• Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Be the first to comment
No Downloads

Views

Total Views
22,637
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0

Actions

Shares
Downloads
221
Comments
0
Likes
3

Embeds 0

No embeds

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
    No notes for slide

Transcript

  • 1. HUKUM SYARA’
  • 2. I. DEFINISI HUKUM SYARA’Menurut bahasa (etimologi) : Hukum ( /al-hukm) berarti : = mencegah,memutuskan.Menurut istilah ushul fiqh (terminologi) :hukum syara‟ adalah :Khitab (kalam) asy-syari’ (Pembuathukum/Allah SWT) yang berkaitan dengansemua perbuatan mukallaf , baik berupaiqtidha` (perintah, larangan, anjuran untukmelakukan atau meninggalkan), takhyir(memilih antara melakukan dan tidakmelakukan), atau wadh‟i (ketentuan yangmenetapkan sesuatu sebagai sebab, syarat,atau penghalang/māni‟).
  • 3. Penjelasan Definisi al-Hukm Yang dimaksud Khithab asy-syari‟ adalah semua bentuk dalil-dalil hukum, baik al-Qur‟an, as-Sunnah, maupun Ijma‟ dan Qiyas. Namun Abdul Wahab Khalaf berpendapat bahwa yang dimaksud dengan dalil hanya al- Qur‟an dan as-Sunnah. Adapun ijma‟ dan qiyas sebagai metode menyingkapan hukum dari al-Qur‟an dan sunnah. Al-Qur‟an dianggap sebagai kalam Allah secara langsung, dan sunnah sebagai kalam Allah secara tidak langsung karena Rasulullah saw tidak mengucapkan sesuatu di bidang hukum kecuali berdasarkan wahyu, sesuai firman Allah: . dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). (QS. An-Najm : 3-4) Demikian pula dengan ijma‟ harus mempunyai sandaran kepada al-Quran dan sunnah. Yang dimaksud perbuatan mukallaf adalah perbuatan yang dilakukan oleh manusia dewasa, berakal sehat, termasuk perbuatan hati (seperti niat), dan perbuatan ucapan (seperti ghibah).
  • 4. II. JENIS-JENIS HUKUM SYARA’A. Hukum TaklifiB. Hukum Wadh‟i
  • 5. A. HUKUM TAKLIFI
  • 6. Definisi Hukum TaklifiHukum yang mengandung perintah, larangan, ataumemberi pilihan terhadap seorang mukallaf untukmelakukan sesuatu atau tidak berbuat.Contoh perintah melakukan sesuatu : (Dan dirikanlah sholat). (QS. Al-Baqoroh :43)Contoh perintah meninggalkan sesuatu : (Janganlah kalian mendekati perzinaan).(QS. Al-Isra‟ : 32)Contoh pilihan melakukan atau meninggalkan sesuatu: (dan apabila kamu telah menyelesaikanibadah haji, maka bolehlah berburu.) (QS. Al-Maidah :2)
  • 7. Pembagian Hukum Taklifi1. Wajib2. Mandub3. Haram4. Makruh5. Mubah
  • 8. 1. WajibPengertiannya :Yaitu yang dituntut syari‟ untukmelakukan suatu perbuatan dengantegas dan kuat, jika dilaksanakanakan menyebabkan pujian danpahala, dan jika ditinggalkan dalamkeadaan mampu akanmenyebabkan celaan dan siksa.
  • 9. 1. Wajib (lanjutan…) Bentuk-bentuk dalil yang menunjukkan wajib, di antaranya :a. Fi‟il amar, seperti : = Dan dirikanlah sholat. (QS. Al-Baqoroh : 43)b. Kata ( ) , seperti : = Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat...(QS. An-Nahl : 90)c. Kata ( ) , seperti : = diwajibkan bagia kalian berpuasa. (QS. Al-Baqoroh : 183)d. Kata ( ) , seperti : = (Ini adalah) satu surat yang Kami turunkan dan Kami wajibkan (menjalankan hukum-hukum yang ada di dalam) nya.(QS. An-Nur : 1)
  • 10. 1. Wajib (lanjutan…)Bentuk-bentuk dalil yang menunjukkan wajib(lanjutan…)e. Fi’il yang besambung dengan lamul amri, seperti : = dan hendaklah mereka menyempurnakan nazar-nazar mereka. (QS. Al-Hajj : 29)f. Bentuk kata : ( /baginya untukmu melakukanitu), seperti : =mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadapAllah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakanperjalanan ke Baitullah. (QS. Ali Imran : 97)g. Bentuk berita yang menempatkan sesuatu yang dituntutdalam posisi dilaksanakan secara sempurna sebagaipenguat perintah, seperti : = Orang-orang yang meninggal dunia diantaramu dengan meninggalkan istri-istri (hendaklah paraistri itu) menangguhkan dirinya (beridah) empat bulansepuluh hari. (QS. Al-Baqarah:234)
  • 11. 1. Wajib (lanjutan…)Bentuk-bentuk dalil yang menunjukkanwajib (lanjutan…)h. Adanya ancaman jika ditinggalkan,seperti : = Makajika kamu tidak mengerjakan(meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah,bahwa Allah dan Rasul-Nya akanmemerangimu. (QS. Al-Baqarah:279)i. Tidak dihitung amal perbuatan jika adasesuatu yang ditinggalkan. Seperti : = Tidak sah shalat bagiorang yang tidak membaca surat al-Fatihah. (Muttafaq „alaih)
  • 12. 1. Wajib (lanjutan…)Pembagian Wajib :a. Ditinjau dari segi waktupelaksanaannya terbagi kepada :1) Wajib muwassa’, yaitu jika waktu yangditentukan itu dapat digunakan untukmelaksanakannya dan melaksanakan kewajibansejenisnya yang lain. Contohnya adalah sholat.2) Wajib mudlayyaq, yaitu yang hanyacukup untuk melaksanakan satu kewajibansaja, seperti puasa. Sesungguhnya setelahterbitnya fajar sampai terbenamnya mataharihanya cukup untuk melaksanakan satu puasasaja.
  • 13. 1. Wajib (lanjutan…)Pembagian Wajib :b. Ditinjau dari segi ukuran danbatasannya dibagi kepada : 1) Wajib muqaddar/muhaddad(kewajiban yang ditentukan atau dibatasiukurannya), seperti : nishab zakat dankadar yang dikeluarkannya. 2) wajib ghairu muqaddar/muhaddad(kewajiban yang tidak ditentukan ataudibatasi ukurannya), seperti : ukurannafkah wajib bagi suami terhadap isterinya,berbuat baik bagi manusia.
  • 14. 1. Wajib (lanjutan…)Pembagian Wajib :c. Ditinjau dari segi ditentukan atau tidakditentukannya, wajib terbagi kepada :1) Wajib mu’ayyan (tertentu), yaitu kewajibanyang harus dilakukan tanpa ada pilihan, Inimerupakan kebanyakan kewajiban, seperti shalat limawaktu.2) Wajib gahiru mu’ayyan (tidak ditentukan),seperti kafarat sumpah pada firman Allah : (tetapiDia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahyang kamu sengaja, maka kaffarat (melanggar)sumpah itu, ialah memberi makan sepuluh orangmiskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikankepada keluargamu, atau memberi pakaian kepadamereka atau memerdekakan seorang budak). (AlMaidah : 89)
  • 15. 1. Wajib (lanjutan…)Pembagian Wajib :d. Ditinjau dari segi pelakunya, wajib dibagikepada :1) Wajib ‘ain, yaitu kewajiban yang harusdilakukan oleh setiap orang Islam yang mukallafsecara pribadi-pribadi, seperti shalat lima waktu danpuasa.b) Wajib kifayah, yaitu bahwa yang diperintahkanadalah melaksanakan perbuatan dan tidakdisyaratkan harus dilakukan oleh seseorang tertentu,seperti memandikan mayyit dan menshalatkannya.Dan kadang-kadang wajib kifayah itu berubahmenjadi wajib ‘ain, seperti jika suatu negeri itumembutuhkan kepada para hakim dan di sana hanyaada dua orang saja, maka jadilah menjadi hakim itumerupakan kewajiban atas keduanya.
  • 16. 2. MandubPengertiannya :Yaitu yang dituntut syari‟ untukmelakukan suatu perbuatan tidakdengan tegas dan kuat, jikadilaksanakan akan menyebabkan pujiandan pahala, dan jika ditinggalkan tidakmenyebabkan celaan dan siksa.
  • 17. 2. Mandub (lanjutan…) Bentuk-bentuk dalil yang menunjukkan mandub, di antaranya :a. Fi‟il amr yang ada dalil yang menunjukkan tidak kuatnya perintah. Seperti : = Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu`amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. (QS. Al-Baqaqrah : 282).b. Bentuk berita yang menunjukkan anjuran, bukan perintah, seperti : bentuk-bentuk anjuran untuk melakukan dzikir atau shalat tertentu.c. Setiap perbuatan Nabi saw yang bersifat pembentukan hukum. Seperti shalat sunnah rawatib, shaum sunnah, dsb.
  • 18. 2. Mandub (lanjutan…) Nama-nama Mandub :a. Sunnah,b. b. Nafilah,c. c. Mustahab,d. d. Tathawwu‟,e. e. Fadhilah Sebagian ulama ada yang menamakan mandub jika berkaitan dengan kemaslahatan akhirat, dan irsyad jika berkaitan dengan kemaslahatan duniawi.
  • 19. 2. Mandub (lanjutan…) Derajat Mandub :a. Sunnah muakkad, yaitu amalan sunnah yang dilakukan Nabi saw secara terus menerus. Dan kadang-kadang dibarengi dengan anjuran dalam bentukperkataan. Seperti : shalat sunnah dua rakaat sebelum shalat shubuh. Sabda Rasulullah saw : “ “ “Dua rakaat sebelum shubuh lebih baik dari pada dunia dan isinya”. (HR. Muslim)b. Sunnah ghairu muakkad, yaitu amalan sunnah yang tidak dilakukan secara terus menerus. Seperti shalat sunnah 4 rakaat sebelum shalat ashar.
  • 20. 2. Mandub (lanjutan…) Derajat Mandub : Termasuk dalam kategori ini adalah amalan-amalan sunah yang diperintahkan Rasulullah saw melalui perkataan tapi dalam prakteknya beliau tidak melakukannya secara terus menerus. Seperti beliau menganjurkan untuk umrah, tapi dalam hidupnya hanya melakukan 4 kali, dan satu kali haji.c. Fadhilah wa adab (keutamaan dan adab), dinamakan juga sunnah az-zawaid (sunnah tambahan) dan sunnah al-„adah (sunnah kebiasaan). Yaitu perbuatan Nabi saw yang bukan termasuk „ubudiyah. Seperti sifat makan, minum, berpakaian, berjalannya, dsb. Karena meneladani beliau saw merupakan sebuah keutamaan dan terpuji.
  • 21. 3. HaramPengertian HaramYang dituntut Syari‟ untuk ditinggalkandengan tegas dan kuat, jikaditinggalkan karena ketaatan mendapatpahala, dan jika dilakukan secara sadarmendapat siksa. Haram dinamakan juga mahzhur(larangan).
  • 22. 3. Haram (lanjutan…) Bentuk-bentuk dalil yang menunjukkan haram :a. Kata : , seperti : = Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi. (QS. Al Maidah : 3)b. Menafikan/meniadakan kehalalan, seperti : = Kemudian jika si suami menlalaknya (sesudah talak yang kedua), maka perempuan itu tidak halal lagi baginya hingga dia kawin dengan suami yang lain.(QS. Al-Baqarah : 230)c. Kata ( ) /nahy/larangan, seperti : = dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. (QS. An-Nahl : 90)
  • 23. 3. Haram (lanjutan…) Bentuk-bentuk dalil yang menunjukkan haram (lanjutan…) :d. Kata /melarang, seperti : - - = Hadits Abu Zubair, ia berkata : Saya bertanya kepada Jabir tentang anjing dan kucing. Jabir berkata : Nabi saw melarangnya”. (HR. Muslim)e. Bentuk perintah mengakhiri atau berhenti , seperti : = janganlah kamu mengatakan: "(Tuhan itu) tiga", berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. (QS. An-Nisa‟:171)f. Bentuk fi‟il mudhari‟ yang disertai la nahiyah , seperti : = Janganlah kalian mendekati perzinaan. (QS. Al-Isra‟ : 32)
  • 24. 3. Haram (lanjutan…) Bentuk-bentuk dalil yang menunjukkan haram (lanjutan…) :g. Kata ( /tidak pantas,wajar), seperti sabda Rasulullah saw tenang sutra : “ ” = “Ini tidak pantas bagi orang-orang yang bertakwa”. (Hadits Muttafaq „alaih)h. Bentuk perintah meninggalkan dengan kata selain kata (nahy), seperti : = maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta. (QS. Al- Hajj : 30); = Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah: "Haid itu adalah kotoran". Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid. (QS.al-Baqarah :222)
  • 25. 3. Haram (lanjutan…) Bentuk-bentuk dalil yang menunjukkan haram (lanjutan…) :i. Ancaman atau laknat jika melakukannya, baik ancaman dunia, ataupun akhirat, seperti : = Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya. (QS. Al-Maidah : 38)j. Mensifati perbuatan dengan dosa, seperti hadits : - - = Dari Anas ra, ia berkata : Nabi saw ditanya tentang dosa besar, beliau menjawab : “ Menyekutukan Allah, membunuh jiwa, dan kesaksian palsu”. (Hadits Muttafaq „alaih)k. Mensifati perbuatan dengan pelanggaran, kezaliman, kejahatan, kefasikan, dan semacamnya, seperti : = Jika kamu lakukan (yang demikian), maka sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu. (QS. Al-Baqarah : 282)
  • 26. 3. Haram (lanjutan…) Bentuk-bentuk dalil yang menunjukkan haram (lanjutan…) :l. Pelaku suatu perbuatan disamakan dengan binatang, setan, orang-orang kafir, orang-orang yang merugi, atau semacamnya, seperti : = Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan. (QS. Al-Isra‟ : 27)m. Menamakan perbuatan dengan nama lain yang diharamkan yang keharamannya sudah dimaklumi, seperti mensifati perbuatan dengan perzinahan, pencurian, kemusyrikan, atau yang lain. Di antaranya sabda Rasulullah saw : “ “ “barangsiapa yang bersumpah dengan nama selain Allah, sungguh ia telah berbuat syirik”. (HR. Abu Daud, Tirmidzi dan lainnya).
  • 27. 3. Haram (lanjutan…) Pembagian Haram : Dalam syari‟at Islam pengharaman tidak diberikan kecuali pada sesuatu yang kerusakannya bersifat murni atau bersifat secara umum. Kerusakan pada yang diharamkan terjadi pada dzat yang diharamkan itu sendiri, atau pada sebabnya. Oleh karena itu haram terbagi kepada 2 bagian.a. Muharram lidzatih atau haram karena dzatnya, seperti syirik, zina, mencuri, memakan daging babi, dsb.b. Muharram lighairih atau haram karena yang lain. Ini pada dasarnya mubah atau legal karena tidak mengandung kerusakan atau karena aspek kemaslahatannya kuat, akan tetapi karena kondisi tertentu,ia menjadi haram karena sebagai sebab timbulnya kerusakan. Maka dalam keadaan itu, ia menjadi haram. Seperti berjual beli pada dasarnya boleh dan disyari‟atkan, tetapi kalau dilakukan saat azan shalat jum‟at sudah dikumandangkan, ia menjadi haram.
  • 28. 4. MakruhPengertian Makruh :Yang dituntut Syari‟ dari seorangmukallaf untuk ditinggalkan tidakdengan tegas dan kuat, jikaditinggalkan karena ketaatanmendapat pahala, dan tidak disiksajika dilakukan.
  • 29. 4. Makruh (lanjutan…) Bentuk-bentuk dalil yang menunjukkan makruh :a. Kata (karaha =tidak suka/ benci). Seperti sabda Rasulullah saw : = Sesungguhnya Allah telah mengharmkan mendurhakai ibu, mengubur anak wanita hidup-hidup, tidak mau memberi, dan Allah membenci desas desus, banyak bertanya, dan menyia- nyiakan harta”. (Hadits Muttafaq „alaih). Dalam hadits inidibedakan antara haram dan makruh.
  • 30. 4. Makruh (lanjutan…) Bentuk-bentuk dalil yang menunjukkan makruh (lanjutan…):c. Bentuk larangan yang disertai dalil yang memalingkannya dari haram, seperti hadits Abdullah bin Umar, ia berkata : =Rasulullah saw melarang makan bawang putih pada hari Perang Khaibar. Larangan ini dalam arti makruh dengan dalil hadits Abu Ayyub al- Anshari, ia berkata : Rasulullah saw apabila diberikan makanan, beliau memakannya dan memberikan sisanya kepada saya. Pada suatu hari beliau memberikan makanan sisa yang belum beliau makan, karena ada bawang putih pada makanan itu. Lalu saya bertanya kepadanya : Apakah itu haram?. Beliau bersabda : “Tidak, akan tetapi saya tidak menyukainya karena baunya”. Abu Ayyub berkata : Kalau begitu saya tidak menyukai apa yang engkau tidak sukai. (HR. Muslim)d. Sesuatu yang ditinggalkan Nabi saw dengan maksud penentuan hokum, bukan karena tabiat kemanusiaan.
  • 31. 5. MubahPengertiannya : .Pemberian kebebasan memilih dariSyari‟kepada mukallaf untukmelakukan atau meninggalkansesuatu, tidak ada pujian dan celaansyar‟I dalam melakukan ataumeninggalkannya.
  • 32. 5. Mubah (lanjutan…) Bentuk-bentuk dalil yang menunjukkan mubaha. Adanya kata halal secara jelas, seperti : = Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik- baik. Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal pula bagi mereka. (QS. Al-Maidah : 5)b. Meniadakan dosa dalam melakukannya, seperti : = Tetapi barang siapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang ia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. (QS. Al- Maidah : 173)
  • 33. 5. Mubah (lanjutan…) Bentuk-bentuk dalil yang menunjukkan mubah (lanjutan…)c. Bentuk perintah setelah larangan, seperti : = Apabila telah ditunaikan sembahyang, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah. (QS. Al-Jumu‟ah : 10). Ini perintah setelah adanya larangan pada ayat sebelumnya.d. Mubah sebagai hokum asal sebagaimana dikatakan bahwa dasar pada sesuatu itu adalah boleh. Segala sesuatu itu mubah selama tidak ada dalil yang memindahkan kemubahan itu pada hukum lain.
  • 34. B. HUKUM WADH’I
  • 35. Definisi Hukum Wadh’iKetentuan-ketentuan hukum yangmengatur tentang sebab, syarat, dan māni‟(sesuatu yang menjadi penghalangkecakapan untuk melakukan hukum taklifi).Contoh sesuatu menjadi sebab adanyahukum taklifi :Hai orang-orang yang beriman, apabilakamu hendak mengerjakan salat, makabasuhlah mukamu dan tanganmu sampaidengan siku, dan sapulah kepalamu dan(basuh) kakimu sampai dengan kedua matakaki. (QS. Al-Maidah : 6)
  • 36. Definisi Hukum Wadh’I (lanjutan…) Contoh sesuatu menjadi syaratadanya hukum taklifi :mengerjakan haji adalah kewajibanmanusia terhadap Allah, yaitu (bagi)orang yang sanggup mengadakanperjalanan ke Baitullah. (QS. Ali Imran: 97)Contoh sesuatu yang menjadimani’ (penghalang) hukum taklifi :Yang membunuh tidak mendapatwarisan “. (HR. Ahmad)
  • 37. Definisi Hukum Wadh’I (lanjutan…)Dinamakan hukum wadh‟i, karena yang menentukanatau menetapkan hukum itu adalah Syari‟ (Pembuathukum/Allah). Umpamanya, Allah-lah yangmenentukan bahwa hendak melakukan shalat sebagaisebab wajibnya berwudhu, istitha‟ah(kemampuan)sebagai syarat bagi wajib melaksanakanibadah haji, pembunuhan pewaris terhadapahliwarisnya sebagai penghalang mendapatkan warisan,tanpa berhubungan dengan permintaan dari mukallaf.Dari penjelasan ini dapat dibedakan antara hukumtaklifi dengan hukum wadh‟i, yaitu bahwa hukumtaklifi didasarkan pada kemampuan mukallaf,sedangkan hukum wadh‟i tidak didasarkan padakemampuan atau tidak mampunya mukallaf. Ada atautidak adanya sesuatu didasarkan pada ketentuansyari‟at.
  • 38. Pembagian Hukum Wadh’i1. Sebab2. Syarat3. Mani‟4. Sah dan Batal5. „Azimah dan Rukhshah
  • 39. 1. SebabPengertian SebabSecara bahasa berarti :Sesuatu yang bisa menyampaikan seseorangkepada sesuatu yg lain.Secara istilah, sebab yaitu :Sesuatu yang dijadikan oleh syariat sebagaitanda bagi adanya hukum, dan tidak adanyasebab sebagai tanda bagi tidak adanya hukum.
  • 40. 1. Sebab (lanjutan…) Pembagian Sebaba. Sebab yang bukan merupakan perbuatan mukallaf, dan berada di luar kemampuannya. Namun, sebab itu mempunyai hubungan dengan hukum taklifi, karena syariat telah menjadikannya sebagai alasan bagi adanya suatu kewajiban yang harus dilaksanakan oleh mukallaf. Misal, tergelincir matahari menjadi sebab (alasan) bagi datangnya waktu shalat dhuhur, masuknya awal bulan ramadhan menjadi sebab bagi kewajiban puasa ramadhan.b. Sebab yang merupakan perbuatan mukallaf dan dalam batasan kemampuannya. Misal: perjalanan (safar) menjadi sebab bagi bolehnya berbuka puasa di siang ramadhan, akad jual beli menjadi sebab bagi perpindahan hak milik dari penjual kepada pembeli.
  • 41. 2. SyaratPengertian SyaratSecara bahasa berarti : / tanda.Secara istilah, syarat yaitu :Sesuatu yang tergantung kepadanya adasesuatu yang lain, ia bukan bagian dari sesuatuyang lain itu, tetapi berada di luar hakikatsesuatu itu, sebagaimana adanya sesuatu itutidak menuntut adanya sesuatu yang lain yangmengsyaratkannya.Contoh : wudhu merupakan syarat bagisahnya shalat, sahnya shalat tergantungadanya wudhu, tetapi wudhu itu bukanmerupakan bagian dari shalat, dan juga adanyawudhu tidak mesti adanya shalat.
  • 42. 2. Syarat (lanjutan…) Pembagian Syarata. Syarat Syar’i, yaitu syarat yang datang langsung dari syari‟at itu sendiri. contoh , adanya haul (cukup satu tahun) bagi harta yang sudah mencapai nishab merupakan syarat bagi wajibnya zakat.b. Syarat Ja’ly, yaitu syarat yang datang dari kemauan orang mukallaf itu sendiri dalam tindakan dan mu‟amalah, bukan dalam masalah ibadah. Contoh : syarat- syarat yang ditentukan orang-orang yang melakukan berbagai transaksi.
  • 43. 3. Mani’Pengertian Mani’Secara bahasa berarti penghalangdari sesuatu.Secara istilah, mani‟ adalah :Sesuatu yang ditetapkan syariatsebagai penghalang bagi adanyahukum, atau penghalang bagiberfungsinya suatu sebab.
  • 44. 3. Mani’ (lanjutan...) Pembagian Mani’a. Māni’ lil-Hukm, yaitu : sesuatu yang ditetapkan syariat sebagai penghalang bagi adanya hukum. Misal: haid wanita sebagai penghalang shalat.b. Māni’ lis-Sabab, yaitu sesuatu yang ditetapkan syariat sebagai penghalang bagi berfungsinya suatu sebab, sehingga sebab itu tidak lagi mempunyai akibat hukum. Contoh : adanya hutang merupakan penghalang bagi wajibnya zakat harta sekalipun sudah mencapai nishab dan haul.
  • 45. 4. Sah dan BatalPengertian Sah dan Batal :Sah/Shihhah/Shah : maksudnya perbuatanhukum yang sesuai dengan tuntutan syara‟,yaitu terpenuhinya sebab, syarat, dan tidak adam ā ni‟. Sah dapat diartikan lepas tanggungjawab atau gugur kewajiban di dunia sertamemperoleh pahala dan ganjaran di akhirat.Misal: mengerjakan shalat dhuhur setelahtergelincir matahari (sebab), didahului denganwudhu‟ (syarat), dan tidak ada halangan haidbagi pelakunya (m ā ni‟). Shalat yang dilakukanitu hukumnya sah. Tapi jika sebab tidak ada,syarat tidak terpenuhi, maka shalatnyadikatakan tidak sah, walaupun m ā ni‟-nyatidak ada.
  • 46. 4. Sah dan Batal (lanjutan...)Pengertian Sah dan Batal :Batal/Buthlan/Bathil : yaituterlepasnya hukum syara‟ dariketentuan yang ditetapkan dan tidakada akibat hukum yangditimbulkannya. Batal juga dapatdiartikan tidak melepaskan tanggungjawab, tidak menggugurkan kewajibandi dunia, dan di akhirat tidakmemperoleh pahala.
  • 47. 4. Sah dan Batal (lanjutan...)Perbedaan para ulama tentangpenggunaan istilah sah dan bataldalam masalah muamalah :Menurut Jumhur ulama, tidak adaperbedaan dalam ibadah danmuamalah, dalam keduanya berlaku“sah atau batal”.Sebagian ulama mazhab Hanafi :– Dalam maslah ibadah sependapat dengan jumhur ulama, yaitu hanya ada “sah atau batal”.
  • 48. 4. Sah dan Batal (lanjutan...)– Dalam masalah muamalah, yaitu dalam masalah „uqud, perjanjian yang tidak sah terbagi dua: batal dan fasid (rusak). Bila cacat terdapat dalam rukun & syarat, maka akad menjadi batal, ia tidak mengakibatkan timbulnya hukum karena tidak ada sebab. Sedang jika cacat itu ada dalam suatu syarat dari beberapa syarat yang berhubungan dengan hukum maka akad itu menjadi fasid, tapi tidak batal, dan berakibat timbulnya sebagian pengaruh hukum. Misal: akad nikah dengan wanita muhrimat adalah batal. Tapi pernikahan yang tidak dihadiri dua orang saksi disebut fasid, pengaruhnya suami wajib bayar mahar, isteri tetap menjalankan masa „iddah, anak masih dapat dihubungkan dengan suaminya.
  • 49. 5. ‘Azimah dan RukhshahPengertian ‘Azimah :Secara bahasa : „azaimah berarti kemauanyang kuat.Menurut istilah adalah :Suatu ungkapan tentang hukum-hukum yangdisyari‟atkan Allah sejak semula, tidakberkaitan dengan suatu peristiwa baru. Contoh: Hukum shalat Dhuhur 4 raka‟at adalah hukumasal, itu disebut „azimah. Hukum makanbangkai adalah haram adalah hukum asal, ituadalah „azimah.
  • 50. 5. ‘Azimah dan Rukhshah (lanjutan...)Pengertian Rukhshah :Menurut bahasa: rukhshah berarti mudahdan gampang.Menurut istilah rukhshah berarti :Suatu nama bagi hukum yang disyari‟atkankarena adanya peristiwa baru yang keluar darihukum asal karena ada udzur. Contoh :menjama‟ dua shalat karena ada udzur safar(perjalanan) dan hujan; menqashar shalat bagimusafir; boleh makan bangkai bagi orang yangdalam keadaan darurat. Hukum-hukum inikeluar dari hukum asal, dan yangmempengaruhinya adalah karena ada udzur.
  • 51. 5. ‘Azimah dan Rukhshah (lanjutan...) Faktor Penyebab adanya Rukhshah1. Lemah fisik. Seperti : tidak adanya kewajiban atas anak kecil dan orang gila, gugurnya kewajiban shalat jum‟at bagi wanita.2. Sakit. Seperti boleh berbuka puasa bagi orang yang sakit.3. Perjalanan. Seperti boleh menqashar shalat yang empat rakaat.4. Lupa. Seperti sah puasa orang yang makan dan minum karena lupa.5. Jahl/bodoh/tidak tahu. Seperti gugurnya siksaan orang yang tidak bisa dalam belajar jika terjadi karena tidak melalaikan.6. Keadaan terpaksa. Seperti boleh makan bangkai bagi orang yang kelaparan dan takut mati kalau tidak makan.7. Bencana yang bersifat umum, yaitu dalam keadaan yang sulit melepaskan darinya.
  • 52. 5. ‘Azimah dan Rukhshah (lanjutan...) Macam-macam Rukhshah1. Boleh melakukan yang haram karena keadaan darurat. Seperti boleh makan daging babi karena darurat.2. Boleh meninggalkan yang wajib. Seperti tidak berdiri dalam shalat bagi orang yang tidak mampu.3. Membenarkan sebagian akad yang kurang persyaratan umumnya untuk menghilangkan kesulitan dan memudahkan manusia. Seperti akad salam dan jasa kerja.
  • 53. 5. ‘Azimah dan Rukhshah (lanjutan...) Derajat Mengambil Rukhshah1. Boleh memilih antarmengambil rukhshah atau meninggalkannya. Seperti boleh berbuka puasa bagi musafir atau tetap berpuasa.2. Lebih utama mengambil rukhshah. Seperti menqashar shalat bagi musafir, karena Rasulullah saw selalu mengqashar shalat dalam safar.3. Lebih utama meninggalkan rukhshah. Seperti sabar menanggung penderitaan ketika dipaksa mengatakan kata kekufuran.4. Wajib mengambil rukhshah. Seperti wajib makan bangkai bagi orang yang dalam keadaan darurat agar tidak mati.
  • 54. Ada’, I’adah, Qadha’ Tiga istilah syari’at yang berhubungan dengan hukum wadh‟i dilihat dari sisi waktu pelaksanaan ibadah :1. Ada’, yaitu melakukan suatu ibadah pada waktu yang ditentukan menurut syari‟at.2. I’adah (pengulangan), yaitu melakukan suatu ibadah pada waktu yang telah ditentukan oleh syari‟at untuk kedua kalinya karena ada semacam kerusakan atau kekurangan dalam menunaikannya.3. Qadha’, yaitu melakukan suatu ibadah setelah keluar dari waktu yang telah ditentukan oleh syari‟at, baik karena kerusakan dalam menunaikan atau karena meninggalkannya secara keseluruhan, karena adanya suatu udzur atau tanpa udzur.
  • 55. Ada’, I’adah, Qadha’ (lanjutan...)Catatan :Bahwa qadha tidak ada dalil yangmemerintahkan qadha kecuali dalammelakukan ibadah setelah keluarwaktunya disebabkan adanya udzurseperti tidak shalat disebabkanketiduran, atau puasa bagi wanitahaidh dan nifas. Adapun keluarnyawaktu tanpa udzur, tidak ada dalil yangmemerintahkan qadha. Ini berbedadengan pendapat kebanyakan ulamafiqh.
  • 56. Ada’, I’adah, Qadha’ (lanjutan...)Ini diperkuat oleh masalah yang dilontarkanoleh para ulama ushul fiqh, apakah qadha ituberdasarkan perintah pertama, ataumembutuhkan perintah baru?Kebanyakan ulama berpendapat bahwa qadhamembutuhkan perintah baru. Inilah pendapatyang benar, karena ibadah yang berkaitandengan waktu, dimaksudkan oleh Syari‟dilaksanakan pada waktu yang telahditentukan. Jika seorang mukallafmengabaikannya lalu melaksanakannya di luarwaktunya tanpa udzur, berarti ia tidakmelakukannya sesuai perintah. Padahal nabisaw telah bersabda : “Barangsiapa yangmelakukan suatu amal tidak berdasarkanperintah kami, maka amal itu ditolak”. (HR.Muslim).
  • 57. Ada’, I’adah, Qadha’ (lanjutan...)Ini berbeda dengan orang yang punya udzur.Bisa jadi syari‟at menggugurkan kewajibannyadan tidak memerintahkannya seperti menqadhashalat bagi wanita haidh. Atau karena adaperintah baru, seperti perintah mengqadhashalat bagi orang yang tidur dan lupa, perintahmengqadha puasa bagi wanita haidh dan nifasdan bagi musafir, menggantikan haji bagiorang yang tidak mampu melaksanakan haji dimasa hidupnya.Dari permasalahan ini timbul masalah baru,yaitu mengqadha shalat, puasa dansemacamnya bagi orang yangmeninggalkannnya pada waktunya dengansengaja. Ini baginya tidak ada rukhshah untukmengqadhanya, tetapi caranya dengan taubatdan banyak melakukan ibadah sunnah.
  • 58. Semoga dapat dipahami! asnin_syafiuddin@yahoo.co.idhttp://abufathirabbani.blogspot.com