KEBIJAKAN PEMBANGUNAN PERKOTAAN DAN PERDESAAN 
PENGEMBANGAN EKONOMI LOKAL MELALUI 
KERJASAMA ANTARDAERAH 
RPJMN 2015-2019 
Disampaikan oleh: 
Direktur Perkotaan dan Perdesaan BAPPENAS 
Dalam Workshop Pengembangan dan Studi Implementasi 
Penguatan Regional Management dalam Pengembangan Ekonomi Lokal 
Daerah Tertinggal 
Solo 7 Oktober 2014
2 
ISU STRATEGIS
KESENJANGAN DESA DENGAN KOTA 
Urbanisasi 
Pull Factor Push Factor 
Kota Desa 
Kesenjangan Antarwilayah – 
Dikotomi Desa Kota 
1. Masih terbatasnya persebaran pusat pertumbuhan dan konektivitas antara 
kota atau pusat pertumbuhan yang menyediakan pelayanan ekonomi dan 
sosial dengan desa-desa di sekitarnya; 
2. Masih rendahnya keterkaitan antarsektor dari hulu ke hilir yang dapat 
menciptakan diversifikasi kegiatan ekonomi di perdesaan serta memperkuat 
hubungan ekonomi antara kota dan desa; 
3. Belum optimalnya kerjasama antardaerah yang dapat mendorong terjadinya 
peningkatan keterkaitan antara desa-kota dan antar daerah administrasi 
3
PERKEMBANGAN URBANISASI BERDASARKAN % 
PENDUDUK KOTA DAN DESA 
4 
Sumber: BPS, Proyeksi Penduduk Indonesia 2010-2035. 
Tingkat pertumbuhan penduduk perkotaan sebesar 2,18% pertahun lebih tinggi dari tingkat 
pertumbuhan penduduk rata-rata nasional sebesar 1% pertahun. Sedangkan pertumbuhan 
penduduk di perdesaan menurun sebesar 0,64% pertahun. 
Kontribusi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) 94 kota otonom (termasuk DKI Jakarta) 
hanya mencapai 40 persen dari total Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. 
% terhadap jumlah 
penduduk nasional
PETA SEBARAN KOTA 
Banjar Bakula 
Kedung Sepur 
Maminasata 
KSN Perkotaan (Kawasan Megapolitan) 
KSN Perkotaan (Kawasan Metropolitan) 
Mebidangro 
Jabodetabek 
Perkotaan Palembang 
Cekungan Bandung 
Kartamantul 
Gerbang Kertosusila 
Sarbagita
6 
ISU STRATEGIS PEMBANGUNAN PERDESAAN 
Kemiskinan dan kerentanan ekonomi 
• Tingkat pendapatan yang rendah, tingkat penguasaan aset-aset produksi yang 
kurang memadai, status gizi dan kesehatan, tingkat pendidikan yang rendah, 
serta masih kurangnya pelayanan dasar minimum menjadi penyebab tingginya 
angka kemiskinan masyarakat perdesaan, yaitu sekitar 63,20 persen dari total 
penduduk miskin di Indonesia (28,07 juta jiwa) 
keterbatasan ketersediaan pelayanan dasar 
minimum yang jauh tertinggal dari perkotaan 
• Terbatasnya pelayanan dasar minimum di perdesaan menyebabkan rendahnya 
akses terhadap kegiatan sosial ekonomi masyarakat 
Belum optimalnya pengelolaan dan pemanfaatan 
sumber daya alam dan lingkungan hidup di 
perdesaan 
• Eksploitasi berlebihan dan kurangnya regenerasi sumber daya alam, diikuti 
dengan kerentanan perdesaan dalam menghadapi bencana dan dampak 
perubahan iklim juga turut mengancam ketahanan pangan dan keberlanjutan 
sumber daya alam dan lingkungan hidup di perdesaan
PETA SEBARAN KAWASAN PERDESAAN 
Kota Otonom 
Perdesaan Berkembang 
Perdesaan Tertinggal 
Batas Provinsi 
WILAYAH PAPUA: 
Desa Tertinggal: 89.5% 
Desa Berkembang: 9.8% 
Desa Mandiri: 0.7% 
WILAYAH SULAWESI: 
Desa Tertinggal: 28.8% 
Desa Berkembang: 61.4% 
Desa Mandiri: 9.8% 
WILAYAH MALUKU: 
Desa Tertinggal: 64.7% 
Desa Berkembang: 32.2% 
Desa Mandiri: 3.1 % 
WILAYAH KALIMANTAN: 
Desa Tertinggal: 49.0% 
Desa Berkembang: 43.5% 
Desa Mandiri: 7.5% 
WILAYAH NUSA 
TENGGARA: 
Desa Tertinggal: 55.6% 
Desa Berkembang: 37.6% 
Desa Mandiri: 6.9% 
WILAYAH JAWA-BALI: 
Desa Tertinggal: 1.8% 
Desa Berkembang: 53.8% 
Desa Mandiri: 44.4% 
WILAYAH SUMATERA: 
Desa Tertinggal: 22.8% 
Desa Berkembang: 67.9% 
Desa Mandiri: 9.3% 
Sumber: Potensi Desa Tahun 2005 dan 2011 (diolah) 
Catatan: jumlah desa termasuk kelurahan 
Perdesaan Mandiri 
7
8 
ARAH KEBIJAKAN 
PEMBANGUNAN PERKOTAAN DAN PERDESAAN
ARAH KEBIJAKAN RPJMN 2015-2019 
KESENJANGAN ANTAR WILAYAH 
KTI-KBI 
KESENJANGAN PERKOTAAN-PERDESAAN 
MENGURANGI KESENJANGAN PERKOTAAN DAN PERDESAAN 
PEMERATAAN PEMBANGUNAN GROWTH 
Pembangunan 
Pusat 
Pertumbuhan 
Baru (KKD) 
Penguatan 
Pembangunan 
Desa 
Optimalisasi 
Peran Kota 
Sedang/ Kecil 
Optimalisasi 
Peran KSN 
Pembangunan Perdesaan Pembangunan Perkotaan 
Arahan 
PW 
Isu 
Strategis 
Tujuan 
Arah 
Kebijakan 
Keterkaitan 
Kota-Desa 
Kerjasama antardaerah
10 
ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN PERKOTAAN TAHUN 2015-2019 
Mewujudkan Sistem Perkotaan Nasional (SPN). 
Pemenuhan Pelayanan Perkotaan (SPP) dan Kota Layak Huni 
Membangun Kota Hijau yang Berketahanan Iklim dan Bencana 
Membangun Kota Cerdas dan Berdaya Saing 
Meningkatkan kapasitas tata kelola pembangunan perkotaan
11 
ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN PERDESAAN TAHUN 2015-2019 
Mengembangkan Penghidupan Berkelanjutan Bagi Masyarakat Miskin dan Rentan di 
Desa 
Meningkatkan ketersediaan pelayanan umum dan pelayanan dasar minimum di 
perdesaan. 
Meningkatkan keberdayaan masyarakat perdesaan 
Mewujudkan tata kelola pemerintahan desa yang baik 
Mewujudkan kemandirian pangan dan pengelolaan desa yang berkelanjutan 
Mengembangkan Ekonomi Perdesaan
ARAH KEBIJAKAN 
MEMBANGUN KETERKAITAN DESA-KOTA TAHUN 2015-2019 
Perwujudan Konektivitas antar Kota Sedang dan Kota Kecil, dan antar Kota 
Kecil dan Desa sebagai Tulang Punggung (Backbone) Keterhubungan Desa-Kota 
12 
Perwujudan Keterkaitan antara Kegiatan Ekonomi Hulu (upstream linkages) 
dan Kegiatan Ekonomi Hilir (downstream linkages) Desa-Kotamelalui 
pengembangan kawasan agropolitan, minapolitan, pariwisata, dan 
transmigrasi. 
Peningkatan Kapasitas Tata Kelola, Kelembagaan, dan Masyarakat dalam 
Peningkatan Keterkaitan Kota-Desa
13 
KETERKAITAN 
KOTA DAN DESA 
PERKOTAAN PERDESAAN 
UU Desa No. 6 Tahun 2014, 
pemenuhan kebutuhan dasar, 
2. pembangunan sarana dan 
prasarana Desa, 
3. pengembangan potensi 
ekonomi lokal, 
4. pemanfaatan sumber daya 
alam dan lingkungan secara 
berkelanjutan. 
Arah Kebijakan : 
Mewujudkan Kota Berkelanjutan 
yang Berdaya saing, melalui: 
1. Mewujudkan peran kota dalam 
sistem perkotaan nasional: 
a. Mewujudkan 9 KSN perkotaan 
sebagai Pusat Kegiatan 
Nasional/Global; 
b. Mempercepat peran kota 
sedang sebagai PKN atau PKW 
untuk mewujudkannya 
sebagai penyangga urbanisasi. 
2. Mempercepat pembangunan 
sarana dan prasarana pelayanan 
perkotaan (SPP) khususnya kota 
sedang dan kota kecil; 
3. Mewujudkan kota hijau yang 
berketahanan iklim dan bencana; 
mewujudkan kota layak huni 
yang aman dan nyaman; 
mewujudkan kota cerdas yang 
berdaya saing; 
4. Meningkatkan kapasitas aparatur 
kelembagaan, dan partisipasi 
masyarakat dalam pengelolaan 
kota, dan mengembangkan 
regulasi dan pembiayaan 
perkotaan. 
Arah Kebijakan: 
Mewujudkan keterkaitan hulu 
di perdesaan dan hilir di 
perkotaan, melalui: 
1. Mewujudkan industri 
pengolahan dari potensi 
produksi perdesaan. 
2. Mengembangkan pusat-pusat 
kawasan agropolitan, 
minapolitan, dan klaster 
industri, untuk menjadi 
pusat pengolahan hasil 
pertanian dan jasa untuk 
mendukung sektor pertanian 
3. Meningkatkan akses 
infrastruktur desa dan pusat-pusat 
pertumbuhan. 
4. Meningkatkan kelembagaan 
dan tata kelola ekonomi 
daerah 
5. Mengembangkan kerjasama 
antar daerah dan kerjasama 
pemerintah-swasta 
6. Menerapkan teknologi dan 
inovasi di tingkat lokal untuk 
meningkatkan nilai tambah 
Arah Kebijakan : 
Meningkatkan kesejahteraan 
masyarakat dan kualitas hidup 
manusia serta penanggulangan 
kemiskinan sebagaimana amanat 
No. 6 Tahun 2014, 
melalui: 
1. Mengentaskan kemiskinan 
dan menciptakan lapangan 
kerja. 
2. Memenuhi standar pelayanan 
minimum (SPM) di 
perdesaan. 
3. Meningkatkan keberdayaan 
masyarakat perdesaan 
4. Mewujudkan tata kelola 
perdesaan dan yang optimal. 
5. Mewujudkan desa yang 
berkelanjutan 
6. Meningkatkan keterkaitan 
desa-kota.
A. MENGARAHKAN INVESTASI DI 5 KAWASAN STRATEGIS NASIONAL 
(KSN) PERKOTAAN BARU DI LUAR JAWA 
No Lokasi Prioritas Fokus Pengembangan 
1 Kawasan Perkotaan Padang: Sebagai pusat kegiatan Nasional (PKN) yang berorientasi pada 
mendorong perkembangan sektor produksi prioritas seperti: 
Industri; Perikanan laut; Pariwisata; dan Perdagangan dan jasa. 
2 Kawasan Perkotaan Palembang: Sebagai pusat pertumbuhan Nasional (PKN) untuk mendukung 
pelayanan pengembangan wilayah di sekitarnya dan wilayah 
nasional, dengan memperhatikan fungsi-fungsi keterkaitan dengan 
pusat-pusat pertumbuhan wilayah internasional. 
3 Kawasan Perkotaan Mataram Sebagai pusat kegiatan nasional (PKN) yang berorientasi pada 
kegiatan pariwisata alam dan jasa. 
4 Kawasan Perkotaan Banjarbakula: 
Kota Banjarmasin, Kota Banjarbaru, Kab. 
Banjar, Kab. Baritokuala, dan Kab. Tanah Laut 
Diarahkan untuk menjadi pusat pertumbuhan wilayah nasional, 
gerbang pertama Pulau Kalimantan yang berorientasi pada upaya 
mendorong perkembangan sektor produksi wilayah seperti 
kehutanan, pertambangan bijih besi dan agroindustri serta industri 
pengolahan 
5 Kawasan Perkotaan Manado-Bitung: Diarahkan sebagai Pusat Pertumbuhan Nasional yang berbasis pada 
pengembangan sektor pertanian, perkebunan, pariwisata, perikanan 
dan kelautan, industri pengolahan dan perhubungan dalam rangka 
mempercepat pembangunan di Kawasan Timur Indonesia (KTI) 
14
B. MENINGKATKAN EFISIENSI KEGIATAN EKONOMI DI 7 KSN 
PERKOTAAN YANG SUDAH ADA 
No Lokasi Prioritas Fokus Pengembangan 
1 Mebidangro: 
Kota Medan, Binjai (Ibukota Kab. Langkat), Kab. 
Deli Serdang, Kab. Karo 
Sebagai pusat kegiatan Nasional (PKN) yang diarahkan sebagai pusat 
administrasi pelintas batas yang berfungsi sebagai outlet pemasaran 
untuk wilayah Sumatera Utara bagian Timur dengan tetap memantapkan 
fungsi-fungsi keterkaitan dengan pusat-pusat pertumbuhan wilayah 
internasional 
2 Jabodetabek: 
Kota Jakarta, Kab. Bogor, Kota Bekasi, Kab. 
Tangerang, Kota Tangerang, Kota Depok, Kab. 
Bekasi, Kota Tangerang Selatan, Kota Bogor 
Meningkatkan fungsi Jabodetabek sebagai pusat kegiatan nasional (PKN) 
menjadi pusat kegiatan global (PKG) yang mendukung pertumbuhan 
wilayah nasional dan memantapkan fungsi-fungsi keterkaitan dengan 
pusat-pusat pertumbuhan atau kota-kota ditingkat internasional. 
3 Kawasan Perkotaan cekungan Bandung: 
Kota Bandung, Kab. Bandung, Kab. Bandung 
Barat, Kota Cimahi, Kab. Majalengka, Kab. 
Sumedang 
Diarahkan sebagai pusat kegiatan nasional yang berorientasi pada 
meningkatkan spesialisasi fungsi jasa pendidikan, teknologi sistem 
informasi, industri, dan dan pariwisata perkotaan (urban tourism) 
4 Kawasan Perkotaan Kedungsepur: 
Kota Semarang, Kab. Kendal, Kota Salatiga, 
Unggaran (Ibukota Kab. Semarang), Kab. Demak, 
Purwodadi (Ibukota Kab. Grobogan) 
Diarahkan sebagai pusat pertumbuhan wilayah nasional yang berfungsi 
mendorong pertumbuhan sektor jasa, teknologi informasi, pariwisata, dan 
industri wilayah Jawa Tengah 
5 Kawasan Perkotaan Gerbang Kertosusila: 
Kota Surabaya, Kab. Sidoarjo, Kab. Gresik, Kab. 
Mojekerto, Kab. Lamongan, Kab. Bangkalan, Kota 
Mojekerto 
Dipertahankan untuk berfungsi sebagai pusat kegiatan nasional yang 
mendukung pelayanan pengembangan wilayah Indonesia bagian Timur 
6 Kawasan Perkotaan Sarbagita: 
Kota Denpasar, Kab. Badung, Kab. Gianyar, Kab. 
Tabanan 
Diarahkan sebagai pusat kegiatan nasional yang mendorong pertumbuhan 
wilayah disekitarnya sebagai sentra produksi wilayah pulau serta sebagai 
pusat kegiatan ekonomi nasional berbasis kegiatan pariwisata yang 
bertaraf internasional 
7 Kawasan Perkotaan Maminasata: 
Kota Makassar, Kab. Maros, Sungguminasa 
(Ibukota Kab. Gowa), Kab. Takalar 
Diarahkan sebagai pusat kegiatan nasional yang mendorong pertumbuhan 
kota-kota disekitarnya sebagai sentra produksi wilayah pulau serta sebagai 
pusat orientasi pelayanan berskala internasional dan penggerak utama 
bagi Kawasan Timur Indonesia; 
15
PAPUA 
• Jayapura 
• Sorong 
16 
C. OPTIMALISASI PERAN 24 KOTA SEDANG DI LUAR JAWA 
SULAWESI 
• Bitung 
• Gorontalo 
• Palu 
• Kendari 
• Palopo 
• Bau-bau 
MALUKU 
• Ternate 
• Ambon 
KALIMANTAN 
• Singkawang 
• Palangkaraya 
• Banjarmasin 
• Banjar Baru 
• Tarakan 
NUSA TENGGARA 
• Mataram 
• Bima 
• Kupang 
SUMATERA 
• Lhokseumawe 
• Payakumbuh 
• Tanjung Pinang 
• Tebing Tinggi 
• Dumai 
• Lubuklinggau
17 
D. PERWUJUDAN 39 WILAYAH PENGEMBANGAN KETERKAITAN KOTA-DESA 
SEBAGAI PUSAT PERTUMBUHAN BARU 
No. Jenis Kawasan Papua Maluku Sulawesi Kalimantan 
Nusa 
Tenggara 
Jawa 
- Bali 
Sumatera Total 
Kawasan 
Pengembangan 
Keterkaitan Kota dan 
Desa, mencakup : 
4 3 9 7 4 4 8 39 
1. 
Kawasan 
Perkotaan Baru 
(KPB) 
1 1 6 5 - - 7 20 
2. 
Kawasan 
Transmigrasi 
5 3 8 10 5 - 8 39 
3. 
Kawasan 
Agropolitan 
6 3 10 5 5 6 14 49 
4. 
Kawasan 
Minapolitan 
7 1 6 4 3 1 2 24 
5. 
Kawasan 
Pariwisata 
1 1 1 3 2 1 1 10 
Kawasan 
Agropolitan/ 
Minapolitan 
Kawasan 
Transmig 
rasi 
Kawasan 
Pariwisata 
Kawasan 
Perkotaa 
n Baru 
Ko 
ta 
Inti 
Kawasan 
Agropolitan/ 
Minapolitan 
Kawasan 
Perkotaan Baru 
Kawasan 
Pariwisata/ 
Transmigra 
si 
Kawasan 
Agropolitan/ 
Minapolitan 
Kawasan 
Pariwisata/ 
Ko 
ta 
Inti 
Ko Transmigrasi 
ta 
Inti 
Pusat 
Pertumbuhan 1 
Pusat 
Pertumbuhan 2 
Pusat 
Pertumbuhan 3
18 
KERJASAMA ANTARDAERAH UNTUK MENDUKUNG 
PENGEMBANGAN EKONOMI LOKAL 
MEMBANGUN KETERKAITAN DESA-KOTA
IMPLIKASI ARAHAN KEBIJAKAN PEMBANGUNAN 
PERKOTAAN DAN PERDESAAN TERHADAP KERJASAMA 
ANTARDAERAH 
Adanya kebutuhan yang kuat akan 
efisiensi dlm pelayanan publik & 
pengelolaan sumber daya/potensi daerah 
Sinergitas Tata Ruang & Kelestarian fungsi 
lingkungan hidup yang tidak mengenal 
batas administrasi 
Kebutuhan akan meningkatkan kelancaran 
arus barang dan jasa antar daerah 
Kebutuhan akan sinergitas – keterkaitan 
antar-sektor antar-wilayah dlm sistem 
produksi & distribusi 
Kebutuhan 
akan 
Kerjasama 
Antardaerah
BEBERAPA ISU YANG PERLU DIPERHATIKAN DALAM 
KERJASAMA ANTAR DAERAH 
• Fokus tujuan dan ruang lingkup dari kerjasama antar 
daerah 
– Efisiensi dan efektivitas 
– Ekonomi, non ekonomi (publik) 
• Bentuk kerjasama antar daerah 
• Aturan bermain (kelembagaan) 
– Penyelesaian disputes antar daerah 
• Daerah yang terlibat sebaiknya tidak dibatasi oleh 
karakteristik tapi lebih didasarkan atas kepentingan 
bersama 
– Cakupan daerah bisa juga mencakup antara daerah maju dan 
daerah tertinggal tidak hanya daerah tertinggal saja atau daerah 
maju saja
Beberapa Contoh Kerjasama Antardaerah 
• Di Jawa Tengah dan Jawa Timur, dibentuk Badan Kerjasama antar daerah dan 
Regional management. Contoh : 
– Regional Management untuk kawasan Banyumas yang diberi tugas untuk 
mempromosikan ekonomi lokal 
– Solo raya, kerjasama di bidang pariwisata 
• Kerjasama lintas pulau dan provinsi antara Provinsi Jawa Timur dan Kabupaten 
Bulungan dalam bidang ketransmigrasian. 
– Pemda Kab.Bulungan sebagai daerah tujuan transmigrasi menyiapkan lokasi dan lahan, 
Pemprov Jawa Timur sebagai daerah asal transmigrasi menyiapkan dana untuk membangun 
permukiman dan penempatan, pemerintah pusat memfasilitasi proses kerjasama, 
penempatan dan pelatihan serta pembinaan pasca penempatan 
• Di Bidang kepariwisataan, 
– pembentukan Destination management organization (DMO) di beberapa 
kawasan pariwisata bersifat lintas daerah seperti di Raja Ampat (Kab. Raja Ampat, 
Kota Sorong dan Kabupaten Sorong), Papua, Bunaken (kota Manado, Kabupaten 
Minahasa, Kota Bitung dan Kab. Minahasa Selatan) 
– Kerjasama antara Pemda D.I Yogyakarta dan Pemda Bali dalam mempromosikan 
pariwisata. Kedua provinsi membuat paket wisata yang mempromosikan kedua 
wilayah dan membentuk lembaga perwakilan di daerah masing-masing. 
21
FAKTOR KUNCI KEBERHASILAN KERJASAMA ANTAR DAERAH 
• Ada kesadaran dan komitmen bersama utk 
melaksanakan pengelolaan secara terpadu 
• Memiliki koordinasi dan komunikasi yang kuat 
antara sektor-sektor terkait, pemda-pemda 
terkait, swasta, masyarakat, media massa 
• Memiliki sumberdaya, prasarana dan sarana yang 
memadai, serta lembaga (formal dan informal) 
• Ada benefit yang akan diterima oleh masing-masing 
daerah 
• Dukungan kepemimpinan yang memiliki visi, pro-aktif, 
dan konsisten.
TERIMAKASIH 
23

Kebijakan Pembangunan Perkotaan dan Perdesaan Pengembangan Ekonomi Lokal Melalui Kerjasama Antar Daerah RPJMN 2015 - 2019

  • 1.
    KEBIJAKAN PEMBANGUNAN PERKOTAANDAN PERDESAAN PENGEMBANGAN EKONOMI LOKAL MELALUI KERJASAMA ANTARDAERAH RPJMN 2015-2019 Disampaikan oleh: Direktur Perkotaan dan Perdesaan BAPPENAS Dalam Workshop Pengembangan dan Studi Implementasi Penguatan Regional Management dalam Pengembangan Ekonomi Lokal Daerah Tertinggal Solo 7 Oktober 2014
  • 2.
  • 3.
    KESENJANGAN DESA DENGANKOTA Urbanisasi Pull Factor Push Factor Kota Desa Kesenjangan Antarwilayah – Dikotomi Desa Kota 1. Masih terbatasnya persebaran pusat pertumbuhan dan konektivitas antara kota atau pusat pertumbuhan yang menyediakan pelayanan ekonomi dan sosial dengan desa-desa di sekitarnya; 2. Masih rendahnya keterkaitan antarsektor dari hulu ke hilir yang dapat menciptakan diversifikasi kegiatan ekonomi di perdesaan serta memperkuat hubungan ekonomi antara kota dan desa; 3. Belum optimalnya kerjasama antardaerah yang dapat mendorong terjadinya peningkatan keterkaitan antara desa-kota dan antar daerah administrasi 3
  • 4.
    PERKEMBANGAN URBANISASI BERDASARKAN% PENDUDUK KOTA DAN DESA 4 Sumber: BPS, Proyeksi Penduduk Indonesia 2010-2035. Tingkat pertumbuhan penduduk perkotaan sebesar 2,18% pertahun lebih tinggi dari tingkat pertumbuhan penduduk rata-rata nasional sebesar 1% pertahun. Sedangkan pertumbuhan penduduk di perdesaan menurun sebesar 0,64% pertahun. Kontribusi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) 94 kota otonom (termasuk DKI Jakarta) hanya mencapai 40 persen dari total Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. % terhadap jumlah penduduk nasional
  • 5.
    PETA SEBARAN KOTA Banjar Bakula Kedung Sepur Maminasata KSN Perkotaan (Kawasan Megapolitan) KSN Perkotaan (Kawasan Metropolitan) Mebidangro Jabodetabek Perkotaan Palembang Cekungan Bandung Kartamantul Gerbang Kertosusila Sarbagita
  • 6.
    6 ISU STRATEGISPEMBANGUNAN PERDESAAN Kemiskinan dan kerentanan ekonomi • Tingkat pendapatan yang rendah, tingkat penguasaan aset-aset produksi yang kurang memadai, status gizi dan kesehatan, tingkat pendidikan yang rendah, serta masih kurangnya pelayanan dasar minimum menjadi penyebab tingginya angka kemiskinan masyarakat perdesaan, yaitu sekitar 63,20 persen dari total penduduk miskin di Indonesia (28,07 juta jiwa) keterbatasan ketersediaan pelayanan dasar minimum yang jauh tertinggal dari perkotaan • Terbatasnya pelayanan dasar minimum di perdesaan menyebabkan rendahnya akses terhadap kegiatan sosial ekonomi masyarakat Belum optimalnya pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya alam dan lingkungan hidup di perdesaan • Eksploitasi berlebihan dan kurangnya regenerasi sumber daya alam, diikuti dengan kerentanan perdesaan dalam menghadapi bencana dan dampak perubahan iklim juga turut mengancam ketahanan pangan dan keberlanjutan sumber daya alam dan lingkungan hidup di perdesaan
  • 7.
    PETA SEBARAN KAWASANPERDESAAN Kota Otonom Perdesaan Berkembang Perdesaan Tertinggal Batas Provinsi WILAYAH PAPUA: Desa Tertinggal: 89.5% Desa Berkembang: 9.8% Desa Mandiri: 0.7% WILAYAH SULAWESI: Desa Tertinggal: 28.8% Desa Berkembang: 61.4% Desa Mandiri: 9.8% WILAYAH MALUKU: Desa Tertinggal: 64.7% Desa Berkembang: 32.2% Desa Mandiri: 3.1 % WILAYAH KALIMANTAN: Desa Tertinggal: 49.0% Desa Berkembang: 43.5% Desa Mandiri: 7.5% WILAYAH NUSA TENGGARA: Desa Tertinggal: 55.6% Desa Berkembang: 37.6% Desa Mandiri: 6.9% WILAYAH JAWA-BALI: Desa Tertinggal: 1.8% Desa Berkembang: 53.8% Desa Mandiri: 44.4% WILAYAH SUMATERA: Desa Tertinggal: 22.8% Desa Berkembang: 67.9% Desa Mandiri: 9.3% Sumber: Potensi Desa Tahun 2005 dan 2011 (diolah) Catatan: jumlah desa termasuk kelurahan Perdesaan Mandiri 7
  • 8.
    8 ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN PERKOTAAN DAN PERDESAAN
  • 9.
    ARAH KEBIJAKAN RPJMN2015-2019 KESENJANGAN ANTAR WILAYAH KTI-KBI KESENJANGAN PERKOTAAN-PERDESAAN MENGURANGI KESENJANGAN PERKOTAAN DAN PERDESAAN PEMERATAAN PEMBANGUNAN GROWTH Pembangunan Pusat Pertumbuhan Baru (KKD) Penguatan Pembangunan Desa Optimalisasi Peran Kota Sedang/ Kecil Optimalisasi Peran KSN Pembangunan Perdesaan Pembangunan Perkotaan Arahan PW Isu Strategis Tujuan Arah Kebijakan Keterkaitan Kota-Desa Kerjasama antardaerah
  • 10.
    10 ARAH KEBIJAKANPEMBANGUNAN PERKOTAAN TAHUN 2015-2019 Mewujudkan Sistem Perkotaan Nasional (SPN). Pemenuhan Pelayanan Perkotaan (SPP) dan Kota Layak Huni Membangun Kota Hijau yang Berketahanan Iklim dan Bencana Membangun Kota Cerdas dan Berdaya Saing Meningkatkan kapasitas tata kelola pembangunan perkotaan
  • 11.
    11 ARAH KEBIJAKANPEMBANGUNAN PERDESAAN TAHUN 2015-2019 Mengembangkan Penghidupan Berkelanjutan Bagi Masyarakat Miskin dan Rentan di Desa Meningkatkan ketersediaan pelayanan umum dan pelayanan dasar minimum di perdesaan. Meningkatkan keberdayaan masyarakat perdesaan Mewujudkan tata kelola pemerintahan desa yang baik Mewujudkan kemandirian pangan dan pengelolaan desa yang berkelanjutan Mengembangkan Ekonomi Perdesaan
  • 12.
    ARAH KEBIJAKAN MEMBANGUNKETERKAITAN DESA-KOTA TAHUN 2015-2019 Perwujudan Konektivitas antar Kota Sedang dan Kota Kecil, dan antar Kota Kecil dan Desa sebagai Tulang Punggung (Backbone) Keterhubungan Desa-Kota 12 Perwujudan Keterkaitan antara Kegiatan Ekonomi Hulu (upstream linkages) dan Kegiatan Ekonomi Hilir (downstream linkages) Desa-Kotamelalui pengembangan kawasan agropolitan, minapolitan, pariwisata, dan transmigrasi. Peningkatan Kapasitas Tata Kelola, Kelembagaan, dan Masyarakat dalam Peningkatan Keterkaitan Kota-Desa
  • 13.
    13 KETERKAITAN KOTADAN DESA PERKOTAAN PERDESAAN UU Desa No. 6 Tahun 2014, pemenuhan kebutuhan dasar, 2. pembangunan sarana dan prasarana Desa, 3. pengembangan potensi ekonomi lokal, 4. pemanfaatan sumber daya alam dan lingkungan secara berkelanjutan. Arah Kebijakan : Mewujudkan Kota Berkelanjutan yang Berdaya saing, melalui: 1. Mewujudkan peran kota dalam sistem perkotaan nasional: a. Mewujudkan 9 KSN perkotaan sebagai Pusat Kegiatan Nasional/Global; b. Mempercepat peran kota sedang sebagai PKN atau PKW untuk mewujudkannya sebagai penyangga urbanisasi. 2. Mempercepat pembangunan sarana dan prasarana pelayanan perkotaan (SPP) khususnya kota sedang dan kota kecil; 3. Mewujudkan kota hijau yang berketahanan iklim dan bencana; mewujudkan kota layak huni yang aman dan nyaman; mewujudkan kota cerdas yang berdaya saing; 4. Meningkatkan kapasitas aparatur kelembagaan, dan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan kota, dan mengembangkan regulasi dan pembiayaan perkotaan. Arah Kebijakan: Mewujudkan keterkaitan hulu di perdesaan dan hilir di perkotaan, melalui: 1. Mewujudkan industri pengolahan dari potensi produksi perdesaan. 2. Mengembangkan pusat-pusat kawasan agropolitan, minapolitan, dan klaster industri, untuk menjadi pusat pengolahan hasil pertanian dan jasa untuk mendukung sektor pertanian 3. Meningkatkan akses infrastruktur desa dan pusat-pusat pertumbuhan. 4. Meningkatkan kelembagaan dan tata kelola ekonomi daerah 5. Mengembangkan kerjasama antar daerah dan kerjasama pemerintah-swasta 6. Menerapkan teknologi dan inovasi di tingkat lokal untuk meningkatkan nilai tambah Arah Kebijakan : Meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan kualitas hidup manusia serta penanggulangan kemiskinan sebagaimana amanat No. 6 Tahun 2014, melalui: 1. Mengentaskan kemiskinan dan menciptakan lapangan kerja. 2. Memenuhi standar pelayanan minimum (SPM) di perdesaan. 3. Meningkatkan keberdayaan masyarakat perdesaan 4. Mewujudkan tata kelola perdesaan dan yang optimal. 5. Mewujudkan desa yang berkelanjutan 6. Meningkatkan keterkaitan desa-kota.
  • 14.
    A. MENGARAHKAN INVESTASIDI 5 KAWASAN STRATEGIS NASIONAL (KSN) PERKOTAAN BARU DI LUAR JAWA No Lokasi Prioritas Fokus Pengembangan 1 Kawasan Perkotaan Padang: Sebagai pusat kegiatan Nasional (PKN) yang berorientasi pada mendorong perkembangan sektor produksi prioritas seperti: Industri; Perikanan laut; Pariwisata; dan Perdagangan dan jasa. 2 Kawasan Perkotaan Palembang: Sebagai pusat pertumbuhan Nasional (PKN) untuk mendukung pelayanan pengembangan wilayah di sekitarnya dan wilayah nasional, dengan memperhatikan fungsi-fungsi keterkaitan dengan pusat-pusat pertumbuhan wilayah internasional. 3 Kawasan Perkotaan Mataram Sebagai pusat kegiatan nasional (PKN) yang berorientasi pada kegiatan pariwisata alam dan jasa. 4 Kawasan Perkotaan Banjarbakula: Kota Banjarmasin, Kota Banjarbaru, Kab. Banjar, Kab. Baritokuala, dan Kab. Tanah Laut Diarahkan untuk menjadi pusat pertumbuhan wilayah nasional, gerbang pertama Pulau Kalimantan yang berorientasi pada upaya mendorong perkembangan sektor produksi wilayah seperti kehutanan, pertambangan bijih besi dan agroindustri serta industri pengolahan 5 Kawasan Perkotaan Manado-Bitung: Diarahkan sebagai Pusat Pertumbuhan Nasional yang berbasis pada pengembangan sektor pertanian, perkebunan, pariwisata, perikanan dan kelautan, industri pengolahan dan perhubungan dalam rangka mempercepat pembangunan di Kawasan Timur Indonesia (KTI) 14
  • 15.
    B. MENINGKATKAN EFISIENSIKEGIATAN EKONOMI DI 7 KSN PERKOTAAN YANG SUDAH ADA No Lokasi Prioritas Fokus Pengembangan 1 Mebidangro: Kota Medan, Binjai (Ibukota Kab. Langkat), Kab. Deli Serdang, Kab. Karo Sebagai pusat kegiatan Nasional (PKN) yang diarahkan sebagai pusat administrasi pelintas batas yang berfungsi sebagai outlet pemasaran untuk wilayah Sumatera Utara bagian Timur dengan tetap memantapkan fungsi-fungsi keterkaitan dengan pusat-pusat pertumbuhan wilayah internasional 2 Jabodetabek: Kota Jakarta, Kab. Bogor, Kota Bekasi, Kab. Tangerang, Kota Tangerang, Kota Depok, Kab. Bekasi, Kota Tangerang Selatan, Kota Bogor Meningkatkan fungsi Jabodetabek sebagai pusat kegiatan nasional (PKN) menjadi pusat kegiatan global (PKG) yang mendukung pertumbuhan wilayah nasional dan memantapkan fungsi-fungsi keterkaitan dengan pusat-pusat pertumbuhan atau kota-kota ditingkat internasional. 3 Kawasan Perkotaan cekungan Bandung: Kota Bandung, Kab. Bandung, Kab. Bandung Barat, Kota Cimahi, Kab. Majalengka, Kab. Sumedang Diarahkan sebagai pusat kegiatan nasional yang berorientasi pada meningkatkan spesialisasi fungsi jasa pendidikan, teknologi sistem informasi, industri, dan dan pariwisata perkotaan (urban tourism) 4 Kawasan Perkotaan Kedungsepur: Kota Semarang, Kab. Kendal, Kota Salatiga, Unggaran (Ibukota Kab. Semarang), Kab. Demak, Purwodadi (Ibukota Kab. Grobogan) Diarahkan sebagai pusat pertumbuhan wilayah nasional yang berfungsi mendorong pertumbuhan sektor jasa, teknologi informasi, pariwisata, dan industri wilayah Jawa Tengah 5 Kawasan Perkotaan Gerbang Kertosusila: Kota Surabaya, Kab. Sidoarjo, Kab. Gresik, Kab. Mojekerto, Kab. Lamongan, Kab. Bangkalan, Kota Mojekerto Dipertahankan untuk berfungsi sebagai pusat kegiatan nasional yang mendukung pelayanan pengembangan wilayah Indonesia bagian Timur 6 Kawasan Perkotaan Sarbagita: Kota Denpasar, Kab. Badung, Kab. Gianyar, Kab. Tabanan Diarahkan sebagai pusat kegiatan nasional yang mendorong pertumbuhan wilayah disekitarnya sebagai sentra produksi wilayah pulau serta sebagai pusat kegiatan ekonomi nasional berbasis kegiatan pariwisata yang bertaraf internasional 7 Kawasan Perkotaan Maminasata: Kota Makassar, Kab. Maros, Sungguminasa (Ibukota Kab. Gowa), Kab. Takalar Diarahkan sebagai pusat kegiatan nasional yang mendorong pertumbuhan kota-kota disekitarnya sebagai sentra produksi wilayah pulau serta sebagai pusat orientasi pelayanan berskala internasional dan penggerak utama bagi Kawasan Timur Indonesia; 15
  • 16.
    PAPUA • Jayapura • Sorong 16 C. OPTIMALISASI PERAN 24 KOTA SEDANG DI LUAR JAWA SULAWESI • Bitung • Gorontalo • Palu • Kendari • Palopo • Bau-bau MALUKU • Ternate • Ambon KALIMANTAN • Singkawang • Palangkaraya • Banjarmasin • Banjar Baru • Tarakan NUSA TENGGARA • Mataram • Bima • Kupang SUMATERA • Lhokseumawe • Payakumbuh • Tanjung Pinang • Tebing Tinggi • Dumai • Lubuklinggau
  • 17.
    17 D. PERWUJUDAN39 WILAYAH PENGEMBANGAN KETERKAITAN KOTA-DESA SEBAGAI PUSAT PERTUMBUHAN BARU No. Jenis Kawasan Papua Maluku Sulawesi Kalimantan Nusa Tenggara Jawa - Bali Sumatera Total Kawasan Pengembangan Keterkaitan Kota dan Desa, mencakup : 4 3 9 7 4 4 8 39 1. Kawasan Perkotaan Baru (KPB) 1 1 6 5 - - 7 20 2. Kawasan Transmigrasi 5 3 8 10 5 - 8 39 3. Kawasan Agropolitan 6 3 10 5 5 6 14 49 4. Kawasan Minapolitan 7 1 6 4 3 1 2 24 5. Kawasan Pariwisata 1 1 1 3 2 1 1 10 Kawasan Agropolitan/ Minapolitan Kawasan Transmig rasi Kawasan Pariwisata Kawasan Perkotaa n Baru Ko ta Inti Kawasan Agropolitan/ Minapolitan Kawasan Perkotaan Baru Kawasan Pariwisata/ Transmigra si Kawasan Agropolitan/ Minapolitan Kawasan Pariwisata/ Ko ta Inti Ko Transmigrasi ta Inti Pusat Pertumbuhan 1 Pusat Pertumbuhan 2 Pusat Pertumbuhan 3
  • 18.
    18 KERJASAMA ANTARDAERAHUNTUK MENDUKUNG PENGEMBANGAN EKONOMI LOKAL MEMBANGUN KETERKAITAN DESA-KOTA
  • 19.
    IMPLIKASI ARAHAN KEBIJAKANPEMBANGUNAN PERKOTAAN DAN PERDESAAN TERHADAP KERJASAMA ANTARDAERAH Adanya kebutuhan yang kuat akan efisiensi dlm pelayanan publik & pengelolaan sumber daya/potensi daerah Sinergitas Tata Ruang & Kelestarian fungsi lingkungan hidup yang tidak mengenal batas administrasi Kebutuhan akan meningkatkan kelancaran arus barang dan jasa antar daerah Kebutuhan akan sinergitas – keterkaitan antar-sektor antar-wilayah dlm sistem produksi & distribusi Kebutuhan akan Kerjasama Antardaerah
  • 20.
    BEBERAPA ISU YANGPERLU DIPERHATIKAN DALAM KERJASAMA ANTAR DAERAH • Fokus tujuan dan ruang lingkup dari kerjasama antar daerah – Efisiensi dan efektivitas – Ekonomi, non ekonomi (publik) • Bentuk kerjasama antar daerah • Aturan bermain (kelembagaan) – Penyelesaian disputes antar daerah • Daerah yang terlibat sebaiknya tidak dibatasi oleh karakteristik tapi lebih didasarkan atas kepentingan bersama – Cakupan daerah bisa juga mencakup antara daerah maju dan daerah tertinggal tidak hanya daerah tertinggal saja atau daerah maju saja
  • 21.
    Beberapa Contoh KerjasamaAntardaerah • Di Jawa Tengah dan Jawa Timur, dibentuk Badan Kerjasama antar daerah dan Regional management. Contoh : – Regional Management untuk kawasan Banyumas yang diberi tugas untuk mempromosikan ekonomi lokal – Solo raya, kerjasama di bidang pariwisata • Kerjasama lintas pulau dan provinsi antara Provinsi Jawa Timur dan Kabupaten Bulungan dalam bidang ketransmigrasian. – Pemda Kab.Bulungan sebagai daerah tujuan transmigrasi menyiapkan lokasi dan lahan, Pemprov Jawa Timur sebagai daerah asal transmigrasi menyiapkan dana untuk membangun permukiman dan penempatan, pemerintah pusat memfasilitasi proses kerjasama, penempatan dan pelatihan serta pembinaan pasca penempatan • Di Bidang kepariwisataan, – pembentukan Destination management organization (DMO) di beberapa kawasan pariwisata bersifat lintas daerah seperti di Raja Ampat (Kab. Raja Ampat, Kota Sorong dan Kabupaten Sorong), Papua, Bunaken (kota Manado, Kabupaten Minahasa, Kota Bitung dan Kab. Minahasa Selatan) – Kerjasama antara Pemda D.I Yogyakarta dan Pemda Bali dalam mempromosikan pariwisata. Kedua provinsi membuat paket wisata yang mempromosikan kedua wilayah dan membentuk lembaga perwakilan di daerah masing-masing. 21
  • 22.
    FAKTOR KUNCI KEBERHASILANKERJASAMA ANTAR DAERAH • Ada kesadaran dan komitmen bersama utk melaksanakan pengelolaan secara terpadu • Memiliki koordinasi dan komunikasi yang kuat antara sektor-sektor terkait, pemda-pemda terkait, swasta, masyarakat, media massa • Memiliki sumberdaya, prasarana dan sarana yang memadai, serta lembaga (formal dan informal) • Ada benefit yang akan diterima oleh masing-masing daerah • Dukungan kepemimpinan yang memiliki visi, pro-aktif, dan konsisten.
  • 23.