08. memelihara pandangan dan kehormatan

1,877 views

Published on

0 Comments
3 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
1,877
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1
Actions
Shares
0
Downloads
139
Comments
0
Likes
3
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

08. memelihara pandangan dan kehormatan

  1. 1. TEKS AYAT  
  2. 2. TERJEMAH AYAT Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat“.
  3. 3. TERJEMAHAYAT  Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara- saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.
  4. 4. MAKNA MUFRADAT ( ), yakni hendaknya mereka menahan pandangannya dari pandangan yang tidak halal. ( ), yakni hendaknya mereka memelihara kemaluannya dari sesuatu yang tidak halal melakukannya. Perbedaan antara ( ) dengan memakai ( ) dan ( ) dengan tidak memakai ( ) adalah bahwa dalam memandang ada keleluasaan, karena boleh memandang selain antara pusat dan lutut wanita mahram, wajah dan kedua telapak tangan wanita lain, kedua telapak kakinya menurut salah satu dua riwayat. Sementara dalam hal memelihara kemaluan tidak ada keleluasaan, sebagaimana disebutkan dalam tafsir al- Kasysyaf. Cukuplah perbedaannya adalah bahwa dibolehkan memandang kecuali yang dikecualikan, dilarang jima’ kecuali yang dikecualikan . Maksudnya adalah dasar dalam kemaluan adalah dilarang, dan dalam memandang adalah boleh.
  5. 5. MAKNAMUFRADAT Didahulukannya menahan pandangan dari pada memelihara kemaluan karena memandang dapat membawa pada perzinahan. ( ) : lebih baik dan lebih suci. ( ) : sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat dalam hal pandangan dan kemaluan, lalu Dia membalas apa yang mereka lakukan.
  6. 6. MAKNAMUFRADAT  ( ) : Hendaklah mereka (wanita yang beriman) menahan pandangannya, maka karenanya mereka tidak memandang laki-laki yang tidak halal bagi mereka.  ( ) : dan memelihara kemaluannya dengan memeliharanya dari zina. Yakni dengan memelihara kemaluan dari perbuatan yang tidak dihalalkan.  ( ) : menampakkan.  ( ) : perhiasannya seperti pakaian dan celupan. Atau mereka tidak menampakkan tempat- tempat (anggota badan) perhiasan kepada orang yang tidak halal untuk ditampakkan.
  7. 7. MAKNAMUFRADAT  ( ) kecuali yang (biasa) nampak daripadanya ketika melakukan sesuatu seperti pakaian dan cincin, karena dalam menutupinya ada kesulitan. Pendapat lain mengatakan bahwa yang dimaksud itu adalah wajah dan telapak tangan. Jadi boleh melihatnya bagi laki-laki lain jika tidak timbul fitnah, menurut salah satu dua pendapat, karena ia bukan aurat. Pendapat lain mengatakan haram melihat wajah, karena wajah itu tempat timbulnya fitnah. Baidhawi berkata : Yang nampak adalah bahwa ini dalam shalat, bukan dalam memandang, karena seluruh badan wanita yang merdeka adalah aurat . Tidak halal bagi selain suami dan mahram melihatnya kecuali dalam keadaan darurat seperti dalam pengobatan, pengajaran, transaksi, dan kesaksian.
  8. 8. MAKNAMUFRADAT  ( / Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya). Yakni hendaknya mereka menutupi kepala, leher, dada dengan kudung. ( ) adalah yang digunakan wanita untuk menutup kepalanya. Sedangkan ( ) adalah bentuk jama’ dari ( ) , yaitu pembukaan di atas baju, yang bisa menampakkan sebagian dada.  ( / dan janganlah menampakkan perhiasannya,) , perhiasan yang tersembunyi, atau tempat-tempat dipakainya perhiasan, yaitu selain wajah dan dua telapak tangan. Ini disebutkan dua kali untuk menjelaskan kepada siapa boleh menampakkan perhiasan dan kepada siapa tidak boleh menampakkannya.
  9. 9. MAKNAMUFRADAT  ( /kecuali kepada suami mereka). ( ) bentuk jama’ dari ( ) , yaitu suami. Karena mereka adalah yang dituju dari perhiasan itu. Mereka boleh melihat seluruh tubuh isterinya, sekalipun kemaluan, tapi makruh.  ( / atau ayah mereka, atau ayah suami mereka) … sampai firman-Nya ( / atau budak-budak yang mereka miliki) . Ini untuk menghilangkan kesulitan karena banyknya berbaur dan bergaul, dan karena sedikit timbulnya fitnah dari pihak mereka. Sebab tabiat manusia tidak mau menyentuh kerabatnya. Oleh karena itu mereka boleh melihatnya kecuali antara pusat dan lutut. Mereka haram melihat antara pusat dan lutut kecuali suami.
  10. 10. MAKNAMUFRADAT  Firman Allah ( / atau wanita-wanita Islam) mengecualikan wanita-wanita kafir. Maka menurut jumhur ulama wanita-wanita Islam tidak boleh membuka auratnya di hadapan wanita-wanita kafir, karena mereka tidak merasa berat memberikan sifat-sifat mereka kepada laki-laki. Ulama madzhab Hambali membolehkannya, karena yang dimaksud adalah jenis wanita, bukan seluruhnya.
  11. 11. MAKNAMUFRADAT  ( ) : atau budak-budak yang mereka miliki.  ( / atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita)). ( ) yaitu kebutuhan/keinginan terhadap wanita. Tentang orang yang dikebiri ada perbedaan pendapat.  ( ) : atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita untuk jima’, karena mereka masih kecil dan belum baligh. Kepada mereka boleh menampakkan perhiasan selain antara pusat dan lutut. ( ) isim jenis, bentuk mufrad (tunggal) dalam posisi jama’.
  12. 12. MAKNAMUFRADAT  ( / Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan). Yaitu gelang kaki yang bergerincing yang menimbulkan perhatian dan kecenderungan laki-laki. Ini lebih kuat dari pada larangan menampakkan perhiasan, dan lebih menunjukkan larangan meninggikan suara.  ( /Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman) dari yang pandangan yang dilarang yang telah kamu lakukan.  ( / supaya kamu beruntung), yakni beruntung dengan kebahagiaan di dunia dan akhirat, dan selamat dari dosa dengan diterimanya taubat.  Dalam ayat ini ada dominasi laki-laki terhadap wanita.
  13. 13. SEBAB NUZUL AYAT Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Muqatil, ia berkata : Jabir bin Abdullah menyampaikan berita kepada kami bahwa Asma binti Martsad berada di kebun kurma miliknya. Wanita-wanita berdatangan masuk padanya dalam keadaan tidak memakai sarung, sehingga gelang kaki mereka nampak kelihatan, dada dan pinggang mereka juga kelihatan. Asma berkata : Alangkah buruknya ini. Lalu turunlah ayat ( ).
  14. 14. SEBAB NUZULAYAT  Ibnu Mardawaih meriwayatkan dari Ali –semoga Allah memuliakannya- bahwa seorang laki-laki di zaman Rasulullah saw melewati salah satu jalan di Madinah. Ia melihat seorang wanita, dan wanita itu pun melihatnya. Setan membisikkan kepada keduanya bahwa masing- masing memandang yang lain semata-mata karena mengaguminya. Ketika laki-laki itu berjalan ke samping kebun dalam keadaan memandangi wanita itu, dia membentur dinding kebun dan hidungnya pecah. Ia berkata : Saya tidak akan membasuh darah ini sampai saya mendatangi Rasulullah saw dan memberitahukannya keadaanku. Lalu laki-laki itu mendatangi beliau dan menceritakan kisahnya. Nabi saw bersabda : “Ini adalah siksaan dosamu”. Dan Allah menurunkan ayat : ( ) dst.
  15. 15. SEBAB NUZULAYAT  Ibnu Jarir meriwayatkan dari Hadhrami bahwa seorang wanita memakai dua gelang kaki dari perak, dan memakai gelang dari batu aki , lalu dia melewati pada satu kaum, ia memukulkan kakinya, gelang kaki itu menimpa pada gelang batu aki sehingga bersuara. Lalu Allah menurunkan ayat : ( )
  16. 16. MUNASABAH AYAT Ayat ini jelas hubungannya dengan ayat sebelumnya, karena masuk ke rumah merupakan dugaan melihat aurat. Oleh karena itu Allah memerintahkan orang-orang yang beriman laki-laki dan wanita untuk menahan pandangannya dalam bentuk hukum yang umum yang mencakup orang yang minta izin untuk masuk rumah orang lain dan yang lainnya. Orang yang minta izin masuk rumah orang lain wajib menahan pandangan ketika meminta izin dan masuk rumah, untuk mencegah dari pelanggaran melakukan yang diharamkan. Begitu juga wanita wajib tidak menampakkan perhiasannya kepada siapa pun kecuali kepada mahramnya, karena dalam hal itu akan menimbulkan fitnah yang mendorong terjatuh pada yang haram. Seperti memandang yang merupakan jalan menuju perzinahan. Berkumpulnya hukum memandang dan hijab akan menutup jalan lahirnya kerusakan.
  17. 17. TAFSIR/PENJELASAN AYAT ( /Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya). Yakni katakan wahai Muhammad kepada hamba-hamba-Ku yang mukmin : tahanlah pandangan kalian dari yang diharamkan Allah atas kalian. Janganlah kalian memandang kecuali pandangan yang dibolehkan kepada kalian. Ungkapan dengan ( ) merupakan isyarat bahwa sifat orang-orang yang beriman adalah segera melaksanakan perintah Allah. Yang dimaksud dengan menahan pandangan adalah bukan memejamkan mata, tetapi menundukkan pandangan karena malu.
  18. 18. TAFSIR/PENJELASANAYAT  Min dalam lafaz ( ) menunjukkan sebagian, yakni hendaknya mereka menahan sebagian pandangan mereka, maka pandangan mereka jatuh pada yang diharamkan. Ketika itu maksudnya mencela orang yang banyak memandang pada yang haram, sebagaimana disebutkan dalam sebab nuzul ayat yang diriwayatkan oleh Ibnu Mardaweih. Untuk membedakan perintah antara menahan pandangan dan memelihara kemaluan adalah bahwa pada dasarnya dalam kemaluan itu haram kecuali yang dikecualikan. Sedangkan dalam pandangan, maka pada dasarnya adalah boleh kecuali yang dikecualikan sebagaimana telah dijelaskan.
  19. 19. TAFSIR/PENJELASANAYAT  Jika pandangan itu jatuh pada yang diharamkan tanpa disengaja, maka wajib memejamkan mata dan segera memalingkan pandangan. Sesuai dengan hadits yang diriwayatkan Imam Muslim, Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi dan Nasa’I dari Jarir bin Abdullah al-Bajali ra, ia berkata : Saya bertanya kepada Nabi saw tentang pandangan secara tiba-tiba, lalu beliau memerintahkanku untuk memalingkan pandanganku.  Abu Daud meriwayatkan dari Buraidah, ia berkata : Rasulullah saw bersabda kepada Ali: “Wahai Ali, janganlah pandangan itu diikuti dengan pandangan kedua, karena pandangan pertama untukmu, sedangkan pandangan kedua bukan untukmu”.
  20. 20. TAFSIR/PENJELASANAYAT  Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Said al-Khudri, ia berkata, Rasulullah saw bersabda : “Jauhilah olehmu duduk di jalanan”, para sahabat bertanya : Kami mesti duduk di jalanan untuk bicara-bicara. Lalu Rasulullah saw bersabda : “Jika kalian tidak mau, maka berikanlah hak jalan”. Mereka bertanya : Apa itu hak jalan wahai Rasulullah? Beliau menjawab :”Menahan pandangan, tidak mengganggu, menjawab salam, memerintahkan yang baik, dan mencegah kemunkaran”.
  21. 21. TAFSIR/PENJELASANAYAT  Sebab perintah menahan pandangan adalah menutup jalan menuju kerusakan, menghalangi sampainya pada dosa, karena pandangan merupakan jalan menuju perzinahan. Sebagian ulama salaf berkata : “Pandangan adalah bagaikan anak panah beracun bagi hati”. Oleh karena itu dalam ayat ini Allah mengumpulkan antara perintah memelihara kemaluan dengan perintah memelihara pandangan yang dapat mendorong perbuatan yang dilarang sesungguhnya, yaitu zina. Allah berfirman :
  22. 22. TAFSIR/PENJELASANAYAT  ( /dan memelihara kemaluannya), yakni dari melakukan perbuatan keji seperti zina, homosexual, dan dari melihatnya seseorang pada perbuatan keji tersebut. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad dan Ashabussunan :” /jagalah auratmu kecuali dari isterimu dan budak yang kamu miliki”.
  23. 23. TAFSIR/PENJELASANAYAT  Allah berfirman menjelaskan hikmah dua perintah di atas : ( /yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka). Yakni menahan pandangan dan memelihara kemaluan adalah lebih baik , lebih mensucikan hati, dan lebih membersihkan agama mereka. Sebagaimana dikatakan : Barangsiapa menjaga pandangannya, maka Allah akan memberikan cahaya pada mata hatinya, atau ke dalam hatinya. Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Umamah ra dari Nabi saw, beliau bersabda : “Tidaklah ada seorang muslim pun yang memandang kecantikan wanita, kemudian ia menahan pandangannya, kecuali Allah akan menggantikan baginya ibadah yang ia merasakan kenikmatannya”.
  24. 24. TAFSIR/PENJELASANAYAT  ( ) adalah yang merupakan isim tafdhil (kata yang menunjukkan lebih) menunjukkan secara lebih bahwa menahan pandangan dan memelihara kemaluan dapat mensucikan jiwa dari kotoran kehinaan. Tafdhil di sini hanya dalam perkiraan, atau dengan memandang dugaan mereka bahwa dalam melihat itu bermanfaat.
  25. 25. TAFSIR/PENJELASANAYAT  ( /sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat). Yakni sesungguhnya Allah mengetahui secara sempurna semua perbuatan yang mereka lakukan, tidak ada yang tersembunyi sedikitpun. Ini merupakan ancaman dan janji, sebagaimana Allah berfirman : ( / Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati.[QS.Ghafir:19]). Dia mengetahui curi-curi pandangan dan seluruh anggota badan. ( ) yang berasal dari kata ( ) yaitu pengetahuan yang kuat yang sampai pada batin segala sesuatu. Imam Bukhari meriwayatkan dalam kitab shahihnya dalam ta’liqnya dan Imam Muslim dari Abu Hurairah ra, ia berkata : Rasulullah saw bersabda : “Ditulis bagi manusia bagiannya dari zina, tidak diragukan lagi ia mengetahui hal itu, zina dua mata adalah melihat, zina lisan adalah mengucapkan, zina dua telinga adalah mendengar, zina dua tangan adalah memegang, zina dua kaki adalah melangkah, jiwa berangan dan menginginkan, kemaluan membuktikan atau mendustakannya”.
  26. 26. TAFSIR/PENJELASANAYAT  Berbeda dengan kebiasaan firman Allah yang pada umumnya panggilan terhadap wanita masuk pada panggilan terhadap laki-laki, Allah SWT memerintahkan kepada kaum mukmin wanita untuk menahan pandangan dan memelihara kemaluan sebagaimana Allah memerintahkan kepada kaum laki-laki, sebagai penguat terhadap yang diperintahkan, dan menjelaskan sebagian hukum yang khusus bagi kaum wanita, yaitu larangan menampakkan perhiasan, hijab, larangan terhadap yang mengundang perhatian terhadap perhiasan. Allah berfirman ( / Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, ). Yakni katakan wahai Rasul juga kepada wanita mukmin : tahanlah pandangan kamu dari yang diharamkan Allah, yaitu memandang kepada selain suami kamu, dan peliharalah kemaluanmu dari zina dan semacamnya seperti perbuatan lesbian
  27. 27. TAFSIR/PENJELASANAYAT  Oleh karena itu wanita sama sekali tidak boleh melihat laki-laki lain dengan syahwat atau tidak dengan syahwat menurut pendapat banyak ulama berdasarkan hadits yang diriwayatkan Abu Daud dan Tirmidzi dari Ummu Salamah bahwa beliau bersama Maimunah berada di sisi Rasulullah saw, lalu datanglah Ibnu Ummi Maktum dan masuk. (kata Ummu Salamah) Hal itu setelah Allah memerintahkan hijab kepada kami. Rasulullah saw bersabda : “Berhijablah kamu berdua darinya”. Ummu salamah berkata : bukankah dia (Ibnu Ummi Maktum) itu buta, tidak melhat dan tidak mengenal kami? Rasulullah saw menjawab : “Apakah kamu berdua buta, bukankah kamu berdua melihatnya”?  Dalam kitab al-Muwaththa’ dari Aisyah bahwa beliau memakai hijab dari seorang buta, lalu beliau ditanya : dia itu tidak melihat anda. Beliau menjawab : Tetapi saya melihatnya.
  28. 28. TAFSIR/PENJELASANAYAT  Sekelompok ulama yang lain membolehkan wanita memandang laki-laki lain tanpa syahwat selain antara lutut dan pusat. Berdasarkan hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim bahwa Rasulullah saw pernah melihat orang- orang Habasyah (Etiopia) sedang bermain tombak pendek pada hari raya di dalam masjid, sedangkan Aisyah Ummul Mukminin melihat mereka di belakang beliau, beliau menghalanginya dari mereka sampai ia bosan dan pulang. Ini pendapat yang paling mudah di zaman sekarang ini.  Ulama kelompok kedua ini berpendapat bahwa perintah memakai hijab dari Ibnu Ummi Maktum menunjukkan pada sunnah. Demikian juga berhijabnya Aisyah ra dari seorang buta adalah tindakan kehati-hatian beliau. Ini dikuatkan dengan masih terusnya wanita pergi keja ke pasar, ke mesjid, dan bepergian dengan memakai cadar sehingga laki-laki tidak melihatnya. Sedangkan laki-laki tidak diperintahkan memakai cadar agar tidak dilihat wanita. Ini merupakan dalil berbedanya hukum antara laki-laki dan wanita.
  29. 29. TAFSIR/PENJELASANAYAT  Kemudian Allah SWT menyebutkan beberapa hukum khusus bagi wanita, yaitu : 1. ( / dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya). Maksudnya : janganlah mereka menampakkan perhiasan bagi orang lain sedikitpun ketika memakai perhiasan. Perhiasan adalah segala bentuk perhiasan yang dipakai. Oleh karena itu menampakkan tempat dipakainya perhiasannya lebih utama untuk dilarang. Atau maksudnya : janganlah mereka menampakkan tempat-tempat perhiasan. Yang disebutkan perhiasan tapi yang dimaksud adalah tempatnya. Pengertian ini berdasarkan firman Allah ( ).
  30. 30. TAFSIR/PENJELASANAYAT  Pengertian kedua ini lebih utama, sebab perhiasan itu sendiri bukan yang dimaksud dari larangan. Apapun maknanya, yang jelas ada hubungan kuat antara perhiasan dan tempatnya. Yang dimaksud adalah larangan menampakkan bagian-bagian tubuh yang menjadi tempat perhiasan, seperti dada, telinga, leher, pergelangan tangan, lengan, dan betis.  Adapun yang dimaksud dengan ( ) adalah wajah, dua telapak tangan dan cincin, sebagaimana diriwayatkan dari Ibnu Abbas dan jamaah. Pendapat ini pendapat yang masyhur menurut jumhur. Pendapat ini didukung hadits yang diriwayatkan Abu Daud dari Aisyah ra bahwa Asma binti Abu Bakar masuk ke rumah Nabi saw dengan memakai kain tipis, lalu beliau berpaling darinya dan berkata : “Wahai Asma, sesunggunya wanita apabila telah haidh tidak pantas terlihat kecuali ini”, beliau mengisyaratkan pada wajah dan kedua telapak tangannya. Ini adalah hadits mursal.
  31. 31. TAFSIR/PENJELASANAYAT  Berdasarkan ini, ulama-ulama madzhab Hanafi, Maliki, dan Syafi’I dalam satu riwayatnya berkata : sesungguhnya wajah dan dua telapak tangan tidak termasuk aurat. Jadi yang dimaksud dengan ( ) adalah yang nampak sesuai dengan adat kebiasaan.  Diriwayatkan dari Abu Hudzaifah ra bahwa dua telapak kaki juga bukan termasuk aurat, karena lebih sulit menutupnya dari pada menutup dua telapak tangan, terutama penduduk kampung.  Diriwayatkan juga dari Abu Yusuf bahwa hasta tidak termasuk aurat , karena terdapat kesulitan dalam menutupnya.
  32. 32. TAFSIR/PENJELASANAYAT  Imam Ahmad dan Syafi’I dalam salah satu pendapatnya yang paling benar berpendapat bahwa tubuh wanita merdeka seluruhnya adalah aurat, berdasarkan hadits-hadits yang lalu tentang pandangan yang tiba-tiba dan haramnya pandangan berikutnya. Dan juga berdasarkan hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari dari Ibnu Abbas bahwa Nabi saw pada hari lebaran adha membonceng Fadhl bin Abbas di belakangnya, lalu Fadhl melihat wanita yang bersih dari suku Khasy’amiyah ketika bertanya kepada beliau. Nabi saw memegang dagunya dan memalingkan wajahnya dari melihatnya.  Jadi yang dimaksud dengan firman Allah ( ) adalah yang nampak sendiri bukan dengan sengaja.
  33. 33. TAFSIR/PENJELASANAYAT  Pendapat yang kuat menurut fiqh dan syara’ adalah bahwa wajah dan kedua telapak tangan tidak termasuk aurat jika tidak terjadi fitnah. Jika dikhawatirkan timbul fitnah, terjadi desakan, dan banyak kefasikan, maka wajib menutup wajah. Adapun dalil-dalil pendapat kedua dimaksudkan sebagai kehati-hatian, khawatir timbul fitnah, dan melepaskan diri dari godaan setan. Menurut syara’ dalam keadaan terpaksa boleh melihat wanita lain seperti dalam khitbah, kesaksian, pengadilan, transaksi, pengobat an, dan pendidikan. Dalam kondisi ini semua boleh melihat wajah dan kedua telapak tangan saja. Juga dokter laki-laki jika tidak ada dokter wanita boleh melihat tempat penyakit untuk pengobatan.
  34. 34. TAFSIR/PENJELASANAYAT 2. ( / Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya,). Yakni hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke atas bagian dada untuk menutupi rambut, leher, dan dada. di sini maksudnya menurunkan, menjatuhkan dan menutupi. jama’ dari , yaitu sesuatu yang digunakan wanita untuk menutupi kepalanya. jama’ dari , yaitu pembukaan di bagian atas baju yang bisa menampakkan sebagian leher. Ini merupakan perintah yang bersifat bimbingan untuk menutup sebagian tempat perhiasan dalam wanita. Imam Bukhari meriwayatkan dari Aisyah, ia berkata : Semoga Allah merahmati wanita-wanita muhajirin yang pertama ketika Allah menurunkan ayat ( ) mereka menyobek kain sarungnya untuk menutupi kepalanya.
  35. 35. TAFSIR/PENJELASANAYAT 3. ( / dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra- putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka). Yakni janganlah mereka menampakkan perhiasannya yang tersembunyi kecuali kepada suami mereka, karena mereka yang dimaksud untuk bersenang-senang dan melihat; atau bapak-bapak dan kakek-kakek si wanita; atau bapak suami, atau anak laki-laki isteri; atau anak laki-laki suami; atau saudara laki- laki dan saudara perempuan; atau anak saudara laki-laki; atau anak laki-laki saudara perempuan sekandung, atau sebapak, atau seibu.
  36. 36. TAFSIR/PENJELASAN AYAT Mereka semua adalah mahram, seorang wanita boleh menampakkan perhiasannya kepada mereka tanpa dandanan. Mereka adalah kerabat dari keturunan, yaitu 5 macam. Di antara mereka ada dua orang dari kerabat lantaran hubungan perkawinan, yaitu bapak suami dan anak suami. Tetapi dalam ayat ini tidak disebut mahram karena keturunan dari pihak paman,karena paman disamakan dengan bapak. Demikian juga tidak disebutkan mahram karena hubungan persusuan, tetapi hadits menyebutkannya, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Ahmad,Bukhari, Muslim, Abu Daud, Nasa’I, Ibnu Majah dari Aisyah : “Haram kerabat karena persusuan sebagaimana haramnya kerabat karena keturunan”.
  37. 37. TAFSIR/PENJELASAN AYAT ( / atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita). Mereka jenis lain yang wanita boleh menampakkan perhiasannya selain antara pusat dan lututnya. Yaitu : wanita-wanita Islam, budak, pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai syahwat/keinginan terhadap wanita, dan anak-anak kecil yang belum mengerti tentang aurat wanita karena usianya yang masih kecil dan belum pernah memperhatikan tentang masalah sex.
  38. 38. TAFSIR/PENJELASAN AYAT Ada perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang wanita, budak, pelayan laki-laki, dan anak-anak. Jumhur ulama berpendapat bahwa yang dimaksud dengan para wanita adalah wanita seagama, bukan wanita ahli dzimmah. Oleh karena itu, wanita muslimah tidak boleh menampakkan tubuhnya selain wajah dan telapak tangan di hadapan wanita kafir, agar si wanita kafir itu tidak menjelaskan sifatnya kepada suaminya atau yang lain. Jadi wanita kafir itu baginya seperti laki-laki lain. Sedangkan wanita muslimah juga haram menjelaskan sifat wanita muslimah lain kepada suaminya atau laki-laki lain. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim bahwa Rasulullah saw bersabda : “Janganlah seorang wanita berbaur dengan wanita lain, lalu dia menjelaskan sifatnya kepada suaminya seolah-olah dia meliahtnya“.
  39. 39. TAFSIR/PENJELASAN AYAT Dalil jumhur ulama adalah hadits yang diriwayatkan Said bin Mansur, Ibnu al-Mundzir, dan Baihaqi dalam kitab Subnannya dari Umar bin Khattab, bahwa ia menulis surat kepada Abu Ubaidah bin al-Jarrah ra : “Ada berita sampai kepadaku bahwa wanita-wanita muslimah masuk ke kamar kecil bersama wanita-wanita musyrik, berita ini datang dari kamu, maka tidak halal bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir auratnya dilihat kecuali oleh (wanita) penganut agamanya”. Sekelompok ulama, di antaranya ulama madzhab Hanbali berpendapat bahwa yang dimaksud dengan wanita-wanita itu adalah wanita muslimah dan wanita kafir secara umum. Maka idhafah dalam firman Allah () adalah untuk menyerupai, yakni dari jenis mereka. Jadi aurat wanita bagi wanita lain secara mutlak adalah antara pusat dan lutut saja.
  40. 40. TAFSIR/PENJELASAN AYAT Adapun yang dimaksud dengan ( / budak- budak yang mereka miliki,), menurut kebanyakan ulama adalah mencakup laki-laki dan wanita. Maka boleh bagi wanita menampakkan selain antara pusat dan lututnya kepada budaknya, baik laki-laki maupun wanita. Dalil mereka adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Daud, Ibnu Mardaweih, Baihaqi dari Anas ra bahwa Nabi saw datang membawa budak pada Fatimah untuk dihadiahkan kepadanya. Fatimah memakai baju yang pabila ditutupkan ke kepalanya, tidak sampai ke kakinya, dan apabila ditutupkan ke kakinya tidak sampai ke kepalanya. Ketika Nabi saw melihat yang terjadi, beliau bersabda : “Tidak apa-apa, ini bapakmu dan budakmu”. Segolongan ulama berpendapat bahwa budak itu khusus budak wanita, karena budak laki-laki sama dengan laki-laki merdeka dalam pengharaman.
  41. 41. TAFSIR/PENJELASAN AYAT Adapun ( /pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan terhadap wanita) adalah mereka yang melayani orang-orang untuk mendapatkan kelebihan makanan tanpa mempunyai keinginan dan kecenderungan terhadap wanita. Para ulama berbeda pendapat tentang mereka. Ada pendapat yang mengatakan bahwa mereka adalah laki-laki tua yang syhwatnya sudah habis, atau orang yang tolol yang tidak mengerti sedikitpun tentang masalah wanita, atau orang yang dipasektomi, atau pelayan orang hanya untuk mencari makan, atau banci. Pendapat yang dapat dijadikan patokan adalah setiap laki-laki yang tidak punya keinginan terhadap wanita, tidak dikhawatirkan timbul fitnah, dan tidak menjelaskan sifat wanita kepada laki-laki lain.
  42. 42. TAFSIR/PENJELASAN AYAT Imam Muslim, Ahmad, Abu Daud, dan Nasa’I meriwayatkan dari Aisyah ra, ia berkata : Ada seorang laki-laki banci masuk ke rumah isteri- isteri Nabi saw, mereka menganggapnya termasuk yang tidak punya keinginan terhadap wanita, lalu Nabi saw masuk sedangkan si laki- laki itu sedang menjelaskan sifat seorang wanita : apabila si wanita itu menghadap, ia menghadap dengan empat, dan apabila membelakangi, ia membelakangi dengan delapan. Lalu Rasulullah saw bersabda : “Saya melihat orang ini mengetahui apa yang ada di sini, jangan sekali-kali ia masuk kepada kalian”. Beliau pun mengusirnya dari rumah.
  43. 43. TAFSIR/PENJELASAN AYAT Adapun anak-anak adalah mereka yang belum mengerti tentang keadaan dan aurat wanita, dan belum nampak pada mereka kecenderungan sex yang kuat karena usianya yang kecil. Apabila anak- anak itu masih kecil belum memahami hal itu tidak mengapa masuk ke tempat wanita. Adapun anak remaja atau mendekati remaja sebelum baligh yang bisa menceritakan apa yang ia lihat, maka tidak boleh masuk ke tempat wanita. Dalilnya adalah wajibnya si anak meminta izin ketika masuk rumah pada tiga waktu yang dijelaskan Allah dalam al- Qur’an (QS. An-Nur:59). Kelompok ulama lain berpendapat bahwa wanita tidak haram menampakkan perhiasanya terhadap anak kecil kecuali anak itu mempunyai kerinduan terhadap wanita, baik sudah remaja ataupun belum. Kebolehan di sini lebih luas dari pada pendapat pertama.
  44. 44. TAFSIR/PENJELASAN AYAT  Kemudian Allah melarang sesuatu yang menyebabkan timbulnya fitnah, firman-Nya : ( / Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan). Yakni seorang wanita tidak boleh memukulkan kedua kakinya dalam berjalan supaya orang-orang mengetahui suara gelang kakinya, karena itu merupakan dugaan timbulnya fitnah dan kerusakan, mengundang perhatian, membangkitkan gejolak syahwat, dan berburuk sangka bahwa wanita itu tukang berbuat kefasikan. Jadi memperdengarkan suara perhiasan sama dengan menampakkannya, bahkan lebih dahsyat, sedangkan tujuannya adalah menutupi.
  45. 45. TAFSIR/PENJELASAN AYAT Ini mencakup semua yang akan membawa pada fitnah dan kerusakan, seperti menggerakkan tangan yang ada gelangnya, menggerakkan tali rambut, memakai parfum dan perhiasan ketika keluar rumah sehingga laki-laki mencium baunya dan terpesona denganperhiasannya. Abu Daud, Tirmidzi, dan Nasa’I meriwayatkan dari Abu Musa al-’Asy’ari ra dari Nabi saw, beliau bersabda : “Setiap mata berzina, dan wanita apabila memakai parfum lalu melewati majlis laki-laki, maka ia itu begitu dan begitu”. Maksudnya berzina. Abu Daud dan Ibnu Majah meriwayatkan dari Abu Hurairah ra, ia berkata : Saya mendengar Rasulullah saw bersabda : “Allah tidak menerima shalat seorang wanita yang memakai wangi- wangian untuk pergi ke mesjid sehingga ia pulang, lalu ia mandi seperti mandi junub”.
  46. 46. TAFSIR/PENJELASAN AYAT Lam pada firman Allah ( ) adalah lam akibat atau menjadi. Jadi memukulkan kaki di hadapan laki-laki lai dilarang secara mutlak, baik dengan tujuan memberitahukan atau tidak. Karena akibat memukulkan kaki yang ada gelangnya dan semacamnya (sepatu yang tumitnya tinggi) orang mengetahui perhiasan yang disembunyikan, lalu terjadilah fitnah terhadapnya. Madzhab hanafi dalam larangan ini mengambil dalil bahwa suara wanita aurat, karena jika memperdengarkan suara gelang kakinya saja dilarang, maka memperdengarkan suaranya lebih utama untuk dilarang. Yang jelas bahwa suara wanita bukan auarat apabila tidak menimbulkan fitnah. Dalilnya adalah bahwa isteri-isteri Nabi saw meriwayatkan hadits kepada laki-laki lain.
  47. 47. TAFSIR/PENJELASAN AYAT ( / Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang- orang yang beriman supaya kamu beruntung.). Yakni kembalilah untuk taat kepada Allah wahai orang-orang yang beriman semua, laksanakanlah sifat dan akhlak terpuji yang diperintahkan-Nya, tinggalkanlah yang dilarang Allah seperti tidak menahan pandangan, tidak memelihara kemaluan, masuk rumah orang lain tanpa izin, sifat dan akhlak jahiliyah yang tercela, niscaya kamu akan mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Mereka dipanggil dengan sifat iman untuk mengingatkan bahwa keimanan yang benar akan membawa pemiliknya pada ketundukan, taubat dan istighfar , karena taubat menyebabkan keberuntungan dan kebahagiaan.
  48. 48. PELAJARAN YANG TERKANDUNGDALAM AYAT 1. Wajib menahan pandangan dari dari laki-laki atau wanita yang tidak halal. 2. Wajib memelihara kemaluan dari peglihatan orang yang tidak halal dan dari perbuatan keji. 3. menahan pandangan dan memelihara kemaluan adalah yang paling suci dalam agama dan lebih jauh dari dosa. 4. Aurat ada 4 macam : a. Aurat laki-laki bersama laki-laki. Boleh melihat seluruh tubuhnya kecuali antara pusat dan lututnya.
  49. 49. PELAJARAN YANG TERKANDUNG DALAMAYAT b. Aurat wanita bersama wanita. Yaitu seperti laki bersama laki-laki. Wanita kafir tidak seperti wanita muslimah menurut pendapat yang paling kuat. Jadi ia tidak boleh melihat badan wanita muslimah. c. Aurat wanita bersama laki-laki. Jika wanita itu wanita lain maka seluruh tubuhnya aurat kecuali wajah dan kedua telapak tangan. d. Aurat laki-laki bersama wanita. Jika laki-laki itu laki- laki lain, maka auratnya bersama wanita adalah antara pusat dan lututnya. Menurut satu pendapat, auratnya adalah seluruh tubuhnya seperti wanita di hadapan laki-laki lain kecuali wajah dan kedua telapak tangannya. Pendapat pertama adalah pendapat yang paling benar.
  50. 50. PELAJARAN YANG TERKANDUNGDALAM AYAT 5. Wanita wajib menutup rambut, leher dan dadanya. 6. Wanita tidak boleh menampakkan perhiasannya kecuali di hadapan laki-laki yang dikecualikan pada ayat di atas. 7. Wanita haram melakukan sesuatu yang dapat menimbulkan fitnah, seperti menghentakkan sepatu atau sandal, berdandan dan memakai wangi- wangian. 8. Seorang mukmin laki-laki dan wanita wajib bertaubat , sebab manusia tidak lepas dari sifat lupa dan lalai dalam melaksnakan hak- hak Allah swt.

×