RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER
Pertemuan Kompetensi
Sub-sub
Kompetensi
Materi Perkuliahan Pengalaman Belajar
Alokasi
Waktu
Penilaian
I Mendiskripsikan
konsep dasar
asuhan masa
nifas
Mampu
mendiskripsikan
konsep dasar
asuhan masa nifas
1. Konsep dasar asuhan masa nifas:
- Pengertian masa nifas
- Tujuan asuhan masa nifas
- Peran dan tanggung bidan dalam asuhan
masa nifas
- Tahapan masa nifas
- Kebijakan program nasional asuhan masa
nifas (hak-hak wanita dalam masa nifas)
Mendiskripsikan
konsep dasar asuhan
masa nifas
T : 2x50'
P : 4x50'
- Uji lisan
- Uji tulis/kuis
II, III Menjelaskan
perubahan
fisiologi pada ibu
nifas
Mampu
menjelaskan
perubahan
fisiologi pada ibu
nifas
1. Fisiologi pada ibu nifas:
- Sistem reproduksi (payudara, uterus,
vagina, perinium)
- system pencernaan
- system perkemihan
- system muskuluskeletal pada ibu nifas
- sistem endokrin
- sistem kardiovaskuler
- sistem hemotologi
- sistem pernafasan
- Perubahan tanda-tanda vital
Menjelaskan
perubahan fisiologi
pada ibu nifas
T :2x50'
P :4x50'
- Uji lisan
- Uji tulis
- Presentasi
laporan hasil
diskusi
IV Menjelaskan
perubahan
Psikologis masa
nifas
Mampu
menjelaskan
perubahan
Psikologis masa
nifas
1. Perubahan Psikologis masa nifas:
- Adaptasi psikologi (Taking In, Taking on,
Letting go)
- Postpartum blues
- Kesedihan duka cita, Depresi post partum,
Psiko post partum
Menjelaskan
perubahan
Psikologis masa
nifas
T:2x50'
P:4x50'
- Uji lisan
- Uji tulis
- Presentasi
laporan hasil
diskusi
Menjelaskan
factor-faktor yang
Mampu
menjelaskan
1. Factor-faktor yang mempengaruhi masa nifas
dan menyusui:
Menjelaskan factor-
faktor yang
T :2 x50'
P:4x50'
- Uji lisan
- Uji tulis
V mempengaruhi
masa nifas dan
menyusui
factor-faktor yang
mempengaruhi
masa nifas dan
menyusui
- Fisik
- Psikologis
- Lingkungan
- Sosial
- Budaya
- Ekonomi
mempengaruhi masa
nifas dan menyusui
- Presentasi
laporan hasil
diskusi
VI,VII Mengidentifikasi
kebutuhan dasar
ibu nifas
Mampu
mengidentifikasi
kebutuhan dasar
ibu nifas
Kebutuhan dasar ibu nifas
1. Nutrisi dan cairan
2. Ambulasi
3. Eliminasi: bak/bab
4. Istirahat
5. Personal Higiene
6. Seksual
7. Olah Raga / senam nifas
Mengidentifikasi
kebutuhan dasar ibu
nifas
T : 2x50'
P:4x50'
- Uji lisan
- Uji tulis
- Presentasi
laporan hasil
diskusi
- Portopolio
- Penampilan
klinik
VIII, IX Mempraktekkan
proses laktasi dan
menyusui.
Mampu
mempraktekkan
proses laktasi dan
menyusui.
Proses laktasi dan menyusui.
1. Anatomi dan fisiologi payudara (review)
2. Dukungan bidan dalam pemberian ASI
3. Manfaat pemberian ASI
4. Komposisi Gizi dalam ASI
5. Upaya memperbanyak ASI
6. Tanda bayi cukup ASI
7. ASI eksklusif
8. Cara merawat payudara
9. Cara menyusui yang benar
10. Masalah dalam pemberian ASI
11. Bayi –bayi dengan kebutuhan khusus
12. Kiat Menyusui ibu bekerja
13. Cara penyimpanan ASI yang benar
14. Menyusui ditempat umum
mempraktekkan
proses laktasi dan
menyusui
T : 2x50'
P :4x50'
- Uji lisan
- Uji tulis
- Presentasi
laporan hasil
diskusi
15. Ibu dg SC/tdk rawat gabung
16. Ibu dengan IMS, HIV, Hepatitis, TB paru
17. Ibu menyusui dengan hamil lagi
18. Ibu dengan hamil kembar
X Menjelaskan
respon orang tua
terhadap bayi
baru lahir (BBL)
Mampu
Menjelaskan
respon orang tua
terhadap bayi
baru lahir (BBL)
Respon orang tua terhadap bayi baru lahir (BBL):
- Bounding attachment
- Respon ayah dan keluarga
- Sibling rivalry
Menjelaskan respon
orang tua terhadap
bayi baru lahir
(BBL)
T :2x50'
P :4x 50'
- Uji lisan
- Uji tulis
- Presentasi
laporan hasil
diskusi
XI Melaksanakan
deteksi dini
komplikasi masa
nifas dan
penanganannya
Mampu
melaksanakan
deteksi dini
komplikasi masa
nifas dan
penanganannya
Deteksi dini komplikasi masa nifas dan
penanganannya :
1. Pengertian deteksi dini komplikasi pada masa
nifas
2. Tujuan deteksi dini komplikasi pada masa
nifas
3. Macam-macam komplikasi yang sering timbul
pada masa nifas dan upaya penangannannya :
a. Perdarahan masa nifas (HPP)
b. Infeksi masa nifas
c. Sakit kepala, nyeri epigastrik, penglihatan
kabur
d. Pembengkakan di wajah atau ekstrimitas
e. Demam, muntah, rasa sakit waktu
berkemih
f. Perubahan payudara
g. Kehilangan nafsu makan dalam waktu
yang lama
h. Perubahan pada ekstremitas (rasa sakit,
merah, lunak dan pembengkakan di kaki)
i. Perubahan psikologis (rasa sedi dan tidak
mampu merawat bayi dan dirinya sendiri)
Melaksanakan
deteksi dini
komplikasi masa
nifas dan
penanganannya
T : 2x 50'
P :4x 50'
- Uji lisan
- Uji tulis
- Presentasi
laporan hasil
diskusi
- Portopolio
- Penampilan
klinik
XII,XIII Memberikan
asuhan ibu nifas
normal
Mampu
memberikan
asuhan ibu nifas
normal
Asuhan ibu nifas normal
1. Pengkajian fisik dan psikologis
2. Pengkajian riwayat kesehatan ibu
3. Pemeriksaan fisik
- Tanda-tanda vital
- Payudaraa
- Uterus
- Kandung kemih
- Genetalia
- Perineum
- Ekstrimitas bawah
4. Pengkajian psikologis
5. Pengkajian pengetahuaan ibu tentang
perawatan pada masa nifas
6. Interpretasi Data : diagnosa/ masalah aktual
- Masalah nyeri
- Masalah infeksi
- Masalah cemas, perawatan
perineum, payudara, ASI ekslusif
- Masalah KB, Gizi, tanda bahaya, senam.
7. Rumusan diagnosa/ masalah Potensial
- Gangguan : perkemihan
o BAB
o Hubungan seksual
8. Rencana asuhan kebidanan
- monitoring tanda-tanda vital
- monitoring involusio
- monitoring perdarahan
- nyeri
- infeksi
- cemas
Memberikan asuhan
ibu nifas normal :
- Pengkajian
- Interpretasi data
- Perencanaan
- Pelaksanaan
- Evaluasi dan
tindak lanjut
T : 4x50'
P : 4x50'
- Uji lisan
- Uji tulis
- Presentasi
laporan hasil
diskusi
- Portopolio
- Penampilan
klinik
- KIE :
o Perawatan tentang perineum, payudara,
o ASI ekslusif
o KB, Gizi, tanda bahaya, senam,
o Teknik menyusui bayi
o Persiapan menjadi orang tua
o Persiapan pasien pulang
o Anticipatori guidance
9. Pelaksanaan tindakan mandiri dan kolaborasi
asuhan kebidanan
- Tindakan mandiri
- Kolaborasi
- KIE/Pendidikan kesehatan.
10. Evaluasi asuhan kebidanan dan tindak lanjut
XIV Menjelaskan
program tindak
lanjut asuhan
nifas di rumah
Menjelaskan
program tindak
lanjut asuhan
nifas di rumah
8.1. Tindak lanjut asuhan nifas di rumah
8.1.1.Jadwal kunjungan rumah
8.1.2.Asuhan lanjutan masa nifas dirumah
8.1.3.Penyuluhan masa nifas
- Gizi
- Suplemen zat besi/Vit A
- Kebersihan diri/bayi
- Istirahat/tidur
- Pemberian ASI
- Latihan/senam nifas
- Hubungan seks dan keluarga berencana
Tanda-tanda bahaya
Melakukan tindakan
asuhan nifas di
rumah
T : 4x50'
P :4x50'
- Portopolio
- Penampilan
klinik
XV Melakukan
Dokumentasi
asuhan kebidanan
pada ibu nifas dan
menyusui
Mampu
membuat
Dokumentasi
asuhan
kebidanan pada
ibu nifas dan
Dokumentasi asuhan kebidanan pada ibu nifas
dan menyusui
Membuat
Dokumentasi asuhan
kebidanan pada ibu
nifas dan menyusui
T : 4 x50'
P :4x50'
- Portopolio
- Penampilan
klinik
menyusui
TOTAL WAKTU T = 28 jam
P = 56 jam
espon Ayah dan Keluarga Terhadap Bayi Baru Lahir
Posted By: Lusa Rochmawation:29 Januari 2010In:Nifas
Reaksi orangtua dan keluarga terhadap bayi yang baru lahir, berbeda-beda. Hal ini dapat disebabkan oleh berbagai hal, diantaranya reaksi emosi
maupun pengalaman. Masalah lain juga dapat berpengaruh, misalnya masalah pada jumlah anak, keadaan ekonomi, dan lain-lain. Respon yang
mereka perlihatkan pada bayi baru lahir, ada yang positif dan ada juga yang negatif.
Respon Positif
Respon positif dapat ditunjukkan dengan:
1. Ayah dan keluarga menyambut kelahiran bayinya dengan bahagia.
2. Ayah bertambah giat bekerja untuk memenuhi kebutuhan bayi dengan baik.
3. Ayah dan keluarga melibatkan diri dalam perawatan bayi.
4. Perasaan sayang terhadap ibu yang telah melahirkan bayi.
Respon Negatif
Respon negatif dapat ditunjukkan dengan:
1. Kelahiran bayi tidak dinginkan keluarga karena jenis kelamin yang tidak sesuai keinginan.
2. Kurang berbahagia karena kegagalan KB.
3. Perhatian ibu pada bayi yang berlebihan yang menyebabkan ayah merasa kurang mendapat perhatian.
4. Faktor ekonomi mempengaruhi perasaan kurang senang atau kekhawatiran dalam membina keluarga karena kecemasan dalam biaya
hidupnya.
5. Rasa malu baik bagi ibu dan keluarga karena anak lahir cacat.
6. Anak yang dilahirkan merupakan hasil hubungan zina, sehingga menimbulkan rasa malu dan aib bagi keluarga.
Perilaku Orang Tua
Perilaku orang tua yang dapat mempengaruhi ikatan kasih sayang antara orang tua terhadap bayi baru lahir, terbagi menjadi:
1. Perilaku memfasilitasi.
2. Perilaku penghambat.
Perilaku Memfasilitasi
1. Menatap, mencari ciri khas anak.
2. Kontak mata.
3. Memberikan perhatian.
4. Menganggap anak sebagai individu yang unik.
5. Menganggap anak sebagai anggota keluarga.
6. Memberikan senyuman.
7. Berbicara/bernyanyi.
8. Menunjukkan kebanggaan pada anak.
9. Mengajak anak pada acara keluarga.
10. Memahami perilaku anak dan memenuhi kebutuhan anak.
11. Bereaksi positif terhadap perilaku anak.
Perilaku Penghambat
1. Menjauh dari anak, tidak memperdulikan kehadirannya, menghindar, menolak untuk menyentuh anak.
2. Tidak menempatkan anak sebagai anggota keluarga yang lain, tidak memberikan nama pada anak.
3. Menganggap anak sebagai sesuatu yang tidak disukai.
4. Tidak menggenggam jarinya.
5. Terburu-buru dalam menyusui.
6. Menunjukkan kekecewaan pada anak dan tidak memenuhi kebutuhannya.
Respon Orang Tua
Respon orang tua terhadap bayinya dipengaruhi oleh 2 faktor, yaitu:
1. Faktor internal.
2. Faktor eksternal.
Faktor Internal
Yang termasuk faktor internal antara lain genetika, kebudayaan yang mereka praktekkan dan menginternalisasikan dalam diri mereka, moral dan
nilai, kehamilan sebelumnya, pengalaman yang terkait, pengidentifikasian yang telah mereka lakukan selama kehamilan ( mengidentifikasikan diri
mereka sendiri sebagai orang tua, keinginan menjadi orang tua yang telah diimpikan dan efek pelatihan selama kehamilan ).
Faktor Eksternal
Yang termasuk faktor eksternal antara lain perhatian yang diterima selama kehamilan, melahirkan dan postpartum, sikap dan perilaku pengunjung
dan apakah bayinya terpisah dari orang tua selama satu jam pertama dan hari-hari dalam kehidupannya.
Sikap Orang Tua
Kondisi yang mempengaruhi sikap orang tua terhadap bayi meliputi:
1. Kurang kasih sayang.
2. Persaingan tugas orang tua.
3. Pengalaman melahirkan.
4. Kondisi fisik ibu setelah melahirkan.
5. Cemas tentang biaya.
6. Kelainan pada bayi.
7. Penyesuaian diri bayi pascanatal.
8. Tangisan bayi.
9. Kebencian orang tua pada perawatan, privasi dan biaya pengeluaran.
10. Gelisah tentang kenormalan bayi.
11. Gelisah tentang kelangsungan hidup bayi.
12. Penyakit psikologis atau penyalahgunaan alkohol dan kekerasan pada anak.
Respon Antara Ibu dan Bayi
Respon Antara Ibu dan Bayi sejak kontak awal hingga tahap perkembangannya meliputi:
1. Touch (Sentuhan). Ibu memulai dengan sebuah ujung jarinya untuk memeriksa bagian kepala dan ekstremitas bayinya. Perabaan digunakan
sebagai usapan lembut untuk menenangkan bayi.
2. Eye to Eye Contact (Kontak Mata). Kesadaran untuk membuat kontak mata dilakukan kemudian dengan segera. Kontak mata mempunyai
efek yang erat terhadap perkembangan dimulainya hubungan dan rasa percaya sebagai faktor yang penting dalam hubungan manusia pada
umumnya.
3. Odor (Bau Badan). Indera penciuman pada bayi baru lahir sudah berkembang dengan baik dan masih memainkan peran dalam nalurinya
untuk mempertahankan hidup. Indera penciuman bayi akan sangat kuat, jika seorang ibu dapat memberikan bayinya Asi pada waktu tertentu.
4. Bodi Warm (Kehangatan Tubuh). Jika tidak ada komplikasi yang serius, seorang ibu akan dapat langsung meletakkan bayinya di atas perut
ibu, baik setelah tahap kedua dari proses melahirkan atau sebelum tali pusat dipotong. Kontak yang segera ini memberi banyak manfaat baik
bagi ibu maupun si bayi yaitu terjadinya kontak kulit yang membantu agar si bayi tetap hangat.
5. Voice (Suara). Respon antara ibu dan bayi berupa suara masing-masing. Orang tua akan menantikan tangisan pertama bayinya. Dari
tangisan itu, ibu menjadi tenang karena merasa bayinya baik-baik saja (hidup). Bayi dapat mendengar sejak dalam rahim, jadi tidak
mengherankan jika ia dapat mendengarkan suara-suara dan membedakan nada dan kekuatan sejak lahir, meskipun suara-suara itu terhalang
selama beberapa hari oleh sairan amniotik dari rahim yang melekat dalam telinga.
6. Entrainment (Gaya Bahasa). Bayi baru lahir menemukan perubahan struktur pembicaraan dari orang dewasa. Artinya perkembangan bayi
dalam bahasa dipengaruhi kultur, jauh sebelum ia menggunakan bahasa dalam berkomunikasi. Dengan demikian terdapat salah satu yang
akan lebih banyak dibawanya dalam memulai berbicara (gaya bahasa). Selain itu juga mengisyaratkan umpan balik positif bagi orang tua dan
membentuk komunikasi yang efektif.
7. Biorhythmicity (Irama Kehidupan). Janin dalam rahim dapat dikatakan menyesuaikan diri dengan irama alamiah ibunya seperti halnya denyut
jantung. Salah satu tugas bayi setelah lahir adalah menyesuaikan irama dirinya sendiri. Orang tua dapat membantu proses ini dengan
memberikan perawatan penuh kasih sayang secara konsisten dan dengan menggunakan tanda keadaan bahaya bayi untuk mengembangkan
respon bayi dan interaksi sosial serta kesempatan untuk belajar.
Referensi
Ambarwati, 2008. Asuhan Kebidanan Nifas. Yogyakarta: Mitra Cendikia. (hlm: 65-71).
Bahiyatun. 2009. Buku Ajar Asuhan Kebidanan Nifas Normal. Jakarta: EGC. (hlm: 55-56). books.google.co.id/books?id=ZkPup-
5Ozy8C&pg=PA54&lpg=PA54&dq=pengertian+bounding+attachment&source=….
Desty, dkk. 2009. Respon Orang Tua Terhadap Bayi Baru Lahir. Akademi Kebidanan Mamba’ul ‘Ulum Surakarta.
Saleha, 2009. Asuhan Kebidanan Pada Masa Nifas. Jakarta: Salemba Medika (hlm: 45-48).
Suherni, 2007. Perawatan Masa Nifas. Yogyakarta: Fitramaya. (hlm: 66-67).
Image, kidney.org.uk
Konsep Dasar Bounding Attachment
Konsep Dasar Bounding Attachment
A. Pengertian
Bounding attachment adalah sentuhan awal atau kontak kulit antara ibu dan bayi pada menit-menit pertama sampai beberapa jam setelah
kelahiran bayi. Dalam hal ini, kontak ibu dan ayah akan menentukan tumbuh kembang anak menjadi optimal. Pada proses ini terjadi
penggabungan berdasarkan cinta dan penerimaan yang tulus dari orang tua terhadap anaknya dan memberikan dukungan asuhan dalam
keperawatannya.
Klause dan Kennel menyatakan bahwa bounding attachment interaksi orang tua dan bayi secara nyata, baik fisik, emosi, maupun sensori
pada beberapa menit dan jam pertama segera bayi setelah lahir(4)
.
Bounding adalah proses pembentukan sedangkan attachment (membangun ikatan) jadi bounding attachment adalah sebuah peningkatan
hubungan kasih sayang dengan keterikatan batin antara orangtua dan bayi. Hal ini merupakan proses dimana sebagai hasil darisuatu interaksi
terus-menerus antara bayi dan orang tua yang bersifat saling mencintai memberikan keduanya pemenuhan emosional dan saling membutuhkan(5)
.
B. Tahap-tahap Bounding Attachment
Menurut Klaus Kenell dalam Lusa (2010), bagian penting dalam bounding attachment adalah :
1) Perkenalan (acquaintance), dengan melakukan kontak mata, menyentuh, berbicara, dan mengeksplorasi segera setelah mengenal bayinya.
2) Bounding (keterikatan)
3) Attachment, perasaan sayang yang mengikat individu dengan individu lain.
C. Elemen-Elemen Bounding Attachment
Bobak dalam Lusa (2010)(6)
, menyatakan beberapa elemen dalam bounding attachment antara lain adalah sebagai berikut :
1) Sentuhan – Sentuhan atau indera peraba
Dipakai secara ekstensif oleh orang tua dan pengasuh lain sebagai suatu sarana untuk mengenali bayi baru lahir dengan cara mengeksplorasi tubuh bayi
dengan ujung jarinya.
2) Kontak mata
Ketika bayi baru lahir mampu secara fungsional mempertahankan kontak mata, orang tua dan bayi akan menggunakan lebih banyak waktu untuk saling
memandang. Beberapa ibu mengatakan, dengan melakukan kontak mata mereka merasa lebih dekat dengan bayinya
3) Suara
Saling mendengar dan merespon suara anata orang tua dan bayinya juga penting.Orang tua menunggu tangisan pertama bayinya dengan tegang.
4) Aroma
Ibu mengetahui bahwa setiap anak memiliki aroma yang unik. Sedangkan bayi belajar dengan cepat untuk membedakan aroma susu ibunya.
5) Entrainment
Bayi baru lahir bergerak-gerak sesuai dengan struktur pembicaraan orang dewasa. Mereka menggoyang tangan, mengangkat kepala, menendang-nendangkan
kaki, seperti sedang berdansa mengikuti nada suara orang tuanya. Entrainment terjadi saat anak mulai berbicara. Irama ini berfungsi memberi umpan balik positif
kepada orang tua dan menegakkan suatu pola komunikasi efektif yang positif.
6) Bioritme
Anak yang belum lahir atau baru lahir dapat dikatakan senada dengan ritme alamiah ibunya.Untuk itu, salah satu tugas bayi baru lahir ialah membentuk ritme
personal (bioritme). Orang tua dapat membantu proses ini dengan memberi kasih sayang yang konsisten dan dengan memanfaatkan waktu saat bayi mengembangkan
perilaku yang responsif. Hal ini dapat meningkatkan interaksi sosial dan kesempatan bayi untuk belajar.
7) Kontak dini
Saat ini, tidak ada bukti-bukti alamiah yang menunjukkan bahwa kontak dini setelah lahir merupakan hal yang penting untuk hubungan orang tua–anak. Ada
beberapa keuntungan fisiologis yang dapat diperoleh dari kontak dini yaitu kadar oksitosin dan prolaktin meningkat, reflek menghisap dilakukan dini, pembentuk
kekebalan aktif dimulai dan mempercepat proses ikatan antara orang tua dan anak.
D. Bentuk interaksi dalam bounding attachment
Beberapa interaksi yang menyenangkan dalam rangka bounding attachment menurut(4)
, antara lain adalah :
1) Sentuhan pada tungkai dan muka bayi secara halus dengan tangan ibu
2) Sentuhan pada pipi
Sentuhan ini dapat menstimulasi respon yang menyebabkan terjadinya gerakan muka bayi ke arah muka ibu atau ke arah payudara sehingga bayi akan mengusap-
usap menggunakan hidung serta menjilat putingnya dan terjadilah rangsangan untuk sekresi prolaktin.
3) Tatap mata bayi dan ibu
Ketika mata bayi dan ibu saling tatap pandang, menimbulkan perasaan saling memiliki antara ibu dan bayi.
4) Tangis bayi
Saat bayi menangis, ibu dapat memberikan respon berupa sentuhan dan suatu yang lembut serta menyenangkan.
E. Prinsip-prinsip dan upaya meningkatkan bounding attachment
Beberapa prinsip dan upaya dalam rangka meningkatkan bounding attachment, antara lain sebagai berikut :
1) Dilakukan segera (menit pertama jam pertama).
2) Sentuhan orang tua pertama kali.
3) Adanya ikatan yang baik dan sistematis berupa kedekatan orang tua ke anak.
4) Kesehatan emosional orang tua.
5) Terlibat pemberian dukungan dalam proses persalinan.
6) Persiapan PNC (Perinatal Care) sebelumnya.
7) Adaptasi.
8) Tingkat kemampuan, komunikasi dan keterampilan untuk merawat anak.
9) Kontak sedini mungkin sehingga dapat membantu dalam memberi kehangatan pada bayi, menurunkan rasa sakit ibu, serta memberi rasa nyaman.
10) Fasilitas untuk kontak lebih lama.
11) Penekanan pada hal-hal positif.
12) Perawat maternitas khusus (bidan).
13) Libatkan anggota keluarga lainnya/dukungan sosial dari keluarga, teman dan pasangan.
14) Informasi bertahap mengenai bounding attachment.
F. Keuntungan Bounding Attachment
1) Bayi merasa dicintai, diperhatikan, mempercayai, menumbuhkan sikap sosial.
2) Bayi merasa aman, berani mengadakan eksplorasi.
G. Hambatan Bounding Attachment
Wulandari dan Handayani (2010), menyatakan bahwa ikatan antara ibu dan bayi bisa tertunda karena :
1) Prematuritas
Bayi yang baru dilahirkan dalam keadaan prematur, kurang mendapatkan kasih sayang dari ibunya karena kondisi belum cukup viable (kelangsungan hidup
terus) dan belum cukup untuk menyesuaikan dengan extrauterine, bahkan bayi diletakkan dalam incubator sampai bayi dapat hidup sebagai individu yang mandiri.
2) Bayi atau ibu sakit
Pada keadaan ibu atau bayi salah satu menderita sakit, dan harus mendapat khusus, maka ikatan ibu dan bayi akan tertunda.
3) Cacat fisik
Bayi lahir cacat fisik atau cacat bawaan, atau kelainan lainnya dapat menimbulkan stress pada keluarga utamanya ibu.Ibu merasa malu dan kurang
menyukainya.
H. Faktor yang mempengaruhi Bounding Attachment
a. Pemberian ASI ekslusif
Dengan dilakukannya pemberian ASI secara ekslusif segera setelah lahir, secara langsung bayi akan mengalami kontak kulit dengan ibunya yang menjadikan
ibu merasa bangga dan diperlukan , rasa yang dibutuhkan oleh semua manusia.
b. Rawat gabung
Rawat gabungmerupakan salah satu cara yang dapat dilakukan agar antara ibu dan bayi terjalin proses lekat (early infant mother bounding) akibat sentuhan
badan antara ibu dan bayinya. Hal ini sangat mempengaruhi perkembangan psikologis bayi selanjutnya, karena kehangatan tubuh ibu merupakan stimulasi mental
yang mutlak dibutuhkan oleh bayi.Bayi yang merasa aman dan terlindung, merupakan dasar terbentuknya rasa percaya diri dikemudian hari. Dengan memberikan
ASI ekslusif, ibu merasakan kepuasan dapat memenuhi kebutuhan nutrisi bayinya, dan tidak dapat digantikan oleh orang lain. Keadaan ini juga memperlancar
produksi ASI, karena refleks let-down bersifat psikosomatis. Ibu akan merasa bangga karena dapat menyusui dan merawat bayinya sendiri dan bila ayah bayi
berkunjung akan terasa adanya suatu kesatuan keluarga.
c. Kontak mata
Beberapa ibu berkata begitu bayinya bisa memandang mereka,mereka merasa lebih dekat dengan bayinya. Orang tua dan bayi akan menggunakan lebih banyak
waktu untuk saling memandang. Seringkali dalam posisi bertatapan.Bayi baru lahir dapat diletakkan lebih dekat untuk dapat melihat pada orang tuanya.
d. Suara
Mendengar dan merenspon suara antara orang tua dan bayinya sangat penting.orang tua menunggu tangisan pertama bayi mereka dengan tegang.Suara tersebut
membuat mereka yakin bahwa bayinya dalam keadaan sehat.Tangis tersebut membuat mereka melakukan tindakan menghibur. Sewaktu orang tua berbicara dengan
nada suara tinggi, bayi akan menjadi tenang dan berpaling kearah mereka.
e. Aroma
Setiap anak memiliki aroma yang unik dan bayi belajar dengan cepat untuk mengenali aroma susu ibunya.
f. Entrainment
Bayi mengembangkan irama akibat kebiasaan.Bayi baru lahir bergerak-geraksesuai dengan struktur pembicaraan orang dewasa.Mereka menggoyangkan
tangan, mengangkat kepala, menendang-nendangkan kaki.Entrainment terjadi pada saat anak mulai bicara.
g. Bioritme
Salah satu tugas bayi baru lahir adalah membentuk ritme personal (bioritme). Orang tua dapat membantu proses ini dengan memberi kasih sayang yang
konsisten dan dengan memanfaatkan waktu saat bayi mengembangkan perilaku yang responsif.
h. Inisiasi Dini
Setelah bayi lahir, dengan segera bayi ditempatkan diatas ibu.Ia akan merangkak dan mencari puting susu ibunya. Dengan demikian, bayi dapat melakukan
reflek suckling dengan
RPS.doc

RPS.doc

  • 1.
    RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER PertemuanKompetensi Sub-sub Kompetensi Materi Perkuliahan Pengalaman Belajar Alokasi Waktu Penilaian I Mendiskripsikan konsep dasar asuhan masa nifas Mampu mendiskripsikan konsep dasar asuhan masa nifas 1. Konsep dasar asuhan masa nifas: - Pengertian masa nifas - Tujuan asuhan masa nifas - Peran dan tanggung bidan dalam asuhan masa nifas - Tahapan masa nifas - Kebijakan program nasional asuhan masa nifas (hak-hak wanita dalam masa nifas) Mendiskripsikan konsep dasar asuhan masa nifas T : 2x50' P : 4x50' - Uji lisan - Uji tulis/kuis II, III Menjelaskan perubahan fisiologi pada ibu nifas Mampu menjelaskan perubahan fisiologi pada ibu nifas 1. Fisiologi pada ibu nifas: - Sistem reproduksi (payudara, uterus, vagina, perinium) - system pencernaan - system perkemihan - system muskuluskeletal pada ibu nifas - sistem endokrin - sistem kardiovaskuler - sistem hemotologi - sistem pernafasan - Perubahan tanda-tanda vital Menjelaskan perubahan fisiologi pada ibu nifas T :2x50' P :4x50' - Uji lisan - Uji tulis - Presentasi laporan hasil diskusi IV Menjelaskan perubahan Psikologis masa nifas Mampu menjelaskan perubahan Psikologis masa nifas 1. Perubahan Psikologis masa nifas: - Adaptasi psikologi (Taking In, Taking on, Letting go) - Postpartum blues - Kesedihan duka cita, Depresi post partum, Psiko post partum Menjelaskan perubahan Psikologis masa nifas T:2x50' P:4x50' - Uji lisan - Uji tulis - Presentasi laporan hasil diskusi Menjelaskan factor-faktor yang Mampu menjelaskan 1. Factor-faktor yang mempengaruhi masa nifas dan menyusui: Menjelaskan factor- faktor yang T :2 x50' P:4x50' - Uji lisan - Uji tulis
  • 2.
    V mempengaruhi masa nifasdan menyusui factor-faktor yang mempengaruhi masa nifas dan menyusui - Fisik - Psikologis - Lingkungan - Sosial - Budaya - Ekonomi mempengaruhi masa nifas dan menyusui - Presentasi laporan hasil diskusi VI,VII Mengidentifikasi kebutuhan dasar ibu nifas Mampu mengidentifikasi kebutuhan dasar ibu nifas Kebutuhan dasar ibu nifas 1. Nutrisi dan cairan 2. Ambulasi 3. Eliminasi: bak/bab 4. Istirahat 5. Personal Higiene 6. Seksual 7. Olah Raga / senam nifas Mengidentifikasi kebutuhan dasar ibu nifas T : 2x50' P:4x50' - Uji lisan - Uji tulis - Presentasi laporan hasil diskusi - Portopolio - Penampilan klinik VIII, IX Mempraktekkan proses laktasi dan menyusui. Mampu mempraktekkan proses laktasi dan menyusui. Proses laktasi dan menyusui. 1. Anatomi dan fisiologi payudara (review) 2. Dukungan bidan dalam pemberian ASI 3. Manfaat pemberian ASI 4. Komposisi Gizi dalam ASI 5. Upaya memperbanyak ASI 6. Tanda bayi cukup ASI 7. ASI eksklusif 8. Cara merawat payudara 9. Cara menyusui yang benar 10. Masalah dalam pemberian ASI 11. Bayi –bayi dengan kebutuhan khusus 12. Kiat Menyusui ibu bekerja 13. Cara penyimpanan ASI yang benar 14. Menyusui ditempat umum mempraktekkan proses laktasi dan menyusui T : 2x50' P :4x50' - Uji lisan - Uji tulis - Presentasi laporan hasil diskusi
  • 3.
    15. Ibu dgSC/tdk rawat gabung 16. Ibu dengan IMS, HIV, Hepatitis, TB paru 17. Ibu menyusui dengan hamil lagi 18. Ibu dengan hamil kembar X Menjelaskan respon orang tua terhadap bayi baru lahir (BBL) Mampu Menjelaskan respon orang tua terhadap bayi baru lahir (BBL) Respon orang tua terhadap bayi baru lahir (BBL): - Bounding attachment - Respon ayah dan keluarga - Sibling rivalry Menjelaskan respon orang tua terhadap bayi baru lahir (BBL) T :2x50' P :4x 50' - Uji lisan - Uji tulis - Presentasi laporan hasil diskusi XI Melaksanakan deteksi dini komplikasi masa nifas dan penanganannya Mampu melaksanakan deteksi dini komplikasi masa nifas dan penanganannya Deteksi dini komplikasi masa nifas dan penanganannya : 1. Pengertian deteksi dini komplikasi pada masa nifas 2. Tujuan deteksi dini komplikasi pada masa nifas 3. Macam-macam komplikasi yang sering timbul pada masa nifas dan upaya penangannannya : a. Perdarahan masa nifas (HPP) b. Infeksi masa nifas c. Sakit kepala, nyeri epigastrik, penglihatan kabur d. Pembengkakan di wajah atau ekstrimitas e. Demam, muntah, rasa sakit waktu berkemih f. Perubahan payudara g. Kehilangan nafsu makan dalam waktu yang lama h. Perubahan pada ekstremitas (rasa sakit, merah, lunak dan pembengkakan di kaki) i. Perubahan psikologis (rasa sedi dan tidak mampu merawat bayi dan dirinya sendiri) Melaksanakan deteksi dini komplikasi masa nifas dan penanganannya T : 2x 50' P :4x 50' - Uji lisan - Uji tulis - Presentasi laporan hasil diskusi - Portopolio - Penampilan klinik
  • 4.
    XII,XIII Memberikan asuhan ibunifas normal Mampu memberikan asuhan ibu nifas normal Asuhan ibu nifas normal 1. Pengkajian fisik dan psikologis 2. Pengkajian riwayat kesehatan ibu 3. Pemeriksaan fisik - Tanda-tanda vital - Payudaraa - Uterus - Kandung kemih - Genetalia - Perineum - Ekstrimitas bawah 4. Pengkajian psikologis 5. Pengkajian pengetahuaan ibu tentang perawatan pada masa nifas 6. Interpretasi Data : diagnosa/ masalah aktual - Masalah nyeri - Masalah infeksi - Masalah cemas, perawatan perineum, payudara, ASI ekslusif - Masalah KB, Gizi, tanda bahaya, senam. 7. Rumusan diagnosa/ masalah Potensial - Gangguan : perkemihan o BAB o Hubungan seksual 8. Rencana asuhan kebidanan - monitoring tanda-tanda vital - monitoring involusio - monitoring perdarahan - nyeri - infeksi - cemas Memberikan asuhan ibu nifas normal : - Pengkajian - Interpretasi data - Perencanaan - Pelaksanaan - Evaluasi dan tindak lanjut T : 4x50' P : 4x50' - Uji lisan - Uji tulis - Presentasi laporan hasil diskusi - Portopolio - Penampilan klinik
  • 5.
    - KIE : oPerawatan tentang perineum, payudara, o ASI ekslusif o KB, Gizi, tanda bahaya, senam, o Teknik menyusui bayi o Persiapan menjadi orang tua o Persiapan pasien pulang o Anticipatori guidance 9. Pelaksanaan tindakan mandiri dan kolaborasi asuhan kebidanan - Tindakan mandiri - Kolaborasi - KIE/Pendidikan kesehatan. 10. Evaluasi asuhan kebidanan dan tindak lanjut XIV Menjelaskan program tindak lanjut asuhan nifas di rumah Menjelaskan program tindak lanjut asuhan nifas di rumah 8.1. Tindak lanjut asuhan nifas di rumah 8.1.1.Jadwal kunjungan rumah 8.1.2.Asuhan lanjutan masa nifas dirumah 8.1.3.Penyuluhan masa nifas - Gizi - Suplemen zat besi/Vit A - Kebersihan diri/bayi - Istirahat/tidur - Pemberian ASI - Latihan/senam nifas - Hubungan seks dan keluarga berencana Tanda-tanda bahaya Melakukan tindakan asuhan nifas di rumah T : 4x50' P :4x50' - Portopolio - Penampilan klinik XV Melakukan Dokumentasi asuhan kebidanan pada ibu nifas dan menyusui Mampu membuat Dokumentasi asuhan kebidanan pada ibu nifas dan Dokumentasi asuhan kebidanan pada ibu nifas dan menyusui Membuat Dokumentasi asuhan kebidanan pada ibu nifas dan menyusui T : 4 x50' P :4x50' - Portopolio - Penampilan klinik
  • 6.
    menyusui TOTAL WAKTU T= 28 jam P = 56 jam
  • 7.
    espon Ayah danKeluarga Terhadap Bayi Baru Lahir Posted By: Lusa Rochmawation:29 Januari 2010In:Nifas Reaksi orangtua dan keluarga terhadap bayi yang baru lahir, berbeda-beda. Hal ini dapat disebabkan oleh berbagai hal, diantaranya reaksi emosi maupun pengalaman. Masalah lain juga dapat berpengaruh, misalnya masalah pada jumlah anak, keadaan ekonomi, dan lain-lain. Respon yang mereka perlihatkan pada bayi baru lahir, ada yang positif dan ada juga yang negatif. Respon Positif Respon positif dapat ditunjukkan dengan: 1. Ayah dan keluarga menyambut kelahiran bayinya dengan bahagia. 2. Ayah bertambah giat bekerja untuk memenuhi kebutuhan bayi dengan baik. 3. Ayah dan keluarga melibatkan diri dalam perawatan bayi. 4. Perasaan sayang terhadap ibu yang telah melahirkan bayi. Respon Negatif Respon negatif dapat ditunjukkan dengan:
  • 8.
    1. Kelahiran bayitidak dinginkan keluarga karena jenis kelamin yang tidak sesuai keinginan. 2. Kurang berbahagia karena kegagalan KB. 3. Perhatian ibu pada bayi yang berlebihan yang menyebabkan ayah merasa kurang mendapat perhatian. 4. Faktor ekonomi mempengaruhi perasaan kurang senang atau kekhawatiran dalam membina keluarga karena kecemasan dalam biaya hidupnya. 5. Rasa malu baik bagi ibu dan keluarga karena anak lahir cacat. 6. Anak yang dilahirkan merupakan hasil hubungan zina, sehingga menimbulkan rasa malu dan aib bagi keluarga. Perilaku Orang Tua Perilaku orang tua yang dapat mempengaruhi ikatan kasih sayang antara orang tua terhadap bayi baru lahir, terbagi menjadi: 1. Perilaku memfasilitasi. 2. Perilaku penghambat. Perilaku Memfasilitasi 1. Menatap, mencari ciri khas anak. 2. Kontak mata. 3. Memberikan perhatian. 4. Menganggap anak sebagai individu yang unik. 5. Menganggap anak sebagai anggota keluarga. 6. Memberikan senyuman. 7. Berbicara/bernyanyi. 8. Menunjukkan kebanggaan pada anak. 9. Mengajak anak pada acara keluarga. 10. Memahami perilaku anak dan memenuhi kebutuhan anak. 11. Bereaksi positif terhadap perilaku anak. Perilaku Penghambat 1. Menjauh dari anak, tidak memperdulikan kehadirannya, menghindar, menolak untuk menyentuh anak. 2. Tidak menempatkan anak sebagai anggota keluarga yang lain, tidak memberikan nama pada anak. 3. Menganggap anak sebagai sesuatu yang tidak disukai. 4. Tidak menggenggam jarinya. 5. Terburu-buru dalam menyusui.
  • 9.
    6. Menunjukkan kekecewaanpada anak dan tidak memenuhi kebutuhannya. Respon Orang Tua Respon orang tua terhadap bayinya dipengaruhi oleh 2 faktor, yaitu: 1. Faktor internal. 2. Faktor eksternal. Faktor Internal Yang termasuk faktor internal antara lain genetika, kebudayaan yang mereka praktekkan dan menginternalisasikan dalam diri mereka, moral dan nilai, kehamilan sebelumnya, pengalaman yang terkait, pengidentifikasian yang telah mereka lakukan selama kehamilan ( mengidentifikasikan diri mereka sendiri sebagai orang tua, keinginan menjadi orang tua yang telah diimpikan dan efek pelatihan selama kehamilan ). Faktor Eksternal Yang termasuk faktor eksternal antara lain perhatian yang diterima selama kehamilan, melahirkan dan postpartum, sikap dan perilaku pengunjung dan apakah bayinya terpisah dari orang tua selama satu jam pertama dan hari-hari dalam kehidupannya. Sikap Orang Tua
  • 10.
    Kondisi yang mempengaruhisikap orang tua terhadap bayi meliputi: 1. Kurang kasih sayang. 2. Persaingan tugas orang tua. 3. Pengalaman melahirkan. 4. Kondisi fisik ibu setelah melahirkan. 5. Cemas tentang biaya. 6. Kelainan pada bayi. 7. Penyesuaian diri bayi pascanatal. 8. Tangisan bayi. 9. Kebencian orang tua pada perawatan, privasi dan biaya pengeluaran. 10. Gelisah tentang kenormalan bayi. 11. Gelisah tentang kelangsungan hidup bayi. 12. Penyakit psikologis atau penyalahgunaan alkohol dan kekerasan pada anak.
  • 11.
    Respon Antara Ibudan Bayi Respon Antara Ibu dan Bayi sejak kontak awal hingga tahap perkembangannya meliputi: 1. Touch (Sentuhan). Ibu memulai dengan sebuah ujung jarinya untuk memeriksa bagian kepala dan ekstremitas bayinya. Perabaan digunakan sebagai usapan lembut untuk menenangkan bayi. 2. Eye to Eye Contact (Kontak Mata). Kesadaran untuk membuat kontak mata dilakukan kemudian dengan segera. Kontak mata mempunyai efek yang erat terhadap perkembangan dimulainya hubungan dan rasa percaya sebagai faktor yang penting dalam hubungan manusia pada umumnya. 3. Odor (Bau Badan). Indera penciuman pada bayi baru lahir sudah berkembang dengan baik dan masih memainkan peran dalam nalurinya untuk mempertahankan hidup. Indera penciuman bayi akan sangat kuat, jika seorang ibu dapat memberikan bayinya Asi pada waktu tertentu. 4. Bodi Warm (Kehangatan Tubuh). Jika tidak ada komplikasi yang serius, seorang ibu akan dapat langsung meletakkan bayinya di atas perut ibu, baik setelah tahap kedua dari proses melahirkan atau sebelum tali pusat dipotong. Kontak yang segera ini memberi banyak manfaat baik bagi ibu maupun si bayi yaitu terjadinya kontak kulit yang membantu agar si bayi tetap hangat. 5. Voice (Suara). Respon antara ibu dan bayi berupa suara masing-masing. Orang tua akan menantikan tangisan pertama bayinya. Dari tangisan itu, ibu menjadi tenang karena merasa bayinya baik-baik saja (hidup). Bayi dapat mendengar sejak dalam rahim, jadi tidak mengherankan jika ia dapat mendengarkan suara-suara dan membedakan nada dan kekuatan sejak lahir, meskipun suara-suara itu terhalang selama beberapa hari oleh sairan amniotik dari rahim yang melekat dalam telinga. 6. Entrainment (Gaya Bahasa). Bayi baru lahir menemukan perubahan struktur pembicaraan dari orang dewasa. Artinya perkembangan bayi dalam bahasa dipengaruhi kultur, jauh sebelum ia menggunakan bahasa dalam berkomunikasi. Dengan demikian terdapat salah satu yang akan lebih banyak dibawanya dalam memulai berbicara (gaya bahasa). Selain itu juga mengisyaratkan umpan balik positif bagi orang tua dan membentuk komunikasi yang efektif. 7. Biorhythmicity (Irama Kehidupan). Janin dalam rahim dapat dikatakan menyesuaikan diri dengan irama alamiah ibunya seperti halnya denyut jantung. Salah satu tugas bayi setelah lahir adalah menyesuaikan irama dirinya sendiri. Orang tua dapat membantu proses ini dengan memberikan perawatan penuh kasih sayang secara konsisten dan dengan menggunakan tanda keadaan bahaya bayi untuk mengembangkan respon bayi dan interaksi sosial serta kesempatan untuk belajar. Referensi Ambarwati, 2008. Asuhan Kebidanan Nifas. Yogyakarta: Mitra Cendikia. (hlm: 65-71). Bahiyatun. 2009. Buku Ajar Asuhan Kebidanan Nifas Normal. Jakarta: EGC. (hlm: 55-56). books.google.co.id/books?id=ZkPup- 5Ozy8C&pg=PA54&lpg=PA54&dq=pengertian+bounding+attachment&source=…. Desty, dkk. 2009. Respon Orang Tua Terhadap Bayi Baru Lahir. Akademi Kebidanan Mamba’ul ‘Ulum Surakarta. Saleha, 2009. Asuhan Kebidanan Pada Masa Nifas. Jakarta: Salemba Medika (hlm: 45-48). Suherni, 2007. Perawatan Masa Nifas. Yogyakarta: Fitramaya. (hlm: 66-67). Image, kidney.org.uk
  • 12.
    Konsep Dasar BoundingAttachment Konsep Dasar Bounding Attachment A. Pengertian Bounding attachment adalah sentuhan awal atau kontak kulit antara ibu dan bayi pada menit-menit pertama sampai beberapa jam setelah kelahiran bayi. Dalam hal ini, kontak ibu dan ayah akan menentukan tumbuh kembang anak menjadi optimal. Pada proses ini terjadi penggabungan berdasarkan cinta dan penerimaan yang tulus dari orang tua terhadap anaknya dan memberikan dukungan asuhan dalam keperawatannya. Klause dan Kennel menyatakan bahwa bounding attachment interaksi orang tua dan bayi secara nyata, baik fisik, emosi, maupun sensori pada beberapa menit dan jam pertama segera bayi setelah lahir(4) . Bounding adalah proses pembentukan sedangkan attachment (membangun ikatan) jadi bounding attachment adalah sebuah peningkatan hubungan kasih sayang dengan keterikatan batin antara orangtua dan bayi. Hal ini merupakan proses dimana sebagai hasil darisuatu interaksi terus-menerus antara bayi dan orang tua yang bersifat saling mencintai memberikan keduanya pemenuhan emosional dan saling membutuhkan(5) .
  • 13.
    B. Tahap-tahap BoundingAttachment Menurut Klaus Kenell dalam Lusa (2010), bagian penting dalam bounding attachment adalah : 1) Perkenalan (acquaintance), dengan melakukan kontak mata, menyentuh, berbicara, dan mengeksplorasi segera setelah mengenal bayinya. 2) Bounding (keterikatan) 3) Attachment, perasaan sayang yang mengikat individu dengan individu lain. C. Elemen-Elemen Bounding Attachment Bobak dalam Lusa (2010)(6) , menyatakan beberapa elemen dalam bounding attachment antara lain adalah sebagai berikut : 1) Sentuhan – Sentuhan atau indera peraba Dipakai secara ekstensif oleh orang tua dan pengasuh lain sebagai suatu sarana untuk mengenali bayi baru lahir dengan cara mengeksplorasi tubuh bayi dengan ujung jarinya. 2) Kontak mata Ketika bayi baru lahir mampu secara fungsional mempertahankan kontak mata, orang tua dan bayi akan menggunakan lebih banyak waktu untuk saling memandang. Beberapa ibu mengatakan, dengan melakukan kontak mata mereka merasa lebih dekat dengan bayinya 3) Suara Saling mendengar dan merespon suara anata orang tua dan bayinya juga penting.Orang tua menunggu tangisan pertama bayinya dengan tegang. 4) Aroma Ibu mengetahui bahwa setiap anak memiliki aroma yang unik. Sedangkan bayi belajar dengan cepat untuk membedakan aroma susu ibunya. 5) Entrainment
  • 14.
    Bayi baru lahirbergerak-gerak sesuai dengan struktur pembicaraan orang dewasa. Mereka menggoyang tangan, mengangkat kepala, menendang-nendangkan kaki, seperti sedang berdansa mengikuti nada suara orang tuanya. Entrainment terjadi saat anak mulai berbicara. Irama ini berfungsi memberi umpan balik positif kepada orang tua dan menegakkan suatu pola komunikasi efektif yang positif. 6) Bioritme Anak yang belum lahir atau baru lahir dapat dikatakan senada dengan ritme alamiah ibunya.Untuk itu, salah satu tugas bayi baru lahir ialah membentuk ritme personal (bioritme). Orang tua dapat membantu proses ini dengan memberi kasih sayang yang konsisten dan dengan memanfaatkan waktu saat bayi mengembangkan perilaku yang responsif. Hal ini dapat meningkatkan interaksi sosial dan kesempatan bayi untuk belajar. 7) Kontak dini Saat ini, tidak ada bukti-bukti alamiah yang menunjukkan bahwa kontak dini setelah lahir merupakan hal yang penting untuk hubungan orang tua–anak. Ada beberapa keuntungan fisiologis yang dapat diperoleh dari kontak dini yaitu kadar oksitosin dan prolaktin meningkat, reflek menghisap dilakukan dini, pembentuk kekebalan aktif dimulai dan mempercepat proses ikatan antara orang tua dan anak. D. Bentuk interaksi dalam bounding attachment Beberapa interaksi yang menyenangkan dalam rangka bounding attachment menurut(4) , antara lain adalah : 1) Sentuhan pada tungkai dan muka bayi secara halus dengan tangan ibu 2) Sentuhan pada pipi Sentuhan ini dapat menstimulasi respon yang menyebabkan terjadinya gerakan muka bayi ke arah muka ibu atau ke arah payudara sehingga bayi akan mengusap- usap menggunakan hidung serta menjilat putingnya dan terjadilah rangsangan untuk sekresi prolaktin. 3) Tatap mata bayi dan ibu Ketika mata bayi dan ibu saling tatap pandang, menimbulkan perasaan saling memiliki antara ibu dan bayi. 4) Tangis bayi
  • 15.
    Saat bayi menangis,ibu dapat memberikan respon berupa sentuhan dan suatu yang lembut serta menyenangkan. E. Prinsip-prinsip dan upaya meningkatkan bounding attachment Beberapa prinsip dan upaya dalam rangka meningkatkan bounding attachment, antara lain sebagai berikut : 1) Dilakukan segera (menit pertama jam pertama). 2) Sentuhan orang tua pertama kali. 3) Adanya ikatan yang baik dan sistematis berupa kedekatan orang tua ke anak. 4) Kesehatan emosional orang tua. 5) Terlibat pemberian dukungan dalam proses persalinan. 6) Persiapan PNC (Perinatal Care) sebelumnya. 7) Adaptasi. 8) Tingkat kemampuan, komunikasi dan keterampilan untuk merawat anak. 9) Kontak sedini mungkin sehingga dapat membantu dalam memberi kehangatan pada bayi, menurunkan rasa sakit ibu, serta memberi rasa nyaman. 10) Fasilitas untuk kontak lebih lama. 11) Penekanan pada hal-hal positif. 12) Perawat maternitas khusus (bidan). 13) Libatkan anggota keluarga lainnya/dukungan sosial dari keluarga, teman dan pasangan. 14) Informasi bertahap mengenai bounding attachment. F. Keuntungan Bounding Attachment 1) Bayi merasa dicintai, diperhatikan, mempercayai, menumbuhkan sikap sosial.
  • 16.
    2) Bayi merasaaman, berani mengadakan eksplorasi. G. Hambatan Bounding Attachment Wulandari dan Handayani (2010), menyatakan bahwa ikatan antara ibu dan bayi bisa tertunda karena : 1) Prematuritas Bayi yang baru dilahirkan dalam keadaan prematur, kurang mendapatkan kasih sayang dari ibunya karena kondisi belum cukup viable (kelangsungan hidup terus) dan belum cukup untuk menyesuaikan dengan extrauterine, bahkan bayi diletakkan dalam incubator sampai bayi dapat hidup sebagai individu yang mandiri. 2) Bayi atau ibu sakit Pada keadaan ibu atau bayi salah satu menderita sakit, dan harus mendapat khusus, maka ikatan ibu dan bayi akan tertunda. 3) Cacat fisik Bayi lahir cacat fisik atau cacat bawaan, atau kelainan lainnya dapat menimbulkan stress pada keluarga utamanya ibu.Ibu merasa malu dan kurang menyukainya. H. Faktor yang mempengaruhi Bounding Attachment a. Pemberian ASI ekslusif Dengan dilakukannya pemberian ASI secara ekslusif segera setelah lahir, secara langsung bayi akan mengalami kontak kulit dengan ibunya yang menjadikan ibu merasa bangga dan diperlukan , rasa yang dibutuhkan oleh semua manusia. b. Rawat gabung Rawat gabungmerupakan salah satu cara yang dapat dilakukan agar antara ibu dan bayi terjalin proses lekat (early infant mother bounding) akibat sentuhan badan antara ibu dan bayinya. Hal ini sangat mempengaruhi perkembangan psikologis bayi selanjutnya, karena kehangatan tubuh ibu merupakan stimulasi mental yang mutlak dibutuhkan oleh bayi.Bayi yang merasa aman dan terlindung, merupakan dasar terbentuknya rasa percaya diri dikemudian hari. Dengan memberikan
  • 17.
    ASI ekslusif, ibumerasakan kepuasan dapat memenuhi kebutuhan nutrisi bayinya, dan tidak dapat digantikan oleh orang lain. Keadaan ini juga memperlancar produksi ASI, karena refleks let-down bersifat psikosomatis. Ibu akan merasa bangga karena dapat menyusui dan merawat bayinya sendiri dan bila ayah bayi berkunjung akan terasa adanya suatu kesatuan keluarga. c. Kontak mata Beberapa ibu berkata begitu bayinya bisa memandang mereka,mereka merasa lebih dekat dengan bayinya. Orang tua dan bayi akan menggunakan lebih banyak waktu untuk saling memandang. Seringkali dalam posisi bertatapan.Bayi baru lahir dapat diletakkan lebih dekat untuk dapat melihat pada orang tuanya. d. Suara Mendengar dan merenspon suara antara orang tua dan bayinya sangat penting.orang tua menunggu tangisan pertama bayi mereka dengan tegang.Suara tersebut membuat mereka yakin bahwa bayinya dalam keadaan sehat.Tangis tersebut membuat mereka melakukan tindakan menghibur. Sewaktu orang tua berbicara dengan nada suara tinggi, bayi akan menjadi tenang dan berpaling kearah mereka. e. Aroma Setiap anak memiliki aroma yang unik dan bayi belajar dengan cepat untuk mengenali aroma susu ibunya. f. Entrainment Bayi mengembangkan irama akibat kebiasaan.Bayi baru lahir bergerak-geraksesuai dengan struktur pembicaraan orang dewasa.Mereka menggoyangkan tangan, mengangkat kepala, menendang-nendangkan kaki.Entrainment terjadi pada saat anak mulai bicara. g. Bioritme Salah satu tugas bayi baru lahir adalah membentuk ritme personal (bioritme). Orang tua dapat membantu proses ini dengan memberi kasih sayang yang konsisten dan dengan memanfaatkan waktu saat bayi mengembangkan perilaku yang responsif. h. Inisiasi Dini Setelah bayi lahir, dengan segera bayi ditempatkan diatas ibu.Ia akan merangkak dan mencari puting susu ibunya. Dengan demikian, bayi dapat melakukan reflek suckling dengan