ULUM AL-QURAN,
SEJARAH DAN
PERKEMBANGANNYA
Pengertian Ulumul Qur’an
◦ Ulumul Qur’an adalah ilmu yang membahas
masalah-masalah yang berhubungan dengan al-
Qur’an dari segi asbabun nuzul, pengumpulan dan
penertiban al-Qur’an, makkiah madaniyah, nasikh
mansukh, muhkam mutasyabih dan lain sebagainya
yang berhubungan dengan al-Qur’an.
◦ Ulumul qur’an kadang disebut juga dengan usulut
tafsir (dasar-dasar tafsir) karena yang dibahas
berkaitan dengan beberapa masalah yang harus
diketahui seorang mufassir sebagai sandaran dalam
menafsirkan al-Qur’an.
Ruang Lingkup Ulumul Qur’an
◦ Menurut Hasbi al-Shiddieqi, ulumul qur’an terdapat enam
komponen:
1. Nuzul (tempat dan waktu turunnya) seperti asbabun nuzul
dan makki dan madani.
2. Sanad, baik yang mutawatir, ahad dan syadz bentuk-bentuk
qira’ah dll.
3. Ada’ al-Qira’ah seperti waqaf, ibtida’, madd, idgham dll.
4. Pembahasan tentang lafadh al-Qur’an seperti majaz,
musytarak, muradif dll.
5. Pembahasan makna al-Qur’an yang berhubungan dengan hukum
seperti ‘am, khas, mutlaq, muqayyad, manthuq, mafhu,m, dll.
6. Pembahasan makna al-Qur’an yang berhubungan dengan lafadh
seperti fasl, wasl, ijaz, itnab dll.
Lanjutan…
◦ Menurut Dr. M. Quraish Shihab, materi-materi cakupan ulumul qur’an
terdapat 4 komponen:
◦ Komponen pertama (Pengenalan terhadap al-Qur’an) mencakup : (a)
Sejarah al-Qur’an, (b) Rasm al-Qur’an, (c) I’jaz al-Qur’an, (d) Munasabah
al-Qur’an, (e) qushah al-Qur’an, (f) jadal al-Qur’an, (g) aqsam al-Qur’an,
(h) amtsal al-Qur’an,(i) nasikh dan mansukh, (j) muhkam dan mutasyabih,
(k) al-qiraat, dan sebagainya.
◦ Komponen kedua (Kaida-kaidah tafsir) mencakup : (a) ketentuan-
ketentuan yang harus diperhatikan dalam menafsirkan al-Qur’an, (b)
sistematika yang hendaknya ditempuh dalam menguraikan penafsiran, dan
(c) patokan-patokan khusus yang membantu pemahaman ayat-ayat al-
Qur’an,baik dari ilmu-ilmu bantu, seperti bahasa dan ushul fiqhi, maupun
yang ditarik langsung dari penggunaan al-Qur,an. Sebagai contoh,
dapat dikemukakan kaidah-kaidah berikut : (a) kaidah ism dan fi’il, (b)
kaidah ta’rif dan tankir, (c) kaidah istifham dan macam-macamnya, (d)
ma’aniy al-huruf seperti : asa; la’alla, in, iza; dan lain-lain, (e) kaidah su’al
dan jawab, (f) kaidah pengulangan, (g) kaidah perintah sesudah larangan,
(h) kaidah penyebutan nama dalam kishah, (j) kaidah penggunaan kata dan
uslub al-Qur’an, dan lain-lain.
Lanjutan…
◦ Komponen ketiga (metode-metode tafsir) mencakup
metode-metode tafsir yang dikemukakan oleh ulama
mutaqaddim dengan ketiga coraknya : al-ra’yu, al-ma’tsur,
al-isyariy, disertai penjelasan tentang syarat-syarat
diterimanya suatu penafsiran serta metode
pengembangannya, dan juga mencakup juga metode
mutaakhir dengan keempat macamnya : tahliliy, ijmaliy,
muqarran, maudhu’iy.
◦ Komponen keempat (kitab tafsir dan para mufassir)
mencakup pembahasan tentang kitab-kitab tafsir baik yang
lama maupun yang baru, yang berbahasa arab, inggris,
atau indonesia, dengan mempelajari biografi, latar belakang
dan kecenderungan pengarangnya, metode dan prinsip-
prinsip yang digunakan, serta keistimewaan dan
kelemahannya.
Urgensi Mempelajari Ulumul Qur’an
◦ Tanpa mempelajari Uluumul Qur-an sebenarnya seseorang akan
kesulitan memahami makna yang terkandung dalam Al Qur-an,
bahkan bisa jadi malah tersesatkan. Apalagi ada 2 jenis ayat yaitu
ayat-ayat muhkamaat dan mutsayabihaat. Sejak masa nabi
Muhammad pun, terkadang sahabat memerlukan penjelasan nabi
apa yang dimaksud dalam ayat-ayat tertentu. Sehingga muslimin
yang hidup jauh sepeninggal Nabi S.a.w, terutama bagi yang ingin
memahami kandungan Al Qur-an dituntut untuk mempelajari ilmu
tersebut.
◦ Adapun manfaat mempelajari Ulumul Qur’an antara lain adalah:
◦ Mampu menguasai berbagai ilmu pendukung dalam rangka
memahami makna yang terkandung dalam al-Qur`an.
◦ Membekali diri dengan persenjataan ilmu pengetahuan yang lengkap,
dalam rangka membela al-Qur`an dari berbagai tuduhan dan fitnah
yang muncul dari pihak lain.
Pertumbuhan dan
Perkembangan Ulumul Qur’an
◦ Fase Sebelum Kodifikasi
Pada fase sebelum kodifikasi, ‘Ulumul Al-Qur’an kurang
lebih sudah merupakan benih yang kemunculannya sangat
dirasakan semenjak Nabi masih ada. Hal itu ditandai
dengan keinginan para sahabat untuk mempelajari Al-
Qur’an dengan sungguh-sungguh. Terlebih lagi, diantara
mereka – sebaimana yang diceritakan oleh Abu
Abdurrahman As-Sulami, ada kebiasaan untuk tidak
berpindah kepada ayat lain, sebelum benar-benar dapat
memahami dan mengamalkan ayat yang sedang
dipelajarinya. Mereka mempelajari sekaligus mengamalkan
ayat yang sedang dipelajarinya. Dan itulah sebabnya
mengapa Ibnu ‘Umar memerlukan waktu delapan tahun
hanya untuk menghafal surah Al-Baqarah.
Fase Kodifikasi
◦ Ketika Usman memerintahkan Zaid bin Tsabit untuk
mengkodifikasikan al-Qur’an menggunakan bahasa arab
Quraish maka saat itulah muncul Ilmu Rasmil Qur’an.
◦ Kemudian pada masa Ali bin Abi Thalib, Abul Aswad
ad-Du’ali diperintahkan untuk meletakkan kaidah
nahwu, cara pengucapan yang tepat dan baku dan
memberikan ketentuan harokat pada al-Qur’an maka
mincullah Ilmu I’rabil Qur’an.
Abad II H
◦ Tentang masa penyusunan ilmu-ilmu agama yang dimulai
sejak permulaan abad II H. para ulama memberikan prioritas
atas penyusunan tafsir sebab tafsir merupakan induk
‘Ulumul Al-Qur’an. Di antara ulama abad II H. yang
menyusun tafsir adalah:
◦ Syu’bah Al-Hjjaj (w. 160 H.)
◦ Sufyan bin ‘Uyainah (w. 198 H.)
◦ Sufyan Ats-Tsauri (w. 161 H.)
◦ Waqi’ bin Al-jarrh (128-197 H.)
◦ Muqatil bin Sulaiman (w. 150 H.)
◦ Ibnu Jarir Ath-Thabari (w. 310 H.)
Abad III H
◦ Pada abad III H. selain tafsir dan ilmu tafsir, para ulama
mulai menyusun pula beberapa ilmu Al-Qur’an (‘Ulumul Al-
Qur’an), di antaranya:
◦ ‘Ali bin al-MAdini (w. 234 H.), gurunya Imam Al-Bukhari,
yang menyusun Ilmu Asbab An-Nuzul
◦ Abu ubaid al-qasimi bin salam (w. 224 H.) yang menyusun
Ilmu Nasikh Wa Al-Mansukh, Ilmu Qira’at, dan Fadha’il Al-
Qur’an
◦ Muhammad bin ayyub adh-durraits (w. 294 H.) yang
menyusun Ilmu Makki wa Al-Madani
◦ Muhammad bin Khalaf Al-Marzuban (w. 309 H.) yang
menyusun kitab Al-Hawi Fi’ ‘Ulum Al-Qur’an.
Abad IV H
◦ Pada abad IV H. mulai disusun Ilmu Gharib Al-Qur’an dan beberapa
kitab ‘Ulumul Al-Qur’an dengan memakai istilah ‘Ulum Al-Qur’an.
Diantara ulama yang menyusun ilmu-ilmu itu adalah:
◦ Abu Bakar As-Sijistani (w.330 H.) yang menyusun kitab Gharib
Al-Qur’an
◦ Abu bakar Muhammad bin Al-Qasim Al-Anbari (w. 328 H.) yang
menyusun kitab ‘Aja’ib ‘Ulum Al-Qur’an
◦ Abu Al-Hasan Al-Asy’ari (w. 324 H.) yang menyusun kitab Al-
Mukhtazan fi’ ‘Ulum Al-Qur’an
◦ Abu Muhammad Al-Qassab Muhammad bin Ali Al-Kurkhi (w. 360
H.) yang menyusun kitab Nukat Al-Qur’an Ad-Dallah ‘Ala Al-
Bayan fi Anwa’ Al-‘Ulum Wa Al-Ahkam Al-Munbi’ah ‘An Ikhtilaf
Al-Anam
◦ Muhammad bin ‘Ali Al-Adfawi (w. 388 H.) yang menyusun kitab
Al-Istighna’ fi’ ‘Ulum Al-Qur’an (20 jilid).
Abad V H
◦ Pada abad V H. mulai disusun Ilmu I’jazil Qur’an, Ilmu
Amtsalil Qur’an dan Ilmu I’rab Al-Qur’an dalam satu kitab.
Di samping itu, penulisan kitab – kitab ‘Ulum Al-Qur’an
masih terus dilakukan oleh ulama masa ini. Di antara ulama
ulama yang berjasa dalam pengembangan ‘Ulum Al-Qur’an
pada masa ini adalah :
◦ Abu Bakar al-Baqalani (w. 403 H) menyusun kitab I’jazul
Qur’an.
◦ Al-Mawardi (w. 450 H) menyusun Amtsalul Qur’an.
◦ ‘Ali bin Ibrahim bin Sa’id al-Hufi (w. 430 H.), selain
mempelopori penyusunan I’rab Al-Qur’an, ia pun menyusun
kitab Al-Burhan fi’Ulum Al-Qur’an.
◦ Abu ‘Amr Ad-Dani (w. 444 H.) yang menyusun kitab At-
Taisir fi Qira’at As-Sab’i dan kitab Al-Muhkam fi An-Naqth.
Abad VI H
◦ Pada abad VI H. di samping terdapat ulama yang
meneruskan pengembangan ‘Ulumul Al-Qur’an, juga terdapat
ulama yang mulai menyusun Ilmu Mubhamat Al-Qur’an, di
antaranya adalah:
◦ Abu Al-Qasim bin ‘Abdurrahman As-Suhaili (w. 581 H.)
yang menyusun kitab Mubhamat Al-Qur’an
◦ Ibn Al-jauzi (w. 597 H.) yang menyusun kitab Funun Al-
Afnan fi ‘Aja’ib Al-Qur’an dan kitab Al-Mujtaba’ fi ‘Ulum
Tata’allaq bi Al-Qur’an.
Abad VII H
◦ Pada abad VII H. ilmu-ilmu Al-Qur’an terus berkembang
dengan mulai tersusunnya Ilmu Majas Al-Qur’an dan Ilmu
Qira’at. Di antara ulama abad VII yang besar perhatiannya
terhadap ilmu-ilmu ini adalah:
◦ Alamuddin As-Sakhawi (w. 643 H.), kitabnya mengenai
ilmu Qira’at dinamai Hidayat Al-Murtab fi Mutasyabih dan
kitab tentang Aqsamil Qur’an
◦ Ibn ‘Abd As-Salam yang terkenal dengan nama Al-‘Izz (w.
660 H.) yang mempelopori penulisan ilmu Majaz Al-Qur’an
dalam satu kitab
◦ Abu Syamah (w. 655 H.) yang menyusun kitab Al-Mursyid
Al-Wajiz fi ‘Ulum Al-Qur’an Tata’allaq bi Al-Qur’an Al-
‘Aziz.
Abad VIII H
◦ Pada abad VII H. muncullah beberapa ulama yang menyusun
ilmu-ilmu baru tentang Al-Qur’an, sedangkan penulisan
kitab-kitab tentang “Ulum Al-Qur’an terus berjalan. Di
antara mereka adalah:
◦ Ibn Abi Al-isba’ yang menyusun Ilmu Badai’i Al-Qur’an
◦ Ibn Al-Qayyim (w. 752 H.) yang menyusun ilmu Aqsam Al-
Qur’an
◦ Najmuddin ath-Thufi (w. 716 H.) yang menyusun Ilmu
Hujaj Al-Qur’an atau Ilmu Jadal Al-Qur’an
◦ Badruddin Az-Zarkasyi (745-794 H.) yang menyusun kitab
Al-Burhan fi ‘ulum Al-Qur’an
◦ Taqiyuddin Ahmad bin Taimiyah Al-Harrani (w. 728 H.)
yang menyusun kitab Ushul Al-Tafsir.
Abad IX Dan X H
◦ Pada abad IX dan permulaan abad X H., makin banyak
karangan yang ditulis ulama tentang Ulum Al-Qur’an. Pada
masa ini, perkembangan Ulum Al-Qur’an mencpai
kesempurnaannya. Di antara ulama yang menyusun Ulum Al-
Qur’an pada masa ini adalah:
◦ Jalaluddin Al-Balqini (w. 824 H.) yang menyusun kitab
Mawaqi’ul ‘Ulum min Mawaqi’un Nujum.
◦ Muhammad bin Sulaiman Al-Kafiyaji (w. 879 H.) yang
menyusun kitab At-Taisir fi Qawa’id At-Tafsir
◦ Jalaluddin ‘Abdurrahman bin Kamaluddin As-Suyuthi (849-
911H.) yang menyusun kitab Ath-Tahbir fi ‘Ulum At-Tafsir.
Abad XIV H
◦ Setelah memasuki abad XIV H., bangkitlah kembali perhatian
ulama dalam penyusunan kitab-kitab yang membahas Al-
Qur’an dari berbagai segi. Kebangkitan ini di antaranya
dipicuh oleh kegiatan ilmiah di Universitas Al-Azhar Mesir,
terutama ketika universitas ini membuka jurusan-jurusan
bidang studi yang menjadikan tafsir dan hadits sebagai salah
saatu jurusannya.
◦ Pada abad ini ada sedikit pengembangan tema yang dilakukan
oleh para ulama dibandingkan pada abad-abad sebelumnya.
Pengembangan itu di antaranya berupa penerjemahan Al-
Qur’an ke dalam bahasa-bahasa Ajam. Pada abad ini,
perkembangan ‘Ulum Al-Qur’an diwarnai oleh usaha-usaha
menebarkan keraguan di seputar Al-Qur’an yang dilakukan
oleh kalangan orientalis atau oleh orang islam itu sendiri
yang dipengaruhi oleh orientalis.
◦ Di antara Ulumul Qur’an yang lahir pada abad ini adalah:
Lanjutan…
◦ Syekh Thahir Al-Jazairi yang menyusun kitab At-Tibyan
fi’Ulum Al-Qur’an yang selesai pada tahun 1335 H
◦ Jamaluddin Al-Qasimy (w. 1332 H.) yang menyusun kitab
Mahasin Al-Ta’wil
◦ Muhammad ‘Abd Al-‘Azhim Az-Zarqani yang menyusun kitab
Manahil Al-‘irfan fi’Ulum Al-Qur’an (2 jilid)
◦ Muhammad ‘Ali Salamah yang menyusun kitab Manhaj Al-
Furqan fi’Ulum Al-Qur’an
◦ Syeikh Tanthawi Jauhari yang menyusun kitab Al-Jawahir fi
Tafsir Al-Qur’an dan Al-Qur’an wa ‘Ulum ‘Ashriyyah
◦ Mushthafa Shadiq Ar-Rafi’I yang menyusun kitab I’jaz Al-
Qur’an
◦ Ustadz Sayyid Quthub yang menyusun kitab At-Tashwir Al-
Fani fi Al-Qur’an
Lanjutan…
◦ Ustadz Malik bin Nabi yang menyusun kitab Az-Zhahirah Al-Quraniyah.
◦ Sayyid Imam Muhammad Rasyid Ridha yang menyusun kitab Tafsir Al-Qur’an
Al-Hakim (TAfsir Al-Manar)
◦ Syekh Muhammad ‘Abdullah Darraz yang menyusun kitab An-Naba’ Al-‘Azhim
‘an Al-Qur’an Al-Karim: Nazharat Jadidah fi Al-Qur’an
◦ DR. Subhi As-SAlih, Guru Besar Islamic Studies dan Fiqhu Lugah pada
Fakultas Adab Universitas Libanon, yang menyusun kitab Mabahits fi ‘Ulum
Al-Qur’an.
◦ Syekh Mahmud Abu Daqiqi yang menyusun kitab ‘Ulum Al-Qur’an.
◦ Syekh Muhammad ‘Ali Salamah, yang menyusun kitab Manhaj Al-Furqan
fi’Ulum al-Qur’an.
◦ Ustadz Muhammad Al-Mubarak yang menyusun kitab Al-Manhal Al-Khalid.
◦ Muhammad Al-Ghazali yang menyusun kitab Nazharat fi Al-Qur’an.
◦ Syekh Muhammad Musthafa Al-Maraghi yang menyusun sebuah risalah yang
menerangkan kebolehan kita menerjemahkan Al-Qur’an. Ia pun menulis kitab
Tafsir Al-Maraghi
Ulumul Qur’an dalam satu
Kitab
◦ Pengumpulan hasil pembahasan dan bidang-bidang tersebut
mengenai semua atau sebagian besar ilmu-ilmu al-Qur’an,
menurut keterangan az-Zarqani dalam kitabnya Manahilul
‘Irfan fi Ulumil Qur’an, bahwa beliau menemukan di
perpustakaan mesir kitab yang ditulis oleh Ali bin Ibrahim
bin Sa’id al-Hufi (w. 430 H.) yang berjudul al-Burhan fi
Ulumil Qur’an. Al-Hufi dianggap sebagai orang pertama yang
menyusun ulumul qur’an secara lengkap.
◦ Kemudian Ibnul Jauzi (w. 597 H) dengan judul Fununul
Afnan fi ‘Aja’ib Ulumil Qur’an.
◦ Kemudian muncul Badruddin al-Zarkasyi (w. 794 H) dengan
kitabnya al-Burhan fi Ulumil Qur’an.
Lanjutan…
◦ Jalaluddin al-Balqini (w. 824 H) memberikan beberapa
tambahan atas al-Burhan di dalam kitabnya Mawaqi’ul
Ulum min Mawaqi’in Nujum.
◦ Jalaluddin as-Suyuthi (w. 911 H) juga menyusun
sebuah kitab yang sangat populer yaitu al-Itqan fi
Ulumil Qur’an.
Sekian

Ulumul_Quran.pptx

  • 1.
  • 2.
    Pengertian Ulumul Qur’an ◦Ulumul Qur’an adalah ilmu yang membahas masalah-masalah yang berhubungan dengan al- Qur’an dari segi asbabun nuzul, pengumpulan dan penertiban al-Qur’an, makkiah madaniyah, nasikh mansukh, muhkam mutasyabih dan lain sebagainya yang berhubungan dengan al-Qur’an. ◦ Ulumul qur’an kadang disebut juga dengan usulut tafsir (dasar-dasar tafsir) karena yang dibahas berkaitan dengan beberapa masalah yang harus diketahui seorang mufassir sebagai sandaran dalam menafsirkan al-Qur’an.
  • 3.
    Ruang Lingkup UlumulQur’an ◦ Menurut Hasbi al-Shiddieqi, ulumul qur’an terdapat enam komponen: 1. Nuzul (tempat dan waktu turunnya) seperti asbabun nuzul dan makki dan madani. 2. Sanad, baik yang mutawatir, ahad dan syadz bentuk-bentuk qira’ah dll. 3. Ada’ al-Qira’ah seperti waqaf, ibtida’, madd, idgham dll. 4. Pembahasan tentang lafadh al-Qur’an seperti majaz, musytarak, muradif dll. 5. Pembahasan makna al-Qur’an yang berhubungan dengan hukum seperti ‘am, khas, mutlaq, muqayyad, manthuq, mafhu,m, dll. 6. Pembahasan makna al-Qur’an yang berhubungan dengan lafadh seperti fasl, wasl, ijaz, itnab dll.
  • 4.
    Lanjutan… ◦ Menurut Dr.M. Quraish Shihab, materi-materi cakupan ulumul qur’an terdapat 4 komponen: ◦ Komponen pertama (Pengenalan terhadap al-Qur’an) mencakup : (a) Sejarah al-Qur’an, (b) Rasm al-Qur’an, (c) I’jaz al-Qur’an, (d) Munasabah al-Qur’an, (e) qushah al-Qur’an, (f) jadal al-Qur’an, (g) aqsam al-Qur’an, (h) amtsal al-Qur’an,(i) nasikh dan mansukh, (j) muhkam dan mutasyabih, (k) al-qiraat, dan sebagainya. ◦ Komponen kedua (Kaida-kaidah tafsir) mencakup : (a) ketentuan- ketentuan yang harus diperhatikan dalam menafsirkan al-Qur’an, (b) sistematika yang hendaknya ditempuh dalam menguraikan penafsiran, dan (c) patokan-patokan khusus yang membantu pemahaman ayat-ayat al- Qur’an,baik dari ilmu-ilmu bantu, seperti bahasa dan ushul fiqhi, maupun yang ditarik langsung dari penggunaan al-Qur,an. Sebagai contoh, dapat dikemukakan kaidah-kaidah berikut : (a) kaidah ism dan fi’il, (b) kaidah ta’rif dan tankir, (c) kaidah istifham dan macam-macamnya, (d) ma’aniy al-huruf seperti : asa; la’alla, in, iza; dan lain-lain, (e) kaidah su’al dan jawab, (f) kaidah pengulangan, (g) kaidah perintah sesudah larangan, (h) kaidah penyebutan nama dalam kishah, (j) kaidah penggunaan kata dan uslub al-Qur’an, dan lain-lain.
  • 5.
    Lanjutan… ◦ Komponen ketiga(metode-metode tafsir) mencakup metode-metode tafsir yang dikemukakan oleh ulama mutaqaddim dengan ketiga coraknya : al-ra’yu, al-ma’tsur, al-isyariy, disertai penjelasan tentang syarat-syarat diterimanya suatu penafsiran serta metode pengembangannya, dan juga mencakup juga metode mutaakhir dengan keempat macamnya : tahliliy, ijmaliy, muqarran, maudhu’iy. ◦ Komponen keempat (kitab tafsir dan para mufassir) mencakup pembahasan tentang kitab-kitab tafsir baik yang lama maupun yang baru, yang berbahasa arab, inggris, atau indonesia, dengan mempelajari biografi, latar belakang dan kecenderungan pengarangnya, metode dan prinsip- prinsip yang digunakan, serta keistimewaan dan kelemahannya.
  • 6.
    Urgensi Mempelajari UlumulQur’an ◦ Tanpa mempelajari Uluumul Qur-an sebenarnya seseorang akan kesulitan memahami makna yang terkandung dalam Al Qur-an, bahkan bisa jadi malah tersesatkan. Apalagi ada 2 jenis ayat yaitu ayat-ayat muhkamaat dan mutsayabihaat. Sejak masa nabi Muhammad pun, terkadang sahabat memerlukan penjelasan nabi apa yang dimaksud dalam ayat-ayat tertentu. Sehingga muslimin yang hidup jauh sepeninggal Nabi S.a.w, terutama bagi yang ingin memahami kandungan Al Qur-an dituntut untuk mempelajari ilmu tersebut. ◦ Adapun manfaat mempelajari Ulumul Qur’an antara lain adalah: ◦ Mampu menguasai berbagai ilmu pendukung dalam rangka memahami makna yang terkandung dalam al-Qur`an. ◦ Membekali diri dengan persenjataan ilmu pengetahuan yang lengkap, dalam rangka membela al-Qur`an dari berbagai tuduhan dan fitnah yang muncul dari pihak lain.
  • 7.
    Pertumbuhan dan Perkembangan UlumulQur’an ◦ Fase Sebelum Kodifikasi Pada fase sebelum kodifikasi, ‘Ulumul Al-Qur’an kurang lebih sudah merupakan benih yang kemunculannya sangat dirasakan semenjak Nabi masih ada. Hal itu ditandai dengan keinginan para sahabat untuk mempelajari Al- Qur’an dengan sungguh-sungguh. Terlebih lagi, diantara mereka – sebaimana yang diceritakan oleh Abu Abdurrahman As-Sulami, ada kebiasaan untuk tidak berpindah kepada ayat lain, sebelum benar-benar dapat memahami dan mengamalkan ayat yang sedang dipelajarinya. Mereka mempelajari sekaligus mengamalkan ayat yang sedang dipelajarinya. Dan itulah sebabnya mengapa Ibnu ‘Umar memerlukan waktu delapan tahun hanya untuk menghafal surah Al-Baqarah.
  • 8.
    Fase Kodifikasi ◦ KetikaUsman memerintahkan Zaid bin Tsabit untuk mengkodifikasikan al-Qur’an menggunakan bahasa arab Quraish maka saat itulah muncul Ilmu Rasmil Qur’an. ◦ Kemudian pada masa Ali bin Abi Thalib, Abul Aswad ad-Du’ali diperintahkan untuk meletakkan kaidah nahwu, cara pengucapan yang tepat dan baku dan memberikan ketentuan harokat pada al-Qur’an maka mincullah Ilmu I’rabil Qur’an.
  • 9.
    Abad II H ◦Tentang masa penyusunan ilmu-ilmu agama yang dimulai sejak permulaan abad II H. para ulama memberikan prioritas atas penyusunan tafsir sebab tafsir merupakan induk ‘Ulumul Al-Qur’an. Di antara ulama abad II H. yang menyusun tafsir adalah: ◦ Syu’bah Al-Hjjaj (w. 160 H.) ◦ Sufyan bin ‘Uyainah (w. 198 H.) ◦ Sufyan Ats-Tsauri (w. 161 H.) ◦ Waqi’ bin Al-jarrh (128-197 H.) ◦ Muqatil bin Sulaiman (w. 150 H.) ◦ Ibnu Jarir Ath-Thabari (w. 310 H.)
  • 10.
    Abad III H ◦Pada abad III H. selain tafsir dan ilmu tafsir, para ulama mulai menyusun pula beberapa ilmu Al-Qur’an (‘Ulumul Al- Qur’an), di antaranya: ◦ ‘Ali bin al-MAdini (w. 234 H.), gurunya Imam Al-Bukhari, yang menyusun Ilmu Asbab An-Nuzul ◦ Abu ubaid al-qasimi bin salam (w. 224 H.) yang menyusun Ilmu Nasikh Wa Al-Mansukh, Ilmu Qira’at, dan Fadha’il Al- Qur’an ◦ Muhammad bin ayyub adh-durraits (w. 294 H.) yang menyusun Ilmu Makki wa Al-Madani ◦ Muhammad bin Khalaf Al-Marzuban (w. 309 H.) yang menyusun kitab Al-Hawi Fi’ ‘Ulum Al-Qur’an.
  • 11.
    Abad IV H ◦Pada abad IV H. mulai disusun Ilmu Gharib Al-Qur’an dan beberapa kitab ‘Ulumul Al-Qur’an dengan memakai istilah ‘Ulum Al-Qur’an. Diantara ulama yang menyusun ilmu-ilmu itu adalah: ◦ Abu Bakar As-Sijistani (w.330 H.) yang menyusun kitab Gharib Al-Qur’an ◦ Abu bakar Muhammad bin Al-Qasim Al-Anbari (w. 328 H.) yang menyusun kitab ‘Aja’ib ‘Ulum Al-Qur’an ◦ Abu Al-Hasan Al-Asy’ari (w. 324 H.) yang menyusun kitab Al- Mukhtazan fi’ ‘Ulum Al-Qur’an ◦ Abu Muhammad Al-Qassab Muhammad bin Ali Al-Kurkhi (w. 360 H.) yang menyusun kitab Nukat Al-Qur’an Ad-Dallah ‘Ala Al- Bayan fi Anwa’ Al-‘Ulum Wa Al-Ahkam Al-Munbi’ah ‘An Ikhtilaf Al-Anam ◦ Muhammad bin ‘Ali Al-Adfawi (w. 388 H.) yang menyusun kitab Al-Istighna’ fi’ ‘Ulum Al-Qur’an (20 jilid).
  • 12.
    Abad V H ◦Pada abad V H. mulai disusun Ilmu I’jazil Qur’an, Ilmu Amtsalil Qur’an dan Ilmu I’rab Al-Qur’an dalam satu kitab. Di samping itu, penulisan kitab – kitab ‘Ulum Al-Qur’an masih terus dilakukan oleh ulama masa ini. Di antara ulama ulama yang berjasa dalam pengembangan ‘Ulum Al-Qur’an pada masa ini adalah : ◦ Abu Bakar al-Baqalani (w. 403 H) menyusun kitab I’jazul Qur’an. ◦ Al-Mawardi (w. 450 H) menyusun Amtsalul Qur’an. ◦ ‘Ali bin Ibrahim bin Sa’id al-Hufi (w. 430 H.), selain mempelopori penyusunan I’rab Al-Qur’an, ia pun menyusun kitab Al-Burhan fi’Ulum Al-Qur’an. ◦ Abu ‘Amr Ad-Dani (w. 444 H.) yang menyusun kitab At- Taisir fi Qira’at As-Sab’i dan kitab Al-Muhkam fi An-Naqth.
  • 13.
    Abad VI H ◦Pada abad VI H. di samping terdapat ulama yang meneruskan pengembangan ‘Ulumul Al-Qur’an, juga terdapat ulama yang mulai menyusun Ilmu Mubhamat Al-Qur’an, di antaranya adalah: ◦ Abu Al-Qasim bin ‘Abdurrahman As-Suhaili (w. 581 H.) yang menyusun kitab Mubhamat Al-Qur’an ◦ Ibn Al-jauzi (w. 597 H.) yang menyusun kitab Funun Al- Afnan fi ‘Aja’ib Al-Qur’an dan kitab Al-Mujtaba’ fi ‘Ulum Tata’allaq bi Al-Qur’an.
  • 14.
    Abad VII H ◦Pada abad VII H. ilmu-ilmu Al-Qur’an terus berkembang dengan mulai tersusunnya Ilmu Majas Al-Qur’an dan Ilmu Qira’at. Di antara ulama abad VII yang besar perhatiannya terhadap ilmu-ilmu ini adalah: ◦ Alamuddin As-Sakhawi (w. 643 H.), kitabnya mengenai ilmu Qira’at dinamai Hidayat Al-Murtab fi Mutasyabih dan kitab tentang Aqsamil Qur’an ◦ Ibn ‘Abd As-Salam yang terkenal dengan nama Al-‘Izz (w. 660 H.) yang mempelopori penulisan ilmu Majaz Al-Qur’an dalam satu kitab ◦ Abu Syamah (w. 655 H.) yang menyusun kitab Al-Mursyid Al-Wajiz fi ‘Ulum Al-Qur’an Tata’allaq bi Al-Qur’an Al- ‘Aziz.
  • 15.
    Abad VIII H ◦Pada abad VII H. muncullah beberapa ulama yang menyusun ilmu-ilmu baru tentang Al-Qur’an, sedangkan penulisan kitab-kitab tentang “Ulum Al-Qur’an terus berjalan. Di antara mereka adalah: ◦ Ibn Abi Al-isba’ yang menyusun Ilmu Badai’i Al-Qur’an ◦ Ibn Al-Qayyim (w. 752 H.) yang menyusun ilmu Aqsam Al- Qur’an ◦ Najmuddin ath-Thufi (w. 716 H.) yang menyusun Ilmu Hujaj Al-Qur’an atau Ilmu Jadal Al-Qur’an ◦ Badruddin Az-Zarkasyi (745-794 H.) yang menyusun kitab Al-Burhan fi ‘ulum Al-Qur’an ◦ Taqiyuddin Ahmad bin Taimiyah Al-Harrani (w. 728 H.) yang menyusun kitab Ushul Al-Tafsir.
  • 16.
    Abad IX DanX H ◦ Pada abad IX dan permulaan abad X H., makin banyak karangan yang ditulis ulama tentang Ulum Al-Qur’an. Pada masa ini, perkembangan Ulum Al-Qur’an mencpai kesempurnaannya. Di antara ulama yang menyusun Ulum Al- Qur’an pada masa ini adalah: ◦ Jalaluddin Al-Balqini (w. 824 H.) yang menyusun kitab Mawaqi’ul ‘Ulum min Mawaqi’un Nujum. ◦ Muhammad bin Sulaiman Al-Kafiyaji (w. 879 H.) yang menyusun kitab At-Taisir fi Qawa’id At-Tafsir ◦ Jalaluddin ‘Abdurrahman bin Kamaluddin As-Suyuthi (849- 911H.) yang menyusun kitab Ath-Tahbir fi ‘Ulum At-Tafsir.
  • 17.
    Abad XIV H ◦Setelah memasuki abad XIV H., bangkitlah kembali perhatian ulama dalam penyusunan kitab-kitab yang membahas Al- Qur’an dari berbagai segi. Kebangkitan ini di antaranya dipicuh oleh kegiatan ilmiah di Universitas Al-Azhar Mesir, terutama ketika universitas ini membuka jurusan-jurusan bidang studi yang menjadikan tafsir dan hadits sebagai salah saatu jurusannya. ◦ Pada abad ini ada sedikit pengembangan tema yang dilakukan oleh para ulama dibandingkan pada abad-abad sebelumnya. Pengembangan itu di antaranya berupa penerjemahan Al- Qur’an ke dalam bahasa-bahasa Ajam. Pada abad ini, perkembangan ‘Ulum Al-Qur’an diwarnai oleh usaha-usaha menebarkan keraguan di seputar Al-Qur’an yang dilakukan oleh kalangan orientalis atau oleh orang islam itu sendiri yang dipengaruhi oleh orientalis. ◦ Di antara Ulumul Qur’an yang lahir pada abad ini adalah:
  • 18.
    Lanjutan… ◦ Syekh ThahirAl-Jazairi yang menyusun kitab At-Tibyan fi’Ulum Al-Qur’an yang selesai pada tahun 1335 H ◦ Jamaluddin Al-Qasimy (w. 1332 H.) yang menyusun kitab Mahasin Al-Ta’wil ◦ Muhammad ‘Abd Al-‘Azhim Az-Zarqani yang menyusun kitab Manahil Al-‘irfan fi’Ulum Al-Qur’an (2 jilid) ◦ Muhammad ‘Ali Salamah yang menyusun kitab Manhaj Al- Furqan fi’Ulum Al-Qur’an ◦ Syeikh Tanthawi Jauhari yang menyusun kitab Al-Jawahir fi Tafsir Al-Qur’an dan Al-Qur’an wa ‘Ulum ‘Ashriyyah ◦ Mushthafa Shadiq Ar-Rafi’I yang menyusun kitab I’jaz Al- Qur’an ◦ Ustadz Sayyid Quthub yang menyusun kitab At-Tashwir Al- Fani fi Al-Qur’an
  • 19.
    Lanjutan… ◦ Ustadz Malikbin Nabi yang menyusun kitab Az-Zhahirah Al-Quraniyah. ◦ Sayyid Imam Muhammad Rasyid Ridha yang menyusun kitab Tafsir Al-Qur’an Al-Hakim (TAfsir Al-Manar) ◦ Syekh Muhammad ‘Abdullah Darraz yang menyusun kitab An-Naba’ Al-‘Azhim ‘an Al-Qur’an Al-Karim: Nazharat Jadidah fi Al-Qur’an ◦ DR. Subhi As-SAlih, Guru Besar Islamic Studies dan Fiqhu Lugah pada Fakultas Adab Universitas Libanon, yang menyusun kitab Mabahits fi ‘Ulum Al-Qur’an. ◦ Syekh Mahmud Abu Daqiqi yang menyusun kitab ‘Ulum Al-Qur’an. ◦ Syekh Muhammad ‘Ali Salamah, yang menyusun kitab Manhaj Al-Furqan fi’Ulum al-Qur’an. ◦ Ustadz Muhammad Al-Mubarak yang menyusun kitab Al-Manhal Al-Khalid. ◦ Muhammad Al-Ghazali yang menyusun kitab Nazharat fi Al-Qur’an. ◦ Syekh Muhammad Musthafa Al-Maraghi yang menyusun sebuah risalah yang menerangkan kebolehan kita menerjemahkan Al-Qur’an. Ia pun menulis kitab Tafsir Al-Maraghi
  • 20.
    Ulumul Qur’an dalamsatu Kitab ◦ Pengumpulan hasil pembahasan dan bidang-bidang tersebut mengenai semua atau sebagian besar ilmu-ilmu al-Qur’an, menurut keterangan az-Zarqani dalam kitabnya Manahilul ‘Irfan fi Ulumil Qur’an, bahwa beliau menemukan di perpustakaan mesir kitab yang ditulis oleh Ali bin Ibrahim bin Sa’id al-Hufi (w. 430 H.) yang berjudul al-Burhan fi Ulumil Qur’an. Al-Hufi dianggap sebagai orang pertama yang menyusun ulumul qur’an secara lengkap. ◦ Kemudian Ibnul Jauzi (w. 597 H) dengan judul Fununul Afnan fi ‘Aja’ib Ulumil Qur’an. ◦ Kemudian muncul Badruddin al-Zarkasyi (w. 794 H) dengan kitabnya al-Burhan fi Ulumil Qur’an.
  • 21.
    Lanjutan… ◦ Jalaluddin al-Balqini(w. 824 H) memberikan beberapa tambahan atas al-Burhan di dalam kitabnya Mawaqi’ul Ulum min Mawaqi’in Nujum. ◦ Jalaluddin as-Suyuthi (w. 911 H) juga menyusun sebuah kitab yang sangat populer yaitu al-Itqan fi Ulumil Qur’an.
  • 22.