OTONOMI DAERAH
MUHAMAD YOGI
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS ISLAM NUSANTARA
Oleh
OTONOMI DAERAH
Latar Belakang Lahirnya Otonomi Daerah1
Definisi Otonomi Daerah2
Karakteristik Dasar Desentralisasi3
Rasionalisasi Kebijakan Desentralisasi4
Alasan Dianutnya Desentralisasi5
6
Permasalahan Pokok Otonomi Daerah
dan Desentralisasi Fiskal
Latar Belakang Lahirnya Otonomi Daerah
Diundangkannya UU 22/1999 dan UU 25/1999 yang saat ini
berubah menjadi UU no 32 tahun 2004 merupakan momentum
yang sangat baik untuk memacu reformasi Pemda menuju Pemda
yang transparan, partisipatif, dan akuntabel.
Perubahan yang diharapkan tidaklah akan berjalan secara mulus
karena akan banyak sekali menuntut perubahan pola pikir, pola
bertindak dan kemauan dari pihak Pusat maupun Daerah.
3
Latar Belakang Lahirnya Otonomi Daerah
 Otonomi daerah yang dijalankan selama 10 tahun ini
semata-mata hanya dipahami sebagai perpindahan
kewajiban pemerintah pusat kepada pemerintah daerah
untuk mayarakat.
 Padahal substansi penting dari otonomi daerah adalah
pelimpahan kewenangan dari pusat ke daerah secara politik
dan ekonomi agar pembangunan dan pertumbuhan ekonomi
berlangsung secara adil dan merata
Definisi :
adalah kewenangan
daerah otonom untuk
mengatur dan
mengurus kepentingan
masyarakat setempat
menurut prakarsa
sendiri berdasarkan
aspirasi masyarakat
sesuai dengan
peraturan perundang-
undangan
OTONOMI
DAERAH
Pengertian yang lebih luas
lagi adalah
wewenang/kekuasaan pada
suatu wilayah/daerah yang
mengatur dan mengelola
untuk kepentingan
wilayah/daerah masyarakat
itu sendiri mulai dari
ekonomi, politik, dan
pengaturan perimbangan
keuangan termasuk
pengaturan sosial, budaya,
dan ideologi yang sesuai
dengan tradisi adat istiadat
daerah lingkungannya.
OTONOMI Daerah
MISI OTONOMI
DAERAH
“ Misi Otonomi daerah yang diatur di dalam UU No. 22 Tahun 1999
dan UU No. 25 Tahun 1999 bukan hanya keinginan untuk melimpahkan
kewenangan dan pembiayaan dari Pemerintah Pusat ke Pemerintah Daerah,
tetapi yang lebih penting adalah keinginan untuk meningkatkan efisiensi
dan efektivitas pengelolaan sumber daya keuangan kesejahteraan dan
pelayanan kepada masyarakat”
(Penjelasan PP 105 Tahun 2000)
Karakteristik Dasar
Unit-unit pemerintahan setempat bersifat otonom, mandiri,
dan jelas-jelas sebagai unit pemerintahan bertingkat yang
terpisah dari pusat. Pusat melakukan sedikit, atau tidak ada
kontrol langsung oleh pusat terhadap unit-unit tersebut
Pemerintah daerah mempunyai status dan kekuasaan
mengamankan sumber daya yang dimiliki untuk
menjalankan fungsinya
Desentralisasi
Implikasi desentralisasi adalah kebutuhan mengembangkan
pemerintahan lokal sebagai institusi, yang dilihat warga
setempat sebagai organisasi yang memberikan pelayanan,
dan sebagai unit pemerintahan yang mempunyai pengaruh
Pemerintah daerah menpunyai batas-batas geografis yang
Jelas dan diakui secara hukum dimana mereka menggunakan
Kekuasaan & menjalankan fungsi-fungsi publik
Dengan desentralisasi berarti ada hubungan timbal balik,
saling menguntungkan, dan hubungan yang terkoordinasikan
antar pemerintah pusat dengan pemerintahan daerah
Rasionalisasi Kebijakan Desentralisasi
1
Memungkinkan
penyusun an
rencana serta
program
pembangunan
yang sesuai
dengan kebutuhan
wilayah dan
kelompok yang
heterogen
2
Mampu
memotong
prosedur yang
rumit sebagai
karakteristik
perencanaan dan
manajemen
terpusat dan over
concentration
kekuasaan serta
sumber daya di
pusat.
3
Kontak/hubungan yang
lebih dekat antara
pejabat pemerintahan
dan masyarakat
setempat
memungkinkan
terbinanya informasi
yang lebih baik guna
memformulasi
perencanaan atau
program yang lebih
realistik dan efektif.
Rasionalisasi Kebijakan Desentralisasi
4
Dalam pembuatan
keputusan dan
alokasi sumber
daya, desentralisa
si memungkinkan
terwakil inya
bermacam-
macam kelompok
kepentingan, sepe
rti
politik, agama, da
n etnis.
5
Desentralisasi memberikan
kesempatan kepada pejabat
setempat untuk
mengembangkan kecakapan
manajerial dan teknis, serta
dapat meningkatkan
kemampuan pejabat tersebut
untuk menangani berbagai
urusan yang biasanya tidak
ditangani secara baik oleh
instansi pusat (seperti
pemeliharaan jalan dan
infrasrtuktur yang jauh dari
ibukota negara).
6
Efisiensi dari pemerintah
pusat meningkat karena
membebaskan pejabat
pusat dari tugas-tugas
rutin, di mana tugas-tugas
tersebut bisa dilaksanakan
secara lebih efektif oleh
petugas lapangan atau
pejabat lokal. Ini akan
memungkinkan pejabat
pusat untuk menyusun
perencanaan dengan lebih
hati-hati, serta mengawasi
kebijakan pembangunan
secara lebih efektif.
Alasan Dianutnya Desentralisasi
Dari sudut
kepentingan
pembangunan
ekonomi
Dilihat dari
sudut
politik
Dari sudut teknis
organisatoris
pemerintahan
Dari
sudut
kultural
Desentralisasi
Dilihat dari
berbagai sudut
pandang
Permasalahan Pokok
7 Elemen
pokok
pembentuk
pemerintah
daerah
Perwakilan
Rakyat Daerah
Kewenangan
Daerah
Kelembagaan
Kepegawaian
Keuangan
Manajemen
Pelayanan Publik
Pengawasan
Kewenangan Daerah
Permasalahan
Friksi Antara
Kabupaten &
Kota itu sendiri
Friksi
Antara
Pusat & Dearah
Friksi
Antara
Daerah Provinsi dgn
Kabupaten/kota
Kelembagaan Daerah
Permasalahan
Dengan adanya batas maksimum dalam
penetapan jumlah dinas, akan terjadi
pengurangan beberapa Pejabat Eselon II,
III, dan IV yang akan berpotensi
mengganggu iklim politik daerah.
Kepegawaian Daerah
Status kepegawaian Daerah
menjadi sangat statis
Pegawai Daerah cenderung
Dipengaruhi oleh
kekuatan-kekuatan politik
yang ada di Daerah
Mencuatnya isu Putra
Daerah (yang tidak
sesuai dengan
kompetensinya)
Tidak adanya tour of area
akan membahayakan
keutuhan NKRI
Adanya kerancuan
antara jabatan
politis ( political
appointee ) dan
jabatan karir (
career appointee )
Merangsang Daerah
untuk mengangkat
pegawai baru
Keuangan Daerah
Konflik penguasaan
kewenangan yang
menghasilkan penerimaan
Mekanisme pinjaman
dan kebijakan investasi
yang belum jelas
Keuangan daerah yang
kurang mencukupi (
Financial Insufficiency)
Kurangnya kepatuhan pada peraturan
dan lemahnya penegakan hukum
Kurangnya kejelasan
sistem pembiayaan
melalui dekonsentrasi
dan tugas
pembantuan
Kurangnya transparansi
dan akuntabilitas dalam
penyusunan APBD
Pemisahan keuangan
eksekutif dengan
legislatif
Overhead cost
pemda yang tinggi
Perwakilan Rakyat Daerah
Kuatnya pengaruh parpol
dalam proses pemilihan kepala
daerah
Ekses dari
meningkatnya
kewenangan DPRD
Kurang terserapnya
aspirasi masyarakat
oleh DPRD
Campur tangan DPRD
dalam penentuan
penunjukan pejabat
karir
Kurangnya kompetensi
anggota DPRD dan
lemahnya networking
Masih kurangnya pemahaman
DPRD terhadap peraturan
perundangan
Manajemen Pelayanan Publik
Permasalahan
Tidak jelasnya
standard
pelayanan
Rendahnya
akuntabilitas
pelayanan
Kaburnya pemahaman
konsep-konsep
perencanaan daerah
Semakin
rendahnya
kualitas
pelayanan
Masih besarnya
peranan pemda dalam
penyediaan pelayanan
Pengawasan
Permasalahan
Kurangnya
sanksi terhadap
pelanggaran
peraturan
Kurangnya
pengawasan dari
Gubernur kepada
daerah
Kurangnya
supervisi dan
sosialisasi ke
daerah
Solusi & Saran
•Penyesuaian terhadap
pengaturan-
pengaturan yang
tumpang tindih dan
bertentangan tentang
suatu kewenangan
•Perlu adanya
penataan ulang
kewenangan antara
Pusat, Provinsi dan
Kabupaten dengan
memperhatikan aspek
economies of scale ,
akuntabilitas dan
externalitas
•Diperlukan adanya
pengaturan secara tegas
mengenai kemungkinan
optimalisasi kelembagaan
Pemda
•Memilihkelembagaan
publik dalam pembentukan
unit-unit organisasi
otonom, atau
menyerahkan urusan
kepada pihak swasta
(privatisasi), atau
kemitraan antara pihak
Pemda dengan swasta (
public private partnership
)
•Pemisahan
yang tegas dan
jelas antara
Pejabat Karir
dengan Pejabat
Politik
•Diperlukan
adanya standar
kompetensi
yang jelas
•Sumber-sumber
perekonomian
nasional yang
ada di Daerah
dikelola oleh
Pusat atau
kemitraan antara
Pusat dan
Daerah
•Untuk
mengoptimalkan
kontrol dan
fasilitasi Pusat
dalam otonomi
Daerah, maka
perlu revitalisasi
peran Gubernur
sebagai wakil
Pusat di Daerah
Solusi & Saran
•Peningkatan
hubungan DPRD
dengan
masyarakat
•Peningkatan
akuntabilitas
DPRD dan kepala
daerah
•Identifikasi
dan
standarisasi
pelayanan
Pemda
•Penentuan
standar
pelayanan
baik yang
bersifat
kualitatif
maupun
kuantitatif
•Penegakan
hukum yang
tegas
•Perlunya
sosialisasi
peraturan
perundangan
Desentralisasi FISKAL
Kewenangan penuh bagi daerah
dalam penggunaan bantuan
pusat (Block Grant) dan
pengelolaan keuangan daerah.
Penjelasan PP 105 Th 2000 :
Semangat Demokrasi, Desentralisasi,
Tranparansi dan akuntabilitas
menjadi sangat dominan dalam
mewarnai penyelenggaraan
pemerintahan pada umumnya
dan proses pengelolaan keuangan
daerah pada khususnya
DESENTRALISASI
FISKAL
Keleluasaan
menentukan
Pajak dan
Restribusi Daerah
semakin besar
1. Pertumbuhan ekonomi daerah.
2. Tingkat penggaguran & upah.
3. Penyelenggaraan pendidikan.
4. Kemiskinan dan masalah sosial lainnya.
5. Pendapatan asli daerah
PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH
MEMPERHATIKAN AZAS
KEADILAN DAN
KEPATUTAN
BERTANGGUNG JAWAB
TERTIB
EFEKTIF
TRANSPARAN
EFFISIEN
DESENTRALISASI FISKAL :
REFORMASI KEUANGAN DAERAH
Discretion
Reform
Budget Reform Deficit Spending
Reform
Strategic Cost
Reform
Di dalam otonomi daerah telah terjadi pembaharuan (reformasi)
di bidang keuangan mencakup berbagai bidang yakni :
Lanjutan
• Reformasi ini
menyangkut
pemberian
keleluasaan dalam
mengelola
keuangan daerah
•DPRD
diberikan
kewenangan
menentukan
anggaran
untuk lembaga
legislatif
•Perubahan
Proses
Penyusunan
Anggaran
•Perubahan
Struktur
Anggaran
•Sampai dengan
Orde Baru
Pemerintah Tidak
Pernah menyatakan
terjadi Deficit”
Alasannya menganut
anggaran berimbang
yang dinamis
•Pinjaman yang
diterima dicatat
sebagai “
Pendapatan
Dipisahkan
Belanja
(Expenses) dan
Biaya (Cost)
Contohnya
:Beban Biaya
Publik Atau Biaya
Aparatur
Tahun Anggaran
Mana, Tahun
Berjalan (Current
Year) atau Tahun
Yang Akan
datang
Perubahan Struktur Anggaran
2
Perubahan struktur anggaran terjadi dari
anggaran tradisional yang bersifat Line
item menjadi anggaran yang
incrementalism
1
Perubahan
dimaksud untuk menciptakan transparansi
dan meningkatkan akuntabilitas
Segi Positif Perubahan Struktur
Anggaran
• BILAMANA TERJADI SURFLUS / DEFISIT AKAN TERLIHAT JELAS.
• MEMUDAHKAN PENYUSUNAN ANGGARAN DAERAH.
• MEMUDAHKAN DALAM MELAKUKAN ANALISIS, EVALUASI DAN PENGAWASAN ANGGARAN
(BUDGETARY CONTROL).
• MEMUNGKINKAN PEMBENTUKAN CADANGAN MELALUI TRANFER.
DAMPAK DESENTRALISASI
Sumber : World Bank, 2009
PERTUMBUHAN EKONOMI DIBANDINGKAN DENGAN NEGARA LAIN
4.0
5.3
4.8
5.4 5.2
3.4
1.9
3.2
2.5
2.9 2.7
1.01
10.0 10.1 10.4
11.1
13.0
9.0
4.8 5.0
5.7 5.5
6.3 6.1
5.5
7.2
5.2
5.9
6.3
5.8
4.9
6.4
4.9
5.4
7.2
4.4
7.3
7.8
8.4 8.2 8.5
6.3
-
2.0
4.0
6.0
8.0
10.0
12.0
14.0
2003 2004 2005 2006 2007* 2008*
World Industrial Countries China Indonesia Malaysia Philipines Vietnam
DAMPAK DESENTRALISASI
Sumber : BPS
20.9 20.6 20.8 18.8 19.8 19.1 19.6
36.9 37.7 37.1
36.4 38.1 36.1 35.7
42.2 42.3 42.1 44.8 42.2 44.8 44.8
0%
10%
20%
30%
40%
50%
60%
70%
80%
90%
100%
1999 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008
40% penduduk dengan pendapatan terendah
40% penduduk dengan pendapatan menengah
20% penduduk dengan pendapatan tertinggi
DISTRIBUSI PENDAPATAN
DAMPAK DESENTRALISASI
Provinsi
2000 2006
Pertumbuhan
Per Tahun
KOTA DESA KOTA DESA KOTA DESA
Kepulauan Sumatera 12.554.165 24.948.786 15.661.075 27.156.499 5,61% 1,78%
Java and DKI Jakarta 59.118.676 62.175.069 72.720.338 58.175.152 3,97% -1,13%
Kepulauan Bali and
NTT
3.564.115 7.417.697 4.994.456 7.195.883 7,19% -0,92%
Kepulauan Kalimantan 4.078.932 7.228.815 4.779.934 8.094.987 3,12% 2,03%
Kepulauan Sulawesi 3.984.493 10.005.417 4.879.319 11.862.220 4,09% 2,06%
INDONESIA 86.442.818 118.689.640 103.035.120 112.484.736 3,20% -0,87%
PERTUMBUHAN PENDUDUK KOTA DAN DESA
Sumber : BPS dan estimasi penduduk desa dan kota
Otonomi Daerah

Otonomi Daerah

  • 1.
    OTONOMI DAERAH MUHAMAD YOGI PROGRAMSTUDI PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS ISLAM NUSANTARA Oleh
  • 2.
    OTONOMI DAERAH Latar BelakangLahirnya Otonomi Daerah1 Definisi Otonomi Daerah2 Karakteristik Dasar Desentralisasi3 Rasionalisasi Kebijakan Desentralisasi4 Alasan Dianutnya Desentralisasi5 6 Permasalahan Pokok Otonomi Daerah dan Desentralisasi Fiskal
  • 3.
    Latar Belakang LahirnyaOtonomi Daerah Diundangkannya UU 22/1999 dan UU 25/1999 yang saat ini berubah menjadi UU no 32 tahun 2004 merupakan momentum yang sangat baik untuk memacu reformasi Pemda menuju Pemda yang transparan, partisipatif, dan akuntabel. Perubahan yang diharapkan tidaklah akan berjalan secara mulus karena akan banyak sekali menuntut perubahan pola pikir, pola bertindak dan kemauan dari pihak Pusat maupun Daerah. 3
  • 4.
    Latar Belakang LahirnyaOtonomi Daerah  Otonomi daerah yang dijalankan selama 10 tahun ini semata-mata hanya dipahami sebagai perpindahan kewajiban pemerintah pusat kepada pemerintah daerah untuk mayarakat.  Padahal substansi penting dari otonomi daerah adalah pelimpahan kewenangan dari pusat ke daerah secara politik dan ekonomi agar pembangunan dan pertumbuhan ekonomi berlangsung secara adil dan merata
  • 5.
    Definisi : adalah kewenangan daerahotonom untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat sesuai dengan peraturan perundang- undangan OTONOMI DAERAH Pengertian yang lebih luas lagi adalah wewenang/kekuasaan pada suatu wilayah/daerah yang mengatur dan mengelola untuk kepentingan wilayah/daerah masyarakat itu sendiri mulai dari ekonomi, politik, dan pengaturan perimbangan keuangan termasuk pengaturan sosial, budaya, dan ideologi yang sesuai dengan tradisi adat istiadat daerah lingkungannya.
  • 6.
    OTONOMI Daerah MISI OTONOMI DAERAH “Misi Otonomi daerah yang diatur di dalam UU No. 22 Tahun 1999 dan UU No. 25 Tahun 1999 bukan hanya keinginan untuk melimpahkan kewenangan dan pembiayaan dari Pemerintah Pusat ke Pemerintah Daerah, tetapi yang lebih penting adalah keinginan untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pengelolaan sumber daya keuangan kesejahteraan dan pelayanan kepada masyarakat” (Penjelasan PP 105 Tahun 2000)
  • 7.
    Karakteristik Dasar Unit-unit pemerintahansetempat bersifat otonom, mandiri, dan jelas-jelas sebagai unit pemerintahan bertingkat yang terpisah dari pusat. Pusat melakukan sedikit, atau tidak ada kontrol langsung oleh pusat terhadap unit-unit tersebut Pemerintah daerah mempunyai status dan kekuasaan mengamankan sumber daya yang dimiliki untuk menjalankan fungsinya Desentralisasi Implikasi desentralisasi adalah kebutuhan mengembangkan pemerintahan lokal sebagai institusi, yang dilihat warga setempat sebagai organisasi yang memberikan pelayanan, dan sebagai unit pemerintahan yang mempunyai pengaruh Pemerintah daerah menpunyai batas-batas geografis yang Jelas dan diakui secara hukum dimana mereka menggunakan Kekuasaan & menjalankan fungsi-fungsi publik Dengan desentralisasi berarti ada hubungan timbal balik, saling menguntungkan, dan hubungan yang terkoordinasikan antar pemerintah pusat dengan pemerintahan daerah
  • 8.
    Rasionalisasi Kebijakan Desentralisasi 1 Memungkinkan penyusunan rencana serta program pembangunan yang sesuai dengan kebutuhan wilayah dan kelompok yang heterogen 2 Mampu memotong prosedur yang rumit sebagai karakteristik perencanaan dan manajemen terpusat dan over concentration kekuasaan serta sumber daya di pusat. 3 Kontak/hubungan yang lebih dekat antara pejabat pemerintahan dan masyarakat setempat memungkinkan terbinanya informasi yang lebih baik guna memformulasi perencanaan atau program yang lebih realistik dan efektif.
  • 9.
    Rasionalisasi Kebijakan Desentralisasi 4 Dalampembuatan keputusan dan alokasi sumber daya, desentralisa si memungkinkan terwakil inya bermacam- macam kelompok kepentingan, sepe rti politik, agama, da n etnis. 5 Desentralisasi memberikan kesempatan kepada pejabat setempat untuk mengembangkan kecakapan manajerial dan teknis, serta dapat meningkatkan kemampuan pejabat tersebut untuk menangani berbagai urusan yang biasanya tidak ditangani secara baik oleh instansi pusat (seperti pemeliharaan jalan dan infrasrtuktur yang jauh dari ibukota negara). 6 Efisiensi dari pemerintah pusat meningkat karena membebaskan pejabat pusat dari tugas-tugas rutin, di mana tugas-tugas tersebut bisa dilaksanakan secara lebih efektif oleh petugas lapangan atau pejabat lokal. Ini akan memungkinkan pejabat pusat untuk menyusun perencanaan dengan lebih hati-hati, serta mengawasi kebijakan pembangunan secara lebih efektif.
  • 10.
    Alasan Dianutnya Desentralisasi Darisudut kepentingan pembangunan ekonomi Dilihat dari sudut politik Dari sudut teknis organisatoris pemerintahan Dari sudut kultural Desentralisasi Dilihat dari berbagai sudut pandang
  • 11.
    Permasalahan Pokok 7 Elemen pokok pembentuk pemerintah daerah Perwakilan RakyatDaerah Kewenangan Daerah Kelembagaan Kepegawaian Keuangan Manajemen Pelayanan Publik Pengawasan
  • 12.
    Kewenangan Daerah Permasalahan Friksi Antara Kabupaten& Kota itu sendiri Friksi Antara Pusat & Dearah Friksi Antara Daerah Provinsi dgn Kabupaten/kota
  • 13.
    Kelembagaan Daerah Permasalahan Dengan adanyabatas maksimum dalam penetapan jumlah dinas, akan terjadi pengurangan beberapa Pejabat Eselon II, III, dan IV yang akan berpotensi mengganggu iklim politik daerah.
  • 14.
    Kepegawaian Daerah Status kepegawaianDaerah menjadi sangat statis Pegawai Daerah cenderung Dipengaruhi oleh kekuatan-kekuatan politik yang ada di Daerah Mencuatnya isu Putra Daerah (yang tidak sesuai dengan kompetensinya) Tidak adanya tour of area akan membahayakan keutuhan NKRI Adanya kerancuan antara jabatan politis ( political appointee ) dan jabatan karir ( career appointee ) Merangsang Daerah untuk mengangkat pegawai baru
  • 15.
    Keuangan Daerah Konflik penguasaan kewenanganyang menghasilkan penerimaan Mekanisme pinjaman dan kebijakan investasi yang belum jelas Keuangan daerah yang kurang mencukupi ( Financial Insufficiency) Kurangnya kepatuhan pada peraturan dan lemahnya penegakan hukum Kurangnya kejelasan sistem pembiayaan melalui dekonsentrasi dan tugas pembantuan Kurangnya transparansi dan akuntabilitas dalam penyusunan APBD Pemisahan keuangan eksekutif dengan legislatif Overhead cost pemda yang tinggi
  • 16.
    Perwakilan Rakyat Daerah Kuatnyapengaruh parpol dalam proses pemilihan kepala daerah Ekses dari meningkatnya kewenangan DPRD Kurang terserapnya aspirasi masyarakat oleh DPRD Campur tangan DPRD dalam penentuan penunjukan pejabat karir Kurangnya kompetensi anggota DPRD dan lemahnya networking Masih kurangnya pemahaman DPRD terhadap peraturan perundangan
  • 17.
    Manajemen Pelayanan Publik Permasalahan Tidakjelasnya standard pelayanan Rendahnya akuntabilitas pelayanan Kaburnya pemahaman konsep-konsep perencanaan daerah Semakin rendahnya kualitas pelayanan Masih besarnya peranan pemda dalam penyediaan pelayanan
  • 18.
  • 19.
    Solusi & Saran •Penyesuaianterhadap pengaturan- pengaturan yang tumpang tindih dan bertentangan tentang suatu kewenangan •Perlu adanya penataan ulang kewenangan antara Pusat, Provinsi dan Kabupaten dengan memperhatikan aspek economies of scale , akuntabilitas dan externalitas •Diperlukan adanya pengaturan secara tegas mengenai kemungkinan optimalisasi kelembagaan Pemda •Memilihkelembagaan publik dalam pembentukan unit-unit organisasi otonom, atau menyerahkan urusan kepada pihak swasta (privatisasi), atau kemitraan antara pihak Pemda dengan swasta ( public private partnership ) •Pemisahan yang tegas dan jelas antara Pejabat Karir dengan Pejabat Politik •Diperlukan adanya standar kompetensi yang jelas •Sumber-sumber perekonomian nasional yang ada di Daerah dikelola oleh Pusat atau kemitraan antara Pusat dan Daerah •Untuk mengoptimalkan kontrol dan fasilitasi Pusat dalam otonomi Daerah, maka perlu revitalisasi peran Gubernur sebagai wakil Pusat di Daerah
  • 20.
    Solusi & Saran •Peningkatan hubunganDPRD dengan masyarakat •Peningkatan akuntabilitas DPRD dan kepala daerah •Identifikasi dan standarisasi pelayanan Pemda •Penentuan standar pelayanan baik yang bersifat kualitatif maupun kuantitatif •Penegakan hukum yang tegas •Perlunya sosialisasi peraturan perundangan
  • 21.
    Desentralisasi FISKAL Kewenangan penuhbagi daerah dalam penggunaan bantuan pusat (Block Grant) dan pengelolaan keuangan daerah. Penjelasan PP 105 Th 2000 : Semangat Demokrasi, Desentralisasi, Tranparansi dan akuntabilitas menjadi sangat dominan dalam mewarnai penyelenggaraan pemerintahan pada umumnya dan proses pengelolaan keuangan daerah pada khususnya DESENTRALISASI FISKAL Keleluasaan menentukan Pajak dan Restribusi Daerah semakin besar 1. Pertumbuhan ekonomi daerah. 2. Tingkat penggaguran & upah. 3. Penyelenggaraan pendidikan. 4. Kemiskinan dan masalah sosial lainnya. 5. Pendapatan asli daerah
  • 22.
    PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH MEMPERHATIKANAZAS KEADILAN DAN KEPATUTAN BERTANGGUNG JAWAB TERTIB EFEKTIF TRANSPARAN EFFISIEN
  • 23.
    DESENTRALISASI FISKAL : REFORMASIKEUANGAN DAERAH Discretion Reform Budget Reform Deficit Spending Reform Strategic Cost Reform Di dalam otonomi daerah telah terjadi pembaharuan (reformasi) di bidang keuangan mencakup berbagai bidang yakni :
  • 24.
    Lanjutan • Reformasi ini menyangkut pemberian keleluasaandalam mengelola keuangan daerah •DPRD diberikan kewenangan menentukan anggaran untuk lembaga legislatif •Perubahan Proses Penyusunan Anggaran •Perubahan Struktur Anggaran •Sampai dengan Orde Baru Pemerintah Tidak Pernah menyatakan terjadi Deficit” Alasannya menganut anggaran berimbang yang dinamis •Pinjaman yang diterima dicatat sebagai “ Pendapatan Dipisahkan Belanja (Expenses) dan Biaya (Cost) Contohnya :Beban Biaya Publik Atau Biaya Aparatur Tahun Anggaran Mana, Tahun Berjalan (Current Year) atau Tahun Yang Akan datang
  • 25.
    Perubahan Struktur Anggaran 2 Perubahanstruktur anggaran terjadi dari anggaran tradisional yang bersifat Line item menjadi anggaran yang incrementalism 1 Perubahan dimaksud untuk menciptakan transparansi dan meningkatkan akuntabilitas Segi Positif Perubahan Struktur Anggaran • BILAMANA TERJADI SURFLUS / DEFISIT AKAN TERLIHAT JELAS. • MEMUDAHKAN PENYUSUNAN ANGGARAN DAERAH. • MEMUDAHKAN DALAM MELAKUKAN ANALISIS, EVALUASI DAN PENGAWASAN ANGGARAN (BUDGETARY CONTROL). • MEMUNGKINKAN PEMBENTUKAN CADANGAN MELALUI TRANFER.
  • 26.
    DAMPAK DESENTRALISASI Sumber :World Bank, 2009 PERTUMBUHAN EKONOMI DIBANDINGKAN DENGAN NEGARA LAIN 4.0 5.3 4.8 5.4 5.2 3.4 1.9 3.2 2.5 2.9 2.7 1.01 10.0 10.1 10.4 11.1 13.0 9.0 4.8 5.0 5.7 5.5 6.3 6.1 5.5 7.2 5.2 5.9 6.3 5.8 4.9 6.4 4.9 5.4 7.2 4.4 7.3 7.8 8.4 8.2 8.5 6.3 - 2.0 4.0 6.0 8.0 10.0 12.0 14.0 2003 2004 2005 2006 2007* 2008* World Industrial Countries China Indonesia Malaysia Philipines Vietnam
  • 27.
    DAMPAK DESENTRALISASI Sumber :BPS 20.9 20.6 20.8 18.8 19.8 19.1 19.6 36.9 37.7 37.1 36.4 38.1 36.1 35.7 42.2 42.3 42.1 44.8 42.2 44.8 44.8 0% 10% 20% 30% 40% 50% 60% 70% 80% 90% 100% 1999 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 40% penduduk dengan pendapatan terendah 40% penduduk dengan pendapatan menengah 20% penduduk dengan pendapatan tertinggi DISTRIBUSI PENDAPATAN
  • 28.
    DAMPAK DESENTRALISASI Provinsi 2000 2006 Pertumbuhan PerTahun KOTA DESA KOTA DESA KOTA DESA Kepulauan Sumatera 12.554.165 24.948.786 15.661.075 27.156.499 5,61% 1,78% Java and DKI Jakarta 59.118.676 62.175.069 72.720.338 58.175.152 3,97% -1,13% Kepulauan Bali and NTT 3.564.115 7.417.697 4.994.456 7.195.883 7,19% -0,92% Kepulauan Kalimantan 4.078.932 7.228.815 4.779.934 8.094.987 3,12% 2,03% Kepulauan Sulawesi 3.984.493 10.005.417 4.879.319 11.862.220 4,09% 2,06% INDONESIA 86.442.818 118.689.640 103.035.120 112.484.736 3,20% -0,87% PERTUMBUHAN PENDUDUK KOTA DAN DESA Sumber : BPS dan estimasi penduduk desa dan kota