IKIP PGRI SEMARANG
2010
Pendahuluan
• Belajar dan pembelajaran terjadi interaksi
antara siswa dan guru.
• Belajar pada hakikatnya menyangkut potensi
manusia dan prilakunya.
• Belajar akan lebih mantap dan efektif bila
ada minat (terutama minat yang muncul
dengan kesadaran sendiri),
• Belajar perlu lingkungan atau kondisi belajar
yang kondusif,siswa belajar tanpa adanya
rasa takut atau tekanan.
• Berhasil atau tidaknya proses pembelajaran
dipengaruhi keberhasilan guru dalam
menggunakan pendekatan dan model dalam
pembelajaran. Pendukungnya: kelengkapan
fasilitas belajar, keadaan anak didik, serta
materi pelajaran.
Lanjutan
• Oleh sebab itu, seorang guru harus dapat
memilih pendekatan dan model
pembelajaran yang tepat sesuai dengan
materi yang dipelajari.
• Salah satu pendekatan pembelajaran yang
diharapkan mampu menumbuhkan minat
belajar siswa adalah pendekatan
kontekstual.
• Jadi, fungsi dan peranan guru hanya
sebagai mediator siswa lebih proaktif
untuk merumuskan sendiri tentang
fenomena yang berkaitan dengan fokus
kajian secara kontekstual bukan tekstual.
Lanjutan
• Pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and
Learning) merupakan konsep pembelajaran yang
menekankan pada keterkaitan antara materi
pembelajaran dengan dunia kehidupan peserta
didik secara nyata, sehingga para peserta didik
mampu menghubungkan dan menerapkan
kompetensi hasil belajar dalam kehidupan sehari-
hari.
• Pendekatan ini sangat memperhatikan pengalaman
dan pengetahuan awal siswa.
Lanjutan
• Pengalaman belajar siswa
diperoleh melalui serangkaian
kegiatan belajar untuk
mengeksplorasi lingkungan melalui
interaksi aktif dengan teman,
lingkungan dan nara sumber lain.
• Siswa selayaknya memperoleh
pengalaman belajar dalam tiga
ranah sesuai teori Bloom yaitu
kognitif, afektif, dan psikomotorik.
PENGERTIAN CTL
suatu proses pendidikan yang holistik.
Bertujuan membantu siswa untuk memaha-
mi makna materi ajar dengan mengaitkan
materi tersebut terhadap konteks kehidupan
mereka sehari-hari (konteks pribadi, sosial
dan kultural). Sehingga siswa memiliki
pengetahuan/keterampilan yang secara
fleksibel dapat diterapkan (ditransfer) dari
satu permasalahan/konteks ke
permasalahan/ konteks lainnya.
CTL
Menurut Johnson (2002) :
Sistem Pembelajaran kontekstual merupakan
suatu proses pendidikan yang bertujuan
membantu siswa melihat makna dalam bahan
ajar yang mereka pelajari dengan cara
menghubungkannya dengan konteks
kehidupan mereka sehari-hari, yaitu dengan
konteks lingkungan pribadi, sosial, dan
budayanya.
Untuk mencapai tujuan tersebut, sistem
pembelajaran kontekstual akan mengarahkan
siswa melakukan delapan komponen yaitu:
melakukan hubungan bermakna, mengerjakan
tugas/pekerjaan berarti, belajar mandiri,
kerjasama, berpikir kritis dan kreatif,
mengarahkan kepribadian diri, mencapai
standar tinggi, dan menggunakan penilaian
sebenarnya.
MOTTO CTL
• STUDENTS LEARN BEST BY ACTIVELY
CONSTRUCTING THEIR OWN
UNDERSTANDING(CTL Academy Fellow,
1999)
• (Cara belajar terbaik adalah siswa
mengkonstruksikan sendiri secara aktif
pemahamannya)
Teori yang Melandasi CTL
• Knowledge-Based Constructivism, menekankan
kepada pentingnya siswa membangun sendiri
pengetahuan mereka lewat keterlibatan aktif dalam
proses belajar mengajar.
• Effort-Based Learning/Incremental Theory of
Intellegence; Bekerja keras untuk mencapai tujuan
belajar akan memotivasi seseorang untuk terlibat
dalam kegiatan yang berkaitan dengan komitmen
untuk belajar.
Lanjutan
• Socialization; yang menekankan bahwa belajar
merupakan proses sosial yang menentukan
tujuan belajar, oleh karenanya, faktor sosial dan
budaya perlu diperhatikan selama perencanaan
pengajaran.
• Situated Learning; pengetahuan dan
pembelajaran harus dikondisikan dalam fisik
tertentu dan konteks sosial (masyarakat, rumah,
dan sebagainya) dalam mencapai tujuan belajar.
• Distributed Learning; manusia merupakan bagian
terintegrasi dari proses pembelajaran, oleh
karenanya harus berbagi pengetahuan dan tugas-
tugas
Pembelajaran CTL Menjadi Alternatif
 Sebelum disosialisasikannya KTSP 2006, umumnya guru
ceramah dan tidak produktif.
 CTL akan berpihak dan memberdayakan siswa.
PERBEDAAN
CTLTRADISIONAL
NO. CTL TRADISONAL
1. Menyandarkan pada
memori spasial
(pemahaman makna)
Menyandarkan pada
hapalan
2. Pemilihan informasi
berdasarkan kebutuh-
an siswa
Pemilihan informasi di-
tentukan oleh guru
3. Siswa terlibat secara
aktif dalam proses
pembelajaran
Siswa secara pasif
menerima informasi
NO. CTL TRADISONAL
4. Pembelajaran
dikaitkan dengan
kehidupan
nyata/masalah yang
disimulasikan
Pembelajaran sangat
abstrak dan teoritis
5. Selalu mengkaitkan
informasi dengan
pengetahuan yang
telah dimiliki siswa
Memberikan
tumpukan informasi
kepada siswa sampai
saatnya diperlukan
6. Cenderung
mengintegrasikan
beberapa bidang
Cenderung terfokus
pada satu bidang
(disiplin) tertentu
NO. CTL TRADISONAL
7. Siswa menggunakan
waktu belajarnya
untuk menemukan,
menggali, berdiskusi,
berpikir kritis, atau
mengerjakan proyek
dan pemecahan
masalah (melalui kerja
kelompok)
Waktu belajar siswa se-
bagian besar dipergu-
nakan untuk mengerja-
kan buku tugas, men-
dengar ceramah, dan
mengisi latihan yang
membosankan (melalui
kerja individual)
8. Perilaku dibangun
atas kesadaran diri
Perilaku dibangun atas
kebiasaan
N
O
CTL TRADISONAL
9. Keterampilan
dikembangkan atas dasar
pemahaman
Keterampilan
dikembangkan atas dasar
latihan
10. Hadiah dari perilaku baik
adalah kepuasan diri
Hadiah dari perilaku baik
adalah pujian atau nilai
(angka) rapor
11. Siswa tidak melakukan hal
yang buruk karena sadar
hal tsb keliru dan merugikan
Siswa tidak melakukan
sesuatu yang buruk karena
takut akan hukuman
NO. CTL TRADISONAL
12. Perilaku baik berdasar-
kan motivasi intrinsik
Perilaku baik berdasar-
kan motivasi ekstrinsik
13. Pembelajaran terjadi di
berbagai tempat,
konteks dan setting
Pembelajaran hanya
terjadi dalam kelas
14. Hasil belajar diukur
melalui penerapan
penilaian autentik.
Hasil belajar diukur
melalui kegiatan
akademik dalam bentuk
tes/ujian/ulangan.
KOMPONEN CTL
contructivism
Inquiry
Questioning
Learning Comunity
Modelling
Reflection
Authentic assessment
KONSTRUKTIVISME
• Pengetahuan dibangun
oleh siswa sedikit demi
sedikit.
• Strategi “memperoleh”
lebih diutamakan dari
pada seberapa banyak
siswa memperoleh dan
mengingat pengetahuan.
MENEMUKAN (Inquiry)
• Siklus inquiry adalah : Observasi,
Bertanya, Mengajukan dugaan,
Pengumpulan data, Penyimpulan.
• Kata kunci strategi Inquiry adalah
“SISWA MENEMUKAN SENDIRI”
BERTANYA(Questioning)
• Menggali informasi.
• Mengecek pemahaman siswa.
• Membangkitkan respon siswa.
• Mengetahui sejauhmana keingintahuan siswa.
• Mengetahui hal-hal yang sudah diketahui siswa.
• Memfokuskan perhatian siswa pada sesuatu
yang dikehendaki guru.
• Untuk membangkitkan lebih banyak lagi
pertanyaan dari siswa.
• Untuk mendengarkan kembali pengetahuan
siswa.
PEMODELAN (Modeling)
• Dalam pembelajaran ada model yang ditiru.
• Guru bukan satu-satunya model.
MASYARAKAT BELAJAR (Learning
Community)
• Disarankan melaksanakan
pembelajaran dalam kelompok-
kelompok belajar, kecil maupun
besar, kelas sederajat, diatasnya
dll.
• Mendatangkan/mendatangi
“ahli” (tokoh, olahragawan,
dokter, petani, tukang kayu dll.)
• Bekerja dengan masyarakat.
REFLEKSI (Reflection)
• Berfikir ke belakang tentang apa-
apa yang sudah dipelajari.
• Catatan atau jurnal di buku siswa.
• Kesan dan saran siswa mengenai
pembelajaran hari itu.
• Diskusi.
• Hasil karya.
PENILAIAN AUTENTIK
 suatu istilah/terminologi yang diciptakan untuk
menjelaskan berbagai metode penilaian alternatif yang
memungkinkan siswa dapat mendemonstrasikan
kemampuannya dalam menyelesaikan tugas-tugas dan
menyelesaikan masalah. Sekaligus, mengekspresikan
pengetahuan dan keterampilannya dengan cara
mensimulasikan situasi yang dapat ditemui di dalam dunia
nyata di luar lingkungan sekolah (Hymes, 1991).
Dalam hal ini adalah simulasi yang dapat mengekspresikan
prestasi (performance) siswa yang ditemui di dalam praktek
dunia nyata.
PENILAIAN AUTENTIK
(Authentic Assessment)
• Kemajuan belajar dinilai selama dan sesudah
pembelajaran berlangsung.
• Bisa digunakan untuk formatif ataupun
sumatif.
• Yang diukur keterampilan dan performansi,
bukan hanya mengingat fakta.
• Berkesinambungan.
• Terintegrasi.
• Dapat digunakan sebagai umpan balik.
TUJUAN PENILAIAN AUTENTIK
 mengevaluasi kemampuan siswa dalam konteks
dunia nyata. Dengan kata lain, siswa belajar
bagaimana mengaplikasikan pengetahuan dan
keterampilannya ke dalam tugas-tugas yang
autentik.
Melalui penilaian autentik ini, diharapkan ber-
bagai informasi yang absah/benar dan akurat
dapat terjaring berkaitan dengan apa yang benar-
benar diketahui dan dapat dilakukan oleh siswa
atau tentang kualitas program pendidikan.
Strategi Penilaian Autentik
• Penilaian kinerja (Performance assessment).
• Observasi sistematik atau investigasi jangka
pendek (System Observation – short
investigation)
• Pertanyaan terbuka
• Portofolio (Portfolio)
• Kajian/penilaian pribadi (self assessment).
• Jurnal (Journal)
KOMPONEN CTL (Johnson,
2002)
Making meaningful
connections
Doing significant work
Self-regulated learning
Collaborating
Critical and creative thinking
Nurturing individual
Reaching high standards
Using authentic assessment
Peranan Guru dalam CTL:
1) Mengkaji konsep atau teori yang akan dipelajari oleh siswa .
2) Memahami latar belakang dan pengalaman hidup siswa melalui proses
pengkajian secara seksama.
3) Mempelajari lingkungan sekolah dan tempat tinggal siswa yang
selanjutnya memilih dan mengkaitkan dengan konsep atau teori yang
akan dibahas dalam pembelajaran kontekstual.
4) Merancang pengajaran dengan mengkaitkan konsep atau teori yang
dipelajari dengan mempertimbangkan pengalaman yang dimiliki siswa
dan lingkungan hidup mereka.
5) Melaksanakan pengajaran dengan selalu mendorong siswa untuk
mengkaitkan apa yang sedang dipelajari dengan pengetahuan/
pengalaman sebelumnya dan fenomena kehidupan sehari-hari, serta
mendorong siswa untuk membangun kesimpulan yang merupakan
pemahaman siswa terhadap konsep atau teori yang sedang
dipelajarinya.
6) Melakukan penilaian autentik (authentic assessment) yang
memungkinkan siswa untuk menunjukkan penguasaan tujuan dan
pemahaman yang mendalam terhadap pembelajarannya, sekaligus
pada saat yang bersamaan dapat meningkatkan dan menemukan cara
untuk peningkatan pengetahuannya.
Implementasi CTL
– merencanakan pembelajaran sesuai dengan
perkembangan mental (depelopmentally appropriate)
siswa
– Membentuk group belajar yang saling tergantung
(interpendent learning group)
– Membuat hubungan yang bermakna (making
meaningful connections) antara sekolah dan konteks
kehidupan nyata, sehingga siswa merasakan bahwa
belajar penting untuk masa depannya.
– Melakukan pekerjaan yang siginifikan (doing significant
work). Pekerjaan yang memiliki suatu tujuan, memiliki
kepedulian terhadap orang lain, ikut serta dalam
menentukan pilihan, dan menghasilkan produk.
Lanjutan
– Menyediakan lingkungan yang mendukung
pembelajaran mandiri (self-regulated learning)
dengan 3 karakteristik umumnya (kesadaran
berpikir, penggunaan strategi dan motivasi
berkelanjutan).
– Memperhatikan multi-intelegensi (multiple intelli-
gences) siswa.
– Menggunakan teknik bertanya (questioning) yang
meningkatkan pembelajaran siswa, perkembangan
pemecahan masalah dan keterampilan berpikir
tingkat tinggi.
– Menciptakan masyarakat belajar (learning
community) dengan membangun kerjasama antar
siswa.
– Mempertimbangan keragaman siswa (disversity of
students).
Lanjutan – Mengembangkan pemikiran bahwa siswa akan
belajar lebih bermakna jika ia diberi kesempatan
untuk bekerja, menemukan, dan mengkontruksi
sendiri pengetahuan dan keterampilan baru
(contructivism).
– Memfasilitasi kegiatan penemuan (inquiry) agar
siswa memperoleh pengetahuan dan
keterampilan melalui penemuannya sendiri
(bukan hasil mengingat sejumlah fakta).
– Memodelkan (modelling) sesuatu agar siswa
dapat menirunya untuk memperoleh
pengetahuan dan keterampilan baru.
– Mengarahkan siswa untuk merefleksikan
(reflection) tentang apa yang sudah dipelajari.
– Menerapkan penilaian autentik (authentic
assessment).
5 Bentuk Belajar dalam CTL
1.mengaitkan (relating),
2.mengalami (experiencing),
3.menerapkan (applying),
4.bekerjasama (cooperating),
5.mentransfer (transferring).
• CBSA
• Pendekatan Proses
• Life Skills Education
• Authentic Instruction
• Inquiry-Based Learning
• Problem-Based Learning
• Cooperative-Learning
• Service learning
DIAGRAM SISTEM DUKUNGAN UNTUK
PELAKSANAAN CTL
Pembelajaran Siswa
Dukungan
Keorganisasian Sekolah
Dukungan
Masyarakat
Pengajaran
SEKIAN
Wassalamualaikum, Wr. Wb.
KOMPONEN CTL
Membuat hubungan yang bermakna (making meaningful
connections) antara sekolah dan konteks kehidupan
nyata, sehingga siswa merasakan bahwa belajar penting
untuk masa depannya.
Melakukan pekerjaan yang siginifikan (doing significant
work). Pekerjaan yang memiliki suatu tujuan, memiliki
kepedulian terhadap orang lain, ikut serta dalam
menentukan pilihan, dan menghasilkan produk.
Pembelajaran mandiri (self-regulated learning) yang
membangun minat individual siswa untuk bekerja sendiri
ataupun kelompok dalam rangka mencapai tujuan yang
bermakna dengan mengaitkan antara materi ajar dan
konteks kehidupan sehari-hari.
Bekerjasama (collaborating) untuk membantu siswa
bekerja secara efektif dalam kelompok, membantu mereka
untuk mengerti bagaimana berkomunikasi/berinteraksi
dengan yang lain dan dampak apa yang ditimbulkannya.
Berpikir kritis dan kreatif (critical and creative
thingking); siswa diwajibkan untuk memanfaatkan
berpikir kritis dan kreatifnya dalam pengumpulan,
analisi dan sintesa data, memahami suatu isu/fakta
dan pemecahan masalah.
Pendewasaan individu (nurturing individual) dengan
mengenalnya, memberikan perhatian, mempunyai
harapan tinggi terhadap siswa dan memotivasinya.
Pencapaian standar yang tinggi (reaching high
standards) melalui pengidentifikasian tujuan dan
memotivasi siswa untuk mencapainya.
Menggunakan penilaian autentik (using authentic
assessment) yang menantang siswa agar dapat
menggunakan informasi akademis baru dan
keterampilannya kedalam situasi nyata untuk tujuan
yang signifikan.
• Kontruktivisme (Contructivism)  landasan berpikir CTL, yang
menekankan bahwa belajar tidak hanya sekedar menghafal, mengingat
pengetahuan tetapi merupakan suatu proses belajar mengajar dimana siswa
sendiri aktif secara mental mebangun pengetahuannya, yang dilandasi oleh
struktur pengetahuanyang dimilikinya.
• Menemukan (Inquiry)  bagaian inti dari kegiatan pembelajaran
berbasis kontekstual Karena pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh
siswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta tetapi hasil dari
menemukan sendiri. Kegiatan menemukan (inquiry) merupakan sebuah siklus
yang terdiri dari observasi (observation), bertanya (questioning), mengajukan
dugaan (hiphotesis), pengumpulan data (data gathering), penyimpulan
(conclusion).
• Bertanya (Questioning)  Pengetahuan yang dimiliki seseorang selalu
dimulai dari bertanya. Bertanya merupakan strategi utama pembelajaran
berbasis kontekstual. Kegiatan bertanya berguna untuk : 1) menggali informasi,
2) menggali pemahaman siswa, 3) membangkitkan respon kepada siswa, 4)
mengetahui sejauh mana keingintahuan siswa, 5) mengetahui hal-hal yang sudah
diketahui siswa, 6) memfokuskan perhatian pada sesuatu yang dikehendaki guru,
7) membangkitkan lebih banyak lagi pertanyaan dari siswa, untuk menyegarkan
kembali pengetahuan siswa
Lanjutan
• Masyarakat Belajar (Learning Community) Konsep
masyarakat belajar menyarankan hasil pembelajaran diperoleh dari
hasil kerjasama dari orang lain. Hasil belajar diperoleh dari ‘sharing’
antar teman, antar kelompok, dan antar yang tahu ke yang belum
tahu. Masyarakat belajar tejadi apabila ada komunikasi dua arah,
dua kelompok atau lebih yang terlibat dalam komunikasi
pembelajaran saling belajar.
• Pemodelan (Modeling)  pada dasarnya membahasakan yang
dipikirkan, mendemonstrasi bagaimana guru menginginkan
siswanya untuk belajar dan malakukan apa yang guru inginkan agar
siswanya melakukan. Dalam pembelajaran kontekstual, guru bukan
satu-satunya model. Model dapat dirancang dengan ,melibatkan
siswa dan juga mendatangkan dari luar.
Lanjutan
• Refleksi (Reflection)  cara berpikir atau respon tentang apa yang
baru dipelajari aau berpikir kebelakang tentang apa yang sudah
dilakukan dimasa lalu. Realisasinya dalam pembelajaran, guru
menyisakan waktu sejenak agar siswa melakukan refleksi yang
berupa pernyataan langsung tentang apa yang diperoleh hari itu.
• Penilaian yang sebenarnya ( Authentic Assessment)  proses
pengumpulan berbagai data yang bisa memberi gambaran
mengenai perkembangan belajar siswa. Dalam pembelajaran
berbasis CTL, gambaran perkembangan belajar siswa perlu
diketahui guru agar bisa memastikan bahwa siswa mengalami
pembelajaran yang benar. Fokus penilaian adalah pada
penyelesaian tugas yang relevan dan kontekstual serta penilaian
dilakukan terhadap proses maupun hasil.

5-ctl.ppt

  • 1.
  • 2.
    Pendahuluan • Belajar danpembelajaran terjadi interaksi antara siswa dan guru. • Belajar pada hakikatnya menyangkut potensi manusia dan prilakunya. • Belajar akan lebih mantap dan efektif bila ada minat (terutama minat yang muncul dengan kesadaran sendiri), • Belajar perlu lingkungan atau kondisi belajar yang kondusif,siswa belajar tanpa adanya rasa takut atau tekanan. • Berhasil atau tidaknya proses pembelajaran dipengaruhi keberhasilan guru dalam menggunakan pendekatan dan model dalam pembelajaran. Pendukungnya: kelengkapan fasilitas belajar, keadaan anak didik, serta materi pelajaran.
  • 3.
    Lanjutan • Oleh sebabitu, seorang guru harus dapat memilih pendekatan dan model pembelajaran yang tepat sesuai dengan materi yang dipelajari. • Salah satu pendekatan pembelajaran yang diharapkan mampu menumbuhkan minat belajar siswa adalah pendekatan kontekstual. • Jadi, fungsi dan peranan guru hanya sebagai mediator siswa lebih proaktif untuk merumuskan sendiri tentang fenomena yang berkaitan dengan fokus kajian secara kontekstual bukan tekstual.
  • 4.
    Lanjutan • Pendekatan kontekstual(Contextual Teaching and Learning) merupakan konsep pembelajaran yang menekankan pada keterkaitan antara materi pembelajaran dengan dunia kehidupan peserta didik secara nyata, sehingga para peserta didik mampu menghubungkan dan menerapkan kompetensi hasil belajar dalam kehidupan sehari- hari. • Pendekatan ini sangat memperhatikan pengalaman dan pengetahuan awal siswa.
  • 5.
    Lanjutan • Pengalaman belajarsiswa diperoleh melalui serangkaian kegiatan belajar untuk mengeksplorasi lingkungan melalui interaksi aktif dengan teman, lingkungan dan nara sumber lain. • Siswa selayaknya memperoleh pengalaman belajar dalam tiga ranah sesuai teori Bloom yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik.
  • 6.
    PENGERTIAN CTL suatu prosespendidikan yang holistik. Bertujuan membantu siswa untuk memaha- mi makna materi ajar dengan mengaitkan materi tersebut terhadap konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi, sosial dan kultural). Sehingga siswa memiliki pengetahuan/keterampilan yang secara fleksibel dapat diterapkan (ditransfer) dari satu permasalahan/konteks ke permasalahan/ konteks lainnya. CTL
  • 7.
    Menurut Johnson (2002): Sistem Pembelajaran kontekstual merupakan suatu proses pendidikan yang bertujuan membantu siswa melihat makna dalam bahan ajar yang mereka pelajari dengan cara menghubungkannya dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari, yaitu dengan konteks lingkungan pribadi, sosial, dan budayanya. Untuk mencapai tujuan tersebut, sistem pembelajaran kontekstual akan mengarahkan siswa melakukan delapan komponen yaitu: melakukan hubungan bermakna, mengerjakan tugas/pekerjaan berarti, belajar mandiri, kerjasama, berpikir kritis dan kreatif, mengarahkan kepribadian diri, mencapai standar tinggi, dan menggunakan penilaian sebenarnya.
  • 8.
    MOTTO CTL • STUDENTSLEARN BEST BY ACTIVELY CONSTRUCTING THEIR OWN UNDERSTANDING(CTL Academy Fellow, 1999) • (Cara belajar terbaik adalah siswa mengkonstruksikan sendiri secara aktif pemahamannya)
  • 9.
    Teori yang MelandasiCTL • Knowledge-Based Constructivism, menekankan kepada pentingnya siswa membangun sendiri pengetahuan mereka lewat keterlibatan aktif dalam proses belajar mengajar. • Effort-Based Learning/Incremental Theory of Intellegence; Bekerja keras untuk mencapai tujuan belajar akan memotivasi seseorang untuk terlibat dalam kegiatan yang berkaitan dengan komitmen untuk belajar.
  • 10.
    Lanjutan • Socialization; yangmenekankan bahwa belajar merupakan proses sosial yang menentukan tujuan belajar, oleh karenanya, faktor sosial dan budaya perlu diperhatikan selama perencanaan pengajaran. • Situated Learning; pengetahuan dan pembelajaran harus dikondisikan dalam fisik tertentu dan konteks sosial (masyarakat, rumah, dan sebagainya) dalam mencapai tujuan belajar. • Distributed Learning; manusia merupakan bagian terintegrasi dari proses pembelajaran, oleh karenanya harus berbagi pengetahuan dan tugas- tugas
  • 11.
    Pembelajaran CTL MenjadiAlternatif  Sebelum disosialisasikannya KTSP 2006, umumnya guru ceramah dan tidak produktif.  CTL akan berpihak dan memberdayakan siswa.
  • 12.
    PERBEDAAN CTLTRADISIONAL NO. CTL TRADISONAL 1.Menyandarkan pada memori spasial (pemahaman makna) Menyandarkan pada hapalan 2. Pemilihan informasi berdasarkan kebutuh- an siswa Pemilihan informasi di- tentukan oleh guru 3. Siswa terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran Siswa secara pasif menerima informasi
  • 13.
    NO. CTL TRADISONAL 4.Pembelajaran dikaitkan dengan kehidupan nyata/masalah yang disimulasikan Pembelajaran sangat abstrak dan teoritis 5. Selalu mengkaitkan informasi dengan pengetahuan yang telah dimiliki siswa Memberikan tumpukan informasi kepada siswa sampai saatnya diperlukan 6. Cenderung mengintegrasikan beberapa bidang Cenderung terfokus pada satu bidang (disiplin) tertentu
  • 14.
    NO. CTL TRADISONAL 7.Siswa menggunakan waktu belajarnya untuk menemukan, menggali, berdiskusi, berpikir kritis, atau mengerjakan proyek dan pemecahan masalah (melalui kerja kelompok) Waktu belajar siswa se- bagian besar dipergu- nakan untuk mengerja- kan buku tugas, men- dengar ceramah, dan mengisi latihan yang membosankan (melalui kerja individual) 8. Perilaku dibangun atas kesadaran diri Perilaku dibangun atas kebiasaan
  • 15.
    N O CTL TRADISONAL 9. Keterampilan dikembangkanatas dasar pemahaman Keterampilan dikembangkan atas dasar latihan 10. Hadiah dari perilaku baik adalah kepuasan diri Hadiah dari perilaku baik adalah pujian atau nilai (angka) rapor 11. Siswa tidak melakukan hal yang buruk karena sadar hal tsb keliru dan merugikan Siswa tidak melakukan sesuatu yang buruk karena takut akan hukuman
  • 16.
    NO. CTL TRADISONAL 12.Perilaku baik berdasar- kan motivasi intrinsik Perilaku baik berdasar- kan motivasi ekstrinsik 13. Pembelajaran terjadi di berbagai tempat, konteks dan setting Pembelajaran hanya terjadi dalam kelas 14. Hasil belajar diukur melalui penerapan penilaian autentik. Hasil belajar diukur melalui kegiatan akademik dalam bentuk tes/ujian/ulangan.
  • 17.
  • 18.
    KONSTRUKTIVISME • Pengetahuan dibangun olehsiswa sedikit demi sedikit. • Strategi “memperoleh” lebih diutamakan dari pada seberapa banyak siswa memperoleh dan mengingat pengetahuan.
  • 19.
    MENEMUKAN (Inquiry) • Siklusinquiry adalah : Observasi, Bertanya, Mengajukan dugaan, Pengumpulan data, Penyimpulan. • Kata kunci strategi Inquiry adalah “SISWA MENEMUKAN SENDIRI”
  • 20.
    BERTANYA(Questioning) • Menggali informasi. •Mengecek pemahaman siswa. • Membangkitkan respon siswa. • Mengetahui sejauhmana keingintahuan siswa. • Mengetahui hal-hal yang sudah diketahui siswa. • Memfokuskan perhatian siswa pada sesuatu yang dikehendaki guru. • Untuk membangkitkan lebih banyak lagi pertanyaan dari siswa. • Untuk mendengarkan kembali pengetahuan siswa.
  • 21.
    PEMODELAN (Modeling) • Dalampembelajaran ada model yang ditiru. • Guru bukan satu-satunya model.
  • 22.
    MASYARAKAT BELAJAR (Learning Community) •Disarankan melaksanakan pembelajaran dalam kelompok- kelompok belajar, kecil maupun besar, kelas sederajat, diatasnya dll. • Mendatangkan/mendatangi “ahli” (tokoh, olahragawan, dokter, petani, tukang kayu dll.) • Bekerja dengan masyarakat.
  • 23.
    REFLEKSI (Reflection) • Berfikirke belakang tentang apa- apa yang sudah dipelajari. • Catatan atau jurnal di buku siswa. • Kesan dan saran siswa mengenai pembelajaran hari itu. • Diskusi. • Hasil karya.
  • 24.
    PENILAIAN AUTENTIK  suatuistilah/terminologi yang diciptakan untuk menjelaskan berbagai metode penilaian alternatif yang memungkinkan siswa dapat mendemonstrasikan kemampuannya dalam menyelesaikan tugas-tugas dan menyelesaikan masalah. Sekaligus, mengekspresikan pengetahuan dan keterampilannya dengan cara mensimulasikan situasi yang dapat ditemui di dalam dunia nyata di luar lingkungan sekolah (Hymes, 1991). Dalam hal ini adalah simulasi yang dapat mengekspresikan prestasi (performance) siswa yang ditemui di dalam praktek dunia nyata.
  • 25.
    PENILAIAN AUTENTIK (Authentic Assessment) •Kemajuan belajar dinilai selama dan sesudah pembelajaran berlangsung. • Bisa digunakan untuk formatif ataupun sumatif. • Yang diukur keterampilan dan performansi, bukan hanya mengingat fakta. • Berkesinambungan. • Terintegrasi. • Dapat digunakan sebagai umpan balik.
  • 26.
    TUJUAN PENILAIAN AUTENTIK mengevaluasi kemampuan siswa dalam konteks dunia nyata. Dengan kata lain, siswa belajar bagaimana mengaplikasikan pengetahuan dan keterampilannya ke dalam tugas-tugas yang autentik. Melalui penilaian autentik ini, diharapkan ber- bagai informasi yang absah/benar dan akurat dapat terjaring berkaitan dengan apa yang benar- benar diketahui dan dapat dilakukan oleh siswa atau tentang kualitas program pendidikan.
  • 27.
    Strategi Penilaian Autentik •Penilaian kinerja (Performance assessment). • Observasi sistematik atau investigasi jangka pendek (System Observation – short investigation) • Pertanyaan terbuka • Portofolio (Portfolio) • Kajian/penilaian pribadi (self assessment). • Jurnal (Journal)
  • 28.
    KOMPONEN CTL (Johnson, 2002) Makingmeaningful connections Doing significant work Self-regulated learning Collaborating Critical and creative thinking Nurturing individual Reaching high standards Using authentic assessment
  • 29.
    Peranan Guru dalamCTL: 1) Mengkaji konsep atau teori yang akan dipelajari oleh siswa . 2) Memahami latar belakang dan pengalaman hidup siswa melalui proses pengkajian secara seksama. 3) Mempelajari lingkungan sekolah dan tempat tinggal siswa yang selanjutnya memilih dan mengkaitkan dengan konsep atau teori yang akan dibahas dalam pembelajaran kontekstual. 4) Merancang pengajaran dengan mengkaitkan konsep atau teori yang dipelajari dengan mempertimbangkan pengalaman yang dimiliki siswa dan lingkungan hidup mereka. 5) Melaksanakan pengajaran dengan selalu mendorong siswa untuk mengkaitkan apa yang sedang dipelajari dengan pengetahuan/ pengalaman sebelumnya dan fenomena kehidupan sehari-hari, serta mendorong siswa untuk membangun kesimpulan yang merupakan pemahaman siswa terhadap konsep atau teori yang sedang dipelajarinya. 6) Melakukan penilaian autentik (authentic assessment) yang memungkinkan siswa untuk menunjukkan penguasaan tujuan dan pemahaman yang mendalam terhadap pembelajarannya, sekaligus pada saat yang bersamaan dapat meningkatkan dan menemukan cara untuk peningkatan pengetahuannya.
  • 30.
    Implementasi CTL – merencanakanpembelajaran sesuai dengan perkembangan mental (depelopmentally appropriate) siswa – Membentuk group belajar yang saling tergantung (interpendent learning group) – Membuat hubungan yang bermakna (making meaningful connections) antara sekolah dan konteks kehidupan nyata, sehingga siswa merasakan bahwa belajar penting untuk masa depannya. – Melakukan pekerjaan yang siginifikan (doing significant work). Pekerjaan yang memiliki suatu tujuan, memiliki kepedulian terhadap orang lain, ikut serta dalam menentukan pilihan, dan menghasilkan produk.
  • 31.
    Lanjutan – Menyediakan lingkunganyang mendukung pembelajaran mandiri (self-regulated learning) dengan 3 karakteristik umumnya (kesadaran berpikir, penggunaan strategi dan motivasi berkelanjutan). – Memperhatikan multi-intelegensi (multiple intelli- gences) siswa. – Menggunakan teknik bertanya (questioning) yang meningkatkan pembelajaran siswa, perkembangan pemecahan masalah dan keterampilan berpikir tingkat tinggi. – Menciptakan masyarakat belajar (learning community) dengan membangun kerjasama antar siswa. – Mempertimbangan keragaman siswa (disversity of students).
  • 32.
    Lanjutan – Mengembangkanpemikiran bahwa siswa akan belajar lebih bermakna jika ia diberi kesempatan untuk bekerja, menemukan, dan mengkontruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan baru (contructivism). – Memfasilitasi kegiatan penemuan (inquiry) agar siswa memperoleh pengetahuan dan keterampilan melalui penemuannya sendiri (bukan hasil mengingat sejumlah fakta). – Memodelkan (modelling) sesuatu agar siswa dapat menirunya untuk memperoleh pengetahuan dan keterampilan baru. – Mengarahkan siswa untuk merefleksikan (reflection) tentang apa yang sudah dipelajari. – Menerapkan penilaian autentik (authentic assessment).
  • 33.
    5 Bentuk Belajardalam CTL 1.mengaitkan (relating), 2.mengalami (experiencing), 3.menerapkan (applying), 4.bekerjasama (cooperating), 5.mentransfer (transferring).
  • 34.
    • CBSA • PendekatanProses • Life Skills Education • Authentic Instruction • Inquiry-Based Learning • Problem-Based Learning • Cooperative-Learning • Service learning
  • 35.
    DIAGRAM SISTEM DUKUNGANUNTUK PELAKSANAAN CTL Pembelajaran Siswa Dukungan Keorganisasian Sekolah Dukungan Masyarakat Pengajaran
  • 36.
  • 37.
    KOMPONEN CTL Membuat hubunganyang bermakna (making meaningful connections) antara sekolah dan konteks kehidupan nyata, sehingga siswa merasakan bahwa belajar penting untuk masa depannya. Melakukan pekerjaan yang siginifikan (doing significant work). Pekerjaan yang memiliki suatu tujuan, memiliki kepedulian terhadap orang lain, ikut serta dalam menentukan pilihan, dan menghasilkan produk.
  • 38.
    Pembelajaran mandiri (self-regulatedlearning) yang membangun minat individual siswa untuk bekerja sendiri ataupun kelompok dalam rangka mencapai tujuan yang bermakna dengan mengaitkan antara materi ajar dan konteks kehidupan sehari-hari. Bekerjasama (collaborating) untuk membantu siswa bekerja secara efektif dalam kelompok, membantu mereka untuk mengerti bagaimana berkomunikasi/berinteraksi dengan yang lain dan dampak apa yang ditimbulkannya.
  • 39.
    Berpikir kritis dankreatif (critical and creative thingking); siswa diwajibkan untuk memanfaatkan berpikir kritis dan kreatifnya dalam pengumpulan, analisi dan sintesa data, memahami suatu isu/fakta dan pemecahan masalah. Pendewasaan individu (nurturing individual) dengan mengenalnya, memberikan perhatian, mempunyai harapan tinggi terhadap siswa dan memotivasinya.
  • 40.
    Pencapaian standar yangtinggi (reaching high standards) melalui pengidentifikasian tujuan dan memotivasi siswa untuk mencapainya. Menggunakan penilaian autentik (using authentic assessment) yang menantang siswa agar dapat menggunakan informasi akademis baru dan keterampilannya kedalam situasi nyata untuk tujuan yang signifikan.
  • 41.
    • Kontruktivisme (Contructivism) landasan berpikir CTL, yang menekankan bahwa belajar tidak hanya sekedar menghafal, mengingat pengetahuan tetapi merupakan suatu proses belajar mengajar dimana siswa sendiri aktif secara mental mebangun pengetahuannya, yang dilandasi oleh struktur pengetahuanyang dimilikinya. • Menemukan (Inquiry)  bagaian inti dari kegiatan pembelajaran berbasis kontekstual Karena pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta tetapi hasil dari menemukan sendiri. Kegiatan menemukan (inquiry) merupakan sebuah siklus yang terdiri dari observasi (observation), bertanya (questioning), mengajukan dugaan (hiphotesis), pengumpulan data (data gathering), penyimpulan (conclusion). • Bertanya (Questioning)  Pengetahuan yang dimiliki seseorang selalu dimulai dari bertanya. Bertanya merupakan strategi utama pembelajaran berbasis kontekstual. Kegiatan bertanya berguna untuk : 1) menggali informasi, 2) menggali pemahaman siswa, 3) membangkitkan respon kepada siswa, 4) mengetahui sejauh mana keingintahuan siswa, 5) mengetahui hal-hal yang sudah diketahui siswa, 6) memfokuskan perhatian pada sesuatu yang dikehendaki guru, 7) membangkitkan lebih banyak lagi pertanyaan dari siswa, untuk menyegarkan kembali pengetahuan siswa
  • 42.
    Lanjutan • Masyarakat Belajar(Learning Community) Konsep masyarakat belajar menyarankan hasil pembelajaran diperoleh dari hasil kerjasama dari orang lain. Hasil belajar diperoleh dari ‘sharing’ antar teman, antar kelompok, dan antar yang tahu ke yang belum tahu. Masyarakat belajar tejadi apabila ada komunikasi dua arah, dua kelompok atau lebih yang terlibat dalam komunikasi pembelajaran saling belajar. • Pemodelan (Modeling)  pada dasarnya membahasakan yang dipikirkan, mendemonstrasi bagaimana guru menginginkan siswanya untuk belajar dan malakukan apa yang guru inginkan agar siswanya melakukan. Dalam pembelajaran kontekstual, guru bukan satu-satunya model. Model dapat dirancang dengan ,melibatkan siswa dan juga mendatangkan dari luar.
  • 43.
    Lanjutan • Refleksi (Reflection) cara berpikir atau respon tentang apa yang baru dipelajari aau berpikir kebelakang tentang apa yang sudah dilakukan dimasa lalu. Realisasinya dalam pembelajaran, guru menyisakan waktu sejenak agar siswa melakukan refleksi yang berupa pernyataan langsung tentang apa yang diperoleh hari itu. • Penilaian yang sebenarnya ( Authentic Assessment)  proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberi gambaran mengenai perkembangan belajar siswa. Dalam pembelajaran berbasis CTL, gambaran perkembangan belajar siswa perlu diketahui guru agar bisa memastikan bahwa siswa mengalami pembelajaran yang benar. Fokus penilaian adalah pada penyelesaian tugas yang relevan dan kontekstual serta penilaian dilakukan terhadap proses maupun hasil.