MAGMA
Sebagian besar komponen penyusun bumi di bawah kerak bumi adalah material pijar
yang bersifat cair dan panas dengan komposisi utama adalah silikat. Semakin dalam, suhu
dan tekanan semakin tinggi.
Magma ini dapat berasal dari batuan setengah cair ataupun batuan yang sudah ada, baik di
mantel ataupun kerak bumi. Umumnya, proses pelelehan dapat terjadi karena salah satu dari
proses-proses berikut ini ; penurunan tekanan, kenaikan temperatur, atau perubahan
komposisi. Lebih dari 700 tipe batuan beku telah berhasil dideskripsikan, dan sebagian besar
batuan beku tersebut terbentuk di bawah permukaan kerak bumi.
A. Pengertian Magma
Berdasarkan keterangan dari para ahli seperti Bapak Turner dan Verhoogen tahun
1960, Bapak F.F Groun Tahun 1947, Bapak Takeda Tahun 1970, Magma didefinisikan atau
diartikan sebagai cairan silikat kental pijar yang terbentuk secara alami, memiliki temperatur
yang sangat tinggi yaitu antara 1.500 sampai dengan 2.500 derajat celcius serta memiliki sifat
yang dapat bergerak dan terletak di kerak bumi bagian bawah. Dalam magma terdapat
bahan-bahan yang terlarut di dalamnya yang bersifat volatile / gas (antara lain air, co2,
chlorine, fluorine, iro, sulphur dan bahan lainnya) yang magma dapat bergerak, dan non-
volatile / non gas yang merupakan pembentuk mineral yang umumnya terdapat pada batuan
beku.
Bunsen (1951, W. T. Huang, 1962) mempunyai pandapat bahwa ada dua jenis
magma primer, yaitu basaltis dan granitis dan batuan beku merupakan hasil campuran dari
dua magma ini yang kemudian mempunyai komposisi lain.
Dally 1933, Winkler (Vide W. T. Huang 1962) berpendapat lain yaitu magma asli
(primer) adalah bersifat basa yang selanjutnya akan mengalami proses diferensiasi menjadi
magma yang bersifat lain.
Adapun Hipotesis magma primer menurut Dally (1933) :
1. Magma yang terisolasi pada earth-shell, bersifat heterogen dan dapat dianggap
mewarisi keadaan bumi semula. Kemudian adanya pengaruh tekanan relief yang
memadai akan menghasilkan apa yang disebut liqua faction secara setempat dan
berasal dari bahan habluran. Pencairan batuan dapat dipengaruhi oleh tenaga panas
yang diakibatkan gesekan oleh akibat deformasi (deformation) & peluruhan mineral
radio aktif. Surutnya gas secara setempat pun akan menyebabkan terpisahnya magma;
pada umumnya magma jenis ini menggambarkan suatu lidah cair yang terperas ke
atas dari asalnya yang jauh di daerah habluran di bawah permukaan bumi.
2. 2.Magma yang bersifat homogen, misalnya basalan habluran atau eglokit yang
meleleh, perubahan basaltic durovitreous menjadi liqua vitreous akibat surutnya gas
secara tempat, basalan yang tetap vitreous kecuali pada bagian upper shell di mana
bahan telah menghablur, peridotit habluran dan karena pelelehan setempat akan
mengakibatkan terjadinya cairan basalan, serta liqua vitreous peridotite
3. Magma primer tanpa spesifikasi awal, yaitu magma granitik dan magma basaltik.
Magma adalah bahan induk batuan beku. Lava adalah magma yang keluar melalui
lubang (kondoit) pada gunungapi. Kebanyakan magma membeku di bawah
permukaan dan bahan yang terakhir saja yang dapat dilihat yaitu batuan beku. Magma
diartikan sebagai bahan batuan yang melebur, mengandung fasa uap yang hilang
sewatu magma membeku, dalam proses ini memainkan peranan yang penting dalam
arah pembentukan hablur.
Menurut Bunsen magma” primer” terdiri dari dua jenis yaitu granit dan basalt, dan
batuan beku yang mengandung campuran batuan. Batuan beku yang terdapat di bumi ini
kebanyakan boleh dimasukkan ke dalam dua jenis ini : granit dan basalt.
B. Tempat munculnya magma dan ekspresinya
Di permukaan Bumi, magma muncul di tiga lokasi yaitu di daerah pemekaran
lempeng, di jalur vokanik yang berasosiasi dengan zona penunjaman lempeng, dan di daerah
hot spot yang muncul di lantai samudera.
Magma yang muncul di zona pemekaran lempeng kerak Bumi berasal dari mantel dan
membeku membentuk kerak samudera.
Demikian pula magma yang muncul sebagai hot spot, berasal dari mantel. Hot spot ini
di lantai samudera membentuk gunungapi atau pulau-pulau gunungapi di tengah samudera
Karena lempeng samudera terus bergerak, maka terbentuk deretan pulau- pulau
tengah samudera, seperti Rantai Pulau-pulau Hawai di Samudera Pasifik.
Sementara itu, magma yang muncul di zona penunjaman berasal dari kerak samudera
yang meleleh kembali ketika dia menunjam masuk kembali ke dalam mantel. Ketika berjalan
naik ke permukaan Bumi, magma ini juga melelehkan sebagian batuan yang diterobosnya.
Kemunculan magma ini membentuk deretan gunungapi. Di Indonesia, sebagai contoh,
deretan gunungapi seperti ini memanjang mulai dari Sumatera, Jawa, Nusatenggara sampai
ke Maluku. Di sekeliling Samudera Pasifik, deretan gunungapi ini membentuk apa yang
dikenal sebagai Ring of fire.
C.Komposisi Magma
Karena suhu magma sangat tinggi dan keberadaannya sangat jauh di dalam Bumi,
maka kita tidak dapat mengambil sampel magma dan kemudian mempelajarinya untuk
mengetahui komposisinya. Oleh karena itu, untuk mengetahui komposisi magma dilakukan
melalui pendekatan dengan mempelajari batuan beku yang berasal dari magma yang
membeku. Pendekatan dengan menganalisa batuan beku masih kurang, karena belum dapat
mengetahui komponen penyusun magma yang berupa gas. Karena gejala volkanisme adalah
manifestasi dari kemunculan magma di permukaan Bumi, maka untuk mengetahui
kandungan gas dalam magma dipelajari aktifitas vulkanisme.
Dari uraian di atas maka, secara sederhana dapat kita katakan bahwa seluruh unsur
kimia yang ada di Bumi, kecuali buatan, terdapat di dalam magma; hanya kelimpahan dari
unsur-unsur tersebut yang berbeda. Komposisi kimia magma sangat kompleks. 99% dari
magma tersusun oleh 10 unsur kimia, yaitu Silikon (Si), Titanium (Ti), Aluminium (Al), Besi
(Fe), Magmesium (Mg), Kalsium (Ca), Natrium (Na), Kalium (K), Hidrogen (H), dan
Oksigen (O).
Dengan konvensi, komposisi kimia magma dinyatakan dalam persen berat (% berat).
Dalam bentuk senyawa kimia, unsur-unsur tersebut dinyatakan dalam bentuk SiO2, TiO2,
Al2O3, FeO, MgO, CaO, Na2O, K2O dan H2O. Tentang kelimpahannya, secara umum, SiO2
adalah yang paling banyak, menyusun lebih dari 50 % berat magma. Kemudian, Al2O3, FeO,
MgO, CaO menyusun 44 % berat magma, dan sisanya Na2O, K2O, TiO2 dan H2O
menyusun 6 % berat magma. Pada kenyataannya, kelimpahan unsur-unsur tersebut sangat
bervariasi, tergantuk pada karakter komposisi magma.
D.Tipe dan Sifat Magma
Magma dapat dibedakan berdasarkan kandungan SiO2. Dikenal ada tiga tipe magma,
yaitu:
1. Magma Basaltik (Basaltic magma) – SiO2 45-55 %berat; kandungan Fe dan Mg
tinggi; kandungan K dan Na rendah.
2. Magma Andesitik (Andesitic magma) – SiO2 55-65 %berat, kandungan Fe, Mg, Ca,
Na dan K menengah (intermediate).
3. Magma Riolitik (Rhyolitic magma) – SiO265-75 %berat, kandungan Fe, Mg dan Ca
rendah; kandungan K dan Na tinggi
Magma mengandung gas-gas terlarut. Gas-gas yang terlarut di dalam cairan magma
itu akan lepas dan membentuk fase tersendiri ketika magma naik ke permukaan bumi.
Analoginya sama seperti gas yang terlarut di dalam minuman ringan berkaborasi di dalam
botol dengan tekanan tinggi. Ketika, tutup botol dibuka, tekanan turun dan gas terlepas
membentuk fase tersendiri yang kita lihat dalam bentuk gelembung-gelembung gas. Juga
sering kita lihat ketika pemberian meali bagi para pemenang balap kenderaan. Kepada
mereka diberikan minuman di dalam botol dan kemudian mereka mengkocok-kocok botol
tersebut sebelum membuka tutupnya. Kemudian, ketika tutup botol yang telah dikocok itu
dibuka, maka tersemburlah isi botol tersebut keluar. Demikian pula halnya dengan magma
ketika keluar dari dalam bumi. Kandungan gas di dalam magma ini akan mempengaruhi sifat
erupsi dari magma bila keluar ke permukaan bumi.
Viskositas adalah kekentalan atau kecenderungan untuk tidak mengalir. Cairan
dengan viskositas tinggi akan lebih rendah kecenderungannya untuk mengalir daripada cairan
dengan viskositas rendah. Demikian pula halnya dengan magma.
Viskositas magma ditentukan oleh kandungan SiO2 dan temperatur magma. Makin
tinggi kandungan SiO2 maka makin rendah viskositasnya atau makin kental. Sebaliknya,
makin tinggi temperaturnya, makin rendah viskositasnya. Jadi, magma basaltik lebih mudah
mengalir daripada magma andesitik atau riolitik. Demikian pula, magma andesitik lebih
mudah mengalir daripada magma riolitik
E.Diferensiasi Magma
Diferensiasi magma adalah suatu tahapan pemisahan atau pengelompokan magma
dimana material-material yang memiliki kesamaan sifat fisika maupun kimia akan
mengelompok dan membentuk suatu kumpulan mineral tersendiri yang nantinya akan
mengubah komposisi magma sesuai penggolongannya berdasarkan kandungan magma.
Proses ini dipengaruhi banyak hal. Tekanan, suhu, kandungan gas serta komposisi kimia
magma itu sendiri dan kehadiran pencampuran magma lain atau batuan lain juga
mempengaruhi proses diferensiasi magma ini.
Proses ini merupakan suatu proses pemisahan kristal-kristal dari larutan magma
karena proses kristalisasi perjalan tidak seimbang atau kristal-kristal tersebut pada saat
pendinginan tidak dapat mengubah perkembangan.
Komposisi larutan magma yang baru ini terjadi sebagai akibat dari adanya perubahan
temperatur dan tekanan yang mencolok serta tiba-tiba.
Secara umum, proses diferensiasi magma terbagi menjadi :
1.Crystal Settling / gravitational settling
Proses ini meliputi pengendapan kristal oleh gravitasi dari kristal-kristal berat yang
mengandung unsur Ca, Mg, Fe yang akan memperluas magma pada bagian dasar magma
chamber . Disini, mineral-mineral silikat berat akan berada di bawah. Dan akibat dari
pengendapan ini, akan terbentuk suatu lapisan magma yang nantinya akan menjadi tekstur
kumulat atau tekstur berlapis pada batuan beku.
2.Liquid Immisbility
Larutan magma yang memiliki suhu rendah akan pecah menjadi larutan yang masing-
masing akan membentuk suatu bahan yang heterogen.
3.Crystal Flotation
Pengembangan kristal ringan dari sodium dan potassium akan naik ke bagian atas
magma karena memiliki densitas yang lebih rendah dari larutan kemudian akan mengambang
dan membentuk lapisan pada bagian atas magma.
4.Vesiculation
Vesiculation merupakan suatu proses dimana magma yang mengandung komponen
seperti CO2, SO2, S2, Cl2, dan H2O sewaktu-waktu naik ke permukaan sebagai gelembung-
gelembung gas dan membawa komponen-komponen sodium (Na) dan potassium (K).
F.Asimilasi Magma
Proses ini dapat terjadi pada saat terdapat material asing dalam tubuh magma seperti
adanya batuan disekitar magma yang kemudian bercampur, meleleh dan bereaksi dengan
magma induk dan kemudian akan mengubah komposisi magma.
Dalam proses asimilasi, terkadang batuan-batuan yang ada di sekitar magma chamber
yang kemudian masuk ke dalam magma membeku sebagai
satu bentuk inklusi batuan yang disebut dengan xenolith. Namun bentukan inklusi ini juga
dapt terbentuk sebagai suatu inklusi kristal yang disebut dengan xenocrsyt .
G.Intrusi Magma dan Ekstrusi Magma
A.Intrusi Magma
Intrusi magma adalah peristiwa menyusupnya magma di antara lapisan batuan, tetapi
tidak mencapai permukaan Bumi. Intrusi magma dapat dibedakan atas sebagai berikut :
1. Intrusi datar (sill atau lempeng intrusi), yaitu magma menyusup di antara dua lapisan
batuan, mendatar, dan paralel dengan lapisan batuan tersebut.
2. Lakolit, yaitu magma yang menerobos di antara lapisan Bumi paling atas. Bentuknya
seperti lensa cembung atau kue serabi
3. Gang (korok), yaitu batuan hasil intrusi magma yang menyusup dan membeku di sela-
sela lipatan (korok).
4. Diatermis, yaitu lubang (pipa) di antara dapur magma dan kepundan gunung berapi.
Bentuknya seperti silinder memanjang.
B.Ekstrusi Magma
Ekstrusi magma adalah peristiwa penyusupan magma hingga keluar ke permukaan
Bumi dan membentuk gunung api. Hal ini terjadi apabila tekanan gas cukup kuat dan ada
retakan pada kulit Bumi sehingga menghasilkan letusan yang sangat dahsyat. Ekstrusi magma
inilah yang menyebabkan terjadinya gunung api.
Ekstrusi magma tidak hanya terjadi di daratan tetapi juga bisa terjadi di lautan. Oleh
karena itu gunung berapi bisa terjadi di dasar lautan. Secara umum ekstrusi magma dibagi
dalam tiga macam, yaitu:
1. Ekstrusi linear, terjadi jika magma keluar lewat celah-celah retakan atau patahan
memanjang sehingga membentuk deretan gunung berapi. Misalnya Gunung Api Laki
di Islandia, dan deretan gunung api di Jawa Tengah dan Jawa Timur.
2. Ekstrusi areal, terjadi apabila letak magma dekat dengan permukaan bumi, sehingga
magma keluar meleleh di beberapa tempat pada suatu areal tertentu. Misalnya Yellow
Stone National Park di Amerika Serikat yang luasnya mencapai 10.000 km2.
3. Ekstrusi sentral, terjadi magma keluar melalui sebuah lubang (saluran magma) dan
membentuk gunung-gunung yang terpisah. Misalnya Gunung Krakatau, Gunung
Vesucius, dan lain-lain.
H. Evolusi Magma
Magma pada perjalanannya dapat mengalami perubahan atau disebut dengan evolusi
magma. Proses perubahan ini menyebabkan magma berubah menjadi magma yang bersifat
lain oleh proses-proses sebagai berikut :
1. Hibridasi : proses pembentukan magma baru karena pencampuran 2 magma yang
berlainan jenis.
2. Sintetis : Pembentukan magma baru karena adanya proses asimmilasi dengan batuan
samping.
3. Anateksis : proses pembentukan magma dari peleburan batu-batuan pada kedalaman
yang sangat besar.
Dan dari proses-proses diatas, magma akan berubah sifatnya, dari yang awalnya
bersifat homogen pada akhirnya akan menjadi suatu tubuh batuan beku yang bervariasi.
I.Magma Mixing
Terjadi saat dua jenis magma yang berbeda bertemu dan kemudian bercampur
menjadi satu menghasilkan satu jenis magma lain yang homogen yang disebut dengan
magma turunan. Magma turunan ini biasanya bersifat pertengahan dari kedua jenis magma
yang bercampur. Sebagai contoh, magma andesitic dan dacitic kemungkinan adalah magma
intermediet yang terbentuk dari hasil pencampuran magma asam dan magma basa
Kedua jenis magma ini dpat bertemu apabila dalam suatu regional terdapat 2 magma
chamber yang memiliki potensi dan berjarak tidak jauh dan kemudian terjadi intrusi magma
berupa sill atau dike dari salah satu magma chamber lalu intrusi ini mencapai magma
chamber yang lain. Dari intrusi yang menerobos dan bertemu dengan magma chamber
inilah kemudian terjadi proses pencampuran 2 jenis magma yang berbeda menghasilkan satu
jenis magma baru yang bersifat tengahan dari 2 jenis magma yang bercampur tersebut.

Magma

  • 1.
    MAGMA Sebagian besar komponenpenyusun bumi di bawah kerak bumi adalah material pijar yang bersifat cair dan panas dengan komposisi utama adalah silikat. Semakin dalam, suhu dan tekanan semakin tinggi. Magma ini dapat berasal dari batuan setengah cair ataupun batuan yang sudah ada, baik di mantel ataupun kerak bumi. Umumnya, proses pelelehan dapat terjadi karena salah satu dari proses-proses berikut ini ; penurunan tekanan, kenaikan temperatur, atau perubahan komposisi. Lebih dari 700 tipe batuan beku telah berhasil dideskripsikan, dan sebagian besar batuan beku tersebut terbentuk di bawah permukaan kerak bumi. A. Pengertian Magma Berdasarkan keterangan dari para ahli seperti Bapak Turner dan Verhoogen tahun 1960, Bapak F.F Groun Tahun 1947, Bapak Takeda Tahun 1970, Magma didefinisikan atau diartikan sebagai cairan silikat kental pijar yang terbentuk secara alami, memiliki temperatur yang sangat tinggi yaitu antara 1.500 sampai dengan 2.500 derajat celcius serta memiliki sifat yang dapat bergerak dan terletak di kerak bumi bagian bawah. Dalam magma terdapat bahan-bahan yang terlarut di dalamnya yang bersifat volatile / gas (antara lain air, co2, chlorine, fluorine, iro, sulphur dan bahan lainnya) yang magma dapat bergerak, dan non- volatile / non gas yang merupakan pembentuk mineral yang umumnya terdapat pada batuan beku.
  • 2.
    Bunsen (1951, W.T. Huang, 1962) mempunyai pandapat bahwa ada dua jenis magma primer, yaitu basaltis dan granitis dan batuan beku merupakan hasil campuran dari dua magma ini yang kemudian mempunyai komposisi lain. Dally 1933, Winkler (Vide W. T. Huang 1962) berpendapat lain yaitu magma asli (primer) adalah bersifat basa yang selanjutnya akan mengalami proses diferensiasi menjadi magma yang bersifat lain. Adapun Hipotesis magma primer menurut Dally (1933) : 1. Magma yang terisolasi pada earth-shell, bersifat heterogen dan dapat dianggap mewarisi keadaan bumi semula. Kemudian adanya pengaruh tekanan relief yang memadai akan menghasilkan apa yang disebut liqua faction secara setempat dan berasal dari bahan habluran. Pencairan batuan dapat dipengaruhi oleh tenaga panas yang diakibatkan gesekan oleh akibat deformasi (deformation) & peluruhan mineral radio aktif. Surutnya gas secara setempat pun akan menyebabkan terpisahnya magma; pada umumnya magma jenis ini menggambarkan suatu lidah cair yang terperas ke atas dari asalnya yang jauh di daerah habluran di bawah permukaan bumi. 2. 2.Magma yang bersifat homogen, misalnya basalan habluran atau eglokit yang meleleh, perubahan basaltic durovitreous menjadi liqua vitreous akibat surutnya gas secara tempat, basalan yang tetap vitreous kecuali pada bagian upper shell di mana bahan telah menghablur, peridotit habluran dan karena pelelehan setempat akan mengakibatkan terjadinya cairan basalan, serta liqua vitreous peridotite 3. Magma primer tanpa spesifikasi awal, yaitu magma granitik dan magma basaltik. Magma adalah bahan induk batuan beku. Lava adalah magma yang keluar melalui lubang (kondoit) pada gunungapi. Kebanyakan magma membeku di bawah permukaan dan bahan yang terakhir saja yang dapat dilihat yaitu batuan beku. Magma diartikan sebagai bahan batuan yang melebur, mengandung fasa uap yang hilang sewatu magma membeku, dalam proses ini memainkan peranan yang penting dalam arah pembentukan hablur. Menurut Bunsen magma” primer” terdiri dari dua jenis yaitu granit dan basalt, dan batuan beku yang mengandung campuran batuan. Batuan beku yang terdapat di bumi ini kebanyakan boleh dimasukkan ke dalam dua jenis ini : granit dan basalt.
  • 3.
    B. Tempat munculnyamagma dan ekspresinya Di permukaan Bumi, magma muncul di tiga lokasi yaitu di daerah pemekaran lempeng, di jalur vokanik yang berasosiasi dengan zona penunjaman lempeng, dan di daerah hot spot yang muncul di lantai samudera. Magma yang muncul di zona pemekaran lempeng kerak Bumi berasal dari mantel dan membeku membentuk kerak samudera. Demikian pula magma yang muncul sebagai hot spot, berasal dari mantel. Hot spot ini di lantai samudera membentuk gunungapi atau pulau-pulau gunungapi di tengah samudera Karena lempeng samudera terus bergerak, maka terbentuk deretan pulau- pulau tengah samudera, seperti Rantai Pulau-pulau Hawai di Samudera Pasifik. Sementara itu, magma yang muncul di zona penunjaman berasal dari kerak samudera yang meleleh kembali ketika dia menunjam masuk kembali ke dalam mantel. Ketika berjalan naik ke permukaan Bumi, magma ini juga melelehkan sebagian batuan yang diterobosnya. Kemunculan magma ini membentuk deretan gunungapi. Di Indonesia, sebagai contoh, deretan gunungapi seperti ini memanjang mulai dari Sumatera, Jawa, Nusatenggara sampai ke Maluku. Di sekeliling Samudera Pasifik, deretan gunungapi ini membentuk apa yang dikenal sebagai Ring of fire.
  • 4.
    C.Komposisi Magma Karena suhumagma sangat tinggi dan keberadaannya sangat jauh di dalam Bumi, maka kita tidak dapat mengambil sampel magma dan kemudian mempelajarinya untuk mengetahui komposisinya. Oleh karena itu, untuk mengetahui komposisi magma dilakukan melalui pendekatan dengan mempelajari batuan beku yang berasal dari magma yang membeku. Pendekatan dengan menganalisa batuan beku masih kurang, karena belum dapat mengetahui komponen penyusun magma yang berupa gas. Karena gejala volkanisme adalah manifestasi dari kemunculan magma di permukaan Bumi, maka untuk mengetahui kandungan gas dalam magma dipelajari aktifitas vulkanisme. Dari uraian di atas maka, secara sederhana dapat kita katakan bahwa seluruh unsur kimia yang ada di Bumi, kecuali buatan, terdapat di dalam magma; hanya kelimpahan dari unsur-unsur tersebut yang berbeda. Komposisi kimia magma sangat kompleks. 99% dari magma tersusun oleh 10 unsur kimia, yaitu Silikon (Si), Titanium (Ti), Aluminium (Al), Besi (Fe), Magmesium (Mg), Kalsium (Ca), Natrium (Na), Kalium (K), Hidrogen (H), dan Oksigen (O). Dengan konvensi, komposisi kimia magma dinyatakan dalam persen berat (% berat). Dalam bentuk senyawa kimia, unsur-unsur tersebut dinyatakan dalam bentuk SiO2, TiO2, Al2O3, FeO, MgO, CaO, Na2O, K2O dan H2O. Tentang kelimpahannya, secara umum, SiO2 adalah yang paling banyak, menyusun lebih dari 50 % berat magma. Kemudian, Al2O3, FeO, MgO, CaO menyusun 44 % berat magma, dan sisanya Na2O, K2O, TiO2 dan H2O menyusun 6 % berat magma. Pada kenyataannya, kelimpahan unsur-unsur tersebut sangat bervariasi, tergantuk pada karakter komposisi magma. D.Tipe dan Sifat Magma Magma dapat dibedakan berdasarkan kandungan SiO2. Dikenal ada tiga tipe magma, yaitu: 1. Magma Basaltik (Basaltic magma) – SiO2 45-55 %berat; kandungan Fe dan Mg tinggi; kandungan K dan Na rendah. 2. Magma Andesitik (Andesitic magma) – SiO2 55-65 %berat, kandungan Fe, Mg, Ca, Na dan K menengah (intermediate). 3. Magma Riolitik (Rhyolitic magma) – SiO265-75 %berat, kandungan Fe, Mg dan Ca rendah; kandungan K dan Na tinggi
  • 5.
    Magma mengandung gas-gasterlarut. Gas-gas yang terlarut di dalam cairan magma itu akan lepas dan membentuk fase tersendiri ketika magma naik ke permukaan bumi. Analoginya sama seperti gas yang terlarut di dalam minuman ringan berkaborasi di dalam botol dengan tekanan tinggi. Ketika, tutup botol dibuka, tekanan turun dan gas terlepas membentuk fase tersendiri yang kita lihat dalam bentuk gelembung-gelembung gas. Juga sering kita lihat ketika pemberian meali bagi para pemenang balap kenderaan. Kepada mereka diberikan minuman di dalam botol dan kemudian mereka mengkocok-kocok botol tersebut sebelum membuka tutupnya. Kemudian, ketika tutup botol yang telah dikocok itu dibuka, maka tersemburlah isi botol tersebut keluar. Demikian pula halnya dengan magma ketika keluar dari dalam bumi. Kandungan gas di dalam magma ini akan mempengaruhi sifat erupsi dari magma bila keluar ke permukaan bumi. Viskositas adalah kekentalan atau kecenderungan untuk tidak mengalir. Cairan dengan viskositas tinggi akan lebih rendah kecenderungannya untuk mengalir daripada cairan dengan viskositas rendah. Demikian pula halnya dengan magma. Viskositas magma ditentukan oleh kandungan SiO2 dan temperatur magma. Makin tinggi kandungan SiO2 maka makin rendah viskositasnya atau makin kental. Sebaliknya, makin tinggi temperaturnya, makin rendah viskositasnya. Jadi, magma basaltik lebih mudah mengalir daripada magma andesitik atau riolitik. Demikian pula, magma andesitik lebih mudah mengalir daripada magma riolitik E.Diferensiasi Magma Diferensiasi magma adalah suatu tahapan pemisahan atau pengelompokan magma dimana material-material yang memiliki kesamaan sifat fisika maupun kimia akan mengelompok dan membentuk suatu kumpulan mineral tersendiri yang nantinya akan mengubah komposisi magma sesuai penggolongannya berdasarkan kandungan magma. Proses ini dipengaruhi banyak hal. Tekanan, suhu, kandungan gas serta komposisi kimia magma itu sendiri dan kehadiran pencampuran magma lain atau batuan lain juga mempengaruhi proses diferensiasi magma ini. Proses ini merupakan suatu proses pemisahan kristal-kristal dari larutan magma karena proses kristalisasi perjalan tidak seimbang atau kristal-kristal tersebut pada saat pendinginan tidak dapat mengubah perkembangan.
  • 6.
    Komposisi larutan magmayang baru ini terjadi sebagai akibat dari adanya perubahan temperatur dan tekanan yang mencolok serta tiba-tiba. Secara umum, proses diferensiasi magma terbagi menjadi : 1.Crystal Settling / gravitational settling Proses ini meliputi pengendapan kristal oleh gravitasi dari kristal-kristal berat yang mengandung unsur Ca, Mg, Fe yang akan memperluas magma pada bagian dasar magma chamber . Disini, mineral-mineral silikat berat akan berada di bawah. Dan akibat dari pengendapan ini, akan terbentuk suatu lapisan magma yang nantinya akan menjadi tekstur kumulat atau tekstur berlapis pada batuan beku. 2.Liquid Immisbility Larutan magma yang memiliki suhu rendah akan pecah menjadi larutan yang masing- masing akan membentuk suatu bahan yang heterogen. 3.Crystal Flotation Pengembangan kristal ringan dari sodium dan potassium akan naik ke bagian atas magma karena memiliki densitas yang lebih rendah dari larutan kemudian akan mengambang dan membentuk lapisan pada bagian atas magma.
  • 7.
    4.Vesiculation Vesiculation merupakan suatuproses dimana magma yang mengandung komponen seperti CO2, SO2, S2, Cl2, dan H2O sewaktu-waktu naik ke permukaan sebagai gelembung- gelembung gas dan membawa komponen-komponen sodium (Na) dan potassium (K). F.Asimilasi Magma Proses ini dapat terjadi pada saat terdapat material asing dalam tubuh magma seperti adanya batuan disekitar magma yang kemudian bercampur, meleleh dan bereaksi dengan magma induk dan kemudian akan mengubah komposisi magma. Dalam proses asimilasi, terkadang batuan-batuan yang ada di sekitar magma chamber yang kemudian masuk ke dalam magma membeku sebagai satu bentuk inklusi batuan yang disebut dengan xenolith. Namun bentukan inklusi ini juga dapt terbentuk sebagai suatu inklusi kristal yang disebut dengan xenocrsyt . G.Intrusi Magma dan Ekstrusi Magma A.Intrusi Magma Intrusi magma adalah peristiwa menyusupnya magma di antara lapisan batuan, tetapi tidak mencapai permukaan Bumi. Intrusi magma dapat dibedakan atas sebagai berikut : 1. Intrusi datar (sill atau lempeng intrusi), yaitu magma menyusup di antara dua lapisan batuan, mendatar, dan paralel dengan lapisan batuan tersebut.
  • 8.
    2. Lakolit, yaitumagma yang menerobos di antara lapisan Bumi paling atas. Bentuknya seperti lensa cembung atau kue serabi 3. Gang (korok), yaitu batuan hasil intrusi magma yang menyusup dan membeku di sela- sela lipatan (korok). 4. Diatermis, yaitu lubang (pipa) di antara dapur magma dan kepundan gunung berapi. Bentuknya seperti silinder memanjang. B.Ekstrusi Magma Ekstrusi magma adalah peristiwa penyusupan magma hingga keluar ke permukaan Bumi dan membentuk gunung api. Hal ini terjadi apabila tekanan gas cukup kuat dan ada retakan pada kulit Bumi sehingga menghasilkan letusan yang sangat dahsyat. Ekstrusi magma inilah yang menyebabkan terjadinya gunung api. Ekstrusi magma tidak hanya terjadi di daratan tetapi juga bisa terjadi di lautan. Oleh karena itu gunung berapi bisa terjadi di dasar lautan. Secara umum ekstrusi magma dibagi dalam tiga macam, yaitu:
  • 9.
    1. Ekstrusi linear,terjadi jika magma keluar lewat celah-celah retakan atau patahan memanjang sehingga membentuk deretan gunung berapi. Misalnya Gunung Api Laki di Islandia, dan deretan gunung api di Jawa Tengah dan Jawa Timur. 2. Ekstrusi areal, terjadi apabila letak magma dekat dengan permukaan bumi, sehingga magma keluar meleleh di beberapa tempat pada suatu areal tertentu. Misalnya Yellow Stone National Park di Amerika Serikat yang luasnya mencapai 10.000 km2. 3. Ekstrusi sentral, terjadi magma keluar melalui sebuah lubang (saluran magma) dan membentuk gunung-gunung yang terpisah. Misalnya Gunung Krakatau, Gunung Vesucius, dan lain-lain. H. Evolusi Magma Magma pada perjalanannya dapat mengalami perubahan atau disebut dengan evolusi magma. Proses perubahan ini menyebabkan magma berubah menjadi magma yang bersifat lain oleh proses-proses sebagai berikut : 1. Hibridasi : proses pembentukan magma baru karena pencampuran 2 magma yang berlainan jenis. 2. Sintetis : Pembentukan magma baru karena adanya proses asimmilasi dengan batuan samping. 3. Anateksis : proses pembentukan magma dari peleburan batu-batuan pada kedalaman yang sangat besar. Dan dari proses-proses diatas, magma akan berubah sifatnya, dari yang awalnya bersifat homogen pada akhirnya akan menjadi suatu tubuh batuan beku yang bervariasi. I.Magma Mixing Terjadi saat dua jenis magma yang berbeda bertemu dan kemudian bercampur menjadi satu menghasilkan satu jenis magma lain yang homogen yang disebut dengan magma turunan. Magma turunan ini biasanya bersifat pertengahan dari kedua jenis magma yang bercampur. Sebagai contoh, magma andesitic dan dacitic kemungkinan adalah magma intermediet yang terbentuk dari hasil pencampuran magma asam dan magma basa Kedua jenis magma ini dpat bertemu apabila dalam suatu regional terdapat 2 magma chamber yang memiliki potensi dan berjarak tidak jauh dan kemudian terjadi intrusi magma berupa sill atau dike dari salah satu magma chamber lalu intrusi ini mencapai magma
  • 10.
    chamber yang lain.Dari intrusi yang menerobos dan bertemu dengan magma chamber inilah kemudian terjadi proses pencampuran 2 jenis magma yang berbeda menghasilkan satu jenis magma baru yang bersifat tengahan dari 2 jenis magma yang bercampur tersebut.