Faringitis, Tonsilitis, Tonsilofaringitis                   Bronkitis Akut                                        Bronkiolitis Akut
                                 Akut
Batasan         Merupakan Infeksi akut dari faring         Proses inflamasi yang mengenai trakea,            WHO: infeksi saluran respiratorik bawah yang
                 atau tonsila palatina atau keduanya         bronkus utama, dan menengah, yang                  disebabkan virus, yang biasanya lebih berat pada
                 (dari tonsil ke adenoid dan lingual         bermanifestasi sebagai batuk, serta biasanya       bayi muda, terjadi epidemik setiap tahun dan di
                 tonsil).                                    akan membaik tanpa terapi dalam 2 minggu.          tandai dengan obstruksi saluran pernafasan.
                                                            Pada anak agaknya bukan merupakan suatu           Penyakit IRA bawah yang ditandai dengan adanya
                                                             penyakit tersendiri, tapi berhubungan dengan       inflamasi pada bronkiolus.
                                                             keadaan lain seperti asma dan fibrokistik

Epidemiologi    Biasanya pada anak, jarang pada                                  -                            Tersering pada bayi, usia 2-24 bulan. Puncak usia 2-8
                 anak usia < 1 tahun                                                                            bulan
                Insiden meningkat sesuai dengan                                                               Orestein: paling sering terjadi pada bayi laki-laki usia
                 bertambahnya umur, puncaknya pada                                                              3-6 bulan yang tidak mendapatkan ASI dan hidup di
                 usia 4-7 tahun, dan berlanjut hingga                                                           lingkungan padat penduduk
                 dewasa
                Insiden faringitis Streptokokus
                 tertinggi pada usia 5-18 tahun, jarang
                 pada usia < 3 tahun
                Laki-laki = perempuan

Etiologi       Bakteri (5-40% kasus)                        Virus  90% kasus  Rhinovirus, RSV,              95% disebabkan oleh invasi Respiratory Syncytial
                Group A beta-hemolytic streptococci         virus Influenza, virus Paraifluenza,               Virus (RSV).
                 (15% of all pharyngitis)                    Adenovirus, virus Rubeola, Paramyxovirus          Orestein : Adenovirus, Influenza virus, Parainfluenza
                Group C, G, and F streptococci             Bakteri  10%, dapat merupakan infeksi             virus, Rhinovirus, dan Mycoplasma.
                 (10%)                                       sekunder. S. aureus, S. pneumoniae, H.
                Arcanobacterium (Corynebacterium)           influenza, Bordatella pertusis,
                 haemolyticus (5%)                           Corynebacterium diphteriae
                M pneumoniae                               Mycoplasma  manifestasi tidak khas. Biasa
                C pneumoniae (5%)                           pada anak usia > 5 tahun atau remaja
                Neisseria gonorrhoeae is rare              Polusi udara, alergi, aspirasi kronis, refluks
                Corynebacterium diphtheriae is rare         gastroesophageal.

               Virus (40-60% kasus) ;
                Adenovirus (5%)
                Herpes simplex (5%),
                Coxsackieviruses A and B (5%),
                Epstein-Barr virus (EBV)
                CMV
                HIV-1
 Rhinovirus
                 Influenza virus
                 Parainfluenza virus
                 Coronavirus
                 Enterovirus
                 Respiratory syncytial virus
                Jamur

Patofisiologi   Bakteri/virus menginvasi mukosa faring       Virus/bakteri masuk ke saluran nafas            Infeksi virus pada epitel bersilia bronkiolus

                        Respon inflamasi lokal                        Reaksi inflamasi                                  Respon inflamasi akut

                  Pelepasan sitokin dan mediator pro                Sitokin2 pro inflamasi                                 Sekresi mucus
                               inflamasi                                                                Penimbunan debris selular/sel-sel mati yang terkelupas
                                                             Peningkatan aktivitas kelenjar mucus,                Infiltrasi limfosit peribronkial
                 Eritema faring, tonsil, atau keduanya           Dekuamasi sel-sel epitel bersilia
                                                         Infiltrasi leukosit PMN ke dalam dinding dan                    Edema submukosa
                                                                     lumen saluran respiratori
                                                                                                                   Saluran bronkiolus menyempit
                                                                            Batuk
                                                                   Sekresi tampak purulen                               Obstruksi bronkiolus

                                                                                                                       Hambatan aliran udara

                                                                                                         Peningkatan resistensi pada bronkiolus selama fase
                                                                                                                        inspirasi & ekspirasi
                                                                                                           (krn radius saluran ekspiratori >> kecil selama
                                                                                                                    ekspirasi)        wheezing

                                                                                                        Air trapping dan hiperinflasi  ekspirasi memanjang

                                                                                                                  Gangguan pertukaran gas normal

                                                                                                           Ketidakseimbangan ventilasi-perfusi  dispnea

                                                                                                                   Hipoksemia & hipoksia jaringan

                                                                                                                             Kompensasi
                                                                                                                              takipnea
Diagnosis   Anamnesis                                 Anamnesis                                          Anamnesis
            Gejala faringitis khas akibat bakteri      Demam, nyeri kepala, nyeri otot selama 3-4        Anak usia < 2 tahun
            streptokokus:                               hari diikuti dengan batuk.                        Gejala awal: gejala infeksi respiratori atas akibat
             Rasa nyeri tenggorokan dengan            Awalnya batuk bersifat kering dan keras,           virus, seperti pilek ringan, batuk, demam subfebris.
                awitan mendadak                         kemudian berkembang menjadi batuk yang            1 atau 2 hari kemudian timbul batuk yang disertai
             Nyeri saat menelan (disfagia)             produktif, dahak bisa jernih atau purulen.         sesak nafas
             Demam                                     Batuk biasanya berlangsung 7-10 hari, tetapi      Wheezing ekspirasi
                                                        dapat juga berlangsung sampai 3 minggu.           Sianosis
            Urutan gejala yang biasa dikeluhkan        Pada anak kecil,usaha untuk mengeluarkan          Merintih (grunting)
            oleh anak usia > 2 tahun:                   dahak yang lengket dan kental dapat               Nafas berbunyi
             Nyeri kepala                              merangsang muntah                                 Muntah setelah batuk
             Nyeri perut                              Pada anak yang lebih tua keluhan utama            Rewel
             Muntah                                    dapat berupa batuk produktif                      Penurunan nafsu makan
             Demam tinggi, bisa mencapai suhu         Nyeri dada pada keadaan yang lebih berat.
               400 C                                   Pada umumnya gejala akan menghilang              Pemeriksaan Fisik
             Nyeri tenggorokan                         dalam 10-14 hari. Bila gejala dan tanda klinis    Vital sign : takipnea, takikardi, peningkatan suhu
                                                        menetap sampai 2-3 minggu,perlu dicurigai         NCH (+)
            Pemeriksaan Fisik                           adanya proses kronis atau terjadi infeksi         Sianosis (+) jika gejala berat.
            Faringitis streptokous sangat mungkin       bakteri sekunder.                                 Thoraks:
            jika dijumpai pada pemeriksaan fisik:                                                          Inspeksi
             Demam                                                                                          - Bentuk dada tampak hiperinflasi
             Faring hiperemis                        Pemeriksaan Fisik                                      - Retraksi dinding dada (subkosta, interkosta,
             Tonsil (amandel) membesar dan            Stadium awal biasanya tidak khas.                      supraklavikula)
                memerah, kadang disertai               Demam, gejala rinitis sebagai manifestasi            - Ekspirasi memanjang
                detritus/bercak.                        pengiring, atau faring hiperemis.                  Perkusi
             Kelenjar limfe di leher anterior         Sejalan     dengan     perkembangan     serta        - Hipersonor
                membengkak dan nyeri                    progresivitas batuk, pada auskultasi dada          Auskultasi
             Uvula bengkak dan merah                   dapat terdengar ronki, wheezing, ekspirasi           - Wheezing eksiprasi
             Ekskoriasi hidung disertai lesi           memanjang atau tanda obstruksi lainnya. Bila         - Bisa ditemukan crackles atau ronki
                impetigo sekunder                       lendir banyak dan tidak terlalu lengket akan         - Apnea dapat terjadi pada bayi terrutama usia < 6
             Ruam skarlatina                           terdengar ronki basah.                                 minggu, prematur atau BBLR.
             Patekie palatum mole
                                                      Pemeriksaan Penunjang                              WHO:
             Jika dijumpai gejala dan tanda berikut   Tidak ada pemeriksaan penunjang yang                Wheezing yang tidak meembaik dengan 3 dosis
            ini, maka kemungkinan besar bukan         memberikan hasil definitif untuk diagnosis           bronkodilator kerja cepat
            faringitis streptokokus:                  bronkitis.                                          Ekspirasi memanjang
             Usia < 3 tahun                           Radiologis                                        Hiperinflasi dinding dada, dengan hipersonor pada
             Awitan bertahap                           Normal atau didapatkan peningkatan corakan         perkusi
             Kelainan melibatkan beberapa              bronchial                                         Tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam
mukosa                                                                                        Crackles atau ronki pada auskultasi dada
                 Konjungtivitis, diare, batuk, pilek,                                                          Sulit makan, menyusu atau minum.
                  suara serak
                 Mengi, ronki di paru                                                                         Pemeriksaan Penunjang
                 Eksantem ulseratif                                                                            Saturasi Oksigen
                                                                                                                Pulse oximetry
                Faringitis difteri:                                                                             AGD menilai bayi dg distress nafas berat
                 Membran asimetris, mudah berdarah,                                                            Foto thoraks  gambaran hiperinflasi & infiltrate,
                  berwarna kelabu pada faring                                                                    tapi gambaran tidak spesifik dapat ditemukan pada
                 Membran meluas dari batas anterior                                                             asma, pneumonia viral atau tipikal.
                  tonsil hingga palatum mole dan atau                                                           Pemeriksaan virologi
                  ke uvula

                Pemeriksaan lanjutan:
                 Tes apus tenggorokan
                 ASTO

Penataksanaan   Antibiotik                                   Penderita tidak perlu dirawat inap kecuali ada   Antibiotika Profilaksis
                Antibiotik pilihan pada terapi faringitis     indikasi seperti dehidrasi atau penyempitan       Bila nafas cepat saja, pasien dapat rawat jalan 
                akut Streptokokus grup A adalah:              bronkus yang berat.                                kotrimoksazol (4 mg TMP/kgBB/kali) 2 kali sehari
                 Penisilin V oral 15-30                                                                         atau amoksisilin (25 mg/kgBB/kali), 2 kali sehari
                   mg/kgBB/hari, dibagi 3 dosis selama       Medikamentosa                                      selama 3 hari
                   10 hari atau                               - Antibiotik tidak direkomendasikan secara        Bila ada tanda distress pernafasan tanpa sianosis,
                 Benzatin penisilin G IM dosis                 rutin, bahkan pemberian antibiotik dengan        anak masih bisa minum  rawat anak di rumah sakit
                   tunggal 600.000 (BB<30 kg) dan               indikasi untuk pencegahan superinfeksi           dan beri ampisilin (25-50 mg/kgBB/kali IV atau IM
                   1.200.000 (BB>30kg)                          saluran napas bawah tidak memberikan             setiap 6 jam), yang harus dipantau dalam 24 jam
                 Amoksisilin 50 mg/kgBB/hari dibagi            keuntungan.                                      selama 72 jam pertama.
                   2 selama 6 hari  dpt digunakan            - Bronkodilator agonis 2, seperti salbutamol            - Respons baik  terapi dilanjutkan di rumah
                   sebagai pengganti penisilin                          jika     disertai     tanda-tanda              atau di rumah sakit dengan amoksisilin oral
                 Alergi penisilin  eritromisin etil           bronkokontriksi.                                        (25 mg/kgBB/kali, 2 kali sehari), untuk 3 hari
                   suksinat 40 mg/kgBB/hari,                    Pemberian salbutamol dengan dosis 0,1                   berikutnya.
                   eritromisin esolat 20-40                     mg/kgBB/kali akan mengurangi batuk                    - Bila keadaan klinis memburuk sebelum 48
                   mg/kgBB/hari dengan pemberian                dalam 7 hari, lebih baik dibandingkan                   jam, atau terdapat keadaan yang berat (tidak
                   2,3, atau 4 kali per hari selama 10          pemberian antibiotik,                                   dapat menyusu atau minum/makan atau
                   hari.                                      - Analgesik & antipiretik bila diperlukan                 memuntahkan semuanya, kejang,letargis atau
                                                                dapat diberikan.                                        tidak sadar, sianosis, distress pernapasan
                Supportif                                     - Pemberian           antitusif         tidak             berat),  ditambahkan kloramfenikol (25
                 Isitirahat                                    direkomendasikan                                        mg/kgBB/kali IM atau IV setiap 8 jam sampai
                 Pemberian cairan yang sesuai                - Mukolitik dan ekspektoran, walau belum                  keadaan meembaik, dilanjutkan per oral 4 kali
                 Nyeri yang berlebihan atau demam              cukup bukti klinis yang kuat, dapat                     sehari sampai total 10 hari.
 paracetamol atau ibuprofen                 dipertimbangkan diberikan bila batuknya            Bila pasien datang dalam keadaan klinis berat
              Throat Lozenges / Gargles  nyeri            efektif dan pada anak diatas 2 tahun.               (pneumonia beraat) segera berikan oksigen dan
               atau rasa tidak nyaman pada                                                                      pengobatan kombinasi ampisilin-kloramfenikol atau
               tenggorokan                               Suportif                                              ampisilin-gentamisin.
                                                          - Diperlukan istirahat                               Sebagai alternatif, beri ceftriaxon (80-100
             Terapi bedah (Tosilectomy)                   - Asupan makanan yang cukup                           mg/kgBB/kali IM atau IV sekali sehari)
             Indikasi absolut                             - Kelembaban udara yang cukup
              Hipertrofi tonsil yang menyebabkan:        - Masukan cairan yang adekuat.                      Oksigen
                - Obstruksi saluran napas misal pada                                                          Diberikan pada semua anak dengan wheezing dan
                   OSAS (Obstructive Sleep Apnea         Pemantauan                                          distress pernapasan berat.
                   Syndrome)                              Anak-anak dengan bronkitis akut berulang            Metode yang direkomendasikan untuk pemberian
                - Disfagia berat yang disebabkan          harus dinilai secara seksama untuk                  oksigen adalah dengan nasal prongs atau kateter nasal
                   obstruksi                              menemukan kemungkinan adanya anomali-
                - Gangguan tidur                          anomali pada saluran napas, benda asing,            Supportif
                - Gangguan pertumbuhan                    bronkiektasis, imunodefisiensi, tuberkulosis,        Kortikosteroid  mengurangi edema saluran
                   dentofacial                            alergi, sinusitis, tonsilitis, adenoiditis, serta     pernapasan
                - Gangguan bicara (hiponasal)             fibrosis kistik.                                      Kortikosteroid 15-20 mg/kgBB/hari atau
                - Komplikasi kardiopulmoner                                                                     dexametason 0,5 mg/kgBB/hari dibagi dalam 3 dosis
              Riwayat abses peritonsil.                                                                        selama 2-3 hari.
              Tonsilitis yang membutuhkan biopsi                                                              Cairan dan elektrolit dengan dextrose 5 5 dan NaCl
                untuk menentukan patologi anatomi                                                               disesuaikan berdasarkan umur dan berat badan
                terutama untuk hipertrofi tonsil                                                               Demam  paracetamol
                unilateral.
              Tonsilitis kronik atau berulang
                sebagai fokal infeksi untuk penyakit-
                penyakit lain

Komplikasi                                                                                                    Pneumothoraks

TFA, BRONKITIS, BRONKIOLITIS

  • 1.
    Faringitis, Tonsilitis, Tonsilofaringitis Bronkitis Akut Bronkiolitis Akut Akut Batasan  Merupakan Infeksi akut dari faring  Proses inflamasi yang mengenai trakea,  WHO: infeksi saluran respiratorik bawah yang atau tonsila palatina atau keduanya bronkus utama, dan menengah, yang disebabkan virus, yang biasanya lebih berat pada (dari tonsil ke adenoid dan lingual bermanifestasi sebagai batuk, serta biasanya bayi muda, terjadi epidemik setiap tahun dan di tonsil). akan membaik tanpa terapi dalam 2 minggu. tandai dengan obstruksi saluran pernafasan.  Pada anak agaknya bukan merupakan suatu  Penyakit IRA bawah yang ditandai dengan adanya penyakit tersendiri, tapi berhubungan dengan inflamasi pada bronkiolus. keadaan lain seperti asma dan fibrokistik Epidemiologi  Biasanya pada anak, jarang pada -  Tersering pada bayi, usia 2-24 bulan. Puncak usia 2-8 anak usia < 1 tahun bulan  Insiden meningkat sesuai dengan  Orestein: paling sering terjadi pada bayi laki-laki usia bertambahnya umur, puncaknya pada 3-6 bulan yang tidak mendapatkan ASI dan hidup di usia 4-7 tahun, dan berlanjut hingga lingkungan padat penduduk dewasa  Insiden faringitis Streptokokus tertinggi pada usia 5-18 tahun, jarang pada usia < 3 tahun  Laki-laki = perempuan Etiologi Bakteri (5-40% kasus)  Virus  90% kasus  Rhinovirus, RSV,  95% disebabkan oleh invasi Respiratory Syncytial  Group A beta-hemolytic streptococci virus Influenza, virus Paraifluenza, Virus (RSV). (15% of all pharyngitis) Adenovirus, virus Rubeola, Paramyxovirus  Orestein : Adenovirus, Influenza virus, Parainfluenza  Group C, G, and F streptococci  Bakteri  10%, dapat merupakan infeksi virus, Rhinovirus, dan Mycoplasma. (10%) sekunder. S. aureus, S. pneumoniae, H.  Arcanobacterium (Corynebacterium) influenza, Bordatella pertusis, haemolyticus (5%) Corynebacterium diphteriae  M pneumoniae  Mycoplasma  manifestasi tidak khas. Biasa  C pneumoniae (5%) pada anak usia > 5 tahun atau remaja  Neisseria gonorrhoeae is rare  Polusi udara, alergi, aspirasi kronis, refluks  Corynebacterium diphtheriae is rare gastroesophageal. Virus (40-60% kasus) ;  Adenovirus (5%)  Herpes simplex (5%),  Coxsackieviruses A and B (5%),  Epstein-Barr virus (EBV)  CMV  HIV-1
  • 2.
     Rhinovirus  Influenza virus  Parainfluenza virus  Coronavirus  Enterovirus  Respiratory syncytial virus Jamur Patofisiologi Bakteri/virus menginvasi mukosa faring Virus/bakteri masuk ke saluran nafas Infeksi virus pada epitel bersilia bronkiolus Respon inflamasi lokal Reaksi inflamasi Respon inflamasi akut Pelepasan sitokin dan mediator pro Sitokin2 pro inflamasi Sekresi mucus inflamasi Penimbunan debris selular/sel-sel mati yang terkelupas Peningkatan aktivitas kelenjar mucus, Infiltrasi limfosit peribronkial Eritema faring, tonsil, atau keduanya Dekuamasi sel-sel epitel bersilia Infiltrasi leukosit PMN ke dalam dinding dan Edema submukosa lumen saluran respiratori Saluran bronkiolus menyempit Batuk Sekresi tampak purulen Obstruksi bronkiolus Hambatan aliran udara Peningkatan resistensi pada bronkiolus selama fase inspirasi & ekspirasi (krn radius saluran ekspiratori >> kecil selama ekspirasi)  wheezing Air trapping dan hiperinflasi  ekspirasi memanjang Gangguan pertukaran gas normal Ketidakseimbangan ventilasi-perfusi  dispnea Hipoksemia & hipoksia jaringan Kompensasi takipnea
  • 3.
    Diagnosis Anamnesis Anamnesis Anamnesis Gejala faringitis khas akibat bakteri  Demam, nyeri kepala, nyeri otot selama 3-4  Anak usia < 2 tahun streptokokus: hari diikuti dengan batuk.  Gejala awal: gejala infeksi respiratori atas akibat  Rasa nyeri tenggorokan dengan  Awalnya batuk bersifat kering dan keras, virus, seperti pilek ringan, batuk, demam subfebris. awitan mendadak kemudian berkembang menjadi batuk yang  1 atau 2 hari kemudian timbul batuk yang disertai  Nyeri saat menelan (disfagia) produktif, dahak bisa jernih atau purulen. sesak nafas  Demam Batuk biasanya berlangsung 7-10 hari, tetapi  Wheezing ekspirasi dapat juga berlangsung sampai 3 minggu.  Sianosis Urutan gejala yang biasa dikeluhkan  Pada anak kecil,usaha untuk mengeluarkan  Merintih (grunting) oleh anak usia > 2 tahun: dahak yang lengket dan kental dapat  Nafas berbunyi  Nyeri kepala merangsang muntah  Muntah setelah batuk  Nyeri perut  Pada anak yang lebih tua keluhan utama  Rewel  Muntah dapat berupa batuk produktif  Penurunan nafsu makan  Demam tinggi, bisa mencapai suhu  Nyeri dada pada keadaan yang lebih berat. 400 C  Pada umumnya gejala akan menghilang Pemeriksaan Fisik  Nyeri tenggorokan dalam 10-14 hari. Bila gejala dan tanda klinis  Vital sign : takipnea, takikardi, peningkatan suhu menetap sampai 2-3 minggu,perlu dicurigai  NCH (+) Pemeriksaan Fisik adanya proses kronis atau terjadi infeksi  Sianosis (+) jika gejala berat. Faringitis streptokous sangat mungkin bakteri sekunder.  Thoraks: jika dijumpai pada pemeriksaan fisik: Inspeksi  Demam - Bentuk dada tampak hiperinflasi  Faring hiperemis Pemeriksaan Fisik - Retraksi dinding dada (subkosta, interkosta,  Tonsil (amandel) membesar dan  Stadium awal biasanya tidak khas. supraklavikula) memerah, kadang disertai  Demam, gejala rinitis sebagai manifestasi - Ekspirasi memanjang detritus/bercak. pengiring, atau faring hiperemis. Perkusi  Kelenjar limfe di leher anterior  Sejalan dengan perkembangan serta - Hipersonor membengkak dan nyeri progresivitas batuk, pada auskultasi dada Auskultasi  Uvula bengkak dan merah dapat terdengar ronki, wheezing, ekspirasi - Wheezing eksiprasi  Ekskoriasi hidung disertai lesi memanjang atau tanda obstruksi lainnya. Bila - Bisa ditemukan crackles atau ronki impetigo sekunder lendir banyak dan tidak terlalu lengket akan - Apnea dapat terjadi pada bayi terrutama usia < 6  Ruam skarlatina terdengar ronki basah. minggu, prematur atau BBLR.  Patekie palatum mole Pemeriksaan Penunjang WHO: Jika dijumpai gejala dan tanda berikut Tidak ada pemeriksaan penunjang yang  Wheezing yang tidak meembaik dengan 3 dosis ini, maka kemungkinan besar bukan memberikan hasil definitif untuk diagnosis bronkodilator kerja cepat faringitis streptokokus: bronkitis.  Ekspirasi memanjang  Usia < 3 tahun  Radiologis  Hiperinflasi dinding dada, dengan hipersonor pada  Awitan bertahap Normal atau didapatkan peningkatan corakan perkusi  Kelainan melibatkan beberapa bronchial  Tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam
  • 4.
    mukosa  Crackles atau ronki pada auskultasi dada  Konjungtivitis, diare, batuk, pilek,  Sulit makan, menyusu atau minum. suara serak  Mengi, ronki di paru Pemeriksaan Penunjang  Eksantem ulseratif  Saturasi Oksigen  Pulse oximetry Faringitis difteri:  AGD menilai bayi dg distress nafas berat  Membran asimetris, mudah berdarah,  Foto thoraks  gambaran hiperinflasi & infiltrate, berwarna kelabu pada faring tapi gambaran tidak spesifik dapat ditemukan pada  Membran meluas dari batas anterior asma, pneumonia viral atau tipikal. tonsil hingga palatum mole dan atau  Pemeriksaan virologi ke uvula Pemeriksaan lanjutan:  Tes apus tenggorokan  ASTO Penataksanaan Antibiotik  Penderita tidak perlu dirawat inap kecuali ada Antibiotika Profilaksis Antibiotik pilihan pada terapi faringitis indikasi seperti dehidrasi atau penyempitan  Bila nafas cepat saja, pasien dapat rawat jalan  akut Streptokokus grup A adalah: bronkus yang berat. kotrimoksazol (4 mg TMP/kgBB/kali) 2 kali sehari  Penisilin V oral 15-30 atau amoksisilin (25 mg/kgBB/kali), 2 kali sehari mg/kgBB/hari, dibagi 3 dosis selama  Medikamentosa selama 3 hari 10 hari atau - Antibiotik tidak direkomendasikan secara  Bila ada tanda distress pernafasan tanpa sianosis,  Benzatin penisilin G IM dosis rutin, bahkan pemberian antibiotik dengan anak masih bisa minum  rawat anak di rumah sakit tunggal 600.000 (BB<30 kg) dan indikasi untuk pencegahan superinfeksi dan beri ampisilin (25-50 mg/kgBB/kali IV atau IM 1.200.000 (BB>30kg) saluran napas bawah tidak memberikan setiap 6 jam), yang harus dipantau dalam 24 jam  Amoksisilin 50 mg/kgBB/hari dibagi keuntungan. selama 72 jam pertama. 2 selama 6 hari  dpt digunakan - Bronkodilator agonis 2, seperti salbutamol - Respons baik  terapi dilanjutkan di rumah sebagai pengganti penisilin  jika disertai tanda-tanda atau di rumah sakit dengan amoksisilin oral  Alergi penisilin  eritromisin etil bronkokontriksi. (25 mg/kgBB/kali, 2 kali sehari), untuk 3 hari suksinat 40 mg/kgBB/hari, Pemberian salbutamol dengan dosis 0,1 berikutnya. eritromisin esolat 20-40 mg/kgBB/kali akan mengurangi batuk - Bila keadaan klinis memburuk sebelum 48 mg/kgBB/hari dengan pemberian dalam 7 hari, lebih baik dibandingkan jam, atau terdapat keadaan yang berat (tidak 2,3, atau 4 kali per hari selama 10 pemberian antibiotik, dapat menyusu atau minum/makan atau hari. - Analgesik & antipiretik bila diperlukan memuntahkan semuanya, kejang,letargis atau dapat diberikan. tidak sadar, sianosis, distress pernapasan Supportif - Pemberian antitusif tidak berat),  ditambahkan kloramfenikol (25  Isitirahat direkomendasikan mg/kgBB/kali IM atau IV setiap 8 jam sampai  Pemberian cairan yang sesuai - Mukolitik dan ekspektoran, walau belum keadaan meembaik, dilanjutkan per oral 4 kali  Nyeri yang berlebihan atau demam cukup bukti klinis yang kuat, dapat sehari sampai total 10 hari.
  • 5.
     paracetamol atauibuprofen dipertimbangkan diberikan bila batuknya  Bila pasien datang dalam keadaan klinis berat  Throat Lozenges / Gargles  nyeri efektif dan pada anak diatas 2 tahun. (pneumonia beraat) segera berikan oksigen dan atau rasa tidak nyaman pada pengobatan kombinasi ampisilin-kloramfenikol atau tenggorokan  Suportif ampisilin-gentamisin. - Diperlukan istirahat  Sebagai alternatif, beri ceftriaxon (80-100 Terapi bedah (Tosilectomy) - Asupan makanan yang cukup mg/kgBB/kali IM atau IV sekali sehari) Indikasi absolut - Kelembaban udara yang cukup  Hipertrofi tonsil yang menyebabkan: - Masukan cairan yang adekuat. Oksigen - Obstruksi saluran napas misal pada Diberikan pada semua anak dengan wheezing dan OSAS (Obstructive Sleep Apnea  Pemantauan distress pernapasan berat. Syndrome) Anak-anak dengan bronkitis akut berulang Metode yang direkomendasikan untuk pemberian - Disfagia berat yang disebabkan harus dinilai secara seksama untuk oksigen adalah dengan nasal prongs atau kateter nasal obstruksi menemukan kemungkinan adanya anomali- - Gangguan tidur anomali pada saluran napas, benda asing, Supportif - Gangguan pertumbuhan bronkiektasis, imunodefisiensi, tuberkulosis,  Kortikosteroid  mengurangi edema saluran dentofacial alergi, sinusitis, tonsilitis, adenoiditis, serta pernapasan - Gangguan bicara (hiponasal) fibrosis kistik. Kortikosteroid 15-20 mg/kgBB/hari atau - Komplikasi kardiopulmoner dexametason 0,5 mg/kgBB/hari dibagi dalam 3 dosis  Riwayat abses peritonsil. selama 2-3 hari.  Tonsilitis yang membutuhkan biopsi  Cairan dan elektrolit dengan dextrose 5 5 dan NaCl untuk menentukan patologi anatomi disesuaikan berdasarkan umur dan berat badan terutama untuk hipertrofi tonsil  Demam  paracetamol unilateral.  Tonsilitis kronik atau berulang sebagai fokal infeksi untuk penyakit- penyakit lain Komplikasi Pneumothoraks