“PENALARAN DEDUKTIF”
APA ITU PENALARAN ?
Penalaran adalah proses berpikir yang bertolak dari
pengamatan indra (pengamatan empirik) yang menghasilkan
sejumlah konsep dan pengertian. Berdasarkan pengamatan
yang sejenis juga akan terbentuk proposisi – proposisi yang
sejenis, berdasarkan sejumlah proposisi yang diketahui atau
dianggap benar, orang menyimpulkan sebuah proposisi baru
yang sebelumnya tidak diketahui. Proses inilah yang disebut
menalar. Ada dua jenis metode dalam menalar
yaitu deduktif dan induktif.
APA ITU PENALARAN DEDUKTIF ?
• Penalaran Deduktif adalah proses penalaran untuk manarik
kesimpulan berupa prinsip atau sikap yang berlaku khusus
berdasarkan atas fakta-fakta yang bersifat umum. Proses penalaran
ini disebut Deduksi. Kesimpulan deduktif dibentuk dengan cara
deduksi. Yakni dimulai dari hal-hal umum, menurut kepada hal-hal
yang khusus atau hal-hal yang lebih rendah proses pembentukan
kesimpulan deduktif tersebut dapat dimulai dari suatu dalil atau
hukum menuju kepada hal-hal yang kongkrit.
• Contoh :
• Masyarakat Indonesia konsumtif (umum) dikarenakan adanya
perubahan arti sebuah kesuksesan (khusus) dan kegiatan imitasi
(khusus) dari media-media hiburan yang menampilkan gaya hidup
konsumtif sebagai prestasi sosial dan penanda status sosial.
Penarikan simpulan (konklusi) secara
deduktif dapat dilakukan secara langsung
dan dapat dilakukan secara tidak langsung
MENARIK SIMPULAN SECARA
LANGSUNG
Simpulan (konklusi) secara langsung ditarik dari satu premis. Sebaliknya, konklusi
yang ditarik dari dua premis disebut simpulan tidak langsung.
Misalnya:
a. Semua S adalah P. (premis)
Sebagian P adalah S. (simpulan)
Contoh:
Semua ikan berdarah dingin. (premis)
Sebagian yang berdarah dingin adalah ikan. (simpulan)
b. Tidak satu pun S adalah P. (premis)
Tidak satu pun P adalah S. (simpulan)
Contoh:
Tidak seekor nyamuk pun adalah lalat. (premis)
Tidak seekor lalat pun adalah nyamuk. (simpulan)
d. Tidak satu pun S adalah P. (premis)
Semua S adalah tak-P. (simpulan)
Contoh:
Tidak seekor pun harimau adalah singa. (premis)
Semua harimau adalah bukan singa. (simpulan)
e. Semua S adalah P. (premis)
Tidak satu pun S adalah tak-P. (simpulan)
Tidak satu pun tak-P adalah S. (simpulan)
Contoh:
Semua gajah adalah berbelalai. (premis)
Tak satu pun gajah adalah tidak berbelalai. (simpulan)
Tidak satu pun yang tidak berbelalai adalah gajah. (simpulan)
MENARIK SIMPULAN SECARA
TIDAK LANGSUNG
•Penalaran deduksi yang berupa penarikan simpulan
secara tidak langsung memerlukan dua premis sebagai
data. Dari dua premis ini akan dihasilkan sebuah
simpulan. Premis yang pertama adalah premis yang
bersifat umum dan premis yang kedua adalah premis
yang bersifat khusus.
•Untuk menarik simpulan secara tidak langsung ini, kita
memerlukan suatu premis (pernyataan dasar) yang
bersifat pengetahuan yang semua orang sudah tahu,
umpamanya setiap manusia akan mati, semua ikan
berdarah dingin, semua sarjana adalah lulusan perguruan
tinggi, atau semua pohon kelapa berakar serabut.
Beberapa jenis penalaran deduksi dengan penarikan
secara tidak langsung sebagai berikut.
SILOGISME KATEGORIAL
Yang dimaksud dengan kategorial adalah silogisme yang terjadi dari tiga
proposisi. Dua proposisi merupakan premis dan satu proposisi merupakan
simpulan. Premis yang bersifat umum disebut premis mayor dan premis
yang bersifat khusus disebut premis minor. Dalam simpulan terdapat
subjek dan predikat. Subjek simpulan disebut term minor dan predikat
simpulan disebut term mayor.
Contoh:
Semua manusia bijaksana.
Semua polisi adalah bijaksana.
Jadi, semua polisi bijaksana.
Untuk menghasilkan simpulan harus ada term penengah sebagai
penghubung antara premis mayor dan premis minor. Term penengah
adalah silogisme diatas ialah manusia.
Term penengah hanya terdapat pada premis, tidak terdapat pada simpulan.
Jika term penengah tidak ada, simpulan tidak dapat diambil.
Silogisme harus terdiri atas tiga term, yaitu term mayor, term minor dan
term penengah.
Contoh:
Semua atlet harus giat berlatih.
Xantipe adalah seorang atlet.
Xantipe harus giat berlatih.
Term mayor = Xantipe.
Term minor = harus giat berlatih.
Term penengah = atlet.
Kalau lebih dari tiga term, simpulan akan menjadi salah.
Contoh:
Gambar itu menempel di dinding.
Dinding itu menempel di tiang.
Dalam premis ini terdapat empat term yaitu gambar, menempel di dinding,
dan dinding menempel ditiang. Oleh sebab itu, disini tidak dapat ditarik
kesimpulan.
• b. Silogisme terdiri atas tiga proposisi, yaitu premis mayor,
premis minor dan simpulan.
• c. Dua premis yang negatif tidak dapat menghasilkan simpulan.
• d. Bilah salah satu premisnya negatif, simpulan pasti negatif.
• e. Dari premis yang positif, akan dihasilkan simpulan yang
positif.
• f. Dari dua premis yang khusus, tidak dapat ditarik satu
simpulan
• g.Bila salah satu premis khusus, simpulan akan bersifat khusus.
• h.Dari premis mayor yang khusus dan premis minor yang
negatif tidak dapat ditarik satu simpulan.
SILOGISME HIPOTESIS
Silogisme hipotesis adalah silogisme yang terdiri atas premis mayor yang berproposisi
kondisional hipotesis.
Jika premis minornya membernarkan anteseden, simpulannya membenarkan
konsekuen. Kalau premis minornya menolak anteseden, simpulan juga menolak
konsekuen.
Contoh:
Jika besi dipanaskan, besi akan memuai.
Besi dipanaskan.
Jadi, besi memuai.
Jika besi tidak dipanaskan, besi tidak akan memuai.
Besi tidak dipanaskan.
Jadi, besi tidak akan memuai.
SILOGISME ALTERNTIF
Silogisme alternatif adalah silogisme yang terdiri atas premis mayor berupa proposisi
alternatif. Kalau premis minornya membenarkan salah satu alternatif, simpulannya
akan menolak alternatif yang lain.
Contoh:
Dia adalah seorang kiai atau profesor.
Dia seorang kiai.
Jadi, dia bukan seorang profesor.
Dia adalah seorang kiai atau profesor.
Dia bukan seorang kiai.
Jadi, dia seorang profesor.
ENTIMEN
Sebenarnya silogisme ini jarang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, baik
dalam tulisan maupun dalam lisan. Akan tetapi, ada bentuk silogisme yang tidak
mempunyai premis mayor karena premis mayor itu sudah diketahui secara
umum. Yang dikemukakan hanya premis minor dan simpulan.
Contoh:
Semua sarjana adalah orang cerdas.
Ali adalah seorang sarjana.
Jadi, Ali adalah orang cerdas.
Dari silogisme ini dapat ditarik satu entimen, yaitu “Ali adalah orang cerdas
karena dia adalah seorang sarjana”.
Beberapa contoh entimen:
Dia menerima hadiah pertama karena dia telah menang dalam sayembara itu.
Dengan demikian, silogisme dapat dijadikan entimen. Sebaliknya, sebuah
entimen juga dapat diubah menjadi silogisme.
KESIMPULAN
• .
Penalaran adalah proses berpikir yang bertolak dari
pengamatan indera yang menghasilkan sejumlah konsep
dan pengertian.
Penalaran Deduktif adalah proses penalaran untuk
menarik kesimpulan berupa prinsip atau sikap yang
khusus berdasarkan fakta-fakta yang bersifat umum.
Proses penalaran ini disebut Deduksi. Kesimpulan
deduktif dibentuk dengan cara deduksi. Yaitu dimulai dari
hal-hal umum, mengarah kepada hal-hal yang khusus
atau hal-hal yang lebih rendah.
PENALARAN DEDUKTIF

PENALARAN DEDUKTIF

  • 1.
  • 2.
    APA ITU PENALARAN? Penalaran adalah proses berpikir yang bertolak dari pengamatan indra (pengamatan empirik) yang menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian. Berdasarkan pengamatan yang sejenis juga akan terbentuk proposisi – proposisi yang sejenis, berdasarkan sejumlah proposisi yang diketahui atau dianggap benar, orang menyimpulkan sebuah proposisi baru yang sebelumnya tidak diketahui. Proses inilah yang disebut menalar. Ada dua jenis metode dalam menalar yaitu deduktif dan induktif.
  • 3.
    APA ITU PENALARANDEDUKTIF ? • Penalaran Deduktif adalah proses penalaran untuk manarik kesimpulan berupa prinsip atau sikap yang berlaku khusus berdasarkan atas fakta-fakta yang bersifat umum. Proses penalaran ini disebut Deduksi. Kesimpulan deduktif dibentuk dengan cara deduksi. Yakni dimulai dari hal-hal umum, menurut kepada hal-hal yang khusus atau hal-hal yang lebih rendah proses pembentukan kesimpulan deduktif tersebut dapat dimulai dari suatu dalil atau hukum menuju kepada hal-hal yang kongkrit. • Contoh : • Masyarakat Indonesia konsumtif (umum) dikarenakan adanya perubahan arti sebuah kesuksesan (khusus) dan kegiatan imitasi (khusus) dari media-media hiburan yang menampilkan gaya hidup konsumtif sebagai prestasi sosial dan penanda status sosial.
  • 4.
    Penarikan simpulan (konklusi)secara deduktif dapat dilakukan secara langsung dan dapat dilakukan secara tidak langsung
  • 5.
    MENARIK SIMPULAN SECARA LANGSUNG Simpulan(konklusi) secara langsung ditarik dari satu premis. Sebaliknya, konklusi yang ditarik dari dua premis disebut simpulan tidak langsung. Misalnya: a. Semua S adalah P. (premis) Sebagian P adalah S. (simpulan) Contoh: Semua ikan berdarah dingin. (premis) Sebagian yang berdarah dingin adalah ikan. (simpulan) b. Tidak satu pun S adalah P. (premis) Tidak satu pun P adalah S. (simpulan) Contoh: Tidak seekor nyamuk pun adalah lalat. (premis) Tidak seekor lalat pun adalah nyamuk. (simpulan)
  • 6.
    d. Tidak satupun S adalah P. (premis) Semua S adalah tak-P. (simpulan) Contoh: Tidak seekor pun harimau adalah singa. (premis) Semua harimau adalah bukan singa. (simpulan) e. Semua S adalah P. (premis) Tidak satu pun S adalah tak-P. (simpulan) Tidak satu pun tak-P adalah S. (simpulan) Contoh: Semua gajah adalah berbelalai. (premis) Tak satu pun gajah adalah tidak berbelalai. (simpulan) Tidak satu pun yang tidak berbelalai adalah gajah. (simpulan)
  • 7.
    MENARIK SIMPULAN SECARA TIDAKLANGSUNG •Penalaran deduksi yang berupa penarikan simpulan secara tidak langsung memerlukan dua premis sebagai data. Dari dua premis ini akan dihasilkan sebuah simpulan. Premis yang pertama adalah premis yang bersifat umum dan premis yang kedua adalah premis yang bersifat khusus. •Untuk menarik simpulan secara tidak langsung ini, kita memerlukan suatu premis (pernyataan dasar) yang bersifat pengetahuan yang semua orang sudah tahu, umpamanya setiap manusia akan mati, semua ikan berdarah dingin, semua sarjana adalah lulusan perguruan tinggi, atau semua pohon kelapa berakar serabut.
  • 8.
    Beberapa jenis penalarandeduksi dengan penarikan secara tidak langsung sebagai berikut.
  • 9.
    SILOGISME KATEGORIAL Yang dimaksuddengan kategorial adalah silogisme yang terjadi dari tiga proposisi. Dua proposisi merupakan premis dan satu proposisi merupakan simpulan. Premis yang bersifat umum disebut premis mayor dan premis yang bersifat khusus disebut premis minor. Dalam simpulan terdapat subjek dan predikat. Subjek simpulan disebut term minor dan predikat simpulan disebut term mayor. Contoh: Semua manusia bijaksana. Semua polisi adalah bijaksana. Jadi, semua polisi bijaksana. Untuk menghasilkan simpulan harus ada term penengah sebagai penghubung antara premis mayor dan premis minor. Term penengah adalah silogisme diatas ialah manusia. Term penengah hanya terdapat pada premis, tidak terdapat pada simpulan. Jika term penengah tidak ada, simpulan tidak dapat diambil.
  • 10.
    Silogisme harus terdiriatas tiga term, yaitu term mayor, term minor dan term penengah. Contoh: Semua atlet harus giat berlatih. Xantipe adalah seorang atlet. Xantipe harus giat berlatih. Term mayor = Xantipe. Term minor = harus giat berlatih. Term penengah = atlet. Kalau lebih dari tiga term, simpulan akan menjadi salah. Contoh: Gambar itu menempel di dinding. Dinding itu menempel di tiang. Dalam premis ini terdapat empat term yaitu gambar, menempel di dinding, dan dinding menempel ditiang. Oleh sebab itu, disini tidak dapat ditarik kesimpulan.
  • 11.
    • b. Silogismeterdiri atas tiga proposisi, yaitu premis mayor, premis minor dan simpulan. • c. Dua premis yang negatif tidak dapat menghasilkan simpulan. • d. Bilah salah satu premisnya negatif, simpulan pasti negatif. • e. Dari premis yang positif, akan dihasilkan simpulan yang positif. • f. Dari dua premis yang khusus, tidak dapat ditarik satu simpulan • g.Bila salah satu premis khusus, simpulan akan bersifat khusus. • h.Dari premis mayor yang khusus dan premis minor yang negatif tidak dapat ditarik satu simpulan.
  • 12.
    SILOGISME HIPOTESIS Silogisme hipotesisadalah silogisme yang terdiri atas premis mayor yang berproposisi kondisional hipotesis. Jika premis minornya membernarkan anteseden, simpulannya membenarkan konsekuen. Kalau premis minornya menolak anteseden, simpulan juga menolak konsekuen. Contoh: Jika besi dipanaskan, besi akan memuai. Besi dipanaskan. Jadi, besi memuai. Jika besi tidak dipanaskan, besi tidak akan memuai. Besi tidak dipanaskan. Jadi, besi tidak akan memuai.
  • 13.
    SILOGISME ALTERNTIF Silogisme alternatifadalah silogisme yang terdiri atas premis mayor berupa proposisi alternatif. Kalau premis minornya membenarkan salah satu alternatif, simpulannya akan menolak alternatif yang lain. Contoh: Dia adalah seorang kiai atau profesor. Dia seorang kiai. Jadi, dia bukan seorang profesor. Dia adalah seorang kiai atau profesor. Dia bukan seorang kiai. Jadi, dia seorang profesor.
  • 14.
    ENTIMEN Sebenarnya silogisme inijarang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam tulisan maupun dalam lisan. Akan tetapi, ada bentuk silogisme yang tidak mempunyai premis mayor karena premis mayor itu sudah diketahui secara umum. Yang dikemukakan hanya premis minor dan simpulan. Contoh: Semua sarjana adalah orang cerdas. Ali adalah seorang sarjana. Jadi, Ali adalah orang cerdas. Dari silogisme ini dapat ditarik satu entimen, yaitu “Ali adalah orang cerdas karena dia adalah seorang sarjana”. Beberapa contoh entimen: Dia menerima hadiah pertama karena dia telah menang dalam sayembara itu. Dengan demikian, silogisme dapat dijadikan entimen. Sebaliknya, sebuah entimen juga dapat diubah menjadi silogisme.
  • 15.
    KESIMPULAN • . Penalaran adalahproses berpikir yang bertolak dari pengamatan indera yang menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian. Penalaran Deduktif adalah proses penalaran untuk menarik kesimpulan berupa prinsip atau sikap yang khusus berdasarkan fakta-fakta yang bersifat umum. Proses penalaran ini disebut Deduksi. Kesimpulan deduktif dibentuk dengan cara deduksi. Yaitu dimulai dari hal-hal umum, mengarah kepada hal-hal yang khusus atau hal-hal yang lebih rendah.