehingga proses pengomposan tidak terlalu lama. Secara garis besar pengomposan dapat dilakukan bebrapa cara tergantung pada keadaan tempat pembuatan, budaya orang, mutu yang
  • 28. 23 diinginkan, jumlah kompos yang dibutuhkan, macam bahan yang tersedia dan selera pembuat kompos itu sendiri. Yang perlu diperhatikan atau diamati dalam proses pengomposan adalah sebagai berikut: 1. Kelembaban timbunan bahan kompos: Kegiatan dan kehidupan mikrobia sangat dipengaruhi oleh kelembaban yang cukup , tidak terlalu kering dan tidak terlalu basah atau tergenang. 2. Aerasi timbunan: Aerasi berhubungan erat dengan kelengasan. Apabila teralau anaerob, mikrobia yang hidup hanya mikrobia anaerob saja, mikrobia aerob mati atau trhambat pertumbuhannya. Sedangkan bila terlalu aerob udara bebas masuk kedalam timbunan bahan yang dikomposkan sehingga mengakibatkan hilangnya nitrogen relatif banyak karena menguap berupa NH3. 3. Temperatur harus dijaga tidak terlampau tinggi (maksimum 500 C). Selama pengomposan selalu timbul panas sehingga bahan organik yang dikomposkan temperaturnya akan naik bahkan sering mencapai 600 . 4. Suasana: Proses pengomposan kebanyakan menghasilkan asam-asam organik sehingga menyebabkan pH turun. Pembalikan timbunan mempunyai dampak netralisasi keasaman. 5. Netralisasi keasaman : Netralisasi keasaman sering dilakukan dengan menambah bahan pengapuran misalnya dengan kapur, dolomit, atau abu. Dalam praktikum kali ini mahasiswa dibagi menjadi empat kelompok dimana kelompok 1 dan 3 membuat kompos dengan bahan probiotik urin sapi sedang kan kelompok 2 dan 4 membuat kompos dengan bahan probiotik yang sama dan nantinya bertujuan untuk membandingkan hasil antara kompos dengan bahan probiotik urin sapi dengan probiotik kotoran sapi. Pada saat proses pengomposan daun-daun tanaman yang sudah di potong-potong kemudian di timbang / dibagi rata disetiap kelompok dan mulai dilakukan proses pencampuran bahan daun- daun tanaman sebanyak 5 kg dengan probiotik 0,5 liter kemudian diaduk
  • 29. 24 hingga rata dengan kelembaban kurang lebih 30 %. Kemudian bahan kompos yang sudah dicampur rata dimasukkan dalam ember dan di bagi menjadi tiga lapisan setiap lapisan ditabuti dengan abu guna untuk meningkatkan dan menjaga derajat keasaman (pH). kompos ditutup rapat dengan plastik kemudian dilakukan pengamatan suhu dan derajat kesaman (pH) setiap hari hingga kompos sudah menjadi dan siap pakai unuk memupuk tanaman. Pada acara praktikum kadar C-organik dan juga N total yang telah dilakukan yaitu dengan cara mengambil sampel kemudian dilakukan analisis dalam laboratorium. Dan di dapatkan kadar C-organik pada kompos dengan bahan probiotik urin sapi yaitu kelompok 1 dan 3 berturut-turut 38,97 % dan 25,97 % dan untuk kompos ber bahan probiotik kotoran sapi kelompok 2 dan 4 berturut-turut diperoleh 32,48 % dan 37,67 % untuk kandungan bahan organiknya yaitu kelompok 1 dan 3 adalah 67,18% dan 44,77 % sedangkan untuk kelompok 2 dan 4 adalah 56 % dan 67,94 % dan untuk kadar N total yang diperoleh kelompok 1 dan 3 adalah 0,19 % dan 0,54 % sedangkan yang diperoleh untuk kelompok 2 dan 4 adalah 14,61 % dan 0,11 %. Dari data yang didapatkan dapat dilihat bahwa hampir semua kadar N total dalam setiap perlakuan pemberian probiotik mempunyai kadar N yang rendah dan untuk kelompok 2 memeroleh kadar N tinggi dikarenakan pada saat titrasi larutan yang digunakan yaitu H2SO4 dan untuk kelompok lainnya menggunakan HCL 0,01 N. sedangkan untuk kadar C-organik pada masing masing kelompok diperoleh data ysng tinggi, sehingga dari data yang ada diperoleh rasio C/N yaitu kelompok 1 dan 3 adalah 205,97 dan 48,09 dan untuk kelompok 2 dan 4 adalah 2,22 dan 342,45. Yang meyebabkan kadar N pada kompos tersebut rendah bisa disebabkan oleh beberapa faktor misalnya aja disebabkan karena kurang rapatnya saat menutup kompos pada proses dekomposisi sehingga kadar N yang terkandung di dalam kompos mengalami penguapan dan bisa saja di sebabkan oleh faktor lingkungan misalnya saja suhu dan kelembaban
  • 30. 25 lingkungan tersebut. Dan menurut beberapa pustaka dalam proses dekomposisi bahan organik, C digunakan oleh mikroorganisme sebagai sumber energi dan bersama N digunakan sebagai penyusun selnya. Oleh karena itu hasil analisis C, N, S menunjukkan terjadinya penurunan kadar C dan peningkatan kadar N selama proses pengomposan. Kandungan N dalam kompos meningkat selama proses pengomposan, karena terjadi mineralisasi N-organik menjadi N-mineral oleh mikroorganisme. Akan tetapi, pada kompos sampah sayuran terjadi penurunan kandungan N. Penurunan kadar N pada kompos sampah sayuran disebabkan oleh proses dekomposisi anaerob yang terjadi pada minggu ke-1 dan ke-2. Dekomposisi N-organik secara anaerob menghasilkan gas amoniak (NH3) yang menguap menyebabkan bau menyengat pada saat pengomposan. Setelah dianalisis dengan uji t pada rasio C/N maka diperoleh : nilai t hitung = 0,013 Ho ditolak jika – t α/2 < t hitung < t α/2 jadi diperoleh data sehasil sebagai berikut : -6,314<0,013<6,314 berati Ho ditolak, maka tidak ada beda nyata antara kompos yang terbuat dari bahan probiotik urin sapi dan kotoran sapi. B. Keasaman Pada acara keasaman ini setiap kelompok mengamati derajat keasaman setiap hari selama proses pengomposan dimana pada masing masing kelompok atau perlakuan diperoeh rata-rata sebagai berikut untuk kelompok dengan bahan probiotik urin sapi yaitu kelompok 1 dan 3 adalah 7.97 dan 7.94 sedangkan kelompok dengan bahan probiotik kotoran sapi kelompok 2 dan 4 adalah 8.01 dan 8.04. dapat dilihat bahwa pH pada pengomposan dengan bahan probiotik kotoran sapi lebih tinggi dibandingkan dengan ph pada pengomposan dengan bahan probiotik urin sapi sedangkan untuk data per hari derajad keasaman (pH) dapat dilihat pada tabel 1. Dimana dapat dilihat bahwa pH pada setiap kelompok mengalami naik turun untuk kenaikan dan penurunan pH hal ini bisa di karenakan kurang ratanya sampel dalam
  • 31. 26 pengambilan sampel dan takaran atau berat sampel yang sedikit berbeda, kemudian yang paling penting yaitu sewaktu pengadukan yang tidak merata, sehingga mengakibatkan pH berubah – ubah. Tetapi dapat dilihat pada grafik 1. bahwa selisih perubahan pH tidak begitu signifikan. Pada awalnya pH juga rendah dan semakin hari pH semakin naik hingga menjadi 8. pH naik terjadi setelah dilakukanya pengadukan secara merata sehingga disini dapat disimpulkan bahwa setelah abu disama ratakan atau diadukmaka pH menjdi naik. C. Temperatur Panas dihasilkan dari aktivitas mikroba. Ada hubungan langsung antara peningkatan suhu dengan konsumsi oksigen. Semakin tinggi temperatur akan semakin banyak konsumsi oksigen dan akan semakin cepat pula proses dekomposisi. Peningkatan suhu dapat terjadi dengan cepat pada tumpukan kompos. Temperatur yang berkisar antara 30-60o C menunjukkan aktivitas pengomposan yang cepat. Suhu yang lebih tinggi dari 60o C akan membunuh sebagian mikroba dan hanya mikroba thermofilik saja yang akan tetap bertahan hidup. Suhu yang tinggi juga akan membunuh mikroba-mikroba patogen tanaman dan benih-benih gulma. Pada praktikum pembuatan kompos ini diperoleh rata-rata suhu yaitu pada perlakuan pengomposan dengan bahan probiotik urin sapi kelompok 1 dan 3 adalah 31.810 Cdan 29.900 C, sedangkan pada perlakuan pengomposan dengan bahan probiotik kotoran sapi kelompok 2 dan 4 adalah 31.460 C dan 29.900 C. dan untuk data harian dapat dilihat pada grafik 2. Terjadi naik turunya yang tidak selalu tepat (berubah-ubah) dikarenakan berbagai factor misalnya factor lingkungan pengomposan tempat yang terkena sinar matahari cukup banyak sehingga mengakibatkan suhu juga meningkat dan jam pengamatan yang tidak selalu tetap (berubah-ubah). Selain penyebab naik turunnya suhu di karenakan itu juga pada pertengahan pengamatan suhu rata – rata 320 C hal ini di karenakan proses pengomposan itu sedang berlangsung. Dari beberapa perlakuan tentu keadaan suhu dan pH juga berbeda – beda mungkin hal ini juga disebabkan oleh faktor-faktor yang sama.
  • 32. 27 D. Identifikasi Pupuk An-0rganik Pertanian pada dasarnya menambang unsur hara melalui hasil panen yang diangkut, baik berupa bagian vegetatif maupun bagian generatif. Selain hilang karena terikut hasil panen, unsur hara juga berkurang karena adanya erosi terutama akibat terbawa oleh aliran permukaan (run off). Karena hal tersebut maka unsur hara didalam tanah semakin berkurang, dan memengaruhi pertumbuhan dan hasil tanaman. Semakin besarnya permintaan terhadap hasil pertanian dan bahan pangan, maka tanaman telah dipacu agar dapat memberikan hasil yang setinggi-tingginya. Hal tersebut membawa konsekuensi semakin terkurasnya unsur hara. Penggunaan varietas unggul yang mampu memberikan hasil yang unggul mampu memberikan hasil yang tinggi, memerlukan unsur hara yang memadai agar sifat unggulnya muncul. Disatu sisi hasil yang diperoleh dari hasil panen sangat menguntungkan dengan semakin tingginya hasil; tetapi disisi lain juga berarti semakin banyak unsur hara yang berkurang. Upaya untuk mengimbangi kebutuhn tanaman tersebut amaka pelu dilakukannya penambahan unsur hara (pemupukan). Dimana pemberian pupuk ini diharapkan dapat membperbaiki an memberikan hasil produksi yang memadai. Oleh karna itu pemberian pupuk harus sesuai dengan kebutuhannya. Dan diprerlukan nya identifikasi pupuk yang akan digunakan tersebut misalnya saja higroskopisitas dan tingkat kelarutan. Dalam praktikum ini mahasiswa diperkenalkan dengan barbagai macam jenis pupuk yang sering digunakan oleh petani seperti ZA, SP36, UREA, PONSKA, KCL. Masing-masing pupuk tersebut memiliki tingkat higrospisitas yang berbeda seperti dapat dilihat pada grafik 3. dimana pupuk PONSKA persentase rata-rata higroskopisitasnya paling tinggi pada masing- masing kelompok berturut-turut yaitu 13,731 ; 12,987 ; 14.387 dan 14.242. kemudian untuk persentase rata-rata ke dua yaitu pupuk UREA dan diikui pupuk KCL, ZA dan yang terakhir SP36 yang persentse rata-rata tingkat Higroskopisitas terendah yaitu K1 10,648; K210,751; K311.012; K410.668. Tinggi rendahnya persentase higroskopisitas dapat dipengaruhi oleh beberapa
  • 33. 28 factor misalnya saja bentuk dari pupuk tersebut misalnya butiran halus lebih besar tingkat higroskopisitasnya dibanding dengan pupuk yang berbentuk butiran kasar, kandungan dalam pupuk tersebut, keadaan lingkungan misalnya suhu/temperature, kelembababn udara dan lain-lain. Pada acara tingkat kelarutan diperoleh hasil rata-rata persentase kelarutannya yaitu ada pupuk ZA diperoleh rata-rata semua kelompok 96,1 % , sedangkan untuk pupuk SP36 diperoleh rata-rata kelompok adalah 18,7%, sedangkan untuk UREA diperoleh rata-rata kelompok adalah 97,75 %, untuk PONSKA diperoleh rata rata kelompok adalah 74,67% dan untuk pupuk KCL diperoleh rata-rata kelompok adalah 82,62 %. Sehingga diperoleh rata-rata persentase tingkat kelarutan paling rendah adalah SP36, dan persentase yang paling tinggi adalah UREA. Tinggi rendahnya persen kelarutan dipengaruhi oleh beberapa faktor dari bentuk fisik misalnya bentuk butiran lebih lembut maka tingkat kelarutan pada pupuk tersebut akan lebih cepat terlarut dibandingkan dengan yang memiliki bentuk butiran yang lebih kasar (besar).misalnya saja pada pupuk urea memiliki bentuk fisik kristal dan untuk SP36 memiliki bentuk fisik butiran kasar.
  • 34. 29 BAB V KESIMPULAN 1. Pupuk adalah suatu bahan yang digunakan untuk mengubah sifat fisik, kimia, biologi, tanah sehingga menjadi lebih baik bagi pertumbuhan tanaman 2. Faktor yang mepengaruhi pengomposan yang paling utama yaitu temperatur dan pH. 3. Unsur N dan C merupakan unsur makro yang diperlukan bagi tanaman, sehingga N dan C sangat dibutuhkan bagi tanaman. Kadar N dan C/N rasio sebelum melakukan pemupukan perlu diketahui terlebih dulu hal ini dilakukan karena agar kita dapat mengetahui dosis pemupukan. 4. Setiap melakukan pengomposan harus atau wajib bagi seorang peneliti menganalisis kadar unsur yang ada didalam kompos tersebut. 5. Dari semua perlakuan dapat dilihat bahwa semua perlakuan probiotik berbahan urin sapi dan kotoran sapi tidak memiliki beda nyata. 6. Bentuk pupuk yang butiran lembut akan mudah mengalami hiroskopis. 7. Pupuk yang berbentuk butiran kasar tidak mengalami higroskopis 8. Pupuk SP36 memiliki persentase tingkat kelarutan paling rendah sedangkan untuk yang paling tinggi tingkat kelarutannya adalah UREA.
  • 35. 30 DAFTAR PUSTAKA Afandie,R..dan Nasih Widya Y. 2002. Ilmu Kesuburan Tanah. Kanisius. Yogyakarta. Anonim, 1984. Fertilizer and Plant Nutrition Guide. FAO. Rome. 176 h. Anonim, 2005. www.google(biogenonline).com Pengomposan Menggunakan Jerami dan Sisa Produksi Pertanian. Diakses Tanggal 20 Juli 2010. Anonim, 2007. www.google(biogenonline).com Kompos dan Pupuk Organik Untuk Tanaman Budidaya. Diakses Tanggal 20 Juli 2010. Anonim, 2010. Petunjuk Praktilum Kesuburan Tanah. Universitas Mercu Buana Yogyakarta. Buringh,P . 1993.Pengantar pengajian tanah-tanah wilayah Tropika dan sub tropika.terjemahan : tejoyuwono N. Gadjah Mada Univ.press. : Yogyakarta Marschner, H. 1986. Mineral Nutrition of Higher Plants. Academic Press Harcourt Brace Jovanovich, Publisher. London. Mengel, K. , and E. Kirby. 1987. Principles of Plant Nutrition. International Potash Inst. Bern Switzerland. Murbandono, L. 1992. Membuat Kompos. Penebar Swadaya Notohadiprawiro,T.,Soekodarmodjo,S dan E. Sukana,1997. Pengelolaan Kesuburan Tanah dan peningkatan Efesiensi pemupukan.Bull.Fak.Pertanian UGM : Yogyakarta Rinsema,W.T.1983.Pupuk dan cara pemupukan.Bhratara Karya Aksara : Jakarta Tisdale, S.L. , Nelson & J.D. Beaton. Soil Fertility and Fertilizers. MacMillan Pub. Co. New York. Xiv + 754h. Yoshida, A, and S. Yoshida. 1970. Nutritional Disorder of Rice Plant in Asia. Int. Rice Res. Int. Techology Bulletin.
  • 36. 31 Gambar praktikum
  • 37. 32

×