Morfologi Wilayah Kota
Mata Kuliah Sistem Keruangan Wilayah dan Kota
Faradina Ilma
Kelompok 2
Pengertian
• Morf = Bentuk
Logos = Ilmu
• Morfologi dalam artian sederhana:
ilmu yang mempelajari produk bentuk-bentuk fisik kota
secara logis.
• Morfologi dalam artian luas:
Ilmu terapan yang mempelajari tentang sejarah
terbentuknya pola dan struktur ruang suatu wilayah
atau kota serta perkembangan suatu wilayah atau
kota mulai awal terbentuknya kota tersebut hingga
munculnya daerah-daerah hasil ekspansi kota tersebut
Diagram pembentukan morfologi kota
Bentuk morfologi
suatu kota yang
tercermin pada pola
tata ruang, bentuk
arsitektur bangunan,
dan pola jalan pada
keseluruhan konteks
perkembangan
wilayah kota.
aktivitas sosial,
ekonomi, dan
budaya serta
kebijakan yang
berlaku di
masyarakat Perubahan pada
karakter dan bentuk
morfologi
wilayah/kota dari
waktu ke waktu
Pendekatan Struktur Ruang (Yunus, 2000)
1. Pendekatan Ekologikal
2. Pendekatan Ekonomi
3. Pendekatan Morfologikal
4. Pendekatan Sistem Kegiatan
Pendekatan Morfologi Kota
• Pendekatan Morfologi wilayah/kota dapat
dilakukan melalui Tissue Analysis.
• Dalam Tissue Analysis ini termuat beberapa
informasi terkait dengan hal-hal yang
mendasari terbentuknya suatu kawasan yang
meliputi:
 pola guna lahan
 persebaran fasilitas
 jaringan jalan
Terdapat 3 langkah dalam Tissue Analysis :
1. Proses
• Munculnya suatu kota tidak terjadi secara langsung, namun
membutuhkan suatu proses yang memiliki kurun waktu tertentu.
• Terdapat suatu perkembangan sejarah yang melatar belakanginya
hingga dapat muncul seperti saat ini.
2. Produk
Kota yang ada ada tidak terjadi secara abstrak, namun merupakan hasil
dari produk desain massa dan ruang yang berwujud 3 dimensi.
3. Behavior
• Keberadaan suatu ruang dipengaruhi oleh perilaku masyarakat yang
menghuninya.
• Bentuk kota yang ada merupakan hasil perpaduan budaya, aktivitas
sosial dan ekonomi masyarakatnya sehingga menciptakan ruang.
• Perubahan ruang kota juga dapat terjadi yaitu karena dipengaruhi oleh
perkembangan teknologi yang akan berdampak pula bagi perubahan
kehidupan dan perilaku penghuni kota.
Town plan Analysis (Conzen, 1960)
1. The burgage cycle concept (konsep siklus per plot)
 tiap plot yang ada di telusur perkembangannya
melalui tahap-tahap:
a. institutive (mulai dibangun gedung)
b. replitive (mulai penuh dengan gedung)
c. climax (tahap tidak memungkinkan untuk
dibangun gedung lagi)
d. Recessive (tahap kemerosotan)
Town plan Analysis (Conzen, 1960)
2. The fixation line concept (konsep pengenalan batas-batas
karakteristik zona)
• Digunakan untuk membedakan “urban built-up land”
dengan yang bukan.
• Daerah terbangun merupakan garis yang jelas untuk
mengamati percepatan perembetan kota ke arah luar
• Di luar “built-up land” terdapat zona pinggiran (fringe zone)
yang menunjukkan kemandegan sementara dari urban
sprawl
• Jika pertumbuhan kota berlanjut lagi maka ciri-ciri pinggiran
tidak akan berlokasi di daerah pinggiran namun akan
berada di tengah-tengah “built-up land”
Ekspresi keruangan kekotaan (Russwurm, 1980)
Bentuk
Konsentris
Konsentris
Konstelasi
Konstelasi
Memanjang
Memanjang
Terserak
Terserak
• (Smiles, 1955) 3 unsur morfologi kota:
1. Pola-pola jalan (street plan/lay out)
2. Tipe-tipe bangunan (architectural style of
buildings & design)
3. Unsur-unsur penggunaan lahan (land use)
TOWNSCAPE
(Ciri khas/karakteristik kota)
Layout of street (pola jalan) sebagai indikator morfologi kota
1. Pola jalan tidak teratur (irregular system)
• Ketidakteraturan sistem jalan ditinjau
dari segi lebar maupun arah jalannya
• Menunjukkan tidak adanya peraturan
untuk menertibkan morfologi kota
• Ciri kota di negara berkembang
Jakarta-Indonesia Bangkok-Thailand
2. Pola jalan radial konsentris
• Bagian pusatnya merupakan
daerah kegiatan utama, dapat
berupa pasar, kompleks
perbentengan, alun-alun,
komplek ibadah
• Secara keseluruhan membentuk
jaringan sarang laba-laba
• Jalan besar menjari dari titik
pusat
Kota Nahalal-Israel
Kota Paris-Perancis
3. Pola bersiku atau sistem grid (the
rectangular or grid system)
• Bagian kota dibagi sedemikian rupa
menjadi blok-blok empat persegi
panjang dengan jalan-jalan paralel
longitudinal dan transfersal
membentuk sudut siku-siku
• Jalan utama membentang dari
pintu gerbang utama kota hingga
alun-alun utama pada bagian pusat
kota
• Banyak diterapkan kota-kota di
Amerika
San Fransisco-USA
New York-USA
Desa Hua Xi-China
Pengaruh perkembangan transportasi terhadap morfologi kota
1. Masa dominasi pejalan kaki
2. Masa dominasi kereta binatang
3. Masa dominasi kereta listrik kecil
4. Masa domiansi kereta api antar kota
5. Masa dominasi mobil antar kota
6. Masa perkembangan jalan-jalan bebas hambatan
7. Masa perkembangan jalan-jalan lingkar
Faktor-faktor yang mempengaruhi
bentukan arsitektural kota
1. Faktor geografis:
- Iklim
- topografi
- potensi sumber daya alam
2. Faktor penduduk:
- Sosial dan budaya
- Sistem pemerintahan
- Agama
- Adat istiadat
3. Faktor kemajuan teknologi
Townscape kota-kota di Dunia
A. Kota-kota di Eropa
Ciri-ciri:
- Bangunan publik (gereja, istana, kantor pemerintahan) bergaya baroque sebagai
peninggalan zaman renaissance
- Jalan-jalan sempit dan berbatu
- Perumahan dengan unsur klasik romantik
- Rumah-rumah dengan balkon beratap
- Taman-taman yang indah dengan air mancur
EROPA SELATAN
(Spanyol, Portugal, Italy, Yunani)
Iklim relatif
hangat
EROPA TIMUR
(Austria, Belgia, Perancis, Belanda, Jerman, Monako, Swiss)
Dipengaruhi sistem Kerajaan
Istana Versailles-Paris Munich-Jerman
B. KOTA-KOTA DI ASIA
ASIA TIMUR
(Jepang, Korea, Cina)
Tokyo-Jepang Seoul-Korea
ASIA BARAT (Arab saudi, Kuwait, Dubai, Yaman, Pakistan, Iran, Irak, dll)
Sana’a, old city in Yamen
Dubai-UEA
Proses perembetan kenampakan fisik kota
Urban sprawl  merefer kepada proses ekspansi yang terus menerus
disekeliling wilayah urban dimana selalu terdapat lahan-lahan yang dalam
proses berkonversi dari penggunaan rural menjadi urban
3 jenis urban sprawl:
1. Perembetan konsentris
• Perembetan berjalan perlahan-lahan
terbatas pada semua bagian luar
kenampakan fisik kota.
• Perembetan merata sehingga
membentuk kenampakan morfologi
yang relatif kompak
2. Perembetan memanjang (ribbon/linear
development)
• Menunjukaan ketidak merataan perembetan
areal kota di semua sisi-sisi luar dari pada
daerah utama kota
• Perembetan paling cepat terlihat di sepanjang
jalur transportasi yang ada
3. Perembetan yang meloncat (leapfrog
development)
• Perkembangan lahan kekotaan terjadi
berpencaran secara sporadis dan tumbuh di
tengah-tengah lahan pertanian
• Menyulitkan untuk pembangunan sarana dan
prasarana karena tidak kompak
• Cepat atau lambat daerah antar non-urban
tersebut akan menyatu dan membentuk
“urban landscapes” yang kompak
Alternatif model bentuk kota
• Digunakan untuk mengatasi pertumbuhan yang sprawl
• Pemilihan model hendaknya didasarkan pada sifat urban sprawl yang
sudah terbentuk dan kecenderungan (trend) perkembangan yang akan
datang
7 model bentuk kota yang disarankan (Hudson,
1970):
1. Bentuk satelit dan pusat-pusat baru
• Kota satelit berfungsi sebagai penyerap arus
urbanit dari kota utama dengan jalan
peningkatan akses dan fungsi-fungsi di kota
satelit sehingga meningkatkan pula
“working opprtunities”
• Contoh: kota Stockholm, London,
Copenhagen, Jabodetabek, Gerbang
Kertasusila, Bandungraya
2. Bentuk staller atau radial
• Pada masing-masing lidah hendaknya
dibentuk pusat-pusat kegiatan kedua
(subsidiary centers)
• Pada bagian yang menjorok ke dalam
direncanakan sebagai RTH (sarana olah
raga, tempat rekreasi, dll )
3. Bentuk cincin (ring plan)
• Terdapat beberapa pusat kota yang
berkembang disepanjang jalan melingkar
• Bagian tengah dipertahankan sebagai
open space
• Contoh: “Randstad Holland” di Belanda
yang menghubungkan pusat kota Utrecht,
Rotterdam, Denhhaag, Harlem,
Amsterdam, dll
4. Bentuk linear bermanik
• Pengembangan dari pola linear
• Beberapa pusat kota yang lebih kecil
tumbuh di kanan dan kiri dari pusat
kota
• Di pinggir jalan ditempati bangunan
komersial sedangkan di bagian
belakang berupa permukiman
penduduk
5. Bentuk inti/kompak (the core or
compact plan)
• Adanya konsentrasi bangunan yang
banyak pada area yang relatif kecil
• Perkembangan areal perkotaan
biasanya didominasi oleh
perkembangan vertika
• Contoh: Hongkong, Tokyo, New York
6. Bentuk memencar (dispersed city plan)
• Merupakan kesatuan morfologi yang
besar dan kompak
• Terdapat beberapa urban centers yang
masing-masing memiliki fungsi khusus
dan berbeda satu dengan yang lain
• Menghadirkan suasana “rural urban”
(fasilitas perkotaan namun atmosfer
perdesaan)
7. Bentuk kota bawah tanah
• Struktur perkotaannya dibangun
dibawah permukaan bumi
• Daerah diatas akan tetap berfungsi
sebagai jelur hijau atau daerah
pertanian
Studi Kasus :
Morfologi Kota Jakarta
• Kota Jakarta terletak di barat laut PulauJawa
dengan jumlah penduduk 9.607.787 jiwa pada
Tahun 2010.
• Jakarta pernah dikenal dengan nama Sunda
Kelapa (sebelum 1527), Jayakarta (1527-
1619), Batavia atau Jaccatra (1619-1942), dan
Djakarta (1942-1972).
Ekspansi lahan dalam
pembangunan Kota
Batavia
Perkembangan Morfologi Kota Jakarta (1)
• Periode penjajahan
Portugis (1610)
– Pada masa ini telah datang
berbagai bangsa lain yang
menetap di Jayakarta
– Dimulai dengan
membangun tepian sungai
Ciliwung sebagai pusat
pemerintahan dan
perekonomian pada masa
pemerintahan Jayawikarta.
– Dibangunnya gudang-
gudang Portugis dan
Inggris serta pada pusat
kerajaan Jayakarta yang
terdapat pada sisi barat
sungai Ciliwung.
Perkembangan Morfologi Kota Jakarta (2)
• Periode penjajahan Belanda
(1619)
– Ditandai dengan datangnya
bangsa Belanda yang diperbolehkan
membangun Benteng pertahanan
dan membuat pemukiman
untuk warga Belanda.
– Untuk memperkuat posisi
pemerintahan kolonial dan
memperlancar pertumbuhan
ekonomi, dibangun infrastruktur
kota Batavia diantaranya
pelabuhan, pusat pemerintahan,
pemukiman, benteng pertahanan
militer, pusat hiburan,
pusat perbelanjaan dan sarana
transportasi berupa kanal-kanal.
Perkembangan Morfologi Kota Jakarta (3)
– Belanda mulai membangun kota
Bentengnya berdasarkan kota
Amsterdam yang menggunakan
kanal-kanal dan jalan yang
berbentuk grid.
– Pada perkembangan selanjutnya
grid-grid yang dibentuk oleh kanal-
kanal tersebut dinyatakan tidak
sehat karena timbul wabah
malaria dan pes sehingga Benteng
Kasteel Batavia kemudian
dihancurkan oleh Daendles, yang
kemudian difungsikan untuk
menimbuni kanal-kanal yang
sudah dangkal.
Rencana Kota Batavia dengan pola
Grid
Kanal Batavia-1940
Kanal Kota Tua-sekarang
Perkembangan Morfologi
Kota Jakarta (4)
– Deandles membuka
sebidang tanah yang diberi
nama Koningsplein di
bagian selatan kota yang
lambat laun terjadi
perubahan yang tidak
teratur karena adanya
penambahan bangunan-
bangunan, rel-rel kereta
api, penggunaan lahan
sebagai pasar tahunan
atau Jaarmarkt atau Pasar
Gambir.
Kondisi sekarang Monumen Nasional
Rencana pembangunan Koningsplein
Perkembangan Morfologi Kota Jakarta (5)
• Periode Pasca Kemerdekaan (Tahun
1970)
– Dimulai ketika Ali Sadikin sebagai
Gubernur Jakarta membangun Jakarta
agar menjadi setara dengan kota-kota
besar di dunia.
– Munculnya proyek-proyek
pembangunan seperti Taman Ismail
Marzuki, Museum Fatahillah, Kebun
Binatang Ragunan, Proyek Senen, Taman
Impian Jaya Ancol, Taman Ria Monas,
Taman Ria Remaja, Kota satelit Pluit, dan
pelestarian budaya Betawi di Condet.
– Pada masa ini Poros Medan Merdeka-
Thamrin-Sudirman mulai dikembangkan
sebagai pusat bisnis kota, menggantikan
poros Medan Merdeka-Senen-Salemba-
Jatinegara.
Kondisi sekarang Jl. Jend. Sudirman
Pemindahan Poros yang dilakukan oleh Gubernur Ali Sadikin
• Periode Gubernur Sutiyoso (1997-
2007)
- Kepadatan penduduk meningkat
tajam
- Jakarta menjadi kawasan
metropolitan bersama dengan Bogor-
Depok-Tangerang-Bekasi
- Beberapa proyek ikonik antara lain:
Bus Rapid Transit (BRT) dan
pembangunan kembali banjir kanal
• Periode Gubernur Fauzi Bowo-
sekarang
Jakarta harus melakukan penataan
kembali terkait masalah-masalah yang
muncul akibat tekanan urbanisasi
Batavia, abad-18
Visualisasi perubahan morfologi Kota Jakarta dari waktu ke waktu
Kota Tua Jakarta-2010
Menteng 1930-an
Menteng-2010
Soetomo, Sugiono. 2009. Urbanisasi dan Morfologi. Yogyakarta:
Graha Ilmu
Yunus, Hadi Sabari. 1999. Struktur Tata Ruang Kota. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar
Breuning, H.A. Tanpa Tahun. Het Voormalige Batavia. Amsterdaam:
Alert de Lange dalam mmzrarebooks.blogspot.com
Daftar Pustaka
Terimakasih

Morfologi wilayah kota

  • 1.
    Morfologi Wilayah Kota MataKuliah Sistem Keruangan Wilayah dan Kota
  • 2.
  • 3.
    Pengertian • Morf =Bentuk Logos = Ilmu • Morfologi dalam artian sederhana: ilmu yang mempelajari produk bentuk-bentuk fisik kota secara logis. • Morfologi dalam artian luas: Ilmu terapan yang mempelajari tentang sejarah terbentuknya pola dan struktur ruang suatu wilayah atau kota serta perkembangan suatu wilayah atau kota mulai awal terbentuknya kota tersebut hingga munculnya daerah-daerah hasil ekspansi kota tersebut
  • 4.
    Diagram pembentukan morfologikota Bentuk morfologi suatu kota yang tercermin pada pola tata ruang, bentuk arsitektur bangunan, dan pola jalan pada keseluruhan konteks perkembangan wilayah kota. aktivitas sosial, ekonomi, dan budaya serta kebijakan yang berlaku di masyarakat Perubahan pada karakter dan bentuk morfologi wilayah/kota dari waktu ke waktu
  • 5.
    Pendekatan Struktur Ruang(Yunus, 2000) 1. Pendekatan Ekologikal 2. Pendekatan Ekonomi 3. Pendekatan Morfologikal 4. Pendekatan Sistem Kegiatan
  • 6.
    Pendekatan Morfologi Kota •Pendekatan Morfologi wilayah/kota dapat dilakukan melalui Tissue Analysis. • Dalam Tissue Analysis ini termuat beberapa informasi terkait dengan hal-hal yang mendasari terbentuknya suatu kawasan yang meliputi:  pola guna lahan  persebaran fasilitas  jaringan jalan
  • 7.
    Terdapat 3 langkahdalam Tissue Analysis : 1. Proses • Munculnya suatu kota tidak terjadi secara langsung, namun membutuhkan suatu proses yang memiliki kurun waktu tertentu. • Terdapat suatu perkembangan sejarah yang melatar belakanginya hingga dapat muncul seperti saat ini. 2. Produk Kota yang ada ada tidak terjadi secara abstrak, namun merupakan hasil dari produk desain massa dan ruang yang berwujud 3 dimensi. 3. Behavior • Keberadaan suatu ruang dipengaruhi oleh perilaku masyarakat yang menghuninya. • Bentuk kota yang ada merupakan hasil perpaduan budaya, aktivitas sosial dan ekonomi masyarakatnya sehingga menciptakan ruang. • Perubahan ruang kota juga dapat terjadi yaitu karena dipengaruhi oleh perkembangan teknologi yang akan berdampak pula bagi perubahan kehidupan dan perilaku penghuni kota.
  • 8.
    Town plan Analysis(Conzen, 1960) 1. The burgage cycle concept (konsep siklus per plot)  tiap plot yang ada di telusur perkembangannya melalui tahap-tahap: a. institutive (mulai dibangun gedung) b. replitive (mulai penuh dengan gedung) c. climax (tahap tidak memungkinkan untuk dibangun gedung lagi) d. Recessive (tahap kemerosotan)
  • 9.
    Town plan Analysis(Conzen, 1960) 2. The fixation line concept (konsep pengenalan batas-batas karakteristik zona) • Digunakan untuk membedakan “urban built-up land” dengan yang bukan. • Daerah terbangun merupakan garis yang jelas untuk mengamati percepatan perembetan kota ke arah luar • Di luar “built-up land” terdapat zona pinggiran (fringe zone) yang menunjukkan kemandegan sementara dari urban sprawl • Jika pertumbuhan kota berlanjut lagi maka ciri-ciri pinggiran tidak akan berlokasi di daerah pinggiran namun akan berada di tengah-tengah “built-up land”
  • 10.
    Ekspresi keruangan kekotaan(Russwurm, 1980) Bentuk Konsentris Konsentris Konstelasi Konstelasi Memanjang Memanjang Terserak Terserak
  • 11.
    • (Smiles, 1955)3 unsur morfologi kota: 1. Pola-pola jalan (street plan/lay out) 2. Tipe-tipe bangunan (architectural style of buildings & design) 3. Unsur-unsur penggunaan lahan (land use) TOWNSCAPE (Ciri khas/karakteristik kota)
  • 12.
    Layout of street(pola jalan) sebagai indikator morfologi kota 1. Pola jalan tidak teratur (irregular system) • Ketidakteraturan sistem jalan ditinjau dari segi lebar maupun arah jalannya • Menunjukkan tidak adanya peraturan untuk menertibkan morfologi kota • Ciri kota di negara berkembang Jakarta-Indonesia Bangkok-Thailand
  • 13.
    2. Pola jalanradial konsentris • Bagian pusatnya merupakan daerah kegiatan utama, dapat berupa pasar, kompleks perbentengan, alun-alun, komplek ibadah • Secara keseluruhan membentuk jaringan sarang laba-laba • Jalan besar menjari dari titik pusat
  • 14.
  • 15.
    3. Pola bersikuatau sistem grid (the rectangular or grid system) • Bagian kota dibagi sedemikian rupa menjadi blok-blok empat persegi panjang dengan jalan-jalan paralel longitudinal dan transfersal membentuk sudut siku-siku • Jalan utama membentang dari pintu gerbang utama kota hingga alun-alun utama pada bagian pusat kota • Banyak diterapkan kota-kota di Amerika
  • 16.
  • 17.
    Pengaruh perkembangan transportasiterhadap morfologi kota 1. Masa dominasi pejalan kaki 2. Masa dominasi kereta binatang 3. Masa dominasi kereta listrik kecil 4. Masa domiansi kereta api antar kota 5. Masa dominasi mobil antar kota 6. Masa perkembangan jalan-jalan bebas hambatan 7. Masa perkembangan jalan-jalan lingkar
  • 18.
    Faktor-faktor yang mempengaruhi bentukanarsitektural kota 1. Faktor geografis: - Iklim - topografi - potensi sumber daya alam 2. Faktor penduduk: - Sosial dan budaya - Sistem pemerintahan - Agama - Adat istiadat 3. Faktor kemajuan teknologi
  • 19.
    Townscape kota-kota diDunia A. Kota-kota di Eropa Ciri-ciri: - Bangunan publik (gereja, istana, kantor pemerintahan) bergaya baroque sebagai peninggalan zaman renaissance - Jalan-jalan sempit dan berbatu - Perumahan dengan unsur klasik romantik - Rumah-rumah dengan balkon beratap - Taman-taman yang indah dengan air mancur EROPA SELATAN (Spanyol, Portugal, Italy, Yunani) Iklim relatif hangat
  • 20.
    EROPA TIMUR (Austria, Belgia,Perancis, Belanda, Jerman, Monako, Swiss) Dipengaruhi sistem Kerajaan Istana Versailles-Paris Munich-Jerman B. KOTA-KOTA DI ASIA ASIA TIMUR (Jepang, Korea, Cina) Tokyo-Jepang Seoul-Korea
  • 21.
    ASIA BARAT (Arabsaudi, Kuwait, Dubai, Yaman, Pakistan, Iran, Irak, dll) Sana’a, old city in Yamen Dubai-UEA
  • 22.
    Proses perembetan kenampakanfisik kota Urban sprawl  merefer kepada proses ekspansi yang terus menerus disekeliling wilayah urban dimana selalu terdapat lahan-lahan yang dalam proses berkonversi dari penggunaan rural menjadi urban 3 jenis urban sprawl: 1. Perembetan konsentris • Perembetan berjalan perlahan-lahan terbatas pada semua bagian luar kenampakan fisik kota. • Perembetan merata sehingga membentuk kenampakan morfologi yang relatif kompak
  • 23.
    2. Perembetan memanjang(ribbon/linear development) • Menunjukaan ketidak merataan perembetan areal kota di semua sisi-sisi luar dari pada daerah utama kota • Perembetan paling cepat terlihat di sepanjang jalur transportasi yang ada 3. Perembetan yang meloncat (leapfrog development) • Perkembangan lahan kekotaan terjadi berpencaran secara sporadis dan tumbuh di tengah-tengah lahan pertanian • Menyulitkan untuk pembangunan sarana dan prasarana karena tidak kompak • Cepat atau lambat daerah antar non-urban tersebut akan menyatu dan membentuk “urban landscapes” yang kompak
  • 24.
    Alternatif model bentukkota • Digunakan untuk mengatasi pertumbuhan yang sprawl • Pemilihan model hendaknya didasarkan pada sifat urban sprawl yang sudah terbentuk dan kecenderungan (trend) perkembangan yang akan datang 7 model bentuk kota yang disarankan (Hudson, 1970): 1. Bentuk satelit dan pusat-pusat baru • Kota satelit berfungsi sebagai penyerap arus urbanit dari kota utama dengan jalan peningkatan akses dan fungsi-fungsi di kota satelit sehingga meningkatkan pula “working opprtunities” • Contoh: kota Stockholm, London, Copenhagen, Jabodetabek, Gerbang Kertasusila, Bandungraya
  • 25.
    2. Bentuk stalleratau radial • Pada masing-masing lidah hendaknya dibentuk pusat-pusat kegiatan kedua (subsidiary centers) • Pada bagian yang menjorok ke dalam direncanakan sebagai RTH (sarana olah raga, tempat rekreasi, dll ) 3. Bentuk cincin (ring plan) • Terdapat beberapa pusat kota yang berkembang disepanjang jalan melingkar • Bagian tengah dipertahankan sebagai open space • Contoh: “Randstad Holland” di Belanda yang menghubungkan pusat kota Utrecht, Rotterdam, Denhhaag, Harlem, Amsterdam, dll
  • 26.
    4. Bentuk linearbermanik • Pengembangan dari pola linear • Beberapa pusat kota yang lebih kecil tumbuh di kanan dan kiri dari pusat kota • Di pinggir jalan ditempati bangunan komersial sedangkan di bagian belakang berupa permukiman penduduk 5. Bentuk inti/kompak (the core or compact plan) • Adanya konsentrasi bangunan yang banyak pada area yang relatif kecil • Perkembangan areal perkotaan biasanya didominasi oleh perkembangan vertika • Contoh: Hongkong, Tokyo, New York
  • 27.
    6. Bentuk memencar(dispersed city plan) • Merupakan kesatuan morfologi yang besar dan kompak • Terdapat beberapa urban centers yang masing-masing memiliki fungsi khusus dan berbeda satu dengan yang lain • Menghadirkan suasana “rural urban” (fasilitas perkotaan namun atmosfer perdesaan) 7. Bentuk kota bawah tanah • Struktur perkotaannya dibangun dibawah permukaan bumi • Daerah diatas akan tetap berfungsi sebagai jelur hijau atau daerah pertanian
  • 28.
    Studi Kasus : MorfologiKota Jakarta • Kota Jakarta terletak di barat laut PulauJawa dengan jumlah penduduk 9.607.787 jiwa pada Tahun 2010. • Jakarta pernah dikenal dengan nama Sunda Kelapa (sebelum 1527), Jayakarta (1527- 1619), Batavia atau Jaccatra (1619-1942), dan Djakarta (1942-1972).
  • 29.
  • 30.
    Perkembangan Morfologi KotaJakarta (1) • Periode penjajahan Portugis (1610) – Pada masa ini telah datang berbagai bangsa lain yang menetap di Jayakarta – Dimulai dengan membangun tepian sungai Ciliwung sebagai pusat pemerintahan dan perekonomian pada masa pemerintahan Jayawikarta. – Dibangunnya gudang- gudang Portugis dan Inggris serta pada pusat kerajaan Jayakarta yang terdapat pada sisi barat sungai Ciliwung.
  • 31.
    Perkembangan Morfologi KotaJakarta (2) • Periode penjajahan Belanda (1619) – Ditandai dengan datangnya bangsa Belanda yang diperbolehkan membangun Benteng pertahanan dan membuat pemukiman untuk warga Belanda. – Untuk memperkuat posisi pemerintahan kolonial dan memperlancar pertumbuhan ekonomi, dibangun infrastruktur kota Batavia diantaranya pelabuhan, pusat pemerintahan, pemukiman, benteng pertahanan militer, pusat hiburan, pusat perbelanjaan dan sarana transportasi berupa kanal-kanal.
  • 32.
    Perkembangan Morfologi KotaJakarta (3) – Belanda mulai membangun kota Bentengnya berdasarkan kota Amsterdam yang menggunakan kanal-kanal dan jalan yang berbentuk grid. – Pada perkembangan selanjutnya grid-grid yang dibentuk oleh kanal- kanal tersebut dinyatakan tidak sehat karena timbul wabah malaria dan pes sehingga Benteng Kasteel Batavia kemudian dihancurkan oleh Daendles, yang kemudian difungsikan untuk menimbuni kanal-kanal yang sudah dangkal. Rencana Kota Batavia dengan pola Grid
  • 33.
  • 34.
    Perkembangan Morfologi Kota Jakarta(4) – Deandles membuka sebidang tanah yang diberi nama Koningsplein di bagian selatan kota yang lambat laun terjadi perubahan yang tidak teratur karena adanya penambahan bangunan- bangunan, rel-rel kereta api, penggunaan lahan sebagai pasar tahunan atau Jaarmarkt atau Pasar Gambir. Kondisi sekarang Monumen Nasional Rencana pembangunan Koningsplein
  • 35.
    Perkembangan Morfologi KotaJakarta (5) • Periode Pasca Kemerdekaan (Tahun 1970) – Dimulai ketika Ali Sadikin sebagai Gubernur Jakarta membangun Jakarta agar menjadi setara dengan kota-kota besar di dunia. – Munculnya proyek-proyek pembangunan seperti Taman Ismail Marzuki, Museum Fatahillah, Kebun Binatang Ragunan, Proyek Senen, Taman Impian Jaya Ancol, Taman Ria Monas, Taman Ria Remaja, Kota satelit Pluit, dan pelestarian budaya Betawi di Condet. – Pada masa ini Poros Medan Merdeka- Thamrin-Sudirman mulai dikembangkan sebagai pusat bisnis kota, menggantikan poros Medan Merdeka-Senen-Salemba- Jatinegara. Kondisi sekarang Jl. Jend. Sudirman
  • 36.
    Pemindahan Poros yangdilakukan oleh Gubernur Ali Sadikin
  • 37.
    • Periode GubernurSutiyoso (1997- 2007) - Kepadatan penduduk meningkat tajam - Jakarta menjadi kawasan metropolitan bersama dengan Bogor- Depok-Tangerang-Bekasi - Beberapa proyek ikonik antara lain: Bus Rapid Transit (BRT) dan pembangunan kembali banjir kanal • Periode Gubernur Fauzi Bowo- sekarang Jakarta harus melakukan penataan kembali terkait masalah-masalah yang muncul akibat tekanan urbanisasi
  • 38.
    Batavia, abad-18 Visualisasi perubahanmorfologi Kota Jakarta dari waktu ke waktu
  • 39.
  • 40.
  • 41.
    Soetomo, Sugiono. 2009.Urbanisasi dan Morfologi. Yogyakarta: Graha Ilmu Yunus, Hadi Sabari. 1999. Struktur Tata Ruang Kota. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Breuning, H.A. Tanpa Tahun. Het Voormalige Batavia. Amsterdaam: Alert de Lange dalam mmzrarebooks.blogspot.com Daftar Pustaka
  • 42.