LAPORAN PENDAHULUAN 
ASUHAN KEPERAWATAN GASTROENTERITIS AKUT 
A. PENGERTIAN 
Gastroenteritis merupakan suatu peradangan yang biasanya disebabkan 
baik oleh virus maupun bakteri pada traktus intestinal (Guyton & Hall, 
2006). 
Gastroenteritis diartikan sebagai buang air besar yang tidak normal atau 
bentuk tinja yang encer dengan frekwensi yang lebih banyak dari biasanya 
(Mansjoer, 2006). 
Gastroentritis ( GE) adalah peradangan yang terjadi pada lambung dan 
usus yang memberikan gejala diare dengan atau tanpa disertai muntah 
(Capernito,2007). 
Diare adalah dimana terjadi frekuensi defekasi yang abnormal (lebih dari 
3x per hari) serta perubahan dalam isi (lebih dari 200gr/hari) dan konsistensi 
feses cair. (Smeltzer,2001). 
Gastroenteritis adalah inflamasi pada daerah lambung dan intestinal yang 
disebabkan oleh bakteri yang bermacam-macam,virus dan parasit yang 
patogen (Whaley & Wong’s,2007). 
Dapat disimpulkan gastroentritis adalah peradangan yang terjadi pada 
lambung dan usus yang memberikan gejala diare dengan frekuensi lebih 
banyak (lebih dari 3x perhari) serta perubahan dalam isi (lebih dari 
200gr/hari) dan konsistensi feses cair dari biasanya yang disebabkan oleh 
bakteri,virus dan parasit yang patogen.
B. ETIOLOGI 
1. Faktor infeksi 
ď‚· Infeksi bakteri : 
Vibrio, E. Coli, Salmonella, Shigelia Compylobacter, Yersina, 
Aeromonas, dan sebagainya. 
ď‚· Infeksi virus : 
Eterovirus (virus ECHO, Coxsackie Poliofelitis), Adenovirus, 
Rotavirus, Astrovirus, dan lain-lain. 
ď‚· Infeksi parasit : cacing (Ascaris, Triguris, Oxyyuris, Strongyloides), 
protozoa (Entamoeba Hstolitica, Glardialambia, Trichomonas Hominis). 
2. Faktor malabsorbsi: Malabsorbsi karbohidrat, lemak, atau protein. 
3. Faktor makanan, Makanan basi, beracun, dan alergi terhadap makanan. 
4. Factor psikologis, Rasa takut dan cemas. 
5. Imunodefisiensi, Dapat mengakibatkan terjadinya pertumbuhan bakteri. 
6. Infeksi terhadap organ lain, seperti radang tonsil, bronchitis, dan radang 
tenggorokan. 
C. KLASIFIKASI 
Gastroenteritis (diare) dapat di klasifikasi berdasarkan beberapa faktor : 
1. Berdasarkan lama waktu : 
a. Akut : berlangsung < 5 hari 
b. Persisten : berlangsung 15-30 hari 
c. Kronik : berlangsung > 30 hari 
2. Berdasarkan mekanisme patofisiologik 
a. Osmotik, peningkatan osmolaritas intraluminer 
b. Sekretorik, peningkatan sekresi cairan dan elektrolit 
3. Berdasarkan derajatnya 
a. Diare tanpa dihindrasi 
b. Diare dengan dehidrasi ringan/sedang 
c. Diare dengan dehidrasi berat
4. Berdasarkan penyebab infeksi atau tidak 
a. Infektif 
b. Non infeksif 
D. PATOFISIOLOGI 
Sebagian besar diare akut di sebabkan oleh infeksi. Banyak dampak yang 
terjadi karena infeksi saluran cerna antara lain: pengeluaran toksin yang dapat 
menimbulkan gangguan sekresi dan reabsorbsi cairan dan elektrolit dengan 
akibat dehidrasi,gangguan keseimbangan elektrolit dan gangguan 
keseimbangan asam basa. Invasi dan destruksi pada sel epitel, penetrasi ke 
lamina propia serta kerusakan mikrovili yang dapat menimbulkan keadaan 
maldigesti dan malabsorbsi,dan apabila tidak mendapatkan penanganan yang 
adekuat pada akhirnya dapat mengalami invasi sistemik. 
Penyebab gastroenteritis akut adalah masuknya virus (Rotavirus, 
Adenovirus enteris, Virus Norwalk), Bakteri atau toksin (Compylobacter, 
Salmonella, Escherichia coli, Yersinia dan lainnya), parasit (Biardia Lambia, 
Cryptosporidium). Beberapa mikroorganisme patogen ini menyebabkan infeksi 
pada sel-sel, memproduksi enterotoksin atau sitotoksin dimana merusak sel-sel, 
atau melekat pada dinding usus pada Gastroenteritis akut. Penularan 
Gastroenteritis bisa melalui fekal-oral dari satu penderita ke yang lainnya. 
Beberapa kasus ditemui penyebaran patogen dikarenakan makanan dan 
minuman yang terkontaminasi. Mekanisme dasar penyebab timbulnya diare 
adalah gangguan osmotic (makanan yang tidak dapat diserap akan 
menyebabkan tekanan osmotic dalam rongga usus meningkat sehingga terjadi 
pergeseran air dan elektrolit kedalam rongga usus,isi rongga usus berlebihan 
sehingga timbul diare). 
Selain itu menimbulkan gangguan sekresi akibat toksin di dinding usus, 
sehingga sekresi air dan elektrolit meningkat kemudian terjadi diare. 
Gangguan moltilitas usus yang mengakibatkan hiperperistaltik dan
hipoperistaltik. Akibat dari diare itu sendiri adalah kehilangan air dan elektrolit 
(Dehidrasi) yang mengakibatkan gangguan asam basa (Asidosis Metabolik dan 
Hipokalemia), gangguan gizi (intake kurang, output berlebih), hipoglikemia 
dangangguan sirkulasi darah. 
E. TANDA DAN GEJALA 
1. Diare. 
2. Muntah. 
3. Demam. 
4. Nyeri Abdomen 
5. Membran mukosa mulut dan bibir kering 
6. Fontanel Cekung 
7. Kehilangan berat badan 
8. Tidak nafsu makan 
9. Lemah 
F. KOMPLIKASI 
1. Dehidrasi 
2. Renjatan hipovolemik 
3. Kejang 
4. Bakterimia 
5. Malnutrisi 
6. Hipoglikemia 
7. Intoleransi sekunder akibat kerusakan mukosa usus
G. PATHWAY 
Factor makanan (makanan 
basi, beracun, alergi 
makanan) 
Factor infeksi 
(bakteri dan virus) 
Factor malabsorpsi 
(karbohidrat, protein, 
lemak) 
Masuk kedalam tubuh 
Mencapai usus halus 
Infeksi usus halus 
Menstimulus dinding 
usus halus 
Peningkatan isi 
(rongga) lumen usus 
Malabsorpsi 
makanan dan 
cairan 
Hiperperistaltik 
Peningkatan percepatan kontak makanan dan air dengan mukosa usus 
Penyerapan makanan, air,elektrolit terganggu 
Makanan tidak 
diserap oleh villi usus 
Peningkatan tekanan 
osmotic dalam lumen 
usus 
Output cairan dan 
elektrolit berlebihan Muntah dan 
Dehidrasi 
Sirkulasi darah 
menurun 
Hipertermi 
GEA 
Merangsang hipotalamus 
sering defekasi 
Intake tidak 
adekuat 
Perubahan nutrisi 
kurang dari 
kebutuhan tubuh 
Refleks spasme otot 
dinding perut 
Resiko tinggi 
kekurangan volume 
cairan 
Nyeri akut
H. PEMERIKSAAN PENUNJANG 
1. Pemeriksaan laboratorium. 
a. Pemeriksaan tinja. 
b. Pemeriksaan gangguan keseimbangan asam basa dalam darah 
astrup,bila memungkinkan dengan menentukan PH keseimbangan 
analisa gas darah atau astrup,bila memungkinkan. 
c. Pemeriksaan kadar ureum dan creatinin untuk mengetahui pungsi 
ginjal. 
2. Pemeriksaan elektrolit intubasi duodenum untuk mengetahui jasad renik 
atau parasit secara kuantitatif,terutama dilakukan pada penderita diare 
kronik. 
I. PENATALAKSANAAN 
1. Terapi Cairan 
Untuk menentukan jumlah cairan yang perlu diberikan kepada penderita 
diare, harus diperhatikan hal-hal sebagai berikut : 
a. Jumlah cairan : jumlah cairan yang harus diberikan sama dengan 
jumlah cairan yang telah hilang melalui diare dan/muntah muntah PWL 
(Previous Water Losses) ditambah dengan banyaknya cairan yang 
hilang melalui keringat, urin dan pernafasan NWL (Normal Water 
Losses). 
b. Cairan yang hilang melalui tinja dan muntah yang masih terus 
berlangsung CWL (Concomitant water losses) (Suharyono dkk., 1994 
dalam Wicaksono, 2011) 
Ada 2 jenis cairan yaitu: 
1. Cairan Rehidrasi Oral (CRO) : Cairan oralit yang dianjurkan oleh 
WHO-ORS, tiap 1 liter mengandung Osmolalitas 333 mOsm/L, 
Karbohidrat 20 g/L, Kalori 85 cal/L. Elektrolit yang dikandung meliputi 
sodium 90 mEq/L, potassium 20 mEq/L, Chloride 80 mEq/L,
bikarbonat 30 mEq/L (Dipiro et.al., 2005). Ada beberapa cairan 
rehidrasi oral: 
a. Cairan rehidrasi oral yang mengandung NaCl, KCL, NaHCO3 dan 
glukosa, yang dikenal dengan nama oralit. 
b. Cairan rehidrasi oral yang tidak mengandung komponen-komponen 
di atas misalnya: larutan gula, air tajin, cairan-cairan yang tersedia 
di rumah dan lain-lain, disebut CRO tidak lengkap. 
2. Cairan Rehidrasi Parenteral (CRP) Cairan Ringer Laktat sebagai cairan 
rehidrasi parenteral tunggal. Selama pemberian cairan parenteral ini, 
setiap jam perlu dilakukan evaluasi: 
a. Jumlah cairan yang keluar bersama tinja dan muntah 
b. Perubahan tanda-tanda dehidrasi. 
2. Obat-obatan (Antibiotik) 
Pemberian antibotik secara empiris jarang diindikasikan pada diare akut 
infeksi, karena 40% kasus diare infeksi sembuh kurang dari 3 hari tanpa 
pemberian anti biotik. Pemberian antibiotik di indikasikan pada : Pasien 
dengan gejala dan tanda diare infeksi seperti demam, feses berdarah,, 
leukosit pada feses, mengurangi ekskresi dan kontaminasi lingkungan, 
persisten atau penyelamatan jiwa pada diare infeksi, diare pada pelancong, 
dan pasien immunocompromised. Contoh antibiotic untuk diare 
Ciprofloksasin 500mg oral (2x sehari, 3 – 5 hari), Tetrasiklin 500 mg (oral 
4x sehari, 3 hari), Doksisiklin 300mg (Oral, dosis tunggal), Ciprofloksacin 
500mg, Metronidazole 250-500 mg (4xsehari, 7-14 hari, 7-14 hari oral 
atauIV). 
Obat Anti Diare : loperamid HCl serta kombinasi difenoksilat dan atropin 
sulfat (lomotil). Penggunaan kodein adalah 15-60mg 3x sehari, loperamid 
2-4 mg/ 3 – 4x sehari dan lomotil 5mg 3 – 4 x sehari. Efek kelompok obat 
tersebut meliputi penghambatan propulsi, peningkatan absorbsi cairan 
sehingga dapat memperbaiki konsistensi feses dan mengurangi frekwensi
diare.Bila diberikan dengan cara yang benar obat ini cukup aman dan dapat 
mengurangi frekwensi defekasi sampai 80%. Bila diare akut dengan gejala 
demam dan sindrom disentri obat ini tidak dianjurkan. 
3. Diatetik (pemberian makanan) 
Pemberian makanan dan minuman khusus pada penderita dengan tujuan 
penyembuhan dan menjaga kesehatan adapun hal yang perlu diperhatikan: 
memberikan bahan makanan yang mengandung kalori, protein, vitamin, 
mineral dan makanan yang bersih. 
J. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN 
1. Pengkajian 
a. Identitas klien : Meliputi nama, umur, jenis kelamin, pendidikan, 
alamat, pekerjaan, agama, suku bangsa, tanggal dan jam MRS, nomor 
register, diagnose medis 
b. Keluhan utama : Feses semakin cair,muntah,bila kehilangan banyak air 
dan elektrolit terjadi gejala dehidrasi,berat badan menurun. Turgor kulit 
berkurang,selaput lendir mulut dan bibir kering,frekwensi BAB lebih 
dari 4 kali dengan konsistensi encer. 
c. Riwayat penyakit saat ini : buang air besar lebih dari 3 hari disertai 
nyeri perut. 
d. Riwayat penyakit sebelumnya : alergi akibat penggunaan obat dan 
makanan seperti obat pencahar, antibiotik dan atau mengkonsumsi 
makanan yang mengandung sorbitol dan fruktosa. 
e. Riwayat penyakit keluarga. : adanya riwayat keluarga yang menderita 
penyakit serius seperti diabetes mellitus, hipertensi. 
2. Pengkajian Pola Gordon (Pola Fungsi Kesehatan). 
a. Persepsi Kesehatan : pasien tidak mengetahui penyebab penyakitnya, 
higienitas pasien sehari-sehari kurang baik. 
b. Nutrisi metabolic : diawali dengan mual, muntah, anoreksia, 
menyebabkan penurunan berat badan pasien.
c. Pola eliminasi : akan mengalami perubahan yaitu BAB lebih dari 4 kali 
sehari,BAK sedikit atau jarang. 
d. Aktivitas : akan terganggu karena kondisi tubuh yang lemah dan 
adanya nyeri akibat distensi abdomen yakni dibantu oleh orang lain. 
e. Tidur/istirahat : akan terganggu karena adanya distensi abdomen yang 
akan menimbulkan rasa tidak nyaman. 
f. Kognitif/perceptual : pasien masih dapat menerima informasi namun 
kurang berkonsentrasi karena nyeri abdomen. 
g. Persepsi diri/konsep diri : pasien mengalami gangguan konsep diri 
karena kebutuhan fisiologis nya terganggu sehingga aktualisasi diri 
tidak tercapai pada fase sakit. 
h. Seksual/reproduksi : mengalami penurunan libido akibat terfokus pada 
penyakit. 
i. Peran hubungan : pasien memiliki hubungan yang baik dengan 
keluarga dan peran pasien pada kehidupan sehari-hari mengalami 
gangguan. 
j. Manajemen koping/stress : pasien mengalami kecemasan yang 
berangsur-angsur dapat menjadi pencetus stress. Pasien memiliki 
koping yang adekuat. 
k. Keyakinan/nilai : pasien memiliki kepercayaan, pasien jarang 
sembahyang karena gejala penyakit. 
3. Pemerikasaan fisik. 
ď‚· Inspeksi : mata cekung,ubun-ubun besar,selaput lendir,mulut dan bibir 
kering,berat badan menurun,anus kemerahan. 
ď‚· Perkusi : adanya distensi abdomen. 
ď‚· Palpasi : Turgor kulit kurang elastic 
ď‚· Auskultasi : terdengarnya bising usus.
K. DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG MUNGKIN MUNCUL 
1. Defisit volume cairan b/d kehilangan cairan aktif 
2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d penurunan 
intake makanan 
3. Risiko kerusakan integritas kulit b/d ekskresi/BAB sering 
4. Cemas b/d perubahan status kesehatan
L. RENCANA KEPERAWATAN 
1. Nyeri akut berhubungan dengan Reflek spasme otot pada dinding perut 
Tujuan: Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 3x24 jam 
diharapkan nyeri pasien berkurang/terkontrol 
Kriteria hasil : 
ď‚· Pasien melaporkan hilang atau terkontrol. 
ď‚· Pasien tampak rileks/mampu istirahat dengan tepat 
ď‚· Pasien tidak gelisah. 
Intervensi 
1. Dorong pasien untuk melaporkan nyeri. 
R/ : mencoba untuk mentoleransi nyeri, dari pada meminta analgesic. 
2. Kaji laporan keram abdomen atau nyeri, catat lokasi, lamanya,. Selidiki 
dan laporkan perubahan karakteristik nyeri. 
R/ : nyeri kulit hilang timbul pada penyakit crohn. Nyeri sebelum 
defekasi sering terjadi pada KU dengan tiba-tiba, dimana dapat berat 
dan terus menerus. Perubahan pada karakteristik nyeri dapat 
menunjukan penyebaran penyakit/terjadinya komplikasi, misalya 
pistula kandung kemih, perporasi, toksik megakolon. 
3. Catat petunjuk non verbal misalnya gelisah, menolak untuk bergerak, 
berhati-hati dengan abdomen, menarik diri dan depresi. Selidiki 
perbedaan penunjuk verbal dan non verbal. 
R/ : bahasa tubuh/petunjuk non verbal dapat secara psikologis dan 
visiologis dan dapat digunakan pada hubungan petunjuk verbal untuk 
mengidentifikasi luas dari beratnya masalah. 
4. Kaji ulang factor-faktor yang meningkatkan atau menghilangkan nyeri. 
R/ : dapat menunjukan dengan tepat pencetus factor-factor pemberat 
(seperti kejadian stress, tidak toleran terhadap makanan) atau 
mengidentifikasi terjadinya komplikasi.
5. Atur posisi klien senyaman mungkin 
R/ : menurunkan tegangan abdomen dan meningkatkan rasa control. 
6. Kolaborasi dalam pemberikan obat analgetik sesuai indikasi. 
R/ : nyeri bervariasi dari ringan sampai berat dan perlu penanganan 
untuk memudahkan istirahat ade kuat dan penyembuhan. Catatan : 
kopiat harus digunakan dengan hati-hati karena dapat menimbulkan 
toksik megakolon. 
2. Hipertemi berhubungan dengan sirkulasi darah yang menurun 
Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 2x30 menit 
diharapkan suhu tubuh pasien kembali normal 
Kriteria hasil : 
ď‚· Tanda-tanda vital stabil (TD : 100-120/70-90mmHg, N : 60- 
100x/menit, S : 36,5-37,50C, RR : 12-24x/menit) 
ď‚· Membran mukosa lembab. 
ď‚· Turgor kulit baik, kulit tidak kemerahan. 
Intervensi 
1. Kaji tanda gejala hipertemi 
R/: Dapat didentifikasi pola/ tingkat demam 
2. Ajarkan klien dan keluarga pentingnya mempertahankan masukan yang 
adekuat sedikitnya 2000 ml/ hari 
R/: Untuk memenuhi kebutuhan cairan dalam tubuh klien 
3. Monitor intake dan output dehidrasi 
R/: Peningkatan suhu tubuh mengakibatkan penguapan cairan tubuh 
meningkat sehingga perlu diimbangi dengan asupan cairan yang 
banyak 
4. Monitor suhu dan tanda vital 
R/: Suhu 38,9-41,1 C menunjukkan proses penyakit infeksius akut
5. Kolaborasi dengan TIM Medis (dokter) pemberian obat antipiretik 
R/: Digunakan untuk mengurangi demam dengan aksi centralnya pada 
hipotalamus, meskipun demam mungkin dapat berguna dalam 
membatasi pertumbuhan organism, dan meningkatkan autodekstruksi 
dari sel-sel yang terinfeksi. 
3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake 
tidak adekuat. 
Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 3x30 menit 
diharapkan gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi teratasi 
Kriteria hasil : Intake nutrisi klien meningkat, diet habis 1 porsi yang 
disediakan, mual,muntah tidak ada. 
Intervensi 
1. Kaji pola nutrisi klien dan perubahan yang terjadi. 
R/: Mengidentifikasi defisiensi, menduga kemungkinan intervensi 
2. Timbang berat badan klien. 
R/: Penimbangan BB harian adalah pengawasan status cairan terbaik. 
3. Kaji faktor penyebab gangguan pemenuhan nutrisi. 
R/: Meminimalkan anoreksia dan mual 
4. Berikan diet dalam kondisi hangat dan porsi kecil tapi sering. 
R/: Makanan sedikit dapat menurunkan kelemahan dan meningkatkan 
pemasukan juga mencegah distensi gaster 
5. Kolaborasi dengan tim gizi dalam penentuan diet klien. 
R/: untuk memenuhi kebutuhan nutrisi klien 
4. Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan output 
cairan dan elektrolit berlebihan 
Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 3x30 menit 
diharapkan pasien mampu mempertahankan volume cairan 
adekuat
Kriteria hasil : 
ď‚· Tanda-tanda vital stabil (TD : 100-120/70-90mmHg, N : 60- 
100x/menit, S : 36,5-37,50C, RR : 12-24x/menit). 
ď‚· Membran mukosa lembab. 
ď‚· Turgor kulit membaik. 
ď‚· Keseimbangan masukan dan haluaran dengan urin normal dalam 
konsentrasi/jumlah (0,5-1cc/kg BB/jam). 
ď‚· Mata tidak cowong. 
Intervensi : 
1. Kaji tanda vital (TD, nadi, suhu). 
R/ : hipotensi (termasuk postural), takikardial, demam dapat 
menunjukan respon terhadap dan/ atau efek kehilangan cairan. 
2. Awasi masukan haluaran, karakter, dan jumlah feses ; perkirakan 
kehilangan yang tak terlihat misalnya berkeringat. Ukur berat jenis 
urine; observasi oliguria. 
R/ : memberikan informasi tentang keseimbangan cairan. Fungsi ginjal 
dan control penyakit usus juga merupakan pedoman untuk penggantian 
cairan. 
3. Observasi kulit kering berlebihan dan membran mukosa, penurunan 
turgor kulit, pengisian kapiler lambat. 
R/ : menunjukan kehilangan cairan berlebih atau dehidrasi. 
4. Kolaborasi 
ď‚· Berikan cairan parenteral sesuai indikasi. 
R/ : mempertahankan istirahat usus akan memerlukan penggantian 
cairan untuk memperbaiki kehilangan. Catatan : cairan 
mengandung natrium dapat dibatasi pada adanya enteritis regional. 
ď‚· Berikan obat sesuai indikasi anti diare. 
R/ : menurunkan kehilangan cairan dari usus. 
ď‚· Berikan obat antiemetic misalnya trimetobenzamida (tigan) ; 
hidroksin (pistaril) ; proklorperasin (kompazine).
R/ : digunakan untuk mengontrol mual/muntah pada heksaserbasi 
akut. 
ď‚· Berikan cairan Elektrolit misalnya tambahan kalium 
R/ : elektrolit hilang dalam jumlah besar, khususnya pada usus 
yang gundul, area ulkus, dan diare dapat juga menimbulkan 
asedosis metabolit karena kehilangan bikarbonat (HCO3).
DAFTAR PUSTAKA 
Capernito. 2007. Diagnosa Keperawatan edisi 8. Jakarta : EGC. 
Mansjoer Arif. 2006. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta : FKUI. 
Mayers,2008. Buku saku keperawatan. Edisi 2. Jakarta, EGC 
Nanda Nic-Noc. 2012. Aplikasi pembelajaran. 
Prasetyo. 2008. Askep pada gastroenteritis. http://smartnet-q. 
blogspot.com/2008/09/asuhan-keperawatan-medikalbedah 
dengan_8181.html. 
Whaley & Wong’s,2007. Fisiologo manusia dan mekanisme penyakit 
.Ed.3. Jakarta. EGC 
LAPORAN PENDAHULUAN
KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH DENGAN GASTROENTERITIS 
AKUT 
DI RUANG MAWAR 2 RSUD KARANGANYAR 
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Praktek Klinik Profesi Mata Keperawatan 
Medikal Bedah 
Disusun Oleh : 
ROSITA ERFINA SARI, S.Kep 
NIM. 2013131101 
PROGRAM STUDI PROFESI NERS 
FAKULTAS ILMU KESEHATAN 
UNIVERSITAS SAHID
SURAKARTA 
2014 
LEMBAR PERSETUJUAN 
Laporan Pendahuluan ini telah disetujui untuk diajukan sebagai Tinjauan 
teoritis kasus kelolaan individu Stase Keperawatan Medical Bedah di ruang 
Mawar 2 RSUD Karanganyar untuk memenuhi tugas individu Program Studi 
Profesi Ners Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Sahid Surakarta 
Disetujui 
Hari/Tanggal : 
Tim Pembimbing 
Pembimbing Akademi, Pembimbing Ruangan 
Lia Erawati Rahayu, S.Kep, Ns Edi Tarwoko, S.Kep, Ns
LAPORAN KASUS 
PADA NY. DENGAN GASTROENTERITIS AKUT 
DI RUANG MAWAR 2 RSUD KARANGANYAR 
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Praktek Klinik Profesi Mata Keperawatan 
Medikal Bedah 
Disusun Oleh : 
ROSITA ERFINA SARI, S.Kep 
NIM. 2013131101
PROGRAM STUDI PROFESI NERS 
FAKULTAS ILMU KESEHATAN 
UNIVERSITAS SAHID 
SURAKARTA 
2014 
LEMBAR PERSETUJUAN 
Laporan Kasus ini telah disetujui untuk diajukan sebagai Tinjauan 
teoritis kasus kelolaan individu Stase Keperawatan Medical Bedah di ruang 
Mawar 2 RSUD Karanganyar untuk memenuhi tugas individu Program Studi 
Profesi Ners Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Sahid Surakarta 
Disetujui 
Hari/Tanggal : 
Tim Pembimbing 
Pembimbing Akademi, Pembimbing Ruangan 
Lia Erawati Rahayu, S.Kep, Ns Edi Tarwoko, S.Kep, Ns
Laporan pendahuluan gea

Laporan pendahuluan gea

  • 1.
    LAPORAN PENDAHULUAN ASUHANKEPERAWATAN GASTROENTERITIS AKUT A. PENGERTIAN Gastroenteritis merupakan suatu peradangan yang biasanya disebabkan baik oleh virus maupun bakteri pada traktus intestinal (Guyton & Hall, 2006). Gastroenteritis diartikan sebagai buang air besar yang tidak normal atau bentuk tinja yang encer dengan frekwensi yang lebih banyak dari biasanya (Mansjoer, 2006). Gastroentritis ( GE) adalah peradangan yang terjadi pada lambung dan usus yang memberikan gejala diare dengan atau tanpa disertai muntah (Capernito,2007). Diare adalah dimana terjadi frekuensi defekasi yang abnormal (lebih dari 3x per hari) serta perubahan dalam isi (lebih dari 200gr/hari) dan konsistensi feses cair. (Smeltzer,2001). Gastroenteritis adalah inflamasi pada daerah lambung dan intestinal yang disebabkan oleh bakteri yang bermacam-macam,virus dan parasit yang patogen (Whaley & Wong’s,2007). Dapat disimpulkan gastroentritis adalah peradangan yang terjadi pada lambung dan usus yang memberikan gejala diare dengan frekuensi lebih banyak (lebih dari 3x perhari) serta perubahan dalam isi (lebih dari 200gr/hari) dan konsistensi feses cair dari biasanya yang disebabkan oleh bakteri,virus dan parasit yang patogen.
  • 2.
    B. ETIOLOGI 1.Faktor infeksi ď‚· Infeksi bakteri : Vibrio, E. Coli, Salmonella, Shigelia Compylobacter, Yersina, Aeromonas, dan sebagainya. ď‚· Infeksi virus : Eterovirus (virus ECHO, Coxsackie Poliofelitis), Adenovirus, Rotavirus, Astrovirus, dan lain-lain. ď‚· Infeksi parasit : cacing (Ascaris, Triguris, Oxyyuris, Strongyloides), protozoa (Entamoeba Hstolitica, Glardialambia, Trichomonas Hominis). 2. Faktor malabsorbsi: Malabsorbsi karbohidrat, lemak, atau protein. 3. Faktor makanan, Makanan basi, beracun, dan alergi terhadap makanan. 4. Factor psikologis, Rasa takut dan cemas. 5. Imunodefisiensi, Dapat mengakibatkan terjadinya pertumbuhan bakteri. 6. Infeksi terhadap organ lain, seperti radang tonsil, bronchitis, dan radang tenggorokan. C. KLASIFIKASI Gastroenteritis (diare) dapat di klasifikasi berdasarkan beberapa faktor : 1. Berdasarkan lama waktu : a. Akut : berlangsung < 5 hari b. Persisten : berlangsung 15-30 hari c. Kronik : berlangsung > 30 hari 2. Berdasarkan mekanisme patofisiologik a. Osmotik, peningkatan osmolaritas intraluminer b. Sekretorik, peningkatan sekresi cairan dan elektrolit 3. Berdasarkan derajatnya a. Diare tanpa dihindrasi b. Diare dengan dehidrasi ringan/sedang c. Diare dengan dehidrasi berat
  • 3.
    4. Berdasarkan penyebabinfeksi atau tidak a. Infektif b. Non infeksif D. PATOFISIOLOGI Sebagian besar diare akut di sebabkan oleh infeksi. Banyak dampak yang terjadi karena infeksi saluran cerna antara lain: pengeluaran toksin yang dapat menimbulkan gangguan sekresi dan reabsorbsi cairan dan elektrolit dengan akibat dehidrasi,gangguan keseimbangan elektrolit dan gangguan keseimbangan asam basa. Invasi dan destruksi pada sel epitel, penetrasi ke lamina propia serta kerusakan mikrovili yang dapat menimbulkan keadaan maldigesti dan malabsorbsi,dan apabila tidak mendapatkan penanganan yang adekuat pada akhirnya dapat mengalami invasi sistemik. Penyebab gastroenteritis akut adalah masuknya virus (Rotavirus, Adenovirus enteris, Virus Norwalk), Bakteri atau toksin (Compylobacter, Salmonella, Escherichia coli, Yersinia dan lainnya), parasit (Biardia Lambia, Cryptosporidium). Beberapa mikroorganisme patogen ini menyebabkan infeksi pada sel-sel, memproduksi enterotoksin atau sitotoksin dimana merusak sel-sel, atau melekat pada dinding usus pada Gastroenteritis akut. Penularan Gastroenteritis bisa melalui fekal-oral dari satu penderita ke yang lainnya. Beberapa kasus ditemui penyebaran patogen dikarenakan makanan dan minuman yang terkontaminasi. Mekanisme dasar penyebab timbulnya diare adalah gangguan osmotic (makanan yang tidak dapat diserap akan menyebabkan tekanan osmotic dalam rongga usus meningkat sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolit kedalam rongga usus,isi rongga usus berlebihan sehingga timbul diare). Selain itu menimbulkan gangguan sekresi akibat toksin di dinding usus, sehingga sekresi air dan elektrolit meningkat kemudian terjadi diare. Gangguan moltilitas usus yang mengakibatkan hiperperistaltik dan
  • 4.
    hipoperistaltik. Akibat daridiare itu sendiri adalah kehilangan air dan elektrolit (Dehidrasi) yang mengakibatkan gangguan asam basa (Asidosis Metabolik dan Hipokalemia), gangguan gizi (intake kurang, output berlebih), hipoglikemia dangangguan sirkulasi darah. E. TANDA DAN GEJALA 1. Diare. 2. Muntah. 3. Demam. 4. Nyeri Abdomen 5. Membran mukosa mulut dan bibir kering 6. Fontanel Cekung 7. Kehilangan berat badan 8. Tidak nafsu makan 9. Lemah F. KOMPLIKASI 1. Dehidrasi 2. Renjatan hipovolemik 3. Kejang 4. Bakterimia 5. Malnutrisi 6. Hipoglikemia 7. Intoleransi sekunder akibat kerusakan mukosa usus
  • 5.
    G. PATHWAY Factormakanan (makanan basi, beracun, alergi makanan) Factor infeksi (bakteri dan virus) Factor malabsorpsi (karbohidrat, protein, lemak) Masuk kedalam tubuh Mencapai usus halus Infeksi usus halus Menstimulus dinding usus halus Peningkatan isi (rongga) lumen usus Malabsorpsi makanan dan cairan Hiperperistaltik Peningkatan percepatan kontak makanan dan air dengan mukosa usus Penyerapan makanan, air,elektrolit terganggu Makanan tidak diserap oleh villi usus Peningkatan tekanan osmotic dalam lumen usus Output cairan dan elektrolit berlebihan Muntah dan Dehidrasi Sirkulasi darah menurun Hipertermi GEA Merangsang hipotalamus sering defekasi Intake tidak adekuat Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh Refleks spasme otot dinding perut Resiko tinggi kekurangan volume cairan Nyeri akut
  • 6.
    H. PEMERIKSAAN PENUNJANG 1. Pemeriksaan laboratorium. a. Pemeriksaan tinja. b. Pemeriksaan gangguan keseimbangan asam basa dalam darah astrup,bila memungkinkan dengan menentukan PH keseimbangan analisa gas darah atau astrup,bila memungkinkan. c. Pemeriksaan kadar ureum dan creatinin untuk mengetahui pungsi ginjal. 2. Pemeriksaan elektrolit intubasi duodenum untuk mengetahui jasad renik atau parasit secara kuantitatif,terutama dilakukan pada penderita diare kronik. I. PENATALAKSANAAN 1. Terapi Cairan Untuk menentukan jumlah cairan yang perlu diberikan kepada penderita diare, harus diperhatikan hal-hal sebagai berikut : a. Jumlah cairan : jumlah cairan yang harus diberikan sama dengan jumlah cairan yang telah hilang melalui diare dan/muntah muntah PWL (Previous Water Losses) ditambah dengan banyaknya cairan yang hilang melalui keringat, urin dan pernafasan NWL (Normal Water Losses). b. Cairan yang hilang melalui tinja dan muntah yang masih terus berlangsung CWL (Concomitant water losses) (Suharyono dkk., 1994 dalam Wicaksono, 2011) Ada 2 jenis cairan yaitu: 1. Cairan Rehidrasi Oral (CRO) : Cairan oralit yang dianjurkan oleh WHO-ORS, tiap 1 liter mengandung Osmolalitas 333 mOsm/L, Karbohidrat 20 g/L, Kalori 85 cal/L. Elektrolit yang dikandung meliputi sodium 90 mEq/L, potassium 20 mEq/L, Chloride 80 mEq/L,
  • 7.
    bikarbonat 30 mEq/L(Dipiro et.al., 2005). Ada beberapa cairan rehidrasi oral: a. Cairan rehidrasi oral yang mengandung NaCl, KCL, NaHCO3 dan glukosa, yang dikenal dengan nama oralit. b. Cairan rehidrasi oral yang tidak mengandung komponen-komponen di atas misalnya: larutan gula, air tajin, cairan-cairan yang tersedia di rumah dan lain-lain, disebut CRO tidak lengkap. 2. Cairan Rehidrasi Parenteral (CRP) Cairan Ringer Laktat sebagai cairan rehidrasi parenteral tunggal. Selama pemberian cairan parenteral ini, setiap jam perlu dilakukan evaluasi: a. Jumlah cairan yang keluar bersama tinja dan muntah b. Perubahan tanda-tanda dehidrasi. 2. Obat-obatan (Antibiotik) Pemberian antibotik secara empiris jarang diindikasikan pada diare akut infeksi, karena 40% kasus diare infeksi sembuh kurang dari 3 hari tanpa pemberian anti biotik. Pemberian antibiotik di indikasikan pada : Pasien dengan gejala dan tanda diare infeksi seperti demam, feses berdarah,, leukosit pada feses, mengurangi ekskresi dan kontaminasi lingkungan, persisten atau penyelamatan jiwa pada diare infeksi, diare pada pelancong, dan pasien immunocompromised. Contoh antibiotic untuk diare Ciprofloksasin 500mg oral (2x sehari, 3 – 5 hari), Tetrasiklin 500 mg (oral 4x sehari, 3 hari), Doksisiklin 300mg (Oral, dosis tunggal), Ciprofloksacin 500mg, Metronidazole 250-500 mg (4xsehari, 7-14 hari, 7-14 hari oral atauIV). Obat Anti Diare : loperamid HCl serta kombinasi difenoksilat dan atropin sulfat (lomotil). Penggunaan kodein adalah 15-60mg 3x sehari, loperamid 2-4 mg/ 3 – 4x sehari dan lomotil 5mg 3 – 4 x sehari. Efek kelompok obat tersebut meliputi penghambatan propulsi, peningkatan absorbsi cairan sehingga dapat memperbaiki konsistensi feses dan mengurangi frekwensi
  • 8.
    diare.Bila diberikan dengancara yang benar obat ini cukup aman dan dapat mengurangi frekwensi defekasi sampai 80%. Bila diare akut dengan gejala demam dan sindrom disentri obat ini tidak dianjurkan. 3. Diatetik (pemberian makanan) Pemberian makanan dan minuman khusus pada penderita dengan tujuan penyembuhan dan menjaga kesehatan adapun hal yang perlu diperhatikan: memberikan bahan makanan yang mengandung kalori, protein, vitamin, mineral dan makanan yang bersih. J. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN 1. Pengkajian a. Identitas klien : Meliputi nama, umur, jenis kelamin, pendidikan, alamat, pekerjaan, agama, suku bangsa, tanggal dan jam MRS, nomor register, diagnose medis b. Keluhan utama : Feses semakin cair,muntah,bila kehilangan banyak air dan elektrolit terjadi gejala dehidrasi,berat badan menurun. Turgor kulit berkurang,selaput lendir mulut dan bibir kering,frekwensi BAB lebih dari 4 kali dengan konsistensi encer. c. Riwayat penyakit saat ini : buang air besar lebih dari 3 hari disertai nyeri perut. d. Riwayat penyakit sebelumnya : alergi akibat penggunaan obat dan makanan seperti obat pencahar, antibiotik dan atau mengkonsumsi makanan yang mengandung sorbitol dan fruktosa. e. Riwayat penyakit keluarga. : adanya riwayat keluarga yang menderita penyakit serius seperti diabetes mellitus, hipertensi. 2. Pengkajian Pola Gordon (Pola Fungsi Kesehatan). a. Persepsi Kesehatan : pasien tidak mengetahui penyebab penyakitnya, higienitas pasien sehari-sehari kurang baik. b. Nutrisi metabolic : diawali dengan mual, muntah, anoreksia, menyebabkan penurunan berat badan pasien.
  • 9.
    c. Pola eliminasi: akan mengalami perubahan yaitu BAB lebih dari 4 kali sehari,BAK sedikit atau jarang. d. Aktivitas : akan terganggu karena kondisi tubuh yang lemah dan adanya nyeri akibat distensi abdomen yakni dibantu oleh orang lain. e. Tidur/istirahat : akan terganggu karena adanya distensi abdomen yang akan menimbulkan rasa tidak nyaman. f. Kognitif/perceptual : pasien masih dapat menerima informasi namun kurang berkonsentrasi karena nyeri abdomen. g. Persepsi diri/konsep diri : pasien mengalami gangguan konsep diri karena kebutuhan fisiologis nya terganggu sehingga aktualisasi diri tidak tercapai pada fase sakit. h. Seksual/reproduksi : mengalami penurunan libido akibat terfokus pada penyakit. i. Peran hubungan : pasien memiliki hubungan yang baik dengan keluarga dan peran pasien pada kehidupan sehari-hari mengalami gangguan. j. Manajemen koping/stress : pasien mengalami kecemasan yang berangsur-angsur dapat menjadi pencetus stress. Pasien memiliki koping yang adekuat. k. Keyakinan/nilai : pasien memiliki kepercayaan, pasien jarang sembahyang karena gejala penyakit. 3. Pemerikasaan fisik. ď‚· Inspeksi : mata cekung,ubun-ubun besar,selaput lendir,mulut dan bibir kering,berat badan menurun,anus kemerahan. ď‚· Perkusi : adanya distensi abdomen. ď‚· Palpasi : Turgor kulit kurang elastic ď‚· Auskultasi : terdengarnya bising usus.
  • 10.
    K. DIAGNOSA KEPERAWATANYANG MUNGKIN MUNCUL 1. Defisit volume cairan b/d kehilangan cairan aktif 2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d penurunan intake makanan 3. Risiko kerusakan integritas kulit b/d ekskresi/BAB sering 4. Cemas b/d perubahan status kesehatan
  • 11.
    L. RENCANA KEPERAWATAN 1. Nyeri akut berhubungan dengan Reflek spasme otot pada dinding perut Tujuan: Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan nyeri pasien berkurang/terkontrol Kriteria hasil : ď‚· Pasien melaporkan hilang atau terkontrol. ď‚· Pasien tampak rileks/mampu istirahat dengan tepat ď‚· Pasien tidak gelisah. Intervensi 1. Dorong pasien untuk melaporkan nyeri. R/ : mencoba untuk mentoleransi nyeri, dari pada meminta analgesic. 2. Kaji laporan keram abdomen atau nyeri, catat lokasi, lamanya,. Selidiki dan laporkan perubahan karakteristik nyeri. R/ : nyeri kulit hilang timbul pada penyakit crohn. Nyeri sebelum defekasi sering terjadi pada KU dengan tiba-tiba, dimana dapat berat dan terus menerus. Perubahan pada karakteristik nyeri dapat menunjukan penyebaran penyakit/terjadinya komplikasi, misalya pistula kandung kemih, perporasi, toksik megakolon. 3. Catat petunjuk non verbal misalnya gelisah, menolak untuk bergerak, berhati-hati dengan abdomen, menarik diri dan depresi. Selidiki perbedaan penunjuk verbal dan non verbal. R/ : bahasa tubuh/petunjuk non verbal dapat secara psikologis dan visiologis dan dapat digunakan pada hubungan petunjuk verbal untuk mengidentifikasi luas dari beratnya masalah. 4. Kaji ulang factor-faktor yang meningkatkan atau menghilangkan nyeri. R/ : dapat menunjukan dengan tepat pencetus factor-factor pemberat (seperti kejadian stress, tidak toleran terhadap makanan) atau mengidentifikasi terjadinya komplikasi.
  • 12.
    5. Atur posisiklien senyaman mungkin R/ : menurunkan tegangan abdomen dan meningkatkan rasa control. 6. Kolaborasi dalam pemberikan obat analgetik sesuai indikasi. R/ : nyeri bervariasi dari ringan sampai berat dan perlu penanganan untuk memudahkan istirahat ade kuat dan penyembuhan. Catatan : kopiat harus digunakan dengan hati-hati karena dapat menimbulkan toksik megakolon. 2. Hipertemi berhubungan dengan sirkulasi darah yang menurun Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 2x30 menit diharapkan suhu tubuh pasien kembali normal Kriteria hasil : ď‚· Tanda-tanda vital stabil (TD : 100-120/70-90mmHg, N : 60- 100x/menit, S : 36,5-37,50C, RR : 12-24x/menit) ď‚· Membran mukosa lembab. ď‚· Turgor kulit baik, kulit tidak kemerahan. Intervensi 1. Kaji tanda gejala hipertemi R/: Dapat didentifikasi pola/ tingkat demam 2. Ajarkan klien dan keluarga pentingnya mempertahankan masukan yang adekuat sedikitnya 2000 ml/ hari R/: Untuk memenuhi kebutuhan cairan dalam tubuh klien 3. Monitor intake dan output dehidrasi R/: Peningkatan suhu tubuh mengakibatkan penguapan cairan tubuh meningkat sehingga perlu diimbangi dengan asupan cairan yang banyak 4. Monitor suhu dan tanda vital R/: Suhu 38,9-41,1 C menunjukkan proses penyakit infeksius akut
  • 13.
    5. Kolaborasi denganTIM Medis (dokter) pemberian obat antipiretik R/: Digunakan untuk mengurangi demam dengan aksi centralnya pada hipotalamus, meskipun demam mungkin dapat berguna dalam membatasi pertumbuhan organism, dan meningkatkan autodekstruksi dari sel-sel yang terinfeksi. 3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake tidak adekuat. Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 3x30 menit diharapkan gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi teratasi Kriteria hasil : Intake nutrisi klien meningkat, diet habis 1 porsi yang disediakan, mual,muntah tidak ada. Intervensi 1. Kaji pola nutrisi klien dan perubahan yang terjadi. R/: Mengidentifikasi defisiensi, menduga kemungkinan intervensi 2. Timbang berat badan klien. R/: Penimbangan BB harian adalah pengawasan status cairan terbaik. 3. Kaji faktor penyebab gangguan pemenuhan nutrisi. R/: Meminimalkan anoreksia dan mual 4. Berikan diet dalam kondisi hangat dan porsi kecil tapi sering. R/: Makanan sedikit dapat menurunkan kelemahan dan meningkatkan pemasukan juga mencegah distensi gaster 5. Kolaborasi dengan tim gizi dalam penentuan diet klien. R/: untuk memenuhi kebutuhan nutrisi klien 4. Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan output cairan dan elektrolit berlebihan Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 3x30 menit diharapkan pasien mampu mempertahankan volume cairan adekuat
  • 14.
    Kriteria hasil : ď‚· Tanda-tanda vital stabil (TD : 100-120/70-90mmHg, N : 60- 100x/menit, S : 36,5-37,50C, RR : 12-24x/menit). ď‚· Membran mukosa lembab. ď‚· Turgor kulit membaik. ď‚· Keseimbangan masukan dan haluaran dengan urin normal dalam konsentrasi/jumlah (0,5-1cc/kg BB/jam). ď‚· Mata tidak cowong. Intervensi : 1. Kaji tanda vital (TD, nadi, suhu). R/ : hipotensi (termasuk postural), takikardial, demam dapat menunjukan respon terhadap dan/ atau efek kehilangan cairan. 2. Awasi masukan haluaran, karakter, dan jumlah feses ; perkirakan kehilangan yang tak terlihat misalnya berkeringat. Ukur berat jenis urine; observasi oliguria. R/ : memberikan informasi tentang keseimbangan cairan. Fungsi ginjal dan control penyakit usus juga merupakan pedoman untuk penggantian cairan. 3. Observasi kulit kering berlebihan dan membran mukosa, penurunan turgor kulit, pengisian kapiler lambat. R/ : menunjukan kehilangan cairan berlebih atau dehidrasi. 4. Kolaborasi ď‚· Berikan cairan parenteral sesuai indikasi. R/ : mempertahankan istirahat usus akan memerlukan penggantian cairan untuk memperbaiki kehilangan. Catatan : cairan mengandung natrium dapat dibatasi pada adanya enteritis regional. ď‚· Berikan obat sesuai indikasi anti diare. R/ : menurunkan kehilangan cairan dari usus. ď‚· Berikan obat antiemetic misalnya trimetobenzamida (tigan) ; hidroksin (pistaril) ; proklorperasin (kompazine).
  • 15.
    R/ : digunakanuntuk mengontrol mual/muntah pada heksaserbasi akut. ď‚· Berikan cairan Elektrolit misalnya tambahan kalium R/ : elektrolit hilang dalam jumlah besar, khususnya pada usus yang gundul, area ulkus, dan diare dapat juga menimbulkan asedosis metabolit karena kehilangan bikarbonat (HCO3).
  • 16.
    DAFTAR PUSTAKA Capernito.2007. Diagnosa Keperawatan edisi 8. Jakarta : EGC. Mansjoer Arif. 2006. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta : FKUI. Mayers,2008. Buku saku keperawatan. Edisi 2. Jakarta, EGC Nanda Nic-Noc. 2012. Aplikasi pembelajaran. Prasetyo. 2008. Askep pada gastroenteritis. http://smartnet-q. blogspot.com/2008/09/asuhan-keperawatan-medikalbedah dengan_8181.html. Whaley & Wong’s,2007. Fisiologo manusia dan mekanisme penyakit .Ed.3. Jakarta. EGC LAPORAN PENDAHULUAN
  • 17.
    KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAHDENGAN GASTROENTERITIS AKUT DI RUANG MAWAR 2 RSUD KARANGANYAR Disusun Untuk Memenuhi Tugas Praktek Klinik Profesi Mata Keperawatan Medikal Bedah Disusun Oleh : ROSITA ERFINA SARI, S.Kep NIM. 2013131101 PROGRAM STUDI PROFESI NERS FAKULTAS ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS SAHID
  • 18.
    SURAKARTA 2014 LEMBARPERSETUJUAN Laporan Pendahuluan ini telah disetujui untuk diajukan sebagai Tinjauan teoritis kasus kelolaan individu Stase Keperawatan Medical Bedah di ruang Mawar 2 RSUD Karanganyar untuk memenuhi tugas individu Program Studi Profesi Ners Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Sahid Surakarta Disetujui Hari/Tanggal : Tim Pembimbing Pembimbing Akademi, Pembimbing Ruangan Lia Erawati Rahayu, S.Kep, Ns Edi Tarwoko, S.Kep, Ns
  • 19.
    LAPORAN KASUS PADANY. DENGAN GASTROENTERITIS AKUT DI RUANG MAWAR 2 RSUD KARANGANYAR Disusun Untuk Memenuhi Tugas Praktek Klinik Profesi Mata Keperawatan Medikal Bedah Disusun Oleh : ROSITA ERFINA SARI, S.Kep NIM. 2013131101
  • 20.
    PROGRAM STUDI PROFESINERS FAKULTAS ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS SAHID SURAKARTA 2014 LEMBAR PERSETUJUAN Laporan Kasus ini telah disetujui untuk diajukan sebagai Tinjauan teoritis kasus kelolaan individu Stase Keperawatan Medical Bedah di ruang Mawar 2 RSUD Karanganyar untuk memenuhi tugas individu Program Studi Profesi Ners Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Sahid Surakarta Disetujui Hari/Tanggal : Tim Pembimbing Pembimbing Akademi, Pembimbing Ruangan Lia Erawati Rahayu, S.Kep, Ns Edi Tarwoko, S.Kep, Ns