Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.
P E N A L A R A N 
BK 
Pembinaan Bahasa Nasional 
.
1. SUWANDI 
2. SAUDIN 
3. UKHTI KAMELLA 
4. ERLIN WINARTI 
5. KHUSNUL 
ROBIAH 
6. RISKA RATNA 
SARI
PENALARAN ???
Pengertian Menurut Ahli 
 Menurut Bakry (1986:1) menyatakan bahwa 
Penalaran atau Reasoning merupakan suatu 
konsep yang ...
PENGERTIAN PENALARAN
PENGERTIAN 
PROPOSISI 
 Proposisi adalah apa yang dihasilkan 
dengan mengucapkan suatu kalimat. 
 Proposisi disebut seba...
Unsur - Unsur 
Proposisi 
 Term subyek : hal yang tentangnya 
pengakuan atau pengingkaran ditujukan. 
 Term predikat : a...
PENGERTIAN 
TERM 
Ungkapan 
pengertian dalam 
bentuk kata atau 
istilah
JENIS DAN BENTUK 
PROPOSISI 
Dari bentuknya proposisi terbagi 
menjadi : 
1. Proposisi Tunggal 
2. Proposisi Majemuk
1. Proposisi Tunggal yaitu proporsi yang 
hanya memiliki atau terdiri dari satu 
Subjek dan satu Predikat. 
Contoh : 
Maha...
JENIS DAN BENTUK 
PROPOSISI 
Dari sifatnya proporsi terbagi menjadi : 
1. Proporsi Kategorial 
2. Proporsi Kondisional 
3....
1. Proposisi Kategorial yaitu proporsi 
dimana hubungan Subjek dan 
Predikat tanpa membutuhkan syarat 
apapun. 
Contoh : 
...
4. Proposisi Kualitatif, terbagi menjadi : 
a. Proposisi Positif yaitu proposisi yang 
Subjek dan Predikatnya terdapat 
pe...
4. Proposisi Kuantitas terdiri dari : 
a. Proposisi Universal yaitu proposisi 
yang Predikatnya membenarkan 
semua Subjek....
PENALARAN DEDUKTIF 
Penalaran deduktif merupakan 
prosedur yang berpangkal dari 
peristiwa umum yang 
kebenarannya telah d...
Penarikan kesimpulan secara 
deduktif 
1. Menarik Simpulan secara 
Langsung 
2. Menarik Simpulan secara Tidak 
Langsung
1. Menarik Simpulan secara Langsung 
Simpulan (konklusi) secara langsung 
ditarik dari satu premis. 
Misalnya: 
a. Semua S...
b. Tidak satu pun S adalah P. (premis) 
Tidak satu pun P adalah S. (simpulan) 
Contoh: 
Tidak seekor nyamuk pun adalah lal...
2. Menarik Simpulan secara Tidak 
Langsung 
 Penarikan simpulan secara tidak 
langsung memerlukan dua premis 
sebagai dat...
 Silogisme Kategorial 
 Silogisme Hipotesis 
 Silogisme Alterntif 
 Entimen 
Jenis Penalaran Deduksi dengan 
Penarikan...
1. Silogisme Kategorial 
Kategorial adalah silogisme yang terjadi dari 
tiga proposisi. Dua proposisi merupakan 
premis da...
2. Silogisme Hipotesis 
Silogisme hipotesis adalah silogisme yang 
terdiri atas premis mayor yang berproposisi 
kondisiona...
3. Silogisme Alternatif 
Silogisme alternatif adalah silogisme 
yang terdiri atas premis mayor berupa 
proposisi alternati...
4. Entimen 
Silogisme yang tidak mempunyai premis 
mayor karena premis mayor itu sudah 
diketahui secara umum. Yang dikemu...
PENALARAN 
INDUKTIF 
 Penalaran induktif adalah proses 
penalaran untuk manarik kesimpulan 
berupa prinsip atau sikap yan...
BENTUK PENALARAN 
INDUKTIF 
1. Generalisasi ialah proses penalaran yang 
megandalkan beberapa pernyataan yang mempunyai 
s...
Hal untuk menentukan benar 
atau tidaknya generalisasi 
1. Data itu harus memadai jumlahnya. 
Semakin banyak data yang 
di...
Bentuk Generalisasi 
1. Generalisasi sempurna 
Generalisasi sempurna adalah generalisasi 
dimana seluruh fenomena yang men...
Bentuk Generalisasi 
2. Generalisasi tidak sempurna 
Generalisasi tidak sempurna adalah 
generalisasi berdasarkan sebagian...
2. Analogi adalah cara penarikan penalaran 
secara membandingkan dua hal yang 
mempunyai sifat yang sama. 
Contoh: 
Nina a...
Tujuan 
penalaran 
secara analogi 
 Analogi dilakukan untuk meramalkan 
sesuatu. 
 Analogi diakukan untuk 
menyingkapkan...
Hubungan Kausal adalah penalaran yang 
diperoleh dari gejala-gejala yang saling 
berhubungan. 
Misalnya: 
 Tombol ditekan...
Hubungan Antarmasalah yang 
Berkaitan dengan Hubungan 
Klausal 
1. Sebab-Akibat 
Sebab-akibat ini berpola A menyebabkan B....
2. Akibat-Sebab 
Akibat-Sebab ini dapat kita lihat pada 
peristiwa seseorang yang pergi kedokter. 
Ke dokter merupakan aki...
3. Akibat-akibat 
Akibat-akibat adalah suatu 
penalaran yang menyiratkan 
penyebabnya. Peristiwa “akibat” 
langsung disimp...
SALAH 
NALAR 
 Merupakan gagasan, 
pikiran, kepercayaan, 
atau simpulan yang 
salah, keliru, atau cacat.
Macam-Macam Salah Nalar 
1. Deduksi yang salah 
2. Generalisasi terlalu luas, 
dan 
3. Pemilihan terbatas pada 
dua altern...
1. Deduksi yang salah 
Salah nalar yang disebabkan oleh 
deduksi yang salah merupakan salah 
nalar yang amat sering dilaku...
2. Generalisasi Terlalu 
Luas 
Salah nalar jenis ini disebabkan oleh 
jumlah premis yang mendukung 
generalisasi tidak sei...
Dua bentuk kesalahan 
generalisasi 
1. Generalisasi Sepintas 
Kesalahan ini terjadi dikarenakan penulis 
membuat generalis...
3. Pemilihan Terbatas pada 
Dua Alternatif 
Salah nalar ini dilandasi oleh penalaran 
alternatif yang tidak tepat dengan 
...
Faktor 
Penyeba 
b salah 
Nalar 
1. Analogi yang salah 
2. Argumentasi bidik 
orang 
3. Meniru-niru yang 
sudah ada, dan 
...
1. Analogi yang 
Salah 
Salah nalar ini dapat terjadi bila orang 
menganalogikan sesuatu dengan yang lain 
dengan anggapan...
2. Argumentasi Bidik Orang 
Salah nalar jenis ini disebabkan oleh sikap 
menghubungkan sifat seseorang dengan 
tugas yang ...
3. Meniru-niru yang Sudah 
Ada 
Salah nalar jenis ini adalah salah nalar 
yang berhubungan dengan anggapan 
bahwa sesuatu ...
4. Penyamarataan Para Ahli 
Salah nalar ini disebapkan oleh anggapan 
orang tentang berbagai ilmu dengan 
pandangan yang s...
47
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Ppt penalaran

3,828 views

Published on

tugas bahasa indonesia tentang PENALARAN

Published in: Education
  • Be the first to comment

Ppt penalaran

  1. 1. P E N A L A R A N BK Pembinaan Bahasa Nasional .
  2. 2. 1. SUWANDI 2. SAUDIN 3. UKHTI KAMELLA 4. ERLIN WINARTI 5. KHUSNUL ROBIAH 6. RISKA RATNA SARI
  3. 3. PENALARAN ???
  4. 4. Pengertian Menurut Ahli  Menurut Bakry (1986:1) menyatakan bahwa Penalaran atau Reasoning merupakan suatu konsep yang paling umum menunjuk pada salah satu proses pemikiran untuk sampai pada suatu kesimpulan sebagai pernyataan baru dari beberapa pernyataan lain yang telah diketahui.  Menurut Suriasumantri (2001:42) mengemukakan secara singkat bahwa penalaran adalah suatu aktivitas berpikir dalam pengambilan suatu simpulan yang berupa pengetahuan.  Menurut Keraf (1985:5) berpendapat bahwa penalaran adalah suatu proses berpikir dengan menghubung-hubungkan bukti, fakta, petunjuk atau eviden, menuju kepada suatu kesimpulan.
  5. 5. PENGERTIAN PENALARAN
  6. 6. PENGERTIAN PROPOSISI  Proposisi adalah apa yang dihasilkan dengan mengucapkan suatu kalimat.  Proposisi disebut sebagai “tempat kebenaran” bukan bahwa proposisi itu selalu benar, melainkan karena hubungan yang diakui atau diingkarinya itu dapat diuji dengan kenyataan, dan hasilnya pun dapat benar dan dapat salah.
  7. 7. Unsur - Unsur Proposisi  Term subyek : hal yang tentangnya pengakuan atau pengingkaran ditujukan.  Term predikat : apa yang diakui atau diingkari tentang subyek  Kopula : penghubung (adalah, bukan/tidak) antara term subyek dan term predikat, dan sekaligus member bentuk (pengakuan atau pengingkaran) pada hubungan itu.
  8. 8. PENGERTIAN TERM Ungkapan pengertian dalam bentuk kata atau istilah
  9. 9. JENIS DAN BENTUK PROPOSISI Dari bentuknya proposisi terbagi menjadi : 1. Proposisi Tunggal 2. Proposisi Majemuk
  10. 10. 1. Proposisi Tunggal yaitu proporsi yang hanya memiliki atau terdiri dari satu Subjek dan satu Predikat. Contoh : Mahasiswa harus menjaga kebersihan. 2. Proposisi majemuk yaitu proporsi yang terdiri dari satu Subjek dan terdapat lebih dari satu Predikat. Contoh: Semua kelas harus bersih dan nyaman.
  11. 11. JENIS DAN BENTUK PROPOSISI Dari sifatnya proporsi terbagi menjadi : 1. Proporsi Kategorial 2. Proporsi Kondisional 3. Proporsi Kualitatif a. Proporsi Positif b. Proposisi Negatif 4. Proposisi Kuantitas a. Proposisi Universal b. Proposisi Khusus
  12. 12. 1. Proposisi Kategorial yaitu proporsi dimana hubungan Subjek dan Predikat tanpa membutuhkan syarat apapun. Contoh : Semua Kelinci berkaki empat 2. Proposisi Kondisional yaitu proporsi dimana Subjek dan Predikat memerlukan syarat tertentu.dalam proporsi ini haruslah terdapat sebab dan akibat. Contoh : Jika tidak rajin membaca,maka saya akan menjadi bodoh.
  13. 13. 4. Proposisi Kualitatif, terbagi menjadi : a. Proposisi Positif yaitu proposisi yang Subjek dan Predikatnya terdapat penyesuaian atau proposisi yang memiliki Predikat yang membetulkan Subjek. Contoh : Semua anak SMP adalah lulusan SD. b. Proposisi Negatif yaitu proposisi dimana Subjek dan Predikatnya tidak memiliki hubungan atau Predikatnya tidak membetulkan Subjek. Contoh: Semua tumbuhan bukanlah manusia.
  14. 14. 4. Proposisi Kuantitas terdiri dari : a. Proposisi Universal yaitu proposisi yang Predikatnya membenarkan semua Subjek. Contoh : Semua mobil memiliki roda. b. Proposisi Khusus yaitu proposisi yang Predikatnya tidak membenarkan semua Subjek. Contoh : Tidak semua daun berwarna hijau.
  15. 15. PENALARAN DEDUKTIF Penalaran deduktif merupakan prosedur yang berpangkal dari peristiwa umum yang kebenarannya telah diketahui, dan berakhir pada suatu kesimpulan baru yang bersifat lebih khusus.
  16. 16. Penarikan kesimpulan secara deduktif 1. Menarik Simpulan secara Langsung 2. Menarik Simpulan secara Tidak Langsung
  17. 17. 1. Menarik Simpulan secara Langsung Simpulan (konklusi) secara langsung ditarik dari satu premis. Misalnya: a. Semua S adalah P. (premis) Sebagian P adalah S. (simpulan) Contoh: Semua ikan berdarah dingin. (premis) Sebagian yang berdarah dingin adalah ikan. (simpulan)
  18. 18. b. Tidak satu pun S adalah P. (premis) Tidak satu pun P adalah S. (simpulan) Contoh: Tidak seekor nyamuk pun adalah lalat. (premis) Tidak seekor lalat pun adalah nyamuk. (simpulan) c. Semua S adalah P. (premis) Tidak satu pun S adalah tak-P. (simpulan) Tidak satu pun tak-P adalah S. (simpulan) Contoh: Semua gajah adalah berbelalai. (premis) Tak satu pun gajah adalah tak berbelalai. (simpulan)
  19. 19. 2. Menarik Simpulan secara Tidak Langsung  Penarikan simpulan secara tidak langsung memerlukan dua premis sebagai data. Dari dua premis ini akan dihasilkan sebuah simpulan. Premis yang pertama adalah premis yang bersifat umum dan premis yang kedua adalah premis yang bersifat khusus.  Untuk itu, kita memerlukan suatu premis (pernyataan dasar) yang bersifat pengetahuan yang semua orang sudah tahu, umpamanya setiap manusia akan mati, semua ikan berdarah dingin, semua sarjana adalah lulusan perguruan tinggi, atau semua pohon kelapa berakar
  20. 20.  Silogisme Kategorial  Silogisme Hipotesis  Silogisme Alterntif  Entimen Jenis Penalaran Deduksi dengan Penarikan secara Tidak Langsung
  21. 21. 1. Silogisme Kategorial Kategorial adalah silogisme yang terjadi dari tiga proposisi. Dua proposisi merupakan premis dan satu proposisi merupakan simpulan. Premis yang bersifat umum disebut premis mayordan premis yang bersifat khusus disebut premis minor. Dalam simpulan terdapat subjek dan predikat. Subjek simpulan disebut term minor dan predikat simpulan disebut term mayor. Contoh: Semua manusia bijaksana. Semua polisi adalah bijaksana. Jadi, semua polisi bijaksana.
  22. 22. 2. Silogisme Hipotesis Silogisme hipotesis adalah silogisme yang terdiri atas premis mayor yang berproposisi kondisional hipotesis. Kalau premis minornya membernarkan anteseden, simpulannya membenarkan konsekuen. Kalau premis minornya menolak anteseden, simpulan juga menolak konsekuen. Contoh: Jika besi dipanaskan, besi akan memuai. Besi dipanaskan. Jadi, besi memuai.
  23. 23. 3. Silogisme Alternatif Silogisme alternatif adalah silogisme yang terdiri atas premis mayor berupa proposisi alternatif. Kalau premis minornya membenarkan salah satu alternatif, simpulannya akan menolak alternatif yang lain. Contoh: Dia adalah seorang kiai atau profesor. Dia seorang kiai. Jadi, dia bukan seorang profesor.
  24. 24. 4. Entimen Silogisme yang tidak mempunyai premis mayor karena premis mayor itu sudah diketahui secara umum. Yang dikemukakan hanya premis minor dan simpulan. Contoh: Semua sarjana adalah orang cerdas. Ali adalah seorang sarjana. Jadi, Ali adalah orang cerdas. Dari silogisme ini dapat ditarik satu entimen, yaitu “Ali adalah orang cerdas karena dia adalah seorang sarjana”.
  25. 25. PENALARAN INDUKTIF  Penalaran induktif adalah proses penalaran untuk manarik kesimpulan berupa prinsip atau sikap yang berlaku umum berdasarkan fakta – fakta yang bersifat khusus, prosesnya disebut Induksi.
  26. 26. BENTUK PENALARAN INDUKTIF 1. Generalisasi ialah proses penalaran yang megandalkan beberapa pernyataan yang mempunyai sifat tertentu untuk mendapatkan simpulan yang bersifat umum. Contoh: Jika dipanaskan, besi memuai. Jika dipanaskan, tembaga memuai. Jika dipanaskan, emas memuai. Jadi, jika dipanaskan, logam memuai.
  27. 27. Hal untuk menentukan benar atau tidaknya generalisasi 1. Data itu harus memadai jumlahnya. Semakin banyak data yang dipaparkan, semakin benar simpulan yang diperoleh. 2. Data itu harus mewakili keseluruhan. Dari data yang sama itu akan dihasilkan simpulan yang benar. 3. Pengecualian perlu diperhitungkan karena data-data yang mempunyai sifat khusus tidak dapat dijadikan data.
  28. 28. Bentuk Generalisasi 1. Generalisasi sempurna Generalisasi sempurna adalah generalisasi dimana seluruh fenomena yang menjadi dasar penyimpulan diselidiki. Generalisasi macam ini memberikan kesimpulan amat kuat dan tidak dapat diserang. Tetapi tetap saja yang belum diselidiki. Contoh : Perhitungan jumlah siswa disuatu sekolah.
  29. 29. Bentuk Generalisasi 2. Generalisasi tidak sempurna Generalisasi tidak sempurna adalah generalisasi berdasarkan sebagian fenomena untuk mendapatkakn kesimpulan yang berlaku bagi fenomena sejenis yang belum diselidiki. Contoh: Hampir seluruh wanita dewasa gemar menggunakan sepatu hak tinggi (high-heeled).
  30. 30. 2. Analogi adalah cara penarikan penalaran secara membandingkan dua hal yang mempunyai sifat yang sama. Contoh: Nina adalah lulusan akademi A. Nina dapat menjalankan tugasnya dengan baik. Ali adalah lulusan akademi A. Oleh sebab itu, Ali dapat menjalankan tugasnya dengan baik.
  31. 31. Tujuan penalaran secara analogi  Analogi dilakukan untuk meramalkan sesuatu.  Analogi diakukan untuk menyingkapkan kekeliruan.  Analogi digunakan untuk menyusun klasifikasi.
  32. 32. Hubungan Kausal adalah penalaran yang diperoleh dari gejala-gejala yang saling berhubungan. Misalnya:  Tombol ditekan, akibatnya bel berbunyi.  Hujan turun dan jalan-jalan becek.  Ia kena penyakit kanker darah dan meninggal dunia
  33. 33. Hubungan Antarmasalah yang Berkaitan dengan Hubungan Klausal 1. Sebab-Akibat Sebab-akibat ini berpola A menyebabkan B. Disamping itu, hubungan ini dapat pula berpola A menyebabkan B, C, D, dan seterusnya. Jadi, efek dari satu peristiwa yang dianggap penyebab kadang-kadang lebih dari satu. Misalnya: Andaikata angin tiba-tiba bertiup. (A), dan hujan yang tiba-tiba turun. (B), ternyata tidak sebuah manggapun yang jatuh. (E), tentu kita dapat menyimpulkan bahwa jatuhnya mangga itu disebabkan oleh lemparan anak-anak. (C).
  34. 34. 2. Akibat-Sebab Akibat-Sebab ini dapat kita lihat pada peristiwa seseorang yang pergi kedokter. Ke dokter merupakan akibat dan sakit merupakan sebab, jadi mirip dengan entimen. Akan tetapi, dalam penalaran jenis akibat-sebab ini, peristiwa sebab merupakan simpulan.
  35. 35. 3. Akibat-akibat Akibat-akibat adalah suatu penalaran yang menyiratkan penyebabnya. Peristiwa “akibat” langsung disimpulkan pada suatu “akibat” yang lain. Contoh : Ketika pulang dari pasar, Ibu Sonya melihat tanah di halamannya becek. Ibu langsung menyimpulkan bahwa kain jemuran di belakang rumahnya pasti basah.
  36. 36. SALAH NALAR  Merupakan gagasan, pikiran, kepercayaan, atau simpulan yang salah, keliru, atau cacat.
  37. 37. Macam-Macam Salah Nalar 1. Deduksi yang salah 2. Generalisasi terlalu luas, dan 3. Pemilihan terbatas pada dua alternatif
  38. 38. 1. Deduksi yang salah Salah nalar yang disebabkan oleh deduksi yang salah merupakan salah nalar yang amat sering dilakukan orang. Contoh : Pak Ruslan tidak dapat dipilih sebagai lurah disini karena dia miskin.
  39. 39. 2. Generalisasi Terlalu Luas Salah nalar jenis ini disebabkan oleh jumlah premis yang mendukung generalisasi tidak seimbang dengan besarnya generalisasi tersebut sehingga kesimpulan yang diambil menjadi salah. Selain itu, salah nalar jenis ini terjadi dikarenakan kurangnya data yang dijadikan dasar generalisasi, sikap “menggampangkan”, malas untuk mengumpulkan dan menguji data secara memadai, atau ingin segera meyakinkan orang lain dengan bahan yang terbatas. Contoh : Anak-anak tidak boleh memegang barang Anak-anak tidak boleh memegang barang orselen karena barang itu cepat pecah.
  40. 40. Dua bentuk kesalahan generalisasi 1. Generalisasi Sepintas Kesalahan ini terjadi dikarenakan penulis membuat generalisasi berdasarkan data atau evidensi yang sangat sedikit. Contoh: Semua anak yang jenius akan sukses dalam belajar. 2. Generalisasi Apriori Salah nalar ini terjadi ketika seorang penulis melakukan generalisasi atas gejala atau peristiwa yang belum diuji kebenaran atau kesalahannya. Contoh: Semua pejabat pemerintah melakukan tindakan korupsi.
  41. 41. 3. Pemilihan Terbatas pada Dua Alternatif Salah nalar ini dilandasi oleh penalaran alternatif yang tidak tepat dengan pemilihan “itu” atau “ini”. Contoh : Engkau harus mengikuti kehendak ayah, atau engkau harus berangkat kerumah ini.
  42. 42. Faktor Penyeba b salah Nalar 1. Analogi yang salah 2. Argumentasi bidik orang 3. Meniru-niru yang sudah ada, dan 4. Penyamarataan para ahli
  43. 43. 1. Analogi yang Salah Salah nalar ini dapat terjadi bila orang menganalogikan sesuatu dengan yang lain dengan anggapan persamaan salah satu segi akan memberikan kepastian persamaan pada segi yang lain. Contoh: Sumini, seorang alumni Universitas Indonesia, dapat mengerjakan tugasnya dengan baik. Oleh sebab itu, Tata, seorang alumni Universitas Indonesia, tentu dapat menyelesaikan tugasnya dengan baik.
  44. 44. 2. Argumentasi Bidik Orang Salah nalar jenis ini disebabkan oleh sikap menghubungkan sifat seseorang dengan tugas yang diembannya. Dengan kata lain, sesuatu itu selalu dihubungkan dengan orangnya. Contoh: Peserta penataran boeh pulang sebelum waktunya karena para undangan yang mengahadiri acara pembukaan pun sudah pulang semua.
  45. 45. 3. Meniru-niru yang Sudah Ada Salah nalar jenis ini adalah salah nalar yang berhubungan dengan anggapan bahwa sesuatu itu dapat kita lakukan kalau atasan kita melakukan hal itu. Contoh: Peserta penataran boleh pulang sebelum waktu nya karna para undangan yang menghadiri acara pembukaan pun sudah pulang semua.
  46. 46. 4. Penyamarataan Para Ahli Salah nalar ini disebapkan oleh anggapan orang tentang berbagai ilmu dengan pandangan yang sama. Hal ini akan mengakibatkan kekeliruan mengambil simpulan. Contoh: Perkembangan sistem pelayanan kita dapat dibahas secara panjang lebar oleh Amad Panu, seorang kayu yang terkenal itu.
  47. 47. 47

×