POSTMODERNISME
SUMBER
Dominiq Strinati. 2004. An Introduction to Theories of
Popular Culture.
KONSEP POSTMODERNISME
• Postmodernisme, secara etimologis berasal dari kata Post-
modern-isme. Post dapat diartikan setelah, Isme diartikan
sebuah faham. Jadi, postmodernisme dapat diartikan
sebagai sebuah faham yang berkembang setelah masa
modern.
• Konsep postmodernisme lebih menekankan pada emosi
daripada rasio, media daripada isi, tanda daripada makna,
kemajemukan daripada penunggalan, kemungkinan
daripada kepastian, permainan daripada keseriusan,
keterbukaan daripada pemusatan, lokal daripada universal,
fiksi daripada fakta, estetika daripada etika, dan narasi
daripada teori
• Postmodernisme merupakan sebuah konsep yang
dikembangkan oleh Dominic Strinati dalam kajian
budaya populer. Konsep ini digunakan untuk
menggambarkan dan menganalisis aspek penting
dalam kebudayaan kontemporer atau budaya masa
kini.
• Dalam konsep postmodernisme, keterkaitan antara
media massa dan budaya sangat erat. Keduanya tidak
bisa dipisahkan satu dengan yang lainnya karena
keduanya mempunyai kepentingan yang saling
menguntungkan.
KARAKTERISTIK POSTMODERNISME
• Runtuhnya batasan antara kebudayaan dan
masyarakat, dimana budaya tidak lagi ‘agung’ karena
media massa sudah merefleksikannya dalam dunia
sosial masyarakat. Artinya media massa menjadi
cermin realitas sosial. Exp: budaya konsumsi
• Penekanan pada gaya daripada substansi. Singkatnya
dalam budaya populer pencitraan lebih penting
daripada nilai manfaat.
• Runtuhnya batasan kebudayaan tinggi dengan budaya
populer, dimana masyarakat tidak lagi bisa
membedakan karya seni dengan karya populer.
• Kekacauan antara ruang dan waktu, disebabkan karena
teknologi yang berkembang pesat. Masyarakat seringkali
dibuat bingung dengan konsep ‘kekinian’ dan ‘keakanan’.
• Memudarnya META-NARATIVES, dalam hal ini budaya
populer telah melonggarkan batasan nilai agama, ilmu
pengetahuan, dan seni, sehingga masyarakat tidak tahu
lagi apa yang menjadi pijakan hidupnya.
• Semakin kuatnya hiperealitas media yang dikuasai oleh
dua hal, yaitu kekuatan politik dan kekuatan ekonomi.
Hal ini menyebabkan media massa menjadi mudah untuk
direkayasa sesuai dengan keinginan para pemilik modal.
CIRI-CIRI POSTMODERNISME
1. Uang dianggap sangat penting bukan hanya digunakan
sebagai alat tukar melainkan juga sebagai simbol bagi
pemiliknya.
2. Budaya yang cenderung mengeksploitasi kesenangan
daripada manfaatnya.
3. Memudarnya kepercayaan pada agama yang dianutnya.
4. Meledaknya industri media massa yang menjelma menjadi
“Tuhan” yang menentukan kebenaran.
5. Munculnya radikalisme etnis dan agama sebagai reaksi dari
kekuatan media massa.
6. Semakin kuatnya perkotaan sebagai pusat kebudayaan
dibandingkan pedesaan yang dianggap daerah pinggiran.
7. Semakin terbukanya peluang bagi pelbagai kelas sosial atau
kelompok minoritas untuk mengemukakan pendapat secara
lebih bebas dan terbuka.
8. Bahasa yang digunakan seringkali tidak memiliki kejelasan
makna sehingga terdengar ambigu.
9. Hilangnya batas antara seni dan kehidupan sehari-hari
karena orang seringkali mengatasnamakan “seni” sebagai
pembiasaan.
BUDAYA POSTMODERNISME
BUDAYA KAPITALIS
• Budaya kapitalis muncul sebagai akibat dari meledaknya
industri media massa.
• Pemilik modal lebih suka menanamkan modalnya diindustri
media massa karena keuntungan lebih menggiurkan, seperti
menjadi sponsor atau partnership.
• Adanya monopoli pemilik modal sebagai penentu
keberlangsungan konten media massa.
• Iklan menjadi lahan “eksklusif” bagi pemilik modal karena
media massa akan selalu bergantung pada hal tersebut.
KRISIS DALAM BUDAYA KAPITALIS
BUDAYA KONSUMSI
• Objek-objek konsumsi menjadi bagian internal pada diri
seseorang. Sehingga sangat berpengaruh dalam pembentukan
dan pemahaman konsep diri, seperti ketika seorang remaja
dianggap “gaul” maka remaja itu harus berpenampilan
mengikuti tren saat itu.
• Saat ini objek konsumsi mampu menentukan prestise, status
dan simbol-simbol sosial tertentu bagi pemakainya. orang
cenderung menilai dan mengenali seseorang dari penempilan
luarnya, apa yang dikenakannya, aksesorisnya—mulai dari tas,
sepatu, kacamata, dsb.
• Barang-barang bermerek merupakan simbol sosial yang
menunjukkan kelas dan status seseorang yang tinggi dan
cenderung eksklusif.
TRAVELING N’ SHOPPING
• Pada era postmodernisme banyak sekali kelompok-kelompok
sosial yang terbentuk berdasarkan konsumsi terhadap produk
tertentu.
• Tren yang berkembang ini adalah membangun fanatisme
konsumen melalui inklusi konsumen dalam komunitas
tertentu.
• Dalam komunitas, sense of belonging anggota terhadap
produk tertentu akan meningkat sehingga mereka menjadi
fanatik terhadap produk tersebut sebagai wujud loyalitas
terhadap komunitasnya.
• Tidak sampai disitu, saat ini hampir setiap produk yang
dipasarkan sudah memiliki komunitas tersendiri sehingga
para produsen bisa mengikuti tren pasar.
GADGET

Ppt 11 postmodernisme

  • 1.
    POSTMODERNISME SUMBER Dominiq Strinati. 2004.An Introduction to Theories of Popular Culture.
  • 2.
    KONSEP POSTMODERNISME • Postmodernisme,secara etimologis berasal dari kata Post- modern-isme. Post dapat diartikan setelah, Isme diartikan sebuah faham. Jadi, postmodernisme dapat diartikan sebagai sebuah faham yang berkembang setelah masa modern. • Konsep postmodernisme lebih menekankan pada emosi daripada rasio, media daripada isi, tanda daripada makna, kemajemukan daripada penunggalan, kemungkinan daripada kepastian, permainan daripada keseriusan, keterbukaan daripada pemusatan, lokal daripada universal, fiksi daripada fakta, estetika daripada etika, dan narasi daripada teori
  • 3.
    • Postmodernisme merupakansebuah konsep yang dikembangkan oleh Dominic Strinati dalam kajian budaya populer. Konsep ini digunakan untuk menggambarkan dan menganalisis aspek penting dalam kebudayaan kontemporer atau budaya masa kini. • Dalam konsep postmodernisme, keterkaitan antara media massa dan budaya sangat erat. Keduanya tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lainnya karena keduanya mempunyai kepentingan yang saling menguntungkan.
  • 4.
    KARAKTERISTIK POSTMODERNISME • Runtuhnyabatasan antara kebudayaan dan masyarakat, dimana budaya tidak lagi ‘agung’ karena media massa sudah merefleksikannya dalam dunia sosial masyarakat. Artinya media massa menjadi cermin realitas sosial. Exp: budaya konsumsi • Penekanan pada gaya daripada substansi. Singkatnya dalam budaya populer pencitraan lebih penting daripada nilai manfaat. • Runtuhnya batasan kebudayaan tinggi dengan budaya populer, dimana masyarakat tidak lagi bisa membedakan karya seni dengan karya populer.
  • 5.
    • Kekacauan antararuang dan waktu, disebabkan karena teknologi yang berkembang pesat. Masyarakat seringkali dibuat bingung dengan konsep ‘kekinian’ dan ‘keakanan’. • Memudarnya META-NARATIVES, dalam hal ini budaya populer telah melonggarkan batasan nilai agama, ilmu pengetahuan, dan seni, sehingga masyarakat tidak tahu lagi apa yang menjadi pijakan hidupnya. • Semakin kuatnya hiperealitas media yang dikuasai oleh dua hal, yaitu kekuatan politik dan kekuatan ekonomi. Hal ini menyebabkan media massa menjadi mudah untuk direkayasa sesuai dengan keinginan para pemilik modal.
  • 6.
    CIRI-CIRI POSTMODERNISME 1. Uangdianggap sangat penting bukan hanya digunakan sebagai alat tukar melainkan juga sebagai simbol bagi pemiliknya. 2. Budaya yang cenderung mengeksploitasi kesenangan daripada manfaatnya. 3. Memudarnya kepercayaan pada agama yang dianutnya. 4. Meledaknya industri media massa yang menjelma menjadi “Tuhan” yang menentukan kebenaran. 5. Munculnya radikalisme etnis dan agama sebagai reaksi dari kekuatan media massa.
  • 7.
    6. Semakin kuatnyaperkotaan sebagai pusat kebudayaan dibandingkan pedesaan yang dianggap daerah pinggiran. 7. Semakin terbukanya peluang bagi pelbagai kelas sosial atau kelompok minoritas untuk mengemukakan pendapat secara lebih bebas dan terbuka. 8. Bahasa yang digunakan seringkali tidak memiliki kejelasan makna sehingga terdengar ambigu. 9. Hilangnya batas antara seni dan kehidupan sehari-hari karena orang seringkali mengatasnamakan “seni” sebagai pembiasaan.
  • 8.
    BUDAYA POSTMODERNISME BUDAYA KAPITALIS •Budaya kapitalis muncul sebagai akibat dari meledaknya industri media massa. • Pemilik modal lebih suka menanamkan modalnya diindustri media massa karena keuntungan lebih menggiurkan, seperti menjadi sponsor atau partnership. • Adanya monopoli pemilik modal sebagai penentu keberlangsungan konten media massa. • Iklan menjadi lahan “eksklusif” bagi pemilik modal karena media massa akan selalu bergantung pada hal tersebut.
  • 9.
  • 10.
    BUDAYA KONSUMSI • Objek-objekkonsumsi menjadi bagian internal pada diri seseorang. Sehingga sangat berpengaruh dalam pembentukan dan pemahaman konsep diri, seperti ketika seorang remaja dianggap “gaul” maka remaja itu harus berpenampilan mengikuti tren saat itu. • Saat ini objek konsumsi mampu menentukan prestise, status dan simbol-simbol sosial tertentu bagi pemakainya. orang cenderung menilai dan mengenali seseorang dari penempilan luarnya, apa yang dikenakannya, aksesorisnya—mulai dari tas, sepatu, kacamata, dsb. • Barang-barang bermerek merupakan simbol sosial yang menunjukkan kelas dan status seseorang yang tinggi dan cenderung eksklusif.
  • 11.
  • 12.
    • Pada erapostmodernisme banyak sekali kelompok-kelompok sosial yang terbentuk berdasarkan konsumsi terhadap produk tertentu. • Tren yang berkembang ini adalah membangun fanatisme konsumen melalui inklusi konsumen dalam komunitas tertentu. • Dalam komunitas, sense of belonging anggota terhadap produk tertentu akan meningkat sehingga mereka menjadi fanatik terhadap produk tersebut sebagai wujud loyalitas terhadap komunitasnya. • Tidak sampai disitu, saat ini hampir setiap produk yang dipasarkan sudah memiliki komunitas tersendiri sehingga para produsen bisa mengikuti tren pasar.
  • 13.