Hubungan Antara Tahap Kesediaan Pembelajaran Arahan Kendiri Dengan Tahap Penggunaan E Pembelajaran

22,375 views

Published on

My Theses of Master Degree (Human Resource Development), University Technology of Malaysia.

Published in: Education, Business
4 Comments
10 Likes
Statistics
Notes
  • URUS NIK BEACUKAI EKSPORT IMPORT
    - NIK BEACUKAI EKSPORT.
    - NIK BEACUKAI IMPORT.
    - NIK BEACUKAI PPJK
    - NIK BEACUKAI PENGANGKUT

    URUS SRP BEACUKAI / NIK BEACUKAI
    Peraturan Menteri Keuangan Nomor 63/PMK.04/2011.

    Jakarta
    Komplek Ruko Segitiga Atrium Blok A1 Lt 2 Jl. Senen Raya No. 135 Jakarta Pusat 10410.
    Tep: +(62) 21- 34833034
    Fax : +(62) 21- 34833038
    Mobile: 081385042000
    Pin BB 285200BC
    Contact Person: M. Samosir, SH
    Email: legal@saranaizin.com

    Bekasi
    Harapan Indah 2 Ifolia HY 22/ 25 Bekasi Utara
    Telp: + ( 62) 21-29466607
    Fax : + ( 62) 21-29466607
    Mobile: 081585427167
    Pin BB 2262D175
    Email: admin.legal@saranaizin.com

    Medan
    Gedung Johar Jl. Tani Bersaudara no. 9 Medan Sumatera Utara
    Telp: +(62) 61-77554440
    Fax : +(62) 61-77554440
    Mobile: 085270139105
    Email : saranaizincab.medan@ymail.com
       Reply 
    Are you sure you want to  Yes  No
    Your message goes here
  • - URUS SRP, NIK BEACUKIA PENERBITAN BARU
    - URUS SRP, NIK BEACUKAI DITOLAK.
    - URUS SRP, NIK BEACUKAI DIBLOKIR
    - URUS SRP, NIK BEACUKAI PINDAH ALAMAT,

    URUS IZIN USAHA:
    - URUS PENDIRIAN PT – Jakarta, Bekasi, Depok, Tangerang, Krawang, Bandung
    - URUS PENDIRIAN PMA – Jakarta, Bekasi, Depok, Tangerang, Krawang, Bandung
    - URUS PENDIRIAN CV – Jakarta, Bekasi, Depok, Tangerang, Krawang, Bandung
    - URUS APIU – Jakarta, Bekasi, Depok, Tangerang, Krawang, Bandung – Jakarta, Bekasi, Depok, Tangerang, Krawang, Bandung
    - URUS APIP – Jakarta, Bekasi, Depok, Tangerang, Krawang, Bandung
    - URUS NPIK – Seluruh Indonesia
    - URUS NIK BEACUKAI – Seluruh Indonesia
    - Urus IT Plastik
    - Urus IT CAKRAM OPTIK
    - Urus IT KOSMETIK
    - Urus IT ALAS KAKI
    - Urus IT MAKANAN DAN MINUMAN
    - Urus IT MAINAN ANAK-ANAK
    - Urus IT ELEKTRONIKA
    - Urus IT OBAT TRADISIONAL DAN HERBAL
    - Urus IT PRODUK MAKANAN DAN MINUMAN
    - Urus Izin Prinsip
    -Urus SIUP.
    -Urus TDP
    -Dll

    PT. LEGALITAS SARANAIZIN INDONESIA.
    Gedung Maya Indah Lt 2 Jakarta Pusat 10450
    Telp. 021-3142566
    Fax. 021-3928113
    HP. 081385042000
    Flexi. 021-70940216
    Website: http://www.saranaijin.com
    Email legal@saranaizin.com
    Pin BB 2262D175
       Reply 
    Are you sure you want to  Yes  No
    Your message goes here
  • URUS NIK BEACUKAI / REGISTRASI PABEAN / SRP BEACUKAI
    Peraturan Menteri Keuangan No. 63/PMK.04/2011

    - URUS SRP, NIK BEACUKIA PENERBITAN BARU
    - URUS SRP, NIK BEACUKAI DITOLAK.
    - URUS SRP, NIK BEACUKAI DIBLOKIR
    - URUS SRP, NIK BEACUKAI PINDAH ALAMAT,

    URUS IZIN USAHA:
    - URUS PENDIRIAN PT – Jakarta, Bekasi, Depok, Tangerang, Krawang, Bandung
    - URUS PENDIRIAN PMA – Jakarta, Bekasi, Depok, Tangerang, Krawang, Bandung
    - URUS PENDIRIAN CV – Jakarta, Bekasi, Depok, Tangerang, Krawang, Bandung
    - URUS APIU – Jakarta, Bekasi, Depok, Tangerang, Krawang, Bandung – Jakarta, Bekasi, Depok, Tangerang, Krawang, Bandung
    - URUS APIP – Jakarta, Bekasi, Depok, Tangerang, Krawang, Bandung
    - URUS NPIK – Seluruh Indonesia
    - URUS NIK BEACUKAI – Seluruh Indonesia
    - Urus IT Plastik
    - Urus IT CAKRAM OPTIK
    - Urus IT KOSMETIK
    - Urus IT ALAS KAKI
    - Urus IT MAKANAN DAN MINUMAN
    - Urus IT MAINAN ANAK-ANAK
    - Urus IT ELEKTRONIKA
    - Urus IT OBAT TRADISIONAL DAN HERBAL
    - Urus IT PRODUK MAKANAN DAN MINUMAN
    - Urus Izin Prinsip
    -Urus SIUP.
    -Urus TDP
    -Dll

    PT. LEGALITAS SARANAIZIN INDONESIA.
    Gedung Maya Indah Lt 2 Jakarta Pusat 10450
    Telp. 021-3142566
    Fax. 021-3928113
    HP. 081385042000
    Flexi. 021-70940216
    Website: http://www.saranaijin.com
    Email legal@saranaizin.com
    Pin BB 2262D175
       Reply 
    Are you sure you want to  Yes  No
    Your message goes here
  • URUS NIK BEACUKAI / REGISTRASI PABEAN / SRP BEACUKAI
    Peraturan Menteri Keuangan No. 63/PMK.04/2011

    - URUS SRP, NIK BEACUKIA PENERBITAN BARU
    - URUS SRP, NIK BEACUKAI DITOLAK.
    - URUS SRP, NIK BEACUKAI DIBLOKIR
    - URUS SRP, NIK BEACUKAI PINDAH ALAMAT,

    URUS IZIN USAHA:
    - URUS PENDIRIAN PT – Jakarta, Bekasi, Depok, Tangerang, Krawang, Bandung
    - URUS PENDIRIAN PMA – Jakarta, Bekasi, Depok, Tangerang, Krawang, Bandung
    - URUS PENDIRIAN CV – Jakarta, Bekasi, Depok, Tangerang, Krawang, Bandung
    - URUS APIU – Jakarta, Bekasi, Depok, Tangerang, Krawang, Bandung – Jakarta, Bekasi, Depok, Tangerang, Krawang, Bandung
    - URUS APIP – Jakarta, Bekasi, Depok, Tangerang, Krawang, Bandung
    - URUS NPIK – Seluruh Indonesia
    - URUS NIK BEACUKAI – Seluruh Indonesia
    - Urus IT Plastik
    - Urus IT CAKRAM OPTIK
    - Urus IT KOSMETIK
    - Urus IT ALAS KAKI
    - Urus IT MAKANAN DAN MINUMAN
    - Urus IT MAINAN ANAK-ANAK
    - Urus IT ELEKTRONIKA
    - Urus IT OBAT TRADISIONAL DAN HERBAL
    - Urus IT PRODUK MAKANAN DAN MINUMAN
    - Urus Izin Prinsip
    -Urus SIUP.
    -Urus TDP
    -Dll

    PT. LEGALITAS SARANAIZIN INDONESIA.
    Gedung Maya Indah Lt 2 Jakarta Pusat 10450
    Telp. 021-3142566
    Fax. 021-3928113
    HP. 081385042000
    Flexi. 021-70940216
    Website: http://www.saranaijin.com
    Email legal@saranaizin.com
    Pin BB 2262D175
       Reply 
    Are you sure you want to  Yes  No
    Your message goes here
No Downloads
Views
Total views
22,375
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
12
Actions
Shares
0
Downloads
962
Comments
4
Likes
10
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Hubungan Antara Tahap Kesediaan Pembelajaran Arahan Kendiri Dengan Tahap Penggunaan E Pembelajaran

  1. 1. HUBUNGAN ANTARA TAHAP KESEDIAAN PEMBELAJARAN ARAHAN KENDIRI DENGAN TAHAP PENGGUNAAN E-PEMBELAJARAN DI KALANGAN PELAJAR DI UNIVERSITI TUN HUSSEIN ONN, BATU PAHAT, JOHOR. MOHD ERY JOHAIZAL BIN RAMLI SARJANA SAINS (PEMBANGUNAN SUMBER MANUSIA) UNIVERSITI TEKNOLOGI MALAYSIA
  2. 2. HUBUNGAN ANTARA TAHAP KESEDIAAN PEMBELAJARAN ARAHAN KENDIRI DENGAN TAHAP PENGGUNAAN E-PEMBELAJARAN DI KALANGAN PELAJAR DI UNIVERSITI TUN HUSSEIN ONN, BATU PAHAT, JOHOR. MOHD ERY JOHAIZAL BIN RAMLI Tesis ini dikemukakan sebagai memenuhi syarat penganugerahan Ijazah Sarjana Sains (Pembangunan Sumber Manusia) Fakulti Pengurusan Dan Pembangunan Sumber Manusia Universiti Teknologi Malaysia APRIL, 2009
  3. 3. PSZ 19:16 UNIVERSITI TEKNOLOGI MALAYSIA BORANG PENGESAHAN STATUS TESIS٠ JUDUL : HUBUNGAN ANTARA TAHAP KESEDIAAN PEMBELAJARAN ARAHAN KENDIRI DENGAN TAHAP PENGGUNAAN E-PEMBELAJARAN DI KALANGAN PELAJAR DI UNIVERSITI TUN HUSSEIN ONN, BATU PAHAT, JOHOR. SESI PENGAJIAN: 2008/2009 SAYA MOHD ERY JOHAIZAL BIN RAMLI ____________________________________________________________________________________________________________________________________ (HURUF BESAR) Mengaku membenarkan tesis (PSM / Sarjana, Doktor Falsafah) * ini disimpan di perpustakaan Teknologi Malaysia dengan syarat-syarat kegunaan seperti berikut : 1. Tesis adalah hakmilik Universiti Teknologi Malaysia. 2. Perpustakaan Universiti Teknologi Malaysia dibenarkan membuat salinan untuk tujuan pengajian sahaja. 3. Perpustakaan dibenarkan membuat salinan tesis ini sebagai bahan pertukaran antara institusi pengajian. 4. ** Sila tandakan ( √ ) SULIT (Mengandungi maklumat yang berdarjah keselamatan atau kepentingan Malaysia seperti yang termaktub di dalam AKTA RAHSIA RASMI 1972) TERHAD (Mengandungi maklumat TERHAD yang telah ditentukan oleh Organisasi/ badan di mana penyelidikan dijalankan) √ TIDAK TERHAD Disahkan oleh _________________________________ ________________________________ (TANDATANGAN PENULIS) (TANDATANGAN PENYELIA) Alamat Tetap : P/S 1353 Kg. Batu Berendam, PUAN AMINAH BT AHMAD KHALID 16800 Pasir Puteh, Kelantan. Nama Penyelia Tarikh : 30 APRIL 2009 Tarikh : 30 APRIL 2009 Catatan : * Potongan yang tidak berkenaan ** Jika tesis ini SULIT atau TERHAD, sila lampirkan surat daripada berkuasa/organisasi berkenaan dengan menyatakan sekali sebab dan tempoh tesis ini perlu dikelaskan sebagai SULIT atau TERHAD ٠ Tesis dimaksudkan sebagai tesis bagi Ijazah Doktor Falsafah dan Sarjana secara kerja kursus dan penyelidikan, atau Laporan Projek Sarjana Muda (PSM)
  4. 4. PENGESAHAN “Saya akui bahawa saya telah membaca projek sarjana ini dan pada pandangan saya karya ini adalah memadai dari segi skop dan kualiti untuk tujuan penganugerahan Ijazah Sarjana Sains (Pembangunan Sumber Manusia)” Tandatangan : _______________________________ Nama Penyelia : AMINAH BT AHMAD KHALID Tarikh : 30 MAC 2009
  5. 5. Terima Kasih Buat YDSM AYAHANDA SYEIKH HARIS AL-KHOLIDI, Ahlul Bait dan BKSI Sekalian..... Istimewa Buat Ayahanda Dan Bonda Ramli Bin Mohamad Dan Selemo Bt Abdul Ghani Jasa Dan Dorongan Yang Disumbangkan Tidak Ternilai Sehingga Tercapai Cita- Cita. Serta Ahli Keluarga Tersayang Semua Yang Memberi Sokongan.. Terima Kasih....
  6. 6. PENGHARGAAN Alhamdulillah, syukur ke hadrat Ilahi kerana dengan izin dan limpah kurnia- Nya akhirnya kajian ini dapat disempurnakan. Jutaan terima kasih kepada penyelia projek ini Puan Aminah Bt Haji Ahmad Khalid yang telah memberi tunjuk ajar dan pandangan yang sangat baik sehingga projek ini siap dilaksanakan. Terima kasih kepada pihak Universiti Teknologi Tun Hussein Onn, terutamanya staf dari Pusat Pengajaran dan Pembelajaran, Dr. Burhanudin dan Encik Hemmy yang banyak membantu untuk mendapatkan maklumat berkenaan kajian ini. Kepada rakan –rakan seperjuangan, diucapkan terima kasih sepanjang pengajian yang mana telah memberikan kerjasama dengan baik dan memberikan komitmen serta pandangan dalam projek ini.
  7. 7. Kajian ini dijalankan untuk mengetahui hubungan antara kesediaan pembelajaran arahan kendiri dengan penggunaan e-pembelajaran. Kajian ini dijalankan di Fakulti Pengurusan Teknologi di Universiti Teknologi Tun Hussein Onn Malaysia. Kajian ini juga untuk mengenal pasti tahap penggunaan e- pembelajaran dan tahap kesediaan pembelajaran arahan kendiri di kalangan pelajar. Tahap kesediaan pembelajaran arahan kendiri menggunakan skala yang telah dibangunkan oleh Gugliemino (1977). Selain itu, kajian ini juga bertujuan untuk mengenal pasti perbezaan penggunaan e-pembelajaran berdasarkan kepada jantina dan program pengajian. Soal selidik telah digunakan untuk mendapatkan data kajian. Seramai 140 pelajar daripada keseluruhan 214 pelajar Tahun Dua di Fakulti Pengurusan Teknologi telah menjadi responden kajian. Statistik deskriptif dan inferensi telah digunakan untuk menganalisis data kajian. Hasil kajian menunjukkan terdapat hubungan yang rendah antara tahap penggunaan e-pembelajaran dengan tahap kesediaan pembelajaran arahan kendiri pada aras signifikan 0.01. Secara keseluruhannya, tahap penggunaan e-pembelajaran di kalangan pelajar berada pada tahap sederhana manakala tahap kesediaan pembelajaran arahan kendiri berada pada tahap sederhana tinggi. Sementara itu, wujud perbezaan penggunaan e-pembelajaran yang signifikan berdasarkan program pengajian manakala tidak terdapat perbezaan penggunaan e-pembelajaran yang signifikan berdasarkan kepada perbezaan jantina. Kajian ini mengemukakan beberapa cadangan kepada UTHM untuk membantu meningkatkan tahap penggunaan e-pembelajaran dan tahap kesediaan pembelajaran arahan kendiri.
  8. 8. The purpose of this study was to determine relationship between self directed learning readiness and application of e-learning level among UTHM students from Faculty of Technology Management. This study also identifies the level of application of e-learning levels and self directed learning readiness using the Self- Directed Learning Readiness Scale from Gugliemino (1977). This study also identifies the difference of e-learning application based on gender and educational discipline. The research questionnaires were used to collect the data, from 140 respondents out of 214 populations of Year Two, Faculty of Technology Management. The result revealed that a low relations between self-directed learning readiness level and the application of e-learning (at significant level = 0.01). Generally, the level of e-learning application was moderate whereas the level of self- directed learning readiness was upper moderate. Meanwhile, there was no difference between the levels of e-learning usage based on gender but there was significant difference between the level of e-learning application based on educational discipline. This study also recommends a few suggestions to assist UTHM enhancing the application of e-learning level and self-directed learning readiness level among the UTHM students.
  9. 9. KANDUNGAN PENGAKUAN i DEDIKASI ii PENGHARGAAN iii ABSTRAK iv ABSTRACT v KANDUNGAN vi SENARAI JADUAL vii SENARAI RAJAH viii SENARAI SINGKATAN ix SENARAI LAMPIRAN x BAB I PENDAHULUAN 1.1 Pengenalan 1.2 Latar Belakang Masalah 1.3 Pernyataan Masalah 1.4 Persoalan Kajian 1.5 Matlamat Kajian 1.6 Objektif Kajian 1.7 Skop Kajian 1.8 Batasan Kajian 1.9 Kepentingan Kajian 1.10 Definisi Konseptual 1.10.1 Pembelajaran 1.10.2 E-Pembelajaran 1.10.3 Pembelajaran Arahan Kendiri 1.10.4 Kesediaan Pembelajaran Arahan Kendiri 1.11 Definisi Operasional 1.11.1 Pembelajaran
  10. 10. 1.11.2 E-Pembelajaran 1.11.3 Pembelajaran Arahan Kendiri 1.11.4 Kesediaan Pembelajaran Arahan Kendiri BAB II KAJIAN LITERATUR 14 2.1 Pengenalan 14 2.2 Teori dan Model Kajian 15 2.3 Teori Pembelajaran 15 2.3.1 Teori Tingkah Laku 16 2.3.2 Teori Kognitif 16 2.3.3 Teori Konstruktif 17 2.4 Pembelajaran Elektronik 21 2.4.1 Model E-Pembelajaran 21 2.4.1.1 Model Lima Fasa untuk pembelajaran Online Salmon 23 2.4.1.2 Model Persekitaran Pembelajaran Melalui Web 26 2.5 Teori dan Model Pembelajaran Arahan Kendiri 27 2.5.1 Model Pembelajaran Arahan Kendiri Berperingkat Grow 2.5.2 Model PRO Brockett dan Hiemstra 29 2.6 Kajian Lepas 31 2.6.1 Kajian Dalam Negara 31 2.6.2 Kajian Luar Negara 36 2.8 Model Kajian 40 BAB III METHODOLOGI KAJIAN 3.1 Pengenalan 42 3.2 Reka Bentuk Kajian 42
  11. 11. 3.3 Populasi dan Pensampelan 43 3.4 Kaedah Pengumpulan Data 44 3.4.1 Data Premier 44 3.4.1.1 Borang Soal Selidik 44 3.5 Pentadbiran Borang Soal Selidik 45 3.5.1 Maklumat latar Belakang Responden 45 3.5.2 Tahap Penggunaan Pelajar Terhadap Aplikasi E-Pembelajaran 45 (Blackboard dan UCiTV) 3.5.3 Skala Kesediaan Pembelajaran Arahan Kendiri 47 3.5.3.1 Carta Pemarkahan SDLRS 48 3.6 Kaedah Analisis Data 49 3.7 Kajian Rintis 51 BAB IV ANALISIS KAJIAN 4.1 Pengenalan 4.2 Latar Belakang Responden 4.2.1 Jantina dan Umur Responden 4.2.2 Keturunan Responden 4.2.3 Program Pengajian 4.3 Analisis Tahap Penggunaan E-Pembelajaran (Aplikasi Blackboard) di Kalangan Responden 4.4 Analisis Tahap Penggunaan E-Pembelajaran (Aplikasi UCiTV) di Kalangan Responden 4.5 Analisis Tahap Pembelajaran Arahan Kendiri di Kalangan Responden 4.6 Analisis Hubungan Antara Tahap Pembelajaran Arahan Kendiri dengan Tahap Penggunaan E-Pembelajaran 4.7 Analisis Penggunaan E-Pembelajaran di kalangan Responden Berdasarkan Pembezaan Jantina 4.8 Analisis Penggunaan E-Pembelajaran di kalangan Responden
  12. 12. Berdasarkan Pembezaan Kursus Pengajian 5.1 Pengenalan 5.2 Rumusan 5.2.1 Latar Belakang Responden 5.2.2 Objektif Kajian Pertama: Tahap Penggunaan Pelajar Terhadap E-Pembelajaran 5.2.3 Objektif Kajian Kedua: Tahap Kesediaan Pembelajaran Arahan Kendiri Pelajar 5.2.4 Objektif Kajian Ketiga: Hubungan Antara Tahap Penggunaan E-Pembelajaran dengan Tahap Kesediaan Pembelajaran Arahan Kendiri Pelajar 5.2.5 Objektif Kajian Keempat:Analisis Penggunaan E- Pembelajaran di kalangan Responden Berdasarkan Pembezaan Jantina dan Program Pengajian 5.3 Cadangan Kepada Pihak Organisasi 5.4 Cadangan Untuk Kajian Akan Datang 5.5 Kesimpulan RUJUKAN 52 LAMPIRAN 57
  13. 13. SENARAI JADUAL NO JADUAL PERKARA MUKA SURAT 2.1 Faktor-faktor Asas Pembentukan Skala Kesediaan Pembelajaran Arahan Kendiri 2.2 Model Pembelajaran Arahan Kendiri 29 Berperingkat Grow 3.1 Saiz Sampel Kajian 43 3.2 Instrumen Kajian 45 3.3 Skala Likert Lima Mata 46 3.4 Skala Likert SDLRS 3.5 Skor dan Tahap SDLRS 3.6 Nilai Skor dan Tahap SDLRS 3.7 Nilai Skor dan Tahap SDLRS 3.8 Pembahagian Tahap Min 46 3.9 Interpretasi Mengikut Saiz Pekali Korelasi 50 3.10 Analisis Reliabiliti
  14. 14. 4.1 Taburan Kekerapan Mengikut Jantina dan Umur 4.2 Taburan Kekerapan Mengikut Umur 4.3 Taburan Responden Mengikut Program Pengajian 4.4 Penggunaan e-Pembelajaran (Aplikasi Blackboard) 4.5 Penggunaan e-Pembelajaran (Aplikasi Blackboard) 4.6 Penggunaan e-Pembelajaran (Aplikasi Blackboard) 4.7 Penggunaan e-Pembelajaran (Aplikasi UCiTV) 4.8 Penggunaan e-Pembelajaran (Aplikasi UCiTV) 4.9 Persepsi Responden Terhadap Kesediaan Pembelajaran Arahan Kendiri 4.10 Persepsi Responden Terhadap Kesediaan Pembelajaran Arahan Kendiri 4.11 Persepsi Responden Terhadap Kesediaan Pembelajaran Arahan Kendiri 4.12 Hubungan antara Tahap Penggunaan e- Pembelajaran dengan Tahap Pembelajaran Arahan Kendiri
  15. 15. 4.13 Perbezaan Tahap Penggunaan e-Pembelajaran Berdasarkan Jantina 4.14 Perbezaan Tahap Penggunaan e-Pembelajaran Berdasarkan Program Pengajian
  16. 16. SENARAI RAJAH NO RAJAH PERKARA MUKA SURAT 2.1 Model Persekitaran Pembelajaran Melalui Web 24 2.2 Komponen Pembelajaran Arahan Kendiri 26 2.3 Model PRO Brockett dan Hiemstra 30 2.4 Model Kajian Hubungan antara Tahap 32 Kesediaan Pembelajaran Arahan Kendiri dengan Tahap Penggunaan e-Pembelajaran
  17. 17. SENARAI SINGKATAN AUKU - Akta Universiti dan Kolej Universiti BBS - Buletin Board System CBT - Computer-Based Training CD-ROM - Compact-Disc Read Only Memory CTL - Pusat Pengajaran dan Pembelajaran (CTL GPA - Ggred Point Average ICT - Information and Communication Technology ITTHO - Institut Teknologi Tun Hussein Onn KUiTTHO - Kolej Universiti Teknologi Tun Hussein Onn MPK - Modul Pengajaran Kendiri MSC - Multimedia Super Corridor PLSP - Pusat Latihan Staf Politeknik PRO - Personel Responsibility Orientation SDLRS - Self-Directed Learning Readiness Scale SSDL - Staged Self-Directed Learning UCiTV - TV interaktif Kampus Universiti UNITAR - Universiti Tun Abdul Razak UTHM - Universiti Tun Hussein Onn UTM - Universiti Teknologi Malaysia WBT - Web-Based Training
  18. 18. WWW - World Wide Web SPSS - Satistical Pakage for Social Science
  19. 19. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Pengenalan Dalam bahagian ini pengkaji membentangkan latar belakang masalah kajian serta pernyataan masalah kajian yang menyokong kajian pengkaji. Pengkaji telah mendapatkan maklumat mengenai latar belakang masalah dan pernyataan masalah melalui pembacaan dari sumber buku dan internet serta temu bual dengan Pengarah Pusat Pengajaran dan Pembelajaran Universiti Tun Hussein Onn (UTHM), Batu Pahat, Johor. Berdasarkan pernyataan masalah, pengkaji membangunkan persoalan kajian, matlamat kajian serta empat objektif utama kajian. Selain itu, pengkaji juga menghuraikan skop kajian, batasan kajian dan kepentingan kajian. Seterusnya, pengkaji menghuraikan konsep setiap definisi dan menghuraikan penggunaan definisi tersebut dalam kajian ini. 1.2 Latar Belakang Masalah Kepesatan perkembangan teknologi maklumat dewasa ini telah meyakinkan kita bahawa dunia kini sedang berubah menuju ke era maklumat menggantikan era industri. Dalam era ini, kecanggihan maklumat menjadikan dunia seakan-akan tidak
  20. 20. bersempadan dengan maklumat yang tidak terbatas. Kebolehan masyarakat menguasai maklumat dan teknologinya dijangka menjadi pemangkin utama kepada kemajuan dan pembangunan ekonomi sesebuah negara. (Md. Noh Main, 2000) World Wide Web (WWW) menyediakan peluang baru dalam pendidikan secara dalam talian. Keupayaannya menyokong grafik, teks dan bunyi sekali gus membolehkan maklumat disampaikan dengan berkesan. Pendidikan berasaskan dalam talian yang disalurkan melalui WWW melibatkan pelbagai kombinasi teknologi seperti internet, e-mel, Buletin Board System (BBS) dan Desktop Video Conferensing Morgan, Keegan dan Associate menganggarkan perbelanjaan dalam semua bentuk pembelajaran pada masa kini melebihi $750 bilion Amerika Syarikat dan $2 trilion di seluruh dunia, dengan pertumbuhan hasil untuk e-pembelajaran dijangka melebihi sektor-sektor lain dalam industri pendidikan. Institusi pendidikan dan sektor korporat telah mula mengiktiraf e-pembelajaran sebagai satu kuasa yang mampu mengubah prestasi, pengetahuan dan kemahiran. Pendidikan dan latihan bersedia untuk menjadi salah satu sektor terbesar dalam ekonomi dunia yang mana dianggarkan perbelanjaan global bagi pendidikan dan latihan melebihi $2 trilion, yang mana satu daripadanya adalah dari Amerika Utara, separuh adalah dari Eropah dan pasaran ekonomi yang membangun, manakala lima belas peratus adalah dalam dunia yang membangun (Mohd Koharudin, 2004). Kepimpinan Malaysia melihat arus perubahan dunia ini sebagi arus strategi untuk merealisasikan wawasan 2020 dan mencapai taraf negara maju. Negara dan rakyat tidak boleh hanya menonton dan mengikut arus perubahan ini, tetapi sebaliknya perlu mengambil peranan aktif menerajui perubahan ini. Satu langkah berani ke arah ini ialah pembangunan Koridor Raya Multimedia (MSC). Dengan MSC ini kerajaan menyediakan satu test bed bukan sahaja untuk membangun dan mencuba teknologi maklumat yang baru tetapi juga untuk mengalami bagaimana sebenarnya cara hidup dalam era maklumat. Komitmen kerajaan ini memerlukan anjakan paradigma seluruh lapisan masyarakat dari segi pemikiran dan cara hidup. Keperluan untuk mereka mengetahui, mengguna, dan membangunkan teknologi maklumat mestilah dirancang dan dilaksanakan seiring dengan pembangunan MSC.
  21. 21. Di Malaysia, Institusi Pengajian Tinggi Awam, Institut Pengajian Tinggi Swasta dan Kolej Swasta semuanya sedang berusaha untuk menggunakan e- pembelajaran sebagai teknik terkini untuk menyampaikan modul-modul mereka. Begitu juga syarikat-syarikat antarabangsa sudah mula menggunakan e-latihan bagi melatih pekerja mereka (Jaya Kumar, C. K. 2001). Pada tahun 1994, Kementerian mengumumkan bahawa semua universiti tempatan di Malaysia perlulah menawarkan kursus secara jarak jauh. Dalam Rancangan Malaysia Ketujuh, isu pendidikan jarak jauh telah menjadi agenda utama kerana ia bersifat kos efektif dan efisien. Selaras dengan itu, Universiti tempatan di Malaysia terutamanya Institusi Pengajian Tinggi Awam mengorak langkah awal dengan menawarkan program Sarjana Muda dan Diploma melalui kaedah jarak jauh ini. Selain itu, teknologi yang digunakan dalam menjalankan kursus ini ditingkatkan termasuk memperkenalkan sidang video, internet, perpustakaan maya dan video on demand. Bagi Institusi Pengajian Tinggi Swasta, Universiti Tengku Abdul Rahman (UNITAR) merupakan universiti pertama menjadi Universiti Maya (Virtual University) pada tahun 1998. UNITAR menawarkan perkhidmatan kurikulum dan pembelajaran secara dalam talian, termasuk sesi tutorial face-to-face, yang wajib dihadiri oleh pelajarnya (Mohd Koharudin, 2004). Sejarah UTHM bermula pada 16 September 1993 dengan penubuhan Pusat Latihan Staf Politeknik (PLSP), yang bertujuan melahirkan dan melatih tenaga pengajar yang berpengetahuan dan berkemahiran dalam pelbagai bidang kejuruteraan untuk sistem politeknik di negara ini. Pusat ini dikendalikan oleh Universiti Teknologi Malaysia (UTM) dengan kerjasama Kementerian Pendidikan Malaysia melalui memorandum persefahaman yang telah ditandatangani bersama pada 28 Jun 1993. Pada 12 April 1996, nama ditukar kepada Institut Teknologi Tun Hussein Onn (ITTHO). Selaras dengan sumbangan ITTHO dalam perkembangan berasaskan sains dan teknologi dalam negara, maka kabinet pada 27 September 2000 telah bersetuju menaik taraf ITTHO kepada sebuah Universiti yang dikenali sebagai Kolej
  22. 22. Universiti Teknologi Tun Hussein Onn (KUiTTHO) yang tertakluk di bawah Akta 30 Akta Universiti dan Kolej Universiti 1971 (AUKU). Pada 20 September 2006, Kabinet meluluskan pertukaran mana KUiTTHO kepada Universiti Tun Hussein Onn. 1.3 Pernyataan Masalah Seperti juga di lain-lain universiti di Malaysia, UTHM juga memperkenalkan sistem pembelajaran secara elektronik (e-pembelajaran) untuk menyokong pembelajaran secara kuliah. Pembangunan e-pembelajaran bermula dengan penubuhan Unit Pembangunan E-Pembelajaran pada tahun 2002. Unit ini diletakkan tanggungjawab di bawah Pusat Pengajaran dan Pembelajaran (CTL). Bermula dari mulanya penubuhan unit ini, banyak pelaburan dicurahkan untuk pembangunan e- pembelajaran yang interaktif. Dianggarkan sebanyak RM4 juta peruntukan telah disediakan di antara tahun 2002 hingga 2008 bagi pembangunan dan penambahbaikan sistem e-pembelajaran di UTHM. Unit ini bertanggungjawab membangun dan menyelenggara sistem e- pembelajaran universiti yang dikenali sebagai aplikasi Blackbaord dan aplikasi TV Interaktif Kampus Universiti (UCiTV). Melalui aplikasi Blackboard, semua pelajar akan mendapatkan ringkasan pembelajaran nota dari Blackboard yang boleh dicapai dari dalam dan di luar kampus. Selain itu, pelajar juga boleh menggunakan aplikasi lain yang disediakan melalui aplikasi Blackboard iaitu berinteraksi secara online, menghantar e-mel, berkenalan dan sebagainya. Terdapat juga modul pembelajaran yang disediakan secara online. Modul tersebut merupakan sukatan pelajaran yang disediakan oleh pensyarah-pensyarah untuk satu-satu mata pelajaran. Di sini, modul tersebut disediakan secara interaktif iaitu terdapat gambar yang bergerak bagi memudahkan kefahaman pelajar. Modul ini disediakan oleh pensyarah dengan bantuan staf e-pembelajaran.
  23. 23. Selain itu, unit ini juga memperkenalkan aplikasi UCiTV iaitu interaktif TV yang mana pelajar boleh melihat siaran televisyen tempatan melalui alikasi UCiTV. Aplikasi UCiTV merupakan aplikasi yang pertama digunakan di Institut Pengajian Tinggi Awam di Malaysia. Dengan kelajuan 100mps per saat, pelajar tidak menghadapi masalah untuk melihat streaming televisyen tanpa gangguan. Selain itu, aplikasi UCiTV juga menyediakan video pembelajaran yang diambil dari siaran Astro. Jadi pelajar boleh melihat video yang berkaitan dengan pembelajaran mereka. Selain itu, pasukan UCiTV menyediakan perkhidmatan merakam sesi kuliah pensyarah. Selepas itu, pelajar boleh melihat semula rakaman tersebut untuk membuat ulang kaji. Untuk memudahkan pelajar mencapai internet secara percuma bagi melayari laman web e-pembelajaran, kabel Wifi dipasang di seluruh kampus universiti dan juga di blok kediaman. Pensyarah dibekalkan komputer riba untuk memudahkan mereka mencapai internet bagi menggalakkan mereka melayari laman web e- pembelajaran di pelbagai lokasi di dalam kampus UTHM. Pelajar pula digalakkan menggunakan e-pembelajaran secara menyeluruh dan berterusan. Semua silabus mata pelajaran, nota-nota kuliah, nota-nota tutorial, kertas ulang kaji pelajaran dan lain-lain dokumen yang berkaitan dengan pembelajaran atau tidak berkaitan dengan pelajaran hanya disediakan melalui laman web e-pembelajaran. oleh yang demikian, mereka terpaksa melayari laman web e-pembelajaran untuk mendapatkan bahan- bahan tersebut dengan memuat turun melalui laman web tersebut. Selain itu, markah ujian juga hanya boleh diketahui dan dilihat melalui laman web e-pembelajaran. untuk memastikan semua pelajar menggunakan laman web ini, sistem kuiz melalui talian juga diperkenalkan. Oleh yang demikian, pelajar terpaksa melayari laman web e-pembelajaran bagi menjawab setiap kuiz yang diberikan oleh pensyarah. Dengan pelaburan yang tinggi dibelanjakan oleh UTHM untuk membangunkan dan penambahbaikan sistem e-pembelajaran, maka UTHM perlu memastikan bahawa penggunaan aplikasi e-pembelajaran perlu menyeluruh di kalangan pelajar. Pengukuran tahap kesediaan pelajar untuk belajar melalui e- pembelajaran adalah perlu bagi memastikan semua kemudahan digunakan oleh pelajar. Perbezaan pendekatan pembelajaran antara pembelajaran bersemuka dan pembelajaran secara elektronik dilihat boleh mempengaruhi pelajar dalam
  24. 24. penggunaan e-pembelajaran. Mereka perlu bersedia mengadaptasikan pembelajaran yang tidak dikawal oleh pensyarah secara terus agar mereka boleh mengoptimumkan setiap aplikasi yang disediakan dalam sistem e-pembelajaran. Untuk menjamin kejayaan e-pembelajaran, pelajar juga perlu bersedia untuk mengikuti pembelajaran secara lebih bebas, mendisiplinkan diri serta bermotivasi untuk belajar secara kendiri. Perbezaan jantina dan program pengajian juga dilihat boleh mempengaruhi tahap penggunaan e-pembelajaran. Oleh itu, berdasarkan kepada dasar kajian, terdapat persoalan timbul iaitu adakah terdapat hubungan antara kesediaan pembelajaran arahan kendiri dengan tahap penggunaan e-pembelajaran, apakah tahap penggunaan e-pembelajaran dan tahap kesediaan pembelajaran arahan kendiri serta adakah perbezaan tahap penggunaan e-pembelajaran dari aspek jantina dan program pengajian. 1.4 Persoalan Kajian Terdapat empat persoalan utama kajian ini iaitu: 1. Apakah tahap kesediaan pembelajaran arahan kendiri di kalangan pelajar UTHM? 2. Apakah tahap penggunaan e-pembelajaran di kalangan pelajar UTHM? 3. Adakah terdapat hubungan di antara tahap kesediaan pembelajaran pengarahan kendiri dengan tahap penggunaan e-pembelajaran di kalangan pelajar UTHM? 4. Adakah terdapat perbezaan tahap penggunaan e-pembelajaran di kalangan pelajar dari aspek demografi iaitu jantina dan program pengajian?
  25. 25. 1.5 Matlamat Kajian Matlamat kajian adalah untuk melihat tahap kesediaan pembelajaran arahan kendiri dan tahap penggunaan e-pembelajaran di kalangan pelajar. Kajian ini juga untuk melihat kekuatan hubungan antara tahap kesediaan pembelajaran arahan kendiri dengan tahap penggunaan e-pembelajaran atau tidak. Selain itu, kajian ini juga ingin melihat perbezaan tahap penggunaan e-pembelajaran dari aspek demografi di kalangan pelajar iaitu dari aspek perbezaan jantina dan program pengajian. 1.6 Objektif Kajian 1. Mengenal pasti tahap kesediaan pembelajaran arahan kendiri di kalangan pelajar. 2. Mengenal pasti tahap penggunaan e-pembelajaran di kalangan pelajar. 3. Mengenal pasti hubungan antara tahap kesediaan pembelajaran arahan kendiri dengan tahap penggunaan e-pembelajaran di kalangan pelajar. 4. Untuk melihat perbezaan tahap penggunaan e-pembelajaran di kalangan pelajar dari aspek demografi iaitu jantina dan program pengajian. 1.7 Skop Kajian Dalam bahagian ini, pengkaji menghuraikan fokus bagi penyelidikan ini. Kajian ini dijalankan bertujuan untuk mengkaji hubungan antara tahap kesediaan pembelajaran arahan kendiri dan tahap penggunaan e-pembelajaran di UTHM serta melihat perbezaan penggunaan e-pembelajaran dari aspek demografi pelajar iaitu jantina dan program pengajian. Selain itu, kajian ini untuk melihat tahap penggunaan e-pembelajaran dan tahap kesediaan pembelajaran arahan kendiri di kalangan pelajar. E-pembelajaran yang dimaksudkan di sini adalah aplikasi Blackboard dan UCiTV yang diguna pakai oleh UTHM untuk pelajar mereka. Tahap kesediaan pembelajaran arahan kendiri pula adalah keadaan di mana pelajar mempunyai kesediaan untuk
  26. 26. belajar tanpa kawalan oleh pensyarah. Pengkaji telah membina elemen kesediaan pembelajaran arahan kendiri berdasarkan kajian yang telah dijalankan oleh Mohd Azhar Hamid pada tahun 2004 iaitu berdasarkan 30 item soalan positif daripada keseluruhan 58 item soalan yang dicadangkan oleh Guglielmino. Kajian yang dijalankan hanya tertumpu kepada pelajar tahun dua di Fakulti Pengurusan Teknologi di UTHM. 1.8 Batasan Kajian Berikut dihuraikan beberapa perkara yang menjadi batasan dalam kajian ini. Batasan ini penting bagi menjamin kualiti hasil yang diperoleh, menggunakan hasil kajian di tempat yang betul dan sesuai, dan menggunakannya pada masa yang sesuai. Oleh yang demikian, batasan kajian adalah seperti berikut: 1. Sebarang hasil penemuan kajian ini adalah terbatas kepada pelajar di Fakulti Pengurusan Teknologi UTHM sahaja. Ini kerana pengkaji hanya membuat kajian tinjauan ke atas pelajar dari fakulti Pengurusan Teknologi sahaja. Di samping itu, kajian ini tidak boleh digeneralisasikan kepada pelajar di universiti lain kerana hanya pelajar di UTHM menggunakan e-pembelajaran dalam dua bentuk aplikasi iaitu aplikasi Blackboard dan aplikasi UCiTV yang berbeza dengan universiti lain. Oleh yang demikian, hasil penemuan tidak mewakili aspek pelajar fakulti lain di UTHM dan di lain-lain IPTA iaitu IPTS di Malaysia atau di negara lain. 2. E-pembelajaran dalam kajian ini adalah merujuk kepada dua aplikasi berbeza iaitu aplikasi Blackboard dan aplikasi UCiTV. Media elektronik lain seperti pita video atau audio, CD-ROM dan sebagainya tidak termasuk dalam skop kajian ini.
  27. 27. 3. Kajian berasaskan andaian bahawa bahan yang disediakan untuk e- pembelajaran tidak mempunyai sebarang masalah. Oleh itu, ia sentiasa sedia untuk dicapai oleh pelajar. 1.9 Kepentingan Kajian Kajian ini dijalankan bukan sekadar untuk menjawab persoalan kajian yang telah dikemukakan, tetapi hasil yang diperolehi adalah penting untuk penambahbaikan aplikasi dalam e-pembelajaran untuk membolehkan pelajar memperoleh manfaat semasa menggunakannya. Penambahbaikan yang dilakukan berdasarkan kajian ini diharap membolehkan pelajar dapat mengoptimumkan penggunaan laman web e-pembelajaran yang dilihat sebagai sokongan kepada kaedah pembelajaran secara kuliah. Dengan mengetahui tahap penggunaan terhadap aplikasi-aplikasi tertentu, maka pihak yang UTHM dapat memperbaiki mutu kandungan dan kegunaan setiap aplikasi tersebut agar pelajar boleh mendapatkan manfaat daripadanya sekali gus menarik minat pelajar untuk menggunakannya. Sesuai dengan pendekatan universiti yang menekankan kepada amalan pembelajaran arahan kendiri, pihak UTHM dapat mengenal pasti hubungan antara kesediaan pelajar untuk belajar mengikut kemahuan mereka dan penggunaan pelajar terhadap e-pembelajaran. Dengan itu, pihak UTHM boleh merangka strategi yang sesuai dengan kesediaan pelajar untuk belajar bagi mengoptimumkan penggunaan e- pembelajaran di kalangan pelajar. Kajian literatur yang komprehensif tentang e-pembelajaran dapat memberi maklumat kepada UTHM tentang kaedah pelaksanaan e-pembelajaran mengikut teori yang betul dan juga boleh dijadikan panduan untuk penambahbaikan selaras dengan perkembangan teknologi komunikasi semasa yang cepat berubah. Justeru itu, kajian ini amat berguna kepada pembangun-pembangun laman web e-pembelajaran di universiti lain dan institusi yang menggunakan pendekatan –pembelajaran di tempat mereka sebagai panduan untuk membangun dan menambahbaikkan sistem e- pembelajaran di tempat masing-masing.
  28. 28. Selain memberi manfaat kepada UTHM, kajian ini juga dapat menyumbang kepada perkembangan ilmu pengetahuan secara menyeluruh. Kajian ini boleh digunakan oleh pengkaji-pengkaji di masa hadapan sebagai rujukan mereka untuk membuat kajian yang berkaitan dengan e-pembelajaran. Memandangkan pendekatan e-pembelajaran masih baru di negara kita, maka kajian ini diperlukan bagi menyokong pelaksanaan e-pembelajaran di IPT mahupun di organisasi lain di Malaysia. Selaras dengan perkembangan teknologi komunikasi dan maklumat (ICT) yang pesat dan pantas, maka penemuan dalam kajian ini dapat membantu dalam memperkembangkan lagi industri ICT ke tahap yang lebih tinggi selaras dengan perubahan masa. 1.10 Definisi Konseptual Dalam bahagian ini pengkaji mengemukakan definisi konseptual beberapa elemen penting menurut pelbagai tokoh dan para penyelidik. Pengkaji mengemukakan definisi konseptual bagi pembelajaran, e-pembelajaran, pembelajaran arahan kendiri dan kesediaan pembelajaran arahan kendiri yang mempunyai kaitan secara langsung dengan kajian yang dijalankan. Definisi yang dikemukakan dalam bahagian ini adalah berguna sebagai panduan dan rujukan khususnya bagi menjelaskan konsep yang dikaji oleh pengkaji. 1.10.1 Pembelajaran Menurut Jaafar (2001), pembelajaran adalah satu proses perubahan kepada kelakuan tetap yang disebabkan oleh amalan dan pengalaman yang berguna. Pembelajaran merujuk pada pengalaman dan amalan yang bermanfaat yang dimaksudkan adalah seperti sembahyang, makan, bercakap bermain dan sebagainya yang diajar dan diperhatikan oleh orang lain dan kemudian diikuti oleh seorang yang lain hingga amalan tersebut menjadi tetap. Tetapi jika amalan tersebut dilakukan
  29. 29. secara bersahaja atau suka-suka, maka kelakuan tersebut tidak bertahan lama dan terus hilang. Menurut Abu Hassan Kassim et al. (2001), pembelajaran adalah aktiviti yang perlu untuk kehidupan. Pembelajaran berlaku apabila seseorang menerima sesuatu yang baru, atau mengubahsuai pola tingkah laku yang mempunyai pengaruh terhadap sikap atau pencapaian akan datang Meng (1997) mendefinisikan pembelajaran sebagai proses pengubahan tingkah laku yang agak lama tetapi tetap berlaku kerana pengalaman atau latihan yang diteguhkan Menurut Rahil Mahyuddin (2002) pula, pembelajaran merupakan tingkah laku yang melibatkan keterampilan kognitif iaitu penguasaan ilmu dan perkembangan kemahiran intelek. 1.10.2 E-pembelajaran E-pembelajaran secara umumnya dikenali sebagai pembelajaran berpusatkan pelajar yang disokong oleh penggunaan teknologi maklumat, komunikasi dan multimedia. Holmes et al. (2006) mendefinisikan e-pembelajaran sebagai ‘capaian dalam talian (online) untuk sumber pembelajaran, di mana sahaja dan setiap masa’. Ia melibatkan penggunaan teknologi yang baru dan internet untuk meningkatkan kualiti pembelajaran dengan memudahkan untuk mendapatkan sumber dan perkhidmatan dan juga remote exchange dan kerjasama. Horton (2006) mendefinisikan e-pembelajaran sebagai penggunaan maklumat dan teknologi komputer untuk membina pengalaman pembelajaran. Menurutnya lagi, e-pembelajaran boleh terjadi pada banyak perkara. Antaranya ialah dalam kursus lengkap kursus Lengkap (Standalone Cources), kursus bilik darjah maya (virtual-
  30. 30. classroom cources, simulasi dan permainan pembelajaran (Learning game and simulation), pengukuhan pembelajaran (Embedded e-Learning, Pembelajaran bercampur (blended learning), Pembelajaran secara telefon (mobile learning), pengurusan pengetahuan (knoweledge management) 1.10.3 Pembelajaran Arahan Kendiri Menurut Knowles (1975), pembelajaran arahan kendiri adalah merujuk kepada satu proses di mana individu mengambil inisiatif, sama ada dengan bantuan orang lain atau tidak, untuk mengenal pasti keperluan pembelajaran mereka sendiri, membentuk matlamat pembelajaran, mengenal pasti sumber bahan mentah dan sumber manusia bagi pembelajaran, memilih dan mengimplementasikan strategi pembelajaran yang sesuai dan menilai hasil pembelajaran mereka. Menurut Candy (1991), pembelajaran arahan kendiri dianggap sebagai salah satu kaedah yang kuasa di mana orang dewasa bertanggungjawab terhadap pembelajaran mereka sepanjang kehidupan mereka sendiri. Piskurich, (1993) mendefinisikan pembelajaran arahan kendiri kepada enam perspektif lapangan yang berbeza. Perspektif tersebut adalah menerangkan pembelajaran arahan kendiri sebagai latihan (training), pembelajaran kontrak (contract learning), pakej pengarahan kendiri (self-instructional packages), pengajaran individu (individual instruction), pengajaran audiotutorial (audiotutorial instruction), pengajaran audiotutorial (audiotutorial instruction) dan pengajaran jarak jauh (dinstance instruction). Hiemstra (1994) menjelaskan bahawa beberapa perkara yang perlu diketahui tentang pembelajaran arahan kendiri. Antaranya pelajar perlu yakin dalam membuat sesuatu keputusan berdasarkan pengalaman mereka untuk memastikan ia menjadi lebih menarik. Pelajar mampu memindahkan pembelajaran dalam bentuk pengetahuan dan kemahiran belajar sama ada dalam bentuk formal atau tidak formal. Selain itu, mereka boleh melibatkan berbagai-bagai-bagai aktiviti dan sumber untuk
  31. 31. memastikan ia lebih menarik. Pengajar juga memainkan peranan dalam membentuk suasana pembelajaran berasaskan kepada arahan kendiri. Institusi pembelajaran perlu menyokong pembelajaran arahan kendiri dengan menyediakan program pembelajaran terbuka, pembelajaran berseorangan dal lain-lain program yang berkaitan. 1.10.4 Kesediaan Pembelajaran Arahan Kendiri Menurut Konwles (1975), kesediaan untuk belajar merujuk kepada tempoh masa yang boleh diajar dan menggariskan satu senarai tugas sepanjang hayat bagi pelajar muda, tua, dan berumur sederhana. Menurut Brockett et al. (1991) pula, kesediaan pembelajaran arahan kendiri adalah tahap yang mana individu melihat diri mereka mempunyai kemahiran dan sikap yang sering berkait dengan arahan kendiri dalam pembelajaran. 1.11 Definisi Operasional Dalam bahagian ini pengkaji mengemukakan definisi yang diguna pakai dalam kajian ini. Terdapat beberapa definisi penting berkaitan dengan kajian ini akan dinyatakan bagi tujuan memberi penjelasan lebih tepat penggunaan beberapa istilah penting berdasarkan kepada keperluan dan kehendak pengkaji bagi mencapai matlamat dan objektif kajian.
  32. 32. 1.11.1 Pembelajaran Pembelajaran yang dilihat dari perspektif kajian ini adalah semua faedah yang dipelajari hasil dari penggunaan laman web e-pembelajaran aplikasi Blackboard dan UCiTV. 1.11.2 E- pembelajaran Dalam kajian ini, e-pembelajaran yang dikaji adalah sistem aplikasi internet yang dikenali sebagai Blackboard dan UCiTV yang digunakan oleh pelajar di UTHM. Pelajar boleh memuat turun nota kuliah dari pelayan e-pembelajaran UTHM pada setiap minggu di mana nota tersebut akan dibaca oleh pelajar sebelum mengikuti kuliah. Selain aplikasi tersebut, pelajar juga boleh berhubung dengan pensyarah melalui e-mel, menjawab ujian di dalam talian, berbincang melalui aplikasi ‘Chat’ dan sebagainya. UCiTV membolehkan pelajar menonton rakaman video secara streaming melalui sistem e-pembelajaran. Menu-menu utama dalam aplikasi Blackboard adalah My Announcement, My Calendar, Course Information, Cource Document, Assigment, Communication/Send e-mail, Discussion Board, Add Forum, dan External Link. Menu-menu utama dalam aplikasi UViTV pula adalah Search Media, Life Broadcast, Video on Demand dan E-Learning on Demand (eOS). 1.11.3 Pembelajaran Arahan Kendiri Dalam konteks kajian ini, pembelajaran arahan kendiri merujuk kepada pembelajaran kendiri oleh pelajar tanpa bergantung kepada arahan atau kawalan pensyarah mereka. Konsep pembelajaran ini meliputi pembelajaran mereka di luar bilik darjah hasil daripada pengetahuan yang diperolehi sama ada secara langsung atau tidak langsung.
  33. 33. 1.11.4 Kesediaan Pembelajaran Arahan Kendiri Bagi tujuan kajian ini, kesediaan merujuk kesediaan pelajar untuk belajar tanpa kawalan dan arahan secara langsung. Mereka mempunyai kesediaan tau keinginan untuk belajar melalui pengarahan kendiri masing-masing. Kesediaan ini diukur melalui borang yang telah diringkaskan oleh Mohd Azhar Hamid (2004) yang diambil dari Guegleilmino (1977). Bilangan soalan yang digunakan adalah 30 soalan positif berbeza dengan bilangan soalan yang dibangunkan oleh Guegleilmino iaitu 58 soalan.
  34. 34. BAB II KAJIAN LITERATUR 2.7 Pengenalan Dalam bahagian ini pengkaji membentangkan hasil dapatan bagi latar belakang teori yang bersesuaian, model-model dan kajian–kajian lepas yang telah dilakukan oleh pihak yang telah menjalankan kajian berkaitan dengan e- pembelajaran. Ini adalah untuk menyokong kajian pengkaji dan untuk mengelakkan sebarang kajian yang tidak di jangka di masa hadapan 2.8 Teori dan Model Kajian Dalam kajian ini, pengkaji memfokuskan kepada hubungan teori pembelajaran, teori motivasi dan teori e-pembelajaran dan teori pembelajaran arahan kendiri yang menjadi asas kepada pembelajaran yang ditekankan dalam kajian ini dapat difahami secara mendalam dan menyeluruh.
  35. 35. 2.9 Teori Pembelajaran Menurut Jaafar (2001), pembelajaran adalah satu proses perubahan kepada kelakuan yang disebabkan oleh amalan dan pengalaman yang kekal. Dalam konteks ini pengalaman dan amalan yang bermanfaat yang dimaksudkan adalah seperti sembahyang, makan, bercakap bermain dan sebagainya yang diajar dan diperhatikan oleh seseorang dan kemudian diikuti oleh seorang yang lain hingga amalan tersebut menjadi tetap. Tetapi jika amalan tersebut dilakukan secara bersahaja atau suka-suka, maka kelakuan tersebut tidak bertahan lama dan terus hilang. Pada asasnya, teori pembelajaran mempunyai perkaitan antara e- pembelajaran kerana e-pembelajaran di sokong oleh teori-teori pembelajaran tertentu. Menurut Holmes et al. (2006), terdapat tiga teori pembelajaran utama yang menyokong e-pembelajaran. Teori pembelajaran tersebut adalah teori pembelajaran tingkah laku, teori pembelajaran kognitif dan teori pembelajaran konstruktif. Huraian secara ringkas mengenai teori-teori pembelajaran adalah seperti di bawah. 2.9.1 Teori Tingkah Laku Teori behaviourisme atau dikenali sebagai teori tingkah laku atau rangsangan mula diperkenalkan oleh Ivan Pavlov, seorang pakar psikologi dari Rusia dan disokong oleh Burrhus Frederic Skinner, Edward Lee Thorndike dan ohn Broadus Watson. Teori tingkah laku menyatakan bahawa pembelajaran berlaku apabila pelajar memperlihatkan tingkah laku secara konsisten seperti yang diingini iaitu pelajar memberi maklum balas terhadap peristiwa yang dirangka. Teori ini juga menggalakkan pembelajaran melalui galakan dan rangsangan. Teori ini menyatakan bahawa terdapat perkaitan antara rangsangan dan tindak balas. Apabila wujud kaitan antara keduanya, maka pembelajaran akan berlaku. Secara amnya, teori ini percaya bahawa persekitaran yang menggalakkan pembelajaran bukannya pemikiran, iaitu punca dorongan pembelajaran adalah dari luar bagi individu itu.
  36. 36. 2.9.2 Teori Kognitif Teori kognitif dibangunkan oleh Jean Piaget, Jerome Bruner dan Lev Vygostky. Teori ini menyatakan pembelajaran bergantung kepada persepsi, proses pemikiran dan penaakulan. Tokoh kognitif cuba memahami proses mental, pemikiran, pembentukan konsep dan perolehan pengetahuan. Teori ini percaya bahawa pemikiran dan persepsi mempengaruhi pembelajaran yang dijalankan. Pembelajaran kognitif kebanyakan berlaku dalam bilik darjah. Pelatih diajar dengan konsep dan teori bagi suatu perkara tanpa pengalaman untuk dimanfaatkan. Apa yang penting dalam proses ini adalah menekankan kesedaran dan mengetahui bagaimana sesuatu objek atau peristiwa itu berlaku dan bagaimana hubung kait dengan akibah. Dari segi kecekapan atau sejauh mana kebolehan dan prestasi seseorang itu adalah perkara kedua kerana perkara sedemikian boleh diajar jika seseorang itu sudah bersedia. 2.9.3 Teori Konstruktif Konstruktif adalah falsafah pembelajaran yang mempunyai tanggapan bahawa pembelajaran adalah berdasarkan kepada tindak balas terhadap pengalaman seseorang, kemudian seseorang tersebut membentuk pemahaman berdasarkan kepada pengalaman dalam hidupnya. Setiap orang akan menghasilkan ‘rule’ dan ‘mental model’ mereka sendiri berdasarkan kepada pengalaman tersebut. Oleh sebab itu, pembelajaran adalah proses yang mudah untuk mengubah mental model seseorang untuk disesuaikan dengan pengalaman baru 2.10 Pembelajaran Elektronik Pembelajaran elektronik merupakan kombinasi antara elemen pendidikan dan teknologi elektronik. Kaedah ini membolehkan individu mengikuti sesi pembelajaran
  37. 37. secara lebih terbuka dan bebas berdasarkan keinginan dan keupayaan sendiri tanpa perlu mengikuti jadual atau menghadiri kelas yang ditetapkan. Menurut Broadbent, B. (2002), terdapat empat jenis e-pembelajaran iaitu pembelajaran tidak formal (informal-learning), self-paced, leader lead dan performance support tool. Dalam pembelajaran tidak formal, pelajar mencapai laman web atau fokus kepada komuniti dalam talian dan mencari maklumat yang berkaitan. Jenis e- pembelajaran ini adalah bukan berbentuk latihan kerana tidak ada strategi pengajaran formal daripada persembahan bahan, latihan (exercise) dan maklum balas. Self-paced merujuk kepada proses di mana pelajar menentukan keupayaan mereka dalam proses pembelajaran, atau memerlukan bantuan daripada pakar untuk membangunkan kursus latihan yang sesuai untuknya. Self-paced dilihat sebagai kaedah pembelajaran formal kerana kursus dan bahan-bahan pengajaran direka bentuk oleh pakar latihan. Dalam e-pembelajaran, konsep self-paced digunakan untuk melibatkan orang ramai dengan latihan berasaskan web (WBT). Oleh sebab WBT mempunyai had tertentu untuk pemindahan data dan penyimpanan fail yang besar, maka ia akan dibantu oleh komputer berasaskan latihan (CBT). Leader-led e-learning merujuk kepada kursus atau modul yang diajar oleh pengajar secara dalam talian. Terdapat dua jenis leader-led e-learning. Pertama; pelajar capai bahan sebenar melalui sidang video atau audio, atau teks mesej, dan yang kedua; pelajar mencapai bahan yang sedia ada melalui perbincangan atau streaming audio atau video. Performance support tool merujuk kepada perisian yang digunakan dalam e- pembelajaran berasaskan konsep yang mudah, ia adalah sebagai sokongan kepada talian untuk membantu menyelesaikan sesuatu tugas. Sebagai contoh, bila menggunakan sesuatu perisian, maka performance support tool akan membantu kita setiap masa. Dalam kes ini, ia membantu pelajar dalam mengendalikan atau menggunakan sistem e-pembelajaran dengan lebih berkesan.
  38. 38. Nichols, M. (2003) telah menyatakan terdapat 10 prinsip e-pembelajaran. Prinsip tersebut adalah: 1. E-pembelajaran adalah pelaksanaan pembelajaran yang boleh diaplikasikan bersama pelbagai model pendidikan dan falsafah pendidikan. 2. E-pembelajaran mempunyai satu bentuk pendidikan yang unik yang dapat digunakan di dalam paradigma bersemuka dan jarak jauh. 3. Pilihan dalam teknologi e-pembelajaran boleh memberi tindak balas yang lebih baik di dalam pedagogi; bagaimana teknologi yang digunakan lebih penting daripada teknologi yang mana digunakan. 4. E-pembelajaran mempunyai kelebihan yang utama dengan kejayaan pelaksanaan inovasi pedagogi. 5. E-pembelajaran boleh digunakan di dalam dua cara iaitu penyampaian isi kandungan pembelajaran dan proses kemudahan pembelajaran 6. E-pembelajaran dibina dengan sebaik mungkin untuk dioperasikan atau digunakan bersama model reka bentuk kursus pilihan secara optimum. 7. Teknik dan peralatan e-pembelajaran hanya perlu digunakan apabila pertimbangan telah diambil kira kepada sistem talian terus (online) atau tertutup (offline) 8. Latihan e-pembelajaran yang efektif dan berkesan memberi peluang kepada pengguna akhir (end-users) untuk mengambil peluang pembelajaran yang diberikan atau dibekalkan kepada mereka. 9. Matlamat atau sasaran keseluruhan pendidikan yang dibangunkan oleh pengajar di dalam konteks kokurikulum atau objektif pembelajaran tidak akan berubah apabila e-pembelajaran dilaksanakan di dalam pembelajaran 10. Hanya kelebihan di dalam pedagogi akan memberi kesan yang rasional kepada pendekatan pelaksanaan e-pembelajaran 2.10.1 Model E- Pembelajaran Pengkaji mengemukakan dua model kajian e-pembelajaran yang telah dibangunkan oleh pengkaji terdahulu. Model tersebut adalah Model Lima Fasa untuk
  39. 39. Pembelajaran dalam Talian Salmon dan Model Persekitaran Pembelajaran Melalui Web. 2.10.1.1 Model Lima Fasa untuk Pembelajaran dalam Talian Salmon Pembelajaran dalam talian memerlukan strategi dan kemahiran yang berbeza daripada pembelajaran tradisional. Pelajar perlu memainkan peranan yang lebih aktif tidak hanya terhadap pembelajaran mereka tetapi terhadap kursus tersebut. Pembimbing juga memainkan peranan yang berbeza, iaitu membimbing pelajar dalam menggunakan pembelajaran secara dalam talian. Salmon, G. (2000) telah mengenal pasti lima tahap pencapaian peserta sepanjang pengalamannya ke atas pembelajaran dalam talian. Setiap tahap memerlukan peserta yang berbeza dan memerlukan sokongan yang berbeza daripada pengajar. Pengetahuan diperlukan untuk membantu pengajar dan pereka bentuk. Tahap tersebut adalah access and motivation, online socialization, information exchange, knowledge construction, dan construction. 1. Tingkat pertama, peserta akan bermula dengan kursus melalui dalam talian. Ia adalah termasuk mempunyai komputer dan sambungan internet, serta mencapai laman web kursus tersebut. Jikalau seseorang telah mempunyai kemahiran dalam internet, mereka adan dapat capai dengan mudah dan senang. Jikalau tidak, kemungkinan mereka mempunyai masalah seperti pemasangan perkakasan, pemasangan perisian atau hilang kunci kata. Ketikan ini, adalah penting bagi e-moderator untuk sentiasa berhubung dengan pengunjung tingkat ini berakhir dengan e-moderator menghantar mesej yang pertama. 2. Tingkat kedua, peserta akan berinteraksi dengan orang lain sesama mereka, membentuk budaya komunikasi melalui talian, membentuk kumpulan- kumpulan tertentu di kalangan peserta. Peserta yang enggan turut sama dalam perbincangan ini akan tunggu dan lihat apa yang akan berlaku.
  40. 40. Penting bagi e-moderator mendorong kumpulan tersebut berinteraksi di kalangan mereka. E-moderator perlu memainkan peranan penting dalam mengekalkan suasana perbincangan berterusan dan memberi kebebasan dalam memberikan pendapat. 3. Tingkat ketiga, peserta akan mendapatkan maklumat daripada kursus tersebut dan bertukar-tukar maklumat dengan rakan mereka dalam bilik perbincangan. Interaksi tersebut berdasarkan kepada maklumat yang atau isu yang di sediakan oleh e-moderator. peserta senang mendapatkan maklumat dan bergembira dengan maklumat tersebut. Untuk mengelakkan lebihan maklumat, peserta menggunakan pendekatan tertentu untuk mengatasi kekeliruan maklumat yang berlaku dalam tingkat ini. E-moderator akan memudahkan aktiviti menggunakan strategi pembelajaran yang melibatkan perancangan yang rapi. 4. Tingkat ke empat, peserta mula berinteraksi dengan membina pengetahuan mereka berdasarkan maklumat yang diterima. Mereka berkongsi pengetahuan dan pendapat, mengkritik dan memberikan pandangan yang berguna untuk menjadikan kandungan kursus tersebut lebih baik. peserta berperanan menyelesaikan masalah sendiri berkaitan dengan topik yang dibincangkan dan menyediakan penyelesaian yang mungkin bagi masalah yang tiada jawapan yang tepat. Peranan e-moderator adalah hanyalah memastikan perjalanan perbincangan tersebut lancar. E-moderator boleh membantu peserta melalui simulasi, memberi pandangan dan bersama-sama dalam perbincangan tersebut. 5. Tingkat kelima, peserta akhirnya bertanggungjawab terhadap pembelajaran mereka menggunakan talian sebagai medium pembelajaran. Menggunakan pendekatan konstruktif, peserta menggunakan pengalaman peribadi untuk menjadikan proses pembelajaran melalui talian ini lebih menarik dan mencabar. e-moderator tidak perlu terlibat secara aktif lagi dalam proses ini, hanya perlu menyokong dan memberi maklum balas dan nasihat kepada peserta sahaja.
  41. 41. 2.10.1.2 Model Persekitaran Pembelajaran Melalui Web Model ini dicadangkan oleh Noraffandy Yahaya dan Wan Salihin Wong (1999) bagi menentukan ciri-ciri pembelajaran yang berkesan. Beberapa pendekatan perlu menghasilkan persekitaran pembelajaran yang berkesan iaitu penglibatan pelajar yang aktif dalam persekitaran pembelajaran melalui web, kolaborasi, interaktif dan penerokaan. Terdapat empat komponen utama dalam model ini iaitu penglibatan pelajar secara aktif, mewujudkan persekitaran pembelajaran kolaborasi antara pelajar dalam proses pembelajaran, melibatkan pelajar dalam penerokaan sumber maklumat dalam persekitaran pembelajaran maya dan interaktif. Rajah 2.1 menunjukkan model Persekitaran Pembelajaran Melalui Web. Aktif e-mail, perbincangan maya, pencarian maklumat e-mail, e-mail, perbincangan perbincangan Kolabrasi Pelajar Interaktif maya, pencarian maya, maklumat Perkongsian Perkongsian Bookmark, Bookmark Hiperteks, Hipermedia Pencarian maklumat, perkongsian bookmark,. Hiperteks, dan hypermedia Penerokaan Rajah 2.1: Model Persekitaran Pembelajaran Melalui Web Sumber: Noraffandy Yahaya dan Wan Salihin Wong (1999). Model Persekitaran Pembelajaran Melalui WEB: Satu Cadangan.
  42. 42. 1. Penglibatan pelajar secara aktif Modul pembelajaran maya memberikan pelajar belajar secara aktif dalam persekitaran web. Pelajar akan bertanggungjawab mempersembahkan hasil dan kemahiran pembelajaran mereka melalui maklum balas, interaksi dan pencarian maklumat yang diberikan pada setiap modul. Kesemua aktiviti tersebut memerlukan penglibatan oleh pelajar secara aktif untuk pastikan mereka dapat menyelesaikan masalah yang disediakan oleh pensyarah masing-masing. 2. Mewujudkan persekitaran pembelajaran kolaborasi di antara pelajar dalam proses pembelajaran Dalam menghasilkan pembelajaran secara kolaborasi, sistem menyediakan beberapa elemen yang terdapat dalam web seperti e-mel, perbincangan maya dan bookmark. Dalam sistem yang dibangunkan, pelajar dapat bekerjasama dalam mencari dan menghantar rujukan ke dalam halaman bookmark yang disediakan. Setiap pelajar boleh menghantar dan mencapai rujukan yang boleh digunakan untuk sesi perbincangan maya. 3. Melibatkan pelajar dalam penerokaan sumber maklumat dalam persekitaran pembelajaran maya Dalam fasa ini, pelajar dikehendaki mencari maklumat yang berkaitan dengan tajuk pembelajaran mengikut minggu berdasarkan panduan daripada pensyarah masing-masing. Sumber tersebut kemudiannya dikongsi bersama rakan-rakan yang lain dalam perbincangan maya.
  43. 43. 4. Interaktiviti Secara umumnya, proses interaktiviti dalam persekitaran pembelajaran melalui web merujuk kepada proses komunikasi antara pelajar dan pelajar, pelajar dan guru dan sumber maklumat secara terus. Dalam sistem persekitaran pembelajaran melalui web proses interaktif berbahagi kepada dua fasa iaitu kawalan pengguna dan komunikasi antara pelajar. Kawalan pengguna merujuk kepada kebebasan pelajar memilih tajuk yang ingin dipelajari mengikut tahap tertentu. Pelajar bebas memilih pelajaran yang ingin dipelajari berdasarkan kepada menu yang disediakan. Reka bentuk menu yang mesra memudahkan lagi pelajar mengawal sistem tersebut. Komunikasi antara pelajar pula merujuk kepada komunikasi dan interaksi dua hala yang berkesan antara pelajar dan juga pensyarah. Sistem yang digunakan adalah melalui e-mel. 2.11 Pembelajaran Arahan Kendiri Menurut Knowles, M. S. (1975), pembelajaran arahan kendiri adalah merujuk kepada satu proses di mana individu mengambil inisiatif, sama ada dengan bantuan orang lain atau tidak, untuk mengenal pasti keperluan pembelajaran mereka sendiri, membentuk matlamat pembelajaran, mengenal pasti sumber bahan mentah dan sumber manusia bagi pembelajaran, memilih dan mengimplementasikan strategi pembelajaran yang sesuai dan menilai hasil pembelajaran mereka. Menurut Candy (1991) pula, pembelajaran arahan kendiri dianggap sebagai salah satu kaedah yang kuasa di mana orang dewasa bertanggungjawab terhadap pembelajaran mereka sepanjang kehidupan mereka sendiri. Untuk mengukur tahap pembelajaran arahan kendiri individu, Guglielmino (1977) telah mereka bentuk satu skala yang dinamakan skala kesediaan pembelajaran arahan kendiri melalui satu kajiannya yang bertajuk ‘Pembangunan Skala Kesediaan Pembelajaran Arahan Kendiri’. Kajian beliau ini meliputi dua objektif utama iaitu
  44. 44. untuk mengetahui persepsi diri terhadap pembelajaran arahan kendiri dan untuk membangunkan skala kesediaan pembangunan arahan kendiri. Proses pengubahsuaian teknik Delphi digunakan dalam tiga kali tinjauan yang disertai oleh 14 pakar dalam pembelajaran arahan kendiri. Pakar ini dikehendaki menyenaraikan ciri-ciri yang dirasakan penting dalam pembelajaran arahan kendiri, termasuk perkara-perkara seperti kemampuan, sikap dan ciri-ciri personal. Ciri-ciri yang dianggap baik dan perlu sahaja daripada Delphi Survey digunakan sebagai asas untuk membentuk skala kesediaan pembelajaran arahan kendiri. Ia direka bentuk sebagai laporan soal selidik kendiri dengan menggunakan skala likert selepas item di kaji dan di teliti, instrumen tersebut digunakan ke atas 307 subjek di Goergia, Kanada dan Virginia. Analisis item dan analisis faktor data digunakan untuk memilih item yang akan dikaji dan diukur parameter kajian. Hasilnya, realibiliti yang diperolehi adalah 0.87. Analisis faktor ini mengandungi lapan faktor utama iaitu: Jadual 2.1: Faktor-faktor Asas Pembentukan Skala Kesediaan Pembelajaran Arahan Kendiri Faktor 1 Terbuka terhadap peluang pembelajaran Faktor 2 Konsep kendiri pelajar Faktor 3 Inisiatif pelajar Faktor 4 Penerimaan tanggungjawab terhadap pembelajaran diri sendiri Faktor 5 Suka terhadap pembelajaran Faktor 6 Kreativiti Faktor 7 Melihat pembelajaran sebagai aktiviti sepanjang hayat Faktor 8 Pemahaman Kendiri
  45. 45. 2.12 Teori dan Model Pembelajaran Arahan Kendiri Pembelajaran arahan kendiri merupakan kombinasi keupayaan dan motivasi pelajar. Terdapat empat komponen utama yang perlu bagi pembelajaran arahan kendiri iaitu ciri-ciri pelajar yang memberi kesan kepada kecenderungan seseorang ke arah arahan kendiri, keupayaan dan kemahiran pelajar menjalankan pembelajaran arahan kendiri, prestasi sebenar bagi proses pembelajaran arahan kendiri dan motivasi individu ke arah pembelajaran. Rajah 2.2 menggambarkan integrasi yang dibentuk bagi pembelajaran arahan kendiri. Ciri-ciri Peribadi/Psikologi (Kesediaan) Prestasi/Tingkahlaku Kemahiran (Melakukan) Pembelajaran dan Proses Pembelajaran Arahan Kendiri Motivasi Rajah 2.2: Komponen Pembelajaran Arahan Kendiri. Sumber: LeJune (2002). Problem-based Learning Instruction versus Traditional Instruction on Self-Directed Learning, Motivation and Grades of Undergraduate Computer Science. Available. UMI Proquest. Komponen psikologi atau peribadi adalah kesediaan individu untuk pembelajaran arahan kendiri. Kemahiran merangkumi kemahiran pembelajaran asas dan yang perlu untuk menjalankan aktiviti pembelajaran arahan kendiri seperti mengenal pasti matlamat pembelajaran, mendapatkan sumber-sumber yang perlu menjalankan aktiviti pembelajaran dan membuat penilaian kendiri terhadap proses dan pembelajaran.
  46. 46. Komponen prestasi atau tingkah laku sebenar dalam pembelajaran arahan kendiri. Kecenderungan terhadap pembelajaran arahan kendiri dan mendapatkan kemahiran pembelajaran arahan kendiri tidak membuatkan seseorang menjadi pelajar arahan kendiri, walau bagaimanapun tingkah laku sebenar yang membuatkan seseorang menjadi pelajar arahan kendiri. Namun begitu meletakkan ciri-ciri berpotensi ini ke realiti memerlukan motivasi. Motivasi merupakan komponen penting dalam pembelajaran arahan kendiri. Walaupun motivasi dilihat sebagai komponen berasingan dengan konsep keseluruhan pembelajaran arahan kendiri, tetapi ia motivasi mempengaruhi semua komponen pembelajaran arahan kendiri dengan gambaran titik yang putus-putus dalam rajah di atas. Motivasi mempengaruhi persepsi individu terhadap kemahiran mereka untuk menyiapkan tugas dengan segera. Prestasi juga amat kuat dipengaruhi oleh persepsi terhadap kemahiran sebenar pelajar. (Mohd Azhar Hamid et al. 2004) Pengkaji juga menerangkan konsep pembelajaran arahan kendiri berdasarkan kepada dua model utama iaitu Model Pembelajaran Arahan Kendiri Berperingkat Grow dan Model PRO Brockett dan Hiemstra. Kedua-dua model ini menjadi asas kepada pembentukan kerangka kajian yang melibatkan kesediaan pembelajaran arahan kendiri. 2.12.1 Model Pembelajaran Arahan Kendiri Berperingkat Grow (1991) Grow, G. (1991) membangunkan model Pembelajaran Arahan Kendiri Berperingkat (Grow’s Staged Self-Directed Learning Model, SSDL) yang mana pembelajaran arahan kendiri dilihat dalam empat peringkat dengan tahap yang paling rendah bagi pembelajaran pada peringkat satu dan tahap tertinggi arahan kendiri dicirikan oleh pelajar di peringkat empat. Model SSDL Grow adalah suatu percubaan yang mengambil kira kemajuan pelajar terhadap terarah kendiri dengan gaya pembelajaran yang bersesuaian pada setiap tahap pembelajaran.
  47. 47. Grow menggambarkan pelajar arahan kendiri sebagai mereka yang tahu bagaimana untuk belajar dan bermotivasi untuk membuat penerokaan secara sendiri. Sebelum pelajar mencapai peringkat pembelajaran arahan kendiri iaitu peringkat keempat, mereka perlu melalui peringkat yang pertama hingga ketiga. Pada peringkat pertama, pelajar masih bergantung pada pengajar untuk belajar. Jadi, pada peringkat pertama, pelajar masih tidak boleh dikategorikan sebagai pelajar arahan kendiri. Peranan pengajar adalah sebagai jurulatih yang melatih pelajar tersebut. Tingkat kedua dan ketiga, pelajar akan lebih melibatkan diri dalam aktiviti- aktiviti yang di buat untuk mereka. Mereka menjalankan aktiviti tersebut dengan bantuan pengajar dalam memudahkan aktiviti mereka. Peranan pengajar menjadi kurang disebabkan oleh kematangan pelajar dalam menguruskan aktiviti mereka. Pada tingkat keempat, pelajar sudah mencapai tahap pelajar arahan kendiri iaitu tahap tertinggi. Mereka merupakan pelajar yang berkeyakinan dan berdikari menggunakan sumber-sumber, kepakaran dan institusi-institusi sedia ada. Mereka membentuk matlamat mereka sendiri. Mereka melihat pengajar sebagai mentor mereka. Bagi pengajar pula, mereka bertindak mengawal kemajuan pelajar, bertindak sebagai pendengar dan membantu penilaian secara sekali-skala, dan peranan mereka dilihat tidak terlalu penting.
  48. 48. Jadual 2.2: Model Pembelajaran Arahan Kendiri Berperingkat Grow Pelajar Pengajar Contoh Tingkat 1 Bergantung Jurulatih, autoriti Melatih dengan maklum balas segera, latih tubi, syarahan bermaklumat, mengatasi kekurangan dan tentangan Tingkat 2 Berminat Pemotivasi, Mengilhamkan syarahan dengan Pembimbing perbincangan (guide), tetapkan matlamat dan strategi pembelajaran Tingkat 3 Terlibat Fasilitator Memudahkan perbincangan oleh pengajar yang terlibat sama, seminar, projek berkumpulan Tingkat 4 Arahan Konsultan Internship, dissertations, kerja Kendiri individu atau kumpulan belajar arahan kendiri. Sumber: Grow, G. (1991). The Staged Self-Directed Learning Model, Teaching Learners to be Self-Directed. Dalam: http://www.longleaf.net/ 2.12.2 Model PRO Brockett dan Hiemstra (1991) Brockett dan Hiemstra, R. (1991) telah membangunkan model pembelajaran arahan kendiri yang dikenali sebagai Model PRO Brockett dan Hiemstra (Personel Responsibility Orientation Model). Rajah 2.3 menggambarkan model PRO yang terdiri daripada tanggungjawab peribadi, pelajar arahan kendiri, pembelajaran arahan kendiri dan arahan kendiri dalam pembelajaran.
  49. 49. TANGGUNGJAWAB PERIBADI Ciri-ciri transaksi antara Ciri-ciri Pelajar Pengajar dan pembelajaran PEMBELAJARAN PELAJAR ARAHAN ARAHAN KENDIRI KENDIRI ARAHAN KENDIRI DALAM PEMBELAJARAN Faktor-faktor Dalam Konteks Sosial Rajah 2.3: Model PRO Brockett dan Hiemstra Sumber: Brockett dan Hiemstra (1991). A Conceptual Framework for Understanding Self-Direction in Adult Learning. Dalam: http://www.infed.org/ Model ini menggunakan falsafah dan psikologi untuk memahami dimensi- dimensi arahan kendiri dan dipersembahkan sebagai rangka kerja untuk memahami arahan kendiri dalam pembelajaran dengan lebih terperinci. Menurut model ini, pembelajaran arahan kendiri terbahagi kepada dua komponen iaitu pembelajaran arahan kendiri merujuk kepada proses kaedah arahan yang mana pelajar memikul tanggungjawab merancang, melaksana dan menilai pengalaman pembelajaran mereka. Pengajar pula memainkan peranan sebagai seorang fasilitator yang mempunyai kemahiran dalam membantu pelajar mengenal pasti sumber pembelajaran., memilih kaedah arahan dan penilaian strategi. Satu konsep lagi adalah pembelajaran arahan kendiri yang merujuk kepada ciri-ciri personaliti seseorang pelajar yang menyumbang kepada arahan kendiri. Tanggungjawab peribadi dalam model PRO merujuk kepada kawalan yang ada pada individu terhadap pemikiran dan tindakannya. Walaupun individu bukan
  50. 50. sentiasa mengawal persekitaran dan keadaannya, individu boleh mengawal maklumbalasnya terhadap keadaan-keadaan tersebut. Keupayaan dan kerelaan seseorang mengawal pembelajarannya menunjukkan tahap arahan kendirinya dalam pembelajaran. Model ini melihat peranan peribadi sebagai kunci kepada kefahaman arahan kendiri dalam pembelajaran dan menekankan kepentingan orang dewasa dalam memikul tanggungjawab yang sama untuk pembelajaran peribadi dalam proses pembelajaran dan pengajaran. Tanggungjawab peribadi ada pada diri setiap individu pada darjah tertentu. Tambahan pula, model PRO yang berasaskan falsafah dan psikologi manusia menegaskan bahawa darjah tanggungjawab pelajar boleh ditingkatkan oleh pengambilan falsafah manusia dalam proses pengajaran. (Mohd Azhar Hamid et al. 2004) 2.13 Kajian Lepas Pengkaji mengemukakan beberapa kajian yang telah dijalankan oleh pengkaji- pengkaji yang lepas sama ada dari dalam atau luar negara. 2.13.1 Kajian Dalam Negara Mohamad Fauzi et al. (2004) dalam kajian yang bertajuk ‘Tahap Persediaan Pelajar dalam Menggunakan e-pembelajaran Sebagai Alat Pembelajaran’ telah mengkaji tahap dan faktor yang mempengaruhi e-pembelajaran serta masalah yang dihadapi dalam penggunaan e-pembelajaran. Dalam kajian ke atas 377 pelajar Universiti Teknologi Malaysia, beliau mendapati bahawa faktor yang mempengaruhi penggunaan e-pembelajaran di kalangan pelajar adalah disebabkan minat pelajar dalam bidang ICT.
  51. 51. Selain itu, faktor ingin mencuba sesuatu yang baru, sentiasa mengambil peluang dan selesa dengan pembelajaran secara elektronik juga mempengaruhi penggunaan e-pembelajaran di kalangan pelajar. Akan tetapi, faktor seperti kemudahan ICT yang tidak mencukupi, sokongan dari staf teknikal ICT dan ketiadaan kemudahan internet di kolej kediaman adalah berada di tahap yang sederhana. Yang dapat dikatakan di sini adalah kekurangan kemudahan internet dan peralatan komputer mempengaruhi faktor penggunaan e-pembelajaran. Tahap kesediaan pelajar terhadap e-pembelajaran pula berada di tahap yang sederhana dan ia menunjukkan bahawa masih ada kelemahan yang perlu diperbaiki oleh UTM supaya tahap penggunaan e- pembelajaran dapat ditingkatkan sekali gus menambah kefahaman pelajar terhadap e- pembelajaran. Mohd Azhar Hamid et al. (2004) telah menjalankan kajian berkaitan dengan pembelajaran elektronik yang bertajuk ‘hubungan antara tahap kefahaman terhadap e-pembelajaran dan kesediaan pembelajaran arahan kendiri di kalangan staf akademik di UTM’. Kajian ini dijalankan untuk mencapai tiga objektif iaitu mengenal pasti tahap kefahaman staf akademik berkenaan pembelajaran elektronik, mencari hubungan antara tahap kefahaman dengan kesediaan pembelajaran pengarahan kendiri, dan faktor yang menyumbang kepada tahap kefahaman staf akademik terhadap pembelajaran elektronik. Borang soal selidik diedarkan kepada sejumlah 306 staf akademik di UTM. Hasil kajian mendapati bahawa staf tersebut telah bersetuju dengan ketiga- tiga konsep yang telah diketengahkan oleh pengkaji. Dapatan kajian menunjukkan bahawa tahap kefahaman responden terhadap pembelajaran elektronik adalah tinggi. Ini adalah kerana terdapat usaha yang dijalankan oleh pentadbiran universiti mengenai kepentingan penggunaan dan pemahaman terhadap pembelajaran elektronik di kalangan pensyarah untuk menjadikan UTM sebagai universiti bertaraf dunia. Namun begitu, hasil kajian mengenai hubungan di antara tahap kefahaman dengan kesediaan pembelajaran pengarahan kendiri adalah lemah tetapi signifikan dan berkadar langsung. Faktor yang menyumbang kepada hubungan yang lemah
  52. 52. adalah kerana kekurangan komputer di kalangan pensyarah yang terlibat dalam penyediaan bahan pengajaran dan pembelajaran yang telah menyumbang kepada kelembapan perkembangan pembelajaran elektronik di UTM. Mohd Koharudin (2004) dalam kertas kerja yang bertajuk ‘Perkembangan, Pembangunan Dan Penerimaan e-Pembelajaran Di Institusi Pengajian Tinggi Malaysia’ menyatakan bahawa secara keseluruhannya tahap kesediaan pelajar- pelajar universiti di Malaysia dalam menggunakan e- pembelajaran sebagai alat pembelajaran masih berada pada tahap yang agak sederhana. Kesederhanaan ini kerana kebanyakan pelajar masih dalam proses mengadaptasi atau menyesuaikan diri dengan teknologi baru ini. Keadaan ini tidak menghairankan kerana pembelajaran melalui kaedah ini masih amat baru di negara ini. Melalui pengamatan beliau hasil daripada kajian-kajian yang telah dijalankan, beliau mendapati bawa terdapat kepesatan di antara IPT dalam melaksanakan pembelajaran elektronik dengan membangunkan dan sistem ICT masing-masing ke tahap yang optimum. bagi menyediakan para pelajar mereka dengan kemudahan yang terkini, mudah dan murah bagi merealisasikan matlamat negara mencapai tahap negara maju menjelang tahun 2020. Ahmad Esa et al. (2000) dalam kajian yang bertajuk ‘Perkhidmatan Pengajaran dan Pembelajaran Menerusi Laman Web Nicenet dan E-Mel: Satu Kajian Kes di Institut Teknologi Tun Hussein Onn (ITTHO)’. Kajian ini adalah untuk mencapai tiga objektif iaitu untuk mengenal pasti penerimaan mahasiswa terhadap penggunaan laman Web Nicenet dan e-mel dalam perkhidmatan pengajaran dan pembelajaran, mengenal pasti perbezaan persepsi mahasiswa terhadap kaedah menggunakan laman Web Nicenet, e-mel dan pembelajaran lazim (bertemu di bilik pensyarah) dalam kaedah pengajaran dan pembelajaran, dan mengenal pasti masalah yang dihadapi oleh mahasiswa semasa menggunakan kaedah laman Web Nicenet, e- mel dan kaedah lazim. Pemilihan dilakukan berdasarkan jumlah pelajar yang ramai dan pensyarah mahir mengendalikan laman Web Nicenet dan e-mel. Responden kajian adalah seramai 120 orang daripada pelajar yang mengambil subjek TITAS 2 untuk sesi Semester Jun 2001/2002. Tiga kumpulan diwujudkan yang terdiri daripada
  53. 53. 40 orang setiap kumpulan. Kumpulan tersebut dikategorikan sebagai kumpulan kaedah lazim, kumpulan laman Web Nicenet, dan kumpulan e-mel. Hasil kajian menunjukkan pelajar menggunakan kaedah laman Web Nicenet dalam perkhidmatan pengajaran dan pembelajaran. Pelajar tahu menggunakan kedua- dua kaedah tersebut iaitu kaedah laman Web Nicenet dan e-mel dan berpendapat pensyarah perlu memanfaatkan kedua-dua kaedah tersebut kerana mudah bagi mereka untuk berinteraksi dengan pensyarah berbanding dengan kaedah secara lazim. Walaupun begitu, pelajar berpendapat bukan semua masalah asas dalam kaedah lazim boleh diselesaikan melalui kaedah laman Web Nicenet dan e-mel. Pelajar masih sukar untuk berinteraksi dengan pensyarah menggunakan laman Web Nicenet dan e-mel apabila berlaku kerosakan server dan pensyarah tidak membuka e- mel dan Web Nicenet. Nisbah yang tinggi di antara pensyarah dengan pelajar tidak menjadi masalah kepada pelajar untuk mendapatkan perkhidmatan pengajaran dan pembelajaran. Selain itu, penerangan yang disampaikan oleh pensyarah lebih mudah difahami melalui laman Web Nicenet dan e-mel kerana penerangan tersebut akan kekal dalam komputer pelajar. Mohamad Noor Hassan (2000) dalam kajian yang bertajuk ‘Cabaran Melalui IT: e-Learning’ telah mengkaji berkenaan dengan pelaksanaan projek e-pembelajaran di UTM. Beliau mendapati bahawa UTM melaksanakan e-pembelajaran secara berperingkat bersesuaian dengan kemajuan teknologi. Pelaksanaannya mempunyai empat peringkat iaitu peringkat pertama hanya fokus kepada maklumat am tentang sesuatu mata pelajaran. Peringkat pelaksanaan adalah bermula tahun 2000 untuk peringkat pertama, 2001 untuk peringkat kedua, 2002 untuk peringkat ketiga dan 2003 untuk peringkat keempat. Semasa kajian dijalankan, pengkaji mendapati bahawa tahap pelaksanaan e-pembelajaran masih lagi belum mencapai matlamat yang diharapkan. Ini kerana terdapat beberapa masalah yang dihadapi. Antaranya pensyarah tiada kemahiran untuk menghasilkan bahan pengajaran secara elektronik dan dibebani dengan masa yang lama untuk menghasilkan bahan bermutu tinggi. Selain itu, masalah kekurangan komputer di kalangan pensyarah menjadi penyebab kelembapan
  54. 54. perkembangan projek ini. Mereka terpaksa berkongsi komputer yang terdapat di makmal fakulti atau di bilik aktiviti pensyarah. Selain itu, pelajar juga menghadapi masalah untuk mencapai internet. Buat masa itu, mereka hanya boleh mencapai internet dari perpustakaan, makmal komputer di fakulti dan kelab komputer di kolej kediaman. Jumlah komputer juga adalah terhad. Oleh itu, pelajar terpaksa menunggu lama untuk menggunakan komputer bagi mencapai nota kuliah dari internet. Shahrom Noordin et al. (1993) telah menjalankan kajian berkenaan dalam kajian yang bertajuk ‘Penggunaan Modul Pengajaran Kendiri (MPK) dalam proses Pengajaran dan Pembelajaran’ telah mengkaji kesan penggunaan modul pembelajaran kendiri dalam proses pengajaran dan pembelajaran. Mereka mendapati bahawa penggunaan modul pengajaran kendiri dalam proses pengajaran dan pembelajaran telah berjaya meningkatkan pencapaian akademik para pelajar di semua peringkat. Oleh yang demikian, beliau mencadangkan penggunaan modul pengajaran kendiri dalam proses pengajaran dan pembelajaran harus diberi perhatian untuk meningkatkan lagi pencapaian pelajar dalam pelbagai bidang. 2.13.2 Kajian Luar Negara Daig, B. (2006) telah membuat kajian yang bertajuk ‘Prestasi Pelajar dalam Subjek e-Pembelajaran: Kesan Jangka Masa Kursus ke atas Hasil Pembelajaran’. Tujuan kajian untuk membandingkan hasil pembelajaran antara pembelajaran yang dijalankan melalui kaedah pembelajaran elektronik dengan kaedah pembelajaran secara bilik darjah. Parameter kajian adalah jangka masa pengajaran (duration of instruction) sebagai pemboleh ubah bebas, dan pengaruh pencapaian dan kepuasan pelajar (affects student achievement and student satisfaction) sebagai pemboleh ubah bebas. Kajian ini bertujuan menjawab dua persoalan utama iaitu adakah jangka masa pengajaran kursus e-pembelajaran memberi kesan kepada tahap pencapaian pelajar dalam konteks hasil pembelajaran, dan adakah jangka masa pengajaran kursus e- pembelajaran memberi kesan kepada tahap kepuasan pelajar.
  55. 55. Populasi kajian adalah seramai 156 pelajar daripada kursus Sarjana Pentadbiran Perniagaan (MBA) di Kolej Baker. Pencapaian pelajar di ukur melalui dua kaedah, iaitu berdasarkan markah peperiksaan akhir pelajar dan markah pelajar ke atas ujian pre-test dan post-test. Kepuasan pelajar pula diukur melalui instrumen tinjauan. Pelajar boleh memilih sama ada untuk jangka masa enam minggu atau jangka masa 12 minggu. Kaedah pembelajaran yang disampaikan adalah sama di antara dua kumpulan tersebut. Hasil yang diperolehi menunjukkan keputusan daripada markah ujian akhir dan purata markah daripada ujian pre and post-test untuk kumpulan pelajar minggu ke enam adalah lebih tinggi daripada kumpulan pelajar minggu ke dua belas. Ini menunjukkan bahawa pelajar yang mengikuti pembelajaran selama enam minggu adalah lebih baik daripada pelajar yang mengikuti pembelajaran selama 12 minggu. Dalam konteks prestasi pelajar, pengkaji ini merumuskan bahawa antara sebab keputusan di atas adalah pelajar yang mengikuti kursus dalam jangka masa enam minggu ini boleh mengulangi pengetahuan yang diperolehi untuk peperiksaan berbanding dengan pelajar yang mengikuti kursus selama 12 minggu yang mempunyai mas yang terhad untuk menghadapi peperiksaan akhir. Dalam konteks kepuasan pelajar pula, purata pelajar berpuas hati dengan kursus ini dan mereka mencadangkan kursus ini kepada kawan mereka. Pengkaji ini menyimpulkan bahawa jangka masa kursus bukan hubungan utama dengan kepuasan pelajar, tetapi adalah kerana kaedah e-pembelajaran yang fleksibel. Selain itu, pengkaji ini juga menyatakan ia adalah disebabkan oleh kesan halo dan kerana kaedah pembelajaran yang baru berasaskan teknologi baru. Kesan halo wujud apabila individu menganggap kaedah teknologi baru ini boleh memberi kesan yang baik kepada mereka dalam konteks pembelajaran. Ini kerana mereka tidak berpeluang menggunakan teknologi ini semasa menghabiskan pembelajaran di peringkat ijazah pertama dan mereka menghabiskan kursus pasca-siswazah berbantukan kaedah e-pembelajaran. Shirley Alexander pada tahun 2001 dalam kajiannya yang bertajuk e-learning developments and expericence telah mengkaji mengenai pembangunan dan
  56. 56. pengalaman e- pembelajaran. Pengkaji telah mencadangkan rangka kerja yang komprehensif untuk reka bentuk, pembangunan, dan pelaksanaan sistem e- pembelajaran di institusi pengajian tinggi untuk memastikan ia mencapai cabaran dalam e- pembelajaran berasaskan kepada kajian Trigwell’s terhadap pengaruh pelajar terhadap pembelajaran. Rangka kerja yang dicadangkan untuk membangunkan kapasiti penyampaian kursus e- pembelajaran adalah seperti konteks universiti, pemikiran pengajar, perancangan pengajar, dan strategi pengajar. 1. Konteks universiti Peruntukan kepada mekanisma pembangunan dan sokongan membentuk bahagian penting terhadap inisiatif e-pembelajaran seperti visi e-learning di institusi, pembangunan perancangan pembangunan teknologi, pembangunan perancangan pembangunan teknologi dan polisi beban kerja fakulti yang berkaitan dengan e-learning, kemudahan untuk menyediakan sokongan kepada staf dan pelajar, sokongan kepada penyelidikan, peluang pembangunan fakulti dan peruntukan pelepasan masa untuk fakulti yang terlibat dalam pembangunan e-learning. 2. Pemikiran pengajar Fakulti digalakkan untuk menggunakan peluang-peluang pembangunan staf dengan menggalakkan mereka memberi pandangan terhadap pembelajaran dan menggunakan strategi pembelajaran tertentu. Ia adalah cara terbaik untuk meningkatkan pemahaman tentang bagaimana pelajar belajar, yang boleh mendorong kepada kualiti yang baik dalam e-learning. 3. Perancangan pengajar Dalam fasa perancangan e-pembelajaran, fakulti mesti memberi tumpuan kepada pembangunan untuk meningkatkan pemahaman pelajar, mereka bentuk penilaian aktiviti e-pembelajaran, menyediakan maklum balas yang berguna dan masa yang tepat terhadap kerja pelajar, persediaan pelajar untuk aktiviti pembelajaran yang berbeza secara kualitatif, persediaan pelajar untuk bekerja dalam kumpulan, menerapkan konsep
  57. 57. pengurusan masa dalam aktiviti pembelajaran, dan mendapatkan kebenaran hak cipta dalam semua material yang digunakan. 4. Strategi pengajar Fakulti digalakkan menyediakan maklum balas kepada pelajar dengan tepat pada masa dan berinformatif, memberi peluang kepada pelajar untuk memahami proses pembelajaran sebelum mengaplikasikan dalam aktiviti pembelajaran mereka yang sebelum ini tidak pernah mereka lakukan, dan aktiviti yang membantu pelajar membangunkan kemahiran dalam kerja kumpulan. (Mohd Azhar Hamid et al. 2004). Owen, T. R. (2007) telah membuat kajian yang bertajuk ‘ Kesediaan pembelajaran arahan kendiri di kalangan pelajar pasca-siswazah: kesan kepada program orientasi’. Kajian ini dijalankan untuk mengenal pasti tahap kesediaan pembelajaran arahan kendiri di kalangan pelajar pasca-siswazah. Selain itu kajian ini untuk mengenal pasti sejauh mana Skala Kesediaan Pembelajaran Arahan Kendiri boleh digunakan sebagai alat pengukuran yang digunakan mempunyai kesahan (validity) dan kebolehpercayaan (reliable) di kalangan pelajar pasca-siswazah. Beliau menggunakan kaedah tinjauan rentas (cross-sectional) di mana data di kumpul melalui e-mel dan telefon untuk mengukur kebolehpercayaan dan kesahan Skala Kesediaan Pembelajaran Arahan tersebut. Bentuk soalan SDLRS adalah berdasarkan kepada skala yang dibangunkan oleh Guglielmino. Hasil kajian mendapati tahap kesahan dan kebolehpercayaan adalah tinggi. Markah ujian kebolehpercayaan melalui split-half adalah 0.87 manakala ujian kebolehpercayaan yang dikira melalui Cronbach coefficient alpha adalah 0.92. kesahan pula diuji melalui kaedah kesahan gagasan (consruct validity) Markah ujian kesahan yang dikira adalah di antara 0.41 hingga 0.88 dengan nilai signifikan adalah0.001. Dengan nilai daripada kebolehpercayaan dan kesahan yang diperolehi, maka beliau menyimpulkan bahawa maka Skala Kesediaan Pembelajaran Arahan Kendiri adalah instrumen yang boleh digunakan untuk pelajar pasca-siswazah. Litzinger, T. A. (2007) dalam kajian yang bertajuk ‘ Kesediaan pembelajaran arahan kendiri di kalangan pelajar kejuruteraan (undergarde)’ telah mengkaji
  58. 58. berkenaan dengan kesediaan pembelajaran arahan kendiri di kalangan pelajar dan hubungan dengan faktor demografi. Selain itu, kajian ini mencari kesan pengalaman belajar berasaskan masalah terhadap kesediaan pembelajaran arahan kendiri pelajar. Hasil kajian menunjukkan bahawa pelajar tahun markah SDLRS untuk pelajar tahun akhir adalah mempunyai hubungan yang signifikan dengan bilangan tahun pembelajaran dengan gred purata markah (GPA). Tetapi kedua-duanya iaitu bilangan tahun pembelajaran dan GPA tidak menjadi peramal yang kuat untuk markah SDLRS. Ini kerana kaedah pembelajaran dan pengajaran untuk pelajar undergraduate kejuruteraan tidak menggalakkan ke arah pembelajaran arahan kendiri. Hasil kajian berkenaan kesan pembelajaran berasaskan masalah ke atas pembelajaran arahan kendiri pelajar menunjukkan purata kesediaan untuk pembelajaran arahan kendiri meningkat secara signifikan. Bagaimanapun, hanya sembilan daripada 18 pelajar menunjukkan peningkatan secara signifikan ke atas markah SDLRS mereka. Implikasi daripada kajian ini, beliau menyatakan bahawa kurikulum untuk pelajar kejuruteraan mesti diubah dan disesuaikan dengan pelbagai pengalaman belajar yang lain untuk membolehkan pelajar membangunkan kaedah pembelajaran arahan kendiri mengikut kesesuaian masing-masing. Semasa pembelajaran arahan kendiri, reaksi dan kejayaan pelajar perlu diperhatikan, da mereka juga mesti memberi dan mendapat maklum balas semasa penilaian dalam kelas. Tri Darmawati (2003) telah membuat kajian berkaitan dengan kesediaan pembelajaran arahan kendiri ‘Kesediaan untuk Pembelajaran Arahan Kendiri dan Pencapaian Pelajar di Universiti Terbuka Indonesia’. Objektif kalian beliau adalah untuk mendapatkan data deskriptif berkenaan dengan kesediaan pembelajaran arahan kendiri. Selain itu, beliau juga ingin melihat hubungan antara kesediaan pembelajaran arahan kendiri dengan pencapaian akademik. Beliau menggunakan semua item soalan yang dibangunkan oleh Guglielmino iaitu sebanyak 58 item. Beliau mendapati secara keseluruhannya tahap kesediaan pembelajaran arahan kendiri berada pada tahap sederhana dengan nilai jumlah purata skor adalah 215.5.
  59. 59. sementara itu, kajiannya juga mendapati tahap kesediaan pembelajaran arahan kendiri di kalangan perempuan adalah lebih tinggi daripada lelaki. Tetapi walau bagaimanapun, tiada perbezaan nilai ‘grade point average’ (GPA) antara lelaki dan perempuan. Morris, S. S. (1995) dalam kajian yang bertajuk ‘Hubungan Antara Kesediaan Pembelajaran Arahan Kendiri dengan Prestasi Akademik bagi Program Pendidikan Tinggi’ bertujuan untuk mengenal pasti tahap pembelajaran arahan kendiri di kalangan pelajar. Selain itu, kajian beliau juga untuk menguji beberapa hipotesis yang berkaitan secara langsung dengan kesediaan pembelajaran arahan kendiri. Hasil kajian beliau mendapati tahap kesediaan pembelajaran arahan kendiri di kalangan pelajar tersebut adalah di atas sederhana iaitu purata nilai jumlah purata skor 246.13. 2.14 Model Kajian Hasil daripada perbincangan berkenaan teori-teori, model-model, dan kajian lepas, pengkaji telah mengemukakan satu kerangka kajian untuk kajian ini. Kerangka ini direka bentuk bertujuan untuk memandu kajian pengkaji berdasarkan kepada pemboleh ubah bebas dan pemboleh ubah bersandar yang telah dikenal pasti. Secara umumnya, prinsip dan model e-pembelajaran yang dicadangkan menunjukkan peranan yang dimainkan oleh teknologi terkini untuk pembelajaran atas talian. Kaedah pembelajaran ini membentuk satu dimensi baru yang menyokong sistem pembelajaran konvensional iaitu dalam bilik darjah. Pembelajaran di atas talian adalah masih baru di negara ini. Oleh yang demikian, pelajar masih belum terdidik untuk menggunakan kaedah ni semaksimum mungkin dalam pembelajaran mereka di universiti. Ini diutarakan oleh Mohd Koharudin (2004) yang menyatakan bahawa kesediaan pelajar-pelajar universiti di Malaysia dalam menggunakan e- pembelajaran adalah masih di tahap yang sederhana kerana kaedahnya yang masih baru di negara ini.
  60. 60. Dalam usaha mengadaptasikan kemajuan teknologi dalam sistem pendidikan negara, kaedah e-pembelajaran haruslah diterapkan dalam modul pembelajaran di peringkat tinggi atau sekurang-kurangnya sebagai sokongan kepada pembelajaran secara kuliah. Melalui aplikasi e-pembelajaran, pihak yang bertanggungjawab boleh menyediakan bahan pembelajaran yang boleh dicapai pada bila-bila masa oleh pelajar. Matlamat atau sasaran asal kurikulum yang dibangunkan oleh pihak pentadbiran tidak akan berubah sungguhpun kaedah e-pembelajaran diterapkan dalam sistem pendidikan tersebut. Prinsip e-pembelajaran ini dinyatakan oleh Nicholas (2003) yang menjelaskan kemampuan aplikasi e-pembelajaran diintegrasikan ke dalam sistem lama untuk di sesuaikan dengan perubahan teknologi semasa. Model Persekitaran Pembelajaran yang diperkenalkan oleh Noraffandy Yahaya dan Wan Salihin Wong (1999) menjelaskan bagaimana pelajar menggunakan sistem pembelajaran atas talian untuk mewujudkan pembelajaran yang berkesan. Model ini membincangkan fungsi penggunaan menu-menu tertentu untuk mencapai pembelajaran berkesan melalui empat pendekatan. Pendekatan tersebut adalah penglibatan pelajar secara aktif, kolaborasi, interaktif dan penerokaan. Aktiviti- aktiviti yang dijalankan adalah penggunaan e-mel, perbincangan maya, pencarian maklumat, perkongsian bookmark, hiperteks, hipermedia, dan lain-lain. Pelajar dikehendaki mencari maklumat-maklumat berkaitan dengan pembelajaran secara kendiri berdasarkan kepada arahan pensyarah masing-masing. Pengkaji melihat model ini sebagai pemangkin kepada penggunaan menu-menu dalam e-pembelajaran dengan lebih kerap untuk mendapatkan maklumat-maklumat yang berguna kepada pelajar. Oleh kerana e-pembelajaran dipraktikkan tanpa kawalan sepenuhnya oleh pengajar, pengkaji melihat adalah penting bagi pelajar mempunyai keinginan untuk belajar secara kendiri. Model Lima Fasa untuk Pembelajaran atas Talian Salmon (2000) menjelaskan bagaimana pencapaian peserta sepanjang pengalamannya menggunakan e-pembelajaran. Pada tingkat ke empat dan lima, pelajar mula menunjukkan keupayaan mereka menerapkan konsep pembelajaran arahan kendiri dalam penggunaan e-pembelajaran. Mereka mula menyelesaikan masalah sendiri berkaitan dengan masalah yang diberikan dan peranan e-moderator hanyalah sebagai
  61. 61. pemantau. Pada tingkat terakhir, peserta akan menggunakan pendekatan konstruktif, di mana mereka sendiri mengawal proses pembelajaran tersebut berdasarkan pengalaman mereka. Pengkaji telah melihat berapa pentingnya asas kepada pembangunan skala kesediaan pembelajaran arahan kendiri. Skala ini telah dibangunkan oleh Guglielmino, L. M. (1977) melalui tesis beliau. Beliau menegaskan bahawa faktor utama yang perlu diambil kira dalam pembentukan skala kesediaan pembelajaran arahan kendiri adalah terbuka terhadap peluang pembelajaran; inisiatif pelajar; penerimaan tanggungjawab terhadap pembelajaran diri sendiri; suka terhadap pembelajaran konsep kendiri pelajar; kreativiti; melihat pembelajaran sebagai aktiviti sepanjang hayat; dan pemahaman kendiri; Selain itu, pengkaji memfokuskan kepada kesediaan pembelajaran arahan kendiri berdasarkan dua model utama iaitu Model Pembelajaran Arahan Kendiri Berperingkat Grow (1991) dan Model PRO Brockett dan Hiemstra (1991). Model Pembelajaran Arahan Kendiri Berperingkat Grow membincangkan empat tingkat yang berbeza pembelajaran seseorang sehingga mencapai tingkat arahan kendiri di mana pengajar berperanan sebagai konsultan jika dibandingkan dengan peringat pertama iaitu bergantung di mana pengajar berperanan sebagai jurulatih. Model PRO Brockett dan Hiemstra pula menekankan kepada tanggungjawab peribadi dalam membentuk arahan kendiri dalam pembelajaran. Melalui model dan kajian yang telah dikaitkan, pengkaji akan melihat kepada tahap persepsi pelajar terhadap kesediaan pembelajaran arahan kendiri mereka dan hubung kait dengan tahap penggunaan e-pembelajaran di UTHM. Hasil daripada perbincangan tentang model yang berkaitan, pengkaji telah membangunkan Model Kerangka Kajian yang terdiri daripada dua pemboleh ubah iaitu pemboleh ubah bersandar dan pemboleh ubah bebas. Pemboleh ubah bebas terdiri daripada tahap kesediaan pembelajaran arahan kendiri manakala pemboleh ubah bersandar adalah tahap penggunaan e-pembelajaran (aplikasi Blackboard dan aplikasi UCiTV). Rajah 2.4 menunjukkan ringkasan model kajian yang telah dibangunkan oleh pengkaji dalam kajian ini.
  62. 62. TAHAP PENGGUNAAN TAHAP KESEDIAAN PEMBELAJARAN PEMBELAJARAN ARAHAN ELEKTRONIK KENDIRI  Terbuka terhadap peluang  Aplikasi Blackboard pembelajaran o My Announcement  Konsep Kendiri Pelajar o My Calendar  Inisiatif pelajar o Course Document  Penerimaan tanggungjawab o Assigment terhadap pembelajaran diri o Communication/Send sendiri E-Mail  Suka terhadap pembelajaran o Add Forum  kreativiti o External Link  Melihat pembelajaran sebagai aktiviti sepanjang hayat  Aplikasi UCiTV  Pemahaman kendiri o Search Media o Life Broadcast o Video on Demand o E-Learning on Demand Rajah 2.4: Model Kajian Hubungan antara Tahap Kesediaan Pembelajaran Arahan Kendiri dengan Tahap Penggunaan E-Pembelajaran
  63. 63. BAB III METODOLOGI KAJIAN 3.1 Pengenalan Dalam bahagian metodologi kajian ini pengkaji akan membincang dan menghuraikan berkaitan dengan semua peringkat yang telah dilakukan dalam kajian ini. Antara perkara yang akan dihuraikan adalah berkaitan dengan reka bentuk kajian, responden kajian, kaedah pensampelan, kaedah pengumpulan data, dan juga kaedah analisis yang dipilih untuk digunakan bagi mendapatkan keputusan bagi kajian pengkaji. 3.2 Reka bentuk Kajian Kajian ini melibatkan analisis deskriptif dan inferensi. Dalam menjalankan kajian ini, pengkaji menggunakan kaedah tinjauan. Ia adalah bertujuan untuk mengenal pasti tahap penggunaan e-pembelajaran di kalangan pelajar dan kesediaan pembelajaran arahan kendiri serta hubungan antara keduanya di kalangan pelajar tahun dua di Fakulti Pengurusan Teknologi di UTHM. Dalam kajian ini, tahap penggunaan e-pembelajaran adalah pemboleh ubah bersandar dan pembelajaran arahan kendiri adalah pemboleh ubah tidak bersandar.
  64. 64. Data kajian ini diperolehi dengan menggunakan kaedah soal selidik untuk mendapatkan maklumat yang berkaitan dengan e-pembelajaran dan kesediaan pembelajaran arahan kendiri. Sabitha (2005) menyatakan bahawa responden boleh mengambil masa yang sesuai untuk menjawab soal selidik yang diterimanya dan ia akan memberi maklumat yang lebih baik kepada pengkaji. Menurut beliau lagi, soal selidik berupaya mengumpul data secara bertulis, menyeluruh dan meluas. Penggunaan soal selidik dalam kajian ini adalah praktikal kerana pengkaji menggunakan sampel kajian yang agak besar. Daripada soal selidik tersebut, data- data akan dianalisis berdasarkan kepada objektif kajian dengan menggunakan kaedah statistik yang sesuai. Reka bentuk kajian ini dapat dilihat pada rajah 3.1 di bawah: 3.3 Populasi dan Pensampelan Kajian Dalam kajian ini, populasi kajian adalah pelajar tahun dua di Fakulti Pengurusan Teknologi di UTHM. Fakulti Pengurusan Teknologi mempunyai empat jenis kursus iaitu kursus Pengurusan, Pengurusan Pengeluaran dan Operasi, Pengurusan Harta Tanah, dan Pengurusan Pembinaan. Jumlah keseluruhan pelajar tahun dua di fakulti Pengurusan Teknologi adalah 214 orang. Pengkaji menggunakan jadual Krejcie dan Morgan untuk menentukan sampel kajian yang mana bagi populasi 220, maka jumlah sampel adalah 140 orang. Pengkaji menggunakan sampel 140 kerana jumlah sampel untuk 136 mewakili populasi 210. Pengkaji menggunakan kaedah pensampelan rawak mudah berstrata. Kaedah ini dipilih kerana ia memudahkan pengkaji memilih sampel yang sesuai untuk populasi yang tidak seragam bagi setiap kategori. Setiap subjek kajian mempunyai peluang yang sama untuk dipilih sebagai sampel. Ia juga dapat mengurangkan bias dalam pemilihan sampel. (Sabitha. 2005).

×