Referat
Endoftalmitis
Aris Rahmanda 07120100091
KEPANITERAAN KLINIK DEPARTEMEN MATA
RUMAH SAKIT PUSAT ANGKATAN DARAT GATOT SOEBROTO
JAKARTA
PERIODE 11 AGUSTUS - 12 SEPTEMBER 2014
Pembimbing :
dr. Ernita Tantawi Sp.M
PENDAHULUAN
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
• Endophthalmitis didefinisikan sebagai suatu
peradangan pada struktur bagian dalam bola
mata,seperti uvea dan retina yang terkait
dengan adanya eksudat di vitreous humuor,
camera oculi anterior atau pada camera oculi
posterior.
• Endoftalmitis merupakan kejadian yang jarang, namun
merupakan komplikasi yang membahayakan.
• Endoftalmitis sering terjadi setelah trauma pada mata
termasuk setelah dilakukannya operasi mata.
• Modalitas utama seorang dokter umum adalah dengan
anamnesis keluhan pasien dan dengan pemeriksaan fisik
mata secara umum.
• Hasil pengobatan akhir sangat tergantung pada diagnosis
awal, maka penting untuk melakukan diagnosis sedini
mungkin
1.2 Rumusan Masalah
• Bagaimana etiologi dan patofisiologi
endoftalmitis?
• Bagaimana diagnosis dan
penatalaksanaan endoftalmitis?
TINJAUAN PUSTAKA
Anatomi Bola Mata
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Uvea
• Terdiri dari 3 bagian : Iris,corpus siliaris dan koroid
• Iris berbentuk cakram seperti diafragma kamera
• Iris memisahkan kornea dan lensa menjadi bilik mata depan dan bilik
mata belakang
• Badan siliar adalah bagian depan dari koroid pada ora serrata
• Fungsi badan siliar adalah untuk memproduksi aqueous humor dan
untuk membantu proses akomodasi
• Koroid adalah bagian paling posterior dari lapisan vaskular dari bola
mata, dimulai dari diskus optikus kemudian memanjang sampai ora
serrata
Vitreous Humour
• Menempati daerah belakang lensa
• Merupakan gel transparan yang terdiri atas air (lebih kurang 99%),
sedikit kolagen, dan molekul asam hialuronat yang sangat terhidrasi
• Berfungsi mengisi ruang untuk meneruskan sinar dari lensa
Definisi
Suatu peradangan pada struktur bagian
dalam bola mata,seperti uvea dan retina
yang terkait dengan adanya eksudat di
vitreous humuor, camera oculi anterior atau
pada camera oculi posterior .
Klasifikasi
Endoftalmitis
Eksogen
Post-operatif
akut
Pasca bedah
katarak
Pasca operasi
filtrasi
antiglaukoma
Post-operatif
kronis
Pseudofaki
kronis
Post-traumatik
endoftalmitis
Endogen
Bakteri
Jamur
Etiologi
Penyebab Infeksius :
Bakteri
 Bakteri Gram Positif (+)
 Staphylococcus epidermidis dan Staphylococcus aureus
 endoftalmitis akut bakterial
 Penyebab lainya : Staphylococcus albus,
Staphylococcus aureus, proteus dan pseudomonas
dengan masa inkubasi 24-72 jam
 Jika endoftalmitis terjadi dalam 2 minggu setelah trauma,
mungkin disebabkan karena infeksi bakteri
Jamur
 Jarang terjadi
 Fungi yang sering membuat endoftalmitis diantaranya
adalah aspergillus, fusarium dan candida.
Penyebab non-Infeksius :
• Postoperative steril endoftalmitis.
• Post-traumatic sterile endophthalmitis.
• Tumor intraokuler.
• Phacoanaphylactic endophthalmitis.
Epidemiologi
1. Kejadian rata-rata tahunan adalah sekitar 5 per 10.000
pasien yang dirawat
2. Sebagian besar kasus endophthalmitis eksogen (sekitar
60%) terjadi setelah operasi intraokular
3. Di Amerika Serikat, endophthalmitis postcataract
merupakan bentuk yang paling umum, dengan sekitar 0,1-
0,3% dari operasi menimbulkan komplikasi ini
4. Post traumatic Endophthalmitis terjadi pada 4-13% dari
semua cedera penetrasi okular
5. Kejadian endophthalmitis yang disebabkan oleh benda
asing intraokular adalah 7-31%.
Patofisiologi
Endoftalmitis
Non-
infeksi
Post-operative sterile
endophthalmitis
Post-traumatic sterile
endophthalmitis
Tumor intraokuler
Phacoanaphylactic endophthalmitis
Infeksi
Endoftalmitis eksogen
Endoftalmitis endogens
Infeksi sekunder dari struktur
sekitar
Patofisiologi
Endoftalmitis non-Infeksi :
• Postoperative steril endoftalmitis.
Reaksi toksin dari zat kimia yang bereaksi dan
menempel ke lensa intraokuler
• Post-traumatic sterile endophthalmitis.
Reaksi toksis yang tersisa dari corpus alienum atau
benda asing yang tetap bertahan didalam
intraokuler.Cth : tembaga
Patofisiologi
• Tumor intraokuler.
Tumor intraokuler yang mengalami nekrosis dapat
mengakibatkan endoftalmitis steril
• Phacoanaphylactic endophthalmitis.
Hal ini dapat menginduksi terjadinya endoftalmitis steril
akibat protein lensa pada pasien dengan katarak Morgagni
Patofisiologi
Endoftalmitis Infeksi :
Endoftalmitis eksogen
 Akibat infeksi eksogen
 Diikuti oleh cedera yang membuat perforasi, ulkus
kornea yang terinfeksi
 Infeksi luka post-op
 Infeksi biasanya oleh flora normal [ >90% gram (+)]
pada sekitar bola mata
Patofisiologi
Endoftalmitis endogen
 Mikroorganisme melalui darah, seperti pada
kondisi endokarditis / infeksi caries gigi
 Menembs sawar-darah mata
 Faktor resiko : Diabetes mellitus, CKD,
gangguan katup jantung, SLE, AIDS,
leukemia dan kondisi maligna lainya
 Infeksi fungal dapat terjadi s/d 50% pada
kasus ini (C.albicans)
Patofisiologi
Infeksi sekunder dari jaringan sekitar
 Sangat jarang terjadi
 Dalam beberapa kasus, cth : inflamasi
purulent intraokuler, diikuti oleh selulitis
orbita, tromboflebitis dan ulkus kornea
yang terinfeksi
Manifestasi klinis
Endoftalmitis bakteri
1. Nyeri akut,
2. Kemerahan pada mata,
3. Pembengkakan
4. Penurunan visus
Endoftalmitis jamur
Gejala selama beberapa hari
sampai minggu.
1. Penglihatan kabur,
2. Rasa nyeri
3. Penurunan visus
4. Infeksi C.albicans
didahului demam tinggi
Pemeriksaan Fisik
Yang dapat ditemukan :
1. Kelopak mata bengkak & Eritema
2. Konjungtiva tampak chemosis
3. Kornea edema,keruh, tampak infiltrat
4. Hipopion
5. Iris edema & keruh
6. Pupil  Yellow reflex
7. Eksudat pada vitreus humour
8. TIO meningkat pada fase awal
9. Tepi luka menjadi berwarna kuning / nekrosis
10. Demam
Pemeriksaan Fisik
Injeksi siliar
Kornea keruh
Infiltrat kornea
Hipopion
Diagnosis
• Anamnesis : mendapatkan riwayat
penyakit dan gejala subjektif.
• Pemeriksaan fisik :
a. Pemeriksaan visus
b. Inspeksi struktur luar
c. Funduskopi
• Pemeriksaan penunjang :
1. Laboratorium
2. Radiologi
3. Evaluasi ophthalmologi
• Pemeriksaan laboratorium :
1. Pewarnaan gram dan kultur dari aqueous
humour atau vitreous humour yang
dilakukan oleh spesialis mata
2. Endoftalmitis eksogen: sampel vitreous
(vitreous tap)
Endoftalmitis endogen:
1. Cek darah lengkap dengan hitung jenis sel
darah putih
2. Laju Endap Darah ( Erythrocyte
Sedimentation Rate)
3. Kimia darah , seperti kreatinin dan kadar
ureum darah
• Pemeriksaan radiologi :
1. B-scan (USG)  radang vitreous humour
?
2. Foto roentgen thorax
3. USG Jantung
• Evaluasi Ophthalmologi :
1. Periksa visus
2. Slit lamp
3. Tekanan Intraokular
Diagnosis Banding
Toxic Anterior Segment Syndrome (TASS)
• Disebabkan oleh pengenalan substansi zat beracun
selama operasi yang umumnya disebabkan oleh
instrumen, cairan, atau lensa intraokular
• Awitan dimulai pada 12-24 jam post-operasi
• Penglihatan kabur, edema kornea, peningkaan TIO
• Kultur bakteri  (-)
Anne M.Menke. Endophthalmitis and TASS : Prevention, Diagnosis, Investigation,
Response. Ophtalmic Mutual Insurance Company : 2010
Penatalaksanaan
Mensterilkan
mata
Mengurangi
kerusakan
jaringan
Mempertahankan
pengelihatan
TUJUAN
Penatalakasanaan
Non-
farmakologi
Farmakologi
Operatif Pencegahan
Non Farmakologi
• Menjelaskan tentang penyait pasien
• Pengontrolan faktor resiko lainya
• Edukasi tentang keberishan
Terapi Farmakologi
• Antibiotik
Pemberian : Intravitreal, topikal & Sitemik
• Steroid
• Suportif (Siklopegik & Obat-antiglaukoma)
Antibiotik Intravitreal
• Diberikan sedini mungkin
• Prosedur dilakukan secara transkonjungtiva
dengan anastesi lokal dari area pars plana (4-
5mm dari limbus)
Antibiotik Intravitreal
• Penggunaan kombinasi dua obat [untuk gram (+) & gram
(-)]
 Pilihan pertama
Vancomycin 1mg dalam 0.1ml + Ceftazidine 2.25 mg dalam
0.1ml
 Pilihan kedua
Vancomicin 1 mg dalam 0.1ml + amikacin 0.4 mg dalam
0.1 ml
 Pilihan ketiga
Vancomicin 1 mg dalam 0.1ml + gentamicin 0.2 mg dalam
0.1 ml
Antibiotik topikal
• Vancomicin (50 mg/ml) atau Cefazolin (50
mg/ml)
Dan
• Amikacin (20 mg/ml) atau Tobramycin
(15mg%)
Antibiotik sistemik
• Ciprofloxacin intravena 200 mg BD selama
2-3hari, diikuti 500 mg oral BD selama 6-7
hari, atau
• Vancomicin 1gm IV BD dan ceftazidim 2g
IV setiap 8 jam
Steroid
– Dexamethasone intravitreal 0.4 mg dalam 0.1
ml
– Dexamethasone 4 mg (1 ml) OD selama 5 – 7
hari
– Steroid sistemik. Terapi harian dengan
prednisolone 60 mg diikuti dengan 50 mg, 40
mg, 30 mg, 20 mg, dan 10 mg selama 2 hari.
Terapi tambahan
Anti
glaukoma
Siklopegik
Steroid
Disarankan utk pasien dengan peningkatan TIO:
1. Acetazolamide 3x250mg
2. Timolol 0,5% 2x1
Tetes mata atropin
1%
ATAU
Hematorpine 2% 2-
3 hari sekali
Membatasi
kerusakan
jaringan e.c
inflamasi
Tindakan Operasi
• Vitrectomy adalah tindakan bedah dalam terapi
endophthalmitis
• Vitrectomy penting dalam pengelolaan
endoftalmitis yang tidak responsif terhadap
terapi medikamentosa
Pencegahan
1. Identifikasi keadaan pasien yang memiliki
faktor resiko sebelum operasi (blepharitis,
kelainan drainase lakrimal, adanya infeksi
yg aktif)
2. Persiapan operasi, termasuk :
• Pov. Iodine 5-10%
• Sarung tangan steril
• Profilaksis topikal / perikoular antibiotik
• Profilaksis intravitreal (pada kasus – kasus
trauma)
Prognosis
Prognosis tergantung :
• Durasi dari endoftalmitis, jangka waktu infeksi
sampai penatalaksanaan, virulensi bakteri dan
keparahan dari trauma
• Bila sudah terlihat hipopion, dapat diambil
kesimpulan bahwa keadaan endoftalmitis sudah
lanjut sehingga prognosa lebih buruk
KESIMPULAN
KESIMPULAN
• Endophthalmitis didefinisikan sebagai suatu peradangan pada
struktur bagian dalam bola mata,seperti uvea dan retina yang
terkait dengan adanya eksudat di vitreous humuor, camera
oculi anterior atau pada camera oculi posterior
• Endoftalmitis sendiri berdasarkan etiologinya dibagi menjadi
dua, dengan infeksi atau steril.
• Prognosis dari endoftalmitis sendiri bergantung durasi dari
endoftalmitis, jangka waktu infeksi sampai penatalaksanaan,
virulensi bakteri dan keparahan dari trauma
Daftar Pustaka
1. Benz MS, Scott IU, Flunn HW. Endophtalmits isolates and antibiotic sensitivites: A 6 years review of culture proven cases. Am J
Ophtalmol 2004; 137:1:38-42.
2. Callegan MC, Elenbert M, Parke DW. Bacterial endophthalmitis: Epidemiology, therapeutics, and bacterialhost interactions. Clin Microbiol
Rev 2002;15:1:111-24.
3. Cooper Ba, Holekamp Nm, Bohigian G, Thompson PA. Case- control study of endophthalmitis after cataract surgery comparing scleral
and corneal wounds. Am J Ophtalmol 2003; 136: 300-5.
4. Gan IM, Ugahary LC, van Dissel JT, Feron E, PeperkampE, Veckeneer M et al. Intravitreal dexamethasone as adjuvant in the treatment
of postoperative endophthalmitis:a prospective randomized trial. Graefes Arch Clin Exp Ophthalmol.2005;243(12):1200-5.
5. Hanscom TA. Postoperative edophthalmitis. Clin Infect Dis 2004; 38:4:542-6.
6. Hatch WV, Cernat G, Wong D, Devenyi R, Bell CM. Risk factors for acute endophthalmitis after cataract surgery: a population-based
study. Ophthalmology 2009;116(3):425-30.
7. Ilyas S. Dalam: Penuntun Ilmu Penyakit Mata. Jakarta, FKUI: 2013;
8. Kalamalarajah S, Silvestri G, Sharma N. Surveillance of endophthalmitis following cataract surgery in the UK. Eye 2004; 18:6: 580-7.
9. Lunstrom M, Wejde G, Stenevi U. Endophthalmitis after cataract surgery: a nationwide prospective study avaluating incidence in relation
to incision type and location. Ophthalmology 2007;114: 1004-9.
10. Maguire JI. Postoperative endophthalmitis: optimal management and the role and timing of vitrectomy surgery. Eye 2008;22(10):1290-
300.
11. Miller JJ,Scott IU, Flynn HW. Endophthalmitis caused by Streptococcus pneumoniae. Am J Ophtalmol 2004; 138:2:231-6.
12. Khurana AK. Comprehensive ophthalmology. 4th ed. Anshan publishers 2007.
13. Prajna NV, Sathish S, Rajalakshmi PC, George C. Microbiological profile of anterior chamber aspirates following uncomplicated cataract
surgery. Indian J Ophthalmol 1998;46(4):229-32.
14. Scheidler V, Scott IU, Flun HW. Culture-proven endogenous endophtalmitis: Clinical features and visual acuity outcomes. Am J Ophtalmol
2004;137:4
15. Smith SR, Kroll AJ, Lou PL, Ryan EA. Endogenousbacterial and fungal endophthalmitis. Int OphthalmolClin 2007;47(2):173-83.
16. Ojaimi Elvis and David T Wong. Endophthalmitis, Prevention and Treatment.University of Toronto.2013
17. Trofa D, Gácser A, Nosanchuk JD. Candida parapsilosis,an emerging fungal pathogen. Clin Microbiol Rev 2008;21(4):606-25.
18. Anne M.Menke. Endophthalmitis and TASS : Prevention, Diagnosis, Investigation, Response. Ophtalmic Mutual Insurance Company :
2010
Referat Endophtalmitis

Referat Endophtalmitis

  • 1.
    Referat Endoftalmitis Aris Rahmanda 07120100091 KEPANITERAANKLINIK DEPARTEMEN MATA RUMAH SAKIT PUSAT ANGKATAN DARAT GATOT SOEBROTO JAKARTA PERIODE 11 AGUSTUS - 12 SEPTEMBER 2014 Pembimbing : dr. Ernita Tantawi Sp.M
  • 2.
  • 3.
    BAB I PENDAHULUAN 1.1 LatarBelakang • Endophthalmitis didefinisikan sebagai suatu peradangan pada struktur bagian dalam bola mata,seperti uvea dan retina yang terkait dengan adanya eksudat di vitreous humuor, camera oculi anterior atau pada camera oculi posterior.
  • 4.
    • Endoftalmitis merupakankejadian yang jarang, namun merupakan komplikasi yang membahayakan. • Endoftalmitis sering terjadi setelah trauma pada mata termasuk setelah dilakukannya operasi mata. • Modalitas utama seorang dokter umum adalah dengan anamnesis keluhan pasien dan dengan pemeriksaan fisik mata secara umum. • Hasil pengobatan akhir sangat tergantung pada diagnosis awal, maka penting untuk melakukan diagnosis sedini mungkin
  • 5.
    1.2 Rumusan Masalah •Bagaimana etiologi dan patofisiologi endoftalmitis? • Bagaimana diagnosis dan penatalaksanaan endoftalmitis?
  • 6.
  • 7.
    Anatomi Bola Mata BABII TINJAUAN PUSTAKA
  • 8.
    Uvea • Terdiri dari3 bagian : Iris,corpus siliaris dan koroid • Iris berbentuk cakram seperti diafragma kamera • Iris memisahkan kornea dan lensa menjadi bilik mata depan dan bilik mata belakang • Badan siliar adalah bagian depan dari koroid pada ora serrata • Fungsi badan siliar adalah untuk memproduksi aqueous humor dan untuk membantu proses akomodasi • Koroid adalah bagian paling posterior dari lapisan vaskular dari bola mata, dimulai dari diskus optikus kemudian memanjang sampai ora serrata Vitreous Humour • Menempati daerah belakang lensa • Merupakan gel transparan yang terdiri atas air (lebih kurang 99%), sedikit kolagen, dan molekul asam hialuronat yang sangat terhidrasi • Berfungsi mengisi ruang untuk meneruskan sinar dari lensa
  • 10.
    Definisi Suatu peradangan padastruktur bagian dalam bola mata,seperti uvea dan retina yang terkait dengan adanya eksudat di vitreous humuor, camera oculi anterior atau pada camera oculi posterior .
  • 11.
  • 12.
    Etiologi Penyebab Infeksius : Bakteri Bakteri Gram Positif (+)  Staphylococcus epidermidis dan Staphylococcus aureus  endoftalmitis akut bakterial  Penyebab lainya : Staphylococcus albus, Staphylococcus aureus, proteus dan pseudomonas dengan masa inkubasi 24-72 jam  Jika endoftalmitis terjadi dalam 2 minggu setelah trauma, mungkin disebabkan karena infeksi bakteri
  • 13.
    Jamur  Jarang terjadi Fungi yang sering membuat endoftalmitis diantaranya adalah aspergillus, fusarium dan candida. Penyebab non-Infeksius : • Postoperative steril endoftalmitis. • Post-traumatic sterile endophthalmitis. • Tumor intraokuler. • Phacoanaphylactic endophthalmitis.
  • 14.
    Epidemiologi 1. Kejadian rata-ratatahunan adalah sekitar 5 per 10.000 pasien yang dirawat 2. Sebagian besar kasus endophthalmitis eksogen (sekitar 60%) terjadi setelah operasi intraokular 3. Di Amerika Serikat, endophthalmitis postcataract merupakan bentuk yang paling umum, dengan sekitar 0,1- 0,3% dari operasi menimbulkan komplikasi ini 4. Post traumatic Endophthalmitis terjadi pada 4-13% dari semua cedera penetrasi okular 5. Kejadian endophthalmitis yang disebabkan oleh benda asing intraokular adalah 7-31%.
  • 15.
    Patofisiologi Endoftalmitis Non- infeksi Post-operative sterile endophthalmitis Post-traumatic sterile endophthalmitis Tumorintraokuler Phacoanaphylactic endophthalmitis Infeksi Endoftalmitis eksogen Endoftalmitis endogens Infeksi sekunder dari struktur sekitar
  • 16.
    Patofisiologi Endoftalmitis non-Infeksi : •Postoperative steril endoftalmitis. Reaksi toksin dari zat kimia yang bereaksi dan menempel ke lensa intraokuler • Post-traumatic sterile endophthalmitis. Reaksi toksis yang tersisa dari corpus alienum atau benda asing yang tetap bertahan didalam intraokuler.Cth : tembaga
  • 17.
    Patofisiologi • Tumor intraokuler. Tumorintraokuler yang mengalami nekrosis dapat mengakibatkan endoftalmitis steril • Phacoanaphylactic endophthalmitis. Hal ini dapat menginduksi terjadinya endoftalmitis steril akibat protein lensa pada pasien dengan katarak Morgagni
  • 18.
    Patofisiologi Endoftalmitis Infeksi : Endoftalmitiseksogen  Akibat infeksi eksogen  Diikuti oleh cedera yang membuat perforasi, ulkus kornea yang terinfeksi  Infeksi luka post-op  Infeksi biasanya oleh flora normal [ >90% gram (+)] pada sekitar bola mata
  • 19.
    Patofisiologi Endoftalmitis endogen  Mikroorganismemelalui darah, seperti pada kondisi endokarditis / infeksi caries gigi  Menembs sawar-darah mata  Faktor resiko : Diabetes mellitus, CKD, gangguan katup jantung, SLE, AIDS, leukemia dan kondisi maligna lainya  Infeksi fungal dapat terjadi s/d 50% pada kasus ini (C.albicans)
  • 20.
    Patofisiologi Infeksi sekunder darijaringan sekitar  Sangat jarang terjadi  Dalam beberapa kasus, cth : inflamasi purulent intraokuler, diikuti oleh selulitis orbita, tromboflebitis dan ulkus kornea yang terinfeksi
  • 21.
    Manifestasi klinis Endoftalmitis bakteri 1.Nyeri akut, 2. Kemerahan pada mata, 3. Pembengkakan 4. Penurunan visus Endoftalmitis jamur Gejala selama beberapa hari sampai minggu. 1. Penglihatan kabur, 2. Rasa nyeri 3. Penurunan visus 4. Infeksi C.albicans didahului demam tinggi
  • 22.
    Pemeriksaan Fisik Yang dapatditemukan : 1. Kelopak mata bengkak & Eritema 2. Konjungtiva tampak chemosis 3. Kornea edema,keruh, tampak infiltrat 4. Hipopion 5. Iris edema & keruh 6. Pupil  Yellow reflex 7. Eksudat pada vitreus humour 8. TIO meningkat pada fase awal 9. Tepi luka menjadi berwarna kuning / nekrosis 10. Demam
  • 23.
    Pemeriksaan Fisik Injeksi siliar Korneakeruh Infiltrat kornea Hipopion
  • 24.
    Diagnosis • Anamnesis :mendapatkan riwayat penyakit dan gejala subjektif. • Pemeriksaan fisik : a. Pemeriksaan visus b. Inspeksi struktur luar c. Funduskopi
  • 25.
    • Pemeriksaan penunjang: 1. Laboratorium 2. Radiologi 3. Evaluasi ophthalmologi
  • 26.
    • Pemeriksaan laboratorium: 1. Pewarnaan gram dan kultur dari aqueous humour atau vitreous humour yang dilakukan oleh spesialis mata 2. Endoftalmitis eksogen: sampel vitreous (vitreous tap) Endoftalmitis endogen: 1. Cek darah lengkap dengan hitung jenis sel darah putih 2. Laju Endap Darah ( Erythrocyte Sedimentation Rate) 3. Kimia darah , seperti kreatinin dan kadar ureum darah
  • 27.
    • Pemeriksaan radiologi: 1. B-scan (USG)  radang vitreous humour ? 2. Foto roentgen thorax 3. USG Jantung
  • 28.
    • Evaluasi Ophthalmologi: 1. Periksa visus 2. Slit lamp 3. Tekanan Intraokular
  • 29.
    Diagnosis Banding Toxic AnteriorSegment Syndrome (TASS) • Disebabkan oleh pengenalan substansi zat beracun selama operasi yang umumnya disebabkan oleh instrumen, cairan, atau lensa intraokular • Awitan dimulai pada 12-24 jam post-operasi • Penglihatan kabur, edema kornea, peningkaan TIO • Kultur bakteri  (-)
  • 30.
    Anne M.Menke. Endophthalmitisand TASS : Prevention, Diagnosis, Investigation, Response. Ophtalmic Mutual Insurance Company : 2010
  • 31.
  • 32.
  • 33.
    Non Farmakologi • Menjelaskantentang penyait pasien • Pengontrolan faktor resiko lainya • Edukasi tentang keberishan
  • 34.
    Terapi Farmakologi • Antibiotik Pemberian: Intravitreal, topikal & Sitemik • Steroid • Suportif (Siklopegik & Obat-antiglaukoma)
  • 35.
    Antibiotik Intravitreal • Diberikansedini mungkin • Prosedur dilakukan secara transkonjungtiva dengan anastesi lokal dari area pars plana (4- 5mm dari limbus)
  • 36.
    Antibiotik Intravitreal • Penggunaankombinasi dua obat [untuk gram (+) & gram (-)]  Pilihan pertama Vancomycin 1mg dalam 0.1ml + Ceftazidine 2.25 mg dalam 0.1ml  Pilihan kedua Vancomicin 1 mg dalam 0.1ml + amikacin 0.4 mg dalam 0.1 ml  Pilihan ketiga Vancomicin 1 mg dalam 0.1ml + gentamicin 0.2 mg dalam 0.1 ml
  • 37.
    Antibiotik topikal • Vancomicin(50 mg/ml) atau Cefazolin (50 mg/ml) Dan • Amikacin (20 mg/ml) atau Tobramycin (15mg%)
  • 38.
    Antibiotik sistemik • Ciprofloxacinintravena 200 mg BD selama 2-3hari, diikuti 500 mg oral BD selama 6-7 hari, atau • Vancomicin 1gm IV BD dan ceftazidim 2g IV setiap 8 jam
  • 39.
    Steroid – Dexamethasone intravitreal0.4 mg dalam 0.1 ml – Dexamethasone 4 mg (1 ml) OD selama 5 – 7 hari – Steroid sistemik. Terapi harian dengan prednisolone 60 mg diikuti dengan 50 mg, 40 mg, 30 mg, 20 mg, dan 10 mg selama 2 hari.
  • 40.
    Terapi tambahan Anti glaukoma Siklopegik Steroid Disarankan utkpasien dengan peningkatan TIO: 1. Acetazolamide 3x250mg 2. Timolol 0,5% 2x1 Tetes mata atropin 1% ATAU Hematorpine 2% 2- 3 hari sekali Membatasi kerusakan jaringan e.c inflamasi
  • 41.
    Tindakan Operasi • Vitrectomyadalah tindakan bedah dalam terapi endophthalmitis • Vitrectomy penting dalam pengelolaan endoftalmitis yang tidak responsif terhadap terapi medikamentosa
  • 42.
    Pencegahan 1. Identifikasi keadaanpasien yang memiliki faktor resiko sebelum operasi (blepharitis, kelainan drainase lakrimal, adanya infeksi yg aktif) 2. Persiapan operasi, termasuk : • Pov. Iodine 5-10% • Sarung tangan steril • Profilaksis topikal / perikoular antibiotik • Profilaksis intravitreal (pada kasus – kasus trauma)
  • 43.
    Prognosis Prognosis tergantung : •Durasi dari endoftalmitis, jangka waktu infeksi sampai penatalaksanaan, virulensi bakteri dan keparahan dari trauma • Bila sudah terlihat hipopion, dapat diambil kesimpulan bahwa keadaan endoftalmitis sudah lanjut sehingga prognosa lebih buruk
  • 44.
  • 45.
    KESIMPULAN • Endophthalmitis didefinisikansebagai suatu peradangan pada struktur bagian dalam bola mata,seperti uvea dan retina yang terkait dengan adanya eksudat di vitreous humuor, camera oculi anterior atau pada camera oculi posterior • Endoftalmitis sendiri berdasarkan etiologinya dibagi menjadi dua, dengan infeksi atau steril. • Prognosis dari endoftalmitis sendiri bergantung durasi dari endoftalmitis, jangka waktu infeksi sampai penatalaksanaan, virulensi bakteri dan keparahan dari trauma
  • 46.
    Daftar Pustaka 1. BenzMS, Scott IU, Flunn HW. Endophtalmits isolates and antibiotic sensitivites: A 6 years review of culture proven cases. Am J Ophtalmol 2004; 137:1:38-42. 2. Callegan MC, Elenbert M, Parke DW. Bacterial endophthalmitis: Epidemiology, therapeutics, and bacterialhost interactions. Clin Microbiol Rev 2002;15:1:111-24. 3. Cooper Ba, Holekamp Nm, Bohigian G, Thompson PA. Case- control study of endophthalmitis after cataract surgery comparing scleral and corneal wounds. Am J Ophtalmol 2003; 136: 300-5. 4. Gan IM, Ugahary LC, van Dissel JT, Feron E, PeperkampE, Veckeneer M et al. Intravitreal dexamethasone as adjuvant in the treatment of postoperative endophthalmitis:a prospective randomized trial. Graefes Arch Clin Exp Ophthalmol.2005;243(12):1200-5. 5. Hanscom TA. Postoperative edophthalmitis. Clin Infect Dis 2004; 38:4:542-6. 6. Hatch WV, Cernat G, Wong D, Devenyi R, Bell CM. Risk factors for acute endophthalmitis after cataract surgery: a population-based study. Ophthalmology 2009;116(3):425-30. 7. Ilyas S. Dalam: Penuntun Ilmu Penyakit Mata. Jakarta, FKUI: 2013; 8. Kalamalarajah S, Silvestri G, Sharma N. Surveillance of endophthalmitis following cataract surgery in the UK. Eye 2004; 18:6: 580-7. 9. Lunstrom M, Wejde G, Stenevi U. Endophthalmitis after cataract surgery: a nationwide prospective study avaluating incidence in relation to incision type and location. Ophthalmology 2007;114: 1004-9. 10. Maguire JI. Postoperative endophthalmitis: optimal management and the role and timing of vitrectomy surgery. Eye 2008;22(10):1290- 300. 11. Miller JJ,Scott IU, Flynn HW. Endophthalmitis caused by Streptococcus pneumoniae. Am J Ophtalmol 2004; 138:2:231-6. 12. Khurana AK. Comprehensive ophthalmology. 4th ed. Anshan publishers 2007. 13. Prajna NV, Sathish S, Rajalakshmi PC, George C. Microbiological profile of anterior chamber aspirates following uncomplicated cataract surgery. Indian J Ophthalmol 1998;46(4):229-32. 14. Scheidler V, Scott IU, Flun HW. Culture-proven endogenous endophtalmitis: Clinical features and visual acuity outcomes. Am J Ophtalmol 2004;137:4 15. Smith SR, Kroll AJ, Lou PL, Ryan EA. Endogenousbacterial and fungal endophthalmitis. Int OphthalmolClin 2007;47(2):173-83. 16. Ojaimi Elvis and David T Wong. Endophthalmitis, Prevention and Treatment.University of Toronto.2013 17. Trofa D, Gácser A, Nosanchuk JD. Candida parapsilosis,an emerging fungal pathogen. Clin Microbiol Rev 2008;21(4):606-25. 18. Anne M.Menke. Endophthalmitis and TASS : Prevention, Diagnosis, Investigation, Response. Ophtalmic Mutual Insurance Company : 2010