Komplikasi Persalinan dan Nifas
Pusat Pendidikan dan Pelatihan Tenaga Kesehatan
Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia
Jakarta 2015
LIA ARTIKA SARI
Australia Indonesia Partnership for
Health Systems Strengthening
(AIPHSS)
SEMESTER 3
OBSTETRI
Modul
KEGIATAN BELAJAR 2
Komplikasi Nifas dan
Penatalaksanaannya
Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan
2
Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan
i
Kata
Pengantar
	 Segala puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan yang
Mahaesa, karena berkat rahmat dan karunia-Nyalah kami dapat
menyelesaikan MODUL DUA dari EMPAT MODUL dalam Mata Kuliah
Obstetri yang berjudul Komplikasi Persalinan dan Nifas.
	 Modul Obstetri ini disusun dalam rangka membantu proses
pembelajaran program Diploma III kebidanan dengan sistem
pembelajaran jarak jauh yang disusun bagi mahasiswa dengan
latar belakang pekerjaan bidan pada lokasi – lokasi yang sulit untuk
ditinggalkan seperti daerah perbatasan dan kepulauan.
	 Ucapan terima kasih tak terhingga kami sampaikan kepada
segenap pihak yang telah membantu kami hingga terselesaikannya
modul ini. Kami mengucapkan terimakasih kepada yang terhormat :
a.	 Menteri Kesehatan Republik Indonesia
b.	Kepala Badan PPSDMK Kementrian Kesehatan Republik
Indonesia
c.	 Kepala Pusdiklatnakes Badan PPSDMK Kementrian Kesehatan
Republik Indonesia
d.	 Australian Government Overseas Aid Program (AusAID)
e.	 Tim editor modul
	 Kami menyadari bahwa modul ini masih jauh dari
kesempurnaan. Masukan untuk penyempurnaan modul ini sangat
kami harapkan.
	 Demikian, semoga modul ini dapat bermanfaat meningkatkan
kualitas pembelajaran pendidikan Diploma III Kebidanan yang
menggunakan system jarak jauh.
								Jakarta, Juli 2013
Gambar : Pengecekan cabang bayi
Pendahuluan
Rekan-rekan mahasiswa Selamat berjumpa kembali dalam mata kuliah Obstetri. Selamat
Anda telah berhasil menyelesaikan satu modul. Sekarang Anda akan mempelajari
adalah modul yang kedua. Setelah menyelesaikan modul ini diharapkan Anda dapat:
(1) menjelaskan komplikasi-komplikasi apa saja yang dapat terjadi pada saat persalinan,
(2) menjelaskan cara penatalaksanaan jika terjadi komplikasi dalam persalinan, (3)
menjelaskan komplikasi-komplikasi apa saja yang dapat terjadi pada saat nifas, dan (4)
menjelaskan cara penatalaksanaan jika terjadi komplikasi pada saat nifas.
Kompetensi-kompetensi tersebut sangat dibutuhkan bagi anda sebagai seorang bidan,
terutama ketika menghadapi pasien yang mengalami komplikasi pada saat persalinan
dan nifas. Dengan menguasai kompetensi ini, anda akan dapat memberikan informasi
yang benar kepada pasien, dapat menganalisis suatu keadaan fisiologis dapat berubah
menjadi suatu hal yang patologis sedini mungkin, sehingga sebagai bidan anda dapat
memberikan penanganan yang tepat sesegera mungkin kepada pasien.
Modul ini dikemas dalam tiga kegiatan belajar (KB). Untuk mempelajari modul ini
sedikitnya dibutuhkan waktu 180 menit. Tiga kegiatan belajar tersebut disusun dengan
urutan sebagai berikut:
•	 KegiatanBelajar1:Mengidentifikasikomplikasipersalinandanpenatalaksanaannya
•	 Kegiatan Belajar 2: Mengidentifikasi komplikasi nifas dan penatalaksanaannya
•	 Kegiatan Belajar 3: Mengidentifikasi komplikasi nifas dan penatalaksanaannya
Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan
Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan
3
4
Petunjuk Belajar
Modul ini disusun sedemikian rupa agar anda dapat mempelajarinya secara mandiri,
kami yakin anda akan berhasil jika anda mau mempelajarinya secara serius dan benar.
Oleh karena itu lakukan langkah-langkah belajar sebagai berikut:
1.	 Baca baik-baik dan pahami tujuan/kompetensi yang ingin dicapai dalam
mempelajari modul ini.
2.	 Pelajari materi secara berurutan mulai dari kegiatan belajar (KB)1 dan seterusnya,
karena materi yang dibahas dalam kegiatan sebelumnya berkaitan erat dengan
materi yang akan dibahas pada kegiatan berikutnya.
3.	 Anda harus punya keyakinan yang kuat untuk belajar dan memprak-tikkan materi
yang tertuang dalam modul ini.
4.	 Pelajari baik-baik dan pahami uraian materi yang ada pada setiap KB. Jika ada
materi yang harus dipraktikkan, maka Anda diminta untuk mempraktikkannya.
5.	 Disamping mempelajari modul ini, Anda dianjurkan untuk mempelajari buku-buku
lain, koran, majalah yang membahas tentang komplikasi persalinan nifas
6.	 Untuk lebih memudahkan lagi memahami modul ini, amati beberapa pasien yang
komplikasi persalinan nifas
7.	 Setelah selesai mempelajari satu KB, Anda diminta untuk mengerjakan tugas
maupun soal-soal yang ada di dalamnya. Anda dinyatakan berhasil kalau sedikitnya
80% jawaban Anda benar. Selanjutnya Anda dipersilahkan untuk mempelajari KB
berikutnya.
8.	 Kunci jawaban untuk setiap KB ada di bagian akhir modul ini. Silahkan cocokkan
jawaban Anda dengan kunci jawaban tersebut. Jika anda belum berhasil silahkan
pelajari sekali lagi bagian-bagian yang belum anda kuasai. Ingat! Jangan melihat
kunci jawaban sebelum anda selesai mengerjakan tugas
9.	 Bila anda mengalami kesulitan, diskusikan dengan teman-temanmu, jika masih
juga mengalami kesulitan, silahkan hubungi dosen/fasilitator dari Mata Kuliah ini.
10.	Setelah semua KB dipelajari, dan semua tugas sudah anda kerjakan dengan benar,
tanyakan pada diri anda sendiri apakah anda telah menguasai seluruh materi
sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Bila jawabannya “Ya”, maka hubungi dosen
Pembina anda untuk meminta tes akhir modul (TAM). Anda dinyatakan berhasil
bila sedikitnya jawaban Anda 80% benar. Dengan demikian Anda diperbolehkan
untuk mempalajari modul berikutnya.
Selamat belajar, jangan lupa memohon pertolongan kepada Tuhan yang Maha kuasa
Allah SWT agar Anda dimudahkan dalam mempelajari modul ini, sehingga dapat berhasil
dengan baik.
Daftar Istilah
ISTILAH KETERANGAN
Cephalopelvic
disproportion
Ketidaksesuaian antara kepala bayi dengan panggul ibu
Distosia kesulitan dalam jalannya persalinan
Hypertonic
memiliki tekanan osmotik lebih tinggi dari yang
seharusnya
Hypotonic
memiliki tekanan osmotik lebih rendah dari yang
seharusnya
Makrosomia bayi besar, bila berat badan bayi melebihi dari 4000 gram
Port d’entry
tempat masuknya bibit penyakit
Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan
Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan
5
6
Kegiatan
Belajar 2
Tujuan Pembelajaran Umum
Setelah mempelajari kegiatan belajar 2, anda diharapkan bisa mengidentifikasi berbagai
komplikasi nifas dan tata cara penatalaksanaannya.
Secara khusus anda diharapkan dapat menjelaskan beberapa hal yang berhubungan
dengan:
•	 Gangguan psikologis masa nifas,
•	 Infeksi puerperalis, dan
•	 Kelainan pada mammae.
Untuk mencapai tujuan tersebut, pokok-pokok materi yang harus anda pelajari meliputi
•	 Gangguan psikologis masa nifas,
•	 Infeksi puerperalis, dan
•	 Kelainan pada mammae.
MENGIDENTIFIKASI KOMPLIKASI NIFAS
DAN PENATALAKSANAANNYA
Tujuan Pembelajaran Khusus
Pokok - Pokok Materi
Uraian
Materi
Barangkali anda punya pendapat tentang gangguan psikologis pada masa nifas, jika ya
sekarang tuliskan pendapat anda pada kotak berikut:
Bagaimana, apakah sudah menuliskannya, jika sudah sekarang lanjutkan mempelajari
uraian berikut ini.
I. Gangguan Psikologi Masa Nifas
A. Post Partum Blues
1. Definisi
Postpartumbluesmerupakanproblempsikissesudahmelahirkansepertikemunculan
kecemasan, labilitas, dan depresi pada ibu. Secara teori biasanya terjadi mulai minggu
ke 4.
2. Gejala baby blues antara lain:
a.	Menangis
b.	 Perubahan perasaan
c.	Cemas
d.	Kesepian
e.	 Khawatir dengan bayinya
f.	 Penurunan libido
g.	 Kurang percaya diri
3. Faktor-faktor penyebab
Faktor yang menyebabkan terjadinya postpartum blues:
a.	 Ibu belum siap menghadapi persalinan
b.	 Adanya perubahan hormon
c.	 Payudara bengkak dan menyebabkan rasa sakit atau jahitan belum sembuh.
d.	 Pengalaman dalam proses persalinan dan kehamilan.
e.	 Latar belakang psikososial (tingkat pendidikan, status perkawinan, kehamilan yang
tidak diinginkan, riwayat gangguan kejiwaan sebelumnya, social ekonomi).
4. Hal-hal yang disarankan pada ibu adalah sebagai berikut:
a.	 Minta bantuan suami atau keluarga jika ibu ingin istirahat
b.	 Beritahu suami tentang apa yang dirasakan oleh ibu
c.	 Buang rasa cemas dan khawatir akan kemampuan merawat bayi
d.	 Meluangkan waktu dan cari hiburan untuk diri sendiri
Tuliskan apa yang anda ketahui
Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan
Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan
7
8
5. Penanganan
a.	 Komunikasikan segala permasalahan atau hal lain yang ingin diungkapkan.
b.	 Bicarakan rasa cemas yang dialami.
c.	 Bersikaptulusikhlasdalammenerimaaktivitasdanperanbarusetelahmelahirkan.
d.	 Bersikap fleksibel dan tidak terlalu perfeksionis dalam mengurus bayi dan rumah
tangga.
e.	 Kebutuhan istirahat yang cukup, tidurlah ketika bayi sedang tidur.
f.	 Berolahraga ringan.
g.	 Dukungan tenaga kesehatan, dukungan suami, keluarga.
B. Depresi Post Partum
1. Pengertian
Depresi post partum adalah depresi berat yang terjadi 7 hari setelah melahirkan dan
berlangsung 30 hari.
Gejala konstan dan persisten akan menurunkan dan bisa sembuh dengan sendirinya
setelah 30 hari berlangsung. Gejala yang menonjol pada depresi post partum adalah
adanya trias depresi:
a. Berkurang energi
b. Penurunan efek
c. Hilang minat (anhedonia)
Disebabkan karena gangguan hormonal, hormon yang terkait dengan terjadinya
depresi post partum adalah prolaktin, steroid dan progesteron. Depresi post partum
berbeda dengan baby blues.
2. Predispsosisi
Faktor risiko terjadinya depresi postpartum diantaranya adalah ada riwayat penyakit
mental didalam keluarga, kurangnya dukungan sosial dan dukungan keluarga serta
teman, kekhawatiran akan bayi yang sebetulnya sehat, kesulitan selama persalinan
dan melahirkan, ketidakharmonisan perkawinan, masalah sosial ekonomi serta
kehamailan yang tidak diinginkan.
3. Gejala/Tanda-tanda
a.	 Perasaan sedih yang menyeluruh
b.	 Ketidak mampuan berhenti menangis
c.	 Peningkatan kecemasan (mengenai kesehatan diri sendiri dan bayinya)
d.	 Rasa tidak aman
e.	 Kelelahan yang berlebihan
f.	 Tidak menyukai atau takut menyentuh bayinya
g.	 Sedikit perhatian terhadap penampilan diri
4. Faktor-faktor Penyebab
Faktor penyebab depresi postpartum disebabkan oleh 4 faktor yaitu sebagai berikut:
a. Faktor konstitusional
Gangguan postpartum berkaitan dengan status paritas adalah riwayat obstetrik
pasien yang meliputi riwayat hamil sampai bersalin, serta adakah komplikasi yang
terjadi pada saat kehamilan dan persalinan.
b. Faktor fisik
Perubahan fisik setelah proses kelahiran dan memuncaknya gangguan mental
selama 2 minggu pertama menunjukan bahwa faktor fisik merupakan faktor penting.
Perubahan hormon setelah melahirkan yaitu peningkatan hormon progesterone dan
penurunan hormone estrogen merupakan penyebab yang sudah pasti.
c. Faktor psikologis
Peralihan yang cepat dari keadaan “dua dalam satu” pada akhir kehamilan menjadi
dua individu yaitu ibu dan anak memerlukan penyesuaian psikologis. Untuk
menanggulangi hal tersebut dibutuhkan rasa cinta dan kasih antara ibu dan anak.
d. Faktor social
Paykel dalam penelitiannya mengemukakan bahwa pemukiman yang tidak memadai
lebih sering menimbulkan depresi pada ibu, demikian juga dengan kurangnya
dukungan dalam perkawinan.
5. Cara-cara menghidari atau mengatasi depresi
a.	 Batasi pengunjung jika kehadiran mereka ternyata malah mengganggu waktu
istirahat anda
b.	 Perbanyak mendengar musik favorit anda agar anda dapat merasa lebih rileks
disarankan musik-musik yang menenangkan
c.	 Lakukan olahraga atau latihan ringan, cara ini selain ampuh dalam mengurangi
depresi, tapi juga dapat membantu mengembalikan bentuk tubuh
d.	 Sesekali berpergianlah agar anda tak merasa bosan, karena berada di rumah
e.	 Dukungan yang suportif dari suami dan anggota keluarga lainnya sangat
berpengaruh bagi keadaan psikis ibu.
f.	 Pasien postpartum depression dapat memperoleh bantuan dari psikiater atau
ahli kejiwaan dan psikologi. Pada terapi penyembuhan yang awal, pasien tidak
akan diberikan obat-obatan untuk diminum, tetapi lebih kepada dukungan
secara psikologis yang juga melihat orang-orang terdekat pasien. Jangan takut
memberi informasi kepada pihak-pihak yang dapat membantu.
6. Efek bila depresi tidak dirawat
Depresi pasca melahirkan mempengaruhi kemampuan seseorang untuk merawat
bayinya, dan akan mempengaruhi kemampuan bayi dalam kedekatan emosionalnya
dengan orang lain, dalam masalah bersikap, tingkat aktifitas yang lemah, masalah
tidur dan distress
C. Post Partum Psikosa
Insiden psikosis postpartum sekitar 1-2 per 1000 kelahiran. Rekurensi dalam masa
kehamilan 20-30 persen. Gejala psikosis post partum muncul beberapa hari sampai
4-6 minggu post partum.
1.	 Faktor penyebab psikosis post partum antara lain:
a.	Riwayat keluarga penderita psikiatri
b.	Riwayat ibu menderita psikiatri
c.	Masalah keluarga dan perkawinan
2.	 Gejala psikosis post partum sebagai berikut:
a.	Gaya bicara keras
b.	Menarik diri dari pergaulan
c.	Cepat marah
d.	Gangguan tidur
3.	 Penatalaksanaan psikosis post partum adalah:
a.	Pemberian anti depresan
b.	Berhenti menyusui
Pada penderita psikosis, diberikan terapi litium, litium ini disekresikan ke dalam
air susu ibu dalam jumlah yang tinggi dan dapat menyebabkan toksisitas pada
neonatus.
c.	Perawatan di rumah sakit
Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan
Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan
9
10
II. Infeksi Puerperalis
A. Pengertian
Infeksi nifas adalah semua peradangan yang disebabkan oleh kuman yang masuk ke
dalam organ genital pada saat persalinan dan masa nifas.
Infeksi nifas adalah infeksi bakteri pada traktus genitalia yang terjadi setelah
melahirkan, ditandai dengan kenaikan suhu sampai 38 derajat Celsius atau lebih
selama 2 hari dalam 10 hari pertama pasca persalinan, dengan mengecualikan 24
jam pertama.
1. Insidensi Infeksi Nifas
Infeksi nifas terjadi 1-3 %. Infeksi jalan lahir 25-55 % dari semua kasus infeksi.
2. Penyebab Infeksi Nifas
Infeksi nifas dapat disebabkan oleh masuknya kuman ke dalam organ kandungan
maupun kuman dari luar yang sering menyebabkan infeksi. Berdasarkan masuknya
kuman ke dalam organ kandungan terbagi menjadi:
a. Ektogen (kuman datang dari luar)
b. Autogen (kuman dari tempat lain)
c. Endogen (kuman dari jalan lahir sendiri)
Selain itu, infeksi nifas dapat disebabkan oleh:
d.	 Streptococcus Haemolyticus Aerobic
Streptococcus Haemolyticus Aerobic merupakan penyebab infeksi yang paling
berat. Infeksi ini bersifat eksogen (misal dari penderita lain, alat yang tidak steril,
tangan penolong, infeksi tenggorokan orang lain).
e.	 Staphylococcus Aerus
Cara masuk Staphylococcus Aerus secara eksogen, merupakan penyebab infeksi
sedang. Sering ditemukan di rumah sakit dan dalam tenggorokan orang-orang
yang nampak sehat.
f.	 Escheria Coli
Escheria Coli berasal dari kandung kemih atau rektum. Escheria Coli dapat
menyebabkan infeksi terbatas pada perineum, vulva dan endometrium. Kuman
ini merupakan penyebab dari infeksi traktus urinarius.
g.	 Clostridium Welchii
Clostridium Welchii bersifat anaerob dan jarang ditemukan akan tetapi sangat
berbahaya. Infeksi ini lebih sering terjadi pada abortus kriminalis dan persalinan
ditolong dukun.
Patofisiologi Infeksi Nifas
Tempat yang baik sebagai tempat tumbuhnya kuman adalah di daerah bekas insersio
(pelekatan) plasenta. Insersio plasenta merupakan sebuah luka dengan diameter 4
cm, permukaan tidak rata, berbenjol-benjol karena banyaknya vena yang ditutupi oleh
trombus. Selain itu, kuman dapat masuk melalui servik, vulva, vagina dan perineum.
Cara Terjadi Infeksi
Infeksi nifas dapat terjadi karena:
1.	 Manipulasi penolong yang tidak steril atau pemeriksaan dalam berulang-ulang.
2.	 Alat-alat tidak steril/suci hama.
3.	 Infeksi droplet, sarung tangan dan alat-alat yang terkontaminasi.
4.	 Infeksi nosokomial rumah sakit.
5.	 Infeksi intrapartum.
6.	 Hubungan seksual akhir kehamilan yang menyebabkan ketuban pecah dini.
Faktor Predisposisi Infeksi Nifas
Faktor predisposisi infeksi nifas antara lain:
1.	 Semua keadaan yang dapat menurunkan daya tahan tubuh, seperti perdarahan
banyak, pre eklampsia, malnutrisi, anemia, infeksi lain (pneumonia, penyakit
jantung, dsb).
2.	Persalinan dengan masalah seperti partus/persalinan lama dengan ketuban
pecah dini, korioamnionitis, persalinan traumatik, proses pencegahan infeksi
yang kurang baik dan manipulasi yang berlebihan.
3.	 Tindakan obstetrik operatif baik pervaginam maupun perabdominal.
4.	Tertinggalnya sisa plasenta, selaput ketuban dan bekuan darah dalam rongga
rahim.
5.	 Episiotomi atau laserasi jalan lahir.
Tanda dan Gejala Infeksi Nifas
Tanda dan gejala yang timbul pada infeksi nifas antara lain demam, sakit di daerah
infeksi, warna kemerahan, fungsi organ terganggu. Gambaran klinis infeksi nifas
adalah sebagai berikut:
1. Infeksi lokal
Warna kulit berubah, timbul nanah, bengkak pada luka, lokia bercampur nanah,
mobilitas terbatas, suhu badan meningkat.
2. Infeksi umu
Sakit dan lemah, suhu badan meningkat, tekanan darah menurun, nadi meningkat,
pernafasan meningkat dan sesak, kesadaran gelisah sampai menurun bahkan koma,
gangguan involusi uteri, lokia berbau, bernanah dan kotor.
Klasifikasi Infeksi Nifas
Penyebaran infeksi nifas terbagi menjadi 2 golongan yaitu:
1. Infeksi terbatas pada perineum, vulva, vagina, serviks dan endometrium.
2. Infeksi yang penyebarannya melalui vena-vena (pembuluh darah).
3. Infeksi yang penyebarannya melalui limfe.
4. Infeksi yang penyebarannya melalui permukaan endometrium.
Pencegahan Infeksi Nifas
Infeksi nifas dapat timbul selama kehamilan, persalinan dan masa nifas, sehingga
pencegahannya berbeda.
Selama kehamilan
Pencegahan infeksi selama kehamilan, antara lain:
a.	 Perbaikan gizi.
b.	 Hubungan seksual pada umur kehamilan tua sebaiknya tidak dilakukan.
Selama persalinan
Pencegahan infeksi selama persalinan adalah sebagai berikut:
a.	 Membatasi masuknya kuman-kuman ke dalam jalan lahir.
b.	 Membatasi perlukaan jalan lahir.
c.	 Mencegah perdarahan banyak.
d.	 Menghindari persalinan lama.
e.	 Menjaga sterilitas ruang bersalin dan alat yang digunakan.
Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan
Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan
11
12
Selama nifas
Pencegahan infeksi selama nifas antara lain:
a.	 Perawatan luka post partum dengan teknik aseptik.
b.	 Semua alat dan kain yang berhubungan dengan daerah genital harus suci hama.
c.	 Penderita dengan infeksi nifas sebaiknya diisolasi dalam ruangan khusus, tidak
bercampur dengan ibu nifas yang sehat.
d.	 Membatasi tamu yang berkunjung.
e.	 Mobilisasi dini.
Pengobatan Infeksi Nifas
Pengobatan infeksi pada masa nifas antara lain:
1.	 Sebaiknya segera dilakukan kultur dari sekret vagina dan servik, luka operasi dan
darah, serta uji kepekaan untuk mendapatkan antibiotika yang tepat.
2.	 Memberikan dosis yang cukup dan adekuat.
3.	 Memberi antibiotika spektrum luas sambil menunggu hasil laboratorium.
4.	Pengobatan mempertinggi daya tahan tubuh seperti infus, transfusi darah,
makanan yang mengandung zat-zat yang diperlukan tubuh, serta perawatan
lainnya sesuai komplikasi yang dijumpai.
Infeksi pada perineum, vulva, vagina, serviks dan endometrium
Penyebaran infeksi nifas pada perineum, vulva, vagina, serviks dan endometrium
meliputi:
1.	Vulvitis
Vulvitis adalah infeksi pada vulva. Vulvitis pada ibu pasca melahirkan terjadi di bekas
sayatan episiotomi atau luka perineum. Tepi luka berwarna merah dan bengkak,
jahitan mudah lepas, luka yang terbuka menjadi ulkus dan mengeluarkan nanah.
2.	Vaginitis
Vaginitis merupakan infeksi pada daerah vagina. Vaginitis pada ibu pasca melahirkan
terjadi secara langsung pada luka vagina atau luka perineum. Permukaan mukosa
bengkak dan kemerahan, terjadi ulkus dan getah mengandung nanah dari daerah
ulkus.
3.	Servisitis
Infeksi yang sering terjadi pada daerah servik, tapi tidak menimbulkan banyak gejala.
Luka serviks yang dalam dan meluas dan langsung ke dasar ligamentum latum dapat
menyebabkan infeksi yang menjalar ke parametrium.
4.	Endometritis
Endometritis paling sering terjadi. Biasanya demam mulai 48 jam postpartum dan
bersifat naik turun. Kuman-kuman memasuki endometrium (biasanya pada luka
insersio plasenta) dalam waktu singkat dan menyebar ke seluruh endometrium. Pada
infeksi setempat, radang terbatas pada endometrium. Jaringan desidua bersama
bekuan darah menjadi nekrosis dan mengeluarkan getah berbau yang terdiri atas
keping-keping nekrotis dan cairan. Pada infeksi yang lebih berat batas endometrium
dapat dilampaui dan terjadilah penjalaran.
Infeksi nifas yang penyebarannya melalui pembuluh darah
Infeksi nifas yang penyebarannya melalui pembuluh darah adalah Septikemia, Piemia
dan Tromboflebitis pelvica. Infeksi ini merupakan infeksi umum yang disebabkan oleh
kuman patogen Streptococcus Hemolitikus Golongan A. Infeksi ini sangat berbahaya
dan merupakan 50% dari semua kematian karena infeksi nifas.
1.	Septikemia
Septikemia adalah keadaan dimana kuman-kuman atau toksinnya langsung masuk
ke dalam peredaran darah dan menyebabkan infeksi.
Gejala klinik septikemia lebih akut antara lain: kelihatan sudah sakit dan lemah sejak
awal; keadaan umum jelek, menggigil, nadi cepat 140 – 160 x per menit atau lebih;
suhu meningkat antara 39-40 derajat Celcius; tekanan darah turun, keadaan umum
memburuk; sesak nafas, kesadaran turun, gelisah.
2.	Piemia
Piemia dimulai dengan tromflebitis vena-vena pada daerah perlukaan lalu lepas
menjadi embolus-embolus kecil yang dibawa ke peredaran darah, kemudian terjadi
infeksi dan abses pada organ-organ yang diserangnya.
Gejala klinik piemia antara lain: rasa sakit pada daerah tromboflebitis, setelah ada
penyebaran trombus terjadi gejala umum diatas; hasil laboratorium menunjukkan
leukositosis; lokia berbau, bernanah, involusi jelek.
3.	 Tromboflebitis
Radang pada vena terdiri dari tromboflebitis pelvis dan tromboflebitis femoralis.
Tromboflebitis pelvis yang sering meradang adalah pada vena ovarika, terjadi karena
mengalirkan darah dan luka bekas plasenta di daerah fundus uteri. Sedangkan
tromboflebitis femoralis dapat menjadi tromboflebitis vena safena magna atau
peradangan vena femoralis sendiri, penjalaran tromboflebitis vena uterin, dan akibat
parametritis. Tromboflebitis vena femoralis disebabkan aliran darah lambat pada
lipat paha karena tertekan ligamentum inguinale dan kadar fibrinogen meningkat
pada masa nifas.
Infeksi nifas yang penyebaran melalui jalan limfe
Infeksi nifas yang penyebarannya melalui jalan limfe antara lain peritonitis dan
parametritis (Sellulitis Pelvika).
1.	Peritonitis
Peritonitis menyerang pada daerah pelvis (pelvio peritonitis). Gejala klinik antara
lain: demam, nyeri perut bawah, keadaan umum baik. Sedangkan peritonitis umum
gejalanya: suhu meningkat, nadi cepat dan kecil, perut kembung dan nyeri, terdapat
abses pada cavum douglas, defense musculair, fasies hypocratica. Peritonitis umum
dapat menyebabkan kematian 33% dari seluruh kamatian karena infeksi.
2.	 Parametritis (sellulitis pelvika)
Gejala klinik parametritis adalah: nyeri saat dilakukan periksa dalam, demam
tinggi menetap, nadi cepat, perut nyeri, sebelah/kedua belah bagian bawah terjadi
pembentukkan infiltrat yang dapat teraba selama periksa dalam. Infiltrat terkadang
menjadi abses.
Infeksi nifas yang penyebaran melalui permukaan endometrium
Infeksi nifas yang penyebaran melalui permukaan endometrium adalah salfingitis
dan ooforitis. Gejala salfingitis dan ooforitis hampir sama dengan pelvio peritonitis.
Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan
Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan
13
14
III. Kelainan Pada Mammae
A. Mastitis
Definisi
Mastitis adalah peradangan pada payudara yang dapat disertai infeksi atau tidak,
yang disebabkan oleh kuman terutama Staphylococcus aureus melalui luka pada
puting susu atau melalui peredaran darah. Penyakit ini biasanya menyertai laktasi,
sehingga disebut juga mastitis laktasional atau mastitis puerperalis. Infeksi terjadi
melalui luka pada puting susu, tetapi mungkin juga melalui peredaran darah. Kadang-
kadang keadaan ini bisa menjadi fatal bila tidak diberi tindakan yang adekuat.
Absespayudara,penggumpalannanahlokaldidalampayudara,merupakankomplikasi
berat dari mastitis. Macam-macam mastitis dibedakan berdasarkan tempatnya serta
berdasarkan penyebab dan kondisinya.
Mastitis berdasarkan tempat
Mastitis berdasarkan tempatnya dibedakan menjadi 3, yaitu:
a.	 Mastitis yang menyebabkan abses di bawah areola mammae
b.	 Mastitis di tengah-tengah mammae yang menyebabkan abses di tempat itu
c.	 Mastitis pada jaringan di bawah dorsal dari kelenjar-kelenjar yang menyebabkan
abses antara mammae dan otot-otot di bawahnya.
Sedangkan pembagian mastitis menurut kondisinya dibagi pula menjadi 3, yaitu :
a. Mastitis periductal
Mastitis periductal biasanya muncul pada wanita di usia menjelang menopause,
penyebab utamanya tidak jelas diketahui. Keadaan ini dikenal juga dengan sebutan
mammary duct ectasia, yang berarti peleburan saluran karena adanya penyumbatan
pada saluran di payudara.
b. Mastitis puerperalis/lactational
Mastitis puerperalis banyak dialami oleh wanita hamil atau menyusui.
Penyebab utama mastitis puerperalis yaitu kuman yang menginfeksi payudara ibu,
yang ditransmisi ke puting ibu melalui kontak langsung.
c. Mastitis supurativa
Mastitis supurativa paling banyak dijumpai. Penyebabnya bisa dari kuman
Staphylococcus, jamur, kuman TBC dan juga sifilis. Infeksi kuman TBC memerlukan
penanganan yang ekstra intensif. Bila penanganannya tidak tuntas, bisa menyebabkan
pengangkatan payudara/mastektomi.
Berdasarkan etiologinya:
a. Mastitis karena stasis ASI/ non infeksiosa
b. Mastitis infeksiosaà yang paling sering adalah Staphylococcus aureus dan
Streptococcus.
Penyebab
Pada umumnya yang dianggap porte d’entrée dari kuman penyebab ialah putting susu
yang luka atau lecet, dan kuman perkontinuitatum menjalar ke duktulus-duktulus
dan sinus. Sebagian besar yang ditemukan pada pembiakan pus ialah stafilokokus
aureus.
Mastitis terjadi akibat invasi jaringan payudara (misalnya : glandular, jaringan ikat,
areolar, lemak) oleh organisme infeksius atau adanya cidera payudara. Organisme
yang umum termasuk S. aureus, streptococci, dan H. parainfluenzae. Cidera payudara
mungkin disebabkan memar karena manipulasi yang kasar, pembesaran payudara,
statis air susu ibu dalam duktus, atau pecahnya atau fisura putting susu.Bakteri dapat
berasal dari beberapa sumber:
a.	 Tangan ibu
b.	 Tangan orang yang merawat ibu atau bayi
c.	Bayi
d.	 Duktus laktiferus
e.	 Darah sirkulasi
Stress dan keletihan dikaitkan dengan mastitis. Hal ini masuk akal karena stress dan
keletihan dapat menyebabkan kecerobohan dalam teknik penanganan, terutama
saat mencuci tangan, atau melewatkan waktu menyusui, atau mengubah frekuensi
menyusui yang dapat menyebabkan pembesaran dan stasis. Infeksi jamur pada
payudara juga dapat terjadi jika bayi mengalami sariawan, atau jika ibu mengalami
infeksi jamur vagina persisten. Jika puting susu cidera, atau jika ibu menggunakan
antibiotic yang mempengaruhi flora normal kulit, jamur payudara cenderung terjadi.
Infeksi ini dapat diidentifikasi dengan awitan akut nyeri tajam, menusuk pada putting
susu jika bayi menyusu.
Penyebab utama mastitis adalah statis ASI dan infeksi. Statis ASI biasanya merupakan
penyebab primer yang dapat disertai atau menyebabkan infeksi.
a.	 Statis ASI
Statis ASI terjadi jika ASI tidak dikeluarkan dengan efisien dari payudara. Hal ini terjadi
jika payudara terbendung segera setelah melahirkan, atau setiap saat jika bayi tidak
mengisap ASI, kenyutan bayi yang buruk pada payudara, pengisapan yang tidak
efektif, pembatasan frekuensi/durasi menyusui, sumbatan pada saluran ASI, suplai
ASI yang sangat berlebihan dan menyusui untuk kembar dua/lebih.
b.	Infeksi
Organisme yang paling sering ditemukan pada mastitis dan abses payudara adalah
organisme koagulase-positif Staphylococcus aureus dan Staphylococcus albus.
Escherichia coli dan Streptococcus kadang-kadang juga ditemukan. Mastitis jarang
ditemukan sebagai komplikasi demam tifoid.
Faktor Predisposisi
Beberapa faktor yang diduga dapat meningkatkan risiko mastitis, yaitu :
a.	 Umur, wanita berumur 21-35 tahun lebih sering menderita mastitis dari pada
wanita di bawah usia 21 tahun atau di atas 35 tahun.
b.	 Paritas, mastitis lebih banyak diderita oleh primipara.
c.	 Serangan sebelumnya, serangan mastitis pertama cenderung berulang, hal ini
merupakan akibat teknik menyusui yang buruk yang tidak diperbaiki.
d.	 Melahirkan, komplikasi melahirkan dapat meningkatkan risiko mastitis, walaupun
penggunaan oksitosin tidak meningkatkan resiko.
e.	 Gizi, asupan garam dan lemak tinggi serta anemia menjadi faktor predisposisi
terjadinya mastitis. Antioksidan dari vitamin E, vitamin A dan selenium dapat
mengurangi resiko mastitis.
f.	 Faktor kekebalan dalam ASI, dapat memberikan mekanisme pertahanan dalam
payudara.
g.	 Stres dan kelelahan, wanita yang merasa nyeri dan demam sering merasa lelah dan
ingin istirahat, tetapi tidak jelas apakah kelelahan dapat menyebabkan keadaan
ini atau tidak.
h.	Pekerjaan di luar rumah, ini diakibatkan oleh statis ASI karena interval antar
menyusui yang panjang dan kekurangan waktu dalam pengeluaran ASI yang
Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan
Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan
15
16
adekuat.
i.	 Trauma, karena penyebab apapun dapat merusak jaringan kelenjar dan saluran
susu dan hal ini dapat menyebabkan mastitis.
Patofisiologi
StasisASIpeningkatantekananduktusjikaASItidaksegeradikeluarkanpeningkatan
tegangan alveoli yang berlebihansel epitel yang memproduksi ASI menjadi datar
dan tertekanpermeabilitas jaringan ikat meningkat beberapa komponen(terutama
protein dan kekebalan tubuh dan natrium) dari plasma masuk ke dalam ASI dan
jaringan sekitar selmemicu respon imunrespon inflmasi dan kerusakan jaringan
yang mempermudah terjadinya infeksi (Staphylococcus aureus dan Sterptococcus)
dari port d’entry yaitu: duktus laktiferus ke lobus sekresi dan puting yang retak ke
kelenjar limfe sekitar duktus/periduktal dan secara hematogen.
Terjadinya mastitis diawali dengan peningkatan tekanan di dalam duktus (saluran
ASI) akibat stasis ASI. Bila ASI tidak segera dikeluarkan maka terjadi tegangan alveoli
yang berlebihan dan mengakibatkan sel epitel yang memproduksi ASI menjadi datar
dan tertekan, sehingga permeabilitas jaringan ikat meningkat. Beberapa komponen
(terutama protein kekebalan tubuh dan natrium) dari plasma masuk ke dalam ASI
dan selanjutnya ke jaringan sekitar sel sehingga memicu respons imun. Stasis ASI,
adanya respons inflamasi, dan kerusakan jaringan memudahkan terjadinya infeksi.
Terdapat beberapa cara masuknya kuman yaitu melalui duktus laktiferus ke lobus
sekresi, melalui puting yang retak ke kelenjar limfe sekitar duktus (periduktal) atau
melalui penyebaran hematogen pembuluh darah). Organisme yang paling sering
adalah Staphylococcus aureus, Escherecia coli dan Streptococcus. Kadangkadang
ditemukan pula mastitis tuberkulosis yang menyebabkan bayi dapat menderita
tuberkulosa tonsil. Pada daerah endemis tuberkulosa kejadian mastitis tuberkulosis
mencapai 1%.
Gejala Mastitis
a.	 Nyeri payudara dan tegang atau bengkak
b.	 Kemerahan dengan batas jelas
c.	 Biasanya hanya satu payudara
d.	 Terjadi antara 3-4 minggu pasca persalinan
Gejala mastitis infeksiosa
a.	 Lemah, mialgia, nyeri kepala seperti gejala flu dan ada juga yang di sertai takikardia
b.	 Demam suhu > 38,5 derajat celcius
c.	 Ada luka pada puting payudara
d.	 Kulit payudara kemerahan atau mengkilat
e.	 Terasa keras dan tegang
f.	 Payudara membengkak, mengeras, lebih hangat, kemerahan yang berbatas tegas
g.	 Peningkatan kadar natrium sehingga bayi tidak mau menyusu karena ASI yang
terasa asin
Gejala mastitis non infeksiosa
a.	 Adanya bercak panas/nyeri tekan yang akut
b.	 Bercak kecil keras yang nyeri tekan
c.	 Tidak ada demam dan ibu masih merasa baik-baik saja.
Gejala abses ini adalah nyeri bertambah hebat di payudara, kulit diatas abses
mengkilat dan suhu meningkat tinggi (390-400C). dan bayi dengan sendirinya tidak
mau minum pada payudara yang sakit, seolah-olah dia tahu bahwa susu disebelah
itu bercampur dengan nanah. Selain pembesaran berat, precursor tanda dan gejala
mastitis biasanya tidak ada sebelum akhir minggu pertama pasca partum. Setelah
masa itu, wanita mungkin mengalami gejala-gejala berikut :
a.	 Nyeri ringan pada salah satu lobus payudara, yang diperberat jika bayi menyusu.
b.	 Gejala seperti flu : nyeri otot, sakit kepala, keputihan.
Mastitis hampir selalu terbatas pada satu payudara. Tanda dan gejala actual mastitis
meliputi :
a.	 Peningkatan suhu yang cepat dari 39,5 – 40oC
b.	 Peningkatan kecepatan nadi.
c.	Menggigil
d.	 Malaise umum, sakit kepala.
e.	 Nyeri hebat, bengkak, inflamasi, area payudara keras.
Mastitis yang tidak ditangani memiliki hampir 10 % resiko terbentuknya abses. Tanda
dan gejala abses meliputi :
a.	 Discharge putting susu purulenta
b.	 Demam remiten (suhu naik turun) disertai menggigil.
c.	 Pembengkakan payudara dan sangat nyeri; massa besar dank eras dengan area
kuliut berwarna berfluktuasi kemerahan dan kebiruan mengindikasikan lokaso
abses berisi pus.
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan lain untuk menunjang diagnosis tidak
selalu diperlukan. World Health Organization (WHO) menganjurkan pemeriksaan
kultur dan uji sensitivitas pada beberapa keadaan yaitu bila:
a.	 pengobatan dengan antibiotik tidak memperlihatkan respons yang baik dalam 2
hari
b.	 terjadi mastitis berulang
c.	 mastitis terjadi di rumah sakit
d.	 penderita alergi terhadap antibiotik atau pada kasus yang berat.
Bahan kultur diambil dari ASI pancar tengah hasil dari perahan tangan yang langsung
ditampung menggunakan penampung urin steril. Puting harus dibersihkan terlebih
dulu dan bibir penampung diusahakan tidak menyentuh puting untuk mengurangi
kontaminasi dari kuman yang terdapat di kulit yang dapat memberikan hasil positif
palsu dari kultur. Beberapa penelitian memperlihatkan beratnya gejala yang muncul
berhubungan erat dengan tingginya jumlah bakteri atau patogenitas bakteri.
Penatalaksanaan
Perawatan puting susu pada waktu laktasi merupakan usaha penting untuk mencegah
mastitis.Airsusuibudikeluarkandenganpijatan.Bantulahagar ibutetapmenetekidan
kompres dingin selama 15-20 menit, 4 kali/hari sebelum meneteki untuk mengurangi
bengkak dan nyeri. Bila gejala mastitis lebih dari 24 jam dan gejala tersebut tidak
membaik, harus segera mulai mengkonsumsi antibiotik. Beberapa antibiotik yang
membunuh Staphylococcus aureus meliputi: cephalexin, cloxacillin, dicloxacillin,
flucloxacillin, amoxicillin dikombinasikan dengan asam clavulinic, clindamycin dan
ciprofloxacin. Semua antibiotik tersebut dapat digunakan saat ibu menyusui dan
tidak perlu menghentikan proses menyusui.
Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan
Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan
17
18
B. Kelainan pada Puting Susu
Kebanyakan ibu tidak memiliki kelainan anatomis payudara. Meskipun demikian,
kadang-kadang dijumpai juga kelainan antomis yang menghambat kemudahan bayi
untuk menyusui, misalnya puting susu datar atau puting susu terpendam (tertarik
ke dalam). Disamping kelainan anatomis, kadang dijumpai pula kelainan puting yang
disebabkan oleh suatu proses, misalnya tumor.
1.	 Puting Susu Datar
Apabila areola dijepit antara jari telunjuk dan ibu jari di belakang puting, puting yang
normal akan menonjol keluar, bila tidak, berarti puting datar. Ketika menyusui puting
menjadi lebih tegang dan menonjol karena otot polos puting berkontraksi, meskipun
demikian pada keadaan puting datar akan tetap sulit ditangkap/diisap oleh mulut
bayi.
2.	 Puting Susu terpendam (tertarik ke dalam)
Sebagian atau seluruh puting susu tampak terpendam atau masuk ke dalam areola
(tertarik ke dalam). Hal ini karena ada sesuatu di bawahnya yang menarik puting ke
dalam, misalnya tumor atau penyempitan saluran susu. Kelainan puting tersebut
seharusnya sudah dapat diketahui sejak hamil atau sebelumnya sehingga dapat
diperbaiki dengan meletakkan kedua jari telunjuk atau ibu jari di daerah payudara,
kemudian dilakukan pengurutan menuju ke arah berlawanan. Perlu diketahui bahwa
tidak semua kelainan tersebut di atas dapat dikoreksi dengan cara tersebut. Untuk
itu, ibu menyusui dianjurkan untuk mengeluarkan ASI-nya dengan manual (tangan)
atau pompa kemudian diberikan pada bayi dengan sendok/pipet/gelas.
3.	 Puting Susu Nyeri Dan Puting Susu Lecet (Cracked Nipple)
Puting susu nyeri pada ibu menyusui biasanya terjadi karena beberapa sebab sebagai
berikut:
•	 Posisi bayi saat menyusu yang salah, yaitu puting susu tidak masuk kedalam mulut
bayi sampai pada areola sehingga bayi hanya mengisap pada puting susu saja.
Hisapan/tekanan terus menerus hanya pada tempat tertentu akan menimbulkan
rasa nyeri waktu diisap, meskipun kulitnya masih utuh.
•	 Pemakaian sabun, lotion, cream, alkohol dan lain-lain yang dapat mengiritasi
puting susu
•	 Bayi dengan tali lidah (frenulum linguae) yang pendek sehingga menyebabkan
bayi sulit mengisap sampai areola dan isapan hanya pada putingnya saja.
•	 Kurang hati-hati ketika menghentikan menyusu (mengisap).
Puting susu nyeri biasanya dapat disembuhkan setelah memperhatikan tehnik
menyusui yang benar, khususnya letak puting dalam mulut bayi, yaitu bibir bayi
menutup areola sehingga tidak nampak dari luar, puting di atas lidah bayi, areola
di antara gusi atas dan bawah. Untuk menghindari puting susu nyeri atau lecet,
perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut: tidak membersihkan puting susu
dengan sabun, alkohol, lotion, cream, dan obat-obat yang dapat mengiritasi.
•	 Sebaiknya selesai menyusukan untuk melepaskan hisapan bayi, tekanlah dagu
bayi atau pijit hidungnya atau masukkan jari kelingking ibu yang bersih ke mulut
bayi.
•	 Ibu dianjurkan tetap menyusui bayinya mulai dari puting yang tidak sakit serta
menghindari tekanan lokal pada puting dengan cara merubah-rubah posisi
menyusui. Untuk puting yang sakit dianjurkan mengurangi frekuensi dan lamanya
menyusui.
Apabila dengan tindakan tersebut di atas puting tetap nyeri, sebaiknya dicari
sebab-sebab lain (misalnya moniliasis). Puting susu lecet/luka akan memudahkan
terjadinya infeksi pada payudara (mastitis).
4.	 Saluran Susu Tersumbat (Obstructive Duct)
Saluran susu tersumbat (obstructive duct) adalah suatu keadaan dimana terjadi
sumbatan pada satu atau lebih saluran susu yang disebabkan oleh tekanan jari
waktu menyusui atau pemakaian BH yang terlalu ketat. Hal ini juga dapat terjadi
karena komplikasi payudara bengkak yang berlanjut yang mengakibatkan kumpulan
ASI dalam saluran susu tidak segera dikeluarkan sehingga merupakan sumbatan.
Sumbatan ini pada wanita yang kurus dapat terlihat dengan jelas sebagai benjolan
yang lunak pada perabaannya.
Untuk mengatasi terjadinya saluran susu tersumbat (obstructive duct) ada beberapa
hal yang dianjurkan, antara lain:
•	 Sebaiknya ibu melakukan perawatan payudara setelah melahirkan dengan teratur
agar tidak terjadi stasis dalam payudara yang mengakibatkan terjadinya radang
payudara (mastitis)
•	 Gunakan BH dengan desain menopang (menyangga), bukan menekan payudara.
•	 Keluarkan ASI setiap kali selesai menyusui bila payudara masih terasa penuh.
Sumbatan saluran susu ini harus segera diatasi karena dapat berlanjut menjadi radang
payudara (mastitis). Untuk mengurangi rasa nyeri dan bengkak pada payudara dapat
diberikan kompres hangat dan dingin, yaitu kompres hangat sebelum menyusui
dengan tujuan mempermudah bayi mengisap puting susu dan kompres dingin
setelah menyusui untuk mengurangi rasa nyeri dan bengkak pada payudara.
Gambar Ibu Menyusui
Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan
Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan
19
20
C. Galaktokel
Duktus alveolaris yang tersumbat (galaktokel) menunjukkan adanya suatu
pembengkakan yang keras, bulat atau linier yang persisten, biasanya terdapat pada
kuadran lateral dan inferior payudara.
Penanganannya adalah:
1)	Gunakanlah tekanan yang hangat, lembab pada payudara selama 20 menit
sebelum menyusui.
2)	 Sewaktu melakukan tekanan, pijatlah payudara dari proksimal ke distal (kearah
puting), dengan memusatkan pada daerah yang terkena.
3)	 Seringlah menyusui (setiap 1,5 – 2 jam) selama paling sedikit 10 menit pada setiap
payudara. Menyusu pada sisi yang terkena terlebih dahulu sampai sumbatannya
hilang. Posisikan bayi dengan dagu menghadap ke daerah yang terkena (
kauadran ini akan kosong dengan baik). Diperlukan beberapa kali menyusui untuk
mengosongkan duktus yang tersumbat
D.	 Kelainan Sekresi ASI
Terdapat banyak perbedaan dalam jumlah air susu ibu yang dikeluarkan dalam masa
laktasi, dan lamanya masa laktasi. Hal ini tergantung dari pertumbuhan kelenjar-
kelenjar susu. Jarang sekali air susu tidak atau hampir tidak keluar sama sekali
(agaklatia). Kadang-kadang pengeluaran air susu berlimpah-limpah (poligalaktia).
Apabila air susu keluar terus menerus dalam jumlah yang cukup banyak, walaupun
bayi sudah disapih, hal itu dinamakan galaktorea. Pada sindrom Chairi-Fromme
ditemukan galaktorea, bersama-sama dengan amenorea dan atrofi uterus. Keadaan
ini mungkin disebabkan oleh gangguan system hipotalamo-hipofisis.
E. Penghentian Laktasi
Kadang-kadang timbul keperluan penghentian laktasi, misalnya pada ibu yang bayinya
meninggal, atau apabila ibu mempunyai salah satu sebab dilarang untuk memberikan
air susu ibu seperti ibu yang mengalami HIV positif dan hepatitis aktif.
Penghentian laktasi dengan mengikat dada tanpa obat hormon menyebabkan
rasa nyeri. pemberian estrogen umumnya dapat mengurangi keluhan itu. Suntikan
intramuskuler estradiol valereat 10 mg atau pemberian peroral dietil stilbestrol 90 mg
dibagi dalam satu minggu umumnya mencukupi. Pernah dikemukakan pula bahwa
pemberian estrogen untuk menghentikan laktasi memberi predisposisi terjadinya
tromboembolisme.
Rangkuman
Terdapat 3 jenis gangguan psikologi pada masa nifas yaitu postpartum blues,
depresi postpartum dan postpartum psikosa. Post partum blues merupakan
problem psikis sesudah melahirkan seperti kemunculan kecemasan, labilitas
perasaan dan depresi pada ibu. Gejala baby blues antara lain: menangis,
perubahan perasaan, cemas, kesepian, khawatir dengan bayinya, penurunan
libido, kurang percaya diri. Depresi post partum adalah depresi berat yang
terjadi 7 hari setelah melahirkan dan berlangsung 30 hari. Gejala konstan dan
persisten akan menurunkan dan bisa sembuh dengan sendirinya setelah 30 hari
berlangsung.
Gejala yang menonjol pada depresi post partum adalah adanya trias depresi:
berkurang energi, penurunan efek, hilang minat (anhedonia). Insiden psikosis
postpartum sekitar 1-2 per 1000 kelahiran. Rekurensi dalam masa kehamilan 20-
30 persen. Gejala psikosis post partum muncul beberapa hari sampai 4-6 minggu
post partum. Faktor penyebab psikosis post partum antara lain: riwayat keluarga
penderita psikiatri, riwayat ibu menderita psikiatri dan masalah keluarga dan
perkawinan.
Infeksi nifas adalah semua peradangan yang disebabkan oleh kuman yang
masuk ke dalam organ genital pada saat persalinan dan masa nifas. Infeksi nifas
terjadi 1-3 %. Infeksi jalan lahir 25-55 % dari semua kasus infeksi. Penyebaran
infeksi nifas pada perineum, vulva, vagina, serviks dan endometrium meliputi:
vulvitis, vaginitis, servisitis, endometritis. Infeksi nifas yang penyebarannya
melalui pembuluh darah: Septikemia, piemia, tromboflebitis. Infeksi nifas yang
penyebaran melalui jalan limfe: peritonitis, parametritis (sellulitis pelvika), Infeksi
nifas yang penyebaran melalui permukaan endometrium adalah salfingitis dan
ooforitis.
Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan
Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan
21
22
Evaluasi
Formatif
Untuk mengetahui seberapa jauh tingkat pemahaman anda terhadap materi
yang baru saja anda pelajrari, sekarang jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut
dengan memilih salah satu jawaban yang benar pada kertas tersendiri.
1.	 Problem psikis sesudah melahirkan seperti kemunculan kecemasan, labilitas
perasaan dan depresi pada ibu, secara teori biasanya terjadi mulai minggu ke 4,
hal tersebut merupakan gangguan psikologis masa nifas yang disebut……
a.	 Depresi postpartum
b.	Anhedonia
c.	 Psikosa postpartum
d.	 Postpartum blues
e.	 Depresi intrapartum
2.	 Kurang dukungan dari orang terdekat seperti suami, keluarga dan adanya
permasalahan dalam perkawinan, merupakan salah satu faktor penyebab depresi
postpartum, dari faktor yang mana…….
a.	 Faktor konstitusional
b.	 Faktor fisik
c.	 Faktor psikologis
d.	 Faktor sosial
e.	 Faktor lingkungan
3.	 Kuman penyebab infeksi nifas yang paling berat, bersifat eksogen, misalnya
penggunaan alat yang tidak steril, jenis kuman tersebut adalah…….
a.	 Staphylococcus Aerus
b.	 Escheria Coli
c.	 Streptococcus Haemolyticus Aerobic
d.	 Clostridium Welchii
e.	 Troponema palidum
4.	 Infeksi yang menyerang pada daerah pelvis, pada umum dapat menyebabkan
kematian 33% dari seluruh kamatian karena infeksi, disebut infeksi…….
a.	Parametritis
b.	 Tromboflebitis
c.	Servisitis
d.	Peritonitis
e.	Septicemia
5.	 Pengeluaran air susu berlimpah-limpah, disebut juga……
a.	Poligalaktia
b.	Agaklatia
c.	Mastitis
d.	Moniliasis
e.	 Obstructive duct
6.	 Seorang ibu sehabis melahirkan mengalami perasaan cemas, kadang-kadang
menangis, khawatir dengan bayinya, kurang percaya diri, merupakan gejala-gejala
dari postpartum blues, jika ibu mengalami hal seperti tersebut diatas, dibawah ini
adalah penanganan yang sebaiknya Anda lakukan, kecuali…….
a.	 Komunikasikan segala permasalahan atau hal lain yang ingin diungkapkan.
b.	 Bersikap tulus ikhlas dalam menerima aktivitas dan peran baru setelah
melahirkan.
c.	 Ibu bisa menghadapi hal ini sendiri tanpa dukungan suami dan keluarga
d.	 Kebutuhan istirahat yang cukup, tidurlah ketika bayi sedang tidur.
e.	 Bicarakan rasa cemas yang dialami.
7.	 Seorang ibu postpartum mempunyai riwayat kehamilan dengan mual muntah
yang hebat, dan terjadi komplikasi pada saat persalinan berupa perdarahan
yang hampir mengancam jiwanya, ibu merasa cemas mengingat kejadian yang
telah dialaminya sehingga menimbulkan depresi postpartum. Penyebab depresi
postpartum tersebut dikarenakan faktor……
a.	 Faktor konstitusional
b.	 Faktor fisik
c.	 Faktor psikologis
d.	 Faktor sosial
e.	 Faktor fisik dan psikis
8.	 Infeksi nifas dapat disebabkan oleh masuknya kuman ke dalam organ kandungan
maupun kuman dari luar yang sering menyebabkan infeksi. Berdasarkan
masuknya kuman ke dalam organ kandungan, jika kuman yang ada berasal dari
jalan lahir sendiri disebut……
a.	Ektogen
b.	Autogen
c.	Endogen
d.	Eksogen
e.	Heterogen
Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan
Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan
23
24
9.	 Infeksi nifas dapat disebabkan oleh berbagai macam kuman, menyerang
berbagai macam tempat, jika tempat infeksi yang diserangnya perineum, vulva
dan endometrium dan dapat menyebabkan infeksi traktus urinarius, jenis kuman
yang menyebabkan infeksi yaitu……
a.	 Streptococcus Haemolyticus Aerobic
b.	 Staphylococcus Aerus
c.	 Escheria Coli
d.	 Clostridium Welchii
e.	 Clostridium tetani
10.	Seorang ibu yang sedang menyusui, datang ke klinik Anda dengan keluhan
terdapat penggumpalan nanah local didalam payudara, ibu tersebut sedang
mengalami……
a.	 Pembengkakan kelenjar mamae
b.	 Nyeri payudara
c.	 Bendungan ASI
d.	Mastitis
e.	 Infeksi puting susu
c. 	 Battledore.
d. 	 Mitleschmertz
TUGAS
MANDIRI
Setelah mempelajari materi Kegiatan Belajar 2 saya ajak Anda untuk berlatih,
menghubungkan konsep teori yang telah Anda pelajari tersebut dengan situasi
nyata di lapangan.
Lakukanlah tugas berikut dengan sebaik-baiknya:
TUGAS:
Seorang ibu postpartum sering menangis, merasa tidak mampu untuk merawat
bayinya datang kepada Anda, setelah Anda mengidentifikasi gejala-gejala yang
ada pada ibu tersebut Anda mendiagnosa bahwa ibu tersebut mengalami post-
partum blues, maka tindakan apa yang harus Anda lakukan pada ibu tersebut.
Jawaban:
Tuliskan apa yang anda ketahui
Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan
25
Hak Cipta Kementrian Republik Indonesia Bekerjasama Dengan
Australia Indonesia for Health System Strengthening (AIPHSS)
2015
Kunci Jawaban Tes Formatif
Kegiatan Belajar 2
1. D
2. D
3. C
4. D
5. A
6. C
7. A
8. C
9. C
10. D

KB 2 Komplikasi Nifas dan Penatalaksanaannya

  • 1.
    Komplikasi Persalinan danNifas Pusat Pendidikan dan Pelatihan Tenaga Kesehatan Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Jakarta 2015 LIA ARTIKA SARI Australia Indonesia Partnership for Health Systems Strengthening (AIPHSS) SEMESTER 3 OBSTETRI Modul KEGIATAN BELAJAR 2 Komplikasi Nifas dan Penatalaksanaannya
  • 2.
    Modul Pendidikan JarakJauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan 2 Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan i Kata Pengantar Segala puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan yang Mahaesa, karena berkat rahmat dan karunia-Nyalah kami dapat menyelesaikan MODUL DUA dari EMPAT MODUL dalam Mata Kuliah Obstetri yang berjudul Komplikasi Persalinan dan Nifas. Modul Obstetri ini disusun dalam rangka membantu proses pembelajaran program Diploma III kebidanan dengan sistem pembelajaran jarak jauh yang disusun bagi mahasiswa dengan latar belakang pekerjaan bidan pada lokasi – lokasi yang sulit untuk ditinggalkan seperti daerah perbatasan dan kepulauan. Ucapan terima kasih tak terhingga kami sampaikan kepada segenap pihak yang telah membantu kami hingga terselesaikannya modul ini. Kami mengucapkan terimakasih kepada yang terhormat : a. Menteri Kesehatan Republik Indonesia b. Kepala Badan PPSDMK Kementrian Kesehatan Republik Indonesia c. Kepala Pusdiklatnakes Badan PPSDMK Kementrian Kesehatan Republik Indonesia d. Australian Government Overseas Aid Program (AusAID) e. Tim editor modul Kami menyadari bahwa modul ini masih jauh dari kesempurnaan. Masukan untuk penyempurnaan modul ini sangat kami harapkan. Demikian, semoga modul ini dapat bermanfaat meningkatkan kualitas pembelajaran pendidikan Diploma III Kebidanan yang menggunakan system jarak jauh. Jakarta, Juli 2013 Gambar : Pengecekan cabang bayi Pendahuluan Rekan-rekan mahasiswa Selamat berjumpa kembali dalam mata kuliah Obstetri. Selamat Anda telah berhasil menyelesaikan satu modul. Sekarang Anda akan mempelajari adalah modul yang kedua. Setelah menyelesaikan modul ini diharapkan Anda dapat: (1) menjelaskan komplikasi-komplikasi apa saja yang dapat terjadi pada saat persalinan, (2) menjelaskan cara penatalaksanaan jika terjadi komplikasi dalam persalinan, (3) menjelaskan komplikasi-komplikasi apa saja yang dapat terjadi pada saat nifas, dan (4) menjelaskan cara penatalaksanaan jika terjadi komplikasi pada saat nifas. Kompetensi-kompetensi tersebut sangat dibutuhkan bagi anda sebagai seorang bidan, terutama ketika menghadapi pasien yang mengalami komplikasi pada saat persalinan dan nifas. Dengan menguasai kompetensi ini, anda akan dapat memberikan informasi yang benar kepada pasien, dapat menganalisis suatu keadaan fisiologis dapat berubah menjadi suatu hal yang patologis sedini mungkin, sehingga sebagai bidan anda dapat memberikan penanganan yang tepat sesegera mungkin kepada pasien. Modul ini dikemas dalam tiga kegiatan belajar (KB). Untuk mempelajari modul ini sedikitnya dibutuhkan waktu 180 menit. Tiga kegiatan belajar tersebut disusun dengan urutan sebagai berikut: • KegiatanBelajar1:Mengidentifikasikomplikasipersalinandanpenatalaksanaannya • Kegiatan Belajar 2: Mengidentifikasi komplikasi nifas dan penatalaksanaannya • Kegiatan Belajar 3: Mengidentifikasi komplikasi nifas dan penatalaksanaannya
  • 3.
    Modul Pendidikan JarakJauh Pendidikan Tinggi Kesehatan Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan 3 4 Petunjuk Belajar Modul ini disusun sedemikian rupa agar anda dapat mempelajarinya secara mandiri, kami yakin anda akan berhasil jika anda mau mempelajarinya secara serius dan benar. Oleh karena itu lakukan langkah-langkah belajar sebagai berikut: 1. Baca baik-baik dan pahami tujuan/kompetensi yang ingin dicapai dalam mempelajari modul ini. 2. Pelajari materi secara berurutan mulai dari kegiatan belajar (KB)1 dan seterusnya, karena materi yang dibahas dalam kegiatan sebelumnya berkaitan erat dengan materi yang akan dibahas pada kegiatan berikutnya. 3. Anda harus punya keyakinan yang kuat untuk belajar dan memprak-tikkan materi yang tertuang dalam modul ini. 4. Pelajari baik-baik dan pahami uraian materi yang ada pada setiap KB. Jika ada materi yang harus dipraktikkan, maka Anda diminta untuk mempraktikkannya. 5. Disamping mempelajari modul ini, Anda dianjurkan untuk mempelajari buku-buku lain, koran, majalah yang membahas tentang komplikasi persalinan nifas 6. Untuk lebih memudahkan lagi memahami modul ini, amati beberapa pasien yang komplikasi persalinan nifas 7. Setelah selesai mempelajari satu KB, Anda diminta untuk mengerjakan tugas maupun soal-soal yang ada di dalamnya. Anda dinyatakan berhasil kalau sedikitnya 80% jawaban Anda benar. Selanjutnya Anda dipersilahkan untuk mempelajari KB berikutnya. 8. Kunci jawaban untuk setiap KB ada di bagian akhir modul ini. Silahkan cocokkan jawaban Anda dengan kunci jawaban tersebut. Jika anda belum berhasil silahkan pelajari sekali lagi bagian-bagian yang belum anda kuasai. Ingat! Jangan melihat kunci jawaban sebelum anda selesai mengerjakan tugas 9. Bila anda mengalami kesulitan, diskusikan dengan teman-temanmu, jika masih juga mengalami kesulitan, silahkan hubungi dosen/fasilitator dari Mata Kuliah ini. 10. Setelah semua KB dipelajari, dan semua tugas sudah anda kerjakan dengan benar, tanyakan pada diri anda sendiri apakah anda telah menguasai seluruh materi sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Bila jawabannya “Ya”, maka hubungi dosen Pembina anda untuk meminta tes akhir modul (TAM). Anda dinyatakan berhasil bila sedikitnya jawaban Anda 80% benar. Dengan demikian Anda diperbolehkan untuk mempalajari modul berikutnya. Selamat belajar, jangan lupa memohon pertolongan kepada Tuhan yang Maha kuasa Allah SWT agar Anda dimudahkan dalam mempelajari modul ini, sehingga dapat berhasil dengan baik. Daftar Istilah ISTILAH KETERANGAN Cephalopelvic disproportion Ketidaksesuaian antara kepala bayi dengan panggul ibu Distosia kesulitan dalam jalannya persalinan Hypertonic memiliki tekanan osmotik lebih tinggi dari yang seharusnya Hypotonic memiliki tekanan osmotik lebih rendah dari yang seharusnya Makrosomia bayi besar, bila berat badan bayi melebihi dari 4000 gram Port d’entry tempat masuknya bibit penyakit
  • 4.
    Modul Pendidikan JarakJauh Pendidikan Tinggi Kesehatan Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan 5 6 Kegiatan Belajar 2 Tujuan Pembelajaran Umum Setelah mempelajari kegiatan belajar 2, anda diharapkan bisa mengidentifikasi berbagai komplikasi nifas dan tata cara penatalaksanaannya. Secara khusus anda diharapkan dapat menjelaskan beberapa hal yang berhubungan dengan: • Gangguan psikologis masa nifas, • Infeksi puerperalis, dan • Kelainan pada mammae. Untuk mencapai tujuan tersebut, pokok-pokok materi yang harus anda pelajari meliputi • Gangguan psikologis masa nifas, • Infeksi puerperalis, dan • Kelainan pada mammae. MENGIDENTIFIKASI KOMPLIKASI NIFAS DAN PENATALAKSANAANNYA Tujuan Pembelajaran Khusus Pokok - Pokok Materi Uraian Materi Barangkali anda punya pendapat tentang gangguan psikologis pada masa nifas, jika ya sekarang tuliskan pendapat anda pada kotak berikut: Bagaimana, apakah sudah menuliskannya, jika sudah sekarang lanjutkan mempelajari uraian berikut ini. I. Gangguan Psikologi Masa Nifas A. Post Partum Blues 1. Definisi Postpartumbluesmerupakanproblempsikissesudahmelahirkansepertikemunculan kecemasan, labilitas, dan depresi pada ibu. Secara teori biasanya terjadi mulai minggu ke 4. 2. Gejala baby blues antara lain: a. Menangis b. Perubahan perasaan c. Cemas d. Kesepian e. Khawatir dengan bayinya f. Penurunan libido g. Kurang percaya diri 3. Faktor-faktor penyebab Faktor yang menyebabkan terjadinya postpartum blues: a. Ibu belum siap menghadapi persalinan b. Adanya perubahan hormon c. Payudara bengkak dan menyebabkan rasa sakit atau jahitan belum sembuh. d. Pengalaman dalam proses persalinan dan kehamilan. e. Latar belakang psikososial (tingkat pendidikan, status perkawinan, kehamilan yang tidak diinginkan, riwayat gangguan kejiwaan sebelumnya, social ekonomi). 4. Hal-hal yang disarankan pada ibu adalah sebagai berikut: a. Minta bantuan suami atau keluarga jika ibu ingin istirahat b. Beritahu suami tentang apa yang dirasakan oleh ibu c. Buang rasa cemas dan khawatir akan kemampuan merawat bayi d. Meluangkan waktu dan cari hiburan untuk diri sendiri Tuliskan apa yang anda ketahui
  • 5.
    Modul Pendidikan JarakJauh Pendidikan Tinggi Kesehatan Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan 7 8 5. Penanganan a. Komunikasikan segala permasalahan atau hal lain yang ingin diungkapkan. b. Bicarakan rasa cemas yang dialami. c. Bersikaptulusikhlasdalammenerimaaktivitasdanperanbarusetelahmelahirkan. d. Bersikap fleksibel dan tidak terlalu perfeksionis dalam mengurus bayi dan rumah tangga. e. Kebutuhan istirahat yang cukup, tidurlah ketika bayi sedang tidur. f. Berolahraga ringan. g. Dukungan tenaga kesehatan, dukungan suami, keluarga. B. Depresi Post Partum 1. Pengertian Depresi post partum adalah depresi berat yang terjadi 7 hari setelah melahirkan dan berlangsung 30 hari. Gejala konstan dan persisten akan menurunkan dan bisa sembuh dengan sendirinya setelah 30 hari berlangsung. Gejala yang menonjol pada depresi post partum adalah adanya trias depresi: a. Berkurang energi b. Penurunan efek c. Hilang minat (anhedonia) Disebabkan karena gangguan hormonal, hormon yang terkait dengan terjadinya depresi post partum adalah prolaktin, steroid dan progesteron. Depresi post partum berbeda dengan baby blues. 2. Predispsosisi Faktor risiko terjadinya depresi postpartum diantaranya adalah ada riwayat penyakit mental didalam keluarga, kurangnya dukungan sosial dan dukungan keluarga serta teman, kekhawatiran akan bayi yang sebetulnya sehat, kesulitan selama persalinan dan melahirkan, ketidakharmonisan perkawinan, masalah sosial ekonomi serta kehamailan yang tidak diinginkan. 3. Gejala/Tanda-tanda a. Perasaan sedih yang menyeluruh b. Ketidak mampuan berhenti menangis c. Peningkatan kecemasan (mengenai kesehatan diri sendiri dan bayinya) d. Rasa tidak aman e. Kelelahan yang berlebihan f. Tidak menyukai atau takut menyentuh bayinya g. Sedikit perhatian terhadap penampilan diri 4. Faktor-faktor Penyebab Faktor penyebab depresi postpartum disebabkan oleh 4 faktor yaitu sebagai berikut: a. Faktor konstitusional Gangguan postpartum berkaitan dengan status paritas adalah riwayat obstetrik pasien yang meliputi riwayat hamil sampai bersalin, serta adakah komplikasi yang terjadi pada saat kehamilan dan persalinan. b. Faktor fisik Perubahan fisik setelah proses kelahiran dan memuncaknya gangguan mental selama 2 minggu pertama menunjukan bahwa faktor fisik merupakan faktor penting. Perubahan hormon setelah melahirkan yaitu peningkatan hormon progesterone dan penurunan hormone estrogen merupakan penyebab yang sudah pasti. c. Faktor psikologis Peralihan yang cepat dari keadaan “dua dalam satu” pada akhir kehamilan menjadi dua individu yaitu ibu dan anak memerlukan penyesuaian psikologis. Untuk menanggulangi hal tersebut dibutuhkan rasa cinta dan kasih antara ibu dan anak. d. Faktor social Paykel dalam penelitiannya mengemukakan bahwa pemukiman yang tidak memadai lebih sering menimbulkan depresi pada ibu, demikian juga dengan kurangnya dukungan dalam perkawinan. 5. Cara-cara menghidari atau mengatasi depresi a. Batasi pengunjung jika kehadiran mereka ternyata malah mengganggu waktu istirahat anda b. Perbanyak mendengar musik favorit anda agar anda dapat merasa lebih rileks disarankan musik-musik yang menenangkan c. Lakukan olahraga atau latihan ringan, cara ini selain ampuh dalam mengurangi depresi, tapi juga dapat membantu mengembalikan bentuk tubuh d. Sesekali berpergianlah agar anda tak merasa bosan, karena berada di rumah e. Dukungan yang suportif dari suami dan anggota keluarga lainnya sangat berpengaruh bagi keadaan psikis ibu. f. Pasien postpartum depression dapat memperoleh bantuan dari psikiater atau ahli kejiwaan dan psikologi. Pada terapi penyembuhan yang awal, pasien tidak akan diberikan obat-obatan untuk diminum, tetapi lebih kepada dukungan secara psikologis yang juga melihat orang-orang terdekat pasien. Jangan takut memberi informasi kepada pihak-pihak yang dapat membantu. 6. Efek bila depresi tidak dirawat Depresi pasca melahirkan mempengaruhi kemampuan seseorang untuk merawat bayinya, dan akan mempengaruhi kemampuan bayi dalam kedekatan emosionalnya dengan orang lain, dalam masalah bersikap, tingkat aktifitas yang lemah, masalah tidur dan distress C. Post Partum Psikosa Insiden psikosis postpartum sekitar 1-2 per 1000 kelahiran. Rekurensi dalam masa kehamilan 20-30 persen. Gejala psikosis post partum muncul beberapa hari sampai 4-6 minggu post partum. 1. Faktor penyebab psikosis post partum antara lain: a. Riwayat keluarga penderita psikiatri b. Riwayat ibu menderita psikiatri c. Masalah keluarga dan perkawinan 2. Gejala psikosis post partum sebagai berikut: a. Gaya bicara keras b. Menarik diri dari pergaulan c. Cepat marah d. Gangguan tidur 3. Penatalaksanaan psikosis post partum adalah: a. Pemberian anti depresan b. Berhenti menyusui Pada penderita psikosis, diberikan terapi litium, litium ini disekresikan ke dalam air susu ibu dalam jumlah yang tinggi dan dapat menyebabkan toksisitas pada neonatus. c. Perawatan di rumah sakit
  • 6.
    Modul Pendidikan JarakJauh Pendidikan Tinggi Kesehatan Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan 9 10 II. Infeksi Puerperalis A. Pengertian Infeksi nifas adalah semua peradangan yang disebabkan oleh kuman yang masuk ke dalam organ genital pada saat persalinan dan masa nifas. Infeksi nifas adalah infeksi bakteri pada traktus genitalia yang terjadi setelah melahirkan, ditandai dengan kenaikan suhu sampai 38 derajat Celsius atau lebih selama 2 hari dalam 10 hari pertama pasca persalinan, dengan mengecualikan 24 jam pertama. 1. Insidensi Infeksi Nifas Infeksi nifas terjadi 1-3 %. Infeksi jalan lahir 25-55 % dari semua kasus infeksi. 2. Penyebab Infeksi Nifas Infeksi nifas dapat disebabkan oleh masuknya kuman ke dalam organ kandungan maupun kuman dari luar yang sering menyebabkan infeksi. Berdasarkan masuknya kuman ke dalam organ kandungan terbagi menjadi: a. Ektogen (kuman datang dari luar) b. Autogen (kuman dari tempat lain) c. Endogen (kuman dari jalan lahir sendiri) Selain itu, infeksi nifas dapat disebabkan oleh: d. Streptococcus Haemolyticus Aerobic Streptococcus Haemolyticus Aerobic merupakan penyebab infeksi yang paling berat. Infeksi ini bersifat eksogen (misal dari penderita lain, alat yang tidak steril, tangan penolong, infeksi tenggorokan orang lain). e. Staphylococcus Aerus Cara masuk Staphylococcus Aerus secara eksogen, merupakan penyebab infeksi sedang. Sering ditemukan di rumah sakit dan dalam tenggorokan orang-orang yang nampak sehat. f. Escheria Coli Escheria Coli berasal dari kandung kemih atau rektum. Escheria Coli dapat menyebabkan infeksi terbatas pada perineum, vulva dan endometrium. Kuman ini merupakan penyebab dari infeksi traktus urinarius. g. Clostridium Welchii Clostridium Welchii bersifat anaerob dan jarang ditemukan akan tetapi sangat berbahaya. Infeksi ini lebih sering terjadi pada abortus kriminalis dan persalinan ditolong dukun. Patofisiologi Infeksi Nifas Tempat yang baik sebagai tempat tumbuhnya kuman adalah di daerah bekas insersio (pelekatan) plasenta. Insersio plasenta merupakan sebuah luka dengan diameter 4 cm, permukaan tidak rata, berbenjol-benjol karena banyaknya vena yang ditutupi oleh trombus. Selain itu, kuman dapat masuk melalui servik, vulva, vagina dan perineum. Cara Terjadi Infeksi Infeksi nifas dapat terjadi karena: 1. Manipulasi penolong yang tidak steril atau pemeriksaan dalam berulang-ulang. 2. Alat-alat tidak steril/suci hama. 3. Infeksi droplet, sarung tangan dan alat-alat yang terkontaminasi. 4. Infeksi nosokomial rumah sakit. 5. Infeksi intrapartum. 6. Hubungan seksual akhir kehamilan yang menyebabkan ketuban pecah dini. Faktor Predisposisi Infeksi Nifas Faktor predisposisi infeksi nifas antara lain: 1. Semua keadaan yang dapat menurunkan daya tahan tubuh, seperti perdarahan banyak, pre eklampsia, malnutrisi, anemia, infeksi lain (pneumonia, penyakit jantung, dsb). 2. Persalinan dengan masalah seperti partus/persalinan lama dengan ketuban pecah dini, korioamnionitis, persalinan traumatik, proses pencegahan infeksi yang kurang baik dan manipulasi yang berlebihan. 3. Tindakan obstetrik operatif baik pervaginam maupun perabdominal. 4. Tertinggalnya sisa plasenta, selaput ketuban dan bekuan darah dalam rongga rahim. 5. Episiotomi atau laserasi jalan lahir. Tanda dan Gejala Infeksi Nifas Tanda dan gejala yang timbul pada infeksi nifas antara lain demam, sakit di daerah infeksi, warna kemerahan, fungsi organ terganggu. Gambaran klinis infeksi nifas adalah sebagai berikut: 1. Infeksi lokal Warna kulit berubah, timbul nanah, bengkak pada luka, lokia bercampur nanah, mobilitas terbatas, suhu badan meningkat. 2. Infeksi umu Sakit dan lemah, suhu badan meningkat, tekanan darah menurun, nadi meningkat, pernafasan meningkat dan sesak, kesadaran gelisah sampai menurun bahkan koma, gangguan involusi uteri, lokia berbau, bernanah dan kotor. Klasifikasi Infeksi Nifas Penyebaran infeksi nifas terbagi menjadi 2 golongan yaitu: 1. Infeksi terbatas pada perineum, vulva, vagina, serviks dan endometrium. 2. Infeksi yang penyebarannya melalui vena-vena (pembuluh darah). 3. Infeksi yang penyebarannya melalui limfe. 4. Infeksi yang penyebarannya melalui permukaan endometrium. Pencegahan Infeksi Nifas Infeksi nifas dapat timbul selama kehamilan, persalinan dan masa nifas, sehingga pencegahannya berbeda. Selama kehamilan Pencegahan infeksi selama kehamilan, antara lain: a. Perbaikan gizi. b. Hubungan seksual pada umur kehamilan tua sebaiknya tidak dilakukan. Selama persalinan Pencegahan infeksi selama persalinan adalah sebagai berikut: a. Membatasi masuknya kuman-kuman ke dalam jalan lahir. b. Membatasi perlukaan jalan lahir. c. Mencegah perdarahan banyak. d. Menghindari persalinan lama. e. Menjaga sterilitas ruang bersalin dan alat yang digunakan.
  • 7.
    Modul Pendidikan JarakJauh Pendidikan Tinggi Kesehatan Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan 11 12 Selama nifas Pencegahan infeksi selama nifas antara lain: a. Perawatan luka post partum dengan teknik aseptik. b. Semua alat dan kain yang berhubungan dengan daerah genital harus suci hama. c. Penderita dengan infeksi nifas sebaiknya diisolasi dalam ruangan khusus, tidak bercampur dengan ibu nifas yang sehat. d. Membatasi tamu yang berkunjung. e. Mobilisasi dini. Pengobatan Infeksi Nifas Pengobatan infeksi pada masa nifas antara lain: 1. Sebaiknya segera dilakukan kultur dari sekret vagina dan servik, luka operasi dan darah, serta uji kepekaan untuk mendapatkan antibiotika yang tepat. 2. Memberikan dosis yang cukup dan adekuat. 3. Memberi antibiotika spektrum luas sambil menunggu hasil laboratorium. 4. Pengobatan mempertinggi daya tahan tubuh seperti infus, transfusi darah, makanan yang mengandung zat-zat yang diperlukan tubuh, serta perawatan lainnya sesuai komplikasi yang dijumpai. Infeksi pada perineum, vulva, vagina, serviks dan endometrium Penyebaran infeksi nifas pada perineum, vulva, vagina, serviks dan endometrium meliputi: 1. Vulvitis Vulvitis adalah infeksi pada vulva. Vulvitis pada ibu pasca melahirkan terjadi di bekas sayatan episiotomi atau luka perineum. Tepi luka berwarna merah dan bengkak, jahitan mudah lepas, luka yang terbuka menjadi ulkus dan mengeluarkan nanah. 2. Vaginitis Vaginitis merupakan infeksi pada daerah vagina. Vaginitis pada ibu pasca melahirkan terjadi secara langsung pada luka vagina atau luka perineum. Permukaan mukosa bengkak dan kemerahan, terjadi ulkus dan getah mengandung nanah dari daerah ulkus. 3. Servisitis Infeksi yang sering terjadi pada daerah servik, tapi tidak menimbulkan banyak gejala. Luka serviks yang dalam dan meluas dan langsung ke dasar ligamentum latum dapat menyebabkan infeksi yang menjalar ke parametrium. 4. Endometritis Endometritis paling sering terjadi. Biasanya demam mulai 48 jam postpartum dan bersifat naik turun. Kuman-kuman memasuki endometrium (biasanya pada luka insersio plasenta) dalam waktu singkat dan menyebar ke seluruh endometrium. Pada infeksi setempat, radang terbatas pada endometrium. Jaringan desidua bersama bekuan darah menjadi nekrosis dan mengeluarkan getah berbau yang terdiri atas keping-keping nekrotis dan cairan. Pada infeksi yang lebih berat batas endometrium dapat dilampaui dan terjadilah penjalaran. Infeksi nifas yang penyebarannya melalui pembuluh darah Infeksi nifas yang penyebarannya melalui pembuluh darah adalah Septikemia, Piemia dan Tromboflebitis pelvica. Infeksi ini merupakan infeksi umum yang disebabkan oleh kuman patogen Streptococcus Hemolitikus Golongan A. Infeksi ini sangat berbahaya dan merupakan 50% dari semua kematian karena infeksi nifas. 1. Septikemia Septikemia adalah keadaan dimana kuman-kuman atau toksinnya langsung masuk ke dalam peredaran darah dan menyebabkan infeksi. Gejala klinik septikemia lebih akut antara lain: kelihatan sudah sakit dan lemah sejak awal; keadaan umum jelek, menggigil, nadi cepat 140 – 160 x per menit atau lebih; suhu meningkat antara 39-40 derajat Celcius; tekanan darah turun, keadaan umum memburuk; sesak nafas, kesadaran turun, gelisah. 2. Piemia Piemia dimulai dengan tromflebitis vena-vena pada daerah perlukaan lalu lepas menjadi embolus-embolus kecil yang dibawa ke peredaran darah, kemudian terjadi infeksi dan abses pada organ-organ yang diserangnya. Gejala klinik piemia antara lain: rasa sakit pada daerah tromboflebitis, setelah ada penyebaran trombus terjadi gejala umum diatas; hasil laboratorium menunjukkan leukositosis; lokia berbau, bernanah, involusi jelek. 3. Tromboflebitis Radang pada vena terdiri dari tromboflebitis pelvis dan tromboflebitis femoralis. Tromboflebitis pelvis yang sering meradang adalah pada vena ovarika, terjadi karena mengalirkan darah dan luka bekas plasenta di daerah fundus uteri. Sedangkan tromboflebitis femoralis dapat menjadi tromboflebitis vena safena magna atau peradangan vena femoralis sendiri, penjalaran tromboflebitis vena uterin, dan akibat parametritis. Tromboflebitis vena femoralis disebabkan aliran darah lambat pada lipat paha karena tertekan ligamentum inguinale dan kadar fibrinogen meningkat pada masa nifas. Infeksi nifas yang penyebaran melalui jalan limfe Infeksi nifas yang penyebarannya melalui jalan limfe antara lain peritonitis dan parametritis (Sellulitis Pelvika). 1. Peritonitis Peritonitis menyerang pada daerah pelvis (pelvio peritonitis). Gejala klinik antara lain: demam, nyeri perut bawah, keadaan umum baik. Sedangkan peritonitis umum gejalanya: suhu meningkat, nadi cepat dan kecil, perut kembung dan nyeri, terdapat abses pada cavum douglas, defense musculair, fasies hypocratica. Peritonitis umum dapat menyebabkan kematian 33% dari seluruh kamatian karena infeksi. 2. Parametritis (sellulitis pelvika) Gejala klinik parametritis adalah: nyeri saat dilakukan periksa dalam, demam tinggi menetap, nadi cepat, perut nyeri, sebelah/kedua belah bagian bawah terjadi pembentukkan infiltrat yang dapat teraba selama periksa dalam. Infiltrat terkadang menjadi abses. Infeksi nifas yang penyebaran melalui permukaan endometrium Infeksi nifas yang penyebaran melalui permukaan endometrium adalah salfingitis dan ooforitis. Gejala salfingitis dan ooforitis hampir sama dengan pelvio peritonitis.
  • 8.
    Modul Pendidikan JarakJauh Pendidikan Tinggi Kesehatan Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan 13 14 III. Kelainan Pada Mammae A. Mastitis Definisi Mastitis adalah peradangan pada payudara yang dapat disertai infeksi atau tidak, yang disebabkan oleh kuman terutama Staphylococcus aureus melalui luka pada puting susu atau melalui peredaran darah. Penyakit ini biasanya menyertai laktasi, sehingga disebut juga mastitis laktasional atau mastitis puerperalis. Infeksi terjadi melalui luka pada puting susu, tetapi mungkin juga melalui peredaran darah. Kadang- kadang keadaan ini bisa menjadi fatal bila tidak diberi tindakan yang adekuat. Absespayudara,penggumpalannanahlokaldidalampayudara,merupakankomplikasi berat dari mastitis. Macam-macam mastitis dibedakan berdasarkan tempatnya serta berdasarkan penyebab dan kondisinya. Mastitis berdasarkan tempat Mastitis berdasarkan tempatnya dibedakan menjadi 3, yaitu: a. Mastitis yang menyebabkan abses di bawah areola mammae b. Mastitis di tengah-tengah mammae yang menyebabkan abses di tempat itu c. Mastitis pada jaringan di bawah dorsal dari kelenjar-kelenjar yang menyebabkan abses antara mammae dan otot-otot di bawahnya. Sedangkan pembagian mastitis menurut kondisinya dibagi pula menjadi 3, yaitu : a. Mastitis periductal Mastitis periductal biasanya muncul pada wanita di usia menjelang menopause, penyebab utamanya tidak jelas diketahui. Keadaan ini dikenal juga dengan sebutan mammary duct ectasia, yang berarti peleburan saluran karena adanya penyumbatan pada saluran di payudara. b. Mastitis puerperalis/lactational Mastitis puerperalis banyak dialami oleh wanita hamil atau menyusui. Penyebab utama mastitis puerperalis yaitu kuman yang menginfeksi payudara ibu, yang ditransmisi ke puting ibu melalui kontak langsung. c. Mastitis supurativa Mastitis supurativa paling banyak dijumpai. Penyebabnya bisa dari kuman Staphylococcus, jamur, kuman TBC dan juga sifilis. Infeksi kuman TBC memerlukan penanganan yang ekstra intensif. Bila penanganannya tidak tuntas, bisa menyebabkan pengangkatan payudara/mastektomi. Berdasarkan etiologinya: a. Mastitis karena stasis ASI/ non infeksiosa b. Mastitis infeksiosaà yang paling sering adalah Staphylococcus aureus dan Streptococcus. Penyebab Pada umumnya yang dianggap porte d’entrée dari kuman penyebab ialah putting susu yang luka atau lecet, dan kuman perkontinuitatum menjalar ke duktulus-duktulus dan sinus. Sebagian besar yang ditemukan pada pembiakan pus ialah stafilokokus aureus. Mastitis terjadi akibat invasi jaringan payudara (misalnya : glandular, jaringan ikat, areolar, lemak) oleh organisme infeksius atau adanya cidera payudara. Organisme yang umum termasuk S. aureus, streptococci, dan H. parainfluenzae. Cidera payudara mungkin disebabkan memar karena manipulasi yang kasar, pembesaran payudara, statis air susu ibu dalam duktus, atau pecahnya atau fisura putting susu.Bakteri dapat berasal dari beberapa sumber: a. Tangan ibu b. Tangan orang yang merawat ibu atau bayi c. Bayi d. Duktus laktiferus e. Darah sirkulasi Stress dan keletihan dikaitkan dengan mastitis. Hal ini masuk akal karena stress dan keletihan dapat menyebabkan kecerobohan dalam teknik penanganan, terutama saat mencuci tangan, atau melewatkan waktu menyusui, atau mengubah frekuensi menyusui yang dapat menyebabkan pembesaran dan stasis. Infeksi jamur pada payudara juga dapat terjadi jika bayi mengalami sariawan, atau jika ibu mengalami infeksi jamur vagina persisten. Jika puting susu cidera, atau jika ibu menggunakan antibiotic yang mempengaruhi flora normal kulit, jamur payudara cenderung terjadi. Infeksi ini dapat diidentifikasi dengan awitan akut nyeri tajam, menusuk pada putting susu jika bayi menyusu. Penyebab utama mastitis adalah statis ASI dan infeksi. Statis ASI biasanya merupakan penyebab primer yang dapat disertai atau menyebabkan infeksi. a. Statis ASI Statis ASI terjadi jika ASI tidak dikeluarkan dengan efisien dari payudara. Hal ini terjadi jika payudara terbendung segera setelah melahirkan, atau setiap saat jika bayi tidak mengisap ASI, kenyutan bayi yang buruk pada payudara, pengisapan yang tidak efektif, pembatasan frekuensi/durasi menyusui, sumbatan pada saluran ASI, suplai ASI yang sangat berlebihan dan menyusui untuk kembar dua/lebih. b. Infeksi Organisme yang paling sering ditemukan pada mastitis dan abses payudara adalah organisme koagulase-positif Staphylococcus aureus dan Staphylococcus albus. Escherichia coli dan Streptococcus kadang-kadang juga ditemukan. Mastitis jarang ditemukan sebagai komplikasi demam tifoid. Faktor Predisposisi Beberapa faktor yang diduga dapat meningkatkan risiko mastitis, yaitu : a. Umur, wanita berumur 21-35 tahun lebih sering menderita mastitis dari pada wanita di bawah usia 21 tahun atau di atas 35 tahun. b. Paritas, mastitis lebih banyak diderita oleh primipara. c. Serangan sebelumnya, serangan mastitis pertama cenderung berulang, hal ini merupakan akibat teknik menyusui yang buruk yang tidak diperbaiki. d. Melahirkan, komplikasi melahirkan dapat meningkatkan risiko mastitis, walaupun penggunaan oksitosin tidak meningkatkan resiko. e. Gizi, asupan garam dan lemak tinggi serta anemia menjadi faktor predisposisi terjadinya mastitis. Antioksidan dari vitamin E, vitamin A dan selenium dapat mengurangi resiko mastitis. f. Faktor kekebalan dalam ASI, dapat memberikan mekanisme pertahanan dalam payudara. g. Stres dan kelelahan, wanita yang merasa nyeri dan demam sering merasa lelah dan ingin istirahat, tetapi tidak jelas apakah kelelahan dapat menyebabkan keadaan ini atau tidak. h. Pekerjaan di luar rumah, ini diakibatkan oleh statis ASI karena interval antar menyusui yang panjang dan kekurangan waktu dalam pengeluaran ASI yang
  • 9.
    Modul Pendidikan JarakJauh Pendidikan Tinggi Kesehatan Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan 15 16 adekuat. i. Trauma, karena penyebab apapun dapat merusak jaringan kelenjar dan saluran susu dan hal ini dapat menyebabkan mastitis. Patofisiologi StasisASIpeningkatantekananduktusjikaASItidaksegeradikeluarkanpeningkatan tegangan alveoli yang berlebihansel epitel yang memproduksi ASI menjadi datar dan tertekanpermeabilitas jaringan ikat meningkat beberapa komponen(terutama protein dan kekebalan tubuh dan natrium) dari plasma masuk ke dalam ASI dan jaringan sekitar selmemicu respon imunrespon inflmasi dan kerusakan jaringan yang mempermudah terjadinya infeksi (Staphylococcus aureus dan Sterptococcus) dari port d’entry yaitu: duktus laktiferus ke lobus sekresi dan puting yang retak ke kelenjar limfe sekitar duktus/periduktal dan secara hematogen. Terjadinya mastitis diawali dengan peningkatan tekanan di dalam duktus (saluran ASI) akibat stasis ASI. Bila ASI tidak segera dikeluarkan maka terjadi tegangan alveoli yang berlebihan dan mengakibatkan sel epitel yang memproduksi ASI menjadi datar dan tertekan, sehingga permeabilitas jaringan ikat meningkat. Beberapa komponen (terutama protein kekebalan tubuh dan natrium) dari plasma masuk ke dalam ASI dan selanjutnya ke jaringan sekitar sel sehingga memicu respons imun. Stasis ASI, adanya respons inflamasi, dan kerusakan jaringan memudahkan terjadinya infeksi. Terdapat beberapa cara masuknya kuman yaitu melalui duktus laktiferus ke lobus sekresi, melalui puting yang retak ke kelenjar limfe sekitar duktus (periduktal) atau melalui penyebaran hematogen pembuluh darah). Organisme yang paling sering adalah Staphylococcus aureus, Escherecia coli dan Streptococcus. Kadangkadang ditemukan pula mastitis tuberkulosis yang menyebabkan bayi dapat menderita tuberkulosa tonsil. Pada daerah endemis tuberkulosa kejadian mastitis tuberkulosis mencapai 1%. Gejala Mastitis a. Nyeri payudara dan tegang atau bengkak b. Kemerahan dengan batas jelas c. Biasanya hanya satu payudara d. Terjadi antara 3-4 minggu pasca persalinan Gejala mastitis infeksiosa a. Lemah, mialgia, nyeri kepala seperti gejala flu dan ada juga yang di sertai takikardia b. Demam suhu > 38,5 derajat celcius c. Ada luka pada puting payudara d. Kulit payudara kemerahan atau mengkilat e. Terasa keras dan tegang f. Payudara membengkak, mengeras, lebih hangat, kemerahan yang berbatas tegas g. Peningkatan kadar natrium sehingga bayi tidak mau menyusu karena ASI yang terasa asin Gejala mastitis non infeksiosa a. Adanya bercak panas/nyeri tekan yang akut b. Bercak kecil keras yang nyeri tekan c. Tidak ada demam dan ibu masih merasa baik-baik saja. Gejala abses ini adalah nyeri bertambah hebat di payudara, kulit diatas abses mengkilat dan suhu meningkat tinggi (390-400C). dan bayi dengan sendirinya tidak mau minum pada payudara yang sakit, seolah-olah dia tahu bahwa susu disebelah itu bercampur dengan nanah. Selain pembesaran berat, precursor tanda dan gejala mastitis biasanya tidak ada sebelum akhir minggu pertama pasca partum. Setelah masa itu, wanita mungkin mengalami gejala-gejala berikut : a. Nyeri ringan pada salah satu lobus payudara, yang diperberat jika bayi menyusu. b. Gejala seperti flu : nyeri otot, sakit kepala, keputihan. Mastitis hampir selalu terbatas pada satu payudara. Tanda dan gejala actual mastitis meliputi : a. Peningkatan suhu yang cepat dari 39,5 – 40oC b. Peningkatan kecepatan nadi. c. Menggigil d. Malaise umum, sakit kepala. e. Nyeri hebat, bengkak, inflamasi, area payudara keras. Mastitis yang tidak ditangani memiliki hampir 10 % resiko terbentuknya abses. Tanda dan gejala abses meliputi : a. Discharge putting susu purulenta b. Demam remiten (suhu naik turun) disertai menggigil. c. Pembengkakan payudara dan sangat nyeri; massa besar dank eras dengan area kuliut berwarna berfluktuasi kemerahan dan kebiruan mengindikasikan lokaso abses berisi pus. Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan lain untuk menunjang diagnosis tidak selalu diperlukan. World Health Organization (WHO) menganjurkan pemeriksaan kultur dan uji sensitivitas pada beberapa keadaan yaitu bila: a. pengobatan dengan antibiotik tidak memperlihatkan respons yang baik dalam 2 hari b. terjadi mastitis berulang c. mastitis terjadi di rumah sakit d. penderita alergi terhadap antibiotik atau pada kasus yang berat. Bahan kultur diambil dari ASI pancar tengah hasil dari perahan tangan yang langsung ditampung menggunakan penampung urin steril. Puting harus dibersihkan terlebih dulu dan bibir penampung diusahakan tidak menyentuh puting untuk mengurangi kontaminasi dari kuman yang terdapat di kulit yang dapat memberikan hasil positif palsu dari kultur. Beberapa penelitian memperlihatkan beratnya gejala yang muncul berhubungan erat dengan tingginya jumlah bakteri atau patogenitas bakteri. Penatalaksanaan Perawatan puting susu pada waktu laktasi merupakan usaha penting untuk mencegah mastitis.Airsusuibudikeluarkandenganpijatan.Bantulahagar ibutetapmenetekidan kompres dingin selama 15-20 menit, 4 kali/hari sebelum meneteki untuk mengurangi bengkak dan nyeri. Bila gejala mastitis lebih dari 24 jam dan gejala tersebut tidak membaik, harus segera mulai mengkonsumsi antibiotik. Beberapa antibiotik yang membunuh Staphylococcus aureus meliputi: cephalexin, cloxacillin, dicloxacillin, flucloxacillin, amoxicillin dikombinasikan dengan asam clavulinic, clindamycin dan ciprofloxacin. Semua antibiotik tersebut dapat digunakan saat ibu menyusui dan tidak perlu menghentikan proses menyusui.
  • 10.
    Modul Pendidikan JarakJauh Pendidikan Tinggi Kesehatan Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan 17 18 B. Kelainan pada Puting Susu Kebanyakan ibu tidak memiliki kelainan anatomis payudara. Meskipun demikian, kadang-kadang dijumpai juga kelainan antomis yang menghambat kemudahan bayi untuk menyusui, misalnya puting susu datar atau puting susu terpendam (tertarik ke dalam). Disamping kelainan anatomis, kadang dijumpai pula kelainan puting yang disebabkan oleh suatu proses, misalnya tumor. 1. Puting Susu Datar Apabila areola dijepit antara jari telunjuk dan ibu jari di belakang puting, puting yang normal akan menonjol keluar, bila tidak, berarti puting datar. Ketika menyusui puting menjadi lebih tegang dan menonjol karena otot polos puting berkontraksi, meskipun demikian pada keadaan puting datar akan tetap sulit ditangkap/diisap oleh mulut bayi. 2. Puting Susu terpendam (tertarik ke dalam) Sebagian atau seluruh puting susu tampak terpendam atau masuk ke dalam areola (tertarik ke dalam). Hal ini karena ada sesuatu di bawahnya yang menarik puting ke dalam, misalnya tumor atau penyempitan saluran susu. Kelainan puting tersebut seharusnya sudah dapat diketahui sejak hamil atau sebelumnya sehingga dapat diperbaiki dengan meletakkan kedua jari telunjuk atau ibu jari di daerah payudara, kemudian dilakukan pengurutan menuju ke arah berlawanan. Perlu diketahui bahwa tidak semua kelainan tersebut di atas dapat dikoreksi dengan cara tersebut. Untuk itu, ibu menyusui dianjurkan untuk mengeluarkan ASI-nya dengan manual (tangan) atau pompa kemudian diberikan pada bayi dengan sendok/pipet/gelas. 3. Puting Susu Nyeri Dan Puting Susu Lecet (Cracked Nipple) Puting susu nyeri pada ibu menyusui biasanya terjadi karena beberapa sebab sebagai berikut: • Posisi bayi saat menyusu yang salah, yaitu puting susu tidak masuk kedalam mulut bayi sampai pada areola sehingga bayi hanya mengisap pada puting susu saja. Hisapan/tekanan terus menerus hanya pada tempat tertentu akan menimbulkan rasa nyeri waktu diisap, meskipun kulitnya masih utuh. • Pemakaian sabun, lotion, cream, alkohol dan lain-lain yang dapat mengiritasi puting susu • Bayi dengan tali lidah (frenulum linguae) yang pendek sehingga menyebabkan bayi sulit mengisap sampai areola dan isapan hanya pada putingnya saja. • Kurang hati-hati ketika menghentikan menyusu (mengisap). Puting susu nyeri biasanya dapat disembuhkan setelah memperhatikan tehnik menyusui yang benar, khususnya letak puting dalam mulut bayi, yaitu bibir bayi menutup areola sehingga tidak nampak dari luar, puting di atas lidah bayi, areola di antara gusi atas dan bawah. Untuk menghindari puting susu nyeri atau lecet, perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut: tidak membersihkan puting susu dengan sabun, alkohol, lotion, cream, dan obat-obat yang dapat mengiritasi. • Sebaiknya selesai menyusukan untuk melepaskan hisapan bayi, tekanlah dagu bayi atau pijit hidungnya atau masukkan jari kelingking ibu yang bersih ke mulut bayi. • Ibu dianjurkan tetap menyusui bayinya mulai dari puting yang tidak sakit serta menghindari tekanan lokal pada puting dengan cara merubah-rubah posisi menyusui. Untuk puting yang sakit dianjurkan mengurangi frekuensi dan lamanya menyusui. Apabila dengan tindakan tersebut di atas puting tetap nyeri, sebaiknya dicari sebab-sebab lain (misalnya moniliasis). Puting susu lecet/luka akan memudahkan terjadinya infeksi pada payudara (mastitis). 4. Saluran Susu Tersumbat (Obstructive Duct) Saluran susu tersumbat (obstructive duct) adalah suatu keadaan dimana terjadi sumbatan pada satu atau lebih saluran susu yang disebabkan oleh tekanan jari waktu menyusui atau pemakaian BH yang terlalu ketat. Hal ini juga dapat terjadi karena komplikasi payudara bengkak yang berlanjut yang mengakibatkan kumpulan ASI dalam saluran susu tidak segera dikeluarkan sehingga merupakan sumbatan. Sumbatan ini pada wanita yang kurus dapat terlihat dengan jelas sebagai benjolan yang lunak pada perabaannya. Untuk mengatasi terjadinya saluran susu tersumbat (obstructive duct) ada beberapa hal yang dianjurkan, antara lain: • Sebaiknya ibu melakukan perawatan payudara setelah melahirkan dengan teratur agar tidak terjadi stasis dalam payudara yang mengakibatkan terjadinya radang payudara (mastitis) • Gunakan BH dengan desain menopang (menyangga), bukan menekan payudara. • Keluarkan ASI setiap kali selesai menyusui bila payudara masih terasa penuh. Sumbatan saluran susu ini harus segera diatasi karena dapat berlanjut menjadi radang payudara (mastitis). Untuk mengurangi rasa nyeri dan bengkak pada payudara dapat diberikan kompres hangat dan dingin, yaitu kompres hangat sebelum menyusui dengan tujuan mempermudah bayi mengisap puting susu dan kompres dingin setelah menyusui untuk mengurangi rasa nyeri dan bengkak pada payudara. Gambar Ibu Menyusui
  • 11.
    Modul Pendidikan JarakJauh Pendidikan Tinggi Kesehatan Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan 19 20 C. Galaktokel Duktus alveolaris yang tersumbat (galaktokel) menunjukkan adanya suatu pembengkakan yang keras, bulat atau linier yang persisten, biasanya terdapat pada kuadran lateral dan inferior payudara. Penanganannya adalah: 1) Gunakanlah tekanan yang hangat, lembab pada payudara selama 20 menit sebelum menyusui. 2) Sewaktu melakukan tekanan, pijatlah payudara dari proksimal ke distal (kearah puting), dengan memusatkan pada daerah yang terkena. 3) Seringlah menyusui (setiap 1,5 – 2 jam) selama paling sedikit 10 menit pada setiap payudara. Menyusu pada sisi yang terkena terlebih dahulu sampai sumbatannya hilang. Posisikan bayi dengan dagu menghadap ke daerah yang terkena ( kauadran ini akan kosong dengan baik). Diperlukan beberapa kali menyusui untuk mengosongkan duktus yang tersumbat D. Kelainan Sekresi ASI Terdapat banyak perbedaan dalam jumlah air susu ibu yang dikeluarkan dalam masa laktasi, dan lamanya masa laktasi. Hal ini tergantung dari pertumbuhan kelenjar- kelenjar susu. Jarang sekali air susu tidak atau hampir tidak keluar sama sekali (agaklatia). Kadang-kadang pengeluaran air susu berlimpah-limpah (poligalaktia). Apabila air susu keluar terus menerus dalam jumlah yang cukup banyak, walaupun bayi sudah disapih, hal itu dinamakan galaktorea. Pada sindrom Chairi-Fromme ditemukan galaktorea, bersama-sama dengan amenorea dan atrofi uterus. Keadaan ini mungkin disebabkan oleh gangguan system hipotalamo-hipofisis. E. Penghentian Laktasi Kadang-kadang timbul keperluan penghentian laktasi, misalnya pada ibu yang bayinya meninggal, atau apabila ibu mempunyai salah satu sebab dilarang untuk memberikan air susu ibu seperti ibu yang mengalami HIV positif dan hepatitis aktif. Penghentian laktasi dengan mengikat dada tanpa obat hormon menyebabkan rasa nyeri. pemberian estrogen umumnya dapat mengurangi keluhan itu. Suntikan intramuskuler estradiol valereat 10 mg atau pemberian peroral dietil stilbestrol 90 mg dibagi dalam satu minggu umumnya mencukupi. Pernah dikemukakan pula bahwa pemberian estrogen untuk menghentikan laktasi memberi predisposisi terjadinya tromboembolisme. Rangkuman Terdapat 3 jenis gangguan psikologi pada masa nifas yaitu postpartum blues, depresi postpartum dan postpartum psikosa. Post partum blues merupakan problem psikis sesudah melahirkan seperti kemunculan kecemasan, labilitas perasaan dan depresi pada ibu. Gejala baby blues antara lain: menangis, perubahan perasaan, cemas, kesepian, khawatir dengan bayinya, penurunan libido, kurang percaya diri. Depresi post partum adalah depresi berat yang terjadi 7 hari setelah melahirkan dan berlangsung 30 hari. Gejala konstan dan persisten akan menurunkan dan bisa sembuh dengan sendirinya setelah 30 hari berlangsung. Gejala yang menonjol pada depresi post partum adalah adanya trias depresi: berkurang energi, penurunan efek, hilang minat (anhedonia). Insiden psikosis postpartum sekitar 1-2 per 1000 kelahiran. Rekurensi dalam masa kehamilan 20- 30 persen. Gejala psikosis post partum muncul beberapa hari sampai 4-6 minggu post partum. Faktor penyebab psikosis post partum antara lain: riwayat keluarga penderita psikiatri, riwayat ibu menderita psikiatri dan masalah keluarga dan perkawinan. Infeksi nifas adalah semua peradangan yang disebabkan oleh kuman yang masuk ke dalam organ genital pada saat persalinan dan masa nifas. Infeksi nifas terjadi 1-3 %. Infeksi jalan lahir 25-55 % dari semua kasus infeksi. Penyebaran infeksi nifas pada perineum, vulva, vagina, serviks dan endometrium meliputi: vulvitis, vaginitis, servisitis, endometritis. Infeksi nifas yang penyebarannya melalui pembuluh darah: Septikemia, piemia, tromboflebitis. Infeksi nifas yang penyebaran melalui jalan limfe: peritonitis, parametritis (sellulitis pelvika), Infeksi nifas yang penyebaran melalui permukaan endometrium adalah salfingitis dan ooforitis.
  • 12.
    Modul Pendidikan JarakJauh Pendidikan Tinggi Kesehatan Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan 21 22 Evaluasi Formatif Untuk mengetahui seberapa jauh tingkat pemahaman anda terhadap materi yang baru saja anda pelajrari, sekarang jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut dengan memilih salah satu jawaban yang benar pada kertas tersendiri. 1. Problem psikis sesudah melahirkan seperti kemunculan kecemasan, labilitas perasaan dan depresi pada ibu, secara teori biasanya terjadi mulai minggu ke 4, hal tersebut merupakan gangguan psikologis masa nifas yang disebut…… a. Depresi postpartum b. Anhedonia c. Psikosa postpartum d. Postpartum blues e. Depresi intrapartum 2. Kurang dukungan dari orang terdekat seperti suami, keluarga dan adanya permasalahan dalam perkawinan, merupakan salah satu faktor penyebab depresi postpartum, dari faktor yang mana……. a. Faktor konstitusional b. Faktor fisik c. Faktor psikologis d. Faktor sosial e. Faktor lingkungan 3. Kuman penyebab infeksi nifas yang paling berat, bersifat eksogen, misalnya penggunaan alat yang tidak steril, jenis kuman tersebut adalah……. a. Staphylococcus Aerus b. Escheria Coli c. Streptococcus Haemolyticus Aerobic d. Clostridium Welchii e. Troponema palidum 4. Infeksi yang menyerang pada daerah pelvis, pada umum dapat menyebabkan kematian 33% dari seluruh kamatian karena infeksi, disebut infeksi……. a. Parametritis b. Tromboflebitis c. Servisitis d. Peritonitis e. Septicemia 5. Pengeluaran air susu berlimpah-limpah, disebut juga…… a. Poligalaktia b. Agaklatia c. Mastitis d. Moniliasis e. Obstructive duct 6. Seorang ibu sehabis melahirkan mengalami perasaan cemas, kadang-kadang menangis, khawatir dengan bayinya, kurang percaya diri, merupakan gejala-gejala dari postpartum blues, jika ibu mengalami hal seperti tersebut diatas, dibawah ini adalah penanganan yang sebaiknya Anda lakukan, kecuali……. a. Komunikasikan segala permasalahan atau hal lain yang ingin diungkapkan. b. Bersikap tulus ikhlas dalam menerima aktivitas dan peran baru setelah melahirkan. c. Ibu bisa menghadapi hal ini sendiri tanpa dukungan suami dan keluarga d. Kebutuhan istirahat yang cukup, tidurlah ketika bayi sedang tidur. e. Bicarakan rasa cemas yang dialami. 7. Seorang ibu postpartum mempunyai riwayat kehamilan dengan mual muntah yang hebat, dan terjadi komplikasi pada saat persalinan berupa perdarahan yang hampir mengancam jiwanya, ibu merasa cemas mengingat kejadian yang telah dialaminya sehingga menimbulkan depresi postpartum. Penyebab depresi postpartum tersebut dikarenakan faktor…… a. Faktor konstitusional b. Faktor fisik c. Faktor psikologis d. Faktor sosial e. Faktor fisik dan psikis 8. Infeksi nifas dapat disebabkan oleh masuknya kuman ke dalam organ kandungan maupun kuman dari luar yang sering menyebabkan infeksi. Berdasarkan masuknya kuman ke dalam organ kandungan, jika kuman yang ada berasal dari jalan lahir sendiri disebut…… a. Ektogen b. Autogen c. Endogen d. Eksogen e. Heterogen
  • 13.
    Modul Pendidikan JarakJauh Pendidikan Tinggi Kesehatan Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan 23 24 9. Infeksi nifas dapat disebabkan oleh berbagai macam kuman, menyerang berbagai macam tempat, jika tempat infeksi yang diserangnya perineum, vulva dan endometrium dan dapat menyebabkan infeksi traktus urinarius, jenis kuman yang menyebabkan infeksi yaitu…… a. Streptococcus Haemolyticus Aerobic b. Staphylococcus Aerus c. Escheria Coli d. Clostridium Welchii e. Clostridium tetani 10. Seorang ibu yang sedang menyusui, datang ke klinik Anda dengan keluhan terdapat penggumpalan nanah local didalam payudara, ibu tersebut sedang mengalami…… a. Pembengkakan kelenjar mamae b. Nyeri payudara c. Bendungan ASI d. Mastitis e. Infeksi puting susu c. Battledore. d. Mitleschmertz TUGAS MANDIRI Setelah mempelajari materi Kegiatan Belajar 2 saya ajak Anda untuk berlatih, menghubungkan konsep teori yang telah Anda pelajari tersebut dengan situasi nyata di lapangan. Lakukanlah tugas berikut dengan sebaik-baiknya: TUGAS: Seorang ibu postpartum sering menangis, merasa tidak mampu untuk merawat bayinya datang kepada Anda, setelah Anda mengidentifikasi gejala-gejala yang ada pada ibu tersebut Anda mendiagnosa bahwa ibu tersebut mengalami post- partum blues, maka tindakan apa yang harus Anda lakukan pada ibu tersebut. Jawaban: Tuliskan apa yang anda ketahui
  • 14.
    Modul Pendidikan JarakJauh Pendidikan Tinggi Kesehatan 25 Hak Cipta Kementrian Republik Indonesia Bekerjasama Dengan Australia Indonesia for Health System Strengthening (AIPHSS) 2015 Kunci Jawaban Tes Formatif Kegiatan Belajar 2 1. D 2. D 3. C 4. D 5. A 6. C 7. A 8. C 9. C 10. D