Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan
1
ASUHAN KEBIDANAN PADA
KEHAMILAN DENGAN PENYULIT
DAN KOMPLIKASI
MODUL
Pusat Pendidikan dan Pelatihan Tenaga Kesehatan
Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia
Jakarta 2015
Seni Rahayu Sunarya,Diyan
Indrayani
Australia Indonesia Partnership for
Health System Strengthening
(AIPHSS)
SEMESTER 7
Praktik Kebidanan III
Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan
i
	 Puji dan syukur penulis panjatkan
kepada Allah SWT atas rahmat dan karunia-
Nya sehingga dapat menyelesaikan Modul
Asuhan Kebidanan kehamilan dengan
penyulit dan komplikasi sebagai Pedoman
Praktik Kebidanan III bagi mahasiswa
semester V Program Pendidikan Jarak Jauh
DIII Kebidanan .
	 Penyusunan modul ini diharapkan
dapat membantu mahasiswa dalam
melaksanakanPraktikKebidananIIIsehingga
dapat mencapai tujuan pembelajaran dan
kompetensi Asuhan Kebidanan kehamilan
dengan penyulit dan komplikasi secara
efektif dan efisien. Diharapkan setelah
menyelesaikan Praktik Kebidanan III ini
mahasiswa dapat memberikan pelayanan
asuhan kebidanan tidak hanya bagi ibu
dengan kondisi normal maupun ibusecara
mandiri dan memuaskan bagi ibu maupun
bayinya beserta keluarga dan masyarakat.
Penyusun menyadari bahwa pedoman
Praktik Kebidanan III bagi mahasiswa
program jarak jauh DIII kebidanan ini
masih jauh dari sempurna. Oleh karena
itu, penyusun mengharapkan saran dan
kritik yang membangun dari semua pihak,
sehingga bisa memberikan manfaat bagi
mahasiswa dalam proses belajar di klinik.
Kata
Pengantar
Tim Penyusun
Gambar : Praktek Keperawatan Kejiwaan
ii
Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan
Daftar Isi
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Daftar Isi										i
Daftar Istilah									ii
Kegiatan Belajar 1
Asuhan kebidanan pada perdarahan hamil muda			 5
Kegiatan Belajar 2
Asuhan kebidanan ibu hamil dengan anemia				 26
Kegiatan Belajar 3
Asuhan Kebidanan pada Perdarahan Kehamilan Lanjutan		 45
Kegiatan Belajar 4
Asuhan pada Ibu Hamil Dengan Preeklamsi/Eklamsi 			 58
Kegiatan Belajar 5
Asuhan pada Ibu Hamil Dengan Infeksi Malaria				 75
Kegiatan Belajar 6
Asuhan pada Ibu Hamil Dengan HIV/AIDS				 90
Evaluasi Akhir									108
Lampiran										110
Daftar Gambar									134
Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan
iii
Daftar Istilah
ISTILAH KETERANGAN
Antenatal Masa kehamilan
BPM Bidan Praktik Mandiri
DJJ Denyut Jantung Janin
Hb Haemoglobin
Abortus
Pengeluaran hasil konsepsi pada usia kehamilan kurang dari 20
minggu atau berat janin kurang dari 500 gram
Kehamilan Ektopik Kehamilan di luar rahim
Mola Hydatidosa Kehamilan anggur
Abortus Imminens Abortus terancam Dapat dipertahankan
Abortus Komplit Abortus dengan pengeluaran seluruh hasil konsepsi
Abortus Insipiens Abostur sedang berlangsung
Abortus Inkomplit Abostur dengan pengeluaran sebagian hasil konsepsi
Anemia Kurangnya haemoglobin darah
PAP Pintu Atas Panggul
Plasenta Previa
plasenta yang implantasinya tidak normal yaitu rendah sekali
sehingga menutupi seluruh atau sebagian jalan lahir (ostium
internum)
Solusio Plasenta
terlepasnya plasenta yang letaknya normal pada korpus uteri yang
terlepas dari perlekatannya sebelum janin lahir
Preeklamsia
Penyakit dengan tanda – tanda hipertensi, edema, dan protein uria
yang timbul karena kehamilan
HIV/AIDS
Kondisi hilangnya kekebalan tubuh sehingga memberi kesempatan
berkembangnya berbagai bentuk infeksi dan keganasan
BPM Bidan Praktik mandiri
VCT Voluntary Counseling and Testing
ARV Anti Retro Viral (obat-obatan anti virus HIV)
iv
Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan
ODHA Orang dengan HIV/AIDS
PITC Provider Initiatif Test and Counseling
PMTCT Prevention Mother To Child Transmition
Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan
1
	 Rekan mahasiswa, Selamat berjumpa pada mata kuliah Praktik Kebidanan III. Modul ini
merupakan modul 3 dari 16 modul yang harus Saudara selesaikan. Modul yang Saudara baca
saat ini membahas tentang asuhan kebidanan pada kehamilan dengan penyulit dan komplikasi.
	 Setelah mempelajari modul ini, Saudara diharapkan mampu memberikan asuhan berupa
deteksi dini, melakukan penatalaksanaan awal dan melakukan kolaborasi serta rujukan pada
ibu hamil yang mengalami komplikasi atau kegawatdaruratan. Untuk mencapai tujuan tersebut
secara khusus saudara diharapkan dapat: (1) melakukan asuhan pada ibu perdarahan hamil
muda, (2) melakukan asuhan antenatal pada ibu hamil dengan anemia,(3) melakukan asuhan
pada ibu hamil dengan preeklamsi/ eklamsi, (4) melakukan asuhan pada ibu dengan perdarahan
hamil lanjut, (5) melakukan asuhan pada ibu hamil dengan infeksi malaria, (6) melakukan asuhan
pada ibu hamil dengan HIV/AIDS
	 Kasus-kasus tersebut diatas merupakan kasus yang paling sering dialami oleh ibu hamil,
oleh karena itu materi ini penting untuk saudara kuasai agar mampu mengelola kasus dengan
tepat sehingga angka kesakitan dan kematian ibu dan bayi dapat dicegah sejak dini.
Modul ini dibagi menjadi 6 kegiatan belajar (KB), yaitu:
KB 1 Asuhan pada ibu perdarahan hamil muda
KB 2 Asuhan antenatal pada ibu hamil dengan anemia
KB 3 Asuhan pada ibu hamil dengan preeklamsi/ eklamsi
KB 4 Asuhan pada ibu dengan perdarahan hamil lanjut
Pendahuluan
Gambar : Memeriksa tensi
Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan
2
KB 5 Asuhan pada ibu hamil dengan infeksi malaria
KB 6 Asuhan pada ibu hamil dengan HIV/AIDS
	 Untuk mempelajari modul ini, ada beberapa prasyarat yang perlu saudara penuhi yaitu telah
lulus Praktik Kebidanan I dan Praktik Kebidanan II.
Sebelum saudara melakukan praktik kebidanan III pelajari kembali materi – materi pada mata
kuliah askeb I,askeb IV, PK I dan II. Keberhasilan proses pembelajaran sangat tergantung pada
kesungguhan saudara dalam mengerjakan praktikum. Seringlah Berlatih secara mandiri atau
berkelompok dengan teman sejawat. Jika menemukan kesulitan silakan menghubungi tutor
atau instruktur saudara.
Tempat Praktik : Rumah Bersalin, Puskesmas dengan rawat inap dan Rumah Sakit
Pada praktik klinik ini jumlah SKS yang ditempuh adalah 8 SKS, dimana 1 SKS setara dengan 64
jam, jadi 8 SKS menjadi 512 jam. Jika saudara praktik di lapangan 7 jam per hari, maka waktu
yang dibutuhkan untuk praktik PK III adalah : 74 hari (2,5 bulan).
Jadwal pelaksanaan praktik klinik ini dilakukan bersamaan dengan pencapaian target PKK III
yang lain, diantaranya asuhan antenatal, Asuhan intranatal, asuhan nifas, asuhan neonatus,
asuhan kebidanan Keluarga berencana, dan kegawatan maternal neonatal.
Pembimbing Praktik:
Saudara selama di lahan praktik akan dibimbing oleh pembimbing klinik (Clinical Instructur)
dan pembimbing institusi saudara.
Pembimbing klinik ditunjuk dan ditetapkan oleh atasan tempat saudara melakukan praktik,
dengan latar belakang pendidikan minimal DIII Kebidanan dan berpengalaman di klinik minimal
2 tahun sedangkan pembimbing institusi adalah pembimbing yang mendapatkan tugas dari
pimpinan institusi tersebut.
Petunjuk Belajar
Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan
3
Teknis Bimbingan:
	 Pada awal praktik yang saudara akan melakukan pertemuan dengan pembimbing klinik
(preconference) pada pertemuan tersebut akan membahas kontrak belajar, persamaan persepsi
mengenai kontrak belajar. Dan selanjutnya saudara akan mendapatkan bimbingan klinik.
Setelah saudara melakukan praktik akan dilakukan pertemuan kembali (postconference) yang
akan membahas mengenai praktik yang telah saudara lakukan, pemberian umpan balik untuk
perbaikan praktik klinik berikutnya.
	 Pada praktik Kebidanan III ini saudara diharapkan sudah mampu melakukan asuhan antenatal
dengan penyulit dan komplikasi secara mandiri, bila Saudara menemukan kesulitan saat
memberikan asuhan kepada klien saudara dapat berkonsultasi dengan Pembimbing praktik.
	 Pembimbing institusi akan memantau pencapaian kompetensi saudara, melalui supervisi
secara berkala ataupun saudara mengirimkan laporan portofolio dalam bentuk laporan asuhan
kebidanan melalui media elektronik maupun dikirim melalui post surat, sehingga pembimbing
institusi dapat memonitor pencapaian target kompetensi praktik klinik yang saudara buat.
Penilaian:
Penilaian mata kuliah Praktek Kebidanan III meliputi:
Ujian Praktik			 : 50%
Nilai praktik Harian 		 : 30%
Laporan/Dokumentasi 		 : 20%
Jumlah kompetensi yang harus dicapai pada saat PK III adalah 40% dari keseluruhan praktik (PK
I,II dan III) jumlah ini dapat bertambah apabila jumlah target PKK II belum tercapai.
Tata Tertib.
Selama saudara menjalankan praktik klinik kebidanan ini, wajib mentaati tata tertib yang
ada, antara lain:
1.	 Saudara wajib mentaati peraturan yang berlaku di lahan praktik.
2.	 Kehadiran saudara harus sesuai jadwal yang ditetapkan pembimbing klinik
3.	 Kehadiran praktik 100%, bila tidak hadir wajib mengganti praktik pada kesempatan lain
Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan
4
selama periode praktik di tempat yang sama dengan persetujuan pembimbing prodi dan
lahan praktik. Penggantian praktik dibuktikan dengan Surat Pernyataan
4.	 Setiap saudara datang ke tempat praktik wajib menandatangani daftar hadir.
5.	 Bila saudara ada halangan tidak bisa hadir pada praktik klinik ini, maka saudara harus
meminta ijin kepada pembimbing klinik saudara. Bila sakit harus ada surat keterangan
dokter, bila ijin kepentingan lain harus melapor terlebih dulu pada penanggung jawab
praktik.
6.	 Saudara wajib mengganti waktu praktik sepanjang yang ditinggalkan, apabila meninggalkan
praktik tanpa keterangan maka harus mengganti dua kali lipat dari waktu yangn ditinggalkan
7.	 Bila saudara, ditengah-tengah praktik meninggalkan tempat tanpa ijin, maka dianggap
tidak hadir.Baiklah rekan mahasiswa, selamat belajar, semoga Saudara sukses memahami
dan mempraktikkan modul ini sebagai bekal bertugas sebagai bidan di daerah.
Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan
5
Setelah menyelesaikan kegiatan belajar ini, Saudara diharapkan mampu untuk melakukan
asuhan pada ibu dengan perdarahan hamil muda.
Secara khusus saudara diharapkan dapat:
1.	 Melakukan penilaian secara sistematis dan lengkap,
2.	 melakukan penegakan diagnosis,
3.	 Mengklasifikasikan jenis perdarahan hamil muda,
4.	 Mengantisipasi diagnosis potensial dari perdarahan hamil muda,
5.	 Membuat rencana asuhan pada ibu dengan perdarahan hamil muda,
6.	 Melaksanakan asuhan dan melakukan evaluasi terhadap asuhan yang telah diberikan.
Pokok materi yang akan dibahas pada kegiatan belajar ini adalah:
1.	 Pengertian perdarahan hamil muda
2.	 Diagnosis perdarahan hamil muda
3.	 Penanganan perdarahan hamil muda
4.	 Prosedur melakukan digital
5.	 Prosedur penanganan syok
6.	 Prosedur persiapan kuretase
Kegiatan
Belajar 1 Asuhan pada Ibu dengan Perdarahan
Hamil Muda
Tujuan Umum
Tujuan Khusus
Pokok Materi
Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan
6
	 Pada waktu yang lalu, saudara telah mempelajari modul teori tentang asuhan kehamilan
dengan penyulit/komplikasi dan mempraktikannya dalam praktik PK II. Kini saudara dapat
mempraktikkannya kembali dalam PK III. Pada PK III ini, Saudara diharapkan dapat mempraktikkan
dengan lebih baik dan kompeten tentang bagaimana melakukan penilaian secara sistematis
dan lengkap, membuat diagnosa, memberikan asuhan sesuai dengan kebutuhan ibu dan
mendokumentasikannya.
NGBaiklah, sebelum saudara mulai melakukan asuhan pada ibu dengan perdarahan hamil
muda mari kita tinjau kembali kajian teori, hal ini akan mengingatkan saudara apa saja yang
harus dipahami bidan saat memberikan asuhan pada kehamilan trimester I yang mengalami
perdarahan.
Apakah saudara masih ingat apakah yang dimaksud dengan perdarahan pada kehamilan muda?
Apa saja yang termasuk perdarahan pada kehamilan muda perdarahan pada kehamilan muda
dan Kapan itu terjadi? Tuliskan pada kotak di bawah ini:
Uraian
Materi
Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan
7
Bagaimana apakah sudah selesai, jika sudah, coba sekarang cocokkan jawaban Saudara dengan
uraian berikut:
1.	Pengertian
Perdarahan pada kehamilan muda adalah perdarahan pervaginam pada kehamilan kurang
dari 22 minggu. Ketika terjadi hal tersebut saudara harus memikirkan kemungkinan diagnosis
apakah perdarahan terjadi karena abortus, kehamilan ektopik atau mola hydatidosa.
Coba saudara bandingkan perbedaan pengertian antara abortus, kehamilan ektopik dan
mola hydatidosa berikut ini :
•	 Abortus merupakan pengeluaran hasil konsepsi pada usia kehamilan kurang dari 20
minggu atau berat janin kurang dari 500 gram.
•	 Kehamilan ektopik merupakan kehamilan yang pertumbuhan sel telur yang telah dibuahi
tidak menempel pada dinding endometrium kavum uteri.
•	 Mola hydatidosa merupakan suatu kehamilan yang berkembang tidak wajar, tidak
ditemukan janin dan hampir seluruh villi korialis mengalami degenerasi hidropik.
	Rekan mahasiswa, seorang bidan harus bisa mendeteksi secara dini kemungkinan kejadian
kasus-kasus tersebut. Bidan harus bisa mengenali tanda gejala perdarahan hamil muda serta
mampu melakukan pemeriksaan fisik yang tepat sehingga diagnosis perdarahan hamil muda
dapat ditegakan secara tepat. Berikut adalah dasar bagaimana kita melakukan diagnosis
pada perdarahan hamil muda.
Gambar : Mempelajari dengan seksama
Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan
8
2.	Diagnosis
Untuk memudahkan saudara membedakan jenis-jenis perdarahan pada kehamilan muda
maka pelajarilah tabel berikut ini:
Diagnosis perdarahan pada kehamilan muda
Perdarahan
Keadaan
serviks
Uterus Gejala/tsaudara Diagnosis
Bercak
hingga
sedang
Tertutup
Sesuai dengan
usia kehamilan
•	 Kram perut bawah
Uterus lunak
Abortus
imminens
Sedikit
membesar dari
normal
•	 Pingsan
•	 Nyeri perut bawah
•	 Nyeri goyang porsio
•	 Ada massa adneksa
•	 Terdapat
cairan bebas
intraabdomen
Kehamilan
ektopik
terganggu
Tertutup atau
terbuka
Lebih kecil dari
usia gestasi
•	 Sedikit nyeri atau
tanpa nyeri perut
bawah
•	 Riwayat ada
pengeluaran hasil
konsepsi
Abortus
komplit
Sedang
hingga
banyak
Terbuka
Sesuai usia
kehamilan
•	 Kram/nyeri perut
bawah
•	 Belum ada
pengeluaran hasil
konsepsi
Abortus
insipiens
•	 Kram/nyeri perut
bawah
•	 ada pengeluaran
sebagian hasil
konsepsi
Abortus
inkomplit
Terbuka
Lunak dan lebih
besar dari usia
kehamilan
•	 mual muntah
•	 kram perut bawah
•	 keluar jaringan
seperti anggur
Abortus
Mola
hydatidosa
Diagnosis yang tepat akan mempengaruhi terhadap penanganan yang tepat pula. Bidan
harus memikirkan kemungkinan diagnosis potensial dan antisipasinya.
	 Perdarahan hamil muda jika tidak ditangani secara cepat dan tepat potensial terjadi syok
Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan
9
hipovolemik bahkan syok septik jika sisa hasil konsepsi lama tidak dikeluarkan. Bidan harus
mampu melakukan penanganan segera pada kasus tersebut yaitu:
1.	 lakukan penilaian cepat mengenai keadaan umum ibu, termasuk tanda-tanda vital (Nadi,
Tekanan Darah, Respirasi, suhu) dan jumlah perdarahan
2.	 Periksa tanda-tanda syok (pucat, berkeringat banyak, pingsan, nadi > 112 x/menit, tekanan
sistolik < 90 mmHg)
3.	 Jika syok, segera mulai penanganan syok
3.	Penanganan
Berikut adalah tabel penangan perdarahan pada hamil muda sesuai dengan dignosisnya:
Diagnosis Penanganan
Abortus
imminens
•	 Tidak perlu bed rest
•	 Hindari aktivitas fisik yang berlebihan
•	 Hindari hubungan seksual
•	 Jika perdarahan berhenti, ANC seperti biasa
•	 Jika perdarahan terus berlangsung: nilai kondisi janin/
USG lakukan konfirmasi kemungkinan penyebab
Kehamilan
ektopik
terganggu
•	 Jika fasilitas memungkinkan segera lakukan uji silang
darah dan laparatomi
•	 Jika tidak memungkinkan segera rujuk ke RS yang lebih
lengkap
•	 Konseling mengenai prognosis kesuburan
•	 Perbaiki anemia dengan dengan sulfas ferrosus 600 mg/
hari per oral selama 2 minggu
Abortus
komplit
•	 Tidak perlu evakuasi lagi
•	 Observasi untuk melihat adanya perdarahan banyak
•	 Pastikan untuk tetap memantau kondisi ibu setelah
penanganan
•	 Apabila terdapat anemia sedang berikan tablet sulfas
ferosus 600 mg/hari selama 2 minggu, jika anemia berat
berikan tranfusi darah
•	 Konseling asuhan pasca keguguran dan pemantauan
lanjut
Abortus
insipiens
•	 Jika usia kehamilan < 16 minggu, lakukan evakuasi uterus
dengan aspirasi vakum manual (AVM). Jika evakuasi tidak
dapat segera dilakukan:
•	 Berikan ergometrin 0,2 mg IM (dapat diulang sesudah 15
menit jika perlu) atau misoprostol 400 mcg per oral
Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan
10
400 mcg per oral (dapat diulang sesudah 4 jam ) jika perlu:
•	 Segera lakukan persiapan untuk pengeluaran hasilkonsepsi
dari uterus
•	 Jika usia kehamilan > 16 minggu
•	 Pastikan untuk tetap memantau kondisi ibu setelah
penanganan
Abortus
inkomplit
•	 Jika perdarahan tidak banyak, usia kehamilan < 16
minggu maka evakuasi dapat dilakukan secara digital atau
dengan cunam ovum untuk mengeluarkan hasil konsepsi
yang keluar melalui serviks. Jika perdarahan berhenti beri
ergometrin 0,2 mg IM/ misoprostol 400 mcg per oral
•	 Jika perdarahan banyak/terus berlangsung, usia < 16
minggu,maka evakuasi sisa hasil konsepsi dengan:
•	 Aspirasi vakum manual (AVM) merupakan metode evakuasi
yang terpilih.evakuasi dengan kuret tajam sebaiknya hanya
•	 dilakukan jika aspirasi vakum manual tidak tersedia
•	 Jika evakuasi belum dapat segera, dilakukan, beri ergometrin
0,2 mg IM (diulangi setelah 15 menit jika perlu) atau
misoprostol 400 mcg per oral (dapat diulangi setelah 4
jam jika perlu)
•	 Jika kehamilan > 16 minggu:
•	 Berikan infus oksitosin 20 unit dalam 500 ml cairan RL/NaCl
dengan kecepatan 40 tetes/menit sampai terjadi ekspulsi
hasil konsepsi
•	 Jika perlu berikan misoprostol 200 mcg pervaginam setiap
4 jam sampai terjadi ekpulsi hasil konsepsi
•	 Evakuasi sisa hasil konsepsi yang tertinggal dalam uterus
•	 Pastikan untuk tetap memantau kondisi ibu setelah
penanganan
Abortus Mola
hydatidosa
Penanganan Awal:
•	 Jika diagnosis kehamilan mola telah ditegakkan, lakukan
evakuasi uterus:
•	 Jika dibutuhkan dilatasi serviks, gunakan blok para servikal
•	 Pengosongan dengan aspirasi vakum manual lebih aman
dari kuretase tajam. Risiko perforasi dengan menggunakan
kuret tajam cukup tinggi
•	 Isi uterus harus secara cepat dikosongkan
•	 Segera lakukan evakuasi jaringan mola dan sementara
proses evakuasi berlangsung berikan infus 10 IU oksitosin
dalam 500 ml cairan IV RL/NaCl dengan kecepatan 40-60
tetes per menit (sebagian tindakan preventif terhadap
perdarahan hebat dan efektivitas kontraksi terhadap
pengosongan uterus secara cepat)
Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan
11
Penanganan selanjutnya:
•	 Pasien dianjurkan untuk menggunakan kontrasepsi
hormonal jika berencana hamil kembali atau tubektomi
jika ingin menghentikan fertilitas.
•	 Lakukan pemantauan setiap 8 minggu selama minimal 1
tahun pascaevakuasi dengan menggunakan tes kehamilan
dengan urin karena danya risiko timbulnya penyakit
trofoblast yang menetap atau khoriokarsinoma. Jika tes
kehamilan dengan urine tidak negatif setelah 8 minggu atau
menjadi positif kembali dalam satu tahun pertama rujuk
ke RS untuk pemantauan dan penanganan lebih lanjut.
Kini saudara telah mengingat kembali perdarahan hamil muda dan bagaimana penanganannya.
Bidan berwenang dalam menangani kegawatdaruratan karena perdarahan hamil muda,
pada kasus abortus incomplet dengan perdarahan banyak bidan dapat segera melakukan
pengeluaran hasil konsepsi dengan cara digital, tentunya harus memenuhi persyaratan digital
(ostium uteri internum dapat dilalui minimal satu jari). Pada kasus syok, bidan harus segera
melakukan pertolongan pertama pasien syok. Kini kita melangkah pada kegiatan berikutnya
yaitu praktik pengeluaran sisa hasil konsepsi dengan digital.
Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan
12
DAFTAR TILIK
PENGELUARAN SISA HASIL KONSEPSI DENGAN DIGITAL
Nilailah setiap kinerja yang diamati menggunakan skala sbb :
1 : Bila asuhan dilakukan
0 : Bila asuhan tidak dilakukan
SKILL
ASPEK YANG DINILAI
KASUS
1 2 3 4 5 6
1
Memastikan diagnosa klien dengan abortus
inkomplit (pada usia kehamilan antara 8-12
minggu)
2
Memberikan penjelasan tentang tujuan
tindakan yang akan dilakukan pada klien dan
atau keluarga.
3
Memberikan penjelasan tentang prosedur
tindakan yang akan dilakukan pada klien dan
atau keluarga.
4
Menjelaskan kemungkinan komplikasi/risiko
tindakan pada pasien dan keluarga.
5
Meminta persetujuan tindakan pada pasien
atau keluarga
6
•	 Mempersiapkan alat-alat dan obat secara
ergonomis
•	 Bak instrument berisi:
•	 Handschoon steril 1 pasang
•	 Kassa steril
•	 Kom berisi betadin
•	 Spuit 3 cc + nald 1 buah
•	 Oksitosin 10 IU 1 ampul
•	 Bengkok 1 buah
•	 Perlak dan alasnya 1 buah
•	 APD: schort, sepatu boot, masker, dan
kaca mata
•	 Waskom berisi larutan klorin 0,5%
•	 Wadah sampah tajam 1 buah
•	 Wadah sampah basah 1 buah
•	 Wadah sampah kering 1 buah
7
Meminta pasien untuk BAK/mengosongkan
kandung kemih
Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan
13
8
Memposisikan pasien dalam posisi dorsal
recumbent atau litotomi pada meja ginekologi
9 Memasang alas bokong
10
Memakai alat perlindungan diri: schort,
sepatu boot, masker dan kaca mata
11 Mencuci tangan sesuai prosedur
12 Memakai sarung tangan steril/DTT
13
Memasukkan tangan kanan secara obstetrik
ke dalam vagina
14
Memfiksasi uterus dari luar dengan tangan
kiri
15
Memasukkan jari tengah ke kavum uteri
(apabila pembukaan cukup besar, masukkan
dua jari)
16
Mengikis sisa hasil konsepsi secara hati-hati
sampai dinding uterus terasa licin
17
Mengeluarkan sisa hasil konsepsi dari dalam
rahim secara perlahan
18
Memastikan perdarahan berhenti dan
kontraksi uterus baik
19
Membersihkan vagina dan vulva dari sisa
darah dengan kassa DTT
20
Membersihkan sarung tangan dalam larutan
klorin 0,5%
21
Memberikan suntikan oksitosin 10 IU secara
IM
22 Membersihkan tempat tidur
23 Merapikan pasien
24
Melepaskan sarung tangan secara terbalik
dalam larutan klorin 0,5%
25 Mencuci tangan sesuai prosedur
26
Menjelaskan hasil tindakan pada pasien dan
keluarga
27 Mendokumentasikan hasil asuhan
Perdarahan hamil muda jika tidak ditangani secara cepat dan tepat potensial terjadi syok
hipovolemik bahkan syok septik jika sisa hasil konsepsi lama tidak dikeluarkan. Bidan harus
mampu melakukan penanganan segera pada kasus tersebut. Berikut adalah daftar tilik
penanganan syok, pelajari dengan seksama.
Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan
14
DAFTAR TILIK
PENANGANAN SYOK
Nilailah setiap kinerja yang diamati menggunakan skala sbb :
1 Bila asuhan dilakukan
0 Bila asuhan tidak dilakukan
SKILL ASPEK YANG DINILAI
KASUS
1 2 3 4 5 6
Persiapan alat
1 Selimut
2 Oksigen dan regulator
3 Ambu bag
4
Bantal minimal 3 buah untuk meninggikan posisi
kaki
5 Jam tangan
6 Infus set atau treansfusion set
7 Abocath no 16 – 18
8 Cairan RL atau NaCL minimal 6 labu
9 Polycatheter beserta urin bag
10
Memberikan penjelasan kepada keluarga bahwa
kondisi pasien dalam keadaan gawat dan harus
dilakukan tindakan medis segera
11
Meminta persetujuan tindakan dan kerja sama
dari keluarga pasien
12
Memberikan dukungan emosional dan
ketenangan hati pada pasien dan keluarga
Tindakan Umum
13
Memobilisasi personil/petugas yang ada untuk
segera menolong pasien
14 Memeriksa tsaudara vital segera : nadi ibu
15
Menjaga kondisi badan pasien tetap hangat
dengan menyelimuti dan memperhatikan suhu
ruangan
16
Memiringkan kepala pasien dan badannya ke
samping
17
Membebaskan jalan napas dengan cara
memastikan jalan napas tidak tersumbat dan
tidak memberikam minuman per oral
18
Menaikkan kaki pasien lebih tinggi dari pada
kepala, kecuali pada kondisi pasien sesak napas.
Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan
15
Tindakan Khusus
20
Memberikan oksigen dalam kecepatan 6-8 liter/
menit
21
Melakukan pemasangan infus cairan RL/Na Cl
0,9% sesuai prosedur*
Apabila memungkinkan pasang infus 2 jalur (kiri
dan kanan)
22
Mengambil darah setelah abocath terpasang
untuk pemeriksaan laboratorium apabila
memungkinkan
23
Memberikan cairan infus secara cepat sebanyak
1 liter dalam waktu 15 – 20 menit (infus diguyur).
Pada syok hipovolemik pada umumnya
dibutuhkan 3 liter cairan untuk menstabilkan
kondisi pasien.
24
Memantau kembali kondisi pasien dalam waktu
20-30 menit setelah pemberian cairan apakah
stabil, meliputi:
25
Memeriksa tekanan darah, mulai naik, sistolik
100 mmHg
26
Memeriksa denyut nadi, stabil ((90x/menit atau
kurang)
27
Memperhatikan kondisi mental, membaik
(ketakutan/kebingungan berkurang)
28
Memeriksa produksi urin, urin bertambah
(minimal 30 ml/jam atau 100 ml/4 jam) dengan
melakukan kateterisasi* atau apabila tidak
memungkinkan urin ditampung.
29
Mempersiapkan donor darah untuk transfusi
darah apabila diketahui Hb pasien < 8 gr %.
Apabila kondisi pasien stabil/membaik:
30
Mempertahankan pemberian cairan infus dalam
kecepatan 1 liter per 6-8 jam (40-50 tts/menit)
31 Melakukan penanganan penyebab syok
32
Melakukan rujukan ke RS dengan fasilitas yang
memadai apabila penyebab syok tidak dapat
ditangani di tempat.
Apabila kondisi pasien belum stabil dalam 20-30 menit:
33 Mempertahankan oksigen 6-8 liter/menit
34
Meneruskan pemberian cairan infus dengan
kecepatan 1 liter dalam 15-20 menit
35
Memantau terus menerus kondisi pasien:
terutama produksi urin dan tanda-tanda vital)
36
Merujuk pasien ke RS dengan fasilitas yang
memadai
Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan
16
Pada penanganan perdarahan hamil muda di beberapa kasus memerlukan tindakan kuretase.
Sebagai seorang bidan yang bekerja di pelayanan sekunder (Rumah Sakit) tentu harus mampu
menyiapkan persiapan kuretasi. Berikut adalah daftar tilik persiapan kuretase.
DAFTAR TILIK
PERSIAPAN KURETASE
Nilailah setiap kinerja yang diamati menggunakan skala sbb :
1 Bila asuhan dilakukan
0 Bila asuhan tidak dilakukan
SKILL ASPEK YANG DINILAI
KASUS
1 2 3 4 5 6
Persiapan alat-alat (instrumen kuretase) dan bahan
(dipersiapkan secara ergonomis sesuai dengan urutan pemakaian)
1
Memakai sarung tangan steril/DTT atau
korentang untuk menyusun alat/bahan steril/DTT
2
Baki atau troly yang bersih dan kering
dipersiapkan
3
Membentangkan alas/duk steril/DTT di atas baki/
troly
4
Meletakkan alat dan bahan steril/DTT di atas baki/
troly yang diberi alas steril secara ergonomis,
meliputi:
5 1 pasang sarung spekulum sim dan L
6 1 buah cunam tampon/tampon tang
7 1 buah sonde uterus
8 1 buah tenakulum
9 1 buah fenster klem atau klem ovum
10 1 set busi/dilatator (berbagai ukuran)
11 1 set sendok kuret (berbagai usuran)
12 1 buah cunam abortus/abortus tang
13 1 buah kateter nelaton/karet
14 1 buah kom kecil
15 Kasa steril/DTT secukupnya
16 Deepers secukupnya
17 Sarung tangan 2 pasang
18 Menutup alat-alat dengan duk steril
19
Membuka sarung tangan/menyimpan korentang
pada tempatnya
Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan
17
20 Persiapan obat, cairan dan perlengkapan lain
21
Menyiapkan obat/cairan dan perlengkapan lain,
meliputi:
22 1 buah infus set
23 Cairan infus RL atau NaCl 0,9%
24 Spuit 5 cc 2 buah
25 Spuit 3 cc 1 buah
26 Kapas suntik DTT dalam tempatnya
27 Larutan antiseptik (Povidon iodin 10%)
28
Analgetik (Petidin atau tramadol 1-2 mg/kg BB
atau ketamin HCl 0,5 mg/kg BB)
29 Sedativa (diazepam 10 mg)
30 Sulfas atropin 0,25 – 0,5 mg/ml
31
Uterotonika (oksitosin 10 IU/ml, ergometrin 0,2
mg/ml)
32 1 buah Oksigen dan regulator
33 1 buah tensimeter
34 1 buah stetoskop
35 1 buah bengkok
36
1 buah mangkok logam/botol penampung
jaringan
37 2 set APD: schort, sarung kaki, masker, kaca mata
38 1 buah waskom berisi larutan klorin 0,5%
39 1 buah waskom berisi air DTT
40 1 buah wadah sampah tajam
41 1 buah wadah sampah basah
42 1 buah wadah sampah kering
43 1 buah tiang infuse
44 2 buah waslap
45 Perlengkapan pasien (pakaian ganti)
Persiapan Lingkungan
46 Memasang tirai penutup/skrem
47 Menyiapkan lampu sorot
Persiapan Pasien
48
Memberikan penjelasan tentang tujuan tindakan
yang akan dilakukan pada klien dan atau
keluarga.
49
Memberikan penjelasan tentang prosedur
tindakan yang akan dilakukan pada klien dan atau
keluarga.
Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan
18
50
Menjelaskan kemungkinan komplikasi/risiko
tindakan pada pasien dan keluarga.
51
Meminta persetujuan tindakan pada pasien atau
keluarga
52
Melakukan pemeriksaan umum : tanda-tanda
vital
53
Menganjurkan pasien untuk mengosongkan
kandung kemih
54 Memasang infus sebagai upaya profilaktif
55
Mempersiapkan pasien dalam posisi litotomi di
meja ginekologi
56 Memasang alas bokong
57
Membersihkan daerah perut bawah dan lipat
paha
58 Memasasang oksigen 4-6 liter/menit
Persiapan penolong dan asisten
59 Memakai APD
60 Cuci tangan
61 Memakai sarung tangan
Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan
19
	 Nah, sekarang saudara sudah paham betul bagaimana asuhan pada klien dengan perdarahan
hamil muda bukan? Kami harap saudara sering berlatih dalam menangani kasus perdarahan hamil
muda terutama saat melakukan praktek di Rumah sakit. Namun bila masih terdapat asuhan
yang belum dilakukan coba mencari kasus kembali dan berlatihlah lagi dengan menggunakan
learning guide di atas
	 Untuk lebih memperdalam materi mengenai asuhan pada perdarahan hamil muda, saat PKK III
ini saudara juga harus membaca kembali modul tentang asuhan kebidanan IV (kegawatdaruratan
maternal dan neonatal).
Setelah melakukan asuhan, segeralah buat dokumentasinya dan jangan di tunda – tunda. Hal
ini agar proses Praktik Kebidanan III berjalan lancar Lakukan hingga semua asuhan sudah dapat
dilakukan dengan baik.
	 Perdarahan pada kehamilan muda adalah perdarahan pervaginam pada kehamilan kurang
dari 22 minggu, kemungkinan diagnosis pada perdarahan hamil muda yaitu terjadi karena
abortus, kehamilan ektopik atau mola hydatidosa. Bidan harus bisa mendeteksi secara dini
serta mampu melakukan pemeriksaan fisik yang tepat sehingga diagnosis perdarahan hamil
muda dapat ditegakan secara tepat.
Rangkuman
Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan
20
Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut dengan memilih salah satu alternatif
jawaban yang Saudara anggap paling benar pada kertas tersendiri.
1	 Seorang perempuan berusia 32 tahun hamil 3 bulan datang ke Bidan dengan keluhan nyeri perut/
	 kram, keluar darah dan gumpalan seperti daging dari jalan lahir. Hasil pemeriksaan TTV normal, TFU
	 2 jari diatas simfisis, terdapat pembukaan serviks 1 jari dan teraba jaringan. Apa kemungkinan
	 diagnosis pada kasus tersebut?
a.	 Abortus imminen
b.	 Abortus inkomplit
c.	 Abortus komplit
d.	 Mola hidatidosa
e.	KET
2	 Seorang perempuan hamil 3 bulan, datang ke Bidan dengan keluhan keluar darah dan keluar
	 gelembung berisi air dari jalan lahir. Hasil pemeriksaan TTV normal, TFU pertengahan simfisis pusat.
	 Apa kemungkinan diagnosis pada kasus tersebut?
a.	 Abortus imminen
b.	 Abortus inkomplit
c.	 Abortus komplit
d.	 Mola hidatidosa
e.	KET
3	 Seorang perempuan hamil 3 bulan, datang ke Bidan dengan keluhan keluar darah dan keluar
	 gelembung berisi air dari jalan lahir. Hasil pemeriksaan TTV normal, TFU pertengahan simfisis pusat.
	 Apa diagnosis potensial pada kasus tersebut?
a.	Syok
Evaluasi
Formatif
Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan
21
b.	IUFD
c.	Abortus
d.	Dehidrasi
e.	Perdarahan
4	 Seorang perempuan G1P0A0 hamil 3 bulan, datang ke Bidan dengan keluhan keluar darah banyak
	 dan keluar gelembung berisi air dari jalan lahir. Hasil pemeriksaan TTV normal, TFU pertengahan
	 simfisis pusat. Bidan merujuk ke RS untuk penanganan selanjutnya. Apa konseling yang diperlukan
	 setelah penanganan kasus tersebut?
a.	 Perlunya pengawasan kadar βHCG selama 1 tahun
b.	 Ibu dianjurkan untuk melakukan perawatan luka
c.	 Ibu harus menggunakan KB tubektomi
d.	 Ajarkan ibu untuk tes kehamilan sendiri
e.	 Perlu kuretase ulangan
5	 Seorang perempuan berusia 32 tahun hamil 3 bulan datang ke Bidan dengan keluhan nyeri perut/
	 kram, keluar darah banyak disertai gumpalan seperti daging dari jalan lahir sejak 6 jam yang lalu.
	 Hasil pemeriksaan TTV normal, TFU 2 jari diatas simfisis, terdapat pembukaan serviks 1 jari dan teraba
	 jaringan. Apa diagnosis potensial pada kasus tersebut?
a.	Infeksi
b.	Dehidrasi
c.	 Missed abortion
d.	 Syok hipovolemik
e.	 Abortus habitualis
6	 Seorang perempuan berusia 32 tahun hamil 3 bulan datang ke Bidan dengan keluhan nyeri perut/
	 kram, keluar darah banyak disertai gumpalan seperti daging dari jalan lahir. Hasil pemeriksaan TTV
	 normal, TFU 2 jari diatas simfisis, terdapat pembukaan serviks 1 jari dan teraba jaringan. Apa tindakan
	 awal bidan pada kasus tersebut?
a.	 Merujuk ke RS
b.	 Melakukan digital
Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan
22
c.	 Persiapan kuretase
d.	 Memberikan oksitosin drip 10 IU
e.	 Memberikan suntikan metergin 0,25 mg IM
7	 Seorang perempuan berusia 35 tahun, G2P1A0 merasa hamil 2 bulan mengeluh pusing dan nyeri
	 perut bawah. Hasil pemeriksaan hasil pemeriksaan Nadi 100x/menit lemah, konjungtiva pucat, TFU
	 tidak teraba,nyeri perut (+), perdarahan sedikit. Apa kemungkinan diagnosis pada kasus tersebut?
a. 	Missed abortion
b. 	Mola hydatidosa
c. 	 Kehamilan ektopik
d.	 Abortus incomplet
e.	 KET
8	 Seorang perempuan berusia 35 tahun, G2P1A0 merasa hamil 2 bulan mengeluh pusing dan nyeri
	 perut bawah. Hasil pemeriksaan hasil pemeriksaan Nadi 100x/menit lemah, konjungtiva pucat, TFU
	 tidak teraba,nyeri perut (+), perdarahan sedikit. Apa tindakan awal pada kasus tersebut?
a.	 Melakukan pengambilan darah
b.	 Pastikan jalan nafas bebas
c.	 Pantau produksi urine
d.	 Rujuk pasien ke RS
e.	 Pasang infus
9	 Seorang perempuan berusia 35 tahun, G2P1A0 merasa hamil 2 bulan mengeluh pusing dan nyeri
	 perut bawah. Hasil pemeriksaan hasil pemeriksaan Nadi 100x/menit lemah, konjungtiva pucat, TFU
	 tidak teraba,nyeri perut (+), perdarahan sedikit. Di RS ibu dilakukan berbagai pemeriksaan penunjang.
	 Apa data dasar yang menunjang diagnosis pasti pada kasus tersebut?
a.	 Hasil pemeriksaan HCG urine (+)
b.	 Tsaudara spalding pada USG
c.	 Nyeri lepas abdomen (+)
d.	 Nyeri goyang portio (+)
Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan
23
e.	 Douglas pungsi (+)
10	 Seorang perempuan berusia 35 tahun, G2P1A0 merasa hamil 2 bulan mengeluh pusing dan nyeri
	 perut bawah. Hasil pemeriksaan hasil pemeriksaan Nadi 100x/menit lemah, konjungtiva pucat, TFU
	 tidak teraba,nyeri perut (+), perdarahan sedikit. Di RS ibu dilakukan berbagai pemeriksaan penunjang.
	 Apa konseling yang penting untuk kasus tersebut?
a.	 Konseling mengenai kemungkinan kesuburan
b.	 Kontrol teratur dalam 1 tahun pertama
c.	 Anjurkan ibu senam secara teratur
d.	 Anjurkan menggunakan IUD
e.	 Bed rest
Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan
24
Tugas
Mandiri
1.	 Lakukan asuhan pada ibu hamil dengan perdarahan hamil muda secara mandiri (penilaian
dengan menggunakan daftar tilik oleh pembimbing PK III).
2.	 Buatlah reflective practice sesuai dengan kasus yang saudara temukan.
3.	 Buatlah dokumentasi asuhan kebidanan sesuai kasus yang saudara temukan
Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan
25
Saifudin, Rachimhadhi, Wiknjosastro. Ilmu Kebidanan, Edisi 4, YBP-SP, Jakarta, 2008
Midwifery Community Based Care during The Childbearing, Linda V walsh, Sander Company, 2001
Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, YBP-SP dan JNPKKR,
Jakarta, 2002
Varneys, varneys midwivery, fourth edition. 2004. Boston. Jones and Bartlett .
Cunningham, Mac. Donald, Gant. 2002. Obstetri Williams. Jakarta. EGC
Pengurus Pusat IBI. Modul Kebidanan (Standar Pelayanan Kebidanan). 2003.Jakarta.
Pusdiknakes, WHO-JHPIEGO, Asuhan Antenatal Buku 2, Jakarta : Pusdiknakes, 200
GLOSSARIUM
Abortus
Pengeluaran hasil konsepsi pada usia kehamilan
kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari
500 gram
Kehamilan Ektopik Kehamilan di luar rahim
Mola Hydatidosa Kehamilan anggur
AVM Aspirasi vakum manual
HCG Human chorionic gonadotropin
TTV Tanda-tanda vital
TFU Tinggi Fundus Uteri
Daftar
Pustaka
Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan
26
Setelah menyelesaikan kegiatan belajar ini, Saudara diharapkan mampu melakukan asuhan
pada ibu hamil dengan anemia
Secara khusus saudara diharapkan dapat:
1.	 Melakukan penilaian secara sistematis dan lengkap,
2.	 Melakukan penegakan diagnosis,
3.	 Mengklasifikasikan jenis anemia,
4.	 Mengantisipasi diagnosis potensial dari kehamian dengan anemia, dan
5.	 Melakukan asuhan pada ibu hamil dengan anemia
1.	 Pokok materi yang akan dibahas pada kegiatan belajar kali ini adalah:
2.	 Pengertian Anemia
3.	 Tanda - tanda Anemia
4.	 Penyebab Anemia
5.	 Komplikasi akibat anemia pada ibu Hamil, Bersalin dan Nifas
6.	 Penanganan Anemia
7.	 Prosedur pemeriksaan Hb metode Sahli
Kegiatan
Belajar 2 Asuhan Kebidanan pada Ibu Hamil
dengan Anemia
Tujuan Pembelajaran Umum
Tujuan Pembelajaran Khusus
Pokok - Pokok Materi
Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan
27
	 Anemia? Bukankah saudara tidak asing lagi dengan kata ini? Kondisi ibu dengan anemia
masih banyak ditemukan pada ibu hamil. Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya anemia
pada ibu hamil. Padahal kita semua mengetahui efek yang ditimbulkan pada ibu dan janin amat
berat.
Apa yang Anda ketahui tentang Anemia? Tuliskan jawaban Anda pada kotak berkut.
Sekarang cocokkan jawaban Anda dengan uraian berikut ini:
Anemia adalah kondisi dimana berkurangnya sel darah merah (eritrosit) dalam sirkulasi darah
atau massa hemoglobin sehingga tidak mampu memenuhi fungsinya sebagai pembawa oksigen
keseluruh tubuh.
Uraian
Materi
Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan
28
A.	 Diagnosis
Diagnosa anemia dapat ditentukan melalui pengkajian data subjektif dan data objektif serta
pemeriksaan laboratorium.
1.	 Tanda
Pucat pada kulit dan membran mukosa dapat dilihat, dan mungkin tampak pada telapak
tangan dan konjungtiva, meskipun tanda ini bersifat subjektif. Pada anemia berat, tanda
dan gejala klinis yang tampak secara langsung dihubungkan dengan ketidak adekuatan
suplai oksigen dan mencakup takikardia dan palpitasi, angina dan klaudikasi intermiten.
2.	 Gejala
a.	 Subjektif
Kelelahan, keletihan, iritabilitas, dan sesak napas saat melakukan aktivitas merupakan
gejala yang paling sering ditemukan. Stomatitis angular juga dapat terjadi, yaitu robekan
yang terasa nyeri pada sudut mulut yang menyebabkan kehilangan nafsu makan.
Gejala anemia pada kehamilan yaitu :
•	 Letih.
•	 Sering mengantuk, malaise
•	 Pusing, lemah
•	 Nyeri kepala
•	 Luka pada lidah
Gambar : Kulit pucat salah satu tanda anemia
Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan
29
•	 Kulit pucat
•	 Membran mukosa pucat
•	 Tidak ada nafsu makan, mual, dan muntah
Riwayat yang berhubungan dengan potensi kelainan hematologi meliputi:
•	 Riwayat anemia karena kekurangan zat besi
•	 Riwayat sel sabit
•	 Menderita talasemia atau riwayat talasemia dalam keluarga
•	 ITP (Idiopathic Thrombocytopenic Purpura)
•	 Gangguan perdarahan
•	 Riwayat pengobatan
•	 Kehamilan sebelumnya disertai peningkatan perdarahan (akibat episiotomy, insisi
sesaria, atau untuk terapi darah sebelumnya, atau memar pada lokasi pemasangan
infus)
•	 Jika anak sebelumnya mengalami perdarahan, misalnya setelah sirkumsisi
•	 Riwayat sindrom HELLP
•	 Infeksi HIV
•	 Riwayat diet
•	 Sumber makanan yang kaya zat besi
•	 Pica yaitu mengidam berlebihan dan ingin memakan bahan makanan atau sesuatu
seperti tanah liat
b.	 Objektif
Berdasarkan hasil pemeriksaan, tanda dan gejala anemia yaitu:
1.	 Konjungtiva berwarna pucat
2.	 Bibir dan mukosa mulut pucat
3.	 Ujung-ujung ekstremitas pucat
Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan
30
Manifestasi Klinis pada Anemia Berat
Pemeriksaan Manifestasi Klinik
Keadaan Umum
Pucat, nyeri kepala, vértigo, berat badan
menurun
Kulit
Pucat, kulit kering, jaundice (pada anemia
hemolitik)
Mata
Penglihatan kabur, konjungtiva pucat,
dan perdarahan retina
Telinga Vertigo tinnitus
Mulut Mukosalicindanmengkilap,danstomatitis
Kardiovaskuler Takikardi, palpitasi, murmur, hipotensi.
Gastrointestinal Nyeri abdomen, anoreksia, disfagia
Muskuloskeletal Nyeri pinggang, nyeri sendi
Sistem persarafan
Nyeri Kepala, bingung, neuropati perifer,
cemas
c.	 Pemeriksaan Hemoglobin
Hemoglobin merupakan protein sel darah merah yang fungsinya antara lain: mengangkut
oksigen dari paru-paru ke jaringan dan CO2 dan jaringan ke paru-paru, memberi warna
merah pada darah, dan mempertahankan keseimbangan asam basa dalam tubuh
Hemoglobin mengandung protein globin yang berkaitan dengan hem
(senyawa besi protein).
Derajat anemia berdasarkan kadar Hemoglobin:
Normal > 11 g/dl
Sedang Hb > 8 g/dl – 11 g/dl
Berat b < 8 g/dl
Umumnya ibu hamil dianggap anemia jika kadar Hb < 11 gr/dl atau hematokrit < 33 %.
Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan
31
d.	 Penyebab
Penyebab anemia tersering adalah defisiensi zat-zat nutrisi, yang paling mendasar
adalah kurangnya asupan, absorpsi yang tidak adekuat bertambahnya zat gizi yang
hilang, kebutuhan yang berlebihan dan kurangnya utilisasi nutrisi hemopoetik. Namun,
sekitar 75 % anemia dalam kehamilan disebabkan oleh defisiensi besi, penyebab yang
tersering kedua adalah anemia megaloblastik yang disebabkan kekurangan asam folat
dan vitamain B12.
Penyebab anemia lainnya yang jarang ditemui adalah hemoglobinopati,
proses inflamasi, toksisitas zat kimia dan keganasan.
Defisiensi Besi
Defisiensi besi merupakan defisiensi nutrisi yang paling sering ditemukan baik dinegara
maju maupun berkembang. Risikonya meningkat pada kehamilan karena asupan
besi yang tidak adekuat dibandingkan dengan kebutuhan pertumbuhan janin yang
cepat. Pada kehamilan, kehilangan zat besi terjadi akibat pengalihan besi maternal
ke janin untuk eritropoesis, kehilangan darah saat persalinan dan laktasi yang jumlah
keseluruhan dapat mencapai 900 mg atau setara dengan dua liter darah.
Pencegahan anemia dapat dilakukan dengan suplementasi besi dan asam folat. WHO
menganjurkan untuk memberikan 60 mg besi selama 6 bulan untuk memenuhi
kebutuhan normal selama kehamilan. Di wilayah dengan prevalensi anemia tinggi
dianjurkan untuk memberikan suplementasi sampai tiga bulan postpartum.
B.	 Komplikasi Anemia pada Ibu Hamil, Bersalin dan Nifas
Anemia dapat terjadi pada setiap ibu hamil, karena itulah kejadian ini harus selalu diwaspadai.
Sebagai bidan, saudara harus mengetahui komplikasi apa yang dapat terjadi pada ibu hamil,
bersalin dan nifas dengan anemia
1.	 Anemia yang terjadi saat ibu hamil Trimester I akan dapat mengakibatkan:
•	 Abortus
•	 Missed Abortus
•	 Kelainan kongenital.
Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan
32
2.	 Anemia pada kehamilan trimester II dapat menyebabkan:
a.	 Persalinan prematur
b.	 Perdarahan antepartum
c.	 Gangguan pertumbuhan janin dalam rahim
d.	 Asfiksia intrauterin sampai kematian
e.	 BBLR
f.	 Gestosis dan mudah terkena infeksi
g.	 IQ rendah
h.	 Bahkan bisa mengakibatkan kematian.
3.	 Anemia pada saat inpartu dapat menyebabkan:
a.	 Gangguan his baik primer maupun sekunder
b.	 Janin akan lahir dengan anemia
c.	 Persalinan dengan tindakan yang disebabkan karena ibu cepat lelah.
4.	 Anemia pada saat post partum anemia dapat menyebabkan
a.	 Atonia uteri
b.	 Retensio placenta
c.	 Pelukaan sukar sembuh
d.	 Mudah terjadi febris puerpuralis
e.	 Gangguan involusio uteri.
5.	 Penanganan
Penanganan anemia defisiensi zat besi yaitu, dengan memenuhi kebutuhan zat besi.
Keperluan zat besi untuk wanita hamil, tidak hamil dan dalam laktasi yang dianjurkan
adalah dengan pemberian tablet besi.
a.	 Terapi Oral adalah dengan memberikan preparat besi yaitu fero sulfat, fero glukonat
atau Na-fero bisirat. Pemberian preparat 60 mg/hari dapat menaikan kadar Hb
sebanyak 1 gr%/ bulan. Saat ini program nasional menganjurkan kombinasi 60 mg
besi dan 50 nanogram asam folat untuk profilaksis anemia.
b.	 Terapi Parenteral baru diperlukan apabila penderita tidak tahan akan zat besi per
oral, dan adanya gangguan penyerapan, penyakit saluran pencernaan atau masa
Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan
33
kehamilannya tua Pemberian preparat parenteral yaitu dengan ferum dextran
sebanyak 100 mg (20 ml) intravena atau 2 x 10 ml/im pada gluteus, dapat meningkatkan
Hb relative lebih cepat yaitu 2 g%. pemberian parenteral ini mempunyai indikasi:
intoleransi besi pada traktus gastrointestinal, anemia yang berat, dan kepatuhan yang
buruk. Efek saping utama ialah reaksi alergi, untuk mengetahuinyadapat diberikan
dosis 0,5 cc/im dan bila tak ada reaksi dapat diberikan seluruh dosis.
3.	Pendidikan Kesehatan
a.	 Memberikan pendidikan kesehatan pada ibu merupakan salah satu tugas bidan.
Mengajarkan ibu bagaimana menkonsumsi vitamin berupa zat besi sangat penting.
Zat besi punya peran penting bagi tubuh kita. salah satu fungsi utamanya adalah
transportasi utama dalam mendistribusikan oksigen ke seluruh tubuh. Selain itu zat
besi berperan dalam produksi hemoglobin dan menyokong sistem kekebalan tubuh.
Ajarkan ibu-ibu hamil untuk meminun zat besi secara benar, diantaranya adalah
sebagai berikut:
b.	 Minumlah tablet besi di antara waktu makan atau 30 menit sebelum makan. Atau untuk
menghindari rasa mual yang diakibatkan oleh tablet besi, dapat diminum sebelum tidur.
c.	 Hindari mengkonsumsi kalsium bersama zat besi (susu, antasida, termasuk tablet
kalsium)
d.	 Minumlah vitamin C (jus jeruk, tambahan vitamin C)
e.	 Mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung Fe. Besi dalam makanan ada 2
jenis, yaitu besi hem dan non hem. Besi hem, terdapat di dalam daging hewan, dapat
diserap 2 kali lipat daripada besi non hem. Besi non hem terdapat di dalam telur,
serealia, kacang-kacangan, sayuran hijau dan beberapa jenis buah-buahan.
f.	 Masaklah makanan dengan jumlah air minimal supaya waktu masak sesingkat mungkin.
g.	 Makanlah daging, unggas, dan ikan-zat besi yang terkandung dalam bahan makanan
ini lebih mudah diserap dan digunakan dibanding zat besi dalam bahan makanan lain.
h.	 Nah, setelah saudara membaca uraian materi diatas, kini kita melangkah ke tahap
berikutnya yaitu praktik asuhan pada ibu hamil dengan anemia. Pelajari dengan
seksama kemudian praktikkan pada saat praktik di lapangan.
Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan
34
PENUNTUN BELAJAR
ASUHAN PADA IBU HAMIL DENGAN ANEMIA
Nilailah setiap kinerja yang diamati menggunakan skala sbb :
1 Bila asuhan dilakukan
0 Bila asuhan tidak dilakukan
SKILL ASPEK YANG DINILAI
kasus
1 2 3 4 5 6
A. Lakukan pengkajian data subjektif
1
Tanyakan Biodata:
•	 Nama
•	 Umur
•	 Pekerjaan
•	 Pekerjaan suami
2
•	 Apa keluhan yang dirasakan ibu (Apakah ibu
mengeluh pusing, lemah,lesu)
3
Tanyakan Riwayat kehamilan sekarang:
•	 Hari pertama haid terakhir
•	 Siklus haid
•	 Gerakan janin
•	 Masalah selama hamil ini
•	 BB sebelum hamil
•	 Riwayat periksa hamil
•	 Obat/jamu yang dikonsumsi ibu selama hamil
•	 Kebiasaan merokok/minum alkohol: tidak ada
4
Tanyakan Riwayat obstetri:
•	 Gravida, paritas, riwayat abortus
•	 Riwayat kehamilan, persalinan, nifas yang lalu
•	 Riwayat penyulit saat kehamilan peralinan dan
nifas
Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan
35
•	 Riwayat KB
5
•	 Riwayat penyakit infeksi: TB, malaria, infeksi
cacing, anemia.
•	 Riwayat penyakit DM, jantung dan ginjal: tidak
ada
•	 Riwayat penyakit infeksi dalam keluarga
serumah: tidak ada yangmenderita penyakit.
6
•	 Pola makan dan minum Ibu
•	 Aktivitas sehari-hari/ pekerjaan
•	 Istirahat dan tidur
•	 Bagaimana respon ibu dan keluarga terhadap
kehamilan
•	 Bagaimana dukungan keluarga
B. Lakukan pengkajian data objektif
1
Identifikasi status gizi
•	 Berat badan:
•	 Tinggi badan:
2
Identifikasi kondisi kardiovaskuler/ tsaudara
anemia berat
•	 Tekanan darah
•	 Frekuensi nadi
•	 Frekuensi nafas
•	 Suhu
3
Identifikasi tsaudara anemia
•	 Rambut
•	 Muka
•	 Konjungtiva
•	 Mulut, bibir
•	 Ekstremitas atas dan bawah
4
Identifikasi pertumbuhan dan kondisi janin
•	 Palpasi abdomen: TFU, Presentasi dan posisi
janin
•	 Dengarkan DJJ
5
Lakukan pemeriksaan Penunjang: hemoglobin
darah
C. Tentukan diagnosis
D. Penatalaksanaan
Sekarang kita melangkah ke daftar tilik berikutnya yaitu pemeriksaan Hemoglobin dengan
Metode Sahli. Pelajari dengan seksama!
Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan
36
DAFTAR TILIK
PEMERIKSAAN HEMOGLOBIN METODE SAHLI
Nilailah setiap kinerja yang diamati menggunakan skala sbb :
1 Bila asuhan dilakukan
0 Bila asuhan tidak dilakukan
LANGKAH/TUGAS KASUS
Persiapan Alat
1.	Stsaudarar hemoglobin 1 set
2.	HCl 0,1 %
3.	Aquades
4.	Lanset steril
5.	Lancing device
6.	Pipet
7.	Tissu
8.	Kapas DTT dalam wadah DTT
9.	Bengkok
10.	Wadah berisi larutan klorin 0,5%
11.	Sarung tangan 1 pasang
Pelaksanaan
1.	Isilah tabung sahli dengan ditetesi HCl 0.1% sampai batas angka
2 pada tb scula
2.	Tusuk ujung jari dengan lanset steril, bersihkan darah yang
pertama keluar dengan kapas/tisu kering, tekan dengan jari
supaya darah yang keluar tidak sampai jatuh/terbuang.
3.	Gunakan pipet untuk menghisap darah sampai darah mencapai
garis warna biru pada tabung atau angka 20 mm, kemudian
Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan
37
usaplah ujung pipet dengan tisue kering untuk menghindari sisa
darah di luar pipet.
4.	Masukkan pipet ke dalam tabung alí kemudian keluarkan darah
sambil menarik pipet keluar
5.	Aduk HCl dengan darah sampai benar-benar tercampur dan
diamkan selama 3-5 menit supaya hematin dalam darah berubah
menjadi asam hematin.
6.	Masukkan aguades tetes demi tetes ke dalam tabung sahli,
aduk kembali setelah ditetesi sampai warnanya sama dengan
warna estándar
7.	Lihat terdapat pada angka berapa permukaan darah, angka
itulah yang menunjukkan kadar Hb. (Dalam membaca hasil
pemeriksaan, tepatnya adalah pada lengkungan di bagian tengah,
bukan di bagian pinggir darah.
Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan
38
	 Anemia adalah kondisi dimana berkurangnya sel darah merah (eritrosit) dalam sirkulasi
darah atau massa hemoglobin sehingga tidak mampu memenuhi fungsinya sebagai pembawa
oksigen keseluruh tubuh. Diagnosa anemia dapat ditentukan melalui pengkajian data subjektif
dan data objektif serta pemeriksaan laboratorium.
	 Penanganan anemia defisiensi Fe yaitu, dengan memenuhi kebutuhan zat besi. Keperluan
zat besi untuk wanita hamil, tidak hamil dan dalam laktasi yang dianjurkan adalah dengan
pemberian tablet besi.
Rangkuman
Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan
39
Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut dengan memilih salah satu alternatif
jawaban yang Saudara anggap paling benar pada kertas tersendiri.
1.	 Seorang perempuan berusia 32 tahun G3P1A1 umur kehamilan 31 minggu datang ke BPM
untuk memeriksakan kehamilannya dengan keluhan pusing, lemas dan sering mengantuk.
Apakah kemungkinan yang dialami ibu tersebut?
a.	 Impending Eklamsi
b.	 Kurang istirahat
c.	Hipogilkemi
d.	Hipertensi
e.	Anemia
2.	 Seorang perempuan berusia 32 tahun G3P1A1 hamil 31 minggu datang ke BPM dengan
keluhan pusing, lemas dan sering mengantuk. Hasil pemeriksaan: TTV dalam batas normal,
konjungtiva pucat, TFU 29 cm, Kepala belum masuk PAP, DJJ 145 x/menit
	 Apa pemeriksaan penunjang yang diperlukan pada kasus tersebut?
a.	Hemoglobin
b.	 Protein urine
c.	 Glukosa urin
d.	 Darah lengkap
e.	 Golongan darah
3.	 Seorang perempuan berusia 25 tahun datang ke BPM untuk melakukan kunjungan ulang.
	 Sebelumnya, pasien telah diberikan terapi untuk anemia. Saat ini usia kehamilan 37 minggu,
	 bidan berencana untuk melakukan evaluasi penilaian Hb pada pasien ini.
	 Berapa kadar minimal Hb normal pada usia kehamilan tersebut?
Evaluasi
Formatif
Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan
40
a.	 10 gr/dl
b.	 10.5 gr/dl
c.	 11 gr/dl
d.	 11.5 gr/dl
e.	 12 gr/dl
4.	 Seorang perempuan berusia 25 tahun datang ke BPM untuk konsultasi. Ibu berencana hamil.
	 Hasil pemeriksaan dalam batas normal. Bidan memberikan tablet Fe dan asam folat sebagai
	 persiapan kehamilan.
	 Berapakah dosis zat besi yang diperlukan pada kasus tersebut?
a.	 50 mg
b.	 55 mg
c.	 60 mg
d.	 65 mg
e.	 70 mg
5.	 Seorang perempuan berusia 25 tahun datang ke BPM untuk konsultasi. Ibu berencana
	 hamil. Hasil pemeriksaan dalam batas normal. Bidan memberikan tablet Fe dan asam folat
	 dan konseling cara meminumnya.
	 Apakah yang dapat menghambat penyerapan obat tersebut?
a.	Susu
b.	 Jus jeruk
c.	Buah-buahan
d.	Kacang-kacangan
e.	 Sayuran berwarna hijau
6.	 Seorang perempuan berusia 25 tahun datang ke BPM untuk konsultasi. Ibu berencana
	 hamil. Hasil pemeriksaan dalam batas normal. Bidan memberikan tablet Fe dan asam folat
	 dan konseling cara meminumnya.
	 Apakah efek samping obat tersebut?
Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan
41
a.	Mual
b.	Diare
c.	Pusing
d.	palpitasi
e.	Gatal-gatal
7.	 Pertumbuhan janin terhambat (PJT) merupakan salah satu komplikasi anemia pada kehamilan.
	 Apakah penyebab kondisi tersebut?
a.	 Kurangnya aktivitas ibu
b.	 Kurangnya oksigen dan nutrisi dari ibu
c.	 Kurangnya aliran darah dari ibu ke janin
d.	 Kurangnya volume plasma darah dari ibu
e.	 Kurangnya lancarnya peredaran darah ibu
8.	 Seorang perempuan berusia 32 tahun G3P1A1 hamil 34 minggu datang ke BPM dengan
	 keluhan pusing dan lemas. Hasil pemeriksaan: TTV dalam batas normal, konjungtiva pucat,
	 TFU 29 cm, Kepala belum masuk PAP, DJJ 145 x/menit, Hb 7 g/dl
	 Apakah tindakan bidan pada kasus tersebut?
a.	 Berikan tablet fe 3x1 tablet
b.	 Berikan Fe dan vitamin B12
c.	 Berikan Fe dan asam folat
d.	 Berikan fe intravena
e.	 Merujuk ke RS
9.	 Seorang perempuan berusia 25 tahun G2P1A0 hamil 7 bulan datang ke BPM untuk periksa.
	 Hasil pemeriksaan fisik dalam batas normal. Pemeriksaan Hb: 10 g/dl Bidan memberikan
	 tablet Fe dan asam folat dan konseling cara meminumnya.
	 Apakah yang dapat meningkatnya penyerapan obat tersebut?
a.	 Air teh
b.	Kopi
Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan
42
c.	Susu
d.	Keju
e.	jeruk
10.	Seorang perempuan berusia 32 tahun G3P1A1 telah diperiksa Hb saat usia kehamilan 12
	 minggu hasilnya normal.
	 Kapankah Pemeriksaan hemoglobin ulang pada kasus tersebut?
a.	 16-18 mg
b.	 20-24 mg
c.	 24-26 mg
d.	 28-32 mg
e.	 36-40 mg
Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan
43
Tugas
Mandiri
Lakukan asuhan pada ibu hamil dengan anemia secara mandiri (penilaian dengan menggunakan
daftar tilik oleh pembimbing PK III)
1.	 Buatlah reflective practice sesuai dengan kasus yang saudara temukan
2.	 Buatlah dokumentasi asuhan kebidanan sesuai kasus yang saudara temukaN
Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan
44
Linda. 2010. Manajemen Kebidanan. Jakarta: EGC
Manuaba, I.B.G. 2001. Kapita Selekta Penatalaksanaan Rutin Obstetri Ginekologi dan Keluarga
Berencana. Jakarta: EGC
Manuaba, I.B.G.1998. Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana. Jakarta: EGC
Mochtar, R. 1998 . Sinopsis Obstetri. Edisi 2. Jakarta: EGC
Notobroto. 2003. Insiden Anemia. http://adln.lib.unair.ac.id. diperoleh 23 April, 2012.
Prawirohardjo, Sarwono. 2010. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Bina Pustaka
Saifudin, A.B. 2002. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta:
YBP-SP
Tarwoto.2007.Buku Saku pada Ibu Hamil.Jakarta:Trans Info Media
Winkyosastro, H. 2002. Ilmu Kebidanan. Jakarta: YBP-SP
GLOSSARIUM
Antenatal Masa kehamilan
DJJ Denyut Jantung Janin
Hb Haemoglobin
ITP Idiopathic Thrombocytopenic Purpura
Daftar
Pustaka
Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan
45
Setelah menyelesaikan kegiatan belajar ini, Saudara diharapkan mampu untuk melakukan
asuhan kebidanan pada perdarahan kehamilan lanjut
Secara khusus saudara diharapkan dapat:
1.	 Melakukan penilaian secara sistematis dan lengkap,
2.	 Melakukan penegakan diagnosis,
3.	 Mengklasifikasikan jenis perdarahan,
4.	 Mengantisipasi diagnosis potensial dari perdarahan pada kehamilan lanjut,
5.	 Membuat rencana asuhan pada perdarahan kehamilan lanjut,
6.	 Melaksanakan asuhan dan melakuan evaluasi asuhan pada kehamilan dengan perdarahan
hamil lanjut.
Pokok materi yang akan dibahas pada kegiatan belajar kali ini adalah:
1.	 Pengertian perdarahan kehamilan lanjut
2.	 Diagnosis perdarahan kehamilan lanjut
3.	 Penanganan perdarahan kehamilan lanjut
Kegiatan
Belajar 3 Asuhan Kebidanan pada Perdarahan
Kehamilan Lanjut
Tujuan Pembelajaran Umum
Tujuan Pembelajaran Khusus
Pokok - Pokok Materi
Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan
46
Masih ingatkan saudara pengertian perdarahan antepartum? Coba saudara tuliskan pada kotak
di bawah ini:
Sekarang coba anda cocokkan dengan uraian materi berikut ini :
Uraian
Materi
Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan
47
A.	 Perdarahan antepartum
1.	 Pengertian
Perdarahan pada kehamilan lanjut disebut juga perdarahan antepartum. Perdarahan
antepartum biasanya dibatasi pada perdarahan jalan lahir setelah kehamilan 22 minggu.
Perdarahan setelah kehamilan 22 minggu biasanya lebih banyak dan lebih berbahaya
daripada sebelum kehamilan 22 minggu. Oleh karena itu, rekan – rekan mahasiswa, sebagai
bidan perlu dapat mendeteksi dini dan memberikan penanganan yang tepat. Perdarahan
antepartum, yang bersumber pada kelainan plasenta, yang secara klinis tidak terlampau
sukar menentukan diagnosanya, ialah 1) plasenta previa dan 2) Solusio plasenta.
Plasenta Previa adalah plasenta yang implantasinya tidak normal yaitu rendah sekali
sehingga menutupi seluruh atau sebagian jalan lahir (ostium internum).
Solusio plasenta merupakan terlepasnya plasenta yang letaknya normal pada korpus
uteri yang terlepas dari perlekatannya sebelum janin lahir.
2.	 Diagnosa
Dalam menentukan diagnosa perdarahan kehamilan lanjut, dapat dilihat berdasarkan
gejala –gejala di bawah ini :
Gejala dan tanda umum Penyulit Lain Diagnosa
•	 Perdarahan tanpa nyeri, usia
gestasi >22 minggu.
•	 Darah segar atau kehitam
dengan kebekuan.
•	 Perdarahan dapat terjadi
setelah miksi, defekasi, aktivitas
fisik, dan coitus.
•	 Bagian terendah janin, tidak
dapat masuk pintu atas
panggul.
•	 Syok
•	 Tidak ada
kontraksi uterus.
•	 Kondisi janin
normal atau gawat
janin.
Plasenta  Previa.
Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan
48
•	 Perdarahan dengan nyeri
intermitten atau menetap.
•	 Warna darah kehitaman dan
cair; mungkin ada bekuan bila
solusio relatif  baru.
•	 Jika ostium terbuka, terjadi
perdarahan warna merah
segar.
•	 ·Syok tidak sesuai
jumlah darah
yang keluar (tipe
tersembunyi ).
•	 ·Anemia berat.
Solusio Placenta
•	 Perdarahan terjadi Intra
abdominal atau vaginal.
•	 Nyeri hebat sebelum
perdarahan dan syok yang
kemudian hilang setelah terjadi
regangan hebat pada perut
bawah (kondisi tidak khas )
•	 Uji pembekuan darah, tidak
menunjukan adanya pmbekuan
darah setelah tujuh menit
•	 Gerak janin lemah
atau hilang.
•	 Gawat janin.
•	 Uterus tegang dan
nyeri.
Sekarang saudara sudah mengetahui tanda dan gejala placenta previa dan solusio placenta.
Selanjutnya kita membahas penanganannya.
3.	 Penanganan
Penanganan perdarahan antepartum diberikan berdasarkan sumber perdarahan tersebut,
yaitu:
a.	 Plasenta Previa
Penanganan awal
Tidak dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan dalam pada perdarahan antepartum
sebelum tersedia persiapan untuk Seksio Sesarea. Pemeriksaan inspekulo secara
hati-hati, dapat menentukan sumber perdarahan berasal dari kanalis servikalis atau
sumber lain (servisitis, polip, keganasan, laserasi atau trauma). Meskipun demikian,
adanya kelainan di atas tidak menyingkirkan diagnosis plasenta previa.
•	 Perbaiki kekurangan cairan/darah dengan memberikan cairan infus IV (NaCl 0,9%
atau Ringer Laktat).
•	 Lakukan penilaian jumlah darah.
•	 Jika perdarahan banyak dan berlangsung, persiapkan seksio sesarea tanpa
Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan
49
memperhitungkan usia kehamilan/prematuritas.
•	 Jikaperdarahansedikitdanberhenti,danfetushiduptetapipremature,pertimbangkan
terapi ekspektatif sampai persalinan atau terjadi perdarahan banyak.
b.	 Persiapan Rujukan
Dengan prinsip “BAKSOKUDO”
•	 Bidan, siap untuk mengantar ibu hingga tempat rujukan
•	 Alat, partus set, oksigenasi, alat-alat TTV, dopton, dll
•	 Keluarga, siap untuk menemani ibu dan memberikan dukungan
•	 Surat, surat rujukan harus dibuat sesuai dengan persyaratan rujukan
•	 Obat, oksitosin
•	 Kendaraan, untuk mencapai tempat tujuan
•	 Uang, mempersiapkan perkiraan biaya
•	 Donor, mempersiapkan donor darah bila terjadi kegawatdaruratan
B.	Solusio Plasenta
Sekarang kita lanjut pada pembahasan berikutnya yaitu solusio plasenta. Dibawah ini
adalah tabel tentang klasifikasi, gejala dan penanganan solusio plasenta. Dengan tabel ini
akan memudahkan saudara untuk mempelajari perbedaan dari tiap klasifikasinya. Pelajari
dengan seksama!
KLASIFIKASI GEJALA PENANGANAN
Ringan
•	 Perdarahan kurang
100-200 cc,
•	 Uterus tidak tegang,
•	 Belum ada tanda
renjatan,
•	 Janin hidup,
•	 Pelepasan plasenta
kurang 1/6 bagian
permukaan,
•	 Kadar fibrinogen
plasma lebih 120 mg%.
Istirahat dan pemberian sedatif lalu
tentukan apakah gejala semakin
progresif atau akan berhenti. Bila
proses berhenti secara berangsur,
penderita dimobilisasi. Selama
perawatan dilakukan pemeriksaan
Hb, fibrinogen, hematokrit dan
trombosit.
Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan
50
Sedang :
Perdarahan lebih 200 cc,
uterus tegang, terdapat
tanda pre renjatan,
gawat janin atau janin
telah mati, pelepasan
plasenta 1/4-2/3 bagian
permukaan, kadar
fibrinogen plasma 120-
150 mg%.
Penanganan pada klasifikasi
sedang dan berat bertujuan untuk
mengatasi renjatan, memperbaiki
anemia, menghentikan perdarahan
dan mengosongkan uterus secepat
mungkin. Bila diagnosa solusio
plasenta secara klinis sudah dapat
ditegakkan, berarti perdarahan
yang terjadi minimal 1000 cc.
Maka, penatalaksanaannya
meliputi :
•	 Pemberian transfusi darah
(transfusi darah harus diberikan
minimal 1000 cc)
•	 Pemecahan ketuban (amniotomi)
untuk mengurangi regangan
dinding uterus
•	 Pemberian infus oksitosin
untuk mempercepat persalinan
diberikan infus oksitosin 5 UI
dalam 500 cc dekstrose 5 %
•	 Jika perlu dilakukan seksio sesar.
Seksio sesar dilakukan bila :
1.	 Persalinan tidak selesai atau
diharapkan tidak selesai
dalam 6 jam.
2.	 Perdarahan banyak
3.	 Pembukaan tidak ada atau
kurang 4 cm.
4.	 Panggul sempit.
5.	 Letak lintang.
6.	 Pre eklampsia berat.
7.	 Pelvik score kurang 5
Berat
Uterus tegang dan
berkontraksi tetanik,
terdapat tanda renjatan,
janin
mati, pelepasan plasenta
bisa terjadi lebih 2/3
bagian atau keseluruhan.
Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan
51
	 Perdarahan pada kehamilan lanjut adalah perdarahan jalan lahir setelah kehamilan 22
minggu. Perdarahan antepartum, yang bersumber pada kelainan plasenta, yang secara klinis
tidak terlampau sukar menentukan diagnosanya, ialah 1) plasenta previa dan 2) Solusio plasenta.
Penegakan diagnose perdarahan pada kehamilan lanjut perlu melihat tanda gejalanya.
	 Penangananan perdarahan pada kehamilan lanjut yang dilakukan oleh bidan merupakan
penanganan awal serta melakukan rujukan untuk penganganan lanjut di fasilitas yang lebih
lengkap.
Rangkuman
Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan
52
Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut dengan memilih salah satu alternatif
jawaban yang Saudara anggap paling benar pada kertas tersendiri.
1.	 Seorang perempuan berusia 35 tahun, G5P4A0 hamil 32 minggu datang ke BPM mengeluh
	 perdarahan dari jalan lahir. Hasil pemeriksaan TTV dalam batas normal, TFU 30 cm, presentasi
	 kepala belum masuk PAP,DJJ 145x/menit, his (-)
	 Apakah pemeriksaan yang diperlukan pada kasus tersebut?
a.	Inspekulo
b.	 Ultrasonografi
c.	 Pemeriksaan CTG
d.	 Pemeriksaan dalam
e.	 Pemeriksaan darah lengkap
2.	 Seorang perempuan berusia 35 tahun, G5P4A0 hamil 32 minggu datang ke BPM mengeluh
	 perdarahan dari jalan lahir, tidak ada mules. Hasil pemeriksaan TTV dalam batas normal,
	 TFU 30 cm, presentasi kepala belum masuk PAP,DJJ 145x/menit, his (-), tampak perdarahan
	 dari jalan lahir.
	 Apakah kemungkinan diagnosis pada kasus tersebut?
a.	 Ancaman robekan rahim
b.	 Perdarahan bercak
c.	 Solusio plasenta
d.	 Placenta previa
e.	 Ruptur uteri
3.	 Seorang perempuan berusia 35 tahun, G5P4A0 hamil 32 minggu datang ke BPM mengeluh
	 perdarahan dari jalan lahir, tidak ada mules. Hasil pemeriksaan TTV dalam batas normal,
	 TFU 30 cm, presentasi kepala belum masuk PAP,DJJ 145x/menit, his (-), tampak perdarahan
Evaluasi
Formatif
Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan
53
	 dari jalan lahir.
	 Apakah diagnosis potensial pada kasus tersebut?
a.	 Syok kardiogenik
b.	 Syok hipovolemik
c.	 Syok neurogenik
d.	 Syok anafilaktik
e.	 Syok septik
4.	 Seorang perempuan berusia 35 tahun, G5P4A0 hamil 36 minggu datang ke BPM mengeluh
	 perdarahan dari jalan lahir, tidak ada mules. Hasil pemeriksaan TTV dalam batas normal,
	 TFU 33 cm, presentasi kepala belum masuk PAP,DJJ 145x/menit, his (-), tampak perdarahan
	 dari jalan lahir.
	 Apakah tindakan pada kasus tersebut?
a.	 Anjurkan ibu untuk kontrol 1 minggu kemudian
b.	 Observasi tanda-tanda persalinan
c.	 Kolaborasi dengan dokter
d.	 Observasi perdarahan
e.	 Merujuk ke RS
5.	 Salah satu faktor predisposisi plasenta previa adalah kehamilan kembar.
	 Apakah penyebab pada kasus tersebut?
a.	 Meningkatnya kebutuhan oksigen pada janin sehingga adanya pembesaran plasenta
b.	 Permukaan plasenta yang luas dapat mengganggu segmen bawah rahim
c.	 Terdapatnya jaringan parut yang mempunyai vaskularisasi rendah sehingga mencari
	 tempat yang vaskularisasinya tinggi
d.	 Hipoksia pada janin karena adanya permukaan plasenta yang luas untuk mengganti
	 persediaan oksigen
e.	 gangguan pertumbuhan janin
Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan
54
6.	 Seorang perempuan berusia 35 tahun, G5P4A0 hamil 36 minggu periksa hamil di RS di
	 diagnosis plasenta letak rendah
	 Apakah kemungkinan jenis persalinan pada kasus tersebut?
a.	 Sectio sesarea
b.	 Ekstraksi vakum
c.	 Ekstraksi forceps
d.	 Induksi persalinan
e.	 Persalinan spontan
7.	 Seorang perempuan berusia 35 tahun, G5P4A0 hamil 36 minggu datang ke BPM mengeluh
	 nyeri perut dan perdarahan dari jalan lahir. Hasil pemeriksaan TTV dalam batas normal,
	 palpasi sulit,DJJ 180x/menit, perut keras, tampak perdarahan dari jalan lahir.
	 Apakah kemungkinan diagnosis pada kasus tersebut?
a.	 Ancaman robekan rahim
b.	 Perdarahan bercak
c.	 Solusio plasenta
d.	 Placenta previa
e.	 Ruptur uteri
8.	 Seorang perempuan berusia 35 tahun, G5P4A0 hamil 36 minggu datang ke BPM mengeluh
	 nyeri perut dan perdarahan dari jalan lahir. Hasil pemeriksaan TTV dalam batas normal,
	 palpasi sulit,DJJ 180x/menit, perut keras, tampak perdarahan dari jalan lahir.
	 Apakah tindakan awal pada kasus tersebut?
a.	 Berikan oksigen
b.	 Berikan antibiotik
c.	 Berikan analgetik
d.	 Pasang tampon vagina
e.	 Posisikan ibu trendelenberg
Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan
55
9.	 Seorang perempuan berusia 35 tahun, G5P4A0 hamil 36 minggu datang ke BPM mengeluh
	 nyeri perut dan perdarahan dari jalan lahir. Hasil pemeriksaan TTV dalam batas normal,
	 palpasi sulit,DJJ 180x/menit, perut keras, tampak perdarahan dari jalan lahir. Bidan merujuk
	 ke RS. Apakah komplikasi terhadap janin pada kasus tersebut?
a.	 Deformitas janin
b.	Oligohidramnion
c.	Polihidramnion
d.	IUGR
e.	IUFD
10.	Seorang perempuan berusia 35 tahun, G5P4A0 hamil 36 minggu datang ke BPM mengeluh
	 nyeri perut dan perdarahan dari jalan lahir. Hasil pemeriksaan TTV dalam batas normal,
	 palpasi sulit,DJJ 180x/menit, perut keras, tampak perdarahan dari jalan lahir. Bidan merujuk
	 ke RS. Apakah penyebab nyeri perut pada kasus tersebut?
a.	 Perdarahan yang menyebabkan teregangnya uterus
b.	 Kontraksi uterus yang berlebihan
c.	 Kontraksi brakxton hicks
d.	 Rupturnya uterus
e.	 Palpasi sulit
Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan
56
	 Coba saudara praktikkan asuhan pada perdarahan kehamilan lanjut Lakukan beberapa
kali dengan teman. Jika hasil assesment sudah dapat dinyatakan kompeten segera hubungi
pembimbing atau tutor saudara untuk ujian praktik. Buatlah dokumentasi dengan pendekatan
SOAP hasil asuhan yang telah saudara lakukan.
Tugas
Mandiri
Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan
57
Cuninngham. F.G. dkk. 2006. Obstetri Williams. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran. EGC
Star, Winifred et al. 2001. Ambulatory ObstetricsThird Edition. UCSF Nursing Press School of
Nursing University of California: San Fransisco
Wiknjosastro Hanifa, 2006. Ilmu Kebidanan, EGC, Jakarta
Prawirohardjo, S. Ilmu Kebidanan . Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.2005
Cooper Fraser. 2003. Myles Buku Ajar Bidan. EGC : Jakarta
GLOSSARIUM
Plasenta Previa
plasenta yang implantasinya tidak normal yaitu rendah
sekali sehingga menutupi seluruh atau sebagian jalan
lahir (ostium internum)
Solusio Plasenta
terlepasnya plasenta yang letaknya normal pada
korpus uteri yang terlepas dari perlekatannya sebelum
janin lahir
BAKSOKUDO
Singkatan dari Bidan, Alat, Keluarga, Surat, Obat,
Kendaraan, Uang dan Donor
Amniotomi Pemecahan ketuban
Daftar
Pustaka
Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan
58
Setelah menyelesaikan kegiatan belajar ini, Anda diharapkan mampu untuk melakukan asuhan
pada ibu hamil dengan Preeklamsi/Eklamsi
Secara khusus anda diharapkan dapat:
1.	 Melakukan penilaian secara sistematis dan lengkap,
2.	 Melakukan penegakan diagnosis,
3.	 Mengklasifikasikan derajat preeklampsi/eklamsi,
4.	 Mengantisipasi diagnosis potensial dari Preeklamsi/Eklamsi,
5.	 Melakukan asuhan pada ibu hamil dengan Preeklamsi/Eklamsi
Pokok materi yang akan dibahas pada kegiatan belajar kali ini adalah:
1.	 Pengertian
2.	 Diagnosis
3.	 Penanganan
4.	 Prosedur pemberian MgSO4
Kegiatan
Belajar 4
Asuhan pada Ibu Hamil Dengan
Preeklamsi/Eklamsi
Tujuan Pembelajaran Umum
Tujuan Pembelajaran Khusus
Pokok - Pokok Materi
Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan
59
	Sebelum memulai materi kegiatan belajar 4 kali ini yang akan membahas tentang asuhan pada
ibu hamil dengan preeklamsi/eklamsi ada baiknya saudara tulis terlebih dahulu pengertian
preeklamsi
Sudah? Nah jika sudah anda samakan dengan pengertian berikut:
Uraian
Materi
Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan
60
A.	 DEFINISI
Preeklampsi ialah penyakit dengan tanda – tanda hipertensi, edema, dan protein uria yang
timbul karena kehamilan. Sedangkan Eklamsi merupakan kejang yang tidak disebabkan
sebab lain pada wanita dengan preeklamsi
Setelah saudara mengetahui pengertiannya mari kita bahas cara menegakkan diagnose
preeklamsi/eklamsi
B.	 Diagnosa
Terdapat kesepakatan bahwa tekanan darah mutlak sebesar 140/90 mmHg adalah abnormal
karena tekanan darah arteri istirahat yang normal lebih rendah pada orang hamil daripada
orang yang tidak hamil.
Hipertensi dalam kehamilan pertama kali diketahui selama kehamilan dan telah kembali
normal dalam 12 minggu post partum. Dalam klasifikasi ini diagnosis akhir bahwa wanita
yang bersangkutan tidak mengidap preeklamsia hanya dapat dibuat setelah post partum .
	
Adapun teori lain yang diungkapkan oleh Saifuddin (2002. M-34 s.d M-35), bahwa tekanan
darah diastolik merupakan indikator untuk prognosis pada penanganan hipertensi dalam
kehamilan. Tekanan darah diastolik mengukur tahanan perifer dan tidak dipengaruhi oleh
keadaan emosi pasien (seperti pada tekanan sistolik).Jika tekanan diastolik ≥ 90 mmHg pada
dua pemeriksaan berjarak 4 jam atau lebih, diagnosisnya adalah hipertensi. Pada keadaan
urgen, tekanan diastolik 110 mmHg dapat dipakai sebagai dasar diagnosis, dengan jarak
pengukuran waktu +/-4 jam.
Gambar : Mengukur tekanan darah
Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan
61
	 Terdapatnya protein urin mengubah diagnosis hipertensi dalam kehamilan menjadi
preeklamsi. Beberapa keadaan lain yang dapat menyebabkan proteinuria adalah infeksi
traktus urinaria, anemia berat, gagal jantung, partus lama, hematuria dan kontaminasi dengan
darah dari vagina. Sekret vagina dan cairan ketuban dapat mengkontaminasi contoh urine.
Dianjurkan menggunakan urine midstream untuk menghindari kontaminasi. Kateterisasi
tidak dianjurkan karena beresiko infeksi traktus urinarus.
Untuk memudahkan saudara dalam menegakkan diagnosa hipertensi pada kehamilan, maka
dapat dilihat dalam tabel di bawah ini :
Gejala dan tanda
yang selalu ada
Gejala dan tanda yang
kadang-kadang ada
Diagnosis
kemungkinan
•	 Tekanan diastolik
≥ 90 mmHg pada
kehamilan ≥ 20
minggu
Hipertensi kronik
•	 Tekanan diastolik
90-110 mmHg
•	 Proteinuria + +
Hipertensi
kronik dengan
superimpossed
preeklamsia ringan
•	 Tekanan diastolik
90-110 mmHg (2
kali pengukuran
dengan berjarak
4 jam) pada
kehamilan ≥20
minggu atau
48 jam setelah
kehamilan
•	 Proteinuria –
(negatif)
Hiperrtensi dalam
kehami
Tekanan diastolik
90-110 mmHg (2 kali
pengukuran dengan
berjarak 4 jam)
pada kehamilan ≥20
minggu
Proteinuria sampai
+ +
Preeklamsia ringan
Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan
62
Tekanan diastolik
90-110 mmHg pada
kehamilan ≥20
minggu
Proteinuria ≥ + + +
Hiperrefleksia
Nyeri kepala (tidak
hilang dengan
analgetik biasa)
Penglihatan kabur
Oliguria (<400 ml / 24
jam)
Nyeri abdomen atas
(epigastrium)
Edema paru
Preeklamsia berat
Kejang
Tekanan diastolik
≥ 90 mmHg pada
kehamilan >20
minggu
Proteinuria ≥ + +
Koma
Sama seperti
preeklamsia berat
Eklamsi
Selanjutnya kita bahas bagaimana penanganan berdasarkan preeklamsi/eklamsi. Pelajari
dengan seksama bagan berikut ini.
C.	 Penanganan
Klasifikasi Penanganan
Preeklamsi
Ringan
•	 Ibu dianjurkan banyak istirahat (berbaring/ tidur miring)
•	 Konseling pengaturan asupan nutrisi: cukup protein,
rendah karbohidrat, lemak dan garam.
•	 Kolaborasi dengan dokter untuk pemeriksaan kehamilan
pada ibu dengan preeklampsi ringan
Preeklamsi Berat
Bila terdapat kasus tersebut di pelayanan primer, maka
persiapkan rujukan dan lakukan penanganan awal.
Penanganan awal preeklampsi berat yaitu:
•	 Infuse larutan ringer laktat
•	 Pemberian MgSO4
Cara pemberian MgSO4
•	 Pemberian melalui intravena secara kontinyu (dengan
menggunakan infusion pump):
•	 Dosis awal 4 gram (20 cc MgSO4
20 %) dilarutkan ke dalam
100 cc ringer laktat, diberikan selama 15 – 20 menit.
•	 Dosis pemeliharaan 10 gram (50 cc MgSO4
20 %) dalam
500 cc cairan RL, diberikan dengan kecepatan 1 – 2 gram/
jam (20 – 30 tetes per menit)
Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan
63
Syarat – syarat pemberian MgSO
•	 Harus tersedia antidotum MgSO4
yaitu kalsium glukonas
10 % (1 gram dalam 10 cc) diberikan i.v. dalam waktu 3 – 5
menit
•	 Refleks patella (+) kuat
•	 Frekuensi pernafasan > 16 kali per menit
•	 Produksi urin > 30 cc dalam 1 jam sebelumnya (0,5 cc/kg
BB/jam)
MgSO4
dihentikan bila :
•	 Ada tanda – tanda intosikasi
•	 Setelah 24 jam pasca salin
•	 Dalam 6 jam pasca salin sudah terjadi perbaikan tekanan
darah (normotensif)
•	 Diuretikum tidak diberikan kecuali bila ada:
•	 Edem paru
•	 Payah jantung kongestif
•	 Edem anasarka
Antihipertensi diberikan bila:
Tekanan darah
•	 Sistolik > 180 mmHg
•	 Diastolic > 110 mmHg
Obat – obatan antihipertensi yang diberikan :
•	 Obat pilihan adalah hidralazin, yang diberikan 5 mg i.v.
pelan – pelan selama 5 menit.
•	 Dosis dapat diulang dalam waktu 15 – 20 menit sampai
tercapai tekanan darah yang diinginkan.
Apabila hidralizin tidak tersedia, dapat diberikan :
•	 Nifedipin : 10 mg, dan dapat diulangi setiap 30 menit
(maksimal 120mg/24 jam) sampai terjadi penurunan
tekanan darah.
•	 Labelatol 10 mg i.v. apabila belum terjadi penurunan
tekanan darah, maka dapat diulangi pemberian 20
mg setelah 10 menit, 40 mg pada 10 menit berikutnya,
diulangi 40 mg pada 10 menit kemudian, dan sampai 80
mg pada 10 menit berikutnya.
Bila tidak tersedia, maka dapat diberikan :
•	 klonidin 1 ampul dilarutkan dalam 10 cc larutan garam
faal atau air untuk suntikan.
•	 Disuntikan mula – mula 5 cc i.v. perlahan – lahan selama
5 menit. Kemudian diikuti dengan pemberian secara tetes
sebanyak 7 ampul dalam 500 cc dextrose 5 % atau martos
10
•	 Jumlah tetesan ditirasi untuk mencapai target tekanan
darah yang diinginkan, yaitu penurunan Mean Arterial
Pressure (MAP) sebanyak 20 % dari awal.
Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan
64
•	 Pemeriksaan tekanan darah dilakukan setiap 10 menit
sampaitercapaitekanandarahyangdiinginkan,kemudian
setiap jam sampai dengan darah stabil.
Kardiotonika
•	 Indikasi pemberian kardiotonika ialah, bila ada : tanda–
tanda payah jantung. Jenis kardiotonika yang diberikan :
Cedilanid – D
Perawatan diberikan bersama dengan Sub Bagian Penyakit
Jantung.
Lain – lain
•	 Obat – obatan antipiretik
Diberikan bila suhu rectal di atas 38,5 0C
Dapat dibantu dengan pemberian kompres dingin atau
alkohol
•	 Antibiotika
Diberikan atas indikasi
•	 Antinyeri
Bila pasien gelisah karena kontraindikasi rahim dapat
diberikan petidin HCl 50 – 75 mg sekali saja.
Eklamsi
Tujuan utama penanganan eklamsi menghentikan
berulangnya serangan kejang dan mengakhiri kehamilan
secepatnya dengan cara yang aman setelah keadaan ibu
stabil. Penanganan yang dilakukan :
•	 Beri obat anti konvulsan
•	 Perlengkapan untuk penanganan kejang (spatula,
oksigen)
•	 Lindungi pasien dari kemungkinan trauma
•	 Aspirasi mulut dan tenggorokan
•	 Baringkan pasien pada sisi kiri
•	 Posisi trendelenburg untuk mengurangi risiko aspirasi
•	 Beri oksigen 4 – 6 liter/menit
Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan
65
Baiklah, sekarang saudara telah mengingat kembali asuhan kehamilan dengan preeklamsi/
eklamsi. Untuk menangani ibu hamil yang mengalami kondisi demikian bidan harus merujuknya
ke Rumah Sakit tentunya dengan melakukan penangan awal terlebih dahulu salah satunya
adalah memberikan pemberian MgSO4
. Berikut ini adalah penuntun belajar pemberian MgSO4
.
Bacalah dengan seksama!
PENUNTUN BELAJAR
PEMBERIAN MgSO4
Nilailah setiap kinerja yang diamati menggunakan skala sebagai berikut :
1 Bila asuhan dilakukan
0 Bila asuhan tidak dilakukan
SKILL ASPEK YANG DINILAI
MAHASISWA
1 2 3 4 5 6
1
Memberikan penjelasan tentang tujuan tindakan
yang akan dilakukan pada klien dan atau
keluarga.
2
Memberikan penjelasan tentang prosedur
tindakan yang akan dilakukan pada klien dan
atau keluarga.
3
Menjelaskan kemungkinan efek samping
pemberian magnesium sulfat
4
Meminta persetujuan tindakan pada pasien atau
keluarga
5
Memeriksa syarat pemberian MgSO4
, yaitu:
•	 Harus tersedia antidotum kalsium glukonas
10% (1 gram dalam 10 cc)
•	 Refleks patella + kuat
•	 Frekuensi napas ≥ 16x/menit
•	 Produksi urin > 100 cc dalam 4 jam
sebelumnya atau > 30 ml/jam
•	 Tidak ada hematuria
6
Mempersiapkan alat-alat dan obat secara
ergonomis
•	 Preparat MgSO4
20% (5 gram dalam 25 ml)
dan 40% (10 gram dalam 25ml) @2 buah,
•	 Kalsium glukonas 10 % (1 gram dalam 10 ml)
Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan
66
•	 Spuit 10 dan 20 cc @ 2 buah
•	 Infus set 1 buah
•	 Cairan infus RL 2 kolf
•	 Abocath no 16 atau 18 1 buah
•	 Handschoon 1 pasang
•	 Plester 1 buah
•	 Gunting plester 1 buah
•	 Kapas DTT dalam tempatnya
•	 Bengkok 1 buah
•	 Perlak dan alasnya 1 buah
•	 Jam tangan 1 buah
•	 Waskom berisi larutan klorin 0,5%
•	 Wadah sampah tajam 1 buah
•	 Wadah sampah basah 1 buah
•	 Wadah sampah kering 1 buah
7 Mencuci tangan
8 Melakukan pemasangan infus sesuai prosedur *
9 Memasang douwer kateter sesuai prosedur*
10
Memberikan dosis awal (Loading Dose):
•	 Pilihan I
Berikan MgSO4
20% 4 gr (20 cc) diberikan
secara IV selama 5 menit
atau MgSO4
40% 4 gr (10 cc) secara IV selama
15 menit.
•	 Pilihan II
4 gram (20 cc MgSO4
20 %) dilarutkan ke
dalam 100 cc ringer laktat, diberikan selama
15 – 20 menit.
11
Memberikan dosis pemeliharaan (Maintenance
Dose) (dilakukan di rumah sakit, tetapi dalam
persiapan merujuk kasus dosis ini dapat
diterapkan):
•	 10 gram (50 cc MgSO4
20 %) dalam 500 cc
cairan RL, diberikan dengan kecepatan 1 – 2
gram/jam (20 – 30 tetes per menit)
•	 Maksimal dalam 24 jam cairan infus yang
masuk sebanyak 4 kolf (2000 cc) dan MgSO4
24 gr .
Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan
67
12
Memantau keadaan ibu setiap 15-30 menit
•	 Tekanan darah
•	 Nadi
•	 Pernapasan
•	 Reflek patella
•	 Volume urin
Jika terdapat tanda intoksikasi MgSO4 berikan
Kalsium glukonas 10 % = 1 gram (10% dalam 10
ml) secara IV selama 3 menit
13 Memantau kondisi janin (DJJ) setiap 15-30 menit
14 Mencuci tangan sesuai prosedur
15
Mendokumentasikan hasil tindakan dalam
catatan pasien
NILAI TOTAL = Jumlah skor x 100% = ..................
Skor total(45)
Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan
68
	 Hipertensi dalam kehamilan merupakan kelainan kardiovaskular berupa kenaikan tekanan
darah tinggi sebesar 140/90 mmHg atau lebih yang diketahui pertama kali selama kehamilan dan
kembali normal dalam 12 minggu post partum. Penegakan diagnose dapat melalui pemeriksaan
fisik dan pemeriksaan laboratorium.
	 Penanganganan hipertensi dalam kehamilan diberikan berdasarkan diagnose pasien, terdiri
dari penanganan konservatif dan penanganan aktif.
Pemberian MgSO4 pada preeklampsi/ eklampsi terbagi menjadi pemberian loading dose dan
maintenance dose, dan perlu memenuhi syarat pemberian MgSO4.
Rangkuman
Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan
69
Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut dengan memilih salah satu alternatif
jawaban yang Saudara anggap paling benar pada kertas tersendiri.
1.	 Seorang perempuan berusia 19 tahun G1P0A0 hamil 32 minggu, datang ke RS mengeluh
	 pusing yang sangat hebat. Ibu tidak mempunyai riwayat hipertensi. Hasil pemeriksaan TD:
	 170/110 mmHg, DJJ 145x/menit reguler, his tidak ada, reflek patela (+) dan protein urine +3
	 Apakah kemungkinan diagnosis pada kasus tersebut?
a.	 Superimposed preeklampsia
b.	 Hipertensi gestasional
c.	 Preeklampsia ringan	
d.	 Preeklampsia berat
e.	Eklamsi
2.	 Seorang perempuan berusia 19 tahun G1P0A0 hamil 32 minggu, datang ke RS mengeluh
	 pusing yang sangat hebat. Ibu tidak mempunyai riwayat hipertensi. Hasil pemeriksaan TD:
	 170/110 mmHg, DJJ 145x/menit reguler, his tidak ada, reflek patela (+) dan protein urine +3
	 Apakah diagnosis potensial pada kasus tersebut?
a.	 Pertumbuhan janin terhambat
b.	 Deformitas janin
c.	Olihidramnion
d.	 Janin mati
e.	Abortus
3.	 Seorang perempuan berusia 19 tahun G1P0A0 hamil 32 minggu, datang ke RS mengeluh
	 pusing yang sangat hebat. Ibu tidak mempunyai riwayat hipertensi. Hasil pemeriksaan TD:
	 170/110 mmHg, DJJ 145x/menit reguler, his tidak ada, reflek patela (+) dan protein urine +3
	 Apakah tindakan awal pada kasus tersebut?
Evaluasi
Formatif
Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan
70
a.	 Beri MgSO4 20 % 4 gr IV
b.	 Beri MgSO4 40 % 4 gr IV
c.	 Beri MgSO4 40 % 2 gr IV
d.	 Beri MgSO4 20 % 2 gr IV
e.	 Beri MgSO4 20 % 5 gr IV
4.	 Seorang perempuan berusia 19 tahun G1P0A0 hamil 32 minggu, datang ke RS mengeluh
	 pusing yang sangat hebat. Ibu tidak mempunyai riwayat hipertensi. Hasil pemeriksaan TD:
	 170/110 mmHg, DJJ 145x/menit reguler, his tidak ada, reflek patela (+) dan protein urine +3
	 Apakah penyebab keluhan pada kasus tersebut?
a.	 Spasme kortek serebri
b.	 Kerusakan glomerolus
c.	 Kerusakan endotel
d.	 Edema pulmonal
e.	Proteinuria
5.	 Seorang perempuan berusia 19 tahun G1P0A0 gravida 32 minggu, mendapat perawatan di
	 RS dengan diagnosis PEB dan telah mendapatkan terapi MgSO4 selama lebih kurang 16 jam.
	 Hasil observasi : frekuensi nafas 12 x/menit, TD 90/70 mmHg, DJJ 100x/menit, reflek patela
	 (-), urin 80 cc / 4 jam terakhir. Apakah kemungkinan diagnosis pada kasus tersebut?
a.	 Intoksikasi MgSO4
b.	 Syok kardiogenik
c.	 Hellp syndrom
d.	Perdarahan
e.	Eklampsia
6.	 Seorang perempuan berusia 19 tahun G1P0A0 gravida 32 minggu, mendapat perawatan di
	 RS dengan diagnosis PEB dan telah mendapatkan terapi MgSO4 selama lebih kurang 16 jam.
	 Hasil observasi : frekuensi nafas 12 x/menit, TD 90/70 mmHg, DJJ 100x/menit, reflek patela
	 (-), urin 80 cc / 4 jam terakhir Apakah tindakan awal pada kasus tersebut?
Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan
71
a.	 Beri kalsium glukonas 2 gram (15 %) IM
b.	 Beri kalsium glukonas 1 gram (10%) IV
c.	 Beri natrium glukonas 1 gram (10%) IV
d.	 Beri kalsium glukonas 2 gram (10%) IM
e.	 Beri natrium klorida 1 gram (10%) IV
7.	 Seorang perempuan berusia 19 tahun G1P0A0 hamil 32 minggu, datang ke RS mengeluh
	 pusing yang sangat hebat. Ibu tidak mempunyai riwayat hipertensi. Hasil pemeriksaan TD:
	 170/110 mmHg, DJJ 145x/menit reguler, his tidak ada, protein urine +3. Bidan memberikan
	 MgSO4. Apakah syarat pemberian obat tersebut?
a.	 Protien urine (+)
b.	 Refleks patela (+)
c.	 Volume urine 30 ml /24 jam
d.	 Frekuensi nafas < 20 x/menit
e.	 Tekanan darah sistol > 140 mmHg
8.	 Seorang perempuan berusia 19 tahun G1P0A0 hamil 32 minggu, datang ke RS dengan kejang
	 eklamsi. Apakah tindakan awal yang dilakukan bidan?
a.	 Berikan infus RL
b.	 Berikan Oksigen
c.	 Beri antikonvulsan
d.	 Posisikan ibu setengah duduk
e.	 Aspirasi mulut dan tenggorokan
9.	 Seorang perempuan berusia 19 tahun G1P0A0 hamil 32 minggu, datang ke RS mengeluh
	 pusing yang sangat hebat. Ibu tidak mempunyai riwayat hipertensi. Hasil pemeriksaan TD:
	 170/110 mmHg, DJJ 145x/menit reguler, his tidak ada, reflek patela (+) dan protein urine (-)
	 Apakah kemungkinan diagnosis pada kasus tersebut?
a.	 Superimposed preeklampsia
b.	 Hipertensi gestasional
Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan
72
c.	 Preeklampsia ringan	
d.	 Preeklampsia berat
e.	Eklamsi
10.	Seorang perempuan berusia 19 tahun G1P0A0 hamil 32 minggu, datang ke RS mengeluh
	 pusing yang sangat hebat. Ibu mempunyai riwayat hipertensi. Hasil pemeriksaan TD: 170/110
	 mmHg, DJJ 145x/menit reguler, his tidak ada, reflek patela (+) dan protein urine +3
	 Apakah kemungkinan diagnosis pada kasus tersebut?
a.	 Superimposed preeklampsia
b.	 Hipertensi gestasional
c.	 Preeklampsia ringan	
d.	 Preeklampsia berat
e.	Eklamsi
Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan
73
	Coba anda praktikkan asuhan pada ibu hamil dengan Preeklamsi/Eklamsi dengan menggunakan
daftar tilik diatas. Buatlah dokumentasi dengan pendekatan SOAP hasil asuhan yang telah
anda lakukan.
Tugas
Mandiri
Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan
74
Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta: Yayasan Bina
Pustaka Sarwono Prawirohardjo. 2002
Cunningham F G., et al. 2010. Williams Obstetrics 23rd Ed. McGraw-Hill, Medical Publishing
Division
Cunningham. F.G, et al, Obstetri Williams, ed.18, EGC, Jakarta,1995
Goodwin, T. Murphy, et al. 2010. Management of Common Problems in Obstetrics and Gynecology.
Blackwell Publishing Ltd
Jordan, Sue. 2004. Farmakologi Kebidanan. EGC, Jakarta
Prawirohardjo, S. 2009. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
Saifudin A B., 2010. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta
:Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
T.W. Kusuma. 2009. Manajemen Risiko Dalam Pelayanan Pasien Preeklampsia Berat/Eklampsia
Di Instalasi Gawat Darurat Rsupncm. www.isjd.pdii.lipi.go.id. 19.36
GLOSSARIUM
Preeklamsia
Penyakit dengan tanda – tanda hipertensi, edema,
dan protein uria yang timbul karena kehamilan
Hematuria
Setiap kondisi di mana urin mengandung darah
atau sel-sel darah merah.
urine midstream
Urine pancaran tengah (midstream), di mana
aliran pertama urin dibuang dan aliran urine
selanjutnya ditampung dalam wadah yang telah
disediakan.
Maintenance Dose Dosis pemeliharaan
Daftar
Pustaka
Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan
75
Setelah menyelesaikan kegiatan belajar ini, Anda diharapkan mampu untuk melakukan asuhan
pada ibu hamil dengan infeksi malaria
Secara khusus anda diharapkan dapat:
1.	 Melakukan penilaian secara sistematis dan lengkap,
2.	 Melakukan penegakan diagnosis,
3.	 Mengantisipasi diagnosis potensial dari kehamian dengan infeksi malaria,
4.	 Melakukan asuhan pada ibu hamil dengan infeksi malaria
Pokok materi yang akan dibahas pada kegiatan belajar kali ini adalah:
1.	 Pengertian
2.	 Diagnosis
3.	 Pengaruh malaria selama kehamilan
4.	 Penanganan
Kegiatan
Belajar 5 Asuhan pada Ibu Hamil Dengan
Infeksi Malaria
Tujuan Pembelajaran Umum
Tujuan Pembelajaran Khusus
Pokok - Pokok Materi
Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan
76
Sampai saat ini malaria masih mejadi salah satu masalah bagi kesehatan masyarakat di
negara-negara seluruh dunia, baik didaerah tropis maupun sub tropis, terutama. Dinegara
berkembang termasuk Indonesia. Malaria menyerang individu tanpa membedakan umur
dan jenis kelamin, tidak terkecuali wanita hamil merupakan golongan yang rentan terhadap
malaria. Di daerah endemi malaria wanita hamil lebih mudah terinfeksi parasit malaria
dibandingkan wanita tidak hamil.
Baiklah, sebelum anda mulai melakukan asuhan pada ibu hamil dengan infeksi malaria mari
kita tinjau kembali kajian teori , hal ini akan mengingatkan anda apa saja yang harus dipahami
bidan saat memberikan asuhan pada kehamilan dengan infeksi malaria.
Uraian
Materi
Gambar : Nyamuk Pembawa VIrus Malaria
Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan
77
Apa yang Anda ketahui tentang penyakit malaria? Tuliskan jawaban Anda pada kotak berikut.
Sekarang cocokkan jawaban Anda dengan uraian berikut ini:
A.	 MALARIA
1.	 Pengertian
Penyakit malaria disebabkan oleh parasit protozoa dari Genus plasmodium. Empat
spesies yang ditemukan pada manusia adalah Plasmodium Vivax, P. ovale, P. malariae
dan P. Falciparum.
Malaria pada kehamilan dapat disebabkan oleh keempat spesies plasmodium, tetapi
plasmodium Falciparum merupakan parasit yang dominan dan mempunyai dampak
paling berat terhadap morbiditas dam mortalitas ibu dan janinnya.
Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan
78
2.	 Gejala
Coba saudara tuliskan gejala- gejala awal malaria pada kotak berikut ini:
Sekarang anda bandingkan jawaban Anda dengan uraian materi berikut ini:
Gejala awal yang sering – demam, sakit kepala, mual dan muntah biasanya muncul 10 sampai
15 hari setelah terinfeksi. Bila tidak mendapatkan pengobatan yang tepat, malaria dapat
menyebabkan keseriusan dan sering berakhir dengan kematian.
3.	 Risiko
Sebagian besar kasus dan kematian terjadi di sub sahara Afrika. Selain itu, Asia, Amerika
Latin, Timur Tengah dan sebagian wilayah Eropa juga terinfeksi. Tahun 2006, malaria
menyerang 109 negara dan kepulauan.
a.	 Resiko khusus
•	 Orang dengan sedikit atau tanpa kekebalan tubuh yang pindah dari wilayah bebas
malaria menuju wilayah dengan tingkat penyakit malaria tinggi rentan terhadap
penyakit tersebut.
•	 Wanita hamil tanpa kekebalan sangat beresiko terhadap malaria. Kesakitannya
dapat berakibat pada tingginya tingkat kelahiran premature dan menyebabkan 10%
Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan
79
kematian ibu maternal (meningkat 50% pada kasus penyakit parah) setiap tahun.
•	 Wanita hamil dengan kekebalan tubuh kurang akan beresiko terhadap anemia dan
pertumbuhan janin yang tidak sempurna, walaupun mereka tidak menampakkan
tanda-tanda penyakit akut. Tiap tahun diperkirakan 200.000 bayi meninggal akibat
malaria selama kehamilan.
•	 Wanita hamil yang menderita HIV juga memiliki resiko tinggi
4.	 Gejala klinis
Pada ibu hamil dengan malaria, gejala klinis yang penting diperhatikan ialah:
1. Demam
Demam merupakan gejala akut malaria yang lebih
sering dilaporkan pada ibu hamil dengan kekebalan
rendah atau tanpa kekebalan, terutama pada
Primigravida. Pada ibu hamil yang multigravida
dari daerah endemisitas tinggi jarang timbul gejala
malaria termasuk demam, meskipun terdapat
parasitemia yang tinggi.
2. Anemia
Anemia pada malaria terjadi karena lisis sel darah
merah yang mengandung parasit. Hubungan antara
anemia dan splenomegali dilaporkan oleh Brabin
(1990) yang melakukan penelitian pada wanita
hamil di Papua Neu Geuinea, dan menyatakan bahwa
makin besar ukuran limpa makin rendah nilai Hb-nya
3.Hipoglikemia
Sel darah merah yang terinfeksi parasit malaria
memerlukan glukosa 75 kali lebih banyak daripada
sel darah merah yang tidak terinfeksi, sehingga pada
penderita dengan hiperparasitemia dapat terjadi
hipoglikemia. Gejala hipoglikemia dapat berupa
gangguan kesadaran sampai koma. Bila sebelumnya
penderita sudah dalam keadaan koma karena ‘
malaria serebral’, maka komanya akan lebih dalam
lagi. Penderita ini bila diinjeksikan glukosa atau
diinfus dengan dekstrosa maka kesadarannya akan
pulih kembali, tetapi karena ada hiperinsulinemia,
keadaan hipoglikemia dapat kambuh dalam beberapa
hari
Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan
80
4. Edema paru akut
Biasanya kelainan ini terjadi setelah persalinan
bagaimana cara terjadinya edema paru ini masih belum
jelas kemungkinan terjadi karena autotransfusi darah
post-partum yang penuh dengan sel darah merah yang
terinfeksi. Gejalanya, mula mula frekuensi pernafasan
meningkat, kemudian terjadi dispenia (sesak nafas) dan
penderita dapat meninggal dalam waktu beberapa jam
5.Malaria Berat
Lainnya
Gejala klinik dan tanda malaria berat antara lain
hiperparasitemia (> 5% sdm terinfeksi), malaria otak,
anemia berat (Hb < 7,1 g/ dl), hiperpereksia (suhu > 400
C),
edema paru, gagal ginjal, hipoglikemia, syok. Gejala dan
tanda-tanda malaria tersebut diatas perlu diperhatikan,
karena kasus ini memerlukan penanganan khusus baik
untuk keselamatan ibu maupun untuk kelangsungan
hidup janinnya.
B.	 PENGARUH MALARIA SELAMA KEHAMILAN
Tentu saudara mengetahui pengaruh malaria terhadap ibu hamil. Pada ibu hamil selain
berpengaruh pada ibu, malaria juga memiliki pengaruh yang tidak baik untuk janin. Nah,
coba saudara tuliskan pengaruh malaria bagi ibu dan janin
Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan
81
Sekarang , coba bandingkan dengan uraian berikut:
1.	 PENGARUH MALARIA PADA IBU
Malaria pada ibu hamil dapat menimbulkan berbagai kelainan, tergantung pada tingkat
kekebalan seseorang terhadap infeksi parasit malaria dan paritas (jumlah kehamilan).
Ibu hamil dari daerah endemi yang tidak mempunyai kekebalan dapat menderita malaria
klinis berat sampai menyebabkan kematian. Di daerah endemisitas tinggi, malaria berat
dan kematian ibu hamil jarang dilaporkan. Gejala klinis malaria dan densitas para sitemia
dipengaruhi paritas, sehingga akan lebih berat pada primigravida (kehamilan pertama)
dari pada multigravida (kehamilan selanjutnya).
2.	 PENGARUH MALARIA PADA JANIN
a.	 Malaria Plasenta.
Plasenta juga berfungsi sebagai “Barrier” (penghalang) terhadap bakteri, parasit dan
virus. Karena itu ibu terinfeksi parasit malaria, maka parasit akan mengikuti peredaran
darah sehingga akan ditemukan pada plasenta bagian maternal. Bila terjadi kerusakan
pada plasenta, barulah parasit malaria dapat menembus plasenta dan masuk ke
sirkulasi darah janin, sehingga terjadi malaria kongenital.
Abortus, kematian janin, bayi lahir mati dan prematuritas dilaporkan terjadi pada malaria
berat dan apa yang menyebabkan terjadinya kelainan tersebut diatas masih belum
diketahui. Malaria maternal dapat menyebabkan kematian janin, karena terganggunya
transfer makanan secara transplasental, demam yang tinggi
(hiper-pireksia) atau hipoksia karena anemia.
b.	 Penanganan
•	 Kemoprofilaksis
Strategi kontrol malaria saat ini untuk kehamilan masih merupakan pemberian
kemoprofilaksis anti malaria yang rutin yaitu klorokuin pada setiap wanita hamil
dalam daerah endemi malaria.
Beberapa penelitian menunjukan bahwa kemoprofilaksis dapat mengurangi anemia
pada ibu dan menambah berat badan lahir terutama pada kelahiran pertama.
Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan
82
Resiko malaria dan konsekwensi bahayanya tidak meningkat selama kehamilan
kedua pada wanita yang menerima kemoprofilaksis selama kehamilan pertama.
Rata-rata bayi yang dilahirkan pada kehamilan pertama bagi ibu yang menerima
kemoprofilaksis lebih tinggi daripada berat bayi yang ibunya tidak menerima
kemoprofilaksis. Kelahiran mati dan setelah mati lahir lebih kurang pada bayi dan
ibu-ibu yang menerima kemoprofilaksis dibandingkan dengan bayi dari ibu-ibu
yang tidak mendapat kemoprofilaksis.
•	 Kemoterapi
Kemoterapi tergantung pada diagnosis dini dan pengobatan klinis segera. Kecuali
pada wanita yang tidak kebal, efektifitas kemoterapi pada wanita hamil tampak
kurang rapi karena pada wanita imun infeksi dapat berlangsung tanpa gejala.
Pada wanita dengan kekebalan rendah, walaupun dilakukan diagnosis dini dan
pengobatan segera ternyata belum dapat mencegah perkembanagan anemia pada
ibu dan juga berkurangnya berat badan lahir bayi.
•	 Mengurangi Kontak dengan Vektor
Mengurangi kontak dengan vektor seperti insektisida, pemakaian kelambu yang
dicelup dengan insektisida mengurangi prevalensi parasitemia, khususnya densitas
tinggi, insidens klinis dan mortalitas malaria. Pada wanita hamil di Thailand dilaporkan
bahwa pemakaian kelambu efektif dalam mengurangi anemia maternal dan
parasitemia densitas tinggi, tetapi tidak efektif dalam meningkatkan berat badan
lahir rendah.
•	 Vaksinasi
Target vaksin malaria antara lain mengidentifikasi antigen protektif pada ketiga
permukaan stadium parasit malaria yang terdiri dari sporozoit, merozoit, dan
gametosit. Kemungkinan penggunaan vaksin yang efektif selama kehamilan baru
muncul dan perlu pertimbangan yang kompleks.
Tiga hal yang perlu dipertimbangkan dalam penggunaan vaksin untuk mencegah
malaria selama kehamilan, yaitu :
Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan
83
a. Tingkat imunitas sebelum kehamilan
b. Tahap siklus hidup parasit
c. Waktu pemberian vaksin15.
Sampai saat ini belum ditemukan vaksin yang aman dan efektif untuk penanggulangan malaria
Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan
84
Rangkuman
1.	 Malaria adalah penyakit parasit yang resikonya lebih tinggi pada ibu hamil dibandingkan
dengan mereka yang tidak hamil, terutama selama kehamilan pertama yang dapat
menyebabkan infeksi plasenta, abortus, meninggal dalam kandungan, anemia dan berat
badan lahir rendah.
2.	 Diagnosa dapat ditegakkan berdasarkan gejala yang dialami ibu, diantaranya demam,
anemia, hipoglikemi, edema paru akut, dan malaria berat.
3.	 Pengaruh utama malaria selama kehamilan adalah terutama pada ibu dan janinnya. Pada
ibu dengan infeksi plasmodium falciparum dapat terjadi komplikasi berat seperti demam,
anemia, hipoglikemia, malaria otak, edema paru mrupakan yang utama mempengaruhi
wanita-wanita dengan kekebalan rendah. Pada malaria plasenta dapat menyebabkan
kematian janin, abortus, hiperpireksia, prematuritas dan berat badan lebih rendah.
4.	 Penanganan malaria selama kehamilan dapat dilakukan secara kemoprofilaksis, kemoterapi,
mengurangi kontak dengan vektor dan vaksinasi.
Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan
85
Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut dengan memilih salah satu alternatif
jawaban yang Saudara anggap paling benar pada kertas tersendiri.
1.	 Penyakit malaria dalam kehamilan merupakan penyakit infeksi yang berbahaya. Penyakit ini
	 dapat menimbulkan berbagai kelainan. Apakah yang mempengaruhi terjadinya kelainan
	tersebut?
a.	 Tingkat infeksi parasit malaria
b.	Hiperglikemia
c.	 Paritas
d.	 Muntah
e.	Edema
2.	 Kontrol malaria saat kehamilan sangat diperlukan terutama di daerah endemi malaria.
	 Apakah obat antimalaria terpilih pada kasus tersebut?
a.	Halofantrin
b.	Doksisiklin
c.	Tetrasiklin
d.	Primakuin
e.	Klorokuin
3.	 Salah satu upaya pencegahan malaria pada ibu hamil adalah dengan mengurangi kontak
	 dengan vektor. Apakah upaya yang dilakukan utnuk pencegahan kasus tersebut?
a.	 Memakai kelambu
b.	 Pemberian tablet besi
c.	 Pemberian asam folat
d.	 Imunisasi TT lengkap
e.	 Pemberian obat anti malaria
Evaluasi
Formatif
Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan
86
4.	 Seorang perempuan berusia 20 tahun G1P0A0 hamil 16 minggu dengan malaria. Sebelumnya
	 ibu tidak pernah menderita malaria Bagaimana pemberian obat anti malaria pada kasus
	tersebut?
a.	 Diberi sulfadoksin-pirimetamin (SP) dari pertama datang/setelah sakit sampai masa nifas
b.	 Diberi Klorokuin 2 tablet/minggu dari pertama datang/setelah sakit sampai masa nifas
c.	 Diberi sulfadoksin-pirimetamin (SP) pada trimester II dan III awal
d.	 Diberi Klorokuin 2 tablet/minggu pada trimester II dan III awal
e.	 Diberi sulfadoksin) pada trimester II dan III awal
5.	 Seorang perempuan berusia 20 tahun G1P0A0 hamil 16 minggu datang ke puskesmas dengan
	 keluhan demam, lesu kadang-kadang muntah. Hasil pemeriksaan disimpulkan ibu mengalami
	 malaria. Parasitemia < 5 %. Apakah tindakan pada kasus tersebut?
a.	 Ibu di rujuk ke RS
b.	 Ibu harus bed rest total
c.	 Ibu dirawat di Puskesmas
d.	 Dilakukan pemasangan infus
e.	 Ibu pulang dengan diberikan obat anti malaria
6.	 Seorang perempuan berusia 20 tahun G1P0A0 hamil 20 minggu datang ke puskesmas dengan
	 keluhan demam, lesu kadang-kadang muntah. Hasil pemeriksaan disimpulkan ibu mengalami
	 malaria. Parasitemia < 5 %. Hb 11 gr/dl. Bidan harus melakukan antisipasi untuk mencegah
	 terjadinya anemia Apakah tindakan bidan pada kasuss tersebut?
a.	 Pemberian tablet Fe 120 mg/hari dan vitamin B 12
b.	 Pemberian tablet Fe 60 mg/hari dan asam folat 1 mg/hari
c.	 Pemberian tablet Fe 120 mg/hari dan asam folat 1 mg/hari
d.	 Pemberian tablet Fe 60 mg/hari dan vitamin C 1 tablet/hari
e.	 Pemberian tablet Fe 120 mg/hari dan kalsium 1 tablet/ hari
7.	 Seorang perempuan berusia 20 tahun G1P0A0 hamil 38 minggu datang ke puskesmas dengan
	 keluhan demam, lesu kadang-kadang muntah. Hasil pemeriksaan disimpulkan ibu mengalami
Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan
87
	 malaria. Apakah diagnosis potensial pada kasus tersebut?
a.	 Pertumbuhan janin terhambat
b.	 Persalinan prematur
c.	 Malaria kongenital
d.	Abortus
e.	BBLR
8.	 Seorang perempuan berusia 20 tahun G1P0A0 hamil 24 minggu datang ke puskesmas dengan
	 keluhan demam, lesu kadang-kadang muntah. Hasil pemeriksaan disimpulkan ibu mengalami
	 malaria. Apakah diagnosis potensial pada kasus tersebut?
a.	 Pertumbuhan janin terhambat
b.	 Persalinan prematur
c.	 Malaria kongenital
d.	Abortus
e.	BBLR
9.	 Seorang perempuan berusia 20 tahun G1P0A0 melahirkan di puskesmas, ibu di diagnosis
	 malaria dan anemia berat. Apakah kemungkinan komplikasi pada persalinan tersebut?
a.	 Edema paru
b.	 Atonia uteri
c.	Hipoglikemia
d.	 Retensio plasenta
e.	Hepatosplenomegali
10.	Seorang perempuan berusia 15 tahun menegeluh demam, lesu mual muntah datang ke
	 puskesmas. Hasil pemeriksaan perempuan tersebut didiagnosis malaria berat
	 Apakah data yang menunjang diagnosis tersebut?
a.	 Edema wajah
b.	 Konjuctiva pucat
c.	 Mulut dan bibir kering
d.	 Tonus otot abdomen lemah
e.	 Pembesaran limpa (splenomegali)
Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan
88
1.	 Coba anda praktikkan asuhan pada ibu hamil dengan infeksi malaria
2.	 Buatlah dokumentasi dengan pendekatan SOAP hasil asuhan yang telah anda lakukan.
Tugas
Mandiri
Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan
89
Brabin B. J ; Brabin L. R ; sapau J. & Alpers W.P. A Longitudinal study of splenomegali in
pregnancy in malaria endemic area in Papua New Guinea.
Departemen kesehatan republik indonesia. Malaria. Epidemiologi I. Direktorat Jendral PPM
& PLP.
Mc. Gregor I. A. Epidemiology, Malaria and Pregnancy. Am. J. Trop. Med. Hyg. (1984). 33 (4)
517-525.
Pribadi W. dan S. Sungkar. Malaria. Balai Penerbit. Fakultas Kedoketran UI. Jakarta.
Sutanto. I. Malaria Pada Kehamilan. Bagian Parasitologi Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia, Jakarta.
Theresia. Beberapa aspek Malaria pada plasenta. Makalah Seminar Biomedik.
Tjitra E. Malaria pada kehamilan. Cermin Dunia kedokteran. 1991. (68) : 48-52.
Tjitra E. Manifestasi Klinis dan Pengobatan Malaria. P3M. BPPK Depkes RI, jakarta. Cermin
Dunia Kedokteran No. 94. 1994.
WHO. The Clinical Management of Acute Malaria. WHO Regional Publication, South East
Asia Series No. 9. 3rd Asia, New Delhi.
WHO.Weekly Epidemiological Record.
GLOSSARIUM
Malaria
Penyakit malaria disebabkan oleh parasit protozoa dari
Genus plasmodium
Barrier Penghalang
Kemoterapi Penggunaan obat atau hormon untuk mengatasi kanker.
Vektor
Organisme yang menyebarkan agen infeksi (patogen)
dari inang ke inang. Contoh vektor adalah lalat, nyamuk,
tungau, kutu, tikus, sapi, babi, kucing dan anjing.
Daftar
Pustaka
Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan
90
Setelah menyelesaikan kegiatan belajar ini, Anda diharapkan mampu untuk melakukan asuhan
pada ibu hamil dengan HIV/AIDS
Secara khusus anda diharapkan dapat:
1.	 Melakukan penilaian secara sistematis dan lengkap,
2.	 Melakukan penegakan diagnosis,
3.	 Mengklasifikasikan derajat HIV/AIDS,
4.	 Mengantisipasi diagnosis potensial dari kehamian dengan HIV/AIDS,
5.	 Melakukan asuhan pada ibu hamil dengan HIV/AIDS
Pokok materi yang akan dibahas pada kegiatan belajar kali ini adalah:
1.	 Pengertian
2.	 Klasifikasi perkembangan penyakit
3.	 Faktor Yang Meningkatkan Risiko Penularan HIV Dari Ibu Ke Bayinya
4.	 Pencegahan penyakit
5.	 Diagnosis
6.	 Penanganan
Kegiatan
Belajar 6
Asuhan pada Ibu Hamil Dengan
HIV/AIDS
Tujuan Pembelajaran Umum
Tujuan Pembelajaran Khusus
Pokok - Pokok Materi
Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan
91
	 Baiklah, sebelum anda mulai melakukan asuhan pada ibu hamil dengan HIV/AIDS mari kita
tinjau kembali kajian teori, hal ini akan mengingatkan anda apa saja yang harus dipahami bidan
saat memberikan asuhan pada kehamilan dengan HIV/AIDS.
Apa yang Anda ketahui tentang HIV/AIDS? Tuliskan jawaban Anda pada kotak berkut.
Uraian
Materi
Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan
92
Sekarang cocokkan jawaban Anda dengan uraian berikut ini:
A.	 HIV/AIDS
1.	 Pengertian
HIV/AIDS yaitu kondisi hilangnya kekebalan tubuh sehingga memberi kesempatan
berkembangnya berbagai bentuk infeksi dan keganasan. Dengan hilangnya semua
kekebalan tubuh manusia terhadap AIDS, tubuh seolah-olah menjadi tempat pembenihan
bakteri, jamur, protozoa, serta terjadi degenerasi ganas.
2.	 Klasifikasi Perkembangan Penyakit
•	Fase pertama , seseorang mulai terinfeksi HIV, ciri-ciri seseorang terinfeksi HIV belum
terlihat meskipun melakukan tes darah. Karena dalam fase ini antibodi terhadap HIV
belum terbentuk. Saat ini orang yang terinfeksi HIV dapat menulari orang lain, masa ini
dikenal dengan Window Period biasanya diantara 1-6 bulan.
•	Fase kedua adalah fase setelah dihasilkannya antibody HIV. Selama fase ini yang
diperkirakan 10-15 tahun, banyak orang tidak mengalami gejala klinis, tetapi dapat
menularkan kepada orang lain, fase ini dikenal dengan fase asymptomatyk.
•	Fase ketiga adalah masa gejala awal penyakit. selama fase ini orang-orang dinyatakan
secara klinis sakit, yang mungkin terpengaruh oleh infeksi seperti oral candidiasis.
•	Fase keempat dikenal sebagai gejala stadium akhir (AIDS). Biasanya terlihat sejumlah
infeksi oportunistik yaitu dengan berkurangnya kekebalan tubuh.
•	Selama fase kelima, dilakukan pengobatan terhadap infeksi oportunistik yang hasilnya
cukup baik.
•	Fase keenam adalah fase terakhir . yang paling sering menyebabkan kematian adalah
pneumonia. Pasien menjadi buta, inkontinentia, kurang gizi dan bisa terjadi demensia.
MTCT dari penyakit HIV merupakan penyebab utama infeksi HIV pada anak di bawah umur
15 tahun. Sejak mulainya pandemic HIV, di estimasikan sekitar 5.1 juta anak sedunia telah
terinfeksi dan hampir semuanya melalui MTCT. HIV dapat ditularkan dari seorang ibu yang
terinfeksi selama kehamilan, persalinan atau melalui proses menyusui.
Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan
93
Tabel 1. Waktu dan Risiko Penularan HIV dari Ibu ke Bayinya
Waktu Risiko (%)
Selama Kehamilan 5 - 10%
Ketika Persalinan 10 - 20%
Penularan Melalui ASI 10 - 15%
Keseluruhan Risiko Penularan 25 – 45 %
Sumber: De Cock KM, Fowler MG, Mercier E, et al. Jama 2000
B.	 Faktor Yang Meningkatkan Risiko Penularan HIV Dari Ibu Ke Bayinya
MASA KEHAMILAN
•	 Ibu baru terinfeksi HIV
•	 Ibu memiliki infeksi virus, bakteri, parasit (seperti malaria)
•	 Ibu memiliki infeksi Menular Seksual (IMS)
•	 Ibu menderita kekurangan gizi (akibat tak langsung)
Apabila seorang ibu hamil baru terinfeksi virus HIV dalam kurun waktu 3 - 6 mg (infeski
primer) maka kadar viral load akan cepat sekali bertambah maksimal sampai dengan 10 juta
kopi/ml dan berkurang setelah beberapa minggu. Untuk resiko penularan virus HIV ke bayi
kadar viral load biasanya lebih dari 100.000 kopi/ml. Kadar HIV rendah bisa ditandai dengan
tingginya kadar CD4 di tubuh ODHA. Apabila kadar CD4 kurang dari 350 maka kemungkinan
terjadi penularan HIV ke ibu semakin besar sedangkan apabila kadar CD4 lebih dari 500
maka risiko peneularannya lebih kecil. Jika ibu hamil mengalami kurang energi kalori (KEK)
selama kehamilan maka risiko terinfeksi berbagai penyakit infeksi lebih tinggi
Gambar : lambang AIDS sedunia
Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan
94
sedangkan kondisi tubuh yang terinfeksi dapat meningkatkan kadar virus HIV contohnya
Infeksi Menular Seksual. Malaria dapat menyebabkan kerusakan pada plasenta sehingga
meningkatkan penularan dari ibu ka bayinya. Penyakit sifilis dapat menginfeksi bayi sejak
dalam kandungan sehingga meningkatkan risiko penularan HIV dari ibu ke bayinya.
C.	 Manfaat Dari Pemeriksaan Antenatal Terhadap Penurunan Risiko Penularan
HIV Dari Ibu Ke Bayinya
1.	 Terdeteksinya ibu hamil dengan risiko HIV/AIDS
Hal ini dapat dilakukan melalui anamnesa riwayat kesehatan ibu dan keluarganya serta
riwayat sosial ibu (pekerjaan dan lingkungan tempat tinggal)
2.	 Pemantauan kondisi ibu dan janin selama masa kehamilan
Hal ini berhubungan dengan kemungkinan munculnya penyakit maupun infeksi yang
berkaitan erat dengan tanda dan gejala ODHA. Apabila ibu sudah diketahui HIV + , maka
pemantauan pada masa kehamilan termasuk pendampingan ibu hamil untuk tetap
mengkonsumsi obat ARV.
3.	 Mempersiapkanibudenganinformasi-informasiyangdibutuhkansehubungan
dengan nutrisi kehamilan, tanda dan gejala IMS, perencanaan persalinan, persiapan
laktasi dan perujukan untuk VCT ke TIM tenaga Kesehatan yang berwenang.
Nutrisi dalam kehamilan bertujuan untuk menjaga kondisi kesehatan ibu baik yang telah
terinfeksi HIV maupun dengan status HIV yang belum diketahui agar risiko PMTCT lebih
berkurang.
Deteksi dini IMS bermanfaat untuk mempercepat pengobatan yang diberikan sehingga
infeksi tidak menular ke bayinya. Perencanaan persalinan dalam hal ini disesuaikan dengan
kadar CD4 ibu pada saat menjelang persalinan harus diinformasikan agar pengambilan
keputusan pada saat persalinan lebih cepat. Untuk informasi persiapan laktasi diberikan
sejak masa kehamilan agar ibu hamil dapat melakukan semua upaya pencegahan PMTCT
sejak awal lahirnya bayi.
Banyak perempuan dengan HIV + terdiagnosa pertama kali pada saat kontak pertama
Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan
95
pemeriksaan kehamilan, untuk itu, pelayanan conseling dan testing HIV sangatlah penting
untuk keberlanjutan terapi, asuhan dan dukungan untuk bayi baru lahir, keluarga dan ibu
sendiri. Manfaat dari VCT pada Antenatal Care adalah:
•	Pengetahuan tentang hasil negatif dapat mendorong perilaku seks aman
•	Perempuan yang terdiagnosa dengan HIV dapat mendorong pasangannya untuk diperiksa
dan dikonsultasi juga.
•	Dengan mengetahui status HIV mereka memungkinkan kaum perempuan dan pasangannya
untuk membuat pilihan sehubungan dengan praktik menyusui dan kehamilan selanjutnya.
•	Seorang perempuan dan keluarganya yang mengetahui bahwa dia terinfeksi HIV dapat di
motivasi untuk mengikuti asuhan berkelanjutan baik untuk dirinya dan bayinya kelak,
termasuk kemudahan akses terhadap pelayanan kesehatan yang lainnya.
•	Mudahnya akses dan ketersediaan pelayanan VCT dalam asuhan ANC dapat membantu
“menormalkan” presepsi negatif tentang HIV.
•	Pengetahuan tentang status HIV dapat memungkinkan perempuan untuk mengakses
kelompok pemberi support kaum ODHA.
•	Penatalaksanaan pengobatan penyakit menular seksual akan lebih dini.
Sudah jelas bukan uraian materi yang disampaikan pada materi ini. Sekarang saudara
pelajari penuntun belajar asuhan antenatal pada ibu dengan HIV/AIDS berikut ini:
PENUNTUN BELAJAR
ASUHAN ANTENATAL DENGAN HIV/AIDS
Nilailah setiap kinerja yang diamati menggunakan skala sebagai berikut :
1 Bila asuhan dilakukan
0 Bila asuhan tidak dilakukan
SKILL LANGKAH KEGIATAN
KASUS
1 2 3
1
Anamnesa Riwayat Ibu: riwayat kesehatan, riwayat
obstetri dan riwayat psikososial, penggunaan obat,
kondisi alergi dan penggunaan obat tradisional
Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan
96
2
Pemeriksaan Fisik dan Tanda-tanda Vital:
pemeriksaan head to toe dengan penambahan tanda
dan gejala AIDS, anemia, malaria, TB Paru, dan IMS dll
3
Pemeriksaan abdomen dan panggul: pemeriksaan
inspekulo dan pemeriksaan bimanual (apabila
memungkinkan), lihat tanda IMS (Perhatikan prinsip PI)
4
Rujukan untuk pemeriksaan laboratorium lengkap
untuk bidan pemeriksaan Hb dapat dilakukan dengan
tetap memperhatikan prinsip PI
5
Pemberin immunisasi TT: berikan sesuai dengan
standar pemberian immunisasi TT (Perhatikan prinsip
PI)
6
Pemeriksaan Status Nutrisi Ibu hamil dan
Konseling: BMI, dan pemantauan Berat Badan Ibu
hamil, memonitor kondisi anemia termasuk suplemen
asam folat dan Fe, konseling konsumsi makanan yang
bergizi seimbang yang disesuaikan dengan jenis dan
kesediaan makanan setempat.
7
Pemeriksaan Risiko IMS: lihat tanda dan gejala IMS,
penatalaksanaan sesuai kewenangan dan melakukan
rujukan
8 Pemeriksaan infeksi Oportunistik
9
Pemeriksaan tanda dan gejala TB dan Malaria:
Identifikasi semua wanita hamil dengan gejala batuk
yang lebih dari 2 mg dan gejala malaria di daerah yang
endemik (berikan penatalaksanaan dan rujukan sesuai
dengan kewenangan bidan berkaitan dengan program
TB dan Malaria)
10
Pemantauan konsumsi ARV (pada ibu yang
mendapatkan terapi): koordinasi dengan tenaga
kesehatan yang memberikan terapi
Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan
97
11
Pendidikan Kesehatan tentang Pemberian nutrisi
pada bayi: semua ibu hamil membutuhkan informasi
dan dukungan untuk perencanaan makanan bayi.
Khusus untuk ibu dengan status HIV yang diketahui +
maupun yang belum diketahui statusnya. Konseling
pemberian makan untuk bayi telah terbukti lebih
effektif dari hanya sekedar pemberian saran untuk
melakukan pemberian ASI ekslusif. Konseling yang
baik dapat membantu perempuan dengan HIV + untuk
memilih dan melakukan pemberian jenis makanan
yang tepat untuk bayinya. Beberapa masalah yang
terjadi pada payudara meningkatkan resiko transmisi
HIV dan conseling yang efektif dapat mengurangi
resiko tersebut. Penatalaksanaan Breast Care,
penempatan posisi menyusui yang baik dan ASI on
demmand.
12
Konseling tanda-tanda bahaya pada masa
kehamilan: pastikan informasi yang diberikan sesuai
dengan trimester kehamilan ibu hamil tersebut
13
Pendidikan kesehatan tentang tanda dan gejala
HIV/AIDS: memberitahukan tanda dan gejala HIV/AIDS
seperti infeksi oportunistik, diare kronis, kandidiasis,
demam dan penurunan berat badan serta prosedur
perujukannya.
14
Pasangan dan keluarga ibu hamil: dukungan
moral dan semangat agar kondisi ibu tetap sehat.
Perempuan dengan HIV memiliki kekahawatiran
lebih mengenai kesehatannya, kesehatan anaknya,
kerahasiahan statusnya.
15
Konseling KB: konseling penggunaan kondom selama
masa kehamilan, sampai dengan masa postpartum
dan masa menyusui untuk menghindari infeksi baru,
infeksi ulang, kehamilan yang tidak diinginakan setelah
bersalin dan penggunaan KB jangka lama.
16 Konseling Perencanaan persalinan
*Kunjungan ulang antenatal care disesuaikan dengan kondisi trimester ibu, apakah T
I, T II maupun, T III
Supaya saudara lebih memahami penangan ibu hamil dengan HIV/AIDS berikut adalah alur
terapinya :
Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan
98
ALUR TERAPI ARV DAN PILIHAN PERSALINAN UNTUK IBU HAMIL < 14 MINGGU DAN IBU
HAMIL > 14 MINGGU
Sumber : Kementrian kesehatan RI, 2011
ARV
Penggunaan obat-obatan antiretroviral selama masa kehamilan dan persalinan telah terbukti
efektif dalam mengurangi transmisi dari ibu ke bayinya. ARV ini dapat mengurangi resiko MTCT
dengan mengurangi replikasi virus pada ibu dan melalui prophylaxsis pada bayi selama dan
setelah terekspose dengan virus tersebut.
Penelitian menunjukan pemberian zidovudin (AZT) pada ibu (dari usia kehamilan 14 mg)
selama kehamilan, persalinan dan nifas, serta pemberian pada Bayi baru lahir mengurangi
MTCT sampai dengan 67%. Di negara maju hal ini sudah diterapkan namun untuk negara-
negara berkembang Karena kurangnya ketersediaan obat dan infrastruktur penunjang dapat
diberikan dosis singkat pada usia kehamilan 36 mg s.d masa nifas.
VIRAL LOAD
SETELAH/SELAMA HAMIL
< 14 Minggu
TERAPI
ARV
VIRAL
LOAD
INDIKASI +
SEGERA BERI ARV
SC SPONTAN
SC ≥ 1000 SPONTAN < 1000
SC
< 14 Minggu
INDIKASI -
ARV TUNGGU/MULAI
PADA MG 14
ADA TIDAK ADA
Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan
99
INFORMASI YANG DIBERIKAN PADA IBU HAMIL YANG MEMILIH UNTUK MELAKUKAN
TERMINASI KEHAMILAN
Di tempat dimana aborsi itu legal dan diterima, wanita dengan HIV + dapat menggunakan
pelayanan ini. Namun, seringkali perempuan baru menyadari mereka terinfeksi HIV pada
saat mereka sudah hamil dan sudah terlambat untuk dilakukan terminasi kehamilan. Apabila
terminasi kehamilan merupakan pilihan, perempuan dan lebIh baik dengan pasangannya harus
mendapatkan konsultasi untuk mengambil keputusan. Setelah proses terminasi kehamilan
pasangan harus di konsultasi untuk menggunakan alat kontrasepsi untuk menghindari
kehamilan apabila memang tidak diinginkan.
Bidan dalam hal ini harus melakukan pemberian informasi yang memadai dan rujukan yang
tepat waktu agar ibu hamil dan pasangannya mendapatkan pelayanan VCT dan pelayanan
terminasi kehamilan dari Nakes yang berkompeten dan berwenang.
Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan
100
ALUR PENATALAKSANAAN ASUHAN ANTENATAL OLEH BIDAN BAGI IBU HAMIL DENGAN
HIV + ATAU DENGAN STATUS HIV YANG TIDAK DIKETAHUI
IBU
HAMIL
TEMPAT
PRAKTIK
BIDAN
BPS/RB
IBU HAMIL HIV (-) IBU HAMIL STATUS
HIV (+)
IBU HAMIL STATUS HIV
TIDAK DIKETAHUI
ASUHAN KEBIDANAN
KOMPREHENSIF
TRIMESTER I, II, III
PENEKANAN PADA
UPAYA PEMBERIAN
INFORMASI UNTUK
TETAP HIV (-)
(INFORMASI KELOMPOK)
ASUHAN KEBIDANAN
KOMPREHENSIF
TRIMESTER I, II, III
ASUHAN KEBIDANAN
KOMPREHENSIF
TRIMESTER I, II, III +
PERUJUKAN UNTUK VCT
(APABILA HIV -/ +
SESUAIKAN DENGAN JALUR
ASUHAN MASING-MASING
APABILA TIDAK DILAKUKAN
VCT SAMAKAN TINDAKAN
DENGAN IBU HAMIL HIV (+)
SAMA DENGAN IBU HAMIL
HIV (+)
PENEKANAN PADA:
• KEPATUHAN
MENGKONSUMSI ARV
• PENDIDIKN KESEHATAN
MENGENAI NUTRISI
• PENDIDIKAN KESEHATAN
MENGENAI TANDA DAN
GEJALA PENYAKIT
OPORTUNISTIK HIV/AIDS
DAN IMS
• PERSIAPAN PERSALINAN
DAN LAKTASI
• DUKUNGAN PSIKOLOGIS
IBU
• PERUJUKAN APABILA ADA
TINDAKAN DI LUAR
KEWENANGAN BIDAN
• INFORMASI KELOMPOK
Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan
101
1.	 HIV/AIDS yaitu kondisi hilangnya kekebalan tubuh sehingga memberi kesempatan
berkembangnya berbagai bentuk infeksi dan keganasan.
2.	 Terdapat 5 fase perkembangan penyakit HIV/ AIDS, fase pertama merupakan fase awal
terkenanya penyakit, sedangkan fase keenam merupakan fase paling akhir yang paling
berbahaya dan dapat menyebabkan penderita mengalami kematian.
3.	 Pencegahan penularan HIV bisa melalui 3 cara yaitu penularan langsung melalui perlukaan
kulit termasuk mempergunakan jarum suntikan, melalui hubungan seksual, dan penularan
perinatal.
4.	 Penegakkan diagnose dapat melalui pemeriksaan subjektif (berdasarkan wawancara
dengan pasien maupun keluarga) maupun pemeriksaan objektif (berdasarkan pemeriksaan
fisik dan laboraturium)
Rangkuman
Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan
102
Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut dengan memilih salah satu alternatif
jawaban yang Saudara anggap paling benar pada kertas tersendiri.
1.	 Seorang perempuan berusia 32 tahun G3P2A0 hamil 32 minggu datang ke BPM klien
	 menyatakan dirinya HIV (+), hasil pemeriksaan terakhir viral load 1200 kopi RNA/ml, CD4
	 300. Ibu rutin minum ARV selama hamil. klien menyatakan ingin melahirkan di rumah, karena
	 ibu merasa kehamilannya normal seperti dahulu. Apa konseling bidan pada klien tersebut?
a.	 Ibu bisa lahir di BPM secara normal
b.	 Ibu bisa lahir di rumah secara normal
c.	 Ibu disarankan lahir di RS dengan SC
d.	 Ibu disarankan lahir di RS secara normal
e.	 Ibu disarankan ke RS untuk induksi persalinan
2.	 Seorang perempuan berusia 32 tahun. Melahirkan anak pertamanya dengan SC. Klien anda
	 mengidap HIV (+). Suaminya seorang tukang ojek. Ibu sudah mendapat konseling cara
	 membuat susu formula dan cara membersihkan peralatan bayi. Klien akan merawat bayinya
	 seorang diri. Bidan memberikan konseling pada klien mengenai pemberian nutrisi pada bayi.
	 Bagaimana sebaiknya pemberian nutrisi pada bayi tersebut?
a.	 Pemberian ASI sampai usia dua tahun
b.	 Pemberian PASI dan ASI jika persediaan PASI tidak ada
c.	 Pompa ASI dan berikan dengan sendok selama 1 tahun
d.	 Pemberian ASI eksklusif dengan penghentian dini pada usia < 6 bulan
e.	 Buang ASI yang pertama keluar, selanjutnya ibu dapat menyusui bayinya
3.	 Seorang perempuan hamil 26 minggu di diagnosis HIV(+). Ibu di dugan tertular dari suaminya
	 yang seorang pengguna narkotika suntik dan sudah meninggal dunia saat usia kehamilan 6
Evaluasi
Formatif
Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan
103
	 minggu. Ibu merasa sedih dan khawatir dengan dirinya dan janinnya mengingat suaminya
	 yang menderita AIDS. Kapan diagnosis AIDS dapat ditegakan pada pasien tersebut?
a.	 Jika CD4 < 400
b.	 Elisa test positif
c.	 Western blot positif
d.	 Jika Viral Load < 1000 kopi
e.	 Jika ada limfadenopati generalisata
4.	 Seorang perempuan HIV (+), ia melahirkan bayinya spontan. Ibu menyusui bayinya dan tidak
	 memberikan selain ASI pada bayinya. Berapa persen risiko tertular HIV pada bayi tersebut?
a.	10%
b.	15%
c.	20%
d.	25%
e.	 45 %
5.	 Seorang perempuan dengan HIV (+) hamil anak pertama datang ke BPM untuk periksa hamil.
	 Apakah yang meningkatkan penularan ke janin pada kasus tersebut?
a.	 Gizi ibu baik
b.	 Ibu perokok
c.	 Ibu mengalami PMS
d.	 Ibu sudah lama terinfeksi
e.	 Ibu mempunyai penyakit diabetes
6.	 Seorang perempuan datang ke RS untuk melahirkan. Ibu terinfeksi HIV. Hasil anamnesa:
	 ketuban sudah pecah 6 jam sebelum ke RS.Hasil pemeriksaan: tanda vital dalam batas normal,
	 His 3x/10’/40’’. Pembukaan serviks 3 cm, presentasi kepla, H II.
	 Apakah kemungkinan rencana persalinan pada kasus tersebut?
a.	 Persalinan dengan vakum ekstraksi
b.	 Persalinan dengan forcep ekstraksi
Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan
104
c.	 Persalinan normal pervaginam
d.	 Persalinan dengan SC
e.	 Induksi persalinan
7.	 Seorang perempuan berusia 20 tahun G1P0A0 hamil 6 minggu datang ke BPM untuk periksa
	 hamil, ibu mengatakan ia telah terinfeksi HIV, hasil pemeriksaan CD4 1 bulan terakhir adalah
	 350. Kapan sebaiknya ibu mendapat ARV pada kasus tersebut?
a.	 Saat usia kehamilan 12 minggu
b.	 Saat usia kehamilan 16 minggu
c.	 Saat usia kehamilan 20 minggu
d.	 Saat usia kehamilan 24 minggu
e.	 Saat usia kehamilan 28 minggu
8.	 Seorang perempuan dengan HIV (+) melahirkan bayinya di RS. Ibu khawatir bayinya tertular.
	 Ibu ingin memeriksakan bayinya apakah tertular atau tidak. Bidan menjelaskan mengenai
	 penularan HIV ke Bayi. Kapan pemeriksaan untuk meyakinkan terinfeksi/ tidaknya bayi
	tersebut?
a.	 6 jam
b.	 6 hari
c.	 6 minggu
d.	 6 bulan
e.	 18 bulan
9.	 Seorang perempuan dengan HIV (+) melahirkan bayinya di RS. Ibu melahirkan dengan SC,
	 selama kehamilan tidak mendapat ARV.Bayi tidak mendapatkan ASI.
	 Apakah kondisi yang mengharuskan ibu mendapat ARV?
a.	 Saat CD4 < 100
b.	 Saat CD4 < 200
c.	 Saat CD4 < 300
d.	 Saat CD4 < 400
Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan
105
e.	 Saat CD4 < 500
10.	Seorang bidan hendak melakukan pemeriksaan tanda-tanda vital pada ibu hamil yang
	 terinfeksi HIV. Bagaimanakah prinsip pencegahan infeksi oleh bidan tersebut?
a.	 Menggunkaan masker
b.	 Menggunakan sepatu boot
c.	 Menggunakan sarung tangan
d.	 Menggunakan kacamata pelindung (google)
e.	 Mencuci tangan sebelum dan sesudah tindakan
	 Anda seorang bidan praktik mandiri. Klien anda Ny. Mawaddah usia 32 tahun sedang hamil 26
minggu, ibu baru saja ditinggal wafat suaminya karena AIDS, suaminya dulu seorang pengguna
narkoba suntik. Ibu khawatir dirinya dan janin yang dikandung tertular HIV. Pada saat anda
menanyakan rencana persalinannya, ibu menyatakan keinginannya untuk bersalin di rumah
karena ia merasa sehat dan normal. Anda melihat keteguhan dari ibu untuk tetap bersalin di
rumah. Bagaimana asuhan pada ibu tersebut?
Studi
Kasus
Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan
106
Tugas
Mandiri
1.	 Coba anda praktikkan asuhan pada ibu hamil dengan HIV/AIDS
2.	 Buatlah dokumentasi dengan pendekatan SOAP hasil asuhan yang telah anda lakukan.
Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan
107
Cunningham FG et al. 2005. Sexually Transmitted Disease inWilliams Obstetrics” , 22nd 
ed,
McGraw-Hill,
Fakultas Kedokteran UI, 1987. “Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Edisi III”, Jakarta: Balai
Penerbit FKUI
Gall SA .1997. HIV in Pregnancy in in Practical Guide to The Care Of The Gynecology/Obstetric
patient, Mosby, 1997 p 537 – 545
Prawirohardjo,Sarwono.2009. IlmukebidananJakarta:P.TBinaPustakasarwonoPrawirohardjo.
Varney,Helen,dkk.2007.Buku Ajar Asuhan Kebidanan Edisi 4 Volume 1.Jakarta:EGC.
Modul 6 Asuhan Antenatal Komprehensif Pada Perempuan Dengan HIV/AIDS, Compaq Female,
Corcaid, 2012
Modul Pelatihan Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Bayi, Kemenkes RI, 201
GLOSSARIUM
HIV/AIDS
Kondisi hilangnya kekebalan tubuh sehingga
memberi kesempatan berkembangnya berbagai
bentuk infeksi dan keganasan
KEK kurang energi kalori
google kacamata pelindung
BPM Bidan Praktik mandiri
VCT Voluntary Counseling and Testing
ARV Anti Retro Viral (obat-obatan anti virus HIV)
ODHA Orang dengan HIV/AIDS
PITC Provider Initiatif Test and Counseling
PMTCT Prevention Mother To Child Transmition
Referensi
Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan
108
Seorang perempuan berusia 18 tahun merasa hamil 7 bulan datang ke BPM dengan keluhan
pusing, lemas. Ibu hamil anak kedua dan tidak pernah keguguran. Bidan melakukan pengkajian
dan asuhan pada ibu tersebut.
1.	 Buatlah asuhan pada ibu di atas dengan menggunakan manajemen kebidanan dan
dokumentasikan asuhan dalam bentuk SOAP.
Evaluasi
Akhir
Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan
109
	 Selamat Anda telah berhasil menyelesaikan Modul ini. Dari modul ini Anda telah mempelajari
bagaimana melakukan asuhan kehamilan dengan penyulit dan komplikasi. Sekarang bertanyalah
kepada diri Anda sendiri apakah Anda telah menguasai seluruh materi yang dibahas dalam
modul ini. Jika belum pelajari sekali lagi, terutama pada bagian-bagian yang belum Anda kuasai.
Jika sudah bersegeralah menghubungi dosen yang mengampu mata kuliah ini untuk meminta
tes akhir modul.
Selamat dan sukses selalu
Penutup
Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan
110
	 Laporan asuhan pada pelaksanaan PK III dibuat dengan menggunakan pendekatan SOAP.
Catatan SOAP terdiri atas empat langkah disarikan dari proses pemikiran penata-laksanaan
kebidanan yang dipakai untuk mendokumentasikan asuhan klien dalam rekam medis klien
sebagai catatan kemajuan.
S = SUBJEKTIF
Informasi/ data yang diperoleh dari apa yang dikatakan klien tersebut.
O = OBJEKTIF
Data yang diperoleh dari apa yang dilihat dan dirasakan oleh bidan sewaktu melakukan
pemeriksaan dan hasil laboratorium.
A = ANALISA
Kesimpulan yang dibuat berdasarkan data subyektif/obyektif tersebut.
P = PERENCANAAN
Perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi sesuai dengan kesimpulan yang telah dibuat.
Hal – hal yang harus diperhatikan dalam mendokumentasikan asuhan kebidanan :
Mengapa pendokumentasian ini begitu penting ?
•	 Menciptakan catatan permanen tentang asuhan yang diberikan kepada pasien.
•	 Memungkinkan berbagi informasi diantara para pemberi asuhan.
•	 Memfasilitasi pemberian asuhan yang berkesinambungan.
•	 Memungkinkan pengevaluasian dari asuhan yang diberikan.
•	 Memberikan data untuk catatan nasional, penelitian dan statistik mortalitas/morbiditas.
•	 Meningkatkan pemberian asuhan yang lebih aman, dan bermutu tinggi kepada klien.
Mengapa catatan SOAP dipakai untuk pendokumentasian?
•	 Pendokumentasian metoda SOAP merupakan kemajuan informasi yang sistematis yang
mengorganisir penemuan dan kesimpulan anda menjadi suatu rencana asuhan.
•	 Metoda ini merupakan penyaringan inti sari dari Proses Penata-laksanaan Kebidanan
untuk tujuan penyediaan dan pendokumentasian asuhan.
LAMPIRAN 1
Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan
111
•	 SOAP merupakan urut-urutan yang dapat membantu anda dalam mengorganisir pikiran
anda dan memberikan asuhan yang menyeluruh.
	 SOAP adalah catatan yang tertulis secara singkat, lengkap, dan bermanfaat buat bidan atau
pemberian asuhan yang lain Anda sebagai kandidat seorang bidan hendaknya menggunakan
SOAP setiap kali melakukan asuhan dengan pasien. Selama masa antepartum, seorang bidan
dapat menuliskan satu catatan SOAP untuk setiap kali kunjungan. Dengan mendokumentasikan
setiap asuhan maka bidan dapat melihat catatan-catatan SOAP terdahulu bilamana ia merawat
seorang klien untuk mengevaluasi kondisinya yang sekarang.
Selain membuat laporan pendokumentasian asuahan antenatal dengan pendekatan SOAP,
anda juga membuat laporan:
•	 Laporan pencapaian target PK III
•	 Log book
•	 Laporan kegiatan PK III
Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan
112
KUNCI JAWABAN TES FORMATIF
KEGIATAN BELAJAR 1
NOMOR SOAL JAWABAN
1. B
2. D
3. A
4. A
5. D
6. B
7. E
8. E
9. E
10. A
KEGIATAN BELAJAR 3
NOMOR SOAL JAWABAN
1. A
2. D
3. B
4. E
5. B
6. E
7. C
8. A
9. E
10. A
KEGIATAN BELAJAR 2
NOMOR SOAL JAWABAN
1. E
2. A
3. C
4. C
5. A
6. A
7. B
8. E
9. E
10. A
KEGIATAN BELAJAR 4
NOMOR SOAL JAWABAN
1. D
2. A
3. A
4. A
5. A
6. B
7. B
8. C
9. B
10. A
LAMPIRAN 2
Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan
113
KUNCI JAWABAN TES FORMATIF
KEGIATAN BELAJAR 5
NOMOR SOAL JAWABAN
1. C
2. E
3. A
4. B
5. E
6. B
7. C
8. A
9. B
10. E
KEGIATAN BELAJAR 6
NOMOR SOAL JAWABAN
1. C
2. D
3. E
4. E
5. C
6. D
7. E
8. E
9. E
10. E
Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan
114
Reflective Practice
Refleksi perasaan
Refleksi isi
Pembelajaran yang bisa diambil
Rencana Tindak Lanjut/ACTION PLAN
•	 Ingat !
•	 Reflective practice dibuat setiap kali mendapat kasus.
•	 Bawalah selalu format reflective practice dan disampaikan kepada pembimbing/tutor anda
pada saat bimbingan
DAFTAR PENCAPAIAN TARGET
1.	 Melakukan Deteksi Dini dan Melakukan Penanganan yang Tepat Termasuk Kolaborasi/
Rujukan ke Fasilitas Pelayanan yang Tepat pada Abortus Imminen
NO TANGGAL
KASUS
TTD
PRESEPTORNAMA/
NO.CM
DIAGNOSA
1
2
3
2.	 Melakukan Deteksi Dini dan Melakukan Penanganan yang Tepat Termasuk Kolaborasi/
Rujukan ke Fasilitas Pelayanan yang Tepat pada Abortus Insipien
LAMPIRAN 3
LAMPIRAN 4
Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan
115
NO TANGGAL
KASUS
TTD
PRESEPTORNAMA/
NO.CM
DIAGNOSA
1
2
3
3.	 Melakukan Deteksi Dini dan Melakukan Penanganan yang Tepat Termasuk Kolaborasi/
Rujukan ke Fasilitas Pelayanan yang Tepat pada Abortus Inkomplit
NO TANGGAL
KASUS
TTD
PRESEPTORNAMA/
NO.CM
DIAGNOSA
1
2
3
4.	 Melakukan Deteksi Dini dan Melakukan Penanganan yang Tepat Termasuk Kolaborasi/
Rujukan ke Fasilitas Pelayanan yang Tepat pada Abortus Komplit
NO TANGGAL
KASUS
TTD
PRESEPTORNAMA/
NO.CM
DIAGNOSA
1
2
3
5.	 Melakukan Deteksi Dini dan Melakukan Penanganan yang Tepat Termasuk Kolaborasi/Rujukan
ke Fasilitas Pelayanan yang Tepat pada Kehamilan Ektopik Terganggu
NO TANGGAL
KASUS
TTD
PRESEPTORNAMA/
NO.CM
DIAGNOSA
1
2
3
Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan
116
6.	 Melakukan Deteksi Dini dan Melakukan Penanganan yang Tepat Termasuk Kolaborasi/
Rujukan ke Fasilitas Pelayanan yang Tepat pada Mola Hidatidosa
NO TANGGAL
KASUS
TTD
PRESEPTORNAMA/
NO.CM
DIAGNOSA
1
2
3
7.	 Melakukan Deteksi Dini dan Melakukan Penanganan yang Tepat Termasuk Kolaborasi/Rujukan
ke Fasilitas Pelayanan yang Tepat Ppda Kehamilan dengan Plasenta previa
NO TANGGAL
KASUS
TTD
PRESEPTORNAMA/
NO.CM
DIAGNOSA
1
2
3
8.	 Melakukan Deteksi Dini dan Melakukan Penanganan yang Tepat Termasuk Kolaborasi/
Rujukan Ke Fasilitas Pelayanan yang Tepat pada Kehamilan dengan Anemia
NO TANGGAL
KASUS
TTD
PRESEPTORNAMA/
NO.CM
DIAGNOSA
1
2
3
9.	 Melakukan Deteksi Dini dan Melakukan Penanganan yang Tepat Termasuk Kolaborasi/Rujukan
ke Fasilitas Pelayanan yang Tepat pada Kehamilan dengan Solusio Plasenta
NO TANGGAL
KASUS
TTD
PRESEPTORNAMA/
NO.CM
DIAGNOSA
1
Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan
117
2
3
10.	Melakukan Deteksi Dini dan Melakukan Penanganan yang Tepat Termasuk Kolaborasi/
Rujukan ke Fasilitas Pelayanan yang Tepat pada Preeklampsi Ringan
NO TANGGAL
KASUS
TTD
PRESEPTORNAMA/
NO.CM
DIAGNOSA
1
2
3
11.	Melakukan Deteksi Dini dan Melakukan Penanganan yang Tepat Termasuk Kolaborasi/
Rujukan ke Fasilitas Pelayanan yang Tepat pada Preeklampsi Berat
NO TANGGAL
KASUS
TTD
PRESEPTORNAMA/
NO.CM
DIAGNOSA
1
2
3
12.	Melakukan Deteksi Dini dan Melakukan Penanganan yang Tepat Termasuk Kolaborasi/
Rujukan ke Fasilitas Pelayanan yang Tepat pada Hipertensi Gestasional
NO TANGGAL
KASUS
TTD
PRESEPTORNAMA/
NO.CM
DIAGNOSA
1
2
3
13.	Melakukan Deteksi Dini dan Melakukan Penanganan yang Tepat Termasuk Kolaborasi/
Rujukan ke Fasilitas Pelayanan yang Tepat pada Hipertensi Kronis
Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan
118
NO TANGGAL
KASUS
TTD
PRESEPTORNAMA/
NO.CM
DIAGNOSA
1
2
3
14.	Melakukan Deteksi Dini dan Melakukan Penanganan yang Tepat Termasuk Kolaborasi/
Rujukan ke Fasilitas Pelayanan yang Tepat pada superimposed Preeklampsi
NO TANGGAL
KASUS
TTD
PRESEPTORNAMA/
NO.CM
DIAGNOSA
1
2
3
15.	Melakukan Deteksi Dini dan Melakukan Penanganan yang Tepat Termasuk Kolaborasi/
Rujukan ke Fasilitas Pelayanan yang Tepat pada Eklampsi
NO TANGGAL
KASUS
TTD
PRESEPTORNAMA/
NO.CM
DIAGNOSA
1
2
3
16.	Melakukan Deteksi Dini dan Melakukan Penanganan yang Tepat termasuk Kolaborasi/Rujukan
ke Fasilitas Pelayanan yang Tepat pada Kehamilan dengan Letak Lintang
NO TANGGAL
KASUS
TTD
PRESEPTORNAMA/
NO.CM
DIAGNOSA
1
2
3
Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan
119
17.	Melakukan Deteksi Dini dan Melakukan Penanganan yang Tepat termasuk Kolaborasi/Rujukan
ke Fasilitas Pelayanan yang Tepat pada Kehamilan Sungsang
NO TANGGAL
KASUS
TTD
PRESEPTORNAMA/
NO.CM
DIAGNOSA
1
2
3
18.	Melakukan Deteksi Dini dan Melakukan Penanganan yang Tepat termasuk Kolaborasi/Rujukan
ke Fasilitas Pelayanan yang Tepat pada Kehamilan Ganda/Gemelli
NO TANGGAL
KASUS
TTD
PRESEPTORNAMA/
NO.CM
DIAGNOSA
1
2
3
19.	Melakukan Deteksi Dini dan Melakukan Penanganan yang Tepat termasuk Kolaborasi/Rujukan
ke Fasilitas Pelayanan yang Tepat pada Kematian Janin (IUFD)
NO TANGGAL
KASUS
TTD
PRESEPTORNAMA/
NO.CM
DIAGNOSA
1
2
3
20.	Melakukan Deteksi Dini dan Melakukan Penanganan yang Tepat termasuk Kolaborasi/
Rujukan ke Fasilitas Pelayanan yang Tepat pada Kehamilan dengan Ketuban Pecah Sebelum
Waktunya (KPSW)
Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan
120
NO TANGGAL
KASUS
TTD
PRESEPTORNAMA/
NO.CM
DIAGNOSA
1
2
3
21.	Melakukan Deteksi Dini dan Melakukan Penanganan yang Tepat Termasuk Kolaborasi/Rujukan
ke Fasilitas Pelayanan yang Tepat pada Polihidramnion/Oligohidramnion
NO TANGGAL
KASUS
TTD
PRESEPTORNAMA/
NO.CM
DIAGNOSA
1
2
3
22.	Melakukan Deteksi Dini dan Melakukan Penanganan yang Tepat Termasuk Kolaborasi/
Rujukan ke Fasilitas Pelayanan yang Tepat pada Kehamilan dengan Pertumbuhan Janin
Terhambat (IUGR)
NO TANGGAL
KASUS
TTD
PRESEPTORNAMA/
NO.CM
DIAGNOSA
1
2
3
23.	Melakukan Deteksi Dini dan Melakukan Penanganan yang Tepat Termasuk Kolaborasi/Rujukan
ke Fasilitas Pelayanan yang Tepat pada Kehamilan dengan Diabetes Mellitus
NO TANGGAL
KASUS
TTD
PRESEPTORNAMA/
NO.CM
DIAGNOSA
1
2
3
Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan
121
24.	Melakukan Deteksi Dini dan Melakukan Penanganan yang Tepat Termasuk Kolaborasi/
Rujukan ke Fasilitas Pelayanan yang Tepat pada Kehamilan dengan PMS, TORCH, Vaginitis,
Infeksi Saluran Perkemihan, Gangguan Pernafasan dan Gangguan Pencernaan
NO TANGGAL
KASUS
TTD
PRESEPTORNAMA/
NO.CM
DIAGNOSA
1
2
3
25.	Melakukan Deteksi Dini dan Melakukan Penanganan yang Tepat Termasuk Kolaborasi/Rujukan
ke Fasilitas Pelayanan yang Tepat pada Ibu Hamil dengan Kekurangan Gizi
NO TANGGAL
KASUS
TTD
PRESEPTORNAMA/
NO.CM
DIAGNOSA
1
2
3
Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan
122
LAMPIRAN 5
DAFTAR PRESENSI MAHASISWA PRODI DIII KEBIDANAN
PROGRAM JARAK JAUH
NAMA			:
SEMESTER/TINGKAT	:
TEMPAT PRAKTEK		 :
NO TANGGAL
HADIR PULANG
Ket/
Kegiatan
TandaTangan
pembimbing
Jam TT Jam TT
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan
123
FORMAT PENILAIAN ASUHAN KEBIDANAN
NAMA			:
SEMESTER/TINGKAT	:
TEMPAT PRAKTEK		 :
NO ASPEK YANG DINILAI
SCORE NILAI
KETERANGANRENTANG
0-100
I
A.PENGKAJIAN
a. Ketepatan data : S
b. Ketepatan data : O
a+b
2
B. ANALISA
Ketepatan menentukan
Diagnosa / masalah*/
kebutuhan*
* jika ditemukan pada kasus
PLANNING (Tindakan dan
evaluasi) Berdasarkan Diagnosa
/ masalah
II
C. RESPONSI
a. Penguasaan Kasus
b. Rasionalisasi terhadap
tindakan
NILAI AKHIR =	 I (A+B+C) X 60 %
				 3
				 II : II X40 %
NILAI AKHIR = I + II								 ( Pembimbing )
LAMPIRAN 6
Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan
124
KETERANGAN PENILAIAN
<56		 : Tidak dikerjakan (Langkah atau kegiatan yang seharusnya dilakukan, saat
dilakukan pengamatan atau observasi tidak dikerjakan oleh peserta didik)
56-69	 : Perlu perbaikan (Langkah atau prosedur belum dilakukan secara baik dan benar,
atau dilakukan dalam urutan yang tidak sesuai, atau beberapa langkah tidak dilaksanakan)
70-84	 : Mampu atau Cukup Terampil (Langkah atau prosedur dilakukan dengan baik dan
benar serta sesuai, tetapi kemajuan langkah demi langkah belum dilakukan secara efisien)
85-100	 : Mahir atau Sangat Terampil (Langkah atau prosedur dilakukan dengan baik,
benar, dan urutannya sesuai, serta waktu yang digunakan pada setiap langkah sangat efisien).
Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan
125
Penilaian Aspek Sikap
Standar
Aspek sikap yang
dinilai
Aspek Sikap
KetSelalu Sering
Kadang-
kadang
Jarang
Sangat
jarang
Tidak
pernah
5 4 3 2 1 0
Nilai batas:
60
Bobot 20%
Menyiapkan alat
dengan cermat dan
benar
Menyiapkan ibu
hamil/
keluarga sehingga
tercipta iklim social
yang serasi
Bekerja secara
sistematis
Bekerja dengan
memperhatikan
kondisi ibu hamil
terhadap tindakan
yang dilakukan
Berkomunikasi
dengan santai dan
sopan dengan
bahasa yang
dimengerti
Sub Total
Nilai rata-rata
NILAI AKHIR
NO
ASPEK
PENILAIAN
RUMUS
PERHITUNGAN
NILAI KET
1 PENGETAHUAN Nilai rata – rata x 2
2 KETERAMPILAN Nilai rata – rata x 6
3 SIKAP Nilai rata – rata x 2
NILAI AKHIR
Nilai 1 + 2 + 3
10
Nilai Batas Lulus : 2.75						
LAMPIRAN 7
, ...........................................
PENGUJI
__________________________________________
Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan
126
LEMBAR KONTRAK BELAJAR
Hari/ tanggal : ………………/.........……….
NAMA		 	 : _______________________________ RUANGAN DINAS: ________________________
RS / PUSKESMAS *: ___________________________________________________________________________
KOMPETENSI YANG
INGIN DICAPAI
BUKTI
PENCAPAIAN
EVALUASI PEMBIMBING
(DIISI SETELAH PELAKSANAAN)
	 Menyetujui :
Pembimbing,								 Mahasiswa
____________________________						_________________________
LAMPIRAN 8
Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan
127
PENDOKUMENTASIAN ASUHAN
ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU ANTENATAL
No. Reg		 : 117-2007
Nama pengkaji	 : Bd. Siti
Hari/tanggal		 : Senin/30 April 2012
Waktu pengkajian	 : 09.00 WIB
Tempat pengkajian	: RB Milik Kita
A.	 DATA SUBJEKTIF
1.	 Identitas
ISTRI SUAMI
Nama Ny. Mia Tn. Ane
Usia 18 tahun 21 tahun
Agama Islam Islam
Pendidikan SMA SMA
Pekerjaan IRT Pedagang keliling
Suku/ras Sunda Jawa
Golongan darah O Tidak mengetahui
Alamat Jln. Damai 02/04 Jln. Damai 02/04
2.	 Keluhan Utama	
Ibu merasa hamil 7 bulan mengeluh pusing, terutama ketika bangun dari duduk dan merasa
cepat lelah dan capek.
B.	 Riwayat kebidanan
1.	 Menstruasi :
Menarche	 : Saat usia 12 tahun
Siklus haid	 : Teratur
Lamanya 	 : 5-6 hari
Keluhan 		 : Sakit perut saat haid
KUNCI EVALUASI AKHIR
Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan
128
Menstruasi terakhir	: 23 september 2011
2.	 Riwayat kehamilan sekarang
GPA	 : G2P1A0
HPHT	 : 23-09-2011
TP	 : 30-06-2012
Usia kehamilan	 : 31-32 minggu
Gerakan janin pertama kali dirasakan	 : pada bulan januari
Gerakan janin 24 jam terakhir		 : aktif
Gerakan janin terakhir dirasakan	 : 15 menit yang lalu
Riwat ANC					: 5 kali
Obat yang dikonsumsi termasuk jamu	 : tablet tambah darah dan ibu mengaku ibu rutin
							 minum tablet besi setiap hari dengan air teh
Kekhawatiran khusus			 : Tidak ada
3.	 Riwayat kehamilan , persalinan , nifas lalu
4.	 Riwayat ginekologi
•	 Keputihan	 : tidak ada 		
•	 Infeksi 	 : tidak ada
•	 Gatal 	 : tidak ada
•	 Tumor 	 :tidak ada
Anak
ke
Tahun
Kehamilan Persalinan Nifas
Lama Penyulit penolong Tempat BB bayi penyulit
Vit
A
Tab
Fe
1
Januari
2011
9 bulan tak Paraji Rumah 2700gr Tak Tidak Tidak
2 2012 Kehamilan
ini
- - - - - - -
Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan
129
5.	 Riwayat penyakit
Ibu tidak pernah dan tidak sedang mengalami sakit apapun, baik penyakit keturunan, menular,
menahun ataupun alergi termasuk penyakit malaria dan infeksi cacing.
6.	 Riwayat penyakit keluarga
Tidak ada penyakit keturunan, menular, menahun ataupun alergi.
7.	 Riwayat KB
•	 Jenis 				: Pil
•	 Lama penggunaan 	 : 5 bulan
•	 Alasan berhenti		 : Ibu lupa minum pil jadi terlambat haid
8.	 Keadaan sosial dan budaya
•	 Riwayat perkawinan
•	 Status Perkawinan: Menikah
•	 Pernikahan ke: 1
•	 Lama Pernikahan: 2 tahun
•	 Respon keluarga: senang walaupun awalnya tidak direncanakan.
•	 Respon ibu : merasa senang
•	 Adat istiadat yang berkaitan dengan kehamilan: tidak ada
•	 Dukungan keluarga	 :keluargamendukungdansuamikadang-kadangmaumembantu
pekerjaan rumahnya.
•	 Pengambilan keputusan keluarga: suami
•	 Rencana persalinan
9.	 Penolong persalinan	 : bidan
10.	Tempat persalinan	 : RB tempat periksa
Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan
130
C.	 Aktivitas sehari-hari
1.	 Pola Makan
Frekuensi	 : 2 kali / hari
Jumlah perhari	: 1 piring tapi sedikit
Jenis		 : nasi, telur, tahu, tempe tapi ibu kurang suka sayur
Pantangan 	 : kikil dan nanas
2.	 Pola minum
•	 Jumlah per hari	 : 7 gelas / hari
•	 Jenis minuman	 : air putih, teh
3.	 Pola istirahat
•	 Istirahat malam hari 	 : 7 jam
•	 Istirahat siang hari		 : ibu mengaku jarang tidur siang hari
4.	 Personal higiene
•	 Mandi			 : 2 kali / hari
•	 Keramas			 : 2 hari 1 kali
•	 Ganti baju			 : 2 kali / hari
•	 Ganti pakaian dalam 	 : 2 kali / hari
5.	 Aktivitas seksual
•	 Frekuensi 			 : 2 kali / minggu
•	 Keluhan			 : tidak ada
6.	 Eliminasi
•	 BAB 				 : 2 hari 1 kali konsistensi keras
•	 BAK				 : >5 kali / hari,jumlah banyak
7.	 Keadaan lingkungan
•	 Fasilitas mandi , cuci , kakus	 : ada
•	 Letak tempat tinggal		 : jauh dari sumber polusi, bising, dll
•	 Keadaan kamar			 : terdapat ventilasi dan cahaya matahari dapat masuk
8.	 Gaya hidup
Ibu tidak merokok ataupun minum alkohol namun suami merokok.
Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan
131
D.	 DATA OBJEKTIF
1.	 Keadaan Umum
•	 Kesadaran		 : compos mentis
•	 Keadaan emosi	 : stabil
2.	 TTV
•	 TD: 100/70mmHg		 N: 78x/menit
•	 R : 20x/menit		 S: 36,50
C
3.	 Antropometri
•	 TB				: 149 cm
•	 BB sebelum hamil		 : 47 kg
•	 BB sekarang		 : 55 kg
•	 IMT				: 21,36
4.	 Pemeriksaan Fisik
a.	 Kepala
•	 Muka	: pucat dan tidak oedema
•	 Mata	: Konjungtiva pucat dan Sklera putih
•	 Mulut	 : tidak ada kelainan, Bibir pucat
b.	 Leher
Tidak ada Pembesaran kelenjar thyroid dan Pembesaran kelenjar limfe serta tidak ada
peningkatan vena jugularis.
c.	 Payudara :
•	 Luka parut			 : tidak ada
•	 Bentuk			: simetris
•	 Retraksi			 : tidak ada
•	 Puting susu			 : bersih, tidak lecet dan menonjol
•	 Kolostrum			 : sudah keluar
•	 Benjolan dan nyeri	 : tidak ada
d.	 Perut
•	 Luka bekas operasi		 : tidak ada
Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan
132
•	 Bentuk				: tidak menggantung
•	 TFU menurut mc donald		 : 27 cm
•	 TBF					: 2170 gram
•	 Palpasi:	
e.	 Leopold I
Teraba bokong
f.	 Leopold II
	 Teraba punggung di sebelah kiri ibu dan bagian kecil di sebelah kanan ibu
g.	 Leopold III
	 Teraba kepala belum masuk PAP.
h.	 DJJ : 144x / menit; regular
i.	 Ekstermitas atas
	 Tidak ada oedema, ujung-ujung kuku pucat
j.	 Ekstermitas bawah
	 Tidak ada oedema, ujung-ujung kuku pucat dan refleks patella kiri kanan positif.
5.	 Pemeriksaan genitalia
a.	 Genitalia eksterna
•	 varises 		 : Tidak ada
•	 oedema 		 : Tidak ada
•	 luka			 : Tidak ada
•	 kelenjar bartholini	: Tidak ada pembesaran
•	 kelenjar skene 	 : Tidak ada pengeluaran apapun
•	 vulva 		 : Tidak ada tukak atau luka, varises, oedema, kondiloma, cairan atau
				 sekret		
6.	 Pemeriksaan anus
hemoroid : tidak ada
7.	 Pemeriksaan penunjang :
•	 Hb			 : 8 g/dL
•	 Protein urine	 : negatif
Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan
133
•	 Glukosa urine	 : negatif
E.	 ANALISA
G2P1A0 gravida 31-32 minggu dengan anemia, janin tunggal hidup
F.	 PENATALAKSANAAN
•	 Memberitahukan ibu hasil pemeriksaan
	 Evaluasi: ibu mengerti dan mengetahui keadaannya.
•	 Konseling bahwa keluhan ibu merupakan tanda dan gejala anemia
	 Evaluasi: ibu mengerti
•	 Menganjurkan ibu agar menambah 1 porsi makan dan 1 porsi cemilan per hari.
	 Evaluasi: ibu mengerti dan tahu kebutuhan makannya
•	 Menganjurkan ibu untuk makan makanan bergizi seimbang dan menambah konsumsi
sayuran seperti bayam, kangkung, brokoli,dll.
	 Evaluasi: ibu mengerti dan akan mencoba untuk menkonsumsi sayuran
•	 Memberi tablet Fe 2x1 tablet
•	 Mengajarkan ibu cara minum tablet Fe dengan benar
	 Evaluasi : ibu mengerti dan bersedia melakukannya
•	 Menjelaskan tentang pemenuhan kebutuhan istirahat ibu hamil terutama tidur d siang
hari, minimal 2 jam
	 Evaluasi : ibu mengerti dan bersedia melakukannya
•	 Melakukan konseling agar suami tidak merokok di dalam rumah mengingat bahayanya
ibu yang menjadi perokok pasif
	 Evaluasi : ibu mengerti dan bersedia melakukannya
•	 Menjelaskan tentang persiapan persalinan
	 Evaluasi : ibu mengerti dan sudah menyiapkannya
•	 Menjelaskan tentang tanda bahaya ibu hamil
	 Evaluasi : ibu mengerti akan tanda bahaya ibu hamil
•	 Menjadwalkan kunjungan ulang 1 minggu kemudian, 7 Mei 2012
	 Ibu bersedia datang
Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan
134
Daftar
Gambar
Cover
cover http://images.wisegeek.com/
pregnant-woman-getting-blood-pressure-
taken-by-doctor.jpg
Perawat memeriksa
http://kupang.tribunnews.com/foto/bank/
images/perawat-perawat-periksa.jpg
Memeriksa tens Memeriksa tensi
http://kupang.tribunnews.com/foto/bank/
images/perawat-perawat-periksa.jpg
http://pjj.poltekkeskupang.ac.id/pluginfile.
php/3129/coursecat/description/kuala-035.
jpg
mempelajari materi dengan seksama
h t t p : / / a i p h s s . o r g / w p - c o n t e n t /
uploads/2014/01/AIPHSS-8.jpg
kulit pucat salah satu tanda anemia
http://blog.essentialparent.com/wp-
content/uploads/2015/02/Is-it-possible-
to-turn-a-baby-in-breech-position-from-
EssentialParent.com_.jpg
Lambang Aids sedunia
http://i.huffpost.com/gen/1368245/
images/o-HIV-AIDS-facebook.jpg
mengukur tekanan darah
http://i.huffpost.com/gen/1368245/
images/o-HIV-AIDS-facebook.jpg
Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan
135
Hak Cipta Kementrian Republik Indonesia Bekerjasama Dengan
Australia Indonesia for Health System Strengthening (AIPHSS)
2015

Modul 6 Praktik Kebid III

  • 1.
    Modul Pendidikan JarakJauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan 1 ASUHAN KEBIDANAN PADA KEHAMILAN DENGAN PENYULIT DAN KOMPLIKASI MODUL Pusat Pendidikan dan Pelatihan Tenaga Kesehatan Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Jakarta 2015 Seni Rahayu Sunarya,Diyan Indrayani Australia Indonesia Partnership for Health System Strengthening (AIPHSS) SEMESTER 7 Praktik Kebidanan III
  • 2.
    Modul Pendidikan JarakJauh Pendidikan Tinggi Kesehatan i Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas rahmat dan karunia- Nya sehingga dapat menyelesaikan Modul Asuhan Kebidanan kehamilan dengan penyulit dan komplikasi sebagai Pedoman Praktik Kebidanan III bagi mahasiswa semester V Program Pendidikan Jarak Jauh DIII Kebidanan . Penyusunan modul ini diharapkan dapat membantu mahasiswa dalam melaksanakanPraktikKebidananIIIsehingga dapat mencapai tujuan pembelajaran dan kompetensi Asuhan Kebidanan kehamilan dengan penyulit dan komplikasi secara efektif dan efisien. Diharapkan setelah menyelesaikan Praktik Kebidanan III ini mahasiswa dapat memberikan pelayanan asuhan kebidanan tidak hanya bagi ibu dengan kondisi normal maupun ibusecara mandiri dan memuaskan bagi ibu maupun bayinya beserta keluarga dan masyarakat. Penyusun menyadari bahwa pedoman Praktik Kebidanan III bagi mahasiswa program jarak jauh DIII kebidanan ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, penyusun mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari semua pihak, sehingga bisa memberikan manfaat bagi mahasiswa dalam proses belajar di klinik. Kata Pengantar Tim Penyusun Gambar : Praktek Keperawatan Kejiwaan
  • 3.
    ii Modul Pendidikan JarakJauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan Daftar Isi . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Daftar Isi i Daftar Istilah ii Kegiatan Belajar 1 Asuhan kebidanan pada perdarahan hamil muda 5 Kegiatan Belajar 2 Asuhan kebidanan ibu hamil dengan anemia 26 Kegiatan Belajar 3 Asuhan Kebidanan pada Perdarahan Kehamilan Lanjutan 45 Kegiatan Belajar 4 Asuhan pada Ibu Hamil Dengan Preeklamsi/Eklamsi 58 Kegiatan Belajar 5 Asuhan pada Ibu Hamil Dengan Infeksi Malaria 75 Kegiatan Belajar 6 Asuhan pada Ibu Hamil Dengan HIV/AIDS 90 Evaluasi Akhir 108 Lampiran 110 Daftar Gambar 134
  • 4.
    Modul Pendidikan JarakJauh Pendidikan Tinggi Kesehatan iii Daftar Istilah ISTILAH KETERANGAN Antenatal Masa kehamilan BPM Bidan Praktik Mandiri DJJ Denyut Jantung Janin Hb Haemoglobin Abortus Pengeluaran hasil konsepsi pada usia kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram Kehamilan Ektopik Kehamilan di luar rahim Mola Hydatidosa Kehamilan anggur Abortus Imminens Abortus terancam Dapat dipertahankan Abortus Komplit Abortus dengan pengeluaran seluruh hasil konsepsi Abortus Insipiens Abostur sedang berlangsung Abortus Inkomplit Abostur dengan pengeluaran sebagian hasil konsepsi Anemia Kurangnya haemoglobin darah PAP Pintu Atas Panggul Plasenta Previa plasenta yang implantasinya tidak normal yaitu rendah sekali sehingga menutupi seluruh atau sebagian jalan lahir (ostium internum) Solusio Plasenta terlepasnya plasenta yang letaknya normal pada korpus uteri yang terlepas dari perlekatannya sebelum janin lahir Preeklamsia Penyakit dengan tanda – tanda hipertensi, edema, dan protein uria yang timbul karena kehamilan HIV/AIDS Kondisi hilangnya kekebalan tubuh sehingga memberi kesempatan berkembangnya berbagai bentuk infeksi dan keganasan BPM Bidan Praktik mandiri VCT Voluntary Counseling and Testing ARV Anti Retro Viral (obat-obatan anti virus HIV)
  • 5.
    iv Modul Pendidikan JarakJauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan ODHA Orang dengan HIV/AIDS PITC Provider Initiatif Test and Counseling PMTCT Prevention Mother To Child Transmition
  • 6.
    Modul Pendidikan JarakJauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan 1 Rekan mahasiswa, Selamat berjumpa pada mata kuliah Praktik Kebidanan III. Modul ini merupakan modul 3 dari 16 modul yang harus Saudara selesaikan. Modul yang Saudara baca saat ini membahas tentang asuhan kebidanan pada kehamilan dengan penyulit dan komplikasi. Setelah mempelajari modul ini, Saudara diharapkan mampu memberikan asuhan berupa deteksi dini, melakukan penatalaksanaan awal dan melakukan kolaborasi serta rujukan pada ibu hamil yang mengalami komplikasi atau kegawatdaruratan. Untuk mencapai tujuan tersebut secara khusus saudara diharapkan dapat: (1) melakukan asuhan pada ibu perdarahan hamil muda, (2) melakukan asuhan antenatal pada ibu hamil dengan anemia,(3) melakukan asuhan pada ibu hamil dengan preeklamsi/ eklamsi, (4) melakukan asuhan pada ibu dengan perdarahan hamil lanjut, (5) melakukan asuhan pada ibu hamil dengan infeksi malaria, (6) melakukan asuhan pada ibu hamil dengan HIV/AIDS Kasus-kasus tersebut diatas merupakan kasus yang paling sering dialami oleh ibu hamil, oleh karena itu materi ini penting untuk saudara kuasai agar mampu mengelola kasus dengan tepat sehingga angka kesakitan dan kematian ibu dan bayi dapat dicegah sejak dini. Modul ini dibagi menjadi 6 kegiatan belajar (KB), yaitu: KB 1 Asuhan pada ibu perdarahan hamil muda KB 2 Asuhan antenatal pada ibu hamil dengan anemia KB 3 Asuhan pada ibu hamil dengan preeklamsi/ eklamsi KB 4 Asuhan pada ibu dengan perdarahan hamil lanjut Pendahuluan Gambar : Memeriksa tensi
  • 7.
    Modul Pendidikan JarakJauh Pendidikan Tinggi Kesehatan 2 KB 5 Asuhan pada ibu hamil dengan infeksi malaria KB 6 Asuhan pada ibu hamil dengan HIV/AIDS Untuk mempelajari modul ini, ada beberapa prasyarat yang perlu saudara penuhi yaitu telah lulus Praktik Kebidanan I dan Praktik Kebidanan II. Sebelum saudara melakukan praktik kebidanan III pelajari kembali materi – materi pada mata kuliah askeb I,askeb IV, PK I dan II. Keberhasilan proses pembelajaran sangat tergantung pada kesungguhan saudara dalam mengerjakan praktikum. Seringlah Berlatih secara mandiri atau berkelompok dengan teman sejawat. Jika menemukan kesulitan silakan menghubungi tutor atau instruktur saudara. Tempat Praktik : Rumah Bersalin, Puskesmas dengan rawat inap dan Rumah Sakit Pada praktik klinik ini jumlah SKS yang ditempuh adalah 8 SKS, dimana 1 SKS setara dengan 64 jam, jadi 8 SKS menjadi 512 jam. Jika saudara praktik di lapangan 7 jam per hari, maka waktu yang dibutuhkan untuk praktik PK III adalah : 74 hari (2,5 bulan). Jadwal pelaksanaan praktik klinik ini dilakukan bersamaan dengan pencapaian target PKK III yang lain, diantaranya asuhan antenatal, Asuhan intranatal, asuhan nifas, asuhan neonatus, asuhan kebidanan Keluarga berencana, dan kegawatan maternal neonatal. Pembimbing Praktik: Saudara selama di lahan praktik akan dibimbing oleh pembimbing klinik (Clinical Instructur) dan pembimbing institusi saudara. Pembimbing klinik ditunjuk dan ditetapkan oleh atasan tempat saudara melakukan praktik, dengan latar belakang pendidikan minimal DIII Kebidanan dan berpengalaman di klinik minimal 2 tahun sedangkan pembimbing institusi adalah pembimbing yang mendapatkan tugas dari pimpinan institusi tersebut. Petunjuk Belajar
  • 8.
    Modul Pendidikan JarakJauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan 3 Teknis Bimbingan: Pada awal praktik yang saudara akan melakukan pertemuan dengan pembimbing klinik (preconference) pada pertemuan tersebut akan membahas kontrak belajar, persamaan persepsi mengenai kontrak belajar. Dan selanjutnya saudara akan mendapatkan bimbingan klinik. Setelah saudara melakukan praktik akan dilakukan pertemuan kembali (postconference) yang akan membahas mengenai praktik yang telah saudara lakukan, pemberian umpan balik untuk perbaikan praktik klinik berikutnya. Pada praktik Kebidanan III ini saudara diharapkan sudah mampu melakukan asuhan antenatal dengan penyulit dan komplikasi secara mandiri, bila Saudara menemukan kesulitan saat memberikan asuhan kepada klien saudara dapat berkonsultasi dengan Pembimbing praktik. Pembimbing institusi akan memantau pencapaian kompetensi saudara, melalui supervisi secara berkala ataupun saudara mengirimkan laporan portofolio dalam bentuk laporan asuhan kebidanan melalui media elektronik maupun dikirim melalui post surat, sehingga pembimbing institusi dapat memonitor pencapaian target kompetensi praktik klinik yang saudara buat. Penilaian: Penilaian mata kuliah Praktek Kebidanan III meliputi: Ujian Praktik : 50% Nilai praktik Harian : 30% Laporan/Dokumentasi : 20% Jumlah kompetensi yang harus dicapai pada saat PK III adalah 40% dari keseluruhan praktik (PK I,II dan III) jumlah ini dapat bertambah apabila jumlah target PKK II belum tercapai. Tata Tertib. Selama saudara menjalankan praktik klinik kebidanan ini, wajib mentaati tata tertib yang ada, antara lain: 1. Saudara wajib mentaati peraturan yang berlaku di lahan praktik. 2. Kehadiran saudara harus sesuai jadwal yang ditetapkan pembimbing klinik 3. Kehadiran praktik 100%, bila tidak hadir wajib mengganti praktik pada kesempatan lain
  • 9.
    Modul Pendidikan JarakJauh Pendidikan Tinggi Kesehatan 4 selama periode praktik di tempat yang sama dengan persetujuan pembimbing prodi dan lahan praktik. Penggantian praktik dibuktikan dengan Surat Pernyataan 4. Setiap saudara datang ke tempat praktik wajib menandatangani daftar hadir. 5. Bila saudara ada halangan tidak bisa hadir pada praktik klinik ini, maka saudara harus meminta ijin kepada pembimbing klinik saudara. Bila sakit harus ada surat keterangan dokter, bila ijin kepentingan lain harus melapor terlebih dulu pada penanggung jawab praktik. 6. Saudara wajib mengganti waktu praktik sepanjang yang ditinggalkan, apabila meninggalkan praktik tanpa keterangan maka harus mengganti dua kali lipat dari waktu yangn ditinggalkan 7. Bila saudara, ditengah-tengah praktik meninggalkan tempat tanpa ijin, maka dianggap tidak hadir.Baiklah rekan mahasiswa, selamat belajar, semoga Saudara sukses memahami dan mempraktikkan modul ini sebagai bekal bertugas sebagai bidan di daerah.
  • 10.
    Modul Pendidikan JarakJauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan 5 Setelah menyelesaikan kegiatan belajar ini, Saudara diharapkan mampu untuk melakukan asuhan pada ibu dengan perdarahan hamil muda. Secara khusus saudara diharapkan dapat: 1. Melakukan penilaian secara sistematis dan lengkap, 2. melakukan penegakan diagnosis, 3. Mengklasifikasikan jenis perdarahan hamil muda, 4. Mengantisipasi diagnosis potensial dari perdarahan hamil muda, 5. Membuat rencana asuhan pada ibu dengan perdarahan hamil muda, 6. Melaksanakan asuhan dan melakukan evaluasi terhadap asuhan yang telah diberikan. Pokok materi yang akan dibahas pada kegiatan belajar ini adalah: 1. Pengertian perdarahan hamil muda 2. Diagnosis perdarahan hamil muda 3. Penanganan perdarahan hamil muda 4. Prosedur melakukan digital 5. Prosedur penanganan syok 6. Prosedur persiapan kuretase Kegiatan Belajar 1 Asuhan pada Ibu dengan Perdarahan Hamil Muda Tujuan Umum Tujuan Khusus Pokok Materi
  • 11.
    Modul Pendidikan JarakJauh Pendidikan Tinggi Kesehatan 6 Pada waktu yang lalu, saudara telah mempelajari modul teori tentang asuhan kehamilan dengan penyulit/komplikasi dan mempraktikannya dalam praktik PK II. Kini saudara dapat mempraktikkannya kembali dalam PK III. Pada PK III ini, Saudara diharapkan dapat mempraktikkan dengan lebih baik dan kompeten tentang bagaimana melakukan penilaian secara sistematis dan lengkap, membuat diagnosa, memberikan asuhan sesuai dengan kebutuhan ibu dan mendokumentasikannya. NGBaiklah, sebelum saudara mulai melakukan asuhan pada ibu dengan perdarahan hamil muda mari kita tinjau kembali kajian teori, hal ini akan mengingatkan saudara apa saja yang harus dipahami bidan saat memberikan asuhan pada kehamilan trimester I yang mengalami perdarahan. Apakah saudara masih ingat apakah yang dimaksud dengan perdarahan pada kehamilan muda? Apa saja yang termasuk perdarahan pada kehamilan muda perdarahan pada kehamilan muda dan Kapan itu terjadi? Tuliskan pada kotak di bawah ini: Uraian Materi
  • 12.
    Modul Pendidikan JarakJauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan 7 Bagaimana apakah sudah selesai, jika sudah, coba sekarang cocokkan jawaban Saudara dengan uraian berikut: 1. Pengertian Perdarahan pada kehamilan muda adalah perdarahan pervaginam pada kehamilan kurang dari 22 minggu. Ketika terjadi hal tersebut saudara harus memikirkan kemungkinan diagnosis apakah perdarahan terjadi karena abortus, kehamilan ektopik atau mola hydatidosa. Coba saudara bandingkan perbedaan pengertian antara abortus, kehamilan ektopik dan mola hydatidosa berikut ini : • Abortus merupakan pengeluaran hasil konsepsi pada usia kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram. • Kehamilan ektopik merupakan kehamilan yang pertumbuhan sel telur yang telah dibuahi tidak menempel pada dinding endometrium kavum uteri. • Mola hydatidosa merupakan suatu kehamilan yang berkembang tidak wajar, tidak ditemukan janin dan hampir seluruh villi korialis mengalami degenerasi hidropik. Rekan mahasiswa, seorang bidan harus bisa mendeteksi secara dini kemungkinan kejadian kasus-kasus tersebut. Bidan harus bisa mengenali tanda gejala perdarahan hamil muda serta mampu melakukan pemeriksaan fisik yang tepat sehingga diagnosis perdarahan hamil muda dapat ditegakan secara tepat. Berikut adalah dasar bagaimana kita melakukan diagnosis pada perdarahan hamil muda. Gambar : Mempelajari dengan seksama
  • 13.
    Modul Pendidikan JarakJauh Pendidikan Tinggi Kesehatan 8 2. Diagnosis Untuk memudahkan saudara membedakan jenis-jenis perdarahan pada kehamilan muda maka pelajarilah tabel berikut ini: Diagnosis perdarahan pada kehamilan muda Perdarahan Keadaan serviks Uterus Gejala/tsaudara Diagnosis Bercak hingga sedang Tertutup Sesuai dengan usia kehamilan • Kram perut bawah Uterus lunak Abortus imminens Sedikit membesar dari normal • Pingsan • Nyeri perut bawah • Nyeri goyang porsio • Ada massa adneksa • Terdapat cairan bebas intraabdomen Kehamilan ektopik terganggu Tertutup atau terbuka Lebih kecil dari usia gestasi • Sedikit nyeri atau tanpa nyeri perut bawah • Riwayat ada pengeluaran hasil konsepsi Abortus komplit Sedang hingga banyak Terbuka Sesuai usia kehamilan • Kram/nyeri perut bawah • Belum ada pengeluaran hasil konsepsi Abortus insipiens • Kram/nyeri perut bawah • ada pengeluaran sebagian hasil konsepsi Abortus inkomplit Terbuka Lunak dan lebih besar dari usia kehamilan • mual muntah • kram perut bawah • keluar jaringan seperti anggur Abortus Mola hydatidosa Diagnosis yang tepat akan mempengaruhi terhadap penanganan yang tepat pula. Bidan harus memikirkan kemungkinan diagnosis potensial dan antisipasinya. Perdarahan hamil muda jika tidak ditangani secara cepat dan tepat potensial terjadi syok
  • 14.
    Modul Pendidikan JarakJauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan 9 hipovolemik bahkan syok septik jika sisa hasil konsepsi lama tidak dikeluarkan. Bidan harus mampu melakukan penanganan segera pada kasus tersebut yaitu: 1. lakukan penilaian cepat mengenai keadaan umum ibu, termasuk tanda-tanda vital (Nadi, Tekanan Darah, Respirasi, suhu) dan jumlah perdarahan 2. Periksa tanda-tanda syok (pucat, berkeringat banyak, pingsan, nadi > 112 x/menit, tekanan sistolik < 90 mmHg) 3. Jika syok, segera mulai penanganan syok 3. Penanganan Berikut adalah tabel penangan perdarahan pada hamil muda sesuai dengan dignosisnya: Diagnosis Penanganan Abortus imminens • Tidak perlu bed rest • Hindari aktivitas fisik yang berlebihan • Hindari hubungan seksual • Jika perdarahan berhenti, ANC seperti biasa • Jika perdarahan terus berlangsung: nilai kondisi janin/ USG lakukan konfirmasi kemungkinan penyebab Kehamilan ektopik terganggu • Jika fasilitas memungkinkan segera lakukan uji silang darah dan laparatomi • Jika tidak memungkinkan segera rujuk ke RS yang lebih lengkap • Konseling mengenai prognosis kesuburan • Perbaiki anemia dengan dengan sulfas ferrosus 600 mg/ hari per oral selama 2 minggu Abortus komplit • Tidak perlu evakuasi lagi • Observasi untuk melihat adanya perdarahan banyak • Pastikan untuk tetap memantau kondisi ibu setelah penanganan • Apabila terdapat anemia sedang berikan tablet sulfas ferosus 600 mg/hari selama 2 minggu, jika anemia berat berikan tranfusi darah • Konseling asuhan pasca keguguran dan pemantauan lanjut Abortus insipiens • Jika usia kehamilan < 16 minggu, lakukan evakuasi uterus dengan aspirasi vakum manual (AVM). Jika evakuasi tidak dapat segera dilakukan: • Berikan ergometrin 0,2 mg IM (dapat diulang sesudah 15 menit jika perlu) atau misoprostol 400 mcg per oral
  • 15.
    Modul Pendidikan JarakJauh Pendidikan Tinggi Kesehatan 10 400 mcg per oral (dapat diulang sesudah 4 jam ) jika perlu: • Segera lakukan persiapan untuk pengeluaran hasilkonsepsi dari uterus • Jika usia kehamilan > 16 minggu • Pastikan untuk tetap memantau kondisi ibu setelah penanganan Abortus inkomplit • Jika perdarahan tidak banyak, usia kehamilan < 16 minggu maka evakuasi dapat dilakukan secara digital atau dengan cunam ovum untuk mengeluarkan hasil konsepsi yang keluar melalui serviks. Jika perdarahan berhenti beri ergometrin 0,2 mg IM/ misoprostol 400 mcg per oral • Jika perdarahan banyak/terus berlangsung, usia < 16 minggu,maka evakuasi sisa hasil konsepsi dengan: • Aspirasi vakum manual (AVM) merupakan metode evakuasi yang terpilih.evakuasi dengan kuret tajam sebaiknya hanya • dilakukan jika aspirasi vakum manual tidak tersedia • Jika evakuasi belum dapat segera, dilakukan, beri ergometrin 0,2 mg IM (diulangi setelah 15 menit jika perlu) atau misoprostol 400 mcg per oral (dapat diulangi setelah 4 jam jika perlu) • Jika kehamilan > 16 minggu: • Berikan infus oksitosin 20 unit dalam 500 ml cairan RL/NaCl dengan kecepatan 40 tetes/menit sampai terjadi ekspulsi hasil konsepsi • Jika perlu berikan misoprostol 200 mcg pervaginam setiap 4 jam sampai terjadi ekpulsi hasil konsepsi • Evakuasi sisa hasil konsepsi yang tertinggal dalam uterus • Pastikan untuk tetap memantau kondisi ibu setelah penanganan Abortus Mola hydatidosa Penanganan Awal: • Jika diagnosis kehamilan mola telah ditegakkan, lakukan evakuasi uterus: • Jika dibutuhkan dilatasi serviks, gunakan blok para servikal • Pengosongan dengan aspirasi vakum manual lebih aman dari kuretase tajam. Risiko perforasi dengan menggunakan kuret tajam cukup tinggi • Isi uterus harus secara cepat dikosongkan • Segera lakukan evakuasi jaringan mola dan sementara proses evakuasi berlangsung berikan infus 10 IU oksitosin dalam 500 ml cairan IV RL/NaCl dengan kecepatan 40-60 tetes per menit (sebagian tindakan preventif terhadap perdarahan hebat dan efektivitas kontraksi terhadap pengosongan uterus secara cepat)
  • 16.
    Modul Pendidikan JarakJauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan 11 Penanganan selanjutnya: • Pasien dianjurkan untuk menggunakan kontrasepsi hormonal jika berencana hamil kembali atau tubektomi jika ingin menghentikan fertilitas. • Lakukan pemantauan setiap 8 minggu selama minimal 1 tahun pascaevakuasi dengan menggunakan tes kehamilan dengan urin karena danya risiko timbulnya penyakit trofoblast yang menetap atau khoriokarsinoma. Jika tes kehamilan dengan urine tidak negatif setelah 8 minggu atau menjadi positif kembali dalam satu tahun pertama rujuk ke RS untuk pemantauan dan penanganan lebih lanjut. Kini saudara telah mengingat kembali perdarahan hamil muda dan bagaimana penanganannya. Bidan berwenang dalam menangani kegawatdaruratan karena perdarahan hamil muda, pada kasus abortus incomplet dengan perdarahan banyak bidan dapat segera melakukan pengeluaran hasil konsepsi dengan cara digital, tentunya harus memenuhi persyaratan digital (ostium uteri internum dapat dilalui minimal satu jari). Pada kasus syok, bidan harus segera melakukan pertolongan pertama pasien syok. Kini kita melangkah pada kegiatan berikutnya yaitu praktik pengeluaran sisa hasil konsepsi dengan digital.
  • 17.
    Modul Pendidikan JarakJauh Pendidikan Tinggi Kesehatan 12 DAFTAR TILIK PENGELUARAN SISA HASIL KONSEPSI DENGAN DIGITAL Nilailah setiap kinerja yang diamati menggunakan skala sbb : 1 : Bila asuhan dilakukan 0 : Bila asuhan tidak dilakukan SKILL ASPEK YANG DINILAI KASUS 1 2 3 4 5 6 1 Memastikan diagnosa klien dengan abortus inkomplit (pada usia kehamilan antara 8-12 minggu) 2 Memberikan penjelasan tentang tujuan tindakan yang akan dilakukan pada klien dan atau keluarga. 3 Memberikan penjelasan tentang prosedur tindakan yang akan dilakukan pada klien dan atau keluarga. 4 Menjelaskan kemungkinan komplikasi/risiko tindakan pada pasien dan keluarga. 5 Meminta persetujuan tindakan pada pasien atau keluarga 6 • Mempersiapkan alat-alat dan obat secara ergonomis • Bak instrument berisi: • Handschoon steril 1 pasang • Kassa steril • Kom berisi betadin • Spuit 3 cc + nald 1 buah • Oksitosin 10 IU 1 ampul • Bengkok 1 buah • Perlak dan alasnya 1 buah • APD: schort, sepatu boot, masker, dan kaca mata • Waskom berisi larutan klorin 0,5% • Wadah sampah tajam 1 buah • Wadah sampah basah 1 buah • Wadah sampah kering 1 buah 7 Meminta pasien untuk BAK/mengosongkan kandung kemih
  • 18.
    Modul Pendidikan JarakJauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan 13 8 Memposisikan pasien dalam posisi dorsal recumbent atau litotomi pada meja ginekologi 9 Memasang alas bokong 10 Memakai alat perlindungan diri: schort, sepatu boot, masker dan kaca mata 11 Mencuci tangan sesuai prosedur 12 Memakai sarung tangan steril/DTT 13 Memasukkan tangan kanan secara obstetrik ke dalam vagina 14 Memfiksasi uterus dari luar dengan tangan kiri 15 Memasukkan jari tengah ke kavum uteri (apabila pembukaan cukup besar, masukkan dua jari) 16 Mengikis sisa hasil konsepsi secara hati-hati sampai dinding uterus terasa licin 17 Mengeluarkan sisa hasil konsepsi dari dalam rahim secara perlahan 18 Memastikan perdarahan berhenti dan kontraksi uterus baik 19 Membersihkan vagina dan vulva dari sisa darah dengan kassa DTT 20 Membersihkan sarung tangan dalam larutan klorin 0,5% 21 Memberikan suntikan oksitosin 10 IU secara IM 22 Membersihkan tempat tidur 23 Merapikan pasien 24 Melepaskan sarung tangan secara terbalik dalam larutan klorin 0,5% 25 Mencuci tangan sesuai prosedur 26 Menjelaskan hasil tindakan pada pasien dan keluarga 27 Mendokumentasikan hasil asuhan Perdarahan hamil muda jika tidak ditangani secara cepat dan tepat potensial terjadi syok hipovolemik bahkan syok septik jika sisa hasil konsepsi lama tidak dikeluarkan. Bidan harus mampu melakukan penanganan segera pada kasus tersebut. Berikut adalah daftar tilik penanganan syok, pelajari dengan seksama.
  • 19.
    Modul Pendidikan JarakJauh Pendidikan Tinggi Kesehatan 14 DAFTAR TILIK PENANGANAN SYOK Nilailah setiap kinerja yang diamati menggunakan skala sbb : 1 Bila asuhan dilakukan 0 Bila asuhan tidak dilakukan SKILL ASPEK YANG DINILAI KASUS 1 2 3 4 5 6 Persiapan alat 1 Selimut 2 Oksigen dan regulator 3 Ambu bag 4 Bantal minimal 3 buah untuk meninggikan posisi kaki 5 Jam tangan 6 Infus set atau treansfusion set 7 Abocath no 16 – 18 8 Cairan RL atau NaCL minimal 6 labu 9 Polycatheter beserta urin bag 10 Memberikan penjelasan kepada keluarga bahwa kondisi pasien dalam keadaan gawat dan harus dilakukan tindakan medis segera 11 Meminta persetujuan tindakan dan kerja sama dari keluarga pasien 12 Memberikan dukungan emosional dan ketenangan hati pada pasien dan keluarga Tindakan Umum 13 Memobilisasi personil/petugas yang ada untuk segera menolong pasien 14 Memeriksa tsaudara vital segera : nadi ibu 15 Menjaga kondisi badan pasien tetap hangat dengan menyelimuti dan memperhatikan suhu ruangan 16 Memiringkan kepala pasien dan badannya ke samping 17 Membebaskan jalan napas dengan cara memastikan jalan napas tidak tersumbat dan tidak memberikam minuman per oral 18 Menaikkan kaki pasien lebih tinggi dari pada kepala, kecuali pada kondisi pasien sesak napas.
  • 20.
    Modul Pendidikan JarakJauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan 15 Tindakan Khusus 20 Memberikan oksigen dalam kecepatan 6-8 liter/ menit 21 Melakukan pemasangan infus cairan RL/Na Cl 0,9% sesuai prosedur* Apabila memungkinkan pasang infus 2 jalur (kiri dan kanan) 22 Mengambil darah setelah abocath terpasang untuk pemeriksaan laboratorium apabila memungkinkan 23 Memberikan cairan infus secara cepat sebanyak 1 liter dalam waktu 15 – 20 menit (infus diguyur). Pada syok hipovolemik pada umumnya dibutuhkan 3 liter cairan untuk menstabilkan kondisi pasien. 24 Memantau kembali kondisi pasien dalam waktu 20-30 menit setelah pemberian cairan apakah stabil, meliputi: 25 Memeriksa tekanan darah, mulai naik, sistolik 100 mmHg 26 Memeriksa denyut nadi, stabil ((90x/menit atau kurang) 27 Memperhatikan kondisi mental, membaik (ketakutan/kebingungan berkurang) 28 Memeriksa produksi urin, urin bertambah (minimal 30 ml/jam atau 100 ml/4 jam) dengan melakukan kateterisasi* atau apabila tidak memungkinkan urin ditampung. 29 Mempersiapkan donor darah untuk transfusi darah apabila diketahui Hb pasien < 8 gr %. Apabila kondisi pasien stabil/membaik: 30 Mempertahankan pemberian cairan infus dalam kecepatan 1 liter per 6-8 jam (40-50 tts/menit) 31 Melakukan penanganan penyebab syok 32 Melakukan rujukan ke RS dengan fasilitas yang memadai apabila penyebab syok tidak dapat ditangani di tempat. Apabila kondisi pasien belum stabil dalam 20-30 menit: 33 Mempertahankan oksigen 6-8 liter/menit 34 Meneruskan pemberian cairan infus dengan kecepatan 1 liter dalam 15-20 menit 35 Memantau terus menerus kondisi pasien: terutama produksi urin dan tanda-tanda vital) 36 Merujuk pasien ke RS dengan fasilitas yang memadai
  • 21.
    Modul Pendidikan JarakJauh Pendidikan Tinggi Kesehatan 16 Pada penanganan perdarahan hamil muda di beberapa kasus memerlukan tindakan kuretase. Sebagai seorang bidan yang bekerja di pelayanan sekunder (Rumah Sakit) tentu harus mampu menyiapkan persiapan kuretasi. Berikut adalah daftar tilik persiapan kuretase. DAFTAR TILIK PERSIAPAN KURETASE Nilailah setiap kinerja yang diamati menggunakan skala sbb : 1 Bila asuhan dilakukan 0 Bila asuhan tidak dilakukan SKILL ASPEK YANG DINILAI KASUS 1 2 3 4 5 6 Persiapan alat-alat (instrumen kuretase) dan bahan (dipersiapkan secara ergonomis sesuai dengan urutan pemakaian) 1 Memakai sarung tangan steril/DTT atau korentang untuk menyusun alat/bahan steril/DTT 2 Baki atau troly yang bersih dan kering dipersiapkan 3 Membentangkan alas/duk steril/DTT di atas baki/ troly 4 Meletakkan alat dan bahan steril/DTT di atas baki/ troly yang diberi alas steril secara ergonomis, meliputi: 5 1 pasang sarung spekulum sim dan L 6 1 buah cunam tampon/tampon tang 7 1 buah sonde uterus 8 1 buah tenakulum 9 1 buah fenster klem atau klem ovum 10 1 set busi/dilatator (berbagai ukuran) 11 1 set sendok kuret (berbagai usuran) 12 1 buah cunam abortus/abortus tang 13 1 buah kateter nelaton/karet 14 1 buah kom kecil 15 Kasa steril/DTT secukupnya 16 Deepers secukupnya 17 Sarung tangan 2 pasang 18 Menutup alat-alat dengan duk steril 19 Membuka sarung tangan/menyimpan korentang pada tempatnya
  • 22.
    Modul Pendidikan JarakJauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan 17 20 Persiapan obat, cairan dan perlengkapan lain 21 Menyiapkan obat/cairan dan perlengkapan lain, meliputi: 22 1 buah infus set 23 Cairan infus RL atau NaCl 0,9% 24 Spuit 5 cc 2 buah 25 Spuit 3 cc 1 buah 26 Kapas suntik DTT dalam tempatnya 27 Larutan antiseptik (Povidon iodin 10%) 28 Analgetik (Petidin atau tramadol 1-2 mg/kg BB atau ketamin HCl 0,5 mg/kg BB) 29 Sedativa (diazepam 10 mg) 30 Sulfas atropin 0,25 – 0,5 mg/ml 31 Uterotonika (oksitosin 10 IU/ml, ergometrin 0,2 mg/ml) 32 1 buah Oksigen dan regulator 33 1 buah tensimeter 34 1 buah stetoskop 35 1 buah bengkok 36 1 buah mangkok logam/botol penampung jaringan 37 2 set APD: schort, sarung kaki, masker, kaca mata 38 1 buah waskom berisi larutan klorin 0,5% 39 1 buah waskom berisi air DTT 40 1 buah wadah sampah tajam 41 1 buah wadah sampah basah 42 1 buah wadah sampah kering 43 1 buah tiang infuse 44 2 buah waslap 45 Perlengkapan pasien (pakaian ganti) Persiapan Lingkungan 46 Memasang tirai penutup/skrem 47 Menyiapkan lampu sorot Persiapan Pasien 48 Memberikan penjelasan tentang tujuan tindakan yang akan dilakukan pada klien dan atau keluarga. 49 Memberikan penjelasan tentang prosedur tindakan yang akan dilakukan pada klien dan atau keluarga.
  • 23.
    Modul Pendidikan JarakJauh Pendidikan Tinggi Kesehatan 18 50 Menjelaskan kemungkinan komplikasi/risiko tindakan pada pasien dan keluarga. 51 Meminta persetujuan tindakan pada pasien atau keluarga 52 Melakukan pemeriksaan umum : tanda-tanda vital 53 Menganjurkan pasien untuk mengosongkan kandung kemih 54 Memasang infus sebagai upaya profilaktif 55 Mempersiapkan pasien dalam posisi litotomi di meja ginekologi 56 Memasang alas bokong 57 Membersihkan daerah perut bawah dan lipat paha 58 Memasasang oksigen 4-6 liter/menit Persiapan penolong dan asisten 59 Memakai APD 60 Cuci tangan 61 Memakai sarung tangan
  • 24.
    Modul Pendidikan JarakJauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan 19 Nah, sekarang saudara sudah paham betul bagaimana asuhan pada klien dengan perdarahan hamil muda bukan? Kami harap saudara sering berlatih dalam menangani kasus perdarahan hamil muda terutama saat melakukan praktek di Rumah sakit. Namun bila masih terdapat asuhan yang belum dilakukan coba mencari kasus kembali dan berlatihlah lagi dengan menggunakan learning guide di atas Untuk lebih memperdalam materi mengenai asuhan pada perdarahan hamil muda, saat PKK III ini saudara juga harus membaca kembali modul tentang asuhan kebidanan IV (kegawatdaruratan maternal dan neonatal). Setelah melakukan asuhan, segeralah buat dokumentasinya dan jangan di tunda – tunda. Hal ini agar proses Praktik Kebidanan III berjalan lancar Lakukan hingga semua asuhan sudah dapat dilakukan dengan baik. Perdarahan pada kehamilan muda adalah perdarahan pervaginam pada kehamilan kurang dari 22 minggu, kemungkinan diagnosis pada perdarahan hamil muda yaitu terjadi karena abortus, kehamilan ektopik atau mola hydatidosa. Bidan harus bisa mendeteksi secara dini serta mampu melakukan pemeriksaan fisik yang tepat sehingga diagnosis perdarahan hamil muda dapat ditegakan secara tepat. Rangkuman
  • 25.
    Modul Pendidikan JarakJauh Pendidikan Tinggi Kesehatan 20 Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut dengan memilih salah satu alternatif jawaban yang Saudara anggap paling benar pada kertas tersendiri. 1 Seorang perempuan berusia 32 tahun hamil 3 bulan datang ke Bidan dengan keluhan nyeri perut/ kram, keluar darah dan gumpalan seperti daging dari jalan lahir. Hasil pemeriksaan TTV normal, TFU 2 jari diatas simfisis, terdapat pembukaan serviks 1 jari dan teraba jaringan. Apa kemungkinan diagnosis pada kasus tersebut? a. Abortus imminen b. Abortus inkomplit c. Abortus komplit d. Mola hidatidosa e. KET 2 Seorang perempuan hamil 3 bulan, datang ke Bidan dengan keluhan keluar darah dan keluar gelembung berisi air dari jalan lahir. Hasil pemeriksaan TTV normal, TFU pertengahan simfisis pusat. Apa kemungkinan diagnosis pada kasus tersebut? a. Abortus imminen b. Abortus inkomplit c. Abortus komplit d. Mola hidatidosa e. KET 3 Seorang perempuan hamil 3 bulan, datang ke Bidan dengan keluhan keluar darah dan keluar gelembung berisi air dari jalan lahir. Hasil pemeriksaan TTV normal, TFU pertengahan simfisis pusat. Apa diagnosis potensial pada kasus tersebut? a. Syok Evaluasi Formatif
  • 26.
    Modul Pendidikan JarakJauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan 21 b. IUFD c. Abortus d. Dehidrasi e. Perdarahan 4 Seorang perempuan G1P0A0 hamil 3 bulan, datang ke Bidan dengan keluhan keluar darah banyak dan keluar gelembung berisi air dari jalan lahir. Hasil pemeriksaan TTV normal, TFU pertengahan simfisis pusat. Bidan merujuk ke RS untuk penanganan selanjutnya. Apa konseling yang diperlukan setelah penanganan kasus tersebut? a. Perlunya pengawasan kadar βHCG selama 1 tahun b. Ibu dianjurkan untuk melakukan perawatan luka c. Ibu harus menggunakan KB tubektomi d. Ajarkan ibu untuk tes kehamilan sendiri e. Perlu kuretase ulangan 5 Seorang perempuan berusia 32 tahun hamil 3 bulan datang ke Bidan dengan keluhan nyeri perut/ kram, keluar darah banyak disertai gumpalan seperti daging dari jalan lahir sejak 6 jam yang lalu. Hasil pemeriksaan TTV normal, TFU 2 jari diatas simfisis, terdapat pembukaan serviks 1 jari dan teraba jaringan. Apa diagnosis potensial pada kasus tersebut? a. Infeksi b. Dehidrasi c. Missed abortion d. Syok hipovolemik e. Abortus habitualis 6 Seorang perempuan berusia 32 tahun hamil 3 bulan datang ke Bidan dengan keluhan nyeri perut/ kram, keluar darah banyak disertai gumpalan seperti daging dari jalan lahir. Hasil pemeriksaan TTV normal, TFU 2 jari diatas simfisis, terdapat pembukaan serviks 1 jari dan teraba jaringan. Apa tindakan awal bidan pada kasus tersebut? a. Merujuk ke RS b. Melakukan digital
  • 27.
    Modul Pendidikan JarakJauh Pendidikan Tinggi Kesehatan 22 c. Persiapan kuretase d. Memberikan oksitosin drip 10 IU e. Memberikan suntikan metergin 0,25 mg IM 7 Seorang perempuan berusia 35 tahun, G2P1A0 merasa hamil 2 bulan mengeluh pusing dan nyeri perut bawah. Hasil pemeriksaan hasil pemeriksaan Nadi 100x/menit lemah, konjungtiva pucat, TFU tidak teraba,nyeri perut (+), perdarahan sedikit. Apa kemungkinan diagnosis pada kasus tersebut? a. Missed abortion b. Mola hydatidosa c. Kehamilan ektopik d. Abortus incomplet e. KET 8 Seorang perempuan berusia 35 tahun, G2P1A0 merasa hamil 2 bulan mengeluh pusing dan nyeri perut bawah. Hasil pemeriksaan hasil pemeriksaan Nadi 100x/menit lemah, konjungtiva pucat, TFU tidak teraba,nyeri perut (+), perdarahan sedikit. Apa tindakan awal pada kasus tersebut? a. Melakukan pengambilan darah b. Pastikan jalan nafas bebas c. Pantau produksi urine d. Rujuk pasien ke RS e. Pasang infus 9 Seorang perempuan berusia 35 tahun, G2P1A0 merasa hamil 2 bulan mengeluh pusing dan nyeri perut bawah. Hasil pemeriksaan hasil pemeriksaan Nadi 100x/menit lemah, konjungtiva pucat, TFU tidak teraba,nyeri perut (+), perdarahan sedikit. Di RS ibu dilakukan berbagai pemeriksaan penunjang. Apa data dasar yang menunjang diagnosis pasti pada kasus tersebut? a. Hasil pemeriksaan HCG urine (+) b. Tsaudara spalding pada USG c. Nyeri lepas abdomen (+) d. Nyeri goyang portio (+)
  • 28.
    Modul Pendidikan JarakJauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan 23 e. Douglas pungsi (+) 10 Seorang perempuan berusia 35 tahun, G2P1A0 merasa hamil 2 bulan mengeluh pusing dan nyeri perut bawah. Hasil pemeriksaan hasil pemeriksaan Nadi 100x/menit lemah, konjungtiva pucat, TFU tidak teraba,nyeri perut (+), perdarahan sedikit. Di RS ibu dilakukan berbagai pemeriksaan penunjang. Apa konseling yang penting untuk kasus tersebut? a. Konseling mengenai kemungkinan kesuburan b. Kontrol teratur dalam 1 tahun pertama c. Anjurkan ibu senam secara teratur d. Anjurkan menggunakan IUD e. Bed rest
  • 29.
    Modul Pendidikan JarakJauh Pendidikan Tinggi Kesehatan 24 Tugas Mandiri 1. Lakukan asuhan pada ibu hamil dengan perdarahan hamil muda secara mandiri (penilaian dengan menggunakan daftar tilik oleh pembimbing PK III). 2. Buatlah reflective practice sesuai dengan kasus yang saudara temukan. 3. Buatlah dokumentasi asuhan kebidanan sesuai kasus yang saudara temukan
  • 30.
    Modul Pendidikan JarakJauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan 25 Saifudin, Rachimhadhi, Wiknjosastro. Ilmu Kebidanan, Edisi 4, YBP-SP, Jakarta, 2008 Midwifery Community Based Care during The Childbearing, Linda V walsh, Sander Company, 2001 Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, YBP-SP dan JNPKKR, Jakarta, 2002 Varneys, varneys midwivery, fourth edition. 2004. Boston. Jones and Bartlett . Cunningham, Mac. Donald, Gant. 2002. Obstetri Williams. Jakarta. EGC Pengurus Pusat IBI. Modul Kebidanan (Standar Pelayanan Kebidanan). 2003.Jakarta. Pusdiknakes, WHO-JHPIEGO, Asuhan Antenatal Buku 2, Jakarta : Pusdiknakes, 200 GLOSSARIUM Abortus Pengeluaran hasil konsepsi pada usia kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram Kehamilan Ektopik Kehamilan di luar rahim Mola Hydatidosa Kehamilan anggur AVM Aspirasi vakum manual HCG Human chorionic gonadotropin TTV Tanda-tanda vital TFU Tinggi Fundus Uteri Daftar Pustaka
  • 31.
    Modul Pendidikan JarakJauh Pendidikan Tinggi Kesehatan 26 Setelah menyelesaikan kegiatan belajar ini, Saudara diharapkan mampu melakukan asuhan pada ibu hamil dengan anemia Secara khusus saudara diharapkan dapat: 1. Melakukan penilaian secara sistematis dan lengkap, 2. Melakukan penegakan diagnosis, 3. Mengklasifikasikan jenis anemia, 4. Mengantisipasi diagnosis potensial dari kehamian dengan anemia, dan 5. Melakukan asuhan pada ibu hamil dengan anemia 1. Pokok materi yang akan dibahas pada kegiatan belajar kali ini adalah: 2. Pengertian Anemia 3. Tanda - tanda Anemia 4. Penyebab Anemia 5. Komplikasi akibat anemia pada ibu Hamil, Bersalin dan Nifas 6. Penanganan Anemia 7. Prosedur pemeriksaan Hb metode Sahli Kegiatan Belajar 2 Asuhan Kebidanan pada Ibu Hamil dengan Anemia Tujuan Pembelajaran Umum Tujuan Pembelajaran Khusus Pokok - Pokok Materi
  • 32.
    Modul Pendidikan JarakJauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan 27 Anemia? Bukankah saudara tidak asing lagi dengan kata ini? Kondisi ibu dengan anemia masih banyak ditemukan pada ibu hamil. Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya anemia pada ibu hamil. Padahal kita semua mengetahui efek yang ditimbulkan pada ibu dan janin amat berat. Apa yang Anda ketahui tentang Anemia? Tuliskan jawaban Anda pada kotak berkut. Sekarang cocokkan jawaban Anda dengan uraian berikut ini: Anemia adalah kondisi dimana berkurangnya sel darah merah (eritrosit) dalam sirkulasi darah atau massa hemoglobin sehingga tidak mampu memenuhi fungsinya sebagai pembawa oksigen keseluruh tubuh. Uraian Materi
  • 33.
    Modul Pendidikan JarakJauh Pendidikan Tinggi Kesehatan 28 A. Diagnosis Diagnosa anemia dapat ditentukan melalui pengkajian data subjektif dan data objektif serta pemeriksaan laboratorium. 1. Tanda Pucat pada kulit dan membran mukosa dapat dilihat, dan mungkin tampak pada telapak tangan dan konjungtiva, meskipun tanda ini bersifat subjektif. Pada anemia berat, tanda dan gejala klinis yang tampak secara langsung dihubungkan dengan ketidak adekuatan suplai oksigen dan mencakup takikardia dan palpitasi, angina dan klaudikasi intermiten. 2. Gejala a. Subjektif Kelelahan, keletihan, iritabilitas, dan sesak napas saat melakukan aktivitas merupakan gejala yang paling sering ditemukan. Stomatitis angular juga dapat terjadi, yaitu robekan yang terasa nyeri pada sudut mulut yang menyebabkan kehilangan nafsu makan. Gejala anemia pada kehamilan yaitu : • Letih. • Sering mengantuk, malaise • Pusing, lemah • Nyeri kepala • Luka pada lidah Gambar : Kulit pucat salah satu tanda anemia
  • 34.
    Modul Pendidikan JarakJauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan 29 • Kulit pucat • Membran mukosa pucat • Tidak ada nafsu makan, mual, dan muntah Riwayat yang berhubungan dengan potensi kelainan hematologi meliputi: • Riwayat anemia karena kekurangan zat besi • Riwayat sel sabit • Menderita talasemia atau riwayat talasemia dalam keluarga • ITP (Idiopathic Thrombocytopenic Purpura) • Gangguan perdarahan • Riwayat pengobatan • Kehamilan sebelumnya disertai peningkatan perdarahan (akibat episiotomy, insisi sesaria, atau untuk terapi darah sebelumnya, atau memar pada lokasi pemasangan infus) • Jika anak sebelumnya mengalami perdarahan, misalnya setelah sirkumsisi • Riwayat sindrom HELLP • Infeksi HIV • Riwayat diet • Sumber makanan yang kaya zat besi • Pica yaitu mengidam berlebihan dan ingin memakan bahan makanan atau sesuatu seperti tanah liat b. Objektif Berdasarkan hasil pemeriksaan, tanda dan gejala anemia yaitu: 1. Konjungtiva berwarna pucat 2. Bibir dan mukosa mulut pucat 3. Ujung-ujung ekstremitas pucat
  • 35.
    Modul Pendidikan JarakJauh Pendidikan Tinggi Kesehatan 30 Manifestasi Klinis pada Anemia Berat Pemeriksaan Manifestasi Klinik Keadaan Umum Pucat, nyeri kepala, vértigo, berat badan menurun Kulit Pucat, kulit kering, jaundice (pada anemia hemolitik) Mata Penglihatan kabur, konjungtiva pucat, dan perdarahan retina Telinga Vertigo tinnitus Mulut Mukosalicindanmengkilap,danstomatitis Kardiovaskuler Takikardi, palpitasi, murmur, hipotensi. Gastrointestinal Nyeri abdomen, anoreksia, disfagia Muskuloskeletal Nyeri pinggang, nyeri sendi Sistem persarafan Nyeri Kepala, bingung, neuropati perifer, cemas c. Pemeriksaan Hemoglobin Hemoglobin merupakan protein sel darah merah yang fungsinya antara lain: mengangkut oksigen dari paru-paru ke jaringan dan CO2 dan jaringan ke paru-paru, memberi warna merah pada darah, dan mempertahankan keseimbangan asam basa dalam tubuh Hemoglobin mengandung protein globin yang berkaitan dengan hem (senyawa besi protein). Derajat anemia berdasarkan kadar Hemoglobin: Normal > 11 g/dl Sedang Hb > 8 g/dl – 11 g/dl Berat b < 8 g/dl Umumnya ibu hamil dianggap anemia jika kadar Hb < 11 gr/dl atau hematokrit < 33 %.
  • 36.
    Modul Pendidikan JarakJauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan 31 d. Penyebab Penyebab anemia tersering adalah defisiensi zat-zat nutrisi, yang paling mendasar adalah kurangnya asupan, absorpsi yang tidak adekuat bertambahnya zat gizi yang hilang, kebutuhan yang berlebihan dan kurangnya utilisasi nutrisi hemopoetik. Namun, sekitar 75 % anemia dalam kehamilan disebabkan oleh defisiensi besi, penyebab yang tersering kedua adalah anemia megaloblastik yang disebabkan kekurangan asam folat dan vitamain B12. Penyebab anemia lainnya yang jarang ditemui adalah hemoglobinopati, proses inflamasi, toksisitas zat kimia dan keganasan. Defisiensi Besi Defisiensi besi merupakan defisiensi nutrisi yang paling sering ditemukan baik dinegara maju maupun berkembang. Risikonya meningkat pada kehamilan karena asupan besi yang tidak adekuat dibandingkan dengan kebutuhan pertumbuhan janin yang cepat. Pada kehamilan, kehilangan zat besi terjadi akibat pengalihan besi maternal ke janin untuk eritropoesis, kehilangan darah saat persalinan dan laktasi yang jumlah keseluruhan dapat mencapai 900 mg atau setara dengan dua liter darah. Pencegahan anemia dapat dilakukan dengan suplementasi besi dan asam folat. WHO menganjurkan untuk memberikan 60 mg besi selama 6 bulan untuk memenuhi kebutuhan normal selama kehamilan. Di wilayah dengan prevalensi anemia tinggi dianjurkan untuk memberikan suplementasi sampai tiga bulan postpartum. B. Komplikasi Anemia pada Ibu Hamil, Bersalin dan Nifas Anemia dapat terjadi pada setiap ibu hamil, karena itulah kejadian ini harus selalu diwaspadai. Sebagai bidan, saudara harus mengetahui komplikasi apa yang dapat terjadi pada ibu hamil, bersalin dan nifas dengan anemia 1. Anemia yang terjadi saat ibu hamil Trimester I akan dapat mengakibatkan: • Abortus • Missed Abortus • Kelainan kongenital.
  • 37.
    Modul Pendidikan JarakJauh Pendidikan Tinggi Kesehatan 32 2. Anemia pada kehamilan trimester II dapat menyebabkan: a. Persalinan prematur b. Perdarahan antepartum c. Gangguan pertumbuhan janin dalam rahim d. Asfiksia intrauterin sampai kematian e. BBLR f. Gestosis dan mudah terkena infeksi g. IQ rendah h. Bahkan bisa mengakibatkan kematian. 3. Anemia pada saat inpartu dapat menyebabkan: a. Gangguan his baik primer maupun sekunder b. Janin akan lahir dengan anemia c. Persalinan dengan tindakan yang disebabkan karena ibu cepat lelah. 4. Anemia pada saat post partum anemia dapat menyebabkan a. Atonia uteri b. Retensio placenta c. Pelukaan sukar sembuh d. Mudah terjadi febris puerpuralis e. Gangguan involusio uteri. 5. Penanganan Penanganan anemia defisiensi zat besi yaitu, dengan memenuhi kebutuhan zat besi. Keperluan zat besi untuk wanita hamil, tidak hamil dan dalam laktasi yang dianjurkan adalah dengan pemberian tablet besi. a. Terapi Oral adalah dengan memberikan preparat besi yaitu fero sulfat, fero glukonat atau Na-fero bisirat. Pemberian preparat 60 mg/hari dapat menaikan kadar Hb sebanyak 1 gr%/ bulan. Saat ini program nasional menganjurkan kombinasi 60 mg besi dan 50 nanogram asam folat untuk profilaksis anemia. b. Terapi Parenteral baru diperlukan apabila penderita tidak tahan akan zat besi per oral, dan adanya gangguan penyerapan, penyakit saluran pencernaan atau masa
  • 38.
    Modul Pendidikan JarakJauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan 33 kehamilannya tua Pemberian preparat parenteral yaitu dengan ferum dextran sebanyak 100 mg (20 ml) intravena atau 2 x 10 ml/im pada gluteus, dapat meningkatkan Hb relative lebih cepat yaitu 2 g%. pemberian parenteral ini mempunyai indikasi: intoleransi besi pada traktus gastrointestinal, anemia yang berat, dan kepatuhan yang buruk. Efek saping utama ialah reaksi alergi, untuk mengetahuinyadapat diberikan dosis 0,5 cc/im dan bila tak ada reaksi dapat diberikan seluruh dosis. 3. Pendidikan Kesehatan a. Memberikan pendidikan kesehatan pada ibu merupakan salah satu tugas bidan. Mengajarkan ibu bagaimana menkonsumsi vitamin berupa zat besi sangat penting. Zat besi punya peran penting bagi tubuh kita. salah satu fungsi utamanya adalah transportasi utama dalam mendistribusikan oksigen ke seluruh tubuh. Selain itu zat besi berperan dalam produksi hemoglobin dan menyokong sistem kekebalan tubuh. Ajarkan ibu-ibu hamil untuk meminun zat besi secara benar, diantaranya adalah sebagai berikut: b. Minumlah tablet besi di antara waktu makan atau 30 menit sebelum makan. Atau untuk menghindari rasa mual yang diakibatkan oleh tablet besi, dapat diminum sebelum tidur. c. Hindari mengkonsumsi kalsium bersama zat besi (susu, antasida, termasuk tablet kalsium) d. Minumlah vitamin C (jus jeruk, tambahan vitamin C) e. Mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung Fe. Besi dalam makanan ada 2 jenis, yaitu besi hem dan non hem. Besi hem, terdapat di dalam daging hewan, dapat diserap 2 kali lipat daripada besi non hem. Besi non hem terdapat di dalam telur, serealia, kacang-kacangan, sayuran hijau dan beberapa jenis buah-buahan. f. Masaklah makanan dengan jumlah air minimal supaya waktu masak sesingkat mungkin. g. Makanlah daging, unggas, dan ikan-zat besi yang terkandung dalam bahan makanan ini lebih mudah diserap dan digunakan dibanding zat besi dalam bahan makanan lain. h. Nah, setelah saudara membaca uraian materi diatas, kini kita melangkah ke tahap berikutnya yaitu praktik asuhan pada ibu hamil dengan anemia. Pelajari dengan seksama kemudian praktikkan pada saat praktik di lapangan.
  • 39.
    Modul Pendidikan JarakJauh Pendidikan Tinggi Kesehatan 34 PENUNTUN BELAJAR ASUHAN PADA IBU HAMIL DENGAN ANEMIA Nilailah setiap kinerja yang diamati menggunakan skala sbb : 1 Bila asuhan dilakukan 0 Bila asuhan tidak dilakukan SKILL ASPEK YANG DINILAI kasus 1 2 3 4 5 6 A. Lakukan pengkajian data subjektif 1 Tanyakan Biodata: • Nama • Umur • Pekerjaan • Pekerjaan suami 2 • Apa keluhan yang dirasakan ibu (Apakah ibu mengeluh pusing, lemah,lesu) 3 Tanyakan Riwayat kehamilan sekarang: • Hari pertama haid terakhir • Siklus haid • Gerakan janin • Masalah selama hamil ini • BB sebelum hamil • Riwayat periksa hamil • Obat/jamu yang dikonsumsi ibu selama hamil • Kebiasaan merokok/minum alkohol: tidak ada 4 Tanyakan Riwayat obstetri: • Gravida, paritas, riwayat abortus • Riwayat kehamilan, persalinan, nifas yang lalu • Riwayat penyulit saat kehamilan peralinan dan nifas
  • 40.
    Modul Pendidikan JarakJauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan 35 • Riwayat KB 5 • Riwayat penyakit infeksi: TB, malaria, infeksi cacing, anemia. • Riwayat penyakit DM, jantung dan ginjal: tidak ada • Riwayat penyakit infeksi dalam keluarga serumah: tidak ada yangmenderita penyakit. 6 • Pola makan dan minum Ibu • Aktivitas sehari-hari/ pekerjaan • Istirahat dan tidur • Bagaimana respon ibu dan keluarga terhadap kehamilan • Bagaimana dukungan keluarga B. Lakukan pengkajian data objektif 1 Identifikasi status gizi • Berat badan: • Tinggi badan: 2 Identifikasi kondisi kardiovaskuler/ tsaudara anemia berat • Tekanan darah • Frekuensi nadi • Frekuensi nafas • Suhu 3 Identifikasi tsaudara anemia • Rambut • Muka • Konjungtiva • Mulut, bibir • Ekstremitas atas dan bawah 4 Identifikasi pertumbuhan dan kondisi janin • Palpasi abdomen: TFU, Presentasi dan posisi janin • Dengarkan DJJ 5 Lakukan pemeriksaan Penunjang: hemoglobin darah C. Tentukan diagnosis D. Penatalaksanaan Sekarang kita melangkah ke daftar tilik berikutnya yaitu pemeriksaan Hemoglobin dengan Metode Sahli. Pelajari dengan seksama!
  • 41.
    Modul Pendidikan JarakJauh Pendidikan Tinggi Kesehatan 36 DAFTAR TILIK PEMERIKSAAN HEMOGLOBIN METODE SAHLI Nilailah setiap kinerja yang diamati menggunakan skala sbb : 1 Bila asuhan dilakukan 0 Bila asuhan tidak dilakukan LANGKAH/TUGAS KASUS Persiapan Alat 1. Stsaudarar hemoglobin 1 set 2. HCl 0,1 % 3. Aquades 4. Lanset steril 5. Lancing device 6. Pipet 7. Tissu 8. Kapas DTT dalam wadah DTT 9. Bengkok 10. Wadah berisi larutan klorin 0,5% 11. Sarung tangan 1 pasang Pelaksanaan 1. Isilah tabung sahli dengan ditetesi HCl 0.1% sampai batas angka 2 pada tb scula 2. Tusuk ujung jari dengan lanset steril, bersihkan darah yang pertama keluar dengan kapas/tisu kering, tekan dengan jari supaya darah yang keluar tidak sampai jatuh/terbuang. 3. Gunakan pipet untuk menghisap darah sampai darah mencapai garis warna biru pada tabung atau angka 20 mm, kemudian
  • 42.
    Modul Pendidikan JarakJauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan 37 usaplah ujung pipet dengan tisue kering untuk menghindari sisa darah di luar pipet. 4. Masukkan pipet ke dalam tabung alí kemudian keluarkan darah sambil menarik pipet keluar 5. Aduk HCl dengan darah sampai benar-benar tercampur dan diamkan selama 3-5 menit supaya hematin dalam darah berubah menjadi asam hematin. 6. Masukkan aguades tetes demi tetes ke dalam tabung sahli, aduk kembali setelah ditetesi sampai warnanya sama dengan warna estándar 7. Lihat terdapat pada angka berapa permukaan darah, angka itulah yang menunjukkan kadar Hb. (Dalam membaca hasil pemeriksaan, tepatnya adalah pada lengkungan di bagian tengah, bukan di bagian pinggir darah.
  • 43.
    Modul Pendidikan JarakJauh Pendidikan Tinggi Kesehatan 38 Anemia adalah kondisi dimana berkurangnya sel darah merah (eritrosit) dalam sirkulasi darah atau massa hemoglobin sehingga tidak mampu memenuhi fungsinya sebagai pembawa oksigen keseluruh tubuh. Diagnosa anemia dapat ditentukan melalui pengkajian data subjektif dan data objektif serta pemeriksaan laboratorium. Penanganan anemia defisiensi Fe yaitu, dengan memenuhi kebutuhan zat besi. Keperluan zat besi untuk wanita hamil, tidak hamil dan dalam laktasi yang dianjurkan adalah dengan pemberian tablet besi. Rangkuman
  • 44.
    Modul Pendidikan JarakJauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan 39 Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut dengan memilih salah satu alternatif jawaban yang Saudara anggap paling benar pada kertas tersendiri. 1. Seorang perempuan berusia 32 tahun G3P1A1 umur kehamilan 31 minggu datang ke BPM untuk memeriksakan kehamilannya dengan keluhan pusing, lemas dan sering mengantuk. Apakah kemungkinan yang dialami ibu tersebut? a. Impending Eklamsi b. Kurang istirahat c. Hipogilkemi d. Hipertensi e. Anemia 2. Seorang perempuan berusia 32 tahun G3P1A1 hamil 31 minggu datang ke BPM dengan keluhan pusing, lemas dan sering mengantuk. Hasil pemeriksaan: TTV dalam batas normal, konjungtiva pucat, TFU 29 cm, Kepala belum masuk PAP, DJJ 145 x/menit Apa pemeriksaan penunjang yang diperlukan pada kasus tersebut? a. Hemoglobin b. Protein urine c. Glukosa urin d. Darah lengkap e. Golongan darah 3. Seorang perempuan berusia 25 tahun datang ke BPM untuk melakukan kunjungan ulang. Sebelumnya, pasien telah diberikan terapi untuk anemia. Saat ini usia kehamilan 37 minggu, bidan berencana untuk melakukan evaluasi penilaian Hb pada pasien ini. Berapa kadar minimal Hb normal pada usia kehamilan tersebut? Evaluasi Formatif
  • 45.
    Modul Pendidikan JarakJauh Pendidikan Tinggi Kesehatan 40 a. 10 gr/dl b. 10.5 gr/dl c. 11 gr/dl d. 11.5 gr/dl e. 12 gr/dl 4. Seorang perempuan berusia 25 tahun datang ke BPM untuk konsultasi. Ibu berencana hamil. Hasil pemeriksaan dalam batas normal. Bidan memberikan tablet Fe dan asam folat sebagai persiapan kehamilan. Berapakah dosis zat besi yang diperlukan pada kasus tersebut? a. 50 mg b. 55 mg c. 60 mg d. 65 mg e. 70 mg 5. Seorang perempuan berusia 25 tahun datang ke BPM untuk konsultasi. Ibu berencana hamil. Hasil pemeriksaan dalam batas normal. Bidan memberikan tablet Fe dan asam folat dan konseling cara meminumnya. Apakah yang dapat menghambat penyerapan obat tersebut? a. Susu b. Jus jeruk c. Buah-buahan d. Kacang-kacangan e. Sayuran berwarna hijau 6. Seorang perempuan berusia 25 tahun datang ke BPM untuk konsultasi. Ibu berencana hamil. Hasil pemeriksaan dalam batas normal. Bidan memberikan tablet Fe dan asam folat dan konseling cara meminumnya. Apakah efek samping obat tersebut?
  • 46.
    Modul Pendidikan JarakJauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan 41 a. Mual b. Diare c. Pusing d. palpitasi e. Gatal-gatal 7. Pertumbuhan janin terhambat (PJT) merupakan salah satu komplikasi anemia pada kehamilan. Apakah penyebab kondisi tersebut? a. Kurangnya aktivitas ibu b. Kurangnya oksigen dan nutrisi dari ibu c. Kurangnya aliran darah dari ibu ke janin d. Kurangnya volume plasma darah dari ibu e. Kurangnya lancarnya peredaran darah ibu 8. Seorang perempuan berusia 32 tahun G3P1A1 hamil 34 minggu datang ke BPM dengan keluhan pusing dan lemas. Hasil pemeriksaan: TTV dalam batas normal, konjungtiva pucat, TFU 29 cm, Kepala belum masuk PAP, DJJ 145 x/menit, Hb 7 g/dl Apakah tindakan bidan pada kasus tersebut? a. Berikan tablet fe 3x1 tablet b. Berikan Fe dan vitamin B12 c. Berikan Fe dan asam folat d. Berikan fe intravena e. Merujuk ke RS 9. Seorang perempuan berusia 25 tahun G2P1A0 hamil 7 bulan datang ke BPM untuk periksa. Hasil pemeriksaan fisik dalam batas normal. Pemeriksaan Hb: 10 g/dl Bidan memberikan tablet Fe dan asam folat dan konseling cara meminumnya. Apakah yang dapat meningkatnya penyerapan obat tersebut? a. Air teh b. Kopi
  • 47.
    Modul Pendidikan JarakJauh Pendidikan Tinggi Kesehatan 42 c. Susu d. Keju e. jeruk 10. Seorang perempuan berusia 32 tahun G3P1A1 telah diperiksa Hb saat usia kehamilan 12 minggu hasilnya normal. Kapankah Pemeriksaan hemoglobin ulang pada kasus tersebut? a. 16-18 mg b. 20-24 mg c. 24-26 mg d. 28-32 mg e. 36-40 mg
  • 48.
    Modul Pendidikan JarakJauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan 43 Tugas Mandiri Lakukan asuhan pada ibu hamil dengan anemia secara mandiri (penilaian dengan menggunakan daftar tilik oleh pembimbing PK III) 1. Buatlah reflective practice sesuai dengan kasus yang saudara temukan 2. Buatlah dokumentasi asuhan kebidanan sesuai kasus yang saudara temukaN
  • 49.
    Modul Pendidikan JarakJauh Pendidikan Tinggi Kesehatan 44 Linda. 2010. Manajemen Kebidanan. Jakarta: EGC Manuaba, I.B.G. 2001. Kapita Selekta Penatalaksanaan Rutin Obstetri Ginekologi dan Keluarga Berencana. Jakarta: EGC Manuaba, I.B.G.1998. Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana. Jakarta: EGC Mochtar, R. 1998 . Sinopsis Obstetri. Edisi 2. Jakarta: EGC Notobroto. 2003. Insiden Anemia. http://adln.lib.unair.ac.id. diperoleh 23 April, 2012. Prawirohardjo, Sarwono. 2010. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Bina Pustaka Saifudin, A.B. 2002. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta: YBP-SP Tarwoto.2007.Buku Saku pada Ibu Hamil.Jakarta:Trans Info Media Winkyosastro, H. 2002. Ilmu Kebidanan. Jakarta: YBP-SP GLOSSARIUM Antenatal Masa kehamilan DJJ Denyut Jantung Janin Hb Haemoglobin ITP Idiopathic Thrombocytopenic Purpura Daftar Pustaka
  • 50.
    Modul Pendidikan JarakJauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan 45 Setelah menyelesaikan kegiatan belajar ini, Saudara diharapkan mampu untuk melakukan asuhan kebidanan pada perdarahan kehamilan lanjut Secara khusus saudara diharapkan dapat: 1. Melakukan penilaian secara sistematis dan lengkap, 2. Melakukan penegakan diagnosis, 3. Mengklasifikasikan jenis perdarahan, 4. Mengantisipasi diagnosis potensial dari perdarahan pada kehamilan lanjut, 5. Membuat rencana asuhan pada perdarahan kehamilan lanjut, 6. Melaksanakan asuhan dan melakuan evaluasi asuhan pada kehamilan dengan perdarahan hamil lanjut. Pokok materi yang akan dibahas pada kegiatan belajar kali ini adalah: 1. Pengertian perdarahan kehamilan lanjut 2. Diagnosis perdarahan kehamilan lanjut 3. Penanganan perdarahan kehamilan lanjut Kegiatan Belajar 3 Asuhan Kebidanan pada Perdarahan Kehamilan Lanjut Tujuan Pembelajaran Umum Tujuan Pembelajaran Khusus Pokok - Pokok Materi
  • 51.
    Modul Pendidikan JarakJauh Pendidikan Tinggi Kesehatan 46 Masih ingatkan saudara pengertian perdarahan antepartum? Coba saudara tuliskan pada kotak di bawah ini: Sekarang coba anda cocokkan dengan uraian materi berikut ini : Uraian Materi
  • 52.
    Modul Pendidikan JarakJauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan 47 A. Perdarahan antepartum 1. Pengertian Perdarahan pada kehamilan lanjut disebut juga perdarahan antepartum. Perdarahan antepartum biasanya dibatasi pada perdarahan jalan lahir setelah kehamilan 22 minggu. Perdarahan setelah kehamilan 22 minggu biasanya lebih banyak dan lebih berbahaya daripada sebelum kehamilan 22 minggu. Oleh karena itu, rekan – rekan mahasiswa, sebagai bidan perlu dapat mendeteksi dini dan memberikan penanganan yang tepat. Perdarahan antepartum, yang bersumber pada kelainan plasenta, yang secara klinis tidak terlampau sukar menentukan diagnosanya, ialah 1) plasenta previa dan 2) Solusio plasenta. Plasenta Previa adalah plasenta yang implantasinya tidak normal yaitu rendah sekali sehingga menutupi seluruh atau sebagian jalan lahir (ostium internum). Solusio plasenta merupakan terlepasnya plasenta yang letaknya normal pada korpus uteri yang terlepas dari perlekatannya sebelum janin lahir. 2. Diagnosa Dalam menentukan diagnosa perdarahan kehamilan lanjut, dapat dilihat berdasarkan gejala –gejala di bawah ini : Gejala dan tanda umum Penyulit Lain Diagnosa • Perdarahan tanpa nyeri, usia gestasi >22 minggu. • Darah segar atau kehitam dengan kebekuan. • Perdarahan dapat terjadi setelah miksi, defekasi, aktivitas fisik, dan coitus. • Bagian terendah janin, tidak dapat masuk pintu atas panggul. • Syok • Tidak ada kontraksi uterus. • Kondisi janin normal atau gawat janin. Plasenta  Previa.
  • 53.
    Modul Pendidikan JarakJauh Pendidikan Tinggi Kesehatan 48 • Perdarahan dengan nyeri intermitten atau menetap. • Warna darah kehitaman dan cair; mungkin ada bekuan bila solusio relatif  baru. • Jika ostium terbuka, terjadi perdarahan warna merah segar. • ·Syok tidak sesuai jumlah darah yang keluar (tipe tersembunyi ). • ·Anemia berat. Solusio Placenta • Perdarahan terjadi Intra abdominal atau vaginal. • Nyeri hebat sebelum perdarahan dan syok yang kemudian hilang setelah terjadi regangan hebat pada perut bawah (kondisi tidak khas ) • Uji pembekuan darah, tidak menunjukan adanya pmbekuan darah setelah tujuh menit • Gerak janin lemah atau hilang. • Gawat janin. • Uterus tegang dan nyeri. Sekarang saudara sudah mengetahui tanda dan gejala placenta previa dan solusio placenta. Selanjutnya kita membahas penanganannya. 3. Penanganan Penanganan perdarahan antepartum diberikan berdasarkan sumber perdarahan tersebut, yaitu: a. Plasenta Previa Penanganan awal Tidak dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan dalam pada perdarahan antepartum sebelum tersedia persiapan untuk Seksio Sesarea. Pemeriksaan inspekulo secara hati-hati, dapat menentukan sumber perdarahan berasal dari kanalis servikalis atau sumber lain (servisitis, polip, keganasan, laserasi atau trauma). Meskipun demikian, adanya kelainan di atas tidak menyingkirkan diagnosis plasenta previa. • Perbaiki kekurangan cairan/darah dengan memberikan cairan infus IV (NaCl 0,9% atau Ringer Laktat). • Lakukan penilaian jumlah darah. • Jika perdarahan banyak dan berlangsung, persiapkan seksio sesarea tanpa
  • 54.
    Modul Pendidikan JarakJauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan 49 memperhitungkan usia kehamilan/prematuritas. • Jikaperdarahansedikitdanberhenti,danfetushiduptetapipremature,pertimbangkan terapi ekspektatif sampai persalinan atau terjadi perdarahan banyak. b. Persiapan Rujukan Dengan prinsip “BAKSOKUDO” • Bidan, siap untuk mengantar ibu hingga tempat rujukan • Alat, partus set, oksigenasi, alat-alat TTV, dopton, dll • Keluarga, siap untuk menemani ibu dan memberikan dukungan • Surat, surat rujukan harus dibuat sesuai dengan persyaratan rujukan • Obat, oksitosin • Kendaraan, untuk mencapai tempat tujuan • Uang, mempersiapkan perkiraan biaya • Donor, mempersiapkan donor darah bila terjadi kegawatdaruratan B. Solusio Plasenta Sekarang kita lanjut pada pembahasan berikutnya yaitu solusio plasenta. Dibawah ini adalah tabel tentang klasifikasi, gejala dan penanganan solusio plasenta. Dengan tabel ini akan memudahkan saudara untuk mempelajari perbedaan dari tiap klasifikasinya. Pelajari dengan seksama! KLASIFIKASI GEJALA PENANGANAN Ringan • Perdarahan kurang 100-200 cc, • Uterus tidak tegang, • Belum ada tanda renjatan, • Janin hidup, • Pelepasan plasenta kurang 1/6 bagian permukaan, • Kadar fibrinogen plasma lebih 120 mg%. Istirahat dan pemberian sedatif lalu tentukan apakah gejala semakin progresif atau akan berhenti. Bila proses berhenti secara berangsur, penderita dimobilisasi. Selama perawatan dilakukan pemeriksaan Hb, fibrinogen, hematokrit dan trombosit.
  • 55.
    Modul Pendidikan JarakJauh Pendidikan Tinggi Kesehatan 50 Sedang : Perdarahan lebih 200 cc, uterus tegang, terdapat tanda pre renjatan, gawat janin atau janin telah mati, pelepasan plasenta 1/4-2/3 bagian permukaan, kadar fibrinogen plasma 120- 150 mg%. Penanganan pada klasifikasi sedang dan berat bertujuan untuk mengatasi renjatan, memperbaiki anemia, menghentikan perdarahan dan mengosongkan uterus secepat mungkin. Bila diagnosa solusio plasenta secara klinis sudah dapat ditegakkan, berarti perdarahan yang terjadi minimal 1000 cc. Maka, penatalaksanaannya meliputi : • Pemberian transfusi darah (transfusi darah harus diberikan minimal 1000 cc) • Pemecahan ketuban (amniotomi) untuk mengurangi regangan dinding uterus • Pemberian infus oksitosin untuk mempercepat persalinan diberikan infus oksitosin 5 UI dalam 500 cc dekstrose 5 % • Jika perlu dilakukan seksio sesar. Seksio sesar dilakukan bila : 1. Persalinan tidak selesai atau diharapkan tidak selesai dalam 6 jam. 2. Perdarahan banyak 3. Pembukaan tidak ada atau kurang 4 cm. 4. Panggul sempit. 5. Letak lintang. 6. Pre eklampsia berat. 7. Pelvik score kurang 5 Berat Uterus tegang dan berkontraksi tetanik, terdapat tanda renjatan, janin mati, pelepasan plasenta bisa terjadi lebih 2/3 bagian atau keseluruhan.
  • 56.
    Modul Pendidikan JarakJauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan 51 Perdarahan pada kehamilan lanjut adalah perdarahan jalan lahir setelah kehamilan 22 minggu. Perdarahan antepartum, yang bersumber pada kelainan plasenta, yang secara klinis tidak terlampau sukar menentukan diagnosanya, ialah 1) plasenta previa dan 2) Solusio plasenta. Penegakan diagnose perdarahan pada kehamilan lanjut perlu melihat tanda gejalanya. Penangananan perdarahan pada kehamilan lanjut yang dilakukan oleh bidan merupakan penanganan awal serta melakukan rujukan untuk penganganan lanjut di fasilitas yang lebih lengkap. Rangkuman
  • 57.
    Modul Pendidikan JarakJauh Pendidikan Tinggi Kesehatan 52 Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut dengan memilih salah satu alternatif jawaban yang Saudara anggap paling benar pada kertas tersendiri. 1. Seorang perempuan berusia 35 tahun, G5P4A0 hamil 32 minggu datang ke BPM mengeluh perdarahan dari jalan lahir. Hasil pemeriksaan TTV dalam batas normal, TFU 30 cm, presentasi kepala belum masuk PAP,DJJ 145x/menit, his (-) Apakah pemeriksaan yang diperlukan pada kasus tersebut? a. Inspekulo b. Ultrasonografi c. Pemeriksaan CTG d. Pemeriksaan dalam e. Pemeriksaan darah lengkap 2. Seorang perempuan berusia 35 tahun, G5P4A0 hamil 32 minggu datang ke BPM mengeluh perdarahan dari jalan lahir, tidak ada mules. Hasil pemeriksaan TTV dalam batas normal, TFU 30 cm, presentasi kepala belum masuk PAP,DJJ 145x/menit, his (-), tampak perdarahan dari jalan lahir. Apakah kemungkinan diagnosis pada kasus tersebut? a. Ancaman robekan rahim b. Perdarahan bercak c. Solusio plasenta d. Placenta previa e. Ruptur uteri 3. Seorang perempuan berusia 35 tahun, G5P4A0 hamil 32 minggu datang ke BPM mengeluh perdarahan dari jalan lahir, tidak ada mules. Hasil pemeriksaan TTV dalam batas normal, TFU 30 cm, presentasi kepala belum masuk PAP,DJJ 145x/menit, his (-), tampak perdarahan Evaluasi Formatif
  • 58.
    Modul Pendidikan JarakJauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan 53 dari jalan lahir. Apakah diagnosis potensial pada kasus tersebut? a. Syok kardiogenik b. Syok hipovolemik c. Syok neurogenik d. Syok anafilaktik e. Syok septik 4. Seorang perempuan berusia 35 tahun, G5P4A0 hamil 36 minggu datang ke BPM mengeluh perdarahan dari jalan lahir, tidak ada mules. Hasil pemeriksaan TTV dalam batas normal, TFU 33 cm, presentasi kepala belum masuk PAP,DJJ 145x/menit, his (-), tampak perdarahan dari jalan lahir. Apakah tindakan pada kasus tersebut? a. Anjurkan ibu untuk kontrol 1 minggu kemudian b. Observasi tanda-tanda persalinan c. Kolaborasi dengan dokter d. Observasi perdarahan e. Merujuk ke RS 5. Salah satu faktor predisposisi plasenta previa adalah kehamilan kembar. Apakah penyebab pada kasus tersebut? a. Meningkatnya kebutuhan oksigen pada janin sehingga adanya pembesaran plasenta b. Permukaan plasenta yang luas dapat mengganggu segmen bawah rahim c. Terdapatnya jaringan parut yang mempunyai vaskularisasi rendah sehingga mencari tempat yang vaskularisasinya tinggi d. Hipoksia pada janin karena adanya permukaan plasenta yang luas untuk mengganti persediaan oksigen e. gangguan pertumbuhan janin
  • 59.
    Modul Pendidikan JarakJauh Pendidikan Tinggi Kesehatan 54 6. Seorang perempuan berusia 35 tahun, G5P4A0 hamil 36 minggu periksa hamil di RS di diagnosis plasenta letak rendah Apakah kemungkinan jenis persalinan pada kasus tersebut? a. Sectio sesarea b. Ekstraksi vakum c. Ekstraksi forceps d. Induksi persalinan e. Persalinan spontan 7. Seorang perempuan berusia 35 tahun, G5P4A0 hamil 36 minggu datang ke BPM mengeluh nyeri perut dan perdarahan dari jalan lahir. Hasil pemeriksaan TTV dalam batas normal, palpasi sulit,DJJ 180x/menit, perut keras, tampak perdarahan dari jalan lahir. Apakah kemungkinan diagnosis pada kasus tersebut? a. Ancaman robekan rahim b. Perdarahan bercak c. Solusio plasenta d. Placenta previa e. Ruptur uteri 8. Seorang perempuan berusia 35 tahun, G5P4A0 hamil 36 minggu datang ke BPM mengeluh nyeri perut dan perdarahan dari jalan lahir. Hasil pemeriksaan TTV dalam batas normal, palpasi sulit,DJJ 180x/menit, perut keras, tampak perdarahan dari jalan lahir. Apakah tindakan awal pada kasus tersebut? a. Berikan oksigen b. Berikan antibiotik c. Berikan analgetik d. Pasang tampon vagina e. Posisikan ibu trendelenberg
  • 60.
    Modul Pendidikan JarakJauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan 55 9. Seorang perempuan berusia 35 tahun, G5P4A0 hamil 36 minggu datang ke BPM mengeluh nyeri perut dan perdarahan dari jalan lahir. Hasil pemeriksaan TTV dalam batas normal, palpasi sulit,DJJ 180x/menit, perut keras, tampak perdarahan dari jalan lahir. Bidan merujuk ke RS. Apakah komplikasi terhadap janin pada kasus tersebut? a. Deformitas janin b. Oligohidramnion c. Polihidramnion d. IUGR e. IUFD 10. Seorang perempuan berusia 35 tahun, G5P4A0 hamil 36 minggu datang ke BPM mengeluh nyeri perut dan perdarahan dari jalan lahir. Hasil pemeriksaan TTV dalam batas normal, palpasi sulit,DJJ 180x/menit, perut keras, tampak perdarahan dari jalan lahir. Bidan merujuk ke RS. Apakah penyebab nyeri perut pada kasus tersebut? a. Perdarahan yang menyebabkan teregangnya uterus b. Kontraksi uterus yang berlebihan c. Kontraksi brakxton hicks d. Rupturnya uterus e. Palpasi sulit
  • 61.
    Modul Pendidikan JarakJauh Pendidikan Tinggi Kesehatan 56 Coba saudara praktikkan asuhan pada perdarahan kehamilan lanjut Lakukan beberapa kali dengan teman. Jika hasil assesment sudah dapat dinyatakan kompeten segera hubungi pembimbing atau tutor saudara untuk ujian praktik. Buatlah dokumentasi dengan pendekatan SOAP hasil asuhan yang telah saudara lakukan. Tugas Mandiri
  • 62.
    Modul Pendidikan JarakJauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan 57 Cuninngham. F.G. dkk. 2006. Obstetri Williams. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran. EGC Star, Winifred et al. 2001. Ambulatory ObstetricsThird Edition. UCSF Nursing Press School of Nursing University of California: San Fransisco Wiknjosastro Hanifa, 2006. Ilmu Kebidanan, EGC, Jakarta Prawirohardjo, S. Ilmu Kebidanan . Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.2005 Cooper Fraser. 2003. Myles Buku Ajar Bidan. EGC : Jakarta GLOSSARIUM Plasenta Previa plasenta yang implantasinya tidak normal yaitu rendah sekali sehingga menutupi seluruh atau sebagian jalan lahir (ostium internum) Solusio Plasenta terlepasnya plasenta yang letaknya normal pada korpus uteri yang terlepas dari perlekatannya sebelum janin lahir BAKSOKUDO Singkatan dari Bidan, Alat, Keluarga, Surat, Obat, Kendaraan, Uang dan Donor Amniotomi Pemecahan ketuban Daftar Pustaka
  • 63.
    Modul Pendidikan JarakJauh Pendidikan Tinggi Kesehatan 58 Setelah menyelesaikan kegiatan belajar ini, Anda diharapkan mampu untuk melakukan asuhan pada ibu hamil dengan Preeklamsi/Eklamsi Secara khusus anda diharapkan dapat: 1. Melakukan penilaian secara sistematis dan lengkap, 2. Melakukan penegakan diagnosis, 3. Mengklasifikasikan derajat preeklampsi/eklamsi, 4. Mengantisipasi diagnosis potensial dari Preeklamsi/Eklamsi, 5. Melakukan asuhan pada ibu hamil dengan Preeklamsi/Eklamsi Pokok materi yang akan dibahas pada kegiatan belajar kali ini adalah: 1. Pengertian 2. Diagnosis 3. Penanganan 4. Prosedur pemberian MgSO4 Kegiatan Belajar 4 Asuhan pada Ibu Hamil Dengan Preeklamsi/Eklamsi Tujuan Pembelajaran Umum Tujuan Pembelajaran Khusus Pokok - Pokok Materi
  • 64.
    Modul Pendidikan JarakJauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan 59 Sebelum memulai materi kegiatan belajar 4 kali ini yang akan membahas tentang asuhan pada ibu hamil dengan preeklamsi/eklamsi ada baiknya saudara tulis terlebih dahulu pengertian preeklamsi Sudah? Nah jika sudah anda samakan dengan pengertian berikut: Uraian Materi
  • 65.
    Modul Pendidikan JarakJauh Pendidikan Tinggi Kesehatan 60 A. DEFINISI Preeklampsi ialah penyakit dengan tanda – tanda hipertensi, edema, dan protein uria yang timbul karena kehamilan. Sedangkan Eklamsi merupakan kejang yang tidak disebabkan sebab lain pada wanita dengan preeklamsi Setelah saudara mengetahui pengertiannya mari kita bahas cara menegakkan diagnose preeklamsi/eklamsi B. Diagnosa Terdapat kesepakatan bahwa tekanan darah mutlak sebesar 140/90 mmHg adalah abnormal karena tekanan darah arteri istirahat yang normal lebih rendah pada orang hamil daripada orang yang tidak hamil. Hipertensi dalam kehamilan pertama kali diketahui selama kehamilan dan telah kembali normal dalam 12 minggu post partum. Dalam klasifikasi ini diagnosis akhir bahwa wanita yang bersangkutan tidak mengidap preeklamsia hanya dapat dibuat setelah post partum . Adapun teori lain yang diungkapkan oleh Saifuddin (2002. M-34 s.d M-35), bahwa tekanan darah diastolik merupakan indikator untuk prognosis pada penanganan hipertensi dalam kehamilan. Tekanan darah diastolik mengukur tahanan perifer dan tidak dipengaruhi oleh keadaan emosi pasien (seperti pada tekanan sistolik).Jika tekanan diastolik ≥ 90 mmHg pada dua pemeriksaan berjarak 4 jam atau lebih, diagnosisnya adalah hipertensi. Pada keadaan urgen, tekanan diastolik 110 mmHg dapat dipakai sebagai dasar diagnosis, dengan jarak pengukuran waktu +/-4 jam. Gambar : Mengukur tekanan darah
  • 66.
    Modul Pendidikan JarakJauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan 61 Terdapatnya protein urin mengubah diagnosis hipertensi dalam kehamilan menjadi preeklamsi. Beberapa keadaan lain yang dapat menyebabkan proteinuria adalah infeksi traktus urinaria, anemia berat, gagal jantung, partus lama, hematuria dan kontaminasi dengan darah dari vagina. Sekret vagina dan cairan ketuban dapat mengkontaminasi contoh urine. Dianjurkan menggunakan urine midstream untuk menghindari kontaminasi. Kateterisasi tidak dianjurkan karena beresiko infeksi traktus urinarus. Untuk memudahkan saudara dalam menegakkan diagnosa hipertensi pada kehamilan, maka dapat dilihat dalam tabel di bawah ini : Gejala dan tanda yang selalu ada Gejala dan tanda yang kadang-kadang ada Diagnosis kemungkinan • Tekanan diastolik ≥ 90 mmHg pada kehamilan ≥ 20 minggu Hipertensi kronik • Tekanan diastolik 90-110 mmHg • Proteinuria + + Hipertensi kronik dengan superimpossed preeklamsia ringan • Tekanan diastolik 90-110 mmHg (2 kali pengukuran dengan berjarak 4 jam) pada kehamilan ≥20 minggu atau 48 jam setelah kehamilan • Proteinuria – (negatif) Hiperrtensi dalam kehami Tekanan diastolik 90-110 mmHg (2 kali pengukuran dengan berjarak 4 jam) pada kehamilan ≥20 minggu Proteinuria sampai + + Preeklamsia ringan
  • 67.
    Modul Pendidikan JarakJauh Pendidikan Tinggi Kesehatan 62 Tekanan diastolik 90-110 mmHg pada kehamilan ≥20 minggu Proteinuria ≥ + + + Hiperrefleksia Nyeri kepala (tidak hilang dengan analgetik biasa) Penglihatan kabur Oliguria (<400 ml / 24 jam) Nyeri abdomen atas (epigastrium) Edema paru Preeklamsia berat Kejang Tekanan diastolik ≥ 90 mmHg pada kehamilan >20 minggu Proteinuria ≥ + + Koma Sama seperti preeklamsia berat Eklamsi Selanjutnya kita bahas bagaimana penanganan berdasarkan preeklamsi/eklamsi. Pelajari dengan seksama bagan berikut ini. C. Penanganan Klasifikasi Penanganan Preeklamsi Ringan • Ibu dianjurkan banyak istirahat (berbaring/ tidur miring) • Konseling pengaturan asupan nutrisi: cukup protein, rendah karbohidrat, lemak dan garam. • Kolaborasi dengan dokter untuk pemeriksaan kehamilan pada ibu dengan preeklampsi ringan Preeklamsi Berat Bila terdapat kasus tersebut di pelayanan primer, maka persiapkan rujukan dan lakukan penanganan awal. Penanganan awal preeklampsi berat yaitu: • Infuse larutan ringer laktat • Pemberian MgSO4 Cara pemberian MgSO4 • Pemberian melalui intravena secara kontinyu (dengan menggunakan infusion pump): • Dosis awal 4 gram (20 cc MgSO4 20 %) dilarutkan ke dalam 100 cc ringer laktat, diberikan selama 15 – 20 menit. • Dosis pemeliharaan 10 gram (50 cc MgSO4 20 %) dalam 500 cc cairan RL, diberikan dengan kecepatan 1 – 2 gram/ jam (20 – 30 tetes per menit)
  • 68.
    Modul Pendidikan JarakJauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan 63 Syarat – syarat pemberian MgSO • Harus tersedia antidotum MgSO4 yaitu kalsium glukonas 10 % (1 gram dalam 10 cc) diberikan i.v. dalam waktu 3 – 5 menit • Refleks patella (+) kuat • Frekuensi pernafasan > 16 kali per menit • Produksi urin > 30 cc dalam 1 jam sebelumnya (0,5 cc/kg BB/jam) MgSO4 dihentikan bila : • Ada tanda – tanda intosikasi • Setelah 24 jam pasca salin • Dalam 6 jam pasca salin sudah terjadi perbaikan tekanan darah (normotensif) • Diuretikum tidak diberikan kecuali bila ada: • Edem paru • Payah jantung kongestif • Edem anasarka Antihipertensi diberikan bila: Tekanan darah • Sistolik > 180 mmHg • Diastolic > 110 mmHg Obat – obatan antihipertensi yang diberikan : • Obat pilihan adalah hidralazin, yang diberikan 5 mg i.v. pelan – pelan selama 5 menit. • Dosis dapat diulang dalam waktu 15 – 20 menit sampai tercapai tekanan darah yang diinginkan. Apabila hidralizin tidak tersedia, dapat diberikan : • Nifedipin : 10 mg, dan dapat diulangi setiap 30 menit (maksimal 120mg/24 jam) sampai terjadi penurunan tekanan darah. • Labelatol 10 mg i.v. apabila belum terjadi penurunan tekanan darah, maka dapat diulangi pemberian 20 mg setelah 10 menit, 40 mg pada 10 menit berikutnya, diulangi 40 mg pada 10 menit kemudian, dan sampai 80 mg pada 10 menit berikutnya. Bila tidak tersedia, maka dapat diberikan : • klonidin 1 ampul dilarutkan dalam 10 cc larutan garam faal atau air untuk suntikan. • Disuntikan mula – mula 5 cc i.v. perlahan – lahan selama 5 menit. Kemudian diikuti dengan pemberian secara tetes sebanyak 7 ampul dalam 500 cc dextrose 5 % atau martos 10 • Jumlah tetesan ditirasi untuk mencapai target tekanan darah yang diinginkan, yaitu penurunan Mean Arterial Pressure (MAP) sebanyak 20 % dari awal.
  • 69.
    Modul Pendidikan JarakJauh Pendidikan Tinggi Kesehatan 64 • Pemeriksaan tekanan darah dilakukan setiap 10 menit sampaitercapaitekanandarahyangdiinginkan,kemudian setiap jam sampai dengan darah stabil. Kardiotonika • Indikasi pemberian kardiotonika ialah, bila ada : tanda– tanda payah jantung. Jenis kardiotonika yang diberikan : Cedilanid – D Perawatan diberikan bersama dengan Sub Bagian Penyakit Jantung. Lain – lain • Obat – obatan antipiretik Diberikan bila suhu rectal di atas 38,5 0C Dapat dibantu dengan pemberian kompres dingin atau alkohol • Antibiotika Diberikan atas indikasi • Antinyeri Bila pasien gelisah karena kontraindikasi rahim dapat diberikan petidin HCl 50 – 75 mg sekali saja. Eklamsi Tujuan utama penanganan eklamsi menghentikan berulangnya serangan kejang dan mengakhiri kehamilan secepatnya dengan cara yang aman setelah keadaan ibu stabil. Penanganan yang dilakukan : • Beri obat anti konvulsan • Perlengkapan untuk penanganan kejang (spatula, oksigen) • Lindungi pasien dari kemungkinan trauma • Aspirasi mulut dan tenggorokan • Baringkan pasien pada sisi kiri • Posisi trendelenburg untuk mengurangi risiko aspirasi • Beri oksigen 4 – 6 liter/menit
  • 70.
    Modul Pendidikan JarakJauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan 65 Baiklah, sekarang saudara telah mengingat kembali asuhan kehamilan dengan preeklamsi/ eklamsi. Untuk menangani ibu hamil yang mengalami kondisi demikian bidan harus merujuknya ke Rumah Sakit tentunya dengan melakukan penangan awal terlebih dahulu salah satunya adalah memberikan pemberian MgSO4 . Berikut ini adalah penuntun belajar pemberian MgSO4 . Bacalah dengan seksama! PENUNTUN BELAJAR PEMBERIAN MgSO4 Nilailah setiap kinerja yang diamati menggunakan skala sebagai berikut : 1 Bila asuhan dilakukan 0 Bila asuhan tidak dilakukan SKILL ASPEK YANG DINILAI MAHASISWA 1 2 3 4 5 6 1 Memberikan penjelasan tentang tujuan tindakan yang akan dilakukan pada klien dan atau keluarga. 2 Memberikan penjelasan tentang prosedur tindakan yang akan dilakukan pada klien dan atau keluarga. 3 Menjelaskan kemungkinan efek samping pemberian magnesium sulfat 4 Meminta persetujuan tindakan pada pasien atau keluarga 5 Memeriksa syarat pemberian MgSO4 , yaitu: • Harus tersedia antidotum kalsium glukonas 10% (1 gram dalam 10 cc) • Refleks patella + kuat • Frekuensi napas ≥ 16x/menit • Produksi urin > 100 cc dalam 4 jam sebelumnya atau > 30 ml/jam • Tidak ada hematuria 6 Mempersiapkan alat-alat dan obat secara ergonomis • Preparat MgSO4 20% (5 gram dalam 25 ml) dan 40% (10 gram dalam 25ml) @2 buah, • Kalsium glukonas 10 % (1 gram dalam 10 ml)
  • 71.
    Modul Pendidikan JarakJauh Pendidikan Tinggi Kesehatan 66 • Spuit 10 dan 20 cc @ 2 buah • Infus set 1 buah • Cairan infus RL 2 kolf • Abocath no 16 atau 18 1 buah • Handschoon 1 pasang • Plester 1 buah • Gunting plester 1 buah • Kapas DTT dalam tempatnya • Bengkok 1 buah • Perlak dan alasnya 1 buah • Jam tangan 1 buah • Waskom berisi larutan klorin 0,5% • Wadah sampah tajam 1 buah • Wadah sampah basah 1 buah • Wadah sampah kering 1 buah 7 Mencuci tangan 8 Melakukan pemasangan infus sesuai prosedur * 9 Memasang douwer kateter sesuai prosedur* 10 Memberikan dosis awal (Loading Dose): • Pilihan I Berikan MgSO4 20% 4 gr (20 cc) diberikan secara IV selama 5 menit atau MgSO4 40% 4 gr (10 cc) secara IV selama 15 menit. • Pilihan II 4 gram (20 cc MgSO4 20 %) dilarutkan ke dalam 100 cc ringer laktat, diberikan selama 15 – 20 menit. 11 Memberikan dosis pemeliharaan (Maintenance Dose) (dilakukan di rumah sakit, tetapi dalam persiapan merujuk kasus dosis ini dapat diterapkan): • 10 gram (50 cc MgSO4 20 %) dalam 500 cc cairan RL, diberikan dengan kecepatan 1 – 2 gram/jam (20 – 30 tetes per menit) • Maksimal dalam 24 jam cairan infus yang masuk sebanyak 4 kolf (2000 cc) dan MgSO4 24 gr .
  • 72.
    Modul Pendidikan JarakJauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan 67 12 Memantau keadaan ibu setiap 15-30 menit • Tekanan darah • Nadi • Pernapasan • Reflek patella • Volume urin Jika terdapat tanda intoksikasi MgSO4 berikan Kalsium glukonas 10 % = 1 gram (10% dalam 10 ml) secara IV selama 3 menit 13 Memantau kondisi janin (DJJ) setiap 15-30 menit 14 Mencuci tangan sesuai prosedur 15 Mendokumentasikan hasil tindakan dalam catatan pasien NILAI TOTAL = Jumlah skor x 100% = .................. Skor total(45)
  • 73.
    Modul Pendidikan JarakJauh Pendidikan Tinggi Kesehatan 68 Hipertensi dalam kehamilan merupakan kelainan kardiovaskular berupa kenaikan tekanan darah tinggi sebesar 140/90 mmHg atau lebih yang diketahui pertama kali selama kehamilan dan kembali normal dalam 12 minggu post partum. Penegakan diagnose dapat melalui pemeriksaan fisik dan pemeriksaan laboratorium. Penanganganan hipertensi dalam kehamilan diberikan berdasarkan diagnose pasien, terdiri dari penanganan konservatif dan penanganan aktif. Pemberian MgSO4 pada preeklampsi/ eklampsi terbagi menjadi pemberian loading dose dan maintenance dose, dan perlu memenuhi syarat pemberian MgSO4. Rangkuman
  • 74.
    Modul Pendidikan JarakJauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan 69 Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut dengan memilih salah satu alternatif jawaban yang Saudara anggap paling benar pada kertas tersendiri. 1. Seorang perempuan berusia 19 tahun G1P0A0 hamil 32 minggu, datang ke RS mengeluh pusing yang sangat hebat. Ibu tidak mempunyai riwayat hipertensi. Hasil pemeriksaan TD: 170/110 mmHg, DJJ 145x/menit reguler, his tidak ada, reflek patela (+) dan protein urine +3 Apakah kemungkinan diagnosis pada kasus tersebut? a. Superimposed preeklampsia b. Hipertensi gestasional c. Preeklampsia ringan d. Preeklampsia berat e. Eklamsi 2. Seorang perempuan berusia 19 tahun G1P0A0 hamil 32 minggu, datang ke RS mengeluh pusing yang sangat hebat. Ibu tidak mempunyai riwayat hipertensi. Hasil pemeriksaan TD: 170/110 mmHg, DJJ 145x/menit reguler, his tidak ada, reflek patela (+) dan protein urine +3 Apakah diagnosis potensial pada kasus tersebut? a. Pertumbuhan janin terhambat b. Deformitas janin c. Olihidramnion d. Janin mati e. Abortus 3. Seorang perempuan berusia 19 tahun G1P0A0 hamil 32 minggu, datang ke RS mengeluh pusing yang sangat hebat. Ibu tidak mempunyai riwayat hipertensi. Hasil pemeriksaan TD: 170/110 mmHg, DJJ 145x/menit reguler, his tidak ada, reflek patela (+) dan protein urine +3 Apakah tindakan awal pada kasus tersebut? Evaluasi Formatif
  • 75.
    Modul Pendidikan JarakJauh Pendidikan Tinggi Kesehatan 70 a. Beri MgSO4 20 % 4 gr IV b. Beri MgSO4 40 % 4 gr IV c. Beri MgSO4 40 % 2 gr IV d. Beri MgSO4 20 % 2 gr IV e. Beri MgSO4 20 % 5 gr IV 4. Seorang perempuan berusia 19 tahun G1P0A0 hamil 32 minggu, datang ke RS mengeluh pusing yang sangat hebat. Ibu tidak mempunyai riwayat hipertensi. Hasil pemeriksaan TD: 170/110 mmHg, DJJ 145x/menit reguler, his tidak ada, reflek patela (+) dan protein urine +3 Apakah penyebab keluhan pada kasus tersebut? a. Spasme kortek serebri b. Kerusakan glomerolus c. Kerusakan endotel d. Edema pulmonal e. Proteinuria 5. Seorang perempuan berusia 19 tahun G1P0A0 gravida 32 minggu, mendapat perawatan di RS dengan diagnosis PEB dan telah mendapatkan terapi MgSO4 selama lebih kurang 16 jam. Hasil observasi : frekuensi nafas 12 x/menit, TD 90/70 mmHg, DJJ 100x/menit, reflek patela (-), urin 80 cc / 4 jam terakhir. Apakah kemungkinan diagnosis pada kasus tersebut? a. Intoksikasi MgSO4 b. Syok kardiogenik c. Hellp syndrom d. Perdarahan e. Eklampsia 6. Seorang perempuan berusia 19 tahun G1P0A0 gravida 32 minggu, mendapat perawatan di RS dengan diagnosis PEB dan telah mendapatkan terapi MgSO4 selama lebih kurang 16 jam. Hasil observasi : frekuensi nafas 12 x/menit, TD 90/70 mmHg, DJJ 100x/menit, reflek patela (-), urin 80 cc / 4 jam terakhir Apakah tindakan awal pada kasus tersebut?
  • 76.
    Modul Pendidikan JarakJauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan 71 a. Beri kalsium glukonas 2 gram (15 %) IM b. Beri kalsium glukonas 1 gram (10%) IV c. Beri natrium glukonas 1 gram (10%) IV d. Beri kalsium glukonas 2 gram (10%) IM e. Beri natrium klorida 1 gram (10%) IV 7. Seorang perempuan berusia 19 tahun G1P0A0 hamil 32 minggu, datang ke RS mengeluh pusing yang sangat hebat. Ibu tidak mempunyai riwayat hipertensi. Hasil pemeriksaan TD: 170/110 mmHg, DJJ 145x/menit reguler, his tidak ada, protein urine +3. Bidan memberikan MgSO4. Apakah syarat pemberian obat tersebut? a. Protien urine (+) b. Refleks patela (+) c. Volume urine 30 ml /24 jam d. Frekuensi nafas < 20 x/menit e. Tekanan darah sistol > 140 mmHg 8. Seorang perempuan berusia 19 tahun G1P0A0 hamil 32 minggu, datang ke RS dengan kejang eklamsi. Apakah tindakan awal yang dilakukan bidan? a. Berikan infus RL b. Berikan Oksigen c. Beri antikonvulsan d. Posisikan ibu setengah duduk e. Aspirasi mulut dan tenggorokan 9. Seorang perempuan berusia 19 tahun G1P0A0 hamil 32 minggu, datang ke RS mengeluh pusing yang sangat hebat. Ibu tidak mempunyai riwayat hipertensi. Hasil pemeriksaan TD: 170/110 mmHg, DJJ 145x/menit reguler, his tidak ada, reflek patela (+) dan protein urine (-) Apakah kemungkinan diagnosis pada kasus tersebut? a. Superimposed preeklampsia b. Hipertensi gestasional
  • 77.
    Modul Pendidikan JarakJauh Pendidikan Tinggi Kesehatan 72 c. Preeklampsia ringan d. Preeklampsia berat e. Eklamsi 10. Seorang perempuan berusia 19 tahun G1P0A0 hamil 32 minggu, datang ke RS mengeluh pusing yang sangat hebat. Ibu mempunyai riwayat hipertensi. Hasil pemeriksaan TD: 170/110 mmHg, DJJ 145x/menit reguler, his tidak ada, reflek patela (+) dan protein urine +3 Apakah kemungkinan diagnosis pada kasus tersebut? a. Superimposed preeklampsia b. Hipertensi gestasional c. Preeklampsia ringan d. Preeklampsia berat e. Eklamsi
  • 78.
    Modul Pendidikan JarakJauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan 73 Coba anda praktikkan asuhan pada ibu hamil dengan Preeklamsi/Eklamsi dengan menggunakan daftar tilik diatas. Buatlah dokumentasi dengan pendekatan SOAP hasil asuhan yang telah anda lakukan. Tugas Mandiri
  • 79.
    Modul Pendidikan JarakJauh Pendidikan Tinggi Kesehatan 74 Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. 2002 Cunningham F G., et al. 2010. Williams Obstetrics 23rd Ed. McGraw-Hill, Medical Publishing Division Cunningham. F.G, et al, Obstetri Williams, ed.18, EGC, Jakarta,1995 Goodwin, T. Murphy, et al. 2010. Management of Common Problems in Obstetrics and Gynecology. Blackwell Publishing Ltd Jordan, Sue. 2004. Farmakologi Kebidanan. EGC, Jakarta Prawirohardjo, S. 2009. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Saifudin A B., 2010. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta :Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. T.W. Kusuma. 2009. Manajemen Risiko Dalam Pelayanan Pasien Preeklampsia Berat/Eklampsia Di Instalasi Gawat Darurat Rsupncm. www.isjd.pdii.lipi.go.id. 19.36 GLOSSARIUM Preeklamsia Penyakit dengan tanda – tanda hipertensi, edema, dan protein uria yang timbul karena kehamilan Hematuria Setiap kondisi di mana urin mengandung darah atau sel-sel darah merah. urine midstream Urine pancaran tengah (midstream), di mana aliran pertama urin dibuang dan aliran urine selanjutnya ditampung dalam wadah yang telah disediakan. Maintenance Dose Dosis pemeliharaan Daftar Pustaka
  • 80.
    Modul Pendidikan JarakJauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan 75 Setelah menyelesaikan kegiatan belajar ini, Anda diharapkan mampu untuk melakukan asuhan pada ibu hamil dengan infeksi malaria Secara khusus anda diharapkan dapat: 1. Melakukan penilaian secara sistematis dan lengkap, 2. Melakukan penegakan diagnosis, 3. Mengantisipasi diagnosis potensial dari kehamian dengan infeksi malaria, 4. Melakukan asuhan pada ibu hamil dengan infeksi malaria Pokok materi yang akan dibahas pada kegiatan belajar kali ini adalah: 1. Pengertian 2. Diagnosis 3. Pengaruh malaria selama kehamilan 4. Penanganan Kegiatan Belajar 5 Asuhan pada Ibu Hamil Dengan Infeksi Malaria Tujuan Pembelajaran Umum Tujuan Pembelajaran Khusus Pokok - Pokok Materi
  • 81.
    Modul Pendidikan JarakJauh Pendidikan Tinggi Kesehatan 76 Sampai saat ini malaria masih mejadi salah satu masalah bagi kesehatan masyarakat di negara-negara seluruh dunia, baik didaerah tropis maupun sub tropis, terutama. Dinegara berkembang termasuk Indonesia. Malaria menyerang individu tanpa membedakan umur dan jenis kelamin, tidak terkecuali wanita hamil merupakan golongan yang rentan terhadap malaria. Di daerah endemi malaria wanita hamil lebih mudah terinfeksi parasit malaria dibandingkan wanita tidak hamil. Baiklah, sebelum anda mulai melakukan asuhan pada ibu hamil dengan infeksi malaria mari kita tinjau kembali kajian teori , hal ini akan mengingatkan anda apa saja yang harus dipahami bidan saat memberikan asuhan pada kehamilan dengan infeksi malaria. Uraian Materi Gambar : Nyamuk Pembawa VIrus Malaria
  • 82.
    Modul Pendidikan JarakJauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan 77 Apa yang Anda ketahui tentang penyakit malaria? Tuliskan jawaban Anda pada kotak berikut. Sekarang cocokkan jawaban Anda dengan uraian berikut ini: A. MALARIA 1. Pengertian Penyakit malaria disebabkan oleh parasit protozoa dari Genus plasmodium. Empat spesies yang ditemukan pada manusia adalah Plasmodium Vivax, P. ovale, P. malariae dan P. Falciparum. Malaria pada kehamilan dapat disebabkan oleh keempat spesies plasmodium, tetapi plasmodium Falciparum merupakan parasit yang dominan dan mempunyai dampak paling berat terhadap morbiditas dam mortalitas ibu dan janinnya.
  • 83.
    Modul Pendidikan JarakJauh Pendidikan Tinggi Kesehatan 78 2. Gejala Coba saudara tuliskan gejala- gejala awal malaria pada kotak berikut ini: Sekarang anda bandingkan jawaban Anda dengan uraian materi berikut ini: Gejala awal yang sering – demam, sakit kepala, mual dan muntah biasanya muncul 10 sampai 15 hari setelah terinfeksi. Bila tidak mendapatkan pengobatan yang tepat, malaria dapat menyebabkan keseriusan dan sering berakhir dengan kematian. 3. Risiko Sebagian besar kasus dan kematian terjadi di sub sahara Afrika. Selain itu, Asia, Amerika Latin, Timur Tengah dan sebagian wilayah Eropa juga terinfeksi. Tahun 2006, malaria menyerang 109 negara dan kepulauan. a. Resiko khusus • Orang dengan sedikit atau tanpa kekebalan tubuh yang pindah dari wilayah bebas malaria menuju wilayah dengan tingkat penyakit malaria tinggi rentan terhadap penyakit tersebut. • Wanita hamil tanpa kekebalan sangat beresiko terhadap malaria. Kesakitannya dapat berakibat pada tingginya tingkat kelahiran premature dan menyebabkan 10%
  • 84.
    Modul Pendidikan JarakJauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan 79 kematian ibu maternal (meningkat 50% pada kasus penyakit parah) setiap tahun. • Wanita hamil dengan kekebalan tubuh kurang akan beresiko terhadap anemia dan pertumbuhan janin yang tidak sempurna, walaupun mereka tidak menampakkan tanda-tanda penyakit akut. Tiap tahun diperkirakan 200.000 bayi meninggal akibat malaria selama kehamilan. • Wanita hamil yang menderita HIV juga memiliki resiko tinggi 4. Gejala klinis Pada ibu hamil dengan malaria, gejala klinis yang penting diperhatikan ialah: 1. Demam Demam merupakan gejala akut malaria yang lebih sering dilaporkan pada ibu hamil dengan kekebalan rendah atau tanpa kekebalan, terutama pada Primigravida. Pada ibu hamil yang multigravida dari daerah endemisitas tinggi jarang timbul gejala malaria termasuk demam, meskipun terdapat parasitemia yang tinggi. 2. Anemia Anemia pada malaria terjadi karena lisis sel darah merah yang mengandung parasit. Hubungan antara anemia dan splenomegali dilaporkan oleh Brabin (1990) yang melakukan penelitian pada wanita hamil di Papua Neu Geuinea, dan menyatakan bahwa makin besar ukuran limpa makin rendah nilai Hb-nya 3.Hipoglikemia Sel darah merah yang terinfeksi parasit malaria memerlukan glukosa 75 kali lebih banyak daripada sel darah merah yang tidak terinfeksi, sehingga pada penderita dengan hiperparasitemia dapat terjadi hipoglikemia. Gejala hipoglikemia dapat berupa gangguan kesadaran sampai koma. Bila sebelumnya penderita sudah dalam keadaan koma karena ‘ malaria serebral’, maka komanya akan lebih dalam lagi. Penderita ini bila diinjeksikan glukosa atau diinfus dengan dekstrosa maka kesadarannya akan pulih kembali, tetapi karena ada hiperinsulinemia, keadaan hipoglikemia dapat kambuh dalam beberapa hari
  • 85.
    Modul Pendidikan JarakJauh Pendidikan Tinggi Kesehatan 80 4. Edema paru akut Biasanya kelainan ini terjadi setelah persalinan bagaimana cara terjadinya edema paru ini masih belum jelas kemungkinan terjadi karena autotransfusi darah post-partum yang penuh dengan sel darah merah yang terinfeksi. Gejalanya, mula mula frekuensi pernafasan meningkat, kemudian terjadi dispenia (sesak nafas) dan penderita dapat meninggal dalam waktu beberapa jam 5.Malaria Berat Lainnya Gejala klinik dan tanda malaria berat antara lain hiperparasitemia (> 5% sdm terinfeksi), malaria otak, anemia berat (Hb < 7,1 g/ dl), hiperpereksia (suhu > 400 C), edema paru, gagal ginjal, hipoglikemia, syok. Gejala dan tanda-tanda malaria tersebut diatas perlu diperhatikan, karena kasus ini memerlukan penanganan khusus baik untuk keselamatan ibu maupun untuk kelangsungan hidup janinnya. B. PENGARUH MALARIA SELAMA KEHAMILAN Tentu saudara mengetahui pengaruh malaria terhadap ibu hamil. Pada ibu hamil selain berpengaruh pada ibu, malaria juga memiliki pengaruh yang tidak baik untuk janin. Nah, coba saudara tuliskan pengaruh malaria bagi ibu dan janin
  • 86.
    Modul Pendidikan JarakJauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan 81 Sekarang , coba bandingkan dengan uraian berikut: 1. PENGARUH MALARIA PADA IBU Malaria pada ibu hamil dapat menimbulkan berbagai kelainan, tergantung pada tingkat kekebalan seseorang terhadap infeksi parasit malaria dan paritas (jumlah kehamilan). Ibu hamil dari daerah endemi yang tidak mempunyai kekebalan dapat menderita malaria klinis berat sampai menyebabkan kematian. Di daerah endemisitas tinggi, malaria berat dan kematian ibu hamil jarang dilaporkan. Gejala klinis malaria dan densitas para sitemia dipengaruhi paritas, sehingga akan lebih berat pada primigravida (kehamilan pertama) dari pada multigravida (kehamilan selanjutnya). 2. PENGARUH MALARIA PADA JANIN a. Malaria Plasenta. Plasenta juga berfungsi sebagai “Barrier” (penghalang) terhadap bakteri, parasit dan virus. Karena itu ibu terinfeksi parasit malaria, maka parasit akan mengikuti peredaran darah sehingga akan ditemukan pada plasenta bagian maternal. Bila terjadi kerusakan pada plasenta, barulah parasit malaria dapat menembus plasenta dan masuk ke sirkulasi darah janin, sehingga terjadi malaria kongenital. Abortus, kematian janin, bayi lahir mati dan prematuritas dilaporkan terjadi pada malaria berat dan apa yang menyebabkan terjadinya kelainan tersebut diatas masih belum diketahui. Malaria maternal dapat menyebabkan kematian janin, karena terganggunya transfer makanan secara transplasental, demam yang tinggi (hiper-pireksia) atau hipoksia karena anemia. b. Penanganan • Kemoprofilaksis Strategi kontrol malaria saat ini untuk kehamilan masih merupakan pemberian kemoprofilaksis anti malaria yang rutin yaitu klorokuin pada setiap wanita hamil dalam daerah endemi malaria. Beberapa penelitian menunjukan bahwa kemoprofilaksis dapat mengurangi anemia pada ibu dan menambah berat badan lahir terutama pada kelahiran pertama.
  • 87.
    Modul Pendidikan JarakJauh Pendidikan Tinggi Kesehatan 82 Resiko malaria dan konsekwensi bahayanya tidak meningkat selama kehamilan kedua pada wanita yang menerima kemoprofilaksis selama kehamilan pertama. Rata-rata bayi yang dilahirkan pada kehamilan pertama bagi ibu yang menerima kemoprofilaksis lebih tinggi daripada berat bayi yang ibunya tidak menerima kemoprofilaksis. Kelahiran mati dan setelah mati lahir lebih kurang pada bayi dan ibu-ibu yang menerima kemoprofilaksis dibandingkan dengan bayi dari ibu-ibu yang tidak mendapat kemoprofilaksis. • Kemoterapi Kemoterapi tergantung pada diagnosis dini dan pengobatan klinis segera. Kecuali pada wanita yang tidak kebal, efektifitas kemoterapi pada wanita hamil tampak kurang rapi karena pada wanita imun infeksi dapat berlangsung tanpa gejala. Pada wanita dengan kekebalan rendah, walaupun dilakukan diagnosis dini dan pengobatan segera ternyata belum dapat mencegah perkembanagan anemia pada ibu dan juga berkurangnya berat badan lahir bayi. • Mengurangi Kontak dengan Vektor Mengurangi kontak dengan vektor seperti insektisida, pemakaian kelambu yang dicelup dengan insektisida mengurangi prevalensi parasitemia, khususnya densitas tinggi, insidens klinis dan mortalitas malaria. Pada wanita hamil di Thailand dilaporkan bahwa pemakaian kelambu efektif dalam mengurangi anemia maternal dan parasitemia densitas tinggi, tetapi tidak efektif dalam meningkatkan berat badan lahir rendah. • Vaksinasi Target vaksin malaria antara lain mengidentifikasi antigen protektif pada ketiga permukaan stadium parasit malaria yang terdiri dari sporozoit, merozoit, dan gametosit. Kemungkinan penggunaan vaksin yang efektif selama kehamilan baru muncul dan perlu pertimbangan yang kompleks. Tiga hal yang perlu dipertimbangkan dalam penggunaan vaksin untuk mencegah malaria selama kehamilan, yaitu :
  • 88.
    Modul Pendidikan JarakJauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan 83 a. Tingkat imunitas sebelum kehamilan b. Tahap siklus hidup parasit c. Waktu pemberian vaksin15. Sampai saat ini belum ditemukan vaksin yang aman dan efektif untuk penanggulangan malaria
  • 89.
    Modul Pendidikan JarakJauh Pendidikan Tinggi Kesehatan 84 Rangkuman 1. Malaria adalah penyakit parasit yang resikonya lebih tinggi pada ibu hamil dibandingkan dengan mereka yang tidak hamil, terutama selama kehamilan pertama yang dapat menyebabkan infeksi plasenta, abortus, meninggal dalam kandungan, anemia dan berat badan lahir rendah. 2. Diagnosa dapat ditegakkan berdasarkan gejala yang dialami ibu, diantaranya demam, anemia, hipoglikemi, edema paru akut, dan malaria berat. 3. Pengaruh utama malaria selama kehamilan adalah terutama pada ibu dan janinnya. Pada ibu dengan infeksi plasmodium falciparum dapat terjadi komplikasi berat seperti demam, anemia, hipoglikemia, malaria otak, edema paru mrupakan yang utama mempengaruhi wanita-wanita dengan kekebalan rendah. Pada malaria plasenta dapat menyebabkan kematian janin, abortus, hiperpireksia, prematuritas dan berat badan lebih rendah. 4. Penanganan malaria selama kehamilan dapat dilakukan secara kemoprofilaksis, kemoterapi, mengurangi kontak dengan vektor dan vaksinasi.
  • 90.
    Modul Pendidikan JarakJauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan 85 Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut dengan memilih salah satu alternatif jawaban yang Saudara anggap paling benar pada kertas tersendiri. 1. Penyakit malaria dalam kehamilan merupakan penyakit infeksi yang berbahaya. Penyakit ini dapat menimbulkan berbagai kelainan. Apakah yang mempengaruhi terjadinya kelainan tersebut? a. Tingkat infeksi parasit malaria b. Hiperglikemia c. Paritas d. Muntah e. Edema 2. Kontrol malaria saat kehamilan sangat diperlukan terutama di daerah endemi malaria. Apakah obat antimalaria terpilih pada kasus tersebut? a. Halofantrin b. Doksisiklin c. Tetrasiklin d. Primakuin e. Klorokuin 3. Salah satu upaya pencegahan malaria pada ibu hamil adalah dengan mengurangi kontak dengan vektor. Apakah upaya yang dilakukan utnuk pencegahan kasus tersebut? a. Memakai kelambu b. Pemberian tablet besi c. Pemberian asam folat d. Imunisasi TT lengkap e. Pemberian obat anti malaria Evaluasi Formatif
  • 91.
    Modul Pendidikan JarakJauh Pendidikan Tinggi Kesehatan 86 4. Seorang perempuan berusia 20 tahun G1P0A0 hamil 16 minggu dengan malaria. Sebelumnya ibu tidak pernah menderita malaria Bagaimana pemberian obat anti malaria pada kasus tersebut? a. Diberi sulfadoksin-pirimetamin (SP) dari pertama datang/setelah sakit sampai masa nifas b. Diberi Klorokuin 2 tablet/minggu dari pertama datang/setelah sakit sampai masa nifas c. Diberi sulfadoksin-pirimetamin (SP) pada trimester II dan III awal d. Diberi Klorokuin 2 tablet/minggu pada trimester II dan III awal e. Diberi sulfadoksin) pada trimester II dan III awal 5. Seorang perempuan berusia 20 tahun G1P0A0 hamil 16 minggu datang ke puskesmas dengan keluhan demam, lesu kadang-kadang muntah. Hasil pemeriksaan disimpulkan ibu mengalami malaria. Parasitemia < 5 %. Apakah tindakan pada kasus tersebut? a. Ibu di rujuk ke RS b. Ibu harus bed rest total c. Ibu dirawat di Puskesmas d. Dilakukan pemasangan infus e. Ibu pulang dengan diberikan obat anti malaria 6. Seorang perempuan berusia 20 tahun G1P0A0 hamil 20 minggu datang ke puskesmas dengan keluhan demam, lesu kadang-kadang muntah. Hasil pemeriksaan disimpulkan ibu mengalami malaria. Parasitemia < 5 %. Hb 11 gr/dl. Bidan harus melakukan antisipasi untuk mencegah terjadinya anemia Apakah tindakan bidan pada kasuss tersebut? a. Pemberian tablet Fe 120 mg/hari dan vitamin B 12 b. Pemberian tablet Fe 60 mg/hari dan asam folat 1 mg/hari c. Pemberian tablet Fe 120 mg/hari dan asam folat 1 mg/hari d. Pemberian tablet Fe 60 mg/hari dan vitamin C 1 tablet/hari e. Pemberian tablet Fe 120 mg/hari dan kalsium 1 tablet/ hari 7. Seorang perempuan berusia 20 tahun G1P0A0 hamil 38 minggu datang ke puskesmas dengan keluhan demam, lesu kadang-kadang muntah. Hasil pemeriksaan disimpulkan ibu mengalami
  • 92.
    Modul Pendidikan JarakJauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan 87 malaria. Apakah diagnosis potensial pada kasus tersebut? a. Pertumbuhan janin terhambat b. Persalinan prematur c. Malaria kongenital d. Abortus e. BBLR 8. Seorang perempuan berusia 20 tahun G1P0A0 hamil 24 minggu datang ke puskesmas dengan keluhan demam, lesu kadang-kadang muntah. Hasil pemeriksaan disimpulkan ibu mengalami malaria. Apakah diagnosis potensial pada kasus tersebut? a. Pertumbuhan janin terhambat b. Persalinan prematur c. Malaria kongenital d. Abortus e. BBLR 9. Seorang perempuan berusia 20 tahun G1P0A0 melahirkan di puskesmas, ibu di diagnosis malaria dan anemia berat. Apakah kemungkinan komplikasi pada persalinan tersebut? a. Edema paru b. Atonia uteri c. Hipoglikemia d. Retensio plasenta e. Hepatosplenomegali 10. Seorang perempuan berusia 15 tahun menegeluh demam, lesu mual muntah datang ke puskesmas. Hasil pemeriksaan perempuan tersebut didiagnosis malaria berat Apakah data yang menunjang diagnosis tersebut? a. Edema wajah b. Konjuctiva pucat c. Mulut dan bibir kering d. Tonus otot abdomen lemah e. Pembesaran limpa (splenomegali)
  • 93.
    Modul Pendidikan JarakJauh Pendidikan Tinggi Kesehatan 88 1. Coba anda praktikkan asuhan pada ibu hamil dengan infeksi malaria 2. Buatlah dokumentasi dengan pendekatan SOAP hasil asuhan yang telah anda lakukan. Tugas Mandiri
  • 94.
    Modul Pendidikan JarakJauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan 89 Brabin B. J ; Brabin L. R ; sapau J. & Alpers W.P. A Longitudinal study of splenomegali in pregnancy in malaria endemic area in Papua New Guinea. Departemen kesehatan republik indonesia. Malaria. Epidemiologi I. Direktorat Jendral PPM & PLP. Mc. Gregor I. A. Epidemiology, Malaria and Pregnancy. Am. J. Trop. Med. Hyg. (1984). 33 (4) 517-525. Pribadi W. dan S. Sungkar. Malaria. Balai Penerbit. Fakultas Kedoketran UI. Jakarta. Sutanto. I. Malaria Pada Kehamilan. Bagian Parasitologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta. Theresia. Beberapa aspek Malaria pada plasenta. Makalah Seminar Biomedik. Tjitra E. Malaria pada kehamilan. Cermin Dunia kedokteran. 1991. (68) : 48-52. Tjitra E. Manifestasi Klinis dan Pengobatan Malaria. P3M. BPPK Depkes RI, jakarta. Cermin Dunia Kedokteran No. 94. 1994. WHO. The Clinical Management of Acute Malaria. WHO Regional Publication, South East Asia Series No. 9. 3rd Asia, New Delhi. WHO.Weekly Epidemiological Record. GLOSSARIUM Malaria Penyakit malaria disebabkan oleh parasit protozoa dari Genus plasmodium Barrier Penghalang Kemoterapi Penggunaan obat atau hormon untuk mengatasi kanker. Vektor Organisme yang menyebarkan agen infeksi (patogen) dari inang ke inang. Contoh vektor adalah lalat, nyamuk, tungau, kutu, tikus, sapi, babi, kucing dan anjing. Daftar Pustaka
  • 95.
    Modul Pendidikan JarakJauh Pendidikan Tinggi Kesehatan 90 Setelah menyelesaikan kegiatan belajar ini, Anda diharapkan mampu untuk melakukan asuhan pada ibu hamil dengan HIV/AIDS Secara khusus anda diharapkan dapat: 1. Melakukan penilaian secara sistematis dan lengkap, 2. Melakukan penegakan diagnosis, 3. Mengklasifikasikan derajat HIV/AIDS, 4. Mengantisipasi diagnosis potensial dari kehamian dengan HIV/AIDS, 5. Melakukan asuhan pada ibu hamil dengan HIV/AIDS Pokok materi yang akan dibahas pada kegiatan belajar kali ini adalah: 1. Pengertian 2. Klasifikasi perkembangan penyakit 3. Faktor Yang Meningkatkan Risiko Penularan HIV Dari Ibu Ke Bayinya 4. Pencegahan penyakit 5. Diagnosis 6. Penanganan Kegiatan Belajar 6 Asuhan pada Ibu Hamil Dengan HIV/AIDS Tujuan Pembelajaran Umum Tujuan Pembelajaran Khusus Pokok - Pokok Materi
  • 96.
    Modul Pendidikan JarakJauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan 91 Baiklah, sebelum anda mulai melakukan asuhan pada ibu hamil dengan HIV/AIDS mari kita tinjau kembali kajian teori, hal ini akan mengingatkan anda apa saja yang harus dipahami bidan saat memberikan asuhan pada kehamilan dengan HIV/AIDS. Apa yang Anda ketahui tentang HIV/AIDS? Tuliskan jawaban Anda pada kotak berkut. Uraian Materi
  • 97.
    Modul Pendidikan JarakJauh Pendidikan Tinggi Kesehatan 92 Sekarang cocokkan jawaban Anda dengan uraian berikut ini: A. HIV/AIDS 1. Pengertian HIV/AIDS yaitu kondisi hilangnya kekebalan tubuh sehingga memberi kesempatan berkembangnya berbagai bentuk infeksi dan keganasan. Dengan hilangnya semua kekebalan tubuh manusia terhadap AIDS, tubuh seolah-olah menjadi tempat pembenihan bakteri, jamur, protozoa, serta terjadi degenerasi ganas. 2. Klasifikasi Perkembangan Penyakit • Fase pertama , seseorang mulai terinfeksi HIV, ciri-ciri seseorang terinfeksi HIV belum terlihat meskipun melakukan tes darah. Karena dalam fase ini antibodi terhadap HIV belum terbentuk. Saat ini orang yang terinfeksi HIV dapat menulari orang lain, masa ini dikenal dengan Window Period biasanya diantara 1-6 bulan. • Fase kedua adalah fase setelah dihasilkannya antibody HIV. Selama fase ini yang diperkirakan 10-15 tahun, banyak orang tidak mengalami gejala klinis, tetapi dapat menularkan kepada orang lain, fase ini dikenal dengan fase asymptomatyk. • Fase ketiga adalah masa gejala awal penyakit. selama fase ini orang-orang dinyatakan secara klinis sakit, yang mungkin terpengaruh oleh infeksi seperti oral candidiasis. • Fase keempat dikenal sebagai gejala stadium akhir (AIDS). Biasanya terlihat sejumlah infeksi oportunistik yaitu dengan berkurangnya kekebalan tubuh. • Selama fase kelima, dilakukan pengobatan terhadap infeksi oportunistik yang hasilnya cukup baik. • Fase keenam adalah fase terakhir . yang paling sering menyebabkan kematian adalah pneumonia. Pasien menjadi buta, inkontinentia, kurang gizi dan bisa terjadi demensia. MTCT dari penyakit HIV merupakan penyebab utama infeksi HIV pada anak di bawah umur 15 tahun. Sejak mulainya pandemic HIV, di estimasikan sekitar 5.1 juta anak sedunia telah terinfeksi dan hampir semuanya melalui MTCT. HIV dapat ditularkan dari seorang ibu yang terinfeksi selama kehamilan, persalinan atau melalui proses menyusui.
  • 98.
    Modul Pendidikan JarakJauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan 93 Tabel 1. Waktu dan Risiko Penularan HIV dari Ibu ke Bayinya Waktu Risiko (%) Selama Kehamilan 5 - 10% Ketika Persalinan 10 - 20% Penularan Melalui ASI 10 - 15% Keseluruhan Risiko Penularan 25 – 45 % Sumber: De Cock KM, Fowler MG, Mercier E, et al. Jama 2000 B. Faktor Yang Meningkatkan Risiko Penularan HIV Dari Ibu Ke Bayinya MASA KEHAMILAN • Ibu baru terinfeksi HIV • Ibu memiliki infeksi virus, bakteri, parasit (seperti malaria) • Ibu memiliki infeksi Menular Seksual (IMS) • Ibu menderita kekurangan gizi (akibat tak langsung) Apabila seorang ibu hamil baru terinfeksi virus HIV dalam kurun waktu 3 - 6 mg (infeski primer) maka kadar viral load akan cepat sekali bertambah maksimal sampai dengan 10 juta kopi/ml dan berkurang setelah beberapa minggu. Untuk resiko penularan virus HIV ke bayi kadar viral load biasanya lebih dari 100.000 kopi/ml. Kadar HIV rendah bisa ditandai dengan tingginya kadar CD4 di tubuh ODHA. Apabila kadar CD4 kurang dari 350 maka kemungkinan terjadi penularan HIV ke ibu semakin besar sedangkan apabila kadar CD4 lebih dari 500 maka risiko peneularannya lebih kecil. Jika ibu hamil mengalami kurang energi kalori (KEK) selama kehamilan maka risiko terinfeksi berbagai penyakit infeksi lebih tinggi Gambar : lambang AIDS sedunia
  • 99.
    Modul Pendidikan JarakJauh Pendidikan Tinggi Kesehatan 94 sedangkan kondisi tubuh yang terinfeksi dapat meningkatkan kadar virus HIV contohnya Infeksi Menular Seksual. Malaria dapat menyebabkan kerusakan pada plasenta sehingga meningkatkan penularan dari ibu ka bayinya. Penyakit sifilis dapat menginfeksi bayi sejak dalam kandungan sehingga meningkatkan risiko penularan HIV dari ibu ke bayinya. C. Manfaat Dari Pemeriksaan Antenatal Terhadap Penurunan Risiko Penularan HIV Dari Ibu Ke Bayinya 1. Terdeteksinya ibu hamil dengan risiko HIV/AIDS Hal ini dapat dilakukan melalui anamnesa riwayat kesehatan ibu dan keluarganya serta riwayat sosial ibu (pekerjaan dan lingkungan tempat tinggal) 2. Pemantauan kondisi ibu dan janin selama masa kehamilan Hal ini berhubungan dengan kemungkinan munculnya penyakit maupun infeksi yang berkaitan erat dengan tanda dan gejala ODHA. Apabila ibu sudah diketahui HIV + , maka pemantauan pada masa kehamilan termasuk pendampingan ibu hamil untuk tetap mengkonsumsi obat ARV. 3. Mempersiapkanibudenganinformasi-informasiyangdibutuhkansehubungan dengan nutrisi kehamilan, tanda dan gejala IMS, perencanaan persalinan, persiapan laktasi dan perujukan untuk VCT ke TIM tenaga Kesehatan yang berwenang. Nutrisi dalam kehamilan bertujuan untuk menjaga kondisi kesehatan ibu baik yang telah terinfeksi HIV maupun dengan status HIV yang belum diketahui agar risiko PMTCT lebih berkurang. Deteksi dini IMS bermanfaat untuk mempercepat pengobatan yang diberikan sehingga infeksi tidak menular ke bayinya. Perencanaan persalinan dalam hal ini disesuaikan dengan kadar CD4 ibu pada saat menjelang persalinan harus diinformasikan agar pengambilan keputusan pada saat persalinan lebih cepat. Untuk informasi persiapan laktasi diberikan sejak masa kehamilan agar ibu hamil dapat melakukan semua upaya pencegahan PMTCT sejak awal lahirnya bayi. Banyak perempuan dengan HIV + terdiagnosa pertama kali pada saat kontak pertama
  • 100.
    Modul Pendidikan JarakJauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan 95 pemeriksaan kehamilan, untuk itu, pelayanan conseling dan testing HIV sangatlah penting untuk keberlanjutan terapi, asuhan dan dukungan untuk bayi baru lahir, keluarga dan ibu sendiri. Manfaat dari VCT pada Antenatal Care adalah: • Pengetahuan tentang hasil negatif dapat mendorong perilaku seks aman • Perempuan yang terdiagnosa dengan HIV dapat mendorong pasangannya untuk diperiksa dan dikonsultasi juga. • Dengan mengetahui status HIV mereka memungkinkan kaum perempuan dan pasangannya untuk membuat pilihan sehubungan dengan praktik menyusui dan kehamilan selanjutnya. • Seorang perempuan dan keluarganya yang mengetahui bahwa dia terinfeksi HIV dapat di motivasi untuk mengikuti asuhan berkelanjutan baik untuk dirinya dan bayinya kelak, termasuk kemudahan akses terhadap pelayanan kesehatan yang lainnya. • Mudahnya akses dan ketersediaan pelayanan VCT dalam asuhan ANC dapat membantu “menormalkan” presepsi negatif tentang HIV. • Pengetahuan tentang status HIV dapat memungkinkan perempuan untuk mengakses kelompok pemberi support kaum ODHA. • Penatalaksanaan pengobatan penyakit menular seksual akan lebih dini. Sudah jelas bukan uraian materi yang disampaikan pada materi ini. Sekarang saudara pelajari penuntun belajar asuhan antenatal pada ibu dengan HIV/AIDS berikut ini: PENUNTUN BELAJAR ASUHAN ANTENATAL DENGAN HIV/AIDS Nilailah setiap kinerja yang diamati menggunakan skala sebagai berikut : 1 Bila asuhan dilakukan 0 Bila asuhan tidak dilakukan SKILL LANGKAH KEGIATAN KASUS 1 2 3 1 Anamnesa Riwayat Ibu: riwayat kesehatan, riwayat obstetri dan riwayat psikososial, penggunaan obat, kondisi alergi dan penggunaan obat tradisional
  • 101.
    Modul Pendidikan JarakJauh Pendidikan Tinggi Kesehatan 96 2 Pemeriksaan Fisik dan Tanda-tanda Vital: pemeriksaan head to toe dengan penambahan tanda dan gejala AIDS, anemia, malaria, TB Paru, dan IMS dll 3 Pemeriksaan abdomen dan panggul: pemeriksaan inspekulo dan pemeriksaan bimanual (apabila memungkinkan), lihat tanda IMS (Perhatikan prinsip PI) 4 Rujukan untuk pemeriksaan laboratorium lengkap untuk bidan pemeriksaan Hb dapat dilakukan dengan tetap memperhatikan prinsip PI 5 Pemberin immunisasi TT: berikan sesuai dengan standar pemberian immunisasi TT (Perhatikan prinsip PI) 6 Pemeriksaan Status Nutrisi Ibu hamil dan Konseling: BMI, dan pemantauan Berat Badan Ibu hamil, memonitor kondisi anemia termasuk suplemen asam folat dan Fe, konseling konsumsi makanan yang bergizi seimbang yang disesuaikan dengan jenis dan kesediaan makanan setempat. 7 Pemeriksaan Risiko IMS: lihat tanda dan gejala IMS, penatalaksanaan sesuai kewenangan dan melakukan rujukan 8 Pemeriksaan infeksi Oportunistik 9 Pemeriksaan tanda dan gejala TB dan Malaria: Identifikasi semua wanita hamil dengan gejala batuk yang lebih dari 2 mg dan gejala malaria di daerah yang endemik (berikan penatalaksanaan dan rujukan sesuai dengan kewenangan bidan berkaitan dengan program TB dan Malaria) 10 Pemantauan konsumsi ARV (pada ibu yang mendapatkan terapi): koordinasi dengan tenaga kesehatan yang memberikan terapi
  • 102.
    Modul Pendidikan JarakJauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan 97 11 Pendidikan Kesehatan tentang Pemberian nutrisi pada bayi: semua ibu hamil membutuhkan informasi dan dukungan untuk perencanaan makanan bayi. Khusus untuk ibu dengan status HIV yang diketahui + maupun yang belum diketahui statusnya. Konseling pemberian makan untuk bayi telah terbukti lebih effektif dari hanya sekedar pemberian saran untuk melakukan pemberian ASI ekslusif. Konseling yang baik dapat membantu perempuan dengan HIV + untuk memilih dan melakukan pemberian jenis makanan yang tepat untuk bayinya. Beberapa masalah yang terjadi pada payudara meningkatkan resiko transmisi HIV dan conseling yang efektif dapat mengurangi resiko tersebut. Penatalaksanaan Breast Care, penempatan posisi menyusui yang baik dan ASI on demmand. 12 Konseling tanda-tanda bahaya pada masa kehamilan: pastikan informasi yang diberikan sesuai dengan trimester kehamilan ibu hamil tersebut 13 Pendidikan kesehatan tentang tanda dan gejala HIV/AIDS: memberitahukan tanda dan gejala HIV/AIDS seperti infeksi oportunistik, diare kronis, kandidiasis, demam dan penurunan berat badan serta prosedur perujukannya. 14 Pasangan dan keluarga ibu hamil: dukungan moral dan semangat agar kondisi ibu tetap sehat. Perempuan dengan HIV memiliki kekahawatiran lebih mengenai kesehatannya, kesehatan anaknya, kerahasiahan statusnya. 15 Konseling KB: konseling penggunaan kondom selama masa kehamilan, sampai dengan masa postpartum dan masa menyusui untuk menghindari infeksi baru, infeksi ulang, kehamilan yang tidak diinginakan setelah bersalin dan penggunaan KB jangka lama. 16 Konseling Perencanaan persalinan *Kunjungan ulang antenatal care disesuaikan dengan kondisi trimester ibu, apakah T I, T II maupun, T III Supaya saudara lebih memahami penangan ibu hamil dengan HIV/AIDS berikut adalah alur terapinya :
  • 103.
    Modul Pendidikan JarakJauh Pendidikan Tinggi Kesehatan 98 ALUR TERAPI ARV DAN PILIHAN PERSALINAN UNTUK IBU HAMIL < 14 MINGGU DAN IBU HAMIL > 14 MINGGU Sumber : Kementrian kesehatan RI, 2011 ARV Penggunaan obat-obatan antiretroviral selama masa kehamilan dan persalinan telah terbukti efektif dalam mengurangi transmisi dari ibu ke bayinya. ARV ini dapat mengurangi resiko MTCT dengan mengurangi replikasi virus pada ibu dan melalui prophylaxsis pada bayi selama dan setelah terekspose dengan virus tersebut. Penelitian menunjukan pemberian zidovudin (AZT) pada ibu (dari usia kehamilan 14 mg) selama kehamilan, persalinan dan nifas, serta pemberian pada Bayi baru lahir mengurangi MTCT sampai dengan 67%. Di negara maju hal ini sudah diterapkan namun untuk negara- negara berkembang Karena kurangnya ketersediaan obat dan infrastruktur penunjang dapat diberikan dosis singkat pada usia kehamilan 36 mg s.d masa nifas. VIRAL LOAD SETELAH/SELAMA HAMIL < 14 Minggu TERAPI ARV VIRAL LOAD INDIKASI + SEGERA BERI ARV SC SPONTAN SC ≥ 1000 SPONTAN < 1000 SC < 14 Minggu INDIKASI - ARV TUNGGU/MULAI PADA MG 14 ADA TIDAK ADA
  • 104.
    Modul Pendidikan JarakJauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan 99 INFORMASI YANG DIBERIKAN PADA IBU HAMIL YANG MEMILIH UNTUK MELAKUKAN TERMINASI KEHAMILAN Di tempat dimana aborsi itu legal dan diterima, wanita dengan HIV + dapat menggunakan pelayanan ini. Namun, seringkali perempuan baru menyadari mereka terinfeksi HIV pada saat mereka sudah hamil dan sudah terlambat untuk dilakukan terminasi kehamilan. Apabila terminasi kehamilan merupakan pilihan, perempuan dan lebIh baik dengan pasangannya harus mendapatkan konsultasi untuk mengambil keputusan. Setelah proses terminasi kehamilan pasangan harus di konsultasi untuk menggunakan alat kontrasepsi untuk menghindari kehamilan apabila memang tidak diinginkan. Bidan dalam hal ini harus melakukan pemberian informasi yang memadai dan rujukan yang tepat waktu agar ibu hamil dan pasangannya mendapatkan pelayanan VCT dan pelayanan terminasi kehamilan dari Nakes yang berkompeten dan berwenang.
  • 105.
    Modul Pendidikan JarakJauh Pendidikan Tinggi Kesehatan 100 ALUR PENATALAKSANAAN ASUHAN ANTENATAL OLEH BIDAN BAGI IBU HAMIL DENGAN HIV + ATAU DENGAN STATUS HIV YANG TIDAK DIKETAHUI IBU HAMIL TEMPAT PRAKTIK BIDAN BPS/RB IBU HAMIL HIV (-) IBU HAMIL STATUS HIV (+) IBU HAMIL STATUS HIV TIDAK DIKETAHUI ASUHAN KEBIDANAN KOMPREHENSIF TRIMESTER I, II, III PENEKANAN PADA UPAYA PEMBERIAN INFORMASI UNTUK TETAP HIV (-) (INFORMASI KELOMPOK) ASUHAN KEBIDANAN KOMPREHENSIF TRIMESTER I, II, III ASUHAN KEBIDANAN KOMPREHENSIF TRIMESTER I, II, III + PERUJUKAN UNTUK VCT (APABILA HIV -/ + SESUAIKAN DENGAN JALUR ASUHAN MASING-MASING APABILA TIDAK DILAKUKAN VCT SAMAKAN TINDAKAN DENGAN IBU HAMIL HIV (+) SAMA DENGAN IBU HAMIL HIV (+) PENEKANAN PADA: • KEPATUHAN MENGKONSUMSI ARV • PENDIDIKN KESEHATAN MENGENAI NUTRISI • PENDIDIKAN KESEHATAN MENGENAI TANDA DAN GEJALA PENYAKIT OPORTUNISTIK HIV/AIDS DAN IMS • PERSIAPAN PERSALINAN DAN LAKTASI • DUKUNGAN PSIKOLOGIS IBU • PERUJUKAN APABILA ADA TINDAKAN DI LUAR KEWENANGAN BIDAN • INFORMASI KELOMPOK
  • 106.
    Modul Pendidikan JarakJauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan 101 1. HIV/AIDS yaitu kondisi hilangnya kekebalan tubuh sehingga memberi kesempatan berkembangnya berbagai bentuk infeksi dan keganasan. 2. Terdapat 5 fase perkembangan penyakit HIV/ AIDS, fase pertama merupakan fase awal terkenanya penyakit, sedangkan fase keenam merupakan fase paling akhir yang paling berbahaya dan dapat menyebabkan penderita mengalami kematian. 3. Pencegahan penularan HIV bisa melalui 3 cara yaitu penularan langsung melalui perlukaan kulit termasuk mempergunakan jarum suntikan, melalui hubungan seksual, dan penularan perinatal. 4. Penegakkan diagnose dapat melalui pemeriksaan subjektif (berdasarkan wawancara dengan pasien maupun keluarga) maupun pemeriksaan objektif (berdasarkan pemeriksaan fisik dan laboraturium) Rangkuman
  • 107.
    Modul Pendidikan JarakJauh Pendidikan Tinggi Kesehatan 102 Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut dengan memilih salah satu alternatif jawaban yang Saudara anggap paling benar pada kertas tersendiri. 1. Seorang perempuan berusia 32 tahun G3P2A0 hamil 32 minggu datang ke BPM klien menyatakan dirinya HIV (+), hasil pemeriksaan terakhir viral load 1200 kopi RNA/ml, CD4 300. Ibu rutin minum ARV selama hamil. klien menyatakan ingin melahirkan di rumah, karena ibu merasa kehamilannya normal seperti dahulu. Apa konseling bidan pada klien tersebut? a. Ibu bisa lahir di BPM secara normal b. Ibu bisa lahir di rumah secara normal c. Ibu disarankan lahir di RS dengan SC d. Ibu disarankan lahir di RS secara normal e. Ibu disarankan ke RS untuk induksi persalinan 2. Seorang perempuan berusia 32 tahun. Melahirkan anak pertamanya dengan SC. Klien anda mengidap HIV (+). Suaminya seorang tukang ojek. Ibu sudah mendapat konseling cara membuat susu formula dan cara membersihkan peralatan bayi. Klien akan merawat bayinya seorang diri. Bidan memberikan konseling pada klien mengenai pemberian nutrisi pada bayi. Bagaimana sebaiknya pemberian nutrisi pada bayi tersebut? a. Pemberian ASI sampai usia dua tahun b. Pemberian PASI dan ASI jika persediaan PASI tidak ada c. Pompa ASI dan berikan dengan sendok selama 1 tahun d. Pemberian ASI eksklusif dengan penghentian dini pada usia < 6 bulan e. Buang ASI yang pertama keluar, selanjutnya ibu dapat menyusui bayinya 3. Seorang perempuan hamil 26 minggu di diagnosis HIV(+). Ibu di dugan tertular dari suaminya yang seorang pengguna narkotika suntik dan sudah meninggal dunia saat usia kehamilan 6 Evaluasi Formatif
  • 108.
    Modul Pendidikan JarakJauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan 103 minggu. Ibu merasa sedih dan khawatir dengan dirinya dan janinnya mengingat suaminya yang menderita AIDS. Kapan diagnosis AIDS dapat ditegakan pada pasien tersebut? a. Jika CD4 < 400 b. Elisa test positif c. Western blot positif d. Jika Viral Load < 1000 kopi e. Jika ada limfadenopati generalisata 4. Seorang perempuan HIV (+), ia melahirkan bayinya spontan. Ibu menyusui bayinya dan tidak memberikan selain ASI pada bayinya. Berapa persen risiko tertular HIV pada bayi tersebut? a. 10% b. 15% c. 20% d. 25% e. 45 % 5. Seorang perempuan dengan HIV (+) hamil anak pertama datang ke BPM untuk periksa hamil. Apakah yang meningkatkan penularan ke janin pada kasus tersebut? a. Gizi ibu baik b. Ibu perokok c. Ibu mengalami PMS d. Ibu sudah lama terinfeksi e. Ibu mempunyai penyakit diabetes 6. Seorang perempuan datang ke RS untuk melahirkan. Ibu terinfeksi HIV. Hasil anamnesa: ketuban sudah pecah 6 jam sebelum ke RS.Hasil pemeriksaan: tanda vital dalam batas normal, His 3x/10’/40’’. Pembukaan serviks 3 cm, presentasi kepla, H II. Apakah kemungkinan rencana persalinan pada kasus tersebut? a. Persalinan dengan vakum ekstraksi b. Persalinan dengan forcep ekstraksi
  • 109.
    Modul Pendidikan JarakJauh Pendidikan Tinggi Kesehatan 104 c. Persalinan normal pervaginam d. Persalinan dengan SC e. Induksi persalinan 7. Seorang perempuan berusia 20 tahun G1P0A0 hamil 6 minggu datang ke BPM untuk periksa hamil, ibu mengatakan ia telah terinfeksi HIV, hasil pemeriksaan CD4 1 bulan terakhir adalah 350. Kapan sebaiknya ibu mendapat ARV pada kasus tersebut? a. Saat usia kehamilan 12 minggu b. Saat usia kehamilan 16 minggu c. Saat usia kehamilan 20 minggu d. Saat usia kehamilan 24 minggu e. Saat usia kehamilan 28 minggu 8. Seorang perempuan dengan HIV (+) melahirkan bayinya di RS. Ibu khawatir bayinya tertular. Ibu ingin memeriksakan bayinya apakah tertular atau tidak. Bidan menjelaskan mengenai penularan HIV ke Bayi. Kapan pemeriksaan untuk meyakinkan terinfeksi/ tidaknya bayi tersebut? a. 6 jam b. 6 hari c. 6 minggu d. 6 bulan e. 18 bulan 9. Seorang perempuan dengan HIV (+) melahirkan bayinya di RS. Ibu melahirkan dengan SC, selama kehamilan tidak mendapat ARV.Bayi tidak mendapatkan ASI. Apakah kondisi yang mengharuskan ibu mendapat ARV? a. Saat CD4 < 100 b. Saat CD4 < 200 c. Saat CD4 < 300 d. Saat CD4 < 400
  • 110.
    Modul Pendidikan JarakJauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan 105 e. Saat CD4 < 500 10. Seorang bidan hendak melakukan pemeriksaan tanda-tanda vital pada ibu hamil yang terinfeksi HIV. Bagaimanakah prinsip pencegahan infeksi oleh bidan tersebut? a. Menggunkaan masker b. Menggunakan sepatu boot c. Menggunakan sarung tangan d. Menggunakan kacamata pelindung (google) e. Mencuci tangan sebelum dan sesudah tindakan Anda seorang bidan praktik mandiri. Klien anda Ny. Mawaddah usia 32 tahun sedang hamil 26 minggu, ibu baru saja ditinggal wafat suaminya karena AIDS, suaminya dulu seorang pengguna narkoba suntik. Ibu khawatir dirinya dan janin yang dikandung tertular HIV. Pada saat anda menanyakan rencana persalinannya, ibu menyatakan keinginannya untuk bersalin di rumah karena ia merasa sehat dan normal. Anda melihat keteguhan dari ibu untuk tetap bersalin di rumah. Bagaimana asuhan pada ibu tersebut? Studi Kasus
  • 111.
    Modul Pendidikan JarakJauh Pendidikan Tinggi Kesehatan 106 Tugas Mandiri 1. Coba anda praktikkan asuhan pada ibu hamil dengan HIV/AIDS 2. Buatlah dokumentasi dengan pendekatan SOAP hasil asuhan yang telah anda lakukan.
  • 112.
    Modul Pendidikan JarakJauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan 107 Cunningham FG et al. 2005. Sexually Transmitted Disease inWilliams Obstetrics” , 22nd  ed, McGraw-Hill, Fakultas Kedokteran UI, 1987. “Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Edisi III”, Jakarta: Balai Penerbit FKUI Gall SA .1997. HIV in Pregnancy in in Practical Guide to The Care Of The Gynecology/Obstetric patient, Mosby, 1997 p 537 – 545 Prawirohardjo,Sarwono.2009. IlmukebidananJakarta:P.TBinaPustakasarwonoPrawirohardjo. Varney,Helen,dkk.2007.Buku Ajar Asuhan Kebidanan Edisi 4 Volume 1.Jakarta:EGC. Modul 6 Asuhan Antenatal Komprehensif Pada Perempuan Dengan HIV/AIDS, Compaq Female, Corcaid, 2012 Modul Pelatihan Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Bayi, Kemenkes RI, 201 GLOSSARIUM HIV/AIDS Kondisi hilangnya kekebalan tubuh sehingga memberi kesempatan berkembangnya berbagai bentuk infeksi dan keganasan KEK kurang energi kalori google kacamata pelindung BPM Bidan Praktik mandiri VCT Voluntary Counseling and Testing ARV Anti Retro Viral (obat-obatan anti virus HIV) ODHA Orang dengan HIV/AIDS PITC Provider Initiatif Test and Counseling PMTCT Prevention Mother To Child Transmition Referensi
  • 113.
    Modul Pendidikan JarakJauh Pendidikan Tinggi Kesehatan 108 Seorang perempuan berusia 18 tahun merasa hamil 7 bulan datang ke BPM dengan keluhan pusing, lemas. Ibu hamil anak kedua dan tidak pernah keguguran. Bidan melakukan pengkajian dan asuhan pada ibu tersebut. 1. Buatlah asuhan pada ibu di atas dengan menggunakan manajemen kebidanan dan dokumentasikan asuhan dalam bentuk SOAP. Evaluasi Akhir
  • 114.
    Modul Pendidikan JarakJauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan 109 Selamat Anda telah berhasil menyelesaikan Modul ini. Dari modul ini Anda telah mempelajari bagaimana melakukan asuhan kehamilan dengan penyulit dan komplikasi. Sekarang bertanyalah kepada diri Anda sendiri apakah Anda telah menguasai seluruh materi yang dibahas dalam modul ini. Jika belum pelajari sekali lagi, terutama pada bagian-bagian yang belum Anda kuasai. Jika sudah bersegeralah menghubungi dosen yang mengampu mata kuliah ini untuk meminta tes akhir modul. Selamat dan sukses selalu Penutup
  • 115.
    Modul Pendidikan JarakJauh Pendidikan Tinggi Kesehatan 110 Laporan asuhan pada pelaksanaan PK III dibuat dengan menggunakan pendekatan SOAP. Catatan SOAP terdiri atas empat langkah disarikan dari proses pemikiran penata-laksanaan kebidanan yang dipakai untuk mendokumentasikan asuhan klien dalam rekam medis klien sebagai catatan kemajuan. S = SUBJEKTIF Informasi/ data yang diperoleh dari apa yang dikatakan klien tersebut. O = OBJEKTIF Data yang diperoleh dari apa yang dilihat dan dirasakan oleh bidan sewaktu melakukan pemeriksaan dan hasil laboratorium. A = ANALISA Kesimpulan yang dibuat berdasarkan data subyektif/obyektif tersebut. P = PERENCANAAN Perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi sesuai dengan kesimpulan yang telah dibuat. Hal – hal yang harus diperhatikan dalam mendokumentasikan asuhan kebidanan : Mengapa pendokumentasian ini begitu penting ? • Menciptakan catatan permanen tentang asuhan yang diberikan kepada pasien. • Memungkinkan berbagi informasi diantara para pemberi asuhan. • Memfasilitasi pemberian asuhan yang berkesinambungan. • Memungkinkan pengevaluasian dari asuhan yang diberikan. • Memberikan data untuk catatan nasional, penelitian dan statistik mortalitas/morbiditas. • Meningkatkan pemberian asuhan yang lebih aman, dan bermutu tinggi kepada klien. Mengapa catatan SOAP dipakai untuk pendokumentasian? • Pendokumentasian metoda SOAP merupakan kemajuan informasi yang sistematis yang mengorganisir penemuan dan kesimpulan anda menjadi suatu rencana asuhan. • Metoda ini merupakan penyaringan inti sari dari Proses Penata-laksanaan Kebidanan untuk tujuan penyediaan dan pendokumentasian asuhan. LAMPIRAN 1
  • 116.
    Modul Pendidikan JarakJauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan 111 • SOAP merupakan urut-urutan yang dapat membantu anda dalam mengorganisir pikiran anda dan memberikan asuhan yang menyeluruh. SOAP adalah catatan yang tertulis secara singkat, lengkap, dan bermanfaat buat bidan atau pemberian asuhan yang lain Anda sebagai kandidat seorang bidan hendaknya menggunakan SOAP setiap kali melakukan asuhan dengan pasien. Selama masa antepartum, seorang bidan dapat menuliskan satu catatan SOAP untuk setiap kali kunjungan. Dengan mendokumentasikan setiap asuhan maka bidan dapat melihat catatan-catatan SOAP terdahulu bilamana ia merawat seorang klien untuk mengevaluasi kondisinya yang sekarang. Selain membuat laporan pendokumentasian asuahan antenatal dengan pendekatan SOAP, anda juga membuat laporan: • Laporan pencapaian target PK III • Log book • Laporan kegiatan PK III
  • 117.
    Modul Pendidikan JarakJauh Pendidikan Tinggi Kesehatan 112 KUNCI JAWABAN TES FORMATIF KEGIATAN BELAJAR 1 NOMOR SOAL JAWABAN 1. B 2. D 3. A 4. A 5. D 6. B 7. E 8. E 9. E 10. A KEGIATAN BELAJAR 3 NOMOR SOAL JAWABAN 1. A 2. D 3. B 4. E 5. B 6. E 7. C 8. A 9. E 10. A KEGIATAN BELAJAR 2 NOMOR SOAL JAWABAN 1. E 2. A 3. C 4. C 5. A 6. A 7. B 8. E 9. E 10. A KEGIATAN BELAJAR 4 NOMOR SOAL JAWABAN 1. D 2. A 3. A 4. A 5. A 6. B 7. B 8. C 9. B 10. A LAMPIRAN 2
  • 118.
    Modul Pendidikan JarakJauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan 113 KUNCI JAWABAN TES FORMATIF KEGIATAN BELAJAR 5 NOMOR SOAL JAWABAN 1. C 2. E 3. A 4. B 5. E 6. B 7. C 8. A 9. B 10. E KEGIATAN BELAJAR 6 NOMOR SOAL JAWABAN 1. C 2. D 3. E 4. E 5. C 6. D 7. E 8. E 9. E 10. E
  • 119.
    Modul Pendidikan JarakJauh Pendidikan Tinggi Kesehatan 114 Reflective Practice Refleksi perasaan Refleksi isi Pembelajaran yang bisa diambil Rencana Tindak Lanjut/ACTION PLAN • Ingat ! • Reflective practice dibuat setiap kali mendapat kasus. • Bawalah selalu format reflective practice dan disampaikan kepada pembimbing/tutor anda pada saat bimbingan DAFTAR PENCAPAIAN TARGET 1. Melakukan Deteksi Dini dan Melakukan Penanganan yang Tepat Termasuk Kolaborasi/ Rujukan ke Fasilitas Pelayanan yang Tepat pada Abortus Imminen NO TANGGAL KASUS TTD PRESEPTORNAMA/ NO.CM DIAGNOSA 1 2 3 2. Melakukan Deteksi Dini dan Melakukan Penanganan yang Tepat Termasuk Kolaborasi/ Rujukan ke Fasilitas Pelayanan yang Tepat pada Abortus Insipien LAMPIRAN 3 LAMPIRAN 4
  • 120.
    Modul Pendidikan JarakJauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan 115 NO TANGGAL KASUS TTD PRESEPTORNAMA/ NO.CM DIAGNOSA 1 2 3 3. Melakukan Deteksi Dini dan Melakukan Penanganan yang Tepat Termasuk Kolaborasi/ Rujukan ke Fasilitas Pelayanan yang Tepat pada Abortus Inkomplit NO TANGGAL KASUS TTD PRESEPTORNAMA/ NO.CM DIAGNOSA 1 2 3 4. Melakukan Deteksi Dini dan Melakukan Penanganan yang Tepat Termasuk Kolaborasi/ Rujukan ke Fasilitas Pelayanan yang Tepat pada Abortus Komplit NO TANGGAL KASUS TTD PRESEPTORNAMA/ NO.CM DIAGNOSA 1 2 3 5. Melakukan Deteksi Dini dan Melakukan Penanganan yang Tepat Termasuk Kolaborasi/Rujukan ke Fasilitas Pelayanan yang Tepat pada Kehamilan Ektopik Terganggu NO TANGGAL KASUS TTD PRESEPTORNAMA/ NO.CM DIAGNOSA 1 2 3
  • 121.
    Modul Pendidikan JarakJauh Pendidikan Tinggi Kesehatan 116 6. Melakukan Deteksi Dini dan Melakukan Penanganan yang Tepat Termasuk Kolaborasi/ Rujukan ke Fasilitas Pelayanan yang Tepat pada Mola Hidatidosa NO TANGGAL KASUS TTD PRESEPTORNAMA/ NO.CM DIAGNOSA 1 2 3 7. Melakukan Deteksi Dini dan Melakukan Penanganan yang Tepat Termasuk Kolaborasi/Rujukan ke Fasilitas Pelayanan yang Tepat Ppda Kehamilan dengan Plasenta previa NO TANGGAL KASUS TTD PRESEPTORNAMA/ NO.CM DIAGNOSA 1 2 3 8. Melakukan Deteksi Dini dan Melakukan Penanganan yang Tepat Termasuk Kolaborasi/ Rujukan Ke Fasilitas Pelayanan yang Tepat pada Kehamilan dengan Anemia NO TANGGAL KASUS TTD PRESEPTORNAMA/ NO.CM DIAGNOSA 1 2 3 9. Melakukan Deteksi Dini dan Melakukan Penanganan yang Tepat Termasuk Kolaborasi/Rujukan ke Fasilitas Pelayanan yang Tepat pada Kehamilan dengan Solusio Plasenta NO TANGGAL KASUS TTD PRESEPTORNAMA/ NO.CM DIAGNOSA 1
  • 122.
    Modul Pendidikan JarakJauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan 117 2 3 10. Melakukan Deteksi Dini dan Melakukan Penanganan yang Tepat Termasuk Kolaborasi/ Rujukan ke Fasilitas Pelayanan yang Tepat pada Preeklampsi Ringan NO TANGGAL KASUS TTD PRESEPTORNAMA/ NO.CM DIAGNOSA 1 2 3 11. Melakukan Deteksi Dini dan Melakukan Penanganan yang Tepat Termasuk Kolaborasi/ Rujukan ke Fasilitas Pelayanan yang Tepat pada Preeklampsi Berat NO TANGGAL KASUS TTD PRESEPTORNAMA/ NO.CM DIAGNOSA 1 2 3 12. Melakukan Deteksi Dini dan Melakukan Penanganan yang Tepat Termasuk Kolaborasi/ Rujukan ke Fasilitas Pelayanan yang Tepat pada Hipertensi Gestasional NO TANGGAL KASUS TTD PRESEPTORNAMA/ NO.CM DIAGNOSA 1 2 3 13. Melakukan Deteksi Dini dan Melakukan Penanganan yang Tepat Termasuk Kolaborasi/ Rujukan ke Fasilitas Pelayanan yang Tepat pada Hipertensi Kronis
  • 123.
    Modul Pendidikan JarakJauh Pendidikan Tinggi Kesehatan 118 NO TANGGAL KASUS TTD PRESEPTORNAMA/ NO.CM DIAGNOSA 1 2 3 14. Melakukan Deteksi Dini dan Melakukan Penanganan yang Tepat Termasuk Kolaborasi/ Rujukan ke Fasilitas Pelayanan yang Tepat pada superimposed Preeklampsi NO TANGGAL KASUS TTD PRESEPTORNAMA/ NO.CM DIAGNOSA 1 2 3 15. Melakukan Deteksi Dini dan Melakukan Penanganan yang Tepat Termasuk Kolaborasi/ Rujukan ke Fasilitas Pelayanan yang Tepat pada Eklampsi NO TANGGAL KASUS TTD PRESEPTORNAMA/ NO.CM DIAGNOSA 1 2 3 16. Melakukan Deteksi Dini dan Melakukan Penanganan yang Tepat termasuk Kolaborasi/Rujukan ke Fasilitas Pelayanan yang Tepat pada Kehamilan dengan Letak Lintang NO TANGGAL KASUS TTD PRESEPTORNAMA/ NO.CM DIAGNOSA 1 2 3
  • 124.
    Modul Pendidikan JarakJauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan 119 17. Melakukan Deteksi Dini dan Melakukan Penanganan yang Tepat termasuk Kolaborasi/Rujukan ke Fasilitas Pelayanan yang Tepat pada Kehamilan Sungsang NO TANGGAL KASUS TTD PRESEPTORNAMA/ NO.CM DIAGNOSA 1 2 3 18. Melakukan Deteksi Dini dan Melakukan Penanganan yang Tepat termasuk Kolaborasi/Rujukan ke Fasilitas Pelayanan yang Tepat pada Kehamilan Ganda/Gemelli NO TANGGAL KASUS TTD PRESEPTORNAMA/ NO.CM DIAGNOSA 1 2 3 19. Melakukan Deteksi Dini dan Melakukan Penanganan yang Tepat termasuk Kolaborasi/Rujukan ke Fasilitas Pelayanan yang Tepat pada Kematian Janin (IUFD) NO TANGGAL KASUS TTD PRESEPTORNAMA/ NO.CM DIAGNOSA 1 2 3 20. Melakukan Deteksi Dini dan Melakukan Penanganan yang Tepat termasuk Kolaborasi/ Rujukan ke Fasilitas Pelayanan yang Tepat pada Kehamilan dengan Ketuban Pecah Sebelum Waktunya (KPSW)
  • 125.
    Modul Pendidikan JarakJauh Pendidikan Tinggi Kesehatan 120 NO TANGGAL KASUS TTD PRESEPTORNAMA/ NO.CM DIAGNOSA 1 2 3 21. Melakukan Deteksi Dini dan Melakukan Penanganan yang Tepat Termasuk Kolaborasi/Rujukan ke Fasilitas Pelayanan yang Tepat pada Polihidramnion/Oligohidramnion NO TANGGAL KASUS TTD PRESEPTORNAMA/ NO.CM DIAGNOSA 1 2 3 22. Melakukan Deteksi Dini dan Melakukan Penanganan yang Tepat Termasuk Kolaborasi/ Rujukan ke Fasilitas Pelayanan yang Tepat pada Kehamilan dengan Pertumbuhan Janin Terhambat (IUGR) NO TANGGAL KASUS TTD PRESEPTORNAMA/ NO.CM DIAGNOSA 1 2 3 23. Melakukan Deteksi Dini dan Melakukan Penanganan yang Tepat Termasuk Kolaborasi/Rujukan ke Fasilitas Pelayanan yang Tepat pada Kehamilan dengan Diabetes Mellitus NO TANGGAL KASUS TTD PRESEPTORNAMA/ NO.CM DIAGNOSA 1 2 3
  • 126.
    Modul Pendidikan JarakJauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan 121 24. Melakukan Deteksi Dini dan Melakukan Penanganan yang Tepat Termasuk Kolaborasi/ Rujukan ke Fasilitas Pelayanan yang Tepat pada Kehamilan dengan PMS, TORCH, Vaginitis, Infeksi Saluran Perkemihan, Gangguan Pernafasan dan Gangguan Pencernaan NO TANGGAL KASUS TTD PRESEPTORNAMA/ NO.CM DIAGNOSA 1 2 3 25. Melakukan Deteksi Dini dan Melakukan Penanganan yang Tepat Termasuk Kolaborasi/Rujukan ke Fasilitas Pelayanan yang Tepat pada Ibu Hamil dengan Kekurangan Gizi NO TANGGAL KASUS TTD PRESEPTORNAMA/ NO.CM DIAGNOSA 1 2 3
  • 127.
    Modul Pendidikan JarakJauh Pendidikan Tinggi Kesehatan 122 LAMPIRAN 5 DAFTAR PRESENSI MAHASISWA PRODI DIII KEBIDANAN PROGRAM JARAK JAUH NAMA : SEMESTER/TINGKAT : TEMPAT PRAKTEK : NO TANGGAL HADIR PULANG Ket/ Kegiatan TandaTangan pembimbing Jam TT Jam TT 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
  • 128.
    Modul Pendidikan JarakJauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan 123 FORMAT PENILAIAN ASUHAN KEBIDANAN NAMA : SEMESTER/TINGKAT : TEMPAT PRAKTEK : NO ASPEK YANG DINILAI SCORE NILAI KETERANGANRENTANG 0-100 I A.PENGKAJIAN a. Ketepatan data : S b. Ketepatan data : O a+b 2 B. ANALISA Ketepatan menentukan Diagnosa / masalah*/ kebutuhan* * jika ditemukan pada kasus PLANNING (Tindakan dan evaluasi) Berdasarkan Diagnosa / masalah II C. RESPONSI a. Penguasaan Kasus b. Rasionalisasi terhadap tindakan NILAI AKHIR = I (A+B+C) X 60 % 3 II : II X40 % NILAI AKHIR = I + II ( Pembimbing ) LAMPIRAN 6
  • 129.
    Modul Pendidikan JarakJauh Pendidikan Tinggi Kesehatan 124 KETERANGAN PENILAIAN <56 : Tidak dikerjakan (Langkah atau kegiatan yang seharusnya dilakukan, saat dilakukan pengamatan atau observasi tidak dikerjakan oleh peserta didik) 56-69 : Perlu perbaikan (Langkah atau prosedur belum dilakukan secara baik dan benar, atau dilakukan dalam urutan yang tidak sesuai, atau beberapa langkah tidak dilaksanakan) 70-84 : Mampu atau Cukup Terampil (Langkah atau prosedur dilakukan dengan baik dan benar serta sesuai, tetapi kemajuan langkah demi langkah belum dilakukan secara efisien) 85-100 : Mahir atau Sangat Terampil (Langkah atau prosedur dilakukan dengan baik, benar, dan urutannya sesuai, serta waktu yang digunakan pada setiap langkah sangat efisien).
  • 130.
    Modul Pendidikan JarakJauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan 125 Penilaian Aspek Sikap Standar Aspek sikap yang dinilai Aspek Sikap KetSelalu Sering Kadang- kadang Jarang Sangat jarang Tidak pernah 5 4 3 2 1 0 Nilai batas: 60 Bobot 20% Menyiapkan alat dengan cermat dan benar Menyiapkan ibu hamil/ keluarga sehingga tercipta iklim social yang serasi Bekerja secara sistematis Bekerja dengan memperhatikan kondisi ibu hamil terhadap tindakan yang dilakukan Berkomunikasi dengan santai dan sopan dengan bahasa yang dimengerti Sub Total Nilai rata-rata NILAI AKHIR NO ASPEK PENILAIAN RUMUS PERHITUNGAN NILAI KET 1 PENGETAHUAN Nilai rata – rata x 2 2 KETERAMPILAN Nilai rata – rata x 6 3 SIKAP Nilai rata – rata x 2 NILAI AKHIR Nilai 1 + 2 + 3 10 Nilai Batas Lulus : 2.75 LAMPIRAN 7 , ........................................... PENGUJI __________________________________________
  • 131.
    Modul Pendidikan JarakJauh Pendidikan Tinggi Kesehatan 126 LEMBAR KONTRAK BELAJAR Hari/ tanggal : ………………/.........………. NAMA : _______________________________ RUANGAN DINAS: ________________________ RS / PUSKESMAS *: ___________________________________________________________________________ KOMPETENSI YANG INGIN DICAPAI BUKTI PENCAPAIAN EVALUASI PEMBIMBING (DIISI SETELAH PELAKSANAAN) Menyetujui : Pembimbing, Mahasiswa ____________________________ _________________________ LAMPIRAN 8
  • 132.
    Modul Pendidikan JarakJauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan 127 PENDOKUMENTASIAN ASUHAN ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU ANTENATAL No. Reg : 117-2007 Nama pengkaji : Bd. Siti Hari/tanggal : Senin/30 April 2012 Waktu pengkajian : 09.00 WIB Tempat pengkajian : RB Milik Kita A. DATA SUBJEKTIF 1. Identitas ISTRI SUAMI Nama Ny. Mia Tn. Ane Usia 18 tahun 21 tahun Agama Islam Islam Pendidikan SMA SMA Pekerjaan IRT Pedagang keliling Suku/ras Sunda Jawa Golongan darah O Tidak mengetahui Alamat Jln. Damai 02/04 Jln. Damai 02/04 2. Keluhan Utama Ibu merasa hamil 7 bulan mengeluh pusing, terutama ketika bangun dari duduk dan merasa cepat lelah dan capek. B. Riwayat kebidanan 1. Menstruasi : Menarche : Saat usia 12 tahun Siklus haid : Teratur Lamanya : 5-6 hari Keluhan : Sakit perut saat haid KUNCI EVALUASI AKHIR
  • 133.
    Modul Pendidikan JarakJauh Pendidikan Tinggi Kesehatan 128 Menstruasi terakhir : 23 september 2011 2. Riwayat kehamilan sekarang GPA : G2P1A0 HPHT : 23-09-2011 TP : 30-06-2012 Usia kehamilan : 31-32 minggu Gerakan janin pertama kali dirasakan : pada bulan januari Gerakan janin 24 jam terakhir : aktif Gerakan janin terakhir dirasakan : 15 menit yang lalu Riwat ANC : 5 kali Obat yang dikonsumsi termasuk jamu : tablet tambah darah dan ibu mengaku ibu rutin minum tablet besi setiap hari dengan air teh Kekhawatiran khusus : Tidak ada 3. Riwayat kehamilan , persalinan , nifas lalu 4. Riwayat ginekologi • Keputihan : tidak ada • Infeksi : tidak ada • Gatal : tidak ada • Tumor :tidak ada Anak ke Tahun Kehamilan Persalinan Nifas Lama Penyulit penolong Tempat BB bayi penyulit Vit A Tab Fe 1 Januari 2011 9 bulan tak Paraji Rumah 2700gr Tak Tidak Tidak 2 2012 Kehamilan ini - - - - - - -
  • 134.
    Modul Pendidikan JarakJauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan 129 5. Riwayat penyakit Ibu tidak pernah dan tidak sedang mengalami sakit apapun, baik penyakit keturunan, menular, menahun ataupun alergi termasuk penyakit malaria dan infeksi cacing. 6. Riwayat penyakit keluarga Tidak ada penyakit keturunan, menular, menahun ataupun alergi. 7. Riwayat KB • Jenis : Pil • Lama penggunaan : 5 bulan • Alasan berhenti : Ibu lupa minum pil jadi terlambat haid 8. Keadaan sosial dan budaya • Riwayat perkawinan • Status Perkawinan: Menikah • Pernikahan ke: 1 • Lama Pernikahan: 2 tahun • Respon keluarga: senang walaupun awalnya tidak direncanakan. • Respon ibu : merasa senang • Adat istiadat yang berkaitan dengan kehamilan: tidak ada • Dukungan keluarga :keluargamendukungdansuamikadang-kadangmaumembantu pekerjaan rumahnya. • Pengambilan keputusan keluarga: suami • Rencana persalinan 9. Penolong persalinan : bidan 10. Tempat persalinan : RB tempat periksa
  • 135.
    Modul Pendidikan JarakJauh Pendidikan Tinggi Kesehatan 130 C. Aktivitas sehari-hari 1. Pola Makan Frekuensi : 2 kali / hari Jumlah perhari : 1 piring tapi sedikit Jenis : nasi, telur, tahu, tempe tapi ibu kurang suka sayur Pantangan : kikil dan nanas 2. Pola minum • Jumlah per hari : 7 gelas / hari • Jenis minuman : air putih, teh 3. Pola istirahat • Istirahat malam hari : 7 jam • Istirahat siang hari : ibu mengaku jarang tidur siang hari 4. Personal higiene • Mandi : 2 kali / hari • Keramas : 2 hari 1 kali • Ganti baju : 2 kali / hari • Ganti pakaian dalam : 2 kali / hari 5. Aktivitas seksual • Frekuensi : 2 kali / minggu • Keluhan : tidak ada 6. Eliminasi • BAB : 2 hari 1 kali konsistensi keras • BAK : >5 kali / hari,jumlah banyak 7. Keadaan lingkungan • Fasilitas mandi , cuci , kakus : ada • Letak tempat tinggal : jauh dari sumber polusi, bising, dll • Keadaan kamar : terdapat ventilasi dan cahaya matahari dapat masuk 8. Gaya hidup Ibu tidak merokok ataupun minum alkohol namun suami merokok.
  • 136.
    Modul Pendidikan JarakJauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan 131 D. DATA OBJEKTIF 1. Keadaan Umum • Kesadaran : compos mentis • Keadaan emosi : stabil 2. TTV • TD: 100/70mmHg N: 78x/menit • R : 20x/menit S: 36,50 C 3. Antropometri • TB : 149 cm • BB sebelum hamil : 47 kg • BB sekarang : 55 kg • IMT : 21,36 4. Pemeriksaan Fisik a. Kepala • Muka : pucat dan tidak oedema • Mata : Konjungtiva pucat dan Sklera putih • Mulut : tidak ada kelainan, Bibir pucat b. Leher Tidak ada Pembesaran kelenjar thyroid dan Pembesaran kelenjar limfe serta tidak ada peningkatan vena jugularis. c. Payudara : • Luka parut : tidak ada • Bentuk : simetris • Retraksi : tidak ada • Puting susu : bersih, tidak lecet dan menonjol • Kolostrum : sudah keluar • Benjolan dan nyeri : tidak ada d. Perut • Luka bekas operasi : tidak ada
  • 137.
    Modul Pendidikan JarakJauh Pendidikan Tinggi Kesehatan 132 • Bentuk : tidak menggantung • TFU menurut mc donald : 27 cm • TBF : 2170 gram • Palpasi: e. Leopold I Teraba bokong f. Leopold II Teraba punggung di sebelah kiri ibu dan bagian kecil di sebelah kanan ibu g. Leopold III Teraba kepala belum masuk PAP. h. DJJ : 144x / menit; regular i. Ekstermitas atas Tidak ada oedema, ujung-ujung kuku pucat j. Ekstermitas bawah Tidak ada oedema, ujung-ujung kuku pucat dan refleks patella kiri kanan positif. 5. Pemeriksaan genitalia a. Genitalia eksterna • varises : Tidak ada • oedema : Tidak ada • luka : Tidak ada • kelenjar bartholini : Tidak ada pembesaran • kelenjar skene : Tidak ada pengeluaran apapun • vulva : Tidak ada tukak atau luka, varises, oedema, kondiloma, cairan atau sekret 6. Pemeriksaan anus hemoroid : tidak ada 7. Pemeriksaan penunjang : • Hb : 8 g/dL • Protein urine : negatif
  • 138.
    Modul Pendidikan JarakJauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan 133 • Glukosa urine : negatif E. ANALISA G2P1A0 gravida 31-32 minggu dengan anemia, janin tunggal hidup F. PENATALAKSANAAN • Memberitahukan ibu hasil pemeriksaan Evaluasi: ibu mengerti dan mengetahui keadaannya. • Konseling bahwa keluhan ibu merupakan tanda dan gejala anemia Evaluasi: ibu mengerti • Menganjurkan ibu agar menambah 1 porsi makan dan 1 porsi cemilan per hari. Evaluasi: ibu mengerti dan tahu kebutuhan makannya • Menganjurkan ibu untuk makan makanan bergizi seimbang dan menambah konsumsi sayuran seperti bayam, kangkung, brokoli,dll. Evaluasi: ibu mengerti dan akan mencoba untuk menkonsumsi sayuran • Memberi tablet Fe 2x1 tablet • Mengajarkan ibu cara minum tablet Fe dengan benar Evaluasi : ibu mengerti dan bersedia melakukannya • Menjelaskan tentang pemenuhan kebutuhan istirahat ibu hamil terutama tidur d siang hari, minimal 2 jam Evaluasi : ibu mengerti dan bersedia melakukannya • Melakukan konseling agar suami tidak merokok di dalam rumah mengingat bahayanya ibu yang menjadi perokok pasif Evaluasi : ibu mengerti dan bersedia melakukannya • Menjelaskan tentang persiapan persalinan Evaluasi : ibu mengerti dan sudah menyiapkannya • Menjelaskan tentang tanda bahaya ibu hamil Evaluasi : ibu mengerti akan tanda bahaya ibu hamil • Menjadwalkan kunjungan ulang 1 minggu kemudian, 7 Mei 2012 Ibu bersedia datang
  • 139.
    Modul Pendidikan JarakJauh Pendidikan Tinggi Kesehatan 134 Daftar Gambar Cover cover http://images.wisegeek.com/ pregnant-woman-getting-blood-pressure- taken-by-doctor.jpg Perawat memeriksa http://kupang.tribunnews.com/foto/bank/ images/perawat-perawat-periksa.jpg Memeriksa tens Memeriksa tensi http://kupang.tribunnews.com/foto/bank/ images/perawat-perawat-periksa.jpg http://pjj.poltekkeskupang.ac.id/pluginfile. php/3129/coursecat/description/kuala-035. jpg mempelajari materi dengan seksama h t t p : / / a i p h s s . o r g / w p - c o n t e n t / uploads/2014/01/AIPHSS-8.jpg kulit pucat salah satu tanda anemia http://blog.essentialparent.com/wp- content/uploads/2015/02/Is-it-possible- to-turn-a-baby-in-breech-position-from- EssentialParent.com_.jpg Lambang Aids sedunia http://i.huffpost.com/gen/1368245/ images/o-HIV-AIDS-facebook.jpg mengukur tekanan darah http://i.huffpost.com/gen/1368245/ images/o-HIV-AIDS-facebook.jpg
  • 140.
    Modul Pendidikan JarakJauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan 135 Hak Cipta Kementrian Republik Indonesia Bekerjasama Dengan Australia Indonesia for Health System Strengthening (AIPHSS) 2015