• Share
  • Email
  • Embed
  • Like
  • Save
  • Private Content
Hubungan Antara Tahap Kesediaan Pembelajaran Arahan Kendiri Dengan Tahap Penggunaan E Pembelajaran
 

Hubungan Antara Tahap Kesediaan Pembelajaran Arahan Kendiri Dengan Tahap Penggunaan E Pembelajaran

on

  • 21,123 views

My Theses of Master Degree (Human Resource Development), University Technology of Malaysia.

My Theses of Master Degree (Human Resource Development), University Technology of Malaysia.

Statistics

Views

Total Views
21,123
Views on SlideShare
21,121
Embed Views
2

Actions

Likes
10
Downloads
860
Comments
4

1 Embed 2

http://www.docshut.com 2

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Adobe PDF

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel

14 of 4 previous next Post a comment

  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
  • URUS NIK BEACUKAI EKSPORT IMPORT
    - NIK BEACUKAI EKSPORT.
    - NIK BEACUKAI IMPORT.
    - NIK BEACUKAI PPJK
    - NIK BEACUKAI PENGANGKUT

    URUS SRP BEACUKAI / NIK BEACUKAI
    Peraturan Menteri Keuangan Nomor 63/PMK.04/2011.

    Jakarta
    Komplek Ruko Segitiga Atrium Blok A1 Lt 2 Jl. Senen Raya No. 135 Jakarta Pusat 10410.
    Tep: +(62) 21- 34833034
    Fax : +(62) 21- 34833038
    Mobile: 081385042000
    Pin BB 285200BC
    Contact Person: M. Samosir, SH
    Email: legal@saranaizin.com

    Bekasi
    Harapan Indah 2 Ifolia HY 22/ 25 Bekasi Utara
    Telp: + ( 62) 21-29466607
    Fax : + ( 62) 21-29466607
    Mobile: 081585427167
    Pin BB 2262D175
    Email: admin.legal@saranaizin.com

    Medan
    Gedung Johar Jl. Tani Bersaudara no. 9 Medan Sumatera Utara
    Telp: +(62) 61-77554440
    Fax : +(62) 61-77554440
    Mobile: 085270139105
    Email : saranaizincab.medan@ymail.com
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
  • - URUS SRP, NIK BEACUKIA PENERBITAN BARU
    - URUS SRP, NIK BEACUKAI DITOLAK.
    - URUS SRP, NIK BEACUKAI DIBLOKIR
    - URUS SRP, NIK BEACUKAI PINDAH ALAMAT,

    URUS IZIN USAHA:
    - URUS PENDIRIAN PT – Jakarta, Bekasi, Depok, Tangerang, Krawang, Bandung
    - URUS PENDIRIAN PMA – Jakarta, Bekasi, Depok, Tangerang, Krawang, Bandung
    - URUS PENDIRIAN CV – Jakarta, Bekasi, Depok, Tangerang, Krawang, Bandung
    - URUS APIU – Jakarta, Bekasi, Depok, Tangerang, Krawang, Bandung – Jakarta, Bekasi, Depok, Tangerang, Krawang, Bandung
    - URUS APIP – Jakarta, Bekasi, Depok, Tangerang, Krawang, Bandung
    - URUS NPIK – Seluruh Indonesia
    - URUS NIK BEACUKAI – Seluruh Indonesia
    - Urus IT Plastik
    - Urus IT CAKRAM OPTIK
    - Urus IT KOSMETIK
    - Urus IT ALAS KAKI
    - Urus IT MAKANAN DAN MINUMAN
    - Urus IT MAINAN ANAK-ANAK
    - Urus IT ELEKTRONIKA
    - Urus IT OBAT TRADISIONAL DAN HERBAL
    - Urus IT PRODUK MAKANAN DAN MINUMAN
    - Urus Izin Prinsip
    -Urus SIUP.
    -Urus TDP
    -Dll

    PT. LEGALITAS SARANAIZIN INDONESIA.
    Gedung Maya Indah Lt 2 Jakarta Pusat 10450
    Telp. 021-3142566
    Fax. 021-3928113
    HP. 081385042000
    Flexi. 021-70940216
    Website: http://www.saranaijin.com
    Email legal@saranaizin.com
    Pin BB 2262D175
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
  • URUS NIK BEACUKAI / REGISTRASI PABEAN / SRP BEACUKAI
    Peraturan Menteri Keuangan No. 63/PMK.04/2011

    - URUS SRP, NIK BEACUKIA PENERBITAN BARU
    - URUS SRP, NIK BEACUKAI DITOLAK.
    - URUS SRP, NIK BEACUKAI DIBLOKIR
    - URUS SRP, NIK BEACUKAI PINDAH ALAMAT,

    URUS IZIN USAHA:
    - URUS PENDIRIAN PT – Jakarta, Bekasi, Depok, Tangerang, Krawang, Bandung
    - URUS PENDIRIAN PMA – Jakarta, Bekasi, Depok, Tangerang, Krawang, Bandung
    - URUS PENDIRIAN CV – Jakarta, Bekasi, Depok, Tangerang, Krawang, Bandung
    - URUS APIU – Jakarta, Bekasi, Depok, Tangerang, Krawang, Bandung – Jakarta, Bekasi, Depok, Tangerang, Krawang, Bandung
    - URUS APIP – Jakarta, Bekasi, Depok, Tangerang, Krawang, Bandung
    - URUS NPIK – Seluruh Indonesia
    - URUS NIK BEACUKAI – Seluruh Indonesia
    - Urus IT Plastik
    - Urus IT CAKRAM OPTIK
    - Urus IT KOSMETIK
    - Urus IT ALAS KAKI
    - Urus IT MAKANAN DAN MINUMAN
    - Urus IT MAINAN ANAK-ANAK
    - Urus IT ELEKTRONIKA
    - Urus IT OBAT TRADISIONAL DAN HERBAL
    - Urus IT PRODUK MAKANAN DAN MINUMAN
    - Urus Izin Prinsip
    -Urus SIUP.
    -Urus TDP
    -Dll

    PT. LEGALITAS SARANAIZIN INDONESIA.
    Gedung Maya Indah Lt 2 Jakarta Pusat 10450
    Telp. 021-3142566
    Fax. 021-3928113
    HP. 081385042000
    Flexi. 021-70940216
    Website: http://www.saranaijin.com
    Email legal@saranaizin.com
    Pin BB 2262D175
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
  • URUS NIK BEACUKAI / REGISTRASI PABEAN / SRP BEACUKAI
    Peraturan Menteri Keuangan No. 63/PMK.04/2011

    - URUS SRP, NIK BEACUKIA PENERBITAN BARU
    - URUS SRP, NIK BEACUKAI DITOLAK.
    - URUS SRP, NIK BEACUKAI DIBLOKIR
    - URUS SRP, NIK BEACUKAI PINDAH ALAMAT,

    URUS IZIN USAHA:
    - URUS PENDIRIAN PT – Jakarta, Bekasi, Depok, Tangerang, Krawang, Bandung
    - URUS PENDIRIAN PMA – Jakarta, Bekasi, Depok, Tangerang, Krawang, Bandung
    - URUS PENDIRIAN CV – Jakarta, Bekasi, Depok, Tangerang, Krawang, Bandung
    - URUS APIU – Jakarta, Bekasi, Depok, Tangerang, Krawang, Bandung – Jakarta, Bekasi, Depok, Tangerang, Krawang, Bandung
    - URUS APIP – Jakarta, Bekasi, Depok, Tangerang, Krawang, Bandung
    - URUS NPIK – Seluruh Indonesia
    - URUS NIK BEACUKAI – Seluruh Indonesia
    - Urus IT Plastik
    - Urus IT CAKRAM OPTIK
    - Urus IT KOSMETIK
    - Urus IT ALAS KAKI
    - Urus IT MAKANAN DAN MINUMAN
    - Urus IT MAINAN ANAK-ANAK
    - Urus IT ELEKTRONIKA
    - Urus IT OBAT TRADISIONAL DAN HERBAL
    - Urus IT PRODUK MAKANAN DAN MINUMAN
    - Urus Izin Prinsip
    -Urus SIUP.
    -Urus TDP
    -Dll

    PT. LEGALITAS SARANAIZIN INDONESIA.
    Gedung Maya Indah Lt 2 Jakarta Pusat 10450
    Telp. 021-3142566
    Fax. 021-3928113
    HP. 081385042000
    Flexi. 021-70940216
    Website: http://www.saranaijin.com
    Email legal@saranaizin.com
    Pin BB 2262D175
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

    Hubungan Antara Tahap Kesediaan Pembelajaran Arahan Kendiri Dengan Tahap Penggunaan E Pembelajaran Hubungan Antara Tahap Kesediaan Pembelajaran Arahan Kendiri Dengan Tahap Penggunaan E Pembelajaran Document Transcript

    • HUBUNGAN ANTARA TAHAP KESEDIAAN PEMBELAJARAN ARAHAN KENDIRI DENGAN TAHAP PENGGUNAAN E-PEMBELAJARAN DI KALANGAN PELAJAR DI UNIVERSITI TUN HUSSEIN ONN, BATU PAHAT, JOHOR. MOHD ERY JOHAIZAL BIN RAMLI SARJANA SAINS (PEMBANGUNAN SUMBER MANUSIA) UNIVERSITI TEKNOLOGI MALAYSIA
    • HUBUNGAN ANTARA TAHAP KESEDIAAN PEMBELAJARAN ARAHAN KENDIRI DENGAN TAHAP PENGGUNAAN E-PEMBELAJARAN DI KALANGAN PELAJAR DI UNIVERSITI TUN HUSSEIN ONN, BATU PAHAT, JOHOR. MOHD ERY JOHAIZAL BIN RAMLI Tesis ini dikemukakan sebagai memenuhi syarat penganugerahan Ijazah Sarjana Sains (Pembangunan Sumber Manusia) Fakulti Pengurusan Dan Pembangunan Sumber Manusia Universiti Teknologi Malaysia APRIL, 2009
    • PSZ 19:16 UNIVERSITI TEKNOLOGI MALAYSIA BORANG PENGESAHAN STATUS TESIS٠ JUDUL : HUBUNGAN ANTARA TAHAP KESEDIAAN PEMBELAJARAN ARAHAN KENDIRI DENGAN TAHAP PENGGUNAAN E-PEMBELAJARAN DI KALANGAN PELAJAR DI UNIVERSITI TUN HUSSEIN ONN, BATU PAHAT, JOHOR. SESI PENGAJIAN: 2008/2009 SAYA MOHD ERY JOHAIZAL BIN RAMLI ____________________________________________________________________________________________________________________________________ (HURUF BESAR) Mengaku membenarkan tesis (PSM / Sarjana, Doktor Falsafah) * ini disimpan di perpustakaan Teknologi Malaysia dengan syarat-syarat kegunaan seperti berikut : 1. Tesis adalah hakmilik Universiti Teknologi Malaysia. 2. Perpustakaan Universiti Teknologi Malaysia dibenarkan membuat salinan untuk tujuan pengajian sahaja. 3. Perpustakaan dibenarkan membuat salinan tesis ini sebagai bahan pertukaran antara institusi pengajian. 4. ** Sila tandakan ( √ ) SULIT (Mengandungi maklumat yang berdarjah keselamatan atau kepentingan Malaysia seperti yang termaktub di dalam AKTA RAHSIA RASMI 1972) TERHAD (Mengandungi maklumat TERHAD yang telah ditentukan oleh Organisasi/ badan di mana penyelidikan dijalankan) √ TIDAK TERHAD Disahkan oleh _________________________________ ________________________________ (TANDATANGAN PENULIS) (TANDATANGAN PENYELIA) Alamat Tetap : P/S 1353 Kg. Batu Berendam, PUAN AMINAH BT AHMAD KHALID 16800 Pasir Puteh, Kelantan. Nama Penyelia Tarikh : 30 APRIL 2009 Tarikh : 30 APRIL 2009 Catatan : * Potongan yang tidak berkenaan ** Jika tesis ini SULIT atau TERHAD, sila lampirkan surat daripada berkuasa/organisasi berkenaan dengan menyatakan sekali sebab dan tempoh tesis ini perlu dikelaskan sebagai SULIT atau TERHAD ٠ Tesis dimaksudkan sebagai tesis bagi Ijazah Doktor Falsafah dan Sarjana secara kerja kursus dan penyelidikan, atau Laporan Projek Sarjana Muda (PSM)
    • PENGESAHAN “Saya akui bahawa saya telah membaca projek sarjana ini dan pada pandangan saya karya ini adalah memadai dari segi skop dan kualiti untuk tujuan penganugerahan Ijazah Sarjana Sains (Pembangunan Sumber Manusia)” Tandatangan : _______________________________ Nama Penyelia : AMINAH BT AHMAD KHALID Tarikh : 30 MAC 2009
    • Terima Kasih Buat YDSM AYAHANDA SYEIKH HARIS AL-KHOLIDI, Ahlul Bait dan BKSI Sekalian..... Istimewa Buat Ayahanda Dan Bonda Ramli Bin Mohamad Dan Selemo Bt Abdul Ghani Jasa Dan Dorongan Yang Disumbangkan Tidak Ternilai Sehingga Tercapai Cita- Cita. Serta Ahli Keluarga Tersayang Semua Yang Memberi Sokongan.. Terima Kasih....
    • PENGHARGAAN Alhamdulillah, syukur ke hadrat Ilahi kerana dengan izin dan limpah kurnia- Nya akhirnya kajian ini dapat disempurnakan. Jutaan terima kasih kepada penyelia projek ini Puan Aminah Bt Haji Ahmad Khalid yang telah memberi tunjuk ajar dan pandangan yang sangat baik sehingga projek ini siap dilaksanakan. Terima kasih kepada pihak Universiti Teknologi Tun Hussein Onn, terutamanya staf dari Pusat Pengajaran dan Pembelajaran, Dr. Burhanudin dan Encik Hemmy yang banyak membantu untuk mendapatkan maklumat berkenaan kajian ini. Kepada rakan –rakan seperjuangan, diucapkan terima kasih sepanjang pengajian yang mana telah memberikan kerjasama dengan baik dan memberikan komitmen serta pandangan dalam projek ini.
    • Kajian ini dijalankan untuk mengetahui hubungan antara kesediaan pembelajaran arahan kendiri dengan penggunaan e-pembelajaran. Kajian ini dijalankan di Fakulti Pengurusan Teknologi di Universiti Teknologi Tun Hussein Onn Malaysia. Kajian ini juga untuk mengenal pasti tahap penggunaan e- pembelajaran dan tahap kesediaan pembelajaran arahan kendiri di kalangan pelajar. Tahap kesediaan pembelajaran arahan kendiri menggunakan skala yang telah dibangunkan oleh Gugliemino (1977). Selain itu, kajian ini juga bertujuan untuk mengenal pasti perbezaan penggunaan e-pembelajaran berdasarkan kepada jantina dan program pengajian. Soal selidik telah digunakan untuk mendapatkan data kajian. Seramai 140 pelajar daripada keseluruhan 214 pelajar Tahun Dua di Fakulti Pengurusan Teknologi telah menjadi responden kajian. Statistik deskriptif dan inferensi telah digunakan untuk menganalisis data kajian. Hasil kajian menunjukkan terdapat hubungan yang rendah antara tahap penggunaan e-pembelajaran dengan tahap kesediaan pembelajaran arahan kendiri pada aras signifikan 0.01. Secara keseluruhannya, tahap penggunaan e-pembelajaran di kalangan pelajar berada pada tahap sederhana manakala tahap kesediaan pembelajaran arahan kendiri berada pada tahap sederhana tinggi. Sementara itu, wujud perbezaan penggunaan e-pembelajaran yang signifikan berdasarkan program pengajian manakala tidak terdapat perbezaan penggunaan e-pembelajaran yang signifikan berdasarkan kepada perbezaan jantina. Kajian ini mengemukakan beberapa cadangan kepada UTHM untuk membantu meningkatkan tahap penggunaan e-pembelajaran dan tahap kesediaan pembelajaran arahan kendiri.
    • The purpose of this study was to determine relationship between self directed learning readiness and application of e-learning level among UTHM students from Faculty of Technology Management. This study also identifies the level of application of e-learning levels and self directed learning readiness using the Self- Directed Learning Readiness Scale from Gugliemino (1977). This study also identifies the difference of e-learning application based on gender and educational discipline. The research questionnaires were used to collect the data, from 140 respondents out of 214 populations of Year Two, Faculty of Technology Management. The result revealed that a low relations between self-directed learning readiness level and the application of e-learning (at significant level = 0.01). Generally, the level of e-learning application was moderate whereas the level of self- directed learning readiness was upper moderate. Meanwhile, there was no difference between the levels of e-learning usage based on gender but there was significant difference between the level of e-learning application based on educational discipline. This study also recommends a few suggestions to assist UTHM enhancing the application of e-learning level and self-directed learning readiness level among the UTHM students.
    • KANDUNGAN PENGAKUAN i DEDIKASI ii PENGHARGAAN iii ABSTRAK iv ABSTRACT v KANDUNGAN vi SENARAI JADUAL vii SENARAI RAJAH viii SENARAI SINGKATAN ix SENARAI LAMPIRAN x BAB I PENDAHULUAN 1.1 Pengenalan 1.2 Latar Belakang Masalah 1.3 Pernyataan Masalah 1.4 Persoalan Kajian 1.5 Matlamat Kajian 1.6 Objektif Kajian 1.7 Skop Kajian 1.8 Batasan Kajian 1.9 Kepentingan Kajian 1.10 Definisi Konseptual 1.10.1 Pembelajaran 1.10.2 E-Pembelajaran 1.10.3 Pembelajaran Arahan Kendiri 1.10.4 Kesediaan Pembelajaran Arahan Kendiri 1.11 Definisi Operasional 1.11.1 Pembelajaran
    • 1.11.2 E-Pembelajaran 1.11.3 Pembelajaran Arahan Kendiri 1.11.4 Kesediaan Pembelajaran Arahan Kendiri BAB II KAJIAN LITERATUR 14 2.1 Pengenalan 14 2.2 Teori dan Model Kajian 15 2.3 Teori Pembelajaran 15 2.3.1 Teori Tingkah Laku 16 2.3.2 Teori Kognitif 16 2.3.3 Teori Konstruktif 17 2.4 Pembelajaran Elektronik 21 2.4.1 Model E-Pembelajaran 21 2.4.1.1 Model Lima Fasa untuk pembelajaran Online Salmon 23 2.4.1.2 Model Persekitaran Pembelajaran Melalui Web 26 2.5 Teori dan Model Pembelajaran Arahan Kendiri 27 2.5.1 Model Pembelajaran Arahan Kendiri Berperingkat Grow 2.5.2 Model PRO Brockett dan Hiemstra 29 2.6 Kajian Lepas 31 2.6.1 Kajian Dalam Negara 31 2.6.2 Kajian Luar Negara 36 2.8 Model Kajian 40 BAB III METHODOLOGI KAJIAN 3.1 Pengenalan 42 3.2 Reka Bentuk Kajian 42
    • 3.3 Populasi dan Pensampelan 43 3.4 Kaedah Pengumpulan Data 44 3.4.1 Data Premier 44 3.4.1.1 Borang Soal Selidik 44 3.5 Pentadbiran Borang Soal Selidik 45 3.5.1 Maklumat latar Belakang Responden 45 3.5.2 Tahap Penggunaan Pelajar Terhadap Aplikasi E-Pembelajaran 45 (Blackboard dan UCiTV) 3.5.3 Skala Kesediaan Pembelajaran Arahan Kendiri 47 3.5.3.1 Carta Pemarkahan SDLRS 48 3.6 Kaedah Analisis Data 49 3.7 Kajian Rintis 51 BAB IV ANALISIS KAJIAN 4.1 Pengenalan 4.2 Latar Belakang Responden 4.2.1 Jantina dan Umur Responden 4.2.2 Keturunan Responden 4.2.3 Program Pengajian 4.3 Analisis Tahap Penggunaan E-Pembelajaran (Aplikasi Blackboard) di Kalangan Responden 4.4 Analisis Tahap Penggunaan E-Pembelajaran (Aplikasi UCiTV) di Kalangan Responden 4.5 Analisis Tahap Pembelajaran Arahan Kendiri di Kalangan Responden 4.6 Analisis Hubungan Antara Tahap Pembelajaran Arahan Kendiri dengan Tahap Penggunaan E-Pembelajaran 4.7 Analisis Penggunaan E-Pembelajaran di kalangan Responden Berdasarkan Pembezaan Jantina 4.8 Analisis Penggunaan E-Pembelajaran di kalangan Responden
    • Berdasarkan Pembezaan Kursus Pengajian 5.1 Pengenalan 5.2 Rumusan 5.2.1 Latar Belakang Responden 5.2.2 Objektif Kajian Pertama: Tahap Penggunaan Pelajar Terhadap E-Pembelajaran 5.2.3 Objektif Kajian Kedua: Tahap Kesediaan Pembelajaran Arahan Kendiri Pelajar 5.2.4 Objektif Kajian Ketiga: Hubungan Antara Tahap Penggunaan E-Pembelajaran dengan Tahap Kesediaan Pembelajaran Arahan Kendiri Pelajar 5.2.5 Objektif Kajian Keempat:Analisis Penggunaan E- Pembelajaran di kalangan Responden Berdasarkan Pembezaan Jantina dan Program Pengajian 5.3 Cadangan Kepada Pihak Organisasi 5.4 Cadangan Untuk Kajian Akan Datang 5.5 Kesimpulan RUJUKAN 52 LAMPIRAN 57
    • SENARAI JADUAL NO JADUAL PERKARA MUKA SURAT 2.1 Faktor-faktor Asas Pembentukan Skala Kesediaan Pembelajaran Arahan Kendiri 2.2 Model Pembelajaran Arahan Kendiri 29 Berperingkat Grow 3.1 Saiz Sampel Kajian 43 3.2 Instrumen Kajian 45 3.3 Skala Likert Lima Mata 46 3.4 Skala Likert SDLRS 3.5 Skor dan Tahap SDLRS 3.6 Nilai Skor dan Tahap SDLRS 3.7 Nilai Skor dan Tahap SDLRS 3.8 Pembahagian Tahap Min 46 3.9 Interpretasi Mengikut Saiz Pekali Korelasi 50 3.10 Analisis Reliabiliti
    • 4.1 Taburan Kekerapan Mengikut Jantina dan Umur 4.2 Taburan Kekerapan Mengikut Umur 4.3 Taburan Responden Mengikut Program Pengajian 4.4 Penggunaan e-Pembelajaran (Aplikasi Blackboard) 4.5 Penggunaan e-Pembelajaran (Aplikasi Blackboard) 4.6 Penggunaan e-Pembelajaran (Aplikasi Blackboard) 4.7 Penggunaan e-Pembelajaran (Aplikasi UCiTV) 4.8 Penggunaan e-Pembelajaran (Aplikasi UCiTV) 4.9 Persepsi Responden Terhadap Kesediaan Pembelajaran Arahan Kendiri 4.10 Persepsi Responden Terhadap Kesediaan Pembelajaran Arahan Kendiri 4.11 Persepsi Responden Terhadap Kesediaan Pembelajaran Arahan Kendiri 4.12 Hubungan antara Tahap Penggunaan e- Pembelajaran dengan Tahap Pembelajaran Arahan Kendiri
    • 4.13 Perbezaan Tahap Penggunaan e-Pembelajaran Berdasarkan Jantina 4.14 Perbezaan Tahap Penggunaan e-Pembelajaran Berdasarkan Program Pengajian
    • SENARAI RAJAH NO RAJAH PERKARA MUKA SURAT 2.1 Model Persekitaran Pembelajaran Melalui Web 24 2.2 Komponen Pembelajaran Arahan Kendiri 26 2.3 Model PRO Brockett dan Hiemstra 30 2.4 Model Kajian Hubungan antara Tahap 32 Kesediaan Pembelajaran Arahan Kendiri dengan Tahap Penggunaan e-Pembelajaran
    • SENARAI SINGKATAN AUKU - Akta Universiti dan Kolej Universiti BBS - Buletin Board System CBT - Computer-Based Training CD-ROM - Compact-Disc Read Only Memory CTL - Pusat Pengajaran dan Pembelajaran (CTL GPA - Ggred Point Average ICT - Information and Communication Technology ITTHO - Institut Teknologi Tun Hussein Onn KUiTTHO - Kolej Universiti Teknologi Tun Hussein Onn MPK - Modul Pengajaran Kendiri MSC - Multimedia Super Corridor PLSP - Pusat Latihan Staf Politeknik PRO - Personel Responsibility Orientation SDLRS - Self-Directed Learning Readiness Scale SSDL - Staged Self-Directed Learning UCiTV - TV interaktif Kampus Universiti UNITAR - Universiti Tun Abdul Razak UTHM - Universiti Tun Hussein Onn UTM - Universiti Teknologi Malaysia WBT - Web-Based Training
    • WWW - World Wide Web SPSS - Satistical Pakage for Social Science
    • BAB I PENDAHULUAN 1.1 Pengenalan Dalam bahagian ini pengkaji membentangkan latar belakang masalah kajian serta pernyataan masalah kajian yang menyokong kajian pengkaji. Pengkaji telah mendapatkan maklumat mengenai latar belakang masalah dan pernyataan masalah melalui pembacaan dari sumber buku dan internet serta temu bual dengan Pengarah Pusat Pengajaran dan Pembelajaran Universiti Tun Hussein Onn (UTHM), Batu Pahat, Johor. Berdasarkan pernyataan masalah, pengkaji membangunkan persoalan kajian, matlamat kajian serta empat objektif utama kajian. Selain itu, pengkaji juga menghuraikan skop kajian, batasan kajian dan kepentingan kajian. Seterusnya, pengkaji menghuraikan konsep setiap definisi dan menghuraikan penggunaan definisi tersebut dalam kajian ini. 1.2 Latar Belakang Masalah Kepesatan perkembangan teknologi maklumat dewasa ini telah meyakinkan kita bahawa dunia kini sedang berubah menuju ke era maklumat menggantikan era industri. Dalam era ini, kecanggihan maklumat menjadikan dunia seakan-akan tidak
    • bersempadan dengan maklumat yang tidak terbatas. Kebolehan masyarakat menguasai maklumat dan teknologinya dijangka menjadi pemangkin utama kepada kemajuan dan pembangunan ekonomi sesebuah negara. (Md. Noh Main, 2000) World Wide Web (WWW) menyediakan peluang baru dalam pendidikan secara dalam talian. Keupayaannya menyokong grafik, teks dan bunyi sekali gus membolehkan maklumat disampaikan dengan berkesan. Pendidikan berasaskan dalam talian yang disalurkan melalui WWW melibatkan pelbagai kombinasi teknologi seperti internet, e-mel, Buletin Board System (BBS) dan Desktop Video Conferensing Morgan, Keegan dan Associate menganggarkan perbelanjaan dalam semua bentuk pembelajaran pada masa kini melebihi $750 bilion Amerika Syarikat dan $2 trilion di seluruh dunia, dengan pertumbuhan hasil untuk e-pembelajaran dijangka melebihi sektor-sektor lain dalam industri pendidikan. Institusi pendidikan dan sektor korporat telah mula mengiktiraf e-pembelajaran sebagai satu kuasa yang mampu mengubah prestasi, pengetahuan dan kemahiran. Pendidikan dan latihan bersedia untuk menjadi salah satu sektor terbesar dalam ekonomi dunia yang mana dianggarkan perbelanjaan global bagi pendidikan dan latihan melebihi $2 trilion, yang mana satu daripadanya adalah dari Amerika Utara, separuh adalah dari Eropah dan pasaran ekonomi yang membangun, manakala lima belas peratus adalah dalam dunia yang membangun (Mohd Koharudin, 2004). Kepimpinan Malaysia melihat arus perubahan dunia ini sebagi arus strategi untuk merealisasikan wawasan 2020 dan mencapai taraf negara maju. Negara dan rakyat tidak boleh hanya menonton dan mengikut arus perubahan ini, tetapi sebaliknya perlu mengambil peranan aktif menerajui perubahan ini. Satu langkah berani ke arah ini ialah pembangunan Koridor Raya Multimedia (MSC). Dengan MSC ini kerajaan menyediakan satu test bed bukan sahaja untuk membangun dan mencuba teknologi maklumat yang baru tetapi juga untuk mengalami bagaimana sebenarnya cara hidup dalam era maklumat. Komitmen kerajaan ini memerlukan anjakan paradigma seluruh lapisan masyarakat dari segi pemikiran dan cara hidup. Keperluan untuk mereka mengetahui, mengguna, dan membangunkan teknologi maklumat mestilah dirancang dan dilaksanakan seiring dengan pembangunan MSC.
    • Di Malaysia, Institusi Pengajian Tinggi Awam, Institut Pengajian Tinggi Swasta dan Kolej Swasta semuanya sedang berusaha untuk menggunakan e- pembelajaran sebagai teknik terkini untuk menyampaikan modul-modul mereka. Begitu juga syarikat-syarikat antarabangsa sudah mula menggunakan e-latihan bagi melatih pekerja mereka (Jaya Kumar, C. K. 2001). Pada tahun 1994, Kementerian mengumumkan bahawa semua universiti tempatan di Malaysia perlulah menawarkan kursus secara jarak jauh. Dalam Rancangan Malaysia Ketujuh, isu pendidikan jarak jauh telah menjadi agenda utama kerana ia bersifat kos efektif dan efisien. Selaras dengan itu, Universiti tempatan di Malaysia terutamanya Institusi Pengajian Tinggi Awam mengorak langkah awal dengan menawarkan program Sarjana Muda dan Diploma melalui kaedah jarak jauh ini. Selain itu, teknologi yang digunakan dalam menjalankan kursus ini ditingkatkan termasuk memperkenalkan sidang video, internet, perpustakaan maya dan video on demand. Bagi Institusi Pengajian Tinggi Swasta, Universiti Tengku Abdul Rahman (UNITAR) merupakan universiti pertama menjadi Universiti Maya (Virtual University) pada tahun 1998. UNITAR menawarkan perkhidmatan kurikulum dan pembelajaran secara dalam talian, termasuk sesi tutorial face-to-face, yang wajib dihadiri oleh pelajarnya (Mohd Koharudin, 2004). Sejarah UTHM bermula pada 16 September 1993 dengan penubuhan Pusat Latihan Staf Politeknik (PLSP), yang bertujuan melahirkan dan melatih tenaga pengajar yang berpengetahuan dan berkemahiran dalam pelbagai bidang kejuruteraan untuk sistem politeknik di negara ini. Pusat ini dikendalikan oleh Universiti Teknologi Malaysia (UTM) dengan kerjasama Kementerian Pendidikan Malaysia melalui memorandum persefahaman yang telah ditandatangani bersama pada 28 Jun 1993. Pada 12 April 1996, nama ditukar kepada Institut Teknologi Tun Hussein Onn (ITTHO). Selaras dengan sumbangan ITTHO dalam perkembangan berasaskan sains dan teknologi dalam negara, maka kabinet pada 27 September 2000 telah bersetuju menaik taraf ITTHO kepada sebuah Universiti yang dikenali sebagai Kolej
    • Universiti Teknologi Tun Hussein Onn (KUiTTHO) yang tertakluk di bawah Akta 30 Akta Universiti dan Kolej Universiti 1971 (AUKU). Pada 20 September 2006, Kabinet meluluskan pertukaran mana KUiTTHO kepada Universiti Tun Hussein Onn. 1.3 Pernyataan Masalah Seperti juga di lain-lain universiti di Malaysia, UTHM juga memperkenalkan sistem pembelajaran secara elektronik (e-pembelajaran) untuk menyokong pembelajaran secara kuliah. Pembangunan e-pembelajaran bermula dengan penubuhan Unit Pembangunan E-Pembelajaran pada tahun 2002. Unit ini diletakkan tanggungjawab di bawah Pusat Pengajaran dan Pembelajaran (CTL). Bermula dari mulanya penubuhan unit ini, banyak pelaburan dicurahkan untuk pembangunan e- pembelajaran yang interaktif. Dianggarkan sebanyak RM4 juta peruntukan telah disediakan di antara tahun 2002 hingga 2008 bagi pembangunan dan penambahbaikan sistem e-pembelajaran di UTHM. Unit ini bertanggungjawab membangun dan menyelenggara sistem e- pembelajaran universiti yang dikenali sebagai aplikasi Blackbaord dan aplikasi TV Interaktif Kampus Universiti (UCiTV). Melalui aplikasi Blackboard, semua pelajar akan mendapatkan ringkasan pembelajaran nota dari Blackboard yang boleh dicapai dari dalam dan di luar kampus. Selain itu, pelajar juga boleh menggunakan aplikasi lain yang disediakan melalui aplikasi Blackboard iaitu berinteraksi secara online, menghantar e-mel, berkenalan dan sebagainya. Terdapat juga modul pembelajaran yang disediakan secara online. Modul tersebut merupakan sukatan pelajaran yang disediakan oleh pensyarah-pensyarah untuk satu-satu mata pelajaran. Di sini, modul tersebut disediakan secara interaktif iaitu terdapat gambar yang bergerak bagi memudahkan kefahaman pelajar. Modul ini disediakan oleh pensyarah dengan bantuan staf e-pembelajaran.
    • Selain itu, unit ini juga memperkenalkan aplikasi UCiTV iaitu interaktif TV yang mana pelajar boleh melihat siaran televisyen tempatan melalui alikasi UCiTV. Aplikasi UCiTV merupakan aplikasi yang pertama digunakan di Institut Pengajian Tinggi Awam di Malaysia. Dengan kelajuan 100mps per saat, pelajar tidak menghadapi masalah untuk melihat streaming televisyen tanpa gangguan. Selain itu, aplikasi UCiTV juga menyediakan video pembelajaran yang diambil dari siaran Astro. Jadi pelajar boleh melihat video yang berkaitan dengan pembelajaran mereka. Selain itu, pasukan UCiTV menyediakan perkhidmatan merakam sesi kuliah pensyarah. Selepas itu, pelajar boleh melihat semula rakaman tersebut untuk membuat ulang kaji. Untuk memudahkan pelajar mencapai internet secara percuma bagi melayari laman web e-pembelajaran, kabel Wifi dipasang di seluruh kampus universiti dan juga di blok kediaman. Pensyarah dibekalkan komputer riba untuk memudahkan mereka mencapai internet bagi menggalakkan mereka melayari laman web e- pembelajaran di pelbagai lokasi di dalam kampus UTHM. Pelajar pula digalakkan menggunakan e-pembelajaran secara menyeluruh dan berterusan. Semua silabus mata pelajaran, nota-nota kuliah, nota-nota tutorial, kertas ulang kaji pelajaran dan lain-lain dokumen yang berkaitan dengan pembelajaran atau tidak berkaitan dengan pelajaran hanya disediakan melalui laman web e-pembelajaran. oleh yang demikian, mereka terpaksa melayari laman web e-pembelajaran untuk mendapatkan bahan- bahan tersebut dengan memuat turun melalui laman web tersebut. Selain itu, markah ujian juga hanya boleh diketahui dan dilihat melalui laman web e-pembelajaran. untuk memastikan semua pelajar menggunakan laman web ini, sistem kuiz melalui talian juga diperkenalkan. Oleh yang demikian, pelajar terpaksa melayari laman web e-pembelajaran bagi menjawab setiap kuiz yang diberikan oleh pensyarah. Dengan pelaburan yang tinggi dibelanjakan oleh UTHM untuk membangunkan dan penambahbaikan sistem e-pembelajaran, maka UTHM perlu memastikan bahawa penggunaan aplikasi e-pembelajaran perlu menyeluruh di kalangan pelajar. Pengukuran tahap kesediaan pelajar untuk belajar melalui e- pembelajaran adalah perlu bagi memastikan semua kemudahan digunakan oleh pelajar. Perbezaan pendekatan pembelajaran antara pembelajaran bersemuka dan pembelajaran secara elektronik dilihat boleh mempengaruhi pelajar dalam
    • penggunaan e-pembelajaran. Mereka perlu bersedia mengadaptasikan pembelajaran yang tidak dikawal oleh pensyarah secara terus agar mereka boleh mengoptimumkan setiap aplikasi yang disediakan dalam sistem e-pembelajaran. Untuk menjamin kejayaan e-pembelajaran, pelajar juga perlu bersedia untuk mengikuti pembelajaran secara lebih bebas, mendisiplinkan diri serta bermotivasi untuk belajar secara kendiri. Perbezaan jantina dan program pengajian juga dilihat boleh mempengaruhi tahap penggunaan e-pembelajaran. Oleh itu, berdasarkan kepada dasar kajian, terdapat persoalan timbul iaitu adakah terdapat hubungan antara kesediaan pembelajaran arahan kendiri dengan tahap penggunaan e-pembelajaran, apakah tahap penggunaan e-pembelajaran dan tahap kesediaan pembelajaran arahan kendiri serta adakah perbezaan tahap penggunaan e-pembelajaran dari aspek jantina dan program pengajian. 1.4 Persoalan Kajian Terdapat empat persoalan utama kajian ini iaitu: 1. Apakah tahap kesediaan pembelajaran arahan kendiri di kalangan pelajar UTHM? 2. Apakah tahap penggunaan e-pembelajaran di kalangan pelajar UTHM? 3. Adakah terdapat hubungan di antara tahap kesediaan pembelajaran pengarahan kendiri dengan tahap penggunaan e-pembelajaran di kalangan pelajar UTHM? 4. Adakah terdapat perbezaan tahap penggunaan e-pembelajaran di kalangan pelajar dari aspek demografi iaitu jantina dan program pengajian?
    • 1.5 Matlamat Kajian Matlamat kajian adalah untuk melihat tahap kesediaan pembelajaran arahan kendiri dan tahap penggunaan e-pembelajaran di kalangan pelajar. Kajian ini juga untuk melihat kekuatan hubungan antara tahap kesediaan pembelajaran arahan kendiri dengan tahap penggunaan e-pembelajaran atau tidak. Selain itu, kajian ini juga ingin melihat perbezaan tahap penggunaan e-pembelajaran dari aspek demografi di kalangan pelajar iaitu dari aspek perbezaan jantina dan program pengajian. 1.6 Objektif Kajian 1. Mengenal pasti tahap kesediaan pembelajaran arahan kendiri di kalangan pelajar. 2. Mengenal pasti tahap penggunaan e-pembelajaran di kalangan pelajar. 3. Mengenal pasti hubungan antara tahap kesediaan pembelajaran arahan kendiri dengan tahap penggunaan e-pembelajaran di kalangan pelajar. 4. Untuk melihat perbezaan tahap penggunaan e-pembelajaran di kalangan pelajar dari aspek demografi iaitu jantina dan program pengajian. 1.7 Skop Kajian Dalam bahagian ini, pengkaji menghuraikan fokus bagi penyelidikan ini. Kajian ini dijalankan bertujuan untuk mengkaji hubungan antara tahap kesediaan pembelajaran arahan kendiri dan tahap penggunaan e-pembelajaran di UTHM serta melihat perbezaan penggunaan e-pembelajaran dari aspek demografi pelajar iaitu jantina dan program pengajian. Selain itu, kajian ini untuk melihat tahap penggunaan e-pembelajaran dan tahap kesediaan pembelajaran arahan kendiri di kalangan pelajar. E-pembelajaran yang dimaksudkan di sini adalah aplikasi Blackboard dan UCiTV yang diguna pakai oleh UTHM untuk pelajar mereka. Tahap kesediaan pembelajaran arahan kendiri pula adalah keadaan di mana pelajar mempunyai kesediaan untuk
    • belajar tanpa kawalan oleh pensyarah. Pengkaji telah membina elemen kesediaan pembelajaran arahan kendiri berdasarkan kajian yang telah dijalankan oleh Mohd Azhar Hamid pada tahun 2004 iaitu berdasarkan 30 item soalan positif daripada keseluruhan 58 item soalan yang dicadangkan oleh Guglielmino. Kajian yang dijalankan hanya tertumpu kepada pelajar tahun dua di Fakulti Pengurusan Teknologi di UTHM. 1.8 Batasan Kajian Berikut dihuraikan beberapa perkara yang menjadi batasan dalam kajian ini. Batasan ini penting bagi menjamin kualiti hasil yang diperoleh, menggunakan hasil kajian di tempat yang betul dan sesuai, dan menggunakannya pada masa yang sesuai. Oleh yang demikian, batasan kajian adalah seperti berikut: 1. Sebarang hasil penemuan kajian ini adalah terbatas kepada pelajar di Fakulti Pengurusan Teknologi UTHM sahaja. Ini kerana pengkaji hanya membuat kajian tinjauan ke atas pelajar dari fakulti Pengurusan Teknologi sahaja. Di samping itu, kajian ini tidak boleh digeneralisasikan kepada pelajar di universiti lain kerana hanya pelajar di UTHM menggunakan e-pembelajaran dalam dua bentuk aplikasi iaitu aplikasi Blackboard dan aplikasi UCiTV yang berbeza dengan universiti lain. Oleh yang demikian, hasil penemuan tidak mewakili aspek pelajar fakulti lain di UTHM dan di lain-lain IPTA iaitu IPTS di Malaysia atau di negara lain. 2. E-pembelajaran dalam kajian ini adalah merujuk kepada dua aplikasi berbeza iaitu aplikasi Blackboard dan aplikasi UCiTV. Media elektronik lain seperti pita video atau audio, CD-ROM dan sebagainya tidak termasuk dalam skop kajian ini.
    • 3. Kajian berasaskan andaian bahawa bahan yang disediakan untuk e- pembelajaran tidak mempunyai sebarang masalah. Oleh itu, ia sentiasa sedia untuk dicapai oleh pelajar. 1.9 Kepentingan Kajian Kajian ini dijalankan bukan sekadar untuk menjawab persoalan kajian yang telah dikemukakan, tetapi hasil yang diperolehi adalah penting untuk penambahbaikan aplikasi dalam e-pembelajaran untuk membolehkan pelajar memperoleh manfaat semasa menggunakannya. Penambahbaikan yang dilakukan berdasarkan kajian ini diharap membolehkan pelajar dapat mengoptimumkan penggunaan laman web e-pembelajaran yang dilihat sebagai sokongan kepada kaedah pembelajaran secara kuliah. Dengan mengetahui tahap penggunaan terhadap aplikasi-aplikasi tertentu, maka pihak yang UTHM dapat memperbaiki mutu kandungan dan kegunaan setiap aplikasi tersebut agar pelajar boleh mendapatkan manfaat daripadanya sekali gus menarik minat pelajar untuk menggunakannya. Sesuai dengan pendekatan universiti yang menekankan kepada amalan pembelajaran arahan kendiri, pihak UTHM dapat mengenal pasti hubungan antara kesediaan pelajar untuk belajar mengikut kemahuan mereka dan penggunaan pelajar terhadap e-pembelajaran. Dengan itu, pihak UTHM boleh merangka strategi yang sesuai dengan kesediaan pelajar untuk belajar bagi mengoptimumkan penggunaan e- pembelajaran di kalangan pelajar. Kajian literatur yang komprehensif tentang e-pembelajaran dapat memberi maklumat kepada UTHM tentang kaedah pelaksanaan e-pembelajaran mengikut teori yang betul dan juga boleh dijadikan panduan untuk penambahbaikan selaras dengan perkembangan teknologi komunikasi semasa yang cepat berubah. Justeru itu, kajian ini amat berguna kepada pembangun-pembangun laman web e-pembelajaran di universiti lain dan institusi yang menggunakan pendekatan –pembelajaran di tempat mereka sebagai panduan untuk membangun dan menambahbaikkan sistem e- pembelajaran di tempat masing-masing.
    • Selain memberi manfaat kepada UTHM, kajian ini juga dapat menyumbang kepada perkembangan ilmu pengetahuan secara menyeluruh. Kajian ini boleh digunakan oleh pengkaji-pengkaji di masa hadapan sebagai rujukan mereka untuk membuat kajian yang berkaitan dengan e-pembelajaran. Memandangkan pendekatan e-pembelajaran masih baru di negara kita, maka kajian ini diperlukan bagi menyokong pelaksanaan e-pembelajaran di IPT mahupun di organisasi lain di Malaysia. Selaras dengan perkembangan teknologi komunikasi dan maklumat (ICT) yang pesat dan pantas, maka penemuan dalam kajian ini dapat membantu dalam memperkembangkan lagi industri ICT ke tahap yang lebih tinggi selaras dengan perubahan masa. 1.10 Definisi Konseptual Dalam bahagian ini pengkaji mengemukakan definisi konseptual beberapa elemen penting menurut pelbagai tokoh dan para penyelidik. Pengkaji mengemukakan definisi konseptual bagi pembelajaran, e-pembelajaran, pembelajaran arahan kendiri dan kesediaan pembelajaran arahan kendiri yang mempunyai kaitan secara langsung dengan kajian yang dijalankan. Definisi yang dikemukakan dalam bahagian ini adalah berguna sebagai panduan dan rujukan khususnya bagi menjelaskan konsep yang dikaji oleh pengkaji. 1.10.1 Pembelajaran Menurut Jaafar (2001), pembelajaran adalah satu proses perubahan kepada kelakuan tetap yang disebabkan oleh amalan dan pengalaman yang berguna. Pembelajaran merujuk pada pengalaman dan amalan yang bermanfaat yang dimaksudkan adalah seperti sembahyang, makan, bercakap bermain dan sebagainya yang diajar dan diperhatikan oleh orang lain dan kemudian diikuti oleh seorang yang lain hingga amalan tersebut menjadi tetap. Tetapi jika amalan tersebut dilakukan
    • secara bersahaja atau suka-suka, maka kelakuan tersebut tidak bertahan lama dan terus hilang. Menurut Abu Hassan Kassim et al. (2001), pembelajaran adalah aktiviti yang perlu untuk kehidupan. Pembelajaran berlaku apabila seseorang menerima sesuatu yang baru, atau mengubahsuai pola tingkah laku yang mempunyai pengaruh terhadap sikap atau pencapaian akan datang Meng (1997) mendefinisikan pembelajaran sebagai proses pengubahan tingkah laku yang agak lama tetapi tetap berlaku kerana pengalaman atau latihan yang diteguhkan Menurut Rahil Mahyuddin (2002) pula, pembelajaran merupakan tingkah laku yang melibatkan keterampilan kognitif iaitu penguasaan ilmu dan perkembangan kemahiran intelek. 1.10.2 E-pembelajaran E-pembelajaran secara umumnya dikenali sebagai pembelajaran berpusatkan pelajar yang disokong oleh penggunaan teknologi maklumat, komunikasi dan multimedia. Holmes et al. (2006) mendefinisikan e-pembelajaran sebagai ‘capaian dalam talian (online) untuk sumber pembelajaran, di mana sahaja dan setiap masa’. Ia melibatkan penggunaan teknologi yang baru dan internet untuk meningkatkan kualiti pembelajaran dengan memudahkan untuk mendapatkan sumber dan perkhidmatan dan juga remote exchange dan kerjasama. Horton (2006) mendefinisikan e-pembelajaran sebagai penggunaan maklumat dan teknologi komputer untuk membina pengalaman pembelajaran. Menurutnya lagi, e-pembelajaran boleh terjadi pada banyak perkara. Antaranya ialah dalam kursus lengkap kursus Lengkap (Standalone Cources), kursus bilik darjah maya (virtual-
    • classroom cources, simulasi dan permainan pembelajaran (Learning game and simulation), pengukuhan pembelajaran (Embedded e-Learning, Pembelajaran bercampur (blended learning), Pembelajaran secara telefon (mobile learning), pengurusan pengetahuan (knoweledge management) 1.10.3 Pembelajaran Arahan Kendiri Menurut Knowles (1975), pembelajaran arahan kendiri adalah merujuk kepada satu proses di mana individu mengambil inisiatif, sama ada dengan bantuan orang lain atau tidak, untuk mengenal pasti keperluan pembelajaran mereka sendiri, membentuk matlamat pembelajaran, mengenal pasti sumber bahan mentah dan sumber manusia bagi pembelajaran, memilih dan mengimplementasikan strategi pembelajaran yang sesuai dan menilai hasil pembelajaran mereka. Menurut Candy (1991), pembelajaran arahan kendiri dianggap sebagai salah satu kaedah yang kuasa di mana orang dewasa bertanggungjawab terhadap pembelajaran mereka sepanjang kehidupan mereka sendiri. Piskurich, (1993) mendefinisikan pembelajaran arahan kendiri kepada enam perspektif lapangan yang berbeza. Perspektif tersebut adalah menerangkan pembelajaran arahan kendiri sebagai latihan (training), pembelajaran kontrak (contract learning), pakej pengarahan kendiri (self-instructional packages), pengajaran individu (individual instruction), pengajaran audiotutorial (audiotutorial instruction), pengajaran audiotutorial (audiotutorial instruction) dan pengajaran jarak jauh (dinstance instruction). Hiemstra (1994) menjelaskan bahawa beberapa perkara yang perlu diketahui tentang pembelajaran arahan kendiri. Antaranya pelajar perlu yakin dalam membuat sesuatu keputusan berdasarkan pengalaman mereka untuk memastikan ia menjadi lebih menarik. Pelajar mampu memindahkan pembelajaran dalam bentuk pengetahuan dan kemahiran belajar sama ada dalam bentuk formal atau tidak formal. Selain itu, mereka boleh melibatkan berbagai-bagai-bagai aktiviti dan sumber untuk
    • memastikan ia lebih menarik. Pengajar juga memainkan peranan dalam membentuk suasana pembelajaran berasaskan kepada arahan kendiri. Institusi pembelajaran perlu menyokong pembelajaran arahan kendiri dengan menyediakan program pembelajaran terbuka, pembelajaran berseorangan dal lain-lain program yang berkaitan. 1.10.4 Kesediaan Pembelajaran Arahan Kendiri Menurut Konwles (1975), kesediaan untuk belajar merujuk kepada tempoh masa yang boleh diajar dan menggariskan satu senarai tugas sepanjang hayat bagi pelajar muda, tua, dan berumur sederhana. Menurut Brockett et al. (1991) pula, kesediaan pembelajaran arahan kendiri adalah tahap yang mana individu melihat diri mereka mempunyai kemahiran dan sikap yang sering berkait dengan arahan kendiri dalam pembelajaran. 1.11 Definisi Operasional Dalam bahagian ini pengkaji mengemukakan definisi yang diguna pakai dalam kajian ini. Terdapat beberapa definisi penting berkaitan dengan kajian ini akan dinyatakan bagi tujuan memberi penjelasan lebih tepat penggunaan beberapa istilah penting berdasarkan kepada keperluan dan kehendak pengkaji bagi mencapai matlamat dan objektif kajian.
    • 1.11.1 Pembelajaran Pembelajaran yang dilihat dari perspektif kajian ini adalah semua faedah yang dipelajari hasil dari penggunaan laman web e-pembelajaran aplikasi Blackboard dan UCiTV. 1.11.2 E- pembelajaran Dalam kajian ini, e-pembelajaran yang dikaji adalah sistem aplikasi internet yang dikenali sebagai Blackboard dan UCiTV yang digunakan oleh pelajar di UTHM. Pelajar boleh memuat turun nota kuliah dari pelayan e-pembelajaran UTHM pada setiap minggu di mana nota tersebut akan dibaca oleh pelajar sebelum mengikuti kuliah. Selain aplikasi tersebut, pelajar juga boleh berhubung dengan pensyarah melalui e-mel, menjawab ujian di dalam talian, berbincang melalui aplikasi ‘Chat’ dan sebagainya. UCiTV membolehkan pelajar menonton rakaman video secara streaming melalui sistem e-pembelajaran. Menu-menu utama dalam aplikasi Blackboard adalah My Announcement, My Calendar, Course Information, Cource Document, Assigment, Communication/Send e-mail, Discussion Board, Add Forum, dan External Link. Menu-menu utama dalam aplikasi UViTV pula adalah Search Media, Life Broadcast, Video on Demand dan E-Learning on Demand (eOS). 1.11.3 Pembelajaran Arahan Kendiri Dalam konteks kajian ini, pembelajaran arahan kendiri merujuk kepada pembelajaran kendiri oleh pelajar tanpa bergantung kepada arahan atau kawalan pensyarah mereka. Konsep pembelajaran ini meliputi pembelajaran mereka di luar bilik darjah hasil daripada pengetahuan yang diperolehi sama ada secara langsung atau tidak langsung.
    • 1.11.4 Kesediaan Pembelajaran Arahan Kendiri Bagi tujuan kajian ini, kesediaan merujuk kesediaan pelajar untuk belajar tanpa kawalan dan arahan secara langsung. Mereka mempunyai kesediaan tau keinginan untuk belajar melalui pengarahan kendiri masing-masing. Kesediaan ini diukur melalui borang yang telah diringkaskan oleh Mohd Azhar Hamid (2004) yang diambil dari Guegleilmino (1977). Bilangan soalan yang digunakan adalah 30 soalan positif berbeza dengan bilangan soalan yang dibangunkan oleh Guegleilmino iaitu 58 soalan.
    • BAB II KAJIAN LITERATUR 2.7 Pengenalan Dalam bahagian ini pengkaji membentangkan hasil dapatan bagi latar belakang teori yang bersesuaian, model-model dan kajian–kajian lepas yang telah dilakukan oleh pihak yang telah menjalankan kajian berkaitan dengan e- pembelajaran. Ini adalah untuk menyokong kajian pengkaji dan untuk mengelakkan sebarang kajian yang tidak di jangka di masa hadapan 2.8 Teori dan Model Kajian Dalam kajian ini, pengkaji memfokuskan kepada hubungan teori pembelajaran, teori motivasi dan teori e-pembelajaran dan teori pembelajaran arahan kendiri yang menjadi asas kepada pembelajaran yang ditekankan dalam kajian ini dapat difahami secara mendalam dan menyeluruh.
    • 2.9 Teori Pembelajaran Menurut Jaafar (2001), pembelajaran adalah satu proses perubahan kepada kelakuan yang disebabkan oleh amalan dan pengalaman yang kekal. Dalam konteks ini pengalaman dan amalan yang bermanfaat yang dimaksudkan adalah seperti sembahyang, makan, bercakap bermain dan sebagainya yang diajar dan diperhatikan oleh seseorang dan kemudian diikuti oleh seorang yang lain hingga amalan tersebut menjadi tetap. Tetapi jika amalan tersebut dilakukan secara bersahaja atau suka-suka, maka kelakuan tersebut tidak bertahan lama dan terus hilang. Pada asasnya, teori pembelajaran mempunyai perkaitan antara e- pembelajaran kerana e-pembelajaran di sokong oleh teori-teori pembelajaran tertentu. Menurut Holmes et al. (2006), terdapat tiga teori pembelajaran utama yang menyokong e-pembelajaran. Teori pembelajaran tersebut adalah teori pembelajaran tingkah laku, teori pembelajaran kognitif dan teori pembelajaran konstruktif. Huraian secara ringkas mengenai teori-teori pembelajaran adalah seperti di bawah. 2.9.1 Teori Tingkah Laku Teori behaviourisme atau dikenali sebagai teori tingkah laku atau rangsangan mula diperkenalkan oleh Ivan Pavlov, seorang pakar psikologi dari Rusia dan disokong oleh Burrhus Frederic Skinner, Edward Lee Thorndike dan ohn Broadus Watson. Teori tingkah laku menyatakan bahawa pembelajaran berlaku apabila pelajar memperlihatkan tingkah laku secara konsisten seperti yang diingini iaitu pelajar memberi maklum balas terhadap peristiwa yang dirangka. Teori ini juga menggalakkan pembelajaran melalui galakan dan rangsangan. Teori ini menyatakan bahawa terdapat perkaitan antara rangsangan dan tindak balas. Apabila wujud kaitan antara keduanya, maka pembelajaran akan berlaku. Secara amnya, teori ini percaya bahawa persekitaran yang menggalakkan pembelajaran bukannya pemikiran, iaitu punca dorongan pembelajaran adalah dari luar bagi individu itu.
    • 2.9.2 Teori Kognitif Teori kognitif dibangunkan oleh Jean Piaget, Jerome Bruner dan Lev Vygostky. Teori ini menyatakan pembelajaran bergantung kepada persepsi, proses pemikiran dan penaakulan. Tokoh kognitif cuba memahami proses mental, pemikiran, pembentukan konsep dan perolehan pengetahuan. Teori ini percaya bahawa pemikiran dan persepsi mempengaruhi pembelajaran yang dijalankan. Pembelajaran kognitif kebanyakan berlaku dalam bilik darjah. Pelatih diajar dengan konsep dan teori bagi suatu perkara tanpa pengalaman untuk dimanfaatkan. Apa yang penting dalam proses ini adalah menekankan kesedaran dan mengetahui bagaimana sesuatu objek atau peristiwa itu berlaku dan bagaimana hubung kait dengan akibah. Dari segi kecekapan atau sejauh mana kebolehan dan prestasi seseorang itu adalah perkara kedua kerana perkara sedemikian boleh diajar jika seseorang itu sudah bersedia. 2.9.3 Teori Konstruktif Konstruktif adalah falsafah pembelajaran yang mempunyai tanggapan bahawa pembelajaran adalah berdasarkan kepada tindak balas terhadap pengalaman seseorang, kemudian seseorang tersebut membentuk pemahaman berdasarkan kepada pengalaman dalam hidupnya. Setiap orang akan menghasilkan ‘rule’ dan ‘mental model’ mereka sendiri berdasarkan kepada pengalaman tersebut. Oleh sebab itu, pembelajaran adalah proses yang mudah untuk mengubah mental model seseorang untuk disesuaikan dengan pengalaman baru 2.10 Pembelajaran Elektronik Pembelajaran elektronik merupakan kombinasi antara elemen pendidikan dan teknologi elektronik. Kaedah ini membolehkan individu mengikuti sesi pembelajaran
    • secara lebih terbuka dan bebas berdasarkan keinginan dan keupayaan sendiri tanpa perlu mengikuti jadual atau menghadiri kelas yang ditetapkan. Menurut Broadbent, B. (2002), terdapat empat jenis e-pembelajaran iaitu pembelajaran tidak formal (informal-learning), self-paced, leader lead dan performance support tool. Dalam pembelajaran tidak formal, pelajar mencapai laman web atau fokus kepada komuniti dalam talian dan mencari maklumat yang berkaitan. Jenis e- pembelajaran ini adalah bukan berbentuk latihan kerana tidak ada strategi pengajaran formal daripada persembahan bahan, latihan (exercise) dan maklum balas. Self-paced merujuk kepada proses di mana pelajar menentukan keupayaan mereka dalam proses pembelajaran, atau memerlukan bantuan daripada pakar untuk membangunkan kursus latihan yang sesuai untuknya. Self-paced dilihat sebagai kaedah pembelajaran formal kerana kursus dan bahan-bahan pengajaran direka bentuk oleh pakar latihan. Dalam e-pembelajaran, konsep self-paced digunakan untuk melibatkan orang ramai dengan latihan berasaskan web (WBT). Oleh sebab WBT mempunyai had tertentu untuk pemindahan data dan penyimpanan fail yang besar, maka ia akan dibantu oleh komputer berasaskan latihan (CBT). Leader-led e-learning merujuk kepada kursus atau modul yang diajar oleh pengajar secara dalam talian. Terdapat dua jenis leader-led e-learning. Pertama; pelajar capai bahan sebenar melalui sidang video atau audio, atau teks mesej, dan yang kedua; pelajar mencapai bahan yang sedia ada melalui perbincangan atau streaming audio atau video. Performance support tool merujuk kepada perisian yang digunakan dalam e- pembelajaran berasaskan konsep yang mudah, ia adalah sebagai sokongan kepada talian untuk membantu menyelesaikan sesuatu tugas. Sebagai contoh, bila menggunakan sesuatu perisian, maka performance support tool akan membantu kita setiap masa. Dalam kes ini, ia membantu pelajar dalam mengendalikan atau menggunakan sistem e-pembelajaran dengan lebih berkesan.
    • Nichols, M. (2003) telah menyatakan terdapat 10 prinsip e-pembelajaran. Prinsip tersebut adalah: 1. E-pembelajaran adalah pelaksanaan pembelajaran yang boleh diaplikasikan bersama pelbagai model pendidikan dan falsafah pendidikan. 2. E-pembelajaran mempunyai satu bentuk pendidikan yang unik yang dapat digunakan di dalam paradigma bersemuka dan jarak jauh. 3. Pilihan dalam teknologi e-pembelajaran boleh memberi tindak balas yang lebih baik di dalam pedagogi; bagaimana teknologi yang digunakan lebih penting daripada teknologi yang mana digunakan. 4. E-pembelajaran mempunyai kelebihan yang utama dengan kejayaan pelaksanaan inovasi pedagogi. 5. E-pembelajaran boleh digunakan di dalam dua cara iaitu penyampaian isi kandungan pembelajaran dan proses kemudahan pembelajaran 6. E-pembelajaran dibina dengan sebaik mungkin untuk dioperasikan atau digunakan bersama model reka bentuk kursus pilihan secara optimum. 7. Teknik dan peralatan e-pembelajaran hanya perlu digunakan apabila pertimbangan telah diambil kira kepada sistem talian terus (online) atau tertutup (offline) 8. Latihan e-pembelajaran yang efektif dan berkesan memberi peluang kepada pengguna akhir (end-users) untuk mengambil peluang pembelajaran yang diberikan atau dibekalkan kepada mereka. 9. Matlamat atau sasaran keseluruhan pendidikan yang dibangunkan oleh pengajar di dalam konteks kokurikulum atau objektif pembelajaran tidak akan berubah apabila e-pembelajaran dilaksanakan di dalam pembelajaran 10. Hanya kelebihan di dalam pedagogi akan memberi kesan yang rasional kepada pendekatan pelaksanaan e-pembelajaran 2.10.1 Model E- Pembelajaran Pengkaji mengemukakan dua model kajian e-pembelajaran yang telah dibangunkan oleh pengkaji terdahulu. Model tersebut adalah Model Lima Fasa untuk
    • Pembelajaran dalam Talian Salmon dan Model Persekitaran Pembelajaran Melalui Web. 2.10.1.1 Model Lima Fasa untuk Pembelajaran dalam Talian Salmon Pembelajaran dalam talian memerlukan strategi dan kemahiran yang berbeza daripada pembelajaran tradisional. Pelajar perlu memainkan peranan yang lebih aktif tidak hanya terhadap pembelajaran mereka tetapi terhadap kursus tersebut. Pembimbing juga memainkan peranan yang berbeza, iaitu membimbing pelajar dalam menggunakan pembelajaran secara dalam talian. Salmon, G. (2000) telah mengenal pasti lima tahap pencapaian peserta sepanjang pengalamannya ke atas pembelajaran dalam talian. Setiap tahap memerlukan peserta yang berbeza dan memerlukan sokongan yang berbeza daripada pengajar. Pengetahuan diperlukan untuk membantu pengajar dan pereka bentuk. Tahap tersebut adalah access and motivation, online socialization, information exchange, knowledge construction, dan construction. 1. Tingkat pertama, peserta akan bermula dengan kursus melalui dalam talian. Ia adalah termasuk mempunyai komputer dan sambungan internet, serta mencapai laman web kursus tersebut. Jikalau seseorang telah mempunyai kemahiran dalam internet, mereka adan dapat capai dengan mudah dan senang. Jikalau tidak, kemungkinan mereka mempunyai masalah seperti pemasangan perkakasan, pemasangan perisian atau hilang kunci kata. Ketikan ini, adalah penting bagi e-moderator untuk sentiasa berhubung dengan pengunjung tingkat ini berakhir dengan e-moderator menghantar mesej yang pertama. 2. Tingkat kedua, peserta akan berinteraksi dengan orang lain sesama mereka, membentuk budaya komunikasi melalui talian, membentuk kumpulan- kumpulan tertentu di kalangan peserta. Peserta yang enggan turut sama dalam perbincangan ini akan tunggu dan lihat apa yang akan berlaku.
    • Penting bagi e-moderator mendorong kumpulan tersebut berinteraksi di kalangan mereka. E-moderator perlu memainkan peranan penting dalam mengekalkan suasana perbincangan berterusan dan memberi kebebasan dalam memberikan pendapat. 3. Tingkat ketiga, peserta akan mendapatkan maklumat daripada kursus tersebut dan bertukar-tukar maklumat dengan rakan mereka dalam bilik perbincangan. Interaksi tersebut berdasarkan kepada maklumat yang atau isu yang di sediakan oleh e-moderator. peserta senang mendapatkan maklumat dan bergembira dengan maklumat tersebut. Untuk mengelakkan lebihan maklumat, peserta menggunakan pendekatan tertentu untuk mengatasi kekeliruan maklumat yang berlaku dalam tingkat ini. E-moderator akan memudahkan aktiviti menggunakan strategi pembelajaran yang melibatkan perancangan yang rapi. 4. Tingkat ke empat, peserta mula berinteraksi dengan membina pengetahuan mereka berdasarkan maklumat yang diterima. Mereka berkongsi pengetahuan dan pendapat, mengkritik dan memberikan pandangan yang berguna untuk menjadikan kandungan kursus tersebut lebih baik. peserta berperanan menyelesaikan masalah sendiri berkaitan dengan topik yang dibincangkan dan menyediakan penyelesaian yang mungkin bagi masalah yang tiada jawapan yang tepat. Peranan e-moderator adalah hanyalah memastikan perjalanan perbincangan tersebut lancar. E-moderator boleh membantu peserta melalui simulasi, memberi pandangan dan bersama-sama dalam perbincangan tersebut. 5. Tingkat kelima, peserta akhirnya bertanggungjawab terhadap pembelajaran mereka menggunakan talian sebagai medium pembelajaran. Menggunakan pendekatan konstruktif, peserta menggunakan pengalaman peribadi untuk menjadikan proses pembelajaran melalui talian ini lebih menarik dan mencabar. e-moderator tidak perlu terlibat secara aktif lagi dalam proses ini, hanya perlu menyokong dan memberi maklum balas dan nasihat kepada peserta sahaja.
    • 2.10.1.2 Model Persekitaran Pembelajaran Melalui Web Model ini dicadangkan oleh Noraffandy Yahaya dan Wan Salihin Wong (1999) bagi menentukan ciri-ciri pembelajaran yang berkesan. Beberapa pendekatan perlu menghasilkan persekitaran pembelajaran yang berkesan iaitu penglibatan pelajar yang aktif dalam persekitaran pembelajaran melalui web, kolaborasi, interaktif dan penerokaan. Terdapat empat komponen utama dalam model ini iaitu penglibatan pelajar secara aktif, mewujudkan persekitaran pembelajaran kolaborasi antara pelajar dalam proses pembelajaran, melibatkan pelajar dalam penerokaan sumber maklumat dalam persekitaran pembelajaran maya dan interaktif. Rajah 2.1 menunjukkan model Persekitaran Pembelajaran Melalui Web. Aktif e-mail, perbincangan maya, pencarian maklumat e-mail, e-mail, perbincangan perbincangan Kolabrasi Pelajar Interaktif maya, pencarian maya, maklumat Perkongsian Perkongsian Bookmark, Bookmark Hiperteks, Hipermedia Pencarian maklumat, perkongsian bookmark,. Hiperteks, dan hypermedia Penerokaan Rajah 2.1: Model Persekitaran Pembelajaran Melalui Web Sumber: Noraffandy Yahaya dan Wan Salihin Wong (1999). Model Persekitaran Pembelajaran Melalui WEB: Satu Cadangan.
    • 1. Penglibatan pelajar secara aktif Modul pembelajaran maya memberikan pelajar belajar secara aktif dalam persekitaran web. Pelajar akan bertanggungjawab mempersembahkan hasil dan kemahiran pembelajaran mereka melalui maklum balas, interaksi dan pencarian maklumat yang diberikan pada setiap modul. Kesemua aktiviti tersebut memerlukan penglibatan oleh pelajar secara aktif untuk pastikan mereka dapat menyelesaikan masalah yang disediakan oleh pensyarah masing-masing. 2. Mewujudkan persekitaran pembelajaran kolaborasi di antara pelajar dalam proses pembelajaran Dalam menghasilkan pembelajaran secara kolaborasi, sistem menyediakan beberapa elemen yang terdapat dalam web seperti e-mel, perbincangan maya dan bookmark. Dalam sistem yang dibangunkan, pelajar dapat bekerjasama dalam mencari dan menghantar rujukan ke dalam halaman bookmark yang disediakan. Setiap pelajar boleh menghantar dan mencapai rujukan yang boleh digunakan untuk sesi perbincangan maya. 3. Melibatkan pelajar dalam penerokaan sumber maklumat dalam persekitaran pembelajaran maya Dalam fasa ini, pelajar dikehendaki mencari maklumat yang berkaitan dengan tajuk pembelajaran mengikut minggu berdasarkan panduan daripada pensyarah masing-masing. Sumber tersebut kemudiannya dikongsi bersama rakan-rakan yang lain dalam perbincangan maya.
    • 4. Interaktiviti Secara umumnya, proses interaktiviti dalam persekitaran pembelajaran melalui web merujuk kepada proses komunikasi antara pelajar dan pelajar, pelajar dan guru dan sumber maklumat secara terus. Dalam sistem persekitaran pembelajaran melalui web proses interaktif berbahagi kepada dua fasa iaitu kawalan pengguna dan komunikasi antara pelajar. Kawalan pengguna merujuk kepada kebebasan pelajar memilih tajuk yang ingin dipelajari mengikut tahap tertentu. Pelajar bebas memilih pelajaran yang ingin dipelajari berdasarkan kepada menu yang disediakan. Reka bentuk menu yang mesra memudahkan lagi pelajar mengawal sistem tersebut. Komunikasi antara pelajar pula merujuk kepada komunikasi dan interaksi dua hala yang berkesan antara pelajar dan juga pensyarah. Sistem yang digunakan adalah melalui e-mel. 2.11 Pembelajaran Arahan Kendiri Menurut Knowles, M. S. (1975), pembelajaran arahan kendiri adalah merujuk kepada satu proses di mana individu mengambil inisiatif, sama ada dengan bantuan orang lain atau tidak, untuk mengenal pasti keperluan pembelajaran mereka sendiri, membentuk matlamat pembelajaran, mengenal pasti sumber bahan mentah dan sumber manusia bagi pembelajaran, memilih dan mengimplementasikan strategi pembelajaran yang sesuai dan menilai hasil pembelajaran mereka. Menurut Candy (1991) pula, pembelajaran arahan kendiri dianggap sebagai salah satu kaedah yang kuasa di mana orang dewasa bertanggungjawab terhadap pembelajaran mereka sepanjang kehidupan mereka sendiri. Untuk mengukur tahap pembelajaran arahan kendiri individu, Guglielmino (1977) telah mereka bentuk satu skala yang dinamakan skala kesediaan pembelajaran arahan kendiri melalui satu kajiannya yang bertajuk ‘Pembangunan Skala Kesediaan Pembelajaran Arahan Kendiri’. Kajian beliau ini meliputi dua objektif utama iaitu
    • untuk mengetahui persepsi diri terhadap pembelajaran arahan kendiri dan untuk membangunkan skala kesediaan pembangunan arahan kendiri. Proses pengubahsuaian teknik Delphi digunakan dalam tiga kali tinjauan yang disertai oleh 14 pakar dalam pembelajaran arahan kendiri. Pakar ini dikehendaki menyenaraikan ciri-ciri yang dirasakan penting dalam pembelajaran arahan kendiri, termasuk perkara-perkara seperti kemampuan, sikap dan ciri-ciri personal. Ciri-ciri yang dianggap baik dan perlu sahaja daripada Delphi Survey digunakan sebagai asas untuk membentuk skala kesediaan pembelajaran arahan kendiri. Ia direka bentuk sebagai laporan soal selidik kendiri dengan menggunakan skala likert selepas item di kaji dan di teliti, instrumen tersebut digunakan ke atas 307 subjek di Goergia, Kanada dan Virginia. Analisis item dan analisis faktor data digunakan untuk memilih item yang akan dikaji dan diukur parameter kajian. Hasilnya, realibiliti yang diperolehi adalah 0.87. Analisis faktor ini mengandungi lapan faktor utama iaitu: Jadual 2.1: Faktor-faktor Asas Pembentukan Skala Kesediaan Pembelajaran Arahan Kendiri Faktor 1 Terbuka terhadap peluang pembelajaran Faktor 2 Konsep kendiri pelajar Faktor 3 Inisiatif pelajar Faktor 4 Penerimaan tanggungjawab terhadap pembelajaran diri sendiri Faktor 5 Suka terhadap pembelajaran Faktor 6 Kreativiti Faktor 7 Melihat pembelajaran sebagai aktiviti sepanjang hayat Faktor 8 Pemahaman Kendiri
    • 2.12 Teori dan Model Pembelajaran Arahan Kendiri Pembelajaran arahan kendiri merupakan kombinasi keupayaan dan motivasi pelajar. Terdapat empat komponen utama yang perlu bagi pembelajaran arahan kendiri iaitu ciri-ciri pelajar yang memberi kesan kepada kecenderungan seseorang ke arah arahan kendiri, keupayaan dan kemahiran pelajar menjalankan pembelajaran arahan kendiri, prestasi sebenar bagi proses pembelajaran arahan kendiri dan motivasi individu ke arah pembelajaran. Rajah 2.2 menggambarkan integrasi yang dibentuk bagi pembelajaran arahan kendiri. Ciri-ciri Peribadi/Psikologi (Kesediaan) Prestasi/Tingkahlaku Kemahiran (Melakukan) Pembelajaran dan Proses Pembelajaran Arahan Kendiri Motivasi Rajah 2.2: Komponen Pembelajaran Arahan Kendiri. Sumber: LeJune (2002). Problem-based Learning Instruction versus Traditional Instruction on Self-Directed Learning, Motivation and Grades of Undergraduate Computer Science. Available. UMI Proquest. Komponen psikologi atau peribadi adalah kesediaan individu untuk pembelajaran arahan kendiri. Kemahiran merangkumi kemahiran pembelajaran asas dan yang perlu untuk menjalankan aktiviti pembelajaran arahan kendiri seperti mengenal pasti matlamat pembelajaran, mendapatkan sumber-sumber yang perlu menjalankan aktiviti pembelajaran dan membuat penilaian kendiri terhadap proses dan pembelajaran.
    • Komponen prestasi atau tingkah laku sebenar dalam pembelajaran arahan kendiri. Kecenderungan terhadap pembelajaran arahan kendiri dan mendapatkan kemahiran pembelajaran arahan kendiri tidak membuatkan seseorang menjadi pelajar arahan kendiri, walau bagaimanapun tingkah laku sebenar yang membuatkan seseorang menjadi pelajar arahan kendiri. Namun begitu meletakkan ciri-ciri berpotensi ini ke realiti memerlukan motivasi. Motivasi merupakan komponen penting dalam pembelajaran arahan kendiri. Walaupun motivasi dilihat sebagai komponen berasingan dengan konsep keseluruhan pembelajaran arahan kendiri, tetapi ia motivasi mempengaruhi semua komponen pembelajaran arahan kendiri dengan gambaran titik yang putus-putus dalam rajah di atas. Motivasi mempengaruhi persepsi individu terhadap kemahiran mereka untuk menyiapkan tugas dengan segera. Prestasi juga amat kuat dipengaruhi oleh persepsi terhadap kemahiran sebenar pelajar. (Mohd Azhar Hamid et al. 2004) Pengkaji juga menerangkan konsep pembelajaran arahan kendiri berdasarkan kepada dua model utama iaitu Model Pembelajaran Arahan Kendiri Berperingkat Grow dan Model PRO Brockett dan Hiemstra. Kedua-dua model ini menjadi asas kepada pembentukan kerangka kajian yang melibatkan kesediaan pembelajaran arahan kendiri. 2.12.1 Model Pembelajaran Arahan Kendiri Berperingkat Grow (1991) Grow, G. (1991) membangunkan model Pembelajaran Arahan Kendiri Berperingkat (Grow’s Staged Self-Directed Learning Model, SSDL) yang mana pembelajaran arahan kendiri dilihat dalam empat peringkat dengan tahap yang paling rendah bagi pembelajaran pada peringkat satu dan tahap tertinggi arahan kendiri dicirikan oleh pelajar di peringkat empat. Model SSDL Grow adalah suatu percubaan yang mengambil kira kemajuan pelajar terhadap terarah kendiri dengan gaya pembelajaran yang bersesuaian pada setiap tahap pembelajaran.
    • Grow menggambarkan pelajar arahan kendiri sebagai mereka yang tahu bagaimana untuk belajar dan bermotivasi untuk membuat penerokaan secara sendiri. Sebelum pelajar mencapai peringkat pembelajaran arahan kendiri iaitu peringkat keempat, mereka perlu melalui peringkat yang pertama hingga ketiga. Pada peringkat pertama, pelajar masih bergantung pada pengajar untuk belajar. Jadi, pada peringkat pertama, pelajar masih tidak boleh dikategorikan sebagai pelajar arahan kendiri. Peranan pengajar adalah sebagai jurulatih yang melatih pelajar tersebut. Tingkat kedua dan ketiga, pelajar akan lebih melibatkan diri dalam aktiviti- aktiviti yang di buat untuk mereka. Mereka menjalankan aktiviti tersebut dengan bantuan pengajar dalam memudahkan aktiviti mereka. Peranan pengajar menjadi kurang disebabkan oleh kematangan pelajar dalam menguruskan aktiviti mereka. Pada tingkat keempat, pelajar sudah mencapai tahap pelajar arahan kendiri iaitu tahap tertinggi. Mereka merupakan pelajar yang berkeyakinan dan berdikari menggunakan sumber-sumber, kepakaran dan institusi-institusi sedia ada. Mereka membentuk matlamat mereka sendiri. Mereka melihat pengajar sebagai mentor mereka. Bagi pengajar pula, mereka bertindak mengawal kemajuan pelajar, bertindak sebagai pendengar dan membantu penilaian secara sekali-skala, dan peranan mereka dilihat tidak terlalu penting.
    • Jadual 2.2: Model Pembelajaran Arahan Kendiri Berperingkat Grow Pelajar Pengajar Contoh Tingkat 1 Bergantung Jurulatih, autoriti Melatih dengan maklum balas segera, latih tubi, syarahan bermaklumat, mengatasi kekurangan dan tentangan Tingkat 2 Berminat Pemotivasi, Mengilhamkan syarahan dengan Pembimbing perbincangan (guide), tetapkan matlamat dan strategi pembelajaran Tingkat 3 Terlibat Fasilitator Memudahkan perbincangan oleh pengajar yang terlibat sama, seminar, projek berkumpulan Tingkat 4 Arahan Konsultan Internship, dissertations, kerja Kendiri individu atau kumpulan belajar arahan kendiri. Sumber: Grow, G. (1991). The Staged Self-Directed Learning Model, Teaching Learners to be Self-Directed. Dalam: http://www.longleaf.net/ 2.12.2 Model PRO Brockett dan Hiemstra (1991) Brockett dan Hiemstra, R. (1991) telah membangunkan model pembelajaran arahan kendiri yang dikenali sebagai Model PRO Brockett dan Hiemstra (Personel Responsibility Orientation Model). Rajah 2.3 menggambarkan model PRO yang terdiri daripada tanggungjawab peribadi, pelajar arahan kendiri, pembelajaran arahan kendiri dan arahan kendiri dalam pembelajaran.
    • TANGGUNGJAWAB PERIBADI Ciri-ciri transaksi antara Ciri-ciri Pelajar Pengajar dan pembelajaran PEMBELAJARAN PELAJAR ARAHAN ARAHAN KENDIRI KENDIRI ARAHAN KENDIRI DALAM PEMBELAJARAN Faktor-faktor Dalam Konteks Sosial Rajah 2.3: Model PRO Brockett dan Hiemstra Sumber: Brockett dan Hiemstra (1991). A Conceptual Framework for Understanding Self-Direction in Adult Learning. Dalam: http://www.infed.org/ Model ini menggunakan falsafah dan psikologi untuk memahami dimensi- dimensi arahan kendiri dan dipersembahkan sebagai rangka kerja untuk memahami arahan kendiri dalam pembelajaran dengan lebih terperinci. Menurut model ini, pembelajaran arahan kendiri terbahagi kepada dua komponen iaitu pembelajaran arahan kendiri merujuk kepada proses kaedah arahan yang mana pelajar memikul tanggungjawab merancang, melaksana dan menilai pengalaman pembelajaran mereka. Pengajar pula memainkan peranan sebagai seorang fasilitator yang mempunyai kemahiran dalam membantu pelajar mengenal pasti sumber pembelajaran., memilih kaedah arahan dan penilaian strategi. Satu konsep lagi adalah pembelajaran arahan kendiri yang merujuk kepada ciri-ciri personaliti seseorang pelajar yang menyumbang kepada arahan kendiri. Tanggungjawab peribadi dalam model PRO merujuk kepada kawalan yang ada pada individu terhadap pemikiran dan tindakannya. Walaupun individu bukan
    • sentiasa mengawal persekitaran dan keadaannya, individu boleh mengawal maklumbalasnya terhadap keadaan-keadaan tersebut. Keupayaan dan kerelaan seseorang mengawal pembelajarannya menunjukkan tahap arahan kendirinya dalam pembelajaran. Model ini melihat peranan peribadi sebagai kunci kepada kefahaman arahan kendiri dalam pembelajaran dan menekankan kepentingan orang dewasa dalam memikul tanggungjawab yang sama untuk pembelajaran peribadi dalam proses pembelajaran dan pengajaran. Tanggungjawab peribadi ada pada diri setiap individu pada darjah tertentu. Tambahan pula, model PRO yang berasaskan falsafah dan psikologi manusia menegaskan bahawa darjah tanggungjawab pelajar boleh ditingkatkan oleh pengambilan falsafah manusia dalam proses pengajaran. (Mohd Azhar Hamid et al. 2004) 2.13 Kajian Lepas Pengkaji mengemukakan beberapa kajian yang telah dijalankan oleh pengkaji- pengkaji yang lepas sama ada dari dalam atau luar negara. 2.13.1 Kajian Dalam Negara Mohamad Fauzi et al. (2004) dalam kajian yang bertajuk ‘Tahap Persediaan Pelajar dalam Menggunakan e-pembelajaran Sebagai Alat Pembelajaran’ telah mengkaji tahap dan faktor yang mempengaruhi e-pembelajaran serta masalah yang dihadapi dalam penggunaan e-pembelajaran. Dalam kajian ke atas 377 pelajar Universiti Teknologi Malaysia, beliau mendapati bahawa faktor yang mempengaruhi penggunaan e-pembelajaran di kalangan pelajar adalah disebabkan minat pelajar dalam bidang ICT.
    • Selain itu, faktor ingin mencuba sesuatu yang baru, sentiasa mengambil peluang dan selesa dengan pembelajaran secara elektronik juga mempengaruhi penggunaan e-pembelajaran di kalangan pelajar. Akan tetapi, faktor seperti kemudahan ICT yang tidak mencukupi, sokongan dari staf teknikal ICT dan ketiadaan kemudahan internet di kolej kediaman adalah berada di tahap yang sederhana. Yang dapat dikatakan di sini adalah kekurangan kemudahan internet dan peralatan komputer mempengaruhi faktor penggunaan e-pembelajaran. Tahap kesediaan pelajar terhadap e-pembelajaran pula berada di tahap yang sederhana dan ia menunjukkan bahawa masih ada kelemahan yang perlu diperbaiki oleh UTM supaya tahap penggunaan e- pembelajaran dapat ditingkatkan sekali gus menambah kefahaman pelajar terhadap e- pembelajaran. Mohd Azhar Hamid et al. (2004) telah menjalankan kajian berkaitan dengan pembelajaran elektronik yang bertajuk ‘hubungan antara tahap kefahaman terhadap e-pembelajaran dan kesediaan pembelajaran arahan kendiri di kalangan staf akademik di UTM’. Kajian ini dijalankan untuk mencapai tiga objektif iaitu mengenal pasti tahap kefahaman staf akademik berkenaan pembelajaran elektronik, mencari hubungan antara tahap kefahaman dengan kesediaan pembelajaran pengarahan kendiri, dan faktor yang menyumbang kepada tahap kefahaman staf akademik terhadap pembelajaran elektronik. Borang soal selidik diedarkan kepada sejumlah 306 staf akademik di UTM. Hasil kajian mendapati bahawa staf tersebut telah bersetuju dengan ketiga- tiga konsep yang telah diketengahkan oleh pengkaji. Dapatan kajian menunjukkan bahawa tahap kefahaman responden terhadap pembelajaran elektronik adalah tinggi. Ini adalah kerana terdapat usaha yang dijalankan oleh pentadbiran universiti mengenai kepentingan penggunaan dan pemahaman terhadap pembelajaran elektronik di kalangan pensyarah untuk menjadikan UTM sebagai universiti bertaraf dunia. Namun begitu, hasil kajian mengenai hubungan di antara tahap kefahaman dengan kesediaan pembelajaran pengarahan kendiri adalah lemah tetapi signifikan dan berkadar langsung. Faktor yang menyumbang kepada hubungan yang lemah
    • adalah kerana kekurangan komputer di kalangan pensyarah yang terlibat dalam penyediaan bahan pengajaran dan pembelajaran yang telah menyumbang kepada kelembapan perkembangan pembelajaran elektronik di UTM. Mohd Koharudin (2004) dalam kertas kerja yang bertajuk ‘Perkembangan, Pembangunan Dan Penerimaan e-Pembelajaran Di Institusi Pengajian Tinggi Malaysia’ menyatakan bahawa secara keseluruhannya tahap kesediaan pelajar- pelajar universiti di Malaysia dalam menggunakan e- pembelajaran sebagai alat pembelajaran masih berada pada tahap yang agak sederhana. Kesederhanaan ini kerana kebanyakan pelajar masih dalam proses mengadaptasi atau menyesuaikan diri dengan teknologi baru ini. Keadaan ini tidak menghairankan kerana pembelajaran melalui kaedah ini masih amat baru di negara ini. Melalui pengamatan beliau hasil daripada kajian-kajian yang telah dijalankan, beliau mendapati bawa terdapat kepesatan di antara IPT dalam melaksanakan pembelajaran elektronik dengan membangunkan dan sistem ICT masing-masing ke tahap yang optimum. bagi menyediakan para pelajar mereka dengan kemudahan yang terkini, mudah dan murah bagi merealisasikan matlamat negara mencapai tahap negara maju menjelang tahun 2020. Ahmad Esa et al. (2000) dalam kajian yang bertajuk ‘Perkhidmatan Pengajaran dan Pembelajaran Menerusi Laman Web Nicenet dan E-Mel: Satu Kajian Kes di Institut Teknologi Tun Hussein Onn (ITTHO)’. Kajian ini adalah untuk mencapai tiga objektif iaitu untuk mengenal pasti penerimaan mahasiswa terhadap penggunaan laman Web Nicenet dan e-mel dalam perkhidmatan pengajaran dan pembelajaran, mengenal pasti perbezaan persepsi mahasiswa terhadap kaedah menggunakan laman Web Nicenet, e-mel dan pembelajaran lazim (bertemu di bilik pensyarah) dalam kaedah pengajaran dan pembelajaran, dan mengenal pasti masalah yang dihadapi oleh mahasiswa semasa menggunakan kaedah laman Web Nicenet, e- mel dan kaedah lazim. Pemilihan dilakukan berdasarkan jumlah pelajar yang ramai dan pensyarah mahir mengendalikan laman Web Nicenet dan e-mel. Responden kajian adalah seramai 120 orang daripada pelajar yang mengambil subjek TITAS 2 untuk sesi Semester Jun 2001/2002. Tiga kumpulan diwujudkan yang terdiri daripada
    • 40 orang setiap kumpulan. Kumpulan tersebut dikategorikan sebagai kumpulan kaedah lazim, kumpulan laman Web Nicenet, dan kumpulan e-mel. Hasil kajian menunjukkan pelajar menggunakan kaedah laman Web Nicenet dalam perkhidmatan pengajaran dan pembelajaran. Pelajar tahu menggunakan kedua- dua kaedah tersebut iaitu kaedah laman Web Nicenet dan e-mel dan berpendapat pensyarah perlu memanfaatkan kedua-dua kaedah tersebut kerana mudah bagi mereka untuk berinteraksi dengan pensyarah berbanding dengan kaedah secara lazim. Walaupun begitu, pelajar berpendapat bukan semua masalah asas dalam kaedah lazim boleh diselesaikan melalui kaedah laman Web Nicenet dan e-mel. Pelajar masih sukar untuk berinteraksi dengan pensyarah menggunakan laman Web Nicenet dan e-mel apabila berlaku kerosakan server dan pensyarah tidak membuka e- mel dan Web Nicenet. Nisbah yang tinggi di antara pensyarah dengan pelajar tidak menjadi masalah kepada pelajar untuk mendapatkan perkhidmatan pengajaran dan pembelajaran. Selain itu, penerangan yang disampaikan oleh pensyarah lebih mudah difahami melalui laman Web Nicenet dan e-mel kerana penerangan tersebut akan kekal dalam komputer pelajar. Mohamad Noor Hassan (2000) dalam kajian yang bertajuk ‘Cabaran Melalui IT: e-Learning’ telah mengkaji berkenaan dengan pelaksanaan projek e-pembelajaran di UTM. Beliau mendapati bahawa UTM melaksanakan e-pembelajaran secara berperingkat bersesuaian dengan kemajuan teknologi. Pelaksanaannya mempunyai empat peringkat iaitu peringkat pertama hanya fokus kepada maklumat am tentang sesuatu mata pelajaran. Peringkat pelaksanaan adalah bermula tahun 2000 untuk peringkat pertama, 2001 untuk peringkat kedua, 2002 untuk peringkat ketiga dan 2003 untuk peringkat keempat. Semasa kajian dijalankan, pengkaji mendapati bahawa tahap pelaksanaan e-pembelajaran masih lagi belum mencapai matlamat yang diharapkan. Ini kerana terdapat beberapa masalah yang dihadapi. Antaranya pensyarah tiada kemahiran untuk menghasilkan bahan pengajaran secara elektronik dan dibebani dengan masa yang lama untuk menghasilkan bahan bermutu tinggi. Selain itu, masalah kekurangan komputer di kalangan pensyarah menjadi penyebab kelembapan
    • perkembangan projek ini. Mereka terpaksa berkongsi komputer yang terdapat di makmal fakulti atau di bilik aktiviti pensyarah. Selain itu, pelajar juga menghadapi masalah untuk mencapai internet. Buat masa itu, mereka hanya boleh mencapai internet dari perpustakaan, makmal komputer di fakulti dan kelab komputer di kolej kediaman. Jumlah komputer juga adalah terhad. Oleh itu, pelajar terpaksa menunggu lama untuk menggunakan komputer bagi mencapai nota kuliah dari internet. Shahrom Noordin et al. (1993) telah menjalankan kajian berkenaan dalam kajian yang bertajuk ‘Penggunaan Modul Pengajaran Kendiri (MPK) dalam proses Pengajaran dan Pembelajaran’ telah mengkaji kesan penggunaan modul pembelajaran kendiri dalam proses pengajaran dan pembelajaran. Mereka mendapati bahawa penggunaan modul pengajaran kendiri dalam proses pengajaran dan pembelajaran telah berjaya meningkatkan pencapaian akademik para pelajar di semua peringkat. Oleh yang demikian, beliau mencadangkan penggunaan modul pengajaran kendiri dalam proses pengajaran dan pembelajaran harus diberi perhatian untuk meningkatkan lagi pencapaian pelajar dalam pelbagai bidang. 2.13.2 Kajian Luar Negara Daig, B. (2006) telah membuat kajian yang bertajuk ‘Prestasi Pelajar dalam Subjek e-Pembelajaran: Kesan Jangka Masa Kursus ke atas Hasil Pembelajaran’. Tujuan kajian untuk membandingkan hasil pembelajaran antara pembelajaran yang dijalankan melalui kaedah pembelajaran elektronik dengan kaedah pembelajaran secara bilik darjah. Parameter kajian adalah jangka masa pengajaran (duration of instruction) sebagai pemboleh ubah bebas, dan pengaruh pencapaian dan kepuasan pelajar (affects student achievement and student satisfaction) sebagai pemboleh ubah bebas. Kajian ini bertujuan menjawab dua persoalan utama iaitu adakah jangka masa pengajaran kursus e-pembelajaran memberi kesan kepada tahap pencapaian pelajar dalam konteks hasil pembelajaran, dan adakah jangka masa pengajaran kursus e- pembelajaran memberi kesan kepada tahap kepuasan pelajar.
    • Populasi kajian adalah seramai 156 pelajar daripada kursus Sarjana Pentadbiran Perniagaan (MBA) di Kolej Baker. Pencapaian pelajar di ukur melalui dua kaedah, iaitu berdasarkan markah peperiksaan akhir pelajar dan markah pelajar ke atas ujian pre-test dan post-test. Kepuasan pelajar pula diukur melalui instrumen tinjauan. Pelajar boleh memilih sama ada untuk jangka masa enam minggu atau jangka masa 12 minggu. Kaedah pembelajaran yang disampaikan adalah sama di antara dua kumpulan tersebut. Hasil yang diperolehi menunjukkan keputusan daripada markah ujian akhir dan purata markah daripada ujian pre and post-test untuk kumpulan pelajar minggu ke enam adalah lebih tinggi daripada kumpulan pelajar minggu ke dua belas. Ini menunjukkan bahawa pelajar yang mengikuti pembelajaran selama enam minggu adalah lebih baik daripada pelajar yang mengikuti pembelajaran selama 12 minggu. Dalam konteks prestasi pelajar, pengkaji ini merumuskan bahawa antara sebab keputusan di atas adalah pelajar yang mengikuti kursus dalam jangka masa enam minggu ini boleh mengulangi pengetahuan yang diperolehi untuk peperiksaan berbanding dengan pelajar yang mengikuti kursus selama 12 minggu yang mempunyai mas yang terhad untuk menghadapi peperiksaan akhir. Dalam konteks kepuasan pelajar pula, purata pelajar berpuas hati dengan kursus ini dan mereka mencadangkan kursus ini kepada kawan mereka. Pengkaji ini menyimpulkan bahawa jangka masa kursus bukan hubungan utama dengan kepuasan pelajar, tetapi adalah kerana kaedah e-pembelajaran yang fleksibel. Selain itu, pengkaji ini juga menyatakan ia adalah disebabkan oleh kesan halo dan kerana kaedah pembelajaran yang baru berasaskan teknologi baru. Kesan halo wujud apabila individu menganggap kaedah teknologi baru ini boleh memberi kesan yang baik kepada mereka dalam konteks pembelajaran. Ini kerana mereka tidak berpeluang menggunakan teknologi ini semasa menghabiskan pembelajaran di peringkat ijazah pertama dan mereka menghabiskan kursus pasca-siswazah berbantukan kaedah e-pembelajaran. Shirley Alexander pada tahun 2001 dalam kajiannya yang bertajuk e-learning developments and expericence telah mengkaji mengenai pembangunan dan
    • pengalaman e- pembelajaran. Pengkaji telah mencadangkan rangka kerja yang komprehensif untuk reka bentuk, pembangunan, dan pelaksanaan sistem e- pembelajaran di institusi pengajian tinggi untuk memastikan ia mencapai cabaran dalam e- pembelajaran berasaskan kepada kajian Trigwell’s terhadap pengaruh pelajar terhadap pembelajaran. Rangka kerja yang dicadangkan untuk membangunkan kapasiti penyampaian kursus e- pembelajaran adalah seperti konteks universiti, pemikiran pengajar, perancangan pengajar, dan strategi pengajar. 1. Konteks universiti Peruntukan kepada mekanisma pembangunan dan sokongan membentuk bahagian penting terhadap inisiatif e-pembelajaran seperti visi e-learning di institusi, pembangunan perancangan pembangunan teknologi, pembangunan perancangan pembangunan teknologi dan polisi beban kerja fakulti yang berkaitan dengan e-learning, kemudahan untuk menyediakan sokongan kepada staf dan pelajar, sokongan kepada penyelidikan, peluang pembangunan fakulti dan peruntukan pelepasan masa untuk fakulti yang terlibat dalam pembangunan e-learning. 2. Pemikiran pengajar Fakulti digalakkan untuk menggunakan peluang-peluang pembangunan staf dengan menggalakkan mereka memberi pandangan terhadap pembelajaran dan menggunakan strategi pembelajaran tertentu. Ia adalah cara terbaik untuk meningkatkan pemahaman tentang bagaimana pelajar belajar, yang boleh mendorong kepada kualiti yang baik dalam e-learning. 3. Perancangan pengajar Dalam fasa perancangan e-pembelajaran, fakulti mesti memberi tumpuan kepada pembangunan untuk meningkatkan pemahaman pelajar, mereka bentuk penilaian aktiviti e-pembelajaran, menyediakan maklum balas yang berguna dan masa yang tepat terhadap kerja pelajar, persediaan pelajar untuk aktiviti pembelajaran yang berbeza secara kualitatif, persediaan pelajar untuk bekerja dalam kumpulan, menerapkan konsep
    • pengurusan masa dalam aktiviti pembelajaran, dan mendapatkan kebenaran hak cipta dalam semua material yang digunakan. 4. Strategi pengajar Fakulti digalakkan menyediakan maklum balas kepada pelajar dengan tepat pada masa dan berinformatif, memberi peluang kepada pelajar untuk memahami proses pembelajaran sebelum mengaplikasikan dalam aktiviti pembelajaran mereka yang sebelum ini tidak pernah mereka lakukan, dan aktiviti yang membantu pelajar membangunkan kemahiran dalam kerja kumpulan. (Mohd Azhar Hamid et al. 2004). Owen, T. R. (2007) telah membuat kajian yang bertajuk ‘ Kesediaan pembelajaran arahan kendiri di kalangan pelajar pasca-siswazah: kesan kepada program orientasi’. Kajian ini dijalankan untuk mengenal pasti tahap kesediaan pembelajaran arahan kendiri di kalangan pelajar pasca-siswazah. Selain itu kajian ini untuk mengenal pasti sejauh mana Skala Kesediaan Pembelajaran Arahan Kendiri boleh digunakan sebagai alat pengukuran yang digunakan mempunyai kesahan (validity) dan kebolehpercayaan (reliable) di kalangan pelajar pasca-siswazah. Beliau menggunakan kaedah tinjauan rentas (cross-sectional) di mana data di kumpul melalui e-mel dan telefon untuk mengukur kebolehpercayaan dan kesahan Skala Kesediaan Pembelajaran Arahan tersebut. Bentuk soalan SDLRS adalah berdasarkan kepada skala yang dibangunkan oleh Guglielmino. Hasil kajian mendapati tahap kesahan dan kebolehpercayaan adalah tinggi. Markah ujian kebolehpercayaan melalui split-half adalah 0.87 manakala ujian kebolehpercayaan yang dikira melalui Cronbach coefficient alpha adalah 0.92. kesahan pula diuji melalui kaedah kesahan gagasan (consruct validity) Markah ujian kesahan yang dikira adalah di antara 0.41 hingga 0.88 dengan nilai signifikan adalah0.001. Dengan nilai daripada kebolehpercayaan dan kesahan yang diperolehi, maka beliau menyimpulkan bahawa maka Skala Kesediaan Pembelajaran Arahan Kendiri adalah instrumen yang boleh digunakan untuk pelajar pasca-siswazah. Litzinger, T. A. (2007) dalam kajian yang bertajuk ‘ Kesediaan pembelajaran arahan kendiri di kalangan pelajar kejuruteraan (undergarde)’ telah mengkaji
    • berkenaan dengan kesediaan pembelajaran arahan kendiri di kalangan pelajar dan hubungan dengan faktor demografi. Selain itu, kajian ini mencari kesan pengalaman belajar berasaskan masalah terhadap kesediaan pembelajaran arahan kendiri pelajar. Hasil kajian menunjukkan bahawa pelajar tahun markah SDLRS untuk pelajar tahun akhir adalah mempunyai hubungan yang signifikan dengan bilangan tahun pembelajaran dengan gred purata markah (GPA). Tetapi kedua-duanya iaitu bilangan tahun pembelajaran dan GPA tidak menjadi peramal yang kuat untuk markah SDLRS. Ini kerana kaedah pembelajaran dan pengajaran untuk pelajar undergraduate kejuruteraan tidak menggalakkan ke arah pembelajaran arahan kendiri. Hasil kajian berkenaan kesan pembelajaran berasaskan masalah ke atas pembelajaran arahan kendiri pelajar menunjukkan purata kesediaan untuk pembelajaran arahan kendiri meningkat secara signifikan. Bagaimanapun, hanya sembilan daripada 18 pelajar menunjukkan peningkatan secara signifikan ke atas markah SDLRS mereka. Implikasi daripada kajian ini, beliau menyatakan bahawa kurikulum untuk pelajar kejuruteraan mesti diubah dan disesuaikan dengan pelbagai pengalaman belajar yang lain untuk membolehkan pelajar membangunkan kaedah pembelajaran arahan kendiri mengikut kesesuaian masing-masing. Semasa pembelajaran arahan kendiri, reaksi dan kejayaan pelajar perlu diperhatikan, da mereka juga mesti memberi dan mendapat maklum balas semasa penilaian dalam kelas. Tri Darmawati (2003) telah membuat kajian berkaitan dengan kesediaan pembelajaran arahan kendiri ‘Kesediaan untuk Pembelajaran Arahan Kendiri dan Pencapaian Pelajar di Universiti Terbuka Indonesia’. Objektif kalian beliau adalah untuk mendapatkan data deskriptif berkenaan dengan kesediaan pembelajaran arahan kendiri. Selain itu, beliau juga ingin melihat hubungan antara kesediaan pembelajaran arahan kendiri dengan pencapaian akademik. Beliau menggunakan semua item soalan yang dibangunkan oleh Guglielmino iaitu sebanyak 58 item. Beliau mendapati secara keseluruhannya tahap kesediaan pembelajaran arahan kendiri berada pada tahap sederhana dengan nilai jumlah purata skor adalah 215.5.
    • sementara itu, kajiannya juga mendapati tahap kesediaan pembelajaran arahan kendiri di kalangan perempuan adalah lebih tinggi daripada lelaki. Tetapi walau bagaimanapun, tiada perbezaan nilai ‘grade point average’ (GPA) antara lelaki dan perempuan. Morris, S. S. (1995) dalam kajian yang bertajuk ‘Hubungan Antara Kesediaan Pembelajaran Arahan Kendiri dengan Prestasi Akademik bagi Program Pendidikan Tinggi’ bertujuan untuk mengenal pasti tahap pembelajaran arahan kendiri di kalangan pelajar. Selain itu, kajian beliau juga untuk menguji beberapa hipotesis yang berkaitan secara langsung dengan kesediaan pembelajaran arahan kendiri. Hasil kajian beliau mendapati tahap kesediaan pembelajaran arahan kendiri di kalangan pelajar tersebut adalah di atas sederhana iaitu purata nilai jumlah purata skor 246.13. 2.14 Model Kajian Hasil daripada perbincangan berkenaan teori-teori, model-model, dan kajian lepas, pengkaji telah mengemukakan satu kerangka kajian untuk kajian ini. Kerangka ini direka bentuk bertujuan untuk memandu kajian pengkaji berdasarkan kepada pemboleh ubah bebas dan pemboleh ubah bersandar yang telah dikenal pasti. Secara umumnya, prinsip dan model e-pembelajaran yang dicadangkan menunjukkan peranan yang dimainkan oleh teknologi terkini untuk pembelajaran atas talian. Kaedah pembelajaran ini membentuk satu dimensi baru yang menyokong sistem pembelajaran konvensional iaitu dalam bilik darjah. Pembelajaran di atas talian adalah masih baru di negara ini. Oleh yang demikian, pelajar masih belum terdidik untuk menggunakan kaedah ni semaksimum mungkin dalam pembelajaran mereka di universiti. Ini diutarakan oleh Mohd Koharudin (2004) yang menyatakan bahawa kesediaan pelajar-pelajar universiti di Malaysia dalam menggunakan e- pembelajaran adalah masih di tahap yang sederhana kerana kaedahnya yang masih baru di negara ini.
    • Dalam usaha mengadaptasikan kemajuan teknologi dalam sistem pendidikan negara, kaedah e-pembelajaran haruslah diterapkan dalam modul pembelajaran di peringkat tinggi atau sekurang-kurangnya sebagai sokongan kepada pembelajaran secara kuliah. Melalui aplikasi e-pembelajaran, pihak yang bertanggungjawab boleh menyediakan bahan pembelajaran yang boleh dicapai pada bila-bila masa oleh pelajar. Matlamat atau sasaran asal kurikulum yang dibangunkan oleh pihak pentadbiran tidak akan berubah sungguhpun kaedah e-pembelajaran diterapkan dalam sistem pendidikan tersebut. Prinsip e-pembelajaran ini dinyatakan oleh Nicholas (2003) yang menjelaskan kemampuan aplikasi e-pembelajaran diintegrasikan ke dalam sistem lama untuk di sesuaikan dengan perubahan teknologi semasa. Model Persekitaran Pembelajaran yang diperkenalkan oleh Noraffandy Yahaya dan Wan Salihin Wong (1999) menjelaskan bagaimana pelajar menggunakan sistem pembelajaran atas talian untuk mewujudkan pembelajaran yang berkesan. Model ini membincangkan fungsi penggunaan menu-menu tertentu untuk mencapai pembelajaran berkesan melalui empat pendekatan. Pendekatan tersebut adalah penglibatan pelajar secara aktif, kolaborasi, interaktif dan penerokaan. Aktiviti- aktiviti yang dijalankan adalah penggunaan e-mel, perbincangan maya, pencarian maklumat, perkongsian bookmark, hiperteks, hipermedia, dan lain-lain. Pelajar dikehendaki mencari maklumat-maklumat berkaitan dengan pembelajaran secara kendiri berdasarkan kepada arahan pensyarah masing-masing. Pengkaji melihat model ini sebagai pemangkin kepada penggunaan menu-menu dalam e-pembelajaran dengan lebih kerap untuk mendapatkan maklumat-maklumat yang berguna kepada pelajar. Oleh kerana e-pembelajaran dipraktikkan tanpa kawalan sepenuhnya oleh pengajar, pengkaji melihat adalah penting bagi pelajar mempunyai keinginan untuk belajar secara kendiri. Model Lima Fasa untuk Pembelajaran atas Talian Salmon (2000) menjelaskan bagaimana pencapaian peserta sepanjang pengalamannya menggunakan e-pembelajaran. Pada tingkat ke empat dan lima, pelajar mula menunjukkan keupayaan mereka menerapkan konsep pembelajaran arahan kendiri dalam penggunaan e-pembelajaran. Mereka mula menyelesaikan masalah sendiri berkaitan dengan masalah yang diberikan dan peranan e-moderator hanyalah sebagai
    • pemantau. Pada tingkat terakhir, peserta akan menggunakan pendekatan konstruktif, di mana mereka sendiri mengawal proses pembelajaran tersebut berdasarkan pengalaman mereka. Pengkaji telah melihat berapa pentingnya asas kepada pembangunan skala kesediaan pembelajaran arahan kendiri. Skala ini telah dibangunkan oleh Guglielmino, L. M. (1977) melalui tesis beliau. Beliau menegaskan bahawa faktor utama yang perlu diambil kira dalam pembentukan skala kesediaan pembelajaran arahan kendiri adalah terbuka terhadap peluang pembelajaran; inisiatif pelajar; penerimaan tanggungjawab terhadap pembelajaran diri sendiri; suka terhadap pembelajaran konsep kendiri pelajar; kreativiti; melihat pembelajaran sebagai aktiviti sepanjang hayat; dan pemahaman kendiri; Selain itu, pengkaji memfokuskan kepada kesediaan pembelajaran arahan kendiri berdasarkan dua model utama iaitu Model Pembelajaran Arahan Kendiri Berperingkat Grow (1991) dan Model PRO Brockett dan Hiemstra (1991). Model Pembelajaran Arahan Kendiri Berperingkat Grow membincangkan empat tingkat yang berbeza pembelajaran seseorang sehingga mencapai tingkat arahan kendiri di mana pengajar berperanan sebagai konsultan jika dibandingkan dengan peringat pertama iaitu bergantung di mana pengajar berperanan sebagai jurulatih. Model PRO Brockett dan Hiemstra pula menekankan kepada tanggungjawab peribadi dalam membentuk arahan kendiri dalam pembelajaran. Melalui model dan kajian yang telah dikaitkan, pengkaji akan melihat kepada tahap persepsi pelajar terhadap kesediaan pembelajaran arahan kendiri mereka dan hubung kait dengan tahap penggunaan e-pembelajaran di UTHM. Hasil daripada perbincangan tentang model yang berkaitan, pengkaji telah membangunkan Model Kerangka Kajian yang terdiri daripada dua pemboleh ubah iaitu pemboleh ubah bersandar dan pemboleh ubah bebas. Pemboleh ubah bebas terdiri daripada tahap kesediaan pembelajaran arahan kendiri manakala pemboleh ubah bersandar adalah tahap penggunaan e-pembelajaran (aplikasi Blackboard dan aplikasi UCiTV). Rajah 2.4 menunjukkan ringkasan model kajian yang telah dibangunkan oleh pengkaji dalam kajian ini.
    • TAHAP PENGGUNAAN TAHAP KESEDIAAN PEMBELAJARAN PEMBELAJARAN ARAHAN ELEKTRONIK KENDIRI  Terbuka terhadap peluang  Aplikasi Blackboard pembelajaran o My Announcement  Konsep Kendiri Pelajar o My Calendar  Inisiatif pelajar o Course Document  Penerimaan tanggungjawab o Assigment terhadap pembelajaran diri o Communication/Send sendiri E-Mail  Suka terhadap pembelajaran o Add Forum  kreativiti o External Link  Melihat pembelajaran sebagai aktiviti sepanjang hayat  Aplikasi UCiTV  Pemahaman kendiri o Search Media o Life Broadcast o Video on Demand o E-Learning on Demand Rajah 2.4: Model Kajian Hubungan antara Tahap Kesediaan Pembelajaran Arahan Kendiri dengan Tahap Penggunaan E-Pembelajaran
    • BAB III METODOLOGI KAJIAN 3.1 Pengenalan Dalam bahagian metodologi kajian ini pengkaji akan membincang dan menghuraikan berkaitan dengan semua peringkat yang telah dilakukan dalam kajian ini. Antara perkara yang akan dihuraikan adalah berkaitan dengan reka bentuk kajian, responden kajian, kaedah pensampelan, kaedah pengumpulan data, dan juga kaedah analisis yang dipilih untuk digunakan bagi mendapatkan keputusan bagi kajian pengkaji. 3.2 Reka bentuk Kajian Kajian ini melibatkan analisis deskriptif dan inferensi. Dalam menjalankan kajian ini, pengkaji menggunakan kaedah tinjauan. Ia adalah bertujuan untuk mengenal pasti tahap penggunaan e-pembelajaran di kalangan pelajar dan kesediaan pembelajaran arahan kendiri serta hubungan antara keduanya di kalangan pelajar tahun dua di Fakulti Pengurusan Teknologi di UTHM. Dalam kajian ini, tahap penggunaan e-pembelajaran adalah pemboleh ubah bersandar dan pembelajaran arahan kendiri adalah pemboleh ubah tidak bersandar.
    • Data kajian ini diperolehi dengan menggunakan kaedah soal selidik untuk mendapatkan maklumat yang berkaitan dengan e-pembelajaran dan kesediaan pembelajaran arahan kendiri. Sabitha (2005) menyatakan bahawa responden boleh mengambil masa yang sesuai untuk menjawab soal selidik yang diterimanya dan ia akan memberi maklumat yang lebih baik kepada pengkaji. Menurut beliau lagi, soal selidik berupaya mengumpul data secara bertulis, menyeluruh dan meluas. Penggunaan soal selidik dalam kajian ini adalah praktikal kerana pengkaji menggunakan sampel kajian yang agak besar. Daripada soal selidik tersebut, data- data akan dianalisis berdasarkan kepada objektif kajian dengan menggunakan kaedah statistik yang sesuai. Reka bentuk kajian ini dapat dilihat pada rajah 3.1 di bawah: 3.3 Populasi dan Pensampelan Kajian Dalam kajian ini, populasi kajian adalah pelajar tahun dua di Fakulti Pengurusan Teknologi di UTHM. Fakulti Pengurusan Teknologi mempunyai empat jenis kursus iaitu kursus Pengurusan, Pengurusan Pengeluaran dan Operasi, Pengurusan Harta Tanah, dan Pengurusan Pembinaan. Jumlah keseluruhan pelajar tahun dua di fakulti Pengurusan Teknologi adalah 214 orang. Pengkaji menggunakan jadual Krejcie dan Morgan untuk menentukan sampel kajian yang mana bagi populasi 220, maka jumlah sampel adalah 140 orang. Pengkaji menggunakan sampel 140 kerana jumlah sampel untuk 136 mewakili populasi 210. Pengkaji menggunakan kaedah pensampelan rawak mudah berstrata. Kaedah ini dipilih kerana ia memudahkan pengkaji memilih sampel yang sesuai untuk populasi yang tidak seragam bagi setiap kategori. Setiap subjek kajian mempunyai peluang yang sama untuk dipilih sebagai sampel. Ia juga dapat mengurangkan bias dalam pemilihan sampel. (Sabitha. 2005).
    • Jadual 3.1: Saiz Sampel Kajian Kursus Populasi Sampel Pengurusan 52 34 Pengurusan Pengeluaran dan Operasi 53 35 Pengurusan Harta Tanah 55 36 Pengurusan Pembinaan 54 35 Jumlah 214 140 Sumber: Krejcie dan Morgan dalam Sabitha (2005). Kaedah Penyelidikan Sains Sosial. Muka Surat 114-115 3.4 Kaedah Pengumpulan Data Data-data yang diperolehi dalam kajian adalah dari satu sumber sahaja iaitu data primer. Soal selidik adalah instrumen untuk mendapatkan data primer. 3.4.1 Instrumen Kajian Bagi memenuhi objektif kajian, beberapa alat tinjauan dibentuk bertujuan untuk mendapatkan data yang diperlukan. Soal selidik dibina berasaskan kepada maklumat yang diperolehi melalui kajian lepas. Pengkaji telah mereka bentuk borang soal selidik untuk mendapatkan data yang diperlukan daripada responden kajian. Kaedah pembentukan borang soal selidik ini berdasarkan kepada dia aplikasi utama e-pembelajaran UTHM iaitu aplikasi Blackboard dan aplikasi UCiTV. Pengkaji mereka bentuk bahagian B iaitu item berkaitan dengan penggunaan e-pembelajaran melalui aplikasi Blackboard oleh responden berdasarkan kepada laman web rasmi e-pembelajaran UTHM aplikasi
    • Blackboard dan melalui buku panduan Manual Ringkas Pelajar, Blackboard 6 yang diperolehi melalui laman web UTHM. Selain itu, soalan juga direka bentuk berdasarkan fungsi-fungsi setiap menu dalam laman web e-pembelajaran bagi aplikasi Blackboard dan UViTV Bagi soalan berkaitan dengan kesediaan pembelajaran arahan kendiri, pengkaji menggunakan 30 item soalan yang digunakan oleh pengkaji lepas untuk mengukur tahap kesediaan pembelajaran arahan kendiri. 30 item soalan ini diringkaskan berdasarkan 58 item soalan yang dicadangkan oleh Guglielmino. Borang soal selidik ini mengandungi tiga bahagian seperti yang ditunjukkan di jadual 3.2 di bawah: Jadual 3.2: Instrumen Kajian 1 Bahagian A Maklumat latar belakang responden 2 Bahagian B Skala Kesediaan Pembelajaran Arahan Kendiri 3 Bahagian C 1. Tahap penggunaan aplikasi e-pembelajaran (Blackboard) oleh responden 2. Tahap penggunaan aplikasi e-pembelajaran (UCiTV) oleh responden 3.5 Pentadbiran Borang Soal Selidik Alat-alat kajian yang digunakan dalam kajian ini adalah borang maklumat latar belakang responden, borang pengukur tahap penggunaan pelajar terhadap aplikasi e-pembelajaran dan Skala Kesediaan Pembelajaran Arahan Kendiri.
    • 3.5.1 Maklumat Latar Belakang Responden Bahagian ini mengandungi maklumat diri responden iaitu jantina, umur, tempat tinggal, keturunan, program pengajian yang diikuti di UTHM dan tahun pengajian. 3.5.2 Skala Kesediaan Pembelajaran Arahan Kendiri Skala Kesediaan Pembelajaran Arahan Kendiri (SDLRS) adalah instrumen berbentuk Likert yang dibangunkan oleh Gueglielmino pada tahun 1977. Skala ini direka bentuk untuk mengukur sikap, ciri-ciri dan kemahiran yang kompleks yang terdiri dari tahap kesediaan semasa individu untuk mengurus pembelajaran mereka. Sejak dibangunkan, SDLS telah digunakan secara meluas oleh pengkaji-pengkaji. Dianggarkan SDLS telah digunakan oleh lebih 500 organisasi besar di seluruh dunia. Lebih 70000 orang dewasa dan 5000 kanak-kanak telah mengambil SDLS. SDLRS yang mempunyai 58 item dan skala likert lima mata adalah bertujuan untuk mengukur kesediaan pembelajaran arahan kendiri berdasarkan lapan faktor. Ciri-ciri soalan bagi faktor tersebut adalah seperti berikut: 1. Terbuka terhadap peluang pembelajaran a. Minat terhadap penerimaan pembelajaran b. Kepuasan terhadap inisiatif seseorang c. Suka kepada pembelajaran dan jangkaan kepada pembelajaran berterusan d. Minat kepada sumber pengetahuan e. Toleransi f. Boleh menerima kritikan dan menggunakannya g. Mengesan tanggungjawab pembelajaran diri 2. Konsep kendiri pelajar a. Keyakinan dalam pembelajaran kendiri
    • b. Kemampuan untuk mengurus masa pembelajaran c. Disiplin diri d. Pengetahuan terhadap sumber dan keperluan pembelajaran e. Melihat diri sebagai individu yang ingin belajar 3. Inisiatif pelajar a. Kemampuan bina soalan sukar b. Memahami kemahuan pembelajaran c. Penyertaan secara aktif dalam pembelajaran d. Berkeyakinan dan berkemampuan untuk bekerja dengan baik e. Mempunyai kemahiran dalam membaca f. Berpengetahuan terhadap sumber pembelajaran g. Kemampuan untuk membangunkan perancangan kerja h. Inisiatif untuk memulakan projek baru 4. Penerimaan tanggungjawab terhadap pembelajaran diri sendiri a. Memahami kebijaksanaan diri b. Berkehendak kepada pembelajaran yang mencabar berdasarkan kepada minat dalam sesuatu bidang c. Percaya kepada fungsi pendidikan 5. Suka terhadap pembelajaran a. Seseorang yang selalu belajar perkara baru b. Keinginan yang kuat untuk belajar c. Kepuasan dengan perkara baru 6. Kreativiti a. Mengambil risiko b. Kreatif c. Kemampuan untuk berfikir penyelesaian yang mustahil d. Kemampuan untuk berfikir pelbagai pendekatan 7. Melihat pembelajaran sebagai aktiviti sepanjang hayat a. Melihat diri sebagai pelajar sepanjang hayat b. Gembira berfikir tentang masa hadapan
    • c. Cenderung melihat masalah sebagai cabaran bukan penghalang 8. Pemahaman kendiri a. Kemampuan untuk menggunakan kemahiran belajar dan kemahiran menyelesaikan masalah (Guglielmino, L. M. 1977). Walau bagaimanapun, Gugleilmino (melalui komunikasi personal dengan Brockett pada 2 Februari 2000) memutuskan bahawa apabila SDLRS ditadbir, skor- skor semua faktor harus dikira sebagai satu skor keseluruhan berbanding mencari sub-skor bagi setiap faktor. Beliau juga merumuskan bahawa sub-sub skor daripada setiap faktor akan memperolehi kebolehpercayaan yang rendah. Tambahan lagi, sub- skor sub-skor ini cenderung untuk berubah mengikut sampel dan dengan itu, ia tidak boleh mewakili sampel-sampel yang lain. (Mohd Azhar Hamid et al. 2004). Untuk tujuan kajian ini, pengkaji hanya memilih 30 item soalan positif sahaja. Item soalan ini dipilih berdasarkan item yang telah digunakan oleh Mohd Azhar Hamid (2004) yang diringkaskan dari item soalan yang dicadangkan oleh Gugleilmino. Berikut adalah pembahagian soalan berdasarkan faktor-faktor dan ciri- ciri seperti yang telah dinyatakan: Jadual 3.3: Pembahagian Soalan Berdasarkan Faktor Faktor 1 Terbuka terhadap peluang pembelajaran No. Soalan 14, 21, 28, Faktor 2 Konsep kendiri pelajar No. Soalan 3, 8, , 11, 12, 20, 23, 26, 27, Faktor 3 Inisiatif pelajar No. Soalan 2, 4, 5, 12, 16, 20, 22, Faktor 4 Penerimaan tanggungjawab terhadap pembelajaran diri sendiri No. Soalan 9, 10, Faktor 5 Suka terhadap pembelajaran No. Soalan 19, 24, 25,
    • Faktor 6 Kreativiti No. Soalan 6, 15, 18, Faktor 7 Melihat pembelajaran sebagai aktiviti sepanjang hayat No. Soalan 1, 13, 17, 29 Faktor 8 Pemahaman kendiri No. Soalan 7, 30 Skala likert lima mata digunakan dalam kajian ini adalah seperti dalam Jadual 3.5 di bawah: Jadual 3.4: Skala Likert SDLRS 1 2 3 4 5 Hampir Tidak Tidak Kadangkala Kebiasaannya Hampir Benar Benar Tentang Selalunya Benar Tentang Benar Tentang Tentang Diri Diri Saya Benar tentang Diri Saya Diri Saya Saya Diri Saya Sumber: Guglielmino L. M. (1977). Development of the Self-Directed Learning Readiness Scale. Muka Surat 40. 3.5.3 Tahap Penggunaan Pelajar Terhadap E-Pembelajaran (Aplikasi Blackboard dan Aplikasi UCiTV) Bahagian ini mengandungi 28 soalan berbentuk likert lima mata yang bertujuan untuk mengenal pasti tahap penggunaan pelajar terhadap aplikasi e- pembelajaran. Soalan-soalan ini dibangunkan sendiri oleh penyelidik berdasarkan aplikasi e-pembelajaran yang dilaksanakan di UTHM. Bahagian ini mengandungi dua bahagian utama iaitu pertama bahagian penggunaan aplikasi Blackboard yang mengandungi 16 soalan dan bahagian kedua penggunaan aplikasi UCiTV juga mengandungi sembilan soalan. Skala likert lima mata bagi bahagian ini adalah seperti jadual 3.3 di bawah:
    • Jadual 3.5: Skala Likert Lima Mata 1 2 3 4 5 Tidak Pernah Jarang Sederhana Kerap Sangat Kerap Kerap Sumber: Sabitha (2005). Kaedah Penyelidikan Sains Sosial. Muka Surat 189. Jadual 3.3 menunjukkan skala yang diguna pakai untuk mengukur tahap penggunaan responden terhadap e-pembelajaran. Slakala tersebut dibahagikan kepada lima mata yang menunjukkan nilai ‘1’ adalah Tidak Pernah manakala nilai ‘5’ adalah Sangat Kerap. Selain itu, nilai-nilai lain adalah ‘2’ iaitu Kadang-kadang, nilai ‘3’ iaitu Sederhana Kerap dan nilai ‘4’ iaitu Kerap. Tidak Pernah menunjukkan pelajar tidak pernah menggunakan atau melayari laman web e-pembelajaran UTHM. Kadang-kadang merujuk kepada penggunaan e- pembelajaran iaitu aplikasi Blackboard atau UCiTV dan menu-menu di dalamnya paling kurang sekali (jangka masa satu hari) dalam sebulan. Sederhana Kerap merujuk kepada penggunaan e-pembelajaran iaitu aplikasi Blackboard atau UCiTV dan menu-menu di dalamnya paling kurang sekali (jangka masa satu hari) dalam dua minggu. Kerap merujuk kepada penggunaan e-pembelajaran iaitu aplikasi Blackboard atau UCiTV dan menu-menu di dalamnya paling kurang sehari (jangka masa satu hari) dalam seminggu. Sangat Kerap merujuk kepada penggunaan e- pembelajaran iaitu aplikasi Blackboard atau UCiTV dan menu-menu di dalamnya paling kurang tiga kali (jangka masa tiga hari) dalam seminggu.
    • 3.6 Kaedah Analisis Data Pengkaji akan menganalisis data dan maklumat yang akan di kumpul untuk mengetahui hasil kajian. Pengkaji menganalisis data dan maklumat yang di kumpul dengan menggunakan tiga kaedah utama iaitu kaedah analisis deskriptif, analisis inferensi, dan korelasi Spearman, data dianalisis dengan menggunakan perisian komputer SPSS (Satistical Pakage for Social Science) versi 11.5. Tinjauan yang dibuat ini menggunakan borang soal selidik yang mengandungi empat bahagian. Bahagian pertama mengandungi item demografi responden iaitu jantina, umur, keturunan, kursus serta tahun pengajian di UTHM. Bahagian kedua mengandungi item-item yang mengukur tahap penggunaan aplikasi e-pembelajaran iaitu melalui aplikasi Blackboard dan UCiTV. Bahagian ke ketiga merupakan alat ukur yang dibangunkan oleh Guglielmino iaitu skala Kesediaan Pembelajaran Arahan Kendiri yang diambil 30 soalan sahaja (daripada 58 item asal). Maklumat latar belakang responden, tahap kesediaan pembelajaran arahan kendiri dan tahap penggunaan e-pembelajaran dianalisis menggunakan kaedah deskriptif berbentuk kekerapan, peratusan dan min. Bagi menentukan tahap penggunaan pelajar terhadap e-pembelajaran, pengkaji menggunakan min skor di mana tiga tahap penggunaan e-pembelajaran adalah seperti jadual 3.9 di bawah: 3.6.1 Cara Pemarkahan SDLRS Gugliemino pada tahun 1989 telah menginterpretasikan skor SDLRS setiap individu berdasarkan sampelnya seperti di Jadual 3.6 di bawah. Sampel tersebut terdiri dari 58 soalan.
    • Jadual 3.6: Skor dan Tahap SDLRS Skor SDLRS Tahap Kesediaan Pembelajaran Arahan Kendiri 58-176 Rendah 177-201 Di Bawah Sederhana 202-226 Sederhana 227-251 Di Atas Sederhana 252-290 Tinggi Sumber: Gugliemino (1989) dalam Mohd Azhar Hamid (2004). Self-Directed Learning and Relationship with Awareness Towards E-Learning: A Research among Academic Staff in Universiti Teknologi Malaysia. Muka Surat 62. Kaedah pengiraan julat bagi skala di atas adalah seperti berikut. Jumlah skor maksimum = 58 X 5 =290 Jumlah skor minimum = 58 X 1 =58 290  58 Julat = 5 = 46.4 Mengikut Gugliemino lagi, orang yang memperoleh skor tinggi dalam SDLRS mungkin merancang strategi dan kaedah pembelajaran mereka secara bersendirian dan pada masa yang sama selesa dengan persekitaran pembelajaran berstruktur mengikut pilihan mereka. Manakala orang yang memperolehi skor sederhana tidak selesa mengekalkan keseluruhan strategi dan kaedah pembelajaran mereka. Mereka lebih gemar berada dalam keadaan yang tidak bergantungan untuk merasa kejayaan mereka. Orang yang mendapat skor rendah pula memerlukan keadaan yang berstruktur untuk merasa terjamin dan mereka tidak berupaya menentukan atau mengekalkan pembelajaran mereka secara bersendirian. (Mohd Azhar Hamid et al. 2004).
    • Berdasarkan kepada julat yang telah ditetapkan oleh Gugliemino pada jadual 3.6, pengkaji menginterpretasikan julat untuk 30 soalan mengenai tahap kesediaan pembelajaran arahan kendiri kajian adalah seperti berikut: Jumlah skor maksimum = 30 X 5 =150 Jumlah skor minimum = 30 X 1 =30 150  30 Julat = 5 = 24 Jadual 3.7: Nilai Skor dan Tahap SDLRS Skor SDLRS Tahap Kesediaan Pembelajaran Arahan Kendiri 30-54 Rendah 55-78 Di Bawah Sederhana 79-102 Sederhana 103-126 Di Atas Sederhana 127-150 Tinggi Bagi menentukan tahap kesediaan pembelajaran arahan kendiri bagi setiap item, pengkaji menggunakan nilai min di mana lima tahap kesediaan pembelajaran arahan kendiri di ukur. Lima tahap ini berdasarkan kepada pembahagian lima tahap nilai skor SDLR yang dicadangkan oleh Guglielmino. Pengiraan tahap tersebut adalah seperti jadual 3.8 di bawah Nilai maksimum = 5 Nilai minimum = 1 5 1 Julat = 5 = 0.80
    • Jadual 3.8: Nilai Skor dan Tahap SDLRS Min SDLRS Tahap Kesediaan Pembelajaran Arahan Kendiri Setiap Item 1.00 – 1.80 Rendah 1.81 – 2.60 Di Bawah Sederhana 2.61 – 3.40 Sederhana 3.41 – 4.20 Di Atas Sederhana 4.21 - 5.00 Tinggi 3.6.2 Cara Pembahagian Tahap Min Jadual 3.9: Pembahagian Tahap Min Selang Skala Min Tahap Min 1.00-2.33 Rendah 2.34-3.67 Sederhana 3.68-5.00 Tinggi Sumber: Lewis dan Robin (2000). Statistik Untuk Pengurusan. Pengiraan julat tahap penggunaan e-pembelajaran adalah seperti di bawah: Nilai maksimum = 5 Nilai minimum = 1 Julat = 5–1 3 = 1.33
    • 3.6.3 Cara Menginterpretasikan Pangkat Korelasi Bagi melihat hubungan antara tahap kesediaan pembelajaran arahan kendiri dan tahap penggunaan e-pembelajaran, pengkaji akan menggunakan kaedah Korelasi Spearman. Statistik Pekali Korelasi Pangkat Spearman (Spearman’s Rank Order Correlation Coefficient) digunakan untuk menguji hubungan di antara tahap kesediaan pembelajaran arahan kendiri dan tahap penggunaan e-pembelajaran. Pengkaji menggunakan kaedah analisis korelasi Spearman kerana data yang di kumpul oleh pengkaji berbentuk ordinal. Selain itu, pekali pangkat Spearman rs dipilih kerana ia dapat memelihara pemeringkatan pemboleh ubah yang dikaji hubungannya. Di samping itu, ia dapat menunjukkan sama ada wujud hubungan positif atau negatif di antara tahap kesediaan pembelajaran arahan kendiri dan tahap penggunaan e-pembelajaran (Hishamuddin dan Zukarnain, 2001). Julat kekuatan kolerasi ditentukan berdasarkan kepada ‘Guilford’s Rule of Thumb’ yang diperkenalkan oleh Guilford pada tahun 1956. Jadual 3.10 menunjukkan interpretasi hubungan antara pemboleh ubah mengikut saiz pekali korelasi (Mohd Azhar Hamid et al. 2004). Jadual 3.10: Interpretasi Mengikut Saiz Pekali Korelasi Saiz Pekali Korelasi Interpretasi 0.90 hingga 1.00 Korelasi amat tinggi 0.70 hingga 0.90 Korelasi tinggi 0.50 hingga 0.70 Korelasi sederhana 0.30 hingga 0.50 Korelasi rendah 0.10 hingga 0.30 Korelasi lemah 0.00 Tiada korelasi Sumber: Guilford, 1956 dalam Mohd Azhar Hamid et al. (2004). Self-Directed Learning and Relationship with Awareness Towards E-Learning:
    • A Research among Academic Staffs in Universiti Teknologi Malaysia, Skudai. Bagi melihat perbezaan tahap penggunaan e-pembelajaran dengan demografi iaitu jantina, pengkaji menggunakan ujian Mann-Whitney U. Aras signifikan alpha adalah 0.05. bagi melihat perbezaan tahap penggunaan e-pembelajaran dengan demografi iaitu keturunan dan sekolah sebelumnya, pengkaji menggunakan Kruskal- Wallis. Pengkaji menggunakan kaedah Mann-Whitney U dan KruskalWallis kerana data yang digunakan adalah data ordinal dan data norminal (Hishamuddin dan Zukarnain, 2001). 3.7 Kajian Rintis Kajian rintis perlu dijalankan bagi menentukan sama ada soal selidik yang dibangunkan mempunyai tahap kebolehpercayaan dan kesahihan yang tinggi atau tidak. Kebaikan melaksanakan kajian rintis ialah data yang di kumpul mungkin akan memberi amaran kepada pengkaji bahawa kajian sebenar yang akan dijalankan akan bermasalah, garis kasar cadangan kajian kurang mantap atau instrumen kajian yang digunakan kurang sesuai ( Chua Yan Piaw, 2006). Daripada maklum balas yang diberikan oleh responden kajian rintis pengkaji akan dapat menentukan serta mengenal pasti masalah yang wujud yang boleh menimbulkan salah faham dan kekeliruan. Ini boleh dikenal pasti apabila soal selidik di analisis. Kaedah Item deleted boleh membantu pengkaji untuk mengubahsuai soalan yang tidak sesuai. Dalam menilai tahap kebolehsahan soal selidik ini, koefisien Alpha- Cronbach(α) digunakan. Nilai α (alpha) yang semakin tinggi akan memberikan tahap kepercayaan yang tinggi di mana aras kebolehpercayaan yang tinggi adalah apabila ia memperolehi nilai α yang melebihi 0.6 dalam hasil pengiraan analisis yang dilakukan. Kajian rintis telah dilakukan kepada 19 orang pelajar Fakulti Pengurusan Teknologi di UTHM. Nilai Alpha-Cronbach(α) yang diperolehi adalah 0.9443. Ini menunjukkan bahawa soal selidik yang dibina oleh pengkaji mempunyai aras nilai
    • tahap kebolehpercayaan yang tinggi. Oleh itu ia boleh digunakan bagi tujuan pengumpulan maklumat kajian. Data pengiraan oleh SPSS adalah seperti berikut: Jadual 3.11: Analisis Reliabiliti Reliability Coefficients Kes Item Alpha 19.0 55 0.9443
    • BAB IV ANALISIS DATA 4.1 Pengenalan Bab ini akan membincangkan hasil kajian yang diperolehi daripada soal tentang hubungan antara tahap penggunaan e-pembelajaran dengan tahap kesediaan pembelajaran arahan kendiri di UTHM. Sejumlah 140 soal selidik diedarkan dan berjaya dikembalikan. Kajian yang telah dijalankan dianalisis dengan menggunakan pengaturcaraan komputer “Statistical Packages for Science Social” versi 11.5. Data yang telah dianalisis dipersembahkan dalam bentuk kekerapan, peratusan, min, sisihan piawai dan kolerasi. Keputusan kajian adalah terbahagi kepada beberapa bahagian iaitu seperti berikut: a) Analisis maklumat mengenai latar belakang ataupun maklumat demografi responden kajian. b) Analisis maklumat tahap kesediaan pembelajaran arahan kendiri di kalangan pelajar di UTHM c) Analisis maklumat tahap penggunaan e-pembelajaran di kalangan pelajar di UTHM d) Analisis korelasi antara tahap penggunaan e-pembelajaran dengan tahap kesediaan pembelajaran arahan kendiri
    • e) Analisis Mann-Whitney terhadap perbezaan tahap penggunaan e- pembelajaran mengikut jantina f) Analisis Kruskal-Wallis U terhadap perbezaan tahap penggunaan e- pembelajaran mengikut program pengajian 4.2 Latar Belakang Responden Latar belakang bagi 140 orang responden kajian ini dihuraikan oleh carta pai berdasarkan kepada ciri-ciri demografi yang dikaji. 4.2.1 Jantina dan Umur Responden Jadual 4.1: Taburan Kekerapan Mengikut Jantina Dan Umur UMUR 20 -21 22-23 24-25 >26 Jumlah JANTINA Lelaki 27 31 6 1 65 Perempuan 17 40 14 4 75 Jumlah 44 71 20 5 140 Jadual 4.1 menunjukkan taburan kekerapan responden mengikut jantina dan umur. Berdasarkan jadual di atas, bilangan responden perempuan melebihi responden lelaki iaitu perbezaan 10 orang. Responden perempuan seramai 75 orang manakala responden lelaki adalah 65 orang dengan jumlah keseluruhan responden 140 orang. Bagi kategori umur, majoriti responden berumur 22 dan 23 tahun dengan kekerapannya adalah 71 orang, diikuti responden berumur 20 dan 21 iaitu 44 orang. Responden yang berumur 26 tahun dan ke atas adalah paling sedikit iaitu hanya lima orang.
    • 4.2.2 Keturunan Responden Jadual 4.2: Taburan Responden Mengikut Keturunan Keturunan Kekerapan (orang) Melayu 120 Cina 16 India 3 Lain-lain 1 Jumlah 140 Analisis kajian menunjukkan bahawa responden yang menjawab borang soal selidik yang diedarkan terdiri dari pelbagai kaum. Majoriti responden yang menjawab borang soal selidik adalah daripada keturunan Melayu iaitu seramai 120 orang dan diikuti oleh keturunan Cina iaitu seramai 16 orang. Keturunan India pula adalah seramai 3 orang manakala lain-lain kaum hanya satu orang. 4.2.3 Program Pengajian Jadual 4.3: Taburan Responden Mengikut Program Pengajian Kursus Pengajian Kekerapan Peratusan (%) Pengurusan 34 24.3 Pengurusan Pengeluaran dan 35 25.0 Operasi Pengurusan Harta Tanah 36 25.7 Pengurusan Pembinaan 35 25.0 Jumlah 140 100.0
    • Jadual 4.3 menunjukkan taburan responden mengikut kursus pengajian. Berdasarkan jadual tersebut, responden yang mengikuti kursus pengajian Pengurusan Operasi dan Pengurusan Pembinaan adalah 25% iaitu mewakili 35 orang. Responden yang mengikuti kursus Pengurusan adalah 24.3% iaitu mewakili 34 orang manakala responden dari kursus Pengurusan Harta Tanah adalah 25.7 iaitu mewakili 36 orang. 4.3 Analisis Tahap Pembelajaran Arahan Kendiri Di Kalangan Responden Jadual 4.4: Persepsi Responden Terhadap Kesediaan Pembelajaran Arahan Kendiri Hampir Tidak Kadang- Kebia- Hampir Min Kesediaan Pembelajaran Tidak Selalu- kala saannya Benar (SD) Arahan Kendiri Benar nya Benar Benar Tentang Tentang Benar Tentang Tentang Diri Saya Diri Saya Tentang Diri Saya Diri Saya Diri Saya f f f f f (%) (%) (%) (%) (%) 1. Saya bersikap positif terhadap pembelajaran 3 5 39 67 26 3.78 yang berterusan (2.1) (3.6) (27.9) (47.9) (18.6) (0.86) sepanjang hidup saya 2. Saya tahu apa yang 3 8 43 58 28 3.71 ingin saya pelajari (2.1) (5.7) (30.7) (41.4) (20.0) (0.92) 3. Jika ada sesuatu yang ingin saya pelajari, 0 10 34 70 26 3.80 saya akan mencari (0) (7.1) (24.3) (50.0) (18.6) (0.82) jalan untuk mendapatkannya. 4. Saya suka belajar 8 5 42 62 23 3.62 (5.7) (3.6) (30.0) (44.3) (16.4) (0.99) 5. Sekiranya saya perlukan maklumat 2 12 40 61 25 3.68 yang saya tiada, saya (1.4) (8.6) (28.6) (43.6) (17.9) (0.92) tahu bagaimana untuk mendapatkannya
    • 6. Saya akan menentukan kandungan dan kaedah 0 6 45 70 19 3.73 pembelajaran (0) (4.3) (32.1) (50.0) (13.6) (0.74) mengikut pengalaman dan kesesuaian saya 7. Kesukaran dalam sesuatu bidang 1 8 42 63 26 3.75 pembelajaran tidak (0.7) (5.7) (30.0) (45.0) (18.6) (0.85) menjadi halangan jika saya menggemari bidang tersebut. 8. Tiada orang lain yang lebih bertanggung- 4 8 31 66 31 3.80 jawab terhadap (2.9) (5.7) (22.1) (47.1) (22.1) (0.94) pemerolehan pengetahuan saya melainkan diri saya sendiri 9. Saya boleh membezakan sama ada 3 6 46 64 21 3.67 saya belajar dengan (2.1) (4.3) (32.9) (45.7) (15.0) (0.86) berkesan atau tidak 10. Sekiranya saya telah membuat keputusan 2 5 41 72 20 3.74 untuk mempelajari (1.4) (3.6) (29.3) (51.4) (14.3) (0.80) sesuatu, saya akan memperuntukkan masa untuk mempelajarinya walaupun dalam keadaan sibuk 11. Saya amat menghormati orang 1 4 31 71 33 3.94 yang suka mempelajari (0.7) (2.9) (22.1) (50.7) (23.6) (0.79) perkara baru. 12. Saya boleh memikirkan banyak 2 6 48 71 13 3.62 cara untuk (1.4) (4.3) (34.3) (50.7) (9.3) (0.77) mempelajari bidang yang baru 13. Saya cuba mencari hubungan antara apa 2 4 58 62 14 3.59 yang saya pelajari dan (1.4) (2.9) (41.4) (44.3) (10.0) (0.77) matlamat jangka panjang saya. 14. Saya terlalu ingin mempelajari sesuatu 0 7 46 73 14 3.67 perkara (0) (5.0) (32.9) (52.1) (10.0) (0.72)
    • 15. Saya tidak mempunyai masalah untuk 1 3 45 73 18 3.74 menggunakan apa jua (0.7) (2.1) (32.1) (52.1) (12.9) (0.73) kaedah pembelajaran. 16. Saya suka mencuba perkara baru walaupun 1 7 47 65 20 3.69 saya tidak pasti (0.7) (5.0) (33.6) (46.4) (14.3) (0.80) hasilnya 17. Saya suka memikirkan 1 8 27 74 30 3.89 masa hadapan (0.7) (5.7) (19.3) (52.9) (21.4) (0.83) 18. Saya melihat sesuatu perkara sebagai 1 4 50 63 22 3.72 cabaran, bukan (0.7) (2.9) (35.7) (45.0) (15.7) (0.79) halangan 19. Saya berupaya memotivasikan diri 3 7 53 60 17 3.58 sendiri untuk (2.1) (5.0) (37.9) (42.9) (12.1) (0.85) melakukan apa yang saya perlu lakukan. 20. Saya menjadi ketua apabila berada di 5 11 62 47 15 3.40 dalam kumpulan (3.6) (7.9) (44.3) (33.6) (10.7) (0.91) pembelajaran 21. Saya suka membincangkan 2 8 49 70 11 3.57 tentang sesuatu idea (1.4) (5.7) (35.0) (50.0) (7.9) (0.78) 22. Saya suka cabaran 0 7 46 71 16 3.69 dalam pembelajaran (0) (5.0) (32.9) (50.7) (11.4) (0.74) 23. Saya sangat berminat untuk belajar perkara- 1 7 44 73 15 3.67 perkara baru (0.7) (5.0) (31.4) (52.1) (10.7) (0.76) 24. Lebih tinggi pendidikan 1 5 45 77 12 3.67 membuatkan hidup (0.7) (3.6) (32.1) (55.0) (8.6) (0.71) saya lebih menyeronokkan 25. Pembelajaran adalah 0 17 51 61 11 3.47 suatu keseronokan. (0) (12.1) (36.4) (43.6) (7.9) (0.80) 26. Saya ingin belajar lebih banyak lagi 2 4 42 80 12 3.69 untuk pembangunan (1.4) (2.9) (30.0) (57.1) (8.6) (0.73) diri saya
    • 27. Sayalah yang bertanggungjawab 2 2 38 76 22 3.81 terhadap pembelajaran (1.4) (1.4) (27.1) (54.3) (15.7) (0.76) saya 28. Umur tidak akan menghalang saya 1 6 34 73 26 3.84 daripada mempelajari (0.7) (4.3) (24.3) (52.1) (18.6) (0.80) perkara baru 29. Pembelajaran bersifat 0 4 33 71 32 3.94 sepanjang hayat (0) (2.9) (23.6) (50.7) (22.9) (0.76) 30. Saya berupaya belajar dengan berkesan sama 1 4 35 76 24 3.84 ada secara beramai- (0.7) (2.9) (25.0) (54.3) (17.1) (0.76) ramai mahupun berseorangan. Min Purata Soalan Nombor 1 hingga 30 3.71 Nilai Purata Keseluruhan Skor = 111.3 *SD = Sisihan Piawai Jadual 4.4 menunjukkan persepsi responden terhadap kesediaan pembelajaran arahan kendiri. Terdapat 30 soalan dikemukakan kepada responden berkaitan dengan kesediaan pembelajaran arahan kendiri mereka. Skala likert lima mata digunakan untuk mengenal pasti tahap kesediaan pembelajaran arahan kendiri responden. Skala tersebut adalah hampir tidak benar tentang diri saya, tidak selalu-nya benar tentang diri, kadang-kala benar tentang diri saya, kebiasaannya benar tentang diri saya, dan hampir benar tentang diri saya. Kesimpulannya, item yang mempunyai nilai min paling rendah adalah saya menjadi ketua apabila berada di dalam kumpulan pembelajaran iaitu dengan hanya 3.40. Item yang mempunyai nilai min paling tinggi pula adalah item saya menghormati orang yang suka mempelajari perkara baru dan pembelajaran bersifat sepanjang hayat. Nilai min bagi kedua-dua item tersebut adalah 3.94. Nilai purata skor keseluruhan yang diperolehi daripada analisis bagi tahap kesediaan pembelajaran arahan kendiri di atas adalah 111.3. Berdasarkan kepada
    • nilai tersebut, dapat disimpulkan bahawa tahap kesediaan pembelajaran arahan kendiri responden secara keseluruhannya adalah berada pada tahap di atas sederhana. 4.4 Analisis Tahap Penggunaan e-Pembelajaran (Aplikasi Blackboard Dan Ucitv) Di Kalangan Responden 4.4.1 Analisis Tahap Penggunaan Aplikasi Blackboard Jadual 4.5: Penggunaan e-pembelajaran (Aplikasi Blackboard) Penggunaan e-pembelajaran Tidak Jarang Seder- Kerap Sangat Min (Blackboard) di kalangan Pernah hana Kerap (SD) pelajar Kerap f f f f f (%) (%) (%) (%) (%) 1. Saya mengunjungi laman web e-pembelajaran (Blackboard) 0 22 50 52 16 3.44 (0) (15.7) (35.7) (37.1) (11.4) (0.89) 2. Saya mendapatkan maklumat terbaru daripada pensyarah 2 33 60 34 11 3.14 melalui menu ‘My (1.4) (23.6) (42.9) (24.3) (7.9) (0.91) Announcement’ 3. Saya menggunakan menu ‘My Calendar’ untuk menyimpan 22 65 33 18 2 2.38 jadual maklumat aktiviti (15.7) (46.4) (23.6) (12.9) (1.4) (0.95) harian saya 4. Saya menggunakan menu ‘Course Information’ untuk 3 37 54 31 15 3.13 melihat ringkasan silabus mata (2.1) (26.4) (38.6) (22.1) (10.7) (0.99) pelajaran 5. Saya menggunakan menu ‘Course Documents’ untuk 0 28 53 43 16 3.34 memuat turun semua nota (0) (20.0) (37.9) (30.7) (11.4) (0.93) pembelajaran 6. Saya menggunakan menu ‘Course Documents’ untuk 0 24 50 47 19 3.44 memuat turun semua nota (0) (17.7) (35.7) (33.6) (13.6) (0.93) tutorial
    • 7. Saya menggunakan menu ‘Cource Documents’ untuk 1 28 50 46 15 3.33 memuat turun ulang kaji (0.7) (20.0) (35.7) (32.9) (10.7) (0.94) pelajaran 8. Saya menggunakan menu ‘Assigment’ untuk menjawab 3 42 55 29 11 3.02 semua kuiz (2.1) (30.0) (39.3) (20.7) (7.9) (0.96) 9. Saya menggunakan menu ‘Assigment’ untuk 2 31 52 38 17 3.26 mendapatkan tugasan daripada (1.4) (22.1) (37.1) (27.1) (12.1) (0.99) pensyarah 10. Saya menggunakan menu ‘Communication/ Send e-mail’ 3 62 49 21 5 2.74 untuk menghantar e-mel (2.1) (44.3) (35.0) (15.0) (3.6) (0.87) kepada pensyarah 11. Saya menggunakan menu ‘Communication/ Send e-mail’ 7 61 48 21 3 2.79 untuk menghantar e-mel (5.0) (43.6) (34.3) (15.0) (2.1) (1.84) kepada rakan-rakan 12. Saya menggunakan menu ‘Discussion Board’ untuk 2 41 63 23 11 3.00 berbincang tentang hal (1.4) (29.3) (45.0) (16.4) (7.9) (0.91) berkaitan pelajaran dengan rakan-rakan 13. Saya menggunakan menu ‘Discussion Board’ untuk 6 47 54 30 3 2.84 berbincang tentang hal yang (4.3) (33.6) (38.6) (21.4) (2.1) (0.89) tidak berkaitan dengan pelajaran dengan rakan-rakan 14. Saya menggunakan butang ‘Add Forum’ untuk mencipta 12 73 45 9 1 2.39 tajuk forum baru. (8.6) (52.1) (32.1) (6.4) (0.7) (0.76) 15. Saya menggunakan menu ‘External Link’ untuk 12 70 45 11 2 2.43 mencapai laman web yang (8.6) (50.0) (32.1) (7.9) (1.4) (0.82) dicadangkan oleh pensyarah sebagai rujukan tambahan untuk pembelajaran 16. Saya melihat keputusan peperiksaan/kuiz melalui 5 32 54 36 13 3.14 Blackboard (3.6) (22.9) (38.6) (25.7) (9.3) (0.99) Min Purata Soalan 1 hingga 16 2.99 *SD = Sisihan Piawai
    • Jadual 4.5 menunjukkan penggunaan e-pembelajaran (aplikasi Blackboard) oleh responden. Terdapat 16 soalan yang dikemukakan kepada responden berkaitan dengan aplikasi Blackboard meliputi penggunaan mereka terhadap menu-menu utama yang berfungsi sebagai capaian untuk aktiviti dalam e-pembelajaran. Skala likert lima mata digunakan untuk mengenal pasti tahap penggunaan responden berkaitan aplikasi Blackboard. Skala tersebut adalah tidak pernah, jarang, sederhana kerap, kerap dan sangat kerap. Nilai min skor bagi keseluruhan item tersebut adalah 2.99. Berdasarkan nilai tersebut, dapat disimpulkan bahawa tahap keseluruhan penggunaan e-pembelajaran bagi aplikasi Blackboard adalah masih lagi pada tahap yang sederhana. 4.4.2 Analisis Tahap Penggunaan e-Pembelajaran (Aplikasi UCiTV) di Kalangan Responden Jadual 4.6: Penggunaan e-Pembelajaran (Aplikasi UCiTV) Penggunaan e-pembelajaran Tidak Jarang Seder- Kerap Sangat Min (UciTV) di kalangan pelajar Pernah hana Kerap (SD) Kerap f f f f f (%) (%) (%) (%) (%) 1. Saya mengunjungi laman web TV interaktif Kampus 4 25 61 29 21 3.27 Universiti (UCiTV) (2.9) (17.9) (43.6) (20.7) (15.0) (1.01) 2. Saya menggunakan menu ‘Search Media’ untuk 11 48 49 22 10 2.80 mencari video pilihan saya (7.9) (34.3) (35.0) (15.7) (7.1) (1.03) 3. Saya menonton video terbaru yang berkaitan dengan mata 21 57 46 14 2 2.42 pelajaran saya (15.0) (40.7) (32.9) (10.0) (1.4) (0.91) 4. Saya menonton TV melalui ‘Life Broadcast’ UCiTV 5 45 50 24 16 3.01 (3.6) (32.1) (35.7) (17.1) (11.4) (1.04) 5. Saya mendengar radio melalui ‘Life Broadcast’ 7 47 50 21 15 2.93 UCiTV (5.0) (33.6) (35.7) (15.0) (10.7) (1.05)
    • 6. Saya menggunakan menu ‘Video on Demand’ untuk 9 56 50 17 8 2.71 menonton video (6.4) (40.0) (35.7) (12.1) (5.7) (0.96) 7. Saya menggunakan menu ‘E- Leaning on Demand’ (eOS) 10 69 42 13 6 2.54 untuk mencari video pilihan (7.1) (49.3) (30.0) (9.3) (4.3) (0.91) 8. Saya menonton streaming video berbentuk 8 67 46 17 2 2.56 pembelajaran melalui UciTV (5.7) (47.9) (32.8) (12.1) (1.4) (0.83) 9. Saya menonton rakaman pengajaran dalam bilik darjah 12 72 45 10 1 2.40 melalui UciTV (8.6) (51.4) (32.1) (7.1) (0.7) (0.77) Min Purata 2.73 *SD = Sisihan Piawai Jadual 4.6 menunjukkan penggunaan e-pembelajaran (aplikasi UCiTV) oleh responden. Terdapat sembilan soalan yang dikemukakan kepada responden berkaitan dengan aplikasi UCiTV meliputi penggunaan mereka terhadap menu-menu utama yang berfungsi sebagai capaian untuk aktiviti dalam e-pembelajaran. Skala likert lima mata juga digunakan untuk mengenal pasti tahap penggunaan responden berkaitan aplikasi UCiTV. Skala tersebut adalah tidak pernah, jarang, sederhana kerap, kerap dan sangat kerap. Nilai min purata bagi kedua-dua aplikasi ini adalah 2.8. ini menunjukkan tahap penggunaan e-pembelajaran bagi kedua-dua aplikasi berada pada tahap sederhana.
    • 4.5 Analisis Hubungan Antara Tahap Pembelajaran Arahan Kendiri dengan Tahap Penggunaan e-Pembelajaran Jadual 4.7: Hubungan antara Tahap Penggunaan e-Pembelajaran dengan Tahap Kesediaan Pembelajaran Arahan Kendiri Pemboleh ubah Kajian Nilai Signifikan Pekali Korelasi Spearman Tahap Penggunaan e-Pembelajaran dengan Tahap Kesediaan Pembelajaran .000 0.306** Arahan Kendiri **Korelasi adalah signifikan pada aras 0.01 (2-tailed) Jadual 4.7 menunjukkan hasil kajian hubungan antara tahap e-pembelajaran dengan tahap kesediaan pembelajaran arahan kendiri responden menggunakan kaedah korelasi Spearman. Indeks Davis menyatakan nilai pekali korelasi ‘r’ dari 0.3 hingga 0.49 adalah menunjukkan hubungan yang sederhana kuat. Dari jadual yang diperolehi menunjukkan kekuatan hubungan antara tahap penggunaan e- pembelajaran dengan tahap kesediaan pembelajaran arahan kendiri ialah r= 0.306 iaitu pada rendah. Oleh kerana nilai r adalah lebih besar dari 0.01 (r<0.01) menunjukkan terdapatnya hubungan positif. Ini bermakna wujudnya hubungan positif pada tahap rendah antara tahap penggunaan e-pembelajaran dengan tahap kesediaan pembelajaran arahan kendiri. Hubungan rendah yang positif ini bermaksud walaupun sekiranya responden menyatakan mereka kesediaan pembelajaran arahan kendiri meningkat, tahap penggunaan e-pembelajaran juga meningkat ta peningkatan pada kadar yang rendah.
    • 4.6 Analisis Penggunaan e-Pembelajaran di kalangan Responden Berdasarkan Pembezaan Jantina Jadual 4.8: Perbezaan Tahap Penggunaan e-Pembelajaran Berdasarkan Jantina Penggunaan e-Pembelajaran dengan Jantina Mann-Whithey U 2428.5 Z -0.38 Asymp. Sig. (2-tailed) 0.970** ** Aras Signifikan = 0.05 Jadual 4.8 menunjukkan hasil kajian perbezaan penggunaan e-pembelajaran di kalangan responden dari aspek jantina menggunakan analisis Mann-Whitney U. Nilai signifikan bagi analisis ini adalah pada aras 0.05. Ini bermaksud nilai yang kurang dari 0.05 adalah mempunyai perbezaan yang signifikan. Berdasarkan Jadual 4.15, nilai output adalah pada aras 0.970. Berdasarkan nilai tersebut, tidak terdapat perbezaan yang signifikan dalam penggunaan e-pembelajaran berdasarkan perbezaan jantina. Ini bermaksud penggunaan e-pembelajaran di kalangan responden lelaki dan perempuan adalah berada pada tahap yang sama.
    • 4.7 Analisis Penggunaan E-Pembelajaran di kalangan Responden Berdasarkan Pembezaan Kursus Pengajian Jadual 4.9: Perbezaan Tahap Penggunaan e-Pembelajaran Berdasarkan Kursus Pengajian Penggunaan e-Pembelajaran dengan Kursus Pengajian Chi-Square 10.719 df 3 Asymp. Sig. 0.013** ** Aras Signifikan = 0.05 Jadual 4.9 menunjukkan hasil kajian perbezaan penggunaan e-pembelajaran di kalangan responden dari kursus pengajian menggunakan analisis Kruskal-Wallis. Nilai signifikan bagi analisis ini adalah pada aras 0.05. Ini bermaksud nilai yang kurang dari 0.05 adalah mempunyai perbezaan yang signifikan. Berdasarkan Jadual 4.16, nilai output adalah pada aras 0.013. Berdasarkan nilai tersebut, terdapat perbezaan yang signifikan antara penggunaan e-pembelajaran dari aspek perbezaan kursus pengajian di kalangan responden. Ini bermaksud penggunaan e-pembelajaran di kalangan responden mengikut kursus pengajian yang berlainan adalah berbeza antara satu sama lain.
    • BAB V PERBINCANGAN, RUMUSAN DAN CADANGAN 5.1 Pengenalan Satu kajian tinjauan telah dijalankan bertujuan untuk mengenal pasti tahap penggunaan e-pembelajaran di kalangan pelajar di Universiti Teknologi Tun Hussein Onn Malaysia, Batu Pahat, Johor dan persepsi mereka terhadap kesediaan pembelajaran arahan kendiri. Seterusnya ia digunakan untuk mengkaji hubungan antara tahap penggunaan e-pembelajaran dengan tahap kesediaan pembelajaran arahan kendiri di kalangan responden. Selain itu, perbezaan penggunaan e- pembelajaran di kalangan responden dari aspek jantina dan kursus pengajian juga dikenal pasti. Oleh yang demikian, bab ini mengandungi rumusan dan cadangan yang dibuat berasaskan penganalisisan data yang telah dijalankan. Rumusan ini dibuat berdasarkan kepada pencapaian objektif-objektif yang telah ditetapkan di peringkat awal kajian. Beberapa cadangan kepada pihak pengurusan organisasi akan dikemukakan. Selain itu, cadangan bagi kajian lanjutan turut dinyatakan dalam kajian ini sebagai garis panduan kepada pengkaji akan datang yang berminat untuk membuat kajian lanjutan berkaitan skop ini. Hasil dapatan kajian dibincangkan dan
    • dirumuskan berdasarkan latar belakang responden dan objektif-objektif yang ingin dicapai. 5.2 Latar Belakang Responden Secara ringkasnya, responden kajian ini terdiri daripada 140 orang pelajar di UTHM, Batu Pahat. Sebahagian besar responden adalah perempuan berbanding lelaki. Majoriti responden berumur antara 21 tahun dan 22 tahun. Diikuti responden yang berumur 20 tahun ke bawah. Majoriti responden adalah terdiri daripada bangsa Melayu, diikuti bangsa Cina, India dan lain-lain bangsa. Semua responden diambil dari fakulti Pengurusan Teknologi yang meliputi kursus Pengurusan, Pengurusan Pengeluaran dan Operasi, Pengurusan Harta Tanah, dan Pengurusan Pembinaan. Jumlah responden mengikut kursus adalah seimbang. 5.3 Objektif Kajian Pertama: Tahap Kesediaan Pembelajaran Arahan Kendiri Pelajar Bagi melihat tahap kesediaan pembelajaran arahan kendiri pelajar, pengkaji menggunakan borang soal selidik yang telah diubah oleh pengkaji sebelumnya daripada soal selidik yang dibangunkan oleh Gueglielmino (1978). Berdasarkan analisis yang dijalankan, sebahagian besar responden menyatakan bahawa item-item yang disenaraikan sebagai kebiasaannya benar tentang diri mereka. jumlah purata nilai skor yang diperolehi adalah 111.3 yang menunjukkan tahap kesediaan pembelajaran arahan kendiri pada tahap sederhana tinggi. Ini menunjukkan pelajar bersedia untuk belajar tanpa pemantauan daripada pensyarah. Ini disebabkan sistem pengajian di peringkat tinggi memerlukan komitmen sepenuhnya daripada pelajar itu sendiri dalam usaha mereka. selain itu,
    • hasil yang diperolehi membuktikan pelajar mampu merancang kaedah pembelajaran mereka secara bersendirian mengikut keutamaan mengikut keselesaan mereka dalam persekitaran pembelajaran yang berstruktur. Berdasarkan hasil yang diperolehi menunjukkan masih belum mencapai tahap kesediaan sepenuhnya untuk melibatkan diri dalam pembelajaran kendiri. Mereka masih bergantung kepada lokus kawalan luaran atau arahan tertentu untuk melibatkan diri dalam pembelajaran kendiri. Oleh yang demikian, mereka masih perlu dimotivasikan oleh pensyarah dalam usaha menggalakkan mereka melibatkan diri sepenuhnya dalam pembelajaran arahan kendiri. Selain itu, penilaian pensyarah yang menitikberatkan inovasi, kreativiti, penyelesaian masalah, dan pemikiran kritis boleh menggalakkan pelajar memotivasikan diri mereka untuk belajar secara kendiri. Hasil kajian ini menyokong oleh kajian yang telah dijalankan oleh Mohd Azhar Hamid (2004) yang mendapati bahawa sebahagian besar responden menyatakan item-item yang disenaraikan sebagai kebiasaan benar tentang diri mereka. Beliau menjelaskan faktor taraf pendidikan dan kerjaya sebagai pengajar menuntut mereka bijak untuk menentukan kaedah dan persekitaran pembelajaran mereka agar ilmu pengetahuan dapat disalurkan kepada pelajar. Hasil kajian ini juga menyokong oleh kajian yang dilakukan oleh Scott Schroeder (1995). Beliau mendapati tahap kesediaan pembelajaran arahan kendiri di kalangan pelajar di tempat kajian beliau juga berada pada paras di atas sederhana dengan purata nilai jumlah purata skor 246.13. Berlainan pula dengan kajian yang dilakukan oleh Tri Darmawati (2003). Beliau mendapati secara keseluruhannya tahap kesediaan pembelajaran arahan kendiri berada pada tahap sederhana dengan nilai jumlah purata skor adalah 215.5. Selain itu, kajiannya juga mendapati tahap kesediaan pembelajaran arahan kendiri di kalangan perempuan adalah lebih tinggi daripada lelaki. Tetapi walau bagaimanapun, tiada perbezaan nilai ‘grade point average’ (GPA) antara lelaki dan perempuan.
    • 5.4 Objektif Kajian Kedua: Tahap Penggunaan Pelajar Terhadap e- Pembelajaran Perbincangan mengenai tahap penggunaan e-pembelajaran oleh pelajar UTHM adalah berdasarkan kepada penggunaan mereka terhadap dua aplikasi utama e-pembelajaran iaitu aplikasi Blackboard dan aplikasi UCiTV. Aplikasi Blackboard mempunyai sembilan menu utama iaitu menu My Announcement, My Calendar, Course Information, Cource Document, Assigment, Communication/Send e-mail, Discussion Board, Add Forum, dan External Link. Aplikasi UViTV pula mempunyai beberapa menu utama antaranya adalah Search Media, Life Broadcast, Video on Demand dan E-Learning on Demand (eOS) Keputusan kajian yang dijalankan oleh pengkaji secara umumnya menunjukkan tahap penggunaan e-pembelajaran iaitu aplikasi Blackboard dan aplikasi UCiTV di kalangan pelajar adalah pada tahap yang sederhana. Ini terbukti apabila hasil kajian menunjukkan min skor bagi penggunaan aplikasi Blackboard adalah 2.99 dan min skor bagi penggunaan aplikasi UCiTV adalah 2.73. Melalui analisis yang dijalankan, penggunaan My Calendar untuk menyimpan maklumat aktiviti harian adalah paling rendah dengan nilai min adalah 2.38. bagi penggunaan aplikasi UCiTV, penggunaan menu Course Documents untuk memuat turun nota tutorial adalah paling tinggi dengan nilai min 3.44 manakala nilai min paling rendah adalah 2.40 iaitu menonton rakaman pembelajaran di bilik darjah melalui UCiTV. Min purata bagi kedua-dua aplikasi Blackboard dan UCiTV adalah 3.83. Nilai min ini menunjukkan tahap penggunaan keseluruhan aplikasi e-pembelajaran berada pada tahap sederhana. Min pada tahap sederhana menunjukkan tahap penggunaan yang diharapkan masih belum dicapai. Selain itu, penggunaan menu juga tidak menyeluruh. Ini dibuktikan dengan penggunaan menu-menu tertentu adalah tinggi dan ada juga penggunaan menu yang rendah. Contoh penggunaan menu yang rendah adalah menu My Calendar untuk menyimpan maklumat harian. Dalam kes ini, 22 responden menyatakan mereka tidak pernah menggunakan menu My Calendar tersebut dan merupakan majoriti daripada responden daripada skala tidak pernah manakala min
    • penggunaan juga adalah paling rendah daripada keseluruhan item bagi aplikasi Blackboard. Selaras dengan dapatan kajian yang dijalankan oleh Mohd Koharudin (2004) yang menjelaskan bahawa secara keseluruhannya tahap kesediaan pelajar pelajar- pelajar universiti di Malaysia dalam menggunakan e-pembelajaran sebagai alat pembelajaran masih lagi berada di tahap yang sederhana. Beliau menjelaskan bahawa ini berlaku kerana kaedah pembelajaran melalui talian ini masih baru di negara kita. Kajian yang dilakukan oleh Mohd Azhar Hamid (2004) juga mendapati tahap penggunaan laman web e-pembelajaran berdasarkan menu-menu di dalamnya di kalangan staf akademik secara keseluruhannya adalah sederhana. Beliau menjelaskan antara sebab penggunaan yang sederhana adalah disebabkan kurangnya kefahaman tentang fungsi setiap menu tersebut. Selain itu, apa yang penting adalah sikap staf akademik yang tidak mahu membuat anjakan paradigma terhadap kaedah pembelajaran mereka dan berpendapat bahawa pembelajaran di dalam talian tidak berkesan yang telah mendorong mereka tidak mempunyai inisiatif untuk melayari laman WebCT. Kajian oleh Mohd Noor Hassan (2001) mendapati bahan pengajaran dan penyediaan nota kuliah dalam laman web e-pembelajaran UTM adalah rendah iaitu sekitar 20% daripada keseluruhan mata pelajaran yang ditawarkan oleh semua fakulti. Selain itu, masalah yang dihadapi oleh pelajar untuk mencapai laman web e- pembelajaran adalah kerana pelajar menghadapi masalah untuk mencapai internet. Semasa kajian dijalankan, internet hanya boleh dicapai dari perpustakaan, makmal komputer di fakulti, dan di dewan komputer di kolej kediaman dengan bilangan komputer yang terhad. Sementara itu, Shirley Alexander mencadangkan kepada pengajar rangka kerja untuk pelaksanaan e-pembelajaran yang komprehensif. Rangka kerja tersebut adalah konteks universiti, pemikiran pengajar, perancangan pengajar, dan strategi pengajar. Konteks universiti memberi penekanan kepada peruntukan dan sokongan terhadap inisiatif e-pembelajaran agar dapat dibangunkan dengan lebih sempurna dan teratur. Pemikiran pengajar menekankan pembangunan staf dan menggalakkan mereka memberi pandangan terhadap pembelajaran dan menggunakan kaedah
    • tertentu. Perancangan pengajar pula memberi penekanan kepada pembangunan pelajar melalui pelbagai kaedah. Manakala strategi pengajar menekankan penyediaan maklum balas kepada pelajar dengan tepat dan berinformasi, memberi peluang kepada pelajar memahami dan mengaplikasikan proses pembelajaran dalam aktiviti yang belum pernah dilakukan. Berbeza dengan kajian yang dijalankan oleh pengkaji, kajian oleh Ahmad Esa (2001) mendapati pelajar menggunakan kaedah laman Web Nicenet dalam perkhidmatan pengajaran dan pembelajaran pada tahap yang tinggi. Melalui laman web ini, pelajar dapat berkomunikasi dengan pensyarah dengan mudah berbanding dengan kaedah lazim. Penerangan yang disampaikan oleh pensyarah lebih mudah difahami melalui laman Web Nicenet dan e-mel kerana penerangan tersebut akan kekal dalam komputer pelajar. 5.5 Objektif Kajian Ketiga: Hubungan Antara Tahap Penggunaan e- Pembelajaran dengan Tahap Kesediaan Pembelajaran Arahan Kendiri Pelajar Secara keseluruhannya, dapatan kajian menunjukkan bahawa tahap penggunaan e-pembelajaran mempunyai hubungan yang signifikan dan berkadar langsung dengan tahap kesediaan pembelajaran arahan kendiri pada nilai korelasi r=0.306. Berdasarkan kepada tafsiran ‘Guilford’s Rule of Thumb’ (Guilford, 1956), nilai korelasi Spearman tersebut menunjukkan satu hubungan korelasi yang rendah antara tahap penggunaan e-pembelajaran dengan tahap kesediaan pembelajaran arahan kendiri. Hubungan tersebut adalah signifikan pada aras Aplha= 0.01. ini bermakna, sekiranya kesediaan pembelajaran arahan kendiri meningkat, maka tahap penggunaan e-pembelajaran juga turut meningkat, tetapi pada kadar yang rendah kerana hubungan yang rendah. Oleh yang demikian, disimpulkan bahawa tahap penggunaan e-pembelajaran oleh pelajar mempunyai hubungan korelasi yang rendah tetapi signifikan dan berkadar langsung dengan tahap kesediaan pembelajaran arahan kendiri pelajar.
    • Ini membuktikan bahawa kesediaan pembelajaran arahan kendiri responden turut menyumbang kepada penggunaan e-pembelajaran di kalangan pelajar. Pelajar IPT dilihat sebagai individu dewasa yang terarah kendiri dan perlu melaksanakan e- pembelajaran. Dalam keadaan ini juga, hanya pelajar yang mempunyai kesediaan pembelajaran arahan kendiri yang tinggi lebih cenderung untuk menggunakan e- pembelajaran berbanding dengan pelajar yang mempunyai kesediaan pembelajaran arahan kendiri yang rendah. Hubungan yang rendah ini menyokong kajian yang telah dilakukan oleh Mohd Azhar Hamid (2004). Hasil kajian beliau mendapati hubungan tahap pemahaman e-pembelajaran dengan tahap kesediaan pembelajaran arahan kendiri di kalangan staf UTM berada pada tahap yang lemah, dengan nilai korelasinya 0.259. beliau menjelaskan bahawa hubungan positif ini membuktikan kesediaan pembelajaran arahan kendiri turut menyumbang kepada tahap kefahaman mereka terhadap e-pembelajaran. 5.6 Objektif Kajian Keempat: Analisis Penggunaan e-Pembelajaran di Kalangan Responden Berdasarkan Pembezaan Jantina dan Program Pengajian Bagi tujuan kajian ini, perbezaan penggunaan e-pembelajaran di kalangan pelajar dilihat dari aspek jantina dan program pengajian yang di ikuti di UTHM. Untuk melihat perbezaan penggunaan e-pembelajaran dari dari aspek jantina, kaedah Mann-Whitney U telah digunakan manakala untuk melihat perbezaan penggunaan e- pembelajaran dari aspek program pengajian, kaedah Kruskal-Wallis telah digunakan. Hasil analisis Mann-Whitney U bagi melihat perbezaan penggunaan e- pembelajaran di kalangan pelajar dari aspek jantina adalah 0.970 pada aras signifikan Alpha 0.05. Ini menunjukkan terdapat tidak perbezaan yang signifikan antara tahap penggunaan e-pembelajaran antara lelaki dan perempuan. Ini bermakna tinggi atau rendahnya penggunaan e-pembelajaran bukan disebabkan oleh jantina.
    • Bagi aspek program pengajian pula, dapatan analisis Kruskal-Wallis menunjukkan nilai 0.013. Nilai ini menunjukkan terdapat perbezaan yang signifikan terhadap penggunaan e-pembelajaran di antara pelajar berdasarkan program pengajian. Ini bermakna pelajar yang mengikuti program pengajian berbeza mempunyai perbezaan dari segi penggunaan e-pembelajaran UTHM. Perbezaan penggunaan e-pembelajaran berdasarkan program pengajian ini secara tidak langsung mempengaruhi penggunaan keseluruhan pelajar terhadap e- pembelajaran. Faktor perbezaan pendekatan pensyarah dan jenis program boleh mempengaruhi perbezaan ini. Selain itu, kandungan kursus berbeza bagi setiap program juga dilihat faktor yang membezakan tahap penggunaan pelajar terhadap e- pembelajaran. 5.7 Cadangan Kepada Pihak Organisasi Hasil kajian mendapati masih ada kelemahan yang perlu diperbaiki oleh pihak pengurusan. Hasrat untuk memastikan penggunaan e-pembelajaran yang maksimum di kalangan pelajar sewajarnya diberi penekanan oleh organisasi supaya pelaburan yang dicurahkan dapat dimanfaatkan sepenuhnya. Penekanan ini wajar dipupuk bagi memastikan segala kemudahan dan kelebihan yang disediakan melalui e-pembelajaran dimanfaatkan sepenuhnya oleh pelajar. Untuk memastikan usaha ini berjaya, beberapa cadangan yang bersesuaian dikemukakan untuk menangani permasalahan ini. Antara cadangan yang boleh diketengahkan adalah seperti berikut: a. Dapatan kajian menunjukkan penggunaan e-pembelajaran yang sederhana. Oleh yang demikian., pelajar perlu meningkatkan lagi penggunaan e- pembelajaran agar mereka dapat manfaat dengan menggunakan e- pembelajaran sebagai medium kedua untuk belajar. Untuk menggalakkan lebih ramai pelajar menggunakan laman web e-pembelajaran dengan lebih kerap, pihak pentadbiran khususnya mereka yang terlibat secara langsung dengan pemantauan dan pembangunan e-pembelajaran serta pihak universiti perlu menggiatkan kempen supaya menggalakkan pelajar menggunakan
    • laman web e-pembelajaran sebagai sumber kedua untuk mendapatkan ilmu pengetahuan selain pembelajaran secara kuliah. b. Menjadikan sistem e-pembelajaran sebagai pakej yang saling berkait untuk digunakan. Dengan pakej sedemikian, pelajar terpaksa menggunakan e- pembelajaran terutamanya apabila penggunaan tersebut melibatkan markah. Contohnya, semua kuiz dan ujian dilakukan melalui e-pembelajaran. c. Mewajibkan semua pensyarah menggunakan laman web e-pembelajaran dalam semua aktiviti yang melibatkan pensyarah dengan pelajar bagi mendorong pelajar menggunakan semua menu-menu dalam aplikasi Blackboard dan UCiTV. Selain itu, kandungan kursus perlu sentiasa dikemas kini bagi menggalakkan pelajar berminat menggunakannya. kandungan yang disediakan dalam e-pembelajaran perlu berbeza dengan kandungan yang disediakan dalam bilik darjah bagi menggalakkan pelajar menggunakan e- pembelajaran di samping memberikan mereka pengetahuan baru. d. Bagi aplikasi UCiTV, pihak yang bertanggungjawab perlu memuat naik video baru yang berbentuk pembelajaran setiap minggu bagi memastikan pelajar dapat menonton video baru setiap minggu. Ini memastikan pelajar tertarik untuk melayari aplikasi UCiTV kerana mereka berpeluang menambah pengetahuan melalui video tersebut. e. Bagi memastikan pelajar tertarik menggunakan e-pembelajaran, aplikasi tambahan yang menarik perlu diwujudkan dan boleh memberi manfaat serta keuntungan kepada pelajar. Contohnya, mengadakan pertandingan melalui e- pembelajaran yang memerlukan pelajar melayari laman web e-pembelajaran paling kurang sekali seminggu. f. Sesuai dengan pembelajaran di universiti yang menekankan konsep pembelajaran arahan kendiri, pihak universiti perlu menggalakkan lagi pelajar mereka lebih bersedia untuk belajar tanpa kawalan pensyarah. Kaedah pembelajaran ini membolehkan pelajar menambah pengetahuan mereka untuk
    • lebih menguasai pengetahuan sama ada yang berkaitan dengan pembelajaran atau bertujuan untuk menambah ilmu baru. Ini penting bagi memastikan pelajar berkebolehan dalam pelbagai ilmu atau kemahiran mereka. 5.8 Cadangan Untuk Kajian Akan Datang Setelah mengetahui tahap penggunaan e-pembelajaran di kalangan pelajar dan tahap kesediaan pembelajaran arahan kendiri mereka, pengkaji ingin mencadangkan beberapa cadangan untuk kajian akan datang. a. Kajian yang dijalankan hanya mengkaji penggunaan e-pembelajaran daripada pelajar di Fakulti Pengurusan Teknologi bagi Tahun Dua. Dapatan yang diperolehi tidak boleh mewakili keseluruhan pelajar di UTHM. Oleh yang demikian, dicadangkan agar pengkaji akan datang membuat kajian dengan menggunakan sampel yang lebih besar yang boleh mewakili keseluruhan populasi pelajar di UTHM. b. Hasil kajian mendapati tahap penggunaan e-pembelajaran di kalangan pelajar adalah sederhana. Bagi tujuan kajian akan datang, diharap kajian yang dilakukan dapat mengenal pasti faktor-faktor yang menyumbang kepada penggunaan yang rendah. Contoh faktor-faktor yang boleh dikaji adalah faktor motivasi, minat, kemudahan yang disediakan, dan sebagainya. Selain itu, diharap pengkaji akan datang dapat mengkaji faktor-faktor yang mendorong pelajar menggunakan e-pembelajaran dengan kadar yang tinggi. Kajian sedemikian dilihat agak penting bagi membolehkan pihak yang berkenaan mengambil langkah sewajarnya bagi mengatasi masalah ini. c. Selain itu, pengkaji boleh menjalankan kajian secara menyeluruh mengenai penggunaan e-pembelajaran yang melibatkan keseluruhan IPTA termasuk juga IPTS yang menawarkan perkhidmatan e-pembelajaran sebagai medium pembelajaran kedua.
    • d. Dalam kajian ini, pengkaji hanya menggunakan 30 soalan daripada keseluruhan 58 item soalan yang dicadangkan oleh Gueglielmino. Dengan menggunakan semua item soalan tersebut, pengkaji akan dapat menghasilkan generalisasikan secara menyeluruh tentang konsep kesediaan pembelajaran arahan kendiri populasi yang dikaji. e. Pengkaji dalam kajian ini mengkaji perbezaan antara penggunaan e- pembelajaran dari aspek demografi. Bagi pengkaji akan datang, selain mengkaji perbezaan ini, diharap mereka dapat mengkaji perbezaan yang wujud antara faktor demografi dengan kesediaan pembelajaran arahan kendiri. f. Selain menggunakan soalan berbentuk soal selidik, pengkaji mencadangkan supaya kaedah temu bual juga digunakan bagi memastikan dapatan kajian lebih menyeluruh dan terperinci. 5.9 Kesimpulan Hasil kajian menunjukkan tahap arahan kendiri berada pada tingkat sederhana tinggi manakala penggunaan e-pembelajaran pula adalah pada tingkat sederhana. Selain itu, hubungan antara tahap kesediaan pembelajaran arahan kendiri dengan penggunaan e-pembelajaran pula berada pada tahap yang rendah. Penggunaan e- pembelajaran dari aspek jantina tidak menunjukkan perbezaan tetapi penggunaan e- pembelajaran berdasarkan program pengajian menunjukkan perbezaan yang signifikan. Untuk meningkatkan tahap penggunaan e-pembelajaran dan kesediaan pembelajaran arahan kendiri ke tahap yang tinggi, UTHM perlu mengatur strategi baru sesuai dengan keadaan semasa serta penerimaan pelajar terhadap strategi tersebut. Dengan strategi yang sesuai, maka harapan UTHM untuk melibatkan semua pelajar menggunakan e-pembelajaran sebagi medium kedua pembelajaran di universiti akan mencapai hasil yang diharapkan.
    • RUJUKAN Abu Hassan Bin Kassim dan Meor Ibrahim Kamarudin (1998). Latihan Mengajar: Apakah Persediaan Guru Pelatih?. Siri Program Perguruan. Skudai: Universiti Teknologi Malaysia. Ahmad Esa, Ali Suradin, Khairul Azman Suhaimy (2000). Perkhidmatan Pengajaran dan Pembelajaran Menerusi Laman Web Nicenet dan E-Mel: Satu Kajian Kes. Prosiding Konvensyen Pendidikan UTM 2000. Skudai: Penerbit Universiti Teknologi Malaysia. Kertas Kerja. 175-194. Blanchard, P. N. dan Thacker, J. W. (2004). Effective Training: Syatems, Strategies, and Practices, Second Edition. London: Pearson Prentice Hall. Broadbent, B. (2002). ABCs of e-Learning, Reaping the Benefit and Avoiding the Pitfalls. San Francisco: Jossey-Bass/Preifeer. Brockett dan Hiemstra (1991). A Conceptual Framework for Understanding Self- Direction in Adult Learning. Self-Direction in Adult Learning. Pada 3 Ogos 2008. Dalam talian. http://www.infed.org/ Candy, P. C. (1991). Self-Direction for Lifelong Learning. Jossey-Bass Publishers, San Francisco: Oxford. Chua Yan Piaw (2006). Kaedah Penyelidikan. Selangor: McGraw Hill.
    • Daig, B. (2005). Student Performance in E-Learning Courses: The Impact of Course Duration on Learning Outcomes. Ph D. Available. UMI Proquest Digital Dissertations. Ee Ah Meng (1997). Pedagogi II-Perlaksanaan Pengajaran. (Edisi Kedua). Selangor: Fajar Bakti Sdn. Bhd. Grow, G. (1991). The Staged Self-Directed Learning Model, Teaching Learners to be Self-Directed. Pada 10 Ogos 2008. Dalam talian: http://www.longleaf.net/ Guglielmino, L. M. (1978). Development of the Self-Directed Learning Readiness Scale. Tesis Ph D. University of Georgia. Available. UMI Proquest Digital Dissertations. Hiemstra, R. (1994). Self-Directed Learning. Pada 21 Ogos 2008. Dalam talian: http://home.twcny.rr.com/ Hishamuddin Md. Som dan Zulkarnain Zakaria (2001). Analisis Data Menggunakan SPSS Windows. Skudai: Penerbit Universiti Teknologi Malaysia. Holmes, B. dan Gardner, J. (2006). E-Learning, Concept and Practice. London: SAGE Publications Limited. Horton, W. (2006), E-Learning by Design. San Francisco: CA. Pfeiffer. Jaafar Muhamad (2001). Kelakuan Organisasi. (Edisi ke-4) Kuala Lumpur: Leeds Publication. Jaya Kumar C. Koran (2002). Aplikasi e-Learning dalam Pengajaran dan Pembelajaran di Sekolah-sekolah Malaysia: Cadangan Pelaksanaan Pada Senario Masa Kini. Pada 21 September 2008. Dalam talian: http://tutor.com.my/tutor/ Knowles, M.S. (1975). Self-Directed Learning. Chicago: Follet.
    • LeJune, N. F. (2002). Problem Based Learning Instruction Versus Traditional Instruction on Self-Directed Learning, Motivation and Grades of Undergraduate Computer Science. Available. UMI Proquest Digital Dissertations. Lewis dan Robin (2000). Statistik Untuk Pengurusan. Diterjemahkan oleh Susila Munisamy dan Halimah Awang. Edisi Ketujuh. Petaling Jaya: Pearson Education Asia Pte. Ltd. Litzinger, T. A. (2007). Self-Directed Learning Readiness among Engineering Undergraduate Students. Pada 21 Ogos 2008. Dalam talian: http://findarticles.com/ Mohamad Fauzi Othman, Mohd Kharuddin Mohd Balwi, Prof. Madya Dr Durrishah Idrus, Mohd Azhar Abd. Hamid, Mohd Shahril Bakri, Adenan Mat Junoh (2004). Tahap Persediaan Pelajar dalam Menggunakan Pembelajaran Elektronik atau E-Learning Sebagai Alat Pembelajaran: Satu Kajian di Universiti Teknologi Malaysia. Pembentangan Kertas Kerja di Persidangan e-Pembelajaran Kebangsaan Universiti Sains Malaysia Pulau Pinang. Skudai: Universiti Teknologi Malaysia. Mohamed Noor Hasan (2001). Cabaran Pembelajaran Melalui IT: E-Learning. Dalam Ahmad Zaharuddin Idrus. Kecemerlangan Menerusi Kreativiti: Transformasi dan Cabaran UTM. (muka surat 145-160). Skudai: Penerbit Universiti Teknologi Malaysia. Mohd Azhar b Abd Hamid, Adanan b Mat Junoh, Ishak b. Mad Shah, Mohd Koharudin b Mohd Balwi (2004). Self-Directed Learning and Relationship with Awareness Towards E-Learning: A Research among Academic Staffs in Universiti Teknologi Malaysia, Skudai. Pada 14 Julai 2008. Dalam talian: http://eprints.utm.my/
    • Mohd Koharudin bin Mohd Balwi (2004). Perkembangan, Pembangunan dan Penerimaan E-Pembelajaran di Institusi Pengajian Tinggi Malaysia. Jurnal Teknologi, Edisi ke-41. 41, 55-72. Universiti Teknologi Malaysia. Mohd Noh Main. Perancangan dan Polisi IT dan pelaksanaan Kampus Siber. Kecemerlangan Menerusi Kreativiti: Transformasi dan Cabaran UTM”. Skudai: Penerbit Universiti Teknologi Malaysia. 121-144; 2001 Morris, S. S. (1995). Relation Between Self Directed Learning Readiness and Academic Performance in a Nontraditional Higher Education Program. Tesis Ph. D. University of Oklohama Graduate Collage. Available. UMI Proquest Digital Dissertations. Nichols, M. (2003). A Theory for E-Learning. Pada 21 September 2008. Dalam talian: http://ifets.info/journals/ Noraffandy Yahaya dan Wan Salihin Wong Abdullah (1999). Model Persekitaran Pembelajaran Melalui WEB: Satu Cadangan. MERA-ERA Joint Conference, 1-3 December, Melaka: Century Mahkota Hotel. Owen, T. R. (2007). Self Directed Learning among Graduate Student: Implication for Orientation Programs. Pada 19 September 2008. Dalam talian: http://findarticles.com/ Piskurich, G. M. (1993). Self-Directed Learning, A Practical to Design, Development, and Implementation. San Francisco: Jossey-Bass, Publishers San Francisco Rahil Mahyuddin (2002). Psikologi Pendidikan II. Selangor: Longman Malaysia Sdn. Bhd. Sabitha, M. (2005). Kaedah Penyelidikan Sains Sosial. Selangor: Pearson Prentice Hall.
    • Salmon, G. (2000). Salmon's Model of Online Learning. Pada 13 Ogos 2008. Dalam talian: http://coe.sdsu.edu/ Shahrom Nordin dan Yap Kueh Chin (1993). Penggunaan Modul Pengajaran Kendiri (MPK) dalam Proses Pengajaran dan Pembelajaran. Jurnal Guru. Makalah. 325-331. Tri Darmawati (2003). Readiness for Self Directed Learning and Achievement of the Student of Universiti Terbuka. Tesis Ph D. University of Victoria. Available. UMI Proquest Digital Dissertations. Universiti Tun Hussein Onn. Pada 29 Ogos 2008. Dalam talian: http://www.uthm.edu.my/v2/