KURIKUL
UM
Kurikulum diartikan sebagai
rencanadan pengaturan
mengenai tujuan, isi dan
bahan pelajaran, serta cara
yang digunakan sebagai
pedoman penyelenggaraan
kegiatan pembelajaran
untuk mencapai tujuan
pendidikan tertentu.
PP RI No.19 Tahun 2005 tentang
Standar Nasional Pendidikan
Rekonstruktivisme
Aliran yang berusaha
merombaktata
susunan lama dan
membangun yang baru
dengan corak modern.
Untuk itu dibutuhkan
kerja sama antar umat
manusia.
Aliran
konstruktivisme
menekankan tentang
pemecahan masalah,
berpikir kritis, hasil
berlajar dan proses
(Hamzah, 2018).
Landasan Sosiologis
Sosiologi memiliki
empatperanan
penting dalam
perkembangan
kurikulum yakni
proses penyesuaian
nilai-nilai dalam
masyarakat,
penyesuaian dengan
kebutuhan
masyarakat, dalam
penyediaan proses
sosial, dan dalam
memahami keunikan
individu, masyarakat
serta daerah.
12.
DASAR-DASAR PENGEMBANGAN
KURIKULUM
1. Kurikulumdisusun untuk mewujudkan sistem pendidikan
nasional
2. Kurikulum pada semua jenjang pendidikan dikembangkan
dengan pendekatan kemampuan.
3. Kurikulum harus sesuai dengan ciri khas satuan pendidikan pada
masing-masing jenjang pendidikan.
13.
DASAR-DASAR PENGEMBANGAN
KURIKULUM
4. Kurikulumpendidikan dasar, menengah dan tinggi
dikembangkan atas dasar standar nasional untuk setiap jenis dan
jenjang pendidikan.
5. Kurikulum pada semua jenjang pendidikan dikembangkan secara
sesuai dengan kebutuhan potensi dan minat peserta didik.
14.
DASAR-DASAR PENGEMBANGAN
KURIKULUM
6. Kurikulumdikembangkan dengan memperhatikan tuntutan
pembangunan daerah dan nasional, keanekaragaman potensi
daerah dan lingkungan serta kebutuhan pengembangan iptek dan
seni.
7. Kurikulum pada semua jenjang pendidikan dikembangkan sesuai
dengan tuntutan lingkungan dan budaya setempat.
15.
DASAR-DASAR PENGEMBANGAN
KURIKULUM
8. Kurikulumpada semua jenjang pendidikan mencakup
aspek spiritual keagamaan, intelektualitas, watak konsep
diri, keterampilan belajar, kewirausahaan, keterampilan
hidup yang berharkat dan bermartabat, pola hidup sehat,
estetika dan rasa kebangsaan.
16.
PRINSIP PENGEMBANGAN KURIKULUM
PrinsipRelevansi.
Secara internal memiliki relevansi di antara komponen kurikulum
(tujuan, bahan, strategi, organisasi, dan evaluasi). Secara
eksternal memiliki relevansi dengan tuntutan ilmu pengetahuan
dan teknologi (relevansi epistemologis), tuntutan dan potensi
peserta didik (relevansi psikologis), serta tuntutan dan kebutuhan
perkembangan masyarakat (relevansi sosiologis),
17.
PRINSIP PENGEMBANGAN KURIKULUM
PrinsipFleksibilitas.
Pengembangan kurikulum mengupayakan memiliki sifat
luwes, lentur, dan fleksibel dalam pelaksanaannya,
memungkinkan terjadinya penyesuaian-penyesuaian
berdasarkan situasi dan kondisi tempat dan waktu yang
selalu berkembang, serta kemampuan dan latar belakang
peserta didik.
18.
PRINSIP PENGEMBANGAN KURIKULUM
PrinsipKontinuitas.
Pengalaman belajar yang disediakan kurikulum harus
memperhatikan kesinambungan, baik yang di dalam tingkat
kelas, antarjenjang pendidikan, maupun antara jenjang
pendidikan dan jenis pekerjaan.
19.
PRINSIP PENGEMBANGAN KURIKULUM
PrinsipEfisiensi.
Mengusahakan agar dalam pengembangan kurikulum dapat
mendayagunakan sumber daya pendidikan yang ada secara
optimal, cermat, dan tepat sehingga hasilnya memadai.
20.
PRINSIP PENGEMBANGAN KURIKULUM
PrinsipEfektivitas.
Mengusahakan agar kegiatan pengembangan kurikulum
mencapai tujuan tanpa kegiatan yang mubazir, baik secara
kualitas maupun kuantitas.
(Behavioral Model)
Model
Tyler
Dalam bukunya"Basic Principles of
Curriculum and Instruction" (1949), Tyler
menekankan perlunya pengembangan
kurikulum yang logis dan sistematis. Dia
mengidentifikasi empat pertanyaan kunci
yang harus diajukan dalam pengembangan
kurikulum:
• Tujuan (Objectives): Apa tujuan
pendidikan yang ingin dicapai?
• Pengalaman Belajar (Learning
Experiences): Bagaimana memilih
pengalaman belajar untuk mencapai
tujuan tersebut?
• Pengorganisasian (Organizing Learning
Experiences): Bagaimana
mengorganisasi pengalaman belajar
yang telah dipilih?
• Evaluasi (Evaluation): Bagaimana
mengevaluasi efektivitas pengalaman
belajar untuk memastikan tujuan
pendidikan tercapai?
23.
(Administrative Model)
Model Saylor,
Alxanderdan
Levis
Saylor dan kelompoknya mengadopsi
pendekatan administratif dalam
pengembangan kurikulum. Mereka
menggunakan prosedur administratif
dengan administrator memimpin tim
pengarah yang terdiri dari ahli pendidikan,
kurikulum, disiplin ilmu, serta perwakilan
dari dunia kerja.
Tim ini bertugas merumuskan konsep dasar
dan strategi pengembangan kurikulum.
Administrator kemudian membentuk tim
kerja yang terdiri dari ahli pendidikan, ahli
disiplin ilmu, dan guru senior untuk
menyusun kurikulum yang lebih
operasional.
Pendekatan ini dikenal sebagai top-down,
yang memerlukan monitoring,
pengawasan, dan evaluasi dalam
pelaksanaannya selama beberapa tahun
untuk memastikan validitas komponen-
24.
The Grass Roots
Model
Modelini berbeda dengan pendekatan
administratif, karena inisiatifnya datang dari
para guru di sekolah. Mereka membentuk
tim untuk mengembangkan atau
menyempurnakan kurikulum, baik dalam
satu model sebagian maupun keseluruhan.
Model ini bisa diterapkan di satu sekolah
atau dalam kerjasama antar-sekolah.
Pendekatan ini bersifat desentralisasi dan
berdasarkan inisiatif dari bawah
(grassroots), yang dapat meningkatkan
mutu dan kompetitivitas sistem pendidikan
serta mendorong kemandirian dan
kreativitas individu.
25.
Beauchamp’s
Managerial Model Modelpengembangan
Beauchamp's Managerial Model
yang dikembangkan oleh George
Beauchamp memiliki lima
Langkah Pengembangan
• Menetapkan Wilayah
Pengembangan
• Penetapan Personalia
• Menetapkan Organisasi dan
Prosedur Pengembangan
• Implementasi Kurikulum
• Evaluasi Kurikulum
26.
The
Demonstration
Model
Model pengembangan kurikulum
demonstrasiadalah inisiatif yang berasal
dari guru atau guru bekerja sama dengan
ahli untuk meningkatkan kurikulum.
Ada dua variasi dalam model ini:
1. Kelompok guru dari satu atau beberapa
sekolah melakukan percobaan
pengembangan kurikulum untuk penelitian
dan pengembangan aspek kurikulum yang
bisa digunakan lebih luas.
2. Secara informal, beberapa guru yang
tidak puas dengan kurikulum yang ada
melakukan penelitian dan pengembangan
sendiri untuk menemukan alternatif yang
lebih baik untuk digunakan dalam lingkup
yang lebih besar.
27.
Taba’s Inverted
Model Modelpengembangan kurikulum Hilda
Taba adalah model induktif yang
mendorong inovasi guru. Ada lima Langkah
pengembangan kurikulum menurut taba
• Unit eksperimen dengan guru-guru
untuk menguji satuan pelajaran.
• Pengujian untuk mengevaluasi validitas
dan kepraktisan satuan pelajaran.
• Revisi dan konsolidasi berdasarkan hasil
pengujian.
• mengembangan kerangka kurikulum
dengan melibatkan ahli.
• Pelaksanaan dan penyebaran dengan
pelatihan guru.
28.
Roger’s
Interpersonal
Relation Model
Model pengembangankurikulum dari
Rogers, berbeda dengan model-model
lainnya, tidak ada suatu perencanaan
kurikulum tertulis, yang ada hanyalah
rangkaian kegiatan kelompok. Rogers
sebagai seorang eksistensialis humanis,
tidak mementingkan formalitas, rancangan
tertulis dan data, tetapi lebih
mementingkan aktivitas dan interaksi.
Model pengembangan kurikulum Roger’s
interpersonal relations ini mempunyai
empat langkah,
1. Pemilihan target dari sistem Pendidikan
2. Partisipasi guru dalam pengalaman
kelompok yang intensif.
3. Pengernbangan pengalaman kelompok
yang intensif untuk satu kelas atau unit
Pelajaran