Konsep
Pengembang
an Kurikulum
Kebijakan
Pengembang
an Kurikulum
KURIKUL
UM
Kurikulum diartikan sebagai
rencana dan pengaturan
mengenai tujuan, isi dan
bahan pelajaran, serta cara
yang digunakan sebagai
pedoman penyelenggaraan
kegiatan pembelajaran
untuk mencapai tujuan
pendidikan tertentu.
PP RI No.19 Tahun 2005 tentang
Standar Nasional Pendidikan
Empat
Kompone
n Utama
Kurikulum
1. Tujuan kurikulum
2. Isi dan struktur
kurikulum
3. Strategi
pelaksanaan
kurikulum
4. Evaluasi kurikulum
Pengemban
gan
Kurikulum
Perencanaan kesempatan
belajar yang dapat
membantu peserta didik
mengalami suatu
perubahan menuju
kedewasaan dan dapat
menilai sejauh apa
perubahan itu terjadi
(Hamalik, 2010)
Pengemban
gan
Kurikulum
Perencanaan kesempatan
belajar yang dapat
membantu peserta didik
mengalami suatu
perubahan menuju
kedewasaan dan dapat
menilai sejauh apa
perubahan itu terjadi
(Hamalik, 2010)
Landasan
Pengemban
gan
Kurikulum
Landasan Filosofis
Perenialisme
Esensialisme
Eksistensialisme
Progresivisme
Rekonstruktivisme
Rekonstruktivisme
Aliran yang berusaha
merombak tata
susunan lama dan
membangun yang baru
dengan corak modern.
Untuk itu dibutuhkan
kerja sama antar umat
manusia.
Aliran
konstruktivisme
menekankan tentang
pemecahan masalah,
berpikir kritis, hasil
berlajar dan proses
(Hamzah, 2018).
Landasan
Pengemban
gan
Kurikulum
Landasan Psikologis
Psikologi belajar
Psikologi
perkembangan
Landasan
Pengemban
gan
Kurikulum
Landasan Sosiologis
Bagaimana peserta didik
memiliki atau menjalin
hubungan timbal balik
dengan lingkungannya atau
masyarakat.
Landasan Sosiologis
Sosiologi memiliki
empat peranan
penting dalam
perkembangan
kurikulum yakni
proses penyesuaian
nilai-nilai dalam
masyarakat,
penyesuaian dengan
kebutuhan
masyarakat, dalam
penyediaan proses
sosial, dan dalam
memahami keunikan
individu, masyarakat
serta daerah.
DASAR-DASAR PENGEMBANGAN
KURIKULUM
1. Kurikulum disusun untuk mewujudkan sistem pendidikan
nasional
2. Kurikulum pada semua jenjang pendidikan dikembangkan
dengan pendekatan kemampuan.
3. Kurikulum harus sesuai dengan ciri khas satuan pendidikan pada
masing-masing jenjang pendidikan.
DASAR-DASAR PENGEMBANGAN
KURIKULUM
4. Kurikulum pendidikan dasar, menengah dan tinggi
dikembangkan atas dasar standar nasional untuk setiap jenis dan
jenjang pendidikan.
5. Kurikulum pada semua jenjang pendidikan dikembangkan secara
sesuai dengan kebutuhan potensi dan minat peserta didik.
DASAR-DASAR PENGEMBANGAN
KURIKULUM
6. Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan tuntutan
pembangunan daerah dan nasional, keanekaragaman potensi
daerah dan lingkungan serta kebutuhan pengembangan iptek dan
seni.
7. Kurikulum pada semua jenjang pendidikan dikembangkan sesuai
dengan tuntutan lingkungan dan budaya setempat.
DASAR-DASAR PENGEMBANGAN
KURIKULUM
8. Kurikulum pada semua jenjang pendidikan mencakup
aspek spiritual keagamaan, intelektualitas, watak konsep
diri, keterampilan belajar, kewirausahaan, keterampilan
hidup yang berharkat dan bermartabat, pola hidup sehat,
estetika dan rasa kebangsaan.
PRINSIP PENGEMBANGAN KURIKULUM
Prinsip Relevansi.
Secara internal memiliki relevansi di antara komponen kurikulum
(tujuan, bahan, strategi, organisasi, dan evaluasi). Secara
eksternal memiliki relevansi dengan tuntutan ilmu pengetahuan
dan teknologi (relevansi epistemologis), tuntutan dan potensi
peserta didik (relevansi psikologis), serta tuntutan dan kebutuhan
perkembangan masyarakat (relevansi sosiologis),
PRINSIP PENGEMBANGAN KURIKULUM
Prinsip Fleksibilitas.
Pengembangan kurikulum mengupayakan memiliki sifat
luwes, lentur, dan fleksibel dalam pelaksanaannya,
memungkinkan terjadinya penyesuaian-penyesuaian
berdasarkan situasi dan kondisi tempat dan waktu yang
selalu berkembang, serta kemampuan dan latar belakang
peserta didik.
PRINSIP PENGEMBANGAN KURIKULUM
Prinsip Kontinuitas.
Pengalaman belajar yang disediakan kurikulum harus
memperhatikan kesinambungan, baik yang di dalam tingkat
kelas, antarjenjang pendidikan, maupun antara jenjang
pendidikan dan jenis pekerjaan.
PRINSIP PENGEMBANGAN KURIKULUM
Prinsip Efisiensi.
Mengusahakan agar dalam pengembangan kurikulum dapat
mendayagunakan sumber daya pendidikan yang ada secara
optimal, cermat, dan tepat sehingga hasilnya memadai.
PRINSIP PENGEMBANGAN KURIKULUM
Prinsip Efektivitas.
Mengusahakan agar kegiatan pengembangan kurikulum
mencapai tujuan tanpa kegiatan yang mubazir, baik secara
kualitas maupun kuantitas.
Analisis
Tipe-tipe
Model
Pengembang
Kebijakan
Pengembang
an Kurikulum
(Behavioral Model)
Model
Tyler
Dalam bukunya "Basic Principles of
Curriculum and Instruction" (1949), Tyler
menekankan perlunya pengembangan
kurikulum yang logis dan sistematis. Dia
mengidentifikasi empat pertanyaan kunci
yang harus diajukan dalam pengembangan
kurikulum:
• Tujuan (Objectives): Apa tujuan
pendidikan yang ingin dicapai?
• Pengalaman Belajar (Learning
Experiences): Bagaimana memilih
pengalaman belajar untuk mencapai
tujuan tersebut?
• Pengorganisasian (Organizing Learning
Experiences): Bagaimana
mengorganisasi pengalaman belajar
yang telah dipilih?
• Evaluasi (Evaluation): Bagaimana
mengevaluasi efektivitas pengalaman
belajar untuk memastikan tujuan
pendidikan tercapai?
(Administrative Model)
Model Saylor,
Alxander dan
Levis
Saylor dan kelompoknya mengadopsi
pendekatan administratif dalam
pengembangan kurikulum. Mereka
menggunakan prosedur administratif
dengan administrator memimpin tim
pengarah yang terdiri dari ahli pendidikan,
kurikulum, disiplin ilmu, serta perwakilan
dari dunia kerja.
Tim ini bertugas merumuskan konsep dasar
dan strategi pengembangan kurikulum.
Administrator kemudian membentuk tim
kerja yang terdiri dari ahli pendidikan, ahli
disiplin ilmu, dan guru senior untuk
menyusun kurikulum yang lebih
operasional.
Pendekatan ini dikenal sebagai top-down,
yang memerlukan monitoring,
pengawasan, dan evaluasi dalam
pelaksanaannya selama beberapa tahun
untuk memastikan validitas komponen-
The Grass Roots
Model
Model ini berbeda dengan pendekatan
administratif, karena inisiatifnya datang dari
para guru di sekolah. Mereka membentuk
tim untuk mengembangkan atau
menyempurnakan kurikulum, baik dalam
satu model sebagian maupun keseluruhan.
Model ini bisa diterapkan di satu sekolah
atau dalam kerjasama antar-sekolah.
Pendekatan ini bersifat desentralisasi dan
berdasarkan inisiatif dari bawah
(grassroots), yang dapat meningkatkan
mutu dan kompetitivitas sistem pendidikan
serta mendorong kemandirian dan
kreativitas individu.
Beauchamp’s
Managerial Model Model pengembangan
Beauchamp's Managerial Model
yang dikembangkan oleh George
Beauchamp memiliki lima
Langkah Pengembangan
• Menetapkan Wilayah
Pengembangan
• Penetapan Personalia
• Menetapkan Organisasi dan
Prosedur Pengembangan
• Implementasi Kurikulum
• Evaluasi Kurikulum
The
Demonstration
Model
Model pengembangan kurikulum
demonstrasi adalah inisiatif yang berasal
dari guru atau guru bekerja sama dengan
ahli untuk meningkatkan kurikulum.
Ada dua variasi dalam model ini:
1. Kelompok guru dari satu atau beberapa
sekolah melakukan percobaan
pengembangan kurikulum untuk penelitian
dan pengembangan aspek kurikulum yang
bisa digunakan lebih luas.
2. Secara informal, beberapa guru yang
tidak puas dengan kurikulum yang ada
melakukan penelitian dan pengembangan
sendiri untuk menemukan alternatif yang
lebih baik untuk digunakan dalam lingkup
yang lebih besar.
Taba’s Inverted
Model Model pengembangan kurikulum Hilda
Taba adalah model induktif yang
mendorong inovasi guru. Ada lima Langkah
pengembangan kurikulum menurut taba
• Unit eksperimen dengan guru-guru
untuk menguji satuan pelajaran.
• Pengujian untuk mengevaluasi validitas
dan kepraktisan satuan pelajaran.
• Revisi dan konsolidasi berdasarkan hasil
pengujian.
• mengembangan kerangka kurikulum
dengan melibatkan ahli.
• Pelaksanaan dan penyebaran dengan
pelatihan guru.
Roger’s
Interpersonal
Relation Model
Model pengembangan kurikulum dari
Rogers, berbeda dengan model-model
lainnya, tidak ada suatu perencanaan
kurikulum tertulis, yang ada hanyalah
rangkaian kegiatan kelompok. Rogers
sebagai seorang eksistensialis humanis,
tidak mementingkan formalitas, rancangan
tertulis dan data, tetapi lebih
mementingkan aktivitas dan interaksi.
Model pengembangan kurikulum Roger’s
interpersonal relations ini mempunyai
empat langkah,
1. Pemilihan target dari sistem Pendidikan
2. Partisipasi guru dalam pengalaman
kelompok yang intensif.
3. Pengernbangan pengalaman kelompok
yang intensif untuk satu kelas atau unit
Pelajaran
Thank you! Do you have any
questions?

KONSEP DAN MODEL-MODEL KURIKULUM BARU.pptx

  • 2.
  • 3.
    KURIKUL UM Kurikulum diartikan sebagai rencanadan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran, serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. PP RI No.19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan
  • 4.
    Empat Kompone n Utama Kurikulum 1. Tujuankurikulum 2. Isi dan struktur kurikulum 3. Strategi pelaksanaan kurikulum 4. Evaluasi kurikulum
  • 5.
    Pengemban gan Kurikulum Perencanaan kesempatan belajar yangdapat membantu peserta didik mengalami suatu perubahan menuju kedewasaan dan dapat menilai sejauh apa perubahan itu terjadi (Hamalik, 2010)
  • 6.
    Pengemban gan Kurikulum Perencanaan kesempatan belajar yangdapat membantu peserta didik mengalami suatu perubahan menuju kedewasaan dan dapat menilai sejauh apa perubahan itu terjadi (Hamalik, 2010)
  • 7.
  • 8.
    Rekonstruktivisme Aliran yang berusaha merombaktata susunan lama dan membangun yang baru dengan corak modern. Untuk itu dibutuhkan kerja sama antar umat manusia. Aliran konstruktivisme menekankan tentang pemecahan masalah, berpikir kritis, hasil berlajar dan proses (Hamzah, 2018).
  • 9.
  • 10.
    Landasan Pengemban gan Kurikulum Landasan Sosiologis Bagaimana pesertadidik memiliki atau menjalin hubungan timbal balik dengan lingkungannya atau masyarakat.
  • 11.
    Landasan Sosiologis Sosiologi memiliki empatperanan penting dalam perkembangan kurikulum yakni proses penyesuaian nilai-nilai dalam masyarakat, penyesuaian dengan kebutuhan masyarakat, dalam penyediaan proses sosial, dan dalam memahami keunikan individu, masyarakat serta daerah.
  • 12.
    DASAR-DASAR PENGEMBANGAN KURIKULUM 1. Kurikulumdisusun untuk mewujudkan sistem pendidikan nasional 2. Kurikulum pada semua jenjang pendidikan dikembangkan dengan pendekatan kemampuan. 3. Kurikulum harus sesuai dengan ciri khas satuan pendidikan pada masing-masing jenjang pendidikan.
  • 13.
    DASAR-DASAR PENGEMBANGAN KURIKULUM 4. Kurikulumpendidikan dasar, menengah dan tinggi dikembangkan atas dasar standar nasional untuk setiap jenis dan jenjang pendidikan. 5. Kurikulum pada semua jenjang pendidikan dikembangkan secara sesuai dengan kebutuhan potensi dan minat peserta didik.
  • 14.
    DASAR-DASAR PENGEMBANGAN KURIKULUM 6. Kurikulumdikembangkan dengan memperhatikan tuntutan pembangunan daerah dan nasional, keanekaragaman potensi daerah dan lingkungan serta kebutuhan pengembangan iptek dan seni. 7. Kurikulum pada semua jenjang pendidikan dikembangkan sesuai dengan tuntutan lingkungan dan budaya setempat.
  • 15.
    DASAR-DASAR PENGEMBANGAN KURIKULUM 8. Kurikulumpada semua jenjang pendidikan mencakup aspek spiritual keagamaan, intelektualitas, watak konsep diri, keterampilan belajar, kewirausahaan, keterampilan hidup yang berharkat dan bermartabat, pola hidup sehat, estetika dan rasa kebangsaan.
  • 16.
    PRINSIP PENGEMBANGAN KURIKULUM PrinsipRelevansi. Secara internal memiliki relevansi di antara komponen kurikulum (tujuan, bahan, strategi, organisasi, dan evaluasi). Secara eksternal memiliki relevansi dengan tuntutan ilmu pengetahuan dan teknologi (relevansi epistemologis), tuntutan dan potensi peserta didik (relevansi psikologis), serta tuntutan dan kebutuhan perkembangan masyarakat (relevansi sosiologis),
  • 17.
    PRINSIP PENGEMBANGAN KURIKULUM PrinsipFleksibilitas. Pengembangan kurikulum mengupayakan memiliki sifat luwes, lentur, dan fleksibel dalam pelaksanaannya, memungkinkan terjadinya penyesuaian-penyesuaian berdasarkan situasi dan kondisi tempat dan waktu yang selalu berkembang, serta kemampuan dan latar belakang peserta didik.
  • 18.
    PRINSIP PENGEMBANGAN KURIKULUM PrinsipKontinuitas. Pengalaman belajar yang disediakan kurikulum harus memperhatikan kesinambungan, baik yang di dalam tingkat kelas, antarjenjang pendidikan, maupun antara jenjang pendidikan dan jenis pekerjaan.
  • 19.
    PRINSIP PENGEMBANGAN KURIKULUM PrinsipEfisiensi. Mengusahakan agar dalam pengembangan kurikulum dapat mendayagunakan sumber daya pendidikan yang ada secara optimal, cermat, dan tepat sehingga hasilnya memadai.
  • 20.
    PRINSIP PENGEMBANGAN KURIKULUM PrinsipEfektivitas. Mengusahakan agar kegiatan pengembangan kurikulum mencapai tujuan tanpa kegiatan yang mubazir, baik secara kualitas maupun kuantitas.
  • 21.
  • 22.
    (Behavioral Model) Model Tyler Dalam bukunya"Basic Principles of Curriculum and Instruction" (1949), Tyler menekankan perlunya pengembangan kurikulum yang logis dan sistematis. Dia mengidentifikasi empat pertanyaan kunci yang harus diajukan dalam pengembangan kurikulum: • Tujuan (Objectives): Apa tujuan pendidikan yang ingin dicapai? • Pengalaman Belajar (Learning Experiences): Bagaimana memilih pengalaman belajar untuk mencapai tujuan tersebut? • Pengorganisasian (Organizing Learning Experiences): Bagaimana mengorganisasi pengalaman belajar yang telah dipilih? • Evaluasi (Evaluation): Bagaimana mengevaluasi efektivitas pengalaman belajar untuk memastikan tujuan pendidikan tercapai?
  • 23.
    (Administrative Model) Model Saylor, Alxanderdan Levis Saylor dan kelompoknya mengadopsi pendekatan administratif dalam pengembangan kurikulum. Mereka menggunakan prosedur administratif dengan administrator memimpin tim pengarah yang terdiri dari ahli pendidikan, kurikulum, disiplin ilmu, serta perwakilan dari dunia kerja. Tim ini bertugas merumuskan konsep dasar dan strategi pengembangan kurikulum. Administrator kemudian membentuk tim kerja yang terdiri dari ahli pendidikan, ahli disiplin ilmu, dan guru senior untuk menyusun kurikulum yang lebih operasional. Pendekatan ini dikenal sebagai top-down, yang memerlukan monitoring, pengawasan, dan evaluasi dalam pelaksanaannya selama beberapa tahun untuk memastikan validitas komponen-
  • 24.
    The Grass Roots Model Modelini berbeda dengan pendekatan administratif, karena inisiatifnya datang dari para guru di sekolah. Mereka membentuk tim untuk mengembangkan atau menyempurnakan kurikulum, baik dalam satu model sebagian maupun keseluruhan. Model ini bisa diterapkan di satu sekolah atau dalam kerjasama antar-sekolah. Pendekatan ini bersifat desentralisasi dan berdasarkan inisiatif dari bawah (grassroots), yang dapat meningkatkan mutu dan kompetitivitas sistem pendidikan serta mendorong kemandirian dan kreativitas individu.
  • 25.
    Beauchamp’s Managerial Model Modelpengembangan Beauchamp's Managerial Model yang dikembangkan oleh George Beauchamp memiliki lima Langkah Pengembangan • Menetapkan Wilayah Pengembangan • Penetapan Personalia • Menetapkan Organisasi dan Prosedur Pengembangan • Implementasi Kurikulum • Evaluasi Kurikulum
  • 26.
    The Demonstration Model Model pengembangan kurikulum demonstrasiadalah inisiatif yang berasal dari guru atau guru bekerja sama dengan ahli untuk meningkatkan kurikulum. Ada dua variasi dalam model ini: 1. Kelompok guru dari satu atau beberapa sekolah melakukan percobaan pengembangan kurikulum untuk penelitian dan pengembangan aspek kurikulum yang bisa digunakan lebih luas. 2. Secara informal, beberapa guru yang tidak puas dengan kurikulum yang ada melakukan penelitian dan pengembangan sendiri untuk menemukan alternatif yang lebih baik untuk digunakan dalam lingkup yang lebih besar.
  • 27.
    Taba’s Inverted Model Modelpengembangan kurikulum Hilda Taba adalah model induktif yang mendorong inovasi guru. Ada lima Langkah pengembangan kurikulum menurut taba • Unit eksperimen dengan guru-guru untuk menguji satuan pelajaran. • Pengujian untuk mengevaluasi validitas dan kepraktisan satuan pelajaran. • Revisi dan konsolidasi berdasarkan hasil pengujian. • mengembangan kerangka kurikulum dengan melibatkan ahli. • Pelaksanaan dan penyebaran dengan pelatihan guru.
  • 28.
    Roger’s Interpersonal Relation Model Model pengembangankurikulum dari Rogers, berbeda dengan model-model lainnya, tidak ada suatu perencanaan kurikulum tertulis, yang ada hanyalah rangkaian kegiatan kelompok. Rogers sebagai seorang eksistensialis humanis, tidak mementingkan formalitas, rancangan tertulis dan data, tetapi lebih mementingkan aktivitas dan interaksi. Model pengembangan kurikulum Roger’s interpersonal relations ini mempunyai empat langkah, 1. Pemilihan target dari sistem Pendidikan 2. Partisipasi guru dalam pengalaman kelompok yang intensif. 3. Pengernbangan pengalaman kelompok yang intensif untuk satu kelas atau unit Pelajaran
  • 29.
    Thank you! Doyou have any questions?