INSTRUMEN PENELITIAN
OLEH :
A. RIVAI S. DUNGGIO
Pengertian
• Instrumen penelitian adalah suatu alat yang digunakan untuk
mengukur fenomena alam maupun sosial yang diamati
(Sugiono, 2013)
• Instrumen penelitian pada dasarnya alat yang digunakan untuk
mengumpulkan data dalam penelitian (Purwanto, 2018),.
METODE PENGUMPULAN DATA
 Melihat apa yang ingin dilihat
 Mendengar apa yang ingin
didengar
 Melakukan apa yang menjadi
keinginannya
Manusia
Cenderung
Mengganggu peneliti (manusia)
dalam melakukan pengamatan
 Mengumpulkan data  pekerjaan yang
melelahkan dan sangat sulit
 Kurang pengalaman mengumpulkan data
 semakin condong (bias) data yang
terkumpul oleh karena itu harus ahli yang
melakukannya
 Mengumpulkan data  pekerjaan penting
dalam meneliti.
PENGUMPULAN DATA
• Pengumpulan data  proses pendekatan kepada subyek dan
proses pengumpulan karakteristik subyek yang diperlukan dalam
suatu penelitian
• Semua metode mempunya tujuan untuk memperoleh ukuran
variabel
• Fokus pengumpul data :
– Penyediaan subyek
– Melatih tenaga pengumpul data (jika perlu)
– Memperhatikan prinsip-prinsip validitas dan reliabilitas
– Menyelesaikan masalah yang terjadi  data terkumpul sesuai rencana
yang ditetapkan
TUGAS-TUGAS PENELITI
 Memilih subyek
 Mempertahankan konsistensi
 Mempertahankan kendali/kontrol
 Mempertahankan integritas/validitas penelitian
 Problem solving
KARAKTERISTIK METODE
PENGUMPULAN DATA
 Struktur  pengumpulan data yang benar-benar
sesuai dari semua subyek
 Kuantitatif  berdasarkan perhitungan sehingga
dapat dianalisa secara statistik
 Obstrusivenes  didasarkan pada kemampuan status
subyek
 Obyektif
MASALAH-MASALAH PADA
PENGUMPULAN DATA
 Masalah pada subyek
 Keterbatasan jumlah subjek
 Subject Mortality
 Subjek sebagai objek
 Pengaruh dari luar
 Passive resisten
MASALAH-MASALAH PADA
PENGUMPULAN DATA
 Masalah pada peneliti
 Interaksi
 Kurang keterampilan
 Konflik peran dari peneliti
PRINSIP-PRINSIP ETIS DALAM PENELITIAN
 Prinsip Manfaat
 Bebas dari penderitaan
 Bebas dari eksploitasi
 Resiko (benefits ratio)
 Prinsip menghargai HAM
 Hak untuk ikut/tidak menjadi responden
 Hak untuk mendapatkan jaminan dari perlakukan yang diberikan
 Informed consent
PRINSIP-PRINSIP ETIS DALAM PENELITIAN
 Prinsip keadilan
 Hak untuk mendapatkan pengobatan yang adil
 Hak dijaga kerahasiaannya
PENGAMATAN (OBSERVASI)
 Pengamatan  hasil perbuatan jiwa secara aktif dan penuh
perhatian untuk menyadari adanya rangsangan
 Mula-mula penginderaan apabila ada rangsangan 
pengamatan
 Contoh proses pengamatan
Seorang wanita di depan kita.
 Mengamati bukan hanya melihat obyek
 Mengobservasi (istilah umum) semua bentuk
penerimaan data dengan cara merekam kejadian,
menghitungnya, mengukurnya dan mencatatnya.
 Observasi  usaha sadar, sistematis dan prosedur
terstandar
PENGAMATAN (OBSERVASI)
 Pengamatan (penelitian)  prosedur yang berencana,
meliputi melihat dan mencatat jumlah dan taraf aktivitas
tertentu yang ada hubungannya dengan masalah yang
diteliti.
 Observasi bukan hanya “mengunjungi”, “melihat”,tapi
disertai aktivitas jiwa (perhatian khusus) dan mencatat.
 Observasi  studi yang disengaja dan sistematis tentang
fenomena sosial dan gejala-gejala psychis dengan jalan
mengamati dan mencatat.
PENGAMATAN DAN INGATAN
 Ingatan  kekuatan jiwa untuk menerima,
menyimpan, dan memproduksi kesan
 Pengamatan perlu ingatan :
– Cepat : dalam waktu singkat dapat paham tanpa
jumpai kesukaran
– Setia : kesan-kesan disimpan sebaik-baiknya, tak
akan berubah
– Teguh : simpan kesan waktu lama, tak mudah lupa
– Luas : simpan kesan yang banyak
Atasi kelemahan dan kurangi kesalahan dalam
mengingat
 Klasifikasi gejala yang relevan
 Observasi diarahkan pada gejala yang relevan
 Gunakan jumlah pengamatan yang lebih
banyak
 Lakukan pencatatan segera
 Didukung pula dengan alat-alat
mekanik/elektrolit (kamera, film, tape recorder)
SASARAN PENGAMATAN
 Banyak gejala dijadikan sasaran  sukar
temukan apa yang diamati
 Batasi sasaran pengamatan  pelajari
teori-teori/pengetahuan
 Contoh : Status sosial  kekayaan
 Tentukan batas sasaran pengamatan 
rangka penulisan (teori/konsep dan
hipotesis)
 Konsep atau hipotesis  instrumen yang
lebih konkrit
Beberapa Jenis Pengamatan
 Pengamatan Terlibat (observasi Partisipatif)
 Pengamatan sistematis
 Observasi Eksperimental
Pengamatan Terlibat (observasi Partisipatif)
 Pengamat (observer) benar-benar mengambil bagian dalam
kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh sasaran pengamatan.
 Perlu diperhatikan : pengamat tidak boleh diketahui sasaran
pengamatan
 Jenis pengamatan bersifat eksploratif
Observee tahu, kemungkinan terjadi :
 Tingkah laku mereka akan dibuat-buat
 Kepercayaan mereka terhadap observer
akan hilang, yang akhirnya menutup diri
dan selalu berprasangka
 Dapat mengganggu situasi dan relasi
pribadi
 Akibat dari ini semua akan diperoleh
data yang bias.
Hal Keberhasilan Observasi Partisipatif
 Dirumuskan gejala apa yang harus diobservasi
 Diperhatikan cara pencatatan yang baik,
sehingga tidak menimbulkan kecurigaan
 Memelihara hubungan baik dengan observee
 Mengetahui batas intensitas partisipasi
 Menjaga agar situasi dan iklim psikologis tetap
wajar
 Sebaiknya melalui tokoh-tokoh masyarakat
(key person)
Intensitas Partisipasi
 Partisipasi Partiil (sebagian)  hanya mengambil bagian dari
kegiatan-kegitan tertentu saja.
 Partisipasi penuh  ikut serta pada semua kegiatan sosial
yang ada.
Pengamatan Sistematis
 Kerangka atau struktur yang jelas : faktor yang diperlukan,
sudah dikelompokkan dalam kategori-kategori.
 Terarah materi observasi mempunyai skope yang lebih
sempit dan terbatas
 Observasi pendahuluan (observasi partisipasi)  penemuan
dan perumusan masalah  sasaran observasi.
Observasi Eksperimental
 Observee dicoba atau dimasukkan ke dalam suatu kondisi
atau situasi tertentu.
 Semua kondisi dan faktor-faktornya dapat diatur dan
dikendalikan  pengamatan terkendali.
 Keuntungannya : tidak perlu waktu lama dalam mengamati
gejala karena distimulus. Contoh :gejala frustasi, reaksi,
ketekunan dll.
Observasi Eksperimental
 Kelemahan : bias, karena dipaksa.
 Atasi kelemahan : “one way screen”  pengamat melihat
yang diperbuat melalui layar.
 Dilakukan : Laboratorium ilmiah, klinik khusus, ruang
penelitian
Kelebihan Tehnik Pengamatan
 Murah, mudah, dan langsung guna.
 Tidak mengganggu sasaran pengamatan
(observee)
 Mudah memperoleh banyak gejala-gejala
psychis yang penting yang tidak atau
sukar diperoleh dengan tehnik lain.
 Dimungkinkan mengadakan pencatatan
secara serempak kepada observee yang
lebih banyak
Kekurangan Tehnik Pengamatan
 Banyak peristiwa psychis tertentu yang tidak
dapat diamati seperti harapan, keinginan, dan
masalah-masalah yang sifatnya sangat pribadi
 Sering memerlukan waktu yang lama,
sehingga membosankan  gejala tidak
muncul
 Jika observee tahu, sifatnya dibuat-buat
 Sering subjektifitas dari observer tidak dapat
dihindari.
ALAT OBSERVASI
• Check List
• Skala Penilaian (ratig scale)
• Daftar Riwayat Kelakuan (Anecdotal
Record)
• Alat-alat mekanik (electronics)
Check List
 Daftar pengecek, berisi nama subyek
dan beberapa gejala/identitas lainnya
dari observee
 Observer memberi tanda check (x)
sesuai gejala dari observee
 Sifat invidual atau kelompok
 Kelemahan : sajikan data kasar saja
dan mencatat ada atau tidak ada
Contoh
Faktor2/Gejala
Disiplin Kecerdasan Ketekunan Keterampilan
Nama
1. Ali
2. Badu
3. Cholik
4. Dadang
5. dst
V
-
V
-
V
V
V
-
-
V
V
-
-
V
V
V
Skala Penilaian (rating scale)
 Daftar berisikan ciri-ciri tingka laku, yang dicatat secara
bertingkat
 Menerangkan, menggolongkan, dan menilai seseorang
atau suatu gejala
 Bentuk skala penilaian :
 Bentuk kuantitas yang menggunakan score atau rangking
 Rating scale dalam bentuk diskripsi
 Rating scale dalam bentuk grafis
Daftar Riwayat Kelakuan (Anecdotal Record)
• Catatan-catatan mengenai tingkah laku seseorang
(observee) yang luar biasa sifatnya atau yang khas
• Dibuat segera saat peristiwa atau sesudah terjadi baik
verbal maupun non verbal
• Dilakukan : observer atau ; guru, pemimpin, direktur, dsb.
Alat-Alat Mekanik (Electronics)
Dapat diputar kembali setiap saat untuk
memungkinkan mengadakan analisis secara
teliti.
Alat-alat ini antara lain : kamera dan handcam.
WAWANCARA
 Dapat data dari observee secara lisan, atau bercakap-
cakap berhadapan dengan observee (face to face)
 Pembantu utama metode observasi  peroleh data yang
tidak dapat terlihat
Hal yang diperhatikan interviewer dan
interviewee
Saling melihat, saling mendengar dan saling
mengerti
Terjadi percakapan biasa, tidak kaku (formal)
Mengadakan persetujuan/perencanaan
pertemuan dengan tujuan tertentu
Menyadari adanya kepentingan yang berbeda ;
pencari dan pemberi informasi
JENIS-JENIS WAWANCARA
Wawancara tidak terpimpin
Wawancara terpimpin
Wawancara bebas terpimpin
Free Talk dan Diskusi
Wawancara Tidak Terpimpin
• Tidak ada pokok persoalan yang menjadi
fokus dalam wawancara
• Pertanyaan tidak sistematis, melompat-lompat
dari topik satu ke topik lainnya tanpa
berkaitan
• Wawancara tanpa pedoman yang tegas
Kelemahan Wawancara Tidak Terpimpin
Kurang efisien
Tidak ada pengecekan secara sistematis,
sehingga realibilitasnya kurang
Memboroskan tenaga, pikiran, biaya, dan waktu
Sulit untuk diolah/dianalisis
Wawancara Terpimpin
 Mempunyai pedoman berupa kuesioner yang telah disiapkan
 Pedoman mencakup variabel-variabel yang berkaitan dengan
hipotesis
 Keuntungan :
 Pengumpulan dan pengolahan data dapat berjalan cermat/teliti
 Dapat disajikan secara kualitatif maupun kuantitatif
 Interviewer dapat dilakukan beberapa orang, karena ada pertanyaan-
pertanyaan yang uniform.
Kelemahan wawancara terpimpin
 Wawancara jadi kaku (rigid)
 Interviewer selalu dibayangi pertanyaan-pertanyaan
yang sudah disusun
 Interviewer jadi terlalu formal, sehingga hubungannya
dengan responden kurang fleksibel
Wawancara Bebas Terpimpin
 Kombinasi wawancara terpimpin dan tidak terpimpin
 Mempunyai ciri fleksibilitas (keluwesan) dan arah yang
jelas
Free Talk dan Diskusi
 Interviewer bukan saja pencari data tapi juga sebagai
sugester, motivator, dan edukator sekaligus
 Free talk dipakai dalam interkasi klinis seperti
paramedis dan pasien  percepat proses
penyembuhan
TEHNIK WAWANCARA
Hubungan baik antara interviewer dan
interviewee
Keterampilan sosial interviewer
Pedoman dan Cara Pencatatan wawancara
Hubungan baik antara interviewer dan
interviewee
Lebih dahulu adakan pembicaraan
pendahuluan atau “warming up” untuk
perkenalan dan sekaligus untuk menjelaskan
tujuan wawancara.
Gunakan bahasa yang sederhana, mudah
dimengerti  bahasa sehari-hari dari
responden, atau mungkin bahasa daerah.
Hubungan baik antara interviewer dan
interviewee
Bahas permasalahan yang sesuai dengan minat
atau keahlian responden sehingga mereka tertarik
lebih dahulu.
Menciptakan suasana yang bebas dan santai,
sehingga responden tak merasa tertekan/terpaksa.
Hubungan baik antara interviewer dan
interviewee
Hindarkan kesan-kesan yang terburu-buru, tidak
sabar, dan sikap yang kurang menghargai (sinis).
Memberikan sugesti kepada interviewee bahwa
keterangan atau jawaban mereka sangat berharga,
tetapi dijaga pula jangan sampai mereka “over
acting”.
Hubungan baik antara interviewer dan
interviewee
“Probing” (menstimulasi percakapan). Apabila
jawaban itu masih kurang lengkap, atau mungkin
macet (tidak memperoleh jawaban dari
interviewee, rangsanglah sehingga jawaban
muncul).
Hubungan baik antara interviewer dan
interviewee
Hendaknya bersikap hati-hati, jangan sampai
menyentuh titik-titik kritis (critical points) dari
interviewee, misalnya hal-hal yang sangat sensitif
dan rahasia.
Harus memegang teguh “kode etik” interviewer
yang antara lain tidak membicarakan dengan
pihak siapa pun tentang rahasia dari interviewee.
Keterampilan Sosial Interviewer
Bersikap ramah, sopan, dan berpakaian rapi.
Menggunakan bahasa yang sopan, ringkas, dan
mudah ditangkap.
Bersikap luwes, supel dan bijaksana.
Menggunakan lagu dan nada suara yang menarik,
tidak terlalu keras, tetapi jangan terlalu lembut.
Keterampilan Sosial Interviewer
Bersikap responsif, pada saat-saat tertentu dapat ikut
merasakan sesuatu yang terjadi pada diri interviewee.
Misalnya, bila interviewee sedang menceritakan
penderitaan atau kegembiraannya, interviewer dapat ikut
menghayati.
Keterampilan Sosial Interviewer
Memberikan sugesti yang halus, tetapi tidak
sampai mempengaruhi jawaban responden.
Menunjukkan sikap keterbukaan dan setia,
sukarela, tidak menunjukkan sikap tertutup dan
terpaksa.
Keterampilan Sosial Interviewer
Apabila interviewer menggunakan alat-alat
pencatat (kuesioner misalnya), gunakanlah
secara informal. Bila mungkin tidak sampai
terlihat oleh interviewee.
Waktu bicara tataplah wajah interviewee,
demikian pula waktu mendengarkan jawaban-
jawaban dari mereka.
Keterampilan Sosial Interviewer
Waktu wawancara, lebih baik menyebut nama
responden (interviewee) dari pada hanya dengan
sebutan bapak, ibu, anda, atau saudara. Misalnya:
“Berapa anak Pak Kijo?” (lebih baik, daripada:
“Berapa anak Bapak?”).
Pedoman dan Cara Pencatatan Wawancara
 Pencatatan secara langsung
 Pencatatan ingatan
 Pencatatan dengan alat recording
 Pencatatan dengan field ratting, dan
 Pencatatan dengan field coding.
5) Pencatatan Data Wawancara dengan Kode
(Field Coding)
Seperti pada field rating, jawaban responden tidak dinilai
dengan angka “kata angka”, melainkan hanya dengan
tanda atau kode saja. Biasanya kode tersebut berupa
huruf atau tanda-tanda lain yang mengkiaskan jawaban-
jawabannya. Atau dengan tanda positif (+) atau tanda
negatif (-), untuk jawaban “ya” atau “tidak”.
Kelebihan Metode Wawancara
1. Tidak akan menemui kesulitan meskipun
respondennya buta huruf sekalipun, atau pada
lapisan masyarakat yang mana pun, karena alat
utamanya adalah bahasa verbal.
Kelebihan Metode Wawancara
2. Karena keluwesan dan fleksibilitasnya ini, maka metode
wawancara ini dapat dipakai sebagai verifikasi data
terhadap data yang diperoleh dengan cara observasi
ataupun angket.
3. Kecuali untuk menggali informasi, sekaligus dipakai
untuk mengadakan observasi terhadap perilaku pribadi.
Kelebihan Metode Wawancara
4. Merupakan suatu teknik yang efektif untuk menggali
gejala-gejala psychis, terutama yang berada di bawah
sadar.
5. Dari pengalaman para peneliti, metode ini sangat
cocok untuk dipergunakan di dalam pengumpulan
data-data sosial.
Kekurangan Metode Wawancara
1. Kurang efisien, karena memboroskan waktu, tenaga,
pikiran, dan biaya.
2. Diperlukan adanya keahlian/penguasaan bahasa dari
interviewer.
3. Memberi kemungkinan interviewer dengan sengaja
memutarbalikkan jawaban. Bahkan memberikan
kemungkinan interviewer untuk memalsu jawaban yang
dicatat di dalam catatan wawancara (tidak jujur).
Kekurangan Metode Wawancara
4. Apabila interviewer dan interviewee mempunyai
perbedaan yang sangat mencolok, sulit untuk
mengadakan rapport sehingga data yang diperoleh
kurang akurat.
5. Jalannya interview sangat dipengaruhi oleh situasi
dan kondisi sekitar, sehingga akan menghambat dan
mempengaruhi jawaban dan data yang diperoleh.
 Cara pengumpulan data atau suatu penelitian mengenai suatu
masalah yang umumnya banyak menyangkut kepentingan umum
(banyak orang). Angket ini dilakukan dengan mengedarkan suatu
daftar pertanyaan yang berupa formulir-formulir, diajukan secara
tertulis kepada sejumlah subjek yang mendapatkan tanggapan,
informasi, jawaban dan sebagainya.
 Teknik ini lebih cocok dipakai untuk memperoleh data yang
cukup luas, dari kelompok/masyarakat yang berpopulasi besar,
dan bertebaran tempatnya. Biasanya pengirimannya dilakukan
melalui pos kepada responden.
berbentuk formulir-formulir yang berisikan pertanyaan-
pertanyaan (question), maka angket sering disebut
“questionaire”. Tetapi tidak berarti kuesioner itu sama dengan
angket. Sebab kuesioner (daftar pertanyaan) itu tidak selalu
responden sendiri yang mengisi, di mana kuesioner ditanyakan
secara lisan kepada responden melalui wawancara, dan yang
mengisi kuesioner itu adalah interviewer berdasarkan jawaban
lisan dari responden.
 Jadi ada kuesioner yang langsung diisi oleh
responden sendiri, yang disebut “angket”, dan ada
kuesioner sebagai pedoman (pegangan)
wawancara.
 Mengingat bahwa responden sendiri yang harus
mengisi kuesioner tersebut, maka angket tidak
dapat dilakukan untuk responden yang buta huruf.
Beberapa Tipe Angket
a. Menurut Sifatnya
1. Angket umum, yang berusaha sejauh mungkin
untuk memperoleh selengkap-lengkapnya
tentang kehidupan seseorang.
2. Angket khusus, hanya berusaha untuk
mendapatkan data-data mengenai sifat-sifat
khusus dari pribadi seseorang.
Beberapa Tipe Angket
b. Menurut cara penyampaiannya
1. Angket langsung, apabila disampaikan langsung
kepada orang yang dimintai informasinya tentang
dirinya sendiri.
2. Angket tak langsung, apabila pribadi yang disuruh
mengisi angket adalah bukan responden
langsung. Ia akan menjawab dan memberikan
informasi tentang diri orang lain.
Beberapa Tipe Angket
c. Menurut bentuk strukturnya
1. Angket berstruktur. Angket ini disusun sedemikian rupa tegas,
definitif, terbatas, dan konkrit, sehingga responden dapat
dengan mudah mengisi atau menjawabnya.
2. Angket tak berstruktur. Angket ini dipakai bila peneliti
menghendaki suatu uraian dari informan atau responden
tentang suatu masalah dengan suatu penulisan atau penjelasan
yang panjang lebar. Jadi pertanyaannya bersifat terbuka dan
bebas.
Beberapa Tipe Angket
 Berdasarkan bentuk pertanyaannya atau menurut jenis penyusunan
item yang diajukan, angket dibedakan menjadi :
a. Angket berbentuk isian, di mana responden diberi kebebasan
untuk mengisi dengan jawaban yang sesuai menurut responden
(open ended item).
b. Angket berbentuk pilihan, di mana jawabannya telah disediakan
(closed ended item).
Kelebihan
 Dalam waktu singkat (serentak) dapat diperoleh
data yang banyak
 Menghemat tenaga dan mungkin biaya
 Responden dapat memilih waktu senggang untuk
mengisinya, sehingga tidak terlalu terganggu bila
dibandingkan dengan wawancara
 Secara psikhologis responden tidak merasa
terpaksa, dan dapat menjawab lebih terbuka, dan
sebagainya.
Kekurangan
• Jawaban akan lebih banyak dibumbui dengan
sikap dan harapan-harapan pribadi, sehingga lebih
bersifat subjektif.
• Dengan adanya bentuk (susunan) pertanyaan yang
sama untuk responden yang sangat hiterogen,
maka penafsiran pertanyaan akan berbeda-beda
sesuai dengan latar belakang sosial, pendidikan,
dan sebagainya dari responden.
Kekurangan
• Tidak dapat dilakukan untuk golongan masyarakat
yang buta huruf.
• Apabila responden tidak dapat memahami
pertanyaan/tak dapat menjawab, akan terjadi
kemacetan, dan mungkin responden tidak akan
menjawab seluruh angket.
•Sangat sulit untuk memutuskan pertanyaan-
pertanyaan secara cepat dengan menggunakan
bahasa yang jelas atau bahasa yang sederhana.
INSTRUMEN PENELITIAN

INSTRUMEN PENELITIAN

  • 1.
  • 2.
    Pengertian • Instrumen penelitianadalah suatu alat yang digunakan untuk mengukur fenomena alam maupun sosial yang diamati (Sugiono, 2013) • Instrumen penelitian pada dasarnya alat yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian (Purwanto, 2018),.
  • 3.
    METODE PENGUMPULAN DATA Melihat apa yang ingin dilihat  Mendengar apa yang ingin didengar  Melakukan apa yang menjadi keinginannya Manusia Cenderung Mengganggu peneliti (manusia) dalam melakukan pengamatan
  • 4.
     Mengumpulkan data pekerjaan yang melelahkan dan sangat sulit  Kurang pengalaman mengumpulkan data  semakin condong (bias) data yang terkumpul oleh karena itu harus ahli yang melakukannya  Mengumpulkan data  pekerjaan penting dalam meneliti.
  • 5.
    PENGUMPULAN DATA • Pengumpulandata  proses pendekatan kepada subyek dan proses pengumpulan karakteristik subyek yang diperlukan dalam suatu penelitian • Semua metode mempunya tujuan untuk memperoleh ukuran variabel • Fokus pengumpul data : – Penyediaan subyek – Melatih tenaga pengumpul data (jika perlu) – Memperhatikan prinsip-prinsip validitas dan reliabilitas – Menyelesaikan masalah yang terjadi  data terkumpul sesuai rencana yang ditetapkan
  • 6.
    TUGAS-TUGAS PENELITI  Memilihsubyek  Mempertahankan konsistensi  Mempertahankan kendali/kontrol  Mempertahankan integritas/validitas penelitian  Problem solving
  • 7.
    KARAKTERISTIK METODE PENGUMPULAN DATA Struktur  pengumpulan data yang benar-benar sesuai dari semua subyek  Kuantitatif  berdasarkan perhitungan sehingga dapat dianalisa secara statistik  Obstrusivenes  didasarkan pada kemampuan status subyek  Obyektif
  • 8.
    MASALAH-MASALAH PADA PENGUMPULAN DATA Masalah pada subyek  Keterbatasan jumlah subjek  Subject Mortality  Subjek sebagai objek  Pengaruh dari luar  Passive resisten
  • 9.
    MASALAH-MASALAH PADA PENGUMPULAN DATA Masalah pada peneliti  Interaksi  Kurang keterampilan  Konflik peran dari peneliti
  • 10.
    PRINSIP-PRINSIP ETIS DALAMPENELITIAN  Prinsip Manfaat  Bebas dari penderitaan  Bebas dari eksploitasi  Resiko (benefits ratio)  Prinsip menghargai HAM  Hak untuk ikut/tidak menjadi responden  Hak untuk mendapatkan jaminan dari perlakukan yang diberikan  Informed consent
  • 11.
    PRINSIP-PRINSIP ETIS DALAMPENELITIAN  Prinsip keadilan  Hak untuk mendapatkan pengobatan yang adil  Hak dijaga kerahasiaannya
  • 12.
    PENGAMATAN (OBSERVASI)  Pengamatan hasil perbuatan jiwa secara aktif dan penuh perhatian untuk menyadari adanya rangsangan  Mula-mula penginderaan apabila ada rangsangan  pengamatan  Contoh proses pengamatan Seorang wanita di depan kita.
  • 13.
     Mengamati bukanhanya melihat obyek  Mengobservasi (istilah umum) semua bentuk penerimaan data dengan cara merekam kejadian, menghitungnya, mengukurnya dan mencatatnya.  Observasi  usaha sadar, sistematis dan prosedur terstandar
  • 14.
    PENGAMATAN (OBSERVASI)  Pengamatan(penelitian)  prosedur yang berencana, meliputi melihat dan mencatat jumlah dan taraf aktivitas tertentu yang ada hubungannya dengan masalah yang diteliti.  Observasi bukan hanya “mengunjungi”, “melihat”,tapi disertai aktivitas jiwa (perhatian khusus) dan mencatat.  Observasi  studi yang disengaja dan sistematis tentang fenomena sosial dan gejala-gejala psychis dengan jalan mengamati dan mencatat.
  • 15.
    PENGAMATAN DAN INGATAN Ingatan  kekuatan jiwa untuk menerima, menyimpan, dan memproduksi kesan  Pengamatan perlu ingatan : – Cepat : dalam waktu singkat dapat paham tanpa jumpai kesukaran – Setia : kesan-kesan disimpan sebaik-baiknya, tak akan berubah – Teguh : simpan kesan waktu lama, tak mudah lupa – Luas : simpan kesan yang banyak
  • 16.
    Atasi kelemahan dankurangi kesalahan dalam mengingat  Klasifikasi gejala yang relevan  Observasi diarahkan pada gejala yang relevan  Gunakan jumlah pengamatan yang lebih banyak  Lakukan pencatatan segera  Didukung pula dengan alat-alat mekanik/elektrolit (kamera, film, tape recorder)
  • 17.
    SASARAN PENGAMATAN  Banyakgejala dijadikan sasaran  sukar temukan apa yang diamati  Batasi sasaran pengamatan  pelajari teori-teori/pengetahuan  Contoh : Status sosial  kekayaan  Tentukan batas sasaran pengamatan  rangka penulisan (teori/konsep dan hipotesis)  Konsep atau hipotesis  instrumen yang lebih konkrit
  • 18.
    Beberapa Jenis Pengamatan Pengamatan Terlibat (observasi Partisipatif)  Pengamatan sistematis  Observasi Eksperimental
  • 19.
    Pengamatan Terlibat (observasiPartisipatif)  Pengamat (observer) benar-benar mengambil bagian dalam kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh sasaran pengamatan.  Perlu diperhatikan : pengamat tidak boleh diketahui sasaran pengamatan  Jenis pengamatan bersifat eksploratif
  • 20.
    Observee tahu, kemungkinanterjadi :  Tingkah laku mereka akan dibuat-buat  Kepercayaan mereka terhadap observer akan hilang, yang akhirnya menutup diri dan selalu berprasangka  Dapat mengganggu situasi dan relasi pribadi  Akibat dari ini semua akan diperoleh data yang bias.
  • 21.
    Hal Keberhasilan ObservasiPartisipatif  Dirumuskan gejala apa yang harus diobservasi  Diperhatikan cara pencatatan yang baik, sehingga tidak menimbulkan kecurigaan  Memelihara hubungan baik dengan observee  Mengetahui batas intensitas partisipasi  Menjaga agar situasi dan iklim psikologis tetap wajar  Sebaiknya melalui tokoh-tokoh masyarakat (key person)
  • 22.
    Intensitas Partisipasi  PartisipasiPartiil (sebagian)  hanya mengambil bagian dari kegiatan-kegitan tertentu saja.  Partisipasi penuh  ikut serta pada semua kegiatan sosial yang ada.
  • 23.
    Pengamatan Sistematis  Kerangkaatau struktur yang jelas : faktor yang diperlukan, sudah dikelompokkan dalam kategori-kategori.  Terarah materi observasi mempunyai skope yang lebih sempit dan terbatas  Observasi pendahuluan (observasi partisipasi)  penemuan dan perumusan masalah  sasaran observasi.
  • 24.
    Observasi Eksperimental  Observeedicoba atau dimasukkan ke dalam suatu kondisi atau situasi tertentu.  Semua kondisi dan faktor-faktornya dapat diatur dan dikendalikan  pengamatan terkendali.  Keuntungannya : tidak perlu waktu lama dalam mengamati gejala karena distimulus. Contoh :gejala frustasi, reaksi, ketekunan dll.
  • 25.
    Observasi Eksperimental  Kelemahan: bias, karena dipaksa.  Atasi kelemahan : “one way screen”  pengamat melihat yang diperbuat melalui layar.  Dilakukan : Laboratorium ilmiah, klinik khusus, ruang penelitian
  • 26.
    Kelebihan Tehnik Pengamatan Murah, mudah, dan langsung guna.  Tidak mengganggu sasaran pengamatan (observee)  Mudah memperoleh banyak gejala-gejala psychis yang penting yang tidak atau sukar diperoleh dengan tehnik lain.  Dimungkinkan mengadakan pencatatan secara serempak kepada observee yang lebih banyak
  • 27.
    Kekurangan Tehnik Pengamatan Banyak peristiwa psychis tertentu yang tidak dapat diamati seperti harapan, keinginan, dan masalah-masalah yang sifatnya sangat pribadi  Sering memerlukan waktu yang lama, sehingga membosankan  gejala tidak muncul  Jika observee tahu, sifatnya dibuat-buat  Sering subjektifitas dari observer tidak dapat dihindari.
  • 28.
    ALAT OBSERVASI • CheckList • Skala Penilaian (ratig scale) • Daftar Riwayat Kelakuan (Anecdotal Record) • Alat-alat mekanik (electronics)
  • 29.
    Check List  Daftarpengecek, berisi nama subyek dan beberapa gejala/identitas lainnya dari observee  Observer memberi tanda check (x) sesuai gejala dari observee  Sifat invidual atau kelompok  Kelemahan : sajikan data kasar saja dan mencatat ada atau tidak ada
  • 30.
    Contoh Faktor2/Gejala Disiplin Kecerdasan KetekunanKeterampilan Nama 1. Ali 2. Badu 3. Cholik 4. Dadang 5. dst V - V - V V V - - V V - - V V V
  • 31.
    Skala Penilaian (ratingscale)  Daftar berisikan ciri-ciri tingka laku, yang dicatat secara bertingkat  Menerangkan, menggolongkan, dan menilai seseorang atau suatu gejala  Bentuk skala penilaian :  Bentuk kuantitas yang menggunakan score atau rangking  Rating scale dalam bentuk diskripsi  Rating scale dalam bentuk grafis
  • 32.
    Daftar Riwayat Kelakuan(Anecdotal Record) • Catatan-catatan mengenai tingkah laku seseorang (observee) yang luar biasa sifatnya atau yang khas • Dibuat segera saat peristiwa atau sesudah terjadi baik verbal maupun non verbal • Dilakukan : observer atau ; guru, pemimpin, direktur, dsb.
  • 33.
    Alat-Alat Mekanik (Electronics) Dapatdiputar kembali setiap saat untuk memungkinkan mengadakan analisis secara teliti. Alat-alat ini antara lain : kamera dan handcam.
  • 34.
    WAWANCARA  Dapat datadari observee secara lisan, atau bercakap- cakap berhadapan dengan observee (face to face)  Pembantu utama metode observasi  peroleh data yang tidak dapat terlihat
  • 35.
    Hal yang diperhatikaninterviewer dan interviewee Saling melihat, saling mendengar dan saling mengerti Terjadi percakapan biasa, tidak kaku (formal) Mengadakan persetujuan/perencanaan pertemuan dengan tujuan tertentu Menyadari adanya kepentingan yang berbeda ; pencari dan pemberi informasi
  • 36.
    JENIS-JENIS WAWANCARA Wawancara tidakterpimpin Wawancara terpimpin Wawancara bebas terpimpin Free Talk dan Diskusi
  • 37.
    Wawancara Tidak Terpimpin •Tidak ada pokok persoalan yang menjadi fokus dalam wawancara • Pertanyaan tidak sistematis, melompat-lompat dari topik satu ke topik lainnya tanpa berkaitan • Wawancara tanpa pedoman yang tegas
  • 38.
    Kelemahan Wawancara TidakTerpimpin Kurang efisien Tidak ada pengecekan secara sistematis, sehingga realibilitasnya kurang Memboroskan tenaga, pikiran, biaya, dan waktu Sulit untuk diolah/dianalisis
  • 39.
    Wawancara Terpimpin  Mempunyaipedoman berupa kuesioner yang telah disiapkan  Pedoman mencakup variabel-variabel yang berkaitan dengan hipotesis  Keuntungan :  Pengumpulan dan pengolahan data dapat berjalan cermat/teliti  Dapat disajikan secara kualitatif maupun kuantitatif  Interviewer dapat dilakukan beberapa orang, karena ada pertanyaan- pertanyaan yang uniform.
  • 40.
    Kelemahan wawancara terpimpin Wawancara jadi kaku (rigid)  Interviewer selalu dibayangi pertanyaan-pertanyaan yang sudah disusun  Interviewer jadi terlalu formal, sehingga hubungannya dengan responden kurang fleksibel
  • 41.
    Wawancara Bebas Terpimpin Kombinasi wawancara terpimpin dan tidak terpimpin  Mempunyai ciri fleksibilitas (keluwesan) dan arah yang jelas
  • 42.
    Free Talk danDiskusi  Interviewer bukan saja pencari data tapi juga sebagai sugester, motivator, dan edukator sekaligus  Free talk dipakai dalam interkasi klinis seperti paramedis dan pasien  percepat proses penyembuhan
  • 43.
    TEHNIK WAWANCARA Hubungan baikantara interviewer dan interviewee Keterampilan sosial interviewer Pedoman dan Cara Pencatatan wawancara
  • 44.
    Hubungan baik antarainterviewer dan interviewee Lebih dahulu adakan pembicaraan pendahuluan atau “warming up” untuk perkenalan dan sekaligus untuk menjelaskan tujuan wawancara. Gunakan bahasa yang sederhana, mudah dimengerti  bahasa sehari-hari dari responden, atau mungkin bahasa daerah.
  • 45.
    Hubungan baik antarainterviewer dan interviewee Bahas permasalahan yang sesuai dengan minat atau keahlian responden sehingga mereka tertarik lebih dahulu. Menciptakan suasana yang bebas dan santai, sehingga responden tak merasa tertekan/terpaksa.
  • 46.
    Hubungan baik antarainterviewer dan interviewee Hindarkan kesan-kesan yang terburu-buru, tidak sabar, dan sikap yang kurang menghargai (sinis). Memberikan sugesti kepada interviewee bahwa keterangan atau jawaban mereka sangat berharga, tetapi dijaga pula jangan sampai mereka “over acting”.
  • 47.
    Hubungan baik antarainterviewer dan interviewee “Probing” (menstimulasi percakapan). Apabila jawaban itu masih kurang lengkap, atau mungkin macet (tidak memperoleh jawaban dari interviewee, rangsanglah sehingga jawaban muncul).
  • 48.
    Hubungan baik antarainterviewer dan interviewee Hendaknya bersikap hati-hati, jangan sampai menyentuh titik-titik kritis (critical points) dari interviewee, misalnya hal-hal yang sangat sensitif dan rahasia. Harus memegang teguh “kode etik” interviewer yang antara lain tidak membicarakan dengan pihak siapa pun tentang rahasia dari interviewee.
  • 49.
    Keterampilan Sosial Interviewer Bersikapramah, sopan, dan berpakaian rapi. Menggunakan bahasa yang sopan, ringkas, dan mudah ditangkap. Bersikap luwes, supel dan bijaksana. Menggunakan lagu dan nada suara yang menarik, tidak terlalu keras, tetapi jangan terlalu lembut.
  • 50.
    Keterampilan Sosial Interviewer Bersikapresponsif, pada saat-saat tertentu dapat ikut merasakan sesuatu yang terjadi pada diri interviewee. Misalnya, bila interviewee sedang menceritakan penderitaan atau kegembiraannya, interviewer dapat ikut menghayati.
  • 51.
    Keterampilan Sosial Interviewer Memberikansugesti yang halus, tetapi tidak sampai mempengaruhi jawaban responden. Menunjukkan sikap keterbukaan dan setia, sukarela, tidak menunjukkan sikap tertutup dan terpaksa.
  • 52.
    Keterampilan Sosial Interviewer Apabilainterviewer menggunakan alat-alat pencatat (kuesioner misalnya), gunakanlah secara informal. Bila mungkin tidak sampai terlihat oleh interviewee. Waktu bicara tataplah wajah interviewee, demikian pula waktu mendengarkan jawaban- jawaban dari mereka.
  • 53.
    Keterampilan Sosial Interviewer Waktuwawancara, lebih baik menyebut nama responden (interviewee) dari pada hanya dengan sebutan bapak, ibu, anda, atau saudara. Misalnya: “Berapa anak Pak Kijo?” (lebih baik, daripada: “Berapa anak Bapak?”).
  • 54.
    Pedoman dan CaraPencatatan Wawancara  Pencatatan secara langsung  Pencatatan ingatan  Pencatatan dengan alat recording  Pencatatan dengan field ratting, dan  Pencatatan dengan field coding.
  • 55.
    5) Pencatatan DataWawancara dengan Kode (Field Coding) Seperti pada field rating, jawaban responden tidak dinilai dengan angka “kata angka”, melainkan hanya dengan tanda atau kode saja. Biasanya kode tersebut berupa huruf atau tanda-tanda lain yang mengkiaskan jawaban- jawabannya. Atau dengan tanda positif (+) atau tanda negatif (-), untuk jawaban “ya” atau “tidak”.
  • 56.
    Kelebihan Metode Wawancara 1.Tidak akan menemui kesulitan meskipun respondennya buta huruf sekalipun, atau pada lapisan masyarakat yang mana pun, karena alat utamanya adalah bahasa verbal.
  • 57.
    Kelebihan Metode Wawancara 2.Karena keluwesan dan fleksibilitasnya ini, maka metode wawancara ini dapat dipakai sebagai verifikasi data terhadap data yang diperoleh dengan cara observasi ataupun angket. 3. Kecuali untuk menggali informasi, sekaligus dipakai untuk mengadakan observasi terhadap perilaku pribadi.
  • 58.
    Kelebihan Metode Wawancara 4.Merupakan suatu teknik yang efektif untuk menggali gejala-gejala psychis, terutama yang berada di bawah sadar. 5. Dari pengalaman para peneliti, metode ini sangat cocok untuk dipergunakan di dalam pengumpulan data-data sosial.
  • 59.
    Kekurangan Metode Wawancara 1.Kurang efisien, karena memboroskan waktu, tenaga, pikiran, dan biaya. 2. Diperlukan adanya keahlian/penguasaan bahasa dari interviewer. 3. Memberi kemungkinan interviewer dengan sengaja memutarbalikkan jawaban. Bahkan memberikan kemungkinan interviewer untuk memalsu jawaban yang dicatat di dalam catatan wawancara (tidak jujur).
  • 60.
    Kekurangan Metode Wawancara 4.Apabila interviewer dan interviewee mempunyai perbedaan yang sangat mencolok, sulit untuk mengadakan rapport sehingga data yang diperoleh kurang akurat. 5. Jalannya interview sangat dipengaruhi oleh situasi dan kondisi sekitar, sehingga akan menghambat dan mempengaruhi jawaban dan data yang diperoleh.
  • 61.
     Cara pengumpulandata atau suatu penelitian mengenai suatu masalah yang umumnya banyak menyangkut kepentingan umum (banyak orang). Angket ini dilakukan dengan mengedarkan suatu daftar pertanyaan yang berupa formulir-formulir, diajukan secara tertulis kepada sejumlah subjek yang mendapatkan tanggapan, informasi, jawaban dan sebagainya.  Teknik ini lebih cocok dipakai untuk memperoleh data yang cukup luas, dari kelompok/masyarakat yang berpopulasi besar, dan bertebaran tempatnya. Biasanya pengirimannya dilakukan melalui pos kepada responden.
  • 62.
    berbentuk formulir-formulir yangberisikan pertanyaan- pertanyaan (question), maka angket sering disebut “questionaire”. Tetapi tidak berarti kuesioner itu sama dengan angket. Sebab kuesioner (daftar pertanyaan) itu tidak selalu responden sendiri yang mengisi, di mana kuesioner ditanyakan secara lisan kepada responden melalui wawancara, dan yang mengisi kuesioner itu adalah interviewer berdasarkan jawaban lisan dari responden.
  • 63.
     Jadi adakuesioner yang langsung diisi oleh responden sendiri, yang disebut “angket”, dan ada kuesioner sebagai pedoman (pegangan) wawancara.  Mengingat bahwa responden sendiri yang harus mengisi kuesioner tersebut, maka angket tidak dapat dilakukan untuk responden yang buta huruf.
  • 64.
    Beberapa Tipe Angket a.Menurut Sifatnya 1. Angket umum, yang berusaha sejauh mungkin untuk memperoleh selengkap-lengkapnya tentang kehidupan seseorang. 2. Angket khusus, hanya berusaha untuk mendapatkan data-data mengenai sifat-sifat khusus dari pribadi seseorang.
  • 65.
    Beberapa Tipe Angket b.Menurut cara penyampaiannya 1. Angket langsung, apabila disampaikan langsung kepada orang yang dimintai informasinya tentang dirinya sendiri. 2. Angket tak langsung, apabila pribadi yang disuruh mengisi angket adalah bukan responden langsung. Ia akan menjawab dan memberikan informasi tentang diri orang lain.
  • 66.
    Beberapa Tipe Angket c.Menurut bentuk strukturnya 1. Angket berstruktur. Angket ini disusun sedemikian rupa tegas, definitif, terbatas, dan konkrit, sehingga responden dapat dengan mudah mengisi atau menjawabnya. 2. Angket tak berstruktur. Angket ini dipakai bila peneliti menghendaki suatu uraian dari informan atau responden tentang suatu masalah dengan suatu penulisan atau penjelasan yang panjang lebar. Jadi pertanyaannya bersifat terbuka dan bebas.
  • 67.
    Beberapa Tipe Angket Berdasarkan bentuk pertanyaannya atau menurut jenis penyusunan item yang diajukan, angket dibedakan menjadi : a. Angket berbentuk isian, di mana responden diberi kebebasan untuk mengisi dengan jawaban yang sesuai menurut responden (open ended item). b. Angket berbentuk pilihan, di mana jawabannya telah disediakan (closed ended item).
  • 68.
    Kelebihan  Dalam waktusingkat (serentak) dapat diperoleh data yang banyak  Menghemat tenaga dan mungkin biaya  Responden dapat memilih waktu senggang untuk mengisinya, sehingga tidak terlalu terganggu bila dibandingkan dengan wawancara  Secara psikhologis responden tidak merasa terpaksa, dan dapat menjawab lebih terbuka, dan sebagainya.
  • 69.
    Kekurangan • Jawaban akanlebih banyak dibumbui dengan sikap dan harapan-harapan pribadi, sehingga lebih bersifat subjektif. • Dengan adanya bentuk (susunan) pertanyaan yang sama untuk responden yang sangat hiterogen, maka penafsiran pertanyaan akan berbeda-beda sesuai dengan latar belakang sosial, pendidikan, dan sebagainya dari responden.
  • 70.
    Kekurangan • Tidak dapatdilakukan untuk golongan masyarakat yang buta huruf. • Apabila responden tidak dapat memahami pertanyaan/tak dapat menjawab, akan terjadi kemacetan, dan mungkin responden tidak akan menjawab seluruh angket. •Sangat sulit untuk memutuskan pertanyaan- pertanyaan secara cepat dengan menggunakan bahasa yang jelas atau bahasa yang sederhana.