Askep
Gastroenterintis
KELOMPOK 16
Tilawati Solekha (7312034)
Herman Melazi (7312037)
Gastroenteritis ialah keadaan frekuensi buang air besar
lebih dari 4 kali pada bayi dan lebih dari 3 kali pada anak
dengan konsistensi feses encer, dapat berwarna hijau atau
dapat bercampur lendir dan darah (Ngastiyah, 1997).
Gastroenteritis merupakan suatu peradangan yang biasanya
disebabkan baik oleh virus maupun bakteri pada traktus
intestinal (Guyton & Hall, 2006).
Pengertian
Klasifikasi
Diare cair akut
Diare yang berlangsung kurang dari 14 hari (umumnya
kurang dari 7 hari)
Pengeluaran tinja yang lunak atau cair yang sering dan tanpa
darah, mungkin disertai muntah dan panas.
Akibat diare akut adalah dehidrasi, sedangkan dehidrasi
merupakan penyebab utama kematian bagi penderita diare.
Disentri
 Diare yang disertai darah dengan atau tanpa lendir
dalam tinjanya.
 Akibat disentri adalah anoreksia, penurunan berat
badan dengan cepat, kerusakan mukosa usus karena
bakteri invasif.
Continue. . .
Diare persisten
 Diare yang mula-mula bersifat akut namun
berlangsung lebih dari 14 hari.
 Episode ini dapat dimulai sebagai diare cair atau
disentri.
 Akibat diare persisten adalah penurunan berat
badan dan gangguan metabolisme.
Diare dengan masalah lain
 Anak yang menderita diare (diare akut dan persisten)
mungkin juga disertai dengan penyakit lain seperti
demam, gangguan gizi, atau penyakit lainnya.
Tatalaksana penderita diare ini berdasarkan acuan
baku diare dan tergantung juga pada penyakit yang
menyertainya.
Etiologi
1. Faktor infeksi
 Infeksi enteral : infeksi
bakteri, infeksi virus,
infeksi parasit,
protozoa, jamur
 Infeksi parenteral :
infeksi diluar alat
pencernaan makanan
seperti otitis media akut
(OMA)
tonsilitis/tonsilofaringits
, bronkopeneumonia,
ensefalitis.
3. Faktor makanan
Makanan yang
menyebabkan diare
adalah makanan
yang tercemar,
basi, beracun,
terlalu banyak
lemak, mentah
(misal, sayuran),
dan kurang
matang.
4. Faktor Psikologis
Misal : rasa takut,
cemas dan stres
(jarang, tetapi dapat
terjadi pada anak yang
lebih besar).
Continue!!
Patogenesis
Mekanisme dasar yang menyebabkan
timbulnya diare:
1.Gangguan osmotik
Makanan/zat yang tidak dapat diserap →
tekanan osmotik dalam rongga usus ↑ →
pergeseran air dan elektrolit ke dalam
rongga usus.
Isi rongga usus yang berlebihan →
merangsang usus untuk mengeluarkannya
→ diare osmotik
2. Gangguan sekresi
Rangsangan tertentu (toksin) pada dinding
usus → peningkatan sekresi air dan
elektrolit ke dalam rongga usus → diare
sekretorik timbul karena terdapat
peningkatan isi rongga usus
3. Gangguan motilitas usus
Hiperperistaltik → berkurangnya
kesempatan usus untuk menyerap makanan
→ diare.
Bila peristaltik usus menurun → bakteri
tumbuh berlebihan → diare
Patogenesis Diare
Masuknya jasad renik yang masih hidup
kedalam usus halus setelah berhasil
melewati rintangan asam lambung
⇓
Jasad renik tersebut berkembang biak
(multiplikasi) di dalam usus halus
⇓
Oleh jasad renik dikeluarkan toksin (toksin
diaregenik)
⇓
⇓
Diare akut
⇓
Bila diare melanjut sampai
2 minggu/lebih, kehilangan BB atau tidak
bertambah selama masa tersebut
⇓
Diare kronik
⇓
Bila diarenya menetap dalam 2 minggu/lebih dan
disertai gangguan pertumbuhan
⇓
Diare persisten
Perbaikan
Mukosa
yang
terlambat
Melanjutnya
Kerusakan
Mukosa
Patofisiologi
PNP
Manifestasi
Klinik
 Cengeng, gelisah, suhu tubuh ↑
 Nafsu makan biasanya tidak ada
→ timbul diare
 Tinja cair mungkin disertai lendir dan atau darah
 Warna tinja → kehijau-hijauan (tercampur empedu)
 Anus dan daerah sekitarnya lecet (sering defekasi)
 Muntah (sebelum/sesudah diare) → lambung
meradang atau ketidakseimbangan asam basa dan
elektrolit
 Kehilangan banyak cairan dan elektrolit →
dehidrasi (berat badan ↓, turgor kulit berkurang,
mata dan ubun-ubun besar cekung, selaput lendir
bibir dan mulut serta kulit tampak kering).
Komplikasi
 Dehidrasi (Ringan, sedang, berat, hipotonik,
isotonik atau hipertonik)
 Renjatan hipovolemik
 Hipokalemia (meteorismus, hipotoni,
bradikardia, perubahan EKG)
 Hipoglikemia
 Intoleransi laktosa sekunder → defisiensi
enzim laktase
 Kejang
 MEP
Pemeriksaan diagnostik
1. Pemeriksaan Tinja
 Makroskopis dan mikroskopis.
 pH dan kadar gula dalam tinja dengan kertas lakmus dan
tablet dinistest, bila diduga terdapat intoleransi gula.
 Bila diperlukan, lakukan pemeriksaan biakan dan uji
resistensi.
2. Pemeriksaan Darah
 pH darah dan cadangan dikali dan elektrolit ( Natrium,
Kalium, Kalsium, dan Fosfor ) dalam serum untuk
menentukan keseimbangan asama basa.
 Kadar ureum dan kreatmin untuk mengetahui faal ginjal.
3. Intubasi Duodenum ( Doudenal Intubation )
4. Riwayat alergi pada obat-obatan
Penatalaksanaan GE
Penilaian derajat dehidrasiPenilaian derajat dehidrasi
Tanda Dehidrasi
Pemberian cairan pada diarePemberian cairan pada diare
dehidrasi murnidehidrasi murni
1. Jenis Cairan
a. Cairan rehidrasi oral
Formula lengkap, mengandung NaCl,
NaHCO3, KCl, dan Glukosa
Formula sederhana, hanya mengandung
NaCl dan sukrosa atau karbohidrat lain.
b. Cairan parenteral
2. Jalan pemberian cairan
Peroral untuk dehidrasi ringan, sedang dan tanpa
dehidrasi dan bila anak mau minum serta
kesadaran baik.
Intragastrik untuk dehidrasi ringan, sedang atau
tanpa dehidrasi, tetapi anak tidak mau minum, atau
kesadaran menurun.
Intravena untuk dehidrasi berat.
3. Jumlah cairan
Jumlah cairan yang hilang didasarkan pada berat
badan dan usia anak.
Tatalaksana/ PengobatanTatalaksana/ Pengobatan
Tanpa Dehidrasi Ringan Sedang Berat
1. Cairan rumah
tangga (seperti air
tajin, air teh
manis, dsb)
sepuasnya dengan
perkiraan 40 ml/kg
BB/ setiap kali
BAB
2. ASI
3. oralit diberikan
tiap bab atau
muntah dengan
dosis :
 < 1 tahun : 50-100
cc
 1-5 tahun : 100-
200 cc
 > 5 tahun :
semaunya
 ( 5% ) : 50 ml/kg ( 4
– 6 jam pada bayi )
 ( 3% ) : 30 ml/kg ( 4
– 6 jam pada anak
besar )
 Beri cairan oralit
30 ml / kg BB
dalam 3 jam
pertama,
selanjutnya 10 ml /
kg BB atau
sepuasnya setiap
kali BAB
 Bisa peroral, NGT,
parenteral.
 ( 5 – 10% ) : 50 –
100 ml /kg ( 4 – 6
jam pad bayi )
 ( 6% ) : 60
ml/kg ( 4 – 6 jam
pada anak besar )
 Beri cairan oralit
100 ml / kg BB
dalam 3 jam
pertama,
selanjutnya 10 ml /
kg BB atau
sepuasnya setiap
kali BAB
 Bisa peroral, NGT,
parenteral.
1. rehidrasi
parenteral
dengan cairan RL
atau ringer asetat
100 cc/kgBB :
 < 1 tahun : 30
cc/kgBB dalam 1
jam I, 70 cc/kgBB
dalam 5 jam
 > 1 tahun : 30
cc/kgBB dalam ½
jam I, 70 cc/kgBB
dalam 2½ jam
Penatalaksanaan lainnyaPenatalaksanaan lainnya
1. Asupan Makanan
intake nutrsi dipertahankan, untuk meningkatkan daya
tahan tubuh, bila pasien anak-anak dipertahankan ASI,
Susu formula (bila tidak alergi), susu khusus bila ada
indikasi tertentu, makanan pendamping ASI
dipertahankan
2. Obat – obatan
Prinsip pengobatan diare adalah menggantikan cairan
yang hilang melalui tinja dengan atau tanpa muntah,
dengan cairan yang mengandung elektrolit dan glukosa
atau karbohidrat lain (gula, air tajin, tepung beras, dll)
1. Obat anti sekresi
Asetosal
Dosis : 25 mg/tahun dengan dosis minimum 30
mg.
Klorpromazin
Dosis : 0,5-1 mg/kgBB/hari
2. Obat anti spasmolitik
Papaverine, ekstrak beladona, Opium,
Loperamide  tidak untuk diare akut.
Obat-obatan
3. Obat pengeras tinja
Kaolin, pektin, charcoal, tabonal  tidak ada
manfaatnya untuk mengatasi diare.
4. Antibiotika
Tidak diperlukan kecuali :
Kolera, diberikan tetrasiklin 25-50 mg/kgBB/hari.
Campylobacter, diberikan eritromisin 40-50
mg/kgBB/hari.
Lanjutan!!
ASUHAN
KEPERAWATAN
Pengkajian
BB/TB (status nutrisi)
TTV (Nadi Meningkat > 120
menunjukkan tanda-tanda syok
hipovolemik)
Tanda- tanda dehidrasi ( ubun-ubun
cekung, turgor kulit jelek, bibir kering,
lemah, kejang-kejang)
Pemeriksaan fisik
1. Kekurangan volume cairan tubuh b/d output
berlebih
2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan
tubuh b/d mual, muntah dan intake tidak
adekuat.
3. Gangguan rasa nyaman b/d hipertermi.
4. Kerusakan integritas kulit b/d iritasi rectal
karena diare.
5. Resiko infeksi b/d peningkatan paparan
lingkungan terhadap patogen.
DIAGNOSA KEPERAWATAN
Kekurangan volume cairan tubuh
berhubungan dengan output berlebih.
Tujuan :
Setelah dilakukan asuhan
keperawatan diharapkan
kekurangan volume cairan
elektrolit dapat terpenuhi.
Kriteria Hasil :
- Input dan output cairan
elektrolit seimbang.
- Menunjukkan membran
mukosa lembab dan turgor
jaringan normal.
Intervensi :
1. Anjurkan ibu untuk tetap
memberikan ASI.
2. Anjurkan orangtua untuk
memberikan oralit sedikit-sedikit
tapi sering.
3. Ajarkan orang tua cara membuat
LGG (Larutan Gula Garam).
4. Kolaborasi dengan tim medis
untuk memasang infus kristaloid
(RL).
5. Monitor tetesan infus/jam.
6. Anjurkan banyak minum air
putih.
Evaluasi
1. Kebutuhan volume cairan klien kembali normal.
2. Klien tidak mengalami tanda-tanda malnutrisi.
3. Klien tidak merasa hipertermi.
4. Klien mendapatkan perawatan yang sesuai dengan
umur anak dan porsi prosedur yang dibutuhkan.
5. Klien tidak mengalami komplikasi atas perawatan
yang telah dilakukan.
6. Klien mengalami kesembuhan yang progresif.
7. Klien dapat kembali beraktivitas, tumbuh dan
berkembang sesuai dengan umurnya.
sekian

Ppt gastroenterintis

  • 1.
    Askep Gastroenterintis KELOMPOK 16 Tilawati Solekha(7312034) Herman Melazi (7312037)
  • 2.
    Gastroenteritis ialah keadaanfrekuensi buang air besar lebih dari 4 kali pada bayi dan lebih dari 3 kali pada anak dengan konsistensi feses encer, dapat berwarna hijau atau dapat bercampur lendir dan darah (Ngastiyah, 1997). Gastroenteritis merupakan suatu peradangan yang biasanya disebabkan baik oleh virus maupun bakteri pada traktus intestinal (Guyton & Hall, 2006). Pengertian
  • 3.
    Klasifikasi Diare cair akut Diareyang berlangsung kurang dari 14 hari (umumnya kurang dari 7 hari) Pengeluaran tinja yang lunak atau cair yang sering dan tanpa darah, mungkin disertai muntah dan panas. Akibat diare akut adalah dehidrasi, sedangkan dehidrasi merupakan penyebab utama kematian bagi penderita diare. Disentri  Diare yang disertai darah dengan atau tanpa lendir dalam tinjanya.  Akibat disentri adalah anoreksia, penurunan berat badan dengan cepat, kerusakan mukosa usus karena bakteri invasif.
  • 4.
    Continue. . . Diarepersisten  Diare yang mula-mula bersifat akut namun berlangsung lebih dari 14 hari.  Episode ini dapat dimulai sebagai diare cair atau disentri.  Akibat diare persisten adalah penurunan berat badan dan gangguan metabolisme. Diare dengan masalah lain  Anak yang menderita diare (diare akut dan persisten) mungkin juga disertai dengan penyakit lain seperti demam, gangguan gizi, atau penyakit lainnya. Tatalaksana penderita diare ini berdasarkan acuan baku diare dan tergantung juga pada penyakit yang menyertainya.
  • 5.
    Etiologi 1. Faktor infeksi Infeksi enteral : infeksi bakteri, infeksi virus, infeksi parasit, protozoa, jamur  Infeksi parenteral : infeksi diluar alat pencernaan makanan seperti otitis media akut (OMA) tonsilitis/tonsilofaringits , bronkopeneumonia, ensefalitis.
  • 6.
    3. Faktor makanan Makananyang menyebabkan diare adalah makanan yang tercemar, basi, beracun, terlalu banyak lemak, mentah (misal, sayuran), dan kurang matang. 4. Faktor Psikologis Misal : rasa takut, cemas dan stres (jarang, tetapi dapat terjadi pada anak yang lebih besar). Continue!!
  • 7.
    Patogenesis Mekanisme dasar yangmenyebabkan timbulnya diare: 1.Gangguan osmotik Makanan/zat yang tidak dapat diserap → tekanan osmotik dalam rongga usus ↑ → pergeseran air dan elektrolit ke dalam rongga usus. Isi rongga usus yang berlebihan → merangsang usus untuk mengeluarkannya → diare osmotik
  • 8.
    2. Gangguan sekresi Rangsangantertentu (toksin) pada dinding usus → peningkatan sekresi air dan elektrolit ke dalam rongga usus → diare sekretorik timbul karena terdapat peningkatan isi rongga usus 3. Gangguan motilitas usus Hiperperistaltik → berkurangnya kesempatan usus untuk menyerap makanan → diare. Bila peristaltik usus menurun → bakteri tumbuh berlebihan → diare
  • 9.
    Patogenesis Diare Masuknya jasadrenik yang masih hidup kedalam usus halus setelah berhasil melewati rintangan asam lambung ⇓ Jasad renik tersebut berkembang biak (multiplikasi) di dalam usus halus ⇓ Oleh jasad renik dikeluarkan toksin (toksin diaregenik) ⇓
  • 10.
    ⇓ Diare akut ⇓ Bila diaremelanjut sampai 2 minggu/lebih, kehilangan BB atau tidak bertambah selama masa tersebut ⇓ Diare kronik ⇓ Bila diarenya menetap dalam 2 minggu/lebih dan disertai gangguan pertumbuhan ⇓ Diare persisten Perbaikan Mukosa yang terlambat Melanjutnya Kerusakan Mukosa
  • 11.
  • 12.
    Manifestasi Klinik  Cengeng, gelisah,suhu tubuh ↑  Nafsu makan biasanya tidak ada → timbul diare  Tinja cair mungkin disertai lendir dan atau darah  Warna tinja → kehijau-hijauan (tercampur empedu)  Anus dan daerah sekitarnya lecet (sering defekasi)  Muntah (sebelum/sesudah diare) → lambung meradang atau ketidakseimbangan asam basa dan elektrolit  Kehilangan banyak cairan dan elektrolit → dehidrasi (berat badan ↓, turgor kulit berkurang, mata dan ubun-ubun besar cekung, selaput lendir bibir dan mulut serta kulit tampak kering).
  • 13.
    Komplikasi  Dehidrasi (Ringan,sedang, berat, hipotonik, isotonik atau hipertonik)  Renjatan hipovolemik  Hipokalemia (meteorismus, hipotoni, bradikardia, perubahan EKG)  Hipoglikemia  Intoleransi laktosa sekunder → defisiensi enzim laktase  Kejang  MEP
  • 14.
    Pemeriksaan diagnostik 1. PemeriksaanTinja  Makroskopis dan mikroskopis.  pH dan kadar gula dalam tinja dengan kertas lakmus dan tablet dinistest, bila diduga terdapat intoleransi gula.  Bila diperlukan, lakukan pemeriksaan biakan dan uji resistensi. 2. Pemeriksaan Darah  pH darah dan cadangan dikali dan elektrolit ( Natrium, Kalium, Kalsium, dan Fosfor ) dalam serum untuk menentukan keseimbangan asama basa.  Kadar ureum dan kreatmin untuk mengetahui faal ginjal. 3. Intubasi Duodenum ( Doudenal Intubation ) 4. Riwayat alergi pada obat-obatan
  • 15.
  • 16.
  • 18.
  • 20.
    Pemberian cairan padadiarePemberian cairan pada diare dehidrasi murnidehidrasi murni 1. Jenis Cairan a. Cairan rehidrasi oral Formula lengkap, mengandung NaCl, NaHCO3, KCl, dan Glukosa Formula sederhana, hanya mengandung NaCl dan sukrosa atau karbohidrat lain. b. Cairan parenteral
  • 21.
    2. Jalan pemberiancairan Peroral untuk dehidrasi ringan, sedang dan tanpa dehidrasi dan bila anak mau minum serta kesadaran baik. Intragastrik untuk dehidrasi ringan, sedang atau tanpa dehidrasi, tetapi anak tidak mau minum, atau kesadaran menurun. Intravena untuk dehidrasi berat. 3. Jumlah cairan Jumlah cairan yang hilang didasarkan pada berat badan dan usia anak.
  • 22.
    Tatalaksana/ PengobatanTatalaksana/ Pengobatan TanpaDehidrasi Ringan Sedang Berat 1. Cairan rumah tangga (seperti air tajin, air teh manis, dsb) sepuasnya dengan perkiraan 40 ml/kg BB/ setiap kali BAB 2. ASI 3. oralit diberikan tiap bab atau muntah dengan dosis :  < 1 tahun : 50-100 cc  1-5 tahun : 100- 200 cc  > 5 tahun : semaunya  ( 5% ) : 50 ml/kg ( 4 – 6 jam pada bayi )  ( 3% ) : 30 ml/kg ( 4 – 6 jam pada anak besar )  Beri cairan oralit 30 ml / kg BB dalam 3 jam pertama, selanjutnya 10 ml / kg BB atau sepuasnya setiap kali BAB  Bisa peroral, NGT, parenteral.  ( 5 – 10% ) : 50 – 100 ml /kg ( 4 – 6 jam pad bayi )  ( 6% ) : 60 ml/kg ( 4 – 6 jam pada anak besar )  Beri cairan oralit 100 ml / kg BB dalam 3 jam pertama, selanjutnya 10 ml / kg BB atau sepuasnya setiap kali BAB  Bisa peroral, NGT, parenteral. 1. rehidrasi parenteral dengan cairan RL atau ringer asetat 100 cc/kgBB :  < 1 tahun : 30 cc/kgBB dalam 1 jam I, 70 cc/kgBB dalam 5 jam  > 1 tahun : 30 cc/kgBB dalam ½ jam I, 70 cc/kgBB dalam 2½ jam
  • 23.
    Penatalaksanaan lainnyaPenatalaksanaan lainnya 1.Asupan Makanan intake nutrsi dipertahankan, untuk meningkatkan daya tahan tubuh, bila pasien anak-anak dipertahankan ASI, Susu formula (bila tidak alergi), susu khusus bila ada indikasi tertentu, makanan pendamping ASI dipertahankan 2. Obat – obatan Prinsip pengobatan diare adalah menggantikan cairan yang hilang melalui tinja dengan atau tanpa muntah, dengan cairan yang mengandung elektrolit dan glukosa atau karbohidrat lain (gula, air tajin, tepung beras, dll)
  • 24.
    1. Obat antisekresi Asetosal Dosis : 25 mg/tahun dengan dosis minimum 30 mg. Klorpromazin Dosis : 0,5-1 mg/kgBB/hari 2. Obat anti spasmolitik Papaverine, ekstrak beladona, Opium, Loperamide  tidak untuk diare akut. Obat-obatan
  • 25.
    3. Obat pengerastinja Kaolin, pektin, charcoal, tabonal  tidak ada manfaatnya untuk mengatasi diare. 4. Antibiotika Tidak diperlukan kecuali : Kolera, diberikan tetrasiklin 25-50 mg/kgBB/hari. Campylobacter, diberikan eritromisin 40-50 mg/kgBB/hari. Lanjutan!!
  • 26.
  • 27.
  • 28.
    BB/TB (status nutrisi) TTV(Nadi Meningkat > 120 menunjukkan tanda-tanda syok hipovolemik) Tanda- tanda dehidrasi ( ubun-ubun cekung, turgor kulit jelek, bibir kering, lemah, kejang-kejang) Pemeriksaan fisik
  • 29.
    1. Kekurangan volumecairan tubuh b/d output berlebih 2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d mual, muntah dan intake tidak adekuat. 3. Gangguan rasa nyaman b/d hipertermi. 4. Kerusakan integritas kulit b/d iritasi rectal karena diare. 5. Resiko infeksi b/d peningkatan paparan lingkungan terhadap patogen. DIAGNOSA KEPERAWATAN
  • 30.
    Kekurangan volume cairantubuh berhubungan dengan output berlebih. Tujuan : Setelah dilakukan asuhan keperawatan diharapkan kekurangan volume cairan elektrolit dapat terpenuhi. Kriteria Hasil : - Input dan output cairan elektrolit seimbang. - Menunjukkan membran mukosa lembab dan turgor jaringan normal. Intervensi : 1. Anjurkan ibu untuk tetap memberikan ASI. 2. Anjurkan orangtua untuk memberikan oralit sedikit-sedikit tapi sering. 3. Ajarkan orang tua cara membuat LGG (Larutan Gula Garam). 4. Kolaborasi dengan tim medis untuk memasang infus kristaloid (RL). 5. Monitor tetesan infus/jam. 6. Anjurkan banyak minum air putih.
  • 31.
    Evaluasi 1. Kebutuhan volumecairan klien kembali normal. 2. Klien tidak mengalami tanda-tanda malnutrisi. 3. Klien tidak merasa hipertermi. 4. Klien mendapatkan perawatan yang sesuai dengan umur anak dan porsi prosedur yang dibutuhkan. 5. Klien tidak mengalami komplikasi atas perawatan yang telah dilakukan. 6. Klien mengalami kesembuhan yang progresif. 7. Klien dapat kembali beraktivitas, tumbuh dan berkembang sesuai dengan umurnya.
  • 32.