Laporan Kasus:
Congestive Heart Failure ec Mitral Stenosis /
Mitral Regurgitasi ec Penyakit Jantung
Rematik
Pembimbing :
Dr. Herlina Dimiati, Sp. A (K)
Oleh :
Reza Oktarama Putra
Pendahu
luan
Demam rematik (DR)
banyak terjadi pada
anak di negara
berkembang dan sering
mengenai anak usia
antara 5 – 15 tahun
Kelainan katup yang
paling sering
diakibatkan oleh PJR
adalah katub mitral
(75%) dan katub
aorta (25%)
Gangguan
hemodinamik akibat
lesi katub yang
bermakna akan
menimbulkan gagal
jantung
Penyakit jantung
rematik (PJR) adalah
penyakit akibat
gejala sisa dari DR,
yang ditandai dengan
terjadinya kerusakan
katup jantung
Laporan
Kasus
BAB
II
Identitas Pasien
 Nama : An. DI
 Tanggal lahir : 28 September 2001
 Umur : 11 tahun
 No. CM : 1015511
 Pekerjaan : Pelajar
 Alamat : Seutui, Banda Aceh
 Riwayat Pernikahan : Belum Menikah
 Tanggal Masuk RS : 24 Agustus 2014
 Tanggal Periksa : 01 September 2014
 Tanggal Pulang : 11 September 2014
Anamnesis
KU :Sesak nafas
KT: Lemas, batuk, dan cepat lelah
RPS: Pasien dirujuk dari RSIA dengan diagnosa Congestive Heart
Failure et causa sangkaan Penyakit Jantung Rematik (PJR). Pasien
mengeluhkan sesak. Sesak dirasakan sejak 3 hari SMRS dan terasa
memberat 2 hari kemudiaan. Sesak tidak dipengaruhi oleh suhu
ataupun cuaca tapi sangat dipengaruhi oleh aktifitas. Pasien merasa
lebih nyaman jika kepala agak ditinggikan saat berbaring. Pasien juga
mengeluhkan tubuhnya cepat lelah dan terasa lemas yang memberat
sejak 3 hari sebelum masuk rumah sakit. Lelah berkurang dengan
istirahat. Pasien juga mengeluhkan batuk sejak ± 1 minggu SMRS.
Batuk yang dirasakan tidak berdahak. Selain batuk pasien juga
mengeluhkan demam ringan. Riwayat batuk darah (-), riwayat
berkeringat di malam hari (-)
Riwayat
Penyakit
Dahulu :
• Pasien belum pernah mengalami hal
ini sebelumnya
Riwayat
Penyakit
Keluarga:
• Tidak ada keluarga pasien dengan
riwayat penyakit jantung, riwayat
hipertensi, dan asma.
Riwayat
Kehamilan :
• Ibu pasien ANC teratur di bidan dan
Puskesmas. Riwayat demam,
hipertensi, diabetes selama hamil
disangkal
Riwayat
Persalinan :
• Pasien merupakan anak ke-5 dari 5
bersaudara, lahir secara pervaginam di
bidan berat badan lahir ± 3000 gram.
Anamnesis
Riwayat
Pemberian
Makanan :
• 0 – 6 bulan : susu formula
• 6 bulan – 2 tahun : susu formula + nasi
lunak
• 2 tahun – sekarang : makanan keluarga
Riwayat
Imunisasi :
• Imunisasi dasar lengkap (DPT, Hb0,
BCG, Polio, Campak)
Anamnesis
Pemeriksaan Fisik
Vital Sign
Kesadaran : Compos Mentis
Tekanan darah : 130/80 mmHg (on terapi)
Nadi : 143 kali/menit
RR : 43 kali/menit
Temperatur : 36,9° C
Pemeriksaan Fisik/
Kepala : Normocephali
Mata : Konjungtiva palpebra inferior pucat (+/+), sklera
ikterik (-/-)
Telinga : Normotia, serumen (-)
Hidung : NCH (+), sekret (-)
Pemeriksaan Fisik
Mulut : Mukosa bibir lembab (+), sianosis sentral (-), caries dentis (-),
kandidiasis (-), tonsil (T1/T1), faring hiperemis (-).
Leher : retraksi suprasternal (+), pembesaran KGB (-), pembesaran
thyroid (-)
Thoraks :
I : simetris, retraksi intercostal (+/+), jejas (-).
P : ictus cordis teraba di ICS 5 linea midclavicularis sinistra,
krepitasi (-/-)
P : sonor (+/+)
A : vesikuler (+/+), rhonki (-/-), wheezing (-/-)
Pemeriksaan Fisik
Cor :I : pulsasi ictus kordis (-),
P : ictus cordis di ICS 5 linea midclavicularis sinistra
P : batas kanan di linea parasternal kanan
Batas kiri di linea mid axilaris anterior sinistra
Batas atas di ICS 2 linea midclavicularis sinistra
A : HR 143x/menit, regular, bising (+) di area
katup mitral
Abdomen: I : Simetris, jejas (-), distensi (-)
P : Soepel, organomegali (-)
P : Timpani, asites (-), shifting dullness (-)
A : peristaltik usus normal.
Ekstremitas : edema ekstremitas inferior, non pitting
edema, sianosis (-), pucat (+)
Status Gizi
 BB : 37 kg
 TB : 135 cm
 BB/U : > persentil 50
 TB/U : < persentil 25
 BB/TB : 119 % (Overweight)
 IMT : P85 – P95 (Overweight)
 EKG
Pemeriksaan Penunjang
Laboratorium
Tanggal 24 Agustus 2014
 Hemoglobin : 8,9 gr/dl
 Hematokrit : 29%
 Eritrosit : 3,5 x 106
 Trombosit : 440 x 103
 Leukosit : 15,3 x 103
 MCV/MCH/MCHC : 82/26/31
 Diftell count : 1/0/73/19/7
 ASTO : 400 IU
Pemeriksaan Penunjang
Laboratorium
Pemeriksaan Penunjang
Tanggal 24 Agustus 2014
Morfologi darah tepi :
Eritrosit hipokrom (sebagian normokrom) ,
anisopoikilositosis (beberapa target sel),
Leukosit jumlah meningkat, neutrofilia,
hipersegmentasi (+)
Trombosit jumlah cukup, tersebar, bentuk normal
DS/ Hipokrom mikrositer, leukositosis
Radiologi : Foto Thorax
Pemeriksaan Penunjang
Kesimpulan : Kardiomegali
Echokardiografi :
Tanggal 27 Agustus 2014
Kesimpulan: MR severe, TR ringan, AR berat, tampak efusi
pericard moderate tanpa tanda tanda tamponade cardiac, LA dan
LV dilatasi, dengan EF 73%.
Pemeriksaan Penunjang
Tanggal 11
September
 Kesimpulan :
MR, AR, TR,
ec PJR
Diagnosa
 Congestive heart failure ec Mitral
Regurgitasi / Mitral Stenosis ec penyakit
jantung reumatik
Tatalaksana
 Bed rest
 O2 nasal kanul 2-3 L/ menit (intermitten)
 IVFD Dex 5% 20 gtt/i mikro
 Inj. Furosemid 40 mg/12 jam
 Benzatin penisilin 3 juta IU (1 kali)
 Spironolacton 2 x 12,5 mg tab
 Prednison 3 x 6-5-5
 Digoxin Tab 2 x ½ Tab (125 mcg)
 Laxadine syrup 2 x 1 cth
Analisa
Kasus dan
Tinjauan
Kepustakaan
BAB III
Sesak memberat 1 hari
SMRS.
Tubuh cepat lelah dan
terasa lemas.
Dada berdebar-debar.
Batuk tidak berdahak
A n a l i s a K a s u s
pada
ektremitas
didapatkan
edema, non
pitting
edema dan
pucat
Ekstremitas
bising (+)
di area
katup
mitral,
Jantung
konjungtiva
palpebra
inferior
pucat
Mata
130/80
mmHg (on
terapi), nadi :
143 kali /
menit.
frekuensi
pernafasan :
43 kali/menit
Vital sign
A n a l i s a K a s u s
A n a l i s a K a s u s
Pasien memiliki riwayat
sering demam yang disertai
dengan batuk dan nyeri
tenggorokan
Hal ini sesuai dengan
perjalanan penyakit jantung
rematik (PJR). Penyakit
jantung rematik merupakan
respons autoimun terhadap
Streptokokus ß hemolitikus
grup A yang awalnya
menginfeksi tenggorokan
(faring)
A n a l i s a K a s u s
Pada laporan kasus ini
pasien merupakan seorang
anak berusia 11 tahun.
Bila dilihat dari data
epidemiologinya, PJR
menjadi salah satu masalah
utama penyebab angka
kesakitan dan kematian pada
anak di negara berkembang.
yang terutama terjadi pada
anak-anak usia sekolah yaitu
usia 5 hingga 15 tahun
P a t o f i s i o l o g i
Respons autoimun terhadap infeksi
Streptokokus ß hemolitikus grup A
Peran antigen histokompatibility mayor,
antigen jaringan spesifik potensial dan
antibodi
M-protein dari Streptokokus ß hemolitikus
grup A strukturnya homolog dengan miosin
jantung
P a t o f i s i o l o g i
Kriteria Diagnosis
Kriteria Mayor Kriteria minor
Karditis Artralgia
Poliartritis Demam
Korea Pemeriksaan Penunjang :
Eritema Marginatum LED Meningkat
Nodul subkutan CRP (+)
EKG : PR Interval
memanjang
Kriteria Jones (revised 1992)
Insufisiensi Mitral/ Mitral Regurgitasi (MR)
 Pada pasien ini
didapatkan bising sistolik
pada daerah katup mitral
dan berdasarkan
pemeriksaan ECHO
tampak jelas adanya
insufisiensi mitral / mitral
regurgitasi (MS)
Infeksi pada katub
mitral sebagian besar
sudah terjadi pada
hari-hari pertama
serangan DR.
Sebagian akan sembuh
sempurna,
sebagian akan
menimbulkan gejala
sisa berupa insufisiensi
mitral / mitral
regurgitasi (MR)
Mitral Stenosis (MS)
Perlekatan antara daun-daun
katub, selain dapat menimbulkan
insufisiensi mitral juga dapat
menyebabkan mitral stenosis
(MS).
MS berat dapat menimbulkan
dispneu atau gangguan nafas
Ortopneu atau sesak saat
berbaring dan palpitasi
Pada pasien ini didapatkan
gangguan pernafasan yang
ditandai dengan
Frekuensi nafas meningkat,
Terasa lebih nyaman jika posisi
kepala ditinggikan dan dada
berdebar-debar
Gagal Jantung Kongestif / Congestive Heart
Failure (CHF)
 Berdasarkan anamnesis
pasien mengeluhkan cepat
lelah, dan pada
pemeriksaan tanda vital
juga didapatkan frekuensi
nadi yang meningkat.
PJR
Kerusakan
Katub
Gagal
Jantung
Sindroma
klinis pada
jantung
Kemampuan
memompa
darah kurang
Cepat lelah
dan takikardi
Penegakan Diagnosa CHF
Kriteria mayor :
 Paroksismal nocturnal dispneu
 Distensi vena leher
 Ronki paru
 Kardiomegali
 Edema paru akut
 Gallop S3
 Peninggian tekanan vena jugularis
 Refluk hepatojugular
Kriteria Minor :
Edema ekstremitas
Batuk malam hari
Dispneu d’effort
Hepatomegali
Efusi pleura
Penurunan kapasitas vital 1/3 dari
normal
Takikardi ( >120x/ menit)
Kriteria Framingham :
Tatalaksana PJR
Eradikasi terhadap
streptokokus
penisilin
prokain
50.000 unit/
kgBB selama
10 hari
eritromisin
40mg/kgBB
selama 10
hari (bila
alergi
penisilin)
diberikan
benzatin
penisilin G
dengan dosis
1,2 IU secara
IM sebanyak
1 kali.
Anti inflamasi
Bila atritris, diberikan
Aspirin
100mg/kgBB/hari
sampai 2 minggu
Pada pasien ini yang telah terjadi
karditis berat dan gagal jantung
maka anti inflamasi yang
dianjurkan adalah prednisone
dengan dosis 2mg/kgBB/hari
selama 2 minggu dan dilanjutkan
dengan aspirin 75mg/kgBB/hari
Tatalaksana PJR
Tatalaksana CHF
Prinsip pengobatan pada gagal jantung adalah istirahat, digitalis, diuretik,
diet, dan pengobatan penunjang lain
Tatalak
sana
Diet
Istirahat
Oksigen
Posisi
Tran
sfusi
Digitalis
Diuretik
Antibio
tik
Prognosa
 Quo ad vitam : Dubia ad Bonam
 Quo ad functionam : Dubia ad Bonam
 Quo ad Sanactionam : Dubia ad Malam
Pencegahan
 Setiap pasien dengan riwayat demam reumatik tanpa gejala sisa katub
memerlukan pengobatan profilaksis (sekunder) selama 5 tahun
 Pasien dengan gejala sisa kelainan katub memerlukan profilaksis lebih
lama bahkan seumur hidup.
 Obat yang diberikan adalah benzatin penisilin G dengan dosis
600.000 unit bila BB < 27kg dan 1,2 juta unit bila BB > 27kg.
Diberikan setiap 28 hari. Pada kasus PJR yang berat diberikan setiap 3
minggu.
Pencegahan
Keadaan Pulang
Pasien diizinkan pulang pada tanggal 11 September 2014, pada hari
rawatan ke 14 dengan keadaan klinis sudah membaik, sesak napas
dan batuk sudah tidak ada,
 Keadaan umum : Baik
 Kesadaran : Compos mentis
 Hearth Rate : 112 x / menit
 Respiratory Rate : 26 x / menit
 Suhu : 36, 6C
 Tekanan Darah : 120/50 mmHg
Kesimpulan
Penyakit jantung
rematik merupakan
respons autoimun
terhadap infeksi
Streptokokus ß
hemolitikus grup A
Sering mengenai
anak usia antara 5 –
15 tahun.
Pemeriksaan
ekokardiografi
(echo) sangat
berperan dalam
menegakkan
kelainan pada katup
jantung
Kelainan katup
yang paling sering
adalah insufisiensi
dan stenosis mitral
Malfungsi katup dapat
menimbulkan kegagalan pompa
jantung berujung pada penyakit
gagal jantung kongestif
Prinsip pengobatan pada PJR
adalah eradikasi terhadap
streptococcus ß hemolitikus
grup A dan obat anti inflamasi
Sedangkan prinsip
penatalaksanaan pada gagal
jantung adalah istirahat,
digitalis, diuretik, diet dan terapi
penunjang
Penyakit jantung rematik

Penyakit jantung rematik

  • 1.
    Laporan Kasus: Congestive HeartFailure ec Mitral Stenosis / Mitral Regurgitasi ec Penyakit Jantung Rematik Pembimbing : Dr. Herlina Dimiati, Sp. A (K) Oleh : Reza Oktarama Putra
  • 2.
    Pendahu luan Demam rematik (DR) banyakterjadi pada anak di negara berkembang dan sering mengenai anak usia antara 5 – 15 tahun Kelainan katup yang paling sering diakibatkan oleh PJR adalah katub mitral (75%) dan katub aorta (25%) Gangguan hemodinamik akibat lesi katub yang bermakna akan menimbulkan gagal jantung Penyakit jantung rematik (PJR) adalah penyakit akibat gejala sisa dari DR, yang ditandai dengan terjadinya kerusakan katup jantung
  • 3.
  • 4.
    Identitas Pasien  Nama: An. DI  Tanggal lahir : 28 September 2001  Umur : 11 tahun  No. CM : 1015511  Pekerjaan : Pelajar  Alamat : Seutui, Banda Aceh  Riwayat Pernikahan : Belum Menikah  Tanggal Masuk RS : 24 Agustus 2014  Tanggal Periksa : 01 September 2014  Tanggal Pulang : 11 September 2014
  • 5.
    Anamnesis KU :Sesak nafas KT:Lemas, batuk, dan cepat lelah RPS: Pasien dirujuk dari RSIA dengan diagnosa Congestive Heart Failure et causa sangkaan Penyakit Jantung Rematik (PJR). Pasien mengeluhkan sesak. Sesak dirasakan sejak 3 hari SMRS dan terasa memberat 2 hari kemudiaan. Sesak tidak dipengaruhi oleh suhu ataupun cuaca tapi sangat dipengaruhi oleh aktifitas. Pasien merasa lebih nyaman jika kepala agak ditinggikan saat berbaring. Pasien juga mengeluhkan tubuhnya cepat lelah dan terasa lemas yang memberat sejak 3 hari sebelum masuk rumah sakit. Lelah berkurang dengan istirahat. Pasien juga mengeluhkan batuk sejak ± 1 minggu SMRS. Batuk yang dirasakan tidak berdahak. Selain batuk pasien juga mengeluhkan demam ringan. Riwayat batuk darah (-), riwayat berkeringat di malam hari (-)
  • 6.
    Riwayat Penyakit Dahulu : • Pasienbelum pernah mengalami hal ini sebelumnya Riwayat Penyakit Keluarga: • Tidak ada keluarga pasien dengan riwayat penyakit jantung, riwayat hipertensi, dan asma. Riwayat Kehamilan : • Ibu pasien ANC teratur di bidan dan Puskesmas. Riwayat demam, hipertensi, diabetes selama hamil disangkal Riwayat Persalinan : • Pasien merupakan anak ke-5 dari 5 bersaudara, lahir secara pervaginam di bidan berat badan lahir ± 3000 gram. Anamnesis
  • 7.
    Riwayat Pemberian Makanan : • 0– 6 bulan : susu formula • 6 bulan – 2 tahun : susu formula + nasi lunak • 2 tahun – sekarang : makanan keluarga Riwayat Imunisasi : • Imunisasi dasar lengkap (DPT, Hb0, BCG, Polio, Campak) Anamnesis
  • 8.
    Pemeriksaan Fisik Vital Sign Kesadaran: Compos Mentis Tekanan darah : 130/80 mmHg (on terapi) Nadi : 143 kali/menit RR : 43 kali/menit Temperatur : 36,9° C Pemeriksaan Fisik/ Kepala : Normocephali Mata : Konjungtiva palpebra inferior pucat (+/+), sklera ikterik (-/-) Telinga : Normotia, serumen (-) Hidung : NCH (+), sekret (-)
  • 9.
    Pemeriksaan Fisik Mulut :Mukosa bibir lembab (+), sianosis sentral (-), caries dentis (-), kandidiasis (-), tonsil (T1/T1), faring hiperemis (-). Leher : retraksi suprasternal (+), pembesaran KGB (-), pembesaran thyroid (-) Thoraks : I : simetris, retraksi intercostal (+/+), jejas (-). P : ictus cordis teraba di ICS 5 linea midclavicularis sinistra, krepitasi (-/-) P : sonor (+/+) A : vesikuler (+/+), rhonki (-/-), wheezing (-/-)
  • 10.
    Pemeriksaan Fisik Cor :I: pulsasi ictus kordis (-), P : ictus cordis di ICS 5 linea midclavicularis sinistra P : batas kanan di linea parasternal kanan Batas kiri di linea mid axilaris anterior sinistra Batas atas di ICS 2 linea midclavicularis sinistra A : HR 143x/menit, regular, bising (+) di area katup mitral Abdomen: I : Simetris, jejas (-), distensi (-) P : Soepel, organomegali (-) P : Timpani, asites (-), shifting dullness (-) A : peristaltik usus normal. Ekstremitas : edema ekstremitas inferior, non pitting edema, sianosis (-), pucat (+)
  • 11.
    Status Gizi  BB: 37 kg  TB : 135 cm  BB/U : > persentil 50  TB/U : < persentil 25  BB/TB : 119 % (Overweight)  IMT : P85 – P95 (Overweight)
  • 12.
  • 15.
    Laboratorium Tanggal 24 Agustus2014  Hemoglobin : 8,9 gr/dl  Hematokrit : 29%  Eritrosit : 3,5 x 106  Trombosit : 440 x 103  Leukosit : 15,3 x 103  MCV/MCH/MCHC : 82/26/31  Diftell count : 1/0/73/19/7  ASTO : 400 IU Pemeriksaan Penunjang
  • 16.
    Laboratorium Pemeriksaan Penunjang Tanggal 24Agustus 2014 Morfologi darah tepi : Eritrosit hipokrom (sebagian normokrom) , anisopoikilositosis (beberapa target sel), Leukosit jumlah meningkat, neutrofilia, hipersegmentasi (+) Trombosit jumlah cukup, tersebar, bentuk normal DS/ Hipokrom mikrositer, leukositosis
  • 17.
    Radiologi : FotoThorax Pemeriksaan Penunjang Kesimpulan : Kardiomegali
  • 18.
    Echokardiografi : Tanggal 27Agustus 2014 Kesimpulan: MR severe, TR ringan, AR berat, tampak efusi pericard moderate tanpa tanda tanda tamponade cardiac, LA dan LV dilatasi, dengan EF 73%. Pemeriksaan Penunjang
  • 19.
  • 20.
    Diagnosa  Congestive heartfailure ec Mitral Regurgitasi / Mitral Stenosis ec penyakit jantung reumatik
  • 21.
    Tatalaksana  Bed rest O2 nasal kanul 2-3 L/ menit (intermitten)  IVFD Dex 5% 20 gtt/i mikro  Inj. Furosemid 40 mg/12 jam  Benzatin penisilin 3 juta IU (1 kali)  Spironolacton 2 x 12,5 mg tab  Prednison 3 x 6-5-5  Digoxin Tab 2 x ½ Tab (125 mcg)  Laxadine syrup 2 x 1 cth
  • 22.
  • 23.
    Sesak memberat 1hari SMRS. Tubuh cepat lelah dan terasa lemas. Dada berdebar-debar. Batuk tidak berdahak A n a l i s a K a s u s
  • 24.
    pada ektremitas didapatkan edema, non pitting edema dan pucat Ekstremitas bising(+) di area katup mitral, Jantung konjungtiva palpebra inferior pucat Mata 130/80 mmHg (on terapi), nadi : 143 kali / menit. frekuensi pernafasan : 43 kali/menit Vital sign A n a l i s a K a s u s
  • 25.
    A n al i s a K a s u s Pasien memiliki riwayat sering demam yang disertai dengan batuk dan nyeri tenggorokan Hal ini sesuai dengan perjalanan penyakit jantung rematik (PJR). Penyakit jantung rematik merupakan respons autoimun terhadap Streptokokus ß hemolitikus grup A yang awalnya menginfeksi tenggorokan (faring)
  • 26.
    A n al i s a K a s u s Pada laporan kasus ini pasien merupakan seorang anak berusia 11 tahun. Bila dilihat dari data epidemiologinya, PJR menjadi salah satu masalah utama penyebab angka kesakitan dan kematian pada anak di negara berkembang. yang terutama terjadi pada anak-anak usia sekolah yaitu usia 5 hingga 15 tahun
  • 27.
    P a to f i s i o l o g i Respons autoimun terhadap infeksi Streptokokus ß hemolitikus grup A Peran antigen histokompatibility mayor, antigen jaringan spesifik potensial dan antibodi M-protein dari Streptokokus ß hemolitikus grup A strukturnya homolog dengan miosin jantung
  • 28.
    P a to f i s i o l o g i
  • 29.
    Kriteria Diagnosis Kriteria MayorKriteria minor Karditis Artralgia Poliartritis Demam Korea Pemeriksaan Penunjang : Eritema Marginatum LED Meningkat Nodul subkutan CRP (+) EKG : PR Interval memanjang Kriteria Jones (revised 1992)
  • 30.
    Insufisiensi Mitral/ MitralRegurgitasi (MR)  Pada pasien ini didapatkan bising sistolik pada daerah katup mitral dan berdasarkan pemeriksaan ECHO tampak jelas adanya insufisiensi mitral / mitral regurgitasi (MS) Infeksi pada katub mitral sebagian besar sudah terjadi pada hari-hari pertama serangan DR. Sebagian akan sembuh sempurna, sebagian akan menimbulkan gejala sisa berupa insufisiensi mitral / mitral regurgitasi (MR)
  • 31.
    Mitral Stenosis (MS) Perlekatanantara daun-daun katub, selain dapat menimbulkan insufisiensi mitral juga dapat menyebabkan mitral stenosis (MS). MS berat dapat menimbulkan dispneu atau gangguan nafas Ortopneu atau sesak saat berbaring dan palpitasi Pada pasien ini didapatkan gangguan pernafasan yang ditandai dengan Frekuensi nafas meningkat, Terasa lebih nyaman jika posisi kepala ditinggikan dan dada berdebar-debar
  • 32.
    Gagal Jantung Kongestif/ Congestive Heart Failure (CHF)  Berdasarkan anamnesis pasien mengeluhkan cepat lelah, dan pada pemeriksaan tanda vital juga didapatkan frekuensi nadi yang meningkat. PJR Kerusakan Katub Gagal Jantung Sindroma klinis pada jantung Kemampuan memompa darah kurang Cepat lelah dan takikardi
  • 33.
    Penegakan Diagnosa CHF Kriteriamayor :  Paroksismal nocturnal dispneu  Distensi vena leher  Ronki paru  Kardiomegali  Edema paru akut  Gallop S3  Peninggian tekanan vena jugularis  Refluk hepatojugular Kriteria Minor : Edema ekstremitas Batuk malam hari Dispneu d’effort Hepatomegali Efusi pleura Penurunan kapasitas vital 1/3 dari normal Takikardi ( >120x/ menit) Kriteria Framingham :
  • 34.
    Tatalaksana PJR Eradikasi terhadap streptokokus penisilin prokain 50.000unit/ kgBB selama 10 hari eritromisin 40mg/kgBB selama 10 hari (bila alergi penisilin) diberikan benzatin penisilin G dengan dosis 1,2 IU secara IM sebanyak 1 kali.
  • 35.
    Anti inflamasi Bila atritris,diberikan Aspirin 100mg/kgBB/hari sampai 2 minggu Pada pasien ini yang telah terjadi karditis berat dan gagal jantung maka anti inflamasi yang dianjurkan adalah prednisone dengan dosis 2mg/kgBB/hari selama 2 minggu dan dilanjutkan dengan aspirin 75mg/kgBB/hari Tatalaksana PJR
  • 36.
    Tatalaksana CHF Prinsip pengobatanpada gagal jantung adalah istirahat, digitalis, diuretik, diet, dan pengobatan penunjang lain Tatalak sana Diet Istirahat Oksigen Posisi Tran sfusi Digitalis Diuretik Antibio tik
  • 37.
    Prognosa  Quo advitam : Dubia ad Bonam  Quo ad functionam : Dubia ad Bonam  Quo ad Sanactionam : Dubia ad Malam
  • 38.
    Pencegahan  Setiap pasiendengan riwayat demam reumatik tanpa gejala sisa katub memerlukan pengobatan profilaksis (sekunder) selama 5 tahun  Pasien dengan gejala sisa kelainan katub memerlukan profilaksis lebih lama bahkan seumur hidup.  Obat yang diberikan adalah benzatin penisilin G dengan dosis 600.000 unit bila BB < 27kg dan 1,2 juta unit bila BB > 27kg. Diberikan setiap 28 hari. Pada kasus PJR yang berat diberikan setiap 3 minggu. Pencegahan
  • 39.
    Keadaan Pulang Pasien diizinkanpulang pada tanggal 11 September 2014, pada hari rawatan ke 14 dengan keadaan klinis sudah membaik, sesak napas dan batuk sudah tidak ada,  Keadaan umum : Baik  Kesadaran : Compos mentis  Hearth Rate : 112 x / menit  Respiratory Rate : 26 x / menit  Suhu : 36, 6C  Tekanan Darah : 120/50 mmHg
  • 40.
    Kesimpulan Penyakit jantung rematik merupakan responsautoimun terhadap infeksi Streptokokus ß hemolitikus grup A Sering mengenai anak usia antara 5 – 15 tahun. Pemeriksaan ekokardiografi (echo) sangat berperan dalam menegakkan kelainan pada katup jantung Kelainan katup yang paling sering adalah insufisiensi dan stenosis mitral Malfungsi katup dapat menimbulkan kegagalan pompa jantung berujung pada penyakit gagal jantung kongestif Prinsip pengobatan pada PJR adalah eradikasi terhadap streptococcus ß hemolitikus grup A dan obat anti inflamasi Sedangkan prinsip penatalaksanaan pada gagal jantung adalah istirahat, digitalis, diuretik, diet dan terapi penunjang