RESUME
PALEONTOLOGI
OKE AFLATUN (03071181320010)
PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI, FAKULTAS TEKNIK
2014
5/16/2014
Pengertian paleontologi
Paleontologi adalah ilmu yang mempelajari tentang sejarah kehidupan di bumi termasuk hewan dan
tumbuhan zaman lampau yang telah menjadi fosil. Berbeda dengan mempelajari hewan atau
tumbuhan yang hidup di jaman sekarang, paleontologi menggunakan fosil atau jejak organisme yang
terawetkan di dalam lapisan kerak bumi, yang terawetkan oleh proses - proses alami, sebagai
sumber utama penelitian. Oleh karena itu paleontologi dapat diartikan sebagai ilmu mengenai fosil
sebab jejak jejak kehidupan masa lalu terekam dalam fosil
Cabang ilmu paleontologi
Paleontologi terbagi menjadi dua cabang ilmu, yaitu makropaleontologi dan mikropaleontologi.
Makropaleontologi merupakan ilmu yang mempelajari fosil berdasarkan kenampakan
makroskopisnya, sedangkan mikropaleontologi merupakan ilmu yang mempelajari fosil berdasarkan
kenampakan mikroskopisnya dengan menggunakan mikroskop binokuler.
Manfaat ilmu paleontologi
Dengan menerapkan ilmu paleontologi melalui penunjuk berupa fosil, dapat ditentukan umur relatif
suatu lapisan batuan dan hubungan antara lapisan batuan yang satu dengan lapisan batuan yang
lain berdasarkan hubungan fosil yang terdapat pada lapisan batuan, oleh karena itu ilmu
paleontologi juga berkorelasi dengan ilmu stratigrafi dalam hal pengurutan lapisan batuan beserta
kejadian-kejadian geologi di dalamnya. Melalui pengamatan fosil dapat juga dipelajari evolusi
kehidupan yang telah terjadi serta dapat mengetahui kondisi lingkungan di masa lampau.
Proses Pemfosilan
1. Mempunyai bagian tubuh yang keras
2. Organisme yang mati tidak menjadi mangsa organisme lainnya
3. Tidak terubahkan oleh reaksi kimia
4. Diendapkan dalam batuan sedimen
5. Terendapkan dalam waktu geologi
Proses pemfosilan
a. Fosil Tak Termineralisasi
Golongan ini dibagi menjadi beberapa jenis:
1. Fosil yang tidak mengalami perubahan secara keseluruhan, yaitu fosil yang jarang terjadi dan
merupakan keistimewaan dalam proses pemfosilan..
2. Fosil yang terubah sebagian, umumnya dijumpai
pada batuan Mesozoikum dan Kenozoikum
3. Distilasi/karbonisasi, yaitu menguapnya kandungan gas-gas atau zat lain yang mudah menguap
dalam tumbuhan atau hewan karena tertekannya rangka atau tubuh kehidupan tersebut dalam
sedimentasi dan meninggalkan residu karbon (C) berupa lapisan-lapisan tipis dan kumpulan unsur C
yang menyelubungi atau menyelimuti sisa- sisa organisme yang tertekan tadi. Contohnya adalah
batubara
4. Amber, yaitu hewan atau tumbuhan yang terperangkap dalam getah tumbuhan seperti damar dan
akhirnya terfosilkan. Contohnya insekta yang terselubungi getah damar.
b. Fosil Yang Termineralisasikan / Mineralized Fossils
Golongan ini dibedakan atas dasar material yang mengubahnya serta cara terubahnya. Golongan
ini dibagi lagi menjadi beberapa jenis, yaitu:
1. Replacement, merupakan penggantian total material penyusun rumah organisme oleh mineral-
mineral asing.
2. Histometabasis, adalah penggantian total tiap-tiap molekul dari jaringan tumbuhan oleh mineral-
mineral asing yang meresap ke dalam jasad tumbuh-tumbuhan. Walaupan seluruh molekul
telah terganti namun struktur mikroskopisnya masih terpelihara dan nampak dengan jelas
b. Fosil Yang Termineralisasikan / Mineralized Fossils
Golongan ini dibedakan atas dasar material yang mengubahnya serta cara terubahnya. Golongan
ini dibagi lagi menjadi beberapa jenis, yaitu:
1. Replacement, merupakan penggantian total material penyusun rumah organisme oleh mineral-
mineral asing.
2. Histometabasis, adalah penggantian total tiap-tiap molekul dari jaringan tumbuhan oleh mineral-
mineral asing yang meresap ke dalam jasad tumbuh-tumbuhan. Walaupan seluruh molekul
telah terganti namun struktur mikroskopisnya masih terpelihara dan nampak dengan jelas
2. Mold, adalah cetakan tapak yang ditinggalkan oleh organisme berelief tinggi.
3. Cast, adalah cetakan dari jejak oleh material asing yang terjadi apabila rongga antar tapak dan
tuangan terisi zat lain dari luar, sedang fosilnya sendiri telah lenyap.
4. Koprolit, adalah kotoran binatang yang terfosilkan dan berbentuk nodul-nodul memanjang
dengan komposisi phospatik
5. Gastrolit, fosil yang dahulu tertelan oleh salah satu hewan tertentu misalnya pada reptil untuk
membantu pencernaan.
6. Trail, adalah jejak ekor binatang yang terfosilkan
7. Track, adalah jejak kuku binatang yang terfosilkan.
6. Trail, adalah jejak ekor binatang yang terfosilkan
7. Track, adalah jejak kuku binatang yang terfosilkan.
8. Foot print, adalah jejak kaki hewan yang terfosilkan
9. Burrow, borring, tubes, adalah lubang-lubang yang berbentuk seperti lubang bor atau pipa yang
merupakan tempat tinggal/hidup yang telah memfosil. Burrow adalah lubang yang dibuat oleh
organisme untuk mencari mangsa/makan dan hidup. Borring adalah lubang yang digunakan untuk
menyimpan makanan. Sedangkan tube adalah lubang hasil aktivitas organisme yang berbentuk
pipa/tabung.
1. Filum Coelentrata
Coelenterata berasal dari kata kolios/hollow yang berarti cekung dan enteron/intestine yang berati
dalam. Sehingga Coelenterata dapat diartikan sebagai binatang yang mempunyai cekungan
(berlekuk) di bagian dalamnya atau disebut juga semacam kantong berlapis endoderm. Filum ini
meliputi golongan invertebrata yang berjumlah sangat banyak dengan bentuk-bentuk yang sangat
beragam. Adapun ciri-ciri dari Filum Coelenterata:
1. Lubang yang berfungsi sebagai mulut atau oral.
2. Semacam kantong (coelenteron) yang dilapisi endoderm.
3. Jaringan urat daging.
4. Alat pengumpul makanan.
5. Memiliki sel penyengat (stinging cell) yang terdapat pada tentakel.
6. Berkembang biak dengan sexual dan asexsual.
7. Dinding tubuh terdiri 3 lapis (ectoderm, mesoglea, dan endoderm).
8. Rangka terdiri zat gampingan/chitin dihasilkan oleh lapisan ektoderm.
9. Bagian besar memperlihatkan gejala dimorphisme yakni bentuk polyp dan medusa.
10. Hidup berkoloni dan soliter, manambatkan diri pada dasar (sesil).
Pembagian Klas dalam Filum Coelenterata
1. Klas Hydrozoa
2. Klas Stromatoporoidae
3. Klas Scyphozoa
4. Klas Anthozoa
Pada golongan tertentu, misalnya pada golongan ubur-ubur, hewan dengan Filum Coelenterata
merupakan hewan soliter, maupun bergerak bebas dan mempunyai tubuh yang berbentuk seperti
payung. Sedangkan pada golongan lain, misalnya pada koral/kerang, hewan tersebut tersusun oleh
sejumlah individu yang hidup bersama membentuk koloni, hidup tertambat dan membentuk
rangka yang keras
Pada beberapa jenis koral, coralite-nya terbagi oleh dinding vertikal yang disebut septa, yang
kenampakannya dari luar sebagai lekukan kecil yangdalam pada dinding theca tersebut. Polyp
sendiri tinggal dalam calyx, yaitu lekukan tengah yang berbentuk cawan pada bagian atas dari
coralite. Pada saat pertumbuhan, dibagian bawah terjadi pembentukan lempeng horisontal yang
disebut tabulae.
Koral diklasifikasikan berdasarkan keadaan dan susunan septanya dan kenampakan rangka yang
lain. Sebagai contoh, golongan koral tanduk/horn coral yang banyak hidup di kurun Paleozoikum,
hanya menyisipkan pertambahan septa hanya di empat lokasi saja sepanjang pertumbuhannya
2. Filum Brachiopoda dan Mollusca
Pengertian filum brachiopoda
Brachiopoda merupakan salah satu fosil hewan yang sangat melimpah keberadaannya pada batuan
yang berasal dari Kurun Paleozoikum. Dahulu Brachiopoda masuk dalam Bryosoa filum Moluska
tetapi setelah ditemukan Lophophor pada Brachiopoda maka Brachiopoda dipisahkan dan Bryosoa
menjadi filum Brachiopoda. Ciri-ciri umum yang dimiliki oleh Brachiopoda:
1. Mempunyai brachion yang berbeda.
2. Terdiri dari 2 kulit kerang/bivalve.
3. Bentos yang mempunyai cangkang tidak sama besar.
4. Hidup di air laut sebagian air payau.
5. Tubuhnya tidak beruas.
Hidup di air laut sebagian air payau.
5. Tubuhnya tidak beruas.
6. Tersusun dari zat gampingan, chitin, dan simetri bilateral.
7. Cangkangnya mempunyai selaput mantel.
8. Hidup secara sesil pada dasar dengan menggunakan ganggang pedicel yang terletak pada
posteriornya.
Brachiopoda dibagi kedalam 2 Klas, yaitu:
A. Klas Inartikulata (Kamrium-Resen) Ciri-ciri :
1. Cangkang chitinophospatic
2. Mempunyai lubang anus
3. Tidak mempunyai delthyrium
4. Tidak mempunyai lubang gigi dan gigi
5. Susunan otot rumit/kompleks
B. Klas Artikulata (Kambrium-Resen)
Dibandingkan dengan Klas Inartukulata, Brachipoda Klas Artikulata lebih besar jumlah maupun
keanekaragamannya. Banyak yang berfungsi sebagai index fosil yang baik baikba,karena
evolusinya yang relatif cepat. Ciri-ciri:
1. Cangkang gampingan
2. Tidak mempunyai lubang anus
3. Mempunyai delthyrium/pedicel opening
4. Mempunyai engsel, gigi, dan lubang gigi
5. Susunan otot sederhana
karena evolusinya yang relatif cepat. Ciri-ciri:
1. Cangkang gampingan
2. Tidak mempunyai lubang anus
3. Mempunyai delthyrium/pedicel opening
4. Mempunyai engsel, gigi, dan lubang gigi
5. Susunan otot sederhana
Brachiopda masa kini semuanya hidup di laut. Namun demikian fungsinya sebagai penunjuk
lingkungan tertentu tidaklah khas. Salah satu perkecualian adalah golongan Brachiopoda
inartikulata, yaitu Lingula, yang merupakan salah satu fosil yang tertua dari golongan binatang.
Spesies ini umumnya hidup pada laut di daerah tropis dengan keanekaragaman yang rendah serta
kedalaman kurang dari 20 meter.
Filum Mollusca
Mollusca berasal dari bahasa latin yaitu molluscus yang artinya lunak. Jadi Filum Mollusca adalah
kelompok hewan invretebrata yang memiliki tubuh lunak. Tubuh lunaknya itu dilindungi oleh
cangkang, meskipun ada juga yang tidak bercangkang. Mollusca yang sudah tidak asing lagi bagi kita
adalah siput. Siput merupakan salah satu Mollusca yang teramsuk ke dalam kelas gastropoda. yaitu
berjalan dengan menggunakan perutnya.
Ciri-ciri Mollusca adalah :
• Merupakan hewan multiselular yang tidak mempunyai tulang belakang
• Habitatnya di air maupun darat
• Merupakan hewan triploblastik selomata
• Struktur tubuhnya simetri bilateral
• Tubuh terdiri dari kaki, massa viseral, dan mantel
• Memiliki sistem syaraf berupa cincin syaraf
• Organ ekskresi berupa nefridia
• Memiliki radula (lidah bergigi)
• Hidup secara heterotrof
Klasifikasi filum mollusca
1. Klas Gastrpoda
2. Klas Chepalopoda
3. Klas Pelecypoda
4. Klas Amphineura
5. Klas Schapopoda
Mollusca bereproduksi secara seksual. pada umumnya organ reproduksi jantan dan betina pada
umumnya terpisah pada individu lain (gonokoris). Namun, meski begitu jenis siput tertentu ada yang
bersifat Hermafrodit. Fertilisasi dilakukan secara internal ataupun eksternal sehingga menghasilkan
telur. Telur tersebut berkembang menjadi larva dan pada akhirnya akan menjadi mollusca dewasa.
3. Filum Arthropoda dan Echinodermata
Filum Arthropoda : (dalam bahasa latin, Arthra = ruas , buku, segmen ; podos = kaki) merupakan
hewan yang memiliki ciri kaki beruas, berbuku, atau bersegmen.Segmen tersebut juga terdapat pada
tubuhnya.Tubuh Arthropoda merupakan simeri bilateral dan tergolong tripoblastik selomata.
Sistem reproduksi Arthropoda umumnya terjadi secara seksual.Namun ada juga yang secara
aseksual, yaitu dengan partenogenesis.
Partenogenesis adalah pembentukan individu baru tanpa melalui fertilisasi (pembuahan).Individu
yang dihasilkan bersifat steril.Organ reproduksi jantan dan betina pada Arthropoda terpisah, masing-
masing menghasilkan gamet pada individu yang berbeda sehingga bersifat dioseus (berumah
dua).Hasil fertilisasi berupa telur.
Klasifikasi
Arthropoda diklasifikasikan menjadi 20 kelas berdasarkan struktur tubuh dan kaki.Berikut ini akan
diuraikan empat kelas diantaranya yang paling umum, yaitu Kelas Arachnoidea, Myriapoda,
Crustacea, dan Insecta.
1. Kelas Arachnoidea : Arachnoidea (dalam bahasa yunani, arachno = laba-laba) disebut juga
kelompok laba-laba, meskipun anggotanya bukan laba-laba saja.Kalajengking adalah salah satu
contoh kelas Arachnoidea yang jumlahnya sekitar 32 spesies.Ukuran tubuh Arachnoidea bervariasi,
ada yang panjangnya lebih kecil dari 0,5 mm sampai 9 cm.Arachnoidea merupakan hewan terestrial
(darat) yang hidup secara bebas maupun parasit.
2. Kelas Myriapoda : Myriapoda (dalam bahasa yunani, myria = banyak, podos = kaki) merupakan
hewan berkaki banyak.
Hewan kaki seribu adalah salah satunya yang terkadang kita lihat di lingkungan sekitar
kita.Myriapoda hidup di darat pada tempat lembap, misalnya di bawah daun, batu, atau tumpukan
kayu.Bagian tubuh Myriapoda sulit dibedakan antara toraks dan abdomen.Tubuhnya memanjang
seperti cacing.
3. Kelas Crustacea : Crustacea (dalam bahasa latinnya, crusta = kulit) memiliki kulit yang
keras.Udang, lobster, dan kepiting adalah contoh kelompok ini.
Umumnya hewan Crustacea merupakan hewan akuatik, meskipun ada yang hidup di darat.Crustacea
dibedakan menjadi dua subkelas berdasarkan ukuran tubuhnya, yaitu Entomostraca dan
Malacostraca.
4. Kelas Insecta : Insecta (dalam bahasa latin, insecti = serangga).Banyak anggota hewan ini sering
kita jumpai disekitar kita, misalnya kupu-kupu, nyamuk, lalat, lebah, semut, capung, jangkrik,
belalang,dan lebah.Ciri khususnya adalah kakinya yang berjumlah enam buah.
Filum Echinodermata : Echinodermata (dalam bahasa yunani, echino = landak, derma = kulit) adalah
kelompok hewan triopoblastik selomata yang memilki ciri khas adanya rangka dalam (endoskeleton)
berduri yang menembus kulit.
Semua anggota filum Echinodermata hidup di air laut, mempunyai kulit berduri dan simetri radial
dan bergerak lamban dengan bantuan kaki tabung. perluasan dan penciutan dilakukan oleh gerakan
air laut ke dalam dan ke luar dari sistem pembuluh air.
1. Dalam ekosistem berkedudukan sebagai hewan pemakan bangkai.
2. Semua jenisnya hidup di lautan.
3. Dewasa = simetri tubuhnya radial, larva = simetri tubuhnya bilateral.
4. Pergerakan dilakukan dengan sistem pembuluh air = kaki ambulakral (sistem ambulakral).
Sistem ambulakral
Ciri-ciri Echinodermata
Echinodermata merupakan hewan yang memiliki habitat di laut, serta tubuhnya memiliki simetri
radial. Hewan ini sudah memiliki sistem pencernaan yang sempurna di mana mulut sebagai jalan
masuknya makanan berada di bagian bawah dan anus sebagai jalan keluarnya sisa pencernaan
berada di sebelah atas. Sistem gerak dengan menggunakan kaki ambulakral, selain itu kaki juga
digunakan untuk menangkap mangsa. Secara umum Echinodermata memiliki 5 lengan, hewan ini
memiliki kemampuan autotomi, yaitu kemampuan untuk membentuk kembali organ tubuhnya yang
terputus. Seperti halnya dengan hewan akuatik yang lain, Echinodermata juga bernapas dengan
insang. Sistem saraf berupa cincin saraf yang mengelilingi mulut, lalu bercabang 5 menuju masing-
masing lengan yang dimiliki. Reproduksi secara generatif, yaitu dengan peleburan antara sperma
dan ovum sehingga akan dihasilkan zigot. Mekanisme gerak melalui sistem kaki ambulakral adalah
sebagai berikut: air masuk melalui madreporit kemudian turun ke saluran cincin lalu masuk ke dalam
saluran radial, setelah itu air masuk ke kaki-kaki tabung, air disemprotkan sehingga dalam kaki
tabung muncul tekanan hidrolik dari air dan akhirnya kaki tabung menjulur ke luar, akibatnya
ampula melekat pada benda lain sehingga bisa berpindah tempat.
Cara hidup dan habitat
Echinodermata merupakan hewan yang hidup bebas.Makanannya adalah kerang, plankton, dan
organisme yang mati.Habitatnya di dasar air laut, di daerah pantai hingga laut dalam.
Reproduksi
Echinodermata bersifat dioseus bersaluran reproduksi sederhana.Fertilisasi berlangsung secara
eksternal.Zigot berkembang menjadi larva yang simetris bilateral bersili.
Klasifikasi filum Echinodermata
1. Kelas Asteroidea
2. Kelas Ophiuroidea
3. Kelas Echinoidea
4. Kelas Holothuroidea
5. Kelas Crinoidea
4. Filum Protozoa
Protozoa artinya hewan pertama (protos = pertama; zoon = hewan), digambarkan sebagai
organisme mirip hewan karena dapat bergerak dan mengambil makanan dari organisme lain.
Sebagian besar protozoa hidup bebas di laut atau air tawar, misalnya di selokan, kolam, dan sungai.
Jenis lainnya ada yang hidup di tanah. Beberapa jenis protozoa hidup dalam tubuh hewan atau
manusia bersifat parasitik. menyebabkan penyakit pada manusia dan hewan ternak, Atau pada
cairan tubuh, misalnya dalam darah Semua protozoa memerlukan kelembaban yang tinggi pada
habitat apapun. jika keadaan lingkungan kurang menguntungkan protozoa akan membungkus diri
membentuk kista untuk mempertahankan diri.
Protozoa hidup secara soliter atau bentuk koloni. Didalam ekosistem air, protozoa zooplankton.
merupakanzooplankton.
Ciri-Ciri Umum Protozoa
Ciri-ciri umum hewan yang tergolong Filum Protozoa dapat diuraikan sebagai berikut:
1. Tubuh tersusun atas satu sel, ukurannya beberapa mikron sampai beberapa milimeter dan
umumnya bersifat mikroskopis.
2. Umumnya hidup secara individual, tetapi ada yang hidup secara koloni, ada yang hidup bebas di
dalam air, komensal, dan ada pula yang bersifat parasit pada hewan lain.
3. Cara bergeraknya ada yang menggunakan : flagela, silia, atau pseudopodia, bahkan ada yang tidak
memiliki alat gerak.
4. Tidak memiliki klorofil, kecuali Euglena.
5. Eukariota dan dapat membentuk sista ( lapisan pelindung ). dll
Klasifikasi Filum Protozoa
1. Kelas Rhizopoda (Sarcodina) , Rhizopoda bergerak menggunakan kaki semu atau pseudopodia.
2. Kelas Actinopoda, mempunyai pseudopodia ramping dan menyebar yang disebut axopodia.
Tubuhnya berbentuk bola.
3. Kelas Foraminifera, Foraminifera memiliki cagkang yang terdiri dari zat kapur dan silika
4.Kelas Zooflagellata, mempunyai alat gerak berupa bulu cambuk (flagela). Habitatnya di air tawar
atau air laut dan tempat basah atau parasit dalam tubuh hewan dan manusia,
5. Kelas Ciliata
6. Kelas Sporozoa
5. Filum Foraminifera Planktonik
Foraminifera pertama kali muncul pada Zaman Yura yang diwakili oleh golongan Globigerinidae.
Selanjutnya golongan ini berkembang secara meluas meningkat terus hingga Zaman Tersier dan
Kuarter. Ukuran fosil foraminifera berukuran kecil sehing ga disebut sebagai fosil mikro. Fosil mikro
umumnya berukuran lebih kecil dari 5 mm.
Plankton adalah organisme mikroskopis yang berada di permukaan perairan. Plankton sebagai
sumber makanan bagi organisme yang hidup di perairan. Plankton adalah makhluk yang hidupnya,
mengapung, mengambang, atau melayang di dalam air yang kemampuan renangnya terbatas
sehingga mudah terbawa arus.
Bentuk kamar : bentuk dari masing-masing kamar pembentukan test.
Suture : Suture merupakan garis yang terlihat pada dinding luar test, merupakan perpotongan septa
dengan dinding kamar.
Septa : bidang yang merupakan batas antara kamar satu dengan yang lainnya, biasanya terdapat
lubang-lubang halus yang disebut dengan foramen
Aperture : Aperture adalah lubang utama dari test foraminifera yang terletak pada kamar terakhir.
Khusus foraminifera planktonik bentuk aperture maupun variasinya lebih sederhana. Umumnya
mempunyai bentuk aperture utama interiomarginal yang terletak pada dasar (tepi) kamar akhir
(septal face) dan melekuk ke dalam, terlihat pada bagian ventral (perut).
Macam-macam aperture yang dikenal pada foraminifera planktonik:
1) Primary Aperture Interiomarginal (PAI) yaitu :
- Primary Aperture Interimarginal (PAI) Umbilical
- Primary Aperture Interimarginal Umbilical Extra Umbilical
-Primary Aperture Interimarginal Equatorial
2) Secondary Aperture / Supplementary Aperture : Merupakan lubang lain atau lubang tambahan
dari aperture utama dan ukuran lubang umumnya lebih kecildari lubang pada aperture utama
3) Accessory Aperture: Merupakan aperture sekunder yang terletak pada struktur accessory atau
aperture tambahan.
Foraminifera planktonik khusus terdapat pada Superfamili Globigerinicea, yang dapat dibagi
menjadi:
a) Family Globigeriniidae, Beberapa genus yang termasuk dalam Family Globigeriniidae:
1. Genus Orbulina
2. Genus Globigerina
3. Genus Globigerinoides
4. Genus Globoquadrina
5. Genus Sphaeroidinella
6. Genus Sphaeroidinellopsis
7. Genus Pulleniatina
8. Genus Catapsydrax
b) Family Globorotaliidae, Genus yang termasuk dalam Family Globorotaliidae:
1. Genus Globorotallia G
2. Genus Goloborotallia T
c) Family Hantkeniidae, Beberapa genus yang termasuk dalam Family Hantkeniidae :
1. Genus Hantkenina
2. Genus Cribohantkenina
3. Genus Hastigerina
6. Filum Foraminifera Bentonik
Bentos adalah organisme yang hidup di dasar perairan baik yang sesil (diam atau menambat) dan
vagil (merayap maupun menggali lubang). Bentos hidup di pasir, lumpur, batuan, patahan karang
atau karang yang sudah mati di dasar laut. Substrat perairan dan kedalaman mempengaruhi pola
penyebaran dan morfologi fungsional serta tingkah laku hewan bentik. Hal tersebut berkaitan
dengan karakteristik serta jenis makanan bentos.
Keberadaan hewan bentos pada suatu perairan, sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor
lingkungan, baik biotik maupun abiotik. Faktor biotik yang berpengaruh diantaranya adalah
produsen, yang merupakan salah satu sumber makanan bagi hewan bentos. Adapun faktor abiotik
adalah fisika-kimia air yang diantaranya: suhu, arus, kebutuhan oksigen, serta kandungan nitrogen,
kedalaman air, dan sedimen dasar (Allard and Moreau, 1987; APHA,1992).
Susunan kamar Foraminifera Bentos
1. Monothalamus : adalah susunan dan bentuk kamar-kamar akhir foraminifera yang hanya terdiri
dari satu kamar
2. Polythalamus : Merupakan suatu susunan kamar dan bentuk akhir kamar foraminifera yang terdiri
dari lebih satu kamar, misalnya uniserial saja ata biserial saja.
Macam-macam aperture pada foraminifera bentos :
1. Simple Aperture
2. Suplementary Aperture
3. Multiple Aperture
4. Primary Aperture
Teknik Preparasi Sampel
Penguraian/ Pencucian
Proses pencucian batuan dilakukan dengan cara sebagai berikut:
- Batuan sedimen ditumbuk dengan palu yang dibalut karet hingga ukuran diameternya 3-
6 mm.
- Larutkan sampel yang telah dihaluskan ke dalam larutan H2O2 (hidrogen peroksida)
yang telah diencerkan menggunakan air (perbandingan air dan hidrogen peroksida 1:2 lalu diaduk
hingga reaksi yang terjadi berkurang.
- Kemudian didiamkan sampai butiran batuan terlepas semua (± 20 jam) sambil sesekali diaduk
sampai tidak terjadi reaksi lagi. Jika fosil masih nampak kotor, dapat dilakukan dengan perendaman
air sabun, lalu dibilas dengan air bersih.
- Selanjutnya dikeringkan dengan terik matahari atau disangrai dan sampel siap untuk diayak.
BIOSTRATIGRAFI
Biostratigrafi merupakan ilmu penentuan umur batuan dengan menggunakan fosil yang terkandung
didalamnya. Biasanya bertujuan untuk korelasi, yaitu menunjukkan bahwa horizon tertentu dalam
suatu bagian geologi mewakili periode waktu yang sama dengan horizon lain pada beberapa bagian
lain. Fosil berguna karena sedimen yang berumur sama dapat terlihat sama sekali berbeda
dikarenakan variasi lokal lingkungan sedimentasi. Sebagai contoh, suatu bagian dapat tersusun atas
lempung dan napal sementara yang lainnya lebih bersifat batu gamping kapuran, tetapi apabila
kandungan spesies fosilnya serupa, kedua sedimen tersebut kemungkinan telah diendapkan pada
waktu yang sama.
PENARIKAN UMUR FORAMINIFERA PLANKTONIK
1. Fosil Foraminifera Planktonik yang telah diketahui nama spesies nya ditarik umur nya
menggunakan penggaris umur
2. Setelah umur di ketahui masukkan ke dalam kolom penarikan umur sesuai umur yang di dapat
3. Setelah semua fosil diketahui ,tentukan umur relatif dengan menggunakan rumus Awal paling
Akhir , Akhir Paling Awal
4. Setelah itu lihat keterdapatan fosil pada kolom tersebut jika mendominasi dari semua fosil maka
itulah umur relatif fosilforaminifera planktonik tersebut.
PENENTUAN LINGKUNGAN BATHIMETRI FORAMINIFERA BENTONIK
1. Untuk melihat lingkungan pngendapan bentos dilihat dari buku , karena di situ terdapat angka
fathoms
2. angka fathoms yang didapat dikalikan 1,82 dan jika telah diketahui hasil nya dimasukkan kedalam
kolom pengendapan
3. Setelah semua spesies telah diketahui kolom pengendapannya ,lihat satu kolom yang paling
mendominasi keterdapatan pengendapan nya ,dan tarik garis mulai titik awal sampai titik akhir pada
kolom itu
4. Dan setelah ditarik garis maka kolom itulah yang menjadi lingkungan relatif pengendapan
foraminifera bentos.
.DAFTAR PUSTAKA
Ari,thoriq.2011.arthropodadanecinodermata.(http://toriq29.wordpress.com/2011/09/19/35.html).
Biostratigrafi - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas.
Modul praktikum paleontologi universitas sriwijaya.
Yanto,budhi.2013.filumprotozoa.(http://www.biologionline.info/2013/07/filum-protozoa.html).

Resume paleontologi

  • 1.
    RESUME PALEONTOLOGI OKE AFLATUN (03071181320010) PROGRAMSTUDI TEKNIK GEOLOGI, FAKULTAS TEKNIK 2014 5/16/2014
  • 3.
    Pengertian paleontologi Paleontologi adalahilmu yang mempelajari tentang sejarah kehidupan di bumi termasuk hewan dan tumbuhan zaman lampau yang telah menjadi fosil. Berbeda dengan mempelajari hewan atau tumbuhan yang hidup di jaman sekarang, paleontologi menggunakan fosil atau jejak organisme yang terawetkan di dalam lapisan kerak bumi, yang terawetkan oleh proses - proses alami, sebagai sumber utama penelitian. Oleh karena itu paleontologi dapat diartikan sebagai ilmu mengenai fosil sebab jejak jejak kehidupan masa lalu terekam dalam fosil Cabang ilmu paleontologi Paleontologi terbagi menjadi dua cabang ilmu, yaitu makropaleontologi dan mikropaleontologi. Makropaleontologi merupakan ilmu yang mempelajari fosil berdasarkan kenampakan makroskopisnya, sedangkan mikropaleontologi merupakan ilmu yang mempelajari fosil berdasarkan kenampakan mikroskopisnya dengan menggunakan mikroskop binokuler. Manfaat ilmu paleontologi Dengan menerapkan ilmu paleontologi melalui penunjuk berupa fosil, dapat ditentukan umur relatif suatu lapisan batuan dan hubungan antara lapisan batuan yang satu dengan lapisan batuan yang lain berdasarkan hubungan fosil yang terdapat pada lapisan batuan, oleh karena itu ilmu paleontologi juga berkorelasi dengan ilmu stratigrafi dalam hal pengurutan lapisan batuan beserta kejadian-kejadian geologi di dalamnya. Melalui pengamatan fosil dapat juga dipelajari evolusi kehidupan yang telah terjadi serta dapat mengetahui kondisi lingkungan di masa lampau. Proses Pemfosilan 1. Mempunyai bagian tubuh yang keras 2. Organisme yang mati tidak menjadi mangsa organisme lainnya 3. Tidak terubahkan oleh reaksi kimia 4. Diendapkan dalam batuan sedimen 5. Terendapkan dalam waktu geologi Proses pemfosilan a. Fosil Tak Termineralisasi Golongan ini dibagi menjadi beberapa jenis: 1. Fosil yang tidak mengalami perubahan secara keseluruhan, yaitu fosil yang jarang terjadi dan merupakan keistimewaan dalam proses pemfosilan.. 2. Fosil yang terubah sebagian, umumnya dijumpai pada batuan Mesozoikum dan Kenozoikum 3. Distilasi/karbonisasi, yaitu menguapnya kandungan gas-gas atau zat lain yang mudah menguap dalam tumbuhan atau hewan karena tertekannya rangka atau tubuh kehidupan tersebut dalam sedimentasi dan meninggalkan residu karbon (C) berupa lapisan-lapisan tipis dan kumpulan unsur C
  • 4.
    yang menyelubungi ataumenyelimuti sisa- sisa organisme yang tertekan tadi. Contohnya adalah batubara 4. Amber, yaitu hewan atau tumbuhan yang terperangkap dalam getah tumbuhan seperti damar dan akhirnya terfosilkan. Contohnya insekta yang terselubungi getah damar. b. Fosil Yang Termineralisasikan / Mineralized Fossils Golongan ini dibedakan atas dasar material yang mengubahnya serta cara terubahnya. Golongan ini dibagi lagi menjadi beberapa jenis, yaitu: 1. Replacement, merupakan penggantian total material penyusun rumah organisme oleh mineral- mineral asing. 2. Histometabasis, adalah penggantian total tiap-tiap molekul dari jaringan tumbuhan oleh mineral- mineral asing yang meresap ke dalam jasad tumbuh-tumbuhan. Walaupan seluruh molekul telah terganti namun struktur mikroskopisnya masih terpelihara dan nampak dengan jelas b. Fosil Yang Termineralisasikan / Mineralized Fossils Golongan ini dibedakan atas dasar material yang mengubahnya serta cara terubahnya. Golongan ini dibagi lagi menjadi beberapa jenis, yaitu: 1. Replacement, merupakan penggantian total material penyusun rumah organisme oleh mineral- mineral asing. 2. Histometabasis, adalah penggantian total tiap-tiap molekul dari jaringan tumbuhan oleh mineral- mineral asing yang meresap ke dalam jasad tumbuh-tumbuhan. Walaupan seluruh molekul telah terganti namun struktur mikroskopisnya masih terpelihara dan nampak dengan jelas 2. Mold, adalah cetakan tapak yang ditinggalkan oleh organisme berelief tinggi. 3. Cast, adalah cetakan dari jejak oleh material asing yang terjadi apabila rongga antar tapak dan tuangan terisi zat lain dari luar, sedang fosilnya sendiri telah lenyap.
  • 5.
    4. Koprolit, adalahkotoran binatang yang terfosilkan dan berbentuk nodul-nodul memanjang dengan komposisi phospatik 5. Gastrolit, fosil yang dahulu tertelan oleh salah satu hewan tertentu misalnya pada reptil untuk membantu pencernaan. 6. Trail, adalah jejak ekor binatang yang terfosilkan 7. Track, adalah jejak kuku binatang yang terfosilkan. 6. Trail, adalah jejak ekor binatang yang terfosilkan 7. Track, adalah jejak kuku binatang yang terfosilkan. 8. Foot print, adalah jejak kaki hewan yang terfosilkan 9. Burrow, borring, tubes, adalah lubang-lubang yang berbentuk seperti lubang bor atau pipa yang merupakan tempat tinggal/hidup yang telah memfosil. Burrow adalah lubang yang dibuat oleh organisme untuk mencari mangsa/makan dan hidup. Borring adalah lubang yang digunakan untuk menyimpan makanan. Sedangkan tube adalah lubang hasil aktivitas organisme yang berbentuk pipa/tabung. 1. Filum Coelentrata Coelenterata berasal dari kata kolios/hollow yang berarti cekung dan enteron/intestine yang berati dalam. Sehingga Coelenterata dapat diartikan sebagai binatang yang mempunyai cekungan (berlekuk) di bagian dalamnya atau disebut juga semacam kantong berlapis endoderm. Filum ini meliputi golongan invertebrata yang berjumlah sangat banyak dengan bentuk-bentuk yang sangat beragam. Adapun ciri-ciri dari Filum Coelenterata: 1. Lubang yang berfungsi sebagai mulut atau oral. 2. Semacam kantong (coelenteron) yang dilapisi endoderm. 3. Jaringan urat daging. 4. Alat pengumpul makanan. 5. Memiliki sel penyengat (stinging cell) yang terdapat pada tentakel. 6. Berkembang biak dengan sexual dan asexsual. 7. Dinding tubuh terdiri 3 lapis (ectoderm, mesoglea, dan endoderm). 8. Rangka terdiri zat gampingan/chitin dihasilkan oleh lapisan ektoderm. 9. Bagian besar memperlihatkan gejala dimorphisme yakni bentuk polyp dan medusa.
  • 6.
    10. Hidup berkolonidan soliter, manambatkan diri pada dasar (sesil). Pembagian Klas dalam Filum Coelenterata 1. Klas Hydrozoa 2. Klas Stromatoporoidae 3. Klas Scyphozoa 4. Klas Anthozoa Pada golongan tertentu, misalnya pada golongan ubur-ubur, hewan dengan Filum Coelenterata merupakan hewan soliter, maupun bergerak bebas dan mempunyai tubuh yang berbentuk seperti payung. Sedangkan pada golongan lain, misalnya pada koral/kerang, hewan tersebut tersusun oleh sejumlah individu yang hidup bersama membentuk koloni, hidup tertambat dan membentuk rangka yang keras Pada beberapa jenis koral, coralite-nya terbagi oleh dinding vertikal yang disebut septa, yang kenampakannya dari luar sebagai lekukan kecil yangdalam pada dinding theca tersebut. Polyp sendiri tinggal dalam calyx, yaitu lekukan tengah yang berbentuk cawan pada bagian atas dari coralite. Pada saat pertumbuhan, dibagian bawah terjadi pembentukan lempeng horisontal yang disebut tabulae. Koral diklasifikasikan berdasarkan keadaan dan susunan septanya dan kenampakan rangka yang lain. Sebagai contoh, golongan koral tanduk/horn coral yang banyak hidup di kurun Paleozoikum, hanya menyisipkan pertambahan septa hanya di empat lokasi saja sepanjang pertumbuhannya 2. Filum Brachiopoda dan Mollusca Pengertian filum brachiopoda Brachiopoda merupakan salah satu fosil hewan yang sangat melimpah keberadaannya pada batuan yang berasal dari Kurun Paleozoikum. Dahulu Brachiopoda masuk dalam Bryosoa filum Moluska tetapi setelah ditemukan Lophophor pada Brachiopoda maka Brachiopoda dipisahkan dan Bryosoa menjadi filum Brachiopoda. Ciri-ciri umum yang dimiliki oleh Brachiopoda: 1. Mempunyai brachion yang berbeda. 2. Terdiri dari 2 kulit kerang/bivalve. 3. Bentos yang mempunyai cangkang tidak sama besar. 4. Hidup di air laut sebagian air payau.
  • 7.
    5. Tubuhnya tidakberuas. Hidup di air laut sebagian air payau. 5. Tubuhnya tidak beruas. 6. Tersusun dari zat gampingan, chitin, dan simetri bilateral. 7. Cangkangnya mempunyai selaput mantel. 8. Hidup secara sesil pada dasar dengan menggunakan ganggang pedicel yang terletak pada posteriornya. Brachiopoda dibagi kedalam 2 Klas, yaitu: A. Klas Inartikulata (Kamrium-Resen) Ciri-ciri : 1. Cangkang chitinophospatic 2. Mempunyai lubang anus 3. Tidak mempunyai delthyrium 4. Tidak mempunyai lubang gigi dan gigi 5. Susunan otot rumit/kompleks B. Klas Artikulata (Kambrium-Resen) Dibandingkan dengan Klas Inartukulata, Brachipoda Klas Artikulata lebih besar jumlah maupun keanekaragamannya. Banyak yang berfungsi sebagai index fosil yang baik baikba,karena evolusinya yang relatif cepat. Ciri-ciri: 1. Cangkang gampingan 2. Tidak mempunyai lubang anus 3. Mempunyai delthyrium/pedicel opening 4. Mempunyai engsel, gigi, dan lubang gigi
  • 8.
    5. Susunan ototsederhana karena evolusinya yang relatif cepat. Ciri-ciri: 1. Cangkang gampingan 2. Tidak mempunyai lubang anus 3. Mempunyai delthyrium/pedicel opening 4. Mempunyai engsel, gigi, dan lubang gigi 5. Susunan otot sederhana Brachiopda masa kini semuanya hidup di laut. Namun demikian fungsinya sebagai penunjuk lingkungan tertentu tidaklah khas. Salah satu perkecualian adalah golongan Brachiopoda inartikulata, yaitu Lingula, yang merupakan salah satu fosil yang tertua dari golongan binatang. Spesies ini umumnya hidup pada laut di daerah tropis dengan keanekaragaman yang rendah serta kedalaman kurang dari 20 meter. Filum Mollusca Mollusca berasal dari bahasa latin yaitu molluscus yang artinya lunak. Jadi Filum Mollusca adalah kelompok hewan invretebrata yang memiliki tubuh lunak. Tubuh lunaknya itu dilindungi oleh cangkang, meskipun ada juga yang tidak bercangkang. Mollusca yang sudah tidak asing lagi bagi kita adalah siput. Siput merupakan salah satu Mollusca yang teramsuk ke dalam kelas gastropoda. yaitu berjalan dengan menggunakan perutnya. Ciri-ciri Mollusca adalah : • Merupakan hewan multiselular yang tidak mempunyai tulang belakang • Habitatnya di air maupun darat • Merupakan hewan triploblastik selomata • Struktur tubuhnya simetri bilateral • Tubuh terdiri dari kaki, massa viseral, dan mantel • Memiliki sistem syaraf berupa cincin syaraf • Organ ekskresi berupa nefridia • Memiliki radula (lidah bergigi) • Hidup secara heterotrof Klasifikasi filum mollusca 1. Klas Gastrpoda 2. Klas Chepalopoda 3. Klas Pelecypoda 4. Klas Amphineura
  • 9.
    5. Klas Schapopoda Molluscabereproduksi secara seksual. pada umumnya organ reproduksi jantan dan betina pada umumnya terpisah pada individu lain (gonokoris). Namun, meski begitu jenis siput tertentu ada yang bersifat Hermafrodit. Fertilisasi dilakukan secara internal ataupun eksternal sehingga menghasilkan telur. Telur tersebut berkembang menjadi larva dan pada akhirnya akan menjadi mollusca dewasa. 3. Filum Arthropoda dan Echinodermata Filum Arthropoda : (dalam bahasa latin, Arthra = ruas , buku, segmen ; podos = kaki) merupakan hewan yang memiliki ciri kaki beruas, berbuku, atau bersegmen.Segmen tersebut juga terdapat pada tubuhnya.Tubuh Arthropoda merupakan simeri bilateral dan tergolong tripoblastik selomata. Sistem reproduksi Arthropoda umumnya terjadi secara seksual.Namun ada juga yang secara aseksual, yaitu dengan partenogenesis. Partenogenesis adalah pembentukan individu baru tanpa melalui fertilisasi (pembuahan).Individu yang dihasilkan bersifat steril.Organ reproduksi jantan dan betina pada Arthropoda terpisah, masing- masing menghasilkan gamet pada individu yang berbeda sehingga bersifat dioseus (berumah dua).Hasil fertilisasi berupa telur. Klasifikasi Arthropoda diklasifikasikan menjadi 20 kelas berdasarkan struktur tubuh dan kaki.Berikut ini akan diuraikan empat kelas diantaranya yang paling umum, yaitu Kelas Arachnoidea, Myriapoda, Crustacea, dan Insecta. 1. Kelas Arachnoidea : Arachnoidea (dalam bahasa yunani, arachno = laba-laba) disebut juga kelompok laba-laba, meskipun anggotanya bukan laba-laba saja.Kalajengking adalah salah satu contoh kelas Arachnoidea yang jumlahnya sekitar 32 spesies.Ukuran tubuh Arachnoidea bervariasi, ada yang panjangnya lebih kecil dari 0,5 mm sampai 9 cm.Arachnoidea merupakan hewan terestrial (darat) yang hidup secara bebas maupun parasit. 2. Kelas Myriapoda : Myriapoda (dalam bahasa yunani, myria = banyak, podos = kaki) merupakan hewan berkaki banyak. Hewan kaki seribu adalah salah satunya yang terkadang kita lihat di lingkungan sekitar kita.Myriapoda hidup di darat pada tempat lembap, misalnya di bawah daun, batu, atau tumpukan kayu.Bagian tubuh Myriapoda sulit dibedakan antara toraks dan abdomen.Tubuhnya memanjang seperti cacing. 3. Kelas Crustacea : Crustacea (dalam bahasa latinnya, crusta = kulit) memiliki kulit yang keras.Udang, lobster, dan kepiting adalah contoh kelompok ini. Umumnya hewan Crustacea merupakan hewan akuatik, meskipun ada yang hidup di darat.Crustacea dibedakan menjadi dua subkelas berdasarkan ukuran tubuhnya, yaitu Entomostraca dan Malacostraca. 4. Kelas Insecta : Insecta (dalam bahasa latin, insecti = serangga).Banyak anggota hewan ini sering kita jumpai disekitar kita, misalnya kupu-kupu, nyamuk, lalat, lebah, semut, capung, jangkrik, belalang,dan lebah.Ciri khususnya adalah kakinya yang berjumlah enam buah.
  • 10.
    Filum Echinodermata :Echinodermata (dalam bahasa yunani, echino = landak, derma = kulit) adalah kelompok hewan triopoblastik selomata yang memilki ciri khas adanya rangka dalam (endoskeleton) berduri yang menembus kulit. Semua anggota filum Echinodermata hidup di air laut, mempunyai kulit berduri dan simetri radial dan bergerak lamban dengan bantuan kaki tabung. perluasan dan penciutan dilakukan oleh gerakan air laut ke dalam dan ke luar dari sistem pembuluh air. 1. Dalam ekosistem berkedudukan sebagai hewan pemakan bangkai. 2. Semua jenisnya hidup di lautan. 3. Dewasa = simetri tubuhnya radial, larva = simetri tubuhnya bilateral. 4. Pergerakan dilakukan dengan sistem pembuluh air = kaki ambulakral (sistem ambulakral). Sistem ambulakral Ciri-ciri Echinodermata Echinodermata merupakan hewan yang memiliki habitat di laut, serta tubuhnya memiliki simetri radial. Hewan ini sudah memiliki sistem pencernaan yang sempurna di mana mulut sebagai jalan masuknya makanan berada di bagian bawah dan anus sebagai jalan keluarnya sisa pencernaan berada di sebelah atas. Sistem gerak dengan menggunakan kaki ambulakral, selain itu kaki juga digunakan untuk menangkap mangsa. Secara umum Echinodermata memiliki 5 lengan, hewan ini memiliki kemampuan autotomi, yaitu kemampuan untuk membentuk kembali organ tubuhnya yang terputus. Seperti halnya dengan hewan akuatik yang lain, Echinodermata juga bernapas dengan insang. Sistem saraf berupa cincin saraf yang mengelilingi mulut, lalu bercabang 5 menuju masing- masing lengan yang dimiliki. Reproduksi secara generatif, yaitu dengan peleburan antara sperma dan ovum sehingga akan dihasilkan zigot. Mekanisme gerak melalui sistem kaki ambulakral adalah sebagai berikut: air masuk melalui madreporit kemudian turun ke saluran cincin lalu masuk ke dalam saluran radial, setelah itu air masuk ke kaki-kaki tabung, air disemprotkan sehingga dalam kaki tabung muncul tekanan hidrolik dari air dan akhirnya kaki tabung menjulur ke luar, akibatnya ampula melekat pada benda lain sehingga bisa berpindah tempat. Cara hidup dan habitat Echinodermata merupakan hewan yang hidup bebas.Makanannya adalah kerang, plankton, dan organisme yang mati.Habitatnya di dasar air laut, di daerah pantai hingga laut dalam. Reproduksi Echinodermata bersifat dioseus bersaluran reproduksi sederhana.Fertilisasi berlangsung secara eksternal.Zigot berkembang menjadi larva yang simetris bilateral bersili. Klasifikasi filum Echinodermata 1. Kelas Asteroidea 2. Kelas Ophiuroidea 3. Kelas Echinoidea 4. Kelas Holothuroidea 5. Kelas Crinoidea
  • 11.
    4. Filum Protozoa Protozoaartinya hewan pertama (protos = pertama; zoon = hewan), digambarkan sebagai organisme mirip hewan karena dapat bergerak dan mengambil makanan dari organisme lain. Sebagian besar protozoa hidup bebas di laut atau air tawar, misalnya di selokan, kolam, dan sungai. Jenis lainnya ada yang hidup di tanah. Beberapa jenis protozoa hidup dalam tubuh hewan atau manusia bersifat parasitik. menyebabkan penyakit pada manusia dan hewan ternak, Atau pada cairan tubuh, misalnya dalam darah Semua protozoa memerlukan kelembaban yang tinggi pada habitat apapun. jika keadaan lingkungan kurang menguntungkan protozoa akan membungkus diri membentuk kista untuk mempertahankan diri. Protozoa hidup secara soliter atau bentuk koloni. Didalam ekosistem air, protozoa zooplankton. merupakanzooplankton. Ciri-Ciri Umum Protozoa Ciri-ciri umum hewan yang tergolong Filum Protozoa dapat diuraikan sebagai berikut: 1. Tubuh tersusun atas satu sel, ukurannya beberapa mikron sampai beberapa milimeter dan umumnya bersifat mikroskopis. 2. Umumnya hidup secara individual, tetapi ada yang hidup secara koloni, ada yang hidup bebas di dalam air, komensal, dan ada pula yang bersifat parasit pada hewan lain. 3. Cara bergeraknya ada yang menggunakan : flagela, silia, atau pseudopodia, bahkan ada yang tidak memiliki alat gerak. 4. Tidak memiliki klorofil, kecuali Euglena. 5. Eukariota dan dapat membentuk sista ( lapisan pelindung ). dll Klasifikasi Filum Protozoa 1. Kelas Rhizopoda (Sarcodina) , Rhizopoda bergerak menggunakan kaki semu atau pseudopodia. 2. Kelas Actinopoda, mempunyai pseudopodia ramping dan menyebar yang disebut axopodia. Tubuhnya berbentuk bola. 3. Kelas Foraminifera, Foraminifera memiliki cagkang yang terdiri dari zat kapur dan silika 4.Kelas Zooflagellata, mempunyai alat gerak berupa bulu cambuk (flagela). Habitatnya di air tawar atau air laut dan tempat basah atau parasit dalam tubuh hewan dan manusia, 5. Kelas Ciliata 6. Kelas Sporozoa 5. Filum Foraminifera Planktonik Foraminifera pertama kali muncul pada Zaman Yura yang diwakili oleh golongan Globigerinidae. Selanjutnya golongan ini berkembang secara meluas meningkat terus hingga Zaman Tersier dan Kuarter. Ukuran fosil foraminifera berukuran kecil sehing ga disebut sebagai fosil mikro. Fosil mikro umumnya berukuran lebih kecil dari 5 mm. Plankton adalah organisme mikroskopis yang berada di permukaan perairan. Plankton sebagai sumber makanan bagi organisme yang hidup di perairan. Plankton adalah makhluk yang hidupnya,
  • 12.
    mengapung, mengambang, ataumelayang di dalam air yang kemampuan renangnya terbatas sehingga mudah terbawa arus. Bentuk kamar : bentuk dari masing-masing kamar pembentukan test. Suture : Suture merupakan garis yang terlihat pada dinding luar test, merupakan perpotongan septa dengan dinding kamar. Septa : bidang yang merupakan batas antara kamar satu dengan yang lainnya, biasanya terdapat lubang-lubang halus yang disebut dengan foramen Aperture : Aperture adalah lubang utama dari test foraminifera yang terletak pada kamar terakhir. Khusus foraminifera planktonik bentuk aperture maupun variasinya lebih sederhana. Umumnya mempunyai bentuk aperture utama interiomarginal yang terletak pada dasar (tepi) kamar akhir (septal face) dan melekuk ke dalam, terlihat pada bagian ventral (perut). Macam-macam aperture yang dikenal pada foraminifera planktonik: 1) Primary Aperture Interiomarginal (PAI) yaitu : - Primary Aperture Interimarginal (PAI) Umbilical - Primary Aperture Interimarginal Umbilical Extra Umbilical -Primary Aperture Interimarginal Equatorial 2) Secondary Aperture / Supplementary Aperture : Merupakan lubang lain atau lubang tambahan dari aperture utama dan ukuran lubang umumnya lebih kecildari lubang pada aperture utama 3) Accessory Aperture: Merupakan aperture sekunder yang terletak pada struktur accessory atau aperture tambahan. Foraminifera planktonik khusus terdapat pada Superfamili Globigerinicea, yang dapat dibagi menjadi: a) Family Globigeriniidae, Beberapa genus yang termasuk dalam Family Globigeriniidae: 1. Genus Orbulina 2. Genus Globigerina 3. Genus Globigerinoides 4. Genus Globoquadrina 5. Genus Sphaeroidinella 6. Genus Sphaeroidinellopsis 7. Genus Pulleniatina 8. Genus Catapsydrax b) Family Globorotaliidae, Genus yang termasuk dalam Family Globorotaliidae: 1. Genus Globorotallia G 2. Genus Goloborotallia T
  • 13.
    c) Family Hantkeniidae,Beberapa genus yang termasuk dalam Family Hantkeniidae : 1. Genus Hantkenina 2. Genus Cribohantkenina 3. Genus Hastigerina 6. Filum Foraminifera Bentonik Bentos adalah organisme yang hidup di dasar perairan baik yang sesil (diam atau menambat) dan vagil (merayap maupun menggali lubang). Bentos hidup di pasir, lumpur, batuan, patahan karang atau karang yang sudah mati di dasar laut. Substrat perairan dan kedalaman mempengaruhi pola penyebaran dan morfologi fungsional serta tingkah laku hewan bentik. Hal tersebut berkaitan dengan karakteristik serta jenis makanan bentos. Keberadaan hewan bentos pada suatu perairan, sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor lingkungan, baik biotik maupun abiotik. Faktor biotik yang berpengaruh diantaranya adalah produsen, yang merupakan salah satu sumber makanan bagi hewan bentos. Adapun faktor abiotik adalah fisika-kimia air yang diantaranya: suhu, arus, kebutuhan oksigen, serta kandungan nitrogen, kedalaman air, dan sedimen dasar (Allard and Moreau, 1987; APHA,1992). Susunan kamar Foraminifera Bentos 1. Monothalamus : adalah susunan dan bentuk kamar-kamar akhir foraminifera yang hanya terdiri dari satu kamar 2. Polythalamus : Merupakan suatu susunan kamar dan bentuk akhir kamar foraminifera yang terdiri dari lebih satu kamar, misalnya uniserial saja ata biserial saja. Macam-macam aperture pada foraminifera bentos : 1. Simple Aperture 2. Suplementary Aperture 3. Multiple Aperture 4. Primary Aperture Teknik Preparasi Sampel Penguraian/ Pencucian Proses pencucian batuan dilakukan dengan cara sebagai berikut: - Batuan sedimen ditumbuk dengan palu yang dibalut karet hingga ukuran diameternya 3- 6 mm. - Larutkan sampel yang telah dihaluskan ke dalam larutan H2O2 (hidrogen peroksida) yang telah diencerkan menggunakan air (perbandingan air dan hidrogen peroksida 1:2 lalu diaduk hingga reaksi yang terjadi berkurang.
  • 14.
    - Kemudian didiamkansampai butiran batuan terlepas semua (± 20 jam) sambil sesekali diaduk sampai tidak terjadi reaksi lagi. Jika fosil masih nampak kotor, dapat dilakukan dengan perendaman air sabun, lalu dibilas dengan air bersih. - Selanjutnya dikeringkan dengan terik matahari atau disangrai dan sampel siap untuk diayak. BIOSTRATIGRAFI Biostratigrafi merupakan ilmu penentuan umur batuan dengan menggunakan fosil yang terkandung didalamnya. Biasanya bertujuan untuk korelasi, yaitu menunjukkan bahwa horizon tertentu dalam suatu bagian geologi mewakili periode waktu yang sama dengan horizon lain pada beberapa bagian lain. Fosil berguna karena sedimen yang berumur sama dapat terlihat sama sekali berbeda dikarenakan variasi lokal lingkungan sedimentasi. Sebagai contoh, suatu bagian dapat tersusun atas lempung dan napal sementara yang lainnya lebih bersifat batu gamping kapuran, tetapi apabila kandungan spesies fosilnya serupa, kedua sedimen tersebut kemungkinan telah diendapkan pada waktu yang sama. PENARIKAN UMUR FORAMINIFERA PLANKTONIK 1. Fosil Foraminifera Planktonik yang telah diketahui nama spesies nya ditarik umur nya menggunakan penggaris umur 2. Setelah umur di ketahui masukkan ke dalam kolom penarikan umur sesuai umur yang di dapat 3. Setelah semua fosil diketahui ,tentukan umur relatif dengan menggunakan rumus Awal paling Akhir , Akhir Paling Awal 4. Setelah itu lihat keterdapatan fosil pada kolom tersebut jika mendominasi dari semua fosil maka itulah umur relatif fosilforaminifera planktonik tersebut. PENENTUAN LINGKUNGAN BATHIMETRI FORAMINIFERA BENTONIK 1. Untuk melihat lingkungan pngendapan bentos dilihat dari buku , karena di situ terdapat angka fathoms 2. angka fathoms yang didapat dikalikan 1,82 dan jika telah diketahui hasil nya dimasukkan kedalam kolom pengendapan 3. Setelah semua spesies telah diketahui kolom pengendapannya ,lihat satu kolom yang paling mendominasi keterdapatan pengendapan nya ,dan tarik garis mulai titik awal sampai titik akhir pada kolom itu 4. Dan setelah ditarik garis maka kolom itulah yang menjadi lingkungan relatif pengendapan foraminifera bentos.
  • 15.
    .DAFTAR PUSTAKA Ari,thoriq.2011.arthropodadanecinodermata.(http://toriq29.wordpress.com/2011/09/19/35.html). Biostratigrafi -Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas. Modul praktikum paleontologi universitas sriwijaya. Yanto,budhi.2013.filumprotozoa.(http://www.biologionline.info/2013/07/filum-protozoa.html).