ULUMUL QUR’AN: Oleh: Ustaz Idris Bin Hj Ahmad Pentauliahan Guru Pengajian Qur’an (QTRS) Majlis Ugama Islam Singapura (MUIS)
ULUMUL QUR’AN: Muqaddimah Ulum Al-Quran  Pendahuluan  Pengertian Ulum Al-Qur’an  Tahap Perkembangan Ulum Al-Qur’an  Penulisan Ulum Al-Qur’an dan Tokoh Ulama’  Bidang & Skop Perbahasan Ulum Al-Qur’an  Faedah Mempelajari Ulum Al-Qur’an
Pengertian Ulum:
Menurut Syeikh Ali Tantawi : manusia dalam menghadapi persoalan  terbahagi kepada 5 urutan: 1) Jahil (0%) 2) Syak (50%) 3) Zhon (60%) 4) Ghalabatul zhon (75%) 5) Ilmu yakin (100%)
Pengertian  Al-Qur’an: Sedangkan kata al-Qur’ān, secara bahasa, berasal dari kata qara’a - yaqra’u yang memiliki makna al-jam‘ dan al-dhamm (keduanya berarti mengumpulkan).  Sedangkan kata qur’ān pada asalnya adalah seperti qirā’ah, karena keduanya merupakan mashdar dari qara’a, dengan wazn (rumus kata) fu’lān (  فعلان   ), seperti kata ghufrān dan syukrān. 
Pengertian  Al-Qur’an: Sedangkan dalam pengertian istilah, menurut Mannā’ al-Qaththān, al-Qur’an dapat didefinisikan sebagai berikut:   كلام الله المنزل على محمد صلى الله عليه وسلم المتعبد بتلاوته  
Selain itu, al-Qur’an didefinisikan sebagai firman Allah yang disampaikan oleh malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad saw dan diterima oleh umat Islam secara  mutawatir.  
Beberapa pendapat menambahkan dalam pengertian tersebut dengan “ditulis dalam mushaf yang diawali dengan surat al-Fātihah dan diakhiri dengan surat  al-Nās.” 
Dari beberapa definisi di atas,  maka al-Qur’an memiliki beberapa unsur  atau batasan, yakni:  (1) kalām (firman/perkataan) Allah.  (2) melalui perantara Malaikat Jibril,  (3) diturunkan kepada Nabi Muhammad saw.  (4) mempunyai kemampuan i‘jāz,  (5) membacanya bernilai ibadah,  (6) diriwayatkan secara mutawātir,  (7) ditulis dalam mushaf,  (8) diawali dengan surat al-Fātihah dan  diakhiri  dengan surat al-Nās.
Pengertian Ulumul Qur’an:  Menurut Manna Qathan: “ Sesuatu ilmu yang mencakupi pelbagai kajian yang berhubungkait dengan kajian-kajian Al-Quran seperti perbahasan tentang Asbab an-Nuzul, Jam’ul Quran, Makkiyah dan Madaniyah, Nasikh dan Mansukh, Muhkam dan Mutasyabihat dan lain-lain lagi.
Menurut Muhammad ‘Ali al-Shabuni: Pembahasan yang berhubungan dengan al-Qur’an al-Majīd yang abadi, baik dari segi penyusunannya, pengumpulannya, sistematikanya, perbedaan antara surat makkiyyah dan madaniyyah, pengetahuan tentang nāsikh dan mansūkh, pembahasan tentang muhkamat dan mutasyābihat, serta pembahasan-pembahasan lain yang berhubungan dengan al-Quran. 
Pengertian Istilah: Ilmu yang membahaskan tentang  Al-Qur’an dari aspek: Penurunannya Bacaannya Pengumpulannya Penyusunannya Penulisannya Pentafsirannya
I’jaznya Nasikh mansukhnya Sebab nuzulnya Ayat Makki Madaninya I’rabnya Gharibnya Adab-adabnya Dan apa saja yang berkaitan dengannya
Tahap Perkembangan  Ulum Al-Qur’an: Perkembangannya melalui 3 tahap: 1) Tahap sebelum dibukukan 2) Tahap persediaan ke arah pembukuan 3) Tahap penulisan dan pembukuan
Tahap sebelum dibukukan: Zaman Rasulullah saw dan para sahabat. Bermula semenjak al-Quran diturunkan pertama kalinya.
Menurut Dr Musaid Sulaiman  al-Thayyar :
Antara ulumul Qur’an pada zaman  itu adalah: Membaca Menghafal Wahyu Penurunan wahyu Tafsir
Doa Rasulullah saw untuk  Ibnu Abbas :
 
 
Abu Abdirrahman As-Sulami  meriwayatkan bahwa orang-orang  yang biasa membacakan Al-Qur’an kepada kami, seperti Utsman bin Affan dan Abdullah bin Mas’ud, serta yang lainnya; Apabila mereka belajar sepuluh ayat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, mereka enggan melewatinya sebelum memahami dan mengamalkannya. Mereka mengatakan, “Kami mempelajari Al-Qur’an, ilmu, dan amal sekaligus.”  (HR. Abdurrazaq dishahihkan Syaikh Ahmad Syakir)
Rasulullah saw mentafsir:
Tahap persediaan ke arah pembukuan: Bentuk tulisan dalam media buku belum berkembang. Namun, salinan-salinan mushaf yang ditulis pada masa ‘Utsmān yang dikirim ke beberapa wilayah dianggap sebagai permulaan dari ilmu rasm al-Qur’an.   Begitu pula, upaya pemberian harakat dalam tulisan al-Qur’an yang dilakukan oleh Abū al-Aswad al-Du’alī dengan kaidah Nahwu dapat dianggap sebagai permulaan ilmu I‘rāb al-Qur’an. 
Pengajian tafsir Al-Quran  oleh para sahabat: Diantara para mufasir yang terkenal di kalangan para shahabat Nabi adalah empat khalifah, Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Ubay bin Ka’ab, Zaid bin Tsabit, Abu Musa al-Asy’ari dan Abdullah bin az-Zubair.
Yang termasyhur dalam bidang tafsir: 1) Abdullah bin Abbas (Makkah) 2) Abdullah bin Mas’ud (Kufah/Iraq) 3) Ubay bin Ka’ab (Madinah)
Di antara murid-murid Ibnu Abbas yang cukup termasyhur adalah Said bin Jubair, Mujahid, Ikrimah maula Ibnu Abbas, Thawus bin Kisan al Yamani dan Atha’ bin Rabah.
Murid Ubay bin Ka’ab yang popular di Madinah adalah Zaid bin Aslam, Abul Aliyah dan Muhammad bin Ka’ab al Qurazhi. 
Di Iraq terdapat beberapa murid Abdullah bin Mas’ud yang juga terkenal sebagai mufassir. Mereka yaitu Alqamah bin Qais, Masruq bin al-Alda’, Aswad bin Yazid, Amir asy-Sya’bi, Hasan al-Bashri dan Qatadah bin Di’amah as-Sadusi.
Adapun jenis ilmu yang diriwayatkan dari mereka itu mencakup: ilmu tafsir, ilmu gharib al-Qur’an, ilmu asbab an-nuzul, ilmu makkiyah dan madaniyah dan ilmu nasikh-mansukh.
Metode penyampaian ilmu pengetahuan pada waktu itu, yang berlangsung sejak abad pertama hingga abad ke-2 sampai abad ke-3 Hijriah, lebih banyak mengandalkan metode sima‘ī (pendengaran), musyāfahah (penyampaian secara oral/lisan).
Tahap penulisan dan pembukuan: Penyampaian ilmu-ilmu al-Qur’an melalui tulis-menulis dalam arti pembukuan, diperkirakan baru muncul sekitar abad ke-3 atau ke-4 Hijriah.
Dalam bidang ilmu asbāb al-nuzul, tercatat nama ‘Alī Ibn al-Madinī  (234 H)—guru Imam al-Bukhārī—yang mengarang asbāb al-nuzūl  Abū ‘Ubaid al-Qāsim ibn Salām yang menulis tentang al-Nāsikh wa al-Mansūkh.  Ibn Qutaybah (276 H) menyusun tentang musykilah (problematika) al-Qur’an. 
Sedangkan dari ulama-ulama abad ke-4 Hijriah, dan seterusnya, masing-masing tercatat nama-nama:  Abū Bakr al-Sijistānī (330 H) dalam bidang Gharīb al-Qur’ān,  Abū Bakr al-Baqilānī (403 H) menyusun I’jāz al-Qur’ān,  ‘ Alī ibn Sa‘īd al-Hūfī (430 H) dalam bidang I‘rāb al-Qur’ān,  al-Māwardī (450 H) menulis tentang amtsāl al-Qur’ān,
Abū al-Qāsim ‘Abd al-Rahmān  yang lebih populer dengan sebutan al-Siblī (abad ke-6) dalam bidang Mubhamat al-Qur’an, al-‘Izz ibn ‘Abd al-Salām (660 H) dalam bidang majāz al-Qur’ān, dan  ‘ Alam al-Dīn al-Sakhāwī (643 H) dalam bidang ‘ilm al-qirā’āt dan aqsām al-Qur’ān.  
Khususnya dalam bidang tafsir,  orang pertama sebagai penulis kitab tafsir al-Qur’an dalam bentuk karangan yang sesungguhnya ialah:  Muhammad ibn Jarīr al-Thabari  (w. 310 H) dengan karya Jami’ al-Bayan fi Tafsir al-Qur’an (Himpunan penjelasan dalam tafsir a-Quran). 
Menurut al-Zarqānī, istilah ini berdasarkan opini masyarakat umum baru muncul pada abad ke-7 Hijriah. Di perpustakaan Dār al-Kutub al-Mishriyyah, al-Zarqānī menjumpai sebuah kitab yang ditulis oleh ‘Ali Ibn Ibrāhīm Ibn Sa‘īd al-Hūfī (w. 330 H) yang diberi nama al-Burhān fī ‘Ulūm al-Qur’ān sebanyak 30 jilid.
Dengan demikian, istilah ‘ulūm al-Qur’ān telah lahir sekitar dua abad lebih lama, yakni abad ke-5 atau bahkan abad ke-4 dari pada pendapat umum.
Pada abad ke-6 Hijriah: Ibn al-Jauzī (w. 597 H), menyusun dua kitab Funūn al-Afnān fī-‘Ulūm al-Qur’ān  al-Mujtabā fī ‘Ulūm Tata‘allaq bi al-Qur’ān.  Alam al-Sakhāwī (w. 641 H) menyusun buku Jamāl al-Qurrā’,  Abū Syāmah (w. 665 H) mengarang kitab al-Mursyid al-Wajīz fī mā Yata‘allaq bi al-Qur’ān al-‘Azīz.
Pada abad ke-8:  Badr al-Dīn al-Zarkasyī menyusun  al-Burhān fī-‘Ulūm al-Qur’ān,  al-Bulqinī menyusun karya besar Mawāqi‘ al-‘Ulūm min Mawāqi‘ al-Nujūm.
Pada abad ke-9 Hijriah:     Jalāl al-Dīn al-Suyūthī (w. 911 H) menyusun al-Itqān fī-‘Ulūm al-Qur’ān.  Kemudian, Syaikh Thāhir al-Jazairī menyusun al-Tibyān fī-‘Ulūm al-Qur’ān (1335 H).  Manāhil al-‘Irfān fī-‘Ulūm al-Qur’ān ditulis Muhammad ‘Abd al-‘Azhīm al-Zarqānī.
Dikalangan para ulama kontemporer lahir  beberapa buku tentang ilmu ilmu Al Qur’an semisal: Mabāhits fī ‘Ulūm al-Qur’ān karya Muhammad Shubhī al-Shālih,  Mabāhits fī ‘Ulūm al-Qur’ān tulisan Mannā’ al-Qaththān,  Min Rawāi‘ al-Qur’ān buah pena Muhammad Sa‘īd Ramadhān al-Būthī,  al-Tibyān fī ‘Ulūm al-Qur’an karya Muhammad ‘Ālī al-Shābūnī, dan lain-lain. 
Di Indonesia pun terbit beberapa buah buku  ‘ ulum al-Qur’an. Di antaranya adalah:  Sejarah dan Pengantar Ilmu al-Qur’an / Tafsir dan Ilmu-Ilmu al-Qur’an karya tulis M. Hasbi Ash-Shiddieqy,  Pengantar ‘Ulumul Qur’an karangan Masyfuq Zuhdi,  Sejarah al-Qur’an karya Abu Bakar Aceh,  al-Qur’an dari Masa ke Masa buah pena KH. Munawar Khalil, dan lain-lain. 
Bidang & Skop Perbahasan Ulum Al-Qur’an: 1) Tafsir dan Ta’wil 2) I’rab al-Qur’an 3) Qira’at 4) Nasikh dan Mansukh 5) Asbab al-Nuzul 6) Makki dan Madani 7) Fadaail al-Qur’an 8) Nuzul al-Qur’an
9) Gharib al-Qur’an 10) Amthal al-Qur’an 11) Majaz Al-Qur’an 12) Muhkamat dan Mutasyabihat 13) Jadal al-Qur’an 14) Aqsam al-Qur’an
Tujuan mempelajari ulumul Quran Muhammad ‘Ali al-Shabuni: Dua macam; yakni tujuan dalaman dan luaran. Tujuan dalaman, seperti di kemukakan ialah: (1) untuk memahami kalam Allah (al-Qur’an), menurut tuntunan, keterangan dan penjelasan dari Rasulullah saw, serta riwayat yang dinukilkan dari para sahabat dan para tābi‘īn tenang penafsiran mereka terhadap ayat-ayat al-Qur’an;
(2) mengetahui cara dan gaya yang dipergunakan oleh para mufassir dalam menafsirkan al-Qur’an dengan disertai penjelasan tentang tokoh-tokoh mufasir ternama berikut kepiawaian mereka;  
(3) mengetahui persyaratan-persyaratan dalam menafsirkan al-Qur’an;  (4) mengetahui ilmu-ilmu lain  yang diperlukan untuk itu.
Adapun tujuan luaran ialah untuk membentengi kaum muslmin dari kemungkinan usaha-usaha pengaburan al-Qur’an yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak mengimani atau bahkan memusuhi al-Qur’an. Dengan ilmu-ilmu ini, kaum muslimin dapat memelihara dan mempertahankan keaslian dan keabadian kitab sucinya.
An Introduction to ’Uloom al-Qur‘an Abu Ammar Yasir al-Qadhi: Pertama, ia membolehkan pembaca untuk mewujudkan kekayaan pengetahuan dan wawasan yang ada berhubung dengan kitab Allah.  As some of the scholars of the past said, "True knowledge is to know one's ignorance."  Only when a person realizes what he does  not  know will he appreciate how little he  does  know.
Kedua, membolehkan seorang pelajar untuk lebih memahami Qur’an, dalam hal dia akan akrab dengan sejarah wahyu dan pengumpulannya, dan pelbagai aspek yang dapat membantu pemahaman tersebut.
Ketika ia membaca buku-buku  tafsir, ia akan dapat memahami  istilah yang digunakan, dan mengambil manfaat dari pengetahuan itu ke tahap yang lebih besar. Dengan kata lain, ia akan diperlengkapi untuk lebih meningkatkan pengetahuannya dan untuk belajar tentang agamanya.
Ketiga, meningkatkan keimanan seseorang, kerana ia akan menyedari keindahan Al-Qur’an dan keberkatan yang besar melalui wahyu tersebut. Dia tidak akan tertipu oleh tuntutan musuh-musuhnya yang menyesatkan, dan hatinya merasa tenteram dengan keasliannya.
Keempat, ia akan mampu mempertahankan Al-Qur’an terhadap musuh-musuhnya, kerana ia akan dilengkapi dengan pengetahuan yang benar dan murni dari Qur’an, murni oleh prasangka lawannya.

Ulumul Qur'an (2)

  • 1.
    ULUMUL QUR’AN: Oleh:Ustaz Idris Bin Hj Ahmad Pentauliahan Guru Pengajian Qur’an (QTRS) Majlis Ugama Islam Singapura (MUIS)
  • 2.
    ULUMUL QUR’AN: MuqaddimahUlum Al-Quran Pendahuluan Pengertian Ulum Al-Qur’an Tahap Perkembangan Ulum Al-Qur’an Penulisan Ulum Al-Qur’an dan Tokoh Ulama’ Bidang & Skop Perbahasan Ulum Al-Qur’an Faedah Mempelajari Ulum Al-Qur’an
  • 3.
  • 4.
    Menurut Syeikh AliTantawi : manusia dalam menghadapi persoalan terbahagi kepada 5 urutan: 1) Jahil (0%) 2) Syak (50%) 3) Zhon (60%) 4) Ghalabatul zhon (75%) 5) Ilmu yakin (100%)
  • 5.
    Pengertian Al-Qur’an:Sedangkan kata al-Qur’ān, secara bahasa, berasal dari kata qara’a - yaqra’u yang memiliki makna al-jam‘ dan al-dhamm (keduanya berarti mengumpulkan). Sedangkan kata qur’ān pada asalnya adalah seperti qirā’ah, karena keduanya merupakan mashdar dari qara’a, dengan wazn (rumus kata) fu’lān ( فعلان ), seperti kata ghufrān dan syukrān. 
  • 6.
    Pengertian Al-Qur’an:Sedangkan dalam pengertian istilah, menurut Mannā’ al-Qaththān, al-Qur’an dapat didefinisikan sebagai berikut:   كلام الله المنزل على محمد صلى الله عليه وسلم المتعبد بتلاوته  
  • 7.
    Selain itu, al-Qur’andidefinisikan sebagai firman Allah yang disampaikan oleh malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad saw dan diterima oleh umat Islam secara mutawatir.  
  • 8.
    Beberapa pendapat menambahkandalam pengertian tersebut dengan “ditulis dalam mushaf yang diawali dengan surat al-Fātihah dan diakhiri dengan surat al-Nās.” 
  • 9.
    Dari beberapa definisidi atas, maka al-Qur’an memiliki beberapa unsur atau batasan, yakni: (1) kalām (firman/perkataan) Allah. (2) melalui perantara Malaikat Jibril, (3) diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. (4) mempunyai kemampuan i‘jāz, (5) membacanya bernilai ibadah, (6) diriwayatkan secara mutawātir, (7) ditulis dalam mushaf, (8) diawali dengan surat al-Fātihah dan diakhiri dengan surat al-Nās.
  • 10.
    Pengertian Ulumul Qur’an: Menurut Manna Qathan: “ Sesuatu ilmu yang mencakupi pelbagai kajian yang berhubungkait dengan kajian-kajian Al-Quran seperti perbahasan tentang Asbab an-Nuzul, Jam’ul Quran, Makkiyah dan Madaniyah, Nasikh dan Mansukh, Muhkam dan Mutasyabihat dan lain-lain lagi.
  • 11.
    Menurut Muhammad ‘Alial-Shabuni: Pembahasan yang berhubungan dengan al-Qur’an al-Majīd yang abadi, baik dari segi penyusunannya, pengumpulannya, sistematikanya, perbedaan antara surat makkiyyah dan madaniyyah, pengetahuan tentang nāsikh dan mansūkh, pembahasan tentang muhkamat dan mutasyābihat, serta pembahasan-pembahasan lain yang berhubungan dengan al-Quran. 
  • 12.
    Pengertian Istilah: Ilmuyang membahaskan tentang Al-Qur’an dari aspek: Penurunannya Bacaannya Pengumpulannya Penyusunannya Penulisannya Pentafsirannya
  • 13.
    I’jaznya Nasikh mansukhnyaSebab nuzulnya Ayat Makki Madaninya I’rabnya Gharibnya Adab-adabnya Dan apa saja yang berkaitan dengannya
  • 14.
    Tahap Perkembangan Ulum Al-Qur’an: Perkembangannya melalui 3 tahap: 1) Tahap sebelum dibukukan 2) Tahap persediaan ke arah pembukuan 3) Tahap penulisan dan pembukuan
  • 15.
    Tahap sebelum dibukukan:Zaman Rasulullah saw dan para sahabat. Bermula semenjak al-Quran diturunkan pertama kalinya.
  • 16.
    Menurut Dr MusaidSulaiman al-Thayyar :
  • 17.
    Antara ulumul Qur’anpada zaman itu adalah: Membaca Menghafal Wahyu Penurunan wahyu Tafsir
  • 18.
    Doa Rasulullah sawuntuk Ibnu Abbas :
  • 19.
  • 20.
  • 21.
    Abu Abdirrahman As-Sulami meriwayatkan bahwa orang-orang yang biasa membacakan Al-Qur’an kepada kami, seperti Utsman bin Affan dan Abdullah bin Mas’ud, serta yang lainnya; Apabila mereka belajar sepuluh ayat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, mereka enggan melewatinya sebelum memahami dan mengamalkannya. Mereka mengatakan, “Kami mempelajari Al-Qur’an, ilmu, dan amal sekaligus.” (HR. Abdurrazaq dishahihkan Syaikh Ahmad Syakir)
  • 22.
  • 23.
    Tahap persediaan kearah pembukuan: Bentuk tulisan dalam media buku belum berkembang. Namun, salinan-salinan mushaf yang ditulis pada masa ‘Utsmān yang dikirim ke beberapa wilayah dianggap sebagai permulaan dari ilmu rasm al-Qur’an.  Begitu pula, upaya pemberian harakat dalam tulisan al-Qur’an yang dilakukan oleh Abū al-Aswad al-Du’alī dengan kaidah Nahwu dapat dianggap sebagai permulaan ilmu I‘rāb al-Qur’an. 
  • 24.
    Pengajian tafsir Al-Quran oleh para sahabat: Diantara para mufasir yang terkenal di kalangan para shahabat Nabi adalah empat khalifah, Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Ubay bin Ka’ab, Zaid bin Tsabit, Abu Musa al-Asy’ari dan Abdullah bin az-Zubair.
  • 25.
    Yang termasyhur dalambidang tafsir: 1) Abdullah bin Abbas (Makkah) 2) Abdullah bin Mas’ud (Kufah/Iraq) 3) Ubay bin Ka’ab (Madinah)
  • 26.
    Di antara murid-muridIbnu Abbas yang cukup termasyhur adalah Said bin Jubair, Mujahid, Ikrimah maula Ibnu Abbas, Thawus bin Kisan al Yamani dan Atha’ bin Rabah.
  • 27.
    Murid Ubay binKa’ab yang popular di Madinah adalah Zaid bin Aslam, Abul Aliyah dan Muhammad bin Ka’ab al Qurazhi. 
  • 28.
    Di Iraq terdapatbeberapa murid Abdullah bin Mas’ud yang juga terkenal sebagai mufassir. Mereka yaitu Alqamah bin Qais, Masruq bin al-Alda’, Aswad bin Yazid, Amir asy-Sya’bi, Hasan al-Bashri dan Qatadah bin Di’amah as-Sadusi.
  • 29.
    Adapun jenis ilmuyang diriwayatkan dari mereka itu mencakup: ilmu tafsir, ilmu gharib al-Qur’an, ilmu asbab an-nuzul, ilmu makkiyah dan madaniyah dan ilmu nasikh-mansukh.
  • 30.
    Metode penyampaian ilmupengetahuan pada waktu itu, yang berlangsung sejak abad pertama hingga abad ke-2 sampai abad ke-3 Hijriah, lebih banyak mengandalkan metode sima‘ī (pendengaran), musyāfahah (penyampaian secara oral/lisan).
  • 31.
    Tahap penulisan danpembukuan: Penyampaian ilmu-ilmu al-Qur’an melalui tulis-menulis dalam arti pembukuan, diperkirakan baru muncul sekitar abad ke-3 atau ke-4 Hijriah.
  • 32.
    Dalam bidang ilmuasbāb al-nuzul, tercatat nama ‘Alī Ibn al-Madinī (234 H)—guru Imam al-Bukhārī—yang mengarang asbāb al-nuzūl Abū ‘Ubaid al-Qāsim ibn Salām yang menulis tentang al-Nāsikh wa al-Mansūkh. Ibn Qutaybah (276 H) menyusun tentang musykilah (problematika) al-Qur’an. 
  • 33.
    Sedangkan dari ulama-ulamaabad ke-4 Hijriah, dan seterusnya, masing-masing tercatat nama-nama: Abū Bakr al-Sijistānī (330 H) dalam bidang Gharīb al-Qur’ān, Abū Bakr al-Baqilānī (403 H) menyusun I’jāz al-Qur’ān, ‘ Alī ibn Sa‘īd al-Hūfī (430 H) dalam bidang I‘rāb al-Qur’ān, al-Māwardī (450 H) menulis tentang amtsāl al-Qur’ān,
  • 34.
    Abū al-Qāsim ‘Abdal-Rahmān yang lebih populer dengan sebutan al-Siblī (abad ke-6) dalam bidang Mubhamat al-Qur’an, al-‘Izz ibn ‘Abd al-Salām (660 H) dalam bidang majāz al-Qur’ān, dan ‘ Alam al-Dīn al-Sakhāwī (643 H) dalam bidang ‘ilm al-qirā’āt dan aqsām al-Qur’ān.  
  • 35.
    Khususnya dalam bidangtafsir, orang pertama sebagai penulis kitab tafsir al-Qur’an dalam bentuk karangan yang sesungguhnya ialah: Muhammad ibn Jarīr al-Thabari (w. 310 H) dengan karya Jami’ al-Bayan fi Tafsir al-Qur’an (Himpunan penjelasan dalam tafsir a-Quran). 
  • 36.
    Menurut al-Zarqānī, istilahini berdasarkan opini masyarakat umum baru muncul pada abad ke-7 Hijriah. Di perpustakaan Dār al-Kutub al-Mishriyyah, al-Zarqānī menjumpai sebuah kitab yang ditulis oleh ‘Ali Ibn Ibrāhīm Ibn Sa‘īd al-Hūfī (w. 330 H) yang diberi nama al-Burhān fī ‘Ulūm al-Qur’ān sebanyak 30 jilid.
  • 37.
    Dengan demikian, istilah‘ulūm al-Qur’ān telah lahir sekitar dua abad lebih lama, yakni abad ke-5 atau bahkan abad ke-4 dari pada pendapat umum.
  • 38.
    Pada abad ke-6Hijriah: Ibn al-Jauzī (w. 597 H), menyusun dua kitab Funūn al-Afnān fī-‘Ulūm al-Qur’ān al-Mujtabā fī ‘Ulūm Tata‘allaq bi al-Qur’ān. Alam al-Sakhāwī (w. 641 H) menyusun buku Jamāl al-Qurrā’, Abū Syāmah (w. 665 H) mengarang kitab al-Mursyid al-Wajīz fī mā Yata‘allaq bi al-Qur’ān al-‘Azīz.
  • 39.
    Pada abad ke-8: Badr al-Dīn al-Zarkasyī menyusun al-Burhān fī-‘Ulūm al-Qur’ān, al-Bulqinī menyusun karya besar Mawāqi‘ al-‘Ulūm min Mawāqi‘ al-Nujūm.
  • 40.
    Pada abad ke-9Hijriah: Jalāl al-Dīn al-Suyūthī (w. 911 H) menyusun al-Itqān fī-‘Ulūm al-Qur’ān. Kemudian, Syaikh Thāhir al-Jazairī menyusun al-Tibyān fī-‘Ulūm al-Qur’ān (1335 H). Manāhil al-‘Irfān fī-‘Ulūm al-Qur’ān ditulis Muhammad ‘Abd al-‘Azhīm al-Zarqānī.
  • 41.
    Dikalangan para ulamakontemporer lahir beberapa buku tentang ilmu ilmu Al Qur’an semisal: Mabāhits fī ‘Ulūm al-Qur’ān karya Muhammad Shubhī al-Shālih, Mabāhits fī ‘Ulūm al-Qur’ān tulisan Mannā’ al-Qaththān, Min Rawāi‘ al-Qur’ān buah pena Muhammad Sa‘īd Ramadhān al-Būthī, al-Tibyān fī ‘Ulūm al-Qur’an karya Muhammad ‘Ālī al-Shābūnī, dan lain-lain. 
  • 42.
    Di Indonesia punterbit beberapa buah buku ‘ ulum al-Qur’an. Di antaranya adalah: Sejarah dan Pengantar Ilmu al-Qur’an / Tafsir dan Ilmu-Ilmu al-Qur’an karya tulis M. Hasbi Ash-Shiddieqy, Pengantar ‘Ulumul Qur’an karangan Masyfuq Zuhdi, Sejarah al-Qur’an karya Abu Bakar Aceh, al-Qur’an dari Masa ke Masa buah pena KH. Munawar Khalil, dan lain-lain. 
  • 43.
    Bidang & SkopPerbahasan Ulum Al-Qur’an: 1) Tafsir dan Ta’wil 2) I’rab al-Qur’an 3) Qira’at 4) Nasikh dan Mansukh 5) Asbab al-Nuzul 6) Makki dan Madani 7) Fadaail al-Qur’an 8) Nuzul al-Qur’an
  • 44.
    9) Gharib al-Qur’an10) Amthal al-Qur’an 11) Majaz Al-Qur’an 12) Muhkamat dan Mutasyabihat 13) Jadal al-Qur’an 14) Aqsam al-Qur’an
  • 45.
    Tujuan mempelajari ulumulQuran Muhammad ‘Ali al-Shabuni: Dua macam; yakni tujuan dalaman dan luaran. Tujuan dalaman, seperti di kemukakan ialah: (1) untuk memahami kalam Allah (al-Qur’an), menurut tuntunan, keterangan dan penjelasan dari Rasulullah saw, serta riwayat yang dinukilkan dari para sahabat dan para tābi‘īn tenang penafsiran mereka terhadap ayat-ayat al-Qur’an;
  • 46.
    (2) mengetahui caradan gaya yang dipergunakan oleh para mufassir dalam menafsirkan al-Qur’an dengan disertai penjelasan tentang tokoh-tokoh mufasir ternama berikut kepiawaian mereka;  
  • 47.
    (3) mengetahui persyaratan-persyaratandalam menafsirkan al-Qur’an; (4) mengetahui ilmu-ilmu lain yang diperlukan untuk itu.
  • 48.
    Adapun tujuan luaranialah untuk membentengi kaum muslmin dari kemungkinan usaha-usaha pengaburan al-Qur’an yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak mengimani atau bahkan memusuhi al-Qur’an. Dengan ilmu-ilmu ini, kaum muslimin dapat memelihara dan mempertahankan keaslian dan keabadian kitab sucinya.
  • 49.
    An Introduction to’Uloom al-Qur‘an Abu Ammar Yasir al-Qadhi: Pertama, ia membolehkan pembaca untuk mewujudkan kekayaan pengetahuan dan wawasan yang ada berhubung dengan kitab Allah.  As some of the scholars of the past said, "True knowledge is to know one's ignorance." Only when a person realizes what he does not know will he appreciate how little he does know.
  • 50.
    Kedua, membolehkan seorangpelajar untuk lebih memahami Qur’an, dalam hal dia akan akrab dengan sejarah wahyu dan pengumpulannya, dan pelbagai aspek yang dapat membantu pemahaman tersebut.
  • 51.
    Ketika ia membacabuku-buku tafsir, ia akan dapat memahami istilah yang digunakan, dan mengambil manfaat dari pengetahuan itu ke tahap yang lebih besar. Dengan kata lain, ia akan diperlengkapi untuk lebih meningkatkan pengetahuannya dan untuk belajar tentang agamanya.
  • 52.
    Ketiga, meningkatkan keimananseseorang, kerana ia akan menyedari keindahan Al-Qur’an dan keberkatan yang besar melalui wahyu tersebut. Dia tidak akan tertipu oleh tuntutan musuh-musuhnya yang menyesatkan, dan hatinya merasa tenteram dengan keasliannya.
  • 53.
    Keempat, ia akanmampu mempertahankan Al-Qur’an terhadap musuh-musuhnya, kerana ia akan dilengkapi dengan pengetahuan yang benar dan murni dari Qur’an, murni oleh prasangka lawannya.