Oleh:
JOHAN SAFRIJAL
ERISMAN
‫م اك ننسخك منك آيةك أك َوك ننسه اك نأتك بخيرك منه اك أ ك َوك مثله اك أ ك َلمك تعلمك أ ك َنك اللهك علىك‬
َ ‫ك َ ك َ ك َ أ ْ َهِ أ ْ ك َ م ٍ أ ْ نُ َهِ ك َ ك َ أ ْ َهِ َهِ ك َ أ ْ م ٍ هّ أ ْ ك َ أ ْ َهِ أ ْ َهِ ك َ ك َ أ ْ ك َ أ ْ ك َ أ ْ هّ هّ ك َ ك َ ك َ ك‬
‫كلك شيأ ْءك قدير‬
ٌ ِ‫نُ هّ ك َ م ٍ ك َ َه‬
Ayat mana saja yang Kami nasakhkan, atau Kami
jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang
lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya.
Tidakkah kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Allah
Maha Kuasa atas segala sesuatu (Al-Baqoroh 106)
َ ‫نُ أ ْ أ ْ ك َ أ ْ ك َ نُ ك‬
‫هاذاك كت ابن اك ينطقك عليكمك ب الحقك إَهِن اك كن اك نستنسخك م اك كنتنُمك تعملنون‬
ُ‫ٰ َهِ نُ ك َ أ ْ َهِ نُ ك َ ك َ أ ْ نُ أ ْ َهِ أ ْ ك َ  ِّ اَّ نُ اَّ ك َ أ ْ ك َ أ ْ َهِ ن‬
Inilah kitab (catatan) Kami yang menuturkan
terhadapmu dengan benar. Sesungguhnya Kami telah
menyuruh mencatat apa yang telah kamu kerjakan. (AlJatsiyah 29)
An-Nasakh ialah membatalkan pengamalan
dengan sesuatu hukum syara’ dengan dalil yang
datang kemudian dari padanya.
Tidak ada nasakh pada masa setelah Rasulullah
saw wafat.
Nasikh (dalil yang menghapus hukum yang telah
ada)
Mansukh (hukum yang dibatalkan, dihapuskan,
atau dipindahkan)








Hukum yang dinasakh harus hukum syara’ (ketentuan Allah  sunnah
Rasulullah)
Hukum dalil yang mansukh sudah berlaku sebelum digantikan dengan
hukum nasikh atau dalil penghapusan hukum tersebut adalah khitab
syar’i yang datang lebih kemudian dari khitab yang hukumnya
mansukh.
Antara dua dalil nasikh dan mansukh atau antara dalil yang I dan dalil
II ada pertentangan, sehingga tidak dapat dikompromikan. Contoh :
antara ketentuan dalil I ayat 12 al-Mujadilah yang menghapuskan
orang bersedekah dulu sebelum menghadap Rasul, dengan
ketentuan dalil II dari ayat 13 al-Mujadilah yang membebaskan
kewajiban bersedekah.
Kitab yang mansukh hukumnya tidak terikat (dibatasi) dengan waktu
tertentu. Contoh : maka maafkanlah dan biarkanlah mereka sampai
Allah mendatangkan perintah-Nya (al-Baqarah 109)






Ayat yang mengandung hukum pokok yang tidak
bisa berubah dengan sebab berubahnya situasi
kondisi manusia. seperti : ayat yang berkaitan
dengan ibadah, akidah, keadilan dan amanah.
Ayat yang secara tektual menunjukkan
ketentuan hukumnya berlaku sepanjang masa.
Ayat yang berisi berita yang tidak mengandung
perintah  larangan seperti kabar tentang umatumat terdahulu.
1.

2.

3.

Nasakh tilawah dan hukum.
Contoh : penghapusan ayat yang mengharamkan nikah dengan saudara sepersusuan
karena bersama-sama menetek kepada seorang ibu dengan sepuluh susuan, yang dina s a kh dan diganti dengan lima kali susuan.
Nasakh hukum, tilawahnya tetap.
Tulisan dan bacaan ayatnya masih tetap ada dan masih boleh dibaca, tetapi isi hukum
ajarannya sudah di-na s a kh, sehingga sudah tidak boleh diamalkan lagi.
Contoh: al-baqoroh 240
Ayat ini istri-istri yang dicerai harus beridah selama 1 th, kemudian Allah menasakh
hukum ayat tersebut, Sehingga keharusan idah 1 th sudah tidak berlaku lagi, sekalipun
lafal nash ayatnya masih tetap ada dan boleh dibaca. Lalu diganti dengan al-baqoroh:
234
Nasakh tilawah, hukumnya tetap.
Tulisan ayatnya sudah dihapus, tetapi hukum isinya masih tetap berlaku dan harus
diamalkan. Hadis dari Umar bin Khaththab dan Ubayi bin Ka’ab
 ‫كان فيما انزل من القران الشيخ و الشيخة اذا زنيا فارجموهما البتة نكال من ا‬
…O ra ng tua la ki-la ki d a n o ra ng tua p e re m p ua n ka la u ke d ua ny a be rz ina , m a ka ra ja m la h
(d ihukum le m p a r ba tu s a m p a i m a ti) s e ka lig us s e ba g a i ba la s a n d a ri A h
lla
a. Al-qur’an menasakhkan Al-qur’an.
Contoh: QS al-anfal: 65 yang dinasakhkan oleh ayat berikutnya
66.
b. Al-qur’an menasakhkan As-sunah.
Contoh: Perbuatan nabi dan para sahabat menghadap Baitul
Maqdis dalam shalat dinasakhkan oleh ayat QS: al-baqoroh: 144
c. As-sunnah menasakhkan As-sunnah.
Contoh: “aku telah melarangmu menziarahi kubur, maka
(sekarang) ziarahilah.
d. As-sunnah menasakhkan Al-qur’an (imam Syafi’i menolak).
Contoh: QS al-baqoroh: 180 dinasakhkan dengan hadits
mutawatir “ketahuilah, tidak ada wasiat untuk ahli waris”
Naskh sarih, yaitu ayat yang secara tegas menghapuskan hukum yang terdapat
pada ayat terdahulu. Misal : Surat al-Anfal : 65-66.
Naskh Dimni, yaitu apabila ada ketentuan hukum ayat-ayat terdahulu tidak bisa
dikompromikan dengan ketentuan hukum ayat yang datang kemudian dan ia
me-nasakh ayat terdahulu. Misal, ayat tentang kewajiban wasiat kepada ahli
waris yang dianggap mansukh oleh ayat waris.
Naskh Kull, yaitu me-nasakh hukum yang datang sebelumnya secara keseluruhan.
Misal, ketentuan idah 4 bulan 10 hari (al-Baqarah : 234).
Naskh Juz’i, yaitu me-naskh hukum yang mencakup seluruh individu dengan
hukum yang mencakup sebagian individu, atau me-nasakh hukum yang bersifat
mutlak dengan hukum yang bersifat muqayyad (terbatas), misal, an-Nuur : 4
dengan ayat 6. 
Hukum Tuhan maupun hukum manusia pada dasarnya mewajibkan kemaslahatan
manusia. Kemaslahatan kadang-kadang berubah dengan berubahnya keadaan.
Diantara hikmahnya:
a. Selalu menjaga kemaslahatan hamba agar kebutuhan mereka senantiasa
terpelihara dalam suasana keadaan dan di sepanjang zaman.
b. Untuk menjaga agar perkembagan hukum Islam selalu relevan dengan    semua
situasi dan kondisi umat yang mengamalkan, mulai dari yang    sederhana sampai
ke tingkat yang sempurna.
c. Untuk menguji orang mukallaf, apakah dengan adanya perubahan dan 
penggantian-penggantian dari naskh itu mereka tetap taat, setia   mengamalkan
hukum-hukum Tuhan, atau dengan begitu lalu mereka ingkar  dan membangkang?
‫والسل م عليكم و رحمة ا و بركاته‬

NASIKH MANSUKH POWERPOINT

  • 1.
  • 2.
    ‫م اك ننسخكمنك آيةك أك َوك ننسه اك نأتك بخيرك منه اك أ ك َوك مثله اك أ ك َلمك تعلمك أ ك َنك اللهك علىك‬ َ ‫ك َ ك َ ك َ أ ْ َهِ أ ْ ك َ م ٍ أ ْ نُ َهِ ك َ ك َ أ ْ َهِ َهِ ك َ أ ْ م ٍ هّ أ ْ ك َ أ ْ َهِ أ ْ َهِ ك َ ك َ أ ْ ك َ أ ْ ك َ أ ْ هّ هّ ك َ ك َ ك َ ك‬ ‫كلك شيأ ْءك قدير‬ ٌ ِ‫نُ هّ ك َ م ٍ ك َ َه‬ Ayat mana saja yang Kami nasakhkan, atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya. Tidakkah kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu (Al-Baqoroh 106) َ ‫نُ أ ْ أ ْ ك َ أ ْ ك َ نُ ك‬ ‫هاذاك كت ابن اك ينطقك عليكمك ب الحقك إَهِن اك كن اك نستنسخك م اك كنتنُمك تعملنون‬ ُ‫ٰ َهِ نُ ك َ أ ْ َهِ نُ ك َ ك َ أ ْ نُ أ ْ َهِ أ ْ ك َ ِّ اَّ نُ اَّ ك َ أ ْ ك َ أ ْ َهِ ن‬ Inilah kitab (catatan) Kami yang menuturkan terhadapmu dengan benar. Sesungguhnya Kami telah menyuruh mencatat apa yang telah kamu kerjakan. (AlJatsiyah 29)
  • 3.
    An-Nasakh ialah membatalkanpengamalan dengan sesuatu hukum syara’ dengan dalil yang datang kemudian dari padanya. Tidak ada nasakh pada masa setelah Rasulullah saw wafat. Nasikh (dalil yang menghapus hukum yang telah ada) Mansukh (hukum yang dibatalkan, dihapuskan, atau dipindahkan)
  • 4.
        Hukum yang dinasakhharus hukum syara’ (ketentuan Allah sunnah Rasulullah) Hukum dalil yang mansukh sudah berlaku sebelum digantikan dengan hukum nasikh atau dalil penghapusan hukum tersebut adalah khitab syar’i yang datang lebih kemudian dari khitab yang hukumnya mansukh. Antara dua dalil nasikh dan mansukh atau antara dalil yang I dan dalil II ada pertentangan, sehingga tidak dapat dikompromikan. Contoh : antara ketentuan dalil I ayat 12 al-Mujadilah yang menghapuskan orang bersedekah dulu sebelum menghadap Rasul, dengan ketentuan dalil II dari ayat 13 al-Mujadilah yang membebaskan kewajiban bersedekah. Kitab yang mansukh hukumnya tidak terikat (dibatasi) dengan waktu tertentu. Contoh : maka maafkanlah dan biarkanlah mereka sampai Allah mendatangkan perintah-Nya (al-Baqarah 109)
  • 5.
       Ayat yang mengandunghukum pokok yang tidak bisa berubah dengan sebab berubahnya situasi kondisi manusia. seperti : ayat yang berkaitan dengan ibadah, akidah, keadilan dan amanah. Ayat yang secara tektual menunjukkan ketentuan hukumnya berlaku sepanjang masa. Ayat yang berisi berita yang tidak mengandung perintah larangan seperti kabar tentang umatumat terdahulu.
  • 6.
    1. 2. 3. Nasakh tilawah danhukum. Contoh : penghapusan ayat yang mengharamkan nikah dengan saudara sepersusuan karena bersama-sama menetek kepada seorang ibu dengan sepuluh susuan, yang dina s a kh dan diganti dengan lima kali susuan. Nasakh hukum, tilawahnya tetap. Tulisan dan bacaan ayatnya masih tetap ada dan masih boleh dibaca, tetapi isi hukum ajarannya sudah di-na s a kh, sehingga sudah tidak boleh diamalkan lagi. Contoh: al-baqoroh 240 Ayat ini istri-istri yang dicerai harus beridah selama 1 th, kemudian Allah menasakh hukum ayat tersebut, Sehingga keharusan idah 1 th sudah tidak berlaku lagi, sekalipun lafal nash ayatnya masih tetap ada dan boleh dibaca. Lalu diganti dengan al-baqoroh: 234 Nasakh tilawah, hukumnya tetap. Tulisan ayatnya sudah dihapus, tetapi hukum isinya masih tetap berlaku dan harus diamalkan. Hadis dari Umar bin Khaththab dan Ubayi bin Ka’ab  ‫كان فيما انزل من القران الشيخ و الشيخة اذا زنيا فارجموهما البتة نكال من ا‬ …O ra ng tua la ki-la ki d a n o ra ng tua p e re m p ua n ka la u ke d ua ny a be rz ina , m a ka ra ja m la h (d ihukum le m p a r ba tu s a m p a i m a ti) s e ka lig us s e ba g a i ba la s a n d a ri A h lla
  • 7.
    a. Al-qur’an menasakhkanAl-qur’an. Contoh: QS al-anfal: 65 yang dinasakhkan oleh ayat berikutnya 66. b. Al-qur’an menasakhkan As-sunah. Contoh: Perbuatan nabi dan para sahabat menghadap Baitul Maqdis dalam shalat dinasakhkan oleh ayat QS: al-baqoroh: 144 c. As-sunnah menasakhkan As-sunnah. Contoh: “aku telah melarangmu menziarahi kubur, maka (sekarang) ziarahilah. d. As-sunnah menasakhkan Al-qur’an (imam Syafi’i menolak). Contoh: QS al-baqoroh: 180 dinasakhkan dengan hadits mutawatir “ketahuilah, tidak ada wasiat untuk ahli waris”
  • 8.
    Naskh sarih, yaituayat yang secara tegas menghapuskan hukum yang terdapat pada ayat terdahulu. Misal : Surat al-Anfal : 65-66. Naskh Dimni, yaitu apabila ada ketentuan hukum ayat-ayat terdahulu tidak bisa dikompromikan dengan ketentuan hukum ayat yang datang kemudian dan ia me-nasakh ayat terdahulu. Misal, ayat tentang kewajiban wasiat kepada ahli waris yang dianggap mansukh oleh ayat waris. Naskh Kull, yaitu me-nasakh hukum yang datang sebelumnya secara keseluruhan. Misal, ketentuan idah 4 bulan 10 hari (al-Baqarah : 234). Naskh Juz’i, yaitu me-naskh hukum yang mencakup seluruh individu dengan hukum yang mencakup sebagian individu, atau me-nasakh hukum yang bersifat mutlak dengan hukum yang bersifat muqayyad (terbatas), misal, an-Nuur : 4 dengan ayat 6. 
  • 9.
    Hukum Tuhan maupunhukum manusia pada dasarnya mewajibkan kemaslahatan manusia. Kemaslahatan kadang-kadang berubah dengan berubahnya keadaan. Diantara hikmahnya: a. Selalu menjaga kemaslahatan hamba agar kebutuhan mereka senantiasa terpelihara dalam suasana keadaan dan di sepanjang zaman. b. Untuk menjaga agar perkembagan hukum Islam selalu relevan dengan    semua situasi dan kondisi umat yang mengamalkan, mulai dari yang    sederhana sampai ke tingkat yang sempurna. c. Untuk menguji orang mukallaf, apakah dengan adanya perubahan dan  penggantian-penggantian dari naskh itu mereka tetap taat, setia   mengamalkan hukum-hukum Tuhan, atau dengan begitu lalu mereka ingkar  dan membangkang?
  • 10.
    ‫والسل م عليكمو رحمة ا و بركاته‬