Aliran Psikologi
Fungsionalisme
Wulandari Rima Kumari
17.11.1001.3510.009
(Psikologi Sore)
Fungsionalisme
• Fungsionalisme: Mempelajari fungsi tingkah laku dan proses mental.
• Metode yang dipakai oleh aliran fungsionalisme ini dikenal dengan nama
Metode Observasi Tingkah Laku yang terdiri dari dua bagian yaitu
Metode Fisiologi dan Metode Variasi Kondisi.
• Metode Fisiologi: Menguraikan tingkah laku dari sudut anatomi dan ilmu
faal.
• Metode Variasi Kondisi: Tidak semua tingkah laku manusia dapat
dijelaskan dengan anatomi dan fisiologi, karena manusia mempunyai
sudut psikologis. Metode variasi kondisi inilah yang merupakan metode
eksperimen dari aliran fungsionalisme.
• Fungsionalisme menekankan pada totalitas dalam hubungan pikiran dan
perilaku. Dengan demikian, hubungan antar manusia dengan
lingkungannya merupakan bentuk manifestasi dari pikiran dan perilaku.
William James
(1842-1910)
• James termasuk pendukung aliran evolusionalisme dan
bersamaan John Dewey mendirikan aliran fungsionalisme.
James tergolong orang yang berpikiran bebas. Yaitu bebas
mengeluarkan dan mengembangkan ide atau kritik yang
orisinil. Salah satu ciri jalan pikirannya adalah berusaha
sedekat mungkin dengan kenyataan.
• Teori emosi (Teori James-Lange):
1. Menjelaskan tentang hubungan antara perubahan fisiologis
dengan emosi.
2. Emosi identik dengan perubahan-perubahan peredaran darah.
3. Emosi adalah hasil dari persepsi seseorang tentang
perubahan-perubahan yang terjadi pada tubuh terhadap
rangsang dari luar.
4. Membantah pernyataan bahwa emosilah yang menyebabkan
perubahan pada tubuh.
• William James membedakan dua aspek diri yang berbeda
tetapi tidak terpisahkan, yaitu aku (I) adalah diri sebagai yang
mengetahui suatu dan Aku social (social atau me) adalah
diri sebagai suatu yang diketahui secara material, social
maupun spiritual.
John Dewey
(1859-1952)
• Pada tahun 1886 ia menulis buku psikologi tentang psikologi
untuk memperkenalkan bagaimana cara orang Amerika
mempelajari Psikologi, yaitu dengan mengutamakan
pradigmatisme.
• Bagi pada sarjana psikologi Amerika yang lebih penting adalah
menemukan jawaban-jawaban atas pertanyaan apa kegunaan
dari jiwa (perilaku) sehingga berdirilah aliran fungsionalisme.
• Ia menganjurkan metode “learning by doing” dalam teorinya ia
berpendapat bahwa untuk mempelajari sesuatu, orang tidak perlu
terlalu banyak mempelajarinya melainkan dengan cara langsung
mengerjakan tugas (pekerjaan).
• Sikap pragmatis dari Dewey ini didasari antara lain oleh
pemikiran filsafatnya bahwa “manusia selalu berpikir tentang
perubahan.” Dewey berpendapat bahhwa segala pemikiran dan
segala perbuatan selalu bertujuan atau memiliki tujuan. Maka ia
menentang elementisme.
• Dalam bukunya yang berjudul The Reflexes are Concept (1896),
ia menjelaskan bahwa perilaku tidak dapat dipisahkan dari
rangsangan dan tidak diuraikan dalam elemen-elemen perilaku
yang lebih kecil.
• Perilaku (respons) dan rangsang (stimulus) adalah dua hal yang
tidak dapat dipisahkan. Sebab stimulus itu ada bila ada
respons, demikian pula respons tidak akan terjadi bila tidak
ada stimulus.
James Rowland Angell
(1869-1949)
Angell dikenal dengan paper-nya yang berjudul “The Province of Functional
Psychology” dan mengemukakan tiga macam pandangan terhadao
fungsionalisme:
1.Fungsionalisme adalah psikologi tenang aktivitas bekerjanya jiwa
(mental), sebagai lawan terhadap psikologi tentang elemen-elemen mental.
2.Fungsionalisme adalah psikologi tentang kegunaan-kegunaan dasar dari
kesadaran, dimana jiwa (mind) merupakan perantara antara lingkungan dan
kebutuhan-kebutuhan organisme. Teori ini disebut juga dengan teori
emergensi dari kesadaran. Untuk keadaan yang tidak bersifat emergensi
(darurat) yang berfungsi bukan emergensi tetapi kebiasaan (habit).
3.Fungsionalisme adalah psikofisik, yaitu psikologi tentang keseluruhan
organisme yang terdiri dari badan dan jiwa. Ia mempelajari pula hal-ha di
luar kesadaran, misalnya kebiasaan (habit) dan setengah sadar.
James McKeen Cattell
(1860-1944)
• Ia pernah menjadi murid Wundt dan Lotze. Ciri khas aliran ini
adalah kebebasan dalam mempelajari perilaku yang dicerminkan
dalam dua pandangan tentang fungsionalisme, yaitu:
1. Fungsionalisme tidak perlu menganut paham dualism, karena
manusia sebagai keseluruhan, merupakan kesatuan.
2. Fungsionalisme tidak perlu deskriptif dalam mempelajari perilaku
karena yang pentig adalah fungsi prilaku, jadi yang harus
dipelajari adalah hubungan (kolerasi) antara satu perilaku dengan
perilaku lainnya, atau suatu perilaku dengan satu hal yang terjadi
di lingkungan.
• Karena sifatnya yang praktis dan pragmatis, maka aliran
fungsionalisme merangsang tumbuhnya cabang-cabang
psikologi, seperti psikologi abnormal, psikologi klinis, psikologi
industry, psikologi pendidikan, dan sebagainya.
• Cattel tidak selalu setuju dengan teori Wundt, khususnya
mengenai individu. Cattel melakukan percobaan-percobaan untuk
menemukan kapasitas individu. Dan hasilnya adalah, iya berhasil
menciptakan alat ukur kapasitas dan kemampuan individual yang
kemudian disebut sebagai psikotest.
• Pada tahun 1898, ia menerbitkan hasil penelitiannya tentang prilaku beberapa
jenis hewan seperti kucing, anjing dan burung yang mencerminkan prinsip dasar
dari proses belajar yang dianutnya, yaitu bahwa belajar itu adalah asosiasi.
• Buah pemikiran Edward Lee Thorndike: Suatu stimulus (S) akan menimbulkan
respons (R) tertentu, yang seringkali disebut dengan teori S-R. dalam teori ini
dikatakan bahwa dalam proses belajar, pertama kali organisme (hewan, orang)
itu belajar dengan cara coba-coba (trial and error) atau organisme akan
mengeluarkan berbagai prilaku dari kumpulan prilaku yang ada padanya untuk
memecahkan masalah yang baru dihadapi.
• Dalam proses belajar yang mengikuti prinsip coba-coba ini, ada beberapa hukum
yang dikemukakan oleh Edward Lee Thorndike:
A. Hukum Efek (the law of effect): intensitas hubungan antara S dan R akan
meningkat apabila hubungan itu diikuti oleh keadaan yang menyenangkan, dan
sebaliknya.
B. Hukum Latihan terdiri dari dua hukum, yaitu the law of exercise dan the law of
use Disuse: hubungan antara S-R melemah bila tidak dilatih atau dilakukan
berulang-ulang karena kegunaan (peranan) R terhadap suatu S tertentu dalam
hal yang terakhir ini makin lama makin kecil pada organisme yang bersangkutan
(karena system respons tidak sering dilakukan).
Edward Lee Thorndike
(1874-1949)
Robert Sessions Woodworth
(1869-1962)
• Meskipun Woodworth penganut fungsionalisme, ia
merasa tidak cukup dengan mempelajari S-R saja, ia
mempelajari dinamika hubungan S-R. bagaimana
terjadinya hubungan itu, bagaimana perkembangan
hubungannya dalam situasi yang berubah-ubah.
• Menurut Woodworth hal itu harus dipelajari bila ingin
mengenali perilaku manusia dengan baik.
• Dalam karyanya yang berjudul Dynamic Psychology
(1918), Woodworth juga patut digolongkan kedalam
penganut psikodinamik.
• Woodworth memiliki pendirian bahwa metode intropeksi
tidak mesti harus di buang begitu saja dalam penelitian
psikologi. Bahkan untuk mempelajari motivasi, yaitu
suatu hal yang mendasari tingkah laku, seorang peneliti
harus menggunakan metode intopeksi ini.
• Minatnya akan motivasi membuat Woodworth dikenal
sebagai tokoh yang merintis ilmu tentang motif atau
motivologi

Tokoh Aliran Fungsionalisme

  • 1.
    Aliran Psikologi Fungsionalisme Wulandari RimaKumari 17.11.1001.3510.009 (Psikologi Sore)
  • 2.
    Fungsionalisme • Fungsionalisme: Mempelajarifungsi tingkah laku dan proses mental. • Metode yang dipakai oleh aliran fungsionalisme ini dikenal dengan nama Metode Observasi Tingkah Laku yang terdiri dari dua bagian yaitu Metode Fisiologi dan Metode Variasi Kondisi. • Metode Fisiologi: Menguraikan tingkah laku dari sudut anatomi dan ilmu faal. • Metode Variasi Kondisi: Tidak semua tingkah laku manusia dapat dijelaskan dengan anatomi dan fisiologi, karena manusia mempunyai sudut psikologis. Metode variasi kondisi inilah yang merupakan metode eksperimen dari aliran fungsionalisme. • Fungsionalisme menekankan pada totalitas dalam hubungan pikiran dan perilaku. Dengan demikian, hubungan antar manusia dengan lingkungannya merupakan bentuk manifestasi dari pikiran dan perilaku.
  • 3.
    William James (1842-1910) • Jamestermasuk pendukung aliran evolusionalisme dan bersamaan John Dewey mendirikan aliran fungsionalisme. James tergolong orang yang berpikiran bebas. Yaitu bebas mengeluarkan dan mengembangkan ide atau kritik yang orisinil. Salah satu ciri jalan pikirannya adalah berusaha sedekat mungkin dengan kenyataan. • Teori emosi (Teori James-Lange): 1. Menjelaskan tentang hubungan antara perubahan fisiologis dengan emosi. 2. Emosi identik dengan perubahan-perubahan peredaran darah. 3. Emosi adalah hasil dari persepsi seseorang tentang perubahan-perubahan yang terjadi pada tubuh terhadap rangsang dari luar. 4. Membantah pernyataan bahwa emosilah yang menyebabkan perubahan pada tubuh. • William James membedakan dua aspek diri yang berbeda tetapi tidak terpisahkan, yaitu aku (I) adalah diri sebagai yang mengetahui suatu dan Aku social (social atau me) adalah diri sebagai suatu yang diketahui secara material, social maupun spiritual.
  • 4.
    John Dewey (1859-1952) • Padatahun 1886 ia menulis buku psikologi tentang psikologi untuk memperkenalkan bagaimana cara orang Amerika mempelajari Psikologi, yaitu dengan mengutamakan pradigmatisme. • Bagi pada sarjana psikologi Amerika yang lebih penting adalah menemukan jawaban-jawaban atas pertanyaan apa kegunaan dari jiwa (perilaku) sehingga berdirilah aliran fungsionalisme. • Ia menganjurkan metode “learning by doing” dalam teorinya ia berpendapat bahwa untuk mempelajari sesuatu, orang tidak perlu terlalu banyak mempelajarinya melainkan dengan cara langsung mengerjakan tugas (pekerjaan). • Sikap pragmatis dari Dewey ini didasari antara lain oleh pemikiran filsafatnya bahwa “manusia selalu berpikir tentang perubahan.” Dewey berpendapat bahhwa segala pemikiran dan segala perbuatan selalu bertujuan atau memiliki tujuan. Maka ia menentang elementisme. • Dalam bukunya yang berjudul The Reflexes are Concept (1896), ia menjelaskan bahwa perilaku tidak dapat dipisahkan dari rangsangan dan tidak diuraikan dalam elemen-elemen perilaku yang lebih kecil. • Perilaku (respons) dan rangsang (stimulus) adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Sebab stimulus itu ada bila ada respons, demikian pula respons tidak akan terjadi bila tidak ada stimulus.
  • 5.
    James Rowland Angell (1869-1949) Angelldikenal dengan paper-nya yang berjudul “The Province of Functional Psychology” dan mengemukakan tiga macam pandangan terhadao fungsionalisme: 1.Fungsionalisme adalah psikologi tenang aktivitas bekerjanya jiwa (mental), sebagai lawan terhadap psikologi tentang elemen-elemen mental. 2.Fungsionalisme adalah psikologi tentang kegunaan-kegunaan dasar dari kesadaran, dimana jiwa (mind) merupakan perantara antara lingkungan dan kebutuhan-kebutuhan organisme. Teori ini disebut juga dengan teori emergensi dari kesadaran. Untuk keadaan yang tidak bersifat emergensi (darurat) yang berfungsi bukan emergensi tetapi kebiasaan (habit). 3.Fungsionalisme adalah psikofisik, yaitu psikologi tentang keseluruhan organisme yang terdiri dari badan dan jiwa. Ia mempelajari pula hal-ha di luar kesadaran, misalnya kebiasaan (habit) dan setengah sadar.
  • 6.
    James McKeen Cattell (1860-1944) •Ia pernah menjadi murid Wundt dan Lotze. Ciri khas aliran ini adalah kebebasan dalam mempelajari perilaku yang dicerminkan dalam dua pandangan tentang fungsionalisme, yaitu: 1. Fungsionalisme tidak perlu menganut paham dualism, karena manusia sebagai keseluruhan, merupakan kesatuan. 2. Fungsionalisme tidak perlu deskriptif dalam mempelajari perilaku karena yang pentig adalah fungsi prilaku, jadi yang harus dipelajari adalah hubungan (kolerasi) antara satu perilaku dengan perilaku lainnya, atau suatu perilaku dengan satu hal yang terjadi di lingkungan. • Karena sifatnya yang praktis dan pragmatis, maka aliran fungsionalisme merangsang tumbuhnya cabang-cabang psikologi, seperti psikologi abnormal, psikologi klinis, psikologi industry, psikologi pendidikan, dan sebagainya. • Cattel tidak selalu setuju dengan teori Wundt, khususnya mengenai individu. Cattel melakukan percobaan-percobaan untuk menemukan kapasitas individu. Dan hasilnya adalah, iya berhasil menciptakan alat ukur kapasitas dan kemampuan individual yang kemudian disebut sebagai psikotest.
  • 7.
    • Pada tahun1898, ia menerbitkan hasil penelitiannya tentang prilaku beberapa jenis hewan seperti kucing, anjing dan burung yang mencerminkan prinsip dasar dari proses belajar yang dianutnya, yaitu bahwa belajar itu adalah asosiasi. • Buah pemikiran Edward Lee Thorndike: Suatu stimulus (S) akan menimbulkan respons (R) tertentu, yang seringkali disebut dengan teori S-R. dalam teori ini dikatakan bahwa dalam proses belajar, pertama kali organisme (hewan, orang) itu belajar dengan cara coba-coba (trial and error) atau organisme akan mengeluarkan berbagai prilaku dari kumpulan prilaku yang ada padanya untuk memecahkan masalah yang baru dihadapi. • Dalam proses belajar yang mengikuti prinsip coba-coba ini, ada beberapa hukum yang dikemukakan oleh Edward Lee Thorndike: A. Hukum Efek (the law of effect): intensitas hubungan antara S dan R akan meningkat apabila hubungan itu diikuti oleh keadaan yang menyenangkan, dan sebaliknya. B. Hukum Latihan terdiri dari dua hukum, yaitu the law of exercise dan the law of use Disuse: hubungan antara S-R melemah bila tidak dilatih atau dilakukan berulang-ulang karena kegunaan (peranan) R terhadap suatu S tertentu dalam hal yang terakhir ini makin lama makin kecil pada organisme yang bersangkutan (karena system respons tidak sering dilakukan). Edward Lee Thorndike (1874-1949)
  • 8.
    Robert Sessions Woodworth (1869-1962) •Meskipun Woodworth penganut fungsionalisme, ia merasa tidak cukup dengan mempelajari S-R saja, ia mempelajari dinamika hubungan S-R. bagaimana terjadinya hubungan itu, bagaimana perkembangan hubungannya dalam situasi yang berubah-ubah. • Menurut Woodworth hal itu harus dipelajari bila ingin mengenali perilaku manusia dengan baik. • Dalam karyanya yang berjudul Dynamic Psychology (1918), Woodworth juga patut digolongkan kedalam penganut psikodinamik. • Woodworth memiliki pendirian bahwa metode intropeksi tidak mesti harus di buang begitu saja dalam penelitian psikologi. Bahkan untuk mempelajari motivasi, yaitu suatu hal yang mendasari tingkah laku, seorang peneliti harus menggunakan metode intopeksi ini. • Minatnya akan motivasi membuat Woodworth dikenal sebagai tokoh yang merintis ilmu tentang motif atau motivologi