Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.
SHOCK DAN RESUSITASI
CAIRAN
Eri Yanuar Akhmad B.S., S.Kep., Ns., M.N.Sc.(I.C)
BIOGRAPHY
•  Full Name:
ü  Eri Yanuar Akhmad B.S., S.Kep., Ns., M.N.Sc.(I.C)
•  Place and DOB:
ü  Blitar, 31 Januari 1987
...
OUTLINE
•  Konsep cairan dan elektrolit
•  Terapi Cairan
•  Macam-macam shock, penyebab,
penanganan dan resusitasi cairan
...
CAIRAN DALAM TUBUH
MANUSIA
•  Cairan merupakan
komponen pembentuk
tubuh manusia kurang
lebih
•  80 % - pada bayi
yang baru...
CAIRAN DALAM TUBUH
MANUSIA
•  Cairan berada dalam
tubuh manusia yaitu
•  Cairan intraseluler
2/3
•  Cairan ekstraseluler
1...
CAIRAN DALAM TUBUH
MANUSIA
ELEKTROLIT
•  Ada beberapa elektrolit yang penting dalam tubuh manusia yaitu:
–  Natrium/Sodium (Na+)
•  Fungsi neuromusku...
TERAPI CAIRAN
JENIS CAIRAN
Koloid
Dextran
Albumin
Gelatin
HES
(Hydroxyethyl starch)
Koloid:
merupakan cairan
yang terdiri dari
elektroli...
MEKANISME CAIRAN
KRISTALOID
Ø  Cairan kristaloid berpindah dari intravaskuler à
interstisial, kemudian didistribusikan ke
...
KLASIFIKASI CAIRAN
KRISTALOID
•  Cairan Hipotonis : Infus dengan tekanan osmotik lebih rendah dari cairan tubuh
(osmolarit...
ü  Osmolaritas
cairan < 240
mOsm/L
ü  Cairan akan
berpindah dari
intravaskuler ke
interstitial &
intrasel
à Resiko
Hemolis...
ü Osmolaritasnya hampir sama
dengan plasma (290-310 mOsm/L).
ü Bertahan di dalam intravaskuler dan
kemudian berpindah ke i...
ü  Memiliki osmolaritas lebih tinggi daripada
plasma (>340 mOsm/L).
ü  Cairan-elektrolit dari intrasel &
interstitial tert...
Tonis
itas
Nama Cairan Komposisi Os
m
Kal Indikasi Catatan
Iso-
tonis
Normal Saline
(NaCl 0,9%)
Na+ =154
Cl- =154
308 - Re...
Tonis
itas
Nama Cairan Komposisi (/L) Osm Kal Indikasi Catatan
Hipo-
tonis
Ringer Asetat Na+ =130 , K+= 4,
Ca++=2,7-3,
Cl-...
CAIRAN KOLOID
Ø  Koloid adalah:
a.  cairan yang mengandung albumin dalam plasma,
b.  tinggal dalam intravaskuler cukup lam...
JENIS CAIRAN KOLOID
●  Berdasarkan hasil Penelitian SAFE Study bahwa :
1.  Non Protein Colloids :
Ø  Sebaiknya digunakan s...
PENGGUNAAN CAIRAN KOLOID
v  Berdasarkan hasil penelitian cairan koloid digunakan:
1. Resusitasi cairan pada penderita deng...
PT. BBraun Medical Indonesia | Clinical Application Specialist | Page 61
KOMPOSISI CAIRAN KOLOID
Cairan
Koloid
Produksi Ti...
ALBUMIN
v  Merupakan koloid alami dengan protein plasma 5%
dan albumin manusia 5 dan 2,5%
v  Dapat digunakan pada kasus:
a...
RUMUS ALBUMIN
v  Menghitung kebutuhan Albumin terhadap
pasien :
{ (Albumin target - Albumin sekarang ) x BB (kg) x40 x 2 }...
PERBANDINGAN CAIRAN
KRISTALOID DAN KOLOID
Kristaloid Koloid
Komposisi menyerupai plasma
(acetated ringer, lactated ringer)...
DARAH
•  Pembagian darah terdiri dari :
a.Plasma darah sebesar 55%
b.Sel –sel darah sebesar 45% yaitu : sel
darah merah (e...
TRANSFUSI DARAH
v Transfusi dapat mengunakan Whole
blood dan Packed Red Cells
v Whole blood digunakan: Pendarahaan
Akut
v ...
KOMPONEN DARAH
1. Whole Blood
§  Digunakan hanya untuk penggantian volume
§  Meningkatkan dan mempertahankan proses
pembek...
KOMPONEN DARAH
3. Washed cell
§  Digunakan bila kelebihan plasma dan antibodi
tidak diperlukan
§  Diberikan dalam waku 2-4...
TERAPI TRANSFUSI DARAH
v Kebutuhan transfusi darah diberikan pada:
a.orang dewasa : jika perdarahaan > 15 % EBV
b.bayi dan...
TERAPI TRANSFUSI
DARAH
v Kebutuhan darah berdasarkan Hb
a. darah WB = (Hb yang diinginkan – Hb sekarang)x BB (kg) x 6
b.  ...
SHOCK
SHOCK
•  Shock is a loss of effective circulation
resulting in impaired tissue oxygen and
nutrient delivery and causes lif...
DO2
CaO2
CO
Sat %
PaO2
Hgb
HR
SV
Preload
Contractility
Afterload
JENIS SHOCK DAN
PENYEBABNYA
v Loss of circulating blood volume à
hypovolemic shock
v Cardiac causes à cardiogenic shock
v ...
Hypovolemic Shock
•  severe bleeding (internal and / or external)
•  major or multiple fractures or major trauma
•  severe...
Hypovolemic Shock:
Bleeding
% Blood
Volume loss
< 15% 15 – 30% 30 – 40% >40%
HR <100 >100 >120 >140
SBP N N, DBP, postural
drop
Pulse Pressure N or
Ca...
Hypovolemic Shock:
Dehydration
Hypovolemic Shock:
Dehydration
Derajat Dehidrasi Dewasa Anak
Dehidrasi ringan 4 % 4% - 5%
Dehidrasi Sedang 6% 5% -10 %
Deh...
Hypovolemic Shock:
Burns
Hypovolemic Shock:
Burns
v  Total Cairan : 4 cc x kgBB x LLB
1.  derajat ringan : LLB < 15 %
2.  derajat sedang : LLB 10 –...
Cardiogenic Shock
•  heart attack
•  dysrhythmias
(abnormal heart
rhythm).
Cardiogenic Shock
•  The primary goal in treating cardiogenic shock
is to improve myocardial function.
•  Arrhythmias shou...
Distributive Shock
•  severe infection
•  allergic reactions
•  severe brain /
spinal injuries
•  fainting.
Distributive Shock
•  The initial approach to the patient with septic
shock is restoration and maintenance of
adequate int...
Obstructive Shock
•  tension pneumothorax
•  cardiac tamponade
•  pulmonary embolus
•  in pregnancy,
compression of large
...
Obstructive Shock
•  In the patient with obstructive shock, relief of the
obstruction is the treatment of choice.
•  Maint...
INTIAL ASSESSMENT
PADA SHOCK
•  Kaji apakah pasien mengalami hipovolemia.
•  Indikators pasien membutuhkan resusitasi
cair...
INTIAL ASSESSMENT
PADA SHOCK
•  Clinical examination should include an assessment of the
patient's fluid status, including...
PT. BBraun Medical Indonesia | Clinical Application Specialist | Page
Resusitasi cairan
dikatakan berhasil bila:
a.MAP = M...
CONTOH KASUS
•  Pasien datang ke unit gawat darurat dengan
diantar polisi. Pasien datang dengan riwayat
post KLL, terlihat...
INGAT!!!
•  Airway maintenance + Cervical spine
protection
•  Breathing + Ventilation (Oxygenation)
•  Circulation + Hemor...
KESIMPULAN
•  Indikasi pemberian cairan didasarkan
pada kasus keadaan penyakit pasien dan
tidak melupakan anamnese riwayat...
ADA PERTANYAAN??
REFERENSI
•  American College of Surgeons. (2004). Advanced
Trauma Life Support program for doctors: ATLS.
Chicago: ACS.
•...
Shock dan Resusitasi Cairan
Shock dan Resusitasi Cairan
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Shock dan Resusitasi Cairan

10,537 views

Published on

Shock dan Resusitasi Cairan
Akan mendiskusikan tentang
1. Konsep cairan dan elektrolit
2. Terapi cairan
3. Macam-macam shock, penyebab, penanganan dan resusitasi cairan
4. Initial assessment pada kasus shock
5. Contoh kasus

Untuk diskusi tentang slide ini atau ingin komunikasi bisa ke eri_yanuar2004@yahoo.com

Published in: Health & Medicine
  • Be the first to comment

Shock dan Resusitasi Cairan

  1. 1. SHOCK DAN RESUSITASI CAIRAN Eri Yanuar Akhmad B.S., S.Kep., Ns., M.N.Sc.(I.C)
  2. 2. BIOGRAPHY •  Full Name: ü  Eri Yanuar Akhmad B.S., S.Kep., Ns., M.N.Sc.(I.C) •  Place and DOB: ü  Blitar, 31 Januari 1987 •  Recent Position: ü  Basic and Emergency Nursing, School of Nursing, Universitas Gadjah Mada •  Education History: ü  School of Nursing, Faculty of Medicine, Universitas Gadjah Mada ü  Master of Nursing Science (Intensive Care) The University of Adelaide Australia •  Email: ü  eri_yanuar2004@yahoo.com
  3. 3. OUTLINE •  Konsep cairan dan elektrolit •  Terapi Cairan •  Macam-macam shock, penyebab, penanganan dan resusitasi cairan •  Initial assessment pada shock •  Contoh kasus
  4. 4. CAIRAN DALAM TUBUH MANUSIA •  Cairan merupakan komponen pembentuk tubuh manusia kurang lebih •  80 % - pada bayi yang baru lahir •  50-60 % - pada manusia dewasa
  5. 5. CAIRAN DALAM TUBUH MANUSIA •  Cairan berada dalam tubuh manusia yaitu •  Cairan intraseluler 2/3 •  Cairan ekstraseluler 1/3 •  80 % interstitial •  20% plasma •  Volume darah manusia •  7% BB dewasa •  8 – 9 % BB anak
  6. 6. CAIRAN DALAM TUBUH MANUSIA
  7. 7. ELEKTROLIT •  Ada beberapa elektrolit yang penting dalam tubuh manusia yaitu: –  Natrium/Sodium (Na+) •  Fungsi neuromuskular •  Pengaturan cairan –  Chlorida (Cl-) •  Osmolalitas •  Keseimbangan asam-basa –  Magnesium (Mg2+) •  Transport aktif Na dan K •  Fungsi neuromuskular –  Calcium (Ca2+) •  Pembentukan tulang •  Pembekuan darah •  Fungsi neuromuskular –  Kalium/Potassium (K+) •  Fungsi neuromuskular •  Jantung
  8. 8. TERAPI CAIRAN
  9. 9. JENIS CAIRAN Koloid Dextran Albumin Gelatin HES (Hydroxyethyl starch) Koloid: merupakan cairan yang terdiri dari elektrolit & makromolekul Natural Syntetis Kristaloid NaCl 0.9% Ringerfundin® Ringer Lactate Ringer Solution Kristaloid: merupakan larutan yang terdiri dari elektrolit. Ringer Acetate Cairan lain Glucose 5% etc. jenis cairan sejati yang terdiri dari elektrolit konsentrasi tinggi. Electrolyte concentrates Mannitol
  10. 10. MEKANISME CAIRAN KRISTALOID Ø  Cairan kristaloid berpindah dari intravaskuler à interstisial, kemudian didistribusikan ke komparteman ekstravaskular Ø  Hanya 25 % cairan dari pemberian awal yang tetap berada di intravaskuler, sehingga membutuhkan volume 3-4 x dari volume plasma yang hilang. Ø  Pemberian cairan kristaloid untuk meningkatkan volume ekstrasel Ø  Pemberian cairan kristaloid berlebihan dapat menyebabkan edema otak dan tekanan intrakranial meningkat
  11. 11. KLASIFIKASI CAIRAN KRISTALOID •  Cairan Hipotonis : Infus dengan tekanan osmotik lebih rendah dari cairan tubuh (osmolaritas dibawah 250 mOsm/L) Contoh : Aquadest, larutan 2,5% dextrose in water •  Cairan Isotonik : Infus dengan tekanan yang sama seperti cairan tubuh. Cairan ini menetap dalam Cairan Ekstraselluler (osmolaritas 290-310 mOsm/L) •  Contoh : Normal Saline (NaCL 0,9 %), Ringer Laktat (RL), Ringer Asetat, Ringerfundin, Glucose 5% •  Cairan Hipertonik : Infus dengan tekanan osmotik lebih tinggi dari plasma darah dimana air keluar dari Intraselluler dan masuk ke dalam plasma (osmolaritas diatas 375 mOsm/L). •  Contoh : NaCl 3 %, Glucose 10%, Dextrose 50 %
  12. 12. ü  Osmolaritas cairan < 240 mOsm/L ü  Cairan akan berpindah dari intravaskuler ke interstitial & intrasel à Resiko Hemolisis ü  Contoh : NaCl 0,45%, Ringer Asetat HIPOTONIS
  13. 13. ü Osmolaritasnya hampir sama dengan plasma (290-310 mOsm/L). ü Bertahan di dalam intravaskuler dan kemudian berpindah ke interstitial/ intrasel secara seimbang üContoh : NS,RL,G5,Ringerfundin ISOTONIS
  14. 14. ü  Memiliki osmolaritas lebih tinggi daripada plasma (>340 mOsm/L). ü  Cairan-elektrolit dari intrasel & interstitial tertarik ke dalam kompartemen intravaskuler ü  Resiko terjadinya krenasi pd sel jika diberikan infus hipertonis secara cepat ü Contoh : G5RL,G5NS,G5½NS,G10%,G40%,NaCl 3%,Manitol 10% HIPERTONIS
  15. 15. Tonis itas Nama Cairan Komposisi Os m Kal Indikasi Catatan Iso- tonis Normal Saline (NaCl 0,9%) Na+ =154 Cl- =154 308 - Resusitasi cairan, Diare, Luka Bakar, Gagal Ginjal Akut, Asidosis diabetikum Resiko terjadinya oedem paru (dalam jumlah besar) Ringer Laktat Na+ = 130-140, K+= 4-5, Ca2+ = 2- 3, Cl- = 109-110, BE = 28-30, Laktat=28 273 - Dehidrasi, Syok Hipovolemik, Syok Perdarahan, Asidosis metabolik, suplai ion bikarbonat Hanya dimetabolisme di hepar. Dpt menyebabkan hiperkloremia & asidosis metabolik akibat akumulasi laktat Glucose 5% Glukosa= 50 gr/L 278 200 hidrasi selama dan sesudah operasi, rumatan perioperatif, restriksi natrium Kontraindikasi : hiperglikemia Ringerfundin Na+ =145 , K+= 4, Ca++=5, Mg++ =2, Cl- =109, Acetat = 24, Maleat= 5 309 - Dehidrasi isotonis, DHF, kasus braintrauma, syok hemoragik, - Kaen 3A*/ Tridex 27A* Kaen 3B*/ Na+ =50, Cl- =50, K+ =10, Lactate 20, glukosa=27 Na+ =50, Cl- =50, 290 290 108 108 Rumatan cairan dan elektrolit (terutama Kalium) Tridex 27B* K+ =20, Lactate 20, glukosa=27 dengan asupan oral terbatas
  16. 16. Tonis itas Nama Cairan Komposisi (/L) Osm Kal Indikasi Catatan Hipo- tonis Ringer Asetat Na+ =130 , K+= 4, Ca++=2,7-3, Cl- =108,7-127, Acetat = 28 273 - Dehidrasi (syok hipovolemik dan asidosis) pada kondisi: diare, DHF, luka bakar, syok hemoragik, trauma Dapat memperburuk edema serebral NaCl 0,45% Na+ =77, Cl- =77 Pasien dg restriksi natrium Rawan oedem anasarka Hiper tonis Glukosa 10% Glukosa= 100 gr/l 556 400 Suplai air dan karbohidrat secara parenteral pada penderita diabetik, kanker, sepsis dan defisiensi protein Resiko hiperglikemia NaCl 3% Na+ = 513,Cl- = 513 1026 - Koreksi Natrium Mannitol 20% Glukosa= 200 gr/l 1228 - Diuretik sistemik pd kasus serebral edema (menurunkan TIK) , sindrom TURP, menurunkan TIO pd Glaukoma, Ka-EN MG3*/ Tridex 100* Na+=50, K+ =20, Cl- =50, Lactate- =20, Glucose=100 g 695 400 Asupan oral inadequate (karena stroke), anoreksia pasien dg kanker, malnutrisi, meningitis, diabetik asidosis -
  17. 17. CAIRAN KOLOID Ø  Koloid adalah: a.  cairan yang mengandung albumin dalam plasma, b.  tinggal dalam intravaskuler cukup lama (waktu tinggal 3-6 jam ) c.  volume yang diberikan sama dengan volume darah. d. memiliki sifat protein plasma sehingga cenderung tidak keluar dari membran Ø  Koloid dalam pemberian harus dipantau sebab dapat berakibat overload cairan karena koloid akan memperluas kedalam intravascular lebih besar daripada jumlah cairan infus sehingga dapat menyebabkan Decompesatio Cordis (payah jantung). Ø  Contoh cairan koloid: Dextran, dan Gelatin, Gelofusine, HES (Hydroxyetyl Starches),
  18. 18. JENIS CAIRAN KOLOID ●  Berdasarkan hasil Penelitian SAFE Study bahwa : 1.  Non Protein Colloids : Ø  Sebaiknya digunakan sebagai pilihan kedua pada pasien yang tidak respon terhadap Crystalloid. Ø  Boleh digunakan dalam kasus kebocoran katub jantung atau edema peripheral. Ø  Cairan Non Protein yang digunakan : Hemohes 6 %, Pentastarch 2. Protein Colloids : Ø  Seharusnya digunakan sebagai pilihan ketiga setelah Non protein colloids. Ø  Bagi pasien lanjut usia yang tidak dapat toleransi menerima cairan dalam jumlah besar. Ø  Beberapa untuk kasus diare yang albumin < 2 gr/dl. Ø  Pasien Nephrotic Syndrom Ø  Transplantasi hati dengan albumin < 2,5 gr/dl Ø  Pasien DSS dengan trombosit < 5 000 . Ø  Cairan Protein yang digunakan : Gelofudine 4 %, Lipofundin.
  19. 19. PENGGUNAAN CAIRAN KOLOID v  Berdasarkan hasil penelitian cairan koloid digunakan: 1. Resusitasi cairan pada penderita dengan syok hemorragic sebelum transfusi tersedia. 2. Resusitasi cairan pada hipoalbuminemia berat, mis: luka bakar. 3. Pasien post op yang mengalami gangguan plasma darah
  20. 20. PT. BBraun Medical Indonesia | Clinical Application Specialist | Page 61 KOMPOSISI CAIRAN KOLOID Cairan Koloid Produksi Tipe Waktu paruh Indikasi Plasma protein Human plasma Serum consered Human albumin 4-15 hari a. Penganti volume b. Hipoproteinemia c. Hemodilusi Dextran Leconostoc mesenteroid B512 D 60/70 6 jam a. Hemodilusi b. Gangguan Mikrosirkulasi (stroke) Gelatin Hidrolisis dari kolagen binatang Modifien gelatin Urea linked Oxylopi gelatin 2-3 jam Subsitusi volume Starch Hidrolisis asam dan EO Hydroxyethyl 6 jam a.  Subsitusi volume b.  Hemodilusi
  21. 21. ALBUMIN v  Merupakan koloid alami dengan protein plasma 5% dan albumin manusia 5 dan 2,5% v  Dapat digunakan pada kasus: a. Pengganti volume plasma dan protein pada keadaan syok hipovolemia, hipoalbuminemia, hipoproteinemia, operasi, trauma, cardiopulmonary by pass, hiperbilirubinemia, gagal ginjal akut, pancreatitis, mediasinitis, selulitis luas dan luka bakar, ARDS, b. Pemberian Furosemide amp untuk menghindari penimbunan Albumin dalam tubuh.
  22. 22. RUMUS ALBUMIN v  Menghitung kebutuhan Albumin terhadap pasien : { (Albumin target - Albumin sekarang ) x BB (kg) x40 x 2 } 100 v Nilai normal Albumin : 3,5 - 4,5 gr/dl.
  23. 23. PERBANDINGAN CAIRAN KRISTALOID DAN KOLOID Kristaloid Koloid Komposisi menyerupai plasma (acetated ringer, lactated ringer) Ekspansi volume plasma tanpa disertai ekspansi volume interstisial Mengantikan volume dan meningkatkan Cardiac Output dan tekanan darah Ekspansi volume lebih besar di bandingkan volume sama kristaloid Bebas reaksi anafilaksis Masa kerja lebih panjang Bebas disimpan di suhu kamar Oksigenasi jaringan lebih baik Komplikasi minimal Gradien alveolar – arterial O2 lebih sedikit Insiden edema paru dan /atau edema sistemik lebih rendah.
  24. 24. DARAH •  Pembagian darah terdiri dari : a.Plasma darah sebesar 55% b.Sel –sel darah sebesar 45% yaitu : sel darah merah (eritrosit), sel darah putih (leukosit) dan trombosit. •  Jumlah volume darah: 5-7%BB , dimana plasma 5% dan eritrosit 2%.
  25. 25. TRANSFUSI DARAH v Transfusi dapat mengunakan Whole blood dan Packed Red Cells v Whole blood digunakan: Pendarahaan Akut v Packed Red Cell : a.  Hb < 8 gr/dL b.  Perdarahaan hebat 10 mL/kg, pada 1 jam pertama c.  Perdarahaan > 5 mL/kg pada 3 jam pertama.
  26. 26. KOMPONEN DARAH 1. Whole Blood §  Digunakan hanya untuk penggantian volume §  Meningkatkan dan mempertahankan proses pembekuan §  Diberikan dalam waktu 2 sampai 4 jam §  Masa hidup sampai 21 hari. 2. Packed Red Cells §- Meningkatkan massa sel darah merah §  Mengandung sel darah merah dan trombosit sebagaian besar plasma di hilangkan. §  Masa hidup 21 hari
  27. 27. KOMPONEN DARAH 3. Washed cell §  Digunakan bila kelebihan plasma dan antibodi tidak diperlukan §  Diberikan dalam waku 2-4 jam §  Harus diberikan dalam waktu 4 jam sesudah diproses (pencucian) 4. Transfusi Trombosit §  Mengobati kelainan perdarahaan atau jumlah trombosit yang rendah §  Diberikan secara cepat §  Shelf life umumnya 6 sampai 72 jam tergantung pada kebijakan pusat sumber trombosit di peroleh.
  28. 28. TERAPI TRANSFUSI DARAH v Kebutuhan transfusi darah diberikan pada: a.orang dewasa : jika perdarahaan > 15 % EBV b.bayi dan anak : jika perdarahaan > 10% EBV v  Jumlah darah di hitung berdasarkan Estimated Blood Volume (EBV). v EBV Neonatus v EBV Bayi = 90 mL/KgBB = 80 mL/KgBB v EBV Anak + Dewasa = 70 mL/KgBB Maka rumus EBV = KgBB x EBV X Jumlah Pendarahan (%).
  29. 29. TERAPI TRANSFUSI DARAH v Kebutuhan darah berdasarkan Hb a. darah WB = (Hb yang diinginkan – Hb sekarang)x BB (kg) x 6 b.  darah PRC = (Hb yang diinginkan – Hb sekarang) x BB (kg) x 3 c. darah FFP = (Hb yang diinginkan – Hb sekarang ) x BB (kg) x 10
  30. 30. SHOCK
  31. 31. SHOCK •  Shock is a loss of effective circulation resulting in impaired tissue oxygen and nutrient delivery and causes life threatening organ failure. “ANZCOR Guideline 9.2.3 – Shock”
  32. 32. DO2 CaO2 CO Sat % PaO2 Hgb HR SV Preload Contractility Afterload
  33. 33. JENIS SHOCK DAN PENYEBABNYA v Loss of circulating blood volume à hypovolemic shock v Cardiac causes à cardiogenic shock v Abnormal dilation of blood vessels à distributive shock v Blockage of blood flow in or out of heart à obstructive shock
  34. 34. Hypovolemic Shock •  severe bleeding (internal and / or external) •  major or multiple fractures or major trauma •  severe burns or scalds •  severe diarrhea and vomiting •  severe sweating and dehydration.
  35. 35. Hypovolemic Shock: Bleeding
  36. 36. % Blood Volume loss < 15% 15 – 30% 30 – 40% >40% HR <100 >100 >120 >140 SBP N N, DBP, postural drop Pulse Pressure N or Cap Refill < 3 sec > 3 sec >3 sec or absent absent Resp 14 - 20 20 - 30 30 - 40 >35 CNS anxious v. anxious confused lethargic Treatment 1 – 2 L crystalloid, + maintenance 2 L crystalloid, re-evaluate 2 L crystalloid, re-evaluate, replace blood loss 1:3 crystalloid, 1:1 colloid or blood products. Urine output >0.5 mL/kg/hr
  37. 37. Hypovolemic Shock: Dehydration
  38. 38. Hypovolemic Shock: Dehydration Derajat Dehidrasi Dewasa Anak Dehidrasi ringan 4 % 4% - 5% Dehidrasi Sedang 6% 5% -10 % Dehidrasi Berat 8% 10% - 15% Syok 15% - 20 % 15% - 20% v  Cairan resusitasi pada pasien dehidrasi tergantung derajat dehidrasi. Rumus cairan resusitasi = Derajat dehidrasi x kg BB
  39. 39. Hypovolemic Shock: Burns
  40. 40. Hypovolemic Shock: Burns v  Total Cairan : 4 cc x kgBB x LLB 1.  derajat ringan : LLB < 15 % 2.  derajat sedang : LLB 10 – 15% 3.  derajat berat : LLB > 20 % v  Berikan 50% dari total cairan dalam 8 jam pertama dan sisanya dalam 16 jam berikutnya. Kebutuhan Cairan pada luka bakar menurut Formula Baxter.
  41. 41. Cardiogenic Shock •  heart attack •  dysrhythmias (abnormal heart rhythm).
  42. 42. Cardiogenic Shock •  The primary goal in treating cardiogenic shock is to improve myocardial function. •  Arrhythmias should be treated promptly.
  43. 43. Distributive Shock •  severe infection •  allergic reactions •  severe brain / spinal injuries •  fainting.
  44. 44. Distributive Shock •  The initial approach to the patient with septic shock is restoration and maintenance of adequate intravascular volume – Fluids – Inotropes/Vasopressors •  Maintain organ perfusion, especially renal and splanchnic beds.
  45. 45. Obstructive Shock •  tension pneumothorax •  cardiac tamponade •  pulmonary embolus •  in pregnancy, compression of large abdominal blood vessels by the uterus.
  46. 46. Obstructive Shock •  In the patient with obstructive shock, relief of the obstruction is the treatment of choice. •  Maintenance of intravascular volume is vitally important in patients with all forms of obstructive shock. •  Fluid resuscitation may improve the patient's cardiac output and hypotension temporarily. •  DIURETICS SHOULD BE AVOIDED. •  Inotropes or vasopressors have a minimal role in the management of obstructive shock, and these agents provide only temporary improvement
  47. 47. INTIAL ASSESSMENT PADA SHOCK •  Kaji apakah pasien mengalami hipovolemia. •  Indikators pasien membutuhkan resusitasi cairan: –  TD Sistolik < 100 mmHg –  Heart rate > 90 bpm –  Capillary refill time > 2 seconds atau perifer terasa dingin –  Respiratory rate > 20 bpm –  National Early Warning Score (NEWS) > 5 –  Kenaikan kaki secara pasif menunjukkan responsif pada cairan
  48. 48. INTIAL ASSESSMENT PADA SHOCK •  Clinical examination should include an assessment of the patient's fluid status, including: –  pulse, blood pressure, capillary refill and jugular venous pressure –  presence of pulmonary or peripheral oedema –  presence of postural hypotension. •  Clinical monitoring should include current status and trends in: –  NEWS –  fluid balance charts –  Weight. •  Laboratory investigations should include current status and trends: –  full blood count –  urea, creatinine and electrolytes.
  49. 49. PT. BBraun Medical Indonesia | Clinical Application Specialist | Page Resusitasi cairan dikatakan berhasil bila: a.MAP = Mean Arterial Pressure : ≥ 65 mmHg b.CVP = Central Venous Pressure : 8-12 mmHg c.Urine Output : ≥ 0,5 mL/ kgBB/jam d. Central Venous (vena cava superior) atau Mixed Venous e. Oxygen Saturation ≥ 70%. f. Status mental normal 48
  50. 50. CONTOH KASUS •  Pasien datang ke unit gawat darurat dengan diantar polisi. Pasien datang dengan riwayat post KLL, terlihat luka di area muka, bahu serta fraktur terbuka di area femur. •  Saat dilakukan pengkajian didapatkan data terdengar ngorok, RR 35 kali per menit, TD 90/60 mmHg, Nadi 130 kali per menit, GCS pasien E2M4V2. •  Lakukan manajemen pada pasien tersebut?!
  51. 51. INGAT!!! •  Airway maintenance + Cervical spine protection •  Breathing + Ventilation (Oxygenation) •  Circulation + Hemorrhage control •  Disability (neurologic evaluation) •  Exposure + Environmental control
  52. 52. KESIMPULAN •  Indikasi pemberian cairan didasarkan pada kasus keadaan penyakit pasien dan tidak melupakan anamnese riwayat penyakit pasien. •  Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit dapat mempengaruhi fungsi fisiologis tubuh. •  Kolaborasi adalah kunci sukses dalam resusitasi cairan
  53. 53. ADA PERTANYAAN??
  54. 54. REFERENSI •  American College of Surgeons. (2004). Advanced Trauma Life Support program for doctors: ATLS. Chicago: ACS. •  B-Braun. Basic-IV fluids presentation •  Cook, L. S. (2003). IV fluid resuscitation. Journal of Infusion Nursing, 26(5), 296-303. •  Johnson, J. Y., Lyons, E., & Vaughans, B. W. (2008). Fluids and electrolytes demystified. New York: Mc Graw Hill •  Kaufman, B. S. (1992). Fluid resuscitation of the critically ill. •  Park, G. R. (2000). Fluid balance and volume resuscitation for beginners. London: Greenwich Medical Media.

×