Kelompok VIII
“KAIDAH
MAKNA”
Nama :
 NORA ISLAMIA
 ENI SETYAWATI
 HAWINEYNI SYORETTA
Poltekkes kemenkes
Palangka Raya
Jurusan DIII
KEPERAWATAN Reguler
XIX
KELOMPOK
VIII
PENGERTIAN MAKNA
Makna atau arti ialah
maksud pembicara atau
penulis; pengertian yang
diberikan kepada suatu
bentuk kebahasaan.
Secara umum dibedakan
adanya dua macam kata,
yaitu :
1. kata-kata yang mengandung makna,
konsep, atau pengertian,
2. Kata-kata yang tidak mengandung
makna, melainkan hanya memiliki fungsi
gramatikal. (sesuai dengan tata bahasa)
Konsep makna
Dalam pelajaran bahasa sering dikatakan, bahwa kata
mati, misalnya sama maknanya dengan kata
meninggal. Menurut teori semantik kata mati dan kata
meninggal tidak sama maknanya. Sebab, kalau kedua
kata itu sama maknanya, tentu keduanya dapat
dipertukarkan secara bebas. Pada kenyataannya kedua
kata itu tidak biasa kita pertukarkan secara bebas. Kata
mati dalam kalimat “ayam itu sudah mati” tidak dapat
ditukar dengan kata meninggal sehingga menjadi “ayam
itu sudah meninggal. Kalimat “ayam itu sudah
meninggal” tidak bisa diterima dalam pertuturan bahasa
Indonesia yang wajar.
 Homonimi
 Polisemi
 Hipernimi
 Hiponimi
 Sinonimi
 Antonimi
 Konotasi
Konsep makna
Homonimi
Homonimi adalah dua buah kata atau lebih yang sama
bentuknya tetapi maknanya berlainan. Kata-kata yang
berhomonimi ini sesungguhnya memang merupakan
kata-kata yang berlainan yang kebetulan saja
bentuknya sama. Oleh karena itu, maknanya juga tidak
sama. Misalnya, kata bisa yang bermakna ‘racun ular’
adalah berhomonimi dengan kata bisa yang berarti
‘sanggup,dapat’. Contoh lain, kata buku yang
bermakna ‘kitab’, dengan buku yang bermakna ‘ruas
pada bambu’, dan juga dengan kata buku yang
bermakna ‘tulang,persendian’.
Lanjutan homonimi....
Adakalanya kata-kata yang berhomonimi ini hanya
sama bunyinya saja (biasa disebut dengan istilah
homofon) sedangkan ejaannya tidak sama. Misalnya
kata sangsi yang berarti ‘ragu’ dan kata sanksi yang
berarti ‘akibat,konsekuensi’.
Sebaliknya ada juga kata-kata yang
berhomonimi ini hanya sama ejaannya saja (biasanya
disebut dengan homograf) sedangkan lafalnya tidak
sama. Misalnya kata apel yang berarti ‘buah apel’
dengan kata apel yang berarti ‘upacara bendera hari
senin’.
Lanjutan homonimi....
Di dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia susunan W.J.S
Poerwadarminta kata-kata yang berhomonimi ini diberi tanda
pembeda dengan angka Romawi. Jadi,
Buku I
Buku II
Buku III
Tetapi di dalam Kamus Bahasa Indonesia yang
disusun oleh Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, kata-kata yang
berhomonimi itu diperbedakan dengan angka Arab di muka
kata-kata tersebut. Jadi:
1 buku ……….
2 buku ……….
3 buku ……….
Polisemi adalah kata-kata yang maknanya
lebih dari satu, sebagai akibat terdapatnya
lebih dari sebuah komponen konsep makna
pada kata-kata tersebut.
Polisemi
Lanjutan polisemi....
Maka dengan demikian kata kepala itu selain berarti (1)
anggota tubuh manusia (binatang), juga memiliki arti (2)
pemimpin atau ketua, (3) orang atau jiwa, (4) bagian yang
sangat penting, (5) bagian yang berada di sebelah atas, (6)
sesuatu yang bentuknya bulat. Perhatikan kata kepala pada
kalimat-kalimat berikut yang mengandung makna tersebut.
 Bahu dan kepalanya luka kena pecahan kaca.
 Ayahnya diangkat menjadi kepala sekolah dasar di
Medan.
 Setiap kepala mendapat bantuan lima ribu rupiah.
 Rangkaian kereta api itu belum dapat diberangkatkan
karena kepalanya rusak.
 Pada kepala surat itu ada tertulis nomor teleponnya.
 Hipernimi adalah kata-kata yang maknanya
melingkupi kata-kata yang lain. Misalnya kata burung
maknanya melingkupi makna kata-kata seperti
merpati, kepodang, tekukur, perkutut, cucakrawa, dan
murai. Dengan kata lain yang disebut burung bukan
hanya merpati saja atau tekukur saja, tetapi termasuk
perkutut, murai, kepodang, dan sebagainya.
 Sedangkan hiponimi adalah kata atau ungkapan yang
maknanya termasuk di dalam makna kata atau
ungkapan lain. Umpamanya makna kata merpati
termasuk di dalam makna kata burung.
Hipernimi dan Hiponimi
Sinonimi
sinonimi adalah dua buah kata atau lebih yang
maknanya kurang lebih sama. Dikatakan “kurang
lebih” karena memang, seperti sudah
dibicarakan di atas, tidak aka nada dua buah
kata berlainan yang maknanya sama persis.
Yang sama sebenarnya hanya informasinya
saja, sedangkan maknanya tidak persis sama.
Kita lihat kata mati dan meninggal, kedua kata
ini disebut bersinonim. Demikian juga kata
bunga, kembang, dan puspa.
Lanjutan sinonimi.....
Sinonim bisa terjadi antara lain, sebab akibat adanya:
Perbedaan dialek
sosial
 seperti kata isteri bersinonim dengan kata bini.
Tetapi kata isteri digunakan dalam kalangan
atasan sedangkan bini dalam kalangan bawahan.
Perbedaan dialek
regional
 seperti kata handuk, bersinonim dengan kata
tuala; tetapi kata tuala hanya dikenal di beberapa
daerah di Indonesia Timur saja.
Perbedaan dialek
temporal,
 seperti kata hulubalang bersinonim dengan kata
komandan; tetapi kata hulubalang hanya cocok
digunakan dalam suasana klasik saja.
Antonimi
Antonimi adalah dua buah kata yang maknanya
“dianggap” berlawanan. Dikatakan “dianggap”
karena sifat berlawanan dari dua kata yang
berantonim ini sangat relative. Ada kata-kata
yang mutlak berlawanan, seperti kata mati
dengan kata hidup; kata siang dengan kata
malam. Ada juga yang tidak mutlak seperti kata
jauh dengan kata dekat; kata kaya dengan kata
miskin. Seseorang yang “tidak kaya” belum
tentu “miskin”. Begitu juga sesuatu yang
“tinggi” belum tentu “tidak rendah”.
Konotasi
Konotasi atau nilai rasa adalah pandangan baik-buruk
atau positif-negatif yang diberikan oleh sekelompok
masyarakat bahasa terhadap sebuah kata. Nilai-rasa-
kata ini sangat ditentukan oleh pengalaman, kebiasaan,
dan pandangan hidup yang dianut masyarakat pemakai
bahasa itu. Misalnya kata amplop yang sebenarnya
bermakna ‘sampul surat’, dalam masyarakat kita
dewasa ini memiliki konotasi yang buruk atau negatif,
karena amplop itu memiliki pula makna ‘uang sogok’
atau ‘uang suap’, seperti tampak pada kalimat.
 Beli saja amplop, maka urusan kita akan cepat
sekali!
Sekian dan Terima Kasih
Salah dan kurangnya kami
mohon maaf 

KAIDAH MAKNA

  • 1.
  • 2.
    Nama :  NORAISLAMIA  ENI SETYAWATI  HAWINEYNI SYORETTA Poltekkes kemenkes Palangka Raya Jurusan DIII KEPERAWATAN Reguler XIX KELOMPOK VIII
  • 3.
    PENGERTIAN MAKNA Makna atauarti ialah maksud pembicara atau penulis; pengertian yang diberikan kepada suatu bentuk kebahasaan.
  • 4.
    Secara umum dibedakan adanyadua macam kata, yaitu : 1. kata-kata yang mengandung makna, konsep, atau pengertian, 2. Kata-kata yang tidak mengandung makna, melainkan hanya memiliki fungsi gramatikal. (sesuai dengan tata bahasa)
  • 5.
    Konsep makna Dalam pelajaranbahasa sering dikatakan, bahwa kata mati, misalnya sama maknanya dengan kata meninggal. Menurut teori semantik kata mati dan kata meninggal tidak sama maknanya. Sebab, kalau kedua kata itu sama maknanya, tentu keduanya dapat dipertukarkan secara bebas. Pada kenyataannya kedua kata itu tidak biasa kita pertukarkan secara bebas. Kata mati dalam kalimat “ayam itu sudah mati” tidak dapat ditukar dengan kata meninggal sehingga menjadi “ayam itu sudah meninggal. Kalimat “ayam itu sudah meninggal” tidak bisa diterima dalam pertuturan bahasa Indonesia yang wajar.
  • 6.
     Homonimi  Polisemi Hipernimi  Hiponimi  Sinonimi  Antonimi  Konotasi Konsep makna
  • 7.
    Homonimi Homonimi adalah duabuah kata atau lebih yang sama bentuknya tetapi maknanya berlainan. Kata-kata yang berhomonimi ini sesungguhnya memang merupakan kata-kata yang berlainan yang kebetulan saja bentuknya sama. Oleh karena itu, maknanya juga tidak sama. Misalnya, kata bisa yang bermakna ‘racun ular’ adalah berhomonimi dengan kata bisa yang berarti ‘sanggup,dapat’. Contoh lain, kata buku yang bermakna ‘kitab’, dengan buku yang bermakna ‘ruas pada bambu’, dan juga dengan kata buku yang bermakna ‘tulang,persendian’.
  • 8.
    Lanjutan homonimi.... Adakalanya kata-katayang berhomonimi ini hanya sama bunyinya saja (biasa disebut dengan istilah homofon) sedangkan ejaannya tidak sama. Misalnya kata sangsi yang berarti ‘ragu’ dan kata sanksi yang berarti ‘akibat,konsekuensi’. Sebaliknya ada juga kata-kata yang berhomonimi ini hanya sama ejaannya saja (biasanya disebut dengan homograf) sedangkan lafalnya tidak sama. Misalnya kata apel yang berarti ‘buah apel’ dengan kata apel yang berarti ‘upacara bendera hari senin’.
  • 9.
    Lanjutan homonimi.... Di dalamKamus Umum Bahasa Indonesia susunan W.J.S Poerwadarminta kata-kata yang berhomonimi ini diberi tanda pembeda dengan angka Romawi. Jadi, Buku I Buku II Buku III Tetapi di dalam Kamus Bahasa Indonesia yang disusun oleh Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, kata-kata yang berhomonimi itu diperbedakan dengan angka Arab di muka kata-kata tersebut. Jadi: 1 buku ………. 2 buku ………. 3 buku ……….
  • 10.
    Polisemi adalah kata-katayang maknanya lebih dari satu, sebagai akibat terdapatnya lebih dari sebuah komponen konsep makna pada kata-kata tersebut. Polisemi
  • 11.
    Lanjutan polisemi.... Maka dengandemikian kata kepala itu selain berarti (1) anggota tubuh manusia (binatang), juga memiliki arti (2) pemimpin atau ketua, (3) orang atau jiwa, (4) bagian yang sangat penting, (5) bagian yang berada di sebelah atas, (6) sesuatu yang bentuknya bulat. Perhatikan kata kepala pada kalimat-kalimat berikut yang mengandung makna tersebut.  Bahu dan kepalanya luka kena pecahan kaca.  Ayahnya diangkat menjadi kepala sekolah dasar di Medan.  Setiap kepala mendapat bantuan lima ribu rupiah.  Rangkaian kereta api itu belum dapat diberangkatkan karena kepalanya rusak.  Pada kepala surat itu ada tertulis nomor teleponnya.
  • 12.
     Hipernimi adalahkata-kata yang maknanya melingkupi kata-kata yang lain. Misalnya kata burung maknanya melingkupi makna kata-kata seperti merpati, kepodang, tekukur, perkutut, cucakrawa, dan murai. Dengan kata lain yang disebut burung bukan hanya merpati saja atau tekukur saja, tetapi termasuk perkutut, murai, kepodang, dan sebagainya.  Sedangkan hiponimi adalah kata atau ungkapan yang maknanya termasuk di dalam makna kata atau ungkapan lain. Umpamanya makna kata merpati termasuk di dalam makna kata burung. Hipernimi dan Hiponimi
  • 13.
    Sinonimi sinonimi adalah duabuah kata atau lebih yang maknanya kurang lebih sama. Dikatakan “kurang lebih” karena memang, seperti sudah dibicarakan di atas, tidak aka nada dua buah kata berlainan yang maknanya sama persis. Yang sama sebenarnya hanya informasinya saja, sedangkan maknanya tidak persis sama. Kita lihat kata mati dan meninggal, kedua kata ini disebut bersinonim. Demikian juga kata bunga, kembang, dan puspa.
  • 14.
    Lanjutan sinonimi..... Sinonim bisaterjadi antara lain, sebab akibat adanya: Perbedaan dialek sosial  seperti kata isteri bersinonim dengan kata bini. Tetapi kata isteri digunakan dalam kalangan atasan sedangkan bini dalam kalangan bawahan. Perbedaan dialek regional  seperti kata handuk, bersinonim dengan kata tuala; tetapi kata tuala hanya dikenal di beberapa daerah di Indonesia Timur saja. Perbedaan dialek temporal,  seperti kata hulubalang bersinonim dengan kata komandan; tetapi kata hulubalang hanya cocok digunakan dalam suasana klasik saja.
  • 16.
    Antonimi Antonimi adalah duabuah kata yang maknanya “dianggap” berlawanan. Dikatakan “dianggap” karena sifat berlawanan dari dua kata yang berantonim ini sangat relative. Ada kata-kata yang mutlak berlawanan, seperti kata mati dengan kata hidup; kata siang dengan kata malam. Ada juga yang tidak mutlak seperti kata jauh dengan kata dekat; kata kaya dengan kata miskin. Seseorang yang “tidak kaya” belum tentu “miskin”. Begitu juga sesuatu yang “tinggi” belum tentu “tidak rendah”.
  • 17.
    Konotasi Konotasi atau nilairasa adalah pandangan baik-buruk atau positif-negatif yang diberikan oleh sekelompok masyarakat bahasa terhadap sebuah kata. Nilai-rasa- kata ini sangat ditentukan oleh pengalaman, kebiasaan, dan pandangan hidup yang dianut masyarakat pemakai bahasa itu. Misalnya kata amplop yang sebenarnya bermakna ‘sampul surat’, dalam masyarakat kita dewasa ini memiliki konotasi yang buruk atau negatif, karena amplop itu memiliki pula makna ‘uang sogok’ atau ‘uang suap’, seperti tampak pada kalimat.  Beli saja amplop, maka urusan kita akan cepat sekali!
  • 18.
    Sekian dan TerimaKasih Salah dan kurangnya kami mohon maaf 