INDERA PENCIUMAN

Maharani Saputri
Sulis Ratnawati
Syahril Mustofa
• Hidung adalah indera yang kita gunakan untuk
mengenali lingkungan sekitar atau sesuatu
dari aroma yang dihasilkan.
• Kita mampu dengan mudah mengenali makanan
yang sudah busuk dengan yang masih segar
dengan mudah hanya dengan mencium aroma
makanan tersebut.
• Di dalam hidung kita terdapat banyak sel
kemoreseptor untuk mengenali bau.
ANATOMI HIDUNG






HIDUNG LUAR (Nasus eksternus):
 dorsum nasi
 apeks nasi
 radiks nasi
 ala nasi
HIDUNG DALAM (Nasus internus):
 cavum nasi (rongga hidung)
 septum nasi
SINUS PARANASALIS:
 sinus frontalis
 sinus maksilaris
 sinus (sel-sel) ethmoidalis
 sinus sfenoidalis
HIDUNG LUAR
(Nasus eksternus)
•
•
•
•

dorsum nasi
apeks nasi
radiks nasi
ala nasi
HIDUNG LUAR
(Nasus eksternus)
• Hidung luar dibentuk oleh tulang dan tulang
rawan yang dilapisi oleh kulit, jaringan ikat
dan beberapa otot yang berfungsi untuk
melebarkan atau menyempitkan lubang hidung.
• Kerangka tulang terdiri dari :
1. Sepasang os nasalis ( tulang hidung )
2. Prosesus frontalis os maksila
3. Prosesus nasalis os frontalis
• Sedangkan kerangka tulang rawan terdiri dari
beberapa pasang tulang rawan yang terletak
dibagian bawah hidung, yaitu :
1. Sepasang kartilago nasalis lateralis superior
2. Sepasang kartilago nasalis lateralis inferior
( kartilago alar mayor )
3. Beberapa pasang kartilago alar minor
4. Tepi anterior kartilago septum nasi
HIDUNG DALAM
Os nasale
Konka media

Konka inferior
Septum nasi
Cavum nasi
HIDUNG DALAM
(Nasus Internus)
• Cavum nasi (rongga hidung)
– Trdpt tonjolan & lipatan selaput lendir hidung, yg
disebut konka, tdd :
• konka nasalis inferior
• konka nasalis media
• konka nasalis superior
– Meatus nasi inferior  ruang antara dasar cavum nasi
dg konka nasalis inferior
– Meatus nasi media  ruang antara konka nasalis
inferior dg media
– Meatus nasi superior  ruang antara konka nasalis
media dg superior
HIDUNG DALAM
(Nasus Internus)
• Septum nasi
– Lamina perpendicularis os ethmoidalis
– Os vomer
– Cartilago septi nasi
SINUS PARANASALIS
• Disekitar rongga hidung trdpt rongga2 => sinus
paranasalis
• Tdd :
– Sinus frontalis
– Sinus maksilaris
– Sinus sfenoidalis
– Sinus ethmoidalis
• Sinus2 ini juga dilapisi selaput lendir seperti hidung,
sehingga bila terjadi peradangan maka cairan lendir tdk
bisa keluar akibatnya sinusitis
Sinus frontalis

Sinus ethmoidalis

Hyatus maxillaris

Sinus maxillaris

Sinus sphenoidalis
SINUS MAXILLARIS
•
•
•
•
•
•

Terbesar, bentuk piramid, tdp.pd. Corpus maxilla
Apex ke depan sampai os zygomaticus
Atap dari sinus dibentuk oleh dasar cavum orbita
Radix gigi M2 sering menonjol ke dasar sinus
Bermuara ke meatus nasi media : Hyatus Semilunaris
Letak muara lebih cranial dari dasar sinus penyulit terapi
sinusitis o.k drainage secret terhambat

SINUS FRONTALIS

• Derajat meluasnya ke dalam os. frontalis sangat
bervariasi
• Pada umumnya tidak simetris
• Bermuara ke meatus nasi media
SINUS ETHMOIDALIS ANTERIOR
– Berupa sel-sel yang terisi udara
– Bermuara ke meatus nasi media

SINUS ETHMOIDALIS POSTERIOR
– Bermuara ke meatus nasi superior

SINUS SPHENOIDALIS
– Muara : Recessus spheno-ethmoidale
– Berbatasan dengan :
• Cranial :Fossa hypophise dan chiasma optica
• Lateral : Sinus cavernosus di fossa cranii anterior
• Caudal : Cavum nasi
FISIOLOGI HIDUNG

• Indera Penciuman
FISIOLOGI HIDUNG
FISIOLOGI HIDUNG
• Alat pencium terdapat dalam rongga hidung dari ujung
saraf otak nervus olfaktorius
• Serabut saraf ini timbul pd bag. atas selaput lendir hidung
=> area olfaktoria
• N. olfaktorius dilapisi oleh sel2 yg sangat khusus yg
mengeluarkan fibril2 yg halus, terjalin dg serabut2 dari
bulbus olfaktorius
• Bulbus olfaktorius mrpkan lanjutan dr bagian otak yg
ujung2 akhirnya menembus lempeng kribiformis dasar
tulang otak (os ethmoidalis) yg berlubang2
• N. olfaktorius terletak pd os ethmoidalis
Bulbus Olfaktorius
FISIOLOGI HIDUNG
• Dari bulbus olfaktorius,
penciuman dihantarkan
melalui traktus olfaktorius
menuju pusat olfaktoria pd
otak bagian lobus temporalis,
tempat penciuman
ditafsirkan
FISIOLOGI HIDUNG
• Bau yg masuk ke rongga hidung akan merangsang
n. olfaktorius di bulbus olfaktorius
• Indera bau bergerak lewat traktus olfaktorius dg
perantaraan stasiun penghubung hingga mencapai
daerah penerima akhir dlm pusat olfaktorius pd
lobus temporalis di otak besar tempat penafsiran
bau tsb.
• Rasa penciuman dirangsang oleh gas yg masuk dan
akan mudah hilang pd bau yg sama dlm waktu
lama
FISIOLOGI HIDUNG
• Rangsangan reseptor hanya berespon thd senyawa2 yg
kontak dg epitel olfaktorius dan dilarutkan dlm lapisan
tipis mukus yg menutupinya
• Ambang olfaktorius yg menggambarkan sensitivitas hebat
reseptor olfaktorius thd sejumlah senyawa yg dpt dicium
pd konsentrasi >500pg/L diubah 30% dr sebelum dpt
dideteksi.
• Molekul penghasil bau mengandung 3-20 atom karbon
yg memiliki bau yg berbeda
FISIOLOGI HIDUNG
• Manusia dpt membedakan 2000-4000 bau yg berbeda &
menghasilkan pola ruang yg berbeda dr peningkatan
aktivitas metabolik di dlm olfaktoria
• Bau khusus bergantung pd pola ruang perangsangan
reseptor dlm membran mukosa olfaktorius
• Bila seseorang scr kontinyu terpapar pd bau yg paling tdk
disukai, mk perserpsi bau menurun lalu berhenti. Ini
disebabkan oleh adaptasi yg cukup cepat yg timbul dlm
sistem olfaktorius
Indera penciuman :
• Akan melemah bila selaput lendir hidung
sangat kering, terlalu basah, atau
membengkak spt saat influenza
• Akan menghilang akibat cedera pd kepala
• Batas ambang meningkat seiring
pertambahan usia
Hubungan Indera Pembau dan
Indera Pengecap
 Apabila ada gangguan pada indera pembau, maka kita
tidak dapat mengecap dengan baik.
 Ketika seseorang menderita sakit pilek, maka makanan
terasa hambar rasanya dan kita tidak dapat
mencermati bau dengan baik.
 Inilah bukti bahwa antara organ pembau dengan
pencium saling bekerja dengan baik.
 Aroma makanan yang berada di rongga dalam hidung
tidak dapat tercium karena serabut saraf di situ
tertutup oleh lendir pilek. Kita merasakan bau buah
apel berbeda dengan jeruk dan pepaya karena adanya
organ pembau.
KELAINAN PADA PENCIUMAN
(HIDUNG)

• Anosmia = tidak adanya indera penciuman
• Hiposmia = pengurangan sensitivitas olfaktorius
• Disosmia = indera penciuman berubah






Kelainan dapat disebabkan oleh :
Penyumbatan rongga hidung akibat pilek.
Terdapat polip atau tumor di rongga hidung.
Sel rambut rusak akibat infeksi kronis.
Gangguan pada saraf olfaktori.
Rinitis alergi adalah kelainan pada hidung dengan gejalagejala bersin-bersin, keluarnya cairan dari hidung, rasa gatal
dan tersumbat setelah mukosa hidung terpapar
dengan allergen (zat yang menyebabkan alergi pada orangorang tertentu).
Fisiologi Hidung

Fisiologi Hidung

  • 1.
    INDERA PENCIUMAN Maharani Saputri SulisRatnawati Syahril Mustofa
  • 2.
    • Hidung adalahindera yang kita gunakan untuk mengenali lingkungan sekitar atau sesuatu dari aroma yang dihasilkan. • Kita mampu dengan mudah mengenali makanan yang sudah busuk dengan yang masih segar dengan mudah hanya dengan mencium aroma makanan tersebut. • Di dalam hidung kita terdapat banyak sel kemoreseptor untuk mengenali bau.
  • 3.
    ANATOMI HIDUNG    HIDUNG LUAR(Nasus eksternus):  dorsum nasi  apeks nasi  radiks nasi  ala nasi HIDUNG DALAM (Nasus internus):  cavum nasi (rongga hidung)  septum nasi SINUS PARANASALIS:  sinus frontalis  sinus maksilaris  sinus (sel-sel) ethmoidalis  sinus sfenoidalis
  • 4.
    HIDUNG LUAR (Nasus eksternus) • • • • dorsumnasi apeks nasi radiks nasi ala nasi
  • 5.
    HIDUNG LUAR (Nasus eksternus) •Hidung luar dibentuk oleh tulang dan tulang rawan yang dilapisi oleh kulit, jaringan ikat dan beberapa otot yang berfungsi untuk melebarkan atau menyempitkan lubang hidung. • Kerangka tulang terdiri dari : 1. Sepasang os nasalis ( tulang hidung ) 2. Prosesus frontalis os maksila 3. Prosesus nasalis os frontalis
  • 6.
    • Sedangkan kerangkatulang rawan terdiri dari beberapa pasang tulang rawan yang terletak dibagian bawah hidung, yaitu : 1. Sepasang kartilago nasalis lateralis superior 2. Sepasang kartilago nasalis lateralis inferior ( kartilago alar mayor ) 3. Beberapa pasang kartilago alar minor 4. Tepi anterior kartilago septum nasi
  • 8.
    HIDUNG DALAM Os nasale Konkamedia Konka inferior Septum nasi Cavum nasi
  • 9.
    HIDUNG DALAM (Nasus Internus) •Cavum nasi (rongga hidung) – Trdpt tonjolan & lipatan selaput lendir hidung, yg disebut konka, tdd : • konka nasalis inferior • konka nasalis media • konka nasalis superior – Meatus nasi inferior  ruang antara dasar cavum nasi dg konka nasalis inferior – Meatus nasi media  ruang antara konka nasalis inferior dg media – Meatus nasi superior  ruang antara konka nasalis media dg superior
  • 10.
    HIDUNG DALAM (Nasus Internus) •Septum nasi – Lamina perpendicularis os ethmoidalis – Os vomer – Cartilago septi nasi
  • 11.
    SINUS PARANASALIS • Disekitarrongga hidung trdpt rongga2 => sinus paranasalis • Tdd : – Sinus frontalis – Sinus maksilaris – Sinus sfenoidalis – Sinus ethmoidalis • Sinus2 ini juga dilapisi selaput lendir seperti hidung, sehingga bila terjadi peradangan maka cairan lendir tdk bisa keluar akibatnya sinusitis
  • 12.
    Sinus frontalis Sinus ethmoidalis Hyatusmaxillaris Sinus maxillaris Sinus sphenoidalis
  • 14.
    SINUS MAXILLARIS • • • • • • Terbesar, bentukpiramid, tdp.pd. Corpus maxilla Apex ke depan sampai os zygomaticus Atap dari sinus dibentuk oleh dasar cavum orbita Radix gigi M2 sering menonjol ke dasar sinus Bermuara ke meatus nasi media : Hyatus Semilunaris Letak muara lebih cranial dari dasar sinus penyulit terapi sinusitis o.k drainage secret terhambat SINUS FRONTALIS • Derajat meluasnya ke dalam os. frontalis sangat bervariasi • Pada umumnya tidak simetris • Bermuara ke meatus nasi media
  • 15.
    SINUS ETHMOIDALIS ANTERIOR –Berupa sel-sel yang terisi udara – Bermuara ke meatus nasi media SINUS ETHMOIDALIS POSTERIOR – Bermuara ke meatus nasi superior SINUS SPHENOIDALIS – Muara : Recessus spheno-ethmoidale – Berbatasan dengan : • Cranial :Fossa hypophise dan chiasma optica • Lateral : Sinus cavernosus di fossa cranii anterior • Caudal : Cavum nasi
  • 16.
  • 17.
  • 18.
    FISIOLOGI HIDUNG • Alatpencium terdapat dalam rongga hidung dari ujung saraf otak nervus olfaktorius • Serabut saraf ini timbul pd bag. atas selaput lendir hidung => area olfaktoria • N. olfaktorius dilapisi oleh sel2 yg sangat khusus yg mengeluarkan fibril2 yg halus, terjalin dg serabut2 dari bulbus olfaktorius • Bulbus olfaktorius mrpkan lanjutan dr bagian otak yg ujung2 akhirnya menembus lempeng kribiformis dasar tulang otak (os ethmoidalis) yg berlubang2 • N. olfaktorius terletak pd os ethmoidalis
  • 19.
  • 20.
    FISIOLOGI HIDUNG • Daribulbus olfaktorius, penciuman dihantarkan melalui traktus olfaktorius menuju pusat olfaktoria pd otak bagian lobus temporalis, tempat penciuman ditafsirkan
  • 21.
    FISIOLOGI HIDUNG • Bauyg masuk ke rongga hidung akan merangsang n. olfaktorius di bulbus olfaktorius • Indera bau bergerak lewat traktus olfaktorius dg perantaraan stasiun penghubung hingga mencapai daerah penerima akhir dlm pusat olfaktorius pd lobus temporalis di otak besar tempat penafsiran bau tsb. • Rasa penciuman dirangsang oleh gas yg masuk dan akan mudah hilang pd bau yg sama dlm waktu lama
  • 22.
    FISIOLOGI HIDUNG • Rangsanganreseptor hanya berespon thd senyawa2 yg kontak dg epitel olfaktorius dan dilarutkan dlm lapisan tipis mukus yg menutupinya • Ambang olfaktorius yg menggambarkan sensitivitas hebat reseptor olfaktorius thd sejumlah senyawa yg dpt dicium pd konsentrasi >500pg/L diubah 30% dr sebelum dpt dideteksi. • Molekul penghasil bau mengandung 3-20 atom karbon yg memiliki bau yg berbeda
  • 23.
    FISIOLOGI HIDUNG • Manusiadpt membedakan 2000-4000 bau yg berbeda & menghasilkan pola ruang yg berbeda dr peningkatan aktivitas metabolik di dlm olfaktoria • Bau khusus bergantung pd pola ruang perangsangan reseptor dlm membran mukosa olfaktorius • Bila seseorang scr kontinyu terpapar pd bau yg paling tdk disukai, mk perserpsi bau menurun lalu berhenti. Ini disebabkan oleh adaptasi yg cukup cepat yg timbul dlm sistem olfaktorius
  • 24.
    Indera penciuman : •Akan melemah bila selaput lendir hidung sangat kering, terlalu basah, atau membengkak spt saat influenza • Akan menghilang akibat cedera pd kepala • Batas ambang meningkat seiring pertambahan usia
  • 25.
    Hubungan Indera Pembaudan Indera Pengecap  Apabila ada gangguan pada indera pembau, maka kita tidak dapat mengecap dengan baik.  Ketika seseorang menderita sakit pilek, maka makanan terasa hambar rasanya dan kita tidak dapat mencermati bau dengan baik.  Inilah bukti bahwa antara organ pembau dengan pencium saling bekerja dengan baik.  Aroma makanan yang berada di rongga dalam hidung tidak dapat tercium karena serabut saraf di situ tertutup oleh lendir pilek. Kita merasakan bau buah apel berbeda dengan jeruk dan pepaya karena adanya organ pembau.
  • 26.
    KELAINAN PADA PENCIUMAN (HIDUNG) •Anosmia = tidak adanya indera penciuman • Hiposmia = pengurangan sensitivitas olfaktorius • Disosmia = indera penciuman berubah
  • 27.
         Kelainan dapat disebabkanoleh : Penyumbatan rongga hidung akibat pilek. Terdapat polip atau tumor di rongga hidung. Sel rambut rusak akibat infeksi kronis. Gangguan pada saraf olfaktori. Rinitis alergi adalah kelainan pada hidung dengan gejalagejala bersin-bersin, keluarnya cairan dari hidung, rasa gatal dan tersumbat setelah mukosa hidung terpapar dengan allergen (zat yang menyebabkan alergi pada orangorang tertentu).