Tugas II Pembiayaan Pembangunan




                                            Oleh:
                  Raditya Dwi Indrawan 3609-04
                    Alifiana Hafidian R. 3609-12
                           Sisca Henlita 3609-13
                   Hesti Martadwiprani 3609-14
                  Ainun Dita Febriyanti 3609-19
                       M. Emil Widya P. 3609-21




           Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota
           Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan
           Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya
           2011
TEORI ANGGARAN DAN SISTEM ANGGARAN


1. Definisi Anggaran
         Menurut Mulyadi (2001, p.488), anggaran adalah suatu rencana kerja yang
   dinyatakan secara kuantitatif yang diukur dalam satuan moneter standar ukuran yang
   lain yang mencakup jangka waktu satu tahun.
         Menurut Gunawan Adisaputro dan Marwan Asri (1989:6) , anggaran adalah
   suatu pendekatan yang formal dan sistematis daripada pelaksanaan tanggung jawab
   manajemen dalam perencanaan, koordinasi, dan pengawasan.
         Definisi anggaran, atau biasa disebut dengan pembiayaan publik di atas, dapat
   digunakan baik dalam lingkup rumah tangga maupun daerah/negara. Anggaran terbagi
   menjadi 2, yaitu Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan Anggaran
   Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). APBN dikeluarkan oleh pemerintah pusat atas
   persetujuan DPR. Sedangkan APBD dikeluarkan oleh pemerintah daerah melalui
   persetujuan DPRD.


2. Sifat Hukum Anggaran
       Anggaran memiliki sifat hukum dimana hukum tersebut ditetapkan oleh perda.
   Adapun sifat hukum anggaran ditentukan dari periodisitas dan kontinuitas (memiliki
   periode waktu) dan materiil (hanya mengikat pemerintah).
       Berikut merupakan perbedaaan undang-undang perda tentang APBN/APBD dengan
   undang-undang lainnya adalah:
   ●   Periodisitas dan kontinuitas, artinya undang-undang anggaran hanya berlaku satu
       tahun. Sedangkan undang-undang lain berlaku secara terus menerus.
   ●   Materiil,   artinya   undang-undang anggaran   hanya berlaku   bagi   pemerintah.
       Sedangkan undang-undang lain mengikat semua masyarakat.


3. Asas Anggaran
       Pada umumnya, sistem anggaran mengalami perkembangan mulai dari zaman
   feodal, absolutisme, hingga zaman modern. Di zaman foedal pengeluaran dan
   pendapatan negara dianggap sebagai alat privat raja atau penguasa, dimana
   pendapatan maupun pengeluaran raja atau penguasa publik lain tidak dimasukkan ke
   dalam anggaran negara.
       Pada zaman absolutisme, sistem keuangan yang berlaku adalah sistem sportel yaitu
   sebagian besar pendapatan negara tidak masuk ke dalam kas pusat, melainkan ke


                                                                                           1
dalam kas pejabat umum yang secara langsung membiayai tindakan penyediaan negara.
  Semua pemasukan negara masuk ke dalam kas para pejabat sebagai imbalan bagi jasa
  yang mereka lakukan.
        Perkembangan pemikiran demokrasi yang menguasai ketatanegaraan berlangsung
  mulai abad ke-19 dan adanya perkembangan ekonomi menyebabkan terjadinya
  perubahan pada sistem anggaran yang dikenal dengan sistem anggaran modern.
  Pelaksanaan sistem ini bervariasi, terutama mengenai susunan anggaran dan
  periodisitas dan bentuk formilnya. Adapun asas-asas yang dipergunakan dalam sistem
  anggaran modern ini adalah (Bohari, 1995):
  3.1 Asas Kelengkapan
        Semua pengeluaran dan penerimaan secara tegas dimuat dalam anggaran. Tidak
        boleh ada penerimaan atau pengeluaran yang tidak dimasukkan ke dalam kas
        negara.
  3.2 Asas Spesialisasi/spesifikasi
        Susunan anggaran terdiri dari berbagai macam pengeluaran dan penerimaan
        sehingga perlu diadakan klasifikasi tertentu. Berbagai jenis kemungkinan klasifikasi
        ditentukan berdasarkan tujuan negara.
  3.3 Asas Berkala
        Anggaran yang ditetapkan memiliki jangka waktu tertentu dalam pelaksanaannya.
        Asaa ini juga berkaitan dengan sistem pengawasan dalam pelaksanaannya.
  3.4 Asas Formil
        Adanya keharusan setiap anggaran memerlukan bentuk tertentu yang mengikat
        semua pihak, dalam hal ini berbetuk undang-undang. Dengan demikian semua pihak
        dapat mengetahui secara pasti. Hal ini juga menjadi dasar untuk pelaksanaan
        pengawasan rakyat melalui wakil-wakilnya.
  3.5 Asas Publisitas
        Merupakan asas dalam demokrasi bahwa tidak ada urusan publik bersifat rahasia.
        Dasar keterbukaan penting bagi negara demokrasi terutama mengenai penerimaan
        dan pengeluaran negara.


4. Fungsi Anggaran
  4.1    Fungsi Politik
         Adanya kesempatan kekuatan-kekuatan politik di dalam (DPR) yang ikut
         menyusun/memilih keinginan mereka, serta memberi kuasa kepada pemerintah
         untuk melaksanakannya.


                                                                                               2
4.2    Fungsi Yuridis
         Dokumen      yang    berbentuk    undang-undang      yang    mengikat    khususnya
         pemerintah yang berhubungan dengan pengeluaran dan penerimaan negara.
         Fungsi yuridis merupakan sarana yang membatasi pemerintah dalam hal
         pengeluran yang melampaui batas-batas anggaran.
  4.3    Fungsi Ekonomi
         Anggaran mencerminkan besarnya skala pembangunan yang diperlukan sesuai
         dengan tuntutan ekonomi yang dapat digunakan oleh negara.


5. Komponen dan Format Anggaran (APBN)
  5.1 Pendapatan Negara dan Hibah
        Pendapatan negara meliputi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN)
        yang merupakan rencana keuangan tahunan pemerintahan negara Indonesia yang
        disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat. APBN berisi daftar sistematis dan terperinci
        yang memuat rencana penerimaan dan pengeluaran negara selama satu tahun
        anggaran (1 Januari-31 Desember). APBN, perubahan APBN, dan pertanggung
        jawaban APBN setiap tahun ditetapkan dengan undang-undang.
  5.2 Belanja Negara
        Belanja negara terdiri atas dua jenis, yaitu:
        5.2.2   Belanja Pemerintah Pusat, adalah belanja yang digunakan untuk
                membiayai kegiatan pembangunan Pemerintah Pusat, baik yang dilaksanakan
                di pusat maupun di daerah (dekonsentrasi dan tugas pembantuan). Belanja
                Pemerintah Pusat dapat dikelompokkan menjadi: Belanja Pegawai, Belanja
                Barang, Belanja Modal, Pembiayaan Bunga Utang, Subsidi BBM dan Subsidi
                Non-BBM,     Belanja   Hibah,   Belanja   Sosial   (termasuk   Penanggulangan
                Bencana), dan Belanja Lainnya.
        5.2.3   Belanja Daerah, adalah belanja yang dibagi-bagi ke Pemerintah Daerah,
                untuk kemudian masuk dalam pendapatan APBD daerah yang bersangkutan.
                Belanja Daerah meliputi:
                1. Dana Bagi Hasil
                2. Dana Alokasi Umum
                3. Dana Alokasi Khusus
                4. Dana Otonomi Khusus




                                                                                                3
5.3 Keseimbangan Primer
    Keseimbangan primer merupakan total penerimaan dikurangi belanja tidak termasuk
    pembayaran bunga.
5.4 Surplus/Defisit Anggaran
    5.4.1   Anggaran defisit (Defisit Budget) / Kebijakan Fiskal Ekspansif
            Anggaran defisit adalah kebijakan pemerintah untuk membuat pengeluaran
            lebih   besar     dari    pemasukan     negara    guna   memberi   stimulus   pada
            perekonomian. Pada umumnya sangat baik digunakan jika keadaan ekonomi
            sedang resesif.
    5.4.2 Anggaran Surplus (Surplus Budget) / Kebijakan Fiskal Kontraktif
            Anggaran        surplus    adalah     kebijakan   pemerintah   untuk    membuat
            pemasukannya lebih besar daripada pengeluarannya. Anggaran surplus
            dilaksanakan ketika perekonomian berada pada kondisi ekspansi yang mulai
            memanas (overheating) untuk menurunkan tekanan permintaan.
5.5 Pembiayaan
    Pembiayaan meliputi:
    5.5.1 Pembiayaan Dalam Negeri, meliputi Pembiayaan Perbankan, Privatisasi, Surat
            Utang Negara, serta penyertaan modal negara.
    5.5.2 Pembiayaan Luar Negeri, meliputi:
            a. Penarikan Pinjaman Luar Negeri, terdiri atas Pinjaman Program dan
                Pinjaman Proyek
            b. Pembayaran Cicilan Pokok Utang Luar Negeri, terdiri atas Jatuh Tempo
                dan Moratorium.


5. Sistem Penyusunan Anggaran
    5.1     Traditional Budget System (TBS)
            TBS menggunakan prinsip anggaran bruto yang penyusunan anggarannya
            berdasarkan       pendekatan incrementalism dan line item. Artinya, proses
            penyusunan ini hanya mengacu pada besarnya realisasi anggaran tahun
            sebelumnya. Konsekuensinya tidak ada perubahan mendasar pada anggaran
            baru. Struktur dan susunan anggran TBS bersifat spesifikasi dan cenderung
            sentralistis.
    5.2     Performance Budget System (PBS)
            PBS menekankan pada konsep value for money dan pengawasan kinerja
            output untuk lebih mengetahui tolak ukur tujuan dan sasaran pelayanan


                                                                                                 4
publik sehingga penganggaran lebih efisien. Pada dasarnya, PBS merupakan
       system yang mencakup kegiatan penyusunan program dan tolak ukur kinerja
       unruk mencapai prioritas tujuan dalam pengambilan keputusan. Dalam
       implementasinya, PBS menggunakan teknik analisa antara biaya dan
       manfaat. Penerapan PBS dalam penyusunan anggaran adalah sebagai berikut
       : Perumusan program -> penyusunan struktur organisasi pemerintah sesuai
       dg program (penentuan unit kerja, penentuan indicator program)
5.3    Planning, Programming, and Budgeting System (PPBS)
       PPBS menekankan pada alokasi sumber daya berdasarkan analisis ekonomi
       dengan pengelompokan aktivitas yang berorientasi pada output dan tujuan.
       PPBS merupakan model penganggaran yang ditujukan untuk membantu
       pemerintah dalam pembuatan keputusan pengalokasian sumber daya dengan
       cara memberikan kerangka untuk membuat pilihan tersebut.


                      Tabel Perbedaan Sistem Anggaran
KETERANGAN          TRADISIONAL           PERFORMANCE          PPBS
Pengertian          Prakiraan             System         yang Kebijakan         yang
                    pengeluaran      dan mencakup kegiatan menekankan           pada
                    penerimaan     dana penyusunan             alokasi        sumber
                    yang        mengacu program dan tolak daya           berdasarkan
                    pada        besarnya ukur kinerja untuk analisis        ekonomi
                    realisasi anggaran mencapai prioritas untuk           memenuhi
                    tahun sebelumnya      tujuan         dalam kebutuhan        yang
                                          pengambilan          tidak terbatas
                                          keputusan
Landasan            Besar-kecilnya        Performa        atau Keberhasilan
Pengukuran          pengeluaran;     jika prestasi        dari rencana/program
                    seimbang              tujuan/hasil         dalam       mencapai
                    dikatakan berhasil    anggaran       yang tujuan negara
                                          efisien


Orientasi           Pertanggung           Pendayagunaan        Penyusunan
                    jawaban               dana           untuk rencana           dan
                    pelaksanaan           mencapai        hasil program



                                                                                       5
anggaran      yang optimal
Pengelompokan      Berdasarkan   Berdasarkan              Berdasarkan tujuan-
pos-pos Anggaran   objek-objek   rencana       kegiatan tujuan yang telah
                   pengeluaran   dan            adanya dirumuskan
                                 penetapan        tolak
                                 ukur           berupa
                                 standar biaya dan
                                 hasil kerja




                                                                                6
KEBIJAKAN
                                   PENGANGGARAN
  UU 25/2004         UU 17/2003       UU 1/2004          UU 15/2004       UU 32/2004       UU 33/2004



                PP                           PP              PP
                                                                               Pasal 182
Misal : PP                                                                     & Pasal
24/2005                                                                        194 UU
                                                                               32/2004

                                 PP 58/ 2005 :
                               Pengelolaan Keuda
                                  (Omnibus Regulation)                            Pasal 69 & Pasal
                                                                                  86 UU 33/2004

                      Pasal 155 PP 58/2005

                               PERMENDAGRI
                                  13/2006
                             Pedoman Pengelolaan
                              Keuangan Daerah                                  Kandungan lokal
             Pasal                       Pasal 330 Permendagri             berdasarkan kesepakatan
             151 Ayat                    13/2006                               bersama yg tidak
             1 PP          Perda Pokok-pokok Pengelolaan                  bertentangan dgn peraturan
             58/2005             Keuangan Daerah                                   perUUan



                         Perkada tentang Sistem & Prosedur              SE tentang Pedoman
                                                                      Penyusunan RKA-SKPD
      Pasal 151 Ayat 1 PP Pengelolaan Keuangan Daerah
      58/2005




                                                                                                     7
6. Sistem Anggaran di Indonesia
   Sistem anggaran di Indonesia menggunakan sistem anggaran daerah dan terpusat.
   Pada saat berlangsungnya masa orde baru sistem anggaran di Indonesia merupakan
   sistem anggaran terpusat, dimana semua anggaran yang ada tercantum dalam
   APBN. Pada era reformasi, yakni sekitar tahun 1999 diberlakukan kebijakan otonomi
   daerah yang pada akhirnya mengharuskan pemerintah daerah untuk memiliki buku
   anggarannya sendiri atau biasa disebut APBD. APBN sendiri disahkan oleh
   Kementrian Keuangan sedangkan APBD disahkan oleh Kementrian Dalam Negeri.
   Karena Indonesia menggunakan sistem anggaran terpusat dan sistem anggaran
   daerah maka sistem anggaran di Indonesia disebut sistem anggaran yang terpadu.




                                                                                       8
LAMPIRAN
                     Diskusi Teori Anggaran dan Sistem Anggaran
                                  Senin, 3 Oktober 2011




Moderator : Hesti Martadwiprani
Penyaji    : 1. Raditya Dwi Indrawan
            2. Alifiana Hafidian R.
            3. Sisca Henlita
            4. Ainun Dita Febriyanti
            5. M. Emil Widya P.


Sesi Pertama
1. Apa kelemahan dari sistem anggaran di Indonesia? (Farid Nurrahman - 3608 100 023)
   Adapun kelemahan dari sistem anggaran di Indonesia yaitu lemahnya kontrolling
   pemerintah pusat terhadap sistem anggaran di masing-masing daerah karena adanya
   otonomi daerah, hal inilah yang menimbulkan celah untuk terjadi penyelewengan dana.
2. Apa maksud pernyataan dari kesinergian antara APBD dengan APBN? Apakah terdapat
   sektor khusus yang mencerminkan adanya kesinergian tersebut? (Dwi Retno Ariyanti –
   3609 100 041)
   Maksud pernyataan dari kesinergian antara APBD dengan APBN adalah di dalam
   penyusunan APBD berpedoman pada APBN, karena pembahasan yang ada di dalam
   APBN lebih makro daripada APBD. Setiap daerah memiliki keperluan daerah masing-
   masing, sehingga dari sini terlihat bahwa kebutuhan daerah tersebut bersinergi pada
   APBN.
3. Dalam asas kelengkapan yang terdapat di sistem anggaran, tercantum adanya dana
   hibah. Apakah dana hibah selalu dicantumkan dalam sistem anggaran, misalnya saja
   dana hibah yang terdapat di RAPBN ? Jika iya, dana tersebut sudah diterima apa belum?
   (Achmad Ghozali - 3609 100 048)
   Iya, dana hibah selalu dicantumkan dalam sistem anggaran. Misalnya saja di dalam
   APBN, jika dana hibah datang disaat telah tersusunnya APBN, dana hibah tersebut tetap
   dimasukkan tetapi dimasukkan ke dalam RAPBN.




                                                                                           9
Sesi Kedua
1. Apakah    memungkinkan     memakai     sistem   obligasi   dalam   suatu   pembiayaan
   pembangunan? Jika iya, seberapa besar prospeknya? Dan mengapa pemerintah tidak
   menggunakan sistem obligasi? (Fariz Arijuddin - 3608 100 052)
   Tidak. Berdasarkan pengertiannya, sistem obligasi merupakan suatu istilah yang
   digunakan dalam dunia keuangan yang merupakan suatu pernyataan utang dari penerbit
   obligasi kepada pemegang obligasi beserta janji untuk membayar kembali pokok utang
   beserta kupon bunganya kelak pada saat tanggal jatuh tempo pembayaran. Negara
   apabila membutuhkan dana yang besar untuk pembangunan dan dalam keadaan yang
   terdesak pasti menerbitkan surat utang negara/obligasi dan ditujukan pada badan atau
   perseorangan, namun apabila kebutuhannya tidak mendesak, pemerintah masih dapat
   mengandalkan pembiayaan dari pajak, APBN, dll untuk membiayai pembangunan. Pada
   dasarnya apabila bekerja sama dengan pihak swasta tidak bisa dipungkiri lagi bahwa
   pihak swasta pasti menginginkan keuntungan yang maksimal dari suatu pembangunan.
   Karena swasta bersifat profitable sedangkan pemerintah bersifat non profitable. Hal ini
   yang membuat pemerintah untuk berhati-hati menyikapi, karena apabila tidak berhati-
   hati bekerja sama dengan swasta, rakyat Indonesia yang akan terkena dampak
   negatifnya.
2. Apakah terdapat dampak positif dari adanya otonomi daerah? Berikan contoh studi
   kasusnya apabila daerah tersebut belum mandiri! (Adinda Putri Siagian - 3609 100 701)
   Iya, ada. Dengan adanya otonomi daerah, pemerintah daerah dapat mengakomodasi
   segala macam keperluan rumah tangga daerah tersebut secara mandiri dan dapat
   mengeksplorasi kekayaan alam yang berada di daerah tersebut secara mandiri. Namun,
   apabila daerah tersebut belum mandiri maka pemerintah lebih memfokuskan untuk
   ‘membantu’ proses dalam mengelola sistem anggaran di daerah tersebut dan membantu
   untuk memberdayakan SDM yang menggerakkan sistem di daerah.
3. Dimana letak peluang adanya penyelewengan dana yang terjadi? (Veranita Hadyanti
   Utami - 3609 100 055)
   Dana pembiayaan yang berasal dari APBN dan APBD sangat rentan sekali terkena
   penyelewengan, adapun celah letak penyelewengan dana tersebut terjadi di dalam
   proses pelaksanaannya maupun waktu terjadinya proses lelang/tender. Misalnya: Dalam
   suat pembangunan bangunan A, di dalam anggaran yang diajukan pihak kedua yang
   disini sebagai pemenang tender sebesar 100 juta, namun dalam pelaksanaannya hanya
   menghabiskan 80 juta, sisa uang 20 juta itu nantinya akan dibagi-bagikan kepada pihak
   birokrasi maupun yang lain dan tidak dikembalikan kepada negara, yang bertujuan


                                                                                             10
untuk memuluskan proyek tender-tender berikutnya. Lalu dalam sebuah sistem
   anggaran di Indonesia, pemasukan dan pengeluaran harus seimbang, neraca aktiva dan
   pasiva harus seimbang yang memungkinkan untuk menekan pengeluaran sehingga
   terdapat saldo yang pada akhirnya dibagi-bagikan kepada beberapa oknum yang
   terlibat, dan masih banyak sekali modus penyelewengan APBN atau APBD di dalam
   pembiayaan pembangunan.
4. Dalam kasus pembangunan publik, bagaimana peran kita sebagai planner dalam
   menanggapi adanya bangunan yang mangkrak dengan anggaran pemerintah yang
   terbatas? (Apridev Khomenie - 3609 100 057)
   Di dalam membiayai pembangunan, pemerintah seringkali berbenturan dengan
   keterbatasan dana yang pada akhirnya pembangunan tersebut macet dan menjadi
   bangunan yang tidak terurus/mangkrak. Kita sebagai planner, sebisa mungkin mengajak
   semua stakeholders bekerja sama untuk membiayai          pembangunan, baik       dari
   pemerintah, swasta, maupun partisipasi masyarakat dengan cara dan kapasitas yang
   berbeda-beda tentunya. Kita tidak harus menunggu pemerintah untuk mengucurkan
   dana apabila pembangunan macet, kita dapat mengajak swasta untuk bekerja sama
   namun dengan perjanjian kerjasama dan tidak memberatkan masyarakat. Masyarakat
   juga dapat membantu melalui partisipasi aktifnya menggerakkan masyarakat lainnya
   untuk peduli terhadap pembangunan dan membantu sebisanya untuk berpartisipasi.




                                                                                           11

Sistem Anggaran

  • 1.
    Tugas II PembiayaanPembangunan Oleh: Raditya Dwi Indrawan 3609-04 Alifiana Hafidian R. 3609-12 Sisca Henlita 3609-13 Hesti Martadwiprani 3609-14 Ainun Dita Febriyanti 3609-19 M. Emil Widya P. 3609-21 Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya 2011
  • 2.
    TEORI ANGGARAN DANSISTEM ANGGARAN 1. Definisi Anggaran Menurut Mulyadi (2001, p.488), anggaran adalah suatu rencana kerja yang dinyatakan secara kuantitatif yang diukur dalam satuan moneter standar ukuran yang lain yang mencakup jangka waktu satu tahun. Menurut Gunawan Adisaputro dan Marwan Asri (1989:6) , anggaran adalah suatu pendekatan yang formal dan sistematis daripada pelaksanaan tanggung jawab manajemen dalam perencanaan, koordinasi, dan pengawasan. Definisi anggaran, atau biasa disebut dengan pembiayaan publik di atas, dapat digunakan baik dalam lingkup rumah tangga maupun daerah/negara. Anggaran terbagi menjadi 2, yaitu Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). APBN dikeluarkan oleh pemerintah pusat atas persetujuan DPR. Sedangkan APBD dikeluarkan oleh pemerintah daerah melalui persetujuan DPRD. 2. Sifat Hukum Anggaran Anggaran memiliki sifat hukum dimana hukum tersebut ditetapkan oleh perda. Adapun sifat hukum anggaran ditentukan dari periodisitas dan kontinuitas (memiliki periode waktu) dan materiil (hanya mengikat pemerintah). Berikut merupakan perbedaaan undang-undang perda tentang APBN/APBD dengan undang-undang lainnya adalah: ● Periodisitas dan kontinuitas, artinya undang-undang anggaran hanya berlaku satu tahun. Sedangkan undang-undang lain berlaku secara terus menerus. ● Materiil, artinya undang-undang anggaran hanya berlaku bagi pemerintah. Sedangkan undang-undang lain mengikat semua masyarakat. 3. Asas Anggaran Pada umumnya, sistem anggaran mengalami perkembangan mulai dari zaman feodal, absolutisme, hingga zaman modern. Di zaman foedal pengeluaran dan pendapatan negara dianggap sebagai alat privat raja atau penguasa, dimana pendapatan maupun pengeluaran raja atau penguasa publik lain tidak dimasukkan ke dalam anggaran negara. Pada zaman absolutisme, sistem keuangan yang berlaku adalah sistem sportel yaitu sebagian besar pendapatan negara tidak masuk ke dalam kas pusat, melainkan ke 1
  • 3.
    dalam kas pejabatumum yang secara langsung membiayai tindakan penyediaan negara. Semua pemasukan negara masuk ke dalam kas para pejabat sebagai imbalan bagi jasa yang mereka lakukan. Perkembangan pemikiran demokrasi yang menguasai ketatanegaraan berlangsung mulai abad ke-19 dan adanya perkembangan ekonomi menyebabkan terjadinya perubahan pada sistem anggaran yang dikenal dengan sistem anggaran modern. Pelaksanaan sistem ini bervariasi, terutama mengenai susunan anggaran dan periodisitas dan bentuk formilnya. Adapun asas-asas yang dipergunakan dalam sistem anggaran modern ini adalah (Bohari, 1995): 3.1 Asas Kelengkapan Semua pengeluaran dan penerimaan secara tegas dimuat dalam anggaran. Tidak boleh ada penerimaan atau pengeluaran yang tidak dimasukkan ke dalam kas negara. 3.2 Asas Spesialisasi/spesifikasi Susunan anggaran terdiri dari berbagai macam pengeluaran dan penerimaan sehingga perlu diadakan klasifikasi tertentu. Berbagai jenis kemungkinan klasifikasi ditentukan berdasarkan tujuan negara. 3.3 Asas Berkala Anggaran yang ditetapkan memiliki jangka waktu tertentu dalam pelaksanaannya. Asaa ini juga berkaitan dengan sistem pengawasan dalam pelaksanaannya. 3.4 Asas Formil Adanya keharusan setiap anggaran memerlukan bentuk tertentu yang mengikat semua pihak, dalam hal ini berbetuk undang-undang. Dengan demikian semua pihak dapat mengetahui secara pasti. Hal ini juga menjadi dasar untuk pelaksanaan pengawasan rakyat melalui wakil-wakilnya. 3.5 Asas Publisitas Merupakan asas dalam demokrasi bahwa tidak ada urusan publik bersifat rahasia. Dasar keterbukaan penting bagi negara demokrasi terutama mengenai penerimaan dan pengeluaran negara. 4. Fungsi Anggaran 4.1 Fungsi Politik Adanya kesempatan kekuatan-kekuatan politik di dalam (DPR) yang ikut menyusun/memilih keinginan mereka, serta memberi kuasa kepada pemerintah untuk melaksanakannya. 2
  • 4.
    4.2 Fungsi Yuridis Dokumen yang berbentuk undang-undang yang mengikat khususnya pemerintah yang berhubungan dengan pengeluaran dan penerimaan negara. Fungsi yuridis merupakan sarana yang membatasi pemerintah dalam hal pengeluran yang melampaui batas-batas anggaran. 4.3 Fungsi Ekonomi Anggaran mencerminkan besarnya skala pembangunan yang diperlukan sesuai dengan tuntutan ekonomi yang dapat digunakan oleh negara. 5. Komponen dan Format Anggaran (APBN) 5.1 Pendapatan Negara dan Hibah Pendapatan negara meliputi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang merupakan rencana keuangan tahunan pemerintahan negara Indonesia yang disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat. APBN berisi daftar sistematis dan terperinci yang memuat rencana penerimaan dan pengeluaran negara selama satu tahun anggaran (1 Januari-31 Desember). APBN, perubahan APBN, dan pertanggung jawaban APBN setiap tahun ditetapkan dengan undang-undang. 5.2 Belanja Negara Belanja negara terdiri atas dua jenis, yaitu: 5.2.2 Belanja Pemerintah Pusat, adalah belanja yang digunakan untuk membiayai kegiatan pembangunan Pemerintah Pusat, baik yang dilaksanakan di pusat maupun di daerah (dekonsentrasi dan tugas pembantuan). Belanja Pemerintah Pusat dapat dikelompokkan menjadi: Belanja Pegawai, Belanja Barang, Belanja Modal, Pembiayaan Bunga Utang, Subsidi BBM dan Subsidi Non-BBM, Belanja Hibah, Belanja Sosial (termasuk Penanggulangan Bencana), dan Belanja Lainnya. 5.2.3 Belanja Daerah, adalah belanja yang dibagi-bagi ke Pemerintah Daerah, untuk kemudian masuk dalam pendapatan APBD daerah yang bersangkutan. Belanja Daerah meliputi: 1. Dana Bagi Hasil 2. Dana Alokasi Umum 3. Dana Alokasi Khusus 4. Dana Otonomi Khusus 3
  • 5.
    5.3 Keseimbangan Primer Keseimbangan primer merupakan total penerimaan dikurangi belanja tidak termasuk pembayaran bunga. 5.4 Surplus/Defisit Anggaran 5.4.1 Anggaran defisit (Defisit Budget) / Kebijakan Fiskal Ekspansif Anggaran defisit adalah kebijakan pemerintah untuk membuat pengeluaran lebih besar dari pemasukan negara guna memberi stimulus pada perekonomian. Pada umumnya sangat baik digunakan jika keadaan ekonomi sedang resesif. 5.4.2 Anggaran Surplus (Surplus Budget) / Kebijakan Fiskal Kontraktif Anggaran surplus adalah kebijakan pemerintah untuk membuat pemasukannya lebih besar daripada pengeluarannya. Anggaran surplus dilaksanakan ketika perekonomian berada pada kondisi ekspansi yang mulai memanas (overheating) untuk menurunkan tekanan permintaan. 5.5 Pembiayaan Pembiayaan meliputi: 5.5.1 Pembiayaan Dalam Negeri, meliputi Pembiayaan Perbankan, Privatisasi, Surat Utang Negara, serta penyertaan modal negara. 5.5.2 Pembiayaan Luar Negeri, meliputi: a. Penarikan Pinjaman Luar Negeri, terdiri atas Pinjaman Program dan Pinjaman Proyek b. Pembayaran Cicilan Pokok Utang Luar Negeri, terdiri atas Jatuh Tempo dan Moratorium. 5. Sistem Penyusunan Anggaran 5.1 Traditional Budget System (TBS) TBS menggunakan prinsip anggaran bruto yang penyusunan anggarannya berdasarkan pendekatan incrementalism dan line item. Artinya, proses penyusunan ini hanya mengacu pada besarnya realisasi anggaran tahun sebelumnya. Konsekuensinya tidak ada perubahan mendasar pada anggaran baru. Struktur dan susunan anggran TBS bersifat spesifikasi dan cenderung sentralistis. 5.2 Performance Budget System (PBS) PBS menekankan pada konsep value for money dan pengawasan kinerja output untuk lebih mengetahui tolak ukur tujuan dan sasaran pelayanan 4
  • 6.
    publik sehingga penganggaranlebih efisien. Pada dasarnya, PBS merupakan system yang mencakup kegiatan penyusunan program dan tolak ukur kinerja unruk mencapai prioritas tujuan dalam pengambilan keputusan. Dalam implementasinya, PBS menggunakan teknik analisa antara biaya dan manfaat. Penerapan PBS dalam penyusunan anggaran adalah sebagai berikut : Perumusan program -> penyusunan struktur organisasi pemerintah sesuai dg program (penentuan unit kerja, penentuan indicator program) 5.3 Planning, Programming, and Budgeting System (PPBS) PPBS menekankan pada alokasi sumber daya berdasarkan analisis ekonomi dengan pengelompokan aktivitas yang berorientasi pada output dan tujuan. PPBS merupakan model penganggaran yang ditujukan untuk membantu pemerintah dalam pembuatan keputusan pengalokasian sumber daya dengan cara memberikan kerangka untuk membuat pilihan tersebut. Tabel Perbedaan Sistem Anggaran KETERANGAN TRADISIONAL PERFORMANCE PPBS Pengertian Prakiraan System yang Kebijakan yang pengeluaran dan mencakup kegiatan menekankan pada penerimaan dana penyusunan alokasi sumber yang mengacu program dan tolak daya berdasarkan pada besarnya ukur kinerja untuk analisis ekonomi realisasi anggaran mencapai prioritas untuk memenuhi tahun sebelumnya tujuan dalam kebutuhan yang pengambilan tidak terbatas keputusan Landasan Besar-kecilnya Performa atau Keberhasilan Pengukuran pengeluaran; jika prestasi dari rencana/program seimbang tujuan/hasil dalam mencapai dikatakan berhasil anggaran yang tujuan negara efisien Orientasi Pertanggung Pendayagunaan Penyusunan jawaban dana untuk rencana dan pelaksanaan mencapai hasil program 5
  • 7.
    anggaran yang optimal Pengelompokan Berdasarkan Berdasarkan Berdasarkan tujuan- pos-pos Anggaran objek-objek rencana kegiatan tujuan yang telah pengeluaran dan adanya dirumuskan penetapan tolak ukur berupa standar biaya dan hasil kerja 6
  • 8.
    KEBIJAKAN PENGANGGARAN UU 25/2004 UU 17/2003 UU 1/2004 UU 15/2004 UU 32/2004 UU 33/2004 PP PP PP Pasal 182 Misal : PP & Pasal 24/2005 194 UU 32/2004 PP 58/ 2005 : Pengelolaan Keuda (Omnibus Regulation) Pasal 69 & Pasal 86 UU 33/2004 Pasal 155 PP 58/2005 PERMENDAGRI 13/2006 Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah Kandungan lokal Pasal Pasal 330 Permendagri berdasarkan kesepakatan 151 Ayat 13/2006 bersama yg tidak 1 PP Perda Pokok-pokok Pengelolaan bertentangan dgn peraturan 58/2005 Keuangan Daerah perUUan Perkada tentang Sistem & Prosedur SE tentang Pedoman Penyusunan RKA-SKPD Pasal 151 Ayat 1 PP Pengelolaan Keuangan Daerah 58/2005 7
  • 9.
    6. Sistem Anggarandi Indonesia Sistem anggaran di Indonesia menggunakan sistem anggaran daerah dan terpusat. Pada saat berlangsungnya masa orde baru sistem anggaran di Indonesia merupakan sistem anggaran terpusat, dimana semua anggaran yang ada tercantum dalam APBN. Pada era reformasi, yakni sekitar tahun 1999 diberlakukan kebijakan otonomi daerah yang pada akhirnya mengharuskan pemerintah daerah untuk memiliki buku anggarannya sendiri atau biasa disebut APBD. APBN sendiri disahkan oleh Kementrian Keuangan sedangkan APBD disahkan oleh Kementrian Dalam Negeri. Karena Indonesia menggunakan sistem anggaran terpusat dan sistem anggaran daerah maka sistem anggaran di Indonesia disebut sistem anggaran yang terpadu. 8
  • 10.
    LAMPIRAN Diskusi Teori Anggaran dan Sistem Anggaran Senin, 3 Oktober 2011 Moderator : Hesti Martadwiprani Penyaji : 1. Raditya Dwi Indrawan 2. Alifiana Hafidian R. 3. Sisca Henlita 4. Ainun Dita Febriyanti 5. M. Emil Widya P. Sesi Pertama 1. Apa kelemahan dari sistem anggaran di Indonesia? (Farid Nurrahman - 3608 100 023) Adapun kelemahan dari sistem anggaran di Indonesia yaitu lemahnya kontrolling pemerintah pusat terhadap sistem anggaran di masing-masing daerah karena adanya otonomi daerah, hal inilah yang menimbulkan celah untuk terjadi penyelewengan dana. 2. Apa maksud pernyataan dari kesinergian antara APBD dengan APBN? Apakah terdapat sektor khusus yang mencerminkan adanya kesinergian tersebut? (Dwi Retno Ariyanti – 3609 100 041) Maksud pernyataan dari kesinergian antara APBD dengan APBN adalah di dalam penyusunan APBD berpedoman pada APBN, karena pembahasan yang ada di dalam APBN lebih makro daripada APBD. Setiap daerah memiliki keperluan daerah masing- masing, sehingga dari sini terlihat bahwa kebutuhan daerah tersebut bersinergi pada APBN. 3. Dalam asas kelengkapan yang terdapat di sistem anggaran, tercantum adanya dana hibah. Apakah dana hibah selalu dicantumkan dalam sistem anggaran, misalnya saja dana hibah yang terdapat di RAPBN ? Jika iya, dana tersebut sudah diterima apa belum? (Achmad Ghozali - 3609 100 048) Iya, dana hibah selalu dicantumkan dalam sistem anggaran. Misalnya saja di dalam APBN, jika dana hibah datang disaat telah tersusunnya APBN, dana hibah tersebut tetap dimasukkan tetapi dimasukkan ke dalam RAPBN. 9
  • 11.
    Sesi Kedua 1. Apakah memungkinkan memakai sistem obligasi dalam suatu pembiayaan pembangunan? Jika iya, seberapa besar prospeknya? Dan mengapa pemerintah tidak menggunakan sistem obligasi? (Fariz Arijuddin - 3608 100 052) Tidak. Berdasarkan pengertiannya, sistem obligasi merupakan suatu istilah yang digunakan dalam dunia keuangan yang merupakan suatu pernyataan utang dari penerbit obligasi kepada pemegang obligasi beserta janji untuk membayar kembali pokok utang beserta kupon bunganya kelak pada saat tanggal jatuh tempo pembayaran. Negara apabila membutuhkan dana yang besar untuk pembangunan dan dalam keadaan yang terdesak pasti menerbitkan surat utang negara/obligasi dan ditujukan pada badan atau perseorangan, namun apabila kebutuhannya tidak mendesak, pemerintah masih dapat mengandalkan pembiayaan dari pajak, APBN, dll untuk membiayai pembangunan. Pada dasarnya apabila bekerja sama dengan pihak swasta tidak bisa dipungkiri lagi bahwa pihak swasta pasti menginginkan keuntungan yang maksimal dari suatu pembangunan. Karena swasta bersifat profitable sedangkan pemerintah bersifat non profitable. Hal ini yang membuat pemerintah untuk berhati-hati menyikapi, karena apabila tidak berhati- hati bekerja sama dengan swasta, rakyat Indonesia yang akan terkena dampak negatifnya. 2. Apakah terdapat dampak positif dari adanya otonomi daerah? Berikan contoh studi kasusnya apabila daerah tersebut belum mandiri! (Adinda Putri Siagian - 3609 100 701) Iya, ada. Dengan adanya otonomi daerah, pemerintah daerah dapat mengakomodasi segala macam keperluan rumah tangga daerah tersebut secara mandiri dan dapat mengeksplorasi kekayaan alam yang berada di daerah tersebut secara mandiri. Namun, apabila daerah tersebut belum mandiri maka pemerintah lebih memfokuskan untuk ‘membantu’ proses dalam mengelola sistem anggaran di daerah tersebut dan membantu untuk memberdayakan SDM yang menggerakkan sistem di daerah. 3. Dimana letak peluang adanya penyelewengan dana yang terjadi? (Veranita Hadyanti Utami - 3609 100 055) Dana pembiayaan yang berasal dari APBN dan APBD sangat rentan sekali terkena penyelewengan, adapun celah letak penyelewengan dana tersebut terjadi di dalam proses pelaksanaannya maupun waktu terjadinya proses lelang/tender. Misalnya: Dalam suat pembangunan bangunan A, di dalam anggaran yang diajukan pihak kedua yang disini sebagai pemenang tender sebesar 100 juta, namun dalam pelaksanaannya hanya menghabiskan 80 juta, sisa uang 20 juta itu nantinya akan dibagi-bagikan kepada pihak birokrasi maupun yang lain dan tidak dikembalikan kepada negara, yang bertujuan 10
  • 12.
    untuk memuluskan proyektender-tender berikutnya. Lalu dalam sebuah sistem anggaran di Indonesia, pemasukan dan pengeluaran harus seimbang, neraca aktiva dan pasiva harus seimbang yang memungkinkan untuk menekan pengeluaran sehingga terdapat saldo yang pada akhirnya dibagi-bagikan kepada beberapa oknum yang terlibat, dan masih banyak sekali modus penyelewengan APBN atau APBD di dalam pembiayaan pembangunan. 4. Dalam kasus pembangunan publik, bagaimana peran kita sebagai planner dalam menanggapi adanya bangunan yang mangkrak dengan anggaran pemerintah yang terbatas? (Apridev Khomenie - 3609 100 057) Di dalam membiayai pembangunan, pemerintah seringkali berbenturan dengan keterbatasan dana yang pada akhirnya pembangunan tersebut macet dan menjadi bangunan yang tidak terurus/mangkrak. Kita sebagai planner, sebisa mungkin mengajak semua stakeholders bekerja sama untuk membiayai pembangunan, baik dari pemerintah, swasta, maupun partisipasi masyarakat dengan cara dan kapasitas yang berbeda-beda tentunya. Kita tidak harus menunggu pemerintah untuk mengucurkan dana apabila pembangunan macet, kita dapat mengajak swasta untuk bekerja sama namun dengan perjanjian kerjasama dan tidak memberatkan masyarakat. Masyarakat juga dapat membantu melalui partisipasi aktifnya menggerakkan masyarakat lainnya untuk peduli terhadap pembangunan dan membantu sebisanya untuk berpartisipasi. 11