Pertemuan 3
Arsitektur Sistem Pakar
Eka Dyar W eka.dyar@yahoo.com
Arsitektur Sistem Pakar
2 bagian yg membangun struktur sistem pakar yaitu
(Turban,1995):
 Development Environment (Lingkungan Pengembangan)
digunakan sebagai pembangun sistem pakar baik dari segi
pembangun komponen maupun basis pengetahuan
 Consultation (run time) Environment (Lingkungan Konsultasi)
digunakan oleh seseorang yang bukan ahli untuk
berkonsultasi (end user)
Eka Dyar W eka.dyar@yahoo.com
Eka Dyar W eka.dyar@yahoo.com
Cont’d
 Komponen yang secara umum ada pada
struktur detail sistem pakar
1. Knowledge Aqcuisition System
2. Knowledge Base
3. Inference engine
4. User Interface
5. User
6. Workspace (Blackboard)
7. Explanation Subsystem
Eka Dyar W eka.dyar@yahoo.com
1. Knowledge Aqcuisition System
(Subsistem penambahan pengetahuan)
Bagian ini digunakan untuk memasukkan
pengetahuan, mengkonstruksi atau memperluas
pengetahuan dalam basis pengetahuan dan
terkadang ke dalam inference engine.
Eka Dyar W eka.dyar@yahoo.com
Cont’d
Pengetahuan itu bisa berasal dari:
 terdokumentasikan (buku, manual, dll)
 tidak terdokumentasikan (orang, mesin, dll)
 databases
 internet
Eka Dyar W eka.dyar@yahoo.com
Cont’d (metode manual dari knowledge
acquisition)
Elicitation
Knowledge
base
Documented
knowledge
Experts
Coding
Knowledge
engineer
Eka Dyar W eka.dyar@yahoo.com
2. Knowledge Base (basis pengetahuan)
 Berisi pengetahuan-pengetahuan yang dibutuhkan untuk
memahami, memformulasikan dan menyelesaikan
masalah
 Bagian dari sistem pakar yang berisi domain
pengetahuan
Terdiri dari 2 elemen dasar:
 Rules, yang langsung menggunakan pengetahuan
untuk menyelesaikan masalah khusus.
 Fakta, situasi masalah dan teori yang terkait
Eka Dyar W eka.dyar@yahoo.com
Cont’d
 Pendekatan basis pengetahuan yang sangat
umum digunakan :
 Penalaran berbasis aturan (rule based
reasoning)
 Penalaran berbasis kasus (case based
reasoning)
Eka Dyar W eka.dyar@yahoo.com
Cont’d (rule based reasoning)
 Pengetahuan direpresentasikan dalam suatu
bentuk fakta (facts) dan aturan (rules)
 Bentuk representasi ini terdiri atas premise dan
kesimpulan
direpresentasikan dengan menggunakan aturan
berbentuk: IF-THEN
Eka Dyar W eka.dyar@yahoo.com
Cont’d (case based reasoning)
 Pengetahuan direpresentasikan dalam bentuk
kesimpulan kasus (cases)
 basis pengetahuan akan berisi solusi-solusi
yang telah dicapai sebelumnya, kemudian akan
diturunkan suatu solusi untuk keadaan yang
terjadi sekarang (fakta yang ada)
Eka Dyar W eka.dyar@yahoo.com
3. Inference engine (Motor Inferensi)
Komponen yang menjadi otak sistem pakar.
Mengandung mekanisme fungsi berpikir dan
pola-pola penalaran sistem
Bagian inilah yang berfungsi melakukan
penalaran dan pengambilan kesimpulan.
Eka Dyar W eka.dyar@yahoo.com
Cont’d
3 elemen utama dalam motor inferensi, yaitu :
 Interpreter : mengeksekusi item-item agenda yang
terpilih dengan menggunakan aturan-aturan dalam
basis pengetahuan yang sesuai.
 Scheduler : akan mengontrol agenda
 Consistency enforcer : akan berusaha memelihara
kekonsistenan dalam merepresentasikan solusi yang
bersifat darurat
Eka Dyar W eka.dyar@yahoo.com
Cont’d
 Mesin inferensi memilih pengetahuan yang relevan
dalam rangka mencapai kesimpulan, shg dapat
menjawab pertanyaan pemakai meskipun jawaban
tersebut tidak tersimpulkan secara eksplisit di dalam
basis pengetahuan.
 Pelacakan dimulai dengan mencocokan kaidah-
kaidah dalam basis pengetahuan dengan fakta-fakta
yang ada dalam basis data.
Eka Dyar W eka.dyar@yahoo.com
Cont’d (Teknik inferensi)
 Forward Chaining (data driven)
Pelacakan dimulai dari informasi masukan
dan selanjutnya mencoba menggambarkan
kesimpulan
Pelacakan ke depan mencari fakta yang
sesuai dengan bagian IF dari aturan IF-THEN
Eka Dyar W eka.dyar@yahoo.com
Cont’d
Kesimpulan 1
Kesimpulan 4
Kesimpulan 2
Kesimpulan 3
Kaidah C
Kaidah D
Fakta 1
Kaidah E
Fakta 3
Fakta 2
Kaidah B
Kaidah AObservasi 1
Observasi 2
Eka Dyar W eka.dyar@yahoo.com
Cont’d
 Backward Chaining (goal driven)
Pelacakan dimulai dari tujuan, selanjutnya
dicari aturan yang memiliki tujuan tersebut
untuk kesimpulannya. Selanjutnya proses
pelacakan mengg. premis untuk aturan tsb
sbg tujuan baru dan mencari aturan lain dgn
tujuan baru sbg kesimpulannya
Eka Dyar W eka.dyar@yahoo.com
Cont’d
Observasi 1
Observasi 4
Observasi 2
Observasi 3
Kaidah A
Kaidah B
Fakta 1
Kaidah C Fakta 3
Fakta 2
Kaidah E
Kaidah D
Tujuan
Eka Dyar W eka.dyar@yahoo.com
Cont’d
 Metode inferensi tersebut dipengaruhi oleh
tiga macam penelusuran, yaitu Depth-first
search, Breadth-first search dan Best-first
search
Eka Dyar W eka.dyar@yahoo.com
Breadth-first search
 Pencarian dimulai dari simpul akar terus ke
level 1 dari kiri ke kanan dalam 1 level
sebelum berpindah ke level berikutnya.
Eka Dyar W eka.dyar@yahoo.com
Cont’d
1
Start
7 9
4
108
3
65
2
Level 0
Level 2
Level 1
Goal (End)
Eka Dyar W eka.dyar@yahoo.com
Cont’d
Keuntungan BFS:
 Breadth first search tidak akan menemui jalan buntu.
 Jika ada 1 solusi maka breadth first search akan
menemukannya. Jika terdapat lebih dari 1 solusi, maka
solusi minimum akan ditemukan.
Kelemahan BFS:
 Membutuhkan memori yang cukup besar, karena
menyimpan semua simpul dalam suatu pohon.
 Membutuhkan waktu yang cukup lama, karena akan
menguji n level untuk mendapatkan solusi pada level
yang ke-(n+1).
Eka Dyar W eka.dyar@yahoo.com
Cont’d (Depth-first search)
Pencarian dimulai dari simpul akar ke level yang
lebih tinggi. Proses ini dilakukan terus hingga
solusinya ditemukan atau jika menemui jalan
buntu
Eka Dyar W eka.dyar@yahoo.com
Cont’d
1
Start
6 9
7
108
5
43
2
Eka Dyar W eka.dyar@yahoo.com
Cont’d
Keuntungan DFS :
 Membutuhkan memori yang cukup kecil, karena hanya
simpul-simpul pada lintasan yang aktif saja yang disimpan.
 Secara kebetulan, pencarian mendalam pertama mungkin
dapat menemukan suatu solusi tanpa harus menguji lebih
banyak lagi dalam ruang keadaan.
Kelemahan DFS:
 Metode depth first search memungkinkan tidak
ditemukannya tujuan yang diharapkan.
 Hanya akan mendapatkan 1 solusi pada setiap pencarian
Eka Dyar W eka.dyar@yahoo.com
Cont’d
 Best-first search, bekerja berdasarkan
kombinasi kedua metode sebelumnya
Eka Dyar W eka.dyar@yahoo.com
Cont’d
 menggunakan pelacakan ke depan atau pelacakan ke
belakang, semuanya bergantung masalah yang akan
dibuat sistem pakarnya
 Untuk sebuah sistem pakar yang besar, dengan jumlah
rule yang relatif banyak, metode pelacakan ke depan
akan dirasakan sangat lamban dalam pengambilan
kesimpulan, sehingga untuk sistem-sistem yang besar
digunakan metode pelacakan ke belakang.
Eka Dyar W eka.dyar@yahoo.com
4. User Interface (Antarmuka)
 digunakan
untuk
media
komunikasi
antara
user dan
program
Eka Dyar W eka.dyar@yahoo.com
Cont’d (Screen design)
 Question and answer
 Menus
 Hierarchical
 Pull-down (Pop-up)
 Icon
 Windows
Eka Dyar W eka.dyar@yahoo.com
5. User
 Tipe user seperti yang telah dijelaskan pada
Pertemuan 2
Eka Dyar W eka.dyar@yahoo.com
6. Workspace
Merupakan area dalam memori yang digunakan untuk
merekam kejadian yang sedang berlangsung termasuk
keputusan sementara. Ada 3 tipe keputusan yang dapat
direkam yaitu :
 Rencana : bagaimana menghadapi masalah
 Agenda : aksi-aksi yang potensial yang sedang
menunggu untuk dieksekusi
 Solusi : calon aksi yang akan dibangkitkan
Eka Dyar W eka.dyar@yahoo.com
7. Explanation Subsystem
(Subsistem penjelasan)
 Merupakan komponen yang berfungsi untuk
memberikan penjelasan kepada pemakai yang
memintanya
 Menyediakan informasi tambahan mengapa atau dari
mana sebuah solusi diperoleh
Eka Dyar W eka.dyar@yahoo.com
Cont’d
 Memiliki kemampuan untuk menelusuri konklusi
dan menerangkan tingkah laku Sistem Pakar
dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan
seperti:
 Mengapa pertanyaan tersebut diajukan
oleh Sistem Pakar ?
 Bagaimana atau darimana konklusi
tersebut diperoleh?
 Mengapa alternatif tersebut ditolak?
Eka Dyar W eka.dyar@yahoo.com
Cont’d
 Pada sistem pakar
berbasis rule, biasanya
penjelasan ini dilakukan
dengan cara
memperlihatkan rule-
rule yang digunakan.
Eka Dyar W eka.dyar@yahoo.com
Perbaikan
Sistem ini digunakan untuk mengevaluasi kinerja
sistem pakar itu sendiri untuk melihat apakah
pengetahuan-pengetahuan yang ada masih
cocok untuk digunakan di masa mendatang
Eka Dyar W eka.dyar@yahoo.com
Sekian

Pertemuan 3

  • 1.
  • 2.
    Eka Dyar Weka.dyar@yahoo.com Arsitektur Sistem Pakar 2 bagian yg membangun struktur sistem pakar yaitu (Turban,1995):  Development Environment (Lingkungan Pengembangan) digunakan sebagai pembangun sistem pakar baik dari segi pembangun komponen maupun basis pengetahuan  Consultation (run time) Environment (Lingkungan Konsultasi) digunakan oleh seseorang yang bukan ahli untuk berkonsultasi (end user)
  • 3.
    Eka Dyar Weka.dyar@yahoo.com
  • 4.
    Eka Dyar Weka.dyar@yahoo.com Cont’d  Komponen yang secara umum ada pada struktur detail sistem pakar 1. Knowledge Aqcuisition System 2. Knowledge Base 3. Inference engine 4. User Interface 5. User 6. Workspace (Blackboard) 7. Explanation Subsystem
  • 5.
    Eka Dyar Weka.dyar@yahoo.com 1. Knowledge Aqcuisition System (Subsistem penambahan pengetahuan) Bagian ini digunakan untuk memasukkan pengetahuan, mengkonstruksi atau memperluas pengetahuan dalam basis pengetahuan dan terkadang ke dalam inference engine.
  • 6.
    Eka Dyar Weka.dyar@yahoo.com Cont’d Pengetahuan itu bisa berasal dari:  terdokumentasikan (buku, manual, dll)  tidak terdokumentasikan (orang, mesin, dll)  databases  internet
  • 7.
    Eka Dyar Weka.dyar@yahoo.com Cont’d (metode manual dari knowledge acquisition) Elicitation Knowledge base Documented knowledge Experts Coding Knowledge engineer
  • 8.
    Eka Dyar Weka.dyar@yahoo.com 2. Knowledge Base (basis pengetahuan)  Berisi pengetahuan-pengetahuan yang dibutuhkan untuk memahami, memformulasikan dan menyelesaikan masalah  Bagian dari sistem pakar yang berisi domain pengetahuan Terdiri dari 2 elemen dasar:  Rules, yang langsung menggunakan pengetahuan untuk menyelesaikan masalah khusus.  Fakta, situasi masalah dan teori yang terkait
  • 9.
    Eka Dyar Weka.dyar@yahoo.com Cont’d  Pendekatan basis pengetahuan yang sangat umum digunakan :  Penalaran berbasis aturan (rule based reasoning)  Penalaran berbasis kasus (case based reasoning)
  • 10.
    Eka Dyar Weka.dyar@yahoo.com Cont’d (rule based reasoning)  Pengetahuan direpresentasikan dalam suatu bentuk fakta (facts) dan aturan (rules)  Bentuk representasi ini terdiri atas premise dan kesimpulan direpresentasikan dengan menggunakan aturan berbentuk: IF-THEN
  • 11.
    Eka Dyar Weka.dyar@yahoo.com Cont’d (case based reasoning)  Pengetahuan direpresentasikan dalam bentuk kesimpulan kasus (cases)  basis pengetahuan akan berisi solusi-solusi yang telah dicapai sebelumnya, kemudian akan diturunkan suatu solusi untuk keadaan yang terjadi sekarang (fakta yang ada)
  • 12.
    Eka Dyar Weka.dyar@yahoo.com 3. Inference engine (Motor Inferensi) Komponen yang menjadi otak sistem pakar. Mengandung mekanisme fungsi berpikir dan pola-pola penalaran sistem Bagian inilah yang berfungsi melakukan penalaran dan pengambilan kesimpulan.
  • 13.
    Eka Dyar Weka.dyar@yahoo.com Cont’d 3 elemen utama dalam motor inferensi, yaitu :  Interpreter : mengeksekusi item-item agenda yang terpilih dengan menggunakan aturan-aturan dalam basis pengetahuan yang sesuai.  Scheduler : akan mengontrol agenda  Consistency enforcer : akan berusaha memelihara kekonsistenan dalam merepresentasikan solusi yang bersifat darurat
  • 14.
    Eka Dyar Weka.dyar@yahoo.com Cont’d  Mesin inferensi memilih pengetahuan yang relevan dalam rangka mencapai kesimpulan, shg dapat menjawab pertanyaan pemakai meskipun jawaban tersebut tidak tersimpulkan secara eksplisit di dalam basis pengetahuan.  Pelacakan dimulai dengan mencocokan kaidah- kaidah dalam basis pengetahuan dengan fakta-fakta yang ada dalam basis data.
  • 15.
    Eka Dyar Weka.dyar@yahoo.com Cont’d (Teknik inferensi)  Forward Chaining (data driven) Pelacakan dimulai dari informasi masukan dan selanjutnya mencoba menggambarkan kesimpulan Pelacakan ke depan mencari fakta yang sesuai dengan bagian IF dari aturan IF-THEN
  • 16.
    Eka Dyar Weka.dyar@yahoo.com Cont’d Kesimpulan 1 Kesimpulan 4 Kesimpulan 2 Kesimpulan 3 Kaidah C Kaidah D Fakta 1 Kaidah E Fakta 3 Fakta 2 Kaidah B Kaidah AObservasi 1 Observasi 2
  • 17.
    Eka Dyar Weka.dyar@yahoo.com Cont’d  Backward Chaining (goal driven) Pelacakan dimulai dari tujuan, selanjutnya dicari aturan yang memiliki tujuan tersebut untuk kesimpulannya. Selanjutnya proses pelacakan mengg. premis untuk aturan tsb sbg tujuan baru dan mencari aturan lain dgn tujuan baru sbg kesimpulannya
  • 18.
    Eka Dyar Weka.dyar@yahoo.com Cont’d Observasi 1 Observasi 4 Observasi 2 Observasi 3 Kaidah A Kaidah B Fakta 1 Kaidah C Fakta 3 Fakta 2 Kaidah E Kaidah D Tujuan
  • 19.
    Eka Dyar Weka.dyar@yahoo.com Cont’d  Metode inferensi tersebut dipengaruhi oleh tiga macam penelusuran, yaitu Depth-first search, Breadth-first search dan Best-first search
  • 20.
    Eka Dyar Weka.dyar@yahoo.com Breadth-first search  Pencarian dimulai dari simpul akar terus ke level 1 dari kiri ke kanan dalam 1 level sebelum berpindah ke level berikutnya.
  • 21.
    Eka Dyar Weka.dyar@yahoo.com Cont’d 1 Start 7 9 4 108 3 65 2 Level 0 Level 2 Level 1 Goal (End)
  • 22.
    Eka Dyar Weka.dyar@yahoo.com Cont’d Keuntungan BFS:  Breadth first search tidak akan menemui jalan buntu.  Jika ada 1 solusi maka breadth first search akan menemukannya. Jika terdapat lebih dari 1 solusi, maka solusi minimum akan ditemukan. Kelemahan BFS:  Membutuhkan memori yang cukup besar, karena menyimpan semua simpul dalam suatu pohon.  Membutuhkan waktu yang cukup lama, karena akan menguji n level untuk mendapatkan solusi pada level yang ke-(n+1).
  • 23.
    Eka Dyar Weka.dyar@yahoo.com Cont’d (Depth-first search) Pencarian dimulai dari simpul akar ke level yang lebih tinggi. Proses ini dilakukan terus hingga solusinya ditemukan atau jika menemui jalan buntu
  • 24.
    Eka Dyar Weka.dyar@yahoo.com Cont’d 1 Start 6 9 7 108 5 43 2
  • 25.
    Eka Dyar Weka.dyar@yahoo.com Cont’d Keuntungan DFS :  Membutuhkan memori yang cukup kecil, karena hanya simpul-simpul pada lintasan yang aktif saja yang disimpan.  Secara kebetulan, pencarian mendalam pertama mungkin dapat menemukan suatu solusi tanpa harus menguji lebih banyak lagi dalam ruang keadaan. Kelemahan DFS:  Metode depth first search memungkinkan tidak ditemukannya tujuan yang diharapkan.  Hanya akan mendapatkan 1 solusi pada setiap pencarian
  • 26.
    Eka Dyar Weka.dyar@yahoo.com Cont’d  Best-first search, bekerja berdasarkan kombinasi kedua metode sebelumnya
  • 27.
    Eka Dyar Weka.dyar@yahoo.com Cont’d  menggunakan pelacakan ke depan atau pelacakan ke belakang, semuanya bergantung masalah yang akan dibuat sistem pakarnya  Untuk sebuah sistem pakar yang besar, dengan jumlah rule yang relatif banyak, metode pelacakan ke depan akan dirasakan sangat lamban dalam pengambilan kesimpulan, sehingga untuk sistem-sistem yang besar digunakan metode pelacakan ke belakang.
  • 28.
    Eka Dyar Weka.dyar@yahoo.com 4. User Interface (Antarmuka)  digunakan untuk media komunikasi antara user dan program
  • 29.
    Eka Dyar Weka.dyar@yahoo.com Cont’d (Screen design)  Question and answer  Menus  Hierarchical  Pull-down (Pop-up)  Icon  Windows
  • 30.
    Eka Dyar Weka.dyar@yahoo.com 5. User  Tipe user seperti yang telah dijelaskan pada Pertemuan 2
  • 31.
    Eka Dyar Weka.dyar@yahoo.com 6. Workspace Merupakan area dalam memori yang digunakan untuk merekam kejadian yang sedang berlangsung termasuk keputusan sementara. Ada 3 tipe keputusan yang dapat direkam yaitu :  Rencana : bagaimana menghadapi masalah  Agenda : aksi-aksi yang potensial yang sedang menunggu untuk dieksekusi  Solusi : calon aksi yang akan dibangkitkan
  • 32.
    Eka Dyar Weka.dyar@yahoo.com 7. Explanation Subsystem (Subsistem penjelasan)  Merupakan komponen yang berfungsi untuk memberikan penjelasan kepada pemakai yang memintanya  Menyediakan informasi tambahan mengapa atau dari mana sebuah solusi diperoleh
  • 33.
    Eka Dyar Weka.dyar@yahoo.com Cont’d  Memiliki kemampuan untuk menelusuri konklusi dan menerangkan tingkah laku Sistem Pakar dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti:  Mengapa pertanyaan tersebut diajukan oleh Sistem Pakar ?  Bagaimana atau darimana konklusi tersebut diperoleh?  Mengapa alternatif tersebut ditolak?
  • 34.
    Eka Dyar Weka.dyar@yahoo.com Cont’d  Pada sistem pakar berbasis rule, biasanya penjelasan ini dilakukan dengan cara memperlihatkan rule- rule yang digunakan.
  • 35.
    Eka Dyar Weka.dyar@yahoo.com Perbaikan Sistem ini digunakan untuk mengevaluasi kinerja sistem pakar itu sendiri untuk melihat apakah pengetahuan-pengetahuan yang ada masih cocok untuk digunakan di masa mendatang
  • 36.
    Eka Dyar Weka.dyar@yahoo.com Sekian