MODEL-MODEL
PENGEMBANGAN KURIKULUM
Stillia Mubarokah, Wahyu Jaka Saputra, Arief Kurniatama,
Listya Buana Putra, Rosaliana Intan Pitaloka
Model Tyler
Model Taba
Model Wheller
Model Saylor,
Alexander, Lewis
Model Oliva
Roger’s
Interpersonal
Relation Model
Emerging
Tecnical Model
Model
Systematic
Action-Research
Model Nicholls
Model Leyton
Soto
The
Administrative
Model
Model
Beauchamp
The Grass-Roots
Model
Model Dynamic
Skillbeck
Model Seller
Miller
The
Demonstration
Model
Model Tyler Model Taba
Model
Wheller
Stillia
Mubarokah
S841708017
Wahyu Joko
Saputra
S84170819
Arief
Kurniatama
S841708022
Listya
Buana Putra
S941708023
Rosaliana
Intan
Pitaloka
S841708028
MODEL TYLER
Tyler menyarankan bahwa perencanaan
kurikulum mengidentifikasi tujuan umum
dengan mengumpulkan data dari tiga sumber:
 Siswa
 Kehidupan kontemporer di luar sekolah
 Mata pelajaran
MODEL TYLER
Pengakuan akan
pentingnya setiap
individu manusia
yang tidak
memandang ras,
suku bangsa,
sosial atau status
ekonomi
Kesempatan
untuk
berpartisipasi luas
dalam semua
fase kegiatan
kelompok sosial
dalam
masyarakat
Dorongan pada
keberagaman
daripada
bergantung pada
satu jenis
kepribadian
Kepercayaan
pada intelegensi
sebagai metode
pemecahan
masalah daripada
bergantung pada
otoritas dari
kelompok
aristrokratik
Tyler menugaskan guru untuk menguraikan nilai-nilai
filsafat pendidikan dan sosial; dan menekankan pada
4 tujuan demokratis
MODEL TABA
Taba menggunakan
pendekatan akar
rumput (grass-roots
approach) bagi
pengembangan
kurikulum.
Kurikulum harus
dirancang oleh para
guru dan bukan
diberikan oleh pihak
berwenang.
Model ini menganut
pendekatan induktif
yang dimulai dengan
hal khusus dan
dibangun menjadi
suatu rancangan
umum.
Guru harus memulai
proses dengan
menciptakan suatu
unit belajar
mengajar
MODEL TABA
Memproduksi unit percontohan yang mewakili
peringkat kelas dan bidang ilmu.
Mengorganisasi kegiatan pembelajaran
Menentukan tentang apa yang akan dievaluasi
dan cara serta alat yang dipakai untuk melakukan
evaluasi
Memeriksa keseimbangan dan urutan
Memasang dan menyebarkan unit baru
Langkah menyelesaikan
perubahan kurikulum
MODEL
WHEELER
Model Wheeler bersifat cyclic (siklis) atau
berhubungan dengan masa putaran
(berkelanjutan)
Model ini berbeda dengan model Tyler, Taba,
Oliva, Beaucham
MODEL
WHELLER
Menentukan
tujuan umum
Menentukan
pengalaman
belajar
Menentukan isi
dan materi
pelajaran
Mengorganisasi
atau
menyatukan
pengalaman
belajar
Melakukan
evaluasi
Tahapan
dalam model
Wheller
Model Saylor,
Alexander,
Lewis
Model Oliva
Roger
Interpersonal
Relation
Model
Emerging
Technical
Model
Stillia
Mubarokah
S841708017
Wahyu Joko
Saputra
S84170819
Arief
Kurniatama
S841708022
Listya
Buana
Putra
S941708023
Rosaliana
Intan
Pitaloka
S841708028
MODEL SAYLOR,
ALEXANDER, LEWIS
Model ini mengindikasikan bahwa
perencana kurikulum memulai
kegiatannya dengan melakukan
spesifikasi tujuan pembelajaran
umum (TPU) dan tujuan
pembelajaran khusus (TPK) yang
ingin dilaksanakan.
Tahapan dalam model Saylor, Alexander, Lewis
adalah sebagai berikut:
Melaksanakan
eksperimen
Diteorikan
Diimplementasikan
MODEL OLIVA
Model Oliva berprinsip bahwa kurikulum itu harus
sederhana, komprehensif dan sistematis.
ROGER’S
INTERNATIONAL
RELATION MODEL
Menurut Rogers:
manusia berada dalam proses perubahan
(becoming, developing, changing), sesungguhnya
ia mempunyai kekuatan dan potensi untuk
berkembang sendiri, tetapi karena ada hambatan-
hambatan tertentu ia membutuhkan orang lain
untuk membantu memperlancar atau mempercepat
perubahan tersebut.
ROGER’S
INTERNATIONAL
RELATION MODEL
Secara siklus garis besar dan berurutan terdiri
atas uraian filosofis, uraian tujuan pembelajaran
umum (goals), dan tujuan pembelajaran khusus
(objectives), desain perencanaan,
implementasi, dan evaluasi.
ROGER’S
INTERNATIONAL
RELATION MODEL
Ada empat langkah
pengembangan kurikulum model
Rogers.
Pemilihan target dari sistem pendidikan
Partisipasi guru dalam pengalaman kelompok responsif
Pengembangan kelompok yang intensif untuk satu kelas
Partisipasi orang tua dalam kegiatan
EMERGING
TECHNICAL
MODEL
Model teknologis dari tiga
variasi model
Model
analisis
tingkah
laku
Model
berdasarkan
komputer
Model
analisis
sistem
Model
Systematic
Action-
Research
Model
Nicholls
Model Leyton
Soto
Stillia
Mubarokah
S841708017
Wahyu
Joko
Saputra
S84170819
Arief
Kurniatama
S841708022
Listya
Buana Putra
S941708023
Rosaliana
Intan
Pitaloka
S841708028
MODEL SYSTEMATIC
ACTION-RESEARCH
Diagnosing Action Planning Action Taking Evaluating Specifying
Learning
MODEL SYSTEMATIC
ACTION-RESEARCH Langkah-langkah dalam Model
Nicholls
Analisis Situasi
Menentukan tujuan khusus
Menentukan dan mengorganisasi isi pelajaran
Menentukan dan mengorganisasi metode
Evaluasi
MODEL LEYTON
SOTO
Leyton Soto telah mempersentasikan
sebuah intergrasi dan komprehensif,
meskipun model yang relatif kompleks
untuk pengembangan kurikulum dari sudut
memilih tujuan ke titik mengevaluasi
pengalaman.
BAGAN MODEL
LEYTON SOTO
The
Administrative
Model
Beauchamp
Model
The Grass-
Roots Model
Stillia
Mubarokah
S841708017
Wahyu Joko
Saputra
S84170819
Arief
Kurniatama
S841708022
Listya
Buana Putra
S941708023
Rosaliana
Intan
Pitaloka
S841708028
THE
ADMINISTRATIVE
MODEL
Model ini disebut juga dengan istilah dari
atas ke bawah (top down) atau staf lini
(line-staff procedure), artinya
pengembangan kurikulum ini adalah ide
awal dan pelaksanaannya dimulai dari
pejabat tingkat atas pembuat keputusan
dan kebijakan berkaitan dengan
pengembangan kurikulum.
THE
ADMINISTRATIVE
MODEL Langkah-langkah The
Administrative Model
Menyiapkan seperangkat dokumen kurikulum baru
Menyiapkan instalasi dan implementasi dokumen
MODEL
BEAUCHAMP
Model ini dikembangkan oleh G.A.
Beauchamp yang mencakup beberapa
komponen penting dalam pengembangan
kurikulum, yakni
1. menetapkan arena lingkup wilayah,
2. menetapkan personalia,
3. organisasi dan prosedur pengembangan
kurikulum,
4. implementasi kurikulum dan evaluasi
kurikulum.
MODEL
BEAUCHAMP Langkah-langkah Model
Beauchamp
Menetapkan arena yang akan dicakup
oleh kurikulum
Menunjukan tim pengembang kurikulum
yang relevan
Organisasi dan pengembangan
kurikulum
Mengimplementasikan kurikulum di
sekolah
Mengevaluasi kurikulum
THE GRASS-
ROOT MODEL
Model akar rumput the grass roots akan
berkembang dalam sistem pendidikan yang
bersifat desentralisasi. Guru sebagai fasilitator
mengadakan upaya mengembangkan suatu
komponen kurikulum yang memungkinkan
terjadinya kompetisi dalam meningkatkan mutu
dan sistem pendidikan sebagai
penyempurnaan pengajaran di kelasnya dalam
bidang tertentu pada sekolah yang bertujuan
melahirkan manusia yang mandiri dan kreatif.
Guru Sekolah
Masalah
Narasumber /
Atasan
Keseluruhan
Bidang studi
tertentu
Membimbing
Mendorong Lokakarya
Kesimpulan
1. Guru
2. Kepala
sekolah
3. Orang Tua
Siswa
4. Anggota
Masyarakat
5. Nara sumber
Tugas
Mencari
Ada
Diikuti
Gagasan
BAGAN
THE
GRASS
ROOTS
MODEL
Model Dynamic
Skillbeck
Model Seller-
Miller
The
Demonstration
Model
Stillia
Mubarokah
S841708017
Wahyu Joko
Saputra
S84170819
Arief
Kurniatama
S841708022
Listya
Buana Putra
S941708023
Rosaliana
Intan
Pitaloka
S841708028
MODEL DYNAMIC
SKILLBECK
Menurut Skillbeck:
Langkah-langkah pengembangan kurikulum
sebagai berikut:
• Menganalisis situasi
• Memformulasikan tujuan
• Menyusun program
• Mempretasi dan implementasi
• Monitoring, umpan balik, asesmen dan
rekontruksi
MODEL SELLER
MILLER
Klarifikasi
Orientasi
Kurikulum
Pengembangan
Tujuan
Identifikasi
Model Mengajar
Implementasi
Tahap Pengembangan
Model Seller Miller
MODEL
DEMONSTRASI
 Model demonstrasi dikembangan untuk
memperkenalkan suatu inovasi kurikulum dalam
skala kecil yang diprakarsai oleh sekelompok
guru yang bekerja sama dengan ahli yang
bermaksud mengadakan perbaikan kurikulum
 Model ini hanya mencakup satu atau beberapa
sekolah karena sifatnya mengubah atau
mengganti kurikulum yang ada.
BENTUK
MODEL
DEMONTRASI
1
 Model demonstrasi cenderung bersifat formal, sekelompok guru
diorganisasikan dalam suatu sekolah secara terpisah.
 Tugas mereka adalah mengembangkan proyek percobaan
kurikulum.
 Tujuannya sama seperti tim penelitian dan pengembangan secara
internal, yaitu untuk menghasilkan segmen baru dalam kurikulum
dengan harapan hasilnya dapat diadopsi oleh kurikulum sekolah.
 Dalam bentuk pertama ini, inisiatif dan organisasi kurikulum berasal
dari atas sehingga model ini dianggap sebagai representasi variasi
model administratif.
2
 Model demonstrasi dianggap kurang formal dibandingkan dengan
bentuk pertama karena guru-guru yang merasa kurang puas
dengan kurikulum yang ada membuat eksperimen di dalam area
tertentu.
 Mereka bekerja dalam bentuk organisasi tak terstruktur atau bekerja
sendiri-sendiri.
 Tujuannya untuk menghasilkan alternatif praktik kurikulum.
 Jika eksperimen berhasil, maka diusulkan untuk diadopsi
penggunaannya di seluruh sekolah.
BENTUK
MODEL
DEMONTRASI
35
Daftar Pustaka
Abdulah,Idi. 2007. Pengembangan Kurikulum Teori dan Pratik. Ar RUZZ: Jogjakarta.
Arifin, Zainal. 2011. Konsep dan Model Pengembangan Kurikulum. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Brady, Laurie. 2006. Curriculum Models and Curriculum Commonplaces. Artikel Laporan (Vol. 14 No. 2,
197-200). Diakses melalui http://www.tandfonline.com/doi/abs/10.1080/0022027820140207 pada
tanggal 26 September 2017.
Hamalik, Oemar. 2009. Dasar-Dasar Pengembangan Kurikulum. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya.
Oliva, Peter F. 2005. Developing the Curriculum. United States of America: Pearson Education.
Sanjaya, Wina. 2009. Kurikulum dan Pembelajaran, Teori dan Praktik Pengembangan KTSP. Jakarta:
Kencana.
Sukmadinata, N.S. 1988. Prinsip dan Landasan Pengembangan Kurikulum. Jakarta: Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.
Sukmadinata, N.S. 2009. Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek. Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya.
Tim Pengembang MKDP Kurikulum dan Pembelajaran. 2013. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: PT.
Raja Grafindo Persada.
terima kasih

Model-model Pengembangan Kurikulum

  • 1.
    MODEL-MODEL PENGEMBANGAN KURIKULUM Stillia Mubarokah,Wahyu Jaka Saputra, Arief Kurniatama, Listya Buana Putra, Rosaliana Intan Pitaloka
  • 2.
    Model Tyler Model Taba ModelWheller Model Saylor, Alexander, Lewis Model Oliva Roger’s Interpersonal Relation Model Emerging Tecnical Model Model Systematic Action-Research Model Nicholls Model Leyton Soto The Administrative Model Model Beauchamp The Grass-Roots Model Model Dynamic Skillbeck Model Seller Miller The Demonstration Model
  • 3.
    Model Tyler ModelTaba Model Wheller Stillia Mubarokah S841708017 Wahyu Joko Saputra S84170819 Arief Kurniatama S841708022 Listya Buana Putra S941708023 Rosaliana Intan Pitaloka S841708028
  • 4.
    MODEL TYLER Tyler menyarankanbahwa perencanaan kurikulum mengidentifikasi tujuan umum dengan mengumpulkan data dari tiga sumber:  Siswa  Kehidupan kontemporer di luar sekolah  Mata pelajaran
  • 5.
    MODEL TYLER Pengakuan akan pentingnyasetiap individu manusia yang tidak memandang ras, suku bangsa, sosial atau status ekonomi Kesempatan untuk berpartisipasi luas dalam semua fase kegiatan kelompok sosial dalam masyarakat Dorongan pada keberagaman daripada bergantung pada satu jenis kepribadian Kepercayaan pada intelegensi sebagai metode pemecahan masalah daripada bergantung pada otoritas dari kelompok aristrokratik Tyler menugaskan guru untuk menguraikan nilai-nilai filsafat pendidikan dan sosial; dan menekankan pada 4 tujuan demokratis
  • 6.
    MODEL TABA Taba menggunakan pendekatanakar rumput (grass-roots approach) bagi pengembangan kurikulum. Kurikulum harus dirancang oleh para guru dan bukan diberikan oleh pihak berwenang. Model ini menganut pendekatan induktif yang dimulai dengan hal khusus dan dibangun menjadi suatu rancangan umum. Guru harus memulai proses dengan menciptakan suatu unit belajar mengajar
  • 7.
    MODEL TABA Memproduksi unitpercontohan yang mewakili peringkat kelas dan bidang ilmu. Mengorganisasi kegiatan pembelajaran Menentukan tentang apa yang akan dievaluasi dan cara serta alat yang dipakai untuk melakukan evaluasi Memeriksa keseimbangan dan urutan Memasang dan menyebarkan unit baru Langkah menyelesaikan perubahan kurikulum
  • 8.
    MODEL WHEELER Model Wheeler bersifatcyclic (siklis) atau berhubungan dengan masa putaran (berkelanjutan) Model ini berbeda dengan model Tyler, Taba, Oliva, Beaucham
  • 9.
    MODEL WHELLER Menentukan tujuan umum Menentukan pengalaman belajar Menentukan isi danmateri pelajaran Mengorganisasi atau menyatukan pengalaman belajar Melakukan evaluasi Tahapan dalam model Wheller
  • 10.
    Model Saylor, Alexander, Lewis Model Oliva Roger Interpersonal Relation Model Emerging Technical Model Stillia Mubarokah S841708017 WahyuJoko Saputra S84170819 Arief Kurniatama S841708022 Listya Buana Putra S941708023 Rosaliana Intan Pitaloka S841708028
  • 11.
    MODEL SAYLOR, ALEXANDER, LEWIS Modelini mengindikasikan bahwa perencana kurikulum memulai kegiatannya dengan melakukan spesifikasi tujuan pembelajaran umum (TPU) dan tujuan pembelajaran khusus (TPK) yang ingin dilaksanakan. Tahapan dalam model Saylor, Alexander, Lewis adalah sebagai berikut: Melaksanakan eksperimen Diteorikan Diimplementasikan
  • 12.
    MODEL OLIVA Model Olivaberprinsip bahwa kurikulum itu harus sederhana, komprehensif dan sistematis.
  • 13.
    ROGER’S INTERNATIONAL RELATION MODEL Menurut Rogers: manusiaberada dalam proses perubahan (becoming, developing, changing), sesungguhnya ia mempunyai kekuatan dan potensi untuk berkembang sendiri, tetapi karena ada hambatan- hambatan tertentu ia membutuhkan orang lain untuk membantu memperlancar atau mempercepat perubahan tersebut.
  • 14.
    ROGER’S INTERNATIONAL RELATION MODEL Secara siklusgaris besar dan berurutan terdiri atas uraian filosofis, uraian tujuan pembelajaran umum (goals), dan tujuan pembelajaran khusus (objectives), desain perencanaan, implementasi, dan evaluasi.
  • 15.
    ROGER’S INTERNATIONAL RELATION MODEL Ada empatlangkah pengembangan kurikulum model Rogers. Pemilihan target dari sistem pendidikan Partisipasi guru dalam pengalaman kelompok responsif Pengembangan kelompok yang intensif untuk satu kelas Partisipasi orang tua dalam kegiatan
  • 16.
    EMERGING TECHNICAL MODEL Model teknologis daritiga variasi model Model analisis tingkah laku Model berdasarkan komputer Model analisis sistem
  • 17.
  • 18.
    MODEL SYSTEMATIC ACTION-RESEARCH Diagnosing ActionPlanning Action Taking Evaluating Specifying Learning
  • 19.
    MODEL SYSTEMATIC ACTION-RESEARCH Langkah-langkahdalam Model Nicholls Analisis Situasi Menentukan tujuan khusus Menentukan dan mengorganisasi isi pelajaran Menentukan dan mengorganisasi metode Evaluasi
  • 20.
    MODEL LEYTON SOTO Leyton Sototelah mempersentasikan sebuah intergrasi dan komprehensif, meskipun model yang relatif kompleks untuk pengembangan kurikulum dari sudut memilih tujuan ke titik mengevaluasi pengalaman.
  • 21.
  • 22.
    The Administrative Model Beauchamp Model The Grass- Roots Model Stillia Mubarokah S841708017 WahyuJoko Saputra S84170819 Arief Kurniatama S841708022 Listya Buana Putra S941708023 Rosaliana Intan Pitaloka S841708028
  • 23.
    THE ADMINISTRATIVE MODEL Model ini disebutjuga dengan istilah dari atas ke bawah (top down) atau staf lini (line-staff procedure), artinya pengembangan kurikulum ini adalah ide awal dan pelaksanaannya dimulai dari pejabat tingkat atas pembuat keputusan dan kebijakan berkaitan dengan pengembangan kurikulum.
  • 24.
    THE ADMINISTRATIVE MODEL Langkah-langkah The AdministrativeModel Menyiapkan seperangkat dokumen kurikulum baru Menyiapkan instalasi dan implementasi dokumen
  • 25.
    MODEL BEAUCHAMP Model ini dikembangkanoleh G.A. Beauchamp yang mencakup beberapa komponen penting dalam pengembangan kurikulum, yakni 1. menetapkan arena lingkup wilayah, 2. menetapkan personalia, 3. organisasi dan prosedur pengembangan kurikulum, 4. implementasi kurikulum dan evaluasi kurikulum.
  • 26.
    MODEL BEAUCHAMP Langkah-langkah Model Beauchamp Menetapkanarena yang akan dicakup oleh kurikulum Menunjukan tim pengembang kurikulum yang relevan Organisasi dan pengembangan kurikulum Mengimplementasikan kurikulum di sekolah Mengevaluasi kurikulum
  • 27.
    THE GRASS- ROOT MODEL Modelakar rumput the grass roots akan berkembang dalam sistem pendidikan yang bersifat desentralisasi. Guru sebagai fasilitator mengadakan upaya mengembangkan suatu komponen kurikulum yang memungkinkan terjadinya kompetisi dalam meningkatkan mutu dan sistem pendidikan sebagai penyempurnaan pengajaran di kelasnya dalam bidang tertentu pada sekolah yang bertujuan melahirkan manusia yang mandiri dan kreatif.
  • 28.
    Guru Sekolah Masalah Narasumber / Atasan Keseluruhan Bidangstudi tertentu Membimbing Mendorong Lokakarya Kesimpulan 1. Guru 2. Kepala sekolah 3. Orang Tua Siswa 4. Anggota Masyarakat 5. Nara sumber Tugas Mencari Ada Diikuti Gagasan BAGAN THE GRASS ROOTS MODEL
  • 29.
    Model Dynamic Skillbeck Model Seller- Miller The Demonstration Model Stillia Mubarokah S841708017 WahyuJoko Saputra S84170819 Arief Kurniatama S841708022 Listya Buana Putra S941708023 Rosaliana Intan Pitaloka S841708028
  • 30.
    MODEL DYNAMIC SKILLBECK Menurut Skillbeck: Langkah-langkahpengembangan kurikulum sebagai berikut: • Menganalisis situasi • Memformulasikan tujuan • Menyusun program • Mempretasi dan implementasi • Monitoring, umpan balik, asesmen dan rekontruksi
  • 31.
  • 32.
    MODEL DEMONSTRASI  Model demonstrasidikembangan untuk memperkenalkan suatu inovasi kurikulum dalam skala kecil yang diprakarsai oleh sekelompok guru yang bekerja sama dengan ahli yang bermaksud mengadakan perbaikan kurikulum  Model ini hanya mencakup satu atau beberapa sekolah karena sifatnya mengubah atau mengganti kurikulum yang ada.
  • 33.
    BENTUK MODEL DEMONTRASI 1  Model demonstrasicenderung bersifat formal, sekelompok guru diorganisasikan dalam suatu sekolah secara terpisah.  Tugas mereka adalah mengembangkan proyek percobaan kurikulum.  Tujuannya sama seperti tim penelitian dan pengembangan secara internal, yaitu untuk menghasilkan segmen baru dalam kurikulum dengan harapan hasilnya dapat diadopsi oleh kurikulum sekolah.  Dalam bentuk pertama ini, inisiatif dan organisasi kurikulum berasal dari atas sehingga model ini dianggap sebagai representasi variasi model administratif.
  • 34.
    2  Model demonstrasidianggap kurang formal dibandingkan dengan bentuk pertama karena guru-guru yang merasa kurang puas dengan kurikulum yang ada membuat eksperimen di dalam area tertentu.  Mereka bekerja dalam bentuk organisasi tak terstruktur atau bekerja sendiri-sendiri.  Tujuannya untuk menghasilkan alternatif praktik kurikulum.  Jika eksperimen berhasil, maka diusulkan untuk diadopsi penggunaannya di seluruh sekolah. BENTUK MODEL DEMONTRASI
  • 35.
    35 Daftar Pustaka Abdulah,Idi. 2007.Pengembangan Kurikulum Teori dan Pratik. Ar RUZZ: Jogjakarta. Arifin, Zainal. 2011. Konsep dan Model Pengembangan Kurikulum. Bandung: Remaja Rosdakarya. Brady, Laurie. 2006. Curriculum Models and Curriculum Commonplaces. Artikel Laporan (Vol. 14 No. 2, 197-200). Diakses melalui http://www.tandfonline.com/doi/abs/10.1080/0022027820140207 pada tanggal 26 September 2017. Hamalik, Oemar. 2009. Dasar-Dasar Pengembangan Kurikulum. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya. Oliva, Peter F. 2005. Developing the Curriculum. United States of America: Pearson Education. Sanjaya, Wina. 2009. Kurikulum dan Pembelajaran, Teori dan Praktik Pengembangan KTSP. Jakarta: Kencana. Sukmadinata, N.S. 1988. Prinsip dan Landasan Pengembangan Kurikulum. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Sukmadinata, N.S. 2009. Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Tim Pengembang MKDP Kurikulum dan Pembelajaran. 2013. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
  • 36.

Editor's Notes

  • #36 Tip: When using complex image as full-bleed background add a transparency (70%-90%) fill layer to give contrast to text.