MODEL EVALUASI
KUANTITATIF
R. Herawati Suryanegara
Evaluasi Kuantitatif
1
BAB I
PENDAHULUAN
 Kualitas pendidikan suatu negara
menunjukan tingkat kemakmuran suatu
bangsa.
 Melalui pendidikan, Indonesia berusaha
mencetak generasi unggul, yang beriman dan
bertakwa, mampu bersaing dengan negara
lain , mampu menghadapi tantangan jaman ,
trampil dan cerdas dalam menyelesaikan
masalah-masalah pribadi dan social.
Evaluasi Kuantitatif
2
Evaluasi kuantitatif
 Evaluasi pendidikan penting dilakukan untuk
meningkatkan kualitas pendidikan. Oleh
karena itu, evaluasi pendidikan perlu
dipahami dengan benar, bahwa
pengevaluasian pendidikan yang baik,
bukanlah semata-mata sebagai suatu
kegiatan pencarian informasi yang
alakadarnya, melainkan harus melalui
tahapan-tahapan tertentu dan dilakukan
secara berkesinambungan.
Evaluasi Kuantitatif
3
BAB II
PEMBAHASAN
 2.1. Pengertian Evaluasi Pendidikan
 Evaluasi berasal dari bahasa Inggris yaitu
evaluation, dalam bahasa Indonesia dapat
diartikan sebagai penilaian.
 Ralph Tyler dalam Arikunto ( 2007:3) : Evaluasi
merupakan sebuah proses pengumpulan data
untuk menentukan sejauh mana, dalam hal apa,
dan bagaimana tujuan pendidikan sudah tercapai.
 Cronbach dan Stuffebean : proses evaluasi bukan
sekedar mengukur sejauh mana tujuan tercapai,
tetapi digunakan untuk membuat keputusan.
Evaluasi Kuantitatif
4
Permendiknas No. 66 th 2013
 tentang Standar Penilaian pendidikan : Penilaian
Pendidikan adalah proses pengumpulan dan
pengolahan informasi untuk mengukur
pencapaian hasil belajar peserta didik.
 Prinsif penilaian meliputi :
 Shahih
 Objektif
 Ekonomis
 Transparan
 Akuntabel
Evaluasi Kuantitatif
5
2.2. Perkembangan konsep dan lingkup
Sasaran Evaluasi/Penilaian
 Keadaan konsep dan lingkup sasaran penilaian
menurut Nana Sudjana dan Ibrahim (2009:213-
215),terbagi dalam :
 Masa sebelum th.1930.
Kegiatan pengukuran dan penilaian sangat
bersifat kuantitatif dan lebih banyak diarahkan
untuk memeriksa perbedaan-perbedaan
individual. Dalam bidang pendidikan , berbagai
alat uji /tes diarahkan untuk mmengungkapkan
informasi tentang perbedaan individual antara
siswa yang satu dengan siswa yang lainnya
dalam setiap bidang studi.
Evaluasi Kuantitatif
6
Evaluasi kuantitatif
Hasil pengukuran hanya mengungkap informasi
tentang perbedaan-perbedaan individual dan bukan
tentang kualitas kurikulum atau system pendidikan.
 Keadaan antara 1930 -1960
Pada masa ini mulai tumbuh kebutuhan untuk
menghubungkan kegiatan penilaian dengan
upaya perbaikan kurikulum/system pendidikan.
Ralph W.Tyler adalah salah satu tokoh yang
menghubungkan antara penilaian dan perbaikan
kurikulum
Evaluasi Kuantitatif
7
Evaluasi kuantitatif
Evaluasi Kuantitatif
8
 Perkembangan setelah th 1960
Pada masa ini penilaian diperlukan untuk
mengetahui :
 Sejauh mana tujuan pendidikan berhasil
dicapai
 Bagian mana dari kurikulum yang masih
lemah, factor-faktor apa yang menyebabkan
dan bagaimana cara memperbaikinya
 Apakah kurikulum baru yang dikembangkan
tersebut lebih unggul dari kurikulum yang ada
ditinjau dari berbagai segi.
2.3. Sasaran, Tujuan dan Fungsi Evaluasi
Evaluasi Kuantitatif
9
Suharsimi Arikunto (2007:4-5) sasaran evaluasi unsur-
unsurnya :
 Input
Kemampuan, kepribadian, sikap, dan intelegensi
 Transformasi
Kurikulum/materi, metode dan cara penilaian, sarana
pendidikan/media, system administrasi, guru, dan
personel lainnya
 Out put
Dilakukan untuk mengetahui sejauh mana tingkat
pencapaian prestasi belajar mereka selama mengikuti
program. Alat untuk mengukur pencapaian ini disebut
achievement test
Unsur –unsur penentu keberhasilan
Transformasi
Evaluasi Kuantitatif
10
 Siswa itu sendiri
 Guru dan personal lainnya
 Bahan pelajaran
 Metode mengajar dan system evaluasi
 Sarana penunjang
 System administrasi
Tujuan dan fungsi evaluasi , Suharsimi (2007-10-
11) :
Evaluasi Kuantitatif
11
1. Penilaian berfungsi selektif
Untuk memilih siswa yang dapat diterima di
sekolah tertentu
Memilih siswa yang dapat naik kelas atau
tidak
Memilih siswa yang seharusnya mendapat
beasiswa
Memilih siswa yang sudah berhak
meninggalkan sekolah
Fungsi penilaian
Evaluasi Kuantitatif
12
2. Penilaian berfungsi diagnostic
Dengan mengadakan penilaian, guru
dapat mengetahui kelemahan siswa dan
mengetahui sebab kelemahan tersebut.
Dengan mengadakan penilaian maka
mempermudah mencari cara untuk
mengatasi kelemahan tersebut.
Fungsi penilaian
Evaluasi Kuantitatif
13
3. Penilaian berfungsi sebagai penempatan
Hasil penilaian untuk menentukan dengan
pasti di kelompok mana seorang siswa harus
digunakan. Sekelompok siswa yang
mempunyai hasil penilaian yang sama, akan
berada dalam kelompok yang sama dalam
belajar.
4. Penilaian berfungsi sebagai pengukur
keberhasilan.
Penilaian dilakukan untuk mengetahui sejauh
mana suatu program berhasil diterapkan.
2.4. Pengertian Evaluasi Kuantitatif dan Evaluasi
Kualitatif
Evaluasi Kuantitatif
14
 Evaluasi kuantitatif :
- menekankan paradigma bahwa suatu variable
atau gejala dapat digambarkan secara teoritik.
Hasil dari evaluasi kuantitatif dapat berupa angka-
angka hasil pengukuran
- Bahwa pendekatan kuantitatif adalah proses
pengukuran yang objektif yang menggunakan
prosedur formal dan metode yang fokus pada
bidang yang sangat spesifik yaitu perkembangan
anak yang dapat dengan mudah diamati dan
dicatat
Perbedaan kualitatif dan kuantitatif
Evaluasi Kuantitatif
15
- Informasi dikumpulkan pada satu waktu, dan
hasilnya dapat digunakan untuk
membandingkan kinerja anak dalam grup dan
usia yang sama / sebaya. Hasil ini juga dapat
menunjukkan apakah seorang anak telah
menguasai tujuan khusus yang ditetapkan
atau tidak.
- Ciri berikutnya dari model kuantitatif adalah
tidak digunakannya pendekatan proses dalam
mengembangkan criteria evaluasi
Perbedaan kualitatif dan kuantitatif
Evaluasi Kuantitatif
16
 Prosedur evaluasi kuantitatif meliputi :
- Penentuan masalah dan
pertanyaan evaluasi
- Penentuan variable, jenis data dan sumber
data
- Penentuan metodologi
- Pengembangan instrument
- Penentuan proses pengumpulan data
- Pengumpulan data dan proses pengolahan
data
Perbedaan kualitatif dan kuantitatif
Evaluasi Kuantitatif
17
 model evaluasi kualitatif selalu menempatkan
proses pelaksanaan kurikulum sebagai focus
utama evaluasi. Oleh karena itulah dimensi
kegiatan dan proses lebih mendapatkan
perhatian dibandingkan dimensi lain.
 Hasil evaluasi kualitatif berupa peringkat,
mis.sangat baik, baik, sedang, kurang, sangat
kurang
Model evaluasi
Evaluasi Kuantitatif
18
 Said Hamid Hasan (1988 : 83 – 136)
mengelompokan model evaluasi sebagai
berikut :
- Model evaluasi kuantitaif : model Tyler,model
teoritik, Tyler and Maguire,model pendekatan
sitem Alkin, model countinence stake, model
CIPP, model ekonomi makro.
- Model evaluasi Kualitatif : model Studi
Kasus, model Iluminatif, dan model
responsive.
2.5. Model Evaluasi Kuantitatif
Evaluasi Kuantitatif
19
 Congruence Model
Penilaian model ini adalah usaha untuk
memeriksa kesesuaian (congruence)
antara tujuan pendidikan yang ingin
dicapai dan hasil belajar yang telah
dicapai karena itu dapat kita sebut
sebagai model Congruence.
Congruence Model
Evaluasi Kuantitatif
20
 Tyler dalam Nana Sudjana dan Ibrahim (2009
:238-239) hakekat penilaian dimaksud
sebagai kegiatan untuk melihat sejauh mana
tujuan-tujuan pendidikan telah dapat dicapai
siswa dalam bentuk hasil belajar yang mereka
perlihatkan pada akhir kegiatan pendidikan.
Hal ini berarti bahwa penilaian itu pada
dasarnya ingin memperoleh gambaran
mengenai efektivitas dari system pendidikan
dalam mencapai tujuan
Congruence Model
Evaluasi Kuantitatif
21
Model ini dibangun atas dua pemikiran yaitu:
 Evaluasi ditujukan kepada tingkah laku
peserta didik
 Evaluasi diadakan kepada peserta didik pada
awal pembelajaran dan sesudah
melaksanakan pembelajaran (hasil belajar).
Menekankan adanya pre test dan post test
karena itu disebut model Black Box
Congruence Model
Evaluasi Kuantitatif
22
Menurut Tyler dalam Nana Sudjana dan
Ibrahim (2009 : 242) ada 4 langkah pokok
yang harus dilakukan adalah :
 Menentukan tujuan pembelajaran yang akan
dievaluasi
 Menetapkan “test situation” yang diperlukan.
Situasi dapat berbentuk demonstrasi
menggunakan media, memecahkan persoalan
secara tertulis, memimpin kegiatan
kelompok,dan sebagainya
Congruence Model
Evaluasi Kuantitatif
23
 Menentukan alat evaluasi yang akan
digunakan
 Menggunakan hasil penelitian . Untuk
kepentingan bimbingan siswa maupun untuk
perbaikan system
Educational System Evaluation Model
Evaluasi Kuantitatif
24
 Ruang lingkup model evaluasi ini lebih luas
dari model Tyler. Tokoh – tokoh penilaian ini
antara lain Daniel L. Stuflebeam, Robert E.
Stake dan Malcom M.
 Hakekat penilaian ini adalah bahwa
keberhasilan dalam mencapai tujuan
pendidikan dipengaruhi oleh berbagai factor
yang mempengaruhi konsep penilaian
Educational System Evaluation Model
Evaluasi Kuantitatif
25
 Penilaian menurut model ini bermaksud
membandingkan performance dari berbagai
dimensi system yang dikembangkan dengan
sejumlah criteria tertentu untuk akhirnya
sampai pada suatu deskripsi dan judgement
mengenai system yang dinilai tersebut.
 Menekankan pentingnya system penilaian
yang menyeluruh terhadap dimensi-dimensi
yang berpengaruh terhadap hasil yang akan
dicapai tidak semata pada aspek hasil yang
dicapai saja
Educational System Evaluation Model
Evaluasi Kuantitatif
26
Pendekatan yang ditempuh oleh model ini
dalam pelaksanaan evaluasi adalah :
 Membandingkan performance setiap dimensi
system dengan criteria intern system itu
sendiri
 Membandingkan performance setiap dimensi
system dengan criteria ekstern diluar system
itu sendiri
Educational System Evaluation Model
Evaluasi Kuantitatif
27
 Robert E. Stake dalam Nana Sudjana dan
Ibrahim (2009:244-245) berpandangan bahwa
kegiatan penilaian tidak hanya berakhir pada
suatu deskripsi tentang keadaan dari sesuatu
yang dinilainya , melainkan harus sampai
pada suatu judgement mengenai baik-buruk,
efektif tidaknya suatu system.
Educational System Evaluation Model
Evaluasi Kuantitatif
28
Stake membagi objek penilaian atas 3 katagori :
 Antecedents
Dimensi ini meliputi sumber/modal/input ; tenaga,
keuangan,
karakteristik siswa, dan tujuan yang ingin dicapai
 Transactions
Dimensi ini mencakup rencana kegiatan, proses
pelaksanaan,
bentuk interaksi anatara guru dan siswa dsb.
 Outcomes
Dimensi ini menilai hasil yang dicapai siswa, reaksi guru
terhadap system tersebut dan efek samping dari system
yang
bersangkutan.
Model CIPP
Evaluasi Kuantitatif
29
 Model CIPP dikembangkan oleh Daniel
Stufflebeam dan rekan pada tahun 1960.
Model ini unik karena memungkinkan
evaluator untuk mengevaluasi program pada
tahap yang berbeda yaitu; sebelum program
dimulai untuk membantu evaluator menilai
kebutuhan apa yang diperlukan dan pada
akhir program untuk menilai apakah sebuah
program telah berjalan efektif atau tidak
Model CIPP
Evaluasi Kuantitatif
30
4 dimensi evaluasi model CIPP, yaitu:
 Evaluasi Context
Tujuan utama dari evaluasi context adalah
untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan
evaluan. Evaluator mengidentifikasi berbagai
factor guru, peserta didik, manajemen, fasilitas
kerja, suasana kerja, peraturan, peran komite
sekolah, masyarakat dan factor lain yang
mungkin berpengaruh terhadap kurikulum.
Model CIPP
Evaluasi Kuantitatif
31
 Evaluasi Input
Evaluator menentukan tingkat kemanfaatan
berbagai factor yang dikaji dalam konteks
pelaksanaan kurikulum. Pertimbangan
mengenai ini menjadi dasar bagi evaluator
untuk menentukan apakah perlu ada revisi
atau pergantian kurikulum.
Model CIPP
Evaluasi Kuantitatif
32
 Process
Evaluasi proses adalah evaluasi mengenai
pelaksanaan dari suatu inovasi kurikulum.
Evaluator mengumpulkan berbagai informasi
mengenai keterlaksanaan implementasi
kurikulum, berbagai kekuatan dan kelemahan
proses implementasi. Evaluator harus
merekam berbagai pengaruh variable input
terhadap proses
Model CIPP
Evaluasi Kuantitatif
33
 Product
tujuan utama dari evaluasi hasil adalah untuk
menentukan sejauh mana kurikulum yang
diimplementasikan tersebut telah dapat
memenuhi kebutuhan kelompok yang
menggunakannya. Evaluator mengumpulkan
berbagai macam informasi mengenai hasil
belajar, membandingkannya dengan standard
dan mengambil keputusan mengenai status
kurikulum (direvisi, diganti atau dilanjutkan).
Model CIPP
Evaluasi Kuantitatif
34
 jenis data yang diperlukan adalah data objektif
(skor hasil tes) juga data subjektif atau
judgemental data (pandangan para guru,
reaksi para siswa dll).
 Model CIPP mencoba menghubungkan
program evaluasi dengan pengambilan
keputusan.
 Hasil evaluasi bertujuan untuk memberikan
analisa dan dasar yang rasional untuk
diambilnya sebuah keputusan
2.6. Mekanisme dan Prosedur Penilaian
Evaluasi Kuantitatif
35
Evaluasi dapat dilakukan melalui teknik :
 Non test : skala penilaian ( rating scale),
kuesioner, daftar cek (check list), wawancara
(interview), pengamatan (observation).
 Teknik test : test sumatif, test formatif , dan
test diagnostic.
Mekanisme dan Prosedur Penilaian
Evaluasi Kuantitatif
36
Syarat-syarat penyusunan Evaluasi yang baik :
 Validitas
 Reliabilitas
 Objektivitas
 Praktibilitas
 Kemampuan membandingkan.
BAB III PENUTUP
Evaluasi Kuantitatif
37
3.1. Kesimpulan
 Evaluasi pendidikan sebagai suatu proses yang
sistematis berguna untuk mengetahui sejauh
mana tujuan pendidikan yang telah ditetapkan
tercapai, juga untuk menghimpun data-data dan
informasi tentang kemajuan dan perkembangan
peserta didik setelah mengikuti suatu pelajaran
dalam jangka waktu tertentu.
 Inovasi system pengevaluasian dalam
pendidikan dilakukan terus menerus, guna
mencapai pendidikan yang lebih baik
Evaluasi Kuantitatif
38
 Inovasi system pengevaluasi dalam pendidikan
dilakukan terus menerus, guna mencapai
pendidikan yang lebih baik .
 Evaluasi masa kini tidak berkutat dan
mementingkan penilaian yang bersifat cognitive
atau pengetahuan belaka, melainkan
mempertimbangkan penilaian pada ranah
psikomotor dan afektive.
 Begitupun, proses penilaian tidak hanya
dilakukan pada awal pembelajaran dan akhir
pembelajaran saja melainkan pada proses dan
dimensi lain yang menunjang keberhasilan atau
kegagalan dalam pencapaian suatu tujuan
pendidikan.
Saran
Evaluasi Kuantitatif
39
3.2. Saran
 Melihat pentingnya evaluasi kurikulum untuk
dilakukan sesuai prosedur, maka kami
menyarankan kepada evaluator untuk
memahami benar teori-teori evaluasi
kurikulum serta teori kurikulum yang sedang
dijalankan oleh satuan pendidikan. Sehingga
evaluasi kurikulum tersebut bermanfaat
sebagaimana tujuan dari evaluasi kurikulum
itu sendiri.
Evaluasi Kuantitatif
40
 Penulis menyarankan agar para evaluator
semakin bertindak objektif saat melakukan
evaluasi. Evaluasi sebaiknya dilakukan
secara menyeluruh dan
berkesinambungan , serta memanfaatkan
data dan informasi hasil evaluasi tersebut
sebagai landasan dalam pengambilan
keputusan-keputusan penting menyangkut
kemajuan pendidikan yang diserta tindak
lanjut nyata sebagai umpan balik.
DAFTAR PUSTAKA
Evaluasi Kuantitatif
41
 Arikunto, S. (2007). Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan.
Jakarta: PT Bumi Aksara.
 http://en.wikipedia.org/wiki/Main_Page. (n.d.). Retrieved
September 15, 2014
 CIPP Model of evaluation. (n.d.). Retrieved September 10,
2014, from Wikipedia The Free Encyclopedia:
http://en.wikipedia.org
 Permendiknas no 66 ( 2013) tentantang Standar Penilaian
 Quantitative Approach to Evaluation and Assessment. (n.d.).
Retrieved September 12, 2014, from
http://olms1.cte.jhu.edu/olms/output/page.php?id=308
 Sudjana, N., & Ibrahim. (2009). Penelitian dan penilaian
Pendidikan. Bandung: Sinar baru Algensindo.
 Trianto. (2010). Mendisain Model Pembelajaran Inovatif-
Progresif. Jakarta: Kharisma Putu Utama.
THANKS…. !
Evaluasi Kuantitatif
42
Special Thanks to
Dr. Hj. Arnie Fajar, M.Pd

Model Evaluasi Kualitatif dan Kuantitatif

  • 1.
    MODEL EVALUASI KUANTITATIF R. HerawatiSuryanegara Evaluasi Kuantitatif 1
  • 2.
    BAB I PENDAHULUAN  Kualitaspendidikan suatu negara menunjukan tingkat kemakmuran suatu bangsa.  Melalui pendidikan, Indonesia berusaha mencetak generasi unggul, yang beriman dan bertakwa, mampu bersaing dengan negara lain , mampu menghadapi tantangan jaman , trampil dan cerdas dalam menyelesaikan masalah-masalah pribadi dan social. Evaluasi Kuantitatif 2
  • 3.
    Evaluasi kuantitatif  Evaluasipendidikan penting dilakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Oleh karena itu, evaluasi pendidikan perlu dipahami dengan benar, bahwa pengevaluasian pendidikan yang baik, bukanlah semata-mata sebagai suatu kegiatan pencarian informasi yang alakadarnya, melainkan harus melalui tahapan-tahapan tertentu dan dilakukan secara berkesinambungan. Evaluasi Kuantitatif 3
  • 4.
    BAB II PEMBAHASAN  2.1.Pengertian Evaluasi Pendidikan  Evaluasi berasal dari bahasa Inggris yaitu evaluation, dalam bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai penilaian.  Ralph Tyler dalam Arikunto ( 2007:3) : Evaluasi merupakan sebuah proses pengumpulan data untuk menentukan sejauh mana, dalam hal apa, dan bagaimana tujuan pendidikan sudah tercapai.  Cronbach dan Stuffebean : proses evaluasi bukan sekedar mengukur sejauh mana tujuan tercapai, tetapi digunakan untuk membuat keputusan. Evaluasi Kuantitatif 4
  • 5.
    Permendiknas No. 66th 2013  tentang Standar Penilaian pendidikan : Penilaian Pendidikan adalah proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik.  Prinsif penilaian meliputi :  Shahih  Objektif  Ekonomis  Transparan  Akuntabel Evaluasi Kuantitatif 5
  • 6.
    2.2. Perkembangan konsepdan lingkup Sasaran Evaluasi/Penilaian  Keadaan konsep dan lingkup sasaran penilaian menurut Nana Sudjana dan Ibrahim (2009:213- 215),terbagi dalam :  Masa sebelum th.1930. Kegiatan pengukuran dan penilaian sangat bersifat kuantitatif dan lebih banyak diarahkan untuk memeriksa perbedaan-perbedaan individual. Dalam bidang pendidikan , berbagai alat uji /tes diarahkan untuk mmengungkapkan informasi tentang perbedaan individual antara siswa yang satu dengan siswa yang lainnya dalam setiap bidang studi. Evaluasi Kuantitatif 6
  • 7.
    Evaluasi kuantitatif Hasil pengukuranhanya mengungkap informasi tentang perbedaan-perbedaan individual dan bukan tentang kualitas kurikulum atau system pendidikan.  Keadaan antara 1930 -1960 Pada masa ini mulai tumbuh kebutuhan untuk menghubungkan kegiatan penilaian dengan upaya perbaikan kurikulum/system pendidikan. Ralph W.Tyler adalah salah satu tokoh yang menghubungkan antara penilaian dan perbaikan kurikulum Evaluasi Kuantitatif 7
  • 8.
    Evaluasi kuantitatif Evaluasi Kuantitatif 8 Perkembangan setelah th 1960 Pada masa ini penilaian diperlukan untuk mengetahui :  Sejauh mana tujuan pendidikan berhasil dicapai  Bagian mana dari kurikulum yang masih lemah, factor-faktor apa yang menyebabkan dan bagaimana cara memperbaikinya  Apakah kurikulum baru yang dikembangkan tersebut lebih unggul dari kurikulum yang ada ditinjau dari berbagai segi.
  • 9.
    2.3. Sasaran, Tujuandan Fungsi Evaluasi Evaluasi Kuantitatif 9 Suharsimi Arikunto (2007:4-5) sasaran evaluasi unsur- unsurnya :  Input Kemampuan, kepribadian, sikap, dan intelegensi  Transformasi Kurikulum/materi, metode dan cara penilaian, sarana pendidikan/media, system administrasi, guru, dan personel lainnya  Out put Dilakukan untuk mengetahui sejauh mana tingkat pencapaian prestasi belajar mereka selama mengikuti program. Alat untuk mengukur pencapaian ini disebut achievement test
  • 10.
    Unsur –unsur penentukeberhasilan Transformasi Evaluasi Kuantitatif 10  Siswa itu sendiri  Guru dan personal lainnya  Bahan pelajaran  Metode mengajar dan system evaluasi  Sarana penunjang  System administrasi
  • 11.
    Tujuan dan fungsievaluasi , Suharsimi (2007-10- 11) : Evaluasi Kuantitatif 11 1. Penilaian berfungsi selektif Untuk memilih siswa yang dapat diterima di sekolah tertentu Memilih siswa yang dapat naik kelas atau tidak Memilih siswa yang seharusnya mendapat beasiswa Memilih siswa yang sudah berhak meninggalkan sekolah
  • 12.
    Fungsi penilaian Evaluasi Kuantitatif 12 2.Penilaian berfungsi diagnostic Dengan mengadakan penilaian, guru dapat mengetahui kelemahan siswa dan mengetahui sebab kelemahan tersebut. Dengan mengadakan penilaian maka mempermudah mencari cara untuk mengatasi kelemahan tersebut.
  • 13.
    Fungsi penilaian Evaluasi Kuantitatif 13 3.Penilaian berfungsi sebagai penempatan Hasil penilaian untuk menentukan dengan pasti di kelompok mana seorang siswa harus digunakan. Sekelompok siswa yang mempunyai hasil penilaian yang sama, akan berada dalam kelompok yang sama dalam belajar. 4. Penilaian berfungsi sebagai pengukur keberhasilan. Penilaian dilakukan untuk mengetahui sejauh mana suatu program berhasil diterapkan.
  • 14.
    2.4. Pengertian EvaluasiKuantitatif dan Evaluasi Kualitatif Evaluasi Kuantitatif 14  Evaluasi kuantitatif : - menekankan paradigma bahwa suatu variable atau gejala dapat digambarkan secara teoritik. Hasil dari evaluasi kuantitatif dapat berupa angka- angka hasil pengukuran - Bahwa pendekatan kuantitatif adalah proses pengukuran yang objektif yang menggunakan prosedur formal dan metode yang fokus pada bidang yang sangat spesifik yaitu perkembangan anak yang dapat dengan mudah diamati dan dicatat
  • 15.
    Perbedaan kualitatif dankuantitatif Evaluasi Kuantitatif 15 - Informasi dikumpulkan pada satu waktu, dan hasilnya dapat digunakan untuk membandingkan kinerja anak dalam grup dan usia yang sama / sebaya. Hasil ini juga dapat menunjukkan apakah seorang anak telah menguasai tujuan khusus yang ditetapkan atau tidak. - Ciri berikutnya dari model kuantitatif adalah tidak digunakannya pendekatan proses dalam mengembangkan criteria evaluasi
  • 16.
    Perbedaan kualitatif dankuantitatif Evaluasi Kuantitatif 16  Prosedur evaluasi kuantitatif meliputi : - Penentuan masalah dan pertanyaan evaluasi - Penentuan variable, jenis data dan sumber data - Penentuan metodologi - Pengembangan instrument - Penentuan proses pengumpulan data - Pengumpulan data dan proses pengolahan data
  • 17.
    Perbedaan kualitatif dankuantitatif Evaluasi Kuantitatif 17  model evaluasi kualitatif selalu menempatkan proses pelaksanaan kurikulum sebagai focus utama evaluasi. Oleh karena itulah dimensi kegiatan dan proses lebih mendapatkan perhatian dibandingkan dimensi lain.  Hasil evaluasi kualitatif berupa peringkat, mis.sangat baik, baik, sedang, kurang, sangat kurang
  • 18.
    Model evaluasi Evaluasi Kuantitatif 18 Said Hamid Hasan (1988 : 83 – 136) mengelompokan model evaluasi sebagai berikut : - Model evaluasi kuantitaif : model Tyler,model teoritik, Tyler and Maguire,model pendekatan sitem Alkin, model countinence stake, model CIPP, model ekonomi makro. - Model evaluasi Kualitatif : model Studi Kasus, model Iluminatif, dan model responsive.
  • 19.
    2.5. Model EvaluasiKuantitatif Evaluasi Kuantitatif 19  Congruence Model Penilaian model ini adalah usaha untuk memeriksa kesesuaian (congruence) antara tujuan pendidikan yang ingin dicapai dan hasil belajar yang telah dicapai karena itu dapat kita sebut sebagai model Congruence.
  • 20.
    Congruence Model Evaluasi Kuantitatif 20 Tyler dalam Nana Sudjana dan Ibrahim (2009 :238-239) hakekat penilaian dimaksud sebagai kegiatan untuk melihat sejauh mana tujuan-tujuan pendidikan telah dapat dicapai siswa dalam bentuk hasil belajar yang mereka perlihatkan pada akhir kegiatan pendidikan. Hal ini berarti bahwa penilaian itu pada dasarnya ingin memperoleh gambaran mengenai efektivitas dari system pendidikan dalam mencapai tujuan
  • 21.
    Congruence Model Evaluasi Kuantitatif 21 Modelini dibangun atas dua pemikiran yaitu:  Evaluasi ditujukan kepada tingkah laku peserta didik  Evaluasi diadakan kepada peserta didik pada awal pembelajaran dan sesudah melaksanakan pembelajaran (hasil belajar). Menekankan adanya pre test dan post test karena itu disebut model Black Box
  • 22.
    Congruence Model Evaluasi Kuantitatif 22 MenurutTyler dalam Nana Sudjana dan Ibrahim (2009 : 242) ada 4 langkah pokok yang harus dilakukan adalah :  Menentukan tujuan pembelajaran yang akan dievaluasi  Menetapkan “test situation” yang diperlukan. Situasi dapat berbentuk demonstrasi menggunakan media, memecahkan persoalan secara tertulis, memimpin kegiatan kelompok,dan sebagainya
  • 23.
    Congruence Model Evaluasi Kuantitatif 23 Menentukan alat evaluasi yang akan digunakan  Menggunakan hasil penelitian . Untuk kepentingan bimbingan siswa maupun untuk perbaikan system
  • 24.
    Educational System EvaluationModel Evaluasi Kuantitatif 24  Ruang lingkup model evaluasi ini lebih luas dari model Tyler. Tokoh – tokoh penilaian ini antara lain Daniel L. Stuflebeam, Robert E. Stake dan Malcom M.  Hakekat penilaian ini adalah bahwa keberhasilan dalam mencapai tujuan pendidikan dipengaruhi oleh berbagai factor yang mempengaruhi konsep penilaian
  • 25.
    Educational System EvaluationModel Evaluasi Kuantitatif 25  Penilaian menurut model ini bermaksud membandingkan performance dari berbagai dimensi system yang dikembangkan dengan sejumlah criteria tertentu untuk akhirnya sampai pada suatu deskripsi dan judgement mengenai system yang dinilai tersebut.  Menekankan pentingnya system penilaian yang menyeluruh terhadap dimensi-dimensi yang berpengaruh terhadap hasil yang akan dicapai tidak semata pada aspek hasil yang dicapai saja
  • 26.
    Educational System EvaluationModel Evaluasi Kuantitatif 26 Pendekatan yang ditempuh oleh model ini dalam pelaksanaan evaluasi adalah :  Membandingkan performance setiap dimensi system dengan criteria intern system itu sendiri  Membandingkan performance setiap dimensi system dengan criteria ekstern diluar system itu sendiri
  • 27.
    Educational System EvaluationModel Evaluasi Kuantitatif 27  Robert E. Stake dalam Nana Sudjana dan Ibrahim (2009:244-245) berpandangan bahwa kegiatan penilaian tidak hanya berakhir pada suatu deskripsi tentang keadaan dari sesuatu yang dinilainya , melainkan harus sampai pada suatu judgement mengenai baik-buruk, efektif tidaknya suatu system.
  • 28.
    Educational System EvaluationModel Evaluasi Kuantitatif 28 Stake membagi objek penilaian atas 3 katagori :  Antecedents Dimensi ini meliputi sumber/modal/input ; tenaga, keuangan, karakteristik siswa, dan tujuan yang ingin dicapai  Transactions Dimensi ini mencakup rencana kegiatan, proses pelaksanaan, bentuk interaksi anatara guru dan siswa dsb.  Outcomes Dimensi ini menilai hasil yang dicapai siswa, reaksi guru terhadap system tersebut dan efek samping dari system yang bersangkutan.
  • 29.
    Model CIPP Evaluasi Kuantitatif 29 Model CIPP dikembangkan oleh Daniel Stufflebeam dan rekan pada tahun 1960. Model ini unik karena memungkinkan evaluator untuk mengevaluasi program pada tahap yang berbeda yaitu; sebelum program dimulai untuk membantu evaluator menilai kebutuhan apa yang diperlukan dan pada akhir program untuk menilai apakah sebuah program telah berjalan efektif atau tidak
  • 30.
    Model CIPP Evaluasi Kuantitatif 30 4dimensi evaluasi model CIPP, yaitu:  Evaluasi Context Tujuan utama dari evaluasi context adalah untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan evaluan. Evaluator mengidentifikasi berbagai factor guru, peserta didik, manajemen, fasilitas kerja, suasana kerja, peraturan, peran komite sekolah, masyarakat dan factor lain yang mungkin berpengaruh terhadap kurikulum.
  • 31.
    Model CIPP Evaluasi Kuantitatif 31 Evaluasi Input Evaluator menentukan tingkat kemanfaatan berbagai factor yang dikaji dalam konteks pelaksanaan kurikulum. Pertimbangan mengenai ini menjadi dasar bagi evaluator untuk menentukan apakah perlu ada revisi atau pergantian kurikulum.
  • 32.
    Model CIPP Evaluasi Kuantitatif 32 Process Evaluasi proses adalah evaluasi mengenai pelaksanaan dari suatu inovasi kurikulum. Evaluator mengumpulkan berbagai informasi mengenai keterlaksanaan implementasi kurikulum, berbagai kekuatan dan kelemahan proses implementasi. Evaluator harus merekam berbagai pengaruh variable input terhadap proses
  • 33.
    Model CIPP Evaluasi Kuantitatif 33 Product tujuan utama dari evaluasi hasil adalah untuk menentukan sejauh mana kurikulum yang diimplementasikan tersebut telah dapat memenuhi kebutuhan kelompok yang menggunakannya. Evaluator mengumpulkan berbagai macam informasi mengenai hasil belajar, membandingkannya dengan standard dan mengambil keputusan mengenai status kurikulum (direvisi, diganti atau dilanjutkan).
  • 34.
    Model CIPP Evaluasi Kuantitatif 34 jenis data yang diperlukan adalah data objektif (skor hasil tes) juga data subjektif atau judgemental data (pandangan para guru, reaksi para siswa dll).  Model CIPP mencoba menghubungkan program evaluasi dengan pengambilan keputusan.  Hasil evaluasi bertujuan untuk memberikan analisa dan dasar yang rasional untuk diambilnya sebuah keputusan
  • 35.
    2.6. Mekanisme danProsedur Penilaian Evaluasi Kuantitatif 35 Evaluasi dapat dilakukan melalui teknik :  Non test : skala penilaian ( rating scale), kuesioner, daftar cek (check list), wawancara (interview), pengamatan (observation).  Teknik test : test sumatif, test formatif , dan test diagnostic.
  • 36.
    Mekanisme dan ProsedurPenilaian Evaluasi Kuantitatif 36 Syarat-syarat penyusunan Evaluasi yang baik :  Validitas  Reliabilitas  Objektivitas  Praktibilitas  Kemampuan membandingkan.
  • 37.
    BAB III PENUTUP EvaluasiKuantitatif 37 3.1. Kesimpulan  Evaluasi pendidikan sebagai suatu proses yang sistematis berguna untuk mengetahui sejauh mana tujuan pendidikan yang telah ditetapkan tercapai, juga untuk menghimpun data-data dan informasi tentang kemajuan dan perkembangan peserta didik setelah mengikuti suatu pelajaran dalam jangka waktu tertentu.  Inovasi system pengevaluasian dalam pendidikan dilakukan terus menerus, guna mencapai pendidikan yang lebih baik
  • 38.
    Evaluasi Kuantitatif 38  Inovasisystem pengevaluasi dalam pendidikan dilakukan terus menerus, guna mencapai pendidikan yang lebih baik .  Evaluasi masa kini tidak berkutat dan mementingkan penilaian yang bersifat cognitive atau pengetahuan belaka, melainkan mempertimbangkan penilaian pada ranah psikomotor dan afektive.  Begitupun, proses penilaian tidak hanya dilakukan pada awal pembelajaran dan akhir pembelajaran saja melainkan pada proses dan dimensi lain yang menunjang keberhasilan atau kegagalan dalam pencapaian suatu tujuan pendidikan.
  • 39.
    Saran Evaluasi Kuantitatif 39 3.2. Saran Melihat pentingnya evaluasi kurikulum untuk dilakukan sesuai prosedur, maka kami menyarankan kepada evaluator untuk memahami benar teori-teori evaluasi kurikulum serta teori kurikulum yang sedang dijalankan oleh satuan pendidikan. Sehingga evaluasi kurikulum tersebut bermanfaat sebagaimana tujuan dari evaluasi kurikulum itu sendiri.
  • 40.
    Evaluasi Kuantitatif 40  Penulismenyarankan agar para evaluator semakin bertindak objektif saat melakukan evaluasi. Evaluasi sebaiknya dilakukan secara menyeluruh dan berkesinambungan , serta memanfaatkan data dan informasi hasil evaluasi tersebut sebagai landasan dalam pengambilan keputusan-keputusan penting menyangkut kemajuan pendidikan yang diserta tindak lanjut nyata sebagai umpan balik.
  • 41.
    DAFTAR PUSTAKA Evaluasi Kuantitatif 41 Arikunto, S. (2007). Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT Bumi Aksara.  http://en.wikipedia.org/wiki/Main_Page. (n.d.). Retrieved September 15, 2014  CIPP Model of evaluation. (n.d.). Retrieved September 10, 2014, from Wikipedia The Free Encyclopedia: http://en.wikipedia.org  Permendiknas no 66 ( 2013) tentantang Standar Penilaian  Quantitative Approach to Evaluation and Assessment. (n.d.). Retrieved September 12, 2014, from http://olms1.cte.jhu.edu/olms/output/page.php?id=308  Sudjana, N., & Ibrahim. (2009). Penelitian dan penilaian Pendidikan. Bandung: Sinar baru Algensindo.  Trianto. (2010). Mendisain Model Pembelajaran Inovatif- Progresif. Jakarta: Kharisma Putu Utama.
  • 42.
    THANKS…. ! Evaluasi Kuantitatif 42 SpecialThanks to Dr. Hj. Arnie Fajar, M.Pd