Pembimbing: dr. Mario, Sp.PD
Presentan:
Keyne Christa Monintja (2013-062-111)
Lydia Agustina (2014-061-008)
IDENTITAS PASIEN
Nama Tn. A
Usia 26 tahun
Jenis kelamin Pria
Alamat Tambora
Pekerjaan Supir
Agama Islam
Suku Bangsa 30-10-15
Tanggal Masuk 30-10-2015
Tanggal Periksa 30-10-2015
Anamnesa
• Sesak sejak 1 bulan yang
memberat sejak 4 hari
SMRS
Keluhan
Utama
• Batuk sejak 2 bulan SMRS
• Demam sejak 2 bulan
SMRS
Keluhan
tambahan
Riwayat Penyakit Sekarang
 Sesak sejak 1 bulan SMRS
 Dirasakan setiap hari sepanjang hari setiap menarik
napas
 Tidak dipengaruhi perubahan posisi, tidak
membangunkan pasien di malam hari, tidak memberat
saat beraktivitas
 Tidak disertai mengi
 Sesak baru pertama kali dirasakan
 Sesak semakin berat dengan puncaknya 4 hari SMRS 
pasien ke IGD
 Sesak disertai keluhan batuk dan demam sejak 2 bulan
SMRS
 Batuk berdahak kuning, hijau. Darah –
 Batuk sepanjang hari
 Tidak disertai pilek
 Demam dirasakan sepanjang hari, hilang timbul, suhu
tidak pernah diukur
 Pasien mengaku terdapat keringat pada malam hari.
 Pasien mengalami penurunan berat badan sebanyak ±10 kg
dalam 2 bulan tanpa disertai nafsu makan menurun.
 Pasien tidak merasakan nyeri dada
 Tidak ada riwayat tersedak atau trauma
 Pasien tidak merasakan adanya benjolan di bagian tubuh.
 Tidak terdapat gangguan BAB dan BAK.
 Tidak terdapat keluhan pada kulit, mata, perut maupun
gangguan berjalan dan bengkak pada sendi.
Riwayat penyakit dahulu
 Pasien tidak memiliki riwayat sesak dan batuk lama
sebelumnya.
 Riwayat TB disangkal.
 Riwayat asma disangkal.
Riwayat keluarga
 Pasien mengatakan memiliki saudara yang menderita
sakit TB yang sering berkunjung ke rumah pasien.
 Keluarga lain tidak memiliki riwayat penyakit serupa.
 Tidak ada riwayat keganasan dalam keluarga.
Riwayat lingkungan
 Pasien tinggal di wilayah lingkungan yang padat dan
kumuh, ventilasi rumah kurang baik
Riwayat kebiasaan
 Pasien memiliki riwayat merokok selama 10 tahun
sebanyak 1 bungkus rokok sehari.
 Pasien menyangkal riwayat menggunakan NAPZA
Pemeriksaan fisik
 Keadaan umum: tampak
sakit sedang
 Kesadaran: compos
mentis
 Tanda vital
 TD: 120/90 mmHg
 HR: 106x/menit
 RR: 40x/menit
 S: 37,6oC
 SaO2 tanpa O2 = 80%,
SaO2 dengan O2 = 96%
 Status gizi:
 LLA = 16 cm
 BB berdasarkan LLA =
32kg
 TB = 155 cm
 IMT= 13,3 kg/m2
 Kepala: normocephali, deformitas –
 Mata: konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/-, pupil
isokor, refleks cahaya langsung dan tak langsung +/+
 Hidung: deformitas -, deviasi septum -, sekret -/-,
hiperemis konkha -/-
 Mulut: mukosa oral basah
 Leher: KGB tidak teraba, JVP 5+2 cm H2O
 Paru
 I: gerakan napas simetri kiri dan kanan, retraksi
substernal dan intercostal
 P: fremitus taktil meningkat di daerah apex
 P: sonor +/+, lebih redup di daerah apex dan basal,
BPH ICS V
 A: vesikular +/+, bronkovesikular di daerah apex,
rhonki basah kasar +/+ di apex dan basal bilateral,
wheezing -/-
 Jantung:
 I: ictus cordis tidak terlihat
 P: ictus cordis tidak teraba
 P: kesan kardiomegali –
 Batas atas: Linea parasternal ICS III sinistra
 Batas kanan: Linea sternalis dekstra ICS V
 Batas kiri: Linea midklavikularis ICS V sinistra
 A: bunyi jantung 1,2 regular, gallop -, murmur -
 Abdomen:
 I: perut tampak datar
 P: supel, nyeri tekan -, hepatomegali -, splenomegali –
 P: timpani
 A: Bising usus + 11x/menit
 Ekstremitas: akral hangat, CRT <2 detik, edema -/-
Pemeriksaan Lab (1)
Pemeriksaan Hasil Satuan
Hemoglobin 12 g/dL
Hematokrit 37 %
Leukosit 9.9 Ribu/ µL
Trombosit 355 Ribu/ µL
Laju Endap Darah 28 mm/jam
Hitung jenis
Basofil 0 %
Eosinofil 0 %
Batang 2 %
Segmen 68 %
Limfosit 25 %
Monosit 5 %
Pemeriksaan Lab (2)
Fungsi Hepar
SGOT(AST) 146 IU/L
SGPT (ALT) 77 IU/L
Fungsi Ginjal
Ureum darah 29 mg/dL
Kreatinin darah 0,4 mg/dL
Elektrolit
Natrium 127 mmol/L
Kalium 4.12 mmol/L
Kalsium 1,07 mmol/L
Klorida 98 mmol/L
Pemeriksaan Lab (3)
Karbohidrat
Glukosa Sewaktu 103 mg/dL
Anti HIV
Reagent I (-)
Reagent II (-)
BTA belum diperiksa karena pasien sulit mengeluarkan
dahak
Foto Thorax
Tampak infiltrat milier di
kedua lapang paru
Kesimpulan:
Sesuai gambaran TB
milier
Resume
Seorang pria 26 tahun dengan dispneu sejak 1 bulan
SMRS yang memberat 4 hari SMRS, sebelumnya
didahului tussis dan febris 2 bulan SMRS. Pasien juga
mengalami penurunan berat badan dan keringat di
malam hari. Orthopneu, PND, disangkal. Wheezing
disangkal. Gejala komplikasi TB di tempat lain,
disangkal. Riwayat kontak dengan penderita TB (+).
Pada pemeriksaan, pasien severe underweight dan
didapatkan paru konsolidasi karena radang.
Foto thoraks menunjukkan gambaran TB milier.
Diagnosis
 TB paru miliar kasus baru dengan community acquired
pneumonia
 Malnutrisi
Tatalaksana
 Rawat dalam bangsal TB
 O2 5 lpm via simple mask
 Diet 1700 kkal, protein 1,5 g/kg/hari
 IVFD NS 1.500cc/24 jam
 Levofloxacin 1x750 mg IV
 OAT RHZE 300/450/1000/750
 Pemeriksaan BTA apabila dahak ada
PROGNOSIS
 Quo ad vitam : dubia ad malam
 Quo ad functionam : dubia ad malam
 Quo ad sanactionam : dubia ad malam
Sesak
Jantung
Orthopnea,
PND, dyspnea
d’ effort
Paru
Gejala
respiratori
Metabolik
Gangguan
asam basa
Gejala kronis Sugestif
TB paru
• Batuk >2 minggu
• Sesak napas
• Demam
• Keringat malam hari
• Penurunan BB
Gejala akut  sugestif
pneumonia
• Demam
• Batuk
• Sesak hebat dengan takipnea
• Belum pernah OAT
• Sudah pernah OAT tapi < 1 bulan (30
dosis harian)
Kasus Baru
• Sebelumnya mendapat OAT 
dinyatakan sembuh  kembali dengan
BTA (+)
Kasus Relaps
• Mendapat pengobatan di suatu tempat 
pindah dan membawa surat rujukan
Kasus
Pindahan
• Sudah OAT 1 bulan, berhenti ≥2 minggu
 kembali dengan BTA (+)
Kasus Lalai
Berobat
• BTA tetap (+) atau menjadi (+) kembali
setelah OAT 5 bulan (1 bulan sebelum
akhir pengobatan)
Kasus Gagal
• BTA (+) setelah selesai pengobatan ulang
kategori 2 dengan pengawasan yang baik
Kasus
Kronik
• Dahak (-) dan radiologik terdapat lesi TB inaktif
(serital  tetap) + riwayat OAT adekuat
• Radiologik terdapat TB aktif  2 bulan  tidak
berubah
Kasus Bekas
TB
Paru
I: gerakan napas simetri kiri dan kanan, retraksi
substernal dan intercostal
P: fremitus taktil meningkat di daerah apex
P: sonor +/+, lebih redup di daerah apex dan
basal, BPH ICS V
A: vesikular +/+, bronkovesikular di daerah apex,
rhonki basah kasar +/+ di apex dan basal
bilateral, wheezing -/-
Bayangan berawan / nodular di segmen
apikal dan posterior lobus atas paru dan
segmen superior lobus bawah
Kaviti, terutama lebih dari satu,
dikelilingi oleh bayangan opak berawan
atau nodular
Bayangan bercak milier
Efusi pleura
Curiga lesi TB aktif
Indikasi
Rawat
Keadaan
umum
buruk
Sesak napas
berat
Batuk darah
(profus)
Pneumotoraks
Empiema
Efusi pleura
masif /
bilateral
The 2 major criteria are
absolute indications for
admission
to an ICU.
26
RR=
40x/men
Total score = 46
Total score = 1
Terapi antibiotik pada
pasien:
Levofloxacin 1x750 mg IV

Presentasi kasus TB dan pneumonia

  • 1.
    Pembimbing: dr. Mario,Sp.PD Presentan: Keyne Christa Monintja (2013-062-111) Lydia Agustina (2014-061-008)
  • 2.
    IDENTITAS PASIEN Nama Tn.A Usia 26 tahun Jenis kelamin Pria Alamat Tambora Pekerjaan Supir Agama Islam Suku Bangsa 30-10-15 Tanggal Masuk 30-10-2015 Tanggal Periksa 30-10-2015
  • 3.
    Anamnesa • Sesak sejak1 bulan yang memberat sejak 4 hari SMRS Keluhan Utama • Batuk sejak 2 bulan SMRS • Demam sejak 2 bulan SMRS Keluhan tambahan
  • 4.
    Riwayat Penyakit Sekarang Sesak sejak 1 bulan SMRS  Dirasakan setiap hari sepanjang hari setiap menarik napas  Tidak dipengaruhi perubahan posisi, tidak membangunkan pasien di malam hari, tidak memberat saat beraktivitas  Tidak disertai mengi  Sesak baru pertama kali dirasakan  Sesak semakin berat dengan puncaknya 4 hari SMRS  pasien ke IGD
  • 5.
     Sesak disertaikeluhan batuk dan demam sejak 2 bulan SMRS  Batuk berdahak kuning, hijau. Darah –  Batuk sepanjang hari  Tidak disertai pilek  Demam dirasakan sepanjang hari, hilang timbul, suhu tidak pernah diukur
  • 6.
     Pasien mengakuterdapat keringat pada malam hari.  Pasien mengalami penurunan berat badan sebanyak ±10 kg dalam 2 bulan tanpa disertai nafsu makan menurun.  Pasien tidak merasakan nyeri dada  Tidak ada riwayat tersedak atau trauma  Pasien tidak merasakan adanya benjolan di bagian tubuh.  Tidak terdapat gangguan BAB dan BAK.  Tidak terdapat keluhan pada kulit, mata, perut maupun gangguan berjalan dan bengkak pada sendi.
  • 7.
    Riwayat penyakit dahulu Pasien tidak memiliki riwayat sesak dan batuk lama sebelumnya.  Riwayat TB disangkal.  Riwayat asma disangkal.
  • 8.
    Riwayat keluarga  Pasienmengatakan memiliki saudara yang menderita sakit TB yang sering berkunjung ke rumah pasien.  Keluarga lain tidak memiliki riwayat penyakit serupa.  Tidak ada riwayat keganasan dalam keluarga.
  • 9.
    Riwayat lingkungan  Pasientinggal di wilayah lingkungan yang padat dan kumuh, ventilasi rumah kurang baik Riwayat kebiasaan  Pasien memiliki riwayat merokok selama 10 tahun sebanyak 1 bungkus rokok sehari.  Pasien menyangkal riwayat menggunakan NAPZA
  • 10.
    Pemeriksaan fisik  Keadaanumum: tampak sakit sedang  Kesadaran: compos mentis  Tanda vital  TD: 120/90 mmHg  HR: 106x/menit  RR: 40x/menit  S: 37,6oC  SaO2 tanpa O2 = 80%, SaO2 dengan O2 = 96%  Status gizi:  LLA = 16 cm  BB berdasarkan LLA = 32kg  TB = 155 cm  IMT= 13,3 kg/m2
  • 11.
     Kepala: normocephali,deformitas –  Mata: konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/-, pupil isokor, refleks cahaya langsung dan tak langsung +/+  Hidung: deformitas -, deviasi septum -, sekret -/-, hiperemis konkha -/-  Mulut: mukosa oral basah  Leher: KGB tidak teraba, JVP 5+2 cm H2O
  • 12.
     Paru  I:gerakan napas simetri kiri dan kanan, retraksi substernal dan intercostal  P: fremitus taktil meningkat di daerah apex  P: sonor +/+, lebih redup di daerah apex dan basal, BPH ICS V  A: vesikular +/+, bronkovesikular di daerah apex, rhonki basah kasar +/+ di apex dan basal bilateral, wheezing -/-
  • 13.
     Jantung:  I:ictus cordis tidak terlihat  P: ictus cordis tidak teraba  P: kesan kardiomegali –  Batas atas: Linea parasternal ICS III sinistra  Batas kanan: Linea sternalis dekstra ICS V  Batas kiri: Linea midklavikularis ICS V sinistra  A: bunyi jantung 1,2 regular, gallop -, murmur -
  • 14.
     Abdomen:  I:perut tampak datar  P: supel, nyeri tekan -, hepatomegali -, splenomegali –  P: timpani  A: Bising usus + 11x/menit  Ekstremitas: akral hangat, CRT <2 detik, edema -/-
  • 15.
    Pemeriksaan Lab (1) PemeriksaanHasil Satuan Hemoglobin 12 g/dL Hematokrit 37 % Leukosit 9.9 Ribu/ µL Trombosit 355 Ribu/ µL Laju Endap Darah 28 mm/jam Hitung jenis Basofil 0 % Eosinofil 0 % Batang 2 % Segmen 68 % Limfosit 25 % Monosit 5 %
  • 16.
    Pemeriksaan Lab (2) FungsiHepar SGOT(AST) 146 IU/L SGPT (ALT) 77 IU/L Fungsi Ginjal Ureum darah 29 mg/dL Kreatinin darah 0,4 mg/dL Elektrolit Natrium 127 mmol/L Kalium 4.12 mmol/L Kalsium 1,07 mmol/L Klorida 98 mmol/L
  • 17.
    Pemeriksaan Lab (3) Karbohidrat GlukosaSewaktu 103 mg/dL Anti HIV Reagent I (-) Reagent II (-) BTA belum diperiksa karena pasien sulit mengeluarkan dahak
  • 18.
    Foto Thorax Tampak infiltratmilier di kedua lapang paru Kesimpulan: Sesuai gambaran TB milier
  • 19.
    Resume Seorang pria 26tahun dengan dispneu sejak 1 bulan SMRS yang memberat 4 hari SMRS, sebelumnya didahului tussis dan febris 2 bulan SMRS. Pasien juga mengalami penurunan berat badan dan keringat di malam hari. Orthopneu, PND, disangkal. Wheezing disangkal. Gejala komplikasi TB di tempat lain, disangkal. Riwayat kontak dengan penderita TB (+). Pada pemeriksaan, pasien severe underweight dan didapatkan paru konsolidasi karena radang. Foto thoraks menunjukkan gambaran TB milier.
  • 20.
    Diagnosis  TB parumiliar kasus baru dengan community acquired pneumonia  Malnutrisi
  • 21.
    Tatalaksana  Rawat dalambangsal TB  O2 5 lpm via simple mask  Diet 1700 kkal, protein 1,5 g/kg/hari  IVFD NS 1.500cc/24 jam  Levofloxacin 1x750 mg IV  OAT RHZE 300/450/1000/750  Pemeriksaan BTA apabila dahak ada
  • 22.
    PROGNOSIS  Quo advitam : dubia ad malam  Quo ad functionam : dubia ad malam  Quo ad sanactionam : dubia ad malam
  • 24.
  • 25.
    Gejala kronis Sugestif TBparu • Batuk >2 minggu • Sesak napas • Demam • Keringat malam hari • Penurunan BB Gejala akut  sugestif pneumonia • Demam • Batuk • Sesak hebat dengan takipnea
  • 26.
    • Belum pernahOAT • Sudah pernah OAT tapi < 1 bulan (30 dosis harian) Kasus Baru • Sebelumnya mendapat OAT  dinyatakan sembuh  kembali dengan BTA (+) Kasus Relaps • Mendapat pengobatan di suatu tempat  pindah dan membawa surat rujukan Kasus Pindahan • Sudah OAT 1 bulan, berhenti ≥2 minggu  kembali dengan BTA (+) Kasus Lalai Berobat
  • 27.
    • BTA tetap(+) atau menjadi (+) kembali setelah OAT 5 bulan (1 bulan sebelum akhir pengobatan) Kasus Gagal • BTA (+) setelah selesai pengobatan ulang kategori 2 dengan pengawasan yang baik Kasus Kronik • Dahak (-) dan radiologik terdapat lesi TB inaktif (serital  tetap) + riwayat OAT adekuat • Radiologik terdapat TB aktif  2 bulan  tidak berubah Kasus Bekas TB
  • 29.
    Paru I: gerakan napassimetri kiri dan kanan, retraksi substernal dan intercostal P: fremitus taktil meningkat di daerah apex P: sonor +/+, lebih redup di daerah apex dan basal, BPH ICS V A: vesikular +/+, bronkovesikular di daerah apex, rhonki basah kasar +/+ di apex dan basal bilateral, wheezing -/-
  • 30.
    Bayangan berawan /nodular di segmen apikal dan posterior lobus atas paru dan segmen superior lobus bawah Kaviti, terutama lebih dari satu, dikelilingi oleh bayangan opak berawan atau nodular Bayangan bercak milier Efusi pleura Curiga lesi TB aktif
  • 31.
  • 33.
    The 2 majorcriteria are absolute indications for admission to an ICU.
  • 34.
  • 35.
  • 36.