BAB II
PEMBAHASAN

Metode Simplek – Minimum
Masalah minimisasi sangat mungkin ditemui di dalam formulasi LP (Linear Program).
Bagaimana menyelesaikan masalah LP jika fungsi tujuannya berbentuk minimisasi? Misalkan
fungsi tujuannya adalah : Z Min. = 40x1 + 30x2
Untuk menangani masalah ini, ada dua metode yang dapat dilakukan, yaitu:
Meode 1
Mengubah fungsi tujuan minimum menjadi maksimum. Caranya adalah mengalikan fungsi tujuan
minimum dengan minus satu. Misalkan, fungsi tujuan Z min. = 40x1 + 25x2, diubah maksimum
menjadi: - Z* mak. = Z = - 40x1 + 25x2.
Jika cara ini dilakukan , maka berlaku ketentuan sebagai berikut ini.
1) Tabel simpleks berakhir (optimal) apabila nilai yang terdapat pada baris Zj – Cj ≤ 0.
2) Pada table awal, nilai pada baris Zj – Cj yang berkorespondensi dengan variabel keputusan
bertanda positif.
3) Kolom kunci dipilih dari nilai positif terbesar.
4) Baris kunci tetap mengikuti aturan perbandingan minimum dan bukan negatif.
5) Proses iterasi selanjutnya sama dengan cara terdahulu.

Contoh 1. Masalah Minimisasi Produk Mix
Sebuah masalah LP yang telah diformulasikan berbentuk sebagai berikut :
Minimum Z = 40x1 + 25x2
d.k 1. 3x1 + 2x2 ≤ 150
2. 8x1 + 2x2 ≤ 200
≥ 0

3. x1

x2 ≥ 0

4.

Formulasi LP di atas dapat diubah menjadi bentuk standar dengan fungsi tujuan diubah menjadi
bentuk maksimum.
Maksimum – Z* = Z = - 40x1 - 25x2 + 0S1 + 0S2
d.k

= 150

2. 8x1 + 2x2 + 0S1 + S2
u.h

1. 3x1 + 2x2 + S1 + 0S2

= 200

,

,

x1 x2 S1, S2

≥0

Dengan mengikuti langkah-langkah metode simpleks, penyelesaian masalah minimisasi produk mix
adalah sebagai berikut.
Tabel awal Simpleks Masalah Minimisasi

CB

Vrb.
basis

Cj

-25

X1

bj

-40

0

0

x2

s1

s2

Indeks

0

S1

150

3

2

1

0

150/3 = 50

0

S2

200

8

2

0

1

200/8 = 25

Zj - Cj

0

40

25

0

0

Tabel Iterasi 1
CB

Vrb.

Cj

-40

-25

0

0

Indeks

basis

bj

X1

x2

s1

s2

0

S1

75

0

1,25

1

-3/8

75/1,25 = 60

-40

X1

25

1

0,25

0

1/8

25/0,25 = 100

Zj - Cj

-1000

0

15

0

-5

-25

0

0

x2

s1

s2

Tabel Iterasi 2 (Optimum)
CB

Vrb.
basis

Cj

-40

bj

X1

-25

X2

60

0

-40

X1

10

0,3

Zj - Cj

-1.900

1

1

0

0

0,8

Indeks

-0,2
0

-12

-

0,2
-

0,5

Hasil tabel iterasi ke-2, menunjukkan bahwa solusi optimum adalah: x1 = 10, dan x2 = 60.
Minimun Z = -Z* = -40(10) – 25(60)
= -(-1.900) = 1.900
Metode 2
Dalam metode ini, kita tidak melakukan perubahan bentuk fungsi tujuan, tetapi secara
langsung fungsi tujuan minimum dimasukkan dalam table (tetap seperti aslinya).
Jika cara ini dilakukan, maka berlaku ketentuan sebagai berikut:
1. Tabel simpleks berakhir (optimal) apabila nilai yang terdapat pada baris Zj - Cj ≥ 0
2. Oleh karena fungsi tujuan berbentuk minimum, maka kolom kunci dipilih nilai negatif terkecil
yang terdapat pada baris Zj - Cj
3. Baris kunci tetap mengikuti aturan perbandingan minimum dan bukan negatif.
4. Proses iterasi selanjutnya sama dengan cara terdahulu.
Lihat kembali contoh 1 di atas. Bentuk standar masalah minimisasi produk mix adalah sebagai
berikut:
Minimum Z = 40x1 + 25x2 + 0S1 + 0S2
d.k

= 150

2. 8x1 + 2x2 + 0S1 + S2
u.h

1. 3x1 + 2x2 + S1 + 0S2

= 200

x1, x2, S1, S2

≥ 0

Jika bentuk standar tersebut diselesaikan menurut metode 2, hasilnya adalah sebagai berikut:
Tabel awal Simpleks Masalah Minimisasi
CB

Cj

-40

-25

bj

Vrb. basis

0

0

X1

x2

s1

s2

Indeks

0

S1

150

3

2

1

0

150/2 = 75

0

S2

200

8

2

0

1

200/2 = 100

Zj - Cj

0

-40 -25

0

0

Tabel Iterasi 1
CB

Vrb. basis

Cj

-40

-25

0

0

bj

X1

x2

s1

s2

Indeks

0

X2

75

1,5

1

0.5

0

75/1,5 = 50

0

S2

50

5

0

-1

1

50/5 = 10

Zj - Cj

1.875

12,5

0

-5/2 0

Tabel Iterasi 2 (optimum)
CB

Vrb. basis

Cj

-40

-25

bj

X1

x2

25

X2

60

0

40

X1

10
1.900

1

0

s1

Indeks

s2

0,3

Zj - Cj

0

1

0

0
0

0,8

-

-0,2

0,2

12

0,5

Tabel optimum kedua metode tersebut menunjukkan hasil yang sama, yaitu x1 = 10 unit dan x2 = 60
unit dengan total nilai Z =Rp 1.900,00.
Kendala Berbentuk Lebih Besar Sama Dengan (≥)
Penyelesaian masalah LP dengan metode simpleks, menghendaki adanya pemecahan awal yang
fisibel (anatial basic feasible solution) yaitu setiap kendala memiliki variabel basis. Jika kita
memiliki LP yang mempunyai kendala kebih besar sama dengan (≥), misalnya 2x1 + 3x2 ≥ 30, dapa
diubah menjadi persamaan dengan mengurangkan surplus variabel sebelah kanan kendala sebagai
berikut:
2x1 + 3x2 – S = 30, dimana S ≥ 0. Persamaan kendala tersebut tidak memiliki variabel basis. Oleh
karena itu table awal simpleks belum dapat dibuat.
Untuk

tabel awal simpleks yang fisibel, dapat ditambahkan satu variabel basis semu

(artificial variabel) yaitu Q, yang bertindak sebagai variabel basis. Sehingga kendala berubah
menjadi: 2x1 + 3x2 – S + Q = 30, dimana Q adalah variabel semu. Penggunaan variabel semu
merupakan cara yang sangat sistematis untuk membentuk tabel awal simpleks.
Kendala Berbentuk Sama Dengan (=)
Kendala berbentuk sama dengan (=) juga tidak memiliki variabel basis. Oleh karena itu
tambahkan satu variabel basis semu, agar table awal simpleks dapa dibentuk.
Misalkan, 2x1 + 4x2 = 20, dapat diubah menjadi 2x1 + 4x2 + Q = 20, dimana Q adalah variabel basis
semu.
Meskipun semua kendala telah memiliki variabel basis, tetapi penambahan variabel semu
tersebut bukan penyelesaian yang fisibel bagi masalah aslinya. Variabel semu harus dikurangi
nilainya hingga menjadi nol. Ada dua metode yang dapat dilakukan untuk mengnolkan variabel
semu yaitu :
1. Metode M besar
2. Metode dua fase (dua tahapan)
Metode M Besar
Dalam metode ini, koefisien fungsi rujuan untuk variabel semu diberi nilai yang sangat besar yaitu
negatif M atau – M untuk fungsi tujuan maksimum dan positif M atau + M untuk fungsi tujuan
minimum.
Contoh 2 Masalah variabel semu
Model LP yang telah diformulasikan berbentuk sebagai berikut :
Maksimum Z = 50x1 + 80x2
d.k

1. x1
2.

≤ 40
x2 ≥ 20

3. x1 + x2 = 50
4. x1, x2 ≥ 0
Model LP yang telah diformulasikan berbentuk sebagai berikut:
Maksimum Z =50x1 + 80x2 + 0S1 - 0S2 - MQ1 – MQ2
d.k

1. x1
2.

+ S1 + 0S2 + 0Q1 + 0Q2 = 40
x2 + 0S1 - S2 + Q1 + 0Q2

= 20

3. x1 + x2 + 0S1 + 0S2 + 0Q1 + Q2 = 50
4. x1, x2,

S1,

S2,

Q1,

≥ 0

Q2

Tabel awal simpleks dapat dibuat seperti berikut ini:
Tabel awal simpleks Metode M besar
CB

Vrb. basis

Cj

50

80

0

0

-M

-M

bj

X1

x2

s1

s2

Q1

Q2

1

0

0

0

40/0 = ~

0

20/1 = 20

1

50/1 = 50

0

S1

40

1

0

-M

Q1

20

0

1

-M

Q2

50

1

1

Zj - Cj

-70M

-M-50 -2M-80

0
0

-1

1

0
0

0
M

0

Indeks

0

Nilai yang terdapat pada baris Zj – Cj Tabel di atas diisi dengan menggunakan cara sebagai berikut:
Z = [0, -M, -M]

- 0 = 0 – 20M – 50M = - 70M

Z1 = [0, -M, -M]

- 50 = 0 – M – 50 = - M - 50

Z2 = [0, -M, -M]

- 80 = 0 – M – M - 80 = - 2M - 80

Z4 = [0, -M, -M]

-0=0+M+0=M

Dan seterusnya.
Dengan mengikuti langkah-langkah metode simpleks terdahulu, penyelesaian contoh ke-2 dapat dilihat
berikut ini.
Tabel iterasi 1
CB

Vrb. basis

Cj

50

80 0

0

-M

-M

bj

x1

x2

s1 s2

Q1

Q2

Indeks

0

S1

40

1

0 1

0

0

0

40/0 = ~

80

x2

20

0

1 0

-1

1

0

20/-1=-20

-M

Q2

30

1

0 0

1

-1

1

30/1 = 30

Zj - Cj

-30M+1.600

-M-50 0

0

-M-80 2M+80 0
Tabel Iterasi 2 (Optimum)
CB

Vrb. basis

Cj

50

80

0

0

-M

-M

bj

x1

x2

s1

s2

Q1

Q2

Indeks

0

S1

40

1

0

1

0

0

0

80

x2

50

1

1

0

0

0

1

0

s2

30

1

0

0

1

-1

1

Zj - Cj

4000

30

0

0

0

M

M+80

Solusi optimum dicapai apabila x1 = 0 dan x2 = 50, dengan nilai Z = 4.000
Metode dua fase
Dalam metode dua fase, penyelesaian dipisahkan menjadi dua tahapan. Setiap tahapan
menggunakan tabel simpleks dan proses kerjanya tetap menggunakan langkah-langkah metode
simpleks.
Fase 1
Tahapan pertama bertujuan untuk mngnolkan/menghilangkan variabel semu, dengan cara membuat
fungsi tujuan semu. Fungsi tujuan semu memiliki jumlah variabel sama dengan jumlah variabel
semuanya. Kemudian fungsi tujuan semu dimaksimumkan dengan table simpleks. Koefisien fungsi
tujuan untuk variabel semu diberi nilai minus satu atau (-1) jika fungsi tujuan maksimum dan plus
satu atau (+1) jika fungsi tujuan minimum. Fase satu berakhir apabila fungsi tujuan semu memiliki
nilai nol. Proses dilanjutkan ke fase ke-dua.
Lihat kembali Contoh 2 di atas. Jumlah variabel semu ada dua yaitu Q1 dan Q2. Oleh karena
itu fungsi tujuan semunya adalah maksimum Z= - Q1 - Q2. Fungsi tujuan semu ini kita
maksimumkan , sehingga penyelesaian fase pertama nampak sebagai berikut.

Tabel Awal
CB

Vrb. basis

Cj

0

0

0

0

-1

bj

x1

x2

s1

s2 Q1

-1
Q2

Indeks

0

S1

40

1

0

1

0

0

0

40/0 = ~

-1

Q1

20

0

1

0

-1

1

0

20/1 = 20

-1

Q2

50

1

1

0

0

0

1

50/1 = 50

Zj - Cj

-70

-1

-2

0

1

0

0
Tabel Iterasi 1 Fase Pertama
CB

Cj

0

0

0

0

-1

-1

bj

Vrb. basis

x1

x2

s1

s2

Q1

Q2

Indeks

0

S1

40

1

0

1

0

0

0

40/0 = ~

0

x2

20

0

1

0

-1

1

0

20/-1 = -20

-1

Q2

30

1

0

0

1

-1

1

30/1 = 30

Zj - Cj

-30

-1

0

0

-1

2

0

Tabel Iterasi 2 Fase Pertama (Optimum)
CB

Vrb. basis

0

0

x1

x2

s1

s2

Q1

Cj
bj

0

0

-1

-1
Q2

0

S1

40

1

0

1

0

0

0

0

x2

50

1

1

0

0

1

1

0

s2

30

1

0

0

1

-1

1

Zj - Cj

30

1

0

0

0

1

Indeks

1

Pada table di atas (optimum) fungsi tujuan semu sudah di optimumkan, dan variabel semu Q1
dan Q2 sudah keluar dari basis. Proses dapat dilanjutkan ke fase ke-dua.
Apabila variabel semu masih berada dalam basis dengan nilai positif, maka persoalan tersebut
tidak layak. Mungkin kesalahan dalam proses perhitungan atau kesalahan dalam formulasi LP.
Proses tahap kedua tidak perlu dilanjutkan.
Fase 2
Tabel akhir fase pertama merupakan tabek awal fase kedua. Kemudian dioptimalkan dengan
memasukkan fungsi ujuan aslinya. Karena pada fase pertama kita telah mengnolkan variabel semu,
maka pada fase kedua variabel semu tidak perlu disertakan lagi dalam table (dihilangkan). Lihat
table awal fase kedua berikut ini.
Tabel awal fase kedua
CB

Vrb. basis

Cj

80

0

0

x1

bj

50

x2

s1

s2

0

S1

40

1

0

1

0

80

x2

50

1

1

0

0

0

s2

30

1

0

0

1

4.000

30

0

0

Indeks

0

Zj - Cj

Setelah koefisien fungsi tujuan asli dimasukkan ke dalam table awal fase kedua, secara
langsung table awal tersebut menunjukkan table optimum. Karena nilai yang terdapat pada baris Zj
– Cj ≥ 0. Solusi optimum adalah x1 = 0 dan x2 = 50.
Membandingkan metode M besar dengan metode dua fase, dapat disimpulkan bahwa kedua
metode sama-sama menggunakan variabel semu. Perbedaan terletak pada tahapan penyelesaian.
disamping itu Metode M besar perhitungannya lebih rumit. Hal ini yang perlu diperhatikan dalam
penggunaan metode M besar dan dua fase adalah :
1. Variabel semu hanya ditambahkan untuk mendapatkan pemecahan awal yang fisibel. Jika kita
menggunakan program komputer seperti QSB (Quantitative System for Business), maka
penambahan variabel semu tidak perlu dilakukan, karena QSB sudah diprogram sedemikian
rupa dalam menghadapi berbagai macam bentuk kendala.
2. Apabila variabel semu telah keluar dari dalam basis, maka pada abel berikutnya variabel semu
tidak perlu muncul kembali.
3. Pada tabel optimum semua variabel semu harus keluar dari dalam basis. Jika variabel semu
masih terdapat dalam basis dengan nilai positif, maka persoalan tidak layak.

Metode Simplek Minimasi

  • 1.
    BAB II PEMBAHASAN Metode Simplek– Minimum Masalah minimisasi sangat mungkin ditemui di dalam formulasi LP (Linear Program). Bagaimana menyelesaikan masalah LP jika fungsi tujuannya berbentuk minimisasi? Misalkan fungsi tujuannya adalah : Z Min. = 40x1 + 30x2 Untuk menangani masalah ini, ada dua metode yang dapat dilakukan, yaitu: Meode 1 Mengubah fungsi tujuan minimum menjadi maksimum. Caranya adalah mengalikan fungsi tujuan minimum dengan minus satu. Misalkan, fungsi tujuan Z min. = 40x1 + 25x2, diubah maksimum menjadi: - Z* mak. = Z = - 40x1 + 25x2. Jika cara ini dilakukan , maka berlaku ketentuan sebagai berikut ini. 1) Tabel simpleks berakhir (optimal) apabila nilai yang terdapat pada baris Zj – Cj ≤ 0. 2) Pada table awal, nilai pada baris Zj – Cj yang berkorespondensi dengan variabel keputusan bertanda positif. 3) Kolom kunci dipilih dari nilai positif terbesar. 4) Baris kunci tetap mengikuti aturan perbandingan minimum dan bukan negatif. 5) Proses iterasi selanjutnya sama dengan cara terdahulu. Contoh 1. Masalah Minimisasi Produk Mix Sebuah masalah LP yang telah diformulasikan berbentuk sebagai berikut : Minimum Z = 40x1 + 25x2 d.k 1. 3x1 + 2x2 ≤ 150 2. 8x1 + 2x2 ≤ 200 ≥ 0 3. x1 x2 ≥ 0 4. Formulasi LP di atas dapat diubah menjadi bentuk standar dengan fungsi tujuan diubah menjadi bentuk maksimum. Maksimum – Z* = Z = - 40x1 - 25x2 + 0S1 + 0S2 d.k = 150 2. 8x1 + 2x2 + 0S1 + S2 u.h 1. 3x1 + 2x2 + S1 + 0S2 = 200 , , x1 x2 S1, S2 ≥0 Dengan mengikuti langkah-langkah metode simpleks, penyelesaian masalah minimisasi produk mix adalah sebagai berikut.
  • 2.
    Tabel awal SimpleksMasalah Minimisasi CB Vrb. basis Cj -25 X1 bj -40 0 0 x2 s1 s2 Indeks 0 S1 150 3 2 1 0 150/3 = 50 0 S2 200 8 2 0 1 200/8 = 25 Zj - Cj 0 40 25 0 0 Tabel Iterasi 1 CB Vrb. Cj -40 -25 0 0 Indeks basis bj X1 x2 s1 s2 0 S1 75 0 1,25 1 -3/8 75/1,25 = 60 -40 X1 25 1 0,25 0 1/8 25/0,25 = 100 Zj - Cj -1000 0 15 0 -5 -25 0 0 x2 s1 s2 Tabel Iterasi 2 (Optimum) CB Vrb. basis Cj -40 bj X1 -25 X2 60 0 -40 X1 10 0,3 Zj - Cj -1.900 1 1 0 0 0,8 Indeks -0,2 0 -12 - 0,2 - 0,5 Hasil tabel iterasi ke-2, menunjukkan bahwa solusi optimum adalah: x1 = 10, dan x2 = 60. Minimun Z = -Z* = -40(10) – 25(60) = -(-1.900) = 1.900 Metode 2 Dalam metode ini, kita tidak melakukan perubahan bentuk fungsi tujuan, tetapi secara langsung fungsi tujuan minimum dimasukkan dalam table (tetap seperti aslinya). Jika cara ini dilakukan, maka berlaku ketentuan sebagai berikut: 1. Tabel simpleks berakhir (optimal) apabila nilai yang terdapat pada baris Zj - Cj ≥ 0 2. Oleh karena fungsi tujuan berbentuk minimum, maka kolom kunci dipilih nilai negatif terkecil yang terdapat pada baris Zj - Cj 3. Baris kunci tetap mengikuti aturan perbandingan minimum dan bukan negatif. 4. Proses iterasi selanjutnya sama dengan cara terdahulu.
  • 3.
    Lihat kembali contoh1 di atas. Bentuk standar masalah minimisasi produk mix adalah sebagai berikut: Minimum Z = 40x1 + 25x2 + 0S1 + 0S2 d.k = 150 2. 8x1 + 2x2 + 0S1 + S2 u.h 1. 3x1 + 2x2 + S1 + 0S2 = 200 x1, x2, S1, S2 ≥ 0 Jika bentuk standar tersebut diselesaikan menurut metode 2, hasilnya adalah sebagai berikut: Tabel awal Simpleks Masalah Minimisasi CB Cj -40 -25 bj Vrb. basis 0 0 X1 x2 s1 s2 Indeks 0 S1 150 3 2 1 0 150/2 = 75 0 S2 200 8 2 0 1 200/2 = 100 Zj - Cj 0 -40 -25 0 0 Tabel Iterasi 1 CB Vrb. basis Cj -40 -25 0 0 bj X1 x2 s1 s2 Indeks 0 X2 75 1,5 1 0.5 0 75/1,5 = 50 0 S2 50 5 0 -1 1 50/5 = 10 Zj - Cj 1.875 12,5 0 -5/2 0 Tabel Iterasi 2 (optimum) CB Vrb. basis Cj -40 -25 bj X1 x2 25 X2 60 0 40 X1 10 1.900 1 0 s1 Indeks s2 0,3 Zj - Cj 0 1 0 0 0 0,8 - -0,2 0,2 12 0,5 Tabel optimum kedua metode tersebut menunjukkan hasil yang sama, yaitu x1 = 10 unit dan x2 = 60 unit dengan total nilai Z =Rp 1.900,00. Kendala Berbentuk Lebih Besar Sama Dengan (≥) Penyelesaian masalah LP dengan metode simpleks, menghendaki adanya pemecahan awal yang fisibel (anatial basic feasible solution) yaitu setiap kendala memiliki variabel basis. Jika kita memiliki LP yang mempunyai kendala kebih besar sama dengan (≥), misalnya 2x1 + 3x2 ≥ 30, dapa
  • 4.
    diubah menjadi persamaandengan mengurangkan surplus variabel sebelah kanan kendala sebagai berikut: 2x1 + 3x2 – S = 30, dimana S ≥ 0. Persamaan kendala tersebut tidak memiliki variabel basis. Oleh karena itu table awal simpleks belum dapat dibuat. Untuk tabel awal simpleks yang fisibel, dapat ditambahkan satu variabel basis semu (artificial variabel) yaitu Q, yang bertindak sebagai variabel basis. Sehingga kendala berubah menjadi: 2x1 + 3x2 – S + Q = 30, dimana Q adalah variabel semu. Penggunaan variabel semu merupakan cara yang sangat sistematis untuk membentuk tabel awal simpleks. Kendala Berbentuk Sama Dengan (=) Kendala berbentuk sama dengan (=) juga tidak memiliki variabel basis. Oleh karena itu tambahkan satu variabel basis semu, agar table awal simpleks dapa dibentuk. Misalkan, 2x1 + 4x2 = 20, dapat diubah menjadi 2x1 + 4x2 + Q = 20, dimana Q adalah variabel basis semu. Meskipun semua kendala telah memiliki variabel basis, tetapi penambahan variabel semu tersebut bukan penyelesaian yang fisibel bagi masalah aslinya. Variabel semu harus dikurangi nilainya hingga menjadi nol. Ada dua metode yang dapat dilakukan untuk mengnolkan variabel semu yaitu : 1. Metode M besar 2. Metode dua fase (dua tahapan) Metode M Besar Dalam metode ini, koefisien fungsi rujuan untuk variabel semu diberi nilai yang sangat besar yaitu negatif M atau – M untuk fungsi tujuan maksimum dan positif M atau + M untuk fungsi tujuan minimum. Contoh 2 Masalah variabel semu Model LP yang telah diformulasikan berbentuk sebagai berikut : Maksimum Z = 50x1 + 80x2 d.k 1. x1 2. ≤ 40 x2 ≥ 20 3. x1 + x2 = 50 4. x1, x2 ≥ 0 Model LP yang telah diformulasikan berbentuk sebagai berikut: Maksimum Z =50x1 + 80x2 + 0S1 - 0S2 - MQ1 – MQ2 d.k 1. x1 2. + S1 + 0S2 + 0Q1 + 0Q2 = 40 x2 + 0S1 - S2 + Q1 + 0Q2 = 20 3. x1 + x2 + 0S1 + 0S2 + 0Q1 + Q2 = 50
  • 5.
    4. x1, x2, S1, S2, Q1, ≥0 Q2 Tabel awal simpleks dapat dibuat seperti berikut ini: Tabel awal simpleks Metode M besar CB Vrb. basis Cj 50 80 0 0 -M -M bj X1 x2 s1 s2 Q1 Q2 1 0 0 0 40/0 = ~ 0 20/1 = 20 1 50/1 = 50 0 S1 40 1 0 -M Q1 20 0 1 -M Q2 50 1 1 Zj - Cj -70M -M-50 -2M-80 0 0 -1 1 0 0 0 M 0 Indeks 0 Nilai yang terdapat pada baris Zj – Cj Tabel di atas diisi dengan menggunakan cara sebagai berikut: Z = [0, -M, -M] - 0 = 0 – 20M – 50M = - 70M Z1 = [0, -M, -M] - 50 = 0 – M – 50 = - M - 50 Z2 = [0, -M, -M] - 80 = 0 – M – M - 80 = - 2M - 80 Z4 = [0, -M, -M] -0=0+M+0=M Dan seterusnya. Dengan mengikuti langkah-langkah metode simpleks terdahulu, penyelesaian contoh ke-2 dapat dilihat berikut ini. Tabel iterasi 1 CB Vrb. basis Cj 50 80 0 0 -M -M bj x1 x2 s1 s2 Q1 Q2 Indeks 0 S1 40 1 0 1 0 0 0 40/0 = ~ 80 x2 20 0 1 0 -1 1 0 20/-1=-20 -M Q2 30 1 0 0 1 -1 1 30/1 = 30 Zj - Cj -30M+1.600 -M-50 0 0 -M-80 2M+80 0
  • 6.
    Tabel Iterasi 2(Optimum) CB Vrb. basis Cj 50 80 0 0 -M -M bj x1 x2 s1 s2 Q1 Q2 Indeks 0 S1 40 1 0 1 0 0 0 80 x2 50 1 1 0 0 0 1 0 s2 30 1 0 0 1 -1 1 Zj - Cj 4000 30 0 0 0 M M+80 Solusi optimum dicapai apabila x1 = 0 dan x2 = 50, dengan nilai Z = 4.000 Metode dua fase Dalam metode dua fase, penyelesaian dipisahkan menjadi dua tahapan. Setiap tahapan menggunakan tabel simpleks dan proses kerjanya tetap menggunakan langkah-langkah metode simpleks. Fase 1 Tahapan pertama bertujuan untuk mngnolkan/menghilangkan variabel semu, dengan cara membuat fungsi tujuan semu. Fungsi tujuan semu memiliki jumlah variabel sama dengan jumlah variabel semuanya. Kemudian fungsi tujuan semu dimaksimumkan dengan table simpleks. Koefisien fungsi tujuan untuk variabel semu diberi nilai minus satu atau (-1) jika fungsi tujuan maksimum dan plus satu atau (+1) jika fungsi tujuan minimum. Fase satu berakhir apabila fungsi tujuan semu memiliki nilai nol. Proses dilanjutkan ke fase ke-dua. Lihat kembali Contoh 2 di atas. Jumlah variabel semu ada dua yaitu Q1 dan Q2. Oleh karena itu fungsi tujuan semunya adalah maksimum Z= - Q1 - Q2. Fungsi tujuan semu ini kita maksimumkan , sehingga penyelesaian fase pertama nampak sebagai berikut. Tabel Awal CB Vrb. basis Cj 0 0 0 0 -1 bj x1 x2 s1 s2 Q1 -1 Q2 Indeks 0 S1 40 1 0 1 0 0 0 40/0 = ~ -1 Q1 20 0 1 0 -1 1 0 20/1 = 20 -1 Q2 50 1 1 0 0 0 1 50/1 = 50 Zj - Cj -70 -1 -2 0 1 0 0
  • 7.
    Tabel Iterasi 1Fase Pertama CB Cj 0 0 0 0 -1 -1 bj Vrb. basis x1 x2 s1 s2 Q1 Q2 Indeks 0 S1 40 1 0 1 0 0 0 40/0 = ~ 0 x2 20 0 1 0 -1 1 0 20/-1 = -20 -1 Q2 30 1 0 0 1 -1 1 30/1 = 30 Zj - Cj -30 -1 0 0 -1 2 0 Tabel Iterasi 2 Fase Pertama (Optimum) CB Vrb. basis 0 0 x1 x2 s1 s2 Q1 Cj bj 0 0 -1 -1 Q2 0 S1 40 1 0 1 0 0 0 0 x2 50 1 1 0 0 1 1 0 s2 30 1 0 0 1 -1 1 Zj - Cj 30 1 0 0 0 1 Indeks 1 Pada table di atas (optimum) fungsi tujuan semu sudah di optimumkan, dan variabel semu Q1 dan Q2 sudah keluar dari basis. Proses dapat dilanjutkan ke fase ke-dua. Apabila variabel semu masih berada dalam basis dengan nilai positif, maka persoalan tersebut tidak layak. Mungkin kesalahan dalam proses perhitungan atau kesalahan dalam formulasi LP. Proses tahap kedua tidak perlu dilanjutkan. Fase 2 Tabel akhir fase pertama merupakan tabek awal fase kedua. Kemudian dioptimalkan dengan memasukkan fungsi ujuan aslinya. Karena pada fase pertama kita telah mengnolkan variabel semu, maka pada fase kedua variabel semu tidak perlu disertakan lagi dalam table (dihilangkan). Lihat table awal fase kedua berikut ini.
  • 8.
    Tabel awal fasekedua CB Vrb. basis Cj 80 0 0 x1 bj 50 x2 s1 s2 0 S1 40 1 0 1 0 80 x2 50 1 1 0 0 0 s2 30 1 0 0 1 4.000 30 0 0 Indeks 0 Zj - Cj Setelah koefisien fungsi tujuan asli dimasukkan ke dalam table awal fase kedua, secara langsung table awal tersebut menunjukkan table optimum. Karena nilai yang terdapat pada baris Zj – Cj ≥ 0. Solusi optimum adalah x1 = 0 dan x2 = 50. Membandingkan metode M besar dengan metode dua fase, dapat disimpulkan bahwa kedua metode sama-sama menggunakan variabel semu. Perbedaan terletak pada tahapan penyelesaian. disamping itu Metode M besar perhitungannya lebih rumit. Hal ini yang perlu diperhatikan dalam penggunaan metode M besar dan dua fase adalah : 1. Variabel semu hanya ditambahkan untuk mendapatkan pemecahan awal yang fisibel. Jika kita menggunakan program komputer seperti QSB (Quantitative System for Business), maka penambahan variabel semu tidak perlu dilakukan, karena QSB sudah diprogram sedemikian rupa dalam menghadapi berbagai macam bentuk kendala. 2. Apabila variabel semu telah keluar dari dalam basis, maka pada abel berikutnya variabel semu tidak perlu muncul kembali. 3. Pada tabel optimum semua variabel semu harus keluar dari dalam basis. Jika variabel semu masih terdapat dalam basis dengan nilai positif, maka persoalan tidak layak.