Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.

Updated National Early Warning Score System versi 2 2018

323 views

Published on

Update National Early Warning Score System versi 2 updated tahun 2017 update 26 Agustus 2018

Published in: Health & Medicine
  • Be the first to comment

Updated National Early Warning Score System versi 2 2018

  1. 1. National Early Warning Score System 2 (NEWS2) updated 2017 Eri Yanuar Akhmad B.S., S.Kep., Ns., M.N.Sc.(I.C)
  2. 2. Eri Yanuar Akhmad B.S., S.Kep., Ns., M.N.Sc.(I.C) • Recent Position: Basic and Emergency Nursing Staff, School of Nursing, Universitas Gadjah Mada • Education History: School of Nursing, Faculty of Medicine, Universitas Gadjah Mada Master of Nursing Science (Intensive Care) The University of Adelaide Australia • Email: ✉eri_yanuar2004@yahoo.com
  3. 3. The National Early Warning Score 2 • National Early Warning Score adalah sistem penilaian kumulatif yang menstandarkan penilaian tingkat keparahan penyakit akut • Alat sederhana • Track & Triggering Warning Sistem • Digunakan di semua rumah sakit di Irlandia • Menunjukkan tanda-tanda awal pemburukan • Skor dihitung dengan menggunakan tanda vital pasien • Parameter penilaian didasarkan pada parameter ViEWS yang divalidasi untuk pasien medis dan bedah • Berdasarkan pengembangan NEWS pertama tahun 2012
  4. 4. PERBEDAAN NEWS versi 1 dan versi 2
  5. 5. Secara umum konsepnya masih sama hanya beberapa saja yang berubah yaitu:
  6. 6. Urutan monitoring
  7. 7. Sistem Skoring yang baru dan warna untuk skor 1 adalah kuning
  8. 8. Tambahan level penanganan
  9. 9. Detail pada tiap parameter dengan range yang jelas
  10. 10. Adanya saturasi oksigen skala 2 untuk pasien dengan kondisi khusus
  11. 11. Penambahan keadaan gelisah pada level kesadaran
  12. 12. NEWS Validation for Medical & Surgical Patients using ViEWS Parameters 1. Bleyer A.J. et al. (2011). Longitudinal analysis of one million vital signs in patients in academic medical centre. Resuscitation doi:10.1016/j. Resuscitation, 2011.06.033 2. Kellett J & Kim A. (2011). Validation of an abbreviated VitalpacTM Early Warning Score (ViEWS) in 75,419 consecutive admissions to a Canadian Regional Hospital Resuscitation. doi:10.1016/j.resuscitation.2011.08.022 3. Prytherch D, Smith G, Schmidt P, Featherstone P. (2010). ViEWS – Towards a national early warning score for detecting adult inpatient deterioration. Resuscitation. 81(8), 932-7. 4. Mitchell I., McKay H., Van Leuvan C., Berry R., McCutcheon C., Avard B., Slater N., Neeman T. and Lamberth P. (2010). A prospective controlled trial of the effect of a multi-faceted intervention on early recognition and intervention in deteriorating hospital patients. Resuscitation. 81, 658–666. 5. National Institute for Health and Clinical Excellence (NICE), (2010). Acutely ill patients in hospital. Available at: http://www.nice.org.uk/guidance/index
  13. 13. HAL YANG PENTING Early Warning Score tidak menggantikan penilaian klinis yang kompeten Ketika staf khawatir tentang perawatan pasien harus ditingkatkan dapat ditingkatkan terlepas dari skor EWS dilanjutkan skrining untuk Sepsis saat ada EWS dari ≥ 5 Dalam persentase kecil pasien, EWS tidak mengidentifikasi kemerosotan dalam kondisi pasien
  14. 14. Overall COMPASS© / NEWS Education Programme incorporates: • Categorisation of patients’ SEVERITY of illness for EARLY detection of clinical deterioration • A TRACKING system using the NEWS based on the patient’s vital signs • A definitive plan to ESCALATE care • TRIGGERING a swift response i.e. activation of an early response appropriate to the level of the score • The use of a structured COMMUNICATION tool (ISBAR), (more information on this later)
  15. 15. Jika terjadi arrest jantung atau pernafasan, aktifkan sistem code blue Beberapa pasien mungkin memerlukan pemeriksaan medis segera namun tidak akan memicu skor tinggi. Protokol ini diaktifkan dengan skor 3 dalam satu parameter atau total skor 3.
  16. 16. Mengapa kita memerlukan Early Warning Score?
  17. 17. Cardiac Arrest Calls in a General Hospital Gallagher, J. Groarke, J.D. & Courtney, G. (2006) IMJ. 99(6),114-116. • Retrospective study of cardiac arrest over 24 month period (2002-2004) • Subgroup of 20 patients progress in preceding 24 hours- • Decline in patients condition evident in 45- 75% • Respiratory rate infrequently recorded
  18. 18. STANDAR NASIONAL AKREDITASI RUMAH SAKIT
  19. 19. RASIONAL DARI INDIKATOR NEWS
  20. 20. Airway and Breathing
  21. 21. Rantai Delivery Oxygen (DO2) • Persamaan ini menghitung jumlah oksigen yang dikirim ke jaringan per menit
  22. 22. Jalan napas yang memadai dan kemampuan untuk melindungi jalan nafas DO2 tergantung pada:
  23. 23. DO2 tergantung pada: Pegerakan paru yang efektif – neurologis dan muskular
  24. 24. DO2 tergantung pada: Berfungsinya jaringan paru-paru
  25. 25. Pasokan darah pulmonal yang cukup DO2 tergantung pada:
  26. 26. Chain of Oxygen Delivery DO2 = (SVxHR) x (Hb) x SaO2 x 1.39)+PaO2 x 0.003 Haemoglobin- Normal Adult range / Concentration (anaemia: causes)
  27. 27. Chain of Oxygen Delivery DO2 = (SVxHR) x (HB) x SaO2 x 1.39)+PaO2 x 0.003 (SVxHR) = Cardiac output (CO) Tergantung pada: – Kontraktilitas otot jantung – Pre-load (venous return ke jantung) – After-load (resistansi dari ejeksi ventrikel) – Heart rate
  28. 28. Airway & Breathing Decreased oxygen delivery at the tissue level Anaerobic metabolism Lactate production Acidosis Stimulates respiratory drive Increases the respiratory rate
  29. 29. Airway & Breathing • Poin Penting • Beberapa pasien dengan Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) adalah "CO2 retainer", yaitu mereka tidak menanggapi peningkatan CO2 tetapi menanggapi O2 rendah - konsentrasi O2 yang tinggi dapat menekan dorongan hipoksia mereka. Ini adalah alasan adanya skala saturasi 2 pada NEWS 2 • NB - pasien-pasien ini juga akan menderita kerusakan organ akhir atau henti jantung jika kadar O2 darah mereka turun terlalu rendah. • Pada PPOK jika PCO2 ≥ 8kPa tetapi hipoksia (PO2 ≤ 8kPa) - JANGAN MENURUNKAN O2 • Jangan mengandalkan mesin! • Tetap bersama pasien - bertujuan untuk mencapai PaO2 8kPa, atau SaO2 dari 90%.
  30. 30. Airway & Breathing • Peningkatan laju pernafasan dapat terjadi dengan SaO2 normal • Pasien meninggal karena hipoksia lebih cepat dari pada CO2 tinggi • Jika pasien memburuk jangan menghentikan oksigen tambahan saat mengambil AGD
  31. 31. Circulation
  32. 32. Circulation • Penurunan TD (Hipotensi) didefinisikan sebagai penurunan lebih dari 20% dari tekanan darah biasa atau tekanan darah sistolik kurang dari 100 mmHg. • Hipotensi dapat mencerminkan penurunan curah jantung yang dapat menyebabkan penurunan jumlah oksigen yang sampai ke jaringan
  33. 33. Circulation •Penurunan TD bisa jadi akibat dari: •Penurunan volume darah intravaskular •Penurunan resistansi pembuluh darah perifer •Berkurangnya kontraktilitas jantung
  34. 34. Circulation •Penurunan volume darah intravaskular • Curah jantung turun karena stroke volume rendah • Volume stroke jatuh menyebabkan takikardia • Untuk mempertahankan TD  resistensi perifer meningkat •Hipotensi, tangan dingin & tidak ada gagal jantung - cairan infus
  35. 35. Circulation •Penurunan resistensi vaskular perifer •Vasodilatasi menyebabkan TD rendah •Vasodilatasi menyebabkan venous return rendah •Venous return rendah menyebabkan stroke volume rendah •Hipotensi, tangan hangat: cairan IV
  36. 36. Circulation •Berkurangnya kontraktilitas jantung •Curah jantung turun dari volume stroke rendah •Volume stroke jatuh menyebabkan takikardia •Untuk mempertahankan BP, resistensi perifer meningkat •Hipotensi, tangan dingin & tanda gagal jantung •Hentikan cairan •Konsultasi ICU / CCU
  37. 37. The Hypotensive Patient •Reduksi di preload (volume loss) • (e.g. haemorrhage, sepsis, vomiting) •Reduksi di cardiac contractility (pump failure) • (e.g. MI, heart failure) •Reduksi di afterload (vasodilation) • (e.g. sepsis, overdose)
  38. 38. Hypotension & Organ Perfusion Cerebral hypoxia  agitation, confusion Renal impairment  reduced urine output Myocardial ischaemia  angina, MI Gut ischaemia  abdominal pain, nausea Peripheral ischaemia akral dingin
  39. 39. The Hypotensive Patient  Heart rate and rhythm  Peripheral pulses  Capillary refill  Limb temperature  Central pulses  TD  Urine output  Oxygen saturations  Colour  Chest Auscultation  JVP Bagaimana Anda menilai efek bolus cairan? - Perhatian untuk pasien dengan disangka / terdiagnosis penyakit jantung --> HATI-HATI
  40. 40. Pasien dengan Gangguan Tingkat Kesadaran Airway, Breathing, Circulation Don’t forget the Glucose • AVPU • Pupils • Blood Glucose
  41. 41. Pasien dengan Gangguan Tingkat Kesadaran Glasgow Coma Scale Patients best response to stimuli out of 15 3 components • Eye opening • Best motor response • Best verbal response Range 1-4 Range 1-6 Range 1-5
  42. 42. Pasien dengan Gangguan Tingkat Kesadaran Glasgow Coma Scale  Kaji setelah resusitasi selesai  Pantau GCS secara teratur  Jika GCS turun> 2 poin, hubungi staf medis  Jika GCS berada di bawah 9, hubungi ICU atau staf anestesi karena intubasi mungkin diperlukan
  43. 43. Hypothermia (Temperature 350C) Kemungkinan Penyebab • Sepsis • Hypoadrenalism, hypopituatism, hypothyroidism • Aggressive fluid resuscitation • Exposure to low temperatures (Intra- operatively) • Neurological (stroke, trauma, tumour) • Skin disease (burns, dermatitis) • Drug induced (sedatives) • Neuromuscular in-sufficiency Signs and Symptoms • HR, RR & metabolic rate decreases • Confusion • Arrhythmias • Cardiac Arrest
  44. 44. Urine Output •Keluaran urin harus lebih besar dari 0.5ml / kg / jam •Pencegahan gagal ginjal akut penting •Jangan berikan Forusemide untuk keluaran urin rendah kecuali penyebab lain sudah ditemukan dikesampingkan & pasien kelebihan cairan secara klinis
  45. 45. Menghitung Early Warning Score dengan menggunakan Diagram Observasi (untuk pasien dewasa yang tidak hamil) The National Patient Observation Chart uses the Airway, Breathing, Circulation, Disability, Exposure (ABCDE) assessment approach
  46. 46. APA YANG HARUS KITA LAKUKAN??
  47. 47. Protokol Eskalasi
  48. 48. VERSI YANG ADA DI INDONESIA
  49. 49. Respiratory section
  50. 50. Blood Pressure section
  51. 51. Heart Rate section
  52. 52. Level of Consciousness section Ini ada standar gelisah di NEWS2
  53. 53. Temperature section
  54. 54. LATIHAN DENGAN FORMULIR NEWS2 VERSI ORIGINAL EDIT BAHASA INDONESIA
  55. 55. Selasa, 28 Agustus 2018 0800 3 NRM NRM 1200 1600 1700 18001830 NKNK NKNK 3 3 6 8 10
  56. 56. TUGAS!!! Rencanakan tindakan lengkap untuk skenario yang diberikan 1 Diskusikan alasan untuk melakukan monitoring dan meningkatkan/menurunkan frekuensi monitoring 2 Dokumentasi dan perhitungan skor yang benar menggunakan grafik EWS 3 Menunjukkan prosedur eskalasi yang sesuai 4
  57. 57. Latihan dengan NEWS & Observation Chart T – 370C, Nadi - 65, RR - 22, SaO2 – 96%, BP 130/60, patient is alert.
  58. 58. TUGAS!!! Rencanakan tindakan lengkap untuk skenario yang diberikan 1 Diskusikan alasan untuk melakukan monitoring dan meningkatkan/menurunkan frekuensi monitoring 2 Dokumentasi dan perhitungan skor yang benar menggunakan grafik EWS 3 Menunjukkan prosedur eskalasi yang sesuai 4
  59. 59. Latihan dengan NEWS & Observation Chart T – 370C, Nadi - 65, RR - 22, SaO2 – 96%, BP 130/60, patient is alert.
  60. 60. TUGAS!!! Rencanakan tindakan lengkap untuk skenario yang diberikan 1 Diskusikan alasan untuk melakukan monitoring dan meningkatkan/menurunkan frekuensi monitoring 2 Dokumentasi dan perhitungan skor yang benar menggunakan grafik EWS 3 Menunjukkan prosedur eskalasi yang sesuai 4
  61. 61. Latihan dengan NEWS & Observation Chart T – 380C, Nadi - 86, RR - 30, SaO2 - 92% Nasal Kanul BP 110/60, patient is verbal
  62. 62. TUGAS!!! Rencanakan tindakan lengkap untuk skenario yang diberikan 1 Diskusikan alasan untuk melakukan monitoring dan meningkatkan/menurunkan frekuensi monitoring 2 Dokumentasi dan perhitungan skor yang benar menggunakan grafik EWS 3 Menunjukkan prosedur eskalasi yang sesuai 4
  63. 63. Latihan dengan NEWS & Observation Chart T – 380C, Nadi - 112, RR – 32, SaO2 – 90% BP 90/50, patient is coma
  64. 64. TUGAS!!! Rencanakan tindakan lengkap untuk skenario yang diberikan 1 Diskusikan alasan untuk melakukan monitoring dan meningkatkan/menurunkan frekuensi monitoring 2 Dokumentasi dan perhitungan skor yang benar menggunakan grafik EWS 3 Menunjukkan prosedur eskalasi yang sesuai 4
  65. 65. Responsibilities Beritahu Clinical Nurse Manager/Nurse in Charge dan/atau tenaga medis yang sesuai. Tingkatkan frekuensi observasi sebagaimana diidentifikasi dalam protokol eskalasi. Protokol Eskalasi dapat diturunkan jika sesuai dan didokumentasikan dalam rencana pengelolaan. Jika Anda khawatir, perawatan pasien dapat ditingkatkan tanpa memperhatikanEarly Warning Score. Jika respon tidak sesuai dengan protokol eskalasi, Perawat yang Sedang bertugas harus menghubungi Konsultan/Dokter.
  66. 66. Responsibilities • Pertimbangkan kebutuhan untuk keluar dari bangsal • Pertimbangkan keahlian personil & peralatan yang dibutuhkan untuk transportasi yang aman
  67. 67. BAGAIMANA DENGAN DI ICU?
  68. 68. TERIMAKASIH Ada Pertanyaan?
  69. 69. REFERENSI • De Meester, K., Verspuy, M., Monsieurs, K. G., & Van Bogaert, P. (2013). SBAR improves nurse–physician communication and reduces unexpected death: a pre and post intervention study. Resuscitation, 84(9), 1192-1196. • Doyle, M. (2006). Promoting standardized nursing language using an electronic medical record system. AORN journal, 83(6), 1335-1342. • Novak, K., & Fairchild, R. (2012). Bedside reporting and SBAR: Improving patient communication and satisfaction. Journal of pediatric nursing, 27(6), 760-762. • Ramasubbu, B., Stewart, E., & Spiritoso, R. (2016). Introduction of the identification, situation, background, assessment, recommendations tool to improve the quality of information transfer during medical handover in intensive care. Journal of the Intensive Care Society, 1751143716660982. • Raymond, M., & Harrison, M. C. (2014). The structured communication tool SBAR (Situation, Background, Assessment and Recommendation) improves communication in neonatology. SAMJ: South African Medical Journal, 104(12), 850-852. • Woodhall, L. J., Vertacnik, L., & McLaughlin, M. (2008). Implementation of the SBAR communication technique in a tertiary center. Journal of Emergency Nursing, 34(4), 314- 317.
  70. 70. REFERENSI • Beyea, S. C. (1999). Standardized language—Making nursing practice count. AORN journal, 70(5), 831-838. • Jenerette, C., & Brewer, C. (2011). Situation, background, assessment, and recommendation (SBAR) may benefit individuals who frequent emergency departments: Adults with sickle cell disease. Journal of Emergency Nursing, 37(6), 559-561. • Lisbeth Blom MSc, R., Pia Petersson PhD, R. N., Peter Hagell PhD, R. N., & Albert Westergren PhD, R. N. (2015). The Situation, Background, Assessment and Recommendation (SBAR) Model for Communication between Health Care Professionals: A Clinical Intervention Pilot Study. International Journal of Caring Sciences, 8(3), 530. • McCormick, K. A., Lang, N., Zielstorff, R., Milholland, D. K., Saba, V., & Jacox, A. (1994). Toward standard classification schemes for nursing language: recommendations of the American Nurses Association Steering Committee on Databases to Support Clinical Nursing Practice. Journal of the American Medical Informatics Association, 1(6), 421-427. • Martin, H. A., & Ciurzynski, S. M. (2015). Situation, Background, Assessment, and Recommendation– Guided Huddles Improve Communication and Teamwork in the Emergency Department. Journal of Emergency Nursing, 41(6), 484-488. • Rutherford, M. (2008). Standardized nursing language: What does it mean for nursing practice. OJIN: The Online Journal of Issues in Nursing, 13(1), 243-50. • Tews, M. C., Liu, J. M., & Treat, R. (2012). Situation-background-assessment-recommendation (SBAR) and emergency medicine residents' learning of case presentation skills. Journal of graduate medical education, 4(3), 370-373.

×