Oleh :
Ratih Aryani, M.Farm., Apt.
STIKes BTH TASIKMALAYA
EMULSI
Emulsi adalah sistem dua fase, yang salah satu cairannya
terdispersi dalam cairan lainnya dalam bentuk tetesan
kecil (DepkesRI, 1995).
Emulsi adalah sediaan yang mengandung bahan obat cair
atau larutan obat, terdispersi dalam cairan pembawa,
distabilkan dengan zat pengemulsi atau surfaktan yang
cocok (DepkesRI, 1979)
Emulsi adalah sistem heterogen yang terdiri atas 2 cairan
tidak bercampur (secara konversi dinyatakan sebagai
minyak dan air), salah satunya terdispersi sebagai tetesan
halus secara seragam pada fasa lainnya (Agoes, 2012)
Dalam bidang farmasi :
Campuran homogen dari 2 cairan yang
dalam keadaan normal tidak bercampur
(fase air dan fase minyak), dengan
pertolongan suatu bahan penolong yang
disebut emulgator
Emulsi secara
termodinamika –
TIDAK STABIL
Diameter
tetesan 0,1-
100μm
 Fase dispers vs medium dispers
 Fase intern vs fase ekstern
 Fase diskontiyu vs fase kontinyu
Fase yang berair :
 Dapat terdiri dari air atau campuran sejumlah
substansi hidrofil seperti : alkohol, glikol, gula, garam
mineral, garam organik, dll.
Fase yang berminyak :
 Fase organik padat/cair, dapat terdiri dari substansi
lipofil seperti : asam lemak, alkohol asam lemak, lilin,
zat-zat aktif liposolubel, dll
 Tipe O/W : Minyak / Air
 Tipe W/O : Air / Minyak
 Tipe WOW : Air / Minyak / Air
 Tipe OWO : Minyak / Air / Minyak
Emulsi :
 Campuran terner : air + minyak + emulgator
 Jika surfaktan (emulgator) larut dalam air, maka akan
terbentuk emulsi minyak dalam air (m/a). Begitu juga
sebaliknya jika surfaktan (emulgator) larut dalam minya,
maka akan terbentuk emulsi air dalam minyak (a/m)
 Emulsi air dalam minyak (a/m) dapat terbentuk jika
jumlah air < 40 % dari volumenya. Jumlah yang lebih
tinggi dari 40 % akan membentuk tipe emulsi minyak
dalam air (m/a)
 Walaupun airnya hanya 20 – 30 %, emulsi minyak dalam
air (m/a) akan tetap terbentuk jika air ditambahkan pada
proses pencampuran
 Berdasarkan viskositas. Emulsi yang terbentuk
didasarkan pada viskositas setiap fase. Peningkatan
viskositas akan membentuk fase luar
 Membuat sediaan obat yang larut dalam air
maupun minyak dalam satu campuran.
 Emulsi berdasar penggunaannya :
 Emulsi untuk pemakaian dalam (per oral) Emulsi
tipe O/W.
 Emulsi untuk pemakaian luar, emulsi tipe O/W ,
W/O
1. Banyak bahan obat yang mempunyai rasa dan susunan yang tidak
menyenangkan dan dapat dibuat lebih enak pada pemberian oral
bila diformulasikan menjadi emulsi.
2. Beberapa obat menjadi lebih mudah diabsorpsi bila obat-obat
tersebut diberikan secara oral dalam bentuk emulsi.
3. Emulsi memiliki derajat elegansi tertentu dan mudah dicuci bila
diinginkan.
4. Formulator dapat mengontrol penampilan, viskositas, dan
kekasaran (greasiness) dari emulsi kosmetik maupun emulsi
dermal.
5. Emulsi telah digunakan untuk pemberian makanan berlemak
secara intravena akan lebih mudah jika dibuat dalam bentuk
emulsi.
Lachman, 1994
6. Aksi emulsi dapat diperpanjang dan efek emollient
yang lebih besar daripada jika dibandingkan dengan
sediaan lain.
7. Emulsi juga memiliki keuntungan biaya yang penting
daripada preparat fase tunggal, sebagian besarlemak
dan pelarut-pelarut untuk lemak yang dimaksudkan
untuk pemakaian ke dalam tubuh manusia relatif
memakan biaya, akibatnya pengenceran dengan suatu
pengencer yang aman dan tidak mahal seperti air
sangat diinginkan dari segi ekonomis selama
kemanjuran dan penampilan tidak dirusak.
Lachman, 1994
1. Emulsi kadang-kadang sulit dibuat dan membutuhkan
tehnik pemprosesan khusus. Untuk menjamin karya
tipe ini dan untuk membuatnya sebagai sediaan yang
berguna, emulsi harus memiliki sifat yang diinginkan
dan menimbulkan sedikit mungkin masalah-masalah
yang berhubungan.
Lachman, 1994
Dalam emulsi, butir-butir tetesan (fase dispers)
dapat distabilkan dengan mekanisme teori :
1. Teori penurunan tegangan permukaan
2. Teori Oriented Wedge
3. Teori Interfacial Film (Plastic Film)
4. Teori terbentuknya lapisan ganda listrik
Teori ini menjelaskan fenomena terbentuknya emulsi
berdasarkan adanya kelarutan selektif dari bagian molekul
emulgator : ada bagian yang bersifat suka air atau mudah
larut dalam air, dan ada bagian yang suka minyak atau
mudah larut dalam minyak.
 H.L.B = Hidrofilik Lipofilic Balance
 Angka yang menunjukkan perbandingan antara
kelompok hidrofil dengan kelompok lipofil.
 Semakin besar harga HLB berarti semakin banyak
kelompok yang suka pada air sehingga emulgator
tersebut lebih mudah larut dalam air dan demikian
pula sebaliknya
Penurunan Tegangan Permukaan
 Peranan emulgator adalah sebagai pemberi batas antarmuka
masing – masing cairan dan mencegah penggabungan antar partikel
partikel sehingga dapat mencegah flokulasi.
Pembentuk Lapisan Antarmuka
 Pengemulsi membentuka lapisan tipis menomolekuler pada
permukaan fase terdispersi. Hal ini bedasarkan sifat amfifil (suka
minyak dan air) dan pengemulsi yang cenderung untuk
menempatkan dirinya pada tempat yang disukai. Bagian hidrofilik
mengarah keminyak sehingga dengan adanya lapisan tipis kaku ini
akan membentuk sautu penghalang meknik terhadap adhesi dan
flokulasi yang terkemas rapat, sehingga dapat dibentuk emulsi stabil.
(Lachman : 1034)
Penolakan Elektrik
 Potensial yang dihasilkan oleh lapisan rangkap tersebut
menciptakan suatu pengaruh tolak menolak antara tetesan – tetasan
minyak, sehingga mencegah penggabungan
Padatan Terbagi Halus
 Bagian emulgator ini membentuk lapisan khusus disekeliling tetesan
terdispersi dan menghasilkan emulsi yang meskipun berbutir kasar,
mempunyai stabilitas fisik. Hal ini dapat menyebabkan padatan
dapat bekerja sebagai emulgator
(Lachman : 1034)
 Gugus hidrofilik : bersifat polar (mudah bersenyawa dengan air)
 Gugus lipofilik : bersifat non polar (mudah bersenyawa dengan
minyak).
 Salah satu gugus harus lebih dominan jumlahnya.
 Gugus polar dominan : maka molekul-molekul surfaktan
tersebut akan diabsorpsi lebih kuat oleh air dibandingkan
dengan minyak. Akibatnya tegangan permukaan air menjadi
lebih rendah sehingga mudah menyebar dan menjadi fase
kontinu.
 Gugus non polarnya lebih dominan, maka molekulmolekul
surfaktan tersebut akan diabsorpsi lebih kuat oleh minyak
dibandingkan dengan air. Akibatnya tegangan permukaan
minyak menjadi lebih rendah sehingga mudah menyebar dan
menjadi fase kontinu
 Penambahan surfaktan dalam larutan akan menyebabkan
turunnya tegangan permukaan larutan.
 Setelah mencapai konsentrasi tertentu, tegangan permukaan
akan konstan walaupun konsentrasi surfaktan ditingkatkan.
 Bila surfaktan ditambahkan melebihi konsentrasi ini maka
surfaktan mengagregasi membentuk misel. Konsentrasi
terbentuknya misel ini disebut Critical Micelle Concentration
(CMC).
 Tegangan permukaan akan menurun hingga CMC tercapai.
Setelah CMC tercapai, tegangan permukaan akan konstan yang
menunjukkan bahwa antar muka menjadi jenuh dan terbentuk
misel yang berada dalam keseimbangan dinamis dengan
monomernya (Genaro, 1990)
1) Surfaktan anionik yaitu surfaktan yang bagian alkilnya terikat pada
suatu anion. Contohnya adalah garam alkana sulfonat, garam olefin
sulfonat, garam sulfonat asam lemak rantai panjang.
2) Surfaktan kationik yaitu surfaktan yang bagian alkilnya terikat pada
suatu kation. Contohnya garam alkil trimethil ammonium, garam
dialkil-dimethil ammonium dan garam alkil dimethil benzil
ammonium.
3) Surfaktan nonionik yaitu surfaktan yang bagian alkilnya tidak
bermuatan. Contohnya ester gliserin asam lemak, ester sorbitan asam
lemak, ester sukrosa asam lemak, polietilena alkil amina, glukamina,
alkil poliglukosida, mono alkanol amina, dialkanol amina dan alkil
amina oksida.
4) Surfaktan amfoter yaitu surfaktan yang bagian alkilnya mempunyai
muatan positif dan negatif. Contohnya surfaktan yang mengandung
asam amino, betain, fosfobetain.
 Mortir dan stamfer  emulsi skala kecil
 Botol Penggojokan
 Mixer  fase dispers dihaluskan oleh pisau mixer
yang berputar dengan kecepatan tinggi.
 Homogenizer  fase dispers dilewatkan dalam
celah sempit sehingga partikel mempunyai
ukuran yang sama.
 Metode Gom Kering
CARA PEMBUATAN
4 : 2 : 1
minyak
air
2 : 1 : 1,5
minyak emulgator air
• METODE GOM BASAH
(METODE INGGRIS)
Emulgator ditabur di atas air
Terbentuk mucilago/mengembang
Tambahkan minyak
(sedikit demi sedikit)
Gerus hingga terbentuk emulsi primer
• METODE GOM KERING
(METODE KONTINENTAL)
Emulgator + minyak
Emulgator terbasahi
Tambahkan air sekaligus
Gerus hingga terbentuk emulsi primer
seperti susu
1. Pembuatan corpus emulsi
emulgator
Flokulasi dan Creaming
Flokulasi, karena kurangnya zat pengemulsi
sehingga kedua fase tidak tertutupi oleh lapisan
pelindung sehingga terbentuklah flok-flok atau
sebuah agregat.
Creaming, terpisahnya emulsi menjadi dua bagian
dimana yang satu mengandung fase dispers lebih
banyak daripada lapisan lain.
adanya pengaruh gravitasi membuat emulsi
memekat pada daerah permukaan dan dasar.
Creaming bersifat reversible artinya bila
dikocok perlahan-lahan akan terdispers kembali
Koalesen dan cracking (breaking)
Koalesen, yang disebabkan hilangnya lapisan film dam
globul sehingga terjadi pencampuran.
Yaitu pecahnya emulsi karema film yang meliputi
partikel rusak dan butir minyak akan koalesen
(menyatu).
lapisan film mengalami pemecahan sehingga hilang
karena pengaruh suhu.
Sifatnya irreversible (tidak bisa diperbaiki)
Infersi fase
Berubahnya tipe emulsi minyak dalam air menjadi air
dalam minyak atau sebaliknya.
yang terjadi karena adanya perubahan viskositas.
Penentuan Tipe Emulsi
 Metode Pengenceran
 Uji pewarnaan
 Zat warna larut air yang ditaburkan pada permukaan
emulsi akan mengindikasikan sifat dari fasa kontinu.
 Pada emulsi M/A akan berlangsung inkorporasi
warna larutan secara cepat ke dalam sistem
 Pada emulsi A/M warna akan berupa kelompok
vesikel yang tampak.
 Peristiwa sebaliknya akan terlihat jika digunakan zat
warna larut minyak.
 Kertas kobal klorida
 Kertas asaring dibacam (diimpregnasi) dengan kobal
klorida dan dikeringkan.
 Warna biru akan berubah menjadi warna merah muda
(pink) jika diteteskan/ ditambahkan emulsi M/A.
 Dapat mengalami kegagalan (tidak berhasil) jika emulsi
tidak stabil atau pecah dengan keberadaan elektrolit.
 Fluoresensi
 Fluoresensi di bawah cahaya ultraviolet.
 Emulsi M/A menunjukkan pola bintik (titik), sedangkan
pada emulsi A/M, fluoresensi terlihat secara menyeluruh
(Agoes, 2012).
 HLB adalah singkatan dari Hydrophylic-Lipophylic
Balance) adalah nilai untuk mengukur efisiensi
surfaktan
 Makin tinggi nilai HLB makin hidrofil suatu surfaktan.
 Makin rendah nilai HLB makin lipofil suatu surfaktan.
 Menurut Griffin perhitungan HLB adalah:
 Pada pembuatan 100 ml emulsi tipe o/w diperlukan
emulgator dengan harga HLB 12. sebagai emulgator
dipakai campuran Span 20 (HLB 8,6) dan Tween 20
(HLB 16, 7) sebanyak 5 gram. Berapa perbandingan
antara Span 20 dan Tween 20 ?
 Tween 80 70% HLB 15
 Span 80 30% HLB 4,5
 Berapa HLB campuran ?
R/ Parafin cair 30% (HLB : 12)
Emulgator 5%
Air ad 100 gram
Jawab :
cara pertama pilih nilai HLB surfaktan yang diantara HLB parafin
cair (HLB 12), dipilih melalui data yaitu
span 80 (HLB 4,3) dan tween 80 (HLB 15) ).
Jumlah emulgator yang diperlukan = 5% x 100 = 5 gram
kemudian buat pemisalan untuk persamaan :
Tween 80 = a gram
Span 80 = (5-a) gram
Persamaan :
(a x HLB) + ((5-a) x HLB ) = (5 x HLB) :
(a x 15) + ((5-a) x 4,3) = (5 x 12)
15a + 21,5 - 4,3a = 60
10,7a = 38,5
a = 3,6 gram
Jadi tween 80 yang dibutuhkan = 3,6 gram
sedangkan span 80 yang dibutuhkan = (5-3,6 gram) = 1,4 gram
 Organoleptis
 Pengukuran bobot jenis
 Ukuran partikel
 pH
 Pengukuran viskositas
 Sentrifugasi
 Penentuan tipe emulsi
 Volume Terpindahkan
 Pemeriksaan keseragaman kadar
 Stabilitas suhu (cycling test)
Emulsi
Emulsi
Emulsi
Emulsi
Emulsi

Emulsi

  • 1.
    Oleh : Ratih Aryani,M.Farm., Apt. STIKes BTH TASIKMALAYA EMULSI
  • 3.
    Emulsi adalah sistemdua fase, yang salah satu cairannya terdispersi dalam cairan lainnya dalam bentuk tetesan kecil (DepkesRI, 1995). Emulsi adalah sediaan yang mengandung bahan obat cair atau larutan obat, terdispersi dalam cairan pembawa, distabilkan dengan zat pengemulsi atau surfaktan yang cocok (DepkesRI, 1979) Emulsi adalah sistem heterogen yang terdiri atas 2 cairan tidak bercampur (secara konversi dinyatakan sebagai minyak dan air), salah satunya terdispersi sebagai tetesan halus secara seragam pada fasa lainnya (Agoes, 2012)
  • 4.
    Dalam bidang farmasi: Campuran homogen dari 2 cairan yang dalam keadaan normal tidak bercampur (fase air dan fase minyak), dengan pertolongan suatu bahan penolong yang disebut emulgator Emulsi secara termodinamika – TIDAK STABIL Diameter tetesan 0,1- 100μm
  • 5.
     Fase dispersvs medium dispers  Fase intern vs fase ekstern  Fase diskontiyu vs fase kontinyu Fase yang berair :  Dapat terdiri dari air atau campuran sejumlah substansi hidrofil seperti : alkohol, glikol, gula, garam mineral, garam organik, dll. Fase yang berminyak :  Fase organik padat/cair, dapat terdiri dari substansi lipofil seperti : asam lemak, alkohol asam lemak, lilin, zat-zat aktif liposolubel, dll
  • 6.
     Tipe O/W: Minyak / Air  Tipe W/O : Air / Minyak  Tipe WOW : Air / Minyak / Air  Tipe OWO : Minyak / Air / Minyak Emulsi :  Campuran terner : air + minyak + emulgator
  • 10.
     Jika surfaktan(emulgator) larut dalam air, maka akan terbentuk emulsi minyak dalam air (m/a). Begitu juga sebaliknya jika surfaktan (emulgator) larut dalam minya, maka akan terbentuk emulsi air dalam minyak (a/m)  Emulsi air dalam minyak (a/m) dapat terbentuk jika jumlah air < 40 % dari volumenya. Jumlah yang lebih tinggi dari 40 % akan membentuk tipe emulsi minyak dalam air (m/a)  Walaupun airnya hanya 20 – 30 %, emulsi minyak dalam air (m/a) akan tetap terbentuk jika air ditambahkan pada proses pencampuran  Berdasarkan viskositas. Emulsi yang terbentuk didasarkan pada viskositas setiap fase. Peningkatan viskositas akan membentuk fase luar
  • 12.
     Membuat sediaanobat yang larut dalam air maupun minyak dalam satu campuran.  Emulsi berdasar penggunaannya :  Emulsi untuk pemakaian dalam (per oral) Emulsi tipe O/W.  Emulsi untuk pemakaian luar, emulsi tipe O/W , W/O
  • 13.
    1. Banyak bahanobat yang mempunyai rasa dan susunan yang tidak menyenangkan dan dapat dibuat lebih enak pada pemberian oral bila diformulasikan menjadi emulsi. 2. Beberapa obat menjadi lebih mudah diabsorpsi bila obat-obat tersebut diberikan secara oral dalam bentuk emulsi. 3. Emulsi memiliki derajat elegansi tertentu dan mudah dicuci bila diinginkan. 4. Formulator dapat mengontrol penampilan, viskositas, dan kekasaran (greasiness) dari emulsi kosmetik maupun emulsi dermal. 5. Emulsi telah digunakan untuk pemberian makanan berlemak secara intravena akan lebih mudah jika dibuat dalam bentuk emulsi. Lachman, 1994
  • 14.
    6. Aksi emulsidapat diperpanjang dan efek emollient yang lebih besar daripada jika dibandingkan dengan sediaan lain. 7. Emulsi juga memiliki keuntungan biaya yang penting daripada preparat fase tunggal, sebagian besarlemak dan pelarut-pelarut untuk lemak yang dimaksudkan untuk pemakaian ke dalam tubuh manusia relatif memakan biaya, akibatnya pengenceran dengan suatu pengencer yang aman dan tidak mahal seperti air sangat diinginkan dari segi ekonomis selama kemanjuran dan penampilan tidak dirusak. Lachman, 1994
  • 15.
    1. Emulsi kadang-kadangsulit dibuat dan membutuhkan tehnik pemprosesan khusus. Untuk menjamin karya tipe ini dan untuk membuatnya sebagai sediaan yang berguna, emulsi harus memiliki sifat yang diinginkan dan menimbulkan sedikit mungkin masalah-masalah yang berhubungan. Lachman, 1994
  • 16.
    Dalam emulsi, butir-butirtetesan (fase dispers) dapat distabilkan dengan mekanisme teori : 1. Teori penurunan tegangan permukaan 2. Teori Oriented Wedge 3. Teori Interfacial Film (Plastic Film) 4. Teori terbentuknya lapisan ganda listrik
  • 18.
    Teori ini menjelaskanfenomena terbentuknya emulsi berdasarkan adanya kelarutan selektif dari bagian molekul emulgator : ada bagian yang bersifat suka air atau mudah larut dalam air, dan ada bagian yang suka minyak atau mudah larut dalam minyak.
  • 19.
     H.L.B =Hidrofilik Lipofilic Balance  Angka yang menunjukkan perbandingan antara kelompok hidrofil dengan kelompok lipofil.  Semakin besar harga HLB berarti semakin banyak kelompok yang suka pada air sehingga emulgator tersebut lebih mudah larut dalam air dan demikian pula sebaliknya
  • 29.
    Penurunan Tegangan Permukaan Peranan emulgator adalah sebagai pemberi batas antarmuka masing – masing cairan dan mencegah penggabungan antar partikel partikel sehingga dapat mencegah flokulasi. Pembentuk Lapisan Antarmuka  Pengemulsi membentuka lapisan tipis menomolekuler pada permukaan fase terdispersi. Hal ini bedasarkan sifat amfifil (suka minyak dan air) dan pengemulsi yang cenderung untuk menempatkan dirinya pada tempat yang disukai. Bagian hidrofilik mengarah keminyak sehingga dengan adanya lapisan tipis kaku ini akan membentuk sautu penghalang meknik terhadap adhesi dan flokulasi yang terkemas rapat, sehingga dapat dibentuk emulsi stabil. (Lachman : 1034)
  • 30.
    Penolakan Elektrik  Potensialyang dihasilkan oleh lapisan rangkap tersebut menciptakan suatu pengaruh tolak menolak antara tetesan – tetasan minyak, sehingga mencegah penggabungan Padatan Terbagi Halus  Bagian emulgator ini membentuk lapisan khusus disekeliling tetesan terdispersi dan menghasilkan emulsi yang meskipun berbutir kasar, mempunyai stabilitas fisik. Hal ini dapat menyebabkan padatan dapat bekerja sebagai emulgator (Lachman : 1034)
  • 32.
     Gugus hidrofilik: bersifat polar (mudah bersenyawa dengan air)  Gugus lipofilik : bersifat non polar (mudah bersenyawa dengan minyak).  Salah satu gugus harus lebih dominan jumlahnya.  Gugus polar dominan : maka molekul-molekul surfaktan tersebut akan diabsorpsi lebih kuat oleh air dibandingkan dengan minyak. Akibatnya tegangan permukaan air menjadi lebih rendah sehingga mudah menyebar dan menjadi fase kontinu.  Gugus non polarnya lebih dominan, maka molekulmolekul surfaktan tersebut akan diabsorpsi lebih kuat oleh minyak dibandingkan dengan air. Akibatnya tegangan permukaan minyak menjadi lebih rendah sehingga mudah menyebar dan menjadi fase kontinu
  • 33.
     Penambahan surfaktandalam larutan akan menyebabkan turunnya tegangan permukaan larutan.  Setelah mencapai konsentrasi tertentu, tegangan permukaan akan konstan walaupun konsentrasi surfaktan ditingkatkan.  Bila surfaktan ditambahkan melebihi konsentrasi ini maka surfaktan mengagregasi membentuk misel. Konsentrasi terbentuknya misel ini disebut Critical Micelle Concentration (CMC).  Tegangan permukaan akan menurun hingga CMC tercapai. Setelah CMC tercapai, tegangan permukaan akan konstan yang menunjukkan bahwa antar muka menjadi jenuh dan terbentuk misel yang berada dalam keseimbangan dinamis dengan monomernya (Genaro, 1990)
  • 35.
    1) Surfaktan anionikyaitu surfaktan yang bagian alkilnya terikat pada suatu anion. Contohnya adalah garam alkana sulfonat, garam olefin sulfonat, garam sulfonat asam lemak rantai panjang. 2) Surfaktan kationik yaitu surfaktan yang bagian alkilnya terikat pada suatu kation. Contohnya garam alkil trimethil ammonium, garam dialkil-dimethil ammonium dan garam alkil dimethil benzil ammonium. 3) Surfaktan nonionik yaitu surfaktan yang bagian alkilnya tidak bermuatan. Contohnya ester gliserin asam lemak, ester sorbitan asam lemak, ester sukrosa asam lemak, polietilena alkil amina, glukamina, alkil poliglukosida, mono alkanol amina, dialkanol amina dan alkil amina oksida. 4) Surfaktan amfoter yaitu surfaktan yang bagian alkilnya mempunyai muatan positif dan negatif. Contohnya surfaktan yang mengandung asam amino, betain, fosfobetain.
  • 44.
     Mortir danstamfer  emulsi skala kecil  Botol Penggojokan  Mixer  fase dispers dihaluskan oleh pisau mixer yang berputar dengan kecepatan tinggi.  Homogenizer  fase dispers dilewatkan dalam celah sempit sehingga partikel mempunyai ukuran yang sama.
  • 45.
  • 47.
    CARA PEMBUATAN 4 :2 : 1 minyak air 2 : 1 : 1,5 minyak emulgator air • METODE GOM BASAH (METODE INGGRIS) Emulgator ditabur di atas air Terbentuk mucilago/mengembang Tambahkan minyak (sedikit demi sedikit) Gerus hingga terbentuk emulsi primer • METODE GOM KERING (METODE KONTINENTAL) Emulgator + minyak Emulgator terbasahi Tambahkan air sekaligus Gerus hingga terbentuk emulsi primer seperti susu 1. Pembuatan corpus emulsi emulgator
  • 50.
    Flokulasi dan Creaming Flokulasi,karena kurangnya zat pengemulsi sehingga kedua fase tidak tertutupi oleh lapisan pelindung sehingga terbentuklah flok-flok atau sebuah agregat. Creaming, terpisahnya emulsi menjadi dua bagian dimana yang satu mengandung fase dispers lebih banyak daripada lapisan lain. adanya pengaruh gravitasi membuat emulsi memekat pada daerah permukaan dan dasar. Creaming bersifat reversible artinya bila dikocok perlahan-lahan akan terdispers kembali
  • 51.
    Koalesen dan cracking(breaking) Koalesen, yang disebabkan hilangnya lapisan film dam globul sehingga terjadi pencampuran. Yaitu pecahnya emulsi karema film yang meliputi partikel rusak dan butir minyak akan koalesen (menyatu). lapisan film mengalami pemecahan sehingga hilang karena pengaruh suhu. Sifatnya irreversible (tidak bisa diperbaiki) Infersi fase Berubahnya tipe emulsi minyak dalam air menjadi air dalam minyak atau sebaliknya. yang terjadi karena adanya perubahan viskositas.
  • 54.
    Penentuan Tipe Emulsi Metode Pengenceran
  • 55.
     Uji pewarnaan Zat warna larut air yang ditaburkan pada permukaan emulsi akan mengindikasikan sifat dari fasa kontinu.  Pada emulsi M/A akan berlangsung inkorporasi warna larutan secara cepat ke dalam sistem  Pada emulsi A/M warna akan berupa kelompok vesikel yang tampak.  Peristiwa sebaliknya akan terlihat jika digunakan zat warna larut minyak.
  • 56.
     Kertas kobalklorida  Kertas asaring dibacam (diimpregnasi) dengan kobal klorida dan dikeringkan.  Warna biru akan berubah menjadi warna merah muda (pink) jika diteteskan/ ditambahkan emulsi M/A.  Dapat mengalami kegagalan (tidak berhasil) jika emulsi tidak stabil atau pecah dengan keberadaan elektrolit.  Fluoresensi  Fluoresensi di bawah cahaya ultraviolet.  Emulsi M/A menunjukkan pola bintik (titik), sedangkan pada emulsi A/M, fluoresensi terlihat secara menyeluruh (Agoes, 2012).
  • 57.
     HLB adalahsingkatan dari Hydrophylic-Lipophylic Balance) adalah nilai untuk mengukur efisiensi surfaktan  Makin tinggi nilai HLB makin hidrofil suatu surfaktan.  Makin rendah nilai HLB makin lipofil suatu surfaktan.
  • 58.
     Menurut Griffinperhitungan HLB adalah:
  • 61.
     Pada pembuatan100 ml emulsi tipe o/w diperlukan emulgator dengan harga HLB 12. sebagai emulgator dipakai campuran Span 20 (HLB 8,6) dan Tween 20 (HLB 16, 7) sebanyak 5 gram. Berapa perbandingan antara Span 20 dan Tween 20 ?
  • 64.
     Tween 8070% HLB 15  Span 80 30% HLB 4,5  Berapa HLB campuran ?
  • 65.
    R/ Parafin cair30% (HLB : 12) Emulgator 5% Air ad 100 gram
  • 66.
    Jawab : cara pertamapilih nilai HLB surfaktan yang diantara HLB parafin cair (HLB 12), dipilih melalui data yaitu span 80 (HLB 4,3) dan tween 80 (HLB 15) ). Jumlah emulgator yang diperlukan = 5% x 100 = 5 gram kemudian buat pemisalan untuk persamaan : Tween 80 = a gram Span 80 = (5-a) gram Persamaan : (a x HLB) + ((5-a) x HLB ) = (5 x HLB) : (a x 15) + ((5-a) x 4,3) = (5 x 12) 15a + 21,5 - 4,3a = 60 10,7a = 38,5 a = 3,6 gram Jadi tween 80 yang dibutuhkan = 3,6 gram sedangkan span 80 yang dibutuhkan = (5-3,6 gram) = 1,4 gram
  • 71.
     Organoleptis  Pengukuranbobot jenis  Ukuran partikel  pH  Pengukuran viskositas  Sentrifugasi  Penentuan tipe emulsi  Volume Terpindahkan  Pemeriksaan keseragaman kadar  Stabilitas suhu (cycling test)